Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Asuhan Kebidanan pada Ny M dengan Ca Endometrium di Ruang 9 RSUD Saiful Anwar Malang. Asuhan kebidanan ini tersusun berkat bantuan dan bimbingan serta arahan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. 2. 3. 4. 5. Bapak Dody Riyadi SKM,M.M, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Ibu Temu Budiarti, S.Pd,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Ibu Sri Rahayu,S.Kep,Ns,M.Kes, selaku Kaprodi D IV Kebidanan Klinik Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang sekaligus sebagai pembimbing Institusi Ibu Anis Chabiba Amd.Keb selaku Pembimbing Klinik Di Ruang 9 RSUD Saiful Anwar Malang. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan selanjutnya. Semoga laporan asuhan kebidanan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan khusunya bagi penulis sendiri

Malang, Mei 2013

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka kejadian tertinggi, terutama di negara-negara maju. Di seluruh dunia, setiap tahun, 142,000 perempuan terdiagnosis, dan sebanyak 42.000 perempuan meninggal karena penyakit ini (Amant, 2005). Selama tahun 2005, diperkirakan di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi karena kanker endometrium. Pada tahun 2007, diperkirakan 1 dari 38 perempuan di Amerika Serikat terdiagnosis kanker endometrium. Insiden kanker endometrium berdasarkan data dari Office of National Statistic meningkat dari dua per 100.000 perempuan per tahun di bawah usia 40 tahun sampai 40-50 per 100.000 perempuan per tahun pada dekade ke-6, ke-7 dan ke-8. Angka kematian di Amerika Serikat meningkat dua kali antara tahun 1988 dan 1998. Di regional Asia Tenggara di mana Indonesia termasuk di dalamnya insiden kanker endometrium mencapai 4,8 persen dari 670.587 kasus kanker pada perempuan. Sementara kanker payudara sebanyak 30,9%; serviks 19,8% dan ovarium 6,6%. (Anderton.C.2012) Peningkatan angka kejadian karsinoma endometrium berkaitan dengan meningkatnya status kesehatan sehingga usia harapan hidup kaum wanita semakin tinggi yang menyebabkan jumlah wanita yang berusia lanjut semakin banyak yang diiringi dengan penggunaan terapi hormone pengganti untuk mengatasi gejala-gejala menopausenya. Kanker endometrium umumnya ditemukan pada penderita berusia 60 keatas. Selain itu,telah ditemukan bahwa peningkatan kejadian obesitas juga memegang peranan penting dalam meningkatnya angka kejadian kanker endomerium. Kanker endometrium lebih banyak menyerang para wanita yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Tingginya kemampuan ekonomi selanjutnya mengakibatkan gizi yang mereka peroleh berlebihan sehingga berubah menjadi obesitas. Karena prevalensi faktor resiko ini semakin meningkat, maka insiden kanker endometrium juga semakin meningkat akhir-khir ini. Di masa depan, dengan makin tingginya angka penderita obesitas maka angka kejadian kanker endometrium diperkirakan akan makin bertambah, yang sudah terbukti di Amerika Serikat. (Schorge JO.2008) Pasien dengan kanker endometrium biasanya mencari perhatian medis sejak awal akibat adanya keluhan perdarahan vagina, dan biopsi endometrium akan mengarahkan diagnosis dengan cepat. Hal ini menyebabkan meskipun kanker endometrium menempati urutan ke empat kanker yang paling sering terjadi namun kanker endometrium tersebut 2

menempati urutan ke delapan kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan. Terapi primer untuk kebanyakan penderita kanker endometrium adalah histerektomi disertai dengan bilateral salpingo-oophorectomy (BSO) dan limfadeneknomi. Tiga perempat dari pasien terdiagnosis saat menderita kanker endometrium stadium satu yang dapat disembuhkan dengan operasi. Pasien dengan stadium yang lebih lanjut biasanya memerlukan kombinasi pascaoperasi kemoterapi, radioterapi, atau keduannya. (Wikipedia.org) Dari pernyataan diatas penulis tertarik untuk menyusun asuhan kebidanan pada ibu dengan Ca Endometrium. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa dapat melaksanakan manajemen kebidanan pada ibu dengan Ca Endometrium 2. Tujuan Khusus Setelah menyusun asuhan kebidanan ini diharapkan mahasiswa dapat : a. Melakukan Pengkajian data b. Melakukan Identifikasi Diagnosa dan Masalah c. Melakukan Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial d. Menentukan kebutuhan segera e. Menyusun rencana asuhan (intervensi) f. Melaksanakan rencana asuhan (implementasi) g. Melakukan evaluasi terhadap asuhan yang diberikan C. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan 1.3. Sistematika Penulisan BAB II Tinjauan Teori 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. Pengkajian Data Identifikasi Diagnosa dan Masalah Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial Identifikasi Kebutuhan Segera Intervensi 3 BAB III Tinjauan Kasus

3.6. 3.7. BAB V

Implementasi Evaluasi

BAB IV Pembahasan Penutup 5.1. 5.2. Daftar Pustaka Kesimpulan Saran

BAB II TINJAUAN TEORI A. KONSEP TEORI KANKER ENDOMETRIUM 1. Definisi Kanker endometrium merupakan tumor ganas primer yang berasal dari endometrium atau miometrium. Sebagian besarnya merupakan adenokarsinoma (90%). Karsinoma endometrium terutama adalah penyakit pada wanita pascamenopause, walaupun 25% kasus terdapat pada wanita yang berusia kurang dari 50 tahun dan 5% kasus terdapat pada usia dibawah 40 tahun. Umur rata-rata penderita kanker endometrium adalah 5566 tahun. Insidensi kanker endometrium pada wanita premenopause 5 kali lebih rendah daripada wanita yang telah mengalami menopause, Insidensi ini meningkat sesuai bertambahnya usia kemudian menetap setelah umur 70 tahun (Anderton,2012)

Sebagian besar kanker endometrium adalah adenokarsinoma (75 %), yang berasal dari lapisan tunggal dari sel-sel epitel yang melapisi endometrium dan membentuk kelenjar endometrium. Ada banyak subtipe mikroskopis karsinomaendometrium, termasuk jenis common endometrioid, di mana sel kanker menyerupai gambaran endometrium normal, Papillary serous carcinoma yang agresif serta clear cell carcinoma. Kanker endometrium adalah neoplasma yang mempunyai 2 tipe dengan patogenesis berbeda pada masing-masing tipenya. Tipe pertama adalah estrogen dependen dan tipe kedua estrogen independen. Perubahan genetik molekular yang terdapat pada 5

karsinoma endometrium tipe I dan tipe II berbeda dan mungkin dapat membantu dalam menjelaskan sifat-sifat klinisnya. a. Tipe I Estrogen dependen Tipe I berhubungan dengan meningkatnya kadar estrogen dalam darah, yang umumnya menyerang wanita pre dan perimenoupause. Pada anamnesis didapatkan riwayat terpapar estrogen dan berasal dari atipikal endometrial hiperplasia. Tipe ini berdiferensiasi baik, minimal invasif, sehingga mempunyai prognosis yang baik. Pada beberapa kasus mungkin didapatkan diabetes, penyakit liver, hipertensi, obesitas, infertilitas, dan gangguan menstruasi. Pada kenyataannya, lesi tipe I berpotensi dapat diecegah melalui pengenalan risiko pada pasien, diagnosis lesi prekursor (hiperplasia endometrium atipikal), dan pengobatan yang sesuai. (Anderton,2012) b. Tipe II Estrogen Independen Tipe ini bisanya didapatkan pada wanita postmenopause, kurus, dan fertil atau wanita dengan siklus hormonal yang normal. Tipe II lebih agresif dan mempunyai prognosis lebih buruk daripada tipe I. Tipe II paling sering didapat pada wanita Afro-Amerika. Yang termasuk kanker endometrium tipe II adalah : 1) high-grade endometrioid cancer, 2) uterine papillary serous carcinoma, 3) uterine clear cell carcinoma. Terdapat 3 lokasi dimana kanker endometrium sering terjadi yaitu fundus, tuba dan isthmus. Hal ini berkaitan dengan pengaruh hormonal pada lapisan uterine di lokasi tersebut. (Anderton,2012) 2. Epidemiologi Kanker endometrium merupakan salah satu kanker ginekologi dengan angka kejadian tertinggi, terutama di negara-negara maju. Di seluruh dunia, setiap tahun, 142,000 perempuan terdiagnosis, dan sebanyak 42.000 perempuan meninggal karena penyakit ini (Amant, 2005). Selama tahun 2005, diperkirakan di Amerika terdapat sekitar 40.880 kasus baru dengan sekitar 7.100 kematian terjadi karena kanker endometrium. Pada tahun 2007, diperkirakan 1 dari 38 perempuan di Amerika Serikat terdiagnosis kanker endometrium. AS dan Kanada memiliki rerata insidensi 6

tertinggi di seluruh dunia, sementara negara berkembang dan Jepang memiliki rerata insidensi 4-5 kali lebih rendah. (Schorge JO, et al. 2008) 3. Etiologi Penyebab pasti kanker endometrium tidak diketahui. Kebanyakan kasus kanker endometrium dihubungkan dengan endometrium terpapar stimulasi estrogen secara kronis. Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikkan pada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker. Adanya hubungan antara pajanan estrogen dengan kanker endometrium telah diketahui selama lebih dari 50 tahun. Satu faktor risiko yang paling sering dan paling terbukti untuk adenokarsinoma uterus adalah obesitas. Jaringan adiposa memiliki enzim aromatase yang aktif. Androgen adrenal dengan cepat dikonversi menjadi estrogen di dalam jaringan adiposa pada individu yang obes. Estrogen yang baru disintesis ini juga memiliki bioavailabilitas yang sangat baik karena perubahan metabolik yang berhubungan dengan obesitas menghambat produksi globulin pengikat hormon seks oleh hati. Individu yang obes mungkin mengalami peningkatan drastis pada estrogen bioavailabel yang bersirkulasi dan pajanan ini dapat menyebabkan penumbuhan hiperplastik pada endometrium. Dasar pemikiran yang menganggap estrogen sebagai faktor etiologis berasal dari tiga sumber: a. aktivitas biologis estrogen dan progesteron pada endometrium b. data pada hewan dan manusia mengenai pengaruh dietilstilbestrol (DES) terhadap karsinogenesis c. hubungan antara kanker endometrium dengan hiperplasia endometrium dalam kaitannya dengan hubungan antara hiperplasia dengan pajanan estrogen yang tidak dihambat dan bcrlangsung lama. Bukti yang paling kuat untuk sensitivitas endometrium yang tinggi terhadap hormon steroid ovarium adalah perubahan dramatis yang terjadi pada jaringan ini selama siklus menstruasi. Pada siklus wanita normal: endometrium mengubah morfologinya setiap hari. Pada fase folikular siklus: estrogen menstimulasi proliferasi epitel yang menutupi kelenjar endometrium dan stroma di bawahnya. Estrogen menginduksi produksi reseptorya sendiri dan reseptor progesteron selama fase ini. Progesteron yang disekresi 7

dengan cepat setelah ovulasi menahan aktivitas proliferasi pada kelenjar-kelenjar dan mengkonversi epitel menjadi keadaan sekretorik. Stroma merespons progesteron dengan angiogenesis dan maturasi fungsional. Jika kehamilan terjadi, perubahanperubahan ini akan mempersiapkan endometrium untuk implantasi. Dipercaya bahwa efek mitogenik yang poten dari estrogen pada epitel kelenjar endometrium mempercepat tingkat mutasi spontan dari onkogen yang merupakan predisposisi dan/atau gen penekan tumor. Hal ini mengarah pada suatu transformasi neoplastik. Data pada hewan dan manusia yang dikumpulkan setelah berkembangnya pajanan DES menambah bukti biologis untuk potensi karsinogenik dari estrogen di saluran reproduksi. DES adalah agonis estrogen nonsteroid yang merupakan salah salu estrogen sintetik pertama yang dikembangkan. DES tersebut diberikan kepada lebih dari dua juta wanita pada tahun 1940-1970 sebagai pengobatan terhadap ancaman keguguran spontan (miscarriage). Pada tikus. pajanan neonatal terhadap DES menghasilkan kanker endometrium pada 95% binatang saat berusia 18 bulan. Pada wanita, pajanan DES pranatal mengarah pada kelainan struktur saluran reproduksi dan pada adenokarsinoma sel jemih vagina dan serviks. Aktivitas karsinogenik pada DES tampaknya dimediasi sebagian oleh aktivasi reseptor estrogen. Apakah pajanan DES pranatal akan menyebabkan kanker endometrium pada manusia akan ditentukan setelah penelitian kohort pada wanitawanita ini berlangsung sampai menopause. Mekanisme genetik molekular mengenai bagaimana DES menyebabkan karsinoma sel jernih mungkin sama dengan bagaimana estroge alami menyebabkan kanker endometrium tipe I. Ketidakstabilan genetik telah ditunjukkan pada kedua tumor ini. 4. Faktor Resiko a. Faktor resiko reproduksi dan menstruasi. Kebanyakan peneliti menyimpulkan bahwa nulipara mempunyai risiko 3x lebih besar menderita kanker endometrium dibanding multipara. Hipotesis bahwa infertilitas menjadi factor risiko kanker endometrium didukung penelitian-penelitian yang menunjukkan resiko yang lebih tinggi untuk nulipara dibanding wanita yang tidak pernah menikah. (Schorge JO, et al. 2008) Perubahan-perubahan biologis yang berhubungan dengan infertilitas dikaitkan dengan risiko kanker endometrium adalah siklus anovulasi ( terpapar estrogen yang lama tanpa progesteron yang cukup), kadar androstenedion serum yang tinggi 8

(kelebihan androstenedion dikonversi menjadi estron), tidak mengelupasnya lapisan endometrium setiap bulan (sisa jaringan menjadi hiperplastik) dan efek dari kadar estrogen bebas dalam serum yang rendah pada nulipara. Salah satu fungsi estrogen yang normal adalah merangsang pembentukan lapisan epitel pada rahim. Sejumlah besar estrogen yang disuntikkan kepada hewan percobaan di laboratorium menyebabkan hiperplasia endometrium dan kanker. (Schorge JO, et al. 2008) b. Usia menarche dini (<12 tahun) berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker endometrium walaupun tidak selalu konsisten. Benyak penelitian menunjukkan usia saat menopause mempunyai hubungan langsung terhadap meningkatnya kanker ini. Sekitar 70% dari semua wanita yang didiagnosis kanker endometrium adalah pakcamenopause. Wanita yang menopause secara alami diatas 52 tahun 2,4 kali lebih beresiko jika dibandingkan sebelum usia 49 tahun. (Schorge JO, et al. 2008) c. Hormon. 1) Hormone endogen. Risiko terjadinya kanker endometrium pada wanita-wanita muda berhubungan dengan kadar estrogen yang tinggi secara abnormal seperti polycystic ovarian disease yang memproduksi estrogen. 2) Hormone eksogen pascamenopause. Terapi sulih hormone estrogen menyebabkan risiko kanker endometrium meningkat 2 sampai 12 kali lipat. Peningkatan risiko ini terjadi setelah pemakaian 2-3 tahun. Risiko relatif tinggi setelah pemakaian selama 10 tahun. d. Kontrasepsi oral. Peningkatan risiko secara bermakna terdapat pada pemakaian kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dosis tinggi dan rendah progestin. Sebaliknya pengguna kontrasepsi oral kombinasi estrogen dan progestin dengan kadar progesterone tinggi mempunyai efek protektif dan menurunkan risiko kanker endometrium setelah 1-5 tahun pemakaian. e. Tamoksifen. Beberapa penelitian mengindikasikan adanya peningkatan risiko kanker endometrium 2-3 kali lipat pada pasien kanker payudara yang diberi terapi tamoksifen. Tamoksifen merupakan antiestrogen yang berkompetisi dengan estrogen 9

untuk menduduki reseptor. Di endometrium, tamoksifen malah bertindak sebagai faktor pertumbuhan yang meningkatkan siklus pembelahan sel. f. Obesitas. Obesitas meningkatkan risiko terkena kanker endometrium. Kelebihan 13-22 kg BB ideal akan meningkatkan risiko sampai 3 x lipat. Sedangkan kelebihan di atas 23 kg akan meningkatkan risiko sampai 10x lipat. obesitas adalah penyebab paling umum dari kelebihan produksi estrogen endogen. Jaringan adiposa berlebihan akan meningkatkan aromatisasi androstenedion perifer menjadi estrone. Pada wanita premenopause, tingkat estrone memicu umpan balik peningkatan abnormal pada aksis-hipofisis-ovarium hipotalamus. Hasil klinisnya adalah oligo-atau anovulasi. Dengan tidak adanya ovulasi, endometrium terkena stimulasi estrogen hampir terus menerus tanpa efek progestasional berikutnya dan terjadi gangguan menstruasi. g. Faktor diet. Perbedaan pola demografi kanker endometrium diperkirakan oleh peran nutrisi, terutama tingginya kandungan lemak hewani dalam diet. Konsumsi sereal, kacangkacangan, sayuran dan buah terutama yang tinggi lutein, menurunkan risiko kanker yang memproteksi melalui fitoestrogen. h. Kondisi medis. Wanita premenopause dengan diabetes meningkatkan 2-3 x lebih besar berisiko terkena kanker endometrium jika disertai diabetes. Tingginya kadar estrone dan lemak dalam plasma wanita dengan diabetes menjadi penyebabnya. Hipertensi menjadi faktor risiko pada wanita pancamenopause dengan obesitas. i. Faktor genetik. Seorang wanita dengan riwayat kanker kolon dan kanker payudara meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium. Begitu juga dengan riwayat kanker endometrium dalam keluarga. j. Merokok. Wanita perokok mempunyai resiko kali jika dibandingkan yang bukan perokok (faktor proteksi) dan diperkirakan menopause lebih cepat 1-2 tahun. k. Ras. Kanker endometrium sering ditemukan pada wanita kulit putih. l. Faktor risiko lain.

10

Pendidikan dan status sosial ekonomi diatas rata-rata meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium akibat konsumsi terapi pengganti estrogen dan rendahnya paritas. 5. Manifestasi Klinis Keluhan utama yang dirasakan pasien kanker endometrium adalah perdarahan pasca menopause bagi pasien yang telah menopause dan perdarahan intermenstruasi bagi pasien yang belum menopause. Keluhan keputihan merupakan keluhan yang paling banyak menyertai keluhan utama Gejalanya bisa berupa: a. Perdarahan rahim yang abnormal b. Siklus menstruasi yang abnormal c. Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi) d. Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause e. Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun) f. Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul g. Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause) h. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih i. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual. (Schorge JO, et al. 2008) 6. Deteksi Kanker Endometrium Sebagian besar kanker endometrium terdiagnosis pada stadium dini. Hal ini dikarenakan wanita menopause cenderung memeriksakan dirinya ke dokter apabila terdapat perdarahan vaginal. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik termasuk melakukan pap smear dan pemeriksaan pelvik. Pemeriksaan pelvik merupakan langkah awal pemerikasaan fisik pada kanker endometrium. Pada pemeriksaan pelvik, dokter memeriksa daerah sepanjang kandungan apakah terdapat lesi, benjolan, atau mengetahui daerah mana yang terasa sakit jika diraba. Untuk daerah kandungan bagian atas dokter menggunakan alat spekulum. Teknik pemeriksaan ini sebenarnya harus rutin dilakukan oleh wanita untuk mengetahui kondisi vaginanya

11

Biopsi endometrial diperlukan untuk menegakkan diagnosis kanker endometrium. Pada pemeriksaan biopsi, akan diambil sebagian kecil dari lapisan uterus (endometrium) kemudian dilihat sediaan tersebut di mikroskop. Karena kanker endometrium dimulai di dalam uterus, kelainannya tidak selalu dapat dideteksi dengan pap smear. Karena itu, sampel dari jaringan endometrium harus diambil dan dilihat dengan mikroskop untuk dideteksi apakah terdapat sel kanker atau tidak. Salah satu prosedur dibawah ini dapat dilakukan Biopsi endometrium : Mengambil sebagian kecil jaringan endometrium, dengan memasukkan selang yang kecil dan fleksibel melalui serviks kedalam uterus. Selang ini kemudian akan mengikis sebagian kecil jaringan endometrium sehingga kemudian didapatkan sampel jaringan. Patolog kemudian akan memeriksa sampel sel kanker di bawah mikroskop. Dilatasi dan kuretase : Caranya yaitu leher rahim dilebarkan dengan dilatator kemudian hiperplasianya dikuret. Hasil kuret lalau di PA-kan. Memasukkan kamera (endoskopi) kedalam rahim lewat vagina. Dilakukan juga pengambilan sampel untuk di PA-kan. Sampe jaringan endometrium yang didapatkan dari kuretase kemudian diperiksa di mikroskop. USG transvaginal. Transvaginal ultrasound, adalah suatu alat yang dimasukkan ke dalam rahim dan berfungsi untuk mengetahui ketebalan dinding rahim. Ketebalan dinding yang terlihat abnormal akan dicek lanjutan dengan pap smear atau biopsi. Pada pemeriksaan USG didapatkan tebal endometrium di atas 5 mm pada usia perimenopause. Pemeriksaan USG dilakukan untuk memperkuat dugaan adanya keganasan endometrium dimana terlihat adanya lesi hiperekoik di dalam kavum uteri/endometrium yang inhomogen bertepi rata dan berbatas tegas dengan ukuran 6,69 x 4,76 x 5,67 cm. Pemeriksaan USG transvaginal diyakini banyak penelitian sebagai langkah awal pemeriksaan kanker endometrium, sebelum pemeriksaan-pemeriksaan yang invasif seperti biopsi endometrial, meskipun tingkat keakuratannnya yang lebih rendah, dimana angka false reading dari strip endometrial cukup tinggi. Sebuah metaanalisis melaporkan tidak terdeteksinya kanker endometrium sebanyak 4% pada penggunaan USG transvaginal saat melakukan pemeriksaan pada kasus perdarahan postmenopause, dengan angka false reading sebesar 50%. USG transvaginal dengan atau tanpa warna, digunakan sebagai tehnik skrining. Terdapat hubungan yang sangat kuat dengan ketebalan endometrium dan kelainan pada endometrium. Ketebalan ratarata terukur 3,41,2 mm pada wanita dengan endometrium atrofi, 9,72,5 mm pada 12

wanita dengan hiperplasia, dan 18,26,2mm pada wanita dengan kanker endometrium. Pada studi yang melibatkan 1.168 wanita, pada 114 wanita yang menderita kanker endometrium dan 112 wanita yang menderita hiperplasia, mempunyai tebal endometrium 5 mm. Metode non-invasif lainnya adalah sitologi namun akurasinya sangat rendah. Papanicolau Test adalah metode skrining ginekologi, dicetuskan oleh Georgias Papanicolau, untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh human papilomavirus. Pengambilan sampel endometrium, selanjutnya di periksa dengan mikroskop (PA). Cara untuk mendapatkan sampel adalah dengan aspirasi sitologi dan biopsy hisap (suction biopsy) menggunakan suatu kanul khusus. Alat yang digunakan adalah novak, serrated novak, kovorkian, explora (mylex), pipelly (uniman), probet. Pap smear tidak sensitif untuk mendiagnosa kanker endometrium. Pada pemeriksaan pap smear, 50% dari penderita kanker endometrium menunjukkan hasil yang normal. Sel endometrium yang jinak terkadang ditemukan saat pemeriksaan pap smear pada wanita diatas 40 tahun Bia sel ini ditemukan, maka resiko kanker pada wanita tersebut adalah 3-5%. Pada wanita premenopause, temuan ini kurang akurat, terutama bila hasil didapatkan saat penderita sedang haid. Pada penderita yang memakai terapi hormon, resiko keganasan berkurang (1-2%) Pada pemeriksaan kanker endometrium dapat ditemukan hiperplasia endometrium. Hiperplasia endometrium bukan kanker namun dapat berkembang menjadi kanker. Salah satu tipe hiperplasia, atypical adenomatous hyperplasia, berkembang menjadi kanker pada 1 dari 3 penderita. Untuk menentukan stadium kanker endometrium, serangkaian pemeriksaan dibawah ini harus dilakukan sebelum operasi : a. Cek darah lengkap untuk memeriksa anemia dan kelainan darah. b. Antigen kanker 125. Pemeriksaan CA-125 diperlukan untuk mengetahui apakah kanker telah bermetastasis atau belum. c. Intravenous Pyelogram untuk memeriksa fungsi ginjal d. Foto roentgen untuk mengetahui apakah sel kanker telah bermetastasis ke uterus. e. Pemeriksaan imaging dilakukan sebelum operasi untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke abdomen dan pelvis. Ini dilakukan juga untuk membuat perencanaan terapi. Pemeriksaan imaging meliputi : f. Computed Tomography (CT) scan abdomen dan pelvis

13

g. Magnetic Resonance Imaging (MRI) abdomen dan pelvis. MRI juga dapat membedakan kanker endometrium dari penyebaran servikal primary endocervical adenocarcinoma. h. Setelah diagnosis kanker endometrium ditegakkan, operasi dilakukan untuk mengangkat uterus, serviks, ovarium, tuba falopi. Prosedur ini dinamakan Histerektomi dengan bilateral salphingo-oophorectomy. Kadang kelenjar limfe pelvis juga diangkat. Jaringan yang diangkat kemudian diperiksa untuk menentukan stadium kanker. (Schorge JO, et al. 2008) 7. Klasifikasi Histopatologis Sembilan puluh persen tumor ganas endometrium/ korpus uterus adalah adenokarsinoma. Sisanya ialah karsinoma epidermoid, adenoakantoma, sarcoma, dan karsino-sarkoma. (Schorge JO, et al. 2008) a. Endometrioid Adenocarcinoma Tipe histologi kanker endometrium yang paling sering ditemui adalah endometrioid adenokarsinoma (75% dari total kasus). Karakteristik tumor ini adalah terdapat kelenjar yang mirip dengan endometrium normal. Hiperplasia endometrium berhubungan dengan tumor grade rendah dan jarang menginvasi endometrium. Apabila kelenjar berkurang dan digantikan sel yang padat, tumor diklasifikasikan sebagai grade yang lebih tinggi. Apabila terdapat endometrium yang atrofik, sering dihubungkan dengan grade tinggi dan sering bermetastasis. (Dean L.2012)

14

b. Serous Carcinoma 5-10% kanker endoetrium adalah tipe serous carcinoma. Serous carcinonma adalah tumor tipe II yang sangat agresif dan berasal dari endometrium yang atrofik. Tipe ini biasanya terdapat pada wanita berusia lanjut. Terdapat pola pertumbuhan papiler yang kompleks ditandai dengan nulkear atipik. Sering disebut uterine papillary serous carcinoma (UPSC), secara histologis menyerupai kanker ovarium epitelial, dan terdapat psammoma bodies pada 30 persen pasien. (Schorge JO, et al. 2008)

c. Clear Cell Carcinoma Kurang dari 5 % kanker endometrium adalah tipe clear cell carcinoma. Penampakan mikroskopik didominasi oleh sel padat, kistik, tubular atau papiler. Biasanya merupakan gabungan dari 2 atau 3 tipe tersebut. Endometrial clear cell adenocarcinoma adalah serupa dengan jenis clear cell yang terdapat di ovarium, vagina, dan serviks. Tidak ada karakteristik khusus, namun seperti UPSC, cenderung ganas, dan invasif. Pasien biasanya terdiagnosis saat penyakitnya sudah lanjut dan prognosisnya buruk. (Schorge JO, et al. 2008)

15

d. Mucinous Carcinoma Sekitar 1 sampai 2 persen kanker endometrium adalah tipe mucinous. Sebagian besar endometrioid adenocarcinoma mempunyai komponen fokal. Umumnya, tumor mucinous mempunyai gambaran glandular dengan sel yang kolumnar dan stratifikasi minimal. Hampir semua aadalah stadium 1 dan grade 1 dengan prognosis yang baik. Karena epitelium endoservikal menyatu dengan segmen bawah uterus, diagnosis masih sulit dibedakan dengan adenokarsinoma yang primer. Oleh sebab itu, dibutuhkan imuno-staining, selain ini MRI juga dapat digunakan untuk membedakan asal tumor.

e. Karsinoma Campuran Kanker endometrium dapat berupa kombinasi dari dua atau lebih tipe histologik. Karsinoma campuran, terdiri dari paling tidak dua tipe dengan masing masing tipe minimal melingkupi 10 % dari seluruh tumor. Kecuali tipe serous dan clear cell, kombinasi lain biasanya tidak signifikan. Karsinoma campuran biasanya merupakan campuran antara kanker endometrium tipe I dan tipe II. f. Undifferentiated Carcinoma Pada 1-2 % kanker endometrium, tidak ada bukti adanya diferensiasi glandular, sarkomatous, atau squamous. Tumor yang tidak berdeferensiasi ini mempunyai karakteristik proliferasi epitel monotonous, ukurannya medium tumbuh dari sel yang padat dan tidak mempunyai pola yang spesifik. Prognosisnya lebih buruk dari endometrioid adenokarsinoma diferensiasi buruk. g. Tipe yang jarang Kurang dari 100 kasus squamous cell carcinoma endometrium telah dilaporkan. Diagmosis ditegakkan dari tidak adanya komponen adenokarsinoma dan tidak ada hubungan dengan squamous epithelium serviks. Biasanya prognosisnya buruk. 16

Transisional cell carcinoma endometrium juga adalah kasus yang jarang, dan untuk menegakkan diagnosis, tidak boleh ada metastasis dari kandung kemih dan ovarium. (Schorge JO, et al. 2008) 8. Klasifikasi Endometrium Saat ini, stadium kanker endometrium ditetapkan berdasarkan surgical staging, menurut The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) 2010 :

(Schorge JO, et al. 2008) 9. Penatalaksanaan Radiasi atau histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis merupakan pilihan terapi untuk adenokarsinoma endoserviks yang masih terlokalisasi, sedangkan staging surgical yang meliputi histerektomi simple dan pengambilan contoh kelenjar getah bening para-aorta adalah penatalaksanaan umum adenokarsinoma endometrium a. Pembedahan Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi bilateral) karena selsel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jika sel kanker belum menyebar ke luar

17

endometrium (lapisan rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya. b. Radioterapi Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang sel-sel kanker di daerah yang disinari. Pada stadium I, II atau III dilakukan terapi penyinaran dan pembedahan. Angka ketahanan hidup 5 tahun pada pasien kanker endometrium menurun 20-30% dibanding dengan pasien dengan operasi dan penyinaran. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan (untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Stadium I dan II secara medis hanya diberi terapi penyinaran. Pada pasien dengan risiko rendah (stadium IA grade 1 atau 2) tidak memerlukan radiasi adjuvan pasca operasi. Radiasi adjuvan diberikan kepada : 1) Penderita stadium I, jika berusia diatas 60 tahun, grade III dan/atau invasi melebihi setengah miometrium. 2) Penderita stadium IIA/IIB, grade I, II, III. 3) Penderita dengan stadium IIIA atau lebih diberi terapi tersendiri (Prawirohardjo, 2006) Ada 2 jenis terjapi penyinaran yang digunakan untuk mengobati kanker endometrium: 1) Radiasi eksternal : digunakan sebuah mesin radiasi yang besar untuk mengarahkan sinar ke daerah tumor. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 kali/minggu selama beberapa minggu dan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit. Pada radiasi eksternal tidak ada zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh. 2) Radiasi internal (AFL): digunakan sebuah selang kecil yang mengandung suatu zat radioaktif, yang dimasukkan melalui vagina dan dibiarkan selama beberapa hari. Selama menjalani radiasi internal, penderita dirawat di rumah sakit. c. Kemoterapi Adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang menyebar keseluruh tubuh dan mencapai sel kanker yang telah menyebar jauh atau metastase ke tempat lain.

18

Kemoterapi pada Kanker Endometrium Adjuvan AP (Doxorubicin 50-60 mg/m2, Cisplatinum 60 mg/m2 dengan Cis-platinum 20-40 mg/m2 setiap minggu (5-6 minggu) Xelloda 500-1000mg/hari (oral) Gemcitabine 300mg/m2 Paclitacel 60-80 mg/m2, setiap minggu (5-6 minggu) Docetaxel 20 mg/m2setiap minggu (5-6 minggu)

Kemoradiasi

penelitian clinical trial fase II . Kemoterapi yang dipakai antara lain Daxorubicin, golongan platinum, fluorouracil, siklofosfamid, ifosfamid, dan paclitaxel. Hasil penelitia menunjukkan kanker endometrium pasca operasi yang diikuti kemoterapi kombinasi memiliki angka survival lebih tinggi.Berikut ini rekomendasi pemberian kemoterapi: Karakteristik penderita Tumor stadium lanjut atau rekuren Tumor stadium lanjut atau rekuren dengan reseptor positif dan/atau grade 1 atau 2 Tumor stadium III-IVA d. Terapi Hormonal 1) Terapi primer Salah satu keunikan kanker endometrium adalah merespon terapi hormon. Progestin digunakan sebagai terapi primer wanita yang mempunyai resiko tinggi operasi. Namun terapi ini jarang dilakukan. Ini bisa saja merupakan satu-satunya pilihan terapi paliatif dalam beberapa kasus. Pada kasus yang jarang lainnya, pada adenocarcinoma stadium 1 yang sulit di operasi, intrauterine progestional dapat membantu. Namun terapi ini harus digunakan dengan hati-hati. 2) Terapi Hormonal Adjuvan Single-agent progestin telah menunjukkan aktifitas pada penderita dengan stadium lanjut. Tamoxifen memodulasi ekspresi dari progesteron reseptor dan 19 Rekomendasi Kemoterapi (cisplatin/doxorubicin/paclitaxel) Hormonal therapy (oral progestin atau magestrol asetat) Operasi diikuti kemoterapi

meningkatkan efikasi progestin. Tamoksifen dan progestin sebagai terapi adjuvan telah menunjukkan tingkat respon yang tinggi. Secara umum, toksisitas sangat rendah, kombinasi ini paling sering digunakan untuk penyakit rekuren. 3) Terapi Pengganti Estrogen Karena dugaan kelebihan estrogen sebagai penyebab perkembangan kanker endometrium, ada kekhawatiran bahwa penggunaan estrogen pada wanita dengan kanker endometrium dapat meningkatkan resiko kekambuhan atau kematian. Namun, efek seperti itu belum ada penelitiannya. Gog meneliti efek terapi pengganti estrogen secara acak pada 1236 wanita yang telah menjalani operasi kanker stadium I dan II dengan memberikan estrogen atau plasebo. Hasilnya terdapat kekambuhan yang rendah. Karena beresiko dan keamanannya belum terbukti, pasien harus diberi konseling hati-hati sebelum memulai rejimen estrogen pasca operasi. (Schorge JO, et al. 2008) 10. Patofisiologi Fibroblas Growth Factor Reseptor 2 (FGFR2) adalah reseptor tirosin kinase yang berperan dalam proses biologikal. Mutasi pada FGFR telah dilaporkan pada 10-12% dari kanker endometrium identik dengan penemuan yang didapatkan dari kelainan kraniofasial kongenital. Inhibisi pada FGFR2 diharapkan akan menjadi terapi masadepan bagi penderita kanker endometrium. Beberapa peneliti menduga terdapat dua peran FGFR2 dalam mempengaruhi endometrium, yaitu dengan menghambat proliferasi sel endometrium pada siklus menstruasi dan sebagai onkogen pada karsinoma endometrial. (Chiang W.2012) Selain itu, kadar hormon sex estrogen yang tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan masa dan jumlah sel lapisan uterus jika tidak terdapat cukup progesteron, salah satu hormon sex yang penting pada wanita. (Chiang W.2012) Siklus menstrual normal, rata-rata berlangsung 28 hari, terdapat 2 fase. Pada 2 minggu pertama, estrogen adalah hormon seks yang dominan. Estrogen menyebabkan lapisan sel uterus bertumbuh dan bertambah jumlahnya. Pada 14 hari selanjutnya, hormon sex yang dominan adalah progesteron. Progesteron menyebabkan kematangan sel sehingga lapisan uterus dapat menerima dan menutrisi ovum yang sudah difertilisasi. (Chiang W.2012)

20

Apabila tidak terdapat cukup progesteron, sel pada lapisan uterus (epitelium) akan bertumbuh dan bermultiplikasi semakin banyak. Hal ini disebut hiperplasia simpleks. Apabila situasi ini terus berlanjut, akan terbentuk kelenjar baru pada lapisan uterus. Hal ini disebut hiperplasia kompleks. Akhirnya, sel menjadi atipikal dan menunjukkan perilaku yang menyimpang. (Koplajar M.2012) Kadar estrogen yang tinggi tanpa diimbangi progesteron dapat ditemukan pada beberapa kondisi seperti : anovulasi dalam jangka waktu yang lama, mengkonsumsi estrogen dalam waktu lama, tumor penghasil estrogen, malfungsi tiroid, penyakit hepar. (Koplajar M.2012)

21

B. KONSEP MANAJEMEN 1. Pengkajian A. Data Subjektif 1. Biodata Nama :Selain sebagai identitas, upayakan agar bidan dengan Umur nama panggilan sehingga memanggil hubungan 55-

komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab. :Umur rata-rata penderita kanker endometrium adalah 66 tahun. Insidensi kanker endometrium pada wanita premenopause 5 kali lebih rendah daripada wanita yang telah mengalami menopause, Insidensi ini meningkat sesuai bertambahnya usia kemudian menetap setelah umur 70 tahun Suku/bangsa Agama Pendidikan :Data ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien .dan keluarga. :Sebagai dasar bagi bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan keluarga. :Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan. Informasi ini membantu klinisi memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya. Pekerjaan :Mengetahui pekerjaan pasien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran prematur dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja yang dapat merusak janin. Alamat 2. Alasan Datang 3. Keluhan Utama a. Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul b. Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause) c. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih d. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual. e. Siklus menstruasi yang abnormal 22 :Memudahkan komunikasi dan kunjungan rumah serta tahu lingkungan pasien.

4. Riwayat Kesehatan yang Lalu dan Sekarang Data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu bidan ketahui, yaitu apakah pasien atau sedang menderita penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, ginjal, hipertensi, atau hepatitis. (Sulistyowati: 114) Wanita premenopause dengan diabetes meningkatkan 2-3 x lebih besar berisiko terkena kanker endometrium jika disertai diabetes. Tingginya kadar estrone dan lemak dalam plasma wanita dengan diabetes menjadi penyebabnya. Hipertensi menjadi faktor risiko pada wanita pancamenopause dengan obesitas. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Seorang wanita dengan riwayat kanker kolon dan kanker payudara meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium. Begitu juga dengan riwayat kanker endometrium dalam keluarga. 6. Riwayat Kebidanan Meliputi riwayat kehamilan persalinan dan nifas 7. Riwayat KB Peningkatan risiko secara bermakna terdapat pada pemakaian kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dosis tinggi dan rendah progestin. Sebaliknya pengguna kontrasepsi oral kombinasi estrogen dan progestin dengan kadar progesterone tinggi mempunyai efek protektif dan menurunkan risiko kanker endometrium setelah 1-5 tahun pemakaian. 8. Pola Kebiasaan Sehari-Hari, terdiri dari: a. Nutrisi Perbedaan pola demografi kanker endometrium diperkirakan oleh peran nutrisi, terutama tingginya kandungan lemak hewani dalam diet. Konsumsi sereal, kacang-kacangan, sayuran dan buah terutama yang tinggi lutein, menurunkan risiko kanker yang memproteksi melalui fitoestrogen. b. Eliminasi c. Istirahat d. Aktivitas e. Kebersihan 9. Pola Seksual 10. Data Psikososial dan Spiritual

23

B. Data Objektif 1. Pemeriksaan Umum a. Keadaan Umum Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan kriteria: 1) Baik. Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain. b. Lemah. Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain. Kesadaran Untuk dapat mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). c. Tekanan Darah d. Nadi e. Pernapasan f. Suhu g. Berat Badan : 60-90 x/menit : 16-24 x/menit : 36,5-37,5o C : Obesitas meningkatkan risiko terkena kanker endometrium. Kelebihan 13-22 kg BB ideal akan meningkatkan risiko sampai 3x lipat. Sedangkan kelebihan di atas 23 kg akan meningkatkan risiko sampai 10x lipat. 2. Pemeriksaan Fisik Kepala Muka Mata Telinga Hidung Mulut Leher :Bersih/kotor, warna, mudah rontok/tidak. :Pucat atau tidak :Sklera putih/tidak, konjungtiva merah/pucat/tidak, ada gangguan penglihatan atau tidak. :Ada sekret/tidak, ada gangguan pendengaran/tidak :Ada sekret/tidak, ada polip/tidak. :Warna, integritas jaringan (lembab, kering, atau pecah-pecah), kebersihan, caries, stomatitis. Bagaimana :Apakah vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit jantung), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfa membengkak.

24

Abdomen : Genetalia :Warna, keputihan, oedem/tidak, ada bekas episiotomi/tidak, ada condiloma atau tidak Ekstremitas:pergerakan bebas/tidak, oedem/tidak, ada kelainan/ tidak, ada varises/tidak 3. Data Penunjang a. Pemeriksaan pelvik merupakan langkah awal pemerikasaan fisik pada kanker endometrium. Pada pemeriksaan pelvik, dokter memeriksa daerah sepanjang kandungan apakah terdapat lesi, benjolan, atau mengetahui daerah mana yang terasa sakit jika diraba. Untuk daerah kandungan bagian atas dokter menggunakan alat spekulum. b. Biopsi endometrial diperlukan untuk menegakkan diagnosis kanker endometrium. Pada pemeriksaan biopsi, akan diambil sebagian kecil dari lapisan uterus (endometrium) kemudian dilihat sediaan tersebut di mikroskop. Karena kanker endometrium dimulai di dalam uterus, c. Dilatasi dan kuretase : Caranya yaitu leher rahim dilebarkan dengan dilatator kemudian hiperplasianya dikuret. Hasil kuret lalau di PA-kan. Memasukkan kamera (endoskopi) kedalam rahim lewat vagina. Dilakukan juga pengambilan sampel untuk di PA-kan. Sampe jaringan endometrium yang didapatkan dari kuretase kemudian diperiksa di mikroskop. d. USG transvaginal. Transvaginal ultrasound, adalah suatu alat yang dimasukkan ke dalam rahim dan berfungsi untuk mengetahui ketebalan dinding rahim. Ketebalan dinding yang terlihat abnormal akan dicek lanjutan dengan pap smear atau biopsy. Pada pemeriksaan USG didapatkan tebal endometrium di atas 5 mm pada usia perimenopause. Pemeriksaan USG dilakukan untuk memperkuat dugaan adanya keganasan endometrium dimana terlihat adanya lesi hiperekoik di dalam kavum uteri/endometrium yang inhomogen bertepi rata dan berbatas tegas dengan ukuran 6,69 x 4,76 x 5,67 cm. e. Papanicolau Test adalah metode skrining ginekologi, dicetuskan oleh Georgias Papanicolau, untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh human papilomavirus. Pengambilan sampel endometrium, selanjutnya di periksa dengan mikroskop (PA).

25

Untuk menentukan stadium kanker endometrium, serangkaian pemeriksaan dibawah ini harus dilakukan sebelum operasi : a. Cek darah lengkap untuk memeriksa anemia dan kelainan darah. b. Antigen kanker 125. Pemeriksaan CA-125 diperlukan untuk mengetahui apakah kanker telah bermetastasis atau belum. c. Intravenous Pyelogram untuk memeriksa fungsi ginjal d. Foto roentgen untuk mengetahui apakah sel kanker telah bermetastasis ke uterus. e. Pemeriksaan imaging dilakukan sebelum operasi untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke abdomen dan pelvis. Ini dilakukan juga untuk membuat perencanaan terapi. Pemeriksaan imaging meliputi : f. Computed Tomography (CT) scan abdomen dan pelvis g. Magnetic Resonance Imaging (MRI) abdomen dan pelvis. MRI juga dapat membedakan kanker endometrium dari penyebaran servikal primary endocervical adenocarcinoma. h. Setelah diagnosis kanker endometrium ditegakkan, operasi dilakukan untuk mengangkat uterus, serviks, ovarium, tuba falopi. Prosedur ini dinamakan Histerektomi dengan bilateral salphingo-oophorectomy. Kadang kelenjar limfe pelvis juga diangkat. Jaringan yang diangkat kemudian diperiksa untuk menentukan stadium kanker. 2. Identifikasi Diagnosa/Masalah Dx Ds : P......Ab......dengan Ca Endometrium : ibu mengatakan Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause) Nyeri atau kesulitan dalam berkemih Nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Siklus menstruasi yang abnormal Do : a. Pada pemeriksaan USG didapatkan tebal endometrium di atas 5 mm pada usia perimenopause. Pemeriksaan USG dilakukan untuk memperkuat dugaan adanya keganasan endometrium dimana terlihat adanya lesi hiperekoik di dalam kavum uteri/endometrium yang inhomogen bertepi rata dan berbatas tegas dengan ukuran 6,69 x 4,76 x 5,67 cm.

26

KU TTV :

: baik : composmentis : 100/60 130/90 mmHg : 60-90 x/menit : 36,5-37,5o C : 16-24 x/menit : .........kg TD N S R

Kesadaran

Berat badan

3. Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial Langkah III merupakan langkah ketika bidan melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan. (Salmah, 2006: 160) 4. Kebutuhan Segera Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. (Salmah, 2006: 161) 5. Intervensi Dx : P......Ab......dengan Ca Endo Kehamilan Resiko Tinggi dengan Skor Pudji Rohyati..... Tujuan KH : Kehamilan berjalan dengan normal sampai persalinan tanpa penyulit : - KU baik - DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit) - TTV dalam batas normal TD : 100/60 130/90 mmhg N : 60-90 x/menit S : 36,5-37,5o C R : 16-24 x/menit Intervensi a. Pembedahan b. Radioterapi c. Kemoterapi d. Terapi Hormonal

27

6. Implementasi Sesuai dengan intervensi 7. Evaluasi Sesuai kriteria hasil

28

DAFTAR PUSTAKA Unknown. Endometrium. Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Endometrium tanggal 18 Januari 2012 Prawirohardjo.S. 2008.Ilmu Kandungan. Jakarta. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.. Anderton.C. Uteri Cancer Map. Diunduh dari http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/ad/Corpus_uteri_cancer_worl d_map_-_Death_-_WHO2004.svg tanggal 18 Januari 2012 Chiang. W. Uterine Cancer. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/258148overview#a0104 tanggal 21 Januari 2012 Schorge JO, et al. Endometrial Cancer. Dalam: Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Hoffman BL, Bradshaw KD, Cunningham FG. Williams Gynecology. USA:McGraw-Hill. 2008;9. Koplajar M. Uterine Cancer for Laymen and Student. Diunduh dari http://www.cancerlinks.org/Endometrial/index.html tanggal 21 Januari 2012 Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.

29