Anda di halaman 1dari 56

UNIVERSITAS INDONESIA

RESPON SEISMIK MSE WALL DENGAN PERKUATAN PADA DUA SISI

SEMINAR

HENDRIAWAN KURNIADI 0906630292

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

RESPON SEISMIK MSE WALL DENGAN PERKUATAN PADA DUA SISI

SEMINAR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik

HENDRIAWAN KURNIADI 0906630292

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2013

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Seminar ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar

Nama NPM Tanda Tangan Tanggal

: Hendriawan Kurniadi : 0906630292 : :

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Seminar ini diajukan oleh: Nama : Hendriawan Kurniadi NPM : 0906630292 Program Studi : Teknik Sipil Judul Seminar : Respon Seismik MSE Wall dengan Perkuatan pada Dua Sisi

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI Pembimbing : Ir. Widjojo A. Prakoso Ph.D Penguji Penguji : : ( )

Ditetapkan di : Tanggal :

iii

KATA PENGANTAR

iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama NPM Program Studi Departemen Fakultas Jenis Karya

: Hendriawan Kurniadi : 0906630292 : Teknik Sipil : Teknik Sipil : Teknik : Seminar

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

RESPON SEISMIK MSE WALL DENGAN PERKUATAN PADA DUA SISI

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia bebas menyimpan, mengalih

media/formatkan mengelola dalam bentuk pangkaln data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan pemilih Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Pada tanggal Yang menyatakan

: Depok :

ABSTRAK

vi

ABSTRACT

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............................ v ABSTRAK ........................................................................................................... vi DAFTAR ISI ........................................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... ix DAFTAR TABEL ................................................................................................ x BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1 1.2. Batasan Penelitian .................................................................................. 4 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................... 4 1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 5 2.1. Pendahuluan ........................................................................................... 5 2.2. Penelitian Sebelumnya Terkait Respon Dinamik MSE Wall ................ 5 2.3. Pseudo-static .......................................................................................... 21 2.4. Displacement Based ............................................................................... 25 2.5. Finite Element Analysis ......................................................................... 28 2.6. Penelitian oleh Erick Yusuf Kencana (2012) ......................................... 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 38 3.1 Gambaran Umum Penelitian .................................................................. 38 3.2 Diagram Alir Penelitian ......................................................................... 40 3.3 Permodelan Dinding dengan Perkuatan pada Satu Sisi ......................... 42 3.4 Validasi .................................................................................................. 42 3.5 Permodelan Dinding dengan Perkuatan pada Dua Sisi .......................... 42 3.6 Analisa ................................................................................................... 42 3.7 Kesimpulan ............................................................................................ 43 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 44

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 1.3 Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6

Potongan Mechanically Stabilized Earth Walls (MSEW) ............ 1 Railway Embankment .................................................................. 2 Road Embankment ....................................................................... 3 Pseudo Static Approach ................................................................ 22 Mononobe-Okabe Method ............................................................ 24 Model MSE Wall yang Diuji dengan Alat Centrifuge ................. 26 Model Tiga Block Lateral Wall Displacement ............................ 26 Lateral Displacement yang Terukur Terhadap Waktu ................. 27 Perbandingan Hasil Analisa FLAC dengan Hasil Analisa Berbasis FEM oleh Ho (1993) .................................................................... 29 Grafik Am vs ag untuk Bagian Atas Dinding ................................ 30 Grafik Am vs ag untuk Bagian Tengah Dinding ........................... 31 Grafik Am vs ag untuk Bagian Bawah Dinding ............................ 31

Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 2.9

Gambar 2.10 Perbandingan Trendline Am vs ag Bagian Atas, Tengah, dan BawahDinding .............................................................................. 32 Gambar 2.11 Grafik z/H vs Am
..............................................................................................................

32

Gambar 2.12 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada ........................................ 33 Gambar 2.13 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Initial Dr ............................ 34 Gambar 2.14 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Tult ........................................................ 34 Gambar 2.15 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Sv ...................................... 35 Gambar 2.16 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Frekuensi ........................... 35 Gambar 2.17 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Frekuensi ........................... 36 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian ................................................................ 39 Geometri Model ............................................................................ 40
ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel 2.2

Rangkuman Penelitian Terkait Respon Seismik MSEW ............. 6 Pengaruh Berbagai Faktor terhadap MSE Wall ........................... 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Salah satu alternatif dinding penahan tanah selain gravity wall, cantilever wall, anchored wall, dan soil nailed wall adalah MSEW (Mechanically Stabilized Earth Wall). Pada MSEW ini, digunakan perkuatan berupa geosintetik (extensible) atau logam (inextensible) di dalam tanah yang ingin diperkuat,

dengan facing yang vertikal atau hampir vertikal. Jenis geosintetik yang digunakan pada MSEW ini biasanya geogrid, karena geogrid memang mempunyai fungsi perkuatan, walaupun geotextile juga dapat digunakan.

Gambar 1.1 Potongan Mechanically Stabilized Earth Walls (MSEW)

MSEW modern termasuk sesuatu yang baru. Yang pertama kali mempelopori penggunaan MSEW adalah seorang engineer Perancis, Henri Vidal, pada tahun 1960an. MSEW pertama di Amerika Serikat dibangun pada tahun 1971 dekat Los Angeles. Hingga saat ini, behaviour dari MSEW ini belum terlalu dimengerti, salah satu contoh kasus terkait hal tersebut adalah adanya MSEW di Padang yang secara desain seharusnya runtuh karena gempa Padang, namun pada kenyataannya tidak runtuh. Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa cara mendesain MSEW cenderung konservatif, dari sisi teknis memang aman, namun dari sisi ekonomi terjadi pemborosan.

UNIVERSITAS INDONESIA

Pada umumnya penelitian mengenai perilaku seismik MSEW wall, hanya berpusat pada dinding dengan perkuatan pada satu sisi saja, padahal pada kehidupan nyata, banyak sekali timbunan yang menggunakan perkuatan pada kedua sisinya, seperti dalam kasus timbunan untuk jalan, atau timbunan untuk rel kereta api seperti yang dapat dilihat pada gambar 1.1 dan 1.2 di bawah. Berdasarkan hal tersebut dirasa perlu untuk dilakukan penelitian tentang perilaku seismik dari MSWE dengan perkuatan pada dua sisi, karena bisa saja perilaku seismik dari MSEW dengan perkuatan pada dua sisi ini berbeda dengan perilaku seismik MSEW dengan perkuatan pada satu sisi saja. Perilaku seismik yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor amplifikasi (Am), yang merupakan rasio antara akselerasi pada suatu titik pada ketinggian tertentu pada MSEW, dengan akselerasi gempa.

Gambar 1.2 Railway Embankment


(http://www.nunatsiaqonline.ca/pub/photos/embankments.jpg)

UNIVERSITAS INDONESIA

Gambar 1.3 Road Embankment


(TECHNICAL RECOMMENDATIONS FOR HIGHWAYS CONSTRUCTION OF ROAD EMBANKMENTS, Department of Transport Republic of South Africa, 1982)

UNIVERSITAS INDONESIA

1.2

Batasan Penelitian

Batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Perilaku seismik yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor amplifikasi (Am). Backfill yang digunakan adalah pasir. Geosintetik yang digunakan berjenis geogrid. Facing yang digunakan berjenis concrete panel.

1.3

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi respon seismik dari MSEW, dan bagaimana pengaruhnya terdahap MSEW. Mengetahui perbedaan perilaku seismik dari MSEW dengan perkuatan pada satu sisi dengan perilaku seismik dari MSEW dengan perkuatan pada dua sisi. Faktor-faktor yang dimaksud terkait dengan karakteristik gempa (frekuensi dan akselerasi gempa). Perilaku seismik yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah faktor amplifikasi (Am), yang merupakan rasio antara akselerasi pada suatu titik pada ketinggian tertentu pada MSEW, dengan akselerasi gempa.

1.4

Manfaat Penelitian Dengan diketahuinya perilaku MSE wall dengan perkuatan pada dua sisi

(yang mungkin berbeda dengan perilaku MSE wall dengan perkuatan hanya pada satu sisi saja), maka akan didapatkan suatu asumsi design yang lebih akurat untuk MSE wall dengan perkuatan pada dua sisi.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pendahuluan Secara umum, dalam menganalisa MSE Wall yang mengalami beban

seismik, dapat digunakan tiga pendekatan yaitu pseudo-static method, pseudodynamic method, displacement based analysis, dan FEA (Finite Element Analysis).

2.2

Penelitian Sebelumnya terkait Respon Dinamik MSEW Pada sub-bab ini akan dipaparkan ringkasan kronologis dari penelitian-

penelitian terkait MSE Wall yang telah dilakukan.

UNIVERSITAS INDONESIA

Tabel 2.1 Rangkuman Penelitian Terkait Respon Seismik MSEW

Penulis & Tahun Bathurst & Cai 1995

Gambaran Umum

Hasil

Variabel Bebas kh kv (wall inclination angle) (backslope angle)

Variable Terikat PAE AE (sudut antara horizontal dengan bidang keruntuhan)

Pada penelitian ini dilakukan PAE berbanding lurus dengan kh pengamatan terhadap stabilitas dari segmental facing MSE wall PAE berbanding terbalik dengan dengan menggunakan metode pseudo-static. PAE berbanding lurus dengan AE berbanding terbalik dengan kh AE berbanding terbalik dengan

PAE berbanding lurus dengan kv, untuk kh (sudut geser < 0,35 tanah dengan dinding) FSbsl berbanding lurus dengan kh L/H FSbsl berbanding lurus dengan z/H (normalized FSbsl berbanding terbalik dengan kv depth) m berbanding lurus dengan kh m berbanding lurus dengan

FSbsl (FS static terhadap base sliding untuk memberikan FS dinamis terhadap base sliding 1,125) m (lokasi dari normalized dynamic moment arm FSbot (FS static terhadap

UNIVERSITAS INDONESIA

m berbanding lurus dengan FSbot berbanding lurus dengan kh FSbot berbanding lurus dengan L/H FSbot berbanding lurus dengan FSbot berbanding terbalik dengan kv rF berbanding lurus dengan kh rF berbanding terbalik dengan z/H Ldyn/Lsta berbanding lurus dengan kh Ldyn/Lsta berbanding terbalik dengan kv Ldyn/Lsta berbanding terbalik dengan FSSC (dynamic) / FSSC (static) berbanding terbalik dengan kh FSSC (dynamic) / FSSC (static) berbanding lurus dengan z/H FSlot (dynamic) / FSlot (static) berbanding terbalik dengan kh

overturning untuk memberikan FS dinamis terhadap overturning 1,5) rF (dynamic reinforcement force amplification factor) Ldyn/Lsta (rasio antara L dinamis dengan L stasis agar geosintetik menyentuh bidang keruntuhan) FSSC (dynamic) / FSSC (static) FSlot (dynamic) / FSlot (static)

UNIVERSITAS INDONESIA

FSlot (dynamic) / FSlot (static) berbanding lurus dengan z/H FSlot (dynamic) / FSlot (static) berbanding lurus dengan kv

Koseki et al 1998

Pada penelitian ini diamati kestabilan MSE wall & dinding penahan tanah konvensional terhadap beban seismik pada shaking dan tilt table test.

Pada kasus overturning, observed critical jenis dinding seismic acceleration coefficient cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan predicted critical seismic acceleration coefficient pada dinding jenis kantilever, gravity, dan leaning. Pada kasus overturning, observed critical seismic acceleration coefficient cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan predicted critical seismic acceleration coefficient pada MSE wall. Pada kasus sliding, observed critical seismic acceleration coefficient cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan predicted critical seismic acceleration coefficient pada semua jenis dinding.

percepatan gempa

UNIVERSITAS INDONESIA

Matsuo et al 1998

Pada penelitian ini diamati respon Panjang perkuatan adalah cara paling panjang perkuatan MSE Wall terhadap beban seismik efektif untuk mengurangi deformasi dengan shaking table test. dinding. tinggi dinding Tinggi dinding tidak terlalu berpengaruh jenis facing terhadap deformasi dinding. kemiringan Getaran sinusiodal menyebabkan dinding deformasi dinding yang lebih besar dari pada getaran getaran gempa asli. jenis getaran Deformasi pada dinding dengan facing kedalaman continuous lebih besar jika dibandingkan dengan deformasi pada dinding dengan facing discrete. Kemiringan dinding tidak terlalu berpengaruh terhadap deformasi dinding. Respon akselerasi forward lebih tinggi dari pada respon akselerasi backward. Tekanan lateral tanah berbanding lurus dengan kedalaman. Tekanan lateral tanah berbanding lurus dengan percepatan gempa. Kenaikan tekanan lateral tanah karena

deformasi dinding tekanan lateral tanah gaya dalam tarik pada reinforcement

UNIVERSITAS INDONESIA

10

ada gempa lebih signifikan pada bagian bawah dibandingkan dengan bagian atas. Gaya dalam tarik pada reinforcement berbanding lurus dengan kedalaman. Gaya dalam tarik pada reinforcement berbanding lurus dengan percepatan gempa.

Bathurst & Hatami 1998

Pada penelitian ini dilakukan Semakin tinggi elevasi, maka semakin Base condition analisis mengenai respon dari besar pula displacement. (fix/sliding) MSE wall menggunakan program FLAC. Semakin besar kekakuan perkuatan, panjang perkuatan maka semakin kecil displacement. kekakuan Seamakin panjang perkuatan, maka perkuatan maximum displacement akan semakin kecil. jarak boundary Dinding dengan fix base menghasilkan soil damping ratio end of seismic shaking displacement yang lebih besar dari pada end of seismic shaking displacement pada dinding dengan sliding base. Pada dinding dengan sliding base,

displacement dinding connection load

UNIVERSITAS INDONESIA

11

semakin tinggi elevasi, maka semakin rendah connection load. Pada dinding dengan fix base, connection load terkonsentrasi pada bagian tengah dinding. Semakin besar kekakuan perkuatan, maka beban maksimum yang di tanggung perkuatan akan semakin besar. Semakin jauh jarak boundary, maka horizontal displacement juga akan semakin besar. Semakin jauh jarak boundary, maka connection load juga akan semakin besar. Dinding dengan fix base akan menghasilkan connection load yang lebih kecil dibandingkan connection load pada dinding dengan sliding base. Semakin besar damping value, maka displacement akan semakin kecil. Damping ratio berbanding terbalik

UNIVERSITAS INDONESIA

12

dengan peak horizontal acceleration.

Helwany et al 2001

Pada penelitian ini dilakukan analisis perilaku segmental retaining wall yang mendapatkan beban seismik dengan FEA.

Permanent displacement hasil posisi (ketinggian) perhitungan dengan Permanent displacement hasil pengukuran tidak jauh berbeda. Terdapat perbedaan pada percepatan gempa hasil perhitungan dengan percepatan gempa hasil pengukuran, karena terdapat noise pada pengukuran percepatan gempa. Displacement pada layer atas lebih besar dibandingkan dengan displacement pada layer di bawahnya. Hasil pullout test dengan program DYNA3D tidak jauh berbeda dengan hasil pullout test di laboratorium.

displacement percepatan gempa

Koseki et al 2004

Pada penelitian ini dilakukan perbandingan antara displacement (displacement of wall bottom & tilting angle) hasil pengukuran dengan hasil perhitungan dengan metode Newmark pada MSE wall

Sinusoidal excitation measured Percepatan gempa computed Type getaran Irregular excitation measured > (sinusoidal/tak computed beraturan).

Displacement of wall bottom Tilting angle

UNIVERSITAS INDONESIA

13

dengan full height rigid facing Displacement berbanding lurus dengan yang mendapatkan beban seismik percepatan gempa sinusoidal dan tak beraturan.

El Emam et al 2004

Pada penelitian ini dilakukan dilakukan komparasi antara respon seismik dinding MSE hasil metode numerik (menggunakan program FLAC) dengan respon seismik model dinding MSE yang diperkecil (menggunakan shaking table).

Pada model dinding hinged toe, top displacement hasil pengukuran tidak jauh berbeda dengan top displacement hasil perhitungan. Pada model dinding sliding toe, top displacement hasil pengukuran tidak jauh berbeda dengan top displacement hasil perhitungan. Pada model dinding sliding toe, toe displacement hasil pengukuran berbeda dengan toe displacement hasil perhitungan. Bidang keruntuhan hasil metode M-O tidak jauh berbeda dengan bidang keruntuhan hasil metode numerik (FLAC) pada percepatan gempa yang tidak terlalu tinggi (< 0,27g), sedangkan pada percepatan gempa yang tinggi metode M-O cenderung menghasilkan failure surface yang lebih kecil

UNIVERSITAS INDONESIA

14

dibandingkan kenyataannya.

Ling et al 2005

Pada penelitian ini diamati respon modular block reinforced soil retaining wall yang mendapat beban seismik dengan shaking table test.

Semakin tinggi, maka horizontal Posisi (ketinggian, displacement akan semakin besar. jarak dari dinding) Residual horizontal displacement pada first shaking wall 1 dan 2 lebih besar dibandingkan dengan peak horizontal displacementnya. Residual horizontal displacement pada first shaking wall 3 lebih kecil dibandingkan dengan peak horizontal displacementnya. Residual horizontal displacement pada second shaking semua wall lebih kecil dibandingkan dengan peak horizontal displacementnya. Tegangan lateral tanah tidaklah konsisten terhadap ketinggian. Tegangan vertikal tanah agak seragam pada bagian yang jauh dari dinding, namun agak acak pada bagian yang dekat dengan dinding.

horizontal displacement tegangan lateral tanah tegangan vertikal tanah settlement

UNIVERSITAS INDONESIA

15

Settlement pada first shaking kecil dan dapat diabaikan. Semakin besar , maka bidang gelincir akan semakin kecil. (sudut inklinasi Semakin curam lereng, maka bidang slope) gelincir akan semakin besar. kh Semakin besar kh, maka bidang gelincir akan semakin besar. Semakin besar , maka panjang geosintetik yang dibutuhkan akan semakin pendek. Semakin besar kh, maka panjang geosintetik yang dibutuhkan akan semakin panjang. Semakin besar , maka kekuatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan akan semakin kecil. Semakin besar kh, kekuatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan akan semakin besar.

Nouri et al 2007

Pada penelitian ini dilakukan penyelidikan terdapat efek gaya pseudostatik vertikal dan horizontal terhadap MSE wall. Penelitian difokuskan pada efek magnitude dan amplifikasi dari gempa terhadap kestabilan dari MSE wall dan reinforced slope, menggunakan Horizontal Slice Method (HSM).

Bidang keruntuhan

UNIVERSITAS INDONESIA

16

Siddharthan et al. 2010

Pada penelitian ini dilakukan perbandingan displacement yang terjadi karena beban seismik antara MSE wall dengan panjang geosintetik seragam (L = 0,7H), dengan MSE wall yang panjang geosintetik bagian atasnya lebih panjang (L = H).

Geosintetik yang lebih panjang yang terletak dekat permukaan atas backfill menyebabkan displacement yang lebih kecil.

Panjang geosintetik (seragam/tidak seragam),

Lateral permanent displacement

Displacement berbanding lurus dengan Percepatan gempa, percepatan gempa tinggi dinding Displacement berbanding lurus dengan tinggi dinding Displacement berbanding lurus dengan magnitude gempa Semakin dalam, maka SFt akan semakin kecil. kh Semakin dalam, maka SFpo akan semakin besar. Surcharge coefficient (Q) Semakin besar , maka SFt akan semakin kecil. kedalaman Semakin besar kh, maka SFt akan semakin besar. Semakin besar Q, maka SFt akan

Basha & Basudhar 2010

Pada penelitian ini dilakukan pengamatan kestabilan dari MSE wall dengan metode pseudostatic limit equilibrium. Kestabilan yang dimaksudkan adalah kestabilan terhadap pullout, fracture, sliding, overturning, eccentricity, dan bearing failure.

Factor of Safety Pullout length

UNIVERSITAS INDONESIA

17

semakin besar untuk n > 4. Semakin besar Q, maka SFt akan semakin kecil untuk n < 4. Semakin besar , maka SFpo akan semakin besar. Semakin besar kh, maka SFpo akan semakin kecil. Semakin besar Q, maka SFpo akan semakin kecil.

Ling et al 2010

Pada penelitian ini dilakukan pengamatan respon full scale modular block MSE wall terhadap beban seismik dengan metode finite element. Dilakukan juga validasi terhadap hasil analisa dengan finite element tersebut.

Terdapat perbedaan horizontal waktu displacement antara hasil pengukuran dengan hasil perhitungan terutama pada ketinggian bagian atas dinding. jarak dari facing Settlement pada backfill bagian depan cukup dapat disimulasikan, sedangkan settlement pada bagian belakang backfill kurang dapat disimulasikan. Semakin tinggi, maka residual displacement akan semakin besar.

horizontal displacement residual displacement backfill settlement tensile force in reinforcement

UNIVERSITAS INDONESIA

18

Residual displacement hasil pengukuran tidak jauh berbeda dengan residual displacement hasil perhitungan. Akselerasi pada backfill disimulasikan dengan baik. dapat

Tensile force hasil perhitungan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tensile force hasil pengukuran.

Guller et al 2011

Pada penelitian ini dilakukan analisis mengenai respon dari MSE wall dengan backfill tanah lempung menggunakan FEM. Dilakukan juga perbandingan respon MSE wall dengan bacfill tanah lempung dengan respon MSE wall dengan backfill tanah granular.

Semakin tinggi, maka horizontal ketinggian displacement akan semakin besar. jenis perkuatan Horizontal displacement hasil FEM sangat dekat jika dibandingkan dengan jenis tanah horizontal displacement hasil pengukuran. percepatan gempa Maximum geogrid tensile load hasil FEM sangat dekat jika dibandingkan dengan maximum geogrid tensile load hasil pengukuran. Horizontal displacement berbanding terbalik dengan kekuatan geogrid.

horizontal displacement maximum geogrid tensile load

UNIVERSITAS INDONESIA

19

Reinforcement bagian bawah menanggung beban yang lebih besar dibandingkan dengan reinforcement bagian atas. Beban yang ditanggung reinforcement berbanding lurus dengan kekuatannya. Wall displacement cenderung lebih kecil jika menggunakan backfill tanah lempung jika dibandingkan dengan displacement jika menggunakan tanah granular. Beban yang di tanggung oleh reinforement cenderung lebih kecil jika digunakan material backfill tanah lempung. Horizontal displacement berbanding lurus dengan percepatan gempa.

UNIVERSITAS INDONESIA

20

Kencana et al 2012

Pada penelitian ini dilakukan Am berbanding terbalik dengan amax. amax pengamatan terhadap fenomena amplifikasi dan atenuasi pada Am berbanding lurus dengan z/H, pada Lokasi (z/H) MSE wall. amax < 0,4g Frekuensi Am berbanding terbalik dengan z/H, pada amax > 0,4g Am berbanding lurus dengan frekuensi.

Am

UNIVERSITAS INDONESIA

21

Pada tabel di atas dapat terlihat penelitian-penelitian yang telah dilakukan terkait MSE wall yang mendapatkan beban seismik. Dari situ dapat terlihat bahwa belum ada penelitian yang secara khusus membahas tentang perbandingan antara respon seismik MSE wall dengan perkuatan pada satu sisi dengan respon seismik MSE wall dengan perkuatan pada dua sisi.

2.3

Pseudo-static Pada pendekatan ini, sesuai namanya yang mengandung kata statik,

beban dinamik gempa dianggap sebagai beban statik, dan tidak memperhatikan efek dari waktu, dengan kata lain tidak ada perubahan beban terhadap waktu. Pada pendekatan ini digunakan koefisien gempa untuk merepresentasikan kekuatan gempa, yaitu koefisien horizontal (kh) dan koefisien vertikal (kv). Gaya gempa merupakan hasil perkalian antara koefisien gempa dengan berat dari massa yang mengalami gaya gempa. Gaya ini bekerja pada titik berat dari massa yang mengalami gaya gempa.

(2.1)

(2.2)

Percepatan gempa merupakan hasil perkalian antara koefisien gempa dengan percepatan gravitasi (g).

(2.3)

(2.4)

UNIVERSITAS INDONESIA

22

Gambar 2.1 Pseudo Static Approach


(modified Ebeling, et al., 2007)

Yang termasuk dalam dalam metode pseudo-static ini antara lain namun tidak terbatas pada: Mononobe-Okabe (1926, 1929) Metode Mononobe-Okabe merupakan salah satu cara yang paling sering digunakan untuk mendapatkan beban seismik aktif.

(2.5)

(2.6)

UNIVERSITAS INDONESIA

23

(2.7).

(2.8).

Pae Ppe Kae Kpe H

= seismic active force per unit length of the wall = seismic passive force per unit length of the wall = seismic active earth pressure coefficient = seismic passive earth pressure coefficient = unit weight of soil = height of the retaining wall = soil friction angle = tan-1[kh/(1-kv)] = angel of friction between the wall and the soil = backfil slope angle = angle of backface of the wall with the vertical

UNIVERSITAS INDONESIA

24

Gambar 2.2 Mononobe-Okabe Method


(Munfakh, et. al., 1998)

Gaya Pae ini bekerja pada ketinggian m H dari toe dinding, dengan H adalah tinggi dinding, dan m adalah faktor dengan nilai antara 0,33 hingga 0,6. Metode Mononobe-Okabe ini dapat menghasilkan gaya yang sangat besar bahkan cenderung mendekati tak terhingga dalam kasus percepatan gempa yang besar atau kemiringan dari slope backfill sangat curam. Hal ini dapat terjadi jika salah satu atau kedua kondisi berikut terpenuhi:

(2.9)

(2.10)

Kapila and Maini (1692) Arya and Gupta (1966) Prkash and Saran (1966) Madhav and Kameswara Rao (1969) Ebeling and Morrison (1992)

UNIVERSITAS INDONESIA

25

Morrison and Ebeling (1995) Bathurst & Cai (1995) Choudhury et al. (2002) Subba Rao and Choudhury (2005) Choudhury and Singh (2006)

2.4

Displacement Based Pada pendekatan displacement based ini, diasumsikan dinding akan

mengalami deformasi pada saat gempa, dan akan dicari seberapa besar deformasi tersebut. Yang termasuk dalam dalam pendekatan displacement based ini antara lain namun tidak terbatas pada: Newmark (1965) Richards and Elms (1979) Prakash (1981) Nadim and Whitman (1983) Sherif and Fang (1984) Ling and Leshchinsky (1998) Rathje and Bray (1999) Koseki et al. (2004) Choudhury and Nimbalkar (2006) Siddharthan et al. (2010) Siddharthan et al telah melakukan penelitian tentang efek panjang geosintetik yang tidak seragam pada MSE wall yang mendapatkan beban seismik. Dilakukan pengujian pada dua dinding yang saling membelakangi dengan menggunakan alat centrifuge. Pada wall 1 dipasang geosintetik dengan panjang seragam 0,7 H, sedangkan pada wall 2, dipasang geosintetik dengan panjang 1,4 H pada bagian atas, dan 0,7 H pada bagian tengah dan bawah seperti gambar di bawah. Pada pengujian ini digunakan faktor skala 24 (percepatan 24 g), sehingga dimensi dari model lebih kecil 24 kali dibandingkan dengan dimensi dari prototipe.

UNIVERSITAS INDONESIA

26

Gambar 2.3 Model MSE Wall yang Diuji dengan Alat Centrifuge
(Siddharthan et al, 2010)

Berdasarkan hasil pengujian centrifuge, digunakan mekanisme keruntuhan yang terdiri dari 3 block seperti gambar berikut:

Gambar 2.4 Model Tiga Block Lateral Wall Displacement


(Siddharthan et al, 2010)

UNIVERSITAS INDONESIA

27

Gambar 2.5 Lateral Displacement yang Terukur Terhadap Waktu


(Siddharthan et al, 2010)

Dalam uji centrifuge ini, diukur displacement dari bagian tengah dinding dan hasilnya diplot pada grafik di atas. Pada grafik di atas dapat terlihat kurva permanent component dan kurva cyclic component. Permanent component adalah displacement dari wall yang menjauh dari backfill, sedangkan cyclic componet adalah displacement seketika dari wall akibat dari getaran gempa. Setelah 12 sekon, hanya ada permanent component. Pada grafik juga dapat terlihat kurva penjumlahan displacement kedua dinding dimana tidak terlihat cyclic componet yang signifikan pada kurva ini. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa (1) permanent displacement dari wall terjadi secara proggressif menjauhi backfill dengan cyclic component yang dapat diabaikan, (2) cyclic component terjadi sebagai akibat dari gaya inersia dari getaran, (3) Pergerakan dinding mendekati backfill sangatlah kecil sehingga dapat diabaikan. Dari grafik 2.5 di atas, dapat terlihat bahwa displacement dari wall 1, lebih besar jika dibandingkan dengan displacement dari wall 2, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan geosintetik yang lebih panjang pada bagian atas wall dapat mengurangi displacement akibat beban seismik.

UNIVERSITAS INDONESIA

28

2.5

Finite Element Analysis Bathurst & Hatami (1998) Bathurst & Hatami melakukan penelitian tentang pengaruh dari kekakuan perkuatan, panjang perkuatan, dan kondisi batas dari dasar dinding terhadap respon MSE wall terhadap beban seismik. Analisa dilakukan dengan menggunakan program FLAC (Fast Lagrangian Analysis of Continua yang menggunakan metode finite difference. Dilakukan komparasi antara hasil analisa dari FLAC dengan hasil analisa berbasis FEM yang telah ada, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa hasil dari program FLAC ini valid.

UNIVERSITAS INDONESIA

29

Gambar 2.6 Perbandingan Hasil Analisa FLAC dengan Hasil Analisa Berbasis FEM oleh Ho (1993)
(Bathurst & Hatami, 1998)

Dari grafik di atas dapat terlihat bahwa hasil analisa FLAC dengan hasil analisa berbasis FEM oleh Ho tidak jauh berbeda, sehingga dapat

UNIVERSITAS INDONESIA

30

diambil kesimpulan bahwa program FLAC ini menghasilkan result yang valid.

2.6

Penelitian oleh Erick Yusuf Kencana (2012) Pada penelitian ini dilakukan dynamic centrifuge test dan hasilnya digabungkan dengan kompilasi penelitian-penelitian sebelumnya tentang MSE Wall. Dari kompilasi tersebut, dilakukan evaluasi terhadap pengaruh berbagai faktor (lokasi, kemiringan facing, initial Dr, kekuatan geosintetik, spasi vertikal, beban luar, frekuensi, dan akselerasi gempa) terhadap faktor amplifikasi (Am) dan beban perkuatan dinamik pada MSE wall.

Gambar 2.7 Grafik Am vs ag untuk Bagian Atas Dinding


(Kencana, 2012)

UNIVERSITAS INDONESIA

31

Gambar 2.8 Grafik Am vs ag untuk Bagian Tengah Dinding


(Kencana, 2012)

Gambar 2.9 Grafik Am vs ag untuk Bagian Bawah Dinding


(Kencana, 2012)

UNIVERSITAS INDONESIA

32

Gambar 2.10 Perbandingan Trendline Am vs ag Bagian Atas, Tengah, dan Bawah Dinding
(Kencana, 2012)

Gambar 2.11 Grafik z/H vs Am


(Kencana, 2012)

UNIVERSITAS INDONESIA

33

Dari grafik 2.7 hingga 2.10 dapat terlihat bahwa semakin tinggi akselerasi gempa, maka faktor amplifikasi akan semakin rendah, bahkan pada akselerasi di atas 0,4 g terjadi atenuasi. Dari grafik 2.11 dapat terlihat bahwa faktor amplifikasi tidaklah linear terhadap ketinggian (atas, tengah, bawah). Dari grafik z/H vs Am di bawah ini juga dapat terlihat bahwa hubungan Am dengan ketinggian tidaklah linear.

Gambar 2.12 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada


(Kencana, 2012)

Dari gambar 2.12 di atas, dapat terlihat bahwa semakin besar , maka akan semakin besar pula faktor amplifikasi.

UNIVERSITAS INDONESIA

34

Gambar 2.13 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada initial Dr


(Kencana, 2012)

Pada gambar 2.13 di atas dapat terlihat bahwa kenaikan initial Dr akan menyebabkan kenaikan faktor amplifikasi.

Gambar 2.14 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Tult


(Kencana, 2012)

Pada gambar 2.14 di atas dapat terlihat bahwa kenaikan kekuatan geosintetik akan mengakibatkan turunnya faktor amplifikasi

UNIVERSITAS INDONESIA

35

Gambar 2.15 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Sv


(Kencana, 2012)

Pada gambar 2.15 di atas dapat terlihat bahwa penurunan Sv akan mengakibatkan naiknya faktor amplifikasi.

Gambar 2.16 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Frekuensi


(Kencana, 2012)

UNIVERSITAS INDONESIA

36

Gambar 2.17 Grafik Am vs ag dengan Variasi pada Frekuensi


(Kencana, 2012)

Pada gambar 2.16 dan 2.17

di atas dapat terlihat bahwa

peningkatan frekuensi akan mengakibatkan naiknya faktor amplifikasi. Tabel 2.2 Pengaruh Berbagai Faktor terhadap MSE Wall

(Kencana, 2012)

UNIVERSITAS INDONESIA

37

Secara ringkas, berdasarkan penelitian Kencana (2012), pengaruh dari berbagai faktor terhadap MSE wall dapat di lihat pada tabel 2.2 di atas. Dari tabel tersebut dapat terlihat bahwa frekuensi dan akselerasi gempa merupakan faktor yang mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap faktor amplifikasi.

UNIVERSITAS INDONESIA

38

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Gambaran Umum Penelitian Secara garis besar penelitian ini dapat dibagi menjadi dua bagian besar,

yaitu permodelan dinding dengan perkuatan pada satu sisi, dan yang kedua adalah permodelan dinding dengan perkuatan pada dua sisi. Permodelan dinding dengan perkuatan pada satu sisi ini bertujuan untuk mengkalibrasi model dengan acuan penelitian Kencana (2012). Model dinding dengan perkuatan pada satu sisi dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan perilaku yang sama dengan dinding pada penelitian Kencana (2012). Pada kasus ini, perilaku dinding pada penelitian Kencana (2012) dianggap sebagai perilaku dinding yang benar, sehingga model dinding dengan perkuatan satu sisi dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan perilaku yang mendekati kebenaran tersebut. Setelah didapatkan model dinding dengan perkuatan pada satu sisi yang benar, penelitian dilanjutkan dengan permodelan dinding dengan perkuatan pada dua sisi. Permodelan dinding dengan perkuatan pada dua sisi ini masih menggunakan dasar konfigurasi dan spesifikasi yang sama dengan dinding dengan perkuatan pada satu sisi, hanya saja dinding dibuat menjadi dua sisi, sisi kiri dan sisi kanan. Pada dinding dua sini ini juga akan diperhatikan bagaimana perilakunya. Bisa saja perilaku dinding dengan perkuatan pada dua sisi ini tidak sama dengan dinding dengan perkuatan hanya pada satu sisi saja. Perilaku dinding dengan perkuatan pada dua sisi ini akan dibandingkan dengan perilaku dinding dengan perkuatan hanya pada satu sisi saja. Hasil dari perbandingan tersebut akan dianalisa, dan diharapkan memberikan gambaran yang lebih luas mengenai perilaku dinding dengan perkuatan pada dua sisi yang mendapatkan beban seismik.

UNIVERSITAS INDONESIA

39

3.2

Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

UNIVERSITAS INDONESIA

40

3.3

Permodelan Dinding dengan Perkuatan Pada Satu Sisi Pada tahapan ini akan dilakukan permodelan dinding dengan perkuatan pada satu sisi. Yang menjadi variabel bebas adalah frekuensi gempa, dan akselerasi gempa. Dengan perubahan variabel bebas ini, akan diamati perubahan dari faktor amplifikasi (Am).

Gambar 3.2 Geometri Model

Digunakan dinding dengan spesifikasi sebagai berikut: Jenis facing Material model : Concrete panel : Mohr - Coulomb

Ketinggian dinding (H) : 6 m Tebal panel Lebar panel Tinggi panel Material Berat E Elastic stiffness (EA) Poisson ratio () : 15 cm : 100 cm : 100 cm : Beton : 24 kN/m3 : 3,6 kN/m2 : 30000000 kN/m2 : 4,5 106 kN /m

Flextural rigidity (EI) : 8438 kNm2 /m : 0,1

Digunakan juga selapis tipis tanah setebal 2 cm di bawah dinding, dengan maksud agar bagian bawah dinding dapat mengalami displacement.

UNIVERSITAS INDONESIA

41

Digunakan perkuatan dengan spesifikasi sebagai berikut: Jenis perkuatan : geogrid

Panjang perkuatan (L) : 4,2 m Spasi vertikal (Sv) Elastic stiffness (EA) :1m : 10000 kN/m

Digunakan backfill dengan spesifikasi sebagai berikut: Jenis backfill Material model Berat jenis () Poissons ratio () Kohesi (c) Sudut geser () Sudut dilatansi () Modulus geser (G) : pasir : Mohr - Coulomb : 18 kN/m3

Modulus elastisitas (E) : 30000 kN/m2 : 0,3 : 5 kN/m2 : 35 : 0 : 11540 kN/m2

Digunakan base soil dengan spesifikasi sebagai berikut: Material model Berat jenis () Poissons ratio () Kohesi (c) Sudut geser () Sudut dilatansi () Modulus geser (G) : Mohr - Coulomb : 22 kN/m3

Modulus elastisitas (E) : 200000 kN/m2 : 0,1 : 100 kN/m2 : 30 : 0 : 90909 kN/m2

Untuk gempanya, digunakan getaran sinusoidal dengan durasi 30 detik, dan variasi akselerasi dan frekuensi sebagai berikut: Akselerasi Frekuensi : 0,1 g; 0,2 g; 0,3 g : 1 Hz, 3 Hz, 5 Hz

UNIVERSITAS INDONESIA

42

Dengan adanya variasi pada akselerasi dan juga frekuensi gempa ini, akan diperhatikan pengaruhnya terhadap faktor amplifikasi (Am).

3.4

Validasi Pada tahapan ini akan dilakukan perbandingan antara respon seismik dinding MSE Wall hasil dari tahapan sebelumnya dengan respon seismik dinding MSE Wall hasil penelitian Kencana (2012) yang menggunakan centrifuge. Jika respon dari MSEW dengan perkuatan pada satu sisi pada peneliaan ini memiliki trend yang sama dengan penelitian Kencana (2012), maka dapat disimpulkan bahwa model ini valid, namun sebaliknya jika respon dari MSEW pada penelitian ini tidak memiliki trend yang sama dengan penelitian Kencana (2012), maka dapat disimpulkan bahwa model pada penelitian ini tidak valid. Respon seismik yang dimaksud adalah faktor amplifikasi (Am) Jika model valid, maka dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu permodelan dinding dengan perkuatan pada dua sisi. Jika hasilnya tidak valid, maka dilakukan refinement pada model dinding dengan perkuatan pada satu sisi, hingga modelnya valid.

3.5

Permodelan Dinding dengan Perkuatan Pada Dua Sisi Pada tahapan ini akan dilakukan permodelan dinding dengan perkuatan pada dua sisi. Model dinding dengan perkuatan pada dua sisi ini menggunakan spesifikasi yang sama dengan dinding dengan perkuatan pada satu sisi, dan juga mendapatkan getaran seismik dengan karakteristik yang sama. Sama seperti dinding dengan perkuatan pada satu sisi, pada kasus dinding dengan perkuatan pada dua sini ini juga akan diperhatikan pengaruh perubahan akselerasi dan frekuensi gempa terhadap faktor amplifikasi (Am).

3.6

Analisa Pada tahapan ini akan dilakukan perbandingan dari respon seismik MSE wall dengan perkuatan pada satu sisi dengan respon seismik MSE wall

UNIVERSITAS INDONESIA

43

dengan perkuatan pada dua sisi, dan akan diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.

3.7

Kesimpulan Pada tahapan ini akan dipaparkan kesimpulan dari penelitian ini.

UNIVERSITAS INDONESIA

44

DAFTAR PUSTAKA

Kumar, Kamalesh. Basic Geotechnical Earthquake Engineering. New Delhi: New Age International, 2008.

South Carolina Department of Transportation. SCDOT Geotechnical Design Manual. Columbia: SCDOT, 2010. Passe, Paul D. Mechanically Stabilized Earth Wall Inspectors Handbook. Tallahasse: Florida Department of Transportation, 2000.

Kencana, Erick Yusuf. Evaluation of Acceleration Amplified Response and Mobilized Reinforcement Loads within Geosynthetic Reinforced Structures under Dynamic Loading. Master Thesis. Taipei: National Taiwan University of Science and Technology, 2012.

Holst, Martin. Numerical and Analytical Analysis of Geogrid Reinforced Soil Wall Subjected to Dynamic Loading. Master Thesis. Trondheim: Norwegian University of Science and Technology, 2012.

Basha, B. Munwar, dan P. K. Basudhar. Pseudo Static Seismic Stability Analysis of Reinforced Soil Structures. 2010.

Koseki, J., et al. Evaluation of Seismic Displacement of Reinforced Walls. 2004.

Nouri, H., A. Fakher, dan C. J. F. P. Jones. Evaluating the effects of the magnitude and amplification of pseudo-static acceleration on reinforced soil slopes and walls using the limit equilibrium Horizontal Slices Method. 2007.

UNIVERSITAS INDONESIA

45

El-Emam, Magdy M., Richard J. Bathurst, dan Kianoosh Hatami. Numerical Modeling of Reinforced Soil Retaining Walls Subjected to Base Acceleration. 2004.

Ling, Hoe I., et al. Finite Element Simulations of Full Scale Mudular Block Reinforced Soil Retaining walls under Earthquake Loading. 2010.

Guller, Erol, et al. Numerical Analysis of Reinforced Soil Walls With Granular and Cohesive Backfills Under Cyclic Loads. 2011.

Bathurst, R. J., dan Z. Cai. Pseudo-Static Seismic Analysis of GeosyntheticReinforced Segmental Retaining Walls. 1995.

Koseki, J., et al. Shaking and Tilt Table Tests of Geosynthetic-Reinforced Soil and Conventional-Type Retaining Walls. 1998.

Matsuo, O., et al. Shaking Table Tests and Analyses of Geosynthetic-Reinforced Soil Retaining Walls. 1998.

Bathurst, R. J., dan K. Hatami. Seismic Response Analysis of a GeosyntheticReinforced Soil Retaining Wall. 1998.

Helwany, Sam M. B., M. Budhu, dan David McCallen. Seismic Analysis of Segmental Retaining Walls. I: Model Verification. 2001.

Siddharthan, R., V. Gopalan, dan S. Bukhary. Application of Displacement-Based Seismic Design Approach for MSE Walls with Uneven Reinforcement. 2010.

Ling, Hoe I., et al. Large-Scale Shaking Table Tests on Modular-Block Reinforced Soil Retaining Walls. 2005.

UNIVERSITAS INDONESIA