Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Rubella kongenital adalah infeksi transplasenta pada janin oleh virus rubela, biasanya terjadi pada kehamilan trimester pertama, yang disebabkan oleh infeksi maternal.1 Di luar kehamilan, rubella tidak berbahaya, namun dalam kehamilan, penyakit ini dapat menyebabkan kelainan bawaan janin.2
Berdasarkan data dari WHO paling tidak 236 ribu kasus CRS terjadi setiap tahun di negara berkembang dan meningkat 10 kali lipat saat terjadi epidemi. Kasus CRS tahun 1999 per jumlah penduduk dilaporkan di Indonesia sebanyak 7 kasus dengan jumlah penduduk 238.452.952.6 Rubela kongenital terjadi pada 25% atau lebih

bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubela pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jaran terjadi kelainan bawaan pada bayi. Bayi yang terkena virus Rubela selama di dalam kandungan berisiko cacat. Jadi rubela itu tidak berbahaya bagi calon ibu, tetapi sangat berbahaya bagi janin yang dikandungnya yang dapat mengakibatkan beberapa gangguan di atas.1 Insidens infeksi rubela pada wanita hamil di Indonesia cukup tinggi sedangkan diagnosis dan penanganannya masih merupakan permasalahan bagi para ahli.6 Untuk mengatahui lebih lanjut tentang infeksi rubela pada kehamilan akan dibahas dalam referat ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella yang termasuk famili Togaviridae dan genus Rubivirus.3 Nama "rubella" berasal dari bahasa latin yang berarti sedikit merah. Rubella juga dikenal sebagai campak Jerman karena penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh dokter Jerman pada pertengahan abad kedelapan belas. Penyakit ini sering ringan dan serangan sering berlalu tanpa diketahui. Penyakit ini bisa berlangsung satu sampai tiga hari. Anak-anak sembuh lebih cepat daripada orang dewasa. Infeksi dari ibu oleh virus Rubella saat hamil bisa serius, jika ibu terinfeksi dalam 20 minggu pertama kehamilan, anak bisa lahir dengan sindrom rubella bawaan (CRS), yang memerlukan berbagai penyakit tak tersembuhkan yang serius. Aborsi spontan terjadi pada hingga 20% kasus.4 Walaupun infeksi virus rubella itu tidak menyebabkan gejala yang jelas (asimtomatik) pada ibu hamil, akan tetapi akibatnya pada bayi yang dikandung sangat berbahaya, antara lain bayi akan lahir dengan menderita cacat bawaan (congenital malforma-tion), misalnya cacat penglihatan, pendengaran, kelainan jantung dan kelainan ekstremitas tubuh.5 Rubela hanya mengancam janin bila didapat saat kehamilan pertengahan pertama, makin awal (trimester pertama) ibu hamil terinfeksi rubela makin serius akibatnya pada bayi.3

B. Epidemiologi Congenital Rubella Syndrome pertama kali dilaporkan pada tahun 1941 oleh Norman Greg seorang ahli optalmologi Australia yang menemukan katarak bawaan di 78 bayi yang ibunya mengalami infeksi rubella di awal kehamilannya. Berdasarkan data dari WHO paling tidak 236 ribu kasus CRS

terjadi setiap tahun di negara berkembang dan meningkat 10 kali lipat saat terjadi epidemi. kasus CRS tahun 1999 per jumlah penduduk dilaporkan di Indonesia sebanyak 7 kasus dengan jumlah penduduk 238.452.952. 6 Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jarang terjadi kelainan bawaan pada bayi. Kelainan bawaan yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir adalah tuli, katarak, mikrosefalus, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan dan kelainan lainnya.7

C. Etiologi 1. Virus Rubella Rubella merupakan virus RNA yang termasuk dalam genus Rubivirus, famili Togaviridae, dengan jenis antigen tunggal yang tidak dapat bereaksi silang dengan sejumlah grup Togavirus lainnya. Virus rubella dapat dihancurkan oleh proteinase, pelarut lemak, formalin, sinar ultraviolet, pH rendah, panas, dan amantadine tetapi nisbi (relatif) rentan terhadap pembekuan, pencairan atau sonikasi. Virus rubella terdiri atas dua sub unit struktur besar, satu berkaitan dengan envelope virus dan yang lainnya berkaitan dengan nucleoprotein core.6 Meskipun Virus rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur) sel, infeksi virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode serologis yang cepat dan praktis. Baik sel darah merah maupun serum penderita yang terinfeksi virus rubella memiliki sebuah non-spesifik blipoprotein inhibitor terhadap hemaglutinasi. Aktivitas komplemen berhubungan secara primer dengan envelope, meskipun beberapa aktivitas juga berhubungan dengan nukleoprotein core. Baik hemaglutinasi maupun antigen complement-fixing dapat ditemukan (deteksi) melalui pemeriksaan serologis. Virus rubella mengalami replikasi di dalam sel inang.6

2. Risiko

Terjadinya

Congenital

Rubella

Syndrome

(CRS)

Pada

Kehamilan a) Infeksi pada trimester pertama Kisaran kelainan berhubungan dengan umur kehamilan. Risiko terjadinya kerusakan apabila infeksi terjadi pada trimester pertama kehamilan mencapai 8090%. Virus rubella terus mengalami replikasi dan diekskresi oleh janin dengan CRS dan hal ini mengakibatkan infeksi pada persentuhan (kontak) yang rentan. Gambaran klinis CRS digolongkan (klasifikasikan) menjadi transient, permulaan yang tertangguhkan (delayed onset, dan permanent). Kelainan pertumbuhan seperti ketulian mungkin tidak akan muncul selama beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi akan muncul pada waktu yang tidak tentu. Kelainan kerusakan kardiovaskuler seluruh seperti (integral) periapan (proliferasi) darah dan dapat

lapisan

pembuluh

menyebabkan kerusakan yang membuntu (obstruktif) arteri berukuran medium dan besar dalam sistem peredaran (sirkulasi) pulmoner dan bersistem (sistemik). Ketulian yang terjadi pada bayi dengan CRS tidak diperkirakan sebelumnya. Metode untuk mengetahui adanya kehilangan pendengaran janin seperti pemancaran (emisi) otoakustik dan auditory brain stem responses saat ini dikerjakan untuk menyaring bayi yang berisiko dan akan mencegah kelainan pendengaran lebih awal, juga saat neonatus. Peralatan ini mahal dan tidak dapat digunakan di luar laboratorium. Kekurangan inilah yang sering terjadi di negara berkembang tempat CRS paling sering terjadi. Kelainan mata dapat berupa apakia glaukoma setelah dilakukan aspirasi katarak dan neovaskularisasi retina merupakan manifestasi klinis lambat CRS. Manifestasi permulaan yang tertangguhkan (delayed-onset) CRS yang paling sering adalah terjadinya diabetes mellitus tipe 1. Penelitian lanjutan di Australia terhadap anak yang lahir

pada tahun 1934 sampai 1941, menunjukkan bahwa sekitar 20% diantaranya menjadi penderita diabetes pada dekade ketiga kehidupan mereka.6 b) Infeksi setelah trimester pertama Virus rubella dapat diisolasi dari ibu yang mendapatkan infeksi setelah trimester pertama kehamilan. Penelitian serologis menunjukkan sepertiga dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi virus rubella pada umur 1620 minggu memiliki IgM spesifik rubella saat lahir. Penelitian di negara lain menunjukkan bahwa infeksi maternal diperoleh usia 13 20 minggu kehamilan dan dari bayi yang menderita kelainan akibat infeksi virus rubella terdapat 1618%, tetapi setelah periode ini insidennya kurang dari 12%. Ketulian dan retinopati sering merupakan gejala tunggal infeksi bawaan (congenital) meski retinopati secara umum tidak menimbukan kebutaan.6 c) Infeksi yang terjadi sebelum penghamilan (konsepsi) Dalam laporan kasus perorangan (individual), infeksi virus rubella yang terjadi sebelum penghamilan (konsepsi), telah merangsang terjadinya infeksi bawaan. Penelitian prospektif lain yang dilakukan di Inggris dan Jerman, yang melibatkan 38 bayi yang lahir dari ibu yang menderita ruam sebelum masa penghamilan (konsepsi), virus rubella tidak ditransmisikan kepada janin. Semua bayi tersebut tidak terbukti secara serologis terserang infeksi virus ini, berbeda dengan 10 bayi yang ibunya menderita ruam antara 3 dan 6 minggu setelah menstruasi terakhir.6 d) Reinfeksi Reinfeksi oleh rubella lebih sering terjadi setelah diberikan vaksinasi daripada yang didapat infeksi secara alami. Reinfeksi secara umum asimtomatik dan diketahui melalui pemeriksaan serologis terhadap ibu yang pernah kontak dengan rubella. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko terjadinya reinfeksi selama trimester pertama hanya 510%.

Antibodi terhadap virus rubella muncul setelah ruam mulai menghilang, dengan ditemukannya kadar IgG dam IgM. Antibodi IgG terdapat dalam tubuh selama hidup, sedangkan IgM antibodi biasanya menurun setelah 4 hingga lima 5 minggu. Infeksi fetal biasanya disertai pengalihan (transfer) plasental dari IgG ibu. Sebagai tambahan, kadar IgM fetal dihasilkan oleh midgesation. Kadar IgM secara umum meningkat saat kelahiran bayi yang terinfeksi. Upaya penapisan (skrining) terhadap infeksi bawaan dapat dilakukan dengan menghitung kadar IgMMeski reinfeksi dapat terjadi, tetapi biasanya asimtomatik dan dapat ditemukan peningkatan IgG. Viremia ditemukan di sukarelawan dengan kadar titer rubella rendah setelah mendapatkan vaksinasi rubella. Hal ini menandakan bahwa viremia juga dapat terjadi pada saat reinfeksi. Meskipun beberapa penelitian menyebutkan bahwa vaksin virus rubella dapat melalui perintang (barier) plasenta dan dapat menginfeksi janin selama kehamilan muda, tetapi risiko terjadinya kelainan bawaan akibat vaksinasi rendah sampai tidak ada sama sekali.6 D. Patogenesis Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami replikasi di nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening. Viremia terjadi antara hari ke-5 sampai hari ke-7 setelah terpajan virus rubella. Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat menular ke setiap orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita. Masa inkubasi virus rubella berkisar antara 1421 hari. Masa penularan 1 minggu sebelum dan empat (4) hari setelah permulaan (onset) ruam (rash). Pada episode ini, Virus rubella sangat menular.6 Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia berlangsung. Infeksi rubella menyebabkan kerusakan janin karena proses pembelahan terhambat. Dalam rembihan (secret) tekak (faring) dan air kemih (urin) bayi dengan CRS, terdapat virus rubella dalam jumlah banyak yang dapat menginfeksi bila bersentuhan langsung. Virus dalam tubuh bayi

dengan CRS dapat bertahan hingga beberapa bulan atau kurang dari 1 tahun setelah kelahiran.6 Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. Infeksi plasenta terjadi selama viremia ibu, menyebabkan daerah (area) nekrosis yang tersebar secara fokal di epitel vili korealis dan sel endotel kapiler. Sel ini mengalami deskuamasi ke dalam lumen pembuluh darah, menunjukkan (indikasikan) bahwa virus rubella dialihkan (transfer) ke dalam peredaran (sirkulasi) janin sebagai emboli sel endotel yang terinfeksi. Hal ini selanjutnya mengakibatkan infeksi dan kerusakan organ janin. Selama kehamilan muda mekanisme pertahanan janin belum matang dan gambaran khas embriopati pada awal kehamilan adalah terjadinya nekrosis seluler tanpa disertai tanda peradangan.6 Sel yang terinfeksi virus rubella memiliki umur yang pendek. Organ janin dan bayi yang terinfeksi memiliki jumlah sel yang lebih rendah daripada bayi yang sehat. Virus rubella juga dapat memacu terjadinya kerusakan dengan cara apoptosis. Jika infeksi maternal terjadi setelah trimester pertama kehamilan, kekerapan (frekuensi) dan beratnya derajat kerusakan janin menurun secara tiba-tiba (drastis). Perbedaan ini terjadi karena janin terlindung oleh perkembangan melaju (progresif) tanggap (respon) imun janin, baik yang bersifat humoral maupun seluler, dan adanya antibodi maternal yang dialihkan (transfer) secara pasif.6

E. Manifestasi Klinis Risiko infeksi janin beragam berdasarkan waktu terjadinya infeksi maternal. Apabila infeksi terjadi pada 012 minggu usia kehamilan, maka terjadi 8090% risiko infeksi janin. Infeksi maternal yang terjadi sebelum terjadi kehamilan tidak mempengaruhi janin. Infeksi pada bulan pertama kehamilan dapat menyebabkan fetal malformation 50% 80%, 25% pada bulan kedua dan 17% pada bulan ketiga.8 Infeksi maternal pada usia kehamilan1530 minggu risiko infeksi janin menurun yaitu 30% atau 10 20%.6

Bayi di diagnosis mengalami CRS apabila mengalami 2 gejala pada kriteria A, atau 1 kriteria A dan 1 kriteria B, sebagai berikut: A) Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering adalah patient ductus arteriosus atau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan pendengaran, pigmentasi retina. B) Purpura, splenomegali, jaundice, mikroemsefali, retardasi mental, meningoensefalitis dan radiolucent bone disease (tulang tampak gelap pada hasil foto rontgen).6 Beberapa kasus hanya mempunyai satu gejala dan kehilangan pendengaran merupakan cacat paling umum yang ditemukan di bayi dengan CRS. Definisi kehilangan pendengaran menurut WHO adalah batas pendengaran 26 dB yang tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen.6 Periode prodromal dapat tanpa gejala (asimtomatis), dapat juga badan terasa lemah, demam ringan, nyeri kepala, dan iritasi konjungtiva.3 Gejala mulai timbul dalam waktu 14-21 hari setelah terinfeksi. Pada dewasa, gejala awal tersebut sifatnya ringan atau sama sekali tidak timbul. Ruam (kemerahan kulit) muncul dan berlangsung selama 3 hari. Pada mulanya ruam timbul di wajah dan leher, lalu menyebar ke batang badan, lengan dan tungkai. Pada langit-langit mulut timbul bintik-bintik kemerahan. Pembengkakan kelenjar akan berlangsung selama satu minggu atau lebih dan sakit persendian akan berlangsung selama lebih dari dua minggu.7

F. Diagnosis Meskipun infeksi bawaan dapat dipastikan (konfirmasi) dengan

mengasingkan (isolasi) virus dari swab tenggorokan, air kemih dan cairan tubuh lainnya, tetapi pengasingan tersebut mungkin memerlukan pemeriksaan berulang. Sehingga pemeriksaan serologis merupakan pemeriksaan yang sangat dianjurkan. Pemeriksaan antibodi IgM spesifik ditunjukkan untuk setiap neonatus dengan berat badan lahir rendah yang juga memiliki gejala klinis rubella bawaan. Adanya IgM di bayi tersebut menandakan bahwa ia telah perbatasan (barier) plasenta dan baru diketahui beberapa bulan setelah

kelahiran. Pemeriksaan serologis rubella berguna dalam studi epideimologi untuk menentukan keterlibatan virus rubella sebagai penyebab kehilangan pendengaran sensorineural pada anak-anak.6 Berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris, kasus CRS dapat digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu: 1) kasus kecurigaan (Suspected case) kasus kecurigaan (Suspected case) adalah kasus dengan beberapa gejala klinis tetapi tidak memenuhi kriteria klinis untuk diagnosis CRS. 2) kasus berpeluang (Probable case). Pada kasus ini, hasil pemeriksaan laboratorik tidak sesuai dengan kriteria laboratoris untuk diagnosis CRS, tetapi mempunyai 2 penyulit (komplikasi) yang tersebut pada kriteria A atau satu penyulit pada kriteria A dan satu penyulit pada kriteria B dan tidak ada bukti etiologi. Pada kasus berpeluang (probable case), baik satu atau kedua kelainan yang berhubungan dengan mata (katarak dan glaukoma kongenital), dihitung sebagai penyulit tunggal. Jika dikemudian atau tanda hari yang

ditemukan/terkenali

(identifikasi)

keluhan

berhubungan seperti kehilangan pendengaran, kasus ini akan digolongkan ulang. 3) kasus hanya infeksi (Infection only-case) kasus hanya infeksi (Infection only-case) adalah kasus yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorik terbukti ada infeksi tetapi tidak disertai tanda dan gejala klinis CRS. 4) kasus terpastikan (Confirmed case) Dalam kasus ini dijumpai gejala klinis dan didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorik yang positif.6 Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala. Dan diagnosis pasti pada ibu hamil bisa ditegakkan melalui pengukuran kadar antibodi terhadap virus rubella.7

G. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorik dikerjakan untuk menetapkan diagnosis infeksi virus rubella dan untuk penapisan keadaan (status) imunologis. Karena tata langkah pengasingan (prosedur isolasi) virus sangat lama dan mahal serta tanggap (respon) antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari hapusan (swab) tenggorok, darah, air kemih dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.6

No 1.

Jenis Pemeriksaan Pengasingan (isolasi) Virus

Jenis Spesimen Fetus / Bayi Sekret hidung, darah, hapusan tenggorok, air kemih, cairan serebrospinal Darah fetus melalui kordosintesis, serum, ludah Cairan amnion fetus melalui amniosintesis, vili korealis, darah, ludah Ibu Sekret hidung, darah, hapusan tenggorok, air kemih, cairan serebrospinal. Darah Darah

2. 3.

Serologik RNA

Jenis pemeriksaan dan spesimen untuk menentukan infeksi virus rubella 6

Primary rubella infection pada penderita dari rubella dijumpai Antibodi IgM sesuai dengan gejala klinis yang ada. Pada acute Primary Rubella Infection, IgM: dapat dideteksi hampir pada 100% kasus yaitu pada hari 4-15 setelah munculnya rash. Menurun setelah 36-70 hari, menghilang setelah 180 hari Asymptomatic reinfection pada wanita hamil berbahaya untuk fetus, dengan karakteristik IgG meninggi dan tidak dijumpai IgM, bisa ok IgM belum terdeteksi. Pemeriksaan IgM ini tidak hanya untuk wanita hamil tapi perlu juga untuk wanita yang belum hamil. IgG: meningkat cepat pada hari ke 7 s/d 21 kemudian menurun, dan tetap tinggal sebagai protection.8

10

Pedoman diagnosis CRS 6

Laboratory Diagnosis dapat digunakan untuk diagnosis Congenital Rubella dan menentukan status imun pada wanita umur reproduktif. Sedangkan metode pemeriksaan yang digunakan: Hemaglutination inhibition, Passive

Hemaglutination (PHA), Indirect fluorescent immunoassay (IFA), Enzyme immunoassay (EIA-IgM, IgG), serta Radioimmunoassay.8 IgM + + 15 IU/ml + IgG Penafsiran Tak ada perlindungan; perlu dipantau lebih lanjut Infeksi akut dini (<1 minggu) Baru mengalami infeksi (112 minggu) Imun, tidak perlu pemantauan lebih lanjut

Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella 6

11

H. Penatalaksanaan dan Pencegahan 1. Penatalaksanaan Tidak ada pengobatan khusus untuk campak Jerman.7 Pengobatan untuk ibu hamil jika terserang virus ini maka kemungkinannya dokter akan memberikan suntikan imunoglobulin (Ig). Ig yang diberikan sesudah pajanan pada masa awal masa kehamilan mungkin tidak melindungi terhadap terjadinya infeksi atau viremia, tetapi mungkin bisa mengurangi gejala klinis yang timbul. Ig kadang-kadang diberikan dalam dosis yang besar (20 ml) kepada wanita hamil yang rentan terpajan penyakit ini yang tidak menginginkan aborsi dikarenakan alasan tertentu, tetapi manfaatnya belum terbukti. Ig tidak dapat menghlangkan virus rubela tetapi dapat membantu meringankan gejala-gejala yang diberikan oleh virus ini dan dapat mengurangi risko-risiko pada janin. Dengan kata lain, Ig dapat mengurangi gejala rubela tetapi tidak dapat menghilangkan risiko infeksi yang diberikan virus rubela terhadap janin yang dikandung. Selanjutnya pengobatan lain bersifat simptomatik, misalnya pemberian acetaminophen atau ibuprofen untuk mengurangi demam.9 2. Pencegahan Pencegahan Rubella dapat dicegah dengan vaksin rubella. Imunisasi rubella secara luas dan merata sangat penting untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini, yang pada akhirnya dapat mencegah cacat bawaan/lahir akibat sindrom rubella bawaan. Vaksin ini biasanya diberikan kepada anak-anak berusia 12 - 15 bulan dan menjadi bagian dari imunisasi MMR yang telah terjadwal. Dosis kedua MMR biasanya diberikan pada usia 4 - 6 tahun, dan tidak boleh lebih dari 11 - 12 tahun. Sebagaimana dengan imunisasi lainnya, selalu ada pengecualian tertentu dan kasus-kasus khusus. Dokter anak akan memiliki informasi yang tepat. Vaksin rubella tidak boleh diberikan kepada wanita hamil atau wanita yang akan hamil dalam jangka waktu satu bulan sesudah pemberian vaksin. Jika anda berpikir untuk hamil, pastikan bahwa anda kebal terhadap rubella melalui

12

tes darah. Jika tidak, sebaiknya anda mendapatkan vaksinasi setidaknya satu bulan sebelum memulai kehamilan.7 Wanita hamil yang tidak kebal terhadap rubella harus menghindari orang yang mengidap penyakit ini harus diberikan vaksinasi setelah melahirkan sehingga dia akan kebal terhadap penyakit ini di kehamilan berikutnya.7 Dan semua kasus rubela harus dilaporkan ke institusi yang berwenang.3

13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari

keterangan-keterangan

yang

sudah

disebutkan

sebelumnya

didapatkan kesimpulan: 1. Rubella, umumnya dikenal sebagai campak Jerman, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rubella. 2. Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. 3. Infeksi rubella disebabkan oleh virus RNA yang termasuk dalam genus Rubivirus, famili Togaviridae. 4. Risiko Terjadinya Congenital Rubella Syndrome (CRS) Pada

Kehamilan dibagi berdasarkan waktunya menjadi infeksi pada trimester pertama, setelah trimester pertama, sebelum konsepsi, dan reinfeksi. 5. Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami replikasi di nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening. Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia berlangsung. Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. 6. Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan sel akibat virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. 7. Berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan hasil pemeriksaan laboratoris, kasus CRS dapat digolongkan menjadi 4 kelompok: kasus kecurigaan (Suspected case), kasus berpeluang (Probable case), kasus hanya infeksi (Infection only-case) dan kasus terpastikan (Confirmed case). 8. Pemeriksaan laboratorik dikerjakan untuk menetapkan diagnosis infeksi virus rubella dan untuk penapisan keadaan (status) imunologis. 9. Tidak ada pengobatan khusus untuk campak Jerman, dan untuk pencegahannnya dapat dicegah dengan vaksin rubella.

14

B. Saran

Untuk mendapatkan bayi yang lahir dengan sehat dan normal, maka ibu perlu menjaga kesehatannya selama hamil dengan cara melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sebelum dan setelah persalinan demi memantau kondisi ibu dan anak.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Datu, Abdul Razak. Cacat Lahir disebabkan oleh Faktor Lingkungan. Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin.

http://med.unhas.ac.id. 2008. Diakses 9 Agustus 2010. 2. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp 29-30. 3. Muchlastriningsih, Enny. 2006. Pengaruh Infeksi TORCH terhadap Kehamilan Enny Muchlastriningsih. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006. Pp 8-10. 4. Anonim. 2012. Apa itu rubella? http://www.news-medical.net diakses 9 Agustus 2012. 5. Yuwono, Djoko. Pemeriksaan Serologi pada Kasus-kasus Tersangka Kongenital Rubela di Jakarta Tahun 1986. Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI. Jakarta. http://www.kalbe.co.id diakses 9 Agustus 2012. 6. Kadek; Darmadi, S. 2007. Gejala Rubela Bawaan (Kongenital)

Berdasarkan Pemeriksaan Serologis Dan Rna Virus (Congenital Rubella Syndrome Based On Serologic And Rna Virus Examination). Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 13, No. 2, Maret 2007: 63-71. 7. Nuraade, arnu. 2010. Rubella (Campak Jerman)

http://arnu.student.umm.ac.id/ diakses 9 Agustus 2012. 8. Anonim. TORCH. http://usu.ac.id/ diakses 9 Agustus 2012. 9. Dedy. 2008. Rubela. http://www.sidenreng.com. diakses 9 Agustus 2012.

16