Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Dalam makalah ini kelompok kami menulis kajian ilmiah tentang Rhinolith. Seperti yang kami ketahui bahwa Rhinolith adalah batu seperti benda keras yang ditemukan di dalam rongga hidung. Rhinolith juga dianggap sebagai suatu benda asing tipe khusus yang biasanya diamati pada orang dewasa. Biasanya mempunyai inti benda asing dari luar tubuh, bakteri, pus, darah, mukus atau krusta. Rhinolith terjadi karena adanya corpus alienum yang telah lama tinggal dalam hidung (misalnya sejak kecil), kemudian terbungkus oleh endapan garamgaram kalsium atau magnesium sebagai ikatan fosfat atau karbonat yang berasal dari lacrima. Rhinolith lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Pada umur 15 tahun periode pertumbuhan telah terbentuk untuk pembentukan rhinolith. Bartholin mengenalkan pertama kali mengenai rhinolith pada tahun 1654. Sejak itu, lebih dari 600 kasus telah dilaporkan dalam literatur.Insidensnya adalah 1 dalam setiap 10.000 pada pasien rawat jalan otolaryngo. Biasanya usia rentan untuk diagnosis adalah antara 8 sampai dengan 25 tahun dan lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki. Meskipun sebagian besar rhinolith terdeteksi pada orang dewasa muda, mereka dapat ditemukan pada usia berapapun (6 bulan sampai 86 tahun)1

Tujuan makalah ini kami buat adalah memberikan informasi dan wacana lebih bagi kami pada khususnya dan pembaca pada umumnya mengenai Rhinolith.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung Dan Sinus Paranasalis

2.1.1 Anatomi hidung dan sinus paranasalis Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung, perlu diingat kembali tentang anatomi hidung. Anatomi dan fisiologis normal harus diketahui dan diingat kembali sebelum terjadi perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat berlanjut menjadi suatu penyakit atau kelainan 1

Anatomi hidung luar Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas ; struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge) , 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (hip), 4) ala nasi, 5) kolumela, dan 6) lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os nasal) , 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal ; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum.2

Gambar 1. Anatomi hidur luar 2

Anatomi hidung dalam Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior 2, 3

Gambar 2. Anatomi Hidung Dalam 2


3

Septum nasi Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh kartilago septum (kuadrilateral) , premaksila dan kolumela membranosa; bagian posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila , Krista palatine serta krista sfenoid 2-4

Kavum nasi Kavum nasi terdiri dari: Dasar hidung Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus horizontal os palatum 4 Atap hidung Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os sphenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh filament-filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior 4
Dinding Lateral

Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os etmoid, konka inferior, lamina perpendikularis os platinum dan lamina pterigoideus medial 4 Konka Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka ; celah antara konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior ; celah antara konka media dan inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka media disebut meatus superior. Kadang-kadang didapatkan konka keempat (konka suprema) yang teratas. Konka suprema, konka superior, dan konka media berasal dari massa lateralis os etmoid, sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan palatum 4

Gambar 3. Cavum nasi 2

Kompleks Ostiomeatal (KOM) Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan ressus frontal 3 Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung. Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal. Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka media 3 Jika terjadi sumbatan pada celah yang sempit ini maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait.

Gambar 4. Cavum nasi 3

Perdarahan hidung Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang cabang a.fasialis 4,5 Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina,a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis(pendarahan hidung) terutama pada anak 5,6 Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya . Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke
6

v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakanfaktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intracranial 6

Persarafan hidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media
5,6

Nervus olfaktorius. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung 2,3

2.1.2 Fisiologi hidung dan Sinus Paranasalis

Fisiologi hidung Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah : 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal ; 2) fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu ; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang ; 4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; 5) refleks nasal 5-7

Fisiologi sinus paranasalis Sinus paranasal secara fisiologi memiliki fungsi yang bermacam-macam. Bartholini adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa ronga-rongga ini adalah organ yang penting sebagai resonansi, dan Howell mencatat bahwa suku Maori dari Selandia Baru memiliki suara yang sangat khas oleh karena mereka tidak memiliki rongga sinus paranasal yang luas dan lebar. Teori ini dpatahkan oleh Proetz , bahwa binatang yang memiliki suara yang kuat, contohnya singa, tidak memiliki rongga sinus yang besar. Beradasarkan teori dari Proetz, bahwa kerja dari sinus paranasal adalah sebagai barier pada organ vital terhadap suhu dan bunyi yang masuk. Jadi sampai saat ini belum ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal . Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka 6-8 Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain adalah (1) Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning) Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak didapati pertukaran udara yangdefinitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung 6 (2) Sebagai penahan suhu (thermal insulators) Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas , melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya, sinus-sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organorgan yang dilindungi 6 (3) Membantu keseimbangan kepala Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.6,7

(4) Membantu resonansi suara Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat , posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Tidak ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah 6

(5) Sebagai peredam perubahan tekanan udara Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus 6 (6) Membantu produksi mukus. Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis 6

Gambar 5. Sistim Mukosiliar / Mucociliary Clearance 5

2.2 DEFINISI

Rhinolith dianggap sebagai benda asing tipe khusus yang biasanya diamati pada orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu masa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya masa seperti itu didalam hidung 3,10 Rhinolith adalah batu di dalam rongga hidung yang terbentuk hasil dari pengendapan senyawa organik dan anorganik dalam rongga hidung, yang menyebabkan sumbatan hidung unilateral, rhinorrhea, foetor, epistaksis, dan dapat menimbulkan komplikasi. Laporan mengenai rhinolith diterbitkan pertama kali pada tahun 1654 di mana Bartholini menggambarkan sebuah benda asing batu - keras yang tumbuh di sekeliling batu ceri. Istilah rhinolith ini pertama kali diciptakan pada tahun 1845 untuk menggambarkan sebagian atau seluruhnya pengapuran benda asing di dalam hidung. Analisis kimia pertama kali dilakukan oleh Axmann pada tahun 1829 yang berhasil mendeteksi komposisi batu ini umumnya terdiri dari 90% bahan anorganik seperti garam mineral, kalsium, fosfat, magnesium karbonat, besi, aluminium dengan sisa 10% yang terbuat dari bahan organik hasil lesi dari lendir hidung misalnya asam glutamate dan glycin. Penulis ini juga menduga bahwa zat besi eksogen mungkin menjadi penyebab pembentukan nidus karena sekresi fisiologis ( lendir hidung , air mata ) yang diproduksi di hidung tidak mengandung jumlah besi yang mencukupi untuk membentuk nidus rhinolith.

2.3 EPIDEMIOLOGI Rhinolith lebih sering ditemukan pada orang dewasa.Pada umur 15 tahun periode pertumbuhan telah terbentuk untuk pembentukan rhinolith. Bartholin mengenalkan pertama kali mengenai rhinolith pada tahun 1654. Sejak itu, lebih dari 600 kasus telah dilaporkan dalam literature. Insidensnya adalah 1 dalam setiap 10.000 pada pasien rawat jalan otolaryngo. Biasanya usia rentan untuk diagnosis adalah antara 8 sampai dengan 25 tahun dan lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki. Meskipun sebagian besar rhinolith terdeteksi pada orang dewasa muda, mereka dapat ditemukan pada usia berapapun (6 bulan sampai 86 tahun). 2,8-10

10

2.4 ETIOLOGI Rhinolith terjadi karena adanya benda asing yang telah lama tinggal dalam hidung (misalnya sejak kecil), kemudian terbungkus oleh endapan garam-garam kalsium atau magnesium sebagai ikatan fosfat atau karbonat yang berasal dari lacrima. Kalsifikasi benda asing di hidung dulunya dikenal dengan rhinolith palsu (false rhinoliths) atau rhinolith benar (true rhinoliths). Saat ini, istilah-istilah ini telah digantikan oleh eksogen dan endogen, tergantung apakah ada atau tidak ada inti. Rhinolith dapat terbentuk dari bahan di luar tubuh manusia yang masuk ke dalam hidung dan yang tersisa di dalam rongga hidung seperti batu berbentuk cherry, batu, nasal swab yang tertinggal, atau benda semacam ini yang disebut eksogen. Rhinolith endogen adalah bahan-bahan yang dikembangkan yang berasal di sekitar tubuh sendiri misalnya, gigi ektopik di sinus maksilaris, disekat tulang, bekuan darah yang mengering di rongga hidung, dan lendir mengeras. Sekitar 20% dari rhinolith berasal dari materi endogen. 9,10

2. 5 PATOGENESIS Meskipun patogenesis tidak jelas, sejumlah faktor dianggap terlibat dalam pembentukan rhinolith ini yaitu dengan masuknya benda asing dalam rongga hidung kemudian terjadi pemadatan, peradangan akut atau kronis, obstruksi terjadi akibat terhalangnya dan stagnasi mukus, serta pengendapan garam-garam mineral. Sekret hidung menjadi bau karena memiliki kandungan kalsium dan / atau magnesium yang tinggi. Sekresi tersebut harus terpapar dengan aliran udara dalam hidung untuk memusatkan pus dan mukus yang menyebabkan terbentuknya endapan garam-garam mineral. Perkembangan dan progresifitasnya terjadi bertahun-tahun.4 Pada umumnya rhinolith terdiri dari 90% bahan anorganik, dengan sisa 10% yang terbuat dari bahan organik dimasukkan ke dalam lesi dari sekret hidung. Garam-garam yang tidak larut dalam sekret hidung membentuk suatu kalsifikasi sebesar benda asing atau bekuan darah yang tertahan lama. Sekret pada sinusitis kronik dapat mengawali terbentuknya massa kalsifikasi dalam rongga hidung. Rhinolith ini terutama terbuat dari fosfat dan kalsium karbonat. Kadang-kadang juga dibentuk oleh magnesium fosfat, natrium klorida dan magnesium karbonat. Garam ini juga dapat berasal dari sekresi mukosa hidung, air mata, dan eksudat inflamasi.
1,2,7

11

Gambar 6. Tumpukan Mukus yang Membentuk Rhinolith 7

2.6 GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSA Gejala Klinis Rhinolith lebih sering terjadi pada orang dewasa. Sebagian besar ditemukan pada nares anterior, meskipun beberapa benda asing telah dilaporkan dapat masuk melalui koana selama muntah atau batuk. Dalam sebagian besar kasus, rinolit terletak di meatus nasal inferior. Gejala rhinolith bervariasi mulai dari yang ringan dengan keluarnya sedikit sekret atau sumbatan dari salah satu sisi hidung sampai yang berat dengan perubahan struktur yang hebat. Rhinolith yang berukuran kecil biasanya asimptomatik. Rhinolith yang berukuran besar dapat menyebabkan rhinorrhea unilateral, nyeri pada hidung, obstruksi nasal, napas yang berbau busuk (foetor), epistaksis, pembengkakan pada hidung atau wajah, sakit kepala, sinusitis, anosmia, dan epiphora. Epistaksis dan nyeri neuralgia timbul akibat terjadi ulserasi pada mukosa sekitarnya.4,8,9-12 Rhinolith juga dapat ditemukan di sinus maksilaris, namun ini suatu kejadian langka. Untuk saat ini, belum ada laporan tentang adanya kalsifikasi benda asing di salah satu sinus lainnya. Rhinolith hampir selalu terjadi secara unilateral. Rhinolithiasis bilateral dapat ditemukan setelah penghancuran septum hidung posterior.9

12

Diagnosa Anamnesis Gejala yang sering didapat adalah pasien mengeluhkan rhinorrhea yang purulen dan / atau hidung tersumbat ipsilateral, sekret yang berbau busuk, perdarahan, obstruksi nasal. Gejala lain termasuk bau mulut, epistaksis, sinusitis, sakit kepala dan, dalam kasus yang jarang terjadi, epiphora.4,12

Gambar 7. Cara Memeriksa Cavum Nasi 12 Pemeriksaan Fisis Tampak massa berwarna abu-abu, coklat, atau hitam kehijauan dengan permukaan yang ireguler. Massa ini terlihat pada cavum nasi, di antara konka dan septum nasi.Massa ini sering rapuh dan dapat terpotong sewaktu dilakukan pemeriksaan. Kadang-kadang massa ini dikelilingi oleh granulasi.11-13

13

Gambar 8. Rhinolith pada Rongga Hidung 12

Gambar 9. Rhinolith yang menyebabkan Obstruksi pada Cavum Nasi 12

14

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang diperlukan yaitu pemeriksaan radilogik dengan foto polos kepala dan CT scan kepala. Pemeriksaan endoskopi / rhinoskopi mikroskopis digunakan untuk mengidentifikasi benda asing pada tahap awal pengembangan.8,9 Pada pemeriksaan foto polos kepala untuk evaluasi harus mencakup beberapa proyeksi diambil dari sudut yang berbeda untuk mengevaluasi bentuk, ukuran, luas, lokasi, dan hubungan dengan jaringan sekitarnya. Pada pemeriksaan foto polos kepala akan tampak massa radioopak yang homogen atau heterogen dengan ukuran yang bervariasi dan bentuknya tergantung dari asal nidusnya. Jika batunya memiliki densitas yang rendah maka kemungkinan tidak dapat terlihat secara radiografi sampai terjadi kalsifikasi.Terkadang densitas batu ini dapat melebihi densitas tulang di sekitarnya. Untuk evaluasi maka diperlukan beberapa proyeksi dari sudut yang berbeda agar dapat dinilai bentuk, ukuran, lokasi, dan hubungan dengan jaringan sekitarnya.5 Pemeriksaan CT scan kepala dianjurkan karena sensitivitasnya untuk melihat jumlah kalsifikasi yang berukuran kecil dan juga dapat memberikan informasi tentang struktur yang berdekatan dan membantu menentukan batas rinolit dengan struktur sekitarnya yang telah menyatu. Pada pemeriksaan CT scan kepala tampak massa hiperdens pada cavum nasi, pendesakan dan perluasan pada tulang sekitarnya.5

Gambar 10. CT-Scan yang menunjukan Gambaran Rhinolith diantara Konka Inferior dan Septum 8

15

Gambar 11. Foto X-ray pada Sinus Paranasalis yang Menunjukan Gambaran Rhinolith 8

2.7 PENATALAKSANAAN Operasi pengeluaran rhinolith, debridement, dan kontrol infeksi dengan penggunaan antibiotik merupakan terapi pilihan untuk rhinolith. Operasi pengeluaran rhinolith dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal atau anestesi umum. Jika ukuran batu yang besar, permukaannya ireguler, dan mengenai konka nasalis inferior sinistra, maka pasien harus menjalani operasi dengan menggunakan anestesi umum. Rhinolith dikeluarkan dengan menggunakan forsep nasal. Kebanyakan rhinolith dapat dikeluarkan melalui nares anterior. Ukuran massa yang besar perlu dihancurkan terlebih dahulu dan dikeluarkan dalam bentuk potongan yang kecil. Jika massanya sangat besar, keras, dan permukaannya ireguler, maka perlu dilakukan Rhinotomi lateral.8,11,13 Batu yang masih berukuran kecil dan memungkinkan untuk di angkat tanpa operasi dapat dikeluarkan langsung endonasal dengan menggunakan alat pengait benda asing. Jika ukuran batu besar harus dihancurkan dan fragmen akan diangkat keluar. Namun jika ukuran batu sangat besar, mungkin diperlukan pembedahan radikal seperti kasus yang dilaporkan oleh Abu Jaudeh (1951) dan Myerson (1928). Dewasa ini pengangkatan batu juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat endoskopik nasal rigid dengan bantuan anastesi topikal.

16

Gambar 13. Berbagai Ukuran Massa Rhinolith 4

Gambar 14. Ukuran Rhinolith Besar yang dihancurkan menjadi beberapa Fragmen 4

2. 8 KOMPLIKASI Adanya rhinolith pada hidung dapat menyebabkan terjadinya sinusitis, perdarahan, erosi pada septum nasi, menyebabkan perforasi.3,8,9 sinus maksilaris dan palatum durum, bahkan dapat

17

Gambar 15. Komplikasi Rhinolith yang menyebabkan Erosi pada Septum Nasi 9

2.9 DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding adalah : a. Adanya gigi pada rongga hidung Yaitu gigi rahang atas yang tumbuh ke dalam hidung karena ada yang menghalangi pertumbuhan ke bawah dan jumlah gigi yang berlebih.3 b. Benda asing lain dalam cavum nasi Benda asing yang sering ditemukan biasanya pada anak-anak. Anak-anak cenderung memasukkan benda-benda kecil seperti manik-manik, kancing, karet penghapus, kelereng, kacang-kacangan, dan lain-lain.3 c. Polip nasi Polip nasi adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Keluhan utamanya ialah hidung tersumbat dari ringan sampai berat, rhinorrhea mulai jernih sampai purulen, hiposmia dan anosmia, dapat disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai rasa sakit pada daerah frontal, gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernapas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. 3
18

2.10 PROGNOSIS Prognosis untuk rhinolith setelah pengangkatan rhinolith pada umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat.7

19

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan Rhinolith dianggap sebagai benda asing tipe khusus yang biasanya diamati pada orang dewasa. Garam-garam tak larut dalam sekret hidung membentuk suatu masa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau bekuan darah. Sekret sinus kronik dapat mengawali terbentuknya masa seperti itu didalam hidung. Rhinolith lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Pada umur 15 tahun periode pertumbuhan telah terbentuk untuk pembentukan rhinolith. Rhinolith terjadi karena adanya benda asing yang telah lama tinggal dalam hidung (misalnya sejak kecil), kemudian terbungkus oleh endapan garam-garam kalsium atau magnesium sebagai ikatan fosfat atau karbonat yang berasal dari lacrima.Sekret hidung menjadi bau karena memiliki kandungan kalsium dan / atau magnesium yang tinggi. Sekresi tersebut harus terpapar dengan aliran udara dalam hidung untuk memusatkan pus dan mukus yang menyebabkan terbentuknya endapan garam-garam mineral. Perkembangan dan progresifitasnya terjadi bertahun-tahun. Untuk membuat diagnosa kita tegakkan dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dimana didapatkan adanya rhinorrhea yang purulen dan hidung tersumbat ipsilateral serta ditemukan massa keabuan dengan permukaan irreguler pada cavum nasi. Operasi pengeluaran rhinolith dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal atau anestesi umum. Jika ukuran batu yang besar, permukaannya ireguler, dan mengenai konka nasalis inferior sinistra, maka pasien harus menjalani operasi dengan menggunakan anestesi umum. Adanya rhinolith pada hidung dapat menyebabkan terjadinya sinusitis, perdarahan, erosi pada septum nasi, sinus maksilaris dan palatum durum, bahkan dapat menyebabkan perforasi. Prognosis setelah dilakukan pengangkatan rhinolith umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat.

20

3.2. Saran 1. Hendaknya selalu menjaga kebersihan hidung dengan dibersihkan 2. Menghindari benda asing masuk kedalam hidung 3. Bila hidung kemasukkan benda asing segera di keluarkan, apabila tidak dapat keluar, segera periksakan ke dokter.

21

DAFTAR PUSTAKA

1.

Balasubramanian.

Dr.

T,

M.S.D.L.O.

Rhinoliths.

Available

from

:http://www.drtbalu.com/rhinolith.html. Accessed: 04/08/2010. 2. Hilger P. Penyakit Hidung. Dalam : Higler AB. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6.Philadelphia : Boeis Fundamental of OTOLARYNGOLOGY. 1997.p 201-239 3. Nizar NW, Mangunkusumo E. Polip Hidung. Dalam : Soepardi A, dkk, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher.Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p 97-99 4. Ghorayeb BY. Picture of Rhinolith (Nasal Calculus).In Otolaryngology.Houston.

Available from: http://www.ghorayeb.com/Rhinolith.html. Accessed: 04/08/2010. 5. Examination of the Nose Anatomy of the Nose. Available from

:http://www.netterimages.com/product/978...13813.htm. Accessed: 10/08/2010 6. Netter's Head and Neck Anatomy for Dentistry. Available from

:http://www.netterimages.com/product/978...289.htm. Accessed: 10/08/2010 7. The Netter Collection of Medical Illustrations - Nervous, Part I - Anatomy and

Physiology. Available from: http://www.netterimages.com/product/978...v-95.htm. Accessed: 10/08/2010 8. Patil, Karthikeya, Mahima V Guledgud, Malleshi Suchettha N. Rhinoliths. Available from :http://www.ijdr.in/article.asp?issn=0970Accessed:

9290;year=2009;volume=20;issue=1;spage=114;epage=116;aulast=Patil. 04/08/2010

9. Ridder, Gerd J. The RhinolithA Possible Differential Diagnosis of a Unilateral Nasal Obstruction. Available from: http://www.hindawi.com/journalc/cm/2010/845671.html.

Accessed: 04/08/2010 10. Soedarjatni, dr. Foetor ex nasi. Available from: http://www.ghorayeb.com/Rhinolith.html. Accessed: 04/08/2010. 11. Dhingra, PL. Miscellaneous Disorders of Nasal Cavity. Disease Of Ear, Nose, and Throat. New delhi : B.I.Churchill Livingstone Pvt Ltd. 1998. 12. Ballenger, John Jacob, M.S,M.D. Epistaksis, Rinofima, Furunkulosis, Benda Asing di Hidung, Rinolit, Atresia Koana. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher, Edisi 13. 1994. P : 118-119. 13. Boies. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.EGC

22