Anda di halaman 1dari 23

Senin, 18 Juni 2012

Pneumonia Pada Anak

PNEUMONIA A. Batasan Pneumonia adalah suatu keradangan paru-paru yang ditandai oleh terjadinya infiltrasi atau konsulidasi yang penyebarannya dapat lobar, lobuler atau interstitial. B. Etiologi Penyebab pneumonia bermacam-macam: 1. Virus Respiratory Syncitial Virus (RSV), adenovirus, influenza, dan para influenzavirus, virus morbilli, virus varicella, dll. 2. Bakteri Pneumokokus, stafilokokus, streptokokus, hemofilus influenza, mikrobakterium tuberkulosis, dll. 3. Lain-lain C. Patofisiologi D. Gejala Klinik Setelah gejala infeksi saluran pernafasan akut bagian atas (ISPA) yang terdiri dari pilek, batuk, demam ringan dan malaise,berlangsung beberapa hari, timbullah secara agak tiba2 demam yang dengan cepat meningkat, kadang-kadang disertai menggigil, pernafasan cepat, batuk yang dapat pula disertai oleh muntah-muntah, diare, kejang-kejang, meningismus, nyeri pleura dan distensi abdomen. E. Gejala Fisik Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai anak yang sesak, kerapkali disertai grunting pada waktu ekspirasi, pernafasan cupin hidung, pipi yang memerah, (flushing) kadang-kadang sianosis, suara pernafasan melemah, redup pada perkusi, ronchi basah, dan nyaring (halus sampai sedang yang tersebar), yang dapat disertai oleh ekspirasi yang memanjang, retraksi dinding thoraks, kaku kuduk dan nyeri abdomen. F. Diagnosis Diagnosis pneumonia dapat ditegakkan berdasarkan : 1. Gejala klinis 2. Gejala fisik 3. Hasil pemeriksaan radiologis: dapat terlihat infiltrasi atau daerah konsolidasi yang kadang-kadang disertai tanda adanya efusi pleura. 4. Hasil pemeriksaan laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium sangat bervariasi tergantung kepada penyebab. Bila penyebabnya bakteri, mungkin dapat dijumpai di

lekositosis (hingga 18.000-30.000) serta kultur nasofaring dan darah positif. Bila penyebabnya virus, mungkin tidak dijumpai kelainan, kecuali pada pemeriksaan yang khusus. G. Diagnosis Banding Kelainan lain yang dapat menunjukkan gejala infiltrasi atau konsolidasi diantaranya: 1. Atelektasis : menunjukkan gejala penarikan mediastinum ke arah sisi yang sakit. 2. Efusi pleura : menunjukkan pendorongan mediastinum kea rah sisi yang sehat. H. Komplikasi 1. Dehidrasi dan asidosis 2. Kejang karena demam tinggi 3. Otitis media 4. Efusi pleura 5. Abses paru 6. Pneumatokel 7. Atelektasis 8. Meningitis 9. Arthritis septik 10. Bronkhiektasis 11. Hiperaerasi local 12. Lain-lain I. Penatalaksanaan 1. Pneumonia ringan Ditandai oleh batuk dan pernafasan cepat tanpa retraksi. Anak tidak perlu dirawat. Bila masih menyusu, ASI diteruskan, makan sedikit-sedikit tapi sering. Antibiotika diberikan paling sedikit selama 5 hari. 2. Pneumonia berat Ditandai oleh batuk retraksi disamping disamping pernafasan cepat. Tidak terdapat sianosis dan anak masih dapat minum. Dalam hal ini anak harus dirawat di rumah sakit, bersihkan jalan nafas dengan hatihati, kalau perlu berikan benzypenisilin 50.000 U/kg.bb., intramuscular, tiap 6 jam. Bila tidak tampak perbaikan dalam 24 jam, atau bila timbul sianosis, atau anak tidak mau minum, berikan pengobatan seperti pneumonia amat berat. 3. Pneumonia amat berat 4. Pneumonia persisten Pneumonia persisten ialah pneumonia yang tidak mengalami perbaikkan dalam 2 minggu walaupun sudah diberi pengobatan yang cukup. Biasanya anak tetap kelihatan sesak dengan pernafasan cepat, tetap terlihat retraksi tetapi biasanya dengan demam ringan. Dalam keadaan ini harus difikirkan kemungkinan tubercolusis, asma, aspirasi benda

asing, kegagalan jantung, atau kemungkinan infeksi oleh Chlamydia atau pneumocitis. Untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan tersebut, perlu diperiksa dan diperhatikan kemungkinan adanya kontak, dilakukan test Mantoux dan pemeriksaan bakteriologis dan cairan lambung untuk tuberculosis. Adanya wheezing, ronchi dan ekspirasi yang amat memanjang menunjukkan adanya asma. Kemungkinan adanya benda asing dapat diduga bila serangan sesak tiba-tiba, diperkuat oleh pemeriksaan radiologis pada inspirasi dan ekspirasi.sedangkan adanya kegagalan jantung dapat diduga jika CRT lebih dari 60%, adanya murmur tekanan vena meningkat, hempatomenggali dan tachikardia. Bila kemungkinan berbagai hal tersebut dapat disingkirkan, pertimbangkan pemberian cotrimoxazole dosis tinggi (10 mg.trimethoprim/kg.bb.tiap 12 jam). Bila kelihatan perbaikan dalam 1-2 minggu, teruskan pengobatan sampai 3 minggu, dan tidak ada perbaikan pertimbangkan pemberian tuberkulostatika. 5. Pneumonia pada bayi Pneumonia pada bayi kadang-kdang sukar diketahui karena tidak selalu terdapat gejala batuk. Pengobatan pneumonia dapat diberikan pada bayi setelah lebih dari 4 jam menunjukkan gejala: pernafasan cepat > 60x/menit, retraksi dan grunting. Bayi dengan gejala pneumonia harus dirawat. Bila terdapat sianosis, berikan oksigen dengan kecepatan 0,5liter/menit. Antibiotika yang dianjurkan adalah: - Benzylpenisilin, dengan dosis 50.000 U/kg.bb., tiap 12 jam, paling sedikit selama 5 hari, ditambah dengan salah satu dari: Streptomisin : 25 mg/kg.bb., i.m., sehari sekali Kanamisin : 10 mg/kg/bb., i.m., setiap 12 jam Gentamisin : 2,5 mg/kg.bb., i.m., setiap 12 jam

ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMONIA

BAB I TINJAUAN TEORITIS


A. a. Konsep Dasar Medis Definisi Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya infeksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran, iritan kimia, dan terapi radiasi. Rencana keperawatan ini sesuai dengan pneumonia bacterial dan virus, misalnya: pneumococcal pneumonia, pneumocystis carinni, haemovilus, influenza mioplasma, gram negative b. Etiologi Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Individu yang mengidap acquired immunodeficiency syndrome, (AIDS) sering mengalami pneumonia yang pada orang normal sangat jarang terjadi yaitu pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau alat pelembab yang kotor, dapat mengidap pneumonia Legionella. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam dapat mengidap pneumonia asporasi. Bagi individu tersebut, bahan yang teraspirasi itu sendiri yang biasanya menyebabkan pneumonia, bukan mikro-organisme, dengan mencetuskan suatu reaksi peradangan. Etiologi: Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis, cryptococosis, pneumocytis carin Aspirasi : Makanan, cairan, lambung Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas

Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:


Virus sinsisial pernafasan Hantavirus Virus influenza Virus parainfluenza Adenovirus Rhinovirus Virus herpes simpleks Sitomegalovirus. Virus Influensa Virus Synsitical respiratorik Adenovirus Rubeola Varisella Micoplasma (pada anak yang relatif besar) Pneumococcus Streptococcus Staphilococcus

Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah: - virus sinsisial pernafasan - adenovirus - virus parainfluenza dan - virus influenza. Faktor-faktor risiko terkena pneumonia, antara lain, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun.

c.

Manifestasi Klinis Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.

Tanda dan Gejala berupa:


Batuk nonproduktif Ingus (nasal discharge) Suara napas lemah Retraksi intercosta Penggunaan otot bantu nafas Demam Ronchii Cyanosis Leukositosis Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar Batuk Sakit kepala Kekakuan dan nyeri otot Sesak nafas Menggigil Berkeringat Lelah.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - kulit yang lembab - mual dan muntah kekakuan sendi. Secara umum dapat dibagi menjadi : Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah, malise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak napas, air hunger, merintih, dan sianosis. Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, dan ronki. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang terjadi bila

iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). Pada neonatus dan bayi kecil tanda pneumonia tidak selalu jelas. Efusi pleura pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi. Tanda infeksi ekstra pulmunal. d. Fatofisiologi & bagan Fatofisiologi Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar kecilnya ukuran sang penyebab tersebut. Penemonia bacterial menyrang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi inflamasi yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli dan menghasilkan eksudat, yang mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta karbondioksida. Sel-sel darah putih, kebanyakan neutrofil, juga bermigrasi kadalam alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya mengandung udara. Area paru tidak mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, edema mukosa, dan bronkospasme, menyebabkan okulasi parsial bronki atau alveoli dengan mengakibatkan penurunan tahanan oksigen alveolar.

Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui area yang kurang terventilasi dan keluar ke sisi kiri jantung tanpa mengalami oksigenasi. Pada pokoknya, darah terpirau dari sisi kiri jantung. Percampuran darah yang teroksigenasi ini akhirnya mengakibatkan hipoksemia arterial. Terpajan Bakteri Teraspirasi ke dalam Bronkus Distal dan Alveoli Konsolidasi Paru Darah di Sekitar Alveoli Tidak Berfungsi Peradangan / Inflamasi di Paru Hipoksia Ketidakadekutan Pembentukan Edema Pertahanan Utama Dx : Kerusakan Pertukaran Gas Dx : Ketidakefektifan Dx : Infeksi, Resiko Tinggi Bersihan Jln Nfs Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long

Pemeriksaan Diagnostik Sinar x Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih. GDA Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada. JDL leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus,kondisi tekanan imun. LED meningkat Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan komplain menurun. Elektrolit Na dan Cl mungkin rendah Bilirubin meningkat Aspirasi / biopsi jaringan paru Alat diagnosa termasuk sinar-x dan pemeriksaan sputum. Perawatan tergantung dari penyebab pneumonia; pneumonia disebabkan bakteri dirawat dengan antibiotik. Pemeriksaan penunjang: Rontgen dada Pembiakan dahak Hitung jenis darah Gas darah arteri f. Komplikasi Efusi pleura Hipoksemia Pneumonia kronik Bronkaltasis Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). Komplikasi sistemik (meningitis) g. Penataan Laksanaan Medis Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya:

Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. B. Konsep Dasar Keperawatan a. Definisi Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian alfeoli dengan cairan. Penyebabnya termasuk berbagai agen infeksi, iritan kimia, dan terapi radiasi. Rencana keperawatan ini sesuai dengan pneumonia bacterial dan virus, misalnya: pneumococcal pneumonia, pneumocystis carinni, haemofilus influenza, mioplasma, gram negative. b. Patofisiologi penyimpanan KDM Proses terjadinya pneumonia hasilnya kuman pathogen masuk ke mukus jalan nafas, kuman tersebut berkembang biak disaluran nafas atau sampai di paru-paru. Bila mekanisme pertahanan seperti system transport mokusilia tidak adekuat, maka kuman berkembang biak secara cepat sehingga terjadi peradangan disaluran nafas atas, sebagai respon peradangan akan terjadi hipereksi mucus dan merangsang batuk, mikroorganisme berpindah karena adanya gaya tarik bumi dan alveoli lain, keadaan ini menyebabkan infeksi meluas, aliran darah diparu sebagian meningkat yang diikuti peradangan vascular dan diikuti penurunan darah kapiler Oedema karena inflamasi akan mengeraskan paru dan akan mengurangi kapasitas paru, penurunan produksi cairan surfaktan lebih lanjut, menurunkan compliance dan menimbulkan atelectais dan kolap alveoli. Sebagai tambahan proses pneumonia menyebabkan gangguan ventilasiokulasi partial pada alveoli dan bronchi, akan menurunkan tekanan oksigen arteri, darah vena yang menuju atrium kiri banyak yang tidak mengandung oksigen sehingga hingga terjadi hypoxemia arteri. System sistemik panas karena infeksi, fagosit melepaskan bahan kimia yang disebut endegeneus pyrogen, bila zat ini terbawa aliran darah hingga sampai hipotalamus, maka suhu tubuh akan meningkat laju atau kecepatan metabolism pengaruh dari meeningkatnya metabolism adalah penyebab takhipenia dan tachycardia, tekanan darah menurun sebagai akibat dari vasodilatasi perifer dan penururnan sirkulasi volume darah karena dehidrasi, panas

dan takhipenia meningkatkan kehilangan cairan melalui kulit (keringat) dan saluran pernafasan sehingga menyebabkan dehidrasi.

Pengkajian Data Dasar Aktifitas Gejala: Insomania Tanda: letargi Penurunan toleransi terhadap aktivitas Sirkulasi Gejala: Tanda: riwayat adanya GJK kronis Takikardia Penampilan kemerahan atau pucat Integritas ego Gejala: Makanan/cairan Gejala: kehilangan nafsu makan, mual/muntah Riwayat diabetes mellitus Tanda: Distensi abdomen Hiperaktif bunyi usus Kulit kering dengan turgor buruk Penampilan kakeksia (malnutrisi) Neorusensori Gejala: Tanda: sakit kepala daerah frontal (influensa) Perubahan menrtal (bingun somnolen) Banyaknya stressor, masalah financial kelemahan, kelelahan

Nyeri/ Kenyamanan Gejala: Sakit kepala

Nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk; nyeri dada substernal (influenza) Mialgia, artralgia Tanda: melindungi area yang sakitn (pasiennya umumnya tidur) pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) Pernafasan

Gejala:

riwayat adanya/ISK kronis, PPOM, merokok sigaret

Takpenia, dispenia progresif, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesoris, pelebaran nasal Tanda: Sputum: merah mudah, berkarat, atau purulen Perkusi: pekak di atas area konsolidasi Fremitus: taktil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi Gesekan fliksi pleural Bunyi nafas: menurun atau tak ada diatas area yang terlibat, atau nafas brongkial Warna: pucat atau sianosis bibir/kuku Keamanan Gejala: riwayat gangguan system imun, mis, SLE, AIDS, penggunaan steroid atau kemotrapi, institusionalisasi, ketidak mampuan umum Demam (mis, 38,5 39.6C) berkeringat Menggigil berulang, gemetar. Kemerahan mungkin ada pada kasus rubeola atau varisela Penyuluhan/Pembelajaran Gejala: Pertimbangan: riwayat mengalami pembedahan DRG menunjukkan rerata lama riwayat 6,8 hari

Tanda:

Rencana permulaan: Bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah Oksigen mungkin diperlukan, bila odakondisi pencetus Pemeriksaan dignostik sinar x: mengidentifikasi distribusi structural (mis, lobar, bronkial); dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, ampiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih. GDA/ nadi oksimentari : Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: Dapat diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopi fiberoptik, atau biopsi pembukaan baru untuk mengatasi organisme penyebab. Lebih dari 1 tipe organisme ada: bakteri yang umum meliputi Diplococcus pneumonia, stpilococcus aereus, A- hemolitik strepcoccus, Haemopilus influenza; CMV. Catatan : Kultur sputum dapat tak mengidentifikasi semua organism yang ada. Kultur darah dapat menunjukkan baktremia sementara.

JDL: Leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi firus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan berkembangnya pneumonia bacterial Pemeriksaan serologi, mis, titer virus atau Leginella, agglutinin dingin : membantu dalam membedakan diagnosis organism khusus LED: meningkat Pemeriksaan fungsi paru : Volume mungkin menurun (kogesti dan kolaps alveolar): tekanan jalan nafas mungkin meniongkat dan complain menurun. Mungkin terjadi pembebasan (hipoksemia) Elektrolit: Natrium dan kalorida mungkin rendah Bilirubin: mungkin meningkat Aspirasi perkutan/ biopsy jaringan paru terbuka : Dapat menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV); karaktristik sel raksasa (rubeolla) Prioritas Keperawatan 1. 2. 3. 4. Mempertahankan/ memperbaiki fungsi pernafasan Mencegah komplikasi Mendung proses penyembuhan Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan pengobatan

Tujuan pemulangan 1. 2. 3. 4. Ventilasi dan okzigenasi adekuat untuk kebutuhan individu Komplikasi dicegah/ diminimalkan Proses penyakit/ prognosis dan program terapi dipahami Perubahan pola hidup teridentifikasi/ dilakukan untuk mencegah kebutuhan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN HASIL KRETERIA INTERVENSI RASIONAL

NO

Bersihan jalan nafas, tidak efektif s/d inflamasi trakebronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. Nyeri pleurtik, penurungan energy, kelemahan. Ditandai dengan: Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan. Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori. Dispnea, sionosis. Batuk, efektif atau tak apektif, dengan/ tanpa pruduksi sputum.

- mengidentifikasi / menunjukkan prilaku mencapai bersihan jalan nafas. - menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea, sianosis

Mandiri Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada. Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius. Mis, krekles, mengi Bantu pasien latihan nafas sering. Tunjukkan atau bantu pasien mempelajari melakukan batuk mis, menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi. Penghisapan sesuai indikasi Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hr (kecuali kontra indikasi). Tawarkan air hangat, dari pada dingin Kolaborasi Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisiotrafi lain, mis. Spirometer insentif, IPPB, tiupan botol, perkusi, tindakan diantara waktu makan dan batasan cairan bila mungkin. Berikan obat sesuai indikasi: mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgesic.

Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi nafas bronchial (normal bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekles, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan/atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan nafas/ obstruksi. Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paruparu / jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas paten. Penekanan menurunkan ketidak nyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya nafas lebih dalam dan lebih kuat. Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas secara mekanik pada pasien karena batuk tak efetif atau menurun tingkan kesadaran. Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret Memudahkan pengencaran dan pembangunan secret.

drainase postural. Lakukan yang tak mampu melkukan

Berikan cairan tambahan, mis, IV, oksigen humudifikasi, dan ruangan humidifikasi. Awasi seri sinar x dada, GDA, nadi, oksimetri. ( Rujuk ke DK: pertukaran gas, dangguan, 167) Bantu bronkoskopi/ torasentesis bila diindikasikan

Drainase postural tidak efektif pada pneumonia intertisial atau menyebabkan eksudat alveolar/kerusakan. Koordinasi pengobatan/ jadwal dan memasukkan oral menurunkan muntah karena batuk, pengeluaran sputum. Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengen mobilisasi secret. Analgesic diberikan untuk memperbaiki batuk dengan neburunkan ketidak nyamanan tetapi harus digunakan secara hatihati, karena da[pat menurunkan upya batuk/ menekan pernafasan Cairan diperlukan untuk menggatikan kehilangan (termasuk yang tak nampak) dan mobilisasikan secret. Mengevaluasi kemajuan dan efek proses penyakit dan memudahkan pilihan terapi yang di perlukan. Kadang- kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa, mengeluarkan sekresi parulen, dan / atau mencegah atelektasis.

Kerusakan Pertukaran gas, s/d perubahan membrane alveolar kapiler (efek inflamasi). Gangguan kapasitas pembawa oksigen darah (demam, perpindahan kurva oksihemoglobin) Gannguan pengiriman oksigen (hipoventilasi) Ditandai dengan: Dispnea, sianosis Takikardia Gelisah perubahan mental Hipoksia

-menunjukkan dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan. -berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi .

Mandiri dan kemudahan bernafas. Observasi warna kulit, membrane mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifeir (kuku) atau sianosis sentral (sirkumoral). Kaji status mental. Awasi frekuensi jantung/ irama. Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil, mis, selimut tanmbahan/ menghilangkannya, suhu ruangan nyaman, kompres hangat atau dingin. Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktifitas senggang. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif. Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah/ perasaan. Jawab pertayaan dengan jujur. Kunjungi dengan sering, atau pertemuan/ kunjungan oleh orang

Manifestasi distress pernafasan tergantung pada / indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi atau respons tubuhterhadapo demam/ menggigil. Namun seanosis daun telinga, membrane mukosa, dan kulit sekitar mulut (membrane hangat) menunjukkan hipoksemia sistemik. Gelisah, mudah terangsang, dan somnolen dapat menunjukkan hiposemia/ penurunan oksigenasi terserebral. Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam/ dehidrasi tetapi dapat sebagai respon terhadap hipoksemia. Demam tinggi (Umum pada pneumonia bacterial dan influenza) sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigendan mengganggu oksigenasi seluler. Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan / konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.

perbaikan ventilasi Kaji frekuensi, kedalaman,

terdekat/ pengunjung sesuai indikasi. Observasi penyimpanan kondisi, catat hipotensi, banyaknya jumlah sputum merah muda/ berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah. Siapkan untuk/ pemindahan ke unit perawatan kritis bila diindikasikan. Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar, mis., dengan nasal porong, masker, masker penturi.

Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi (rujuk pada DK: bersihkan jalan nafas, tak efektif. Hal 166) Ansietas adalah manifestasi ,masalah psikologi sesuai dengan renpon fisilogi terhadap hiposia. Pemberian keyakinan dan meningkatkan rasa aman dapat menurunkan komponen psikologis, sehingga menurunkan kebutuhanoksigen dan efek merugikan dari respon psikologis. Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan interfensi medis segera. Intibasi dan ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada kejadian kegagalan pernafasan. Tujuan terapi oksigen adalah untuk mempertahankan PaO2 diatas 60 mm hg. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien Mengevaluasi proses

penyakit dan memudahkan terapi paru.

Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi s/d ketidak ada kekuatan (penurunan kerja silia, perlengketan secret pernapasan). Tidak adekuat pertahanan skunder (adanya infeksi, penekanan imun) penyakit kronis, malnutrisi. Ditandai dengan: Tidak dapat diterapkan; tandatanda dan gejala gejala membuat diagnose actual.

- mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa konflikasi. -menidentifikasi mencegah/ menurunkan resiko infeksi.

Mandiri Pantau tanda vital dengan ketat, khususnya selama awal terapi. Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekresi (mis. Meningkatkan pengeluaran dari pada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan bau secret. Tunjukkan/ dorong teknik mencuci tangan yang baik. Ubah posisi dengan sering dan berikan pembuangan paru yang baik. Batasi pengunjungan sesuai indiukasi Lakukan isolasi pencegahan sesuai individual. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktifitas sedang. Tindakan masukan nutrisi adekuat. Awasi keefetifan terapi

Selama waktu ini, potensial komplikasi (hipotensi/syok) dapat terjadi. Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya membatasi atau menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikelarkan dengan cara ,aman. Perubahan karaktristik sputum menunjukkan perbaikan pneumonia atau terjadinya infeksi skunder. Efektif berarti menurunkan penyebaran / tambahan infeksi Meningkatkan pengeluaran, pembersihan infeksi. Menurunkan pemajanan terhadap pathogen infeksi lain. Tergantu pada tipe infeksi, respon terhadap anti biotic, kesehatan umum pasien, dan terjadinya konflikasi, teknik isolasi mungkin diperlukan untuk mencegah

pertahankan utama intervensi untuk

antimicrobial. Selidiki perubahan tibatiba/ penyimpanan kondisi, seperti peningkatan nyeri gangguan sensori, berulangnya demam, perubahan karaktristik sputum Kolaborasi Berikan antimicrobial sesuindikasi dengan hasil kultur sputum/ darah, mis, pinisillin, eritromisin, tetrasiklin, amikain, sefalosporin; amantadin

penyebaran/ melindungi pasien dari proses infeksi lain. Memudahkan proses meningkatkan tahanan alamia. Tanda perbaikan kondisi haus terjadi dalam 24 28 jam. Penyembuhan melambat atau peningkatan beratnya gejala diduga tahanan terhadap anti biotic atau infeksi skunder. Konflikasi mempengaruhi beberapa atau smua system organ termasuk abses paru/ empiema, bakteremia, perikarditis/ endokarditis, meningitis/ ensefalitis, dan super infeksi. Obat ini digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pneumonia. Kombinasi antiviral dan anti jamur mungkin digunakan bila pneumonia di akibatkan oleh organism campuran

dada, bunyi jantung ekstra, penyembuhan dan

Intoleransi aktifitas s/d antara suplei dan kebutuhan sendiri Kelemahan umum. Kelelahan yang

-melaporkan / menunjukkan toleransi terhadap aktifitas yang dapat diukur dengan tak

Mandiri Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. Catatan laporan dispnea, peningkatan kelemahan /kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan

Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien memudahkan pemilihan interfensi. Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

ketidakseimbangan peningkatan

berhubungan dengan gangguan pola tidur yang berhubungan dengan ketidak nyamanan, betuk berlebihan, dan dispnea. Ditandai dengan: -Laporan verbal kelemahan, kelelahan, keletihan. -dispnea karena kerja, takisknea. -takikardia sebagai respon terhadap aktifitas - terjadinya / memburuknya pucat/ sianosis Nyeri Akut s/d inflamasi parenkim paru. Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin Batuk menetap. Ditandai dengan: -Nyeri dada pleuritik - sakit kepala, otot atau nyeri sendi -melindungi area yang sakit. - prilaku distraksi,

adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tranda vital dalam rentang normal

setelah aktifitas Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Dorong penggunaan manajmen stress dan pengalih yang tepat. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktifitas dan istirahat Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan/ atau tidur. Bantu aktifitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan

Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metamolik, menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktifitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktifitas dan perbaikan kegagalan pernafsan. Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk kedepan meja atau bantal. Meminimalkan kelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

-menyatakan nyeri hilang / terkontrol - menunjukkan rilaks, istirahat atau tidur, dan peningkatan aktifitas dengan tepat.

Mandiri Tentukan karaktristik nyeri, mis, tajam, konstan, ditusuk. Selidiki perubahan karakter/ lokasi/ intsnsitas nyari. Pantau tanda vital Berikan tindakan nyaman, mis, pijatan punggung, perubahan posisi, music tenang/ perbincangan, relaksasi/ latihan nafas Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. Anjurkan dan bantu pasien

nyeri dada, biasanya ada dalam beberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul konplikasi pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis Perubahan frekuensi jantung atau TD menujunkkan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat Tindakan non-analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidak nyamanan dan

gelisah

dalam teknik menekan dada selama episode batiuk (rujuk ke DK: bersihkan jalan nafas, tak efektif, hal 166). Kolaborasi Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi.

memperbesar efek terapi analgesic. Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membrane mukosa, potensial ketidak nyamanan umum. Alat utnuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan kefektifan upya batuk. Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk nonpruduktif/paroksismal atau menurunkan mukosa berlebihan, meningkatkan kenyaman/ istirahat umum.

Resiko tinggi kurangnya nutrisi dari kebutuhan tubuh terhadap factor resiko meliputi: -Peningkatan kebutuhan metabolic skunder terhadap demam dan proses infeksi. -Anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri, baud an rasa sputum, dan pengobatan aerosol -distensi

-menunjukkan peningkatan nafsu makan. -mempertahankan atau meningkatkan berat badan.

Mandiri Identifikasi factor yang menimbulkan mual/muntah. Mis,sptum banyak, pengobatan aerosol, dispnea berat, nyeri. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin. Berikan / bantu kebersihan mulut setelah muntah, setelah tindakan aerosol dan drainase postural, dan sebelum makan. Jadwalkan pengobatan pernafasan sidikitnya 1 jam sebelum makan. Auskultasi bunyi usus.

Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah Menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual. Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini Bunyi usus mungkin menurun / tak ada bila proses infeksi berat/mamanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara untuk menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI. Tindakan ini dapat

abdomen/gas yang berhubungan dengan menelan udara selama episode dispnea. Ditandai dengan: Tidak dapat diterpakan : adanya tandatanda dan gejalagejala membuat diagnose actual. Resiko tinggi Kekurangan volume cairan terhadap factor kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringat banyak, nafas mulut/ hiperventilasi, muntah). Penurunan masukan oral Ditandai dengan: Tidak dapat diterapkan : adanya tandatanda dan gejalagejala membuat diagnose actual Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat, mis, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.

Observasi/ palfasi distensi abdomen. Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggan. krekers) dan/atau makan yang menarik untuk pasien. Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.

meningktkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. Adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme) atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan malnutrusi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, dan/ atau lambatnya respons terhadap terapi

Mandiri Kaji perubahan tanda vital, contoh peningkatan suhu/ demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik. Kaji turgor kulit, kjelembaban membrane mukosa (bibir,lidah). Catat laporan mual/ muntah Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urin. Hitung keseimbangan cairan. tak tanpak. Ukur berat badan sesuai indikasi Tekankan cairan sedikitnya 2500 ml/hr atau sesuai kondisi individual. Kolaborasi Beri obat sesuai indikasi

Peningkatan suhu atau memanjangnya demam meningktkan laju metabolic dan kehilangan cairan melalui epvorasi, TD ortostatik berubah dan peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik. Indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan oksigen tambahan menurunkan masukan oral Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian. Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko

Waspadai kehilangan yang Adanya gejala ini

mis, antipiretik, antiemetic. Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

dehidrasi. Berguna menurunkan kehilangan cairan Pada adanya penurunan masukan/ banyak kehilangan, penggunaan parental dapat memperbaiki/ mencegah kekurangan

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar, mengenai kondisi dan kebutuhan tind) s/d kurang terpajan Kesalahan intepretasi Kurang mengingat Ditandai dengan: Permintaan informasi Pernyataan kesalahan konsep Kegagalan memperbaiki/ berulang.

-menyatakan pemahaman kondisi, proses penyakit dan pengobatan. -melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan

Mandiri Kaji fungsi normal paru, patologi kondisi Diskusikan ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan, dan harapan kesembuhan. Identifikasi perawatan diri dan kebutuhan/ sumber pemeliharaan rumah Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal Tekankan pentingnya melajutkan batukl efektif/ latihan pernafsan Tekankan perlunya melanjutkjan terapi antiobiotik selama priode yang di anjurkan Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahtraan mis, istirahat dan aktifitas seimbang, diet baik, menhindadri kerumunan selama musim pilek/flu dan orang yang

Meningkatkan pemahaman situasi yang ada dan penting menghubungkannya dengan program pengobatan. Informasi dapat meningkatkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan. Gejala permafasan mungkin lambat untuk membaik, dan kelemahan, kelelahan dapat menetap selama riode yang panjang. Factor ini dapat brhubungan depresi dan kebutuhan berbagai bentuk dukungan dan bantuan. Kelemahan dan depresi dapat mempangaruhi kemampuan untuk mengasimilasi/ mengikuti program medic. Selam awal 6-8 minggu setela pulang, pasiean beresiko besar untuk kambuh dari pneumonia. Penghentian dini antibiotic dapat mengakibatkan iritasi

mengalami infeksi saluran nafas atas. Takankan pentingnya melanjutkan evaluasi medic dan vaksin /. Imunisasi dengan tepat Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan, mis, peningkatan dipnea, nyri dada, ke;lemahan memanjang, kehilangan berat badan, demam/ ,menggigil, menetapnya batu produktif, perubahan mental

mukosa bronkus, dan maenghambat makropag alveolar, mempengaruhi pertahanan alamia/imunitas, membatasi terpajan pada pathogen. Dapat mencegah kambuhnya pneumonia dan/ atau komplikasi yang berhubungan. Upaya evaluasi dan interfensib tepat waktu dapat mencegah/ meminimalkan komlikasi.