Anda di halaman 1dari 5

ASPEK PSIKOSOSIAL

Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun social yang mempunyai pengaruh timbale balik. Masalah psikososial adalah masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbale balik, sebagai akibat terjadinya perubahan social dan atau gejolak social dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.

Pelaku merupakan pelaksana utama dalam hal terjadinya perkosaan tetapi bukan berarti terjadinya perkosaan tersebut semata-mata disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berada di luar diri si pelaku. Namun secara umum dapat disebutkan bahawa faktor-faktor penyebab timbulnya kejahatan dibagi dalam 2 bagian yaitu faktor interna dan faktor externa.

Faktor Interna

Faktor intern adalah faktor-faktor yang terdapat pada diri individu. Faktor ini khususdilihat dari individu serta dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan perkosaan. Hal ini dapat ditinjau dari:

(a) Faktor Kejiwaan

Kondisi kejiwaan atau keadaan diri yang tidak normal dariseseorang dapat juga mendorong seseorang melakukan kejahatan. Misalnya, nafsu seks yang abnormal, sehingga melakukan pemerkosaan terhadap korban wanita yang t idak meyadari keadaah si penjahat, yakni sakit jiwa psikopatologi dan aspek psikologis dari instink-seksuil.

Dalam keadaan sakit jiwa, si penderita memiliki kelainan mental yang didapat baik dari faktor keturunan maupun dari sikap kelebihan dalam pribadi orang tersebut, sehingga pada akhirnya ia sulit menetralisir rangsangan seksual yang t umbuh dalam dirinya dan

rangsangan seksual sebagai energi psikis tersebut bila tidak diarahkan akan menimbulkan hubungan-hubungan yang menyimpang dan dapat menimbulkan korban pada pihak lain.

Dalam keadaan seperti ini sering dijumpai dalam perbuatan manusia itu terdapat kesilapan-kesilapan tanpa disadari. Jika terdapatnya perbuatan-perbuatan tidak sadar yang muncul dapat menimbulkan perbuatan yang menyimpang maupun cenderung pada perbuatan kejahatan.

Sedangkan aspek psikologis sebagai salah satu aspek dari hubungan seksual adalah aspek yang mendasari puas atau tidaknya dalam melakukan hubungan seksual dengan segala eksesnya. Jadi bukanlah berarti dalam mengadakan setiap hubungan seksual dapat memberikan kepuasan, oleh karena itu pula kemungkinan akses-akses tertentu yang merupakan aspek psiko logis tersebut akan muncul akibat ketidakpuasandalam melakukan hubungan seks. Dan aspek inilah yang dapat merupakan penyimpanganhubungan seksual terhadap pihak lain yang menjadi korbannya.

Orang yang mengidap kelainan jiwa dalam hal melakukan pemerkosaan cenderung melakukannya dengan sadis.Sadisme ini t erkadang juga termasuk misalnya melakukan di hadapan orang lain at au melakukan bersama-sama dengan orang lain. Kemudian disamping it u, zat-zat tertentu sepert i alkohol dan

penggunaan narkot ika dapat juga membuat seseorang yang normalmelakukan perbuatan yang tidak normal. Seseorang yang sudah mabuk akibat meminum minuman keras akan berani melakukan t indakan yang brutal. Dalam kondisi jiwanya yang t idak st abil ia akan mudah terangsang oleh hal-hal yang buruk termasuk kejahatan seksual.

(b) Faktor Moral

Moral merupakan faktor penting untuk menentukan timbulnya kejahatan. Moral sering disebut sebagai filter terhadap munculnya perilaku yang menyimpang, sebab itu moral adalah ajara tingkah laku tentang kebaikan dan merupakan hal yang vital dalam menentukan tingkah

laku. Dengan bermoralnya seseorang maka dengan sendirinya dia akan terhindar dari segala perbuatan yang tercela.Sedangkan orang yang tidak bermoral cenderung untuk melakukan kejahatan.

Pada kenyataannya, moral bukan sesuatu yang tidak bisa berubah, melainkan ada pasang surutnya, baik dalam diri individu maupun masyarakat. Timbulnya kasus-

kasus perkosaan, disebabkan moral pelakunya yang sangat rendah. Dari kasus-kasus tersebut banyak diantaranya terjadi, korbannya bukanlah orang asing lagi baginya bahkan saudara d a n a n a k k a n d u n g s e nd i r i . Ka s u s - k a s u s t e r s e b u t m e m b e r i k a n k e s a n k e p a d a k it a b a ha w a pelakunya adalah orang-orang yang tidak bermoral sehingga dengan teganya melakukan perbuatan yang terkutuk itu terhadap putri kandungnya sendiri. Di lain kasus melakukan p e r bu a t a n ya n g t i d a k m a n u s i a w i i t u s e c a r a b e r s a m a - s a m a d a n d i h a d a p a n t e m a n tanpa adanya rasa malu.

Salah satu hal yang mempengaruhi merosotnya moral seseorang dipengaruhi oleh kurangnya didikan agama. Agama merupakan unsur pokok dalam kehidupan manusia yang merupakan kebutuhan spiritual yang sama. Norma-norma yang terdapat di

dalamnya mempunyai nilai yang t ert inggi dalam hidup manusia. Sebab normanorma t ersebut adalah norma-norma ketuhanan dan segala sesuatu yang

digariskan oleh agama a d a l a h b a i k d a n m e m b i m b i n g k e a r a h y a n g j a l a n ya ng ba ik da n be nar, se hingga bila ma nu sia be nar-benar me nda la m dan me ng ert i isi ag a ma, past ila h ia ak an me nja d i manusia ya ng ba ik da n t id a k a k a n b e r bu a t ha l- h a l ya n g me r u g ik a n a t a u k e ja ha t a n w a la u p u n me ng hadap i ba nya k go daan.

Faktor Eksterna

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berada di luar diri si pelaku. Faktor ekstern ini berpangkal pokok pada individu. Dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengankejahatan kesusilaan. Hal ini dapat ditinjau dari:

(a) Faktor Sosial Budaya

Meningkatnya kasus-kasus kejahatan kesusilaan atau perkosaanterkait erat dengan aspek sosial budaya. Karena aspek sosial budaya yang berkembang ditengah-tengah seseorang.

masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi naik turunnya moralit as

Suatu kenyataan yang terjadi dewasa ini, sebagai akibat pesatnya kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dihindarkan timbulnya dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Akibat modernisasi tersebut, berkembanglah budaya yang cara

s e m a k i n t e r bu k a

p e r g a u l a n ya n g s e m a k i n b e ba s ,

b e r p a k a i a n k a u m h a w a ya n g semakin merangsang, dan kadang-kadang dan berbagai perhiasan yang mahal, kebiasaan bepergian jauh sendirian, adalah faktor-

faktor dominan yang mempengaruhi t ingginya frekuensi kasus perkosaan.

Aspek

sosial

budaya

yang

berkembang moralit as

di

tengah-tengah

masyarakat orang

dapat yang

mempengaruhi

t inggi

rendahnya

masyarakat.

Bagi

mempunyai moralitas tinggi atau iman yang kuat dapat mengatasi diri sehingga tidak diperbudak oleh hasil peradaban tersebut, melainkan dapat menyaringnya dengan menyerap halhal yang positif. Salah satu contoh factor social budaya yang dapat mendukung timbulnya perkosaan adalah remaja yang berpacaran sambil menonton film porno tanpa adanya rasa malu. Kebiasaan yang demikian pada t ahap selanjut nya akan mempengaruhi pik iran si pelaku. Sehingga dapat mendorongnya unt uk menirukan adegan yang dilihat nya, makatimbul kejahatan kesusilaan dengan berbagai bentuknya dan salah satu diantaranya adalah kejahatan perkosaan.

Rehabilitasi Korban Pemerkosaan Rehabilitasi korban tindak pidana perkosaan adalah tindakan fisik dan psikososial sabagai usaha untuk meperoleh fungsi dan penyesuaian diri secara maksimal dan untuk mempersiapkan korban secara fisik, mental dan sosial dalam kehidupannya dimasa akan datang. Tujuan rehabilitasi meliputi aspek medik, psikologik dan sosial. Aspek medik bertujan mengurangi invaliditas dan aspek psikologik serta social bertujuan kearah tercapainya penyesuaian diri, harga

diri dan juga tercapai pendangan dan sikap yang sehat dari keluarga dan masyarakat terhadap para korban tindak pidana perkosaan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka para korban tindak pidana perkosaan selalu mendapatkan pelayanan medik psikiatrik yang intensif.

Daftar pustaka 1. Ira Dwiati. Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Perkosaan Dalam Peradilan Pidana.
http://eprints.undip.ac.id/17750/1/Ira_Dwiati_Tesis.pdf

2. http://www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF