Anda di halaman 1dari 12

8.3 Anemi 8.3.

1 Konsep Dasar Penyakit Anemi adalah berkurangnya jumlah eritrosit (sel darah merah) dan kadar haemoglobin (Hb) dalam setiap milimeter kubik darah. Hampir semua gangguan pada sistern peredaran darah disertai dengan anemi yang ditandai warna kepucatan pada tubuh, terutama ekstremitas. Penyebab anemi dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Gangguan produksi eritrosit yang dapat terjadi karena: 1) Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemi defisiensi Fe, Thalasemia, dan anemi infeksi kronik. 2) Perubahan sintesa DNA akibat kekuraangan nutrien yang dapat menimbulkan anemi pernisiosa dan anemi asam folat. 3) Fungsi sel induk (stem sel) terganggu, sehingga dapat menimbulkan anemi aplastik dan leukemia. 4) Infiltrasi sumsum tulang, misalnya, karena karsinoma. 2. Kehilangan darah: 1) Akut karena perdarahan atau trauma /kecelakaan yang terjadi secara mendadak. 2) Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia. 3. Meningkatnya pemecahan eritrosit (hemolisis). Hemolisis dapat terjadi karena: 1) Faktor bawaan, misalnya, kekurangan enzim G6PD (untuk mencegah kerusakan eritrosit). 2) Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit, misalnya, ureum pada darah karena gangguan ginjal atau penggunaan obat acetosal. 4. Bahan baku untuk pembentuk eritrosit tidak ada. Bahan baku yang dimaksud adalah protein, asam folat, Vitamin B12, dan mineral Fe. Berdasarkan penyebab tersebut di atas, anemi dapat dikelompokkan menjadi

beberapa jenis, yaitu: Anemi Defisiensi Zat Besi (Fe) Merupakan anemi yang terjadi karena kekurangan zat besi yang merupakan bahan baku pembuat sel darah dan haemoglobin. Kekurangan zat besi (Fe) dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu: (1) asupan yang kurang mengandung zat besi terutama pada fase pertumbuhan cepat, (2) penurunan resorbsi karena kelainan pada usus atau karena anak banyak mengkonsumsi teh (menurut penelitian, ternyata teh dapat menghambat resorbsi Fe), dan (3) kebutuhan yang meningkat, misalnya, pada anak balitayang pertumbuhannya cepat sehingga memerlukan nutrisi yang lebih banyak. Bayi prematur juga berisiko mengalami anemi defisiensi zat besi, karena berkurangnya persediaan Fe pada masa fetus. Pada trimester akhir kehamilan, Fe ditransfer dari ibu ke fetus, kemudian disimpan di liver, lien, dan sumsum tulang belakang. Cadangan Fe ini hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 5-6 bulan saja, bahkan pada bayi prematur cadangan tersebut hanya cukup sampai usia 2-3 bulan. Jika kebutuhan Fe tidak dipasok dengan pemberian nutrisi yang mencukupi, maka anak akan mengalami defisiensi Fe (Wong, 1989: 859). Sering dijumpai bahwa bayi yang kegemukan (overweight) mengalami defisiensi Fe. Hal ini disebabkan karena pemberian susu (PASI) yang berlebihan tanpa disertai dengan makanan tambahan lainnya. Bayi akan kelihatan pucat, perkembangan ototnya terlambat, dan mudah terinfeksi. Secara normal, tubuh hanya memerlukan Fe dalam jumlah sedikit. Oleh karena itu, ekskresi besi juga sangat sedikit. Pemberian Fe yang berlebihan dalam makanan dapat mengakibatkan hemosiderosis (pigmen Fe yang berlebihan akibat penguraian Hb) dan hemokromatosis (timbunan Fe yang berlebih dalam jaringan). Pada masa bayi dan pubertas, kebutuhan Fe meningkat karena pertumbuhan. Demikian juga, dalam keadaaan infeksi. Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb, sehingga pembuatan eritrosit

mengalami penurunan. Di samping itu, tiap eritrosit akan mengandung Hb dalam jumlah yang lebih sedikit. Akibatnya, bentuk selnya menjadi hipokromik mikrositik (bentuk sel darah kecil), karena tiap eritrosit mengandung Hb dalam jumlah yang lebih sedikit. Anemi Megaloblastik Merupakan anemi yang terjadi karena kekurangan asam folat. Disebut juga dengan anemi defisiensi asam folat. Asam folat merupakan bahan esensial untuk sintesis DNA dan RNA yang penting untuk metabolisma inti sel. DNA diperlukan untuk sintesis, sedangkan RNA untuk pematangan sel. Berdasarkan bentuk sel darah, anemi megaloblastik tergolong dalam anemi makrositik, seperti pada anemi pernisiosa. Ada beberapa penyebab penurunan asam folat (FK UI, 1985:437), yaitu: 1. Masukan yang kurang. Pemberian susu saja pada bayi di atas 6 bulan (terutama susu formula) tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup juga dapat menyebabkan defisiensi asam folat. 2. Gangguan absorbsi. Adanya penyakit/gangguan pada gastrointestinal dapat menghambat absorbsi bahan makanan yang diperlukan tubuh. 3. Pemberian obat yang antagonis terhadap asam folat. Anak yang mendapat obatobat tertentu, seperti metotreksat, pirimetasin, atau derivat barbiturat sering mengalarni defisiensi asam folat. Obat-obat tersebut dapat menghambat kerja asam folat dalam tubuh, karena mempunyai sifat yang bertentangan. Anemi Pernisiosa Merupakan anemi yang terjadi karena kekurangan vitamin B12. Anemi Pernisiosa ini tergolong anemi megaloblastik karena bentuk sel darah yang hampir sama dengan anemi defisiensi asam folat. Bentuk sel darahnya tergolong anemi makrositik normokromik, yaitu ukuran sel darah merah yang besar dengan bentuk abnormal tetapi kadar Hb normal. Vit B12 (kobalamin) berfungsi untuk pematangan normoblas, metabolisma jaringan

saraf, dan purin. Selain asupan yang kurang, anemi pernisiosa dapat disebabkan karena adanya kerusakan lambung, sehingga lambung tidak dapat mengeluarkan sekret yang berfungsi untuk absorbsi B12 (Markum, 1991: 125). Anemi Pascaperdarahan Terjadi sebagai akibat dari perdarahan yang massif (perdarahan terus-menerus dan dalam jumlah banyak), seperti pada kecelakaan, operasi, dan persalinan dengan perdarahan hebat yang dapat terjadi secara mendadak maupun menahun. Berdasarkan bentuk sel darah, anemi pascaperdarahan ini termasuk anemi normositik normokromik, yaitu sel darah berbentuk nomal tetapi rusak/habis. Akibat kehilangan darah yang mendadak maka akan terjadi reflek cardiovascular yang fisiologis berupa kontraksi arteriol, pengurangan aliran darah ke organ yang kurang vital, dan penambaha.n aliran darah ke organ vital (otak dan jantung). Kehilangan darah yang mendadak lebih berbahaya dibandingkan dengan kehilangan darah dalam waktu lama. Kehilangan darah 12-15% akan menyebabkan pucat dan tatikardi, tetapi kehilangan 15-20% akan menimbulkan gejala syok (renjatan) yang reversible. Bila lebih 20% maka dapat menimbulkan syok yang irreversible (menetap). Selain reflek kardiovaskular, akan terjadi pergeseran cairan ekstravaskular ke intravaskular agar tekanan osmotik dapat dipertahankan. Akibatnya, terjadi hemodilusi dengan gejala: (1) rendahnya HB, eritrosit, dan hematokrit, (2) leucositosis (15.00020.000/ mm3), (3) kadang-kadang terdapat gagal jantung, (4) kelainan cerebral akibat hipoksemia, dan (5) menurunnya aliran darah ke ginjal, sehingga dapat menyebabkan oliguria/anuria. Pada kehilangan darah yang terjadi secara menahun, pengaruhnya akan terlihat sebagai gejala akibat defisiensi besi bila tidak diimbangi masukan Fe yang cukup. Anemi Aplastik Merupakan anemi yang ditandai dengan pansitopenia (penurunan jumlah semua sel

darah) darah tepi dan menurunnya selularitas sumsum tulang. Dengan menurunnya selularitas, sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah. Berdasarkan bentuk sel darahnya, anemi ini termasuk dalam anemi normositik normokromik seperti anemi pascaperdarahan. Adapun beberapa penyebab terjadinya anemi aplastik di antaranya adalah: 1. Menurunnya jumlah sel induk yang merupakan bahan dasar sel darah. Penurunan sel induk bisa terjadi karena bawaan, dalam arti tidak jelas penyebabnya (idiopatik), yang dialami oleh sekitar 50% penderita. Selain karena bawaan, penurunan sel induk juga bisa terjadi karena didapat, yaitu karena adanya pemakaian obat-obatan seperti bisulfan, kloramfenikol, dan klorpromazina. Obatobat tersebut mengakibatkan penekanan pada sumsum tulang. 2. Lingkungan mikro (micro environment), seperti radiasi dan kemoterapi yang lama dapat mengakibatkan sembab yang fibrinus dan infiltrasi sel. 3. Penurunan poitin, sehingga yang berfungsi merangsang tumbuhnya sel-sel darah dalam sumsum tulang tidak ada. 4. Adanya sel inhibitor ( T. Limphosit ) sehingga menekan/menghambat maturasi sel-sel induk pada sumsum tulang. Anemi Hemolitik Merupakan anemi yang terjadi karena umur eritrosit yang lebih pendek/prematur. Secara normal, eritrosit berumur antara 100-120 hari. Adanya penghancuran eritrosit yang berlebihan akan memengaruhi fungsi hepar, sehingga ada kemungkinan terjadinya peningkatan bilirubin. Selain itu, sumsum tulang dapat membentuk 6-8 kali lebih banyak sistem eritropoetik daripada biasanya, sehingga banyak dijumpai eritrosit dan retikulosit pada darah tepi. Berdasarkan beAtuk sel darahnya, anemi hemolitik ini termasuk dalam anemi normositik normokromik. Kekurangan bahan pembentuk sel darah, seperti vitamin, protein, atau adanya infeksi dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara penghancuran dan pembentukan sistem eritropoetik.

Penyebab anemi hemolitik diduga sebagai berikut: Kongenital, misalnya, kelainan rantai Hb dan defisiensi enzim G6PD. 2. Didapat, misalnya, infeksi, sepsis, pengunaan obat-obatan, dan keganasan sel. Anemi Sickle Cell Merupakan anemiyang terjadi karena sintesa Hb abnormal dan mudah rusak, serta merupakan penyakit keturunan (heredity hemoglobinopathy). Anemi sickle cell ini merupakan anemi hemolitik

8.3.2 Asuhan pada Anak dengan Anemi Pengkajian Pada pengkajian ini, penulis tidak membahas secara khusus asuhan untuk masingmasing jenis anemi. Untuk itu, akan dikaji data-data fokus yang umumnya wring dialami/terjadi pada bayi dan balita yang mengalami anemi terutama defisiensi. 1. Usia Anak yang mengalami defisiensi Fe biasanya berusia antara 6-24 bulan dan pada masa pubertas. Pada usia tersebut kebutuhan Fe cukup tinggi, karena digunakan untuk pertumbuhan yang terjadi relatif cepat dibandingkan dengan periode pertumbuhan lainnya (Wong, 1991). 2. Pucat 1) Pada anemi pascaperdarahan, kehilangan darah sekitar 12-15% akan menyebabkan pucat, dan juga takikardi. Kehilangan darah yang cepat dapat menimbulkan reflek cardiovaskuler secara fisilogis berupa kontraksi arterial, penambahan aliran darah ke organ vital, dan pengurangan aliran darah yang kurang vital, seperti ekstremitas. 2) Pada defisiensi zat besi maupun asam folat (pernisiosa), pucat terjadi karena tidak tercukupinya bahan baku pembuat sel darah maupun bahan esensial untuk pematangan sel, dalam hal ini zat besi dan asam folat. 3) Sedangkan pucat pada anemi hemolistik terjadi karena penghancuran sel darah merah sebelum waktunya. Secara normal, sel darah merah akan hancur dalam waktu 120 hari, untuk selanjutnya membentuk sel darah baru. 4) Pada anemi ap1astik,pucat terjadi karena terhentinya pembentukan sel darah pada sumsum tulang. Hal ini terjadi karena sumsum tulang mengalami kerusakan. Warna kepucatan pada kulit ini dialami oleh ham it semua anak yang anemi. Wamapucat ini dapat dilihat pada telapak tangan, dasar kuku, konjungtiva, dan

mukosa bibir. Carayang sederhana adalah dengan membandingkan telapak tangan anak dengan telapak tangan petugas atau orang tuanya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa telapak tangan pembanding haruslah normal. 3. Mudah lelah/lemah Berkurangnya kadar oksigen dalam tubuh mengakibatkan keterbatasan energi yang dihasilkan oleh tubuh, sehingga anak kelihatan lesu, kurang bergairah, dan mudah lelah. Oksigen yang terikat dengan Hb pada sel darah merah mempunyai salah satu fungsi untuk aktivitas tubuh. 4. Pusing kepala Pusing kepala pada anak anemi disebabkan karena pasokan atau aliran darah ke otak berkurang. 5. Napas pendek Rendahnya kadar Hb akan menurunkan kadar oksigen, karena Hb merupakan pembawa oksigen. Oleh karena itu, sebagai kompensasi atas kekurangan oksigen tersebut, pernapasan menjadi lebih cepat dan pendek. 5. Nadi cepat Peningkatan denyut nadi sering terjadi, terutama pada perdarahan mendadak yang merupakan kompensasi dari reflek cardiovaskular. Kompensasi peningkatan denyut nadi ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. 6. Eliminasi urine dan kadang-kadang terjadi penurunan produksi urine Adanya perdarahan yang hebat dapat mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal sehingga merangsang hormon renin angiotensin aktif untuk menahan garam dan air sebagai kompensasi untuk memperbaiki perfusi dengan manifestasi penurunan produksi urine. 7. Gangguan pada sistem saraf Anemi defisien_si vitaminB 12 dapat menimbulkan gangguan pada sistem saraf sehingga timbul keluhan seperti kesemutan (gringgingen), ekstremitas lemah,

spastisitas, dan gangguan melangkah. 8. Gangguan saluran cerna Pada anemi yang berat, sering timbul keluhan nyeri perut, meal, muntah, dan penurunan nafsu makan (anoreksia). 9. Pika Merupakan suatu keadaan yang berulang karena anak makan zat yang tidak bergizi, tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik. Sering terdapat pada anak berusia 1-4 tahun yang kurang gizi, anak terlantar, anak yang mengalami retardasi mental, dan kurang pengawasan. Zat yang sering dimakan misalnya kapur, kertas, dan lain-lain. Kebiasaan pika akan menghilang, bila anak mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup atau sudah teratasi masalah aneminya. 10. Iritabel (cengeng, rewel, atau mudah tersinggung) Anak cengeng/rewel sering terjadi terutama pada kasus anemi defisiensi besi. Walaupun anak tersebut telah terpenuhi kebutuhannya, seperti minum dan makan, tetapi anak tetap rewel. Apabila sebelumnya anak rewel kemudian setelah diberi minum/makan anak menjadi diam, maka hal ini tidak termasuk cengeng (iritabel). 11. Suhu tubuh meningkat Diduga terjadi sebagai akibat dari dikeluarkan leukosit dari jaringan iskemik (jaringan yang mati akibat kekurangan oksigen). 12. Pola makan Pada anemi defisiensi, sering terjadi kesalahan pola makan sehingga asupan tidak mencukupi, misalnya, terlambat memberikan makanan tambahan pada bayi usia 6 bulan. 13. Pemeriksaan penunjang Perlu pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui Hb, eritrosit, dan hematokrit. Pada anemi defisiensi besi, kadar Hb kurang dari 10 gr/dl dan eritrosit menurun. Eritrosit berbentuk mikrositik hipokromik (kecil dan pucat). Sedangkan pada

defisiensi asam folat dan vitamin B12, bentuk sel darahnya adalah makrositik

normokromik (megaloblastik), yaitu bentuk sel besar dan warna normal. Berikut ini disajikan tabel tentang nilai normal sel darah. 14. Program terapi, prinsipnya: 1) Tergantung pada berat ringannya anemi, etiologi, akut, atau kronik. 2) Tidak selalu berupa transfusi darah. 3) Menghilangkan penyebab dan mengurangi gejala. Masalah 1. Diagnosis medis: anemi 2. Masalah yang sering timbul: 1) Nutrisi kurang dari kebutuhan (terutama Fe, asam folat, dan B12). 2) Penurunan aktivitas. 3) Kecemasan/ takut terhadap prosedur diagnosa. Perencanaan/Intervensi Anak dengan anemi tidak selalu harus dirawat di rumah sakit. Hal ini tergantung pada jenis anemi dan gangguan yang dialami oleh anak atau bila keadaan anak memburuk, misalnya, kadar Hb yang sangat rendah atau gangguan fisik lainnya yang membahayakan anak. Apabila kondisi anak seperti itu, segera konsultasikan ke dokter atau rujuk ke rumah sakit/klinik terdekat.

Sedangkan untuk anak yang mengalami anemi defisiensi Fe yang hanya tampak pucat, cukup diberikan tablet Fe/folat atau Ferosulfat setiap hari selama 4 minggu dengan dosis 5 mg Fe/kg BB. Untuk lebih jelasnya mengenai pemberian tablet Fe, lihat Tabel 10.2 berikut ini:

Selama pemberian tablet Fe, orang tua perlu diberitahu bahwa saat buang air besar warna faeces akan menjadi hitam atau agak abu-abu. Keadaan ini merupakan sesuatu hal yang normal, karena merupakan akibat dari pembuangan sisa feros melalui tinja. Apabila dengan pemberian tablet atau sirup Fe anak belum membaik atau anemi ternyata bukan disebabkan karena defisiensi, maka perlu dilakukan kolaborasi dengan tenaga medis. Berkaitan dengan masalah yang mungkin timbul pada anak yang anemi, perencanaan yang diperlukan adalah: 1. Kolaborasi, dalam hal ini perlu dilakukan rujukan kepada tim medis untuk pemberian: 1) Transfusi sel darah merah. Pada anemi defisiensi besi, transfusi baru dilaksanakan bila Hb kurang dari 5 gr/dl dan disertai dengan keadaan umum yang memburuk, misalnya, terdapat ISPA, gagal jantung, dan lain-lain. Demikian pula dengan anemi

selain defisiensi, transfusi baru dilaksanakan sesuai dengan macam anemi. Yang harus diperhatikan adalah bahwa transfusi yang terlalu sering dapat menimbulkan depresi sumsum tulang atau reaksi hemolitik akibat terbentuknya antibodi terhadap sel darah yang ditransfusikan. Oleh karena itu, selama transfusi hams dilakukan observasi tanda-tanda vital, reaksi alergi, dan tanda penting lainnya secara ketat. 2) Pengobatan kausal (penyebab). Apabila ada faktor penyebab, maka faktor tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu, misalnya, bila anak anemi karena cacingan maka anak harus diberi obat cacing. 2. Aktivitas yang layak Meskipun ada penurunan aktivitas, anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya agar anak tidak merasa jenuh dan menarik diri dari pergaulan. Dalam hal ini, dari aktivitas bermain anak akan memperoleh stimulus untuk perkembangannya. 3. Perbaiki pola makan yang salah Anjuran untuk pola makan yang benar sangat diperlukan, terutama pola makan untuk anak balita. Sedapat mungkin pemberian makanan tambahan (PMT) mulai diberikan pada usia 4 bulan dan secara bertahap dikenalkan berbagai sumber nutrien dari unsur karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Hindari pemberian susu formula yang berlebihan jika tanpa diimbangi dengan sumber nutrisi lainnya. Untuk mengatasi defisiensi zat besi, vit B12, dan asam folat, maka anak perlu diberikan makanan yang banyak mengandung Fe, vit B12, dan asam folat, seperti Kati, daging, telor, susu, keju, ikan, sayer hijau (misalnya bayam), dan kacangkacangan. Bayam tidak dianjurkan bagi anak yang berusia kurang dari 6 bulan karena banyak mengandung asam urat, sementara pada usia itu fungsi ginjal

anak belum sempurna. Hindari pemberian teh terlalu banyak karena dapat menghambat resorbsi Fe dalam uses. Bagi anak yang mengalami penurunan nafsu makan, makanan hendaknya diberikan dalam jumlah sedikit dengan frekuensi sering. Penyajian makanan yang menarik seperti tempat makan yang bergambar dan bentuk makanan yang lucu dapat menarik minat anak untuk makan. 4 Hindari kecemasan anak terhadap prosedur Untuk menegakkan diagnosis anemi, diperlukan beberapa pemeriksaan, seperti Hb, darah lengkap, atau pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan tersebut sering menimbulkan ketakutan atau kecemasan pada anak. Oleh karena itu, sebelum prosedur dilaksanakan petugas hares mengadakan pendekatan/komunikasi pada anak dan menunjukkan sikap yang bersahabat.