Anda di halaman 1dari 2

LTM: Komunikasi Non-Verbal

Zahra Adiyati / 1206257670

Komunikasi berasal dari kata Latin communicare, yang berarti "untuk membuat umum" atau "untuk berbagi". Sedangkan menurut Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter (2011), komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses menggunakan pesan untuk menghasilkan makna. Komunikasi dianggap suatu proses karena kegiatan, pertukaran, atau satu set perilaku-bukan produk yang tidak berubah. David Berlo, 1960, dalam Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter (2011), seorang pionir dalam bidang komunikasi, mungkin memberikan pernyataan paling jelas tentang komunikasi sebagai suatu proses. Jika kita menerima konsep proses, kita melihat peristiwa dan hubungan yang dinamis, berkelanjutan, dan berubah terus- menerus. Ketika kita member label sesuatu sebagai suatu proses, berarti komunikasi sebagai proses tidak memiliki awal, akhir, serta urutan tetap kejadian. Komunikasi non-verbal melibatkan cara-cara fisik dari komunikasi, seperti, nada, sentuhan, suara, dan gerak tubuh. Komunikasi non-verbal dapat pula berupa gerakan kreatif dan estetika termasuk menyanyi, bermain musik, menari dan memahat. Simbol dan bahasa isyarat juga termasuk dalam komunikasi non-verbal. Salah satu contoh dari komunikasi nonverbal antara lain berjabat tangan, mendorong, menepuk-nepuk bahu dan menyentuh untuk mengungkapkan rasa keakraban. Ekspresi wajah, perilaku, dan kontak mata adalah cara-cara komunikasi non-verbal pula. Membaca ekspresi wajah dapat membantu untuk mengetahui seseorang dengan lebih baik. Komunikasi adalah proses penyampainan informasi dari seseorang ke orang lain. Menurut komunikasi kesehatan, komunikasi non-verbal meliputi kekuatan kinesik, proksemik, paralinguistik, sentuhan, serta faktor lingkungan dan fisik. Kinesik diekspresikan melalui gerakan tubuh seperti gesture, posture, body movement, gerakan mata, dan ekspresi tubuh. Proksemik adalah interpretasi orang seperti jarak intim, personal, sosial, dan umum. Paralinguistik adalah suara seperti kecepatannya, artikulasi, kualitas, dan karakteristik. Sentuhan berupa sentuhan untuk berkomunikasi. Faktor lingkungan dan fisik adalah persepsi lingkungan (formalitas, kehangatan, privasi, hambatan, jarak, familiaritas) dan fisik (contoh: pengaturan tempat duduk).

SUMBER : Takwin, Bagus. 2012. Buku Ajar MPKT A 2012/2013. Depok: Universitas Indonesia Rangkuman presentasi kuliah umum komunikasi kesehatan mengenai Pengantar Komunikasi Kesehatan oleh Fakultas Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia pada tanggal 13 Februari 2013.