Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Mina Laut Indonesia

Vol. 01 No. 01

(23 37)

ISSN : 2303-3959

Keanekaragaman Jenis Ikan di Sungai Lamunde Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara
Diversity of Fish Species in Lamunde River of Watubangga District, Kolaka Regency, Southeast Province Muhammad Jukri *), Emiyarti **) dan Syamsul Kamri ***)
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Universitas Haluoleo Kendari 93232 * ** *** e-mail: muhammad_jukri@yahoo.com, emiyarti@ymail.com, dan syamsulkamri@unhalu.ac.id Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Sungai Lamunde selama 2 bulan, Maret-April 2012. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis ikan dan kondisi kualits air Sungai Lamunde. Data yang dikumpulkan selama penelitian yaitu data parameter lingkungan dan data komunitas ikan. Alat tangkap yang digunakan untuk sampling ikan adalah jaring insang, bubu, seser, pancing, dan jaring tebar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 30 famili, 31 genus, 34 spesies dan 1024 individu ikan, berdasarkan hasil penelitian Stasiun I ditemukan 28 jenis ikan, Stasiun II 30 jenis ikan, dan Stasiun III 11 jenis. Berdasarkan indeks keanekaragaman (H) berada pada dua kategori yaitu rendah dan sedang berkisar antara 0,743-1,399 yang berturut-turut pada Stasiun I, Stasiun II dan Stasiun III yaitu 1,156; 1,399 dan 0,743 dengan rata-rata 1,099 (kategori sedang), nilai indeks keseragaman (E) berada pada dua kategori yaitu rendah dan tinggi berkisar antara 0,485-0,914 yang berturut-turut pada Stasiun I, Stasiun II dan Stasiun III yaitu 0,755; 0,914 dan 0,485 dengan rata-rata 0,718 (tinggi), sedangkan nilai indeks dominansi (C) berada pada kategori rendah berkisar antara 0,102-0,515 yang berturut-turut pada Stasiun I, Stasiun II dan Stasiun III yaitu 0,102; 0,515 dan 0,250 dengan rata-rata 0,289 (kategori rendah). Parameter lingkungan perairan yang terukur selama penelitian kecepatan arus berkisar 0,105-0,388 m.dtk-1, debit air berkisar 2,92-41,22 m3.dtk-1, suhu berkisar 30,5-31oC, kecerahan berkisar 18,7-46,7%, salinitas berkisar 3,2528o/oo. pH berkisar 7,3-8 dan oksigen terlarut berkisar 6,64-8,7 mg.L-1. Kata Kunci: Keanekaragaman, Ikan, Kualitas perairan, Sungai Lamunde Abstract This research was conducted in Lamunde River during 2 months i.e. from March to April 2012. The aim of this research was to observe type of diversity of fish and water quality in Lamunde River. Data collected was environment parameters and fish community data. Fishing gears used to take fishes were gill nets, fish traps, fish net, fishing rods and stocking net. The results showed that there were 30 families, 31 genus, 34 species and 1024 individual fishes. At Station I was found 28 species of fish, Station II 30 species and Station III 11 species. Diversity index values were at the medium to high categories ranging from 0.743-1.399, i.e. Station I, Station II and Station III were 1.156; 1.399; and 0.743 respectively with average 1.099 (the medium category) Unformity index values were in lows category i.e. at Station I, Station II and Station III were 0.328; 0.397 and 0.211 respectively with average 0.312 (the low category), while values of the dominance index were in low categories i.e. at Station I, Station II and Station III were 0.102; 0.515 and 0.250 respectively with average 0.289 (the low category). Environmental parameters showed that current velocity was 0.105-0.038 m.sec-1, water discharge 2.92-41.22 m3.sec-1, temperature 30.55-31oC, water clarity 8.7-46.7%, salinity 3.25-28o/oo. pH 7.3-8 and dissolved oxygen 6.64-8.7 mg.L-1. Key words: Diversity, Fish, Water quality, Lamunde River

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

23

Pendahuluan
Kabupaten Kolaka adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data profil Tahun 2005 Kabupaten Kolaka mempunyai luas perairan umum sekitar 20.000 km2 yang terdiri dari perairan sungai, rawa, danau, chek dam, dan genangan air lainnya. Di Kabupaten Kolaka terdapat beberapa sungai utama antara lain: Sungai Toari, Sungai Lamunde, Sungai Watubangga, Sungai Wolulu, Sungai Okooko, dan Sungai Merah. Perairan Sungai Lamunde merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Kolaka dengan panjang + 6 km dan bermuara di Teluk Bone. Hasil observasi di lapangan bahwa Sungai Lamunde melintasi pemukiman penduduk, areal perkebunan dan areal pertambakan. Sumber air dari sungai ini tidak ditemukan dari mata air dan danau, melainkan sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan pasang surut. Hujan yang turun melewati lereng-lereng dataran tinggi dan tertangkap di daerah persawahan tadah hujan dan mengalir ke sungai tersebut. Debit air Sungai Lamunde meningkat di musim penghujan dan menurun di musim kemarau. Sumberdaya hayati ikan yang ada di sungai ini mempunyai peran penting. Sungai Lamunde saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya untuk kegiatan perikanan. Selain itu terdapat juga kegiatan-kegiatan perbaikan saluran sungai yang tidak ramah lingkungan dan penebangan mangrove. Akibat adanya aktifitas masyarakat di sepanjang Sungai Lamunde diduga telah menyebabkan kondisi perairan terganggu dan mempengaruhi stabilitas ekosistem perairan tersebut serta mengancam keberadaan biota yang hidup di Sungai Lamunde khususnya ikan. Keberadaan ikan dapat dipengaruhi oleh kualitas perairan di sekitarnya. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat dipengaruhi

oleh kecepatan aliran sungai. Kecepatan aliran tersebut ditentukan oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan hutan atau tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang akan berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya (Ross, 1997; Hallet et al., 2012). Beberapa studi keanekaragaman jenis ikan telah dilakukan di beberapa tempat. Akan tetapi penelitian ini belum pernah dilakukan di Sungai Lamunde dan secara umum penelitian yang terpublikasi masih dianggap sangat kurang mengingat data-data dasar yang bersifat time series atau tahunan masih belum dilakukan secara intensif. Hal ini menjadi acuan bahwa diharapkan penelitian ini akan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengelolaan sungai tersebut. Dengan melihat uraian tersebut di atas maka dapat dirumuskan bahwa terdapat beberapa permasalahan utama dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungan di Sungai Lamunde antara lain sebagai berikut: 1) Belum diketahuinya jenis-jenis ikan yang hidup di Sungai Lamunde, 2) Belum diketahuinya nilai Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, dan Indeks Dominansi Jenis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman jenis ikan yang ada di Sungai Lamunde dan kondisi kualitas air Sungai Lamunde. Manfaat penelitian ini dapat menjadi bahan informasi bagi masyarakat, pemerintah, maupun bagi peneliti selanjutnya mengenai keanekaragaman jenis ikan di Sungai Lamunde. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan yang ada di sepanjang Sungai Lamunde. Metode dan Bahan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan MaretApril 2012, yang bertempat di Sungai Lamunde Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka Provinsi SulawesiTenggara.

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

24

Peta Lokasi Penelitian Desa Lamunde

Lokasi Penelitian (Sungai Lamunde)

Gambar 1. Peta lokasi penelitian (BAPPEDA, 2011)

Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi data spesimen ikan, pengumpulan data parameter lingkungan Sungai Lamunde (suhu, kecepatan arus, debit air, kecerahan, pH, dan DO), dan informasi dari nelayan dan penduduk setempat (jumlah dan jenis hasil tangkapan). Penentuan lokasi penelitian dipilih di daerah aliran Sungai Lamunde dengan menggunakan metode acak sistematik (systematic random sampling) yaitu penentuan stasiun pengamatan dengan melakukan pembagian lokasi secara merata berdasarkan jumlah contoh atau stasiun yang diinginkan. Adapun tiga stasiun penelitian dengan deskripsi lokasi sebagai berikut : 1. Stasiun I berada pada muara Sungai Lamunde (0430'47.2''LS 12129'42.1''BT sampai 0430'45.4''LS 12129'56.3''BT) yang dipergunakan sebagai tempat parkiran kapalkapal nelayan dan kegiatan penangkapan ikan. 2. Stasiun II berada di sekitar wilayah pertambakan rakyat (0430'36.4''LS 12130'5.1''BT sampai 0430'51.2''LS 12130'12.6''BT) yang berjarak + 2 km dari Stasiun I dan Stasiun III. 3. Stasiun III berada di sekitar wilayah persawahan dan perkebunan rakyat (0431'1.7''LS 12130'5.7''BT sampai 431'25.9''LS 12129'50.4''BT).
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

Pada setiap stasiun pengamatan dilakukan pengoperasian berbagai alat pengukur parameter lingkungan dan untuk pengambilan sampel ikan dilakukan dengan koleksi bebas. Alat tangkap yang digunakan antara lain pancing, jaring insang, bubu, dan jala tebar. Pengukuran kualitas perairan dilakukan dengan bersamaan penangkapan ikan. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu data primer fisik dan kimia perairan. Parameter fisik yang diukur yaitu kecepatan arus, kecerahan, suhu, salinitas dan debit air. Parameter kimia yang diukur yaitu oksigen terlarut (DO) dan pH. Pengambilan data dilakukan setiap dua minggu sekali dalam dua bulan penelitian. Sebagai data penunjang dari data diatas maka dilakukan wawancara dengan masyarakat nelayan atau penduduk setempat yang berada di sekitar sungai tersebut mengenai jumlah jenis ikan yang ada dan alat tangkap yang digunakan. Analisis Data 1. Komposisi Jenis (P) Kekayaan jenis ikan dalam setiap lokasi pengamatan dinyatakan dengan melihat komposisi jenisnya melalui rumus (Odum, 1996). P =

x 100%....(1)
25

Dimana: P = Komposisi Jenis (%) ni = Jumlah Individu Tiap Jenis N = Jumlah Individu Seluruh Jenis 2. Indeks Keanekaragaman (H) Menurut Soegianto (1994) bahwa indeks keanekaragaman jenis (H) adalah indeks yang menunjukkan banyak tidaknya jenis dan individu yang ditemukan pada suatu perairan. Selanjutnya menurut Fachrul (2007) menjelaskan bahawa indeks keanekaragaman (indeks of diversity) berguna dalam mempelajari gangguan faktor-faktor lingkungan (abiotik) terhadap suatu komunitas atau untuk mengetahui suksesi atau stabilitas suatu komunitas. Tujuan utama teori informasi Shannon-Wienner adalah untuk mengukur tingkat keteraturan dan ketidakteraturan dalam suatu sistem. Adapun persamaannya adalah sebagai berikut. H = pi log2 pi ..(2)

tidak. Jika nilai indeks keseragaman relatif tinggi maka keberadaan setiap jenis biota di perairan dalam kondisi merata (Fachrul, 2007). Adapun persamaannya adalah sebagai berikut. E= .(3)

Dimana: E = Indeks keseragaman H maks = Log2 S S = Jumlah spesies dalam komunitas H = Indeks keanekaragaman Shannon Wienner Nilai indeks keseragaman berkisar antara 0-1. Kriteria nilai indeks keseragaman sebagai berikut: E =0 :Kemerataan antara spesies rendah, artinya kekayaan individu yang dimiliki masingmasing spesies sangat jauh berbeda. E =1 : Kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing masing spesies relatif sama. 4. Indeks Dominansi jenis (C) Indeks Simpson dapat digunakan untuk mengetahui terjadi dominansi jenis tertentu di perairan (Fachrul, 2007). Adapun persamaannya adalah sebagai berikut. C = [ ]2 .(4) =1 Dimana: C S ni N

Dimana: H= Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner pi= Perbandingan antara jumlah individu spesies jenis ke-i dengan jumlah total individu (ni/N) S = Jumlah spesies ni = Jumlah individu jenis ke-i N = Jumlah total individu Kriteria penilaian berdasarkan keanekaragaman jenis adalah: H < 1 : Keanekaragaman rendah 1 < H < 3 : Keanekaragaman sedang H > 3 : Keanekaragaman tinggi 3. Indeks Keseragaman (E) Menurut Odum (1996) bahwa indeks keseragaman adalah indeks yang menggambarkan ukuran jumlah individu antara spesies dalam suatu komunitas ikan. Semakin merata penyebaran individu antara spesies maka keseimbangan ekosistem semakin meningkat. Sedangkan Dahuri dkk. (1993) dalam Fachrul (2007) menjelaskan bahwa semakin besar indeks keseragaman spesies atau genus, berarti jumlah individu setiap spesies dapat dikatakan tidak jauh berbeda dan dalam komunitas tersebut didominasi komunitas tertentu kecil. Indeks keseragaman adalah indeks yang menunjukkan pada sebaran biota yaitu merata atau
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

= = = =

Indeks dominansi simpson Jumlah genera/spesies Jumlah individu jenis ke-i Jumlah total individu

Nilai indeks dominasi antara 0-1. Kriteria indeks dominansi adalah sebagai berikut: C =0 :Dominansi rendah, artinya tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil. C =1 :Dominansi tinggi, artinya terdapat spesies yang mendominasi jenis spesies yang lainnya atau struktur komunitas labil, karena terjadi tekanan ekologis (stress). 5. Debit Air Debit (discharge) dinyatakan sebagai volume yang mengalir pada selang waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam satuan m3.dtk-1. Perhitungan debit air tertentu ditentukan dengan persamaan (Effendi, 2003).
26

D = V x A ..(5) Dimana: D = Debit air (m3.dtk-1) V = Kecepatan arus (m.dtk-1) A = Luas penampang (m2)

Hasil penelitian parameter lingkungan yang diperoleh selama periode penelitian adalah sebagai berikut: a. Kecepatan Arus

Hasil

Hasil pengukuran rata-rata kecepatan arus pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 0,105-0,388 m.dtk-1, pada Stasiun I (0,388 m.dtk-1), Stasiun II (0,282 m.dtk-1), dan Stasiun III (0,105 m.dtk-1). Hasil pengukuran kecepatan arus Sungai Lamunde disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Histogram hasil pengukuran kecepatan arus Sungai Lamunde pada setiap stasiun pengamatan b. Debit Air Hasil pengukuran rata-rata debit air pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 2,92-41,22 m3.dtk-1, pada Stasiun I (41,22 m3.dtk-1), Stasiun II (4, 96 m3.dtk-1), dan Stasiun III (2,92 m3.dtk-1). Selengkapnya disajikan pada gambar 3 dibawah ini.

Gambar 3. Histogram hasil pengukuran debit air pada setiap stasiun pengamatan c. Suhu Hasil pengukuran rata-rata suhu pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 30,5-31oC, pada Stasiun I (30,75 oC), Stasiun II (31 oC), dan Stasiun III (30,5 oC). Hasil pengukuran suhu Sungai Lamunde disajikan pada Gambar 3.

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

27

Gambar 3. Histogram hasil pengukuran suhu Sungai Lamunde pada setiap stasiun pengamatan d. Salinitas Hasil pengukuran rata-rata salinitas pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 3,25-28o/oo, pada Stasiun I (28), Stasiun II (23,25), dan Stasiun III (3,25). Hasil pengukuran salinitas Sungai Lamunde disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Histogram hasil pengukuran salinitas Sungai Lamunde pada setiap stasiun pengamatan

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

28

e. Derajat Keasaman (pH) Hasil pengukuran rata-rata pH pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 7,3-8,0,

pada Stasiun I (8), Stasiun II (8), dan Stasiun III (7,3). Hasil pengukuran pH Sungai Lamunde disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Histogram hasil pengukuran derajat keasaman (pH) Sungai Lamunde pada setiap stasiun pengamatan
f. Oksigen Terlarut (DO) Hasil pengukuran rata-rata oksigen terlarut pada tiap stasiun selama penelitian berkisar antara 6,64-8,7 mg.L-1, pada Stasiun I (8,7 mg.L-1),StasiunII(7,16 mg.L-1), dan Stasiun III (6,64 mg.L-1). Kadar oksigen terlarut tertinggi pada Stasiun I dan tang terendah pada Stasiun III. Hasil pengukuran oksigen terlarut Sungai Lamunde disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Histogram hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) Sungai Lamunde pada setiap stasiun pengamatan Pembahasan 1. Kecepatan Arus Kecepatan arus merupakan jarak yang ditempuh suatu badan air per satuan waktu. Berdasarkan hasil pengukuran selama penelitian diperoleh kecepatan arus Perairan Sungai Lamunde pada setiap stasiun tidak memperlihatkan perbedaan yang besar yakni berkisar 0,105-0,388 m.dtk-1. Kecepatan arus di perairan ini cukup untuk pertumbuhan dan kehidupan ikan. Rendahnya
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

arus pada Stasiun III yang mempunyai kecepatan 0,105 m.dtk-1, hal ini dikarenakan pada stasiun tersebut tidak memiliki sumber mata air dari gunung melainkan bersumber dari hujan yang mengalir turun di sungai ini dan dipengaruhi oleh air pasang. Pola drainase yang berkelok-kelok, dan lebar sungai serta kedalaman yang lebih rendah jika dibandingkan dengan Stasiun I dan Stasiun II.
29

Menurut Odum (1996) bahwa kecepatan arus ditentukan oleh kemiringan, kekerasan, kedalaman, dan kelebaran dasarnya. Sedangkan pada Stasiun I dengan kecepatan arus 0,388 m.dtk-1 (arus yang sedang) disebabkan oleh air yang terkumpul di badan sungai dari kali-kali kecil dan saluran pertambakan pada saat surut. Selain itu Stasiun I adalah areal muara sungai yang merupakan penampung air dari semua aliran-aliran yang ada di sepanjang sungai ini. Selanjutnya Effendi (2003); Mulya (2004) menjelaskan bahwa kecepatan arus sangat dipengaruhi oleh waktu, iklim dan pola drainase. 2. Debit Air Berdasarkan hasil pengukuran di lokasi penelitian didapatkan bahwa debit air Sungai Lamunde berkisar 2,92-41,22 m3.dtk-1. Selanjutnya berdasarkan stasiun pengamatan, debit air sungai cenderung menurun dari Stasiun I sampai Stasiun III. Hal ini disebabkan karena lebar, kedalaman, dan kecepatan arus yang lebih besar jika dibandingkan dengan Stasiun II dan Stasiun III sehingga debit air pada Stasiun I lebih besar. Pada saat surut air cenderung mengalir deras ke arah hilir dan pada saat pasang cenderung mengalir ke arah Stasiun III dengan debit air yang besar dan daerah aliran sungai yang masih panjang dan berkelok-kelok. Sedangkan kecilnya debit air pada Stasiun III di saat pasang dan surut, disebabkan oleh kurangnya pasokan air dari sawah tadah hujan pada saat surut dan terhentinya daerah aliran sungai (DAS) pada saat pasang. Selain itu kedalaman dan lebar sungai pada Stasiun III yang lebih kecil dibandingkan dengan Stasiun I. Sehingga debit air yang mengalir pada Stasiun III lebih keci 3. Suhu Berdasarkan hasil pengukuran suhu selama penelitian, tidak memperlihatkan adanya perbedaan suhu yang besar pada masing-masing stasiun. Kisaran suhu yang diperoleh selama penelitian yaitu berkisar antara 30,5-31oC. Kisaran suhu yang diperoleh merupakan kisaran yang umum dijumpai pada perairan tropis dan masih mendukung bagi kehidupan ikan. Menurut Cheng et al. (2011) suhu dapat mempengaruhi struktur komunitas ikan di sungai. Selanjutnya Sutisna dan Sutarmanto
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

(1995) bahwa kisaran temperatur yang baik bagi pertumbuhan ikan adalah antara 25-35oC. Selanjutnya Susanto (1991) menjelaskan bahwa suhu perairan pada siang hari meningkat hingga 31oC dan menurun pada saat malam hari hingga 26oC. Selain itu suhu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi nafsu makan dan pertumbuhan badan ikan. Suhu yang terendah selama periode penelitian di peroleh pada Stasiun III. Hal ini diduga kerena pengukuran dilakukan pada pukul 08.00-10.00 Wita dan pada malam harinya terjadi hujan. Sehingga kondisi suhu pada Stasiun III relatif rendah jika dibandingkan pada Stasiun I dan Stasiun II. Selanjutnya Susanto (1991) menjelaskan bahwa suhu perairan pada siang hari meningkat hingga 31oC dan menurun pada saat malam hari hingga 26oC. Selain itu suhu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi nafsu makan dan pertumbuhan badan ikan. Suhu yang terendah selama periode penelitian di peroleh pada Stasiun III. Hal ini diduga kerena pengukuran dilakukan pada pukul 08.00-10.00 Wita dan pada malam harinya terjadi hujan. Sehingga kondisi suhu pada Stasiun III relatif rendah dibandingkan Stasiun I dan Stasiun II yang memperoleh kisaran suhu 30,75-31oC. Kondisi suhu sangat erat kaitannya dengan kecepatan arus sungai, dimana berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan kecepatan arus Sungai Lamunde juga tidak menunjukkan variasi yang sangat berbeda diseluruh stasiun dengan kisaran 0,105-0,388 m.dtk-1, dengan demikian terjadi pengadukan massa air sampai ke dasar sungai yang hampir merata disetiap stasiun. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Whitten dkk. (1987) dan Dongkyun et al (2012) bahwa ketinggian tempat, hujan, keterbukaan, sumber air, kecepatan arus dan suhu sekitar merupakan faktor utama yang mempengaruhi suhu perairan sungai. 4. Kecerahan Menurut Effendi (2003) menjelaskan bahwa kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual menggunakan secchi disk, dimana nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi. Berdasarkan hasil pengukuran (Gambar 7) kecerahan yang diperoleh pada
30

Stasiun I berkisar 19,4-46,7%, Stasiun II berkisar 22,2-31,3%, dan Stasiun III berkisar 18,7-33,3%. Nilai kecerahan yang terendah terlihat pada Stasiun III akibat masuknya limpasan air dari areal persawahan tadah hujan, sehingga cahaya tidak menembus hingga ke dasar perairan. Sedangkan nilai kecerahan tertinggi pada Stasiun I disebabkan oleh dekat dengan laut dan adanya sirkulasi air laut yang masuk ke sungai melalui pasang surut, serta jauh dari areal persawahan dan pertambakan yang membuang atau mengairi sungai ini. Sehingga kecerahan tinggi pada Stasiun I. Menurut Effendi (2003) bahwa kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan larut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan organik dan anorganik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain. Selanjutnya Dongkyun et al., (2011) menjelaskan bahwa kekeruhan dapat mempengaruhi habitat organisme perairan. Tingginya tingkat kekeruhan dapat menyebabkan stress bahkan kematian pada ikan. 5. Salinitas Menurut Sudradjat (2006) bahwa salinitas didefinisikan sebagai jumlah rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam perairan. Selanjutnya Fujaya (2004) menyatakan bahwa salinitas memberikan pengaruh terhadap tekanan osmoregulasi organisme dan kelarutan beberapa gas di dalam perairan sehingga apabila terjadi perubahan salinitas yang mendadak atau dengan nilai yang besar akan memberikan dampak terhadap kehidupan organisme khususnya ikan yang berasosiasi di daerah tersebut. Hasil pengukuran salinitas di setiap stasiun pengamatan selama periode penelitian pada tiga stasiun pengamatan yaitu berkisar 3,25-28o/oo. Kisaran salinitas yang diperoleh pada penelitian ini masih berada pada kisaran yang baik bagi kehidupan organisme. Salinitas normal menurut Klisman (1964) dalam Fujaya (2004) yaitu berkisar 30-35o/oo. Fluktuasi salinitas pada daerah intertidal di pengaruhi oleh dua hal yaitu air hujan yang tinggi dan adanya aliran air tawar yang masuk kedalam perairan tersebut sehingga menyebabkan salinitasnya akan turun.
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa salinitas tertinggi pada Stasiun I, hal ini terjadi karena Stasiun I adalah daerah muara sungai yang merupakan daerah pertemuan antara air laut dan air sungai. Salinitas terendah terlihat pada Stasiun III, hal ini terjadi karena pada stasiun ini merupakan daerah yang dekat dengan arael persawahan tadah hujan sehingga lebih banyak menerima pasokan air tawar yang berasal dari sawah dan kurang mendapat pasokan air laut yang berasal dari muara sungai. Menurut Effendi (2000) dan Miller et al (2006) menjelaskan bahwa nilai salinitas perairan tawar biasanya < 0,5o/oo, perairan payau 0,5-30o/oo, dan perairan laut 30-40o/oo. Salinitas perairan hipersaline biasanya mencapai kisaran 40-80o/oo. Nilai kisaran pada perairan pesisir sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar dari sungai. 6. Derajat Keasaman (pH) Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kisaran pH yaitu 7,3-8,0. Kisaran tersebut menunjukkan bahwa pH Perairan Sungai Lamunde berada dalam kategori basa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2003), bahwa pH dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu pH = 7 (netral), 7 < pH < 14 (alkalis/basa), 0 < pH < 7 (asam). Selanjutnya Pescod (1973) menjelaskan bahwa pH yang ideal untuk kehidupan nekton berkisar antara 6,5-8,5. Tingginya pH pada Stasiun I disebabkan karena stasiun ini terletak pada muara sungai dan Stasiun II diduga adanya percampuran massa air pada saat pasang, dengan demikian terjadi percampuran antara massa air tawar dengan massa air laut yang cenderung bersifat basa atau alkalis serta kedua stasiun ini cenderung memiliki kadar garam yang lebih tinggi yaitu berkisar 23,25-28o/oo (perairan payau). Menurut Kackereth et al. (1989) dalam Effendi (2003) bahwa pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Pada pH < 5 alkalinitas bisa mencapai nol. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin sedikit kadar karbondioksida bebas. Sedangkan rendahnya kadar pH pada Stasiun III disebabkan oleh adanya limpasan air dari hujan yang terjadi dimalam hari dan memiliki salinitas yang rendah yaitu berkisar 2-5o/oo dengan ratarata 3,25o/oo serta kondisi saat pengambilan sampel pada saat surut sehingga diduga tidak terjadi percampuran antara massa air sungai dengan massa air laut.
31

Menurut Daelamis (2002) keadaan pH yang dapat menggangu kehidupan organisme air khususnya ikan adalah pH yang terlalu rendah (sangat asam) atau sebaliknya terlalu tinggi (sangat basa). Setiap jenis ikan akan memperlihatkan respon yang berbeda terhadap perubahan pH dan dampak yang ditimbulkannya berbeda-beda. Selanjutnya menurut NTAC (1968) dalam Saefullah (1983) menjelaskan bahwa perairan yang ideal bagi kehidupan ikan adalah yang mempunyai pH berkisar 6,5-8,5. Berdasarkan hal tersebut, maka pH Perairan Sungai Lamunde selama penelitian yang berkisar 7,3-8,0 masih baik untuk kehidupan ikan. 7. Oksigen Terlarut (DO) Jeffries dan Mills (1996) dalam Effendi (2000) mengatakan bahwa atmosfer bumi mengandung oksigen sekitar 210 mg.L-1. Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut dalam perairan alami bervariasi tergantung pada suhu, turbulensi air dan tekanan atmosfer. Berdasarkan hasil penelitian, oksigen terlarut yang diperoleh pada tiga stasiun pengamatan berkisar antara 6,64-8,7 mg.L-1. Pada masingmasing stasiun semakin ke hilir kadar oksigen meningkat. Hal ini disebabkan karena semakin ke hilir air semakin bergolak yang ditandai dengan kecepatan arus dan kecerahan yang tinggi serta suhu perairan semakin rendah jika dibandingkan dengan Stasiun III yang mempunyai kecepatan arus dan kecerahan yang rendah serta suhu yang relatif tinggi. Jeffries dan Mills (1996) dalam Effendi (2003) menjelaskan bahwa kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Hasil pengukuran oksigen terlarut di setiap stasiun pengamatan selama periode penelitian yang diperoleh yaitu berkisar 6,64-8,7 mg.L-1 menunjukan bahwa oksigen terlarut di Perairan Sungai Lamunde masih baik untuk kehidupan ikan. Menurut Daelamis (2002); Das et al (2006); Perez et al (2012) bahwa kandungan oksigen yang optimal bagi kehidupan ikan yaitu 5 mg.L-1. Selanjutnya Afianto dan Evi (1993) menjelaskan bahwa beberapa jenis ikan mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen terlarut 3 mg.L-1. Namun demikian, konsentrasi minimum yang dapat diterima oleh beberapa jenis ikan untuk dapat hidup dengan
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

baik adalah sebesar 5 mg.L-1. Selanjutnya Irianto (2005) mengatakan bahwa, jumlah oksigen yang dikonsumsi ikan sangat tergantung pada laju metabolisme dan suhu lingkungan. Pada badan air, oksigen berasal dari tiga sumber yaitu: 1.) difusi langsung dari atmosfer, 2.) akibat angin dan ombak, dan 3.) hasil fotosintesis tumbuhan air dan fitoplankton. Oksigen yang berasal dari fotosintesis diproduksi pada siang hari. Adapun malam hari oksigen turun karena selain hewan, tumbuhan sendiri melakukan respirasi. Di daerah beriklim sedang, pada musim panas di siang hari kandungan oksigen perairan dapat mencapai 14 mg.L-1 akibat fotosintesis fitoplankton, tetapi pada malam hari kandungan oksigen dapat turun hingga 4-5 mg.L-1 karena oksigen digunakan untuk respirasi fitoplankton. 8. Ikan a. Komposisi Jenis Ikan Selama periode penangkapan diperoleh 34 spesies ikan yang tertangkap yait: Anabas testudineus, Apogon melas, Strongylura incisa, Trichogaster pectoralis, Caranx ignobilis, Lates calcarifer, Ambassis agrammus, Chanos chanos, Oreochromis mossambicus, Anodontosdoma chacunda, Ophiocara aporos, Butis melanos, Butis amboinensis, Elops hawaiensis, Gerres filamentosus, Gerres abbreviatus, Glossogobius aureus, Hemiramphus far, Lutjanus fulvus, Lutjanus johni, Lutjanus argentimaculatus, Leognathus equulus, Megalops cyprinoides, Liza dussumieri, Epinephelus tauvina, Scatophagus argus, Siganus vermiculatus, Sphyraena flavicauda, Therapon jarbua, Chelonon patoca, Toxotes jaculatrix, Periophthalmus koelreuteri kalolo, Platax orbicularis, dan Plotosus lineatus yang berasal dari 31 genus serta berasal dari 30 famili yaitu Anabantidae, Apogonidae, Belonidae, Belontiidae, Carangidae, Centropomidae, Chandidae, Chanidae, Chiclidae, Clupeidae, Eleotrhidae, Eleotrididae, Elopidae, Gerridae, Gobiidae, Hemiramphidae, Lutjanidae, Leognathidae, Megalopidae, Mugilidae, Serranidae, Scatophagidae, Siganidae, Sphyraenidae, Teraponidae, Tetraodontidae, Toxotidae, Periophthalmidae, Platacidae, dan Plotosidae, dengan total jenis ikan yang tertangkap yaitu 1024 individu. Persentase tertinggi terdapat pada jenis Therapon jarbua (14,3%) atau 147 individu. Sedangkan persentase terendah terdapat pada
32

jenis Lates calcarifer dan Platax orbicularis masing (0,19%) atau 2 individu. Hasil penelitian (Tabel 2) menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingginya persentase Therapon jarbua disebabkan karena ikan tersebut terdapat hampir disemua wilayah penelitian dengan jumlah individu relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangbiakan dan toleransi terhadap perubahan kondisi lingkungan yang tinggi dimiliki oleh jenis ikan ini. Sehingga ikan jenis Therapon jarbua atau dikenal dengan nama Ikan Kerong-kerong (Indonesia) memiliki persentase tertinggi yang diperoleh selama penelitian di Perairan Sungai Lamunde. Sedangkan rendahnya persentase jenis Lates calcarifer disebabkan sedikitnya jumlah inidividu yang tertangkap disemua stasiun pengamatan dan hanya didapatkan pada Stasiun II dengan jumlah individu 2 ekor (0,195%). Lates calcarifer atau yang sering disebut Kakap Putih (Indonesia) memijah di laut dalam dengan salinitas sekitar 28-32o/oo dan temperatur 2834oC. Menurut Murtidjo (1997); Yustina (2001) menjelaskan bahwa Ikan Kakap Putih memijah dilaut dalam dan masa pemijahan alami Ikan Kakap Putih bergantung pada fase bulan. Sesudah berusia 3-5 bulan, Ikan Kakap Putih sudah bergerak dengan aktif mendekati pantai, menuju perairan payau dan perairan tawar. Proses pencapaian ukuran konsumsi cukup lama sekitar 4-8 bulan. Selain itu penyebab sedikitnya jenis ikan ini yang tertangkap di Perairan Sungai Lamunde salah satunya diduga karena tingginya laju mortalitas, baik itu mortalitas karena predator maupun mortalitas melalui penangkapan, sehingga ikan ini relatif sedikit dijumpai pada Perairan Sungai Lamunde. Spesies ikan yang paling dominan pada Stasiun I yaitu jenis ikan Therapon jarbua dengan Famili Carangidae (68 individu) sehingga mempunyai persentase komposisi jenis tertinggi yaitu 21,4%. Selain itu ikan ini juga di temukan pada Stasiun II dengan jumlah individu 71 (terbanyak pada Stasiun II) dengan persentase 16,6% serta Stasiun III dengan jumlah individu 8 persentase 2,8%. Hal ini diduga makanan dan kondisi lingkungan yang mendukung serta sifat predator sehingga Therapon jarbua dapat dominan di Stasiun I dan Stasiun II.
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

Hasil penelitian pada Satasiun II jumlah individu yang tertangkap adalah 427 dan didominasi oleh jenis ikan Therapon jarbua atau dikenal dengan Ikan Kerong-kerong (Indonesia) dari Famili Teraponidae (71 individu) dengan persentase 16,6% dan jenis ikan Caranx ignobilis atau dikenal dengan Ikan Kuweh (Indonesia) dari Famili Carangidae (50 individu) dengan persentase 11,7%. Selanjutnya komposisi jenis ikan yang paling sedikit tertangkap pada Stasiun II adalah ikan jenis Lates calcarifer atau Ikan Kakap Putih dari Famili Centropomidae dengan persentase 0,5%. Hasil penelitian pada Stasiun III diperoleh jumlah individu yang tertangkap sebesar 280 individu yang didominasi oleh jenis ikan Oreochromis mossambicus atau dikenal dengan Ikan Mujair (Indonesia) dari Famili Chiclidae (117 individu) dengan persentase 41,7%. Ikan ini mendominasi Stasiun III disebabkan oleh toleransi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi dan sifat ikan yang umumnya bergerombol serta termasuk golongan ikan omnivora. Menurut Sugiarti (1988) menjelaskan bahwa ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinitas. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum yang dapat dicapai Ikan Mujair adalah 40 cm. Ikan Mujair merupakan suku besar ikan air tawar yang bersal dari Amerika Tengah dan Selatan, Afrika, India dan Sri Lanka. Dua jenis dari Oreocrhomis (juga sering disebut Tilapia) masuk ke Indonesia melalui budidaya di kolam tetapi juga dilepaskan di danau-danau dan sungai-sungai. Jenis lainya dimasukkan secara tidak sengaja dari akuarium. Bersifat omnivora dan buas memakan ikan-ikan kecil lainya dan banyak jenis asli yang terdapat di Indonesia musnah atau menderita karena dimakan oleh ikan-ikan anggota suku ini (Kottelat, 1993). b. Indeks Keanekaragaman (H) Hasil analisis data diperoleh nilai keanekaragaman jenis ikan (H) di lokasi penelitian pada Stasiun I sebesar 1,156 (sedang), Stasiun II sebesar 1,399 (sedang), dan pada Stasiun III sebesar 0,743 (rendah). Terlihat bahwa nilai keanekaragaman sedang pada Stasiun I dan Stasiun II yang diduga faktor
33

kondisi lingkungan yang baik untuk ikan-ikan yaitu diantaranya salinitas yang tidak memperlihatkan kisaran yang sangat bervariasi. Salinitas merupakan salah satu faktor pembatas dalam penyebaran ikan-ikan di daerah sungai. Selain itu masih banyaknya pohon-pohon mangrove yang terlihat di sepanjang Stasiun I dan Stasiun II serta adanya aliran-aliran kecil yang bermuara di Stasiun II berasal dari saluransaluran irigasi pertambakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ross (1997), bahwa keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Karakteristik habitat di sungai sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran sungai. Kecepatan aliran tersebut ditentukan oleh perbedaan kemiringan sungai, keberadaan hutan atau tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang akan berasosiasi dengan keberadaan hewan-hewan penghuninya. Keanekaragaman rendah yang diperoleh pada Stasiun III, hal ini disebabkan oleh adanya penebangan mangrove sepanjang 2 km di tepi sungai yang telah dilakukan bulan Januari 2012. Menurut Wantasen (2002); Kusmana (2002); Miller dan Skelleter (2006) bahwa fungsi hutan mangrove sebagai tempat mencari makan, tempat memijah, dan tempat berkembang biak ikan-ikan. Selanjutnya Perez-Dominguez et al. (2012) menyatakan bahwa adanya tekanan antropogenik di wilayah estuari dan pesisir dapat menyebabkan terjadinya degradasi habitat yang selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup di dalamnya khususnya ikan. Selain itu kedalaman perairan yang relatif rendah serta badan sungai yang sempit membuat penyebaran ikan-ikan relatif sedikit dibandingkan pada Stasiun II yang memiliki badan sungai yang lebar serta ekosistem mangrove yang masih utuh. Sedangkan pada Stasiun I keanekaragaman rendah dikarenakan stasiun ini dekat dengan pemukiman penduduk dan tempat parkir kapal-kapal nelayan sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberadaan dan kepadatan ikan di daerah ini, walaupun secara ekologis kondisi perairannya sangat mendukung seperti; suhu air, kecerahan, kedalaman air, kecepatan arus, pH air dan oksigen terlarut (DO). Indeks keanekaragaman (H) adalah keanekaragaman yang menunjukkan banyak tidaknya jenis dan individu yang ditemukan pada suatu perairan, artinya semakin besar jumlah jenis dan jumlah individu setiap jenis suatu
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

organisme maka nilai indeks keanekaragaman (H) semakin tinggi. Hasil analisis keanekaragaman jenis ikan (H) di lokasi penelitian bahwa nilai keanekaragaman yang diperoleh berkisar 0,743 sampai 1,399 dengan rata-rata 1.099 (kategori sedang). Nilai indeks keanekaragaman (H) dikatakan sedang disebabkan kerena jumlah jenis dan jumlah individu relatif sedikit. Pada Stasiun I diperkirakan nilai keanekaragaman jenis ikan masih bisa bertambah jika alat tangkap yang digunakan lebih banyak dan periode penangkapan yang cukup lama serta tenaga profesional yang banyak pula. Hal ini disebabkan stasiun ini terletak di daerah muara Sungai Lamunde yang berhadapan dengan Teluk Bone. Informasi dari masyarakat yang kerap kali melakukan penangkapan ikan di sungai ini ada beberapa jenis ikan dari famili Gobiidae (belosoh), Tetraodontidae (buntel), Sillaginidae (besot), Dasyatidae (pari), dan Anguillidae (sidat). Hal ini diduga banyak ikan-ikan yang bermigrasi ke sungai ini baik itu dalam pencarian makanan, perlindungan, pemijahan ataupun untuk daerah asuhan ikan-ikan. Sehingga, jenis-jenis ikan yang belum diketahui dapat tertangkap. c. Indeks Keseragaman Jenis (E) Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai indeks keseragaman (E) ikan di Sungai Lamunde berdasarkan kriteria indeks ShannonWienner pada Stasiun I yaitu 0,755 (tinggi/relatif merata); Stasiun II yaitu 0,914 (tinggi/relatif merata); dan Stasiun III yaitu 0,485 (rendah/relatif tidak merata) dengan rata-rata 0,718 (tinggi/relatif merata). Nilai tersebut menunjukkan bahwa keseragaman jenis di Perairan Sungai Lamunde yang dimiliki masingmasing spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama. Menurut Styobudiandi dkk. (2009) bahwa indeks yang mendekati 0 menunjukkan adanya jumlah individu yang terkonsentrasi pada satu atau beberapa jenis. Hal ini dapat diartikan ada beberapa jenis biota yang memiliki jumlah individu yang relatif sedikit. Sedangkan nilai indeks keseragaman yang mendekati 1 menunjukkan bahwa jumlah individu di setiap spesies adalah sama atau hampir sama. Selanjutnya Fachrul (2007) menjelaskan bahwa indeks keseragaman menggambarkan ukuran jumlah individu antara spesies dalam suatu
34

komunitas ikan. Semakin merata penyebaran individu antara spesies maka keseimbangan ekosistem semakin meningkat. Kisaran nilai indeks keseragaman yang diperoleh yakni 0,485 sampai 0,914 dengan ratarata 0,718. Berdasarkan pernyataan Odum (1996), bahwa individu ikan dalam komunitas menyebar dalam 3 (tiga) pola dasar, yaitu penyebaran secara acak, merata atau seragam dan bergerombol atau berkelompok. Pola penyebaran biota atau jenis ikan atau komunitas tergantung dari faktor fisik, kimia dan biologi. Pola tersebut tergantung juga dari jenis ekosistem dan jenis ikan sehingga masingmasing menunjukkan karakteristik sendirisendiri. d. Indeks Dominansi Jenis (C) Berdasarkan hasil penelitian (tabel 7) terlihat bahwa hasil indeks dominansi jenis ikan (C) di Perairan Sungai Lamunde berkisar antara 0,102-0,515 yang masing-masing pada Stasiun I, II dan III yaitu 0,102; 0,515; dan 0,250 dengan rata-rata 0,289 (rendah). Nilai tersebut menunjukkan bahwa dominansi jenis ikan di perairan Sungai Lamunde dalam kategori rendah. Pengkategorian ini berdasarkan kriteria indeks dominansi Simpson dalam Krebs (1985), yang menjelaskan bahwa apabila dominansi rendah artinya tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil. Simpulan 1. Hasil pengukuran kualitas air pada Perairan Sungai Lamunde masih menunjukkan kisaran yang baik bagi kehidupan ikan di perairan tersebut. Selama periode penangkapan, total jenis ikan yang tertangkap pada perairan Sungai Lamunde terdiri dari 1024 individu dari 30 famili dan 34 jenis sedangkan komposisi jenis ikan yang tertinggi pada Stasiun II. Dimana dari 34 jenis yang tertangkap diseluruh stasiun, 30 jenis berada pada Stasiun II dan yang terendah ada pada Stasiun III dengan jumlah spesies hanya 11 jenis. Komposisi jenis ikan yang tertinggi pada jenis Therapon jarbua selanjutnya Oreochromis mossambicus, Caranx

ignobilis dan Ambassis agrammus. Sedangkan persentase terendah yaitu Leognathus equulus, Ophiocara aporos, Platax orbicularis, dan Lates calcarifer. 4. Keanekaragaman jenis ikan di Perairan Sungai Lamunde dalam kategori sedang (1,099), nilai keseragaman cenderung seragam atau tidak ada yang mendominasi (0,718), dan dominansi dalam kategori rendah (0,289). Persantunan Penulis menyampaikan ucapan terrima kasih kepada Bapak Agustian selaku Kepala Desa Lamunde yang telah memberikan izin penelitian dan banyak membantu dalam penelitian ini. serta para dosen dan staf lingkup fakultas perikanan dan ilmu kelautan universitas haluoleo yang telah banyak membantu dalam penyelesaian studi penulis dan ilmu yang telah diberikan selama masa studi. Daftar Pustaka Affandi, R. dan U.M. Tang., 2002. Fisiologi Hewan Air. Uni Press. Pekanbaru. 213 hal. Afianto, E. dan Evi, L., 1993. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Jakarta. 113 hal. Cheng, L., Lek, S., Lek-Ang, S., Zhongjie Li., 2011. Predicting fish assemblages and diversity in shallow lakes in the Yangtze River Basin. Limnologica, 42: 127-136 Daelamis, D.A.S., 2002. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya. Jakarta. 312 hal. Das, S. K., Chakrabarty, D., 2006. The use of fish community structure as a measure of ecologicaldegradation: A case study in two tropical rivers of India. BioSystems, 90: 88 196. Dongkyun, I., Kang, H., Kyu-Ho, K., Sung-Uk, C., 2011. Changes of river morphology and physical fish habitat following weir removal. Ecological Engineering, 37: 883892. Effendi, H., 2000. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Bogor. Bogor. 258 hal. Effendi, H., .2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hal.
35

2.

3.

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

Fachrul, M.F., 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Fujaya, Y., 2004. Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. PT Rineka Cipta. Jakarta. 179 hal. Genisa, A.S., 2003. Sebaran dan Struktur Komunitas Ikan di Sekitar Estuaria Digul, Irian Jaya. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan, 13 (1): 01-09 Genisa, A.S., 2000. Ikan-ikan Pangan dari Muara Sungai Bagian Barat Indonesia. Proyek Inventarisasi dan Evaluasi Potensi Laut dan Pesisir. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 84 hal. Hallet, C. S., Valesini, F. J., Clarke, K. R., Hesp, S. A., Hoeksema, S. D. 2012. Development and validation of fish-based, multimetric indices for assessing the ecological health of Western Australian estuaries. Estuarine, Coastal, and Shelf Science, 104-105: 102103. Hutomo, M., 1978. Ikan-ikan pada Muara Sungai Karang : Suatu analisis pendahuluan tentang kepadatan dan struktur komunitas. Dalam: Oseanologi pada Indonesia, 9: 1328. Irianto, A., 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 256 hal. Kusmana, C., 2002. Ekologi Mangrove. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 309 hal. Kottelat, M. and A.J. Whitten with S.N. Kartikasari, and S. Wirjoatmodjo., 1993. Freshwater fish of Indonesia and Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd, in Collaboration With Enviromental Management Project. Ministry of State for Population and Enviroment. Republic of Indonesia. Jakarta. 363 Hal. Krebs, C.J., 1985., Ecology. The Experimental Analysis of Distribution and Abundance. New York: Harper Collins, Publisher, p. 894. Langkosono., 2011. Fauna Ikan di Perairan Pantai Kota Raha Pulau Muna Sulawesi Tenggara dan Sekitarnya. Neptunus Universitas Hang Tuah. Jurnal Kelautan, 17(2): 115 - 127. Miller, S. J., Skilleter, G. A., 2006. Temporal variation in habitat use by nekton in a subtropical estuarine system. Journal of
Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

Experimental Marine Biology and Ecology, 337: 82-95. Mulya, M.B., 2004. Keanekaragaman Ikan di Sungai Deli Provinsi Sumatera Utara Serta Keterkaitannya Dengan Faktor Fisik Kimia Perairan. Jurnal Komunikasi Penelitian, 16 (5): 10-16. Murtidjo, B.A., 1997. Budi Daya Kakap dalam Tambak dan Keramba. Kanisius. Yogyakarta. 116 hal. Nurcahyadi, W., 2003. Keanekaragaman Sumberdaya Hayati Ikan di DAS Cikiniki dan Cisukawayana, Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat. Skripsi. Progaram Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK. IPB. Bogor. 87 hal. Odum, E.P., 1996. Dasar-Dasar Ekologi (Diterjemahkan Oleh Tjahjono Samingan) Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 697 hal. Perez-Dominguez, R., Maci, S., Courrat, A., Lepage, M., Borja, A., Uriarte, A., Neto, J. M., Cabral, H., St.Raykov, V., Franco, A., Alvarez, M. C., Elliot, M., 2012. Current developments on fish-based indices to assess ecological-quality status of estuaries and lagoons. Eclogical Indicators, 23: 3445. Peristiwady, T., 2006. Ikan-ikan Laut Ekonomis Penting di Indonesia. Petunjuk Identifikasi. LIPI Press. Jakarta. 270 hal. Pescod, N.B., 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream for Tropical Countries, Asian Institute of Technology, Bangkok. p. 276. Ross, R., 1997. Fisheries Conservation and Management. USA: Prentice Hall, Inc. p. 224. Saefullah, 1983. Studi Kualitas Air Kali Sunter Ditinjau dari Sifat Fisika, Kimia dan Keanekaragaman Jenis Bentosnya. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 17 hal. Setyobudiandi, I., Sulistiono, F. Yulianda, C. Kusmana, S. Hariyadi, A, Damar, A. Sembiring, dan Bahtiar., 2009. Sampling dan Analisis Data Perikanan dan Kelautan. MAKAIRA-FPIK. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 313 hal. Schiemer, F. and M. Zalewski., 1992. The Importance of Riparian Ecotone For Diversity & Productivity or Riverine Fish
36

Comunities. Netherland Journal of Zoology, 42 (2-3): 323-335. Sinaga, T.P., 1995. Bioekologi Komunitas Ikan di Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 97 hal. Sudradjat, 2006. Glosarium Kelautan dan Perikanan. BRKP Pusat Riset Perikanan Budidaya. Departemen Perikanan dan Kelautan. Jakarta. 191 hal. Sugiarti, 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. CV Simpleks (Anggota IKAPI) Jakarta. 12 hal.

Sutisna, D.H. dan S. Sutarmanto., 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius, Yogyakarta. 97 hal. Wantasen, A., 2002. Kajian Potensi Sumberdaya Hutan Mangrove di Desa Talise, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Makalah Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 60 hal. Whitten, A.J., M. Mustafa and G.S. Henderson., 1987. The Ekology Of Sulawesi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. pp. 335-375. p. 844. Yustina, 2001. Keanekaragaman Jenis Ikan di Sepanjang Perairan Sungai Rangau, Riau Sumatra. Jurnal Natur Indonesia, 4 (1): 114.

Jurnal Mina Laut Indonesia, Januari 2013 @FPIK UNHALU

37