Anda di halaman 1dari 17

Syarifa Waheeda A.

C11106115

PROGRESIVITAS HIPERTENSI MEMICU MIXED INKONTINENSIA URINE PADA PASIEN GERIATRI


SKENARIO 2
Perempuan 68 tahun, dibawa ke puskesmas oleh keluarganya. Menurut yang membawanya, ia tiba- tiba jatuh terpeleset di dekat tampat tidurnya tadi pagi karena menginjak air seninya sendiri. Beberapa hari ini penderita sebentar- sebentar ke toilet untuk buang air kecil. Sejak seminggu yang lalu penderita terdengar batuk- batuk dan agak sesak napas, serta nafsu makannya sangat berkurang, tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap kencing manis dan tekanan darah tinggi, untuk penyakitnya itu ia mendapat obat dari dokter. Setahun yang lalu ia mendapat serangan stroke.

KATA-KATA KUNCI
1. Perempuan, 68 tahun 2. Menurut yang membawanya, ia tiba-tiba jatuh terpeleset di dekat tempat tidurnya tadi pagi karena menginjak air seninya sendiri. 3. Beberapa hari ini, penderita sebentar-sebentar ke toilet untuk buang air kecil. 4. Sejak seminggu, penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas, serta nafsu makannya sangat berkurang, tetapi tidak demam. 5. Penderita selama ini mengidap kencing manis dan tekanan darah tinggi. 6. Riwayat konsumsi obat anti-DM dan anti-hipertensi. 7. Setahun yang lalu pasien mendapat serangan stroke.

PERTANYAAN
1. Apa definisi Inkontinensia Urine(IU)? 2. Bagaimana klasifikasi dari tipe-tipe IU? 3. Bagaimana jenis kelamin dan faktor usia lanjut dapat mempengaruhi mixed IU? 4. Adakah hubungan Hipertensi dengan mixed IU yang diderita pasien tersebut? Jika ada, apa dan bagaimana hubungannya? 1

Syarifa Waheeda A. C11106115 5. Adakah korelasi bermakna antara minum obat anti-hipertensi dengan IU yang diderita pasien tersebut? Jika ada, bagaimana korelasinya? 6. Bagaimana epidemiologi dan prevalensi IU pada usia lanjut (usila)? 7. Apa etiologi IU pada usila? 8. Bagaimana gambaran klinis mixed IU pada pasien geriatri? 9. Bagaimana mendiagnosis mixed IU pada usila? 10. Bagaimana penatalaksanaan mixed IU pada pasien geriatri? 11. Apa komplikasi mixed IU yang dapat memperberat keadaan umum pasien? 12. Bagaimana prognosis mixed IU pada pasien usila?

ANALISA MASALAH
1. Perempuan 68 tahun, dan menderita lebih dari satu macam penyakit, maka sudah dapat dipastikan bahwa ia adalah pasien geriatri dan telah menopause. 2. Menurut yang membawanya, ia tiba-tiba jatuh terpeleset di dekat tempat tidurnya tadi pagi karena menginjak air seninya sendiri. Menurut yang membawanya, memiliki dua makna. Pertama, mungkin saja pasien dalam keadaan tak sadar , hingga ia tak mampu lagi berbicara. Kedua, bisa saja pasien masih sadar, tapi karena kaget akibat jatuhnya yang sangat tiba-tiba, hingga ia shock dan tidak bisa berbicara. Apalagi didukung fakta bahwa usia lanjut kadang-kadang menyebabkan seseorang menjadi lebih cengeng dan manja. Jatuh terpeleset karena air kencingnya sendiri, di dekat tempat tidurnya, menunjukkan pasien masih sadar bahwa ia akan berkemih, atau secara tak sadar sedang berkemih di tempat tidurnya, kemudian dengan cepat bergegas menuju toilet, akan tetapi, ia tidak mampu menahan hasratnya untuk berkemih, sehingga urinenya keluar terus tanpa disadari. Mungkin juga pasien selama ini telah mengurangi aktivitasnya, sehingga ia lebih banyak di tempat tidur (immobilisasi), karena di pagi hari semestinya ia bisa melakukan aktivitas yang lain tanpa berdiam diri di tempat tidur. 3. Beberapa hari ini, penderita sebentar-sebentar ke toilet untuk buang air kecil, artinya, pasien mengalami frekuensi atau polakisuri, yaitu frekuensi buang

Syarifa Waheeda A. C11106115 air kecil (BAK) yang lebih dari normal, atau dengan kata lain, pasien sering berkemih. 4. Sejak seminggu, penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas, serta nafsu makannya sangat berkurang, tetapi tidak demam. Gambaran di atas tadi menunjukkan pasien lebih sering berbaring di tempat tidur (immobilisasi), dan karena pengaruh usianya, telah terjadi perubahan-perubahan fisiologis yang dapat meningkatkan resiko menderita Pneumoni ortostatik. Bagan di bawah ini dapat menjelaskannya :
Pasien sering beraring (telentang)
Sel-sel kelenjar pernapasan lisis & keluarkan >>mukus (lendir)

Jumlah & aktivitas cilia alat pernapasan

Refleks batuk

Penumpukan lendir di daerah thoraks

Infeksi & radang Paru-paru

Pneumoni Ortostatik

Batuk-batuk & sesak napas

Penumpukan lendir

sistem imun tubuh

Memudahkan terjadinya infeksi bakteri/virus pd saluran napas

Seharusnya terjadi demam

Tapi pasien tidak demam 3

Syarifa Waheeda A. C11106115 Berikut penjelasannya : Demam, adalah pengaturan suhu (termoregulasi) tubuh yang meningkat lebih dari normal. Di bawah ini terdapat skema tentang patomekanisme demam :

Infeksi bakteri/virus

Menghasilkan Pyrogen Eksogen

Merusak sel-sel tubuh

Asam arachidonat dihasilkan

Rangsang sel fagosit (makrofag) mengeluarkan Pyrogen Endogen (Prostaglandin, bradikinin, IL)

PG langsung mempengaruhi pusat termostat di Hypothalamus

Point set suhu pusat (mis.39C, maka suhu ini yg dianggap normal oleh otak)

Suhu perifer yg semestinya Normal (36,7-37,2C) dianggap rendah (dingin)

Pusat memerintahkan perifer utk meningkatkan produksi panas & menahan panas agar tdk keluar dari tubuh, mll vasokonstriksi kulit & p.drh perifer

Panas tertahan di perifer DEMAM

Pada perabaan, tubuh terasa panas

Sedangkan pada orang yg demam, ia sendiri merasa dingin (subjektif) atau menggigil 4
Diasumsikan sebagai tidak demam

Syarifa Waheeda A. C11106115 Sedangkan :

Pada usila, kulit dan pembuluh darah perifer tidak elastis lagi

Sehingga tidak terjadi vasokonstriksi perifer

Panas tdk tertahan dan tetap keluar dari tubuh

Pada perabaaan, Tubuh tdk terasa panas, tp pasien usila dpt merasa dingin subjektif

Diasumsikan sebagai tidak demam

Sedangkan Nafsu makan yang sangat berkurang mungkin diakibatkan oleh :


jumlah & sensitivitas papil (taste buds) di lidah

sensoris bau

Tidak punya gigi lagi

Makanan tdk menarik

NAFSU MAKAN

Depresi krnMalu & takut membebani org lain

Depresi krn penyakit yg diderita

Selain faktor-faktor di atas, beberapa perubahan fisiologis pada usia lanjut turut menyebabkan terjadinya batuk-batuk dan sesak napas. Hal ini dapat dilihat dalam bagan di bawah ini : 5

Syarifa Waheeda A. C11106115

Degenerasi epitel & kelenjar bronchi

Aktivitas & jumlah cilia

Elastisitas alveoli

Daya recoil elastin

sensitivitas & mekanisme self cleansing sal.napas

Difusi O2

Paru tdk elastis

Refleks batuk

ventilasi, perfusi

Efisiensi Respirasi

Penumpukan lendir di sal.napas

Udara banyak tinggal di paru-paru, sementara sel-sel tubuh kekurangan O2

Resiko PPOK, Pneumoni & bronchitis

BATUK sbg refleks untuk mengeluarkan lendir yg menumpuk

SESAK NAPAS (hiperventilasi) sbg refleks untuk menghirup >>O2 & mengeluarkan >>CO2

Kapasitas thorax & paru

Kifosis (perubahan bentuk dada)

Kelemahan otot-otot respirasi & ddg dada

Osteoporosis (vertebra, costa, thorax)

elatisitas & kalsifikasi tlg rawan sal.napas

Syarifa Waheeda A. C11106115 5. Penyakit kencing manis (DM) yang diderita oleh pasien ini sangat berhubungan erat dengan hipertensinya. Begitupun dengan serangan stroke yang pernah didapatnya. Berikut bagan yang menjelaskannnya : Resistensi insulin

Sel-sel tubuh tidak dapat menggunakkan glukosa

glukoneogenesis

Kadar glukosa darah

Lipolisis

Hiperglikemi

FFA dlm darah

Diabetes Mellitus

Di hepar, diubah menjadi VLDL

IDL

LDL

Dimakan makrofag, membentuk LDL teroksidasi

foam cell

Aterosklerosis

Obstruksi aliran darah otak

Hipertensi

Stroke

Syarifa Waheeda A. C11106115 6. Pasien datang ke Puskesmas dengan keluhan jatuh terpeleset karena menginjak air seninya sendiri. Namun, untuk pasien geriatri, dibutuhkan skala prioritas dalam penatalaksanaannya. Sebelum kita menangani penyebab jatuhnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kesadaran, keadaan umum, dan fungsi vital pasien, yang terdiri dari tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. Jika kesadaran dan fungsi vitalnya tidak stabil, maka harus segera diperbaiki. Bila ia tidak sadar, kemungkinan besar disebabkan oleh trauma kapitis akibat mambentur sesuatu saat jatuh, dan malah akan memperparah IUnya. Jika kesadaran dan fungsi vitalnya masih stabil, barulah kita melihat akibat dari jatuh itu sendiri. Apakah ada fraktur atau dislokasi pada tulang. Kita bisa melakukan anamnesa pada pasien atau orang yang mengantarnya. Apakah terdapat nyeri, kelumpuhan motorik, atau mati rasa (kelumpuhan sensoris). Jika terdapat kelainan-kelainan tersebut, segera tangani. Bila tidak ada, atau kelainan-kelainan itu sudah ditangani, barulah kita segera mengelola penyebab jatuhnya. 7. Keluhan utama yang menyebabkan jatuhnya pasien adalah Inkontinensia Urine (IU). Agar pasien tidak jatuh lagi di kemudian hari, maka penanganan terhadap IUnya harus segera dilakukan. Ada banyak penyakit yang dapat menyebabkan pasien menderita IU, salah satunya, adalah Hipertensi.

JAWABAN PERTANYAAN Definisi


Inkontinensia Urine atau IU adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan urine yang keluar dari buli-buli, baik disadari ataupun tidak disadari.

Klasifikasi IU
Sebelum menangani pasien geriatri dengan IU, diperlukan ketepatan dalam menentukan tipe yang diderita oleh pasien tersebut. Untuk itu, ada baiknya sedikit dibahas tentang tipe-tipe IU yang ada pada usia lanjut, antara lain : 8

Syarifa Waheeda A. C11106115 A. Inkontinensia Urine Akut (sementara/transient) Umumnya bersifat reversibel. IU jenis ini akan menghilang jika faktor penyebab bisa diatasi dengan baik. Penyebabnya, yaitu : Infeksi Saluran Kemih (ISK) bagian bawah, baik urethritis maupun cystitis Obat-obatan Penyakit Endokrin, misalnya DM Skibala ( adanya sisa-sisa feces yang tertinggal di usus, sehingga untuk mengeluarkannnya diperlukan usaha mengedan yang kuat) Gangguan emosional dan psikis B. Inkontinensia Urine Kronik (persisten/menetap) Tidak berkaitan dengan penyakit-penyakit akut ataupun obat-obatan. Klasifikasi IU kronik adalah sebagai berikut : 1. Stres Inkontinensia Urine (Sphincter Inkontinensia/Inkontinensia Pasif) Timbul karena kelemahan otot-otot dasar panggul, sehingga jika terjadi peningkatan tekanan intraabdominal (saat batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang-barang berat), maka urine akan keluar tanpa disadari. 2. Urge Inkontinensia Urine (Detrusor Inkontinensia/Inkontinensia Aktif) Terjadi karena hiperaktivitas otot-otot detrusor pada vesica urinaria (VU) yang sangat tiba-tiba dan kuat, sehingga hasrat atau keinginan berkemih tidak dapat ditahan lagi dan akhirnya urine keluar tanpa disadari. 3. Mixed Inkontinensia (Inkontinensia tipe Campuran) Inkontinensia tipe ini memiliki gejala-gejala baik Stres maupun Urge inkontinensia. 4. Overflow Inkontinensia Urine Terjadi karena kelemahan otot buli-buli. Jika buli-buli sudah penuh melebihi kapasitasnya, maka urine akan mengalir sendiri. Dapat terjadi : Inkontinensia Paradoks. Tipe ini sebenarnya bukanlah inkontinensia sejati. Karena adanya obstruksi kronik pada uretra, maka terjadi retensi urine. Buli-buli berkontraksi dengan kuat untuk mengeluarkan urine yang ada, namun urine sisa terus saja menumpuk. Buli-buli yang tadinya mampu berkontraksi akan lelah dan tidak mampu berkontraksi lagi. Akibatnya, jika buli-buli sudah penuh, keluarlah urine diluar kehendak. 9

Syarifa Waheeda A. C11106115 Inkontinensia akibat Hipotoni bladder. Pada dasarnya buli-buli memang lemah, sehingga tidak mampu berkontraksi. Hal ini dapat dikaitkan dengan DM, multiple sclerosis, obat narcose, delirium, koma, atau over relaksasi buli-buli. 5. Inkontinensia Fungsional Inkontinensia yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar neurologik dan urologik, seperti kelainan fisik, faktor lingkungan, atau fungsi kognitif.

Korelasi Mixed IU dengan faktor Usia dan Jenis Kelamin


Hubungan antara usia lanjut dan wanita terhadap IU dapat dilihat melalui skema berikut ini : Atrophic Vaginitis Perempuan
Regenerasi sel-sel epitel vagina & uretra Estrogen

Uretritis

Urge Inkontinensia

Cystitis Mixed IU
tek. Intra abdominal

Kelemahan otot dasar panggul Usia Lanjut Kapasitas VU Instabilitas VU


Residual Volume

Stres Inkontinensia

Abnormalitas Arginine Vasopressin (AVP)

Kontraksi involunter VU

Enuresis Nocturna (Night time IU)

Mengingat pasien adalah seorang wanita yang usianya sudah lanjut, dan mungkin saja ia multipara, maka dalam hal ini mixed IU yang ada, akan lebih dominan menunjukkan gejala stres IU daripada urge IUnya. Apalagi pada kasus disebutkan bahwa pasien ini juga sering batuk-batuk. 10

Syarifa Waheeda A. C11106115

Hubungan Hipertensi dengan Mixed IU


elastisitas pembuluh darah resistensi pembuluh drh

Hipertensi

Aterosklerosis

Tek.darah sistemik Beban jantung

Kerusakan pembuluh drh (khususnya otak)

Stroke
pompa ventrikel
Kerusakan Cortex Cerebri (micturition Centre)

Hipertrofi ventrikel Kehilangan inhibisi tonus otot detrusor

Jantung tidak mampu kompensasi

Payah Jantung

Hiperaktivitas Bladder Urge Inkontinensia

Decompensasio cordis (ggl jantung) Gagal jantung Kiri

Gagal jantung kanan

Edema Paru

Edema Perifer

Sesak napas

Batuk

Pneumonia

Anorexia

Nokturia

tek. Intra abdominal

Menyebar Ke sal. kemih

ISK

Stres Inkontinensia

MIXED INKONTINENSIA

11

Syarifa Waheeda A. C11106115

Hubungan Minum obat anti-hipertensi dengan IU


Ada beberapa jenis obat anti-hipertensi yang dapat menyebabkan Mixed IU pada pasien ini, antara lain : 1. Diuretik, yang menyebabkan poliuri, frekuensi (polakisuri), dan urgensi 2. -adrenergic blocker, menyebabkan relaksasi uretra, sehingga memudahkan stres IU 3. ACE-inhibitor, menyebabkan Batuk, yang dapat memicu stres IU 4. -adrenergic blocker, menyebabkan relaksasi (hipotoni) buli-buli, menyebabkan Overflow IU 5. Ca channel-blocker, menyebabkan retensi urine, yang pada akhirnya jatuh pada Overflow IU Pada usila, obat hipertensi yang menjadi pilihan utama adalah diuretik dan Ca channel-blocker karena penggunaannya yang cukup aman. Sedangkan -adrenergic blocker menjadi pilihan terakhir, mengingat akibat yang dapat disebabkannya, antara lain menurunkan Cardiac Output, menghambat produksi renin di ginjal, dan bahkan menurunkan kontraktilitas myokard yang pada dasarnya pada usila sudah lemah.

Epidemiologi dan Prevalensi IU pada Usila


IU cenderung tidak dilaporkan, karena penderita merasa malu dan juga menganggap tidak ada yang bisa diperbuat untuk menolongnya. Insiden IU pada Lansia : 1. > 2. 15-30% pada lansia di rumah 3. 50% pada lansia di panti jompo 4. Di Amerika Serikat, dari 5.204 penderita IU, 34,4% diantarnya mengalami Mixed IU (MUI), sisanya IU tipe stres dan urge. 5. Hasil penelitian MESA (Medical Epidemiological and Social Aspect of Aging), dari 1.150 penderita IU : 55,5 % : Inkontinensia Campuran (MUI) 12

Syarifa Waheeda A. C11106115 26,7% : Inkontinensia Stres (SUI) 9% 8,8% : Inkontinensia Urge (UUI) : Inkontinensia tipe lain

Etiologi IU pada Usila


Mengetahui penyebab IU sangat penting untuk pengelolaan yang tepat. Pertamatama, harus diusahakan untuk membedakan apakah penyebab inkontinensia berasal dari : 1. Kelainan Urologik, misalnya : ISK, batu, tumor, atau divertikel 2. Kelainan Neurologik, misalnya : stroke, trauma medulla spinalis, demensia, dan sebagainya. 3. Lain-lain, misalnya : hambatan mobilitas, faktor lingkungan, psikis, dan sebagainya.

Gambaran klinis IU pada Usila


Gambaran klinis IU pada usila sangat bervariasi, tergantung dari tipe-tipe yang diderita oleh pasien. Variasinya begitu banyak, mulai dari yang keluar hanya beberapa tetes urine saja, sampai benar-benar banyak, bahkan ada juga yang disertai inkontinensia alvi (keluarnya feces). Namun apapun tipenya, secara umum, keluhan utama dari IU adalah keluarnya urine di luar kemauan pasien. Dalam laporan ini hanya akan dibahas mengenai Mixed IU. Seperti yang telah diungkapkan di atas, IU tipe mixed atau campuran merupakan kombinasi dari tipe stres dan urge. Gambaran klinisnya, yaitu : 1. Pasien sering berkemih (polakisuri/frekuensi) 2. Pasien mengalami keinginan berkemih yang tidak tertahankan, sehingga pada saat hasrat untuk berkemih itu muncul, urine akan mengalir begitu saja. 3. Pasien mengeluhkan keluarnya urine saat batuk, bersin, tertawa,mengangkat beban berat, mengedan kuat, atau hal-hal lain yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal.

13

Syarifa Waheeda A. C11106115

Diagnosis IU pada pasien Geriatri


IU merupakan salah satu keluhan utama pada pasien geriatri. Seperti halnya dengan keluhan pada suatu penyakit, IU bukan merupakan diagnosis, sehingga perlu dicari penyebab aslinya. Diagnosa yang tepat terhadap penyebab IU, akan sangat IU dengan benar. membantu dalam menentukan tipe IU yang diderita oleh pasien, sehingga dapat menjamin penatalaksanaan

Penatalaksanaan IU pada pasien Geriatri


Dalam penatalaksanaan, dari tingkat anamnesis sampai pemeriksaan penunjang, sama untuk semua tipe-tipe IU, kecuali pengobatannya, akan sangat berbeda. Hal-hal yang sangat menentukan dalam mengelola IU pada pasien geriatri, adalah : 1. Perlu ditentukan Diagnosis Pasti : Inkontinensia sementara atau menetap Tipe inkontinensia Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang : -Laboratorium -Pencitraan (radiologi) Urinay Diary Urodynamic evaluation

2. Harus dilakukan pemeriksaan lengkap, meliputi :

Anamnesis Lengkap IU pada Usila


Dalam menghadapi pasien geriatri dengan keluhan IU patut dipertanyakan halhal berikut : 1. Kapan urine keluar tanpa disadari : batuk atau saat rasa ingin berkemih muncul? 2. Apa sering ngompol waktu tidur? 3. Adakah gejala-gejala LUTS (Lower Urinary Tractus Syndrome)? - Gejala Obstruktif : 14

Syarifa Waheeda A. C11106115 a. Hesitansi (sulit dan lama untuk memulai BAK sehingga perlu mengejan) b. Pancaran miksi lemah (jatuh di dekat kaki) c. Intermittensi (ditengah BAK, miksi terputus, kemudian miksi lagi, begitu terus secara berulang-ulang) d. Miksi tidak puas, sehingga terdapat terminal dribbling (urine menetesnetes diakhir BAK) - Gejala Iritatif : a. Frekuensi (polakisuri) b. Nokturi (polakisuri pada malam hari) c. Urgensi (rasa nyeri ketika manahan BAK) d. Disuri (rasa nyeri ketika sedang berkemih) 4. Apakah ada riwayat penyakit (misalnya : DM, hipertensi, ISK, atau hematuri)? 5. Apakah pernah operasi sebelumnya? 6. Berapa kali pernah hamil atau melahirkan? 7. Obat-obat apa saja yang sering dikonsumsi selama ini? 8. Bagaimana kebiasaan hidupnya (makanan dan minuman : kopi, teh, alkohol)? 9. Bagaimana kehidupan seksual (ada infeksi kelamin atau tidak)? 10. Bagaimana bowel habitnya (apakah sering mengedan atau konstipasi)?

Pemeriksaan Fisik IU pada Usila


Pemeriksaan fisik pada pasien geriatri dengan IU adalah sebagai berikut : 1. Keadaan umum 2. Abdominal (adakah tumor, buli-buli teraba atau tidak) 3. Genitalia Eksterna ( : keadaan vulva dan muara uretra) 4. Rectal Touche (RT) dan Vaginal Touche (VT) : untuk menentukan kekuatan tonus sphincter dan otot-otot dasar panggul 5. Pemeriksaan Neurologis 6. Cough Stress Test : pemeriksaan meatus uretra sementara batuk atau mengedan sewaktu buli-buli penuh 7. Urine sisa

15

Syarifa Waheeda A. C11106115

Pemeriksaan Penunjang IU
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam mendiagnosa penyebab IU, yaitu : 1. Laboratorium Urinalisis : Hematuri, pyuri, kutur bakteri Darah : Gula darah, fungsi ginjal, PSA () USG abdomen BNO-IVP Urethro-cystoscopy

2. Pencitraan

Urinary Diary IU
Tujuannya, yaitu : 1. Mengetahui seberapa hebat inkontinensia dan tipenya. 2. Mencatat tiap berapa lama BAK dan berapa banyak urinenya.

Urodynamic Evaluation IU
Dilakukan untuk : 1. Melihat kekuatan otot-otot detrussor (uroflow). 2. Terutama bila terapi konservatif dan medikamentosa gagal dan direncanakan untuk pembedahan.

Pengobatan Mixed IU
Ada beberapa langkah dalam mengobati pasien mixed IU, antara lain : 1. Konservatif, berupa : 1. Merubah pola hidup (mengatur waktu-waktu BAK) 2. Mengatur makanan dan minuman 3. Memperkuat otot-otot dasar panggul 4. Electric stimulation 5. Vaginal cones (pesarium)

16

Syarifa Waheeda A. C11106115 2. Medikamentosa Pada Mixed IU harus ditanyakan pada pasien, keluhan mana yang lebih dominan, apakah gejala stres IU atau urge IU, setelah jelas, baru dapat diberi pengobatan medikamentosa sebagai berikut : -Pada stres IU yang lebih dominan, dapat diberikan : - 1 adrenoceptor agonist - Estrogen - Serotonin - Pada urge IU yang lebih dominan, diberikan : - parasympatolitic (anti-muscarinic agents) 3. Pembedahan Dilakukan jika pengobatan konservatif dan medikamentosa gagal.

Komplikasi mixed IU pada Usila


Karena mixed IU hanyalah gejala dari penyakit utama yang ada, maka dalam kasus ini, lebih tepat dikatakan akibat yang dapat ditimbulkan, misalnya : 1. Infeksi Saluran Kemih (ISK) 2. Jatuh, dengan segala akibatnya 3. Depresi, dengan segala komplikasinya

Prognosis mixed IU pada Usila


Tergantung dari penanganannya, jika dilakukan dengan cepatdan tepat maka angka morbiditas dan mortalitas dapat ditekan.

17