Anda di halaman 1dari 13

TANGGAPAN TERHADAP AJARAN & PRAKTEK PDT. YESAYA PARIADJI (GEREJA TIBERIAS INDONESIA) TENTANG MINYAK URAPAN By.

Pdt. Budi Asali, M. Div

Pdt. Yesaya Pariadji dari Gereja Tiberias Indonesia terkenal sebagai pendeta yang banyak membuat mujijat dengan menggunakan minyak urapan. Bagaimana sesungguhnya ajaran dan praktek Pdt. Yesaya Pariadji terkait dengan minyak urapan ini? Dan apakah itu cocok dengan ajaran Alkitab tentang minyak urapan? Bagaimana sebenarnya ajaran Alkitab tentang minyak urapan? Ikuti pembahasan di bawah ini : ***********
1. Ia menggunakan minyak urapan untuk melakukan kesembuhan.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Jadi kalau orang ingin dibebaskan dari bisu, alergi, karena alergi juga tidak bisa disembuhkan oleh manusia maka diolesi dengan minyak urapan setiap hari - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 13. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Theresia, ia menderita alergi terhadap gigitan nyamuk. Hal ini sangat menganggunya karena bekas-bekas gigitan itu menimbulkan luka dan meninggalkan bekas pada kulitnya yang sulit hilang. Dengan kuasa Yesus melalui Minyak Urapan yang selalu dioleskannya, ia sembuh dan tidak alergi lagi terhadap nyamuk - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 21.
2. Ia juga mengatakan bahwa penggunaan minyak urapan itu bisa me-

nyebabkan seseorang menjadi sakti.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: ada beberapa orang bersaksi anaknya ditabrak mobil truk tidak mati, ada yang diseret mobil tidak mati karena telah diurapi dengan minyak urapan - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 15.
3. Ia juga menggabungkan minyak urapan dan Perjamuan Kudus

untuk memberikan kesembuhan. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Bapak Yohanes dan Ibu Yuli bersaksi bahwa pada bulan April 2000 ibu tersebut menderita penyakit kista sewaktu hamil 5 bulan. Dokter mengatakan bahwa ibu ini harus membuang janin yang dikandungnya. Ibu Yuli percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkannya dan ia pergi ke Tiberias. Masih di bulan April 200 ibu ini didoakan oleh Pdt. Drs. Y. Pariadji dan beliau bernubuat bahwa ibu Yuli pasti sembuh dan anaknya akan lahir dengan selamat. Kemudian Bapak Pariadji memberikan Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan. Pada bulan Desember 2000 di Dome of Tiberias ibu ini bersaksi bahwa ia sembuh dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Daniel yang sekarang berumur 4 bulan Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 20. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Bapak Titus Sugandi yang tidak dapat berjalan mengikuti acara Natal GBI Tiberias di Hotel Grand Aquila Bandung pada tanggal 14 Desember 2000. Dengan mengikuti satu kali Perjamuan Kudus dan diolesi Minyak Urapan pada kakinya bapak tersebut dapat berjalan - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 20. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Bapak Jimmy yang tidak dapat melihat mengikuti acara Natal GBI Tiberias di Hotel Grand Aquila Bandung pada tanggal 14 Desember 2000. Dengan mengikuti satu kali Perjamuan Kudus dan diolesi Minyak Urapan pada matanya yang tidak dapat melihat (buta) bapak tersebut langsung dapat melihat Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 20. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Lisa, menderita tumor di bagian lehernya sewaktu ia masih berumur 16 hari. Karena iman dari ibunya yang begitu kuat dimana ibu ini mengikuti Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan beberapa kali di GBI Tiberias maka sekarang pada usianya

yang ke 6 bulan Lisa sembuh dari penyakitnya - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 21. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Carend Roan Delano (19 th), bersaksi di GBI Tiberias Jakarta Theater bahwa ia menderita Hepatitis C selama beberapa tahun. Dengan mengikuti Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan serta didoakan langsung oleh Pdt. Drs. Y. Pariadji, ia sembuh total. Carend mengecek langsung ke dokter dan dinyatakan sembuh - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 21.
4. Dasar yang ia pakai untuk menggunakan minyak urapan.

a. Dari kitab Talmut Yahudi. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Saya banyak membaca buku tentang orang Yahudi seperti kitab Talmut. Disitu banyak kisah-kisah tak ditulis dalam Alkitab yang di dalamnya ditulis pengalaman Yesaya waktu diangkat ke sorga. Saya percaya bahwa Yesaya waktu diangkat ke Sorga pasti mempunyai banyak pengalaman karena waktu saya dulu diangkat ke Sorga, saya juga mempunyai banyak pengalaman. Saya dikhotbahi oleh Tuhan Yesus, saya diajari Perjamuan Kudus, saya diajari cara membaptis yang benar dan banyak lagi hal yang diajarkan Tuhan Yesus kepada saya. Maka diwaktu saya membaca kitab Talmut, Yesaya itu menulis lebih dari 90 pasal. Misalnya, di waktu Yesaya ketemu Henokh di Sorga kemudian bagaimana Henokh bercerita pada Yesaya bahwa dia waktu masuk pintu Sorga maka Allah yang Mahakuasa memanggil Michael kataNya: Michael, Michael, urapi hambaKu Henokh baru boleh dia menghadap kepadaKu. Jadi urapi dengan apa? Dengan minyak urapan. Jadi orang-orang Yahudi pada waktu itu percaya pada minyak urapan. ... Jadi bila dulu Henokh diurapi maka saya percaya kalau minyak urapan itu penuh kuasa. ... Maka saya mengutip dari kitab bangsa Yahudi yaitu Henokh diurapi Tuhan dengan minyak urapan itu baru dia bisa menghadap ke tahta Allah - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 14. Tanggapan Budi Asali : Kitab Talmut Yahudi tidak kita akui sebagai Kitab Suci / Firman Allah. Karena itu jelas tidak boleh dipakai sebagai dasar ajaran. 3

Perhatikan kutipan di atas. Henokh masuk surga bukan karena penebusan / darah Kristus, tetapi karena minyak urapan! Ini jelas sesat! Dalam penceritaan dari kitab Talmut dalam kutipan di atas, Henokh bukan disembuhkan dengan minyak urapan, tetapi masuk surga/menghadap takhta Allah karena minyak urapan. Lalu mengapa Pdt. Yesaya Pariadji membelokkannya dan menerapkannya pada kesembuhan?

b. Dari Kitab Suci. 1) Wah 3:18. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Di dalam Alkitab yaitu dalam Wahyu 3:18 yang berkata: Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Kata-kata ini diberikan kepada orang-orang yang diprogramkan masuk keruang Maha Suci. Dan ternyata Gereja yang membawa orang ke ruang Maha Suci diberikan ciri yaitu ada kuasa minyak urapan, ada kuasa baptisan dan perjamuan kudus Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 14. Tanggapan Budi Asali : Ini penafsiran yang tolol! Karena dalam Wah 3:18 itu, baik emas, pakaian putih maupun minyak jelas bukan sesuatu yang bersifat hurufiah / jasmani! Pada waktu seseorang datang kepada Kristus, ia pasti menerima hal-hal itu, sehingga ia menjadi kaya (secara rohani), tidak telanjang (secara rohani), dan bisa melihat (secara rohani). Kalau minyak pelumas mata itu mau dihurufiahkan / diartikan secara jasmani, dan diartikan sebagai minyak urapan, maka emas dan pakaian putih juga harus dihurufiahkan! Yang dibicarakan dalam Wah 3:18 adalah minyak pelumas mata, mengapa tahu-tahu berubah menjadi minyak urapan? Kalau mau tetap memaksakan untuk menggunakan Wah 3:18

ini, seharusnya Pdt. Yesaya Pariadji bukannya menggunakan minyak urapan, tetapi menggunakan obat tetes mata Rohto / Braito. Wah 3:18 hanya berbicara soal minyak pelumas mata, lalu dari mana tahu-tahu Pdt. Yesaya Pariadji berbicara soal baptisan dan perjamuan kudus (lihat bagian akhir dari kutipan di atas)? 2) Hak 9:8-9 - Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? (Catatan: bahwa Yesaya Pariadji menggunakan ayat ini sebagai dasar, saya dapatkan dari kaset). Tanggapan Budi Asali : Bacalah seluruh kontext, yaitu dari ay 1 sampai sekitar ay 16. Kalau kita membaca seluruh kontextnya, kita bisa melihat bahwa Hak 9:8-9 itu hanya sebagian dari suatu cerita. Bagaimana ayat itu bisa dipakai sebagai dasar penggunaan minyak urapan sebagai cara untuk menyembuhkan? Itu merupakan penggunaan ayat yang out of context! Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa minyak zaitun ini digunakan untuk menyembuhkan manusia. Kalau kata menghormati itu diartikan menyembuhkan, itu berarti minyak zaitun itu bisa menyembuhkan Allah dan manusia. Dalam penafsiran, kita tidak boleh menabrakkan satu ayat dengan ayat lainnya. Jadi bagaimanapun kita mau menafsirkan Hak 9:8-9 itu, kita tidak boleh menabrak Kel 30:22-33, yang saya berikan di bawah ini.
5. Ajaran Kitab Suci yang benar tentang minyak urapan.

Kel 30:22-33 - (22) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (23) Ambillah rempah-rempah pilihan, mur tetesan lima ratus syikal, dan kayu manis yang harum setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh 5

syikal, dan tebu yang baik dua ratus lima puluh syikal, (24) dan kayu teja lima ratus syikal, ditimbang menurut syikal kudus, dan minyak zaitun satu hin. (25) Haruslah kaubuat semuanya itu menjadi minyak urapan yang kudus, suatu campuran rempahrempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus. (26) Haruslah engkau mengurapi dengan itu Kemah Pertemuan dan tabut hukum, (27) meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan perkakasnya, dan mezbah pembakaran ukupan; (28) mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya. (29) Haruslah kaukuduskan semuanya, sehingga menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepadaNYA akan menjadi kudus. (30) Engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagiKu. (31) Dan kepada orang Israel haruslah kaukatakan demikian: Inilah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus bagiKu di antara kamu turun-temurun. (32) Kepada badan orang biasa janganlah minyak itu dicurahkan, dan janganlah kaubuat minyak yang semacam itu dengan memakai campuran itu juga: itulah minyak yang kudus, dan haruslah itu kudus bagimu. (33) Orang yang mencampur rempah-rempah menjadi minyak yang semacam itu atau yang membubuhnya pada badan orang awam, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.. Catatan: kata nya dalam ay 29 (yang saya cetak dengan huruf besar) seharusnya adalah them = (mereka). Jadi ini bukan menunjuk pada minyak urapan tersebut, tetapi pada Kemah Suci dan perkakasperkakasnya, yang telah dikuduskan oleh minyak urapan itu. Jadi dalam Kel 30:22-33 ini dikatakan bahwa membuat minyak urapan tidak boleh sembarangan. Campurannya ditentukan oleh Tuhan (ay 23-25), dan hanya boleh diberikan pada Kemah Suci, tabut, perkakas Kemah Suci (ay 26-28), dan kepada Harun dan anak-anaknya (ay 30), dan tujuannya adalah untuk menguduskan, bukan untuk menyembuhkan. Pelanggaran terhadap hal ini diancam dengan hukuman mati (ay 33). Tetapi kabarnya Pdt. Yesaya Pariadji menggunakan minyak zaitun sebagai minyak urapan, dan ia memberikannya kepada sembarang

orang yang sakit. Dan ia mengclaim bahwa hal ini diperintahkan oleh Tuhan. Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: Jadi mengapa saya sering membagikan minyak urapan karena demikianlah perintah Tuhan - Majalah Tiberias, Edisi V / 2001, hal 13. Bagaimana mungkin Tuhan mengajar dia sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Tuhan sendiri dalam Kitab Suci? Satu hal yang saya dengar melalui kaset, adalah bahwa ada orang yang meminum minyak urapan tersebut, dan kelihatannya hal itu dibenarkan oleh Yesaya Pariadji. Ini lagi-lagi merupakan suatu kegilaan! Hal lain yang perlu ditekankan adalah: karena dalam jaman Perjanjian Baru sudah tidak ada Kemah Suci atau Bait Allah, dan imam-imamnya, maka jelas bahwa penggunaan minyak urapan dalam Perjanjian Baru juga sudah tidak ada lagi!
6. Dalam Kitab Suci, pengurapan dengan minyak urapan tak men-

jamin orang yang diurapi akan jadi baik, hebat dan sebagainya. a. Allah memerintahkan kepada Musa untuk mengurapi Harun dan anak-anak Harun dengan minyak urapan. Kel 29:7,21 - (7) Sesudah itu kauambillah minyak urapan dan kautuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia. ... (21) Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kaupercikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya. b. Pelaksanaan pengurapan Harun dan anak-anaknya dengan minyak urapan oleh Musa, sesuai dengan perintah Tuhan. Im 8:10-13 - (10) Musa mengambil minyak urapan, lalu diurapinyalah Kemah Suci serta segala yang ada di dalamnya dan dikuduskannya semuanya itu. (11) Dipercikkannyalah sedikit dari minyak itu ke mezbah tujuh kali dan diurapinya mezbah itu 7

serta segala perkakasnya, dan juga bejana pembasuhan serta alasnya untuk menguduskannya. (12) Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan diurapinyalah dia untuk menguduskannya. (13) Musa menyuruh anak-anak Harun mendekat, lalu dikenakannyalah kemeja kepada mereka, diikatkannya ikat pinggang dan dililitkannya destar, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. ... (30) Dan lagi Musa mengambil sedikit dari minyak urapan dan dari darah yang di atas mezbah itu, lalu dipercikkannya kepada Harun, ke pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan ke pakaian anak-anaknya. Dengan demikian ditahbiskannyalah Harun, pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anakanaknya. c. Tetapi sekarang kita akan melihat apa yang dilakukan oleh Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, yang telah diurapi dengan minyak urapan itu. Im 10:1-2 - (1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. (2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. Bdk. Bil 3:2-4 Bil 26:60-61. Jadi, Nadab dan Abihu, yang adalah anak-anak Harun, telah diurapi dengan minyak urapan, dan menjadi imam-imam, tetapi mereka menjadi orang brengsek, yang lalu dihukum mati oleh Tuhan! Memang jelas bahwa bukan karena mereka diurapi dengan minyak urapan itu mereka lalu menjadi brengsek dan lalu dihukum mati oleh Tuhan! Tetapi jelas juga bahwa pengurapan dengan minyak urapan pada diri mereka tak menjamin sedikitpun bahwa mereka akan menjadi hebat, baik secara jasmani maupun rohani. Ini terbukti dari kebrengsekan yang mereka lakukan, setelah mereka diurapi dengan minyak urapan, sehingga mereka akhirnya dihukum mati oleh Tuhan. Mereka jadi juara? Ya, juara di neraka!

Pertanyaan saya: kalau anak-anak Harun yang telah diurapi dengan minyak urapan itu bisa menjadi brengsek, bagaimana mungkin Yesaya Pariadji menjamin / menjanjikan bahwa orang-orang / anakanak yang ia urapi dengan minyak urapan akan jadi hebat, juara, kepala bukan ekor, dsb?
7. Pengolesan minyak untuk orang sakit dalam Yak 5:14.

Saya tidak pernah membaca atau mendengar bahwa Pdt. Yesaya Pariadji pernah menggunakan ayat ini sebagai dasar penggunaan minyak urapan. Tetapi karena text ini memungkinkan untuk digunakan sebagai dasar dari penggunaan minyak urapan, dan karena banyak orang menggunakan ayat ini sebagai dasar untuk mengolesi orang sakit dengan minyak (termasuk salah seorang jemaat dari Yesaya Pariadji, yang berdebat di internet dengan saya), maka saya membahas ayat ini di sini. Yak 5:14-15 - (14) Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. (15) Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Ayat ini mengatakan bahwa jemaat yang sakit harus memanggil penatua. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud sakit di sini, bukanlah seadanya penyakit yang remeh-remeh, tetapi penyakit yang cukup berat. Bahwa yang dimaksud dengan sakit di sini adalah penyakit yang cukup berat, terlihat dari: a. Orang sakit itu disuruh memanggil penatua, bukan datang kepada penatua (Yak 5:14). Kalau orang itu sakit yang ringanringan, pasti orang itu yang disuruh datang ke penatua. b. Kata-kata mendoakan dia (Yak 5:14), diterjemahkan oleh NIV / NASB / KJV / RSV sebagai pray over him (= berdoa di atasnya), bukan pray for him (= berdoa untuk dia).

Dari istilah ini, kelihatannya orang sakit itu berbaring dan penatua berdiri / duduk didekatnya sehingga posisi penatua itu lebih tinggi dari posisi si sakit. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa si sakit itu penyakitnya cukup berat sehingga harus berbaring. c. Kata-kata Tuhan akan membangunkan dia (Yak 5:15), menunjukkan bahwa tadinya sakitnya cukup berat, sehingga ia harus berbaring. d. Kata sakit dalam Yak 5:14, dalam bahasa Yunaninya adalah ASTHENEI, dan kata itu juga digunakan dalam Yoh 5:5 untuk menggambarkan orang yang lumpuh selama 38 tahun. Kalau untuk seadanya penyakit yang remeh-remeh, seperti pilek, sakit perut, pusing dsb, jemaat memanggil penatua, maka itu akan betul-betul membunuh penatua! Jemaat harus belajar untuk tidak merepotkan penatua / pendeta secara tidak perlu. Dengan demikian mereka bisa melakukan tugas yang memang perlu! Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa ia bukannya disuruh memanggil orang yang mempunyai karunia kesembuhan, atau pergi ke kebaktian kesembuhan, dsb, tetapi disuruh memanggil penatua. Bandingkan perintah ini dengan kecenderungan jaman ini dimana orang sakit selalu mencari orang yang mempunyai karunia kesembuhan, atau mencari kebaktian kesembuhan. Setelah penatua datang, apa yang harus dilakukan oleh penatua? a Mendoakan di sakit (Yak 5:14). Si sakit memang bisa saja berdoa sendiri, tetapi Tuhan lebih mau mendengarkan doa orang yang benar / saleh. Ini terlihat dari Yak 5:16b - Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Catatan: kata-kata bila dengan yakin didoakan sebetulnya salah terjemahan. Bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini. NIV: The prayer of a righteous man is powerful and effective (= Doa orang yang benar, berkuasa dan efektif).

10

Bandingkan ini dengan Yoh 9:31 - Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendakNya. Penatua seharusnya adalah orang yang benar / saleh (bdk. 1Tim 3:1dst Tit 1:5-dst), maka penatua ditugaskan untuk mendoakan si sakit. b Mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan (Yak 5:14). Ini adalah kebiasaan Yahudi pada saat itu dan dilakukan oleh murid Yesus pada saat itu dalam Mark 6:13. Ada beberapa pandangan tentang arti dari pengolesan minyak di sini: Roma Katolik : Ini dijadikan dasar dari sakramen perminyakan, yang diberikan oleh pastor kepada orang yang mau mati dan tujuannya adalah untuk mempersiapkan orang menghadapi kematian. Pandangan ini jelas tidak cocok dengan text ini karena Yakobus memerintahkan hal itu dengan tujuan supaya orang itu sembuh, bukan untuk mempersiapkan orang itu menghadapi kematian. Calvin : Ini adalah sakramen sementara. Minyak menunjuk pada karunia kesembuhan dan karena karunia kesembuhan dianggap sudah lenyap, maka Calvin berpendapat bahwa sakramen sementara itu juga harus dibuang. Kelemahan pandangan ini: Tidak ada dasar untuk menganggap ini sebagai sakramen, karena tidak diperintahkan langsung oleh Kristus. Kata bahasa Yunani yang digunakan adalah ALEIPHO, yang berarti mengoles dengan minyak / meminyaki. A. T. Robertson (hal 65) mengatakan bahwa kata ini digunakan kalau hal pemberian minyak itu dilakukan bukan dalam upacara 11

agama. Kalau dalam upacara agama, digunakan kata Yunani CHRIO (= to anoint / mengurapi). Jadi, pemberian minyak ini tidak mungkin dianggap sebagai sakramen. Minyak berfungsi sebagai obat. Adam Clarke: Oil was and is frequently used in the east as a means of cure in very dangerous diseases; and in Egypt it is often used in the cure of the plague. Even in Europe it has been tried with great success in the cure of dropsy. And pure olive oil is excellent for recent wounds and bruises; and I have seen it tried in this way with the best effects. ... it was the custom of the Jews to apply it as a means of healing, and that St. James refers to this custom, is not only evident from the case of the wounded man ministered to by the good Samaritan, Luke 10:34, but from the practice of the Jewish rabbins. ... here I am satisfied that it has no other meaning than as natural means of restoring health; and that St. James desires them to use natural means while looking to God for an especial blessing (= Baik dulu maupun sekarang minyak sering digunakan di Timur sebagai cara penyembuhan dalam penyakit-penyakit yang sangat berbahaya; dan di Mesir minyak sering digunakan dalam penyembuhan dari wabah / penyakit pes. Bahkan di Eropah minyak telah dicoba dengan sukses yang besar dalam penyembuhan dari penyakit dropsy. Dan minyak zaitun murni sangat bagus untuk luka dan memar yang baru terjadi; dan saya telah melihat bahwa minyak dicoba dengan cara ini dengan hasil yang terbaik. ... merupakan kebiasaan dari orang-orang Yahudi untuk menggunakan minyak sebagai cara penyembuhan, dan bahwa Santo Yakobus menunjuk pada kebiasaan ini, bukan hanya jelas dari kasus dari orang terluka yang dilayani oleh orang Samaria yang baik, Lukas 10:34, tetapi juga dari praktek dari rabi-rabi Yahudi. ... di sini saya tidak ragu-ragu bahwa minyak tidak mempunyai arti lain dari pada sebagai cara alamiah untuk memulihkan kesehatan; dan bahwa Santo Yakobus ingin supaya mereka menggunakan cara-cara alamiah sementara memandang kepada Allah untuk suatu berkat yang khusus) - hal 827.

12

Catatan: Dropsy adalah penyakit yang menimbulkan pengumpulan cairan serum yang abnormal dalam rongga-rongga atau jaringan tubuh - Websters New World Dictionary. Luk 10:34 - Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Yes 1:6 - Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak. Mereka disuruh memanggil penatua, bukan tabib, mungkin karena mereka miskin (ingat bahwa pada abad pertama hampir semua orang kristen miskin!). Jadi, obatnya adalah bantuan dari penatua. Jadi, penatua berdoa dan memberi obat untuk si sakit. Saya mengambil pandangan yang terakhir. Dan kalau ini memang merupakan pandangan yang benar, maka jelas bahwa praktek pengolesan dengan minyak sudah tidak perlu lagi dilakukan pada jaman ini. Penatua bisa memberi obat yang lain. Dan tentu saja kalau orangnya tidak miskin, tidak perlu penatua yang memberi obat. Jadi, dalam menafsirkan bagian ini kontextualisasi sangat dibutuhkan!

Kesimpulan : Ajaran dan praktek Pdt. Yesaya Pariadji terkait dengan penggunaan minyak urapan adalah ajaran yang salah / tidak alkitabiah dan menyesatkan.

13