Anda di halaman 1dari 16

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Status Jenis kelamin Agama Alamat Pekerjaan Tanggal periksa Ruangan No.

Rekam Medik : Tn. Soleh : 53 tahun : Menikah : Laki-laki : Islam : Ds.Penden Rt/Rw 03/01 Kec. Mundu Kab. Cirebon : Kuli serabutan : 1 April 2013 : Poli Bedah RSUD Waled : 689346

ANAMNESIS Keluhan utama : Terdapat benjolan di lipat paha sebelah kiri Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSUD Waled dengan keluhan ada benjolan pada lipat paha sebelah kiri yang hilang timbul sejak kurang lebih 5 bulan yang lalu. Benjolan tersebut timbul pada saat berdiri dan saat melakukan aktivitas, kemudian benjolan tersebut masuk secara spontan saat pasien berbaring. Pasien menyangkal adanya keluhan nyeri pada benjolan. Pasien mengaku sering mengangkat benda berat. Pasien tidak pernah mempunyai keluhan batuk lama, Keluhan tidak disertai demam, perut kembung, rasa mual dan muntah. Pasien mengaku BAK lancar, BAB lancar dan masih bisa kentut. Pasien belum pernah memeriksakan keluhan tersebut sebelumnya. Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien belum pernah mempunyai keluhan serupa sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga : PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Vital sign : Tampak sakit sedang, tenang : Compos Mentis : TD Nadi Respiration Rate Suhu Status generalis : Kepala : 130/80 mmHg : 80 x /menit : 20 x / menit : 36,8 C : normocephal, simetris

Mata

: conjunctiva anemis -/Sklera ikterik -/-

Hidung Mulut Leher Thorak Jantung

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

: bunyi jantung I-II murni reguler Murmur - , gallop -

Paru

: vesikuler di kedua hemithorak Wheezing dan rhonki -/-

Abdomen

: Bising usus + Timpani di empat kuadran abdomen pada perkusi Nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), nyeri tekan lepas (-)

Genitalia

: dalam batas normal.

Ekstremitas : akral hangat.

Status lokalis pada regio ingunalis dextra : Inspeksi : Tampak tonjolan berbentuk lonjong pada daerah inguinalis sinistra, dengan diameter kurang lebih 5 cm atau sebesar telur ayam di daerah inguinalis sinistra pada saat pasien diminta berdiri, dan saat berbaring benjolan tersebut menghilang. Warna kulit sama dengan warna kulit sekitarnya, valsava test (+), tidak tampak adanya tanda-tanda inflamasi. Palpasi : Teraba tonjolan berbentuk bulat lonjong dengan diameter kurang lebih 5 cm atau sebesar telur ayam, konsistensi kenyal, benjolan bisa didorong masuk dengan jari, nyeri tekan (-), finger test (+) teraba benjolan pada ujung jari.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium : Darah Hb Leukosit Hematokrit Trombosit : 16,6 g/dl : 9000 /ui : 50 % : 295.000 /ui

RESUME

A. Anamnesis Pasien laki-laki umur 53 tahun datang dengan keluhan : Terdapat benjolan pada lipat paha kiri sebesar telur ayam Benjolan ada sejak 5 bulan yang lalu Benjolan jelas nampak saat pasien berdiri dan bila berbaring benjolan hilang atau tidak tampak Tidak ada keluhan demam, perut kembung, mual dan muntah

B. Pemeriksaan Fisik Status Generalisata : Dalam batas normal Regio Inguinalis Sinistra Inspeksi :

Terlihat benjolan sebesar telur ayam di daerah Inguinalis Sinistra, diameter 5 cm. Saat pasien dibaringkan benjolan dapat masuk sendiri Warna kulit sama dengan daerah sekitarnya Valsava test (+)

Palpasi (-) -

: Teraba benjolan, bentuk lonjong, sebesar telur ayam, konsistensi kenyal, nyeri tekan

Benjolan dapat didorong masuk dengan jari pada saat pasien berdiri Finger test : Benjolan teraba di ujung jari

DIAGNOSIS BANDING Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponibel Hidrocele

DIAGNOSIS KERJA Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponibel

PENATALAKSANAAN

Perbaikan Keadaan Umum Rencana Pre Operasi Konsul dr.Sp.B

PROGNOSIS Quo ad Vitam Quo ad Functionam : ad bonam : dubia Ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi hernia Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.1 1.2 Bagian-bagian hernia : a. Kantong hernia Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis. b. Isi hernia Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum). c. Pintu hernia Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia

1.3 Klasifikasi hernia1 Hernia diberi nama menurut tempat dimana terdapat kelemahannya. Hernia dibagi menjadi beberapa macam, antara lain : A. Berdasarkan letak a. Hernia inguinalis lateral/ indirek Disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis, dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis ekternus. Apabila hernia berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada

dalam m.kremaster terlatak anteromedial terhadap vas deferen dan struktur lain dalam tali sperma b. Hernia inguinalis medial/direk Disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol langsung kedepan melalui segitiga Hesselbach, daerah yang dibatasi ligamentum inguinal dibagian inferior, pembuluh epigastrika inferior dibagian lateral dan tepi otot rektus dibagian medial. Dasar segitiga hasselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat oleh serat aponeurisis m.tranversus abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjafi lemah. Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longgar.1 B. Berdasarkan kausanya a. hernia congenital b. hernia akuisita/dapatan, Dimana hernia dapat terjadi karena peningkatan tekanan intra abdominal. C. Berdasarkan sifatnya a. hernia reponibel Jika isi kantong hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan, dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri dan gejala obstruksi usus. Gambar 1. Hernia repponibilis, dimana isi kantong hernia tidak terjepit pada pintu hernia.

b. Hernia ireponibel Jika isi kantong hernia tidak dapat keluar masuk. Ini biasanya terjadi disebabkan oleh perlengketan isi kantong hernia pada peritoneum kantong hernia. Hernia jenis ini biasanya dikenal dengan nama hernia akreta. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus. Gambar 2. Hernia irreponibilis

c. Hernia inkarserata Merupakan hernia irreponibel yang disertai tanda-tanda obstruksi usus. Pada hernia tipe ini, isi kantung hernia terjepit

sehingga terjadi gangguan aliran pasase usus, dimana makanan tidak bisa lewat. Operasi hernia inkarserata merupakan operasi darurat nomer 2 setelah operasi appendicitis. Selain itu hernia inkarserata merupakan penyebab nomer satu kasus obstruksi usus di Indonesia. 1 Gambar 3. Hernia inkarserata

d. Hernia Strangulata

Hernia

irreponibilis

dimana

sudah

terjadi

gangguan

vaskularisasi viscera yang terperangkap dalam kantung hernia. Pada keadaan sebenarnya, gangguan caskularisasi sudah mulai terjadi sejak jepitan dimulai. Gannguan terdiri dari beberapa tingkatan, dari mulai bendungan sampai dengan nekrosis. 1 Gambar 4. Hernia strangulate

D. Berdasarkan arah hernia a. Hernia eksterna Merupakan hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar, karena menonjolnya ke arah luar. b. Hernia interna Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya ke cavum thorax, bursa omentum, atau masuk ke dalam recessus di dalam cavum abdomen. 1 1.4 Etiologi Biasanya tidak ditemukan sebab yang pasti, meskipun kadang

dihubungkan dengan angkat berat. Hernia terjadi jika bagian dari organ perut ( biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya. Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia, lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar

tersebut. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosessus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan didalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.1 Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya.1 Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal, sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis. 1

1.5 Patofisiologi Pada orang sehat ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis yaitu: a. kanalis inguinalis yang berjalan miring b. adanya struktur m.oblikus internus abdominis yang menutup annulus inguinalis internus ketika berkontraksi c. adanya fasia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada ketiga mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus internus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan annulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.1

1.6 Diagnosis a. Manifestasi klinis Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel, keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, mengedan dan menghilang setelah berbaring. Biasanya pasien harus berdiri saat

pemeriksaan , kerena tidak mungkin meraba suatu hernia lipat paha yang bereduksi pada saat pasien berbaring. Hidrokel bertransiluminasi, tetapi hernia tidak.2 Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalaupun ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mula dan muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.1 Hernia yang tidak dapat dideteksi oleh pemeriksaan fisik, dapat dilihat dengan ultrasonografi atau tomografi komputer.

b.

Pemeriksaan fisik 1. Inspeksi Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan menghilang setelah berbaring. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara valsava test, pasien diminta mengedan atau meniup sambil menutup mulutnya kemudian lakukan penilaian pada benjolan yang mucul. Lateralis : muncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari

lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tojolan lanjutan dari hernia inguinalis lateralis. Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat.

2. P alpasi Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum ditekan lalu pasien disuruh mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa itu hernia inguinalis medial. Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum ditekan lalu pasien disuruh mengejan

jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat diasumsikan sebagai hernia inguinalis lateral. Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis) ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berarti hernia inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis. Hernia inguinalis : kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tanda sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat direposisi pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien mulai mengedan kalau hernia menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. lipat paha dibawah ligamentum inguina dan lateral tuberkulum pubikum.1 Hernia femoralis : benjolan lunak di benjolan dibawah ligamentum inguinal. Hernia inkarserata : nyeri tekan. Teknik pemeriksaan sederhana yaitu:3 Pemeriksaan Finger Test : 1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5. 2. Dimasukkan lewat skrotum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal. 3. Penderita disuruh batuk/mengedan Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis. Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis Medialis Pemeriksaan Ziemen Test : 1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dahulu (biasanya oleh penderita). 2. 3. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada : jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis. jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis. jari ke 4 : Hernia Femoralis

Pemeriksaan Thumb Test : Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis

1.7 Diagnosis banding hernia inguinalis a. Hidrocele Hidrocele pada funikulus spermatikus maupun testis, yang membedakan: Pasien diminta mengejan bila benjolan adalah hernia maka akan membesar, sedang bila hidrocele benjolan tetap tidak berubah. Bila benjolan terdapat pada skrotum , dapat dilakukan pemeriksaan transiluminasi. Jika cahaya yang disinari tembus pada skrotum maka transiluminasi (+), merupakan suatu hidrocele. b. Kriptochismus. Testis tidak turun sampai ke skrotum tetapi kemungkinannya hanya sampai kanalis inguinalis 1.8 Penatalaksanaan1 1.Konservatif Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi a. Reposisi Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulata, kecuali pada pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak

disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. 2. Operatif Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplastik. Herniotomi adalah suatu tindakan dengan membebaskan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi dan kantong hernia dijahit ikat. Pada herniopalsti dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Dikenal berbagai metode hernioplasti, seperti memperkecil annulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa dan menjahitkan pertemuan otot transverses internus abdominis dan otot oblikus internus abdominis, yang dikenal dengan nama conjoint tendon, ke ligamentum Pouparti menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia transversa, otot transverses abdominis, dan otot oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada metode Lotheissen- McVay. Kelemahan teknik herniotomi adalah terdapatnya regangan berlebihan pada otot-otot yang dijahit. Untuk mengatasi masalah ini pada tahun 1980 dipopulerkan pendekatan operasi bebas regangan yaitu teknik herniorafi bebas regangan. Pada teknik ini digunakan mesh untuk memperkuat fasia transversalis yang membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa menjahitkan otot-otot ke ligamentum inguinal. 1.9 Komplikasi1 Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia irreponibel; ini dapat terjadi kalau hernia terlalu besar atau terdiri dari omentkan karena mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut didaerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada tali sperma yang mengandungum, organ ektraperitoneal (hernia geser) atau hernia akreta. Disini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan. Dapat pula terjadi

isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulate yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograde yaitu dua segmen usus terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga peritoneum seperti hurup W. Jepitan hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringa terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses local, fistel atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut. Gambaran klinik hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan , elektrolit, dan asam basa. Bila sudah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi terjadi gangguan toksik akibat gangrene, gambaran klinik menjadi komplek dan sangat serius. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat ditempat hernia, nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneum. Pada pemeriksaan lokal yang ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan lagi, disertai nyeri tekan dan tergantung keadaaan isi hernia dapat dijumpai tanda pereitonitis atau abses local. Hernia strangulate merupakan keadaan gawat darurat karena perlu mendpat pertolongan segera. 1 1.10 Prognosis2 Perbaikan klasik memberikan angka kekambuhan sekitar 1% -3% dalam jarak waktu 10 tahun kemudian. Kekambuhan disebabkan oleh tegangan yang berlebihan pada saat perbaikan, jaringan yang kurang, hernioplasti yang tidak adekuat, dan hernia yang terabaikan. Kekambuhan yang sudah diperkirakan, lebih umum dalam pasien dengan hernia direk, khususnya hernia direk bilateral. Kekambuhan tidak langsung biasanya akibat eksisi yang tidak adekuat dari ujung proksimal kantung. Kebanyakan kekambuhan adalah langsung dan biasanya dalam regio tuberkulum pubikum, dimana tegangan garis jahitan adalah yang

terbesar.insisi relaksasi selalu membantu. Perbaikan hernia inguinalis bilateral secara bersamaan tidak meningkatkan tegangan jahitan dan bukan merupakan penyebab kekambuhan seperti yang dipercaya sebelumnya. Hernia rekuren membutuhkan prostesis untuk perbaikan yang berhasil, kekambuhan setelah hernioplasti prostesisanterior paling baik dilakukan dengan pendekatan

preperitoneal atau secara anterior dengan sumbat prostesis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidayat R, De jong Wim. Buku ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC. Jakarta.2012 2. Schwartz. Et al. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah Edisi 6. EGC. Jakarta. 2000. 3. Brian W. Ellis & Simon P-Brown. Emergecy surgery. Edisi XXIII. Penerbit Hodder Arnold. 2006.

Anda mungkin juga menyukai