Anda di halaman 1dari 77

PERHATIAN Sebelum anda membaca e-book ini lebih jauh, diharapkan bagi anda untuk membaca doa terlebih

dahulu sesuai agama dan kecepatan masing-masing Agar terhidar dari godaan untuk melakukan tindakan dan adegan konyol yang terdapat di dalam e-book ini. Bagi anda yang menderita penyakit jantung, diharapkan meletakkan obat jantung anda dekat dengan jangkauan. Jika memungkinkan sediakan juga tabung oksigen dan alat pacu jantung guna mengantisisapi hal yang tidak diinginkan. Singkirkan juga segala obat perangsang, Viagra, maupun gambar-gambar Miyabi, Sora Aoi, Natt Chanappa maupun gambar seronok lainnya baik diam dan bergerak serta dalam bentuk dan format apapun dari jangkauan anda, Saya tidak mau dianggap bertanggung jawab atas kasus kematian mendadak yang diakibatkan anda membuka e-book ini sementara gambar bugil artis-artis diatas anda minimize dan tempatkan di pojok kiri atas screensaver anda... Sediakan juga snack dan minuman ringan untuk menghindari anda dari dehidrasi dan keinginan mengisap jempol selama membaca... SELAMAT MEMBACA...! Kao, Tobelo. Maluku Utara Januari 2011 Mike Simons

Pendekar Sempak Maut 212 CAHSABLENG

Tongkat Sakti Berbulu Domba


Oleh: Mike Simons
hazeman_neverdies@yahoo.co.id, www.padepokan212.com

Bab I Hukum Ayam Mentari. Oh Mentari Aku selalu tersenyum setiap kali melihat mentari menggeliat bangkit dari peraduannya... Bagaimana dengan diri mu kawan? Apakah kau turut merasakan kegembiraan yang kurasakan? Tidak usahlah kau jawab Aku sudah tahu jawabannya Bagaimana bisa? Tentu saja bisa! Karena aku lah yang paling tahu siapa dirimu.

Tidak bisa dipungkiri, dan harus kuakui dibalik senyum manismu yang menawan dan sanggup membuat orang selalu lengket bak kena pelet tersebut pada hakekatnya tersembunyi naluri hidup dan kebiasan tidur seekor kampret He.he.he Jangan dulu tersinggung kawan Tidak ada salahnya menjadi kampret Malah bagus itu! Cobalah kau tengok saja di luar negeri Dari sekian banyak jenis binatang pengisap darah seperti kampret, nyamuk, lintah, Pacet dan sebangsanya, hanya kampret saja yang dipuja dan diabadikan sebagai pahlawan super Apa kau pernah dengar soal manusia super yang bernama NyamukMan? Kalau LintahMan? PacetMan? LaronMan? KambingMan? NgepetMan? Tidak ada bukan? KampretMan? He.he.he. biarlah tidak ku sebut karena kalian juga pasti sudah mengerti siapa Jagoan super yang ku maksud ya toch? Yang jelas kampret itu terkenal dan fenomenal mungkin satusatunya yang bisa menyaingi kepopularitasan si kampret hanyalah Pembalut wanita Sama-sama bersayap dan menghisap darah Apa!!!?? Oladalah!! Dasar Kurang ajar!! Biar begini aku masih bisa membaca isi pikiranmu! Melihat kesamaan fungsi dan kegunaan, kau pasti bepikir apakah mungkin kerja sebuah pembalut bisa digantikan secara Representatip dan Proporsional dengan hanya menggunakan seekor kampret yang notabene tidak perlu dicuci dan lebih efisien karena bisa dipakai ulang? Ha.ha.ha.ha sudahlah, aku tidak mau berpikir sejauh itu Marilah kita jauhkan saja topik tentang kampret tersebut Bukan apa-apa, Cuma kasihan saja sama kampret beruntung nan malang itu Tinggal Di Surga Dunia, Namun Hidup Dalam Rimba Gulita Ha.ha.ha.! Cukuuup!!!! Sudah!!! Aku sudah tidak kuat tertawa lagi.!!! Pada dasarnya aku pun sebenarnya sama seperti dirimu kawan, suka terlelap dikala siang dan ngelayap di waktu malam Makhluk Nocturnal sejati

Namun berbeda denganmu, seberapa larutpun ku terlelap, ku kan tetap berusaha bangun di waktu pagi tuk menatap indahnya bola kuning itu merayap perlahan Walaupun setelah itu aku kan tertidur lagi hingga sore Tak apalah! Namun satu hal yang bisa kupastikan kala menatap bola bulat keemasan tersebut menyembul di pagi hari, yaitu Gusti Allah ternyata masih sayang dan masih memberikan aku kesempatan bernafas dan mengucap syukur Seperti pagi ini, begitu mentari bersinar, kegembiraaan dan keriangan nampak menyebar ke seantero jagat Burung-burung dengan kicau yang riang gembira bunga-bunga yang bermekaran tawa para petani yang sedang mempersiapkan cangkul dan aritnya sebelum kesawah lenguhan kerbau yang kebelet kawin Semuanya nampak gembira menyambut datangnya mentari pagi Namun bertolak belakang dari keriangan yang ditimbulkan oleh terbitnya mentari tersebut, di satu tempat terpencil di kaki Gunung Welirang, atau lebih tepatnya lagi di satu sudut sebuah kandang ayam yang cukup besar yang terletak di satu rumah yang cukup terpencil dan tersembunyi nampak satu pemandangan yang cukup mengenaskan Seorang bocah kurus yang tak berbaju nampak terpekur memeluk lututnya di salah satu sudut kandang Sepasang matanya yang sembab nampak terpejam sementara mulutnya yang membiru nampak mengatup rapat. Tubuh sang bocah nampak kotor oleh debu, jerami dan kotoran ayam dan yang membuat hati menjadi miris adalah berkas jalur-jalur merah membiru yang bisa dipastikan terjadi akibat cambukan lidi yang membekas disekujur tubuhnya Sungguh amat mengenaskan nasib sang bocah Namun jika kau merasa penderitaan si bocah hanya sampai disitu saja, maka kau salah besar kawan..! Coba kau perhatikan baik-baik tumpukan jerami yang berada di

bawah tubuhnya Apakah kau melihatnya? Benda-benda bulat dibawah sana.? Ya kawan, kau tak salah lihat Yang kau lihat itu adalah benar-benar telur ayam Bukan telur si bocah Asli! Astaga..! Benar kawan sang bocah bukan hanya sekedar duduk memeluk lutut dan menahan nyeri tubuhnya Sang bocah juga harus duduk diatas tumpukan telur dan menjaga berat tubuhnya agar tidak memecahkan telur-telur tersebut! Benar-benar edan! Sang bocah ternyata sedang mengerami telur ayam! Apa anak ini sudah gila? Tidak kawan, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kalauku jelaskan, Kau pasti takkan percaya kalau ada hal yang seperti ini Namun percayalah kawan hal ini memang benar terjadi Bisa kau bayangkan sendiri, dengan tubuh babak belur dan menahan nyeri yang amat sangat, sang bocah diharuskan berlutut sembari menjaga berat badannya agar tidak sampai memecahkan telur-telur yang dieraminya tersebut Selama sehari semalam pula! Sungguh keterlaluan! Penderitaan si bocah ini belum lagi ditambah dengan gangguan dari para ayam yang nampaknya belum bisa menerima kehadirannya sebagai Penghuni baru di kediaman mereka. Sesekali nampak seekor bahkan beberapa induk ayam beranjak mendekat dan dengan kurang ajarnya mematuki kepala dan tubuh sang bocah yang malang. Seekor yang rupanya adalah sang pejantan bahkan dengan amat

tidak sopannya selalu hilir-mudik hinggap dan bertengger pada kepala dan pundak sang bocah hanya untuk sekedar berkotek keras seraya menghimpun daya tekan dan kemudian menodai tubuh sang bocah dengan sisa-sisa pakan dalam pencernaannya atau yang lebih dikenal dengan istilah ilmiah fescescus tembelecusalias Tembelek Ayam! Sialan! Kurang ajar betul..! Betul-betul tidak pernah sekolah ini ayam! Memangnya ayam mana yang pernah sekolah? Sudahlah, jangan kau permasalahkan hal sepele seperti itu, ada hal lain yang jauh lebih penting untuk kau ketahui wahai kawanku yang baik. Kau pasti bertanya-tanya apa gerangan yang sebenarnya terjadi pada diri anak kecil tersebut Aku juga sebenarnya tidak terlalu mengatahuinya, namun satu hal yang bisa ku sampaikan kepadamu wahai kawan, apa yang kau saksikan didepan matamu ini adalah salah satu bentuk hukuman yang paling kejam yang pernah diingat dan ditulis di dalam sejarah setelah Hukum Picis dan Hukum Ngipri Monyet Ya, benar.. Inilah yang selama ini disebut dengan HUKUM AYAM!!! Lihat! Kau sampai merinding mendengarnya Aku pun juga begitu semua buluku tak terkecuali serasa berdiri melambai akibat merinding melihat penderitaan bocah kecil nan malang tersebut Sebenarnya siapa orang yang begitu kejamnya melakukan hukuman seperti ini kepada anak sekecil itu? Entahlah kawan, aku pun sama butanya seperti dirimu Yang jelas jawabannya pasti terdapat pada rumah kecil disamping kandang ayam tersebut Jadi tunggu apalagi? bagaimana kalau kita tengok saja ke dalam rumah kecil tersebut agar kita tidak semakin penasaran, Selain itu aku pun tadi lamat-lamat masih sempat mendengar ada suara perempuan menangis

Rumah itu sesunguhnya kecil saja, cukup sederhana bahkan terkesan reot karena hanya terdiri dari sebuah kamar dan sebuah ruang tamu. Tak nampak ada barang berharga di dalam rumah tersebut. Aku mengira-ngira orang seperti apa yang kiranya mendiami tempat seperti ini. Sebenarnya rumah itu biasa saja seperti rumah kebanyakan, namun ada keanehan yang bisa dilihat jelas, keanehan yang pertama adalah meskipun mentari sudah beranjak naik namun tak sebuah jendela pun nampak terbuka Apakah karena tidak ada orang di dalam rumah itu? Tidak juga kawan, karena aku jelas-jelas mendengar suara wanita menangis dari dalam kamar. Dan kau tahu? Jika saja kau melihat apa yang terjadi di dalam kamar kaupun niscaya pasti akan terhenyak seperti diriku Kamar itu gelap, karena jendelanya juga tertutup rapat. Hanya ada sebuah ranjang reot dan sebuah kursi di sudut kamar. Kamar itu pun pengap, tapi bukan saja karena tidak adanya udara yang masuk, melainkan pengap karena adanya asap tebal yang nampak mengepul dari sebuah pedupaan yang ditempatkan tepat dibawah kaki kursi Dan kalau itu kau rasa belum cukup, disamping pedupaan juga nampak sebuah gantang besar yang berisi air, bunga setaman, cermin dan sebuah pelita kecil yang menyala..! Astaga! Benar-benar menyeramkan! Untuk apa semua barang-barang klenik tersebut? Aku juga tidak tahu Aku pun merasa seram kawan! Namun dibalik semua keseraman tersebut terselip satu keganjilan Di kamar tersebut ternyata benar-benar terdapat seseorang! Seorang wanita nampak duduk dilantai dan memeluk kaki kursi Dan dia nampak bercakap-cakap sesekali disertai isak tangis sembari menengadah kearah kursi di depannya! Sungguh ganjil!

Kangmas Tungga desis sang wanita Eiits!!! Tunggu dulu kawan.!!!! Kaupun pasti berpikiran sama denganku Aneh! Namun yang lebih aneh lagi, tiba-tiba saja terdengar satu suara yang berat dan dalam membalas isak tangis sang wanita! Diajeng Sawitri Benar-benar gila! Kalau tidak melihat sendiri mana bisa aku mempercayainya suara itu jelas-jelas berasal dari atas kursi, namun anehnya sosoknya sendiri benar-benar tidak nampak! Siapa sebenarnya sosok tak kasat mata yang diajak bicara oleh sang wanita? Aku benar-benar penasaran kawan, jadi kuputuskan saja untuk menyimak terus pembicaran mereka Maafkan aku Kangmas aku sungguh sudah tidak kuat lagi harus menyiksa anak kita setiap hari hingga seperti itu batinku amat tersiksa kasihan dia isak sang wanita sembari memeluk kaki kursi di hadapannya. bersabarlah Diajeng semua yang kita lakukan ini adalah jalan satusatunya bagi kita untuk dapat berkumpul kembali hanya anak kita itulah tumpuan harapan kita satu-satunya untuk dapat membebaskan ragaku dari cengkraman Sang Maharaja Jengger Telu, Raja Diraja Siluman Ayam Di Negeri Buniankau yang paling tahu akan hal itu jadi seharusnya kau harus bisa pula menahan hatimu diajengbalas suara tanpa wujud tapi harus sampai kapan lagi Kang ? Aku khawatir anak kita tidak akan bisa bertahan dari semua penderitaan yang telah kita berikan selama ini kepadanya sungguh kasihan dia Kang isak sang wanita semakin keras Terdengar helaan nafas berat aku mengerti perasaanmu Diajeng, akupun sesungguhnya amat berat meminta dirimu menyiksa anak kita sedemikian rupa namun hanya inilah cara satu-satunya bagi anak kita untuk dapat membangun kekuatan mentalnya dalam menghadapi Raja Siluman Ayam kelak tapi jika kau memang benar-benar sudah tidak sanggup melihatnya harus terus menderita seperti itu, aku rasa memang kini

sudah saatnya untuk kau serahkan saja dia pada Kakang Abdul Madjid untuk di didik dan di godok menjadi satria yang Prigel dan waskita Sang wanita nampak mengangguk sembari menyeka air mata di pipinya aku mengerti kang, namun dengan semua penderitaan yang aku berikan kepadanya, akankah dia nantinya membenci dan tidak mengakui aku sebagai ibunya? Aku sungguh khawatir akan hal tersebut kuatkanlah hatimu Diajeng, aku percaya anak kita adalah anak yang baik dan juga berbakti dan aku pun percaya Kakang Abdul Madjid pasti bisa membentuknya menjadi seorang pendekar yang bukan saja perkasa namun juga berbudi luhur sampai nanti pada akhirnya kebenaran akan tersingkap dan kita bisa berkumpul kembali, dia pasti akan bisa menerima semua yang kita lakukan saat ini Sang wanita akhirnya mengangguk matahari sudah semakin tinggi wahai istriku yang terkasih aku harus segera kembali ke Negeri Bunian sebelum Raja Jengger Telu dan para prajuritnya menyadari akan kepergianku jagalah dirimu baikbaik aku pergi sekarang tapi Kang? Kapan lagi kita bisa dapat bertemu? Jangan terlalu lama kang aku sungguh sangat merindukanmu aku masih belum puas bicara dengan dirimu kang! lain waktu Diajeng lain waktu aku pasti akan menemuimu lagi selamat tinggal diajeng, jaga anak kita dan buat dia semakin kuat restuku akan selalu menyertai kalian Kakang.! Angin berhembus tiba-tiba meniup padam pelita di dalam gantang Bukan main! Bagaimana mungkin kamar yang tertutup bisa ada angin yang masuk? Ah benar-benar memusingkan kepala Sang wanita menyadari bahwa angin yang berhembus tersebut merupakan pertanda kepergian sukma sejati sang suami terkasih Wanita yang dipanggil dengan sebutan diajeng ini akhirnya tersimpuh di lantai dan kembali menangis mengguguk

Beberapa lama dirinya menangis, tiba-tiba terdengar suara ribut kotekan ayam dan benda jatuh dari arah kandang ayam Sontak sang wanita mengusap mata dan membuka pintu kamar serta berlari keluar memburu kearah kandang ayam Hatinya serasa teriris kala melihat anak lelaki yang semenjak kemarin di cambuki dan dijatuhi hukum yang rasanya tidak berkeprimanusiaan tersebut nampak terguling pingsan diantara tumpukan jerami dan kotoran ayam. Hebatnya walaupun terjatuh pingsan, sang anak seolah mengatur jatuh tubuhnya agar tidak memecahkan telur-telur ayam yang dieraminya Kini suara berkeciap terdengar dari telur-telur tersebut! Semua telur berhasil ditetaskan tanpa satupun yang pecah! Benar-benar anak hebat! Baru sekali ini ada orang yang bisa melewati hukum ayam dengan sempurna! Seorang bocah pula! Salut benar-benar salut.! Anakku desis sang ibu sembari memburu dan memeluk tubuh anaknya Diusapnya wajah yang sembab dan tubuh yang lebam dan belepotan kotoran ayam tersebut Hatinya teramat sakit kala mengingat sejak kemarin anak semata wayangnya ini dipukuli dan diperlakukan dengan kejamnya seperti ini Dan yang membuatnya paling merasa sakit karena pada kenyataannya dialah sendiri yang harus melakukan semua kekejaman itu! anakku maafkan ibu nak isak sang ibu sembari memeluk dan merengkuh erat anaknya yang pingsan itu Dibersihkannya bekas kotoran ayam serta debu dan jerami yang mengotori wajah anaknya tersebut dengan kedua telapak tangannya Melihat pemandangan di hadapanku hatiku benar-benar seakan teriris,

aku sampai menitikkan air mata kawan Apapun alasan mengapa sampai sang ibu berbuat kejam kepada sang anak aku tak akan mempertanyakannya lagi Aku dapat memakluminya dan aku percaya pasti ada alasan yang teramat kuat mengapa dia harus melakukan semua itu Karena seekor harimau saja takkan memangsa anaknya sendiri Apalagi seorang ibu Air mata itu sebagai bukti perlambang sucinya hati Seorang ibu tetaplah seorang ibu Aku percaya, suatu saat nanti semua pasti akan tersingkap Sebab itu aku belum mau menceritakan kepadamu siapa perempuan serta anak yang pingsan dalam pelukannya ini kawan Karena aku ingin mengajarkan satu pelajaran penting kepadamu Surga itu berada di telapak kaki ibu dan kasihnya selalu besertamu sepanjang jalan apapun yang terjadi bagaimanapun perlakuannya terhadapmu semua itu dilakukan karena dia amat mencintaimu.. Setuju kawan? Sekejam-kejamnya ibu tiri Masih lebih kejam ibu guru!!! (gak nyambung!!!!) Gajah mati meninggalkan gading Harimau mati meninggalkan belang Banci mati meninggalkan kutang!!!! (Walah! Lebih gak nyambung lagi!!!) Sudahlah Kawan Ceritanya sudah semakin ngawur.! He.he.he Aku memang tidak pandai menasihati Apalagi memberikan sebuah pelajaran.. pasti jadi gak bener seperti diatas! Namun satu hal yang pasti sebelum kututup bab ini kawan, aku ingin kalian semua menyadari dan mengerti bahwa ada begitu banyak anak yang berusaha dengan segala cara dan usaha, mendirikan monumen yang megah, membuat gedung dan prasasti bahkan yayasan terkenal hanya untuk mengenang dan membalas jasa orang tua mereka yang sudah meninggal, yang sementara saat mereka

masih hidup selalu mereka sia-siakan Aku beritahu kawan, semua itu tidaklah berguna dan sia-sia! Sayangi mereka saat mereka ada cintai mereka saat mereka masih bisa tersenyum dan membelai rambutmu karena sesungguhnya ada berjuta orang yang ingin menempati posisimu namun mereka terlambat untuk semua itu (This Chapter I Dedicate To My Beloved Mom) *** Bab II Si Tampan Penguasa Jamban Ditempat lain Lima belas tahun kemudian Mentari itu masih sama Dan kegembiraan itupun masih ada Kicau burung-burung bunga yang bermekaran tawa para petani dan lenguhan manja kerbau yang sedang berahi Semua masih tetap sama dan aku pun masih bangun di pagi hari untuk menikmati secangkir kopi dan menikmati sensasi terbitnya mentari Namun kali ini tanpa si kampret Aku senang kau masih bersamaku kawan Karena tanpa dirimu, apalah artinya cerita ini Kau sudah mendengarkan kesukaanku menyambut mentari pagi Dan tahukah kawan? Aku bukanlah satu-satunya orang yang menyukai hal ini Nun jauh di satu tempat di kaki gunung gede, Seorang kakek gagah juga nampak berdiri tegak menyambut datangnya mentari pagi Angin pagi yang lembut membelai untai sorban dan jubah putih gading yang dikenakan sang kakek Rambutnya yang putih keperakan dan sinar mata yang mencorong tajam ini menambah wibawa sang kakek Tangan kiri sang kakek nampak selalu mengelus janggutnya yang juga berwarna putih keperakan, sementara tangan kanannya nampak bertumpu pada sebuah tongkat bambu kuning beruas tujuh yang

dihiasi hiasan berbentuk kepala rajawali hitam berkilat diujung pegangannya. Sang kakek tidak sendiri Dibelakangnya nampak berdiri lusinan pria tegap berperawakan kekar dan bertampang sangar Siapakah kakek gagah dan orang-orang dibelakangnya ini? Wah, berat juga kawan menjelaskannya Karena untuk itu nampaknya aku harus membawamu kembali ke masa lalu Di masa silam tersebutlah seorang pendekar sakti nan gagah berjuluk Pendekar Pedang Maut Naga Merah 212 Pendekar sakti tersebut sendiri sebenarnya adalah seorang pangeran yang bernama asli Raden Adiama Padma, Putra Terkasih Susuhunan Kanjeng Ratu Rakai Prameswari Dyah Lokananta. Sang Maharaja Mataram kesaktian sang pendekar amatlah tinggi dan juga luhur budi, berbekal pedang sakti pemberian sang guru yang bukan lain adalah Pendekar kapak maut naga geni 212, sang pendekar kemudian melanglang buana membela keadilan dan kebenaran hingga jauh ke utara bahkan sampai ke Negeri Campa, Cepu, Tiongkok, bahkan hingga ke perbatasan Bhutan dan Tibet. Sekembalinya dari perantauannya, sang pendekar yang sudah semakin tua dan tidak ingin mengurusi masalah keraton kemudian merubah namanya menjadi Kiai Gede Sidik Panjalu dan kemudian mendirikan sebuah Padepokan silat di kaki gunung gede tempat dirinya dulu diajar dan di gembleng oleh sang guru yakni Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212... Padepokan itu kemudian diberi nama PADEPOKAN 212 Dan kini ratusan tahun kemudian Seorang kakek berdiri gagah di halaman belakang Padepokan 212 Dialah Ki Abdul Majid Pemimpin, sekaligus Cucu buyut dan pewaris terakhir Kiai Gede Sidik Panjalu sang pendiri padepokan 212!

Aku semula berpikir bahwa kakek sakti dan orang-orang di belakangnya ini pasti sama dengan diriku yang sangat menyukai mentari pagi Namun saat melihat rona muka dan keseriusan yang terpampang jelas di raut wajah mereka, aku pun merasa sangsi kawan Sikap mereka yang serius dan siap tempur ini hanya berarti satu hal! Ada musuh hebat yang sedang menyatroni padepokan 212 lewat halaman belakang! Siapa sesungguhnya lawan hebat nan nekat ini? Apakah seorang lawan berilmu sesat dengan pukulan-pukulan maut layaknya iblis? Ataukah Raja Diraja Biang Racun yang mampu menebar racun tanpa bau dan wujud seperti dalam legenda? Entahlah kawan Ada baiknya kita ikuti saja terus perkembangannya Ssst lihatlah kawan! Sang kakek Nampaknya sudah mulai bergerak Ah ini tentu akan menjadi semakin menarik! Cahsableng anak setan.!!! Cepat keluar!!! Kau sudah lama berada di dalam sana!!! Gantian! Guru dan Yang lainnya juga sudah tidak tahan!!! teriak sang kakek tiba-tiba kearah bilik kecil yang berada di tengah kolam kecil sebelah belakang bangunan padepokan ini Teriakan si kakek serempak langsung diikuti oleh makian dan cacian lusinan pria-pria berbadan tegap yang sebelumnya nampak berdiri di belakang sang kakek orang gila! Cepat keluar! Pake perasaan donk! Yang antri banyak nih! benar-benar setan! Jamban dikuasai sendiri! Cahsableng! Woooiii! keluar lu kampret! Wah, dugaanku rupanya meleset besar kawan ! Sang kakek dan lusinan orang berbadan tegap yang berada dibelakangnya rupanya bukan sedang menghayati datangnya mentari pagi seperti halnya

diriku Mereka pun rupanya juga bukan sedang menunggu musuh tangguh dengan ilmu-ilmu iblis sesat setinggi langit maupun raja diraja racun sakti yang akan mengacau padepokan mereka Mereka rupanya seperti juga kebiasan setiap orang normal yang harus menunaikan Panggilan alam di pagi hari Nyetor alias bongkar muatan Beginilah yang terjadi setiap pagi di halaman belakang padepokan 212, kawan Keributan seperti ini selalu terjadi setiap pagi, dan ini hanya ulah satu orang Cahsableng. Si Tampan Penguasa Jamban Begitulah orang ini menyebut dirinya Benar-benar kurang waras! Pagi ini pun seperti yang sudah-sudah Setiap penghuni padepokan termasuk sang guru Ki Abdul Majid, kembali harus bersua dengan murid gila yang mengaku tampan ini, yang entah sejak kapan sudah kembali menghuni istana nya untuk menunaikan panggilan alam selayaknya manusia normal lainnya Namun celakanya, makhluk satu ini termasuk model orang yang amat betah berlama-lama di dalam jamban! Dan ini jelas saja mengusik ketentraman dan kenyamanan para penghuni lainnya yang juga ingin menunaikan panggilan yang sama! Tambah celaka lagi di padepokan ini bilik jamban yang tersedia hanya sebuah! Dan yang sebuah itu pun kini sudah di kuasai secara mutlak dan absolut oleh Si Anak Setan!!! sebutan yang diberikan oleh Ki Abdul Majid--Sudah banyak kali para murid mengeluhkan ulah Cahsableng yang tidak ubahnya seorang Diktaktor Jamban ini kepada Ki Abdul Majid Beberapa diantaranya juga bahkan menyarankan agar sang guru membuat jamban lain agar tidak menyulitkan murid-murid yang lain

Namun sayangnya sang guru adalah orang yang masih memegang teguh adat istiadat lama sebuah rumah atau tempat tinggal hanya boleh memiliki sebuah jamban tuturnya Pamali! tutup sang kakek kala menjawab setiap keluhan muridmuridnya Dan inilah hasilnya! Setiap pagi mereka harus berjibaku dengan si penguasa jamban yang kejam dan tirani ini! Semua orang semakin lama semakin tidak sabaran memandang kearah bilik jamban Beberapa diantaranya bahkan sudah ada yang menimangnimang sandal dan batu bata! Seandainya saja jamban itu tidak terletak ditengah-tengah kolam sudah dari tadi Cahsableng yang berada didalam sudah mereka seret paksa Memang jamban satu-satunya tersebut dibuat di tengah kolam dan tidak di berikan jembatan penghubung oleh Ki Abdul Majid dengan maksud agar tidak dipakai sebagai sarana bolos latihan oleh muridmuridnya yang memang sebagian besar agak tidak beres ini. Untuk mencapai bilik jamban, seseorang harus melompat sekuat tenaga atau mengunakan peringan tubuh untuk berjalan diatas air kemudian masuk melalui pintu bilik yang terbuka Jika pintu bilik tertutup, maka otomatis orang yang melompat atau beranjak menuju jamban akan langsung terperosok kedalam kolam karena tidak memiliki tempat tumpuan untuk berpijak. Dan hal inilah yang membuat Ki Abdul Majid dan yang lainnya menjadi senewen karena tidak bisa berbuat banyak terhadap orang yang berada di dalam bilik jamban yang mereka yakini adalah Cahsableng ini. Berkali-kali mereka berteriak dan menyumpah-nyumpah sembari menahan rasa yang amat menyiksa ini Namun bilik kecil tersebut tetap sunyi lengang Bagaimana kalau Kita dobrak saja guru? ujar salah seorang murid sambil memegang-megang perutnya yang terasa melilit.

jangan!!! Kalau biliknya rusak malah nanti tidak bisa digunakan lagi Ah, memang benar-benar kelewatan! ucap sang kakek gegetun. Dipandangnya kembali bilik bambu yang berada di tengah kolam kecil di belakang padepokan tersebut dengan penuh harap sekaligus gusar guru! Mengapa kita tidak numpang pinjam saja jamban milik Mbok Tukijem? ucap seorang murid kearah Ki Abdul Majid Mata sang kakek langsung berbinar terang benar katamu!!! Mengapa tidak terpikirkan olehku? Kau pintar!! ayo cepat kita pergiucap sang guru sembari berkelebat kearah barat Sang murid yang dipuji sang guru merasa mengembang dadanya, dengan cepat dirinya dan lusinan orang lainnya melesat cepat mengejar kearah jurusan perginya sang guru Ah kawan, aku lupa menceritakan kepadamu tentang Mbok Tukijem Mbok Tukijem adalah seorang nenek tua yang menjalankan rumah atau kedai makan di kaki gunung gede Sang mbok sendiri hanya tinggal berdua dengan anaknya semata wayang yang bernama Nadia Kedai Mbok Tukijem ini selalu ramai oleh para petani dusun dan terlebih oleh anak-anak padepokan 212 Selain karena makanannya yang cukup enak dan murah, juga tentu karena adanya Neng Nadia yang cantik dan manis ini. Mbok Tukijem dan Neng Nadia merupakan tetangga terdekat dengan padepokan 212 dimana Ki Abdul Majid melatih murid-muridnya. Dan kesinilah akhirnya rombongan ki abdul majid dan murid-muridnya menuju Untuk meminjam jamban Namun wajah kekecewaan terlihat jelas di wajah Ki Abdul Majid dan murid-muridnya kala sampai di jamban yang dimaksud nampak kain butut yang mereka ketahui milik sang mbok tersampir diatas pintu jamban Sang mbok pun ternyata juga sedang menunaikan tugas mulianya Memenuhi panggilan alam

Namun kekecewaan mereka sedikit terobati manakala melihat di samping jamban berdiri seorang gadis yang nampaknya sedang menunggui sang mbok di luar jamban. Wajahnya tidak terlalu nampak karena posisinya yang agak menyamping dari sudut dimana Ki Abdul Majid dan para muridnya berada Dialah Neng Nadia Sang pemimpin padepokan 212 dan para murid-muridnya yang semula terbungkuk-bungkuk menahan hajat sontak berdiri membusung mengangkat dada Sang kakek nampak mengelus janggut berusaha menunjukkan wibawanya Sementara para muridnya macam-macam kelakuannya! Ada yang berlagak mengusap-ngusap muka Menyisir rambut dengan tangan Merapikan baju dan celana Sampai membasahi sepasang jempol dengan ludah dan mengoleskannya ke kedua alis dan sudut mata! Benar-benar kelakuan yang aneh! Nanti dulu kawan!!! Sebenarnya aku bukan bermaksud untuk mendramatisir keadaan atau memaksamu membangkitkan hal lain dalam dirimu yang memang sudah dari sononya suka membangkitkan diri semaunya di pagi hari itu Aku hanya ingin menggambarkan Panorama yang dilihat oleh Ki Abdul Majid dan murid-muridnya di pagi hari di samping jamban, yang membuat mereka sampai berkelakuan aneh dan macam-macam seperti itu Seorang wanita Dengan rambut panjang yang agak kusut masai dan basah oleh keringat Wajah yang menunduk dan tidak nampak karena kemalu-maluan (ingat!!! kemalu-maluan Bukan kemaluan!!!) Kemudian

kain ketat yang sempit dan agak kekecilan yang membelit tubuh sang dara dari bagian dada sampai kebatas paha yang putih gempal itu kemudian lagi Kulit putih kemerahan yang membuat urat-uratnya membayang jelas Kemudian lagi dan lagi Oh My Gosh..! Bulu!!! Ya bulu Bulu-bulu halus kemerahan yang menyebar di sepanjang lengan si gadis Sepanjang Tengkuk Cegluk.. ( sambil menelan ludah) Sepanjang paha Ehmm ( sambil memperbaiki posisi duduk) Dan kumis itu ooh ooh ouuchhh Tutungu dulu!!! Kukumis? Kumis apaan? Tiba-tiba sebuah jendela yang kebetulan menghadap kearah jamban terbuka, Seraut wajah yang manis dan terlihat segar layaknya sekuntum melati di pagi hari menyeruak dan tersenyum manis Dialah Neng Nadia! Yang sesunguhnya! eh kang Usep! Masih disini ? Oh jambannya masih dipakai si mbok si mbok mah gitu kalo di jamban emang suka lama ateuh eh rame pisan! Ada ki guru pula! aya naon ki? ucap si gadis dengan logat yang kental kearah Ki Abdul Majid dan yang lainnya yang sontak tergagap dan memandang pulang balik kearah nadia dan gadis yang berada di pinggir jamban. ti tidak ada apa-apa neng nadia Cuma mutar-mutar keliling saja ucap Ki Abdul Majid dengan suara tergagap oh bagus itu! biar aman nyak..? kalau gitu neng mau kedepan dulu ya ki nyiapin dagangan warung sok ateuh ucap si gadis sembari menutup daun jendela

jadi bagaimana guru? ucap salah seorang murid sembari memandang kearah Ki Abdul Majid dan bilik yang terlihat tertutup rapat Sang guru mengerutkan kening sembari berpikir keras kita kembali! Mau tidak mau kita keluarkan saja si anak setan itu secara paksa dari jamban! Benar-benar kapiran! ucap sang guru sembari melesat kearah padepokan dan diikuti oleh yang lain. Namun tidak semua murid beranjak pergi, satu orang yang tadi terlihat mengusap jempol beriler ke alis ini nampak berjalan mendekat kearah si gadis yang sebenarnya adalah Si Usep tukang pijat keliling ini Dirinya benar-benar merasa di tipu mentah-mentah! Si Usep yang memang potongannya hampir menyerupai wanita dengan kulit putih bersih dan ditambah rambut hitam tergerai ini nampak tersenyum menampilkan kumis baplang kesayangannya ini aya naon kang? Ngantri berak juga?Tanya Si Usep polos Sayang disayang jawaban si polos ini malah dibalas dengan tamparan di wajahnya yang kontan memerah! Ooouuch. Si Usep memekik keras Benar-benar seperti perempuan! hik.hik.hik salahku apaaa? Salah ku apAAAAA.?jerit Si Usep keras sembari bersimpuh di tanah dan menutup kedua tangannya ke muka dan menangis mengguguk! Sementara lelaki yang menamparnya telah melesat meninggalkannya tak berdaya dan rapuh di sudut jamban!!! Inilah tamparan yang pertama dalam hidupnya Tamparan yang menggores dalam dan mengubah arah hidupnya Oh Usep malang nian nasibmu Sep Sesampainya di jamban padepokan suasana masih terlihat lengang, pintu jamban pun masih tertutup rapat Hanya yang membedakan sekarang adalah dari atap bilik jamban nampak mengepul asap tipis tak berkeputusan! guru Cahsableng pasti sedang merokok di dalam jamban!! ucap

salah seorang murid sembari menunjuk kearah jamban di tengah kolam. Mata sang guru langsung mendelik gusar benar-benar anak setan!!! maki sang kakek sembari mengusapusap kepalan tangannya yang perlahan berubah menjadi keperakan dan mengumbar hawa panas! Benar-benar gila! Sang kakek rupanya hendak mengeluarkan ilmu pukulan yang paling pamungkas dan mematikan yang ada dalam padepokan 212! Apalagi kalau bukan pukulan matahari! Rupanya kakek satu ini tidak main-main! Sementara itu melihat apa yang dilakukan oleh sang guru, beberapa murid juga nampak melakukan hal yang sama Setidaknya ada lebih dari selusin tinju yang terkepal yang memancarkan cahaya keperakan diarahkan kearah bilik jamban! Dan bukan hanya itu saja, sisa-sisa murid lainnya yang agak dibawah tingkatan ilmunya mulai merapal bacaan ilmu-ilmu lainnya seperti Benteng Topan Melanda Samudera, Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih, sampai ilmu pukulan Kunyuk Melempar Buah! Jelas semua ilmu itu bukan ilmu main-main! Beberapa diantaranya bahkan ada yang merapal bacaan Ajian Angin Es..! hendak membuat Cahsableng beku mencret rupanya! Hawa panas menyengat dan hawa dingin silih berganti mulai melingkupi dan menyambar-nyambar wilayah kolam, dan hawa ini juga tentu saja dirasakan oleh makhluk yang berdiam di dalam jamban Betapa terkejutnya sang makhluk kala mengintip dari celah-celah bilik jamban, dilihatnya sang guru dan lusinan anak murid lainnya sudah bersiap melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh yang mematikan kearah jamban!! saya keluar!!! hoooiii!!! Jangan serang!!! Saya keluar!!!!!!! Pintu jamban pun sontak terbuka dan dari dalamnya melesat seorang pemuda gondrong bertampang konyol yang sedang memegang sebatang tembakau linting di tangan kiri dan menahan celananya

yang kedodoran di tangan kanan Ki Abdul Majid mendelik lebar kearah pemuda di depannya ini seakanakan hendak memakannya mentah-mentah, namun karena rasa mulas yang benar-benar tak tertahankan lagi niat untuk mengetuk kepala si anak setan ini akhirnya diurungkan. Sang kakek langsung melesat kearah jamban sembari sebelumnya melontarkan kata-kata penyejuk iman. dasar anak setan! Kau#*@!!...!#*! Cahsableng sampai melongo mendengar kata-kata yang tidak jelas itu Dirinya langsung berbalik kearah para saudara-saudara seperguruannya yang kala itu sedang memandangnya seakan hendak menelannya bulat-bulat. ada apa ya? Tumben pagi-pagi rame? Tanya sang pemuda dengan wajah polos dan pandangan tak bersalah Kontan saja pertanyaan ini seakan minyak yang disiram ke tengah api! Tanpa menunggu banyak waktu lagi, mereka serempak menyerbu dan menghadiahi si pemuda sableng ini dengan bingkisan ala kadarnya kontan saja pemuda satu ini langsung menjerit-jerit minta ampun! Tidak lama kemudian Ki Abdul Majid akhirnya keluar dari dalam jamban yang kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan tertib. Tidak seperti pemuda yang kini nampak lebam dan awut-awutan pakaiannya karena dijadikan pelampiasan kekesalan para saudaranya ini, para murid yang lain rupanya memiliki saluran pencernaan yang jauh lebih baik dan lebih sopan sehingga tidak lama kemudian antrian di depan jamban itu akhirnya habis. Melihat sudah tidak ada orang yang menggunakan jamban, cahsableng kembali hendak beranjak masuk namun langkahnya sontak terhenti karena Ki Abdul Majid sudah terlebih dahulu membembeng telinganya tinggi-tinggi! ampun gurusakit.! Ampun guruuuuu.!desis Cahsableng Dasar anak Setan...! kamu mau ngapain lagi balik ke jamban? Kamu sudah disana sampai nyaris kiamat!!!!

saya Perut Saya masih mules guru...! saya tadi belum sempat tuntas guru baru mau pembukaan satu belum sempat sampai di gerbangnya guru mata si kakek sontak membesar memandangi tubuh cahsableng atasbawah dengan pandangan gusar mustahil! Sudah hampir mampus di dalam jamban masih melilit juga...? Jangan mengada-ada!! Hayo cepat jalan sekarang waktu ujian sudah hampir lewat semua ini gara-gara kamu anak setan! Hayoh...! jangan pakai alasan lagi atau ku tendang sampai mencret pantat tepos mu itu...! bentak si kakek sembari terus menarik dan membembeng telinga Cahsableng sehingga membuat sang pemuda terus mengaduh kesakitan Cahsableng akhirnya hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu Salahnya sendiri *** Bab III Delapan Belas Lohan Emas (Shaolins Wanna Be) Beberapa purnama yang lalu, Padepokan 212 mendapat kunjungan kehormatan seorang tamu agung yang berasal dari dataran Tiongkok Dialah Thian Lam Hwesio, seorang Biksu Ketua Biara Shaolin cabang pusat. Sang biksu datang atas undangan Ki abdul Majid yang merupakan sahabat lama sang biksu ketua. Dalam pertemuan ini ki abdul majid dan sang biksu membicarakan situasi dunia persilatan sekaligus saling berbagi ilmu dan bertukar pikiran mengenai perkembangan serta macam ragam ilmu silat yang terdapat di tanah jawa. Maka terbukalah pikiran masing-masing akan keaneka ragaman serta macam ragam ilmu beladiri yang terdapat pada masing-masing perguruan. Setelah lebih dari dua pekan mengunjungi Padepokan 212, Biksu Thian Lam Hwesio kemudian meminta diri untuk kembali pulang ke Tiongkok.

Sebelum pulang biksu berhati emas ini masih menghadiahkan beberapa ilmu silat shaolin kepada Ki abdul Majid dan berharap agar sang kakek bisa sewaktu-waktu mengunjungi biara shaolin. Sang kakek hanya bisa mengangguk dan melepas kepergian sahabatnya ini dengan titik air mata Namun Selepas kepergian sang biksu, tiba-tiba penyakit lama sang kakek kembali kumat Si kakek yang biasanya Traditional Minded tiba-tiba saja tertular penyakit Shaolins wanna be tergila-gila dengan berbagai hal yang berbau kuil shaolin... dari sekedar kesukaan memakai jubah kuning kotak-kotak sampai kebiasaan baru Si kakek yang tiba-tiba saja suka berjalan mondarmandir keliling padepokan dengan wajah tertunduk, mengelus janggut dan sembari melafal amitabha. amitabha amitabha amitabha amitabha Seperti kebiasaan Sang Biksu Thian Lam Hwesio! Murid-murid yang lain hanya bisa melihat kelakuan guru mereka dengan kening berkerut tanda tak mengerti. Namun berbeda dengan si anak setan Cahsableng! Setiap kali sang guru berjalan mondar-mandir di koridor aula padepokan sambil mengumam tidak jelas, sang murid sedeng ini pun selalu mengikuti sang guru tepat di belakangnya! Menunduk terbungkuk-bungkuk sembari mengelus dagu dan mengerutkan kening serta turut bergumam amit-amitamit-amitamit-amityang di depan kayak dedemit Dan ini tentu saja berbuah sabetan tongkat bambu kuning tujuh ruas di seluruh tubuh si anak setan.. Hal lainnya.... Tidak ada angin topan dan tidak ada hujan badai, sang kakek tiba-tiba saja meminta delapan belas orang murid seniornya untuk menggunduli kepala mereka sampai licin! Keputusan ini tentu saja berbuah protes keras! Namun siapa yang bisa membantah? Disamping itu yang membuat kedelapan belas murid senior ini sedikit

terhibur adalah karena sang guru kemudian rupanya mengajarkan jurus tongkat yang amat lihai yang diturunkan oleh Thian Lam Hwesio kepada mereka. Jurus tongkat yang diturunkan oleh ketua shaolin ini adalah jurus toya delapan belas lohan emas yang harus dimainkan oleh delapan belas orang dalam satu barisan serangan dan bertahan yang amat menakjubkan Konon seorang murid shaolin yang sudah tamat belajar sebelum diperkenankan turun gunung harus bisa melewati barisan ini Dan kini Di tengah-tengah lapangan di depan padepokan yang biasa di gunakan sebagai tempat berlatih para murid, Cahsableng nampak berdiri setengah membungkuk sembari meringis memandang ke arah delapan belas orang seniornya yang kini nampak berdiri tegak dan memandangnya dengan wajah buas! Ya benar kawan Hari ini si anak setan akan turun gunung Dan dirinya memang sedang apes-seapes-apesnya! Jika dulunya kalau ada anak murid yang akan turun gunung, ki abdul majid biasanya hanya melepas sang murid dengan memberikan sekedar wejangan dan nasihat ala kadarnya, sekarang sudah lain lagi! Harus melewati ujian menghadapi delapan belas lohan emas! Semuanya gara-gara Shaolins wanna be Tentu saja sang pemuda memaki panjang pendek di dalam hati Teringat pula bahwa dirinyalah yang tertawa paling keras manakala ke delapan belas orang seniornya itu di cukur habis rambut kepalanya Tidak heran kedelapan belas orang di depannya ini kini memandang dirinya tak ubahnya melihat cendol di bulan puasa Tanpa sadar sang pemuda menenggak ludah dan mengeluarkan keringat dingin kang damai kang semuanya bisa kita bicarakan baik-baik kangucap sang pemuda lirih sembari memandang dengan pandangan memelas kearah delapan belas orang di depannya yang

kini nampak terkekeh senang. Sebenarnya tampang kedelapan belas orang ini juga jauh dari kesan sangar dan angker layaknya barisan lohan emas shaolin yang sesungguhnya. Ini semua gara-garanya ki abdul majid yang ingin mereka tampil serealistik mungkin kemudian menyuruh orang untuk melabur kunyit keseluruh tubuh kedelapan belas orang itu agar seolah-olah memiliki kulit terbuat dari emas! Kontan saja kedelapan belas orang ini jadi gelagapan kepanasan! Cahsableng pun sebenarnya hendak tertawa sedari tadi melihat tampang mengenaskan kedelapan belas orang yang wujud dan baunya sudah seperti tumpeng kemerdekaan ini Namun dia tahu kalau dirinya tertawa, kedelapan belas orang itu pasti akan menghajarnya habis-habisan! Oleh karenanya ditahannya suara tawanya sedapatnya sembari terbungkuk-bungkuk menahan perutnya yang sebenarnya masih terasa melilit! Bukan main! Berjam-jam di dalam jamban ternyata masih belum cukup! Tak tahulah aku apa yang akan terjadi sebentar! Cahsableng...ucap ki abdul majid dengan penuh wibawa dari atas pendopo Padepokan hari ini genap lima belas tahun sudah kau menimba ilmu di padepokan 212... sudah saatnya kau membaktikan diri kepada bangsa dan nagari serta mengamalkan setiap ilmu yang telah kau dapatkan di tempat ini dengan sebaik-baiknya...ucap keren sang guru wah bakalan panjang nih...batin sang pemuda sembari meringis tentunya setiap ilmu yang kau pelajari merupakan ilmu yang puilih tanding dan merupakan harta tak ternilai yang harus kau gunakan sebagaimana mestinya dengan tetap menjunjung tinggi akhlak, martabat, serta keharuman nama perguruan yang kita cintai ini... tuh kan...? apa kataku...!! panjaaaaang...!!! umpat sang pendekar di dalam hati. namun untuk dapat mengarungi bahtera dan mahligai dunia

kependekaran diluar sana maka dirasa perlu untuk menguji seberapa besar kepandaian yang telah kau serap dan telah kau resapi selama ini...lanjut sang guru sembari mengelus janggutnya yang panjang dan menatap jauh keangkasa. oleh karena itu...ucapan sang guru sontak terputus oleh teriakan cahsableng yang tiba-tiba... GURUUUUUU...! mata sang kakek kontan mendelik besar kearah si bengal guru...! ini mau ujian atau kutbah nikah...? pakai bawa-bawa bahtera dan mahligai segala...! bisa dipercepat tidak guru...? soalnya saya... kali ini ucapan cahsableng lah yang diputus oleh teriakan menggelegar dahsyat yang keluar dari mulut sang guru secara tibatiba dan tanpa disangka oleh cahsableng ini.... Seraaaaannggg......!!!!!!! teriak ki abdul majid sekuatnya dengan telunjuk tepat mengarah langsung ke hidung cahsableng...! mendengar aba-aba teriakan ini kontan saja kedelapan belas orang yang memang sudah siap sedari tadi langsung melayang menyerang kearah cahsableng dengan dahsyat...! tu... tunggu dulu...!!! saya belum siap-siap...!!! panik cahsableng kena batunya sekarang pemuda konyol yang satu ini...! inilah upah orang yang tidak sabaran dan suka memotong pembicaraan orang yang lebih tua... siap dijadikan perkedel oleh delapan belas orang botak berbau Jamu... serangan yang dilakukan oleh para Manusia Kunyit ini memang tidak tangung-tanggung dan benar-benar membingungkan lawan yang tidak siap secara mental dan spiritual dan sayangnya si anak setan ternyata termasuk dalam kumpulan manusia jenis tersebut diatas... sudah sakit mental, jarang pula berdoa kecuali saat makan dan buang hajat... Jurus lohan emas ini terdiri dari tiga barisan berbentuk dinding manusia yang terdiri dari susunan enam orang lohan emas yang saling memikul dan menunjang dalam posisi 3-2-1 sehingga menghasilkan dinding manusia berbentuk segitiga sama sisi...

Dan masing-masing sisi kini telah mengepung si anak setan dalam tiga jurusan dan mengakibatkan cahsableng kini terjebak didalam satu bentuk kurungan segitiga yang amat kokoh dan mematikan...! Memang harus diakui bahwa ilmu kedudukan dalam barisan yang terkandung dalam ilmu delapan belas lohan emas ini memang cukup hebat, Langkah-langkahnya yang diambil dari teori patkwa yang mengedepankan penjagaan di delapan penjuru gerbang angin saja sudah cukup menyulitkan apalagi serangan tongkat yang dalam kedudukan barisan segitiga ini sangat ampuh dalam menghadapi musuh setangguh apapun....! serangan pertama datang dari dua orang pada tingkat pertama sisi gerbang utara, dua orang dari tingkat kedua dan satu orang dari tingkat pertama dari sisi gerbang barat daya, dan dua orang tingkat pertama dan satu orang tingkat kedua serta satu orang pada posisi puncak pada barisan sisi sebelah tenggara...! bisa dibayangkan sendiri bagaimana dahsyatnya serangan sembilan buah tongkat yang menyerang secara bersamaan dan dari berbagai arah dan sudut ini... Namun cahsableng bukanlah cahsableng kalau tidak bisa memberikan perlawanan yang mengagumkan... dua tongkat pertama dari sisi utara di hadang dengan gagahnya dengan sapuan tangan kiri dalam Jurus Ular Menari di Awang-awang, kemudian tiga tongkat berikutnya dari sisi barat daya disapu dengan indahnya dengan hantaman tangan kanan yang menyapu dua tongkat pertama dan lalu meliuk indah keatas memapak tongkat ketiga dalam gerakan mengagumkan dari Jurus Bangau Menari Liar Ditengah Sawah, Sementara empat tongkat lainnya yang menyerang dengan hebat dari arah barisan tenggara di hadapi Cahsableng hanya dengan derai dan cucuran air mata... empat tongkat tak bisa dihindari lagi, langsung bersarang dengan telak di tubuh si anak setan...! Mengenaskan...! andai saja cahsableng memiliki tiga buah tangan, tak nanti dirinya berderai-derai air mata seperti itu dalam menghadapi serangan aneh

nan ganjil yang yang dilakukan oleh gerombolan Lohan Kunyit tersebut.... jurus peninggalan biksu Thian Lam Hwesio ini memang terbukti benarbenar dahsyat...! dengan menahan sakit pada punggung dan bahunya yang terkena serangan tongkat, pemuda satu ini kembali bangkit seraya memandang kearah delapan belas orang senior di depannya yang kini nampak terkekeh senang... kapan lagi punya kesempatan menggebuk si biang kerok selain hari ini...? batin para lohan kunyit ini di dalam hati... amarah mulai menjalari dada si pemuda...! namun biarpun hati cahsableng mulai memanas, tapi kepalanya masih tetap dingin... dia tahu menghadapi serangan yang amat tertutup rapat ini amatlah mustahil menggunakan pukulan sakti ataupun pukulan jarak jauh... satu-satunya cara yang tiba-tiba terpikir olehnya adalah merampas tongkat yang dipegang oleh para lohan emas tersebut sebelum mereka sempat memukuli dirinya... berpijak pada gagasan tersebut, setelah menghirup nafas panjang cahsableng pun segera melesat menggunakan peringan tubuh untuk membetot lepas tongkat-tongkat yang kembali berdatangan menyerang dirinya... namun melakukan tidaklah semudah merencanakan... setiap kali cahsableng hendak merampas sebuah tongkat pasti segera di susul serangan tongkat lainnya yang menghadang cengkeraman kedua tangannya disusul hantaman belasan tongkat lainnya yang mendera sekujur tubuhnya...! kembali pemuda gondrong ini terhempas keras di atas tanah dengan sekujur tubuh ringsek laksana di hantam godam...! dengan sekujur tubuh serasa luluh lantak cahsableng kembali mencoba berdiri... disekanya lelehan darah yang menetes dari sudut bibirnya tersebut... semangat bleng...! jangan mau kalah...! hantam bijinya...!pelintir anunya...

di kuntauw...! di kuntauw saja matanya bleng...! itu pasti kelemahan mereka...! jangan biarkan orang-orang botak itu merajalela...! begitulah teriakan-teriakan dari para penghuni padepokan guna memberi semangat pada si anak setan... teriakan para sahabatnya ini seolah menjadi pemacu semangat di dalam darah pemuda gondrong satu ini. tiba-tiba sebersit gagasan muncul dalam benak pemuda ini... dengan terlebih dahulu berteriak keras guna mengempos semangat, cahsableng kembali meluruk berusaha menembus kurungan barisan para lohan emas, tidak dipedulikannya serangan tongkat yang berusaha menghantam tubuhnya kecuali yang hendak bersarang di kepalanya itupun hanya di elakkan saja, konsentrasi cahsableng kini terpusat pada gerak langkah segi delapan yang digunakan oleh tiga orang pada barisan pertama yang menjadi pondasi barisan. Cahsableng mulai bersilat menggunakan ilmu silat orang gila untuk mencoba meresapi inti dari ilmu langkah yang didasari dari teori patkwa ini, dirinya tadi sempat menghitung bahwa dalam satu kali serangan setiap orang pasti menggubah kedudukan kaki sebanyak delapan kali sesuai dengan arah mata angin, sehingga total ketiga orang melakukan perubahan langkah sebanyak duapuluh empat kali dan total keseluruhan barisan melakukan tujuh puluh dua perubahan langkah dalam satu kali serangan. Sepintas saat dirinya dipukul habis-habisan cahsableng memperhatikan bahwa sebenarnya dari ketiga orang yang bertugas sebagai pondasi barisan hanya orang ditengah saja yang dapat melakukan delapan langkah sesuai arah gerbang angin yang sesungguhnya, sementara kedua orang disamping kiri dan kanan hanya melakukan gerak tipuan atau gerakan semu seolah-olah bergerak sesuai dengan kedudukan delapan gerbang penjuru mata angin. Ini bisa ditarik kesimpulan mengingat gerakan yang sesuai dengan arah delapan gerbang mata angin hanya bisa dilakukan oleh posisi poros...!

Jadi kalau di buat perhitungan total langkah yang digunakan oleh bangunan segitiga yang digunakan untuk mengurung cahsableng adalah hanya duapuluh empat langkah saja, sementara ke empat puluh delapan langkah semu yang dilakukan oleh enam orang pada sisi tiap bagian hanya digunakan untuk mengecoh dan membuat lawan menjadi bingung. namun yang hebatnya. justru perubahan tongkat yang paling ganas justru terletak pada keenam orang ini...! jika satu orang di sisi barat menggerakkan kakinya secara semu seolah-olah menghadap ke timur, maka orang disisi tenggara akan menggerakkan kakinya kearah barat dan mengunakan tongkat menyerang kearah barat begitu juga sebaliknya. Dan ini baru satu lapisan...! belum lagi formasi barisan serangan tongkat pada baris kedua dan barisan puncak...! kungfu shaolin memang benar-benar dahsyat...! namun bukan berarti tak terkalahkan... sebersit ide yang terlintas dalam pikiran cahsableng tadi yaitu mengunakan ilmu silat orang gila yang memiliki langkah-langkah yang juga ajaib dan mengagumkan ini seharusnya dalam perhitungan si anak setan seharusnya mampu mengatasi langkah barisan yang dilakukan oleh kedelapan belas lohan emas... karena langkah-langkah ajaib dalam ilmu silat orang gila yang dimainkannya walaupun hanya memiliki tiga puluh perubahan gerak, namun masih lebih unggul sedikit dari faktor kecepatan dan jumlah varian langkah dari barisan lohan emas yang langkah nyatanya cuma memiliki dua puluh empat perubahan. sayang ada satu hal yang tidak diperhitungkan oleh cahsableng... cahsableng bergerak kesana kemari menggunakan ilmu silat orang gila yang di pelajarinya dari ki abdul majid dengan begitu lincahnya, ilmu peninggalan pendekar kapak maut 212 ini sesungguhnya memang cukup ampuh dalam menghadapi barisan lohan emas, namun karena para lohan emas juga memepelajari ilmu silat tersebut, maka tak susah bagi mereka untuk beradaptasi dengan ilmu tersebut dan menyerang cahsableng habis-habisan...

cahsableng menyumpah sejadi-jadinya, entah sudah berapa puluh kali pukulan tongkat kembali menghantam tubuhnya... keadaannya yang patut dikasihani ini masih ditambah dengan kondisi perutnya yang semakin lama semakin melilit sehingga jagoan kita ini terpaksa bersilat sembari terbungkuk-bungkuk menahan hajat. Melihat keadaan cahsableng yang mengenaskan ini, Serangan para lohan pun kian hari kian gencar, para lohan ini bahkan ada yang mulai tertawa keras karena merasa diatas angin... tapi tiba-tiba... suara keras laksana Kambing siap kurban terdengar manakala cahsableng tiba-tiba saja merubah caranya bersilat... jika sebelumnya dengan menggunakan ilmu silat orang gila cahsableng nampak bergerak aneh dan kocar-kacir, kini gerakan cahsableng menjadi lebih hebat lagi walaupun agak terlihat ganjil. Tubuh jagoan satu ini terlihat terbungkuk-bungkuk dengan kaki dan tangan bergerak luar biasa cepatnya menyapu ke segala arah...! dan hebatnya lagi, tak sekalipun sepasang kaki si anak setan ini nampak menginjak tanah...! benar-benar luar biasa...! cahsableng kini bergerak ibaratnya sebuah bola yang menerjang para lohan dengan serangan tapak, kaki, perut, pundak, bahu, kepala dan buseet...! bahkan menggunakan pantat...! pendeknya seluruh bagian tubuhnya kini dipergunakan untuk menyerang lawan...! setiap kali tubuhnya akan menyentuh tanah, kedua tangannya atau kakinya nampak berputar sedemikian rupa menotol bagian tubuh lohan terdekat untuk dijadikan pijakan dan kembali melenting menyerang kearah lohan yang berada di depan, atas, atau sebelah kiri maupun kanan...! benar-benar gila...! namun juga ganas...! bahkan sang guru yaitu Ki abdul majid sampai terlonjak bangkit dari duduknya dengan pandangan melotot...! benar-benar gila...! dari mana anak setan ini belajar ilmu silat sehebat itu...?ucap sang guru sembari terus memperhatikan gerakan cahsableng.

he.he.he... tidak salah rupanya pilihanku... rupanya memang muridmu yang satu ini memiliki bakat yang jarang dipunyai oleh orang-orang lainnya... kau memang tidak salah memilih murid adikku... ucap satu suara dari sudut aula padepokan yang agak gelap... Kakang Begawan Alfarizi...desis ki abdul majid sembari memandang ke sudut padepokan dimana suara yang begitu akrab di telinganya tersebut terdengar. Seorang kakek yang perawakan, serta wajahnya bagaikan pinang dibelah dua dengan Ki Abdul majid nampak berdiri asyik sembari memandang aksi cahsableng dari sudut yang gelap di aula padepokan... rambut dan kumis sang kakek juga berwarna putih keperakan dengan sepasang mata mencorong tajam, dirinya benar-benar serupa dengan Ki abdul Majid...! namun serupa bukan berarti tiada perbedaan, Hal yang membedakan mereka berdua adalah kalau ki abdul majid memakai surban dan jubah berwana putih gading, maka kakek satu ini membiarkan rambutnya tergerai jatuh diatas pundak. Pakaian kakek inipun hanyalah sehelai kain putih sederhana yang dililitkan ke sekujur tubuh seperti pakaian yang dikenakan oleh para resi atau para pertapa. Sang kakek pun nampak memegang sebatang tongkat bambu tujuh ruas dan berkepala hiasan kepala rajawali seperti tongkat milik ki abdul majid, hanya saja kepala rajawali yang berada di ujung tongkat sang kakek berwarna putih mengkilat, berbeda dengan kepala rajawali di tongkat ki abdul majid yang berwarna hitam kawan, kau pasti bertanya-tanya siapa kakek kosen yang satu ini... biar ku beritahukan kepadamu kawan... dia adalah Begawan Alfarizi... saudara kembar ki abdul majid... puluhan tahun yang lalu mereka berdua dikenal sebagai sepasang pendekar kembar yang sangat terkenal di dunia persilatan... orang-orang rimba hijau dan sungai telaga mengenal kedua pendekar kembar ini dengan julukan Sepasang Rajawali Dari Gunung Gede...

bersenjatakan tongkat bambu tujuh ruas, kedua pendekar muda ini pernah menjungkir-balikkan rimba persilatan dengan menghancurkan berbagai sarang penjahat dan golongan hitam... dan yang paling terkenal dan sensasional adalah peristiwa penyerbuan sepasang pendekar ini ke lembah tengkorak yang kala itu menjadi markas partai Nujum Tengkorak yang diketuai oleh seorang gadis cantik bernama Nujum Hitam... entah apa yang terjadi dalam peristiwa penyerbuan itu, yang jelas kedua pendekar itu tiba-tiba saja memutuskan untuk mundur dari dunia persilatan dan kembali ke gunung gede tanpa alasan yang jelas... Ki abdul majid kemudian memutuskan untuk meneruskan memimpin padepokan 212 sesuai wasiat dari ayahandanya, sementara saudara kembarnya kemudian memutuskan untuk menjadi seorang pertapa yang menghabisi waktu dengan bersemadhi dan mensuci diri di puncak gunung gede. Kilas balik selesai muridmu ini walaupun konyolnya minta ampun namun amat berbakat dan merupakan generasi penerus padepokan 212 yang bisa dijadikan tumpuan harapan...ucap sang begawan sembari mengelus janggutnya yang putih keperakan. apa selama ini kakang begawan diluar pengetahuanku telah mengajar si anak setan ini secara menggelap dan melanggar perjanjian kita...?terdengar nada kurang senang dari teguran ki abdul majid kepada saudaranya ini. he.he.he... masih saja suka kumat angotmu itu jid...! juangan kuatir, aku sama sekali tidak menurunkan ilmu apapun kepada muridmu itu selain membantu menguatkan tubuh dan jalan darah diotaknya dengan mengajarinya cara semadhi yang sesuai dengan kebiasaan anehnya itu... he.he.he... jangan kau kira si anak setan itu hanya berak melulu selama berjam-jam diatas jamban... kau lihat sendiri sekarang hasilnya... dengan otak yang encer dan lebih terang karena meditasi khusus di atas jamban, muridmu ini dengan menakjubkannya bisa menggubah ilmu silat orang gila warisan leluhur kita dan

menurunkan ilmu yang sangat hebat... benar-benar bocah ajaib...! ki abdul majid menganggukan kepalanya, dirinya sebenarnya sangat berterimakasih atas kebaikan saudaranya kepada muridnya ini namun dirinya entah mengapa tidak mau menyampaikannya secara langsung... memang diantara dua orang kakak beradik kembar ini sebenarnya ada satu ganjalan atau permasalahan yang belum terselesaikan sehingga hubungan keduanya terlihat agak renggang... aku belum bisa menceritakannya kepadamu kawan mengenai perihal serta sebab musabab renggangnya hubungan mereka berdua... tapi aku janji suatu saat pasti akan kuceritakan kepadamu... ilmu yang dikeluarkan si anak setan ini memang benar-benar bagus dan aku masih bisa melihat dasar-dasar gerakan ilmu silat orang gila dalam setiap gerakan dan langkah kakinya. Apakah dia pernah memberi tahu nama ilmu yang diciptakannya ini...? tanya ki abdul majid setelah terdiam beberapa saat. ha.ha.ha... pernah...! sejujurnya kami berdua memang belum pernah bertemu muka secara langsung, karena aku biasanya hanya membimbingnya dari atas jamban dan itu pun hanya sebentar. Dia pernah menceritakan kepadaku kalau setelah bersemadhi sesuai dengan apa yang ku ajarkan, kini pikirannya serasa sangat jelas dan bukan hanya itu, dirinya pun pernah berkata kalau dia sudah menciptakan satu ilmu silat baru yang didasari dari ilmu silat orang gila... ilmu itu dinamakannya Ilmu silat Orang Kebelet...! ha.ha.ha... Muridmu yang satu ini benar-benar lucu adikku...tutup sang begawan sembari terkekeh geli. ilmu silat orang kebelet... hemmm.. orang kebelet....gumam ki abdul majid sembari mengerutkan kening dan memandang cahsableng yang memang bersilat agak seperti orang menahan hajat ini terbungkuk-bungkuk dengan pantat agak tertungging...! sementara itu semakin lama serangan cahsableng semakin menghebat. Ini bukan karena dirinya terlalu bersemangat, melainkan rasa mulas di perutnya semakin menghebat dan ini membuat Tangan serta kakinya bergerak cepat laksana kilat...

begitu juga pantatnya... beberapa orang pada posisi puncak dan lapis kedua sudah ada beberapa yang roboh terkena hajaran bokong sang pemuda...! melihat sudah ada beberapa lohan yang terjatuh, para murid yang sebelumnya membela dan menyoraki cahsableng kini tiba-tiba saja berpindah haluan... ayo Mas Arno... Kang Kabul...! bangkit...! jangan mau kalah sama si anak setan...! semangat kang...! jambak rambutnya kang... tendang udelnya...! plorotin celananya... sentil bijinya yang kiri...! disitu ada susuknya...! tempat kelemahannya...! disentil saja biar susuknya keluar kang...! pasti mustajab...! bukan main...! sorakan mereka malah lebih kuat ketimbang saat cahsableng dihajar habis-habisan tadi...! mulut cahsableng bahkan sampai nampak memanjang mendengar teriakan para pendukungnya yang sudah membelot ini... dasar kalian semua pengkhianat...! biji kalian yang ada susuknya...!maki cahsableng seraya terus melancarkan pukulan. Sementara itu melihat keberingasan cahsableng, Ki abdul Majid tibatiba saja mengempos tubuhnya dan didahului suara teriakan laksana rajawali murka, sang kakek melesat tinggi jauh keangkasa...! bukan main...! mendengar teriakan ini kedelapan belas lohan emas yang sebelumnya nampak kepayahan, tiba-tiba saja menjadi cerah mukanya... inilah yang mereka tunggu-tunggu...! kedelapan belas lohan emas ini secara tiba-tiba melakukan gerakan perubahan yang sangat mengagumkan dan tak terduga...! para lohan emas ini nampak turut melesat keangkasa dimulai dari posisi puncak yang melesat dari bantuan lontaran dua orang pada posisi kedua, kemudian diikuti melesatnya dua orang yang dilontarkan dengan menggunakan tenaga lontaran tiga orang pada posisi pondasi... sementara kesembilan orang yang tidak turut meloncat tiba-tiba saja

berputar sangat cepat seperti gasing mengarah kearah Cahsableng...! bukan main...! serangan dahsyat kesembilan orang ini ditambah dengan serangan sembilan orang lainnya yang telah melesat menyambut sang guru dan kemudian bersama-sama sang guru yang sudah mengacungkan tongkat tujuh ruasnya, turun dan meluruk dahsyat kearah cahsableng dalam satu serangan pamungkas...! inilah jurus pamungkas dari ilmu delapan belas lohan emas... Lohan Kesembilan Belas: Menutup Pintu Gerbang Selamanya...!!! sementara itu, cahsableng yang diserang secara hebat ini, juga telah sampai pada titik kulminasi tertinggi yang bisa ditahannya. Perasaan mulas dan daya tekan hidrodinamik dalam saluran pencernaannya telah merangsang sel darah putih untuk naik tanpa permisi sampai ke pembuluh darah yang ada di otak...! mata sang pendekar tiba-tiba saja terbeliak keatas sehingga hanya nampak putihnya saja...! dibarengi teriakan keras, cahsableng tiba-tiba saja berjungkir balik dan berputar cepat laksana gasing diatas tanah dengan bertumpu pada kepalanya...! bukan main...! benar-benar luar biasa...! dari sepasang tangan, kaki, bahkan pantatnya tiba-tiba saja mengeluarkan angin pukulan dahsyat yang menerjang langsung kearah sembilan belas tongkat yang menyerangnya dengan dahsyat...! inilah jurus pamungkas dalam ilmu silat orang kebelet yang diciptakan oleh Cahsableng... Dewa Kakus Menyapu Kutu Busuk...! VS Lohan Kesembilan Belas: Menutup Pintu Gerbang Selamanya...!!! Pamungkas kontra Pamungkas...!!!!!! terdengar suara dahsyat menggelegar manakala kedelapan belas tongkat yang bertemu angin serangan yang dikeluarkan oleh cahsableng ini hancur dan bertebaran di tengah udara...!!! hanya tongkat ki abdul majid yang masih utuh, namun itupun terlempar dan melesat jauh dari pegangan si empunya tongkat...! terdengar jerit dan teriakan kaget dari kedelapan belas lohan dan sang guru yang senjatanya berhasil di tepis secara luar biasanya oleh

cahsableng ini... jelas-jelas para lohan emas ini beserta sang guru telah terluka walaupun tidak terlalu berat akibat serangan aneh dan menakjubkan yang dilakukan oleh Cahsableng tadi, Namun sesungguhnya mereka semua bukan berteriak karena luka dalam tersebut... mereka berteriak keras karena pada saat benturan keras tadi terjadi, bukan hanya angin pukulan yang bertebaran dari tubuh cahsableng, melainkan juga.... ah... Aku sungkan menjelaskannya kawan....! yang bisa ku katakan padamu hanyalah kalau saat ini cahsableng nampak berdiri diam dan tersenyum seraya menatap jauuuuh kearah angkasa... tubuhnya terasa ringan seakan melayang di batasan mega... awan gelap dilihatnya bahkan bagaikan berpelangi... suara cacian dan makian para lohan kunyit dan Ki Abdul majid yang sebagian besar tubuhnya terkena Tebaran seperti dimaksud diatas... malah didengarkannya bagaikan simfoni kicauan ratusan burung surgawi... tidak dipedulikannya bau aneh yang menyeruak serta beberapa murid yang sampai jatuh pingsan kelengar akibat mencium atau terciprat barang larangan tersebut... tidak... dia tidak mempedulikan semua itu... hanya kelegaan yang amat sangat yang dirasanya... perutnya kini sudah tidak mulas lagi... lega...! Ploooong...! sempurna.... desis cahsableng dengan mata berbinar... DASAR ANAAAKKK SETAAAAAAANNN..!!! *** BAB IV WARISAN YANG TAK TERNILAI HARGANYA.. Matahari telah naik semakin tinggi... Cahsableng terlihat duduk terpekur di hadapan Ki Abdul Majid yang kini nampak sudah duduk bersila dengan gagahnya di pendopo aula padepokan. Dibelakang cahsableng nampak semua penghuni padepokan yang merupakan murid-murid padepokan 212, termasuk para lohan emas

juga sedang bersila dalam barisan yang rapi dan teratur Tak henti-hentinya mereka ini mendelik dan menyumpah habishabisan kearah cahsableng walaupun dengan jalan berbisik-bisik Dihadapan sang kakek kini terlihat sebuah bungkusan kuning berhias huruf Njawi kuna yang terletak di atas sebuah nampan beludru indah. Beberapa jumput bunga kantil dan kemboja nampak tersebar diatas bungkusan tersebut. Sebagaimana cahsableng dan para manusia kunyit, sang kakek juga kini telah berganti pakaian yang baru setelah mandi bebersih sampai tujuh kali lamanya... jurus pamungkas si anak setan ini memang benar-benar berdampak luar biasa... setelah hening sejenak, sang kakek kemudian mulai membuka suara... Cahsableng... ya guru... sudah lima belas tahun kau belajar di tempat ini, seperti yang sudah ku ucapkan di awal sebelum ujian kelulusan, sudah saatnya bagimu untuk turun gunung dan membagi ilmu yang kau miliki kepada bangsa dan nagari... cahsableng nampak menganggukkan kepala tentunya untuk menjaga diri, selain bekal ilmu silat yang sudah kaudapatkan, layaknya setiap murid padepokan yang sudah menyelesaikan pelajarannya dan siap untuk turun gunung maka dirimu pun akan diberikan bekal berupa sebuah senjata pusaka... jantung cahsableng mulai berdebar... inilah saat yang paling ditungu-tunggunya selama ini... senjata pusaka miliknya sendiri...! setiap senjata tentunya menjadi berarti jika dipergunakan dengan baik oleh si empunya senjata. Senjata akan menjadi baik jika ditujukan untuk kebaikan namun juga akan menjadi jahat jika digunakan untuk tujuan jahat dan tidak mulia. Apakah kau bisa mengerti dan menyelami apa yang kusampaikan ini wahai muridku cahsableng...?tanya sang guru murid mengerti guru... murid akan menggunakan sebaik mungkin

senjata apapun yang diberikan dengan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan... ucap cahsableng dengan nada bergetar ki abdul majid nampak tersenyum dan memandang cahsableng dengan pandangan puas. bagus muridku...! jawabanmu benar-benar menyenangkan hatiku... senjata yang baik harus pula digunakan untuk tujuan yang baik... selain itu dirimu juga harus bisa menjadi panutan dan contoh bagi para murid yang lain sebagaimana petuah yang disampaikan oleh guru sepuh kerajaan kita yakni Ki Hajar Dewantoro.. . ING MADYA MANGUN KARSO... ING NGARSO SUNG TULUDO... TUT WURI HANDAYANI... ini harus kau perhatikan baik-baik...ucap sang kakek sok bijaksana baik guru... akan saya selalu perhatikan nasihat guru...sembah cahsableng dengan khidmat. bagus... sekarang coba ulangi... cahsableng terhenyak u...ulangi apa guru...? Guoblok...! itu yang tadi di omongin oleh Ki Hadjar Dewantoro...ucap si kakek dengan mata mendelik gusar. i..iya guru... iya...iya... cepat sebutkan...!omel sang kakek ing...ing... ing...ucap sang pemuda seraya berpikir keras ing.. ing apaan...? jangan terbata-bata...! yang jelas ngomongnya...! ING MADYA MBAUREKSO... Mata Sang guru kontan mendelik besar... MBAH NGARSO SONTOLOYO... sang guru pun sontak terlonjak kaget... TUT WURI TAK' PATENI.... benar-benar kurang ajar...! sebuah sendal kontan langsung melayang ke jidat cahsableng...!!! ampun guru... bukan salah saya...! saya kan tidak hapal...bela cahsableng sembari memegangi jidatnya yang kena timpukan sendal. Ki Abdul majid akhirnya hanya bisa mendelik dan mengurut dada menahan sabar sambil memandang miris kearah si bengal satu ini.

Cahsableng memang benar-benar cobaan hidup... memang lebih mudah mengajar Jin kiprit dari pada si Anak setan...batin sang guru dalam hati sang kakek akhirnya hanya bisa angkat tangan... pasrah... Setelah menghela nafas sejenak, ki abdul majid akhirnya kemudian mengangkat nampan beludru di hadapannya dan menjunjungnya di atas kepala beberapa saat sembari berkemak-kemik entah mengucap mantra atau berkumur kurang jelas juga maksudnya apa... semua gerak-gerik sang guru diikuti oleh cahsableng dengan hati berkebat-kebit setelah menyelesaikan ritualnya, sang kakek kemudian menyerahkan bungkusan yang berada dalam nampan beludru tersebut kepada cahsableng yang segera menerimanya dengan tangan bergetar senjata sakti apa gerangan yang sekiranya ada dalam bungkusan ini...? batin sang pemuda sembari bertanya-tanya dengan jantung berdegup kencang. Setelah menyembah beberapa kali dihadapan ki abdul majid dan nampan beludru, cahsableng mulai menggerakan jemarinya menarik simpul pembungkus kain. Kain pembungkus pertama dibuka... mata cahsableng nampak berbinar cerah... namun... didalamnya ternyata masih ada pembungkus kuning yang kali ini bertulis huruf Arab gundul...! kepala sang pendekar terangkat memandang kearah sang guru dengan pandangan penuh tanda tanya... sang kakek hanya terlihat menganggukkan kepala dengan pandangan mata penuh keyakinan. bungkus luar huruf njawi... bungkus dalamnya huruf arab gundul... pertanda pusaka ini pasti milik orang suci... hebat... ini pasti pusaka hebat...desis sang pendekar sembari menenggak ludah beberapa kali.

Dengan tangan bergetar sang pendekar kembali membuka simpul ikatan kain... dan... ternyata didalamnya juga masih ada lagi kain pembungkus berwarna kuning...! kali ini bertulis aksara tionghoa... kepala sang pendekar terangkat memandang kearah sang guru dengan mengerutkan kening... sang kakek kembali hanya terlihat menganggukkan kepala dengan pandangan mata penuh keyakinan. Ini kembali membesarkan hati sang pendekar muda. Pertama huruf njawi kuna, baru tadi huruf arab gundul... sekarang huruf tiongkok... ini pasti pusaka bukan sembarang pusaka...! sudah melanglang buana ke seluruh jagat...! batin cahsableng dengan nafas semakin memburu. Kembali dengan tangan bergetar cahsableng membuka simpul pengikat kain kuning bertuliskan aksara tionghoa... dan... nafas sang pendekar sontak tercekat... Astaga...! dibalik kain bertulis aksara tiongkok ternyata masih ada kain kuning lagi...! kali ini berhias aksara sansekerta...! kembali kepala sang pendekar terangkat kearah sang guru... perasaan tidak enak mulai menjalari diri cahsableng namun kembali pula sang guru menganggukkan kepala dengan ekspresi sangat meyakinkan... bahkan kali ini ditambah gerakan mengelus janggut panjang kebanggaannya... mata sang pendekar kembali berbinar... ah... kali ini aksara sanskirt... tidak bisa di sangkal lagi... pusaka ini pasti pernah singgah di negeri india...! bukan main...! benar-benar membuat orang penasaran...! ucap sang pendekar dengan pandangan berkilat-kilat...!

kembali jemari cahsableng bergerak lincah membuka simpul ikatan... matanya sontak membesar.... buseeet...! masih ada kain kuning lagi...! kali ini bukan lagi aksara yang tertulis diatas kain kuning tersebut melainkan sekumpulan gambar bermacam-macam! Ada yang berwujud kepiting, udang, bahkan muka orang...! dengan kening berkerut dan penuh perasaan was-was jemari cahsableng kemudian dengan tidak sabaran kembali membuka simpul kain kuning tersebut, dan sesuai dugaannya... kembali lagi ditemukan sehelai kain kuning... begitu terus sampai sampai akhirnya pada kain kuning terakhir ternyata tidak ditemukan apa-apa... kosong..! sekosong pandangan cahsableng... tiba-tiba terdengar gemuruh suara sorak sorai dari belakang pundak cahsableng, rupanya para murid yang berada dibelakang sang anak setan tiba-tiba saja bersorak keras sembari bertepuk tangan kencang... hebat.... luar biasa....! hidup cahsableng...! hidup cahsableng...! sungguh-sungguh nasibmu benar-benar mujur bleng... cahsableng memandang para saudara seperguruannya yang nampak bersorak sorai senang dengan pandangan heran... Seorang yang dikenalnya sebagai salah seorang lohan kunyit bahkan dengan penuh hormat kepada Ki Abdul Majid kemudian terlihat naik keatas pendopo dan memeluk sembari memberi selamat dengan menjabat tangan cahsableng erat Selamat bleng...benar-benar kau sangat beruntung...! kau akhirnya mendapatkan senjata yang paling diidam-idamkan seluruh murid padepokan 212...! ucap si botak senjata apaan Maspencenk...? lha wong ini cuma ada kain kumal kosong melompong begini...!ucap cahsableng seraya menunjuk kearah kain kosong dihadapannya

wah kau salah bleng... ini jelas-jelas pusaka yang paling hebat dari segala pusaka yang ada di padepokan 212 masa kau tidak dapat melihatnya...? bukan begitu teman-teman...?seru si botak yang dipanggil oleh cahsableng dengan sebutan maspencenk ini. Seruan si botak langsung diamini oleh seluruh penduduk padepokan si botak pun perlahan bergerak seperti mengambil sesuatu dari atas kain dan memandang dengan pandangan berbinar. ck.ck.ck... hebat betul senjata mustika ini... benar-benar pusaka puilih tanding...! desis si botak seraya memandang kedua tangannya yang seolah sedang menggengam sesuatu ini. Cahsableng memandang kearah Maspencenk dengan pandangan terheran-heran. ini orang sudah gila apa...? tangan kosong melompong begitu dibilang ada senjata... atau apa mataku yang memang sudah lamur ya...? batin cahsableng sembari menatap kelakuan Maspencengk, salah satu lohan kunyit ini yang bahkan sekarang nampak menciumciumi udara kosong ditengah-tengah kedua tangannya...! Benar-benar edan....! dan yang lebih mengherankan lagi, tiba-tiba saja si botak satu ini memohon pamit kearah Ki abdul majid dan kembali kearah temantemannya sembari memperlihatkan benda pusaka yang berada di tangannya. Terjadi kegaduhan manakala para murid nampak saling serobot untuk melihat pusaka yang seyogyanya akan diberikan kepada cahsableng itu. Terlihat Maspencenk berbicara kepada salah seorang sembari seolah menyerahkan benda ditangannya kepada salah seorang teman didekatnya. Sang teman pun nampak memandang dengan wajah berbinar, ditimang-timang benda tanpa wujud di tangannya, kemudian dicium dan di berikan kepada yang lain. Begitu seterusnya pusaka cahsableng kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain... setiap kali pusaka tersebut berpindah tangan selalu disertai

decakan dan desis kekaguman. Bukan main...! apakah memang pusaka yang akan diberikan cahsableng ini begitu hebat sampai dapat membuat kejadian seperti ini...? wah aku pun tak tahu kawan...! yang jelas aku pun sama penasarannya dengan cahsableng... sang pemuda pun kemudian tanpa sadar keluar menuju kerumunan murid-murid padepokan yang sedang bergantian meneliti pusaka miliknya tersebut. Melihat pandangan dan tingkah laku serius serta roman muka para murid, perlahan mulai muncul keraguan di hati cahsableng. apa benar memang ada pusaka hebat dalam kain kuning yang berlapis-lapis tadi...? kalau memang ada mengapa aku saja yang tidak bisa melihat sementara yang lainnya bisa melihat...? batin cahsableng semakin penasaran kang, tolong di kembalikan kang... saya juga belum sempat lihat...pintanya memelas namun nampaknya para kerumunan itu tidak mendengar apa yang diucapkan oleh cahsableng, pusaka itu masih terus hilir mudik dari satu tangan ke tangan yang lain. kang... tolong kembalikan kang... itu punya saya...!teriak cahsableng keras-keras. Kini dia sudah mulai percaya kalau pusaka pemberian ki abdul majid itu memang sedang dilihat dan di pegang oleh murid lainnya, hanya saja dia belum mengetahui mengapa hanya dia seorang yang belum bisa memandang senjata pusaka tersebut cahsableng menerobos kearah kerumunan para murid yang sedang memperhatikan pusaka miliknya tersebut, tanpa sadar dia mendorong seorang murid hingga terjerembab. Dasar kuya...! mata mu buta ya...? lihat, kau sudah menjatuhkan senjata pusakanya...! seru orang yang disenggol oleh cahsableng sembari menepis debu yang mengotori pantat celananya. maaf kang saya tidak sengaja... saya cuma kepingin ngambil senjata saya saja...bela cahsableng

halaah...! alasanmu...! lihat sekarang sudah jatuh senjatanya... ini gara-gara kamu...! sekarang dimana senjatanya kang...? itu punya saya... cari sendiri... wong kamu yang menjatuhkan...ucap si murid yang di senggol oleh cahsableng wajah cahsableng kontan memucat, diedarkannya pandangan kesekeliling. ba.. bagaimana mencarinya kang...? lha saya tidak bisa lihat apaapa...? pintanya memelas guruuuu.... cahsableng berujar sembari menatap penuh permohonan kearah sang guru yang berada di beranda aula namun sang guru nampak sedang asyik menatap angkasa sembari mengerutkan kening dan mengelus-elus janggutnya... penyakit merenung tiba-tiba sang kakek rupanya sedang kumat cahsableng hanya bisa menghela nafas. Dengan terbungkuk-bungkuk sang pemuda terlihat putar kayun kesana kemari mengaduk-aduk halaman guna mencari senjata pusakanya yang katanya terjatuh. Tak dilihatnya para murid padepokan yang kini sedang memegang perut berusaha sedapatnya menahan tawa...! begitu cahsableng bangkit seraya memegang pinggulnya yang terasa nyeri akibat membungkuk terlalu lama, sontak wajah para murid ini berubah kembali serius. Kecepatan perubahan wajah mereka bahkan melebihi cepatnya perangkap tikus...! Bukan main...! benar-benar hebat cara mereka bersandiwara...! kang, tolong saya kang... saya benar-benar tidak bisa melihat senjata pusaka tersebut... tapi itu punya saya kang.... tolong diambilkan...ucap cahsableng semakin memelas sungguh kasihan melihat layon cahsableng... dan tergerak oleh rasa kasihan tersebut, seorang kakek botak kemudian nampak berjalan mendekati Cahsableng... sang kakek bertubuh kurus dan bermata jereng, dari tubuhnya yang agak membungkuk tercium bau pesing yang amat sangat.

Siapalagi kalau bukan Setan Ngompol...! kawan, jika kau menyangka kalau kakek satu ini adalah seorang murid di padepokan 212 maka jawaban mu adalah salah... Dan jika kau berpikir kalau kakek ini setidaknya adalah salah satu guru di padepokan maka pikiran mu lebih keblinger lagi...!!! Lakon sang kakek bukanlah sebagai murid padepokan 212... apalagi sebagai guru... sang kakek adalah keran bocor... contoh nyata kegagalan sistem irigasi Kandung Kemih... secara Harafiah... kakek satu ini adalah salah seorang sahabat padepokan 212... benar kawan, padepokan 212 memang selalu membuka pintu bagi para pendekar dan kaum rimba persilatan yang ingin bergaul dan bersahabat baik. Ada banyak tamu dan sahabat yang sering bertandang dan bahkan tinggal berbulan-bulan bahkan bertahuntahun menghabiskan beras dan jatah pangan di padepokan ini. salah satu nya adalah Setan ngompol. sang kakek nampak memungut sesuatu dari atas tanah dan kemudian mengangsurkannya ke tangan cahsableng. Walau masih merasa heran, namun tetap juga sodoran tangan kosong berisi pusaka tersebut diterima oleh cahsableng seolah-olah memang benar kalau di tangan kakek bau pesing itu benar-benar tergenggam sebuah senjata pusaka. Cahsableng... ini adalah pusaka yang sangat hebat, merupakan pusaka yang diidam-idamkan dan diperebutkan oleh segenap tokoh dunia persilatan pada seratus tahun yang lalu... jangan kau sia-siakan dan jangan kau perlakukan sembarangan atau nanti kau akan kualat...ucap si kakek dengan wajah datar cahsableng mengangguk Terima kasih Kek, kalau boleh saya tahu apa nama pusaka ini kek... terus kenapa cuma saya saja yang tidak bisa melihat dan menyentuhnya...? Tanyanya sembari memandang kearah kedua tangannya yang menggantung kosong ditengah udara Senjata ini bukanlah sembarang pusaka... senjata ini merupakan

sebilah Pedang Pusaka yang dahulunya dimiliki oleh Pendekar Pengembara Tanpa Tanding pada Ratusan Tahun yang lalu. Pedang yang sudah membinasakan ratusan tokoh jahat di rimba persilatan masa lalu ini sendiri oleh si empunya dinamakan Pedang Kentut Sakti Tak Berwujud Tak Berbentuk Tanpa Tanding Penuh gairah Naga geni 212...jawab sang kakek sembari berlagak keren mengangguk-anggukan kepala. Buseeet...! Panjang amaaaaaaaaaaaaat....! Sementara cahsableng nampak terpana mendengar penuturan ngawur setan ngompol, para murid padepokan 212 bahkan nampak ada yang membuang muka ataupun menundukkan kepala berusaha menahan tawa. tak berwujud Tak berbentuk... pantas saja aku tidak bisa melihatnya....ucap sang pendekar dengan degup jantung berdebar. Diterimanya mentah-mentah bualan setan ngompol... kalau saja sang pendekar mau berpikir agak sedikit waras, mana ada yang namanya Pedang Kentut Tak Berwujud segala... sudah tak berwujud, kentut pula...!! Malah ada Penuh gairahnya segala....!!! setelah mengucapkan terima kasih kepada setan ngompol, sang pemuda kembali berlari kearah beranda padepokan dan langsung berlutut dihadapan ki abdul majid. guru... murid sungguh berterima kasih atas budi kebaikan guru selama ini... murid berjanji dengan Pedang Kentut Sakti Tak Berwujud Tak Berbentuk dan seterusnya ini, murid akan selalu menegakkan keadilan dan kebenaran... namun sebelumnya maukah guru mengajarkan kepada murid bagaimana caranya agar murid bisa melihat dan menggunakan senjata ini seperti para murid lainnya...? sunyi.... guruu...? cahsableng perlahan mengangkat kepalanya dengan kening berkerut dilihatnya sang guru nampak menahan perut sedapatnya dan... dibarengi dengan pecahnya tawa ki abdul majid, maka meledaklah

tawa dari segenap penjuru padepokan...! Cahsableng nampak terhenyak tak mengerti... dirinya memandang guru dan para saudara seperguruannya dengan tatapan bengong... dirinya benar-benar bingung... Namun kemudian cahsableng akhirnya tersadar juga.... Kutu Kupret, Kadal busuk, Sapi Bengkak, Kebo budek, monyet nungging, Kampret berak, Cicak bunting, Ikan buntal, Buaya buntung, Kalian setaaaaaan semua! maki Sang pemuda gegetun. Bukan main makian si tampan penguasa jamban ini... sampai para sanak kadang pun turut di bawa-bawa...! Suara bahana tawa semakin keras mengelegar di langit padepokan 212, para murid dan bahkan Ki abdul Majid sendiri bahkan sampai tertungging dan menahan air mata sembari tertawa melihat wajah cahsableng yang mewek kesal dengan bibirnya yang semakin monyong memanjang ini. Rupanya kebiasaannya yang satu ini akan bertahan lama dan akan semakin sering kita lihat kawan... dilemparnya tumpukan kain bertuliskan aneka aksara yang teronggok di depannya kearah para murid yang kontan semakin terbahak-bahak itu. Puas...? Puas...? Puas...? Puas...? Puas...?seru si bengal seraya memandang kearah para saudara seperguruannya tersebut dengan pandangan bengis Baaaangeeeeetttttttttttt....!!! kompak para murid seraya kembali tertawa lepas. Bisa dibayangkan sendiri gemasnya cahsableng siang itu... Setelah beberapa saat tertawa, ki abdul majid kemudian nampak mengangkat tangannya guna menenangkan keadaan. sudah... sudah... cukup... harap kalian semua tenang...ucap sang kakek dengan penuh berwibawanya. Para murid pun kemudian akhirnya mulai diam dan tenang meskipun masih mengulum senyum sudahlah cahsableng... jangan dimasukan di hati... saudara-saudara

mu toh hanya bercanda... bercanda sih bercanda guru... tapi kenapa guru juga ikut-ikutan segala...? memangnya tidak boleh...? waktu mereka kecipratan ampasmu memangnya gurumu ini tidak kebagian apa...?ucap si kakek dengan mata mendelik sang pemuda hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memang kalau dipikir-pikir apa yang sudah mereka perbuat tidak sebanding dengan kejahilannya selama ini. Sampai-sampai guru sendiri bahkan dicipratin kotoran sendiri...! benar-benar anak setan...! senyum kembali terlihat di bibir sang pemuda. he.he.he... iya.. memang saya yang banyak salah sama guru dan yang lainnya... nah... begitu... harus mawas diri... harus bisa berbesar hati... Legowo... dan yang terpenting harus mampu mengendalikan esmosi...ujar sang guru dengan bijaknya inggeh guru...ucap cahsableng seraya tertawa dalam hati emosi di sebut esmosi... kalau begitu rasa-rasanya memang sudah saatnya pusaka yang sesungguhnya ini akan ku berikan kepadamu sebagai pertanda kelulusanmu dari padepokan 212...! berdegup keras jantung cahsableng, akhirnya dapat juga dia memiliki pusaka yang asli sebelum cahsableng menerima senjata pusaka, diharapkan semua orang berbalik kebelakang tidak terkecuali...!ucap keras sang aki tiba-tiba Para murid nampak saling memandang, sementara cahsableng malah memandang ki abdul majid dengan bengong. kalian semua budek...? semuanya berbalik kebelakang...!!!semprot sang aki dengan mata mendelik kontan saja semua murid langsung membalikkan tubuh, bersila membelakangi ki abdul majid. Hanya cahsableng yang masih memandang terpana

mata si kakek semakin membesar balik kebelakang seetaaaaaaannnn...! kali ini hanya pelan saja ki abdul majid berucap, namun sekali berucap pelan, wajah sang guru bahkan sudah hampir menempel di muka si tampan penguasa jamban...! i..iya guru... gugup cahsableng yang kontan bergegas membalikkan tubuhnya sang guru nampak memperhatikan ke kiri dan ke kanan menimbang keadaan serta situasi semua murid termasuk cahsableng nampak membelakanginya dan diam terpekur meskipun hati bertanya-tanya. Bayangan sang kakak yakni Begawan Alfarizi pun sudah tidak nampak lagi di sudut aula padepokan yang gelap. aman.... batin sang kakek dengan gerakan sebat tiba-tiba sang kakek nampak berjongkok dan menarik keluar sehelai kain dari balik jubah kesayangannya...! kawan, tidak perlu intuisi seorang peramal untuk mengetahui apa yang ditarik keluar oleh ki abdul majid... yang ditarik keluar oleh sang guru ternyata adalah sehelai celana dalam... alias sempak... atawa Kolor... a.k.a Cancut... Celana Membu.. Panties... Pantyhose... Thong... G-string... oh... ouch... Yeaah... ooooooooooooooohhh My Gosh..........!!!! SUDAH...! SUDAH...! CUKUP...! Fokus kawan... Fokus...! Konsentrasi...! ingat nasihat Psikiater Langgananmu... lupakan saja semua obsesimu itu... bukankah kau telah berjanji untuk membuka lembaran baru...? ayolah kawan... aku masih membutuhkan dirimu... temani aku sebentar lagi... kisah ini baru saja dimulai... aku janji setelah ini kan ku temani dirimu kemana saja... masih ada sedikit sisa gaji... mungkin masih bisa kalau hanya untuk sehelai Lingerie... Ya, itupun asal bukan Victoria Secret....

Sementara itu setelah melepas kain pengaman perabotan pria tersebut, ki abdul majid kemudian nampak mengangkat barang antik tersebut diatas kepala dengan penuh hormat layaknya apa yang ada dalam genggaman tangannya tersebut adalah sebuah Mahkota pusaka warisan peninggalan yang tak ternilai harganya! Setelah berkemak-kemik beberapa saat, kemudian celana sempak itu dilipatnya perlahan dan dengan penuh kelembutan serta kehati-hatian seolah-olah celana dalam tersebut teramat rapuh karena terbuat dari rajutan benang dan serat jaring laba-laba... entah laba-laba bego mana yang kurang kerjaan dan mau-maunya disuruh merajut celana dalam... dibelainya pula celana dalam itu dengan penuh kasih sayang laksana anak semata wayang... dan entah anak picek bego mana juga yang mau dibelai bersama dengan sehelai celana kolor... Namun akhirnya dengan gerakan yang sangat anggun, diletakannya celana dalam yang terlipat rapi tersebut secara perlahan diatas nampan beludru... kalian sekarang semua sudah boleh membalikkan badan... ucap sang guru dengan keras. Para murid termasuk cahsableng pun akhirnya berbalik sembari memandang sang guru dengan penuh tanda tanya. Cahsableng...ucap sang guru keren ya guru...balas sang murid tak kalah kerennya apakah dirimu sudah siap untuk memikul beban dan menerima tanggung jawab serta berjanji untuk menggunakan senjata wasiat yang akan di berikan sebaik-baiknya dan hanya untuk menegakkan keadilan di dunia ini...?tanya sang guru dengan keren siap guru....! sambut sang murid mantap apakah kau sudah rela dan nerimo apapun bentuk dari senjata mustika serta daya linuwih dan kehebatannya dan berjanji pula untuk menjaganya baik-baik layaknya selembar nyawamu sendiri...? siiiiiiiiiaaaaaaaaapppp guruuuuuuuuuuu...!!! seru cahsableng semakin mantap...!

Bagus...! kalau begitu silahkan mengambil sendiri senjata pusakanya...ucap sang guru kalem sembari menunjuk kearah nampan beludru. pelan-pelan mata cahsableng bergerak turun searah dengan apa yang ditunjuk sang guru... dan akhirnya matanya membentur juga kearah barang aneh yang terjogrok rapi dan klimis diatas nampan mulut sang pemuda kembali memanjang... apa-apaan ini guru...? tanya Cahsableng sembari menatap sebentuk kain kumal dekil yang teronggok diatas nampan beludru. Ini senjatanya... Cahsableng menatap pulang balik kearah sang guru dan kain kumal dekil diatas nampan seolah tak percaya... perlahan dengan agak jijik, cahsableng kemudian mengangkat kain kumal tersebut dengan telunjuk dan ibu jarinya. Matanya sontak membesar lalu tiba-tiba dibantingnya barang dalam pegangannya tersebut keatas lantai...! senjata apaan...? lha wong ini cuma swempak bekas...! yang benar saja guru...!protes cahsableng keras mata ki abdul majid kembali mendelik besar melihat kelakuan cahsableng yang membanting isi nampan dengan seenaknya. Sebuah sendal kembali melayang kearah jidat si pemuda sementara setelah selesai melempar sendal kearah cahsableng, ki abdul majid kemudian buru-buru mengambil celana dalam yang tadi di lempar ke lantai oleh cahsableng dan menaikkan sempak tersebut tinggi-tinggi diatas kepala dengan penuh takzim dan penuh penghormatan. Dasar Anak setan....! kau kira sempak ini cuma sembarang kolor jelek tak berharga...? benar-benar kapiran..! ini adalah senjata mustika yang diwariskan secara turun-temurun dari pendiri terdahulu padepokan 212...! berani tidak hormat, hukumannya adalah kualat seumur-umur...! hayo cepat minta maaf di depan sempak pusaka...! ucap Si kakek sembari menunjuk sempak yang telah diletakkannya

kembali diatas nampan. yang benar saja guru... mana mungkin barang beginian dijadikan pusaka... modelnya saja sudah buluk tengik bau bacin begitu... pasti sudah dipakai oleh banyak orang dan kelihatan tidak pernah dicuci pula... apa istimewanya sampai saya harus minta-minta maaf di depan kolor segala... biar dikata ada lebaran kambing juga tidak ada ceritanya ada orang yang mau sungkem minta maaf lahir batin sama bangsa-bangsanya kolor sempak segala...cerocos si pemuda sembari mengelus-elus jidatnya yang sudah dua kali ditimpuk sendal. Kentut busuk...! benar-benar minta dihajar kowe rupanya...! barang ini adalah barang pusaka perguruan kita...! dengan mewariskan sempak ini kepadamu saja, sudah bisa mengangkat derajatmu di mata para saudara perguruan yang lain dan asal kau tahu saja, sempak ini sejak di buat dan dipakai oleh pendiri padepokan kita Kiai Gede Sidik Panjalu, entah sudah beberapa kali coba di rampas dan diambil oleh para tokoh dunia persilatan golongan hitam yang berilmu tinggi, sebelum akhirnya bisa didapatkan kembali oleh ayahku, sempak pusaka ini konon pernah di rebut oleh Ki Jagat Pamenang, Si Iblis Sakti dari Salatiga, kemudian pernah pula direbut oleh Warok Mata Api Si begal sakti dari Selat Kucing, dan terakhir sempat pula berpindah tangan ke tangan Minak Subali, Raja Siluman Kera dari lereng Ciremai... Apa kataku...! Pernah dipakai monyet pula...! potong cahsableng dengan mulut kembali memanjang mata sang guru kembali mendelik sembari menyumpah habis-habisan lalu tanpa disangka-sangka sang guru nampak menjemput sempak yang berada dalam nampan dan kemudian dengan gerakan yang sederhana saja ki abdul majid lalu mengebutkan sempak di tangannya keluar ruangan beranda serangkum angin disertai larikan sinar kelabu tiba-tiba nampak berdesir dahsyat keluar dari sempak di genggaman sang guru dan menyambar kencang diatas kepala para murid padepokan 212...! ratusan murid yang sebelumnya bersila rapi kontan saja kocar-kacir serabutan menyelamatkan diri...!

lalu diiringi suara gemuruh besar, sebuah pohon angsana ratusan tahun yang tumbuh didekat tembok pekarangan luar padepokan nampak jatuh berdebum dalam keadaan sudah hangus menjadi arang...! benar-benar luar biasa...! benar-benar tak ada yang menyangka kalau di balik celana sarang pelindung burung asmoro biji loro tersebut tersimpan kekuatan yang demikian dahsyat..! sekarang sudah jelas alasan mengapa celana dalam yang sebelumnya dipakai oleh Ki abdul majid ini begitu dihormat dan disembah oleh sang guru kosen satu ini. Sementara para murid padepokan yang sebelumnya banyak yang tunggang langgang panik kala melihat sinar sempak tersebut mulai bisa menenangkan diri dan nampak terkagum-kagum akan kehebatan si sempak sakti. namun lain lagi dengan cahsableng... Sang pemuda malah tidak menunjukkan rasa tertarik sedikitpun...! mulutnya bahkan nampak kembali memanjang runcing... kau sudah lihat sendiri bukan kehebatan sempak maut 212 di tanganku ini...? jadi sekarang bagaimana menurut pendapatmu...? tanya sang kakek dengan nada penuh kebanggaan. Sang kakek merasa kalau cahsableng pasti sama tertariknya seperti para murid yang lain setelah melihat demonstrasi barusan. Namun salah besar jika dikiranya cahsableng bakalan tertarik setelah melihat kehebatan sempak ditangannya ini. Bukanlah cahsableng namanya jika bisa dibujuk segampang itu...! hebat sih hebat... tapi masakan saya harus berbugil ria dulu baru bisa mengunakan senjata istimewa ini...? masakan perabotanku harus kedinginan dan dibiarkan bergundal-gandil tidak karuan kemana-mana sambil bertarung melawan musuh...! yang benar saja guru...!ambek cahsableng apa kubilang kawan...? Mungkin cahsableng orangnya memang murahan... tapi jelas gak gampangan...!!! air muka sang guru sontak berubah. benar juga pikirnya, selama ini

dia memang tidak pernah menggunakan celana dalam itu sebagai senjata karena dirinya sudah mempunyai sebilah Tongkat Bambu Rajawali Hitam Tujuh Ruas. Selain itu, sudah jarang ada musuh yang bisa memaksanya mengeluarkan senjata saat bertarung sehingga tentu saja sampai detik ini dirinya tidak sampai pernah kepepet untuk menggunakan celana dalam mustika tersebut. Sampai disini ki abdul majid pun akhirnya dipaksa untuk berpikir keras meladeni pertanyaan cahsableng selain itu, Coba lihat tuh Kang Slamet yang tahun lalu baru lulus, dia kemaren dapet sebilah Tombak Dewa 212... sekarang diluaran dikenal sebagai Pendekar Tombak Dewa 212... Bukannya keren banget kedengarannya tuh...?sambung cahsableng baru si Saepul ingusan ntu... habis lulus kemaren langsung dapat Trisula malaikat 212 dari guru... sekarang coba lihat... diluaran sudah dapet gelar hebat... Si Tangan Angin Trisula Malaikat 212... apa gak ngaco tuh...? tangan angin apaan...? tangan cuma bisa ngocok doank di bangga-banggain...! lha nanti nasib saya bagaimana kalau sudah keluar dari perguruan...? bisa dibayangkan nanti saya dapat gelaran apa...?tanya cahsableng yang langsung di balas kompak para murid lainnya. PENDEKAR SEMPAK MAUT 212...!!! HA.HA.HA....!!! para murid sampai terguling-guling menertawakan cahsableng...! kasihan benar... Mulut Cahsableng bahkan nampak semakin memanjang runcing... Dasar memang sudah nasibmu Bleng... *** BAB V KHORKHOI ALGHOI Melihat keadaan yang sudah mulai ramai dan tidak kondusif kemudian ki abdul majid terlihat mengangkat tangan berusaha untuk menenangkan para murid yang sedang menggoda cahsableng sudahlah, jangan kau dengarkan kelakar para saudara mu tersebut, mungkin ada baiknya kau mendengar cerita mengenai sempak yang berada di hadapanmu ini. Mudah-mudahan setelah mendengar cerita

ini pandangan mu terhadap sempak ini akan sedikit berubah...hibur sang guru seraya menepuk pundak cahsableng. sang pemuda walaupun masih merasa mengkal namun akhirnya hanya bisa berdiam diri seraya menantikan penjelasan sang guru lebih lanjut. Di masa mudanya Kiai Gede sidik Panjalu yang kala itu masih bernama Raden Adiama Padma dan bergelar Pendekar Pedang Maut Naga Merah 212 yang juga merupakan pendiri Padepokan 212 ini adalah seorang pendekar yang amat sering berkelana hingga ke berbagai pelosok dan belahan dunia yang lain. Berbagai daerah pernah di jelajahinya sehingga bisa dikatakan dimana seluas kakinya melangkah disitulah tujuan perjalanannya. pada suatu kali sang pendekar tiba di suatu oase kecil yang berada di tengah-tengah gurun gobi... sang guru nampak menghentikan ceritanya untuk sejenak menarik nafas cahsableng nampak mulai tertarik mendengar penuturan sang guru sementara itu seorang murid nampak menyikut rusuk teman disebelahnya dan berbisik pelan. oase itu apa...? Ssst...! desis sang teman yang membuat sang murid yang penasaran langsung terdiam. Setelah berdehem sejenak ki abdul majid kembali melanjutkan ceritanya. kala itu sesepuh pendiri padepokan kita itu sudah sangat mengenaskan keadaannya. Selain bekal makanannya sudah habis, bekal minuman pun sudah tidak ada lagi. Jadi bisa dibilang keadaannya saat itu lebih banyak matinya dari pada hidup... semua pendengar kontan berpikir keras membayangkan penderitaan sang pendiri padepokan kala itu. kang... oase itu apa...?si murid yang masih penasaran kembali bertanya kepada sang teman disebelahnya. Dan kali ini suaranya agak sedikit dibesarkan sst... jangan ribut...!ucap sang teman dengan kening berkerut beberapa orang murid mulai memalingkan muka dan menatap si

oase dengan kening berkerut. gurun gobi merupakan gurun yang sangat luas yang terbentang di dataran pusat meliputi daerah kekuasaan mongolia, tiongkok hingga sampai ke ujung bhutan dan tibet. Beberapa suku bangsa yang terkenal dan perkasa berdiam disana yaitu antara lain suku bangsa mongol, Tartar, urkuk dan juga bangsa uighur. Sesepuh kita sendiri merupakan seorang pendekar yang memiliki pergaulan amat luas dan terkenal juga di dataran tengah karena sepak terjangnya yang hebat dan lihai dalam membasmi para rampok dan para tokoh golongan hitam yang malang-melintang membuat kekacauan di dataran tiongkok dan mongolia. Sehingga tidak heran kemashyuran namanya akhirnya terbawa angin hingga jauh ke tengah padang pasir gurun gobi....ucapan si kakek tiba-tiba terputus oleh suara si anak setan. terus bagaimana guru...? ada kisah percintaannya tidak...?ucap cahsableng yang mulai tertarik dan penasaran PERCINTAAN IBLIS...!!! Jangan suka memotong seenaknya...! Bentak si kakek dengan mata mendelik besar cahsableng hanya bisa leletkan lidah menenggak ludah... Dengan mata masih mendelik sang guru kemudian melanjutkan ceritanya. pada saat itu, sesepuh kita baru saja mengalami pertempuran hebat melawan para perampok yang dipimpin oleh seorang bandit lihai yang bercokol di sebelah tenggara gunung gobi. Bandit lihai ini sendiri sudah banyak meresahkan para khalifah maupun para saudagar yang hendak melintasi gurun gobi karena kekejaman dan tindak-tanduknya yang kurang terpuji. Bukan saja hanya membegal dan merampok, bandit satu ini juga suka membunuh dan memperkosa setiap wanita yang ditemui di dalam rombongan para khalifah maupun para saudagar yang dibegalnya tersebut...kembali sang guru menghentikan ceritanya untuk menarik nafas panjang kang... Oase itu apa...?satu suara kembali terdengar memecah kesunyian kini bukan hanya para murid, cahsableng dan sang guru pun akhirnya juga terlihat memalingkan kepalanya kearah si oase satu ini.

Ki abdul majid nampak menatap cahsableng seraya menggoyangkan lehernya ke arah si oase walaupun hanya gerakan leher sederhana, cahsableng mengerti apa yang di maksud dan diinginkan oleh sang guru. Si pemuda kemudian beranjak sebentar dan beberapa saat kemudian terlihat kembali duduk di hadapan si kakek. Kembali si kakek berdehem sebentar sebelum melanjutkan ceritanya sesepuh yang kala itu sedang menjelajahi negeri tersebut kemudian di mintakan tolong oleh para perkumpulan saudagar dan khalifah serta perkumpulan ekspedisi untuk menangkap atau melenyapkan gangguan komplotan bandit yang meresahkan tersebut. Berbekal air minum dan ransum secukupnya serta ditemani pula dengan beberapa tokoh persilatan tanah cina kala itu, sesepuh kemudian memulai perjalanan ke gurun gobi untuk membengkuk kawanan rampok yang meresahkan tersebut dan setelah melakukan perjalanan selama setengah purnama, sesepuh dan kawan-kawannya akhirnya dapat juga menemukan keberadaan sarang gerombolan tersebut. Dan dalam satu pertarungan yang dahsyat selama tiga hari dua malam, sesepuh akhirnya bisa juga membunuh bandit sakti pemimpin gerombolan perampok tersebut beserta seluruh gerombolannya yang berjumlah hampir tiga ratus orang. namun amat disayangkan di pihak sesepuh juga harus mengalami kerugian yang cukup besar. Dari tiga puluh lima orang yang menyerbu sarang penjahat tersebut, Hanya sesepuh seorang yang akhirnya bisa keluar dari arena pertempuran secara hidup-hidup... sang guru menutup ceritanya dengan satu helaan nafas berat. Cahsableng dan para murid pun nampak menghela nafas mengikuti apa yang dilakukan sang guru. si oase yang tergeletak terikat tak berdaya bak kambing guling dan disumpal mulutnya dengan sehelai kain gombal itu pun nampak menghela nafas berat... kata-kata oase seakan telah terbang mampus dari benaknya... tidak diingatnya lagi... Semua orang terbawa pikirannya masing-masing membayangkan

hebatnya pertarungan di tengah gurun pasir tersebut saat pertarungan tersebut terjadi, baik kuda maupun unta yang dibawa oleh kelompok sesepuh dan gerombolan perampok samasama terlepas atau terbunuh di dalam pertempuran sehingga mengakibatkan bekal ransum dan air minum mereka semua turut hilang maupun hancur dan terbuang di tengah-tengah pasir gurun yang panas itu. Setelah pertempuran itu berakhir, dan setelah melihat kalau hanya dirinya seorang yang masih hidup, sang sesepuh kemudian dengan tubuh kelelahan dan penuh luka akibat pertempuran memutuskan untuk berjalan seorang diri meninggalkan sarang penjahat yang sudah hancur tersebut sebelum tidak lupa mengubur ke tiga puluh empat tokoh silat yang menemaninya dalam penyerbuan kala itu...si kakek kembali terdiam sesaat untuk mengumpulkan berkas-berkas ingatan yang pernah didengarnya dari cerita sang ayah saat sang guru ini masih kecil kawan, mungkin ada baiknya biar aku saja yang menceritakan kepadamu kisah perjalanan Kiai Gede Sidik Panjalu di masa mudanya saat melintasi padang gurun gobi, serta asal muasal sempak maut yang kini telah menjadi senjata pusaka milik cahsableng ini... aku kasihan kepadamu kalau harus menunggu ki abdul majid selesai bercerita.. selain itu tujuan aku menceritakan kisah ini kepadamu karena sejujurnya aku pun sangat menyukai kisah yang satu ini... seperti yang diceritakan oleh ki abdul majid, akhirnya pendekar pedang maut naga merah 212 atau Raden Adiama Padma ini akhirnya berhasil juga menghancurkan dan membunuh bandit sakti dan gerombolannya yang selama ini telah banyak meresahkan para pedagang dan para khalifah yang selama ini berjalan melintasi padang gurun untuk berdagang ini. Dalam keadaan panas terik tak terhingga, akhirnya Pendekar pedang maut naga merah 212 ini kemudian berjalan meninggalkan sarang penjahat yang berhasil dibasminya dalam keadaan yang amat mengenaskan. Pakaiannya sudah banyak yang robek dan ternoda oleh darah yang mengering akibat luka yang dialaminya dalam

pertempuran barusan, keadaan tubuhnya juga lemas akibat kehausan dan kelaparan setelah bertempur selama tiga hari berturut-turut. Kemudian dengan langkah terseok-seok dan beberapa kali terguling diatas pasir, sang pendekar terus menguatkan hati guna melanjutkan langkah kakinya yang gemetar itu. Beruntung tidak lama kemudian sang pendekar akhirnya sampai juga di sebuah oase kecil milik satu suku bangsa Uighur. Sepintas lalu keadaan oase yang sunyi tersebut mendatangkan suasana hati yang tidak enak oleh sang pendekar, namun rasa letih dan dahaga yang amat menyiksa membuatnya tak memikirkan semua itu dan langsung menerobos ke dalam mata air kecil di oase tersebut untuk mereguk air sepuasnya. Baru saja sang pendekar merasakan beningnya air yang mengalir di tenggorokannya, satu suara tiba-tiba terdengar dari balik sebuah batuan yang terletak di sebelah kiri oase kecil tersebut. Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! sang pendekar memandang dengan alis berkerut kearah bebatuan, dan dilihatnya di sana tidak kurang dari belasan orang nampak berdiri dengan cemas dan memandang dirinya dengan pandangan khawatir. Seorang pria paruh baya berpakaian bulu binatang dan memakai topi dari kulit rase yang berhias jumbai bulu rajawali nampak menggerakgerakkan tangannya sembari berteriak keras kearah Sang Pendekar. Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! sang pendekar memandang kearah sang pria dengan kening berkerut. khorkhoi alghoi...? apa maksud mu...! aku tidak mengerti...! teriak sang pendekar dengan menggunakan bahasa mongol yang cukup fasih kearah sang pria. Perlu diketahui Raden Adiama Padma ini merupakan seorang yang pangeran yang amat pandai dan juga jenius. Selain menguasai banyak ilmu silat yang maha lihai dan hebat, sang pendekar juga menguasai banyak bahasa dan salah satu bahasa yang dikuasainya adalah bahasa yang digunakan oleh suku-suku bangsa penghuni padang gurun. Khorkhoi alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! pergi...! jangan diam saja

disitu...! cepatlah kemari naik keatas batu...! Khorkhoi alghoi...! cepat....! khorkhoi Alghoi...! kali ini bukan saja sang pria yang berteriak melainkan seluruh rombongan orang berjumlah belasan yang berdiam diatas batu juga kini nampak berteriak seraya melambaikan tangan menggapai kearah sang pendekar. apa itu khorkhoi alghoi...? aku... baru saja sang pendekar hendak bertanya lebih lanjut tiba-tiba saja pasir di sampingnya menyeruak keatas dengan keras di barengi melesatnya satu sosok besar yang menghembuskan asap hitam langsung kearah mukanya...! ya gusti...! sang pendekar berteriak keras kala melihat gumpalan asap hitam serta satu mulut besar yang penuh gerigi tajam siap melumat dan menelan seluruh tubuhnya bulat-bulat...! dengan hati mencelos sang pendekar membuang diri kearah kanan guna menghindari asap hitam dan serangan makhluk misterius tersebut. Sebagaimana cepatnya kedatangannya, begitu juga cepatnya makhluk yang diketahui oleh sang pendekar berukuran dua kali tubuhnya ini lenyap ke dalam pasir...! Sang pendekar benar-benar terperanjat. Tak pernah disangkanya ada makhluk yang begitu besar dan mengerikannya hidup di oase kecil tersebut. Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! Khorkhoi Alghoi...! sang pria berjubah bulu binatang terus-menerus berteriak seraya menunjuk kearah lenyapnya makhluk misterius tersebut. Kini mengertilah sang pendekar dengan maksud teriakan sang pria dan rombongannya. Kiranya makhluk yang bergerak dan bersliweran di dalam pasir tersebut inilah yang dinamakan Khorkhoi Alghoi oleh para penghuni padang pasir ini. (Red: Khorkhoi Alghoi/Mongolian Death Worm. googlingable) Sang pendekar memicingkan kedua matanya sembari meningkatkan kewaspadaannya. Dan seperti yang diduga, beberapa saat kemudian

tiba-tiba terlihat tonggak pasir menyeruak tinggi keangkasa dari tiga jurusan di sekelilingnya. Dan dari ketiga tonggak pasir inilah kembali melesat tiga bayangan besar menyerbu kearah sang pendekar...! Raden Adiama Padma akhirnya bisa melihat jelas bentuk sosok yang menyerangnya dari dalam kerumunan pasir. Sosok yang berkelebatan dari dalam pasir tersebut ternyata berwujud tiga ekor cacing raksasa yang berukuran dua kali lipat tubuh manusia dewasa...! Makhluk ini memiliki kulit keras dan liat berwarna kemerahan dengan bintik-bintik berwarna hitam keabu-abuan di sekujur tubuhnya. Matanya yang kecil kemerahan nampak terus berputar liar sementara Pada tengkuknya berjingkrak rambut-rambut jarang dan kaku tajam sementara mulutnya yang penuh taring nampak selalu terbuka dan menghembuskan asap hitam beracun yang memuakkan. Melihat serangan ketiga makhluk yang menerjang kearahnya, sang pendekar kemudian mempersiapkan kura-kudanya sekokoh mungkin. Setelah merapal ajian Benteng Topan Melanda Samudra, sang pendekar terlihat melekukan pinggangnya sebesar setengah putaran sekaligus mengeluarkan sambaran dinding angin maha dahsyat dari sepasang tangannya kearah ketiga makhluk cacing ganas tersebut...! bukan main...! satu atraksi kekuatan putaran pinggang yang menakjubkan diperlihatkan oleh sang pendekar di tengah-tengah panasnya udara gurun. Alhasil dari satu bentuk dinding angin serangan berubah menjadi gulungan angin puting beliung yang demikian dahsyatnya menggulung ketiga makhluk raksasa ini hingga terlempar ratusan tombak...! namun binatang satu ini memang benar-benar ulet, tak terlihat tandatanda terluka pada tubuhnya yang alot tersebut. Bahkan setelah tubuhnya menyentuh bumi, makhluk tersebut kembali menghilang cepat kedalam pasir... baru saja sang pendekar mengatur nafasnya yang memburu, kembali pasir berbuncahan diudara menyusul kembali datangnya serangan dari makhluk ganjil bernama khorkhoi alghoi ini... kali ini tak tanggung-tanggung, hampir selusin cacing raksasa haus

darah ini bergerak melesat buas dengan mulut lebar siap menamatkan riwayat pangeran mataram ini...! pendekar kita ini nampak mengemposkan semangat guna membangun kekuatan. Beruntung walaupun tubuhnya masih lemah tapi karena sudah sempat menghilangkan dahaga maka tubuh sang pendekar kini sudah lumayan siap untuk kembali menghadapi pertempuran. Berbekal ilmu ringan tubuh dan ajian gerak kilat kaki angin, sang pendekar bergerak lincah laksana sriti menghindari serangan para cacing ganas yang seolah-olah tiada hentinya ini. Sesekali sang pendekar nampak melepaskan pukulan jarak jauh seperti pukulan kunyuk melempar buah, Dewa topan menggusur gunung, dinding angin berhembus tindih menindih, hingga pukulan andalan sang pendekar yaitu pukulan matahari...! namun tak disangka tak dinyana, tubuh makhluk-makhluk buas ini ternyata tidak mempan oleh pukulan sakti jenis apapun! Jangan kan sampai hancur, bahkan terluka lecet pun tidak...! bukan main...! bisa dibayangkan sendiri kehebatan serta kesaktian makhluk-makhluk berwujud cacing raksasa ini... padahal dengan pukulan-pukulan sakti tersebut terlebih pukulan matahari, bukan saja bisa menghancurkan makhluk hidup seperti manusia maupun gajah, bukit kecil pun sekiranya akan hancur lebur jika dihantam pukulan ini. Namun anehnya pukulan-pukulan sakti tersebut seolah sama sekali tak berguna dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap makhlukmakhluk penghuni padang pasir ini. Keringat dingin mulai mengucur dari kening sang pendekar... Saat seekor cacing raksasa menyeruduk kearah lambungnya, tanpa disadari sang pendekar langsung menarik keluar pedang pusaka naga merah 212 miliknya dan membabatnya langsung kearah leher sang makhluk penghuni gurun pasir dan... Ajaib...! tubuh makhluk yang tidak bisa ditembus oleh pukulan sakti ini tibatiba

menggelinjang keras, Dan di barengi semprotan darah berwarna hitam, maka putuslah kepala makhluk yang berusaha menyerang sang pendekar dan menggelinding jatuh diatas pasir panas! Terkesiap hati sang pangeran melihat hasil yang tidak disangkasangkanya ini maka dengan hati girang sang pendekar dengan berbekal pedang sakti naga merah 212 kemudian langsung menyerbu kearah barisan makhluk cacing yang mengeroyoknya. Angin dingin dan cahaya berwarna kemerahan menggidikan terlihat bersiuran kala sang pendekar meluruk dengan derasnya kearah para cacing...! Namun seperti bisa melihat datangnya bahaya, para cacing tersebut nampak tersurut mundur dan kabur kembali kedalam pasir...! terdengar sorakan girang dari arah bebatuan kala melihat sang pendekar ternyata mampu membelah cacing khorkhoi alghoi dengan senjata pusakanya ini. Memang selama ini belum pernah ada orang yang mampu membunuh seekorpun cacing korkhoi alghoi ini karena selain bertubuh keras dan mengandung racun, cacing raksasa ini juga kebal terhadap segala pukulan sakti dan juga benda tajam. Jadi bisa dibayangkan kegembiraan yang ditunjukkan oleh belasan orang Uighur ini kala melihat Pendekar kita ini ternyata mampu membunuh seekor cacing khorkhoi alghoi dengan pedang pusakanya. Sedangkan sang pendekar sendiri merasa gemas bukan buatan melihat para cacing yang serabutan melarikan diri dan bersembunyi di dalam pasir. binatang-binatang terkutuk ini harus dibasmi sampai habis agar tidak lagi memakan korban jiwa... batin sang pendekar seraya menerawang mencoba memandang kearah pasir di sekitarnya. Setelah menerawang menggunakan kekuatan batin melalui sepasang matanya yang memancarkan cahaya berkilauan, Tiba-tiba sang pendekar terlihat mengangkat tangan kirinya dan menghantam sekuatnya kearah tanah pasir di bawahnya dengan satu pukulan maha dahsyat...!

Tangan Dewa menghantam Bumi...! terdengar satu suara menggelegar laksana guruh menyambar mana kala salah satu ajian simpanan dari Kitab Wasiat Dewa dikeluarkan oleh sang pendekar dari tanah jawa...! Bumi yang senyap terasa bergetar hebat sehingga membuat orangorang yang berdiam diatas bebatuan bahkan nampak terpental dan terjerembab di atas pasir...! Namun yang lebih hebat lagi adalah bersamaan dengan telapak sang pendekar yang menghantam kearah pasir dan menyebabkan guncangan hebat laksana gempa, bersamaan itu pula nampak puluhan cacing raksasa turut terlempar keluar dari dalam pasir...! sang pangeran tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Laksana burung garuda, sang pendekar tanah jawa ini kemudian tertawa dingin dan terlihat melesat di udara sembari memutar pedang pusakanya dengan hebat ke segala arah...! cahaya merah menyilaukan nampak berhembus dan menyambarnyambar diantara kutungan-kutungan tubuh dan semburan darah para cacing raksasa...! Khwiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeee.................!!!!!! satu suara seperti teriakan penuh amarah tiba-tiba terdengar membelah angkasa....!!! Dan tiba-tiba saja, satu bayangan kelabu nampak melesat lincah dan meliuk-liuk indah di antara kilauan merah dan hawa pedang...! bayangan tersebut kemudian berhenti sejauh seratus tombak di depan pendekar pedang maut naga merah 212 dan memandang sang pendekar dengan penuh kemarahan...! bayangan tersebut ternyata juga adalah sesosok cacing khorkhoi alghoi yang memiliki bentuk agak sedikit berbeda. Jika cacing yang lain berukuran raksasa hampir dua kali tubuh manusia dewasa, maka cacing satu ini hanya berukuran sebesar paha orang. Kulitnya pun tidak berwarna merah dengan tutul-tutul hitam melainkan berwarna keabuan. Pada tengkuk sang cacing juga tidak terlihat rambut yang berjingkrak kaku melainkan hanya terlihat sebuah kantung kulit yang terselip

dalam lipatan lemaknya. Cacing satu ini ternyata merupakan salah satu jenis binatang yang memiliki kantung pada tubuhnya seperti pada kangguru maupun koala. Kelainan lainnya selain kantung di tengkuk adalah di atas kepala sang cacing tampak tumbuh sebuah tanduk tunggal yang memancarkan cahaya redup. Tak bisa di sangkal lagi, inilah sang ratu cacing maut penguasa gurun pasir Gobi...! sementara itu melihat kedatangan sang ratu, para cacing yang masih tersisa kemudian terlihat mundur teratur... mungkin apa yang akan ku bilang selanjutnya tak akan kau percaya sepenuhnya kawan, namun aku mengatakan hal yang sesungguhnya... tak kan ku bohongi dirimu... setelah mengeluarkan suara cecuitan rendah para cacing raksasa yang besarnya hampir puluhan kali lipat dari tubuh sang ratu nampak bergerak merayap masuk menyelusup ke dalam kantung kulit diatas tengkuk sang ratu...! bukan main...! benar-benar sangat mustahil...! belasan cacing yang berukuran raksasa itu bisa masuk dan muat kedalam kantung lemak kecil di tengkuk sang ratu cacing yang hanya seukuran paha orang dewasa...! rasa-rasanya tidak mungkin dan tidak bisa dicerna oleh akal manusia, namun inilah yang sebenarnya terjadi kawan... satu-satunya kesimpulan yang bisa di tarik adalah bahwa makhluk satu ini adalah sejenis binatang yang telah bertapa ribuan tahun hingga akhirnya bisa memiliki kemampuan yang diluar akal dan logika manusia. Setelah semua anak buahnya masuk ke dalam kantung di tengkuknya dibarengi satu geraman dahsyat, sang ratu cacing tibatiba saja melenting laksana kilat menyerang kearah sang pendekar...! Khwiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeeee.....!!!!!! sang pendekar yang sebelumnya sudah berjaga-jaga tetap saja di

buat tertegun melihat kecepatan gerakan sang ratu cacing. Secepatnya diputar pedang merahnya membentuk perisai pertahanan di depan dada. Namun sang pendekar kecele...! tiba-tiba saja dengan sangat mengagumkannya sang cacing mendadak menghentikan serudukannya di tengah jalan dan mengubah serangannya menjadi loncatan keangkasa...! dan hebatnya lagi semuanya itu di lakukannya di tengah-tengah udara...! seakan-akan sang cacing memilki sepasang sayap yang tak terlihat pada tubuhnya yang gempal tersebut...! saking kagetnya pendekar kita ini bahkan sampai berteriak keras Astaga...! yang benar saja...! patut dimaklumi gerakan mengubah serangan secara tiba-tiba di tengah udara seperti ini bahkan seorang tokoh silat kawakan sekalipun belum tentu bisa melakukannya...! Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan hukum gerak dinamis atau momentum dimana satu obyek yang bergerak dengan kecepatan yang konstan maupun kecepatan yang terus bertambah tidak akan mungkin bisa melepaskan diri dari pengaruh momentum gerak dorong kedepan dan mengubah arah tiba-tiba tanpa adanya faktor kelembaman yang menahan laju gerak potensial yang telah terjadi secara langsung dan seketika. Apakah kau mengerti kawan...? jika tidak maka biarkan saja... karena ada banyak orang yang juga tidak mengerti sama seperti dirimu... aku pun salah satunya... satu-satunya yang ku ketahui tentang cabang eksakta adalah jika aku ingin membuang hajat, maka itu semua adalah akibat gaya dorong hidrodinamik dalam pelajaran fisika... Dan jika tiba-tiba mataku serasa kelilipan bak kemasukan semut rangrang karena seorang gadis semok berdada besar berpinggul montok tiba-tiba lewat di depan hidungku, maka itu semata-mata karena

faktor reaksi Kimia... dan jika akhirnya gadis keparat tersebut terus menari-nari lincah di dalam kepalaku sembari berbugil ria sehingga aku harus pontangpanting kedalam jamban sembari mencari-cari sabun ala kadarnya maka itu semata-mata karena faktor kebutuhan Biologis... he.he.he sudahlah kawan, yang pastinya nih cacing benar-benar hebat...! dan kehebatannya cukup merepotkan pendekar kita Raden Adiama Padma ini. Bagaimana tidak, baru saja sang pendekar menyapu pedang saktinya memotong gerak serangan si cacing dari angkasa tiba-tiba saja si cacing kembali berkelit di tengah udara berbelok kearah samping dan menyusup kearah bahu kiri sang pendekar...! gila...! kejut sang pendekar sembari berkelit menghindari serangan gigitan sang ratu cacing. ini masih ditambah lagi dengan semburan uap hitam beracun yang disemburkan oleh sang ratu cacing kearah pendekar kita. Beruntung sedari tadi pendekar kita ini sudah menutup jalur pernafasannya dan hanya bernapas sesekali di wilayah yang udaranya bersih. Berulangkali sang pendekar berusaha membabat tubuh sang ratu cacing namun sang ratu cacing ternyata mampu berkelit kesanakemari dengan gaya yang amat luar biasa laksana petir menyambarnyambar...! dan yang juga memusingkan kepala adalah binatang satu ini ternyata juga sama seperti anak buahnya tidak bisa dihadapi dengan menggunakan pukulan jarak jauh...! setiap pukulan sakti yang dilepas selalu saja tenggelam laksana batu yang di lemparkan ke tengah samudera luas...! dan bukan itu saja, satu kali pendekar tanah jawa ini mampu menebaskan pedang pusakanya kearah sang ratu cacing khorkhoi alghoi ini, semula sang pendekar mengira tubuh sang ratu pun akan terbelah seperti halnya yang terjadi pada cacing-cacing yang lain kala menghadapi pedang pusaka miliknya. Tetapi kenyataan berbicara lain, walaupun berhasil menyarangkan

senjatanya ke tubuh sang ratu, namun tubuh sang ratu ternyata tidak sampai terbelah...! sabetan pedang naga merah hanya meninggalkan luka goresan tipis saja di badan sang ratu cacing...! benar-benar luar biasa...! seumur hidup dalam perjalanannya ke berbagai belahan dunia, baru sekali ini sang pendekar menemui hal aneh nan ganjil seperti ini. Pedang pusakanya yang biasanya mampu membelah besi baja pusaka laksana merajang sayuran kini bahkan tidak mampu membelah mati seekor cacing...! sementara itu bacokan yang di lakukan oleh Raden Adiama Padma walaupun hanya membuat luka goresan di tubuhnya, tapi ini juga rupanya membuat sang ratu cacing merasa amat kesakitan. Dan tentu saja membuat binatang aneh ini semakin murka...! Khhwiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeeeee.........!!!!! di barengi satu teriakan gusar, sang ratu kembali menyerang dengan mulut terpentang kearah sang pendekar. Melihat datangnya serangan ini, pendekar tanah jawa ini juga nampak berteriak kencang seraya melancarkan satu tusukan lurus kearah sang cacing, namun kembali sang pendekar melengos hatinya kala sang cacing kembali dapat berkelit indah menghindari tusukan pedangnya. lalu tanpa disangka-sangka...! tiba-tiba dari kantung di tengkuk sang ratu melesat empat ekor cacing raksasa yang tanpa diduga sebelumnya oleh pendekar kita langsung menggulung keempat anggota tubuhnya...! Mati aku...!teriak sang pendekar kala melihat sepasang kaki dan tangannya telah diganduli empat ekor cacing raksasa...! kontan saja tubuh sang pendekar langsung ambruk ke atas tanah...! binatang keparat...! sang pendekar kembali berteriak gusar kala melihat sang ratu yang bergerak cepat kini nampak membuka mulutnya lebar-lebar hendak melahap selangkangannya...! benar-benar kurang ajar...! sang pendekar hendak meronta membebaskan diri dari sergapan

keempat cacing yang mengganduli empat anggota tubuhnya, namun apa daya tenaganya terlalu lemah dan telah habis terbuang dalam pertempuran. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan oleh sang pendekar adalah memutar pinggulnya sejauh mungkin untuk menyelamatkan selangkangannya dari serangan binatang yang tidak tahu sopan santun ini... dan akhirnya... satu raungan kesakitan yang amat sangat terdengar dari mulut sang pendekar manakala sang ratu khorkhoi alghoi berhasil menancapkan taring beracunnya ke paha sebelah dalam yang letaknya hanya sejengkal saja dari letak anggota rahasia sang pendekar...! semua orang yang mendengar raungan ini sama tercekat dan mengkeret nyalinya. Para wanita bahkan nampak menutup mata ketakutan melihat penderitaan orang asing yang bertempur dengan hebatnya melawan gerombolan cacing khorkhoi alghoi ini. Sementara itu siksaan yang dialami oleh sang pendekar benar-benar amat menyakitkan, dirasanya satu aliran asing dalam dirinya perlahan masuk dan merayap dalam setiap jalur nadi di pahanya bagaikan ratusan jarum yang menusuk setiap jengkal tubuhnya...! kesadaran sang pendekar tiba-tiba berkurang, namun sebelum sang pendekar benar-benar kehilangan kesadarannya, dengan mata terpentang lebar satu bentakan menakutkan keluar dari mulut sang putra mahkota kerajaan mataram...! Sepasang Sinar Inti Roh...! luar biasa...! berbarengan dengan bentakan yang keluar dari mulut sang pendekar, satu sinar biru tak berkeputusan tiba-tiba saja keluar dari mata sang pendekar dari tanah jawa...! lalu dengan mengikuti gerakan kepala memutar dari sang pendekar, sinar biru tersebut langsung membabat cacing-cacing yang bergelayutan di keempat anggota tubuh sang pendekar termasuk sang ratu cacing yang bersarang di atas selangkangannya. keempat cacing yang menggelayuti keempat anggota tubuhnya langsung musnah berkeping-keping menjadi abu begitu terlanggar

sinar yang keluar dari kedua mata sang pendekar, sang ratu cacing sendiri pun terkena serangan sinar yang keluar dari sepasang mata sang pendekar dan langsung terhempas keras diatas pasir. Namun cacing satu ini ternyata benar-benar luar biasa...! kalau cacing-cacing anak buahnya langsung musnah menjadi abu, tubuh sang ratu cacing ini hanya nampak berubah menjadi berpendar biru beberapa saat, lalu setelah bergeliat beberapa kali akhirnya tubuhnya pun terdiam. Sinar redup di tanduknya pun perlahan memudar padam sang ratu pun akhirnya mengalami kebinasaan melalui jurus paling pamungkas yang dikeluarkan oleh sang pendekar. Asal tahu saja, selama hidupnya baru sekali ini sang pendekar mengeluarkan ilmu sepasang sinar inti roh ini. Hal ini Karena sang guru yaitu pendekar kapak maut naga geni 212 yang menurunkan ilmu ini telah mewanti-wanti sang pendekar untuk tidak mengeluarkan ilmu ini kecuali dalam keadaan terdesak hidup dan mati...! perlu diketahui, untuk mendapatkan ilmu ini saja, sang guru harus menunggu hingga usianya beranjak memasuki umur tujuh puluh tahun, sementara sang pendekar muridnya ini bahkan diusianya yang masih belia sudah bisa mendapatkan ilmu ini dari sang guru. Dari sini saja sudah bisa dibayangkan sampai dimana tingkat kepandaian putra mahkota kerajaan mataram ini. Sementara itu setelah dengan usahanya yang terakhir Raden Adiama Padma akhirnya berhasil juga membinasakan seluruh gerombolan cacing maut khorkhoi alghoi. Namun itu bukan berarti keadaan sang pendekar sudah membaik. Racun yang telah terlanjur masuk ke dalam tubuh sang pendekar perlahan secara pasti terus bergerak ke arah jantung sang pendekar. Pergerakan racun sang ratu ini benar-benar menyiksa tubuhnya karena seakan-akan ada ribuan jarum panas yang bergerak menyelusup ke dalam seluruh nadi dan jalan darahnya Sang pendekar kemudian berusaha menahan lajunya racun dengan menggunakan tenaga dalam, namun usahanya ini malah membuat kerja racun semakin menggila...!

tusukan-tusukan jarum kecil dalam nadinya akibat pergerakan racun sang ratu cacing mendadak berubah ganas kala dialiri oleh tenaga dalam. Sekarang sekujur tubuh sang pendekar bahkan kini terasa seakan di silet-silet dan dicemplungkan ke air garam...! bisa dibayangkan sendiri bagaimana menderitanya sang sesepuh pendiri padepokan 212 ini karena tak kuat lagi menahan rasa sakit, Akhirnya Sang pendekar pun kehilangan kesadarannya dan tergolek pingsan diatas pasir diantara bangkai-bangkai cacing maut gurun pasir mongolia yang berhasil dibantainya. *** BAB VI PERPISAHAN Melihat tubuh Raden Adiama Padma tergeletak tak sadarkan diri diantara bangkai-bangkai cacing raksasa, orang tua setengah baya yang memakai jubah bulu binatang beserta rombongannya serempak melesat turun dari atas batu dan beranjak mendekati tubuh sang pangeran mataram. Malika...! siapkan air bersih secepatnya...! Yalian...! cepat siapkan tenda kita untuk di tempati oleh tuan penolong...! bergegaslah...! teriak sang pria paruh baya yang ternyata adalah kepala suku bangsa uighur yang menempati oase kecil tersebut. Nampak dua orang gadis suku uighur yang cukup manis tersebut langsung mengiyakan perintah dari sang kepala suku. Setelah memberi perintah, sang kepala suku kemudian nampak menggerakkan tangannya laksana kilat menotok enam belas jalan darah utama di tubuh sang pendekar yang mengarah langsung jantung guna memperlambat jalannya aliran racun yang mengeram dalam tubuh sang pendekar. Dari gerakkan menotok yang ditunjukkan oleh sang kepala suku, maka dapat ditarik kesimpulan kalau kepala suku yang satu ini juga merupakan seorang ahli silat yang memiliki kemampuan cukup tinggi. sementara itu nampak dua orang gadis yang mengenakan baju adat bangsa uighur yang berupa baju berlengan pendek yang dihiasi oleh

bulu menjangan telah kembali setelah melaksanakan perintah sang kepala suku. yalian...! cepat kau potong tanduk tunggal di kepala sang ratu khorkhoi alghoi... gunakan saja pedang milik tuan penolong... gadis yang dipanggil yalian ini pun kemudian menjemput pedang naga merah 212 milik sang pendekar dan beranjak mendekati bangkai ratu cacing. lalu dengan pedang pusaka di tangannya, sang gadis pun kemudian berusaha dengan sekuat tenaga untuk memotong tanduk keras yang sebelumnya memendarkan cahaya redup ini. Beruntung dengan usaha yang sekuatnya akhirnya tanduk kecil tersebut bisa juga dilepas dari kepala sang ratu. Hal ini tentu saja dikarenakan sang ratu cacing sudah menemui ajalnya, karena jika tidak jangan harap gadis itu bisa melepaskan tanduk tersebut dari kepalanya meskipun sang gadis sudah berbekal sebilah pedang sakti. Sementara itu setelah berhasil memotong tanduk ratu cacing gurun, gadis bernama yalian ini kemudian mengangsurkan tanduk kecil tersebut kepada sang kepala suku. Sang kepala suku kemudian memperhatikan dengan seksama tanduk di tangannya dan kemudian menyerahkannya kepada Gadis bernama Malika. cepat kau rebus tanduk itu bersama air yang kau bawa tadi bersama segenggam rumput gurun pemutus usus dan satu sloki getah kaktus api padang pasir. Rebus dengan tiga mangkuk hingga tersisa seperempatnya lalu bawa kemari selekasnya...ucap sang pria paruh baya yang langsung diiyakan oleh sang gadis. Perlu diketahui bahwa pria paruh baya yang juga merupakan kepala suku bangsa uighur ini adalah seorang gagah perkasa yang bernama Yehlu jin. Yehlu jin memiliki dua orang anak gadis yang bernama Malika dan yalian yang baru berusia enam-tujuh belas tahunan. Dimasa mudanya dulu Yehlu jin pernah berguru kepada satu orang sakti yang mendiami gurun gobi sebelah timur, Permainan golok dan kepandaiannya memanah terhitung jago nomor satu di seluruh daerah

gurun. Setiap kali diadakan perlombaan antar suku yang diadakan oleh Khan mongolia, Yehlu jin selalu menjadi juara sehingga mendapat kehormatan dari setiap suku bangsa yang ada di negeri padang pasir tersebut. Yehlu jin dan kedua anaknya serta belasan orang lainnya mendiami satu oase kecil di sebelah tenggara gurun gobi, pada dasarnya mereka hidup dalam keadaan aman tentram hingga sampai pada beberapa hari yang lalu tempat tinggal mereka diserbu oleh koloni ulat maut gurun pasir yang mereka namakan khorkhoi alghoi ini. Kehebatan dan kemampuan ulat-ulat tersebut menyebabkan mereka terpaksa harus mengungsi dan berdiam diri diatas bebatuan dan tentu saja hal ini cukup menyiksa mereka karena selama itu juga mereka terpaksa tidak makan ataupun minum karena tidak berani turun untuk mengambil ransum makanan. Kedatangan pendekar pedang maut naga merah 212 yang datang dan menghabisi gerombolan cacing raksasa sekaligus membunuh sang ratu kontan saja amat menggembirakan sekaligus memberikan kebebasan bagi mereka. Oleh karena itu mereka langsung merasa hormat dan menganggap sang pendekar adalah seorang penolong yang telah diutus oleh langit untuk menyelamatkan mereka. Tidak lama setelah kepergian sang gadis, Yehlu Jin kemudian langsung membopong tubuh Raden Adiama Padma dan membawanya masuk ke dalam Tenda yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh Yalian. Beberapa saat kemudian gadis bernama Malika kemudian masuk kedalam tenda dan menyerahkan mangkuk kemala berisi cairan obat. Kemudian dengan perlahan dan dengan dibantu oleh kedua orang anak gadisnya, Yehlu Jin meneggakkan punggung raden Adiama Padma sembari mencekoki cairan dalam mangkuk kemala tersebut kedalam mulut sang pendekar. Setelah seluruh cairan obat itu habis masuk kedalam tenggorokan sang pendekar, dengan perlahan kepala suku bangsa uighur ini kemudian membaringkan kembali tubuh pendekar kita diatas

pembaringan. Setelah menunggu beberapa saat, wajah tegang dan kerutan di sudut mata sang pendekar nampak mengendur kemudian lambat laun nafas sang pendekar yang terdengar berat perlahan menjadi halus dan berirama. Hanya rona gelap masih terlihat membayang di wajah sang pendekar dari tanah jawa ini. dia tertidur... bisik malika kepada sang adik sang adik terlihat menganggukkan kepala apakah keadaanya sudah tidak berbahaya lagi ayah...?tanya malika kepada sang ayah sejauh ini nyawa tuan penolong kita ini sudah bisa dibilang telah berhasil kita rampas dari pintu kematian... hanya saja... hanya saja kenapa ayah...? sang ayah nampak mengerutkan kepala tanda berpikir keras. sebagian besar racun ratu cacing gurun pasir memang sudah berhasil di punahkan dengan air rebusan tanduk sang ratu ditambah bahan obat mustika lainnya. Namun hawa beracun yang bersarang di dalam tubuh pemuda ini yang berasal dari luka gigitan sang ratu cacing masih mengeram dalam tubuh pemuda ini dan ini tentu saja bisa mengakibatkan kematian jika tidak segera di keluarkan.... kalau begitu kenapa tidak langsung dihisap keluar saja hawa beracun itu ayah...? bukankah... ucapan Yalian tiba-tiba terputus wajahnya sontak berubah merah jengah seperti diketahui bahwa mulut luka yang dial;ami oleh sang pendekar akibat gigitan sang ratu cacing terletak di sebelah paha sebelah dalam dekat selangkangan. Sehingga Tentu saja berdasarkan etika moral dan kesopanan tidaklah mungkin tindakan menghisap keluar hawa beracun itu bisa dilakukan. Sang ayah memandang anak gadisnya yang kini nampak menunduk dengan wajah merah. ah... kau pasti bisa memahami kesulitan melakukan hal tersebut... tidak mungkin kita melakukan upaya pengobatan dengan cara mengisap langsung hawa beracun tersebut karena sudah semestinya

kita harus menjaga kesopanan serta etika yang berlaku... seandainya saja ada jalan lain yang bisa diusahakan... tiba-tiba wajah Malika nampak berubah cerah. ayah...! aku punya ide baik, entah apa bisa dilaksanakan atau tidak... yalian dan sang ayah kontan memalingkan wajah kearah sang gadis. apa ide mu itu...? cepat katakan saja... Masih ingat kah ayah kala aku masih kecil aku pernah digigit oleh seekor Ular Kobra Penyembur...? bukankah keadaan ku saat itu tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tuan penolong sekarang ini... mendengar penuturan sang anak, wajah Yehlu jin Sontak berubah. kau benar...! memang saat itu keadaan mu tidak jauh beda denga apa yang dialami oleh tuan penolong ini... waktu itu racun ular kobra sudah bisa dihisap keluar dan hanya tinggal hawa beracunnya saja yang belum bisa dikeluarkan karena ayah pada saat itu menghawatirkan keadaan mu yang masih terlalu kecil... gumam sang ayah lalu apa ayah masih ingat apa yang ayah lakukan kemudian...?tanya sang gadis sembari tersenyum kecil. ya... ayah ingat...! ayah membeset kulit ular kobra tersebut dan membungkus kulit luka gigitan sehingga perlahan hawa beracun yang tinggal di dalam tubuhmu terserap oleh daya mujijat pori-pori ular tersebut... Kau benar...! cara ini mungkin juga bisa di lakukan juga tehadap racun ratu cacing gurun pasir tersebut...! girang sang kepala suku sembari mengelus kepala sang anak gadis. Yalian, cepat kau pergi mengambil jazad ratu cacing tersebut... Kuliti dan samak kulitnya menjadi sehelai kain... ucap sang kepala suku dengan wajah menunjukkan ekspresi girang.... SELESAI