Anda di halaman 1dari 7

TUGAS FARMAKOTERAPI I Respiratory Tract Infection Pediatri

Disusun oleh: Jonas Anastasia Ika P Anggun Indah C Brigitta Lynda R M.M.V. Sasadara Maria Dyah K 108114006 108114098 108114099 108114101 108114102 108114103

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

INFEKSI SALURAN NAFAS & OTITIS MEDIA PADA BAYI

A. Patofisiologi

Otitis media adalah inflamasi telinga tengah. Anak-anak yang berusia 6 tahun atau kurang berisiko mengalami otitis media karena tuba eustachii mereka lebih pendek dan lebih horizontal. Otitis media akut terjadi ketika tuba eustachius yang secara normal mengalirkan sekresi telinga tengah ke tenggorokan menjadi tersumbat atau penuh sehingga menyebabkan penimbunan sekresi telinga tengah dan cairan. Ketika tuba eustachius terbuka kembali, tekanan di telinga yang mengalami kongesti tersebut dapat menarik sekresi hidung yang terkontaminasi melalui tuba eustachius untuk masuk ke telinga tengah sehingga terjadi infeksi (Corwin, 2009). B. Terapi Berdasarkan Literatur A. Terapi otitis media 1. Tujuan Terapi otitis media a. Mengendalikan nyeri, menghilangkan infeksi, dan mencegah komplikasi. b. Menghindari penggunaan antibiotik yang perlu. c. Meminimkan reaksi yang tidak diinginkan (ROTD) (Sukandar, 2009). 2. Pendekatan Umum TERAPI FARMAKOLAGI a. Antibiotik oral 5-10 hari Beberapa anak-anak dapat sembuh tanpa antibiotik Terapi pendukung : analgesik, antipiretik, penghangatan lokal. Antihistamin dan dengkongestan tidak efektif untuk mengatasi efusi dan menghilangkan gejala. Pilihan pertama antibiotik : Amoksisilin 40 mg/ kgbb/hari b. Aktivitas invitro Amoksisilin terhadap S. Pneumoniae & H,influenzaeisolat dari telinga tengah sangat baik. Amoksisilin dosis tinggi 80-90 mg/kg BB/hari untuk pneumokokkos yang resisten terhadap penisilin. c. Bila gagal gunakan amoksisilin-asam klavulanat dosis tinggi, sefuroksim aksetil atau sefriakson i.m.

d. Bila H. Influenzae/M.catarrhalis penghasil betalakatamase umum didapati maka gunakan antibiotik yang tahan terhadap betalaktamase. d. Sulfamethoksazol-trimethoprim (ko-trimoksazol), sefiksim, sefuroksim axetil, sefaklor, seftibuten, sefprozil, sefpodoksim, azitromisin, eritomisin/ sulfisoksazol (Sukandar, 2009). 3. Evaluasi Terapi Gejala otitis media akan hilang dalam waktu 24-72 jam bila diterapi dengan tepat.Bila otalgia/ demam selama terapi tetap/ kambuh maka harus dicurigai kemungkinan infeksi bakteri yang menghasilkan betalaktamase, terapi dengan antibiotik yang aktif terhadap betalaktamase. Bila kambuh setelah 1 bulan yang disebabkan infeksi karena mikroba sama, terapi dengan amoksisilin dengan dosis tinggi atau antibiotik stabil betalaktamase. Pada hari ke 10 terapi periksa ulang untuk kemungkinan terjadinya efusi (frekuensi efusi 10%). Bila efusi tetap ada sampai 3 bulan pertimbangkan untuk : 1) Teruskan terapi dengan amoksisilin 20 mg/kg bb/hari atau Kotrimoksazol 4/20 mg/kg bb 2) Miringotomi dan penyisipan tuba timpanostomi 3) Terapi setiap episode otitis media akut dengan anti bakteri yang tepat (Sukandar, 2009).

C. Analisis Kasus 1) Identitas pasien: Bayi perempuan berumur 10 bulan dengan BB: 18 Kg. 2) Subjective: Demam, batuk ringan tidak berdahak, hidung tersumbat, pilek. Satu minggu sebelumnya mengalami otitis media dengan terapi antibiotika. Merah pada membrane tympani telinga kanan dan membengkak, tanpa eksudat. Terdapat cairan hidung yang jernih. Eritema pada faring. 3) Objective: Tekanan darah 100/68 (normal) Nadi: 124 (tinggi; normalnya 110 kali per menit) tachicardi Pernapasan: 30 (normal) Suhu tubuh: 39 C (tinggi, normal: 36-37 C) febris 4) Assessment: a. Sefadroksil sirup1 fls; 3 x sehari 1 sendok teh Cefadroxil dry syrup 125 mg/ 5 ml. Obat belum tepat dosis. Perlu ditambah keterangan dosis untuk anak 10 bulan diberikan dosis 30 mg/ kg BB/ hari dalam 2 dosis terbagi setiap 12 jam. Karena BB anak 18 kg, maka perlu diberikan 4 sendok takar (5 ml) / hari. Jadi tiap 12 jam diminum 2 sendok teh (250 mg) (Pramudianto, 2012). Antibiotic golongan sefalosporin oral cukup aman pada kasus rawat jalan sesuai jenis infeksi yang menyerang anak. Obat ini kontraindikasi pada pasien hipersensitif sefalosporin dan perlu diberi perhatian pada pasien hipersensitif penisilin. Pasien perlu dicek jenis alerginya, maka antibiotic ini sebaiknya jangan diberikan terlebih dahulu apalagi pada anak yang baru berumur 10 bulan yang belum diketahui jenis alerginya.

b. Kloramfenikol tetes telinga1 fls 2 x sehari 3 tetes pada telinga kanan. Kloramfenikol dapat digunakan tetapi sebaiknya dipilih sediaan kloramfenikol yang tidak mengandung propilen glikol. Propilen glikol biasanya digunakan sebagai kosolven dalam sediaan. Anak di bawah usia 4 tahun masih memiliki metabolisme alcohol dehidrogenase yang terbatas sehingga dapat terjadi akumulasi propilen glikol dalam tubuh anak. Half time propilen glikol dalam tubuh anak ialah 16,9 jam dibanding dengan dewasa hanya 5 jam. Reaksi toksisitas yang mungkin terjadi ialah depresi system saraf pusat (Dipiro, 2008). c. Aspilet 10 tab3x sehari Aspilet (asetosal 80 mg). Obat ini sebaiknya jangan diberikan pada anak karena memiliki tanda perhatian (warning) jika diberikan pada anak. Obat ini memiliki efek analgesic non opiate dan antipiretik, dapat mengencerkan darah sebagai perannya dalam mengobati angina pectoris dan infark miokard. Maka sebaiknya diganti dengan obat lain yang lebih aman misalnya paracetamol untuk anak (Pramudianto, 2012). Pada prinsipnya jangan memberikan aspirin atau obat apapun yang mengandung aspirin pada anak bayi, karena aspirin dapat menyebabkan bayi menjadi rentan terkena sindrom Reye (serangan mendadak berupa gangguan pernapasan dan pencernaan selama beberapa hari dan berakhir dengan pembengkakan otak yang ditandai dengan kejang dan koma) (Dipiro, 2008). d. Trifed sirup1 fls3x sehari 1 sendokteh. Trifed (Triprolidine HCl 2,5 mg dan pseudoephedrine HCl 30 mg). Obat ini sebaiknya jangan diberikan pada anak karena memiliki tanda perhatian (warning) jika diberikan pada anak < 2 tahun. Obati ini berfungsi mengobati gejala flu, sinusitis, kondisi alergi dan mengeluarkan lendir dari hidung (Pramudianto, 2012). e. Imboost sirup1 fls 3 x sehari 1 sendok teh. Tidak tepat dosis. Untuk anak < 2 tahun diberikan sedok teh 1 2 x/ hari. Perlu diberikan informasi cara penggunaan secara oral, diberikan 30 menit sesudah makan (Pramudianto, 2012).

5) Plan: 1. Sefadroksil sirup1 fls (2 x sehari 2 sendok teh) 2. Hufamycetin tetes telinga (1 2tetes, 3 kali sehari) Sebaiknya digunakan antibiotic telinga yang mengandung kloramfenikol tanpa propilen glikol, misalnya Hufamycetin tetes telinga, dengan Indikasi pengobatan radang telinga akut dan kronik, otitis media akut dan kronik. Dosis 1 2 tetes, 3 kali sehari dalam bentuk sedian tetes telinga 30 mg/ ml (Pramudianto, 2012). 3. TetesTempra 1,2 ml Penggunaan obat antipiretik yang aman untuk anak dapat dipilih TetesTempra yang mengandung parasetamol. Indikasi untuk mengobati demam, nyeri ringan sementara, nyeri dan rasa tidak enak karena flu. Dosis untuk anak 10 24 bulan dalam bentuk tetes bayi ialah1.2 mL (Pramudianto, 2012). 4. Nostelsirup (1.25 ml 3 x sehari sesudah makan)

Obat pengganti yang lebih aman dapat digunakan Nostel (sirup 100 ml) yang setiap 5 mL mengandung triprolidin HCl 1.25 mg dan pseudoephedrine HCl 30 mg. Indikasi ialah mengobati penyakit saluran nafas atas termasuk sinus dan tuba eustahius. Dosis anak 6 bulan s/d < 2 tahun : 1.25 ml 3 x sehari sesudah makan. 5. Imboost sirup1 fls (1-2 x sehari sendok teh)

D. Pembahasan Kasus Seorang bayi perempuan berumur 10 bulan didiagnosis mengalami otitis media akut dan infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri. Pasien menerima rawat jalan dengan peresepan yang diberikan oleh dokter adalah Sefadroksil (3x sehari 1 sendokteh), Kloramfenikol tetes telinga 1 fls (2 x sehari 3 tetes pada telinga kanan), Aspilet 10 tablet (4 x sehari), Trifed sirup (3 x sehari 1 sendok teh) dan Imbost sirup 1 fls (3 x sehari 1 sendok teh). Peresepan yang diberikan dirasa kurang tepat. Sefadroksil sirup dapat diberikan namun perlu dilakukan penggantian dosis. Untuk anak berumur 10 bulan sebaiknya diberikan dosis 30 mg/ kg BB/ hari dalam 2 dosis terbagi setiap 12 jam, sehingga dosis yang dapat diberikan kepada pasien dengan berat 18 kg tersebut adalah 2 x sehari 2 sendok teh. Selain itu, pasien perlu dicek jenis alerginya, karena dapat menimbulkan reaksi alergi. Pemberian kloramfenikol dengan propilen glikol dirasa kurang aman karena dapat memberikan reaksi toksisitas yaitu depresi system saraf pusat. Antibiotik telinga yang lebih aman diberikan untuk pasien adalah Hufamycetin tetes telinga 1 2tetes, 3 kali sehari. Aspilet memiliki efek analgesic non opiate dan antipiretik. Penggunaan obat tersebut pada anak sebaiknya dihindari karena pemberiannya dapat menyebabkan bayi rentan terkena sindrom Reye. Pemberian aspilet diganti dengan Tetes Tempra yang mengandung parasetamol dengan pemberian 1,2 ml. Pemberian Trifed dirasa kurang aman bagi anak sehingga obat diganti dengan Nostel sirup dengan pemberian 1.25 ml 3 x sehari sesudah makan. Imboost sirup dapat diberikan kepada pasien hanya saja dosisnya harus diturunkan menjadi sendok teh 1 2 x sehari.

E. Informasi Obat kepada Pasien 1. Sefadroksil sirup Indikasi Cara penggunaan : infeksi saluran pernapasan. :

sirup diminum 2 x sehari 2 sendok teh. tidak diminum bersamaan dengan susu atau ASI. diminum sampai habis. dikocok dahulu sebelum diminum. apabila terjadi kelupaan untuk meminum antibiotik dan pasien segera ingat (kurang dari 2 jam), maka disarankan untuk segera meminum obat. Jika waktu yang terlewatkan sudah cukup lama dan ternyata hampir mendekati dengan peminuman obat berikutnya, maka disarankan melewatkan peminuman sebelumnya dan meminum obat pada jam berikutnya tetapi tidak dosis ganda.

Efek samping Interaksi obat Cara penyimpanan

: reaksi alergi, mual, muntah, dan diare. : aminoglikosida, diuretic poten, dan probenesid. : disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu kamar (Pramudianto, 2012).

2. Hufamycetin tetes telinga Indikasi Dosis penggunaan Cara penggunaan : radang telinga akut dan kronik, otitis media aku dan kronik : 1 -2 tetes 3x/hari. : anak mengambil posisi tengkurap atau duduk dengan kepala dimiringkan ke samping. Posisikan tetes telinga pada lubang telinga tanpa ujung tetes menyentuh lubang telinga. Tetes obat sesuai jumlah tetes yang dibutuhkan. Tetap pada posisi tersebut selama beberapa saat sambil menutup lubang telinga. Kembali duduk tegak (Djunarko, 2011). Pemberian pada telinga yang terinfeksi. Perhatian: diberikan dengan diteteskan pada lubang telinga, tidak untuk diminum. Efek samping Interaksi obat Cara penyimpanan : alergi, nyeri telinga superinfeksi. : tidak ada karena pemberian local pada telinga. : simpan di tempat pada suhu kamar dan kering. Hindarkan kontak langsung dengan cahaya matahari (Pramudianto, 2012).

3. Tetes Tempra Indikasi : demam, menghilangkan nyeri ringan sementara, nyeri dan rasa tidak enak karena flu. Dosis penggunaan Cara penggunaan Efeksamping Interaksi obat Cara penyimpanan : tetes bayi 10 24 bulan 1,2 ml, diberikan tiap 4 jam tetapi tidak lebih 5x/ hari. : diteteskan oral. Diberikan sesudah makan. : ruam kulit, reaksi alergi lain. : antikoagulan. : simpan di tempat pada suhu kamar dan kering. Hindarkan kontak langsung dengan cahaya matahari (Pramudianto, 2012).

4. Nostel sirup Indikasi Dosis penggunaan Cara penggunaan : infeksi saluran napas atas, termasuk pada sinus dan tuba eustachius. : untuk anak 6 bulan - < 2 tahun 1,25 ml 3x/ hari : gunakan sediaan drop 1, 25 ml, teteskan oral pada anak. Diberikan sesudah makan. Efeksamping : hipotensi, iritasi, kejang, perasaan berdebar-debar, denyut nadi meningkat, perasaan cemas, mengantuk, munculnya bercak/ bentol pada kulit. Interaksi obat Cara penyimpanan : alcohol, sedative, simpatomimetik. : simpan di tempat pada suhu kamar dan kering. Hindarkan kontak langsung dengan cahaya matahari (Pramudianto, 2012).

5. Imboost sirup Indikasi : terapi suportif untuk menstimulasi sitem imun terhadap infeksi akut, kronik, atau recurrent terutama infeksi saluran nafas. Dosis penggunaan Cara penggunaan Efek samping Interaksi obat Cara penyimpanan : untuk anak < 2 tahun sendok teh 1 2 x/ hari. : secara oral, diberikan 30 menit sesudah makan. : reaksi alergi, gangguan sistem pencernaan ringan : imunospressan. : simpan di tempat pada suhu kamar dan kering. Hindarkan kontak langsung dengan cahaya matahari (Pramudianto, 2012).

Daftar Pustaka Corwin, E.J., 2006, Patofosiologi, edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 385. Dipiro, et al., 2008, Pharmacoterapy A Pathophysiologic Approach, edisi 7, McGraw-Hill. New York, USA, hal. 656 680 Djunarko, I., dkk, 2011, Swamedikasi Yang Baik dan Benar, PT Citra Aji Parama, Yogyakarta, hal. 14 - 15 Kerschner, J.E., 2007,Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson Textbook of Pediatrics 18 ed, Saunders Elsevier, USA, hal. 2632. Pramudianto, A., 2012, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2011/2012, Penerbit Asli (MIMS Pharmacy Guide). Sukandar, E, Y., dkk, 2009, ISO Farmakoterapi 1, Penerbit ISFI , Jakarta, hal.765-766
th