Anda di halaman 1dari 2

ORGAN LIMFOID SEKUNDER Organ limfoid sekunder merupaka tempat menampung sel-sel limfosit yang telah mengalami differensiasi

dalam jaringan sentral menjadi kompeten dan nantinya berfungsi sebagai komponen imunitas tubuh. Limpa dan Kelenjar Getah Bening merupakan organ limfoid sekunder yang terorganisasi tinggi. Organ limfoid merupakan tempat sel darah mempresentasikan antigen yang ditangkapnya di bagian lain tubuh ke sel T yang memacunya untuk proliferasi dan diferensiasi limfosit. Organ limfoid sekunder terdiri atas limpa, kelenjar getah bening, skin-associated lymphoid tissue, dan mucosal associated lymphoid tissue. 1. Limpa/Lien/Spleen Limpa merupakan tempat respons imun utama yang merupakan saringan terhadap antigen asal darah.Limpa terletak di cavum abdomen pada region hipokondriaka sinistra. Terletak di sepanjang costa IX, X, XI. Mikroba dalam darah dibersihkan makrofag dalam limpa. Limpa merupakan tempat utama fagosit memakan mikroba yang diikat antibody (opsonisasi). Individu tanpa limpa akan menjadi rentan terhadap infeksi bakteri berkapsul seperti pneumokok dan meningokok, oleh karena mikroba tersebut biasanya hanya disingkirkan melalui opsonisasi dan fungsi fagositosis akan terganggu bila limpa tidak ada. 2. Kelenjar Getah Bening Kelenjar getah bening merupakan agregat nodular jaringan limfoid yang terletak sepanjang jalur limfe di seluruh tubuh. Sel dendritic membawa antigen mikroba dari epitel dan mengantarkannya ke kelenjar getah bening yang akhirnya dikonsentrasikan di kelenjar getah bening. Dalam kelenjar getah bening ditemukan peningkatan limfosit berupa nodus tempat proliferasi limfosit sebagai respons terhadap antigen. Tubuh kita memiliki sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya di daerah submandibular, axillary dan inguinal saja yang dapat kita raba pada keadaan tidak normal. Kelenjar getah bening terbungkus oleh kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-sel pembentuk pertahanan tubuh dan merupakan tempat penyaringan antigen dari pembuluh getah bening yang melewatinya. Karena dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang dapat membawa antigen, maka apabila ada antigen yang menginfeksi, kelenjar getah bening akan menghasilkan sel pertahanan tubuh yang lebih banyak, yang dapat menimbulkan adanya perbesaran pada kelenjar getah bening. 3. Skin-Associated Lymphoid Tissue (SALT) Kulit merupakan alat tubuh terluas yang berperan dalam sawar fisik terhadap lingkungan. Kulit juga berpartisipasi dalam pertahanan penjamu, dalam reaksi imun dan inflamasi local. Banyak antigen asing masuk tubuh melalui kulit dan banyak respons imun sudah diawali di kulit. Kulit terdiri atas 2 lapis: epidermis dan dermis. Epidermis mengandung 3 jenis sel yaitu, keratinosit, melanosit, dan sel Langerhans. Keratinosit berfungsi untuk menyekresi berbagai sitokin seperti IL-1, IL-6, IL-10, TGF-, dan TNF- yang

berpengaruh terhadap system imun. Melanosit berfungsi sebagai pemroduksi pigmen-pigmen tubuh. Sel Langerhans tersebar di seluruh epidermis dan mempunyai peran dalam induksi respon sel T. Dermis. Di dalam dermis terdapat kolagen, memproduksi banyak fibroblast, pembuluh darah, folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebaseus. 4. Mucosal Associated Lymphoid Tissue (MALT) MALT ditemukan di jaringan mukosa saluran napas bagian atas, saluran cerna, saluran urogenital, dan kelenjar mame berupa jaringan limfoid tanpa kapsul, mengandung sel limfosit dan APC yang mengawali respons imun terhadap antigen yang terhirup dan termakan. Epitel mukosa yang merupakan sawar antara lingkungan internal dan eksternal juga merupakan tempat masuknya mikroba. MALT Terdiri dari 2 komponen: Jaringan limfoid mukosa terorganisir seperti tonsil, peyers patch, dan folikel limfoid yang terisolir. Sistem imun mukosa difus, terdiri dari: limfosit intraepitel dan lamina propria.

Referensi: Baratawidjaja KG. 2012. Imunologi Dasar. Jakarta: FKUI