Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN Tranfusi darah, adalah kegiatan pemberian darah dari donor kepada tubuh resipien.

dalam tranfusi darah banyak hal yang harus diperhatikan, mengingat terdapat beberapa jenis system golongan darah dan setiap orang memiliki golongan darah yang berbeda-beda. Jadi perlu disesuaikan golongan darah resipien dengan pendonor. Selain mecocokan golongan darah antara resepien (penerima) dan pendonor (pemberi darah) dilakukan juga pemeriksaan uji silang serasi. Pemerikasaan ini bertujuan untuk mengetahui kecocokan darah antara resipien dengan pendonor yang memiliki golongan darah yang sama. Walaupun memiliki golongan darah yang sama, tetapi kemungkinan saja darahnya tidak cocok dimana dalam darah resipien ataupun donor terdapat antigen/antibody yang saling berlawanan sehingga dapat terjadi hemolisis atau aglutinasi saat dicampur. Reaksi uji silang serasi ini merupakan reaksi pencocokan darah donor dengan resipien yang dilakukan secara in vitro. Reaksi silang serasi dapat dilakukan untuk satu orang donor dan dapat juga dilakukan untuk beberapa orang donor. Namun dalam pemeriksaan ini hanya dilakukan reaksi silang untuk satu orang donor saja. Uji silang serasi ini diawali dengan persiapan sampel darah, baik sampel dari pasien (resipien) dan sampel darah donor. Untuk pasien sampel darah yang digunakan harus beku (clotted blood) yang berumur kurang dari 2 x 24 jam. Bagian darah pasien yang digunakan dalam uji ini adalah bagian serum dan sel darah merah suspense 1%. Sedangkan sampel darah donor menggunakan sampel darah yang ditambahkan anti koagulan yang diperoleh dari tubing kantong darah (darah ACD/CPD) dan bagian yang digunakan untuk sampel darah donor adalah bagian plasma dan sel darah merah suspense 1%. Dalam pemeriksaan yang dilakukan, sampel darah baik sampel serum dan sel darah pasien serta sampel plasma dan sel darah donor telah disediakan sehingga tidak dilakukan persiapan sampel darahja. hanya pembuatan suspense sel darah merah 1%. Pembuatan suspense sel dara merah 1 % baik sel darah merah donor maupun pasien dilakukan dengan menggunakan ID Diluent dengan perbandingan 5 : 500. Dimana 5 L sel darah merah pekat ditambahakn dengan 500L ID Diluent. Penambahan 500 L dilakukan dengan menekan bagian tutup atas ID Diluent dan akan keluar larutan ID Diluent yang volumenya setara dengan 500L. Dalam penambahan ID diluents ini harus dilakukan secara hati-hati sehingga volume ID Diluent yang dikeluarkan tidak tumpah sehingga volume 500L ini

dapat terpenuhi. Penggunaan ID Diluent untuk pembuatan suspense ini sesuai dengan jenis pemerikasaan uji silang serasi ini yaitu menggunakan metode Gel Test. Dengan menggunakan ID diluents maka reaksi antara komplek antigen-antibodi dapat terjadi secara optimal dan membantu masuknya sel-sel darah untuk menembus gel test. Sampel darah yang telah dipersiapkan kemudian siap dilakukan pemeriksaan. Pemerikasaan silang serasi dilakukan dengan menyediakan tiga tabung. Tabung satu untuk reaksi Silang Mayor, tabung II untuk reaksi silang minor dan tabung yang ke III dibuat sebagai autocontrol. Pada reaksi silang Mayor akan direaksikan 50 L sel darah merah supensi 1% dari donor dengan 25 L serum dari resipien. Sehingga akan terjadi interaksi antara eritrosit (sel) donor dengan serum pasien. Dalam reaksi ini ingin diketahui apakah terdapat antibody di dalam serum pasien yang dapat menghancurkan eritrosit donor. Bagian test mayor ini sangat penting karena antibody dalam tubuh pasien dapat dan siap menghancurkan eritrosit donor yang mengandung antigen lawannya Sedangkan rekasi silang minor adalah kebalikan dari reaksi silang Mayor, dimana pada reaksi ini akan direaksikan 50 L sel darah merah sespensi 1% resipien dengan 25 L plasma donor. Dimana ingin diketahui adanya interaksi antara antibody di dalam plasma donor yang melawan antigen yang ada pada eritrosit resipien. Bagian test minor ini sebenarnya kurang penting dibandingkan reaksi silang Mayor karena antibody dalam plasma donor yang ditransfusikan akan mengalami pengenceran di dalam peredaran darah resipien sehingga, walaupun ia bereaksi di dalam tubuh biasanya reaksinya akan ringan dan lambat. Untuk tabung autocontrol yang direaksikan adalah 50 L sel darah merah suspense 1% dari resipien dan 25 L serum yang juga dari resepien. Autocontrol ini dilakukan untuk memastikan pemeriksaan telah dilakukan secara baik dan benar. Dimana autocontrol akan selalu memberikan hasil negative, karena tidak akan terjadi reaksi apabila sel darah pasien direksikan dengan serumnya sendiri. Ketiga reaksi atau test ini, baik Mayor, minor dan autocontrol masing-masing dihomogenkan dan kemudian akan dilakukan inkubasi pada suhu 37C selam 15 menit pada incubator. Inkubasi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk terjadinya ikatan atau

kompleks antigen pada sel derah merah dengan antibody pada serum/plasma secara optimal pada suhu inkubasi 37C yaitu suhu tubuh normal manusia. Setelah dilakukan inkubasi selanjtnya ketiga test tersebut selanjutnya diputar atau dicentrifugasi pada kecepatan tertentu di ID Centrifuge. Centrifugasi ini dilakukan untuk melihat apakah darah pada mikcotube dapat menembus gel yang terdapat di dalam microtube atau tidak. Untuk test Mayor, jika pada serum pasien terdapat antibody yang sesuai dengan antigen di sel-sel darah donor maka akan terjadi kompleks antigen-antibodi. Kompleks ini tidak akan sulit untuk menembul gel pada microtube begitu pula pada test minor. Namun, jika tidak terjadi ikatan / kompleks antigen-antibodi maka darah akan dapat menembus gel pada mikcotube dan berada pada dasar tabung setelah dilakukan centrifugasi. Pada test autocontol, yang direaksikan adalah sel darah merah dan serum pasien sehingga hasil autocontol seharusnya negative terjadi aglutinasi ataupun hemolisis dengan demikian hasil uji crossmath dengan metode gel test ini ditunjukan dengan tidak terjadinya aglutinasi dan darah menembus gel pada mikrotube sehingga mengendap di dasar mikrotube. Pada pemeriksaan ini dilakukan uji silang serasi untuk memeriksa kecocokan antara darah dari donor DN ? dengan darah pasien. Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil bahwa baik untuk test Mayor, Minor maupun autocontrol menunjukan hasil negative tidak terbentuk aglutinasi / tidak hemolisis dimana darah menembus gel pada mikrotube dan mengendap pada dasar mikrotube. Hasil yang diperoleh ini menunjukan bahwa darah dari donor DN ? compatible dengan darah pasien . Sehingga darah dari donor ini dapat ditransfusikan pada pasien sebagai penerima darah. Uji silang serasi dengan metode gel test ini dibandingkan dengan metode tube test memiliki kelebihan. Dimana pemeriksaan uji silang serasi dengan metode gel test mempunyai prosedur yang lebih sederhana sehingga pemeriksaan dengan metode ini dapat lebih cepat dan hasil yang diperoleh lebih akurat terutama saat pembacaan hasil, dimana pembacaan hasil dengan metode gel test ini lebih objektif dibandingkan dengan pemeriksaan dengan metode tube test, karena menggunakan gel sehingga hasil positif aglutinasi dan negative dapat dibedakan dengan lebih mudah. Namun pemeriksaan dengan metode gel test ini lebih mahal dibandingkan dengan

Kesimpulan Pemeriksaan uji silang serasi (Crossmatch) dengan metode gel test untuk menguji kecocokan darah donor DN ? dengan pasien memberikan hasil yang negative aglutinasi dan hemolisis, yang menunjukan bahwa darah donor DN compatible dengan darah pasien sehingga darah dapat dikeluarkan (ditransfusikan)