Anda di halaman 1dari 24

PERAN PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN AKTIVA YANG DIKELOLA UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA PUSAT LABA PERUSAHAAN

OLEH : MUHAMMAD ARIF YULIANTO (20110420094) HERMAWAN FERIYANTO (20110420347)

PEMBIMBING : Dr. Bambang Jatmika, M.Si

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

A.

Latar Belakang Masalah Pusat laba (profit center) merupakan pusat pertanggungjawaban yang memiliki

kewenangan untuk mengendalikan biaya-biaya dan menghasilkan pendapatan tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan tentang investasi. Pusat laba hanya bertanggungjawab terhadap tingkat laba yang harus dicapai. Misalnya: pimpinan anak perusahaan atau manajer divisi yang tidak diberi hak untuk mengambil keputusan tentang investasi. Laba merupakan ukuran kinerja yang berguna karena laba memungkinkan manajemen senior untuk dapat menggunakan satu indicator yg komprehensif, dibandingkan jika harus menggunakan beberapa indicator. Banyak keputusan manajemen melibtkan usulan untuk meningkatkan beban dengan harapan bahwa hal itu akan menghasilkan peninkatan yang lebih bsar dlam peningkatan penjualan keputusan semacam ini disebut sebagai pertimbangan biaya/pendapatan (expense/revenue trade-off). Tambahan beban iklan adalah salah satu contohnya. Untuk dapat mendelegasikan keputusan trade-off semacam ini dengan aman ke tingkat manajer yang lebih rendah, maka ada dua kondisi yang harus dipenuhi. 1. Manajer harus memiliki akses ke informasi relefan yang dibutuhkan dalam membuat keputusan serupa. 2. Harus ada semacam cara untuk mengukur efektifitasnya suatu trade-off yang dibuat oleh manajer. Langkah utama dalam membuat pusat laba adalah menentukkan titik terendah dalam organisasi dimana kedua kondisi diatas terpenuhi. Seluruh pusat tanggung jawab diibaratkan sebagai suatu kesatuan rangkaian yang mulai dari pusat tanggung jawab yang sangat jelas merupakan pusat lana sampai pusat tanggung jawab yang bukan merupakan pusat laba. Manajemen harus memutuskan apakah keuntungan dari delegasi tanggung jawab laba akan dapat menutupi kerugiannya, sebagaimana dibahas berikut ini. Seperti halnya pilihan-pilihan desain system pengendaian maajemen, dalam ini tidak ada batasan-batasan yang jelas. Rumusan Masalah

B.

Berdasarkan latar belakang, maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah, antara lain : 1. Bagaimana analisis struktur aset yang dilakukan dalam pengukuran dan pengendalian aktiva. 2. Bagaimana cara mengukur aset sesuai aktiva berwujud dan aktiva tidak berwujud.

3. Faktor apa saja yang mempengaruhi pengukuran dan pengendalian aset dalam suatu perusahaan. 4. Mengapa EVA, ROI dan ROA digunakan sebagai salah satu tolak ukur perusahaan dalam pengukuran dan pengendalian Aktiva. 5. Bagaimana tolak ukur pusat laba suatu perusahan

C.

Tujuan Penulisan

Dari Rumusan masalah yang telah disebutkan di atas dapat diambil beberapa tujuan karya tulis ini, yaitu : 1. Agar mengetahui analisis struktur aset yang dilakukan dalam pengukuran dan pengendalian aktiva. 2. Agar dapat mengetahui cara mengukur aset sesuai aktiva berwujud dan aktiva tidak berwujud. 3. Mampu menjelaskan Faktor apa saja yang mempengaruhi pengukuran dan pengendalian aset dalam suatu perusahaan. 4. Mampu menjelaskan EVA, ROI dan ROA digunakan sebagai salah satu tolak ukur perusahaan dalam pengukuran dan pengendalian Aktiva. 5. Mengetahui faktor apa saja tang menjadi tolak ukur pusat laba suatu perusahaan Landasan Teori Menurut Earl P. Strong Pengawasan adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana.

D.

Menurut Umar (1991) pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi data secara kuantitatif. Hasil dari pengukuran dapat berupa informasiinformasi atau data yang dinyatakan dalam berntuk angka ataupun uraian yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu mutu informasi haruslah akurat.

Menurut Weygandt (2007:11-12)

Aset ialah sumber penghasilan atas usahanya sendiri, dimana karakteristik umum yang dimilikinya yaitu memberikan jasa atau manfaat dimasa yang akan datang. pengertian-definisi Aktiva Menurut Djarwanto PS. (2001:15) pengertian aktiva adalah sebagai berikut: Aktiva merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan, bentuk-bentuknya dapat berupa harta kekayaan atau hak atas kekayaan atau jasa yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan. pengertian-definisi Aktiva Menurut Mamduh M.Hanafi (2003:24) pengertian aktiva adalah: Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan darinya manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diraih oleh perusahaan. pengertian-definisi Aktiva Menurut Zaki Baridwan : Aktiva atau harta adalah benda baik yang memiliki wujud maupun yang semu dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan diperoleh manfaat ekonomisnya. (2004:271) pengertian-definisi Aktiva Menurut S Munawir (2002:30) aktiva adalah sarana atau sumber daya ekonomik yang diniliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang hargan perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. pengertian-definisi Aktiva Menurut Thompson yang diterjemahkan oleh skoussen dkk (2001 : 131) aktiva adalah kemungkinan keuntungan ekonomi di masa depan yang diperoleh atau dikontrol oleh entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian dimasa lalu. E. Pembahasan F. 1. Analisis Struktur Asets Tujuan penggunaan aktiva merupakan analogi dari tujuan pusat laba yaitu : Untuk memberikan informasi yang berguna dalam membuat keputusan yang bagus mengenai aktiva yang digunakan dan untuk memacu para manajer agar membuat keputusan yang merupakan kepentingan perusahaan.

Untuk mengukur kinerja unit usaha sebagai suatu entitas ekonomi. Dalam analisis mengenai perlakuan alternatif atas aktiva dan perbandingan ROI dengan EVA - dua cara dalam mengaitkan laba dengan aktiva yang digunakan-yang paling menarik adalah seberapa baiknya alternatif-alternatif tersebut melayani kedua tujuan di atas untuk menyediakan informasi guna pengambilan keputusan yang baik dan pengukuran kinerja ekonomi suatu unit usaha. Umumnya, para manajer unit usaha memiliki dua sasaran kinerja. Pertama, mereka harus merealisasikan laba yang mencukupi dari sumber daya yang digunakan, Kedua, mereka harus dapat menggunakan sumber daya tambahan hanya jika penggunaan tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai. Tujuan dari menghubungkan laba dengan investasi adalah untuk memotivasi para manajer unit usaha guna mencapai sasaran -sasaran tersebut di atas.

2.

Mengukur Asets Dalam memutuskan dasar investasi apa yang akan digunakan untuk mengevaluasi

pusat investasi, kantor pusat menanyakan dua hal: Pertama, praktik-praktik apa saja yang akan membuat para manajer unit usaha menggunakan aktiva mereka dengan efisien dan untuk mendapatkan jumlah dan jenis yang tepat dari aktiva baru. Mungkin, ketika laba mereka berkaitan dengan aktiva yang digunakan, para manajer unit usaha akan mencoba untuk meningkatkan kinerja mereka yang diukur dengan cara ini. sifat-sifat aktiva sebagai berikut: 1. Harus ada hak khusus atas manfaat mendatang atau potensi jasa. 2. Hak tersebut harus dimiliki oleh individu atau perusahaan tertentu. 3. Harus terdapat klaim yang dapat dipaksakan secara hukum atas hak atau jasa atau bukti lainnya yang menunjukkan bahwa penerimaan manfaat di masa dating adalah mungkin. 4. Manfaat ekonomi haruslah merupakan akibat dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Aktiva Berwujud

Aktiva berwujud adalah aktiva dimana aktiva tersebut memiliki fisik yang akan digunakan sarana usaha, seperti tanah, tanah adalah harta yang digunakan untuk tujuan usaha, ada juga perbaikan tanah yaitu unsur-unsur seperti pemetaan tanah, pengaspalan, dan pemegaran, yang meningkatkan kegunaan dari aktiva, setelah itu gedung yaitu bangunan yang akan digunakan untuk menempatkan operasi perusahaan, terakhir peralatan yaitu aktiva yang dipergunakan dalam proses produksi atau penyediaan jasa. a. Kas Hampir semua perusahaan mengendalikan kas secara terpusat karena pengendalian pusat memungkinkan penggunaan saldo kas yang lebih kecil daripada jika setiap unit usaha memegang saldo kas yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan perbedaan antara arus kas masuk dan arus kas keluar. Saldo kas unit usaha mungkin hanya akan merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran harian.Akibatnya, saldo kas aktual pada tingkat unit usaha cenderung jauh lebih kecil dibandingkan dengan saldo kas yang diperlukan, jika unit usaha merupakan suatu perusahaan independen. b. Piutang Manajer unit usaha dapat mempengaruhi tingkat piutang secara tidak langsung, melalui kemampuan mereka untuk menghasilkan penjualan, dan secara langsung, melalui penetapan persyaratan kredit dan persetujuan atas kredit individual dan batas kredit, serta melalui wewenang mereka dalam menagih kredit yang telah jatuh tempo. Demi kenudahan, unsure piutang sering dimasukkan pada saldo aktual di akhir periode, meskipun rata-rata antar periode secara konsep merupakan ukuran yang lebih baik atas jumlah yang seharusnya dikaitkan dengan laba. c. Persediaan Persediaan biasanya diperlakukan sama seperti piutang-yaitu dicatat pada jumlah akhir periode meskipun rata-rata antar periode lebih baik secara konsep. Jika perusahaan menggunakan (last in, first out-LIFO) untuk tujuan akuntansi keuangan, maka metode penilaiain lain biasanya digunakan untuk pelaporan laba unit usaha, karena saldo persediaan LIFO cenderung sangat rendah pada periode terjadinya inflasi. Dalam kondisi -kondisi tersebut, persediaan sebaiknya dinilai pada biaya standar atau rata-rata, dan biaya yang sama sebaiknya digunakan untuk ,mengukur harga pokok, penjualan pada laporan laba rugi unit usaha. Jika persediaan barang dalam proses didanai melalui pembayaran di muka atau

pembayaran cicilan dari konsumen, seperti yang biasa terjadi jika barang tersebut membutuhkan waktu produksi yang lama. Pembayaran tersebut akan dikurangi dari jumlah persediaan kotor atau dilaporkan sebagai kewajiban. d. Modal kerja secara Umum Seperti yang dapat dilihat, perlakuan atas modal kerja sangatlah bervariasi. Pada satu sisi, perusahaan memasukkan seluruh aktiva lancar ke dalam dasar investasi dengan tidak mengeliminasi kewajiban lancar. Metode tersebut adalah beralasan dari sudut pandang motivasional jika unit-unit usaha tidak dapat mempengaruhi utang atau kewajiban lancar lainnya. Tetapi, metode tersebut menyatakan terlalu tinggi jumlah modal korporat yang diperlukan untuk mendanai unit usaha, karena kewajiban lancar merupakan sumber modal, seringkali dengan biaya bunga sama dengan nol. e. Properti, Pabrik, dan Peralatan Dalam akuntansi keuangan, aktiva tetap awalnya dicatat pada biaya perolehan, dan biaya ini dihapuskan sepanjang umur ekonomis aktiva melalui penyusutan. Hampir semua perusahaan menggunakan pendekatan yang sama dalam mengukur profitabilitas atas dasar aktiva dari unit usaha. Hal ini menyebabkan permasalahan serius dalam penggunaan sistem tersebut untuk tujuan yang dimaksudkan. Aktiva Tidak Berwujud Aktiva tak berwujud (in tangible aset) adalah aktiva tak lancar (noncurrent aset) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain. Salah satu karakteristik aktiva tak berwujud yang paling penting adalah tingkat ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. Dalam banyak kasus, nilai aktiva tak berwujud berkisar antara nihil sampai dengan jumlah yang besar. Aktiva tak berwujud antara lain dapat berbentuk hak paten, hak cipta, franchise, merk dagang dan goodwill. Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususannya, masa manfaatnya, hubungannya dengan kegiatan usaha, dan penghapusannya. Dasar penggolongan aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut:

Kemampuan untuk diidentifikasikan: dapat atau tidak dapat diidentifikasikan secara khusus. Cara perolehan: diperoleh secara individual, secara kelompok, melalui penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri. Masa manfaat yang diharapkan: tergantung pada pembatasan yang diatur oleh hukum/perjanjian, pada faktor keekonomian atau manusia, atau pada jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di ma sa depan.

Kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan: hak yang dapat dialihkan tanpa bukti pemilikan, dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari perusahaan atau dari bagian pokoknya. Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh dari individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. Biaya pemeliharaan atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus, tidak dapat ditentukan masa manfaatnya/umurnya, atau tidak dapat dihindarkan dalam suatu kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Aktiva tak berwujud yang diperoleh harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal

akuisisi. Harga perolehan tersebut dinilai sebesar jumlah yang dibayar, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban yang ada atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang dikeluarkan. EVA, ROI, dan ROA Hampir semua perusahaan yang mempunyai pusat investasi mengevaluasi unit-unit usahanya berdasarkan ROI, dibandingkan yang menggunakan EVA. Ada tiga keuntungan ROI. Pertama, ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari rasio ini. Kedua, ROI mudah dihitung, mudah dipahami, dan sangat berarti dalam pengertian absolut. Ketiga, ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa mempedulikan ukuran dan jenis usahanya. Kinerja dari unit yang berbeda dapat saling dibandingkan. Selain itu, data ROI pesaing bersedia sehingga dapat dijadiakan sebagai dasar perbandingan. Pendekatan EVA memiliki empat keunggulan diabanding ROI. Pertama, dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan investasi. Di lain pihak,

pendekatan ROI memberiakn insentif yang berbeda untuk investasi diantara unit-unit usaha. Kedua, keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat investasi dapat menurunkan laba keseluruhan. Ketiga, tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis aset yang berbeda pula. Keempat, EVA berlawanan dengan ROI, memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan. Para pemegang saham merupakan pemilik kepentingan yang penting dalam perusahaan. Ada tiga keuntungan dari ROI: a. ROI merupakan pengukuran yang kompherensif dimana semua mempengaruhi laporan

keuangan tercermin dari rasio ini. b. c. ROI mudah dihitung, mudah dipahami,dan sangat berarti dalam pengertian absolute. ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit organisasi yang

bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa memperdulikan ukuran dan jenis usahanya. EVA tidak memberikan dasar perbandingan semacam ini. Tetapi pendekataan EVA juga memiliki beberapa keunggulan. Ada empat alasan yang membuatnya lebih unggul dari ROI: 1) Dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan investasi. 2) Keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat investasi dapat menurunkan laba keseluruhan. 3) Tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis aktiva yang berbeda pula. 4) EVA berlawanan dengan ROI, memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan.

Ada beberapa alasan mengapa penciptaan nilai pemegang saham menjadi sangat penting bagi perusahaan: a). Mengurangi risiko pengambilalihan (takeover); b). Menciptakan nilai tukar unutk agresivitas dalam merger dan akuisisi, dan c). Mengurangi biaya modal, sehingga memungkinkan investasi yang lebih cepat untuk pertunbuhan masa depan.

Jadi, mengoptimalkan nilai pemegang saham merupakan tujuan penting bagi suatu perusahaan. Mandat terbaik untuk nilai pemegang saham pada tingkat unit usaha adalah meminta para manajer unit usaha untuk menciptakandan meningkatkan EVA. EVA diukur dengan cara sebagai berikut: 1. EVA = Laba bersih Beban modal dengan

Beban Modal = Biaya modal x modal yang digunakan ( 1 ) Cara lain untuk menyatakan persamaan ( 1 ) adalah : 2. EVA = Modal yang digunakan ( ROI Biaya modal ) ( 2 )

Tindakan-tindakan berikut akan meningkatkan EVA sebagaimana ditunjukkan oleh persamaan (2): (i) peningkatan ROI melalui business process reengineering dan productivity gains , tanpa menaikkan dasar investasi; (ii) divestasi aktiva,produk dan atau bisnis yang ROI-nya kurang dari biaya modal; (iii) investasi agresif yang baru dalam aktiva,produk, dan atau bisnis yang ROI-nya melebihi biaya modal dan (iv) peningkatan penjualan,margin laba,atau efisiensi modal (rasio penjualan terhadap modal yang digunakan), atau penurunan persentase biaya modal tanpa mempengaruhi variable lain dalam persamaan (2). Tindakan tindakan tersebut jelas merupakan yang terbaik bagi kepentingan perusahaan. EVA memecahkan permasalan mengenai perbedaan tujuan laba untuk aktiva yang sama dalam unit usaha yang berbeda dan tujuan laba yang sama pada unit usaha sama. Metode tersebut memungkinkan untuk memasukkan peraturan keputusan yang sama dengan yang digunakan dalam proses perencanaan ke dalam sistem pengukuran: Semakin rumit proses perencanaan, semakin rumit juga perhitungan EVA-nya.

Pertimbangan Tambahan dalam Mengevaluasi Manajer Dengan melihat kelemahan ROI, kelihatannya mengejutkan bahwa ROI digunakan secara luas. Diketahui dari pengalaman pribadi bahwa kesalahan konseptual ROI untuk evaluasi kinerja adalah nyata dan menyebabkan timbulnya perilaku disfungsional dari para manajer unit usaha. Penggunaan EVA sebagai perangkat pengukuran kinerja sangat disarankan. Tetapi, EVA tidak menyelesaikan seluruh masalah yang berkaitan dengan penghitungan aktiva tetap,

seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, kecuali metode penyusutan anuitas dipergunakan, dan hal ini jarang dilakukan dalam praktik bisnis sehari-hari. Lebih lanjut lagi, beberapa aktiva mungkin akan dinyatakan terlalu rendah nilainya ketika dikapitalisasi, sementara aktiva lain ketika dibebankan. Meskipun biaya pembelian aktiva tetap biasanya dikapitaliasi, sejumlah besar investasi dalam biaya awal, pengembangan produk baru, organisasi dealer, dan sebagainya, mungkin dapat dihapuskan sebagai beban, dan dengan demikian tidak akan terlihat dalam dasar investasi. Dengan mempertimbangkan hal ini, beberapa perusahaan memutuskan untuk mengeluarkan unsur aktiva tetap dari dasar investasi. Perusahaan-perusahaan tersebut membebankan beban bunga hanya untuk aktiva yang dapat dikendalikan, dan mengendalikan aktiva tetap dengan perangka terpisah. Aktiva yang dapat dikendalikan pada dasarnya merupakan modal kerja. Investasi dalam aktiva tetap dikendalikan oleh proses anggaran modal sebelum terjadinya dan oleh audit setelah penyelesaian untuk menentukan apakah ada arus kas yang diantisipasi terwujud. Hal tersebut jauh lebih dari memuaskan karena penghematan atau pendapatan aktual dari akuisisi aktiva tetap tidak dapat diidentifikasikan.

Evaluasi Kinerja Perusahaan Pembahasan sampai pada saat ini terfokus pada pengukuran kinerja dari para manajer unit usaha. Laporan-laporan manajemen dibuat bulanan atau kuartalan sementara laporan kinerja ekonomi biasanya dibuat dengan selang waktu yang tidak tetap, biasanya sekali dalam selang beberapa tahun. Secara konsep nilai suatu usaha adalah nilai sekarang dari pendapatan di masa depan. Hal ini dihitung dengan mengestimsi arus kas untuk setiap tahun di masa depan dan mendiskontokan setiap arus kas tersebut pada tarif laba yang telah ditentukan. Analisis tersebut dilakukan untuk lima ,atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang. Laporan-laporan ekonomi merupakan instrumen yang diagnostik. Laporan tersebut memberikan indikasi apakah strategi unit usaha yang sekarang sudah memuaskan dan jika tidak, keputusan apa yang harus diambil untuk unit usaha ekonimi atas suatu unit usaha dapat memperlihatkan bahwa rencana yang sekarang atas produk-produk, pabrik dan peralatan baru, atau strategi baru yang lain.

Laporan-laporan ekonomi dapat dijadikan dasar untuk memperoleh nilai perusahaan secara keseluruhan. Nilai semacam ini disebut breakup value yaitu, estimasi jumlah yang akan diterima oleh para pemegang saham jika masing-masing unit usaha dijual. Laporan tersebut menunjukkan unit usaha yang menarik dan dapat mengindikasikan bahwa manajemen senior salah mengalokasikan waktu mereka yang terbatas yaitu, menghabiskan waktu yang terlalu banyak untuk unit usaha yang cenderung tidak banyak memberikan kontribusi kepada profitabilitas total perusahaan. Perbedaan yang paling nyata antara kedua jenis laporan tersebut adalah bahwa laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas di masa depan daripada profitabilitas yang sekarang atau yang lalu. Secara konsep, nilai suatu unit usaha adalah nilai sekarang dari pendapatan di masa depan. Hal ini dihitung dengan mengestimasi arus kas untuk setiap tahun di masa depna dan mendiskusikan setiap arus kas tersebut pada tarif laba yang telah ditentukan. Analisis tersebut dilakukan untuk lima, atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang. Meskipun estimasiestimasi tersebut pada umumnya berupa estimasi yang kasar, namun tetap memberikan cara yang berbeda dalam melihat unit usaha, dibandingkan dengan apa yang ada pada laporan laporan kinerja. Pusat investasi memiliki semua masalah pengukuran yang terlibat dalam menentukan beban dan pendapatan. Pusat investasi menimbulkan permasalahan baru mengenai bagaimana cara mengukur aktiva yang digunakan, khususnya aktiva mana yang akan dimasukkan, bagaimana menilai aktiva tetap dan aktiva lancar, metode penyusutan apa yang akan digunakan untuk aktiva tetap, aktiva perusahaan mana yang harus dialokasikan, dan kewajiban mana yang harus dikurangi. Suatu tujuan penting dari suatu organisasi bisnis adalah untuk mengoptimalkan tingkat pengembalian atas ekuitas pemegang saham (yaitu, nilai sekarang bersih dari arus kas di masa depan). Sangat tidak praktis untuk menggunakan pengukuran semacam ini guna mengevaluasi kinerja para manajer unit usaha per bulanan atau kuartal. Menghitung tingkat pengembalian adalah pengukuran yang paling baik atas kinerja para manajer unit usaha. Nilai tambah ekonomis (economic value added-EVA) secara konsep lebih unggul daripada tingkat pengembalian investasi (return on investment-ROI) dalam mengevaluasi kinerja dari para manjer unit usaha.

Selain pos-pos laporan laba rugi, ketika menetukan tujuan laba tahunan harus ada tariff bunga yang akan eksplisit terhadap saldo yang akan diproyeksikan atas pos modal kerja yang dapat dikendaliakan khususnya piutang dan persediaan. Ada perdebatan yang yang cukup alot mengenai pendekatan yang tepat bagi manajemen dalam mengendalikan aktiva tetap. Melaporkan kinerja ekonomi dari suatu pusat investasi berbeda dengan melaporkan kinerja menajer yang berwenang dalam pusat investasi tersebut Pusat Laba merupakan pusat pertanggungjawaban yang orestasinya diukur atas dasar laba yang diperoleh. Laba adalah selisih antar pendapatan dan biaya. Pusat laba dapat berbentuk divisi apabila kegiatan-kegiatan fungsional dilaksanakan oleh unit-unit kerja dalam lingkup satu organisasi sendiri PERANAN LABA : 1. Tujuan setiap perusahaan adalah memperoleh laba yang tinggi. 2. Laba merupakan tolok ukur efektivitas. 3. Laba adalah selisih pendapatan (output) dengan biaya (input). 4. Laba juga juga mengukur efisensi dan efektivitas. PUSAT LABA (PROFIT CENTRE) Adalah suatu pusat pertanggungjawaban yang : Bertugaas menciptakan laba Berwenang mangatur pendapatan sekaligus biaya (laba) Prestasinya diukur berdasarkan laba yang diperoleh. Dalam pusat laba masukan (biaya) dan keluaran (pendapatan) dinyatakan dalam satuan moneter. Dengan demikian maka pusat laba adalah gabungan antara pusat biaya dan pusat pendapatan sehingga ukuran laba merupakan indikator kinerja yang lebih komprehensif. Pertimbangan Pusat Laba terdapat pada : Fungsi-fungsi produksi dan pemasaran di dalam perusahaan dipisahkan (pada organisasi fungsional) Bentuk organisasi dimana unit utama fungsi produksi dan pemasaran disatukan (organisasi unit bisnis atau divisional)

Wewenang suatu unit organisasi untuk menghasilkan laba tidak didelegasikan penuh kepada suatu unit usaha di dalam perusahaan, tergantung pada : o Akses informasi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan membuat keputusan. o Ada suatu cara untuk mengukur trade off biaya/pendapatan yang dibuat oleh manajer.

Manfaat Pembentukan Pusat Laba : 1. Keputusan operasional dapat dilakukan lebih cepat karena tidak memerlukan pertimbangan dari Kantor Pusat. 2. Kualitas keputusan cenderung lebih baik, karena dilakukan oleh orang yang benar benar mengerti tentang keputusan tersebut. 3. Manajemen kantor pusat bebas dari urusan operasional rutin dan bisa lebih memfokus-kan pada keputusan yang lebih luas. 4. Kesadaran laba (profit consciousness) lebih meningkat pada manajer pusat laba, karena ukuran prestasinya adalah laba. 5. Pengukuran prestasi pusat laba lebih luas dari pada hanya pengukuran pada pusat pendapatan dan pusat biaya yang terpisah. 6. Manajer pusat laba lebih bebas berkreasi. 7. Dapat difungsikan sebagai pusat/sarana pelatihan yang handal, karena pusat laba hampir sama dengan satu perusahaan yang independen. 8. Memudahkan kantor pusat untuk memperoleh informasi profitabilitas dari komponen produk-produk perusahaan. 9. Untuk meningkatkan kinerja bersaing karena outputnya siap pakai/jelas, dan sangat respon-sif terhadap tekanan Kelemahan Pusat Laba (Profit Center) 1. Manajemen kantor pusat kehilangan kendali mengenai keputusan yang telah didelegasikan. 2. Manajer Pusat laba cenderung hanya memperhatikan laba jangka pendek. Organisasi yang pada awalnya bekerja sama antara fungsi satu dengan lainnya menjadi saling bersaing. Terdapat kemungkinan peningkatan perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan pertentangan atar pusat pertanggungjawaban. Tidak ada yang menjamin bahwa divisionalisasi pada masing-masing

pusat laba akan menjamin peningkatan laba perusahaan menjadi lebih optimal. Kualitas pengambilan keputusan oleh manajer divisi mungkin bisa lebih jelek dari pada manajer puncak. Menimbulkan terjadinya tambahan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan manajerial divisi. Kompetensi general manajer seringkali menjadi tidak diperlukan. Bentuk-bentuk Pusat Laba 1. Unit Bisnis (divisi) sebagai pusat laba karena manajernya bertanggung jawab dan mempunyai kebijakan dan kendali terhadap pengembangan produk, proses produksi dan pemasaran serta perolehan produk, sehingga ia dapat mempengaruhi pendapatan dan biaya yang berakibat terhadap laba bersihnya. Proses tersebut menciptakan suatu unit usaha yang bertanggung jawab terhadap manufaktur dan pemasaran suatu produk. Masalah yang terjadi adalah : a. Yang berkaitan dengan hubungan dengan unit bisnis lainnya perlu pengendalian terhadap : 1) Keputusan produk : barang dan jasa yang harus dijual. 2) Keputusan pemasaran : bagaimana, dimana dan berapa jumlah barang yang harus dijual. 3) Keputusan perolehan : bagaimana mendapatkan dan memproduksi barang yang dijual. b.Yang menyangkut hubungan dengan manajemen korporat, yang meliputi : 1) Batasan yang timbul dari pertimbangan-pertimbangan strategis, misalnyakeputusan finansial masih di korporat, timbul masalah investasi baru. 2) Batasan yang timbul karena adanya keseragaman yang diperlukan, harus menyesuaikan dengan sistem pengendalian dan akuntansi korporat (perusahaan) kalau baru diakusisi? Perlu biaya penyeragaman pada kebijakan personalia, etika, 3) Batasan yang timbul karena nilai ekonomis sentralisasi barang dan jasa yang sama dapat lebih murah jika diperoleh dari luar perusahaan. 2. Unit-unit Fungsional sebagai pusat laba pada perusahaan multi bisnis setiap unit diperlakukan sebagai penghasil laba yang independent, tetapi bisa saja terorganisasi dalam bentuk fungsional, misalnya : pemasaran, manufaktur dan jasa. a. Fungsional Pemasaran aktivitas pemasaran dijadikan sebagai pusat laba dengan cara : 1) Membebankan biaya dari produk yang dijual melalui harga transfer dengan cara membuat trade off pendapatan/biaya yang optimal.

2) Harga transfer dibebankan kepada pusat laba berdasarkan biaya standard, memisahkan kinerja biaya pemasaran terhadap biaya manufaktur, hal ini berpengaruh terhadap perubahan efisiensi di luar kendali manajer pemasaran. b. Fungsional manufaktur biasanya aktivitas manufaktur merupakan pusat biaya yang diukur kinerjanya dari realisasi >< biaya standard dan anggaran overhead (sebagai pusat biaya. Tetapi timbul masalah karena tidak mengindikasikan kinerja manajemen dari seluruh aspek yang dikerjakannya. Oleh sebab itu perlu evaluasi yang terpisah misalnya mengenai pengendalian mutu, penjadwalan produk dan keputusan membuat atau membeli mana yang lebih menguntungkan. Oleh sebab itu fungsional manufaktur dijadikan pusat laba. Cara menghitung pendapatan: Harga jual produk -/- estimasi biaya pemasaran c. Unit-unit Fungsional Pendukung dan Support sebagai pusat laba hal ini meliputi unit -unit : pemeliharaan, tekhnologi informasi, transportasi, tekhnik, konsultan dan layanan konsumen serta aktivitas pendukung lainnya yang dapat dijadikan sebagai pusat laba. Caranya : 1) Membebankan biaya dari layanan yang diberikan dan menutupnya dari pendapatan atas layanan yang diberikan baik kepada internal dan eksternal. 2) Manajer organisasi unit ini termotivasi untuk mengendalikan biayanya agar pelanggannya tidak meninggalkan, disamping itu konsumen termotivasi untuk membuat keputusan apakah jasa yang diterima telah sesuai dengan harganya. 3. Organisasi lainnya sebagai pusat laba ini meliputi organisasi cabang pada area geografis tertentu yang manajernya tidak mempunyai tanggung jawab manufaktur atau pembelian dan profitabilitasnya merupakan satu-satunya ukuran kinerjanya. Contohnya : toko-toko rantai ritel, restaurant-restaurant cepat saji (fast food chain) dan hotelhotel pada rantai hotel. Manfaatnya pengukuran laba adalah untuk memotivasi manajernya. Mengukur Profitabilitas Ada 2 (dua) jenis profitabilitas yang digunakan untuk mengevaluasi suatu pusat laba, yaitu : 1. Pengukuran kinerja manajer fokus bagaimana hasil kerja manajer (diukur dengan sesuai wewenang dan tanggung jawabnya, hal ini digunakan untuk menyusun perencanaan dan koordinasi serta pengendalian pusat laba sehari-hari untuk memberikan motivasi yang tepat bagi manajer.

2. Pengukuran kinerja ekonomis fokus pada kinerja pusat laba sebagai entitas ekonomi (dapat mencapai atau memenuhi anggarannya) Kedua jenis profitabilitas diatas berbeda, contoh : 1. Laporan kinerja manajemen suatu toko cabang dapat menunjukkan bahwa kinerjanya sangat baik, tetapi 2. Laporan kinerja ekonomis toko cabang tersebut menunjukkan bahwa kehilangan posisinya di pasar dan harus ditutup karena adanya kondisi persaingan dan ekonomi di lokasi tersebut. Informasi untuk ke dua laporan tidak dapat diperoleh dari satu kelompok data saja. Laporan manajemen frekuensinya tinggi, sedang-kan laporan ekonomis dibuat saat-saat tertentu ketika keputusan ekonomis dibuat. JENIS-JENIS PENGUKURAN LABA 1. MARJIN KONTRIBUSI (CONTRIBUTION MARGIN) Margin kontribusi selisih (spread) antara pendapatan dan biaya variabel. Hal ini disebabkan karena biaya variabel berada dalam kendali manajer tersebut, sedangkan biaya tetap di luar kendalinya. Contoh Laporan Laba Rugi Suatu Pusat Laba Kelemahannya : biaya tetap yang merupakan kebijakan kadang kala masih dapat diubah oleh manajer pusat laba, tetapi oleh manajer senior biaya tetap ini agar dipertahankan sesuai formulasi anggaran. 2. LABA LANGSUNG (DIRECT PROFIT) Laba langsung adalah margin kontribusi dikurangi biaya tetap pada pusat laba. Ini merupakan gabungan seluruh pengeluaran pusat laba atau dapat ditelusuri langsung ke pusat laba. Oleh sebab itu pengeluaran di kantor pusat tidak termasuk dalam perhitungan ini. Contoh Laporan Laba Rugi Suatu Pusat Laba Kelemahannya : unsur manfaat motivasi dari biaya-biaya di kantor pusat tidak dimasukkan. 3. LABA YANG DAPAT DIKENDALIKAN (CONTROLLABLE PROFIT) Jenis-jenis Ukuran Kinerja Laba yang dapat dikendalikan Laba langsung dikurangi beban biaya korporat yang dapat dikendalikan oleh manajer pusat laba. Contoh biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer unit bisnis adalah biaya layanan tekhnologi informasi.

Contoh Laporan Laba Rugi Suatu Pusat Laba Kelemahannya : tidak memasukkan biaya yang tidak dapat dikendalikan di kantor pusat, sehingga laba ini tidak bisa langsung diperbandingkan dengan laba dari perusahaan lain pada industri yang sama. 4. LABA SEBELUM PAJAK (INCOME BEFORE TAX) Laba sebelum pajak Laba yang dapat dikendalikan dikurangi beban- beban korporat lainnya. Contoh Laporan Laba Rugi Suatu Pusat Laba Ada 2 (dua) pendapat yang menentang mengenai hal ini : a) Biaya yang dikeluarkan di korporat tidak dapat dikendalikan oleh manajer pusat laba sehingga mereka tidak perlu bertanggung jawab atas biaya tersebut. b) Biaya yang dikeluarkan di korporat sulit dialokasikan dengan cara yang wajar yang mencerminkan pengeluaran biaya pada setiap pusat laba. Disamping itu ada 3 (tiga) pendapat yang mendukung mengenai hal ini, yaitu : a) Biaya overhead korporat yang dikeluarkan di korporat cenderung meningkatkan dasar kekuatan dan memperluas keunggulan tanpa melihat dampaknya secara keseluruhan perusahaan. b) Kinerja pusat laba setelah pembebanan biaya overhead korporat lebih realistis, sehingga dapat diperbandingkan dengan para pesaing yang memberikan jasa yang sama. c) Para manajer pusat laba mengetahui bahwa laba yang diperoleh termasuk menutupi beban overhead korporat, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan perencanaan jangka panjang yang optimal, penetapan harga, bauran produk, dsb. Pembebanan sebagaian biaya overhead korporat harus dihitung berdasarkan anggarannya, dan bukan realisasinya, sehingga manajer pusat laba tidak akan mengeluh terhadap kebijakan ini maupun kurangnya pengendalian mereka terhadap biaya ini. 5. LABA BERSIH (NET INCOME) Laba bersih yaituLaba yang diperoleh setelah dikurangi oleh kewajiban-2 pajak. Contoh Laporan Laba Rugi Suatu Pusat Laba Ada 2 (dua) pendapat yang menentang mengenai hal ini : a) Laba bersih (setelah pajak)merupakan suatu yang konstan terhadap laba sebelum pajak, sehingga tidak bermanfaat jika harus memasukkan unsur pajak .

b) Manajer pusat laba tidak tepat jika harus menanggung konsekuensi keputusan yang mempengaruhi pajak penghasilan di kantor pusat. Jika tarif pajak bervariasi antar pusat laba, maka pusat laba dapat mempengaruhi besarnya pajak penghasilan melalui kredit cicilan, dan keputusan membeli atau menjual peralatan serta penggunaan standar akuntansi (SAK/GAAP) dapat membedakan laba kotor dan laba kena pajak. Hal ini akan memotivasi para manajer pusat laba untuk meminimalkan beban pajak. PENGAKUAN PENDAPATAN Pendapatan diakui melalui pemilihan metode pengakuannya yang tepat adalah penting apakah pada saat pesanan, pengiriman atau ketika uang diterima?. Hal ini memerlukan pertimbangan karena pusat laba dapat berpartisipasi mensukseskan penjualan, sehingga harus diberi nilai tersendiri. Banyak perusahaan yang mengabaikan masalah ini karena mengidentifikasi penciptaan pendapatan sulit dilaksanakan, dan tenaga penjual bukan hanya bekerja untuk pusat laba, tetapi bagi kebaikan perusahaan secara keseluruhan. Pertimbangan manajemen Kadang kala manajemen menghadapi kebingungan dan kegagalan untuk memisahkan kinerja manajer pada pengukuran kinerja manajer dengan pengukuran ekonomis pusat laba Solusinya : manajer harus diukur berdasarkan pada yang dapat mereka kendalikan, termasuk pajak yang mereka tidak memiliki kendalinya. G. Kasus

AMAX Automobilies Merupakan perusahaan mobil dengan tiga lini produk. Lini A ditunjukan untuk segmen masyrakat tingkat atas. Lini B untuk menengah ke atas, dan lini C untuk masyrakat banyak. Setiap lini produk dijual dengan merek yang berbeda dengan menggunakan sistem distribusi yang berbeda. Lini A, B, dan C masing-masing dijual oleh Divisi A, B, dan C. Beberapa komponen merupakan komponen umum bagi ketiga divisi tersebut. Beberapa komponen ini diperoleh dari luar perusahaan, dan sisanya diperoleh oleh perusahaan. Selain itu, ada pertukaran tejhnologi dan metodologi produksi antara divisi-divisi tersebut. khususnya dalam hal inovasi produk, dimana Divisi A memberikan input bagi Divisi B dan C. Di pihak lain, inovasi proses dihasilkan oleh Divisi C dan dan diadosi oleh Divisi A dan B.

Pertanyaan Bagaimana sebaiknya AMAX diorganisasikan dan dikendalikan ? Jawab; Ada beberapa cara di dalam didalam pengorganisasian perusahaan AMAX : 1.Dengan adanya suatu divisionalisasi, yang merupakan prosespemberian wewenang dalam bidang produksi dan pemasaran produktertentu kepada suatu pusat pertanggungjawaban atau prosespembentukan pusat-pusat laba atau melimpahkan kewenangan yanglebih luas kepada manajer-manajer yang beroperasi, yaitu memilikikendali atas pengembangan produk, proses produksi, dan pemasaran. 2.Berfokus pada pusat laba (profit center) yang memberikan informasisiap pakai bagi manajemen atas (top management) mengenaiprofitabilitas. 3.Berfokus pada margin laba yang memacu para manajer untukmemperkenalkan produk produk baru. 4.Berfokus pada bottom line (laba/rugi akhir) yang memacu paramanajer untuk menghasilkan keuntungan yang maksimum dari produkyang sekarang. 5.Mengukur kinerja proses manufaktur seperti pengendalian kualitas,penjadwalan produk, dan keputusan membuat atau membeli. 6.Mengukur profitabilitas dengan cara mengukur kinerja manajemenyang digunakan untuk perencanaan, koordinasi, dan mengontrolkegiatan sehari-hari dari pusat laba dan sebagai alat untuk memberikanmotivasi yang tepat bagi manajer. Dalam mengendalikan AMAX kita haru tahu jenis-jenis manajemen sistem pengendalian. Manajemen Sistem pengendalian manajemen dapat dibagi dalam 5 (lima) jenis: 1. Pengendalian pencegahan (preventive controls)Pengendalian pencegahan dimaksudkan untuk mencegah terjadinya suatukesalahan. Pengendalian ini dirancang untuk mencegah hasil yang tidak diinginkan sebelum kejadian itu terjadi. Pengendalian pencegahan berjalan efektif apabila fungsi atau personel melaksanakan perannya. Contoh pengendalianpencegahan meliputi: kejujuran, personel yang kompeten.

2. Pengendalian deteksi (detective controls)Sesuai dengan namanya pengendalian deteksi dimaksudkan untuk mendeteksisuatu kesalahan yang telah terjadi. Rekonsiliasi bank atas pencocokan saldo padabuku bank dengan saldo kas buku organisasi merupakan kunci pengendaliandeteksi rekonsilasibank, atas saldo kas. Pengendalian bank, kas deteksi opname, meliputi reviu dan fisik pembandinganseperti: catatan kinerja dengan pengecekan independen atas kinerja, konfirmasi saldo penghitungan persediaan,konfirmasi piutang/utang dan sebagainya. 3. Pengendalian koreksi (corrective controls)Pengendalian koreksi melakukan koreksi masalah-masalah yang teridentifikasioleh pengendalian deteksi. Tujuannya adalah agar supaya kesalahan yang telahterjadi tidak terulang kembali. Masalah atau kesalahan dapat dideteksi olehmanajemen sendiri atau oleh auditor. Apabila masalah atau kesalahan terdeteksioleh auditor, maka wujud pengendalian koreksinya adalah dalam bentuk pelaksanaan tindak lanjut dari rekomendasi auditor. 4. Pengendalian pengarahan (directive controls)Pengendalian pengarahan adalah

pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatansedang berlangsung dengan tujuan agar kegiatan dilaksanakan sesuai dengankebijakan atau ketentuan yang berlaku. Contoh atas pengendalian ini adalahkegiatan supervisi yang dilakukan langsung oleh atasan kepada bawahan ataupengawasan oleh mandor terhadap aktivitas pekerja Dengan mengetahui jenis-jenis manajemen sistem pengendalian diatas, diharapkan pihak manajemen AMAX dapat mengendalikan bebeapa kompone umum untuk ketiga Divisi tersebut. Sehingga tujuan perusahaan dapat terealisasi sesuai dengan strategi-strategi yang telah diputuskan dalam perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. INDUS CORPORATION Indus merupakan perusahaan yang beroperasi di pasar-pasar utama yang masingmasing independen satu sama lain. Maksudnya, keputusan pemberian oleh konsumen dibuat secaara independen. Keunggulan kompetitif perusahaan pada setiap pasar yang ada menjadi penggerak (dan pemimpin) dalam inovasi produk. Perusahaan dihadapkan pada situasi konsumen/ produksi sebagai berikut: Kasus A: konsumen pada umumnya lebih sensitif terhadap kinerja dibandingkan terhadap harga. Selain itu juga, terdapat sedikit sinergi produksi daintara berbagai lini produk yang ada.

Kasus B: konsumen pada umumnya lebih sensitif terhadap kinerja dibandingkan terhadap harga. Meskipun demikian, terdapat sinergi produk yang signifikan diantara berbagai lini produk yang ada. Kasus C: konsumen sama-sama sensitif terhadap kinerja dan harga produk. Meskipun demikian, hanya sedikit sinergi yang ada diantara lini-lini produk tersebut. Kasus D: konsumen sama-sama sensitif terhadap kinerja dan harga produk. Meskipun demikian, terdapat sinergi produksi yang signifikan diantar berbagai produk lini yang ada. Pertanyaan : Untuk setiap kasus, bagaimana organisasi dan pengendalian dalam Indus? Jawab : Dalam Indus Corporation, sistem pengendalian manajemen yang digunakan adalah

pengendalian deteksi dan pengendalian koreksi. Pengendalian deteksidimaksudkan untuk mendeteksi suatu kesalahan yang telah terjadi, yaitu mendeteksi sebab-sebab konsumen lebih sensitif terhadap kinerja dan tehadapharga dan juga mendeteksi adanya sinergi produksi di antara lini-lini produk yangada. Pengendalian koreksi melakukan koreksi masalah-masalah yangteridentifikasi oleh pengendalian deteksi. Dan tujuannya adalah agar supayakesalahan yang telah terjadi tidak terulang kembali

H.

Dukungan Empiris o Darminto (2006) Penelitian yang dilakukan ini termasuk jenis exsplanatory research dengan mengikuti paradigma positivist dan rancangan ex post facto. Teknik analisis data menerapkan persamaan multi regresi linier dengan populasi sebanyak 133 perusahaan dan jumlah sampel sebanyak 112 atau sebesar 84,21 % dari populasi. Dalam perusahaan manufaktur investasi dalam aktiva tak lancar sangat penting sebab aktiva tak lancar merupakan aktiva yang menghasilkan barang untuk dijual atau menghasilkan penjualan dan keuntungan, sedangkan aktiva lancar sebagai aktiva pendukung operasional. Variabel rasio investasi aktiva berpengaruh signifikan pada level 1% dengan koefisien jalur (path) sebesar -0,380 terhadap kinerja keuangan. Komposisi pendanaan menyangkut sumber modal yang berasal sumber modal intern maupun dari

sumber ekstern. Variabel rasio komposisi pendanaan berpengaruh signifikan pada level 1 % dengan koefisien jalur (path) sebesar -0,264 terhadap variabel rasio kinerja keuangan. Pengelolaan aktiva secara efektif sangat penting dalam meningkatkan penjualan untuk memperoleh laba bersih setelah pajak secara maksimal. Variabel rasio pengelolaan aktiva berpengaruh signifikan pada level a = 0,01 01 dengan koefisien jalur (path) sebesar 0,141 terhadap variabel rasio kinerja keuangan. Variabel rasio investasi aktiva, komposisi pendanaan dan pengelolaan aktiva secara simultan berpengaruh signifikan pada level 1% terhadap kinerja keuangan dengan koefisien jalur (path) sebesar 0,327 terhadap variabel rasio kinerja keuangan perusahaan.

I.

Daftar Pustaka Anthony, Robert N., dan Govindarajan, Management Control System, 11th ed, Jakarta: Salemba Empat, 2005 Halim Abdul, Tjahjono Ahmad dan Fakhri Husein, Muh, Sistem Pengendalian Manajemen, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2000