Anda di halaman 1dari 56

3- SAMBUNGAN BAUT

Latar Belakang
Elemen-elemen yang menyusun struktur baja harus digabungkan satu dengan yang lain dengan suatu sistem sambungan. Sambungan berfungsi menyatukan elemen-elemen dan menyalurkan beban dari satu bagian ke bagian yang lain
Elemen yang disambung Jenis penyambung : las, baut, paku keling Pelat penyambung (dan pelat pengisi)

Sistem Sambungan

Contoh Sambungan
Sambungan balok - balok

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Sambungan profil pelat penyambung

Sambungan pelat pelat

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Sambungan balok - kolom

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Paku Keling (Rivet)


Dasar perhitungan untuk sambungan baut dan paku keling adalah sama, yang membedakan adalah cara pelaksanaan dan bahan yang dipakai. Sambungan keling umumnya terbuat dari mutu normal. Sambungan keling dipasang dengan pemanasan awal. Pada saat membara, material keling diselipkan ke lubang keling dan salah satu ujungnya dipukul sementara ujung lainnya ditahan. Pukulan tersebut akan membentuk kepala keling pada ujungnya dan badan keling akan mengisi penuh lubang keling Pada saat pendinginan, lubang keling akan memberikan gaya tarik awal, sehingga sambungan akan menjadi sangat fit.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Baut Mutu Normal (Baut Hitam)


Sambungan baut dapat terbuat dari baut mutu normal atau mutu tinggi. Baut ini dibuat dari baja karbon rendah yang diidentifikasi sebagai A307, dan merupakan jenis baut yang paling murah Namun baut ini belum tentu menghasilkan sambungan yang paling murah karena banyaknya jumlah baut yang dibutuhkan pada suatu sambungan Pemakaian terutama pada struktur yang ringan, batang sekunder atau pengaku, platform, gording, rusuk dinding. Mutu baut dapat dibaca dibagian kepala baut, misalnya tertulis 4.6 artinya tegangan leleh baut = 4 x 6 x 100 = 2400 kg/cm2 Baut mutu normal dipasang kencang tangan, tanpa gaya tarik awal dan merupakan tipe tumpu.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Baut Mutu Tinggi / High Tension Bolt (HTB)


Sambungan baut mutu tinggi mengandalkan gaya tarik awal yang terjadi karena pengencangan awal. Gaya tersebut dinamakan proof load. Gaya tersebut akan memberikan friksi, sehingga sambungan baut mutu tinggi hingga taraf gaya tertentu dapat merupakan tipe friksi. Sambungan jenis ini baik untuk gaya bolak-balik. Untuk taraf gaya yang lebih tinggi, sambungan tersebut merupakan tipe tumpu. Baut mutu tinggi dipasang dengan mula-mula melakukan kencang tangan dan diikuti dengan setengah putaran setelah kencang tangan. Atau menggunkana kunci torsi yang telah dikalibrasi sehingga menghasilkan setengah putaran setelah kencang tangan. Diameter yang paling sering digunakan pada konstruksi gedung adalah inci dan 7/8 inci. Diamter yang palins sering digunakan pada konstruksi jembatan adalah 7/8 inci dan 1 inci Saat ini sambungan baut lebih ekonomis daripada sambungan keling.
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 6

SPESIFIKASI BAUT DAN PAKU KELING


Baut A307
A325 A490 Keling

Mutu Normal
Tinggi Tinggi Normal

db (mm) 6,35 10,4


12,7 25,4

Proof Stress (MPa) 585

Kuat Tarik min. , fu (MPa) 60


825

28,6 38,1
12,7 38,1

510
825 -

725
1035 370

Proof stress A307 adalah 70% x fu Proof stress A490 adalah 80% x fu

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Data Data Teknis Baut HTB


Baut Mutu Tegangan geser ijin (kg/cm2) 960 1225 Tegangan tarik ijin (kg/cm2) 1600 3080

A307 A325

Normal Tinggi

A490

Tinggi

1540

3780

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Pengertian Diameter Nominal (dn) dan Diameter Kern (dk)


Diameter nominal adalah diameter yang tercantum pada nama perdagangan, misalnya M12 artinya diameter nominal (dn) = 12 mm Untuk baut tidak diulir penuh, diameter nominal adalah diameter terluar dari batang baut Untuk baut ulir penuh, diameter inti (dk) adalah diameter dalam dari batang tersebut Diameter yang digunakan untuk menghitung luas penampang :
Baut tidak di ulir penuh menggunakan dn Baut diulir penuh menggunakan dk

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

Kerusakan Sambungan
a. b. c. d. Kerusakan pada baut akibat geser Kerusakan pada pelat lewat lubang sambungan Kerusakan pada baut ataupun pelat (mana yang lebih lemah) akibat tumpu Kerusakan pada tepi pelat akibat geser

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

10

Panduan Pemilihan Alat Sambung


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sambungan baut sesuai untuk struktur ringan dengan beban statis yang kecil, dan batang sekunder (seperti gording, pengikat, bracing, dsb) Pelaksanaan pekerjaan baut sangat cepat, tidak memerlukan pekerja dengan kecakapan tinggi Bila struktur kelak akan dibongkar pasang, baut lebih sesuai untuk digunakan dibandingkan las Untuk beban fatique, sebaiknya menggunakan baut mutu tinggi dan las Pemasangan baut mutu tinggi memerlukan perhatian khusus Sambungan las memerlukan baja lebih sedikit, dan penampilan sambungan baik Pada sambungan yang menerus dan rigid, sambungan las lebih sesuai Pengelasan sebaiknya dikerjakan di bengkel / work shop karena pemeriksaan las di lapangan agak diragukan Pekerjaan las untuk elemen batang yang sangat tebal memerlukan perhatian ekstra. Lebih seusai jika menggunakan sambungan baut, lagipula sambungan baut lebih kecil bahanya terhadap retak dan rapuh.
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 11

9.

Mekanisme Sambungan
1. Tipe tumpu Sambungan tipe tumpu adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut yang dikencangkan dengan tangan, atau baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkna gaya tarik minimum yang disyaratkan, yang kuat rencananya disalurkan oleh gaya geser pada baut dan tumpuan pada bagian-bagian yang disambungkan

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

12

2.

Tipe friksi Sambungan tipe friksi adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkan tarikan baut minimum yang disyaratkan sedemikian rupa sehingga gayagaya geser rencana disalurkan melalui jepitan yang bekerja dalam bidang kontak dan gesekan yang ditimbulkan antara bidang-bidang kontak

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

13

Klasifikasi Sambungan
1. Sambungan Kaku (Rigid Connection) Deformasi titik kumpul harus sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap distribusi gaya maupun terhadap deformasi keseluruhan struktur. Sambungan dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut diantara elemen-elemen yang disambung. M sambungan = 90% - 100% M jepit sempurna

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

14

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

15

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

16

2.

Sambungan Semi Kaku (Semi Rigid Connection) Pada sambungan semi kaku, perhitungan kekakuan, penyebaran gaya, dan deformasinya harus menggunakan analisa mekanika yang hasilnya didukung oleh percobaan eksperimental. Sambungan tidak memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut antara elemen yang disambung. Dianggap mempunyai kapasitas yang cukup untuk memberikan tahanan yang dapat diukur terhadap perubahan sudut tersebut M sambungan = 20% - 90% M jepit sempurna

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

17

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

18

3.

Sambungan Sendi (Simple Connection) Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sambungan. Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung. Detail sambungan harus dapat memikul gaya reaksi yang bekerja pada eksentrisitas yang sesuai dengan detail sambungan. M sambungan = 0% - 20% M jepit sempurna

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

19

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

20

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

21

Bidang Kerja Sambungan


Perencanaan sambungan ditentukan oleh bidang kerja sambungan, yaitu bidang tempat bekerjanya gaya pada sistem sambungan.
Bidang kerja :
1. 2. 3. Sejajar (dalam bidang / sebidang) Tegak lurus (lurus bidang / tak sebidang) Kombinasi sejajar tegak lurus

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

22

1.

Bidang Kerja Sejajar (Pembebanan Dalam Bidang) Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya berada dalam bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya geser

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

23

2.

Bidang Kerja Tegal Lurus (Pembebanan Luar Bidang) Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang arahnya tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya tarik

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

24

3.

Bidang Kerja Kombinasi Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang arahnya sejajar dan tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan adalah kombinasi gaya geser dan tarik

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

25

Tata Letak Baut

3 db S 15 tp atau 200 mm 1,5 db S1 (4 tp + 100) atau 200 mm S2 12 tp atau 150 mm

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

26

Perencanaan Baut

Kuat Geser Rencana Tumpu Baut

Untuk 1 bidang geser baut

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

27

Kuat Geser Rencana Tumpu Pelat

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

28

Kuat Tarik Rencana

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

29

Kombinasi Geser danTarik Rencana Tumpu Baut

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

30

Kuat Geser Rencana Baut Mutu Tinggi Tipe Friksi

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

31

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

32

Kombinasi Geser danTarik Rencana Friksi Baut

(Tb)

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

33

Kelompok Baut Yang Memikul Beban Sebidang, Beban Eksentris

Pada sambungan ini, beban bekerja pada bidang sambungan, tetapi tidak melalui titik berat sambungan. Akibat eksentris tersebut akan menimbulkan beban momen puntir pada sambungan, sehingga disamping sambungan menerima geser sentris, juga ditambah menerima beban geser puntir Ada 3 cara pendekatan analisis untuk sambugan baut geser puntir yang telah dikenal yaitu : Cara elastis Reduced Eccentricity Method Ultimated Strength Method
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 34

A. Cara Elastis
Penyelesaian cara elastis ini memberikan hasil sangat konservatif karena pengaruh gesekan antar pelat tidak diperhitungkan.

Untuk kasus A adalah geser sentris sehingga beban Pu diterima secara merata pada tiap baut : Ku = Pu/n Untuk kasus B, momen puntir Mu = Pu x e, seolah-olah disebarkan ke masing-masing baut sedemikian rupa sehingga arah dari beban setiap baut akan membuat momen kopel terhadap titik berat susunan baut dan besar beban masing-masing baut sebanding dengan jarak baut tersebut ke titik berat susunan baut (cg).
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 35

Kui = beban pada tiap baut Ri = jarak antara baut ke titik berat (cg) susunan baut dimana arah Ki tegak lurus Ri
(1)
dan (2)

kalau masing-masing beban baut dinyatakan dalam K1 (3)


Kalau persamaan (3) dimasukkan persamaan (1) (4)

Dengan demikian beban masing-masing baut dapat dinyatakan sbb :

Kalau diperhatikan, maka baut yang menerima beban terberat adalah baut terjauh dari cg (Rmax)
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 36

Kalau beban K diuraikan dalam arah horisontal dan vertikal, maka perumusannya adalah :

Sin ai =
Khi = Ki sin ai = Kvi = Ki cos ai = Dimana :

Cos ai =

Kva =
Total beban yang diterima :

Rn

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

37

B. Reduced Eccentricity Method


Cara elastis dapat dikatakan over estimate terhadap besarnya momen yang bekerja pada sambungan sehingga dikembangkanlah suatu cara yang memakai efektif eksentrisitas dengan memperhitungkan pengaruh tahanan slip (gesekan) pada bidang gesek. Baut satu baris, dan n adalah jumlah baut dalam satu baris : eefektif = eaktual (1+2n)/4 (inchi) Baut dua baris atau lebih, simetris, dan n jumlah baut dalam satu baris : eefektif = eaktual (1+n)/2 (inchi) 1 inchi = 2,54 cm
Contoh baut 1 baris, n = 4 eefektif = 6 (1+2x4)/4 = 3,75 in

Contoh baut 2 baris, n = 3 eefektif = 5 (1+3)/2 = 3 in Penyelesaian selanjutnya dengan cara elastis
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 38

C. Ultimate Strength Method


Kedua penyelesaian diatas dengan cara sifat sambungan elastis. Cara yang lebih realistis adalah ultimate strength method

Jika pada baut yang terjauh belum mulai terjadi slip atau leleh, sambungan belum gagal. Bila momen bertambah, baut yang lebih dekat akan menahan beban bertambah besar, dan kegagalan tidak terjadi sebelum semua baut slip atau leleh. Pada beban eksentris ini cenderung terjadi baik rotasi maupun translasi pada bahan sambungan, dan pengaruhnya sama dengan perputaran sambungan terhadap suatu titik yang disebut pusat sesaat perputaran (titik O).
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 39

Pusat sesaat perputaran ini berjarak e dari titik berat sambungan. Deformasi dari baut-baut ini dianggap bervariasi tergantung pada jarak baut dari pusat sesaat putaran. Beban geser ultimate yang dapat diterima oleh baut tidak sama dengan Ru baut, tapi tergantung pada deformasi baut. Crafod dan Kulak mendapatkan hubungan sbb:

= total deformasi dari baut Rult = kekuatan rencana baut (Ru) Baut terjauh deformasinya diambil =0,34 in dan deformasi baut lainnya dapat dihitung sebanding dengan jarak (d) antara baut dengan titik pusat (O) Gaya yang diterima oleh masing-masing baut dinyatakan dengan R dengan arah tegak lurus garis hubung (d) Titik O dicari dengan coba-coba, sehingga didapat keseimbangan : V = 0 Pu - Rv = 0 (total gaya vertikal = 0) M terhadap O = 0 (total momen thd titik O = 0) H = 0 (total gaya horisontal = 0)
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 40

Pendekatan Menentukan Jumlah Baut


Untuk sambungan geser sentris jumlah baut bisa langsung dicari :
n = jumlah baut

Untuk sambungan geser eksentris jumlah baut harus direncanakan dulu baru dikontrol kekuatannya. Sebagai perkiraan awal jumlah baut dapat digunakan rumus pendekatan sbb :
n = jumlah baut Mu = Momen terfaktor = jarak vertikal antar baut Ru = kekuatan rencana baut

Rumus tsb berlaku untuk beban Mu saja dan baut hanya 1 baris Untuk beban Mu dan Pu, nilai Ru direduksi Untuk baut lebih dari 1 baris, nilai Ru dinaikkan

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

41

Kelompok Baut Pemikul Beban Tidak Sebidang (Eksentris)


Pada tipe sambungan ini beban bekerja tidak lagi pada bidang sambungan, maka akan timbul gaya lintang dan momen lentur pada bidang sambungan itu

Untuk sambungan dengan beban A, maka beban menjadi geser sentris, sehingga beban Pu dibagi secara merata pada tiap baut Ku = Pu/n

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

42

Untuk sambungan dengan beban B, momen Mu merupakan momen yang menyebabkan sambungan melentur, dimana bagian atas akan tertarik dan bagian bawah tertekan Bila alat penyambung digunakan baut mutu tinggi tipe friction, maka akibat dari pengencang baut akan memberikan gaya tekan pada bidang sambungan, tapi bila digunakan baut biasa (tipe tumpu) maka gaya tekan ini dapat diabaikan Untuk sambungan baut tipe tumpu dapat diselesaikan dengan cara elastis atau ultimate sedangkan sambungan baut tipe friction diselesaikan dengan memperhitungkan gaya tekan.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

43

Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Elastis Pendekatan


Metode ini mengasumsikan bahwa sambungan yang menerima beban lentur tersebut akan berputar dengan titik putar pada baut terbawah sehingga baut-baut akan menerima beban tarik sedemikian rupa sehingga besarnya sebanding dengan jarak baut terhadap titik putarnya

Mu = Tu1 . d1 + Tu2 . d2 + Tu3 . d3 + Tu4 . d4


atau

(1)

(2)
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 44

Kalau persamaan (2) di substitusikan ke persamaan (1) maka :

Maka beban tarik pada masing-masing baut :

Baut menerima beban geser sebesar :

Beban tarik max :

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

45

Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Elastis Luasan Transformasi


Pada metode ini momen lentur yang terjadi, gaya tarik ditahan oleh baut sedangkan tekan dipikul oleh pelat penyambung

Tarik yang diterima luasan baut dapat ditransformasi ke luasan pelat dengan lebar be dimana : be = (A . n) / A = luasa penampang baut = jarak baut vertikal n = jumlah baut 1 deret
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 46

Mencari letak garis netral b . yb2 = be . ya2 b . yb2 = be . ya2 yb/ya = (be/b) (1) ya + yb = h (2) Dari persamaan (1) dan (2), ya dan yb dapat dihitung Momen inersia dari luasan transformasi : I = 1/3 be . ya3 + 1/3 b . yb3 Tegangan tarik max :

Pada baut yang terjauh dari garis netral (g.n) menerima tegangan :

ymax = jarak terjauh dari garis netral

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

47

Baut terjauh memikul beban tarik : Beban geser :

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

48

Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Ultimate


Akibat momen terjadi tegangan tekan yang dipikul pelat dan tegangan tarik yang dipikul oleh baut

Garis netral didapat dari keseimbangan gaya tekan = gaya tarik : fyp . a . b = T T = gaya tarik pada 1 baut fyp = tegangan leleh pelat Baut selain memikul beban tarik, juga memikul beban geser :
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 49

Kontrol tarik : dimana : Anggap beban tarik baut = Td (diambil dari Td tarik murni dan kombinasi geser tarik, mana yang terkecil) Garis netral :

Momen rencana yang dapat dipikul oleh sambungan :

Kontrol momen terfaktor :

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

50

Kelompok Baut Tipe Friction


Akibat momen lentur Mu = Pu x e Menimbulkan : bagian atas = geser + tarik bagian bawah = geser + tekan Garis netral pada tengah-tengah

Dimana Vn = 1,13 m m Tb
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 51

Sambungan Balok
Karena panjang profil dipasaran terbatas, maka terkadang sebuah balok harus disambung. Misalnya pada potongan I sejarak x dari perletakan A

Pada potongan I akan terjadi gaya lintang sebesar DI dan momen lentur MI
DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 52

Pembagian beban pada sambungan : Gaya lintang DI seluruhnya dipikul pelat badan profil Momen lentur MI disalurkan ke pelat sayap dan pelat badan dengan pembagian sbb : Badan menerima : Sayap menerima :

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

53

Sambungan Sayap
Momen yang dipikul saya dijadikan sepasang gaya kopel sehingga sambungan pada sayap menerima beban geser sentris sebesar gaya kopel tersebut

h = tinggi profil

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

54

Sambungan Badan
Momen pada pelat badan dan gaya lintang akan bekerja sebagai beban geser eksentris dan momen puntir pada sambungan pelat badan

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

55

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

56