Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL

A. PENGERTIAN Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998). Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawlins, 1993, dikutip Budi Anna Keliat). B. PENYEBAB 1. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan. a. Faktor Perkembangan Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dalam tahap perkembangan Masa bayi menetapkan landasan rasa percaya,Masa bermain mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri, Masa pra-sekolah yaitu belajar menunjukkan inisiatif dan rasa tanggung jawab dan hati

nurani,Masa sekolah yaitu belajar berkompetisi bekerjasama dan berkompromi,Masa pra Remaja menjadi intim dengan teman sesama jenis kelamin, Masa remaja yaitu menjadi intim dengan teman lawan jenis dan tidak tergantung pada orang tua, Masa dewasa muda yaitu menjadi saling tergantung dengan orang tua,teman ; menikah;mempunyai anak, Masa Tengah Baya yaitu belajar menerima,Masa Dewasa Tua yaitu berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya. Pada system keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon social maladaptive. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan dirinya dari orangtua. Norma keluarga mungkin tidak mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga. Peran keluarga sering kali tidak jelas. Orang tua pecandu alcohol dan penganiayaan juga dapat mempengaruhi seseorang berespon social maladaptive. Organisasi anggota keluarga bekerjasama dengan tenaga professional untuk mengembangkan gambaran yang lebih tepat tentang hubungan antara kelainan jiwa dan stress keluarga. Pendekatan kolaboratif sewajarnya mengurangi,menyalahkan keluarga oleh tenaga profeional. b. Factor Biologi Factor genetic dapat menunjang terhadap respon social maladaptive ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini. Namun tetap masih diperlukan penelitian lebih lanjut. c. Factor sosiokultural Isolasi social merupakan factor dalam gangguan berhubungan. Ini akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain ; atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti lansia,orang cacat,dan penyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma,perilaku,dan system nilai yang berbeda dari kelompok budaya mayoritas. Harapan yang tidak realistis terhadap hubungan merupakan factor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.

2. Factor Presipitasi Stressor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam kategori : a. Stressor sosiokultural Stress dapat ditimbulkan oleh : menurunnya stabilitas unit keluarga,berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya,misalnya karena dirawat di rumah sakit. b. Stressor psikologi Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan untuk ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tinggi.

C. PROSES TERJADINYA Proses terjadinya isolasi social adalah Klien yang gagal dalam mencapai suatu keinginan atau gagal dalam tujuan akan merasa bahwa ia tidak berharga dan tidak berguna, keadaan tersebut akan membuat individu takut salah untuk berbuat sesuatu, pesimis atau rasa tidak percaya diri, hal ini menimbulkan dampak perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain dan akan menghindari dari orang lain atau menarik diri. Sehingga timbul tanda dan gejala isolasi social seperti, klien ingin lari dari kenyataan tetapi karena tidak mungkin, maka klien menghindari atau lari secara emosional sehinga klien jadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan tidak ada keinginan untuk berperan. Akibatnya klien muncul tanda dan gejala halusinasi seperti klien mulai suka berbicara dan tertawa sendiri, bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu, berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu,disorientasi dan ingin memukul da melempar barang.

D. RENTANG RESPON SOSIAL

RESPONS ADAPTIF

RESPONS MALADAPTIF

- Solitut - Otonomi - Kebersamaan

- Kesepian - Menarik diri - Ketergantungan

- Manipulasi - Impulsive - Narkisisme

E. TANDA DAN GEJALA Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan (data objektif) : 1. Apatis, ekspresi, afek tumpul. 2. Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain. 3. Komunikasi kurang atau tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat. 4. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk. 5. Berdiam diri di kamar/tempat berpisah. 6. Klien kurang mobilitasnya. 7. Menolak hubungan dengan orang lain. 8. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. 9. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.

10. Posisi janin pada saat tidur. Data subjektif sukar didapat jika klien menolak berkomunikasi, beberapa data subjektif adalah menjawab dengan singkat kata-kata tidak, ya, tidak tahu.

F. ANALISA DATA

DATA FOKUS DO : Apatis, afek tumpul, tidak ada kontak mata (-), berdiam diri, tidak melakukan aktivitas, menolak berhubungan dengan orang lain. DS : klien hanya menjawab pertanyaan dengan katakata singkat tidak, ya, tidak tahu. DO : produktivitas menurun, perilaku destruktif pada diri sendiri dan orang lain, menarik diri, ekspresi wajah malu dan rasa bersalah, mudah tersinggung/marah. DS : klien suka mengkritik diri sendiri dan orang lain, klien bersikap negative pada diri sendiri, klien mengeluh sakit fisik, klien merasa cemas dan takut. DO : Disorientasi, klien berbicara dan tertawa sendiri, klien bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu, klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengar sesuatu. DS : klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak

MASALAH ISOLASI SOSIAL

HARGA DIRI RENDAH

HALUSINASI

berhubungan dengan stimulus nyata, klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yg nyata, klien takut pada suara/bunyi/gambar yg dilihat dan didengar.

G. POHON MASALAH HALUSINASI

ISOLASI SOSIAL

HARGA DIRI RENDAH

H. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI 1. Masalah Isolasi Sosial DO : Apatis, afek tumpuk, tidak ada kontak mata (-), berdiam diri, tidak melakukan aktivitas, menolak berhubungan dengan orang lain. DS : klien hanya menjawab pertanyaan dengan kata-kata singkat tidak, ya, tidak tahu.

2. Masalah Harga Diri Rendah DO : produktivitas menurun, perilaku destruktif pada diri sendiri dan orang lain, menarik diri, ekspresi wajah malu dan rasa bersalah, mudah tersinggung/marah.

DS : klien suka mengkritik diri sendiri dan orang lain, klien bersikap negative pada diri sendiri, klien mengeluh sakit fisik, klien merasa cemas dan takut.

3. Masalah Halusinasi DO : Disorientasi, klien berbicara dan tertawa sendiri, klien bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu, klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengar sesuatu. DS : klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata, klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yg nyata, klien takut pada suara/bunyi/gambar yg dilihat dan didengar.

I. PERENCANAAN Pertemuan Pertama Klien 1. Identifikasi penyebab isolasi social : a. Siapa yang serumah b. Siapa yang dekat c. Siapa yang tidak dekat 2. Keuntungan punya teman dan bercakap-cakap. 3. Kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap-cakap. 4. Latih cara memperkenalkan diri dan berkenalan dengan teman yang belum dikenal. 5. Masukkan pada buku kegiatan harian untuk berkenalan. Pertemuan Ke Dua Pertemuan Ke Dua Keluarga 1. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat klien. 2. Jelaskan pengertian tanda dan gejala dan proses terjadinya isolasi social. 3. Jelaskan cara merawat isolasi social. 4. Latih 2 cara merawat : berkenalan dan berbicara harian. 5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan pujian. saat melakukan kegiatan

1. Evaluasi kegiatan berkenalan (beberapa orang ), berikan pujian. 2. Latih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian ( latih 2 kegiatan ). 3. Masukkan pada buku kegiatan harian untuk latihan berkenalan dengan dua orang perawat, berbicara saat melakukan kegiatan.

1. Evaluasi berbicara

kegiatan saat

keluarga

dalam dan kegiatan

merawat pasien : berkenalan melakukan harian, berikan pujian.

2. Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat 3. Latih melibatkan cara pasien berbicara pasien sesuai (makan, sholat bersama). membimbing pasien berbicara dan beri pujian. 4. Anjurkan membantu jadwal. Pertemuan ke Tiga 1. Evaluasi kegiatan keluarga membimbing kegiatan pujian. 2. Jelaskan tentang obat yang diminum oleh klien dan cara membimbingnya. 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal,berikan pujian. Pertemuan Ke Empat 1. Evaluasi latihan berkenalan, dan bicara saat melakukan kegiatan harian,beri pujian. 2. Jelaskan follow Up ke PKM, tanda kambuh,rujukan. 3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal,beri pujian yang memenuhi telah

Pertemuan ke Tiga 1. Evaluasi kegiatan latihan, berkenalan (berapa pujian. 2. Latih cara berbicara saat melakukan kegiatan harian (latih 2 kegiatan) 3. Masukkan ke buku kegiatan harian untuk berkenalan 4-5 orang dan bicara saat melakukan kegiatan harian. Pertemuan Ke Empat 1. Evaluasi latihan berkenalan,dan bicara saat melakukan kegiatan harian,berika pujian. 2. Latih cara bisara social : belanja ke warung,meminta pertanyaan. 3. Memasukkan ke buku kegiatan untuk latihan berkenalan lebih dari 5 orang,orang baru,bicara saat melakukan kegiatan dan sosialisasi. sesuatu,menjawab orang) dan bicara saat melakukan dua kegiatan harian,berikan

dalam

kebutuhan dilatih,berika

klien dan bimbig klien melaksanakan

4. Nilai kemampuan yang telah mandiri atau teratasi.