Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Dunia sekarang ini terasa semakin sempit saja, hal ini disebabkan dengan adanya berbagai kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan transportasi, bahkan istilah buku adalah jendela dunia rasa-rasanya sudah tidak tepat untuk dipakai di masa sekarang ini, karena buku bukanlah satusatunya lagi sumber pengetahuan kita untuk mengetahui isi dunia ini. Kriminalitas adalah tindakan melawan hukum yang nampaknya di masyarakat kita sekarang ini sudah menjadi suatu hal yang tidak ditabukan lagi dan biasa, hal ini dapat kita lihat dengan makin banyaknya berita-berita tentang kriminalitas di berbagai media, bahkan sampai membuat media-media tersebut memberikan tempat tersendiri terhadap berita-berita tentang kriminalitas. Ini merupakan suatu hal yang sangat meresahkan, bahkan sekarang ini kriminalitas seolah-olah telah menjadi sebuah subculture atau salah satu bagian tersendiri dari budaya dalam masayarakat moderen (bukan lagi hanya sebuah penyimpangan pranata sosial belaka). Karena kriminalitas di dalam masyarakat sekarang ini bukan lagi merupakan sesuatu yang dirahasiakan lagi, melainkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat moderen, bahkan para pelaku kriminalitas sekarang ini tidak lagi malu akan perbuatan yang telah mereka lakukan, tetapi malah bangga dengan apa yang telah mereka lakukan, dengan anggapan sebagian dari mereka bahwa ini adalah lahan pekerjaan baru di tengah persaingan pencarian pekerjaan yang sangat ketat di jaman moderen ini. Hal ini juga yang akhirnya mendasari para pelaku kriminal menjadikan perbuatan mereka lebih profesional dengan berbagai cara, bahkan merekapun mendirikan organisasi-organisasi untuk mewadahi atau memperlancar aktifitas mereka, walaupun tidak semua tindakan kriminal bertendensi atau bermotif

ekonomi atau mencari untung, ada juga yang bermotif dendam, nafsu, dan bahkan ada pula yang hanya bermotif iseng belaka. Tindak kriminal di jaman moderen ini sudah sangat bervariasi, berbeda dengan jaman dahulu yang hanya mengenal tindak kriminal hanya sebatas pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan tindakan-tindakan lain yang sejenis, tetapi di jaman moderen ini tindak kriminal juga menjadi sangat beragam, mulai dari tindak-tindak kriminal umum semacam contoh di atas, hingga muncul juga tindak-tindak kriminal jenis baru seperti pemalsuan uang, pemalsuan surat-surat penting, kejahatan-kejahatan dalam dunia maya atau lebih dikenal dengan istilah cyber crime, dan masih banyak lagi. Hal ini berakibat semakin sulitnya kasus-kasus tentang kriminal yang ada untuk dipecahkan karena selain kasus yang ada semakin banyak, kasus-kasus tersebut juga berkaitan dengan kemajuan teknologi yang ada. Untuk itulah diperlukan adanya penanggulangan terhadap kejahatan atau kriminalitas, sehingga hal-hal seperti yang telah disebutkan diatas tidak perlu terjadi. Tentu saja untuk melakukan penanggulangan diperlukan berbagai sarana dan prasarana ditambah dengan ilmu pengetahuan yang menunjang penanggulangan terjadinya tindak kejahatan. Dalam bidang sarana dan prasarana penanggulangan kejahatan dapat disebutkan antara lain pihak kepolisian, adanya siskamling (sistem keamanan lingkungan), pembentukan hansip (pertahanan sipil) atau linmas (perlindungan masyarakat), adanya pos ronda, serta sarana dan prasarana yang lain. Sedangkan dari segi ilmu pengetahuan terdapat beberapa ilmu penunjang untuk menanggulangi adanya tindak kejahatan, antara lain kriminologi (mempelajari proses terjadinya kejahatan di masyarakat), kriminalistik (mempelajari berbagai macam tindak kejahatan), ilmu pengetahuan agama (untuk mencegah manusia berbuat jahat), pendidikan moral, dan lain sebagainya. Pencegahan ataupun penanggulangan saja tidaklah cukup, dibutuhkan juga hal-hal untuk menghadapi kejahatan yang telah terjadi, karena jika telah terjadi kita tidak bisa mencegah lagi, melainkan harus mengusutnya hingga tuntas, untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan seperti ilmu hukum pidana

(untuk menghadapi atau menentukan hukuman tindak kejahatan yang telah terjadi) ilmu hukum acara pidana (mengatur tata cara penyelesaian kasus pidana), dan ilmu forensik (untuk membantu mempermudah pengungkapan suatu kasus kejahatan). Jika dilihat secara sekilas, nampaknya ilmu forensik memiliki peranan yang penting dalam pengungkapan sebuah tindak kejahatan yang telah terjadi, terutama terhadap kasus-kasus yang sulit dipecahkan atau membutuhkan teknik khusus dalam pengungkapannya. Hal ini karena ilmu forensik memang diciptakan untuk mempermudah proses peradilan terutama dalam hal pembuktian, yang mana ilmu forensik sendiri terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan seperti pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, kedokteran forensik, antropologi, jurisprudensi, psikologi dan masih banyak lagi, sehingga orang sering menyebut ilmu forensik sebagai ilmu dewa, karena dengan ilmu forensik kita dapat mengetahui berbagai macam hal yang sebelumnya tidak kita ketahui (William G. Eckert, 1980: 2). Dilihat dari hal-hal yang telah dibahas di atas sebenarnya seberapa pentingkah arti dari ilmu forensik hingga kita terutama pihak peradilan sangat membutuhkannya? Ilmu forensik amatlah penting bagi peradilan, terutama pihak kepolisian karena untuk membantu memecahkan kasus atau tindak kejahatan yang terjadi, terutama kasus-kasus yang sulit untuk menentukan tersangkanya ataupun pembuktiannya. Dari hal-hal di atas dapat kita lihat bahwa sebenarnya ilmu forensik adalah ilmu pengetahuan yang amat vital dan penting terutama dalam hal penegakan hukum, karena tanpa adanya ilmu pengetahuan forensik maka penegakan hukum akan berjalan lambat sebagai akibat dari banyaknya kasus kejahatan yang tak terpecahkan. Tetapi sepertinya hal ini kurang disadari oleh masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari sedikitnya bahan-bahan pengetahuan tentang ilmu pengetahuan forensik berbahasa Indonesia yang khusus diterbitkan untuk khalayak umum, bukubuku yang ada masih dikhususkan untuk para akademisi dan para praktisi di bidang ini, selain itu masih ditambah pengetahuan masyarakat yang masih sempit terhadap arti dari ilmu pengetahuan forensik itu sendiri, mereka

menganggap ilmu pengetahuan forensik hanya sebatas pemeriksaan mayat untuk mengetahui sebab-sebab kematiannya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas maka peneliti membuat sebuah penelitian mengenai ilmu pengetahuan forensik secara dasar yang didalamnya menyangkut tentang proses-proses kerja dasar yang dilakukan oleh ilmu forensik dalam meneliti sebuah kasus tindak kejahatan sehingga dapat diketahui tentang berbagai macam hal yang pada akhirnya akan dapat menuntun ataupun langsung menunjukkan siapa pelaku dari tindak kejahatan tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritik 1. Penegakan Hukum Pidana dan Kriminalitas Hukum pidana adalah hukum sanksi (bijzondersanksi). Sifat sanksi ini menempatkan hukum pidana sebagai sarana untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keadilan. Untuk itu hukum pidana dapat membatasi kemerdekaan manusia dengan menjatuhkan atau menetapkan hukuman penjara (kurungan) dan bahkan lebih dari itu hukuman pidana dapat menghabiskan hidup manusia dengan hukuman matinya (S. Tanusubroto, 1983: 5). Dari hal diatas secara sekilas dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari adanya hukum pidana adalah untuk menjamin keamanan, ketertiban dan keadilan bagi masyarakat, dan tugasnya adalah menjatuhkan atau menetapkan hukuman bagi setiap tindakan yang dianggap dapat mengganggu keamanan, ketertiban, dan keadilan bagi masyarakat, sedangkan tindakan yang dapat menyebabkan terganggunya keamanan, ketertiban, dan keadilan bagi masyarakat biasa disebut sebagai tindak kejahatan ataupun kriminalitas. Kriminalitas di jaman moderen seperti sekarang ini sudah bukan merupakan sesuatu hal yang aneh lagi. Hal ini dapat kita lihat dalam media-media yang ada sekarang ini dimana mereka memberikan porsi tersendiri bagi berbagai kasus kriminalitas yang terjadi. Kriminalitas sendiri terjadi karena berbagai macam sebab atas ketidak puasan seseorang ataupun kelompok akan sesuatu. Tetapi bukan berarti karena kriminalitas sudah tidak aneh lagi maka kriminalitas dibiarkan begitu saja. Kriminalitas harus tetap di tanggulangi, hukum harus tetap ditegakkan. Di sinilah peran dari hukum pidana, yaitu memberi hukuman bagi setiap tindak kriminalitas yang terjadi.

Walaupun hukum pidana ditujukan untuk menghadapi tindak kejahatan atau kriminalitas, hukum pidana dalam penegakannya tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Melihat besarnya kekuasaan hukum pidana atas kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat, maka kewenangan menjatuhkan hukuman ini sangat dibatasi, juga alasan penjatuhan hukuman harus demi kehidupan bermasyarakat (untuk keaman, ketertiban dan keadilan), sehingga kewenangan tersebut hanya dipegang oleh penguasa tertinggi dari suatu bangsa yaitu negara. Negaralah yang berhak dan berwenang menjatuhkan hukuman demi menegakkan ketertiban masyaarakat ,seperti menurut BEYSENS bahwa telah menjadi kodrat alam, negara itu bertujuan dan berkewajiban mempertahankan tata tertib masyarakat atau ketertiban negara. Dengan demikian hukum pidana termasuk hukum publiek atau dapat disebut hukum umum, karena mengatur perhubungan antara negara, atau masyarakat dengan rakyat atau negara dengan bagian-bagiannya. Segala sesuatu ditinjau dari sudut kepentingan umum, sebab itu dimana perlu sering diikuti dengan sanksi hukuman atau pidana, apabila peraturan mengenai perhubungan itu dilanggar. Adanya sanksi itu dimaksudkan sebagai alat untuk menjaga atau menegakkan tata tertib dan keamanan dalam negara. Dalam hal ini negara atau pemerintah (wakil kepentingan umum) langsung bertindak karena mempunyai kepentingan langsung untuk menjaga kepentingan umum (S. Tanusubroto, 1983: 6 ). 2. Pembuktian Dalam Proses Acara Pidana Penanganan suatu perkara pidana mulai dilakukan oleh penyidik setelah menerima laporan atau pengaduan dari masyarakat ataupun diketahui sendiri tentang terjadinya tindak pidana, kemudian dituntut oleh penuntut umum dengan jalan melimpahkan perkara tersebut ke pengadilan negeri. Selanjutnya hakim melakukan pemeriksaan apakah dakwaan penuntut umum terhadap terdakwa terbukti atau tidak.

Bagian terpenting dari tiap-tiap proses pidana adalah, persoalan mengenai pembuktian, karena dari jawaban soal inilah tertuduh akan dinyatakan bersalah atau dibebaskan. Pasal enam ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang hakim mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Selanjutnya ketentuan tersebut diatas ditegaskan lagi dalam pasal 183 KUHAP yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya. Dalam penjelasan pasal 183 KUHAP disebutkan bahwa ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang adanya ketentuan tersebut dalam pasal 183 KUHAP menunjukkan bahwa negara kita menganut sistem atau teori pembuktian secara negatif menurut undang-undang (negatif wettelijk), dimana hakim hanya dapat menjatuhkan hukuman apabila sedikitdikitnya dua alat bukti yang telah ditentukan dalam kesalahan terdakwa terhadap peristiwa pidana yang dituduhkan kepadanya. Walaupun alat bukti lengkap, akan tetapi jika hakim tidak yakin tentang kesalahan terdakwa maka harus diputus bebas. Alat bukti yang sah menurut pasal 184 ayat (1) KUHAP adalah sebagai berikut: Keterangan saksi Keterangan ahli Surat Petunjuk Keterangan terdakwa

Dalam acara pemeriksaan cepat, keyakinan hakim cukup di dukung oleh satu alat bukti yang sah. Dengan kata lain walaupun hanya didukung oleh satu alat bukti yang sah, dan hakim yakin atas kesalahan terdakwa maka terdakwa tersebut dapat dihukum. Dengan demikian hakim baru boleh menghukum seorang terdakwa apabila kesalahaannya terbukti secara sah menurut undang-undang. Keterbuktian itu harus pula diperkuat dan didukung oleh keyakinan hakim . jadi walaupun alat bukti sebagaimana tersebut dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP terpenuhi, namun apabila hakim tidak berkeyakinan atas kesalahan terdakwa, maka terdakwa tersebut harus dibebaskan. Hal ini sejalan dengan tugas hakim dalam pengadilan pidana yaitu mengadili dalam arti menerima, memeriksa dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas jujur dan tidak memihak di sidang pengadilan (pasal satu butir sembilan KUHAP) (Ratna Nurul Afiah, 1988: 14). 3. Penyelidikan Untuk penyelidikan kita dapat melihatnya dalam Pasal empat KUHAP yang berbunyi Penyelidik adalah setiap pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, yang berwenang untuk melakukan penyelidikan. Sedangkan arti penyelidikan menurut Pasal satu butir lima KUHAP adalah Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang . Seperti halnya penyidik, penyelidik juga memiliki wewenang dalam menjalankan tugasnya, hal ini diatur dalam Pasal lima KUHAP yang berisi tentang wewenang penyelidik : Karena jabatannya, untuk : (1) Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana, (2) Mencari keterangan dan barang bukti;

(3) Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; (4) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Yang dimaksud dengan Tindakan Lain adalah tindakan dari penyelidik untuk kepentingan penyelidik, dengan syarat: i) ii) Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum; Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukannya tindakan jabatan; iii) Tindakan itu harus patut dan masuk akal dan termasuk dalam lingkungan jabatannya; iv) v) Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan memaksa; Menghormati hak asasi manusia (S. Tanusubroto, 1983:24). b) Atas perintah penyidik, penyelidik dapat melakukan tindakan berupa: (1) Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan; (2) Pemeriksaan dan penyitaan surat (3) Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; (4) Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik. Selain itu dalam Pasal 102 KUHAP dijelaskan bahwa penyelidik wajib melakukan tindakan penyelidikan dalam hal penyelidik mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana. Demikian juga dalam hal tertangkap tangan, penyelidik tanpa menunggu perintah dari penyidik wajib segera melakukan penyelidikan, dan untuk melakukan tindakan-tindakan itu, penyelidik harus membuat berita acaranya. Untuk melakukan tugas-tugasnya penyelidik wajib menunjukkan tanda pengenalnya (Pasal 104 KUHAP), dan dalam melaksanakan tugastugasnya itu penyelidik di koordinasi, diawasi dan diberi petunjuk oleh penyidik (Pasal 105 KUHAP).

4.

Penyidikan Mengenai penyidikan kita dapat melihat pada Pasal satu butir satu KUHAP yang berbunyi Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan jo Pasal enam ayat (1) dan (2) KUHAP, sedangkan kepangkatan untuk menjadi penyidik adalah : 1. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi atau jenis kepangkatan yang sederajat sekarang ini. 2. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda Tingkat I/ Golongan II-b, atau yang disamakan dengan itu. Akan tetapi di tempat-tempat tidak ada penyidik seperti yang ditentukan oleh undang-undang, maka tugas penyidik tersebut dilakukan oleh penyidik pembantu. Penyidik pembantu adalah: pejabat Kepolisian Negara RI, yang karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan yang diatur dalam KUHAP (Pasal satu butir tiga KUHAP). Bahkan dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik, maka komandan sektor Kepolisian yang berpangkat Bintara dibawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik ( Pasal dua ayat dua PPRI No. 27/ 1983 ). Untuk menjabat sebagai penyidik yaitu berdasarkan penunjukan oleh Kepala Kepolisian RI (Kapolri), sesuai peraturan perundangundangan a) yang berlaku, sedangkan untuk penyidik pembantu kepangkatannya adalah : Pejabat Polisi Negara RI tertentu, yang sekurang-kurangnya berpangkat Sersan Dua Polisi atau jenis kepangkatan yang sederajat sekarang ini.

b)

Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dalam lingkungan Kepolisian Negara RI, yang sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda/ Golongan II-a, atau yang disamakan dengan itu. Pengangkatan seseorang menjadi penyidik pembantu, yang berasal

dari Kepolisian diangkat oleh Kepala Kepolisian RI atas usul dari komandan atau pimpinan kesatuannya masing-masing. Sedangkan pengangkatan penyidik pembantu yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil dapat dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negara RI, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan tugasnya penyidik mempunyai wewenang, yang dalam hal ini diatur dalam Pasal tujuh KUHAP yang berbunyi : a) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal enam ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang: (a) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j) tindak pidana;

(b) Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; Memanggil orang untuk di dengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; Mengadakan penghentian penyidikan; Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

b) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal enam ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal enam ayat (1) huruf a. c) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Sebagaimana kita ketahui Penyidik tunggal untuk tindak pidana umum menurut KUHAP adalah Polisi. Akan tetapi penjelasan Pasal tujuh ayat (2) KUHAP menentukan, bahwa yang dimaksud sebagai Penyidik termasuk juga misalnya: Pejabat bea dan cukai, Pejabat Imigrasi dan Pejabat Kehutanan. Mereka ini melakukan tugas penyidikan dengan wewenang khusus yang diberikan oleh undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (S. Tanusubroto, 1983:20). 5. Barang Bukti Barang bukti (corpus delicti) disini adalah barang bukti kejahatan, meskipun barang bukti itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pidana, namun apabila kita simak dan perhatikan satu persatu peraturan perundang-undangan yang bernafaskan pidana (KUHP, KUHAP, dan peraturan perundangan pendukung lainnya) tidak ada satu pasal pun yang memberikan definisi/ pengertian mengenai barang bukti, tetapi Andi Hamzah dalam bukunya yang berjudul Kamus Hukum memberikan definisi mengenai barang bukti adalah sebagai berikut Istilah barang bukti dalam perkara pidana yaitu barang mengenai mana delik dilakukan (obyek delik) dan barang dengan mana delik dilakukan yaitu alat yang dipakai untuk melakukan delik misalnya pisau yang dipakai menikam orang. Termasuk juga barang bukti ialah hasil dari delik, misalnya uang negara yang dipakai (korupsi) untuk membeli rumah pribadi itu merupakan barang bukti atau hasil delik. ( Andi Hamzah, 1998: 100 ).

Disamping itu ada pula barang yang bukan merupakan obyek, alat atau hasil delik, tetapi dapat dijadikan barang bukti sepanjang barang tersebut mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana misalnya pakaian yang dipakai korban pada saat ia dianiaya atau dibunuh. Dalam Pasal enam ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman menyebutkan bahwa tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali apabila karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang hakim mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Dari hal di atas dapat kita ketahui betapa vitalnya fungsi barang bukti, sehingga hal ini menjadi tugas utama bagi penyidik maupun penyelidik, atau lebih khusus lagi bagi bagian forensik untuk dapat menemukan suatu barang bukti dalam sebuah delik, terutama jika delik tersebut merupakan delik yang amat rumit/ sangat sulit dalam pembuktiannya. 6. Ilmu Pengetahuan Forensik Pada jaman dahulu, penyelidikan dalam kasus-kasus yang melibatkan ilmu pengetahuan forensik hanya mengandalkan bukti fisik yang ada, barulah pada akhir pertengahan abad ke-19 dimana mulai banyak ditemukan alat-alat baru di bidang ilmu pengetahuan, penelitian di bidang ilmu forensik mulai menggunakan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dirasa dapat membantu dalam melakukan investigasi atau penyelidikannya. Ilmu-ilmu itu antara lain adalah kimia, mikroskopi, dan fotografi. Hal ini menyebabkan revolusi dalam kasuskasus yang sedang diselidiki pada waktu itu, dan meningkatkan validitas hasil dari penyelidikan yang sedang dilakukan. Kemajuan ilmu pengetahuan forensik di atas mendorong kerjasama antara pihak kepolisian dengan pihak forensik yang biasanya terdiri dari para ilmuwan atau akademisi di bidang kimia ataupun pharmakologi,

dimana pihak kepolisian yang mencari data atau bukti yang ada sedangkan para ilmuwan di bidang forensik yang akan meneliti bukti yang diberikan oleh pihak polisi (William G. Eckert, 1980:1). Seiring dengan perkembangan jaman dan meningkatnya penduduk maka jumlah kejahatan pun semakin meningkat, hal ini mendorong polisi mendirikan sendiri sebuah biro yang khusus untuk meneliti masalah forensik, dengan maksud untuk lebih menjangkau dan lebih fokus terhadap kasus-kasus yang ada. Perkembangan ilmu pengetahuan forensik moderen mulai tampak pada akhir abad ke-19. Secara pelan tapi pasti para ilmuwan forensik Amerika mendirikan American Academy of Forensic Sciences pada tahun 1950 yang dipimpn oleh Dr. R. H. Gradwohl of St. Louis, di Missouri. Di dalam American Academy of Forensic Sciences dapat dipelajari tentang pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, dokumen yang dipertanyakan, kedokteran gigi, antropologi, jurisprudensi, psikologi dan berbagai macam pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu forensik(William G. Eckert, 1980:2). 7. Ilmu Kedokteran Kehakiman Ilmu kedokteran kehakiman mulai muncul kira-kira 2000 tahun S.M. di Mesir yakni di Babylon yang mana terdapat undang-undang dari raja Hammurabi (codex Hammurabi) dan di dalamnya sudah terdapat konstitusi mengenai dasar ilmu kedokteran kehakiman. Kemudian pada jaman Romawi sewaktu pemerintahan Julius Caesar sudah ada kemajuan dalam ilmu kedokteran kehakiman, sehingga pada waktu Julius Caesar di bunuh oleh Brutus maka dapat diketahui bahwa dari 23 luka tusukan yang ada di tubuhnya hanya satu tusukan saja yang menyebabkan kematiannya yaitu tusukan di dadanya(R. Atang Ranumihardja,1983:10). Di masa sekarang ini ilmu kedokteran kehakiman diartikan sebagai ilmu yang menggunakan pengetahuan ilmu kedokteran untuk membantu peradilan baik dalam perkara pidana maupun perkara perdata. Ilmu

kedokteran kehakiman juga memiliki tujuan dan kewajiban yaitu membantu kepolisian, kejaksaan dan kehakiman dalam menghadapi kasus-kasus perkara yang hanya dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan kedokteran. Sebagian besar masalah yang diteliti dalam ilmu kedokteran kehakiman bersangkutan dengan suatu tindak pidana, dan yang terpenting dalam hal ini ialah kebanyakan untuk meneliti sebab akibat (causal verband) antara suatu tindak pidana dengan luka pada tubuh, gangguan kesehatan atau matinya seseorang. Di masa sekarang ini ilmu kedokteran Kehakiman atau juga disebut ilmu kedokteran forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain, misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi yang adil baik bagi pihak yang mengasuransi maupun yang diasuransi, dalam membantu memecahkan masalah paternitas (penetuan ke ayah-an), dan masih banyak hal lagi. Agar hal-hal di atas dapat berjalan dengan baik maka di dalam bidang ilmu kedokteran forensik dipelajari tata laksana mediko legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, hal ini agar semua dokter dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan serta kepentingan lain yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat. 8. Visum et Repertum Tugas pokok seorang dokter dalam membantu pengusutan tindak pidana terhadap kesehatan dan nyawa manusia adalah pembuatan Visum et Repertum. Sedangkan pengertian dari Visum et Repertum sendiri adalah yang dilihat dan diketemukan. Jadi Visum et Repertum adalah suatu keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan diketemukan di dalam

melakukan pemeriksaan terhadap orang yang luka atau terhadap mayat. Jadi merupakan kesaksian tertulis. Menurut pendapat Dr. Tjan Han Tjong Visum et Repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya Corpus Delicti (tanda bukti). Seperti diketahui dalam kejahatan yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia, maka tubuh korban merupakan Corpus Delicti. Dalam perkara pidana yang lain dimana Corpus Delicti nya suatu benda (tak bernyawa) pada umumnya selalu dapat diajukan di muka persidangan pengadilan sebagai barang bukti, akan tetapi tidak demikian halnya dengan Corpus Delicti yang berupa tubuh manusia, karena kondisinya tidak akan pernah tetap seperti pada waktu dilakukannya pemeriksaan., maka karenanya Corpus Delicti yang demikian itu tidak mungkin disediakan/ diajukan pada sidang pengadilan dan secara mutlak harus digantikan oleh Visum et Repertum(R. Atang Ranumihardja,1983:10). 9. Toksikologi Forensik Toksikologi Forensik adalah salah satu cabang dari ilmu forensik yang meneliti tentang racun. Istilah Toksikologi berasal dari bahasa yunani yaitu Toxicon yang berarti racun. Dalam dunia hukum di Indonesia batasan mengenai racun belum begitu jelas, walaupun tindakan meracuni seseorang dapat dikenai hukuman (Pasal 340 KUHP tentang penghilangan nyawa seseorang secara terencana). Tetapi baik di dalam KUHP maupun KUHAP tidak dijelaskan mengenai batasan atau definisi dari racun tersebut. Menurut Taylor, racun adalah setiap bahan/ zat yang dalam jumlah relatif kecil bila masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimiawi yang akan menyebabkan penyakit dan kematian.

Adapula yang mengartikan racun itu berdasarkan maksud dari si pemberi, misalnya: luminal jika diberikan dengan maksud sebagai pengobatan tidak dapat dikatakan sebagai racun, tetapi jika maksud pemberian adalah untuk menyakiti atau membunuh orang, maka luminal dapat dikatakan sebagai racun. Forensik toksikologi terbagi dalam tiga bagian: a) Toksikologi klinis (clinical toxicology) Obyeknya berupa orang hidup yang keracunan dan diusahakan ditolong dan dipunahkan racunnya. b) Toksikologi Industri (Industrial toxicology) Berusaha mencegah terjadinya keracunan-keracunan akibat industri baik bagi buruhnya ataupun orang-orang yang tinggal di sekitarnya. c) Toksikologi Forensik Termasuk dalam bagian kimia forensik (forensic chemistry). Obyeknya kebanyakan berupa mayat yang akan ditentukan sebab kematiannya, apakah akibat racun atau akibat lainnya yang ada hubungannya dengan perkara pidana. (R. Atang Ranumihardja,1983:58). Walaupun tidak secara jelas atau langsung dalam membuat batasan tentang racun, di dalam KUHP juga terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang masalah racun, yaitu pada pasal : a) 202 ayat (1) dan (2) b) 203 ayat (1) dan (2) c) 204 ayat (1) dan (2) d) 205 ayat (1) dan (2) Pasal-pasal di atas kesemuanya mengatur tentang berbagai tindakan yang dapat melukai ataupun mematikan seseorang dengan cara pemberian bahan tertentu kepada orang lain baik sengaja atau tidak . 10. Psikiatri Forensik

Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) dan Hukum, kedua-duanya menghadapi dan menanggulangi tingkah laku manusia, Psikiatri lebih banyak daripada hukum. Psikiatri mencari dan menentukan tenagatenaga dan daya-daya yang mengakibatkan perubahan-perubahan, penyimpangan-penyimpangan berusaha bagaimana caranya (deviasi-deviasi), tingkah laku dan untuk mengalihkan dan mengubahnya,

sehingga menuju kepada hubungan antar pribadi yang jelas, tenang dan baik, kepada tujuan-tujuan yang lebih konstruktif dan lebih tersosialisasi, sedangkan Hukum lebih banyak menghadapi kontrol sosial tingkah laku manusia (Tan Pariaman, Hasan Basri Saanin, 1983:13). Di dalam psikiatri sendiri terdapat cabang psikiatri yang khusus mempelajari psikiatri tentang kehakiman atau sering disebut psikiatri forensik. Masalah yang dihadapi oleh psikiatri forensik adalah masalahmasalah legal dan masalah medis, atau secara singkatnya dapat dikatakan bahwa tugas psikiatri forensik adalah mendukung hal-hal legal atau hukum melalui ilmu psikiatri. Untuk lebih jelasnya ruang lingkup dari psikiatri forensik adalah sebagai berikut: a) memasukkan penderita ke dalam Rumah Sakit Jiwa b) Psikiater dan hukum pidana c) d) e) Psikiater dan hukum perdata Indikasi bagi pemeriksaan psikiatris Psikiater sebagai saksi ahli. Dewasa ini tugas seorang psikiatri forensik tidak hanya

berhubungan dengan hukum dan undang-undang saja tetapi juga berhubungan dengan sosiologi, psikologi, pekerjaan sosial dan ilmu pengetahuan tingkah laku yang lain. (Tan Pariaman, Hasan Basri Saanin, 1983:19). 11. Antropologi Forensik Antropologi forensik adalah cabang dari antropologi fisik. Di dalam antropologi fisik kita lebih meneliti ciri-ciri dari manusia secara fisik. Ini

pulalah yang dilakukan oleh antropolog forensik, tetapi dalam antropologi forensik penelitian yang dilakukan lebih bersifat untuk kepentingan hukum. Antropologi forensik amat berguna dalam hal-hal sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) penyidikan pembunuhan kasus-kasus kriminal bencana massal kecelakaan penerbangan korban kekerasan perang dan lain lain. Sedangkan yang menjadi bidang penyidikan antropologi forensik adalah : a) b) c) d) e) f) g) h) identifikasi kerangka identifikasi korban yang terbakar identifikasi rambut identifikasi foto pelaku kejahatan identifikasi jejak kaki manusia identifikasi kuku jari manusia identifikasi sidik jari manusia identifikasi darah Selain bidang-bidang di atas ternyata masih ada bidang baru yang menjadi bagian dari antropologi forensik, bidang tersebut adalah identifkasi sidik bibir, walaupun tergolong sebagai bidang baru, identifikasi sidik bibir ini penelitiannya telah dilakukan sejak tahun 1970 an di Jepang dan telah dipakai dalam beberapa penyidikan kasus mengenai kejahatan seksual. Di Indonesia sendiri hal ini masih sangat asing dan baru sebatas wacana akademik, wacana sidik bibir di Indonesia digulirkan oleh Munakhir Mudjosemedi seorang dokter dan pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Wacana ini mulai digulirkan pada medio 1980 an.

(William G. Eckert, 1980:102)

Walaupun di indonesia masih sebatas wacana, identifikasi sidik bibir akan memeiliki masa depan yang cerah kedepannya nanti sama halnya dengan identifikasi sidik jari. 12. Masa Depan Ilmu Pengetahuan Forensik Mulai dari sejak diaplikasikannya ilmu pengetahuan forensik hingga sekarang ini, ilmu pengetahuan forensik telah berkembang dengan pesatnya, ini merupakan hal yang sangat menjanjikan di masa depan, menyediakan mengenai kelogisan dan ketepatan. Selain kemajuan pada ilmu pengetahuannya, juga terjadi kemajuan yang sama pesatnya pada bidang teknologi pendukungnya, mulai dari fotografi, sinar x, mikroskop, komputer, dan berbagai teknologi lain yang dibutuhkan oleh ilmu forensik. Ilmu forensik memiliki masa depan yang amat cerah karena kedepannya nanti kita akan sangat bergantung pada ilmu forensik dalam hal pengungkapan tindak-tindak kejahatan yang semakin banyak dan juga semakin canggih, apalagi ditambah dengan berbagai penemuan baru di bidang forensik seperti identifikasi dengan suara, identifikasi sidik bibir, proses identifikasi wajah sacara digital, dan masih banyak hal-hal yang lain. Sekarang ini seseorang dapat dengan mudahnya diidentifikasi dengan berbagai teknik. Mulai dari DNA sampai analisis sidik jari, identifikasi suara menggunakan garis dan bentuk print resonansi suara, scan retina, bahkan keringat pun dapat dijadikan alat untuk pengidentifikasian. Berikut ini beberapa kemajuan di bidang teknologi yang turut meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan forensik. Berbicara mengenai kemajuan di bidang teknologi pastilah tidak dapat dipisahkan dari komputer, salah satu penemuan abad 20 yang paling berpengaruh pada perkembangan peradaban umat manusia di dunia. Adanya komputer juga berimbas pada dunia ilmu pengetahuan forensik. Ketika data hanya

disimpan di kertas, tugas pencocokan sidik jari yang diambil di TKP dengan yang ada pada data polisi terlalu lama dan sulit, dan harus ditangani oleh petugas dengan kemampuan khusus, berbeda ketika penyimpanan data terpusat pada suatu sistem komputerisasi maka pencarian akan lebih mudah dan singkat, jika pelaku kriminal pindah ke area operasi yang baru maka tidak perlu bingung sebab data yang ada dapat diakses dari manapun juga. Penggunaan komputer di bidang forensik pertama kali dilakukan oleh pasukan kepolisisan pegunungan Kanada, mereka telah melengkapi proses komputerisasi untuk sidik jari mulai pada tahun 1973. Swedia mengikutinya di tahhun 1975, dan setahun kemudian di Jerman 17 juta data kriminal polisi telah dipindah ke data base komputer. Pada tahun 1990 komputer telah dapat men scan rata-rata 10 ribu sidik jari per detik. Waktu dan area pencarian pun dapat dengan mudah di rubah. Peran komputer dalam ilmu pengetahuan forensik tidak hanya sebatas untuk menyimpan sidik jari, tetapi juga untuk menyimpan datadata lain dari para pelaku kejahatan yang berguna dalam proses penyidikan. Selain komputer kemajuan yang lain adalah identifikasi dengan retina, belum banyak diketahui orang bahwa retina manusia tidak sama, sehingga hal ini bisa dijadikan alat identifikasi, ini telah dipraktekkan pada sistem-sistem keamanan tingkat tinggi dimana pengguna memakai pemindaian retina sebagai indentitas personal. Lalu penggunaan infra merah untuk mengamati keaslian suatu tulisan, dengan melihat tekanan pemakaian pena. Kemudian pengidentifikasian menggunakan suara, setiap orang memiliki karakter suara yang tersendiri, dengan merekam pada pita magnetic maka akan diketahui perbedaan frekuensi yang ada, sehingga ketika dilihat akan membentuk garis dan pola bentuk suara. Di amerika pemakaian identifikasi suara telah dipakai dalam beberapa kasus yang mana tersangka hanya diketahui berdasar suaranya saja. Kemudian ada lagi identifikasi menggunakan keringat, hal ini dilakukan dengan teknik chromatography, yaitu

pemindaian keringat menggunakan alat yang sangat sensitif yang dapat menghasilkan berbagai macam warna dari sebuah keringat seseorang, ini sama uniknya dengan identifikasi sidik jari. Itu semua adalah beberapa kemajuan dari ilmu pengetahuan forensik sampai dengan saat ini, dan sampai sekarang pun ilmu pengetahuan forensik terus dikembangkan baik dari segi keilmuannya ataupun dari segi teknologinya. Bukan tidak mungkin nantinya semua kasus tindak kejahatan akan dapat diungkap oleh ilmu pengetahuan forensik, hal ini dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan forensik yang semakin maju sekarang ini. Tetapi masa depan yang cerah ini akan menjadi suram jika ilmu pengetahuan forensik tidak dapat berinovasi mengikuti perkembangan yang ada, karena nantinya dapat dipastikan tindak kejahatan juga akan berinovasi untuk mencoba melangkah lebih maju dari teknik yang mereka pakai sekarang ini ataupun teknik yang di pakai oleh para penegak hukum.

B. Kerangka Pemikiran Orang sering menyebut ilmu pengetahuan forensik sebagai ilmu pengetahuan dewa, hal ini karena dengan ilmu forensik kita menjadi tahu segala sesuatu yang tak diketahui, atau mengetahui sesuatu yang tadinya tidak kita ketahui. Dalam dunia penegakan hukum di jaman yang moderen ini ilmu pengetahuan forensik merupakan hal yang vital bagi kelangsungan penegakan hukum di dunia, karena tanpa ilmu pengetahuan forensik akan banyak kasuskasus kejahatan yang tak akan terungkap. Untuk contoh kasus yang sederhana kita dapat melihat dari kasus kematian Munir sang pahlawan hak asasi manusia di Indonesia yang meninggal dalam penerbangan pesawat Garuda menuju Belanda. Coba kita bayangkan jika tidak ada ilmu pengetahuan forensik di dunia ini, tentunya kita akan menganggap kasus kematian Munir hanyalah sebuah kematian biasa yang disebabkan oleh serangan jantung,

tetapi dengan adanya ilmu pengetahuan forensik, kita jadi mengetahui bahwa kematian Munir disebabkan oleh Arsenic sebuah zat kimia yang sering digunakan untuk membunuh karena sangat sulit dilacak dan menyebabkan kematian menyerupai gejala gastrointestinal yang hebat, atau orang awam menganggapnya terkena suatu penyakit ( jantung ). Seperti dalam sebuah serial yang cukup ternama di televisi (X-files) kita dapat menemukan istilah the truth is out there (kenyataan/ kebenaran ada di luar sana), hal ini dapat menggambarkan bagaimana penyidikan forensik di dasari atau berdasar. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa kenyataan atau kebenaran ada dalam setiap Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan untuk menemukannya dilakukan dengan langkah ilmiah, yaitu mengumpulkan data, mengamati data, mengetes data, kemudian memformulasikan data, memodifikasi data dan membuat hipotesa hingga pada akhirnya hanya terdapat satu kesimpulan. Itulah ilmu pengetahuan forensik, sebuah ilmu pengetahuan yang sangat memberikan andil dalam sejarah perkembangan umat manusia di dunia ini dan sangat menarik untuk diteliti. Kriminalitas

Penegakan Hukum Pidana

Ilmu Bantu Ilmu Forensik

Proses Acara Pidana Penyelidikan/ Penyidikan Pembuktian

Fakta

A. Fungsi Ilmu Pengetahuan Forensik 1. Pengertian Dasar Tentang Ilmu Pengetahuan Forensik Ilmu pengetahuan forensik adalah sebuah ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk membantu proses peradilan, terutama dalam bidang pembuktian (David Owen, 2000:12). Sehingga di dapat bukti-bukti yang sulit ditemukan dengan cara biasa, dan memerlukan metode-metode tertentu dalam pencariannya. Dengan ditemukannya bukti tersebut diharapkan pengadilan dapat memberi putusan yang tepat, sehingga hukum dapat ditegakkan dengan benar. Ilmu pengetahuan forensik berkembang seiring dengan semakin banyaknya tindak kejahatan yang terjadi dalam masyarakat. Dalam ilmu pengetahuan forensik itu sendiri terdapat berbagai cabang ilmu yang berasal dari ilmu pengetahuan lain (hukum, kedokteran, kimia, psikologi, antropologi) sehingga menjadikan obyek kajian ilmu pengetahuan forensik sangat luas (kedokteran forensik, kimia forensik, psikologi forensik, antropologi forensik, dan lain-lain). Berdasarkan kenyataan, hal tersebut tidak begitu diketahui orang, sehingga kebanyakan orang menganggap forensik hanyalah sebuah ilmu untuk memeriksa mayat, walaupun anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Pada dekade-dekade akhir ini kemajuan ilmu pengetahuan forensik sangat cepat, karena ditunjang oleh kemajuan teknologi yang juga cukup pesat, sehingga menjadikan obyek kajian ilmu pengetahuan forensik semakin luas yaitu dengan masuknya berbagai teknik identifikasi menggunakan teknologi tinggi, dan kini penggunaan ilmu pengetahuan forensik tidaklah hanya terbatas pada lingkungan pidana, lingkungan perdata pun juga ikut memakai ilmu pengetahuan forensik untuk

melakukan pembuktian (pembuktian keaslian suatu kontrak atau tulisan, pembuktian hubungan ke ayah-an atau paternitas). 2. Sejarah Ilmu Pengetahuan Forensik Ilmu forensik yang ada sekarang ini sebenarnya berasal dari

peradaban cina kuno. Hal ini diketahui dari sebuah arsip yang ditemukan pada abad ke-17 yang menunjukkan tentang seorang hakim yang hidup seribu tahun sebelumnya pada masa pemerintahan dinasti Tang. Hakim ini bernama Ti Jen Chieh, dia dikenal selalu menggunakan logika dan bukti atau petunjuk forensik untuk membantu memecahkan misteri berbagai tindak kejahatan di akhir abad ke tujuh sesudah masehi. Dalam kerjanya Ti menggunakan tim penyelidik atau investigator untuk memepelajari tempat tindak kejahatan, memeriksa dan menguji bukti fisik, dan mewawancarai saksi-saksi atau tersangka. Metode dan peralatan yang digunakan oleh Ti terdapat sedikit kemiripan dengan metode dan peralatan forensik sekarang ini. Perkembangan ilmu forensik mulai terlihat banyak pada masa penemuan ilmiah yaitu di abad 16, 17, dan 18. Hal ini diawali dengan penemuan mikroskop oleh Zacharias Jansen di tahun 1590, sebuah penggunaan penggabungan dari lensa-lensa untuk menghasilkan gambar yang lebih besar dari kaca pembesar biasa, alat ini kemudian digunakan untuk meneliti atau menganalisa sidik jari secara lebih dekat dan kemudian dibandingkan dengan sidik jari yang ada di catatan ataupun yang ada di tempat kejadian, tetapi mikroskop ini baru bisa menghasilkan pembesaran sebesar 10 kali. Pada abad 17 muncullah pengembangan dari mikroskop terdahulu, mikroskop ini dapat menghasilkan pembesaran 300 kali, kemampuan yang sedemikian besar memungkinkan para ahli forensik untuk menganalisa benda-benda yang kecil seperti rambut dan serat-serat, contoh darah, atau potongan dan sisa-sisa bahan yang lain. Pada tahun 1880 dikembangkanlah mikroskop yang mampu menghasilkan pembesaran sampai dengan 2000 kali, kemudian disebut dengan mikroskop stereoskopik karena menggunakan sistem mata dan

lensa ganda, hal ini semakin memudahkan kerja para ahli forensik. Pada tahun 1920 an Phillip Gravelle dan Calvin Goddard yang bekerja di biro forensik dan balistik New York, telah mengembangkan mikroskop yang dapat menghasilkan gambaran secara tiga dimensi, sehingga makin mempermudah tugas para ahli forensik dalam menganalisa suatu bukti atau petunjuk. Bahkan sekarang ini juga terdapat mikroskop yang dapat digunakan dengan sinar infra merah sehingga dapat untuk menunjukkan sama atau tidaknya dokumen yang telah dirusak. Perkembangan ilmu pengetahuan forensik juga tidak dapat dilepaskan dari fotografi, prinsip pada film fotografi telah ditemukan pertama kali oleh seorang penemu Jerman yang bernama Johan Heinrich Schultze, tetapi penemuannya belum sempurna sampai kemudian pada tahun 1826 disempurnakan oleh seorang purnawirawan Perancis yang bernama Joseph Nicephore Niepce yang 13 tahun kemudian bekerjasama dengan Louis Daguerre untuk lebih menyempurnakan konsep fotografi, yang kemudian disebut dengan Daguerrotype. Dalam perkembangannya Daguerrotype dirasa kurang sempurna karena hanya bisa menghasilkan satu gambar dalam sekali pencahayaan, akhirnya teknik negatif ditemukan oleh William Fox Talbot, teknik negatif memungkinkan pembuatan gambar positif yang lebih banyak dan lebih cepat, dan hingga kini teknik negatif telah mengalami berbagai perkembangan yang cukup pesat, akhirnya fotografi telah digunakan secara rutin untuk merekam bukti atau petunjuk di tempat kejadian perkara (TKP), detail dari korban, dan memgambil gambar subjek-subjek yang terlibat dalam tindak kejahatan sehingga dapat mempermudah proses pengidentifikasian nantinya, bahkan kini telah ada teknologi fotografi yang lebih maju dari teknik negatif yaitu teknik fotografi digital yang dapat menghasilkan gambar lebih murah dan lebih mudah dari fotografi negatif. Selain berbagai kemajuan yang telah disebutkan di atas ada satu lagi teknik penyidikan yang paling dasar yang tidak dapat ditinggalkan

dalam setiap proses penyidikan, hal tersebut adalah penyidikan menggunakan sidik jari. Teknik dasar penyidikan menggunakan sidik jari telah berkembang sejak tiga ribu tahun yang lalu di Cina kuno, dimana telah dilakukan penggunaan cap jempol para pihak yang terlibat dalam perjanjian-perjanjian legal yang mereka buat, budaya ini juga terjadi di Jepang. Barulah pada abad ke-19 seorang Inggris yang telah meninggalkan negerinya, bernama Dr. Henry Faulds yang bekerja di sebuah rumah sakit di Tokyo mulai mengembangkan teknik penyidikan sidik jari setelah ia terlibat penyidikan terhadap sebuah kasus pencurian yang meninggalkan sidik jari si pencuri, bahkan kemudian Dr. Henry Faulds menjadi sukarelawan pendanaan biro sidik jari (fingerprints beareau) pada Scotlands Yard markas besar kepolisian London. Perkembangan ilmu pengetahuan forensik modern mulai tampak pada akhir abad ke-19. Secara pelan tapi pasti para ilmuwan forensik Amerika mendirikan American Academy of Forensic Sciences pada tahun 1950 yang dipimpin oleh Dr. R. H. Gradwohl of St. Louis, di Missouri. Di dalam American Academy of Forensic Sciences dapat dipelajari tentang pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, dokumen yang dipertanyakan, kedokteran gigi, antropologi, jurisprudensi, psikologi dan berbagai macam pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu forensik. Masih banyak penemuan-penemuan lain yang turut

mengembangkan ilmu pengetahuan forensik, mulai dari munculnya ilmu Toxicology (mempelajari tentang racun), lalu mulai dikenalnya ilmu balistic (mempelajari tentang akibat dari senjata), kemudian diperkenalkannya sistem pendokumentasian pelaku kejahatan secara detail pada akhir abad 19, yang dikenal dengan istilah Bertillon system, karena dikembangkan oleh seorang Perancis yang bernama Alphonse Bertillon. Kemudian pada tahun 1970-an di Jepang telah dikembangkan teknik penyidikan baru yaitu menggunakan sidik bibir dan sudah di coba digunakan sebagai alat identifikasi dalam kasus kejahatan, biasanya terjadi pada kejahatan-kejahatan seksual(David Owen, 2000:13).

3. Fungsi Ilmu Forensik Fungsi ilmu forensik adalah membuat suatu perkara menjadi jelas, yaitu dengan mencari dan menemukan kebenaran materiil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu perbuatan ataupun tindak pidana yang telah terjadi (David Owen, 2000: 26). Sedangkan ilmu forensik adalah bagian dari penyidikan, dan penyidikan itu sendiri adalah suatu proses untuk mempelajari dan mengetahui apa yang telah terjadi di masa yang lampau dan dalam kaitannya dengan tujuan dari penyidikan itu sendiri, sehingga untuk menghasilkan penyidikan yang benar-benar valid penyidik dengan seyogianya harus melakukan penyidikan dengan sebaik-baiknya. Dalam menjalankan tugas yang dibebankan pada penyidik, umumnya penyidik memanfaatkan ilmu forensik untuk mendapatkan sumber-sumber informasi yang dapat membuat jelas dan terang suatu perkara, sesuai dengan fungsi dari ilmu forensik itu sendiri. Sumbersumber informasi yang dipakai untuk mengetahui apa yang telah terjadi antara lain adalah : 1. Barang-barang bukti (physical evidence) seperti : a. Anak peluru b. Bercak darah c. Jejak (impression) dari alat, jejak ban, jejak sepatu d. Narkotika e. Tumbuh-tumbuhan 2. Dokumen serta catatan-catatan,seperti: a. Cek palsu b. Surat penculikan c. Tanda-tanda pengenal diri lainnya d. Catatan tentang ancaman 3. Orang-orang seperti:

a. Korban b. Saksi-saksi mata c. Si-tersangka pelaku kejahatan d. Hal-hal lain yang berhubungan dengan korban, tersangka dan keadaan di TKP (Abdul Munim Idries, Agung Legowo Tjiptomartono, 1982: 4). Untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber informasi tersebut tentu dibutuhkan pemahaman dan bantuan dari ilmu forensik yang memiliki berbagai bidang kajian, seperti pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, dokumen yang dipertanyakan, kedokteran gigi, antropologi, jurisprudensi, psikologi, kimia, fisika, dan khususnya dalam tindak pidana yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia diperlukan pemahaman serta penguasaan prinsip-prinsip dasar dari ilmu kedokteran forensik yang praktis (Baik secara tersendiri yaitu pemahaman serta penguasaan prinsip-prinsip dasar ilmu kedokteran kehakiman yang praktis oleh penyidik, maupun secara keseluruhan dalam arti bantuan dokter dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya merupakan sumbangan yang besar artinya dalam penyidikan demi terwujudanya tujuan dari penyidikan itu sendiri, yaitu membuat terang dan jelas suatu perkara). Seperti diketahui bahwa penyidik adalah merupakan pusat dan pimpinan dalam penyidikan. Semua aktifitas atau kegiatan serta tindakan yang diambil dalam mencari kejelasan seperti yang dimaksud adalah sepenuhnya tergantung dari kebutuhan atau sesuai dengan kebutuhan bagi penyidikan. Perlu tidaknya suatu pemeriksaan atau langkah-langkah yang harus diambil dan sampai sejauh mana bantuan ahli diperlukan dalam usaha mencari kejelasan seperti yang dimaksud dalam fungsi ilmu forensik, penyidikan yang menentukan. Ini tidaklah berarti bahwa penyidik menutup diri dari setiap pendapat atau saran yang disampaikan oleh ahli, yang sesungguhnya merupakan partner yang berguna dalam penyidikan suatu perkara tindak pidana.

Berpijak

pada

kenyataan

diatas,

berhasil

atau

tidaknya

penggunaan ilmu forensik dalam penyidikan ditentukan oleh kualitas penyidik, dan mengingat bahwa dalam penyidikan sering dibutuhkan bantuan dari berbagai ilmu pengetahuan maka dengan demikian diperlukan kriteria yang harus ada pada setiap penyidik, agar dapat menjadi seorang penyidik yang baik, yaitu: 1. Cerdas 2. Mempunyai keinginan untuk mengetahui dan memiliki imajinasi 3. Memiliki pengamatan yang tajam serta ingatan yang kuat 4. Mengetahui tentang kehidupan dan masysrakatnya 5. Menguasai teknik yang dibutuhkan 6. Memiliki ketabahan 7. Harus bebas dari prasangka dan sikap berat sebelah 8. Memiliki kejujuran dan keberanian 9. Cukup peka dan tanggap serta penuh pertimbangan 10. Memiliki kondisi fisik yang baik dan penampilan yang rapih 11. Mempunyai kemampuan membuat laporan tertulis dengan baik Bantuan ilmu forensik dalam penyidikan perkara tindak pidana yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia dalam garis besarnya dapat dibagi menurut tahapan-tahapan sebagai berikut, yaitu: 1. Pada pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) 2. Pada pemeriksaan korban baik pemeriksaan terhadap korban yang telah menjadi mayat maupun pada pemeriksaan korban kejahatan seksual 3. Penganiayaan dan dan lain sebagainya 4. Pada saat dilakukannya rekonstruksi suatu kejahatan dan interogasi (Abdul Munim Idries, Agung Legowo Tjiptomartono, 1982: 6).

B. Peranan Ilmu Forensik Dalam Usaha Untuk Memecahkan Kasus-kasus Kriminalitas Berdasar dari hal-hal diatas dapat kita amati bahwa ilmu forensik merupakan ilmu yang sangat menarik untuk dikaji, hal ini karena sejarah yang panjang dari ilmu forensik itu sendiri, lalu dukungan kemajuan teknologi terhadap kemajuan ilmu forensik, dan selain itu tentu saja karena ilmu forensik memiliki bidang kajian yang sangat banyak. Untuk itu berikut ini akan dibahas beberapa contoh kasus yang berhasil dipecahkan oleh ilmu forensik ataupun bagian-bagiannya. 1. Psikiatri Forensik dan Peranannya Dalam Memecahkan Kasus Kriminalitas Pada bagian ini akan dibahas kasus mengenai karena kurang sempurna akalnya dan sakit berubah akal atau dalam bahasa medisnya skizofrenia kronis dan debilitas mentis. M. bin S., laki-laki Sunda, umur 27 tahun, telah dikirim oleh Jaksa Tasikmalaya dengan Surat Ketetapan Hhtng ggakim Pengadilan Negeri Tasikmalaya, untuk diperiksa kesehatan jiwanya. Dituduh telah membunuh seorang guru sampai meninggal. Mulai dirawat tanggal 19 Maret 1970, pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor tanggal 21 Mei 1969 dan melarikan diri pada tanggal 22 Agustus 1969. M. adalah seorang pendiam, sedikit sedih, menjawab seperlunya. Perasaan datar, acuh tak acuh dan hormat, sopan. Pakaiannya bagi orang kampung cukup bersih dan teratur. Pendidikan hanya sampai kelas Lima Sekolah Dasar (SD) dan kemudian membantu ibunya jualan di warung. Sebab dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor: banyak bicara, melempari rumah orang, karena merasa selalu panas dan selalu pusing , rasa distroom, segan dan malas, kurang tidur. Halusinasi dengar: mendengar suara perempuan dalam jiwanya sendiri yang merayu, mengajak, menghina.

Halusinasi lihat : bayangan laki-laki dan wanita itu. Halusinasi cium : bau makanan, bau obat, bau rokok, bau minyak. Halusinasi raba : pernah merasa dipegang 1x, di iga dan lengan. Lari dari bogor karena kesal Sebab membunuh: Halusinasi-halusinasi tidak ada lagi dan tidak pusing. Sebelumnya ingin pacaran dengan tetangganya, yang bekerja bersamanya pada ibunya di warung. Wanita itu tinggal bersama ibunya dan ia sendiri, tetapi ia tidak pernah mengadakan hubungan kelamin dengannya, sungguhpun banyak kesempatan, malahan tidak pernah menyentuhnya. Lama-kelamaan ia merasa pusing. Kemudian ke warung datang isteri guru itu. Ia sering mengobrol dengannya. Dalam ingatannya ia merasa cinta terhadap nyonya itu. saya melayaninya karena ia terus melayani saya. Mereka sering berdua-duaan, tetapi tidak pernah pergi bersama-saama. Hanya di halaman saja, karena nyonya itu sering datang untuk menagih. Pukul setengah delapan malam itu, ia secara mendadak pergi ke rumah nyonya itu. Sepulangnya dari warung, tiba-tiba ia merasa panas dalam pikiran, lalu mengambil pisau dapur dan pergi ke rumah nyonya itu. Di rumah nyonya itu si suami sedang menghadapi dua orang tamu. Pintu di dobrak dengan kaki dan terus masuk. Guru itu mengejarnya, lalu pisau ditusukkan. Tidak ada suara-suara yang menyuruhnya. Yang ada hanya suara perempuan merayu, mengajak mati dan menghina. Ada perasaan menyesal karena telah melakukan pembunuhan, tetapi tidak kelihatan di air mukanya. Ia banyak pikiran sedih. Ia telah membunuh karena cinta isteri orang lain. Ia sadar bahwa tidak boleh membunuh seseorang, karena cinta kepada isteri orang itu. Sebabnya ia membunuh, karena kegelapan, karena tidak tahan gangguan-gannguan, karena pikiran-pikiran saja. Pikiran banyak, terus saja ingat pada perempuan itu.

Pemeriksaan psikologis: M. memiliki kecerdasan yang agak rendah. IQ kurang dari 70. Pengalamannya tidak mengikuti perkembangan umurnya, sehingga kecerdasannya tidak sesuai umurnya. Kehidupan emosional juga terhambat dan masih bersifat infantil. Juga tingkah lakunya bersifat kekanak-kanakan. Ia tidak sanggup menilai kenyataan dengan baik. Mudah terpengaruh (suggestibel) dan suka lari ke dalam khayalan. Karena perkembangan kepribadiannya tidak baik, ia tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah hidup, sering mengalami kekecwewaan dan konflikkonflik batin. Selama dalam observasi terlihat pola regresi. Ia selalu

mengasingkan diri, sulit mengadakan hubungan dengan perawatperawatnya. Pikiran dan tingkah laku seperti anak-anak. Pemeriksaan psikiatris: Pikiran dan tingkah lakunya seperti kanak-kanak. Ia dikuasai oleh nafsu-nafsu dasar dan libidineus yang berasal dari asadar, yang tidak dipengaruhi oleh hukum-hukum logika, waktu dan nilai-nilai masyarakat yang teratur. Terdapat pembelahan emosi dan intelegensi seperti pada masa kanak-kanak, karena pada masa kanak-kanak belum lagi terdapat diferensiasi tegas dan wajar antara kedua-duanya. Masalah adolesensi dan kedewasaan, yang membawa ketegangan dan konflik-konflik tidak dapat dihadapinya dengan wajar, yang menyebabkan ia lari kepada pola-pola regresi (kekanak-kanakan; infantil), yang bersifat skizofrenia. Dengan cara demikian ia dapat menghindarkan diri dari apa-apa yang tidak dapat diterima dalam tingkatan asadar. Sampai berapa jauhnya ia sembuh dari pengobatan di Bogor, tidak diketahui. Rupa-rupanya penyembuhan hanya sampai pada tingkatan sembuh sosial, dalam arti ia sudah dapat berjualan di warung ibunya, tidak mengganggu, tidak merusak.

Tetapi pikirannya masaih infantil atau autistis, banyak mengkhayal, tidak memperdulikan kenyataan. Ketika sering bertemu dengan nyonya, isteri guru itu, timbul pikiran dan dalam khayalannya, bahwa nyonya itu mencintainya dan ia mencintai pula perempuan itu. Cinta disini harus diartikan bukan cinta yang berwarna seksual., tetapi cinta untuk memiliki. Apakah ia sepenuhnya mengerti apa sebenarnya hubungan kelamin, disangsikan. Selama hidup dengan pembantu ibunya, yang serumah dengannya, ia tidak melakukan hubungan kelamin dan tidak pernah pula menyentuhnya, sungguhpun kesempatan banyak terdapat untuk melakukannya. Karena ingin memiliki perempuan isteri guru itu, timbul halusinasi dan waham, bahwa nyonya itu selalu merayunya, mengejek dan menghina. Nyonya itu mencintanya. Sementara itu ia menyadari, bahwa perempuan itu sudah bersuami. Ia cukup menyadari, bahwa suami nyonya itu menjadi penghalang bagi memenuhi keinginannya untuk memilki perempuan yang dicintainya itu. Apa yang terjadi sebelum pembunuhan, tidaklah begitu jelas. Ia bermaksud untuk berpacaran dengan tetangganya. Tetapi ia kemudian mengambil pisau ke dapur dan terus pergi ke rumah guru itu. Apa yang dirasakannya tidak dapat ia menerangkannya. Dalam keadaan tegang bercampur takut sering terjadi, bahwa seseorang melakukan pembunuhan (Raptus: reaksi terhadap ketegangan yang tak tertahankan). Pada skizofrenia, juga dijumpa raptus, tanpa ada ketegangan afek. Ditambah lagi, bahwa tertuduh adalah seseorang yang debil sering melakukan kejahatan yang dasarnya adalah, kurang kemampuan untuk memperkirakan akibat dari perbuatannya. Ia tidak cukup memiliki kecerdasan untuk dapat mengetahui dan menyadari sepenuhnya apa yang akan terjadi, sebagai akibat akan perbuatannya dan akibat bagi dirinya. Apakah kekurangan kecerdasan disebabkan oleh debilitas mentis, ataukah karena skizofrenia yang menahun , dapat diperdebatkan.

Diagnosa: skizofrenia yang menahun (kronis) dengan debilitas mentis. Kesimpulan: tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, karena kurang sempurna akalnya dan sakit berubah akal. Maka menurut pasal 44 ayat (1) KUHPidana, penderita M. sewaktu melakukan perbuatannya berada dalam keadaan jiwa terganggu, sehingga ia tidak bertanggungjawab atas perbuatannya sehingga ia tidak dipidana (Hasan Basri Saanin Dt. Tan Pariaman,1983:252). 2. Peranan Ilmu Forensik Dalam Identifikasi Korban Bencana Massal Seringkali dalam suatu kecelakaan ataupun bencana alam yang mengakibatkan korban amat banyak, terutama jika para korban sudah tidak dapat dikenali lagi, hal ini sangat menyulitkan dalam hal identifikasi para korban, seperti pada tragedi bom Bali di Paddys dan Sari Cafe ataupun tragedi jatuhnya pesawat terbang milik maskapai penerbangan Mandala Airlines di Polonia Medan. Pada dua kecelakaan diatas korban mencapai puluhan sampai ratusan orang, yang mana sebagian besar dari korban sudah tidak dapat dikenali lagi karena berbagai hal, mulai dari hangus terbakar sampai organ tubuh yang sudah tidak lengkap ataupun tercerai berai. Disinilah tugas ilmu forensik, yaitu untuk mengidentifikasi para korban terutama korban yang sudah tidak dapat dikenali lagi. Untuk masalah pengidentifikasian adalah bagian dari tugas kedokteran forensik maupun antropologi forensik. Identifikasi korban penting sekali untuk keluarganya terutama untuk mengetahui keberadaan korban dan juga sehubungan dengan akta kematian, warisan, dan perkara perdata lainnya. Identifikasi mayat yang masih utuh dan baru tidak akan memberi kesukaran. Identifikasi mayat tidak berbeda dari orang hidup, yaitu dari foto, sidik jari, ciri tubuh, dan benda milik pribadi seperti pakaian, cincin kawin, SIM (Surat Izin Mengemudi), KTP(Kartu Tanda Penduduk).

Untuk identifikasi perlu ditentukan, yaitu barang bukti yang berasal dari tubuh manusia, apa kelaminnya, berapa panjang badannya, berapa umurnya, data gigi, warna kulit, mata, rambut, kelainan kulit, penyakit, cacat badan, sidik jari atapun kaki, benda milik pribadi, dan DNA mitokondria. Pada dua kasus diatas yakni tragedi bom Bali di Paddys dan Sari cafe serta kecelakaan pesawat milik Mandala Airlines pihak forensik dalam melakukan tugasnya mengidentifikasi korban menggunakan beberapa cara di bawah ini. Yang pertama kali dilakukan adalah mencari identitas umum yang mudah dikenali seperti foto, sidik jari, ciri tubuh, dan benda milik pribadi seperti pakaian, cincin kawin, SIM, KTP serta tanda pengenal lainnya. Bila bukti cukup banyak tidak menimbulkan kesukaran dalam pengidentifikasiannya. Baru setelah tanda pengenal yang umum tidak dapat ditemukan maka dilakukan langkah-langkah pengidentifikasian antara lain sebagai berikut. Ilmu urai dapat membuktikan bahwa bukti berasal dari manusia atau bukan. Bila ditemukan tulang kecil pembuktian jadi sukar dan perlu bantuan ahli ilmu urai. Sepotong daging dapat dibuktikan berasal dari manusia dengan tes presipitin. Tes presipitin sangat peka, diperlukan hanya sedikit jaringan untuk pemeriksaan. Tes ini berdasarkan ikatan antigen antibodi yang membentuk presipitat putih seperti awan. Kelamin dapat dengan mudah ditentukan. Pada laki-laki dapat dilihat dari kelenjar prostat, zakar, buah zakar, dan pada perempuan dilihat dari rahim, indung telur, payudara, bibir kemaluan. Rahim yang tidak hamil dan kelenjar prostat adalah dua jaringan yang paling tahan lama terhadap pembusukan. Tulang adalah bahan yang baik untuk menentukan kelamin. Pada umumnya tulang seorang laki-laki lebih besar dan lebih kasar dibandingkan tulang seorang perempuan. Tulang yang baik untuk

menentukan seks atau jenis kelamin adalah tulang tengkorak, tulang pinggul dan tulang kelangkang, tulang paha, tulang kering, tulang lengan atas dan tulang dada. Penentuan seks juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan histopatologik dari tonjolan sel selaput lendir rongga mulut. Pada sel perempuan ditemukan satu atau lebih tonjolan kecil kromatin yang dinamakan Barr body. Inti lekosit polimorf pada perempuan menunjukkan tonjolan menyerupai pemukul drum, drumstick projection atau Davidson body. Panjang badan dapat diperkirakan dari tulang panjang seperti tulang paha, tulang kering , tulang lengan atas dan pengumpil dengan menggunakan rumus Dupertuis dan Hadden, Karl person, Trotter dan Gleser. Untuk penentuan umur dapat dilihat dari pertumbuhan kumis pada laki-laki, pertumbuhan payudara pada perempuan, pertumbuhan rambut ketiak, pertumbuhan rambut kemaluan, pertumbuhan lekum pada laki-laki, selain itu tengkorak juga dapat dipakai untuk menentukan umur, yaitu dengan memperhatikan menutupnya sambungan masing-masing tulang kepala. Teknik penentuan umur yang lain dapat dilakukan dengan pengamatan susunan gigi, pada bayi dilakukan dengan mengamati susunan gigi susu, sedang pada anak-anak sampai dewasa dilihat dari susunan gigi permanen. Data gigi harus diambil dari tiap korban yang idetitasnya tidak dikenal, bila perlu otot maseter dipotong supaya rahang bawah dapat dibuka lebih lebar. Gigi yang tidak rata, gigi yang dibungkus logam, gigi palsu, jembatan gigi, merupakan ciri yang mudah dikenal kembali oleh keluarganya. Sidik jari merupakan bukti jati diri seseorang yang dapat dipercaya 100%. Di dunia tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama, bahkan juga tidak pada kembar monozygot (identical twins). Sehingga pada dua kejadian diatas para keluarga korban diminta untuk membawa tanda pengenal milik korban yang terdapat cap sidik jarinya, dengan

tujuan untuk dicocokkan dengan sidik jari milik korban(Njowito Hamdani, 1992: 83). Inilah teknik identifikasi yang paling final yaitu pemeriksaan DNA mitokondria. Ini dilakukan jika korban benar-benar sudah tidak dapat dikenali dan sudah tidak memungkinkan dilakukan proses-proses pengidentifikasian di atas. Teknik pengidentifikasian menggunakan DNA dilakukan dengan cara korban-korban yang sudah tidak dapat dikenali diambil DNA nya masing-masing, kemudian dicocokkan dengan para DNA dari para pihak keluarga yang mengklaim keluarga mereka ikut menjadi korban. DNA digunakan sebagai teknik final karena pada manusia di setiap bagian tubuhnya terdapat jaringan genetik yang sama dengan milik keturunannya, sehingga dari DNA dapat diketahui hubungan genetika seseorang. Sehingga tidak mengherankan jika pada dua kejadian diatas banyak keluarga yang merasa keluaraganya menjadi korban diperiksa DNA nya untuk kemudian dicocokkan dengan data-data DNA milik para korban. Hasil dari pengidentifikasian terhadap para korban dua kejadian diatas terutama pada kasus bom Bali di Paddys dan Sari cafe dapat kita lihat pada monumen yang didirikan untuk memperingati kejadian tersebut, pada monumen tersebut dapat kita lihat semua nama dan negara asal dari para korban, yang mana hal ini tidak akan diketahui tanpa adanya teknikteknik pengidentifikasian diatas. 3. Peranan Ilmu Forensik Dalam Menemukan Tersangka Kasus-kasus diatas adalah contoh kasus yang ada di Indonesia. Dari contoh diatas kita dapat mengetahui sejauh manakah perkembangan ilmu forensik di negara ini. Lalu bagaimanakah perkembangan ilmu forensik di luar negeri, terutama di negara dimana akademi forensik pertama kali di dirikan (Amerika), dapat kita lihat dari contoh kasus berikut ini dimana kasus berikut terjadi pada tahun 1923, sebuah masa yang mana Indonesia masih dalam kondisi terjajah dan belum mengenal ilmu forensik.

Kasus ini adalah salah satu dari contoh keberhasilan yang spektakuler dari ilmu forensik dalam memecahkan suatu kasus kejahatan. Kasus yang sangat menarik dimana penjahat lihai bertemu dengan para ahli yang ulet. Kasus ini penyelidikannya dipimpin oleh Edward Heinrich yang bertugas di laboratorium forensik di Berkeley, California. Dimana pada saat itu terdapat kelompok perampok yang mencoba merampok sebuah kereta surat pada rel milik Union Pacific Rail Road. Tempat kejadian adalah di sebuah pengendali perpindahan jalur di pegunungan selatan Oregon. Gerbong surat diledakkan dengan dinamit dan seluruh petugas kereta dibunuh dengan keji sebelum korban panik, dan pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Setelah itu melalui sebuah pencarian yang hati-hati di TKP, ditemukan sebuah revolver, baterai pemberi tenaga detonator yang digunakan untuk peledakan, sepasang pelindung sepatu yang dibuat dari karung yang dibasahi cairan seperti minyak yang dibuat dari ter kayu untuk menghilangkan bau pelarian yang dapat ditangkap oleh anjinganjing pelacak yang digunakan, dan sebuah setelan pakaian kerja. Setelah tidak dapat lagi menemukan petunjuk yang berguna, polisi kemudian mengirimkan pakaian kerja tersebut kepada Heinrich, yang menelitinya hingga detil terkecil. Heinrich mengambil contoh reruntuhan atau puing dari saku pakaian kerja tersebut, yang beberapa diantaranya menunjukkan jejak atau bekas pelumas. Hal tersebut membuat penyelidik memiliki petunjuk bahwa pemilik pakaian tersebut kemungkinan seorang montir bengkel, tetapi analisa Heinrich menunjukkan bahwa pelumas tersebut berasal dari pohon cemara. Pada saat itu ia juga telah meneliti setiap detail dari pakaian kerja tersebut menggunkan mikroskop, hingga dia telah mampu menggambarkan karakteristik si pemilik secara detail. Heinrich membuat pernyataan yang mengejutkan para petugas bahwa mereka mencari seorang penebang kayu yang kidal dengan tinggi

sekitar lima kaki 10 inci, memiliki rambut coklat terang dan berat sekitar 165 pound. Orang ini berusia sekitar awal 20 an, menggulung rokoknya sendiri, sangat berhati-hati dengan penampilannya, dan bekerja pada penebangan di barat laut pasifik. Kehadiran ter pelumas dari pohon cemara, dan biji dari cemara douglas yang ditemukan di pakaian kerja, mengindikasikan seorang penebang kayu yang bekerja di barat laut pasifik dimana cemara douglas banyak digunakan. Kantong dari sisi kiri pakaian kerja menunjukkan lebih sering dipakai daripada kantong sisi kanan, dan pakaian tersebut dikancingkan dari kiri, menunjukkan si pemakai adalah seorang kidal. Sehelai rambut coklat terang tertinggal di salah satu kancing menunjukkan warna rambut dan usia tersangka, dan ukuran dari pakaian tersebut menunjukkan tinggi sekaligus berat dari si pemakai. Beberapa helai tembakau ditemukan di kantong, yang

menunjukkan si pemakai menggulung sendiri rokoknya. Pemotong kuku juga ditemukan yang menunjukkan seseorang yang memotong kukunya secara rutin, sebuah kepribadian yang unik diantara penebang kayu. Akhirnya Heinrich menemukan pada dasar kantong yang tak tersentuh sebuah lembaran kertas amplop rapat yang hampir hancur karena dicuci bersama pakaian tersebut. Ketika dengan hati-hati diambil dan di beri larutan iodine untuk memunculkan tulisan, hal itu menunjukkan pada tanda terima kantor pos Amerika untuk sebuah paket surat terdaftar yang dikirimkan ke seorang bernama Roy dAutremont di Eugene, Oregon. Ketika polisi mengecek alamat terakhir yang diketahui,

tetangganya mengatakan bahwa dAutremont cocok dengan gambaran Heinrich dari berbagai sisi. mereka juga menemukan bahwa dia telah menghilang bersamaan dengan kembarannya Ray dan saudaranya Hugh, sejak hari dari perampokan. Penggambaran juga melibatkan Ray dan Hugh, dan mereka semua bertiga telah menjadi orang yang dicari. Pelacakan bersaudara membuktikan lebih sulit daripada pelacakan tunggal. Dan itu telah lewat empat tahun sebelum seorang sersan di

angkatan darat Amerika mengidentifikasikan Hugh dAutremont sebagai seorang prajurit yang bertugas bersamanya di Filipina. Dia kemudian di tahan di Manila, dan saudaranya kemudian terlacak di sebuah peleburan baja di Ohio dimana mereka bekerja dengan nama samaran. Akhirnya ketiga bersaudara tersebut telah mengaku, dan mempertanggung jawabkannya dengan hukuman seumur hidup (David Owen, 2000: 36).

BAB III KESIMPULAN

1. Fungsi ilmu forensik adalah membuat suatu perkara menjadi jelas, yaitu dengan mencari dan menemukan kebenaran materiil yang selengkaplengkapnya tentang suatu perbuatan ataupun tindak pidana yang telah terjadi. Ilmu forensik adalah bagian dari penyidikan, dan penyidikan itu sendiri adalah suatu proses untuk mempelajari dan mengetahui apa yang telah terjadi di masa yang lampau dan dalam kaitannya dengan tujuan dari penyidikan itu sendiri, sehingga untuk menghasilkan penyidikan yang

benar-benar valid penyidik dengan seyogianya harus melakukan penyidikan dengan sebaik-baiknya. Penyidik memanfaatkan ilmu forensik untuk mendapatkan sumber-sumber informasi yang dapat membuat jelas dan terang suatu perkara, sesuai dengan fungsi dari ilmu forensik itu sendiri. Sumbersumber informasi tersebut adalah (barang bukti fisik yang ada di tempat kejadian, dokumen serta catatan yang ada di tempat kejadian atau yang berhubungan dengan kejadian,orang-orang yang mengetahui atau dapat membantu memberi informasi tentang kejadian yang ada). Untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber informasi tersebut tentu dibutuhkan pemahaman dan bantuan dari ilmu forensik yang memiliki berbagai bidang kajian, seperti pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, dokumen yang dipertanyakan, kedokteran gigi, antropologi, jurisprudensi, psikologi, kimia, fisika. Agar fungsi dari ilmu forensik diatas dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan penyidik yang berkualitas dalam melakukan tugasnya. 2. Peranan ilmu forensik dalam usaha untuk memecahkan kasus-kasus kriminalitas adalah sangat besar, hal ini dapat dilihat dari berbagai kasus yang ada dimana ilmu forensik dipakai untuk menentukan apakah si tersangka bisa dikenai hukuman atau tidak menyangkut kesehatan jiwanya, kemudian ilmu forensik dapat digunakan untuk menentukan keaslian suatu tulisan ataupun dokumen, lalu penggunaan ilmu forensik untuk mengidentifikasi korban kejahatan ataupun bencana, dan yang paling utama adalah penggunaan ilmu forensik untuk mengetahui tersangka dari suatu tindak kejahatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munim Idries dan Agung Legowo Tjiptomartono. 1982. Penerapan Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Proses Penyidikan. Jakarta: PT Karya Unipres Abdul Munim Idries, Sidhi, Sutomo Slamet Iman Santoso. 1985. Ilmu Kedokteran Kehakiman (Toksikologi Kehakiman/ Psikiatri Kehakiman). Jakarta: PT Gunung Agung Andi Hamzah. 1987. Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia. Badan Pembinaan Hukum Nasional. 1981. Naskah Akademik Rencana Undangundang tentang Kedokteran Kehakiman. Jakarta: Departemen Kehakiman

Bagian Kedokteran Forensik. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Darwan Prinst. 1998. Hukum Acara Pidana Dalam Praktek. Jakarta: Djambatan David Owen. 2000. Hidden Evidence. London: Quintet Publishing Limited Handoko Tjondroputranto. 1982. Ilmu Kedokteran Forensik dan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. Jakarta Hasan Basri Saanin Dt. Tan Pariaman. 1983. Psikiater dan Pengadilan (Psikiatri Forensik Indionesia). Jakarta: Ghalia Indonesia H.B. Sutopo. 1993. Pengantar Metodologi Penelitian Kualitatif. Solo: UNS. John M. Echols dan Hassan Shadily. 1995. An English Indonesian Dictionary. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Koentjaraningrat. 1994. Metode-metode Penelitiaan Masyarakat. Jakarta: Gramedia. Mardalis. 1990. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara. Munakhir Mudjosemedi. 2003. Bibir, Sidik Bibir, Ilmu Kesehatan dan Antropologi Ragawi: Integrasi antara Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Banyu Biru Offset M. Yahya Harahap. 1988. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: Pustaka Kartini. Njowito Hamdani. 1992. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Panitia Seminar FK UGM. 1999. Seminar Sehari Aplikasi Ilmu Kedokteran Forensik Untuk Identifikasi. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Posman Simanjuntak. 1997. Berkenalan Dengan Antropologi. Jakarta: Erlangga Ratna Nurul Afiah. 1998. Barang Bukti Dalam Proses Pidana. Jakarta: Sinar Grafika R. Atang Ranoemihardja. 1983. Ilmu Kedokteran Kehakiman (Forensic Science). Bandung: Tarsito Riduan Syahrani. 1983. Beberapa Hal Tentang Hukum Acara Pidana. Bandung: Alumni

Soerjono Soekanto. 1986. PengantarPenelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia. Sofwan Dahlan. 2004. Ilmu Kedokteran Forensik (Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro S. Tanusubroto. 1983. Peranan Pra Peradilan Dalam Hukum Acara Pidana. Bandung: Alumni Sutrisno Hadi. 1979. Metodologi Riset. Yogyakarta: UGM Press. Team Forensik. 1979. Bagaimana Dokter Mengetahui Sebab Kematian (Forensic Medicine). Jakarta: Penerbit Lancar Undang-undang Nomor 8 tahun 1981. Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Waluyadi. 2000. Ilmu Kedokteran Kehakiman. Jakarta: Djambatan William G. Eckert. 1980. Introduction to Forensic Sciences. United States of America: C. V. Mosby Company