Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Krisis multidimensi yang dirasakan bangsa Indonesia sejak tahun 1998, kini mulai berangsur pulih. Hal ini dapat dilihat dari tumbuhnya pembangunan nasional disegala bidang mulai meningkat. Termasuk didalamnya, keamanan nasional yang semakin stabil, pembentukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa dan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat yang ditandai dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika, laju inflasi dan suku bunga mulai menurun dan peningkatan pada cadangan devisa. Semua ini tidak lepas dari peran pemerintah dalam menciptakan suasana yang kondusif yang pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat. Namun, dalam prosesnya, keadaan tersebut mengharuskan pemerintah menetapkan anggaran-anggaran yang diperlukan demi kelancaran penyelenggaran pemerintah dan untuk mensukseskan pembangunan nasional. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menujukkan jumlah penerimaan dan pengeluaran yang digunakan oleh pemerintah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun 2009 sebesar Rp. 985,7 Trilliun menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu Rp. 895,0 Trilliun (Nota Keuangan dan APBN 2009). Tetapi dilain pihak, peneriman APBN 2009 ini 3,6% lebih rendah dari pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2009 yang disahkan dalam APBN 2008 sebesar Rp. 1.022,6 Trilliun. Kebutuhan dana APBN sebagai penerimaan Negara sebagian besar berasal dari sektor pajak. Untuk tahun 2009 rencana penerimaan pajak termasuk PPh Migas yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak

sebesar Rp. 725,84 Trilliun atau 73,64% dari keseluruhan penerimaan yang tercantum dalam APBN 2009. Jumlah ini lebih rendah ddibanding dengan jumlah penerimaan pajak yang tercantum dalam RAPBN 2009 sebesar Rp. 726,278 Trilliun (Data Tambahan Nota Keuangan dan RAPBN 2009). Tidak tercapainya rencana penerimaan yang besar ini sebagian besar disebabkan kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat khususnya para Wajib Pajak untuk memunuhi kewajiban perpajakannya. Kewajiban tersebut tertuang dalam UndangUndang yang disusun berlandaskan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang didalamnya terdapat ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga Negara dan menempatkan kewajban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan dan merupakan sarana peran serta rakyat dalam pembiayaan Negara dan pembangunan nasional. Salah satunya, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 ayat (2) menyebutkan bahwa segala pajak untuk keperluan Negara berdasarkan undang-undang. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemerintah Indonesia telah menyusun undang-undang perpajakan. Adapun Undang-Undang yang mengatur tentang kewajiban perpajakan di Indonesia yaitu, Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga atas UU RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Dan Khusus untuk Pajak Penghasilan diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang RI No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Pokok-Pokok perubahan yang paling menonjol dalam perubahan undang-undang tentang pajak penghasilan ini adalah ditetapkannya tarif Pajak Penghasilan Untuk Wajib Pajak Badan sebesar 28% dan menjadi tarif Tunggal, efektif berlaku per 1 Januari 2009. Dan secara bertahap diturunkan lagi menjadi 25%, (lebih lanjut dijelaskan pada Bab

III). Oleh karena pajak merupakan sumber penerimaan Negara, maka Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk memperbaharui undang-undang perpajakan yang telah ada sesuai dengan perkembangan masyarakat Indonesia. Namun, perubahan tersebut jika tidak dibarengi dengan penyuluhan kepada masyarakat dapat menyebabkan kekurangpahaman masyarakat terhadap undang-undang perpajakan yang pada akhirnya berimbas pada rendahnya penerimaan pemerintah dari sektor pajak. Pada dasarnya perubahan itu bertujuan untuk memberikan kemudahan (efisiensi) administrasi, memelihara produktivitas penerimaan Negara, dan keadilan dalam pengenaan pajak. Sebagai arah tujuannya disebutkan untuk memberikan kepastian hukum, transparansi, dan meningkatkan daya saing dalam menarik investasi langsung di Indonesia. Akan tetapi, setelah menyimak lebih jauh materinya terlihat perubahan keempat dari UU PPh ini bernuansa lain. Kalau undang-undang sebelumnya selalu cenderung pada pengamanan penerimaan (termasuk penerimaan jangka pendek), kini kebiasaan itu mulai ditinggalkan. Salah satunya perihal tarif Pajak Penghasilan Badan yang diturunkan menjadi 28% dan menjadi tarif tunggal. Apalagi mulai tahun 2010 tarif tunggal tersebut menjadi 25%. Penerapan tarif tunggal tujuannya adalah untuk menyesuaikan dengan prinsip kesederhanaan dan Internasional Best Practise. Penurunan tarif PPh Badan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi beban pajak perusahaan, sehingga perusahaan mempunyai tambahan kemampuan ekonomis untuk

pengembangan usaha, melakukan investasi dan peningkatan daya saing. Sedangkan penurunan tariff PPh secara bertahap dimaksudkan untuk menjaga kestabilan penerimaan negara dan pembiayaan APBN. Setidaknya ada 2 hal yang diharapkan melalui kebijakan penurunan tarif PPh ini. Pertama penurunan tarif ini dimaksudkan untuk menyesuaikan tarif PPh yang berlaku di

Indonesia dengan tarif PPh yang berlaku di negara lain. Kedua untuk mengurangi beban pajak orang pribadi dalam bentuk penurunan tarif, penyederhanaan, dan perluasan lapisan Penghasilan Kena Pajak. Dengan demikian diharapkan daya beli, konsumsi, atau saving/investasi masyarakat meningkat sehingga dapat menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada gilirannya kondisi yang tercipta tersebut dapat mendorong peningkatan kepatuhan perpajakan Wajib Pajak. Meskipun secara umum dapat dilihat bahwa hal ini membawa pengaruh positif terhadap penerimaan pemerintah namun kita juga perlu menganalisa pengaruhnya terhadap wajib pajak itu sendiri. Dengan adanya perubahan seperti yang telah disebutkan diatas, maka dikhawatirkan, hal ini dapat berpengaruh terhadap laba perusahaan sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa adanya pajak penghasilan terutang dapat mengurangi besarnya laba yang mungkin diperoleh perusahaan. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa sifat dasar manusia dalah selalu ingin mencari keuntungan, maka perubahan-perubahan ini, khususnya pada tarif pajak dapat saja berpengaruh positif maupun negatif terhadap jumlah penerimaan yang diharapkan oleh perusahaan. Sehubungan dengan masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh perubahan Undang-Undang tersebut pada perusahan yang menjadi objek penelitian dengan berfokus pada beberapa pokok perubahan pasal yang terkait dalam perhitungan Pajak Penghasilan terutang diantaranya, pasal 17, 21, 23, 25, 26, 29 dan pasal 4 ayat (2) Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Khusus untuk Pasal 25 akan dihitung secara terpisah mengingat bahwa pasal 25 merupakan aturan yang mengatur angsuran pajak terutang yang harus dibayarkan setiap bulan oleh perusahaan.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diats maka dapat diambil beberapa permaslahan yang harus kita telaah dan kita ketahui diantaranya : 1. 2. Apa yang dimaksud dengan Pph 25 dan bagaimana cara penghitungannya ? Apa yang dimaksud dengan Pph 26 dan bagaimana cara penghitungannya ?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Pajak Prof. Adriani ~ pajak adalah iuran kepada negara, yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk & yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk

menyelenggarakan tugas pemerintahan. Prof. Rohmat Soemitro ~ ( dari segi ekonomi ) pajak adalah peralihan kekayaan dari sector swasta ke sector public berdasarkan UU yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk yang digunakan sebagai alat pendorong, penghambat / pencegah untuk mencapai tujuan tertentu yang ada diluar bidang keuangan.( dari segi hukum ) pajak adalah perikatan yang timbul karena UU yang mewajibkan seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh UU untuk membayar sejumlah uang kepada kas negara yang dapat dipaksakan tanpa mendapatkan imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk yang digunakan untuk membiayai pengeluaran negara baik rutin / pembangunan yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan diluar bidang keuangan. Hukum Pajak keseluruhan daripada peraturan yang memberikan wewenang kepada pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali pada masyarakat melalui kas negara sehingga merupakan bagian dari hukum public yang mengatur hubungan antar orang / badan yang berkewajiban membayar pajak yang selanjutnya disebut Wajib Pajak.

B. Hukum Pajak merupakan Hukum Publik. Sasaran Hukum Pajak Menelaah keadaan dalam masyarakat yang dapat dihubungkan dengan pengenaan pajak meneruskannya dalam peraturan. Hukum pajak itu menerangkan : siapa wajib pajak / subyek pajak apa kewajiban wajib pajak kepada pemerintah hak pemerintah tentang obyek yang dikenakan pajak timbulnya dan hapusnya hutang pajak cara penagihan cara mengajukan keberatan, dsb.

Subjek Pajak : Subyek pajak dalam negeri Subyek pajak luar negeri

Kewajiban wajib pajak adalah membayar pajak. Hak pemerintah terhadap obyek pajak. Alasan hukum pajak bisa berdiri sendiri ( Prof. Adriani ) : Tugas Hukum Pajak bersifat lain daripada hukum administrative pada umumnya Hukum Pajak dapat secara langsung digunakan sebagai sarana politik perekonomian Hukum Pajak memiliki tata tertib & istilah yang khas untuk bidang pekerjaannya Apa hubungan Hukum Pajak dengan Hukum Perdata : 1. Sebagian besar obyek hukum pajak adalah merupakan bidang hukum perdata. Meliputi perbuatan, keadaan & peristiwa, seperti penghasilan, perjanjian kerja, hak milik, penerima warisan, dan lain-lain. 2. Hukum perdata berlaku umum kecuali hokum publik menentukan lain.

3. 4.

Banyak istilah hukum perdata dalam hukum pajak. Banyak tafsiran dalam hukum pajak berlatarbelakang ilmu ekonomi.

Asas pemunggutan pajak: 1. Equality dan equity, equality adalah kesamaan, mengandung arti bahwa keadaan yang sama / orang berada dalam keadaan yang sama harus dikenakan pajak yang sama. Sama disini adalah sama dengan daya pikulnya. Equity adalah keadilan, bahwa pajak itu harus adil dalam pemunggutannya. 2. Certaintly adalah kepastian hukum yang merupakan tujuan dari setiap UU pajak. Jadi dalam membuat UU / PP yang mengikat umum harus diusahakan supaya ketentuan yang dimuat dalam UU adalah jelas, tegas & tidak mengandung arti ganda / memberi peluang untuk ditafsirkan. 3. Convenience of payment adalah pembayaran yang mengenakan, artinya pajak harus dipunggut pada saat yang tepat yaitu pada saat wajib pajak mempunyai uang. Tidak semua wajib pajak mempunyai uang pada saat yang sama untuk membayar pajak seperti misalnya karyawan, pedagang, petani. 4. Economic of collection adalah dengan biaya pemunggutan pajak harus diperhatikan & mempertimbangkan dimana biaya pemunggutan harus relative lebih kecil dibandingkan dengan uang pajak yang masuk karena tidak ada artinya memunggutpajak yang halnya sebagian besar habis untuk biaya pemunggutan. C. PERLAWANAN TERHADAP PAJAK 1. Perlawanan pasif ~ hambatan yang mempersukar punggutan pajak dan erat hubungannya dengan struktur ekonomi suatu negara, dan perkembangan intelektual serta moral penduduk serta teknik pemunggutan pajak.

2.

Perlawanan aktif , meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan terhadap viscus serta bertujuan untuk mempersukar pemunggutan pajak.

3 . Hal perlawanan aktif dari pajak : a. Penghindaran diri dari pajak b. Pengelakan pajak / penyelundupan pajak ~ dengan cara penyelundupan terhadap bea masuk dengan mengenakan dokumen palsu. c. Melalaikan pajak ~ menolak membayar pajak yang telah ditetapkan & menolak memenuhi prosedur yang harus dipenuhi & yang palingbanyak digunakan usaha menggagalkan pemunggutan pajak dengan menghalangi penyitaan dengan cara melenyapkan barang yang akan disita viscus. D. Teori Pemungutan Pajak Pembenaran punggutan pajak: 1. Teori asuransi , teori ini menganggap pajak sama dengan premi asuransi yang harus dibayar oleh setiap orang dengan mendapatkan perlindungan atas hak dari wajib pajak. Jadi lebih besar kepantingan yang dilindungi maka lebih besar pajak yang harus dibayar. Teori ini tidak sesuai dengan sifat pajak. 2. Teori daya beli, pajak diibaratkan sebagai pompa yang menyedot daya beli seseorang / masyarakat yang kemudian dikembalikan lagi pada masyarakat, yang berasal dari rakyat, kembali lagi pada masyarakat melalui setoran lain. 3. Teori kewajiban pajak mutlak, teori ini berdasarkan pada organ teori yang menyatakan bahwa negara merupakan suatu kesatuan yang didalamnya setiap warga negara terikat. Tanpa adanya organ / lembaga itu & lembaga tersebut mempunyai kekuasaan terhadap anggota masyarakat yang mutlak & sebaliknya anggota masyarakat mempunyai kewajiban mutlak untuk bayar pajak.

4.

Teori kepentingan, bahwa semakin besar kepentingan wajib pajak maka semakin besar pula pajak yang akan dipunggut. Teori ni telah dihapus.

5. 6.

Teori daya pikul Teori pembenaran punggutan pajak menurut Pancasila ~ bahwa pajak yang dipunggut berdasarkan asas kegotongroyongan & sikap kekeluargaan adalah sangat sesuai dengan Pancasila karena punggutan pajak tanpa diberi imbalan yang ditujukan untuk kepentingan umum adalah salah satu bentuk gotong royong yang tidak perlu disyaratkan lagi.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 PPh pasal 25 merupakan slah satu pasal dalam UU no. 36 tahun 2008 yang dimaksudkan untuk meringankan beban warga negara dalam membayar pajak yang terutang. Cara yang diperkenankan adalah dengan mengangsur hutang pajaknya dalam tahun pajak. Cara menghitung PPh Pasal 25 Besarnya angsuran PPh 25 adalah sebesar PPh yang terutang menurut SPT tahunan PPh tahun pajak yang lalu dikurangi dengna PPh yang dipotong atau dipungut serta PPh yang dibayar atau terutang diluar negeri yang boleh dikreditkan, kemudian dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam tahun pajak. Contoh: Pajak penghasilan yang terutang oleh Tn Evan berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Tahun 2010 = Dikurangi: PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 23 PPh Pasal 24 Rp. 15.000.000,00 Rp. 10.000.000,00 Rp. 2.500.000,00 Rp. 7.500.000,00 Rp. 35.000.000,00 Rp. 15.000.000,00 Rp. 50.000.000,00

Jumlah kredit pajak Selisih

Besarnya angsuran pajak penghasilan pasal 25 yang harus dibayar tiap bulan untuk tahun 2011 sebesar Rp. 15.000.000,00 x 1/12 = Rp. 1.250.000,00 Wajib Pajak Baru Jika Wajib Pajak Baru menyelenggarakan pembukuan dan dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, maka neto Wajib Pajak baru tersebut dihitung berdasarkan pembukuannya. Untuk WP orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiscal disetahunkan dikurangi terlebih dahulu dengan PTKP Angsuran PPh pasal 25 untuk wajib pajak orang pribadi dihitung dengan cara seperti berikut ini: Tarif pasal 17 x (Penghasilan Neto sebulan x 12) PTKP 12 bulan Bank dan Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi Besarnya angsuran ini sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan tarif umum atas laba rugi menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan dikurangi Pajak Penghasilan Pasal 24 yang harus dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu dibagi 12 bulan. Rumus angsuran PPh pasal 25: {Tarif PPh Pasal 17 x (jumlah laba triwulan terakhir x 4)} PPh pasal 24 12 bulan Badan Usaha Milik Negara Besarnya angsuran ini adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba rugi menurut rencana kerja dan anggaran pendapatan tahun pajak yang bersangkutan yang telah disahkan RUPS dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan PPh pasal 22 dan pasal 23 serta pajak penghasilan pasal 24 yang dibayar atau terutang diluar negeri tahun pajak yang lalu

PPh Pasal 25 dalam hal-hal Tertentu WP berhak atas kompensasi kerugian WP memperoleh penghasilan tidak teratur WP menyampaikan SPT Tahunan PPh melewati batas waktu 3 bulan setelah akhir tahun pajak. WP memperoleh izin perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan PPh WP melakukan pembetulan sendiri SPT PPh yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan. WP dalam tahun berjalan mengalami perubahan keadaan usaha atau kegiatannya.

PPh Pasal 25 bagi WP Orang Pribadi yang bertolak keluar negeri Pajak yang dibayar WPOP yang tidak memiliki NPWP yang bertolak keluar negeri merupakan pembayaran angsuran pajak dalam tahun berjalan. Angsuran pajak ini dapat dikreditkan dengan PPh yang terutang pada akhir tahun bersangkutan setelah wajib pajak tersebut memiliki NPWP. Sehingga seluruh WP yang bertoleh ke luar negeri tidak perlu membayar NPWP. Pph Pasal 25 Untuk Bulan-Bulan Sebelum Bulan Batas Waktu Penyampaian SPT Besarnya sama dengan PPh bulan terakhir tahun pajak yang lalu. Apabila tahun pajaknya adalah tahun kalender (Januari Desember), maka yang dimaksud bulanbulan sebelum batas waktu penyampaian SPT tahunan adalah bulan Januari dan Februari. Dengan demikian PPh pasal 25 bulan januari dan februari 2009 adalah sama dengan PPh Pasal 25 bulan Desember 2008

PPh Pasal 25 Jika Dalam Tahun Berjalan Telah Diterbitkan SKP Untuk Tahun pajak Yang Lalu Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan SKP untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsura pajak dihitung kembali berdasarkan SKP tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan SKP. B. Pajak Penghasilan Pasal 26 Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 adalah PPh yang dikenakan/ dipotong atas penghasilan yang bersumberdari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak(WP) luar negeri selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Pemotong PPh Pasal 26 Badan Pemerintah; Subjek Pajak dalam negeri; Penyelenggara Kegiatan; BUT; Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selainBUT di Indonesia.

Tarif dan Objek PPh Pasal 26 20% (final) dari jumlah penghasilan bruto yangditerima atau diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri berupa : a. Dividen. b. Bunga, premium, diskonto, premi swap,dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian hutang. c. Royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan. e. Hadiah dan penghargaan.

f. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya. 20% (final) dari perkiraan penghasilan neto berupa : a. Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia. b. Premi asuransi, premi reasuransi yang dibayarkan langsung maupun melalui pialang kepada perusahaan asuransi di luar negeri. 20% (final) dari Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu BUT di Indonesia, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia. Tarif berdasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dengan negara pihak pada persetujuan. Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 26 PPh pasal 26 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau akhir bulan terutangnya penghasilan, tergantung yang mana terjadi lebih dahulu. Pemotong PPh pasal 26 wajib membuat bukti pemotongan PPh pasal 26 rangkap 3 : a. lembar pertama untuk Wajib Pajak luar negeri b. lembar kedua untuk Kantor Pelayanan Pajak. c. lembar ketiga untuk arsip Pemotong. PPh pasal 26 wajib disetorkan ke bank Persepsi atau Kantor Pos dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP), paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak. SPT Masa PPh Pasal 26, dengan dilampiri SSP lembar kedua, bukti pemotongan lembar kedua dan daftar bukti pemotongan disampaikan ke KPP setempat paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.

Contoh : Pemotongan PPh Pasal 26 dilakukan tanggal 24 Mei 2001, penyetoran paling lambat tanggal 10 Juni 2001; dan dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak paling lambat tanggal 20 Juni 2001. Pengecualian BUT dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 26 apabila Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari BUT ditanamkan kembali di Indonesia dengan syarat: a. dilakukan dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri, dan; b. dilakukan dalam tahun berjalan atau selambatlambatnya tahun pajak berikutnya dari tahun pajak diterima atau diperoleh penghasilan tersebut; c. tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut sekurangkurangnya dalam waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan, mulai berproduksi komersil. Badan-badan Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.