Anda di halaman 1dari 25

MENGUAK MISTERI SANG GURU KEBENARAN PENDIRI PAGUYUBAN ESENI*)

Oleh: Dr. Bambang Noorsena**)

1. BENARKAH YESUS KRISTUS ADALAH GURU KEBENARAN?

ejak tahun 1947, setelah penemuan manuskrip-manuskrip Laut Mati, para ahli sibuk mengaitkan dengan sejarah Kekristenan awal. Meskipun masih banyak ahli masih berpendapat lain, namun kesimpulan para penelitian awal bahwa Naskah Laut Mati adalah peninggalan Eseni (Essene) - entah naskah-naskah itu ditulis oleh mereka, atau sebagian yang lain adalah koleksi mereka sebelum mereka mengasingkan diri, adalah pendapat yang paling kuat. Sebagaimana sudah dikemukakan di depan, kaum Eseni adalah sekelompok orang Yahudi yang tidak puas dengan kehidupan keagamaan di Bait Allah Yerusalem, kemudian mereka mendirikan komunitas tersendiri di Laut Merah di bawah pimpinan seorang Guru Kebenaran (Moreh HaTsedeq) atau Guru Komunitas (Moreh HaYahad). Menurut hasil penelitian terakhir, komunitas Qumran dimulai kira-kira pada akhir abad II SM atau permulaan abad I SM, dan berakhir ketika tentara Romawi menghancurkannya kira-kira pada tahun 68 M. Selanjutnya, dari sebelas gua-gua di Wadi Qumran telah meninggalkan bagi kita naskah-naskah kuno, termasuk teks-teks Alkitab Perjanjian Lama, yang sebagian besar tertulis dalam bahasa Ibrani/Aram dan sebagian kecil sisanya berbahasa Yunani (khususnya Gua 7). Manuskrip terkuno dapat ditentukan berasal dari tahun 250 SM, jadi 150 atau 100 tahun sebelum manuskrip itu dibawa oleh penghuni Qumran dalam tempat pengungsiannya. Pada awal penemuan naskah-naskah ini, dunia ilmu pengetahuan seperti tersentak. Lebih-lebih, ketika para ahli berusaha keras mencaricari 18 tahun kehidupan Yesus yang tidak dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Hal ini

Makalah disajikan dalam Diskusi Tengah Bulanan Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), di Gedung Pertemuan Keuskupan, Jl. W.R. Supratman 4, Surabaya, Selasa, 12 Februari 2013. Penulis adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), pengamat hubungan antaragama, dan Budayawan.
Edited by Glenn Tapidingan **)

*)

Bambang Noorsena 2 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

tampak dari buku Charles Francis Potter, The Lost Years of Jesus Revealed.1 Jadi, banyak orang harap-harap cemas dengan penemuan terbesar abad ke-20 tersebut, secara khusus dalam usaha untuk mencari benang merah dengan sejarah gereja mula-mula.
Pesher Yesaya B (4QpIsab) Yang memuat tafsiran Yes. 5:5-6 mengenai hukuman Allah atas Yerusalem. Naskah ini dengan jelas mencerminkan konflik serius penafsir dengan pemimpin Bait Allah

Dalam banyak segi, tulis Duport Summer, Tuan (Master) Galilea itu tampak sebagai seorang reinkarnasi Guru Kebenaran dari Qumran yang sangat mencengangkan.2 Sedangkan Charles F. Potter, sambil mengemukakan teorinya bahwa kaum Eseni di Qumran adalah ibu dari Kekristenan, secara lebih bombastis lagi menulis: Dan sekarang setelah terbukti bahwa sejarah Kekristenan dapat ditemukan dalam masyarakat yang disebut Perjanjian Baru (Brit HaHadasah) yang biasa disebut kaum Eseni. Masalah penting yang menantang seluruh dunia Kristen ialah apakah seorang anak akan mempunyai keperwiraan atau keberanian dan kejujuran untuk mengakui dan menghormati ibunya sendiri.3 Pada tahun-tahun pertama penemuan Laut Mati, para ahli memang terpaku kepada paralel yang begitu dekat antara komunitas Eseni dengan Kekristenan. Bukan hanya madzab yang mendiami Wadi Qumran ini menjuluki dirinya Paguyuban Perjanjian Baru, tetapi juga sejumlah term yang begitu dekat: tamsil terang dan gelap, peranan Melkisedek, pembenaran oleh iman, dan masih banyak lagi. Meskipun demikian, semakin banyak paralel antara fragmen-fragmen kaum Eseni dikumpulkan,

Charles Francis Potter, The Lost Years of Jesus Revealed (New York: Mentor Book, 1959), hlm. 46-47. Duport Summer, Dead Sea Scrolls: A Prelimary Survey (New York: Basil Blackwell, 1952), hlm. 100.
3 2

Charles F. Potter, Op. Cit., hlm. 10.


Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 3 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

ternyata pemaknaan istilah-istilah itu jauh berbeda, bahkan tidak jarang bertentangan satu sama lain. Pada masa sekarang ini, identifikasi Yesus Kristus dengan sosok Guru Kebenaran dari madzab Eseni sudah ditinggalkan para ahli, karena masa kehidupan antara keduanya memang kira-kira berbeda satu abad. 2. KAUM ESENI: SEKILAS SEJARAH, KEHIDUPAN DAN KEYAKINANNYA 2.1. ASAL-USUL KATA ESENI Para ahli berbeda pendapat mengenai asal-usul kata Eseni (Ibrani modern:

- Isiyim). Menurut G. Vermes, Essene berarti penyembuh, berhubungan erat


dengan kata Aram Asayya (Inggris: physicians).4 Sarjana lain berpendapat, kata Essene adalah Yunanisasi dari ungkapan Ibrani: - Os HaTorah, artinya pelaku Taurat (1QpHab 8:1). Dari bahasa Yunani, kata - Essenoi, atau Essaioi, yang kemudian dilafalkan menjadi Essene oleh beberapa bapa gereja permulaan.5 Ada pula ahli yang mengatakan bahwa istilah Essene berasal dari bahasa Aram Asen (Ibrani: Hasid), yang artinya orang saleh. Kata Ibrani - Hasidim ini dalam Maz. 149:1 dimaknai orang-orang saleh. Selanjutnya, bentuk Yunani Essenoi atau Essenai dijumpai dalam tulisan Flavius Josephus (War II, 8:2; Ant. XV, 10:4).6 Kata umum - Hasidim sejak abad II SM mendapat arti khusus untuk menyebut gerakan politik tertentu.

2.2. GURU KEBENARAN VERSUS IMAM JAHAT 2.2.1. Tahun-Tahun Awal Karya Guru Kebenaran Guru Kebenaran (dalam bahasa Ibrani: Moreh HaTsedeq) adalah sosok yang ditemukan di beberapa naskah Gulungan Laut Mati, yang paling menonjol adalah naskah Brit Demesyeq atau Dokumen Damascus (CD). Berbeda dengan naskah-naskah lain yang hanya memuat gelarnya Guru Kebenaran (Moreh HaTsedeq) atau Guru Paguyuban (Moreh HaYahad) dan musuh-musuhnya yang disebut Imam Jahat (Kohen HaRasa) dan Manusia Pendusta (Ish haKazav), dokumen ini adalah satu-satunya naskah Qumran yang memuat tarikh tampilnya Sang Guru seperti disebutkan dalam CD 1:3-11 yang berbunyi:
4 5 6

Joseph A. Fitzmyer, Op. Cit., hlm. 96-97. Ibid. William Whiston - Paul L. Maier, Op. Cit., hlm. 520-521 dan 736.
Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 4 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Ketika dalam kebebalan mereka Israel meninggalkan-Nya, maka Tuhan memalingkan wajah-Nya dari Israel dan dari tempat kudus-Nya; (4)dan menghadapkan mereka pada mata pedang. Tetapi ketika Dia mengingat perjanjian nenek moyang mereka, ditinggalkan-Nya suatu kaum sisa dari (5)Israel dan tidak membiarkan mereka semua musnah, dan pada masa kemurkaan itu, yaitu tiga ratus (6) sembilan puluh tahun (shalosh meat we tashiim) ketika Dia menempatkan mereka di bawah kekuasaan Nebukadnezar, Raja Babel, (7)mereka dipelihara-Nya. Dari Israel dan Harun tambahlah suatu tunggul keturunan yang akan mewarisi (8) negeri-Nya dan berkembang biak berkat hasil tanah-Nya yang melimpah ruah. Mereka menyadari kekejian mereka (9)sadar bahwa mereka adalah orang-orang berdosa, dan telah berlaku sebagai orang yang buta dan seperti orang yang meraba-raba mencari jalan selama (10)lebih dari dua puluh tahun (shanm eshrm). Allah melihat perbuatan mereka, bahwa mereka telah mencari-Nya dengan segenap hati, (11)sehingga telah dibangkitkan bagi mereka seorang Guru Kebenaran (Moreh haTsedeq) yang menuntun mereka ke jalan hati-Nya.7 Berdasarkan catatan sejarah, pembuangan ke Babel terjadi tahun 586 SM. Dan berbeda dengan madzab Yahudi lain yang menggunakan kalender bulan (Qomariyah), kaum Eseni memakai kalender matahari (Syamsyiah), sehingga hitungan 390 tahun dari pembuangan di Babel dapat dihitung seperti kalender yang berlaku sekarang. Karena itu, 390 tahun setelah pembuangan Babel akan jatuh pada tahun 196 SM. Tahun ini masih ditambah lagi dengan 20 tahun sebagai tenggang waktu Guru Kebenaran meraba-raba mencari jalan keluar, sehingga permulaan berkaryanya sang guru akan jatuh pada tahun 176 SM. Tahun ini merupakan awal kekuasaan dinasti Hasmonaim, yaitu antara tahun 175-63 SM. Dari Dokumen Damascus tersebut dapat disimpulkan bahwa Guru Kebenaran hidup pada zaman dinasti ini. Kalau begitu siapakah Guru Kebenaran itu? Setelah tarikhnya ditentukan pada zaman Hasmonaim, selanjutnya berdasarkan Serekh HaYahad - Disiplin Paguyuban (1QS), identitas Sang Guru dapat diketahui, yaitu berasal dari Keturunan Zodak, keluarga imam yang memelihara perjanjian (benei Tsadoq ha kohanm shomeri HaBrit).8 Perlu dicatat bahwa Zadok adalah imam besar yang pertama dari Bait Allah pertama Yerusalem. Menurut Jerome Murphy OConner, Guru Kebenaran adalah
Manuskrip asli dan aksara Ibrani modern dikutip dari Magen Broshi (ed.), The Damascus Document Reconsidered (Jerusalem: The Israel Exploration Society - The Shrine of the Book, Israel Museum, 1992), hlm. 10-11. Terbitan bilingual Hebrew-English: Florentino Garcia Martinez and Eibert J.C. Tigchelaar (ed.), The Dead Sea Scrolls Study Edition, Vol. I 1Q14Q273 (Leiden-New York-Koln: Brill, 1997), hlm. 550-551. James H. Charlesworth - Henry W. L. Rietz (ed.), The Dead Sea Scrolls: Rules of the Community (Phildelpia-Jerusalem: The American Interfaith Institute World Alliance of Interfaith Organization - Shrine of The Book, Israel Museum, I996), hlm. 40-41.
Edited by Glenn Tapidingan 8 7

(3)

Bambang Noorsena 5 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

seorang imam besar keturunan Zadok yang pada tahun 152 SM yang mungkin digulingkan oleh Yonatan, atas dukungan Penguasa Seleukid, yaitu Alexander Balas.9 Masalahnya, dalam sumber sejarah selama ini, tidak ada catatan bahwa ada imam besar yang digulingkan oleh Yonatan pada kurun waktu tersebut.

Laut Mati dan Wadi Qumran dilihat dari dalam gua-gua tempat ditemukannya Naskah Gulungan Laut Mati

Dapat dicatat di sini, I Makabe 9:23-12:53 hanya mencatat persaingan Alexander Balas dengan Demetrius I, dan Alexander Balas berhasil memikat Yonatan dengan mengangkatnya sebagai Imam Besar (I Makabe 10:18-20). Namun Hartmut Stegemenn, yang sejak tahun 1957 sebagai peneliti di Qumran Research Center, Universitas Heidelberg, mengatakan bahwa absennya penggulingan imam Tsadoq ini, memang dimaksud untuk menutupi fakta bahwa kaum Hasmonean telah merebut jabatan keimamatan yang seharusnya diberikan kepada para imam keturunan Tsadoq.10 Sebelum Yonatan diangkat sebagai Imam Besar tahun 152 SM, imam besar sebelumnya yang selalu berasal dari keturunan Tsadoq adalah Alkimus yang wafat pada tahun 159 SM. Jadi, antara tahun 159-153 SM tidak ada catatan siapa yang menjadi Imam Besar. Fakta tentang tujuh tahun keimamatan yang hilang ini juga dicatat oleh Flavius Josephus (Antiquities, XX:10, 237),11 sebagaimana dapat dilihat dari Tabel 3.1 dan Tabel 3.2.

Jerome Murphy OConnor, Teacher of Righteousness (New York: Doubleday, 1992),

hlm. 340. H. Stegemann, The Library of Qumran: On the Essenes, Qumran, John the Baptist and Jesus (Micighan: Grand Rapids, 1998), hlm. 139-210.
11 10

William Whiston and Paul L. Maier, Op. Cit., hlm. 695.


Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 6 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

TABEL 3.1. GURU KEBENARAN DAN SEJARAH DINASTI SELEUKID DAN HASMONAIM TAHUN
176 SM

PERISTIWA
Antiokus Epifanes IV diangkat sebagai Raja Seleukid. Guru Kebenaran mulai berkarya. Yason menggantikan Onias III sebagai Imam Besar, proses Hallenisasi bangsa Israel berlangsung. Antiokus Epifanes IV menajiskan Bait Allah, mengasingkan Yason dan mengangkat Menelaus sebagai Imam Besar. Pemberontakan Makabe diawali oleh Matatias. Matatias wafat, Yudas Makabe dibantu saudarasaudaranya meneruskan perjuangan. Yudas Makabe menang, Bait Allah disucikan kembali (Hanukkah), awal dinasti Hasmonaim.

SUMBER ACUAN
1 Mak. 1:10; War 1, 1:1; CD-A 1,3-1 (4Q266) 1 Mak. 1: 16-64, 2 Mak 4:1-22; War 1, 1:1-2 1 Mak. 1: 16-64, 2 Mak 4:23-29; War 1, 1:1-2 1 Mak. 2:1-70 1 Mak. 3; 4:1-35; 2 Mak. 14:3 1 Mak. 4:36-61;2 Mak. 10:1-9; Ant. XII,7. (Bikk.1:6, RS. 1:3, Tan.2:10 1 Mak. 7:14; Ant. XX.10; XII.9 1 Mak. 7:1.1

174 SM

171 SM

168 SM 166 SM 164 SM

163 SM

161 SM

Antiokus Epifanes IV mati, diganti anaknya, Antiokus V (umur 9 tahun) di bawah kendali Lisias. X Demetrius I Soter menjadi raja Seleukid setelah membunuh Antiokus V dan Lisias. X Menelaus dibunuh, Alkimus menjadi Imam Besar karena menjilat Demetrius I Soter, dengan memfitnah Yudas Makabe. Yudas Makabe wafat digantikan oleh saudaranya, Yonatan Makabe. Yonatan diangkat menjadi Imam Besar oleh Alexander Balas. Guru Kebenaran memisahkan diri. Yonatan mati terbunuh, Guru Kebenaran menyebutnya sebagaihukuman Allah, Simon menjadi Raja. Simon Makabe menjadi Imam Besar, persahabatan dengan RajaDemetrius II. Simon wafat, digantikan oleh putranya, Yohanes Hyrkanus I. Guru Kebenarnan mendirikan Paguyuban di Qumran Guru Kebenaran wafat sebelum kedatangan tentara Roma (Kittim)

Mak. 7:1-25; Ant. XII,9-10; XX.10 1 Mak. 9:1-31 1 Mak. 10:1-21 2QpPsalm 37.3:15-16 1 Mak. 12:39-53; 1QpHab 9:9-12 1 Mak. 13:31-42 1Mak.13:31-42 1QpHab 9:9-12 CD-A XIX: 33-35; XX.1

160 SM 152 SM

142 SM

141 SM 134 SM 130 SM (?) Sebelum 100 SM

Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 7 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

TAHUN
100 SM - 63 M

PERISTIWA
Komunitas Qumran terus berlangsung sampai serbuan Roma tahun 68M.

SUMBER ACUAN
Bukti dari pengujian radio karbon C-14 atas naskah-naskah Qumran.

(Sumber: Berbagai rujukan sejarah, diolah). Berdasarkan kronik yang diolah dari berbagai sumber di atas, tampaklah bahwa jabatan Imam Besar setelah berdirinya dinasti Hasmonaim, khususnya setelah bertahtanya Yonatan Makabe (152-142 SM) dan raja-raja berikutnya, selalu dirangkap oleh raja-raja Hasmonaim. Meskipun raja-raja Hasmonaim adalah keturunan imamimam, namun mereka bukan keturunan Tzadoq yang berhak atas jabatan Imam Besar. Karena itu, dimata Guru Kebenaran dan para pengikutnya, pengambilalihan jabatan itu oleh Yonatan dan raja-raja sesudahnya adalah merupakan pelanggaran terhadap Taurat Musa. Untuk lebih jelas memahami latarbelakangnya, dapat diikuti daftar namanama Imam Besar menjelang dan awal dinasti Hasmonaim di bawah ini: TABEL 3.2. GURU KEBENARAN DAN DAFTAR IMAM BESAR MENJELANG DAN AWAL DINASTI HASMONAIM TAHUN
198-174 SM

IMAM BESAR
Onias III

KETERANGAN
Seorang Imam Besar yang saleh dan takwa, sehingga Bait Allah dan penduduk Yerusalem hidup aman dan sentosa. Yason, adik Onias III, merebut jabatan Imam Besar dengan cara menyogok Antiokus Epifanes IV, Raja dinasti Seleukid. Yason ganti digulingkan oleh Menelaus dengan cara menyuap Antiokus Epifanes IV lebih besar. Onias III di Dafne, dekat Antiokia, dibunuh setelah mengecam Menelaus. Setelah kematian Antiokus Epifanes IV, Alkimus merebut jabatan Imam Besar dengan bantuan Demetrius I Soter. Setelah Alkimus mati akibat gegar otak, tak ada laporan dari 1-2 Makabe maupun Yosephus. Yonatan merebut jabatan Imam Besar didukung Alexander Balas.

174-171 SM

Yason

171-162 SM

Menelaus

162-159 SM

Alkimus Onias IV, Guru Kebenaran? Yonatan

159-152 152-142

(Sumber: Berbagai rujukan sejarah, diolah).

Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 8 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa sekalipun sosok Guru Kebenaran memang tidak mudah diidentifikasi, tetapi yang pasti sosok yang dikaitkan dengan kaum Eseni ini hidup lebih kurang satu abad sebelum zaman Yesus Kristus. Selanjutnya, berdasarkan Dokumen Damascus bahwa karya Guru Kebenaran dimulai tahun 176 SM, tahun yang sama dengan pengangkatan Antiokhus Epifanes sebagai Raja Sekeukus yang sangat antipati terhadap Yudaisme, maka sebagai tokoh kaum Hasidim nalurinya pasti tersentak dengan pengangkatan Antiokhus Epifanes IV. Setelah meraba-raba selama 20 tahun, sang Imam akhirnya ikut berjuang memperjuangkan nasib bangsanya. Sebagai keturunan Tsadoq, tentu lebih berhak dengan institusi Bait Allah. Mungkin ia terlibat aktif dalam perjuangan kelompok Makabe, dan sangat berharap dinasti ini akan memimpin bangsanya. Harapan itu pupus begitu Yonatan menerima persahabatan politis dengan Alexander Balas, putra Antiokhus Epifanes IV, yang telah menajiskan tempat kudus TUHAN, dengan menerima dirinya diangkat sebagai Imam Besar (I Mak 10:18-21). Dengan menerima pengangkatannya sebagai Imam Besar pada tahun 152 SM oleh Alexander Balas, berarti ia harus terguling dari jabatannya sebagai Imam Besar pengganti Alkimus sejak tahun 159 SM. I Makabe bungkam setelah mencatat Imam Besar Alkimus, yang membantu Bakhides membangun benteng-benteng Yerusalem dan tiba-tiba mati akibat gegar otak, setelah menyuruh membongkar dinding-dinding pelataran Bait Allah (I Mak. 9:50-58). Masa kosong antara kematian Alkimus tahun 159 SM dengan pengangkatan Yonatan sebagai Imam Besar adalah masa pelayanan Guru Kebenaran sebagai Imam Besar. Mungkin Guru Kebenaran itu adalah Onias IV, yang merasa lebih berhak menjabat kedudukan Imam Besar, karena selama itu jabatan tersebut selalu berasal dari keturunan Tzadoq. Juga, perlawanan Sang Guru Kebenaran bukan hanya alasan kedudukan, tetapi lebih didorong oleh perasaan keyahudian, karena Yonatan semakin longgar berkompromi dengan kekuasaan asing. Penolakan Guru Kebenaran dan para pengikutnya terhadap kekuasaan Hasmonaim membuat mereka tidak disukai pemerintahan Yonatan, yang akhirnya melakukan pengejaran terhadap mereka. Pengejaran terhadap Guru Kebenaran dan para pengikutnya terus berlangsung pada zaman sesudah Yonatan, yaitu Simon, sampai akhirnya mereka mendirikan Yahad (Paguyuban) sendiri di Qumran, yang secara simbolis dalam naskah-naskah Qumran disebut dengan Damsyek (Damsyik/ Damaskus).12 Berdasarkan naskah-naskah tersebut, selanjutnya sosok Imam Jahat
Para ahli pernah mempertimbangkan apakah penghuni Laut Mati itu pernah mengasingkan diri ke Damsyik (Damaskus) Syria sehingga salah satu fragmen mereka sebut Dokumen Damascus. Tetapi kini pemikiran tersebut sudah ditinggalkan, dan Damascus dipahami sebagai sebutan simbolis sebagai tempat pembuangan, seperti disebut juga oleh Nabi Amos (Am. 5:26-27). E.W. Tuinstra dan I.W.J. Hendrik, Kisah dan Makna Naskah-Naskah dari Laut Mati (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1976), hlm. 53-54.
Edited by Glenn Tapidingan 12

Bambang Noorsena 9 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

(Kohen HaRasa) ini dapat diidentifikasikan: Mula-mula ia menimbulkan banyak harapan baik bagi Israel pada umumnya, dan kaum Hasidim khususnya, tetapi akhirnya menjadi sesat karena melanggar Taurat demi mengumpulkan harta dan kekayaan bagi dirinya sendiri. Demi ambisi politiknya, Imam Jahat telah menganiaya Guru Kebenaran dan para pengikutnya, bahkan bermaksud membinasakannya, tetapi Tuhan menyelamatkan Sang Guru, sebaliknya Imam Jahat sendiri akhirnya mati di tangan bangsa lain (band. I Mak. 12:39-53). Hal ini secara eksplisit juga disebutkan dalam Pesher Habakkuk (1QpHab 9:9-12) yang berbunyi:
Pesher Habakkuk (1QpHab 9) yang memuat penafsiran Hab. 2:8-11. Dalam bagian ini dijelaskan identitas Imam Jahat, musuh Guru Kebenaran

... tafsiran mengenai Imam Jahat, yang diserahkan Allah ke tangan musuhnya karena kejahatannya kepada Guru Kebenaran dan para pengikutnya, supaya ia direndahkan dan celaka sampai mati dengan hati yang pedih, karena kejahatan yang dilakukannya atas semua umat pilihan Allah.13 Selanjutnya, mengenai Hab. 2:5-6 dimuat tafsiran yang maknanya: Tafsiran berkaitan dengan Imam Jahat, yang disebut setia pada waktu mulai memerintah. Tetapi sementara ia berkuasa di Israel hatinya mulai congkak. Ia meninggalkan Allah dan melanggar hukumnya demi kepentingan kekayaan. Ia mencuri dan menyimpan kekayaan dari orang-orang yang kejam yang sudah memberontak kepada Allah. Sampai ia menyita hal milik masyarakat umum, dan

Florentino Garcia Martinez Eibert J.C. Tigchelaar (ed.), The Dead Sea Scrolls, Vol.1 1Q1 4Q273 (Leiden-New York-Koln: E.J. Brill, 1997), hlm. 18-19.
Edited by Glenn Tapidingan

13

Bambang Noorsena 10 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

dengan demikian menambahkan dosanya yang makin besar. Karena perbuatannya yang amat jijik, culas, dan cabul.14 Menurut kesaksian kitab Deuterokanonika, yaitu I Makabe dan II Makabe, pertentangan antara Imam Besar Yonatan dengan kelompok Hasidim berlangsung cukup lama. Disebutkan pula, pada zaman Imam Alkimus (162-150 M) yang sangat proHellenisme, kaum Hasidim, karena sangat mematuhi Taurat, mereka tidak bersedia pada hari Sabat (I Mak. 2:29-38). Itulah sebabnya, Imam Besar menyuruh membunuh 60 orang Hasidim (I Mak. 7:13-18), dan perisiwa itu kira-kira tahun 162 SM. Perlu dicatat, Alkimus berhasil menjadi Imam Besar karena bersekutu dengan kekuatan asing, Demetrius I Soter, yang mengutus Bakhides dengan penuh tipu daya menguasai Yerusalem. Alkimus menghasut penguasa asing itu, sehingga mereka memerangi Yudas Makabe, dan akhirnya dalam sebuah pertempuran Yudas wafat. Selanjutnya, sebagai balas jasa setelah menjadi Imam Besar, Alkimus mengijinkan membongkar dinding-dinding pelataran Bait Allah untuk memperluas benteng-benteng penguasa asing itu. Begitu mau merobohkan pekerjaan para nabi, baru sempat mulai membongkar dinding, Alkimus mengalami gegar otak. Mulutnya membungkam dan menjadi lumpuh, sehingga terhalanglah pekerjaan itu. Alkimus akhirnya meninggal dengan sangat mengenaskan (I Mak. 7:50-57). Sepeninggal Alkimus, I Mak. 7:50 tidak menjelaskan siapa Imam Besar pengganti Alkimus, hanya disebutkan setelah Imam Besar Alkimus mati negeri Yehuda menikmati ketenteraman selama dua tahun (I Mak. 7:57). Kalau Alkimus mati tahun 159 SM, berarti dua tahun menikmati ketenteraman menurut versi penulis I Makabe terjadi antara tahun 159157 SM. Rupanya, setelah kematian Alkimus kaum Hasidim mengangkat Onias IV sebagai Imam Besar yang kemungkinan besar identik dengan Sang Guru Kebenaran (Moreh HaTsedeq) atau Sang Guru Paguyuban (Moreh HaYahad). Mula-mula Yonatan dan saudaranya, Simon, menyetujui pengangkatan Onias IV sebagai Imam Besar, sebab dengan demikian ketentuan Taurat bahwa Imam Besar harus berasal dari keturunan Tsadoq kembali ditegakkan. Masa tenteram ini hanya berlangsung dua tahun, yaitu beberapa saat setelah kematian Alkimus sampai tahun 157 SM. Selanjutnya, para pemberontak yang tidak suka Raja Yonatan hidup dalam ketenteraman dengan para pengikutnya, akhirnya mendatangkan Bakhides dan pasukannya untuk memerangi Yerusalem. Yonatan dan Simon mengungsi ke Beit-Basi, dan tentara Bakhides menyusul untuk melancarkan peperangan, namun tentara Bakhides kalah. Setelah kekalahannya, justru Yonatan merundingkan perdamaian. Usul itu diterima dengan senang hati oleh Bakhides, dan ia berjanji tidak akan mengusahakan yang jahat kepada Yonatan (I Mak. 7:58-73). Pada waktu yang
14

Ibid., hlm. 12-13.


Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 11 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

bersamaan, dalam pemerintahan Seleukid terjadi persaingan antara Demetris I Soter dengan Alexander Balas, putra Antiokus Epifanes IV. Keduanya menawarkan persekutuan politik dengan Yonatan, tetapi Yonatan memilih Alexander Balas yang akhirnya menang. Ironisnya, Yonatan justru meninggalkan para pendukungnya dari kaum Hadisim, antara lain Onias IV dan para pengikutnya, karena ia menerima pengangkatan menjadi Imam Besar oleh Alexander Balas (I Mak. 10:22-66). Dengan pilihan politiknya yang pernuh resiko itu berarti Yonatan harus menggulingkan Onias IV Sang Guru Kebenaran sebagai Imam Besar pada tahun 152 SM. Inilah tindakan Yonatan yang tidak bisa ditolerir lagi, sehingga akhirnya Guru Kebenaran merasa diutus Allah untuk mendirikan paguyuban (2 QpPsalm 37.3:15-16). Sang Guru dan para pengikutnya meninggalkan Bait Allah di Yerusalem, dan memimpin kaum Hasidim dalam pengungsian. Kelompok Hasidim ini akhirnya lebih populer dikenal sebagai kaum Eseni. Seperti telah disebutkan di atas, berdasarkan Dokumen Damascus, masa pelayanan Sang Guru Kebenaran diperkirakan dari tahun 167 SM, lalu mendirikan Yahad (Paguyuban) di Qumran sekitar tahun 135 SM, sampai meninggalnya sebelum tahun 100 SM, sebelum Jenderal Pompey dari Roma (Kittim) memasuki wilayah Yudea tahun 63 SM. Sepeninggalnya, paguyuban yang didirikannya terus berlangsung, sampai tentara Romawi meluluh-lantahkan pemukiman mereka tahun 68 M. Sejak masa itu, kaum Eseni seakan-akan hilang ditelan masa, sampai Naskah Laut Mati ditemukan pada tahun 1947. Tarikh ini cocok dengan tafsiran ilmu arkheologi yang menghitung pembangunan Paguyuban Eseni di Qumran antara tahun 150-100 SM, meskipun dalam detail masih menyimpan misteri yang harus dipecahkan. 2.2.2. Beberapa Perkembangan Baru Diantara naskah-naskah Gulungan Qumran yang selama ini belum dijadikan bahan rujukan karena baru diterbitkan pada tahun 1992, adalah naskah Kidung suci kepada Raja Yonathan yang ditemukan di Gua 4 (4Q448). Rujukan penting dari naskah 4Q448, dapat dibaca Kolom 1, Baris 1-4 yang berbunyi sebagai berikut:

Shir qodesh ye yonatan HaMelekh we kal Qahal ammek Yisrael

Artinya: Untuk Raja Yonathan dan semua umat bangsamu Israel yang tersebar di empat penjuru angin, kiranya kedamaian atas mereka dan atas seluruh kerajaanmu.15 Menurut Michael Wise, Martin Abegg, dan Edward Cook, Yonatan adalah nama Ibrani dari Alexander Janneus (103-76 SM), seorang pemimpin dinasti Hasmonaim yang
15

Robert Eiseman and Michael Wise, Op. Cit., hlm. 280-281.


Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 12 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

menyebut dirinya raja (melekh). Naskah tersebut dengan jelas lebih bersahabat kaum Hasmonean, padahal sikap umum kaum Eseni adalah anti-Hasmonean. Selanjutnya, mereka mengaitkannya dengan Naskah Megillat HaMiqdash - Gulungan Bait Allah (11 Q19), yang menyebut bahwa Singa murka biasa menggantung di Israel pada zaman dahulu. Karena itu, menurut Michael Wise, Si Singa Murka itu bisa diidentifikasi dengan sosok Alexander Janneus yang menyalibkan 800 orang, dan berpihak kepada Demetrius III, raja Yunani ketika menyerang Yudea. Tindakan Si Singa Murka ini, malahan dipuji dalam naskah 4QPNah, dan mereka yang dieksekusi mati disebut sebagai kaum penjilat. Selain itu, naskah Fragmen-Fragmen Sejarah (4Q331, Kolom 2), dengan jelas menyebut tokoh historis Shelamtsiyon - nama Ibrani Salome Alexandra, istri dan pengganti Alexander Janneus (76-67 SM). Berdasarkan rekonstruksi dari teks-teks Qumran yang baru diterbitkan di atas, dapat Wise, Abegg dan Cook mengemukakan teori baru yang digambarkan dalam sketsa sejarah singkat sebagai berikut: Kaum Yahad (Paguyuban) Qumran memuji Raja Yonatan (Alexander Janneus), penguasa dinasti Hasmonaim, karena tindakannya menghukum kaum Farisi yang bersekutu dengn Demetrius III, karena menyerang bangsanya sendiri. Tetapi setelah Raja Alexander Janneus mati, Salome Alexandra meninggalkan para pendukung politik suaminya, sebaliknya bersekutu dengan kaum Farisi. Pada tahun 67 SM, Salome mengangkat putra sulungnya, Yohanes Hrykanus II menjadi Raja sekaligus sebagai Imam Besar (67-63 SM). Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan dengan Aristobulus II, adiknya, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja dan Imam Besar tahun 63 SM, ketika Pompey memasuki wilayah Yudea, dan sejak itu kekuasaan Romawi bercokol semakin kuat di Tanah Suci. Naskah-naskah yang telah disebutkan di atas banyak telah mengubah pandangan sebagian ahli, yang kemudian melacak sosok Guru Kebenaran dari latar belakang sejarah dinasti Hasmonaim yang lebih belakangan. Karena itu, awal pelayanan Guru Kebenaran (Moreh HaTsedeq) diusulkan pada awal kekuasaan Alexander Janneus (103 SM), sebagai pendukungnya dalam melawan hegemoni kaum Farisi di Bait Allah. Meskipun demikian, teori baru mengenai sosok Guru Kebenaran ini juga mengundang persoalan yang lebih pelik dipecahkan, antara lain: 1. Pesher Nahum (4QPNah), Fragmen 3-4. Kolom 1, setelah mengutip Nah. 2:11b, menafsirkan: (Ini mengacu kepada Demetrius), Raja Yunani, yang berusaha memasuki Yerusalem melalui kaum Penjilat, (tetapi kota itu tidak pernah sepenuhnya tunduk di bawah) raja-raja Yunani, dari Antiokhus sampai kedatangan

Edited by Glenn Tapidingan

3 mbang Noo orsena 13 Bam THE DE EAD SEA SCR ROLLS: Men ngguncang atau a Mendu ukung Kekri istenan

kaum Kittim m...16 Peny yebutan ka aum Kittim menunjuk kkan bahwa a naskah ini ditulis setelah ke edatangan bagsa Rom ma tahun 63 SM, ja adi setelah h kematian n Guru Kebenaran. Tetapi peristiwa yang dikisahkan, kiranya merujuk ke epada Deme etrius I Soter, yang memasu uki Yerusale em dengan n bantuan kaum penjilat, yaitu u para g Alkimus, yang y akhirny ya menjadi Imam Besar (162-159 S SM). pendukung

S Naskah Peshe er Nahum (4 4QpNah)

2. Pesher Teh hilim (4Q171), menurut tafsir Mazmur 37 3 dengan rujukan le engkap mengenai Guru Kebenaran (Mor reh HaTsed deq), Imam Jahat (Koh hen HaRasa a), dan Manusia Pendusta P (Is sh HaKazav). Tetapi naskah ini sama seka ali tidak memuat m keterangan n mengenai kaum Kit ttim (Roma awi), dan agaknya a ditulis ketika a Guru Kebenaran masih hid dup. Meskip pun uji kar rbon (C-14) naskah 4 4Q171 palin ng dini berasal dari permu ulaan Mas sehi, namun naskah ini i pasti me erupakan salinan da ari naskah yang lebih tua, t seper rti Dokume en Damascus (CD) yang sebelumny ya ditemuka an di Cairo, ternyata t m merupakan salinan da ari naskah Qumran yang g lebih tua (4Q266-273; 5Q12, dan 6Q15). sh le Yona atan (4Q44 48), memuat 3. Shir Qodes pujian kepa ada Raja Yo onatan yang oleh Wise, Abegg, da an Cook diidentikk kan denga an Alexander Janneus (103-76 SM). S Namu un Geza Ve menurut ermes, Yo onatan yan ng dimaksud adalah a Yon natan Maka abe (160-14 42 SM), raja pendahulunya, sebab b mula-mula Yonatan adalah a pe emimpin yang y sangat dihormati, sampai ia bersek kutu denga an skah Pujian kepada Raja Alexander Balas deng gan meneri ima jabatan S Nas Yon natan (4Q44 48) Imam Besa ar pada ta ahun 152 SM. S Setelah
Michael Wise, Martin M Abegg g Jr, and Ed dward Cook, The Dead Sea Scrolls, A New Tran nslation (New w York: Harp per One, 2005). Hlm. 245.
E Edited by Glenn Tapidingan T 16

Bambang Noorsena 14 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

pengasingan Guru Kebenaran, Yonatan menjadi musuh utamanya, yang kemudian disebutnya dengan Imam Jahat dalam 1 QPHab.17 Ini cocok dengan sosok Imam Jahat dalam naskah 1 QpHab, yang mula-mula setia waktu mulai memerintah, tetapi setelah berkuasa menjadi congkak. 4. Tentang penyaliban, naskah Gulungan Bait Allah (11Q19) 64: 6-13 menyajikan beberapa kasus pengkhianatan. Hukuman tersebut, sesuai dengan Ul. 21:22-23, tergantung di pohon (atau kayu). Namun tubuh orang yang digantung tidak boleh melewati malam, mayatnya harus diturunkan dan dikuburkan, agar tidak menajiskan Tanah Suci. Rupanya, teks Qumran tersebut mengkritik praktek penyaliban, yang kemudian diabadikan dalm hymne ini (4Q448). Menurut Yosefus, Antiokhus Epifanes IV, kira-kira pada tahun 167 SM, juga menghukum dengan menyalibkan orang-orang Yahudi yang menolak untuk meninggalkan tradisi leluhur mereka (Ant. 12.256).18 5. Fragmentary Historical Writings (4Q332a, 4Q331-333, 4Q468e; dan 4Q578), memuat nama tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan akhir dinasti Hasmonaim, antara lain Ptolemeus, Shelamtsiyon (Salome Alexandra), Aristoblus, dan Imam Besar Yohanan (Yohanes Hyrkanus),19 tetapi sama sekali tidak ada rujukan langsung mengenai Guru Kebenaran, karena ditulis lama sekali setelah kematian Sang Guru.

Meskipun demikian, temuan-temuan baru di atas semakin melengkapi pemahaman tentang Qumran, bahwa naskah-naskah dari berbagai zaman telah disimpan di tempat ini. Sebagian naskah itu melengkapi naskah-naskah lain, tetapi ada pula naskah yang sama sekali tidak berhubungan, karena mungkin berasal dari kelompok lain, seperti naskah Gulungan Tembaga (3Q15) dan naskah-naskah dari Gua 7 (7Q5). Jadi, meskipun banyak sarjana akhir-akhir ini memundurkan tarikh kehidupan Guru Kebenaran dari abad II SM ke abad I SM, namun karena berdasarkan Dokumen Damascus menyebut tahun awal tampilnya Guru Paguyuban tahun 176 SM, maka kesimpulan bahwa Sang Guru hidup pada akhir abad II SM, adalah kesimpulan yang paling masuk akal diantara teori-teori lain.

Philip R. Davies, George J. Brooke, and Philip R. Callaway, The Complete World of The Dead Sea Scrolls (New York: Thames and Hudson, 2002), hlm. 151.
18 19

17

William Whiston, Op. Cit., hlm. 404. Ibid., hlm. 399-403.


Edited by Glenn Tapidingan

5 Bam mbang Noo orsena 15 THE DE EAD SEA SCR ROLLS: Men ngguncang atau a Mendu ukung Kekri istenan

2.3. . KEMATIAN N SANG GURU KEBENA ARAN Selanjutnya, kema atian Sang Guru Kebenaran ini disebutkan d j juga denga an jelas dala am naskah Brit Dames sek atau Do okumen Dam mascus (CD D-A XIX: 33-3 35, dan XX.I) yang diku utip dengan n manuskrip p aslinya:

XIX 33 Ken kal ha h enashim asher b be brit ha hadasah be arets Dams sheq we she eb we yivgad we w yisr mi m bar mayim m ha hayim; ;
34

L yihsha ab besud i im we bekhe etuvim l yi iktabu mi y m ha asek k (yor moreh h)

XX

Moreh Ha ayyahad, a ad amod Ma ashiah mi Ahron we mi i yisrael.20

Artinya: XIX 33 Begitu ju uga dengan n semua orang yang memasuki jemaah P Perjanjian Baru B di Damascus, tetapi yang kembali dan tidak setia, s serta menyimpan ng dari sum mber air kehidupa an;
34

Tidaklah mereka di iperhitungk kan masuk dalam pag guyuban jemaah dan dalam buku mer reka dicatat t, terhitung mulai hari kematian. Guru Pag guyuban, sa ampai kedatangan Dia yang diura api (Sang M Mesias) dari Harun 21 dan Israel.

XX

Ungkap pan hari dikumpulkan (Ibrani: ym ha asek k) adalah be entuk singk kat dari dik kumpulkan kepada bapa-bapa leluhurnya, yang berar rti wafat, atau men ninggal dun nia (band. Kej. K 25:17). Berdasarka an penelitia an paleografi, catatan i ini ditulis se ebelum tahu un 100 SM. . Perlu dicatat pula, ba ahwa dalam m naskah ya ang mencat tat kematian Guru Paguyuban ini i, tidak dis sebut-sebut t kaum Ki ittim (sebu utan simbolis untuk bangsa Rom mawi). Sebagai bangs sa penakluk yang kej jam, bangs sa Romawi i baru memasuki
Mage en Broshi (ed d.). Op. Cit., , hlm. 46-47 7. Buku ini memuat m foto o manuskrip aslinya kolo om demi kolo om berdamp pingan denga an salinannya a dalam aksa ara Ibrani mo odern.
21 20

Ibid., hlm. 47.


E Edited by Glenn Tapidingan T

Bambang Noorsena 16 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

wilayah Israel/Palestina kira-kira tahun 63 SM. Dari tarikh ini disimpulkan bahwa Guru Kebenaran sudah wafat sebelum masuknya bangsa Romawi ke Palestina. Karena itu, perkiraan sebelum tahun 100 SM sebagai akhir hidup Guru Kebenaran, paling sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dari naskah-naskah Qumran. Penanggalan ini juga cocok dengan kesimpulan penggalian arkheologis mutakhir, bahwa permulaan pembangunan Qumran terjadi pada pemerintahan Yohanes Hyrkanus (135-104 SM).22 Dapat disimpulkan, bahwa berbagai spekulasi yang memundurkan tarikh kehidupan Guru Kebenaran pada permulaan tarikh Masehi, supaya dapat mengaitkan dengan Yesus, Yakobus, dan sebagainya, terbukti sangat lemah dan tidak mempunyai dasar historis.

S Manuskrip Da (4Q266) atau Dokumen Damascus ternyata isinya sama dengan manuskrip Zadokkite Document yang diketemukan di Cairo pada tahun 1910.

3. PERBEDAAN AJARAN TEOLOGIS ESENI DENGAN YESUS KRISTUS DAN KEKRISTENAN PERDANA 3.1. BERAKAR DARI WARISAN SEJARAH BERSAMA Persamaan-persamaan baik dalam pola hidup maupun term-term keagamaan antara kaum Eseni dengan Kekristenan, pada awal-awal penemuan Laut Mati telah melahirkan berbagai spekulasi cerdik. Mulai dari teori bahwa Yesus adalah Guru Kebenaran itu sendiri, hingga ejekan kasar bahwa tidak ada keunikan antara Iman
22

E.W. Tuinstra dan I.W.J. Hendrik, Op. Cit., hlm. 53.


Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 17 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Kristen, sebab bahasa dan pengajaran Perjanjian Baru, khususnya Injil Yohanes, tidak lain hanya jiplakan dari pemikiran madzab Eseni di Qumran. Setelah 60 tahun berlalu sejak penemuannya pertama kali tahun 1947, sekarang Qumran bukan misteri lagi. Kesamaan-kesamaan dalam sejumlah terminologi itu, bukan hal yang aneh lagi, karena baik Kekristenan maupun Qumran sama-sama berakar dari ibu yang satu, yaitu agama Yahudi, bahkan berdasarkan kepada Kitab Suci yang sama. Penemuan ini justru mestinya menyadarkan para pelemikus, bahwa di dunia ini ada tiga komunitas agama, yang sudah berpisah kurang lebih 2.000 tahun, tetapi tetap mendasarkan pada Kitab Suci sebagai sumber tertulis yang satu dan sama, yaitu Yahudi dengan berbagai madzabnya, Samaria sebagai komunitas kuno yang masih bertahan sebagai minoritas kecil di Palestina, dan Kristen dengan berbagai denominasinya. Sebaliknya, umat Islam bisa saja meng-claim bahwa mereka juga mempercayai Taurat, tetapi kenyataannya umat Islam hanya membayangkan ada wahyu Tuhan yang bernama Taurat (dan yang mereka pahami menurut pengertian mereka sendiri tentang wahyu Tuhan), tetapi begitu dihadapkan pada kenyataannya bahwa wahyu Allah yang ada tidak seperti yang mereka bayangkan, langsung mengembangkan tuduhan pemalsuan (tahrif). Tetapi bagaimana dengan kenyataan bahwa eksistensi Taurat Yahudi, Samaria, dan Kristen ternyata sama meskipun ketiga komunitas mengembangkan penafsiran yang berbeda?23 Kaum polemikus yang tetap tidak mau sungguh-sungguh belajar, sebaliknya mereka justru hidup dalam mental getto membangun benteng pertahanan demi menjamin rasa aman keyakinan agamanya sendiri. Sekarang bertambah lagi satu bukti dengan ditemukannya Naskah-Naskah Laut Mati. Dengan mengesampingkan perbedaan kecil dalam rincian aksara dan cara baca yang kadang-kadang berbeda, yang semuanya kini dikaji secara ilmiah dalam ilmu kritik salinan, Perjanjian Lama Qumran menambahkan satu bukti manuskrip yang berusia lebih dari 2000 tahun. Tetapi mereka sama sekali bergeming dengan bukti-bukti, sebaliknya justru mengotak-atik sesuatu yang mereka tidak ada keahlian untuk itu, kemudian secara serampangan mengembangkan opini sendiri. Misalnya ungkapan Perjanjian Baru (HaBrit HaHadasah) dalam naskah-naskah Qumran, dijadikan bukti untuk menyimpulkan bahwa Kekristenan hanya menjiplak kaum Eseni.24 Padahal ungkapan itu terdapat dalam Yer. 31:30-31, dimana Allah berjanji akan mengadakan
Kajian ilmiah mengenai tema ini, lihat: Thord and Maria Thordson, Qumran and the Samaritans (Jerusalem: Emerezian Establishment, 1966), hlm. 19. Pembaca yang serius mestinya cukup disadarkan ketika membaca tulisan M. Hashem, Tantangan dari Gua Qumran, yang memasang salah satu halaman manuskrip Qumran dalam bahasa asli Ibrani saja, terbalik (M. Hashem, Op. Cit., hlm 12). Apakah anda harus membuang-buang waktu untuk terus membacanya? Naskah-naskah Laut Mati yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam, dipaksakan untuk mendukung kebenaran agama Islam.
Edited by Glenn Tapidingan 24 23

Bambang Noorsena 18 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

pembaruan perjanjian dengan umat Israel dan Yehuda, dan baik komunitas Eseni maupun gereja merasa bahwa nubuat itu telah digenapi dalam diri mereka. Sama sekali, karena kaum Eseni maupun Kekristenan sama-sama berakar dari agama Yahudi, bahkan mendasarkan pada Kitab Suci yang satu.

3.2. YOHANES PEMBAPTIS, YESUS KRISTUS DAN PAGUYUBAN ESENI 3.2.1. Yohanes Pembaptis Pada awal-awal penemuan Qumran ada beberapa orang yang menyangka bahwa Yohanes Pembaptis adalah salah seorang pengikut paguyuban Eseni. Anggapan itu didasarkan atas fakta bahwa baik Yohanes maupun kaum Eseni menekankan babtisan sebagai pengampunan dosa, dan hidup di padang gurun (Mark. 1:4-6). Meskipun demikian, apabila dicermati lebih dalam, ada perbedaan yang sangat mencolok antara Yohanes Pembabtis dan kaum Eseni, yaitu sebagai berikut: 1. Yohanes hidup sebagai seorang nazir yang tidak minum anggur (Luk. 1:15), makanannya kacang belalang dan madu hutan (Mat. 3:4, RSV),25 gaya hidup yang tidak dijumpai pada suku Eseni; 2. Orang Eseni mempunyai ritus babtisan (mikweh) yang dilakukan beberapa kali dalam setiap hari, tetapi babtisan Yohanes Pem-babtis hanya satu kali sebagai pembabtisan pertobatan (Mrk. 1:4-6); 3. Misi Yohanes bersifat terbuka untuk semua orang, sedangkan kaum Eseni bersifat eksklusif sebatas pada paguyuban (yahad) mereka sendiri. Dengan demikian, meskipun Yohanes Pembabtis berkarya di tempat dan konteks yang tidak jauh berbeda, namun teori yang mengakitkan Yohanes Pembaptis dengan kaum Eseni sama sekali tidak terbukti. Jadi, meskipun keduanya sama-sama berkarya di padang gurun, namun gaya hidup, sikapnya terhadap komunitas luar dan ajaran Yohanes Pembabtis cukup berbeda dengan kaum Eseni di Qumran.

3.2.2. Yesus Kristus Bukan Guru Kebenaran Pendiri Paguyuban Eseni Selanjutnya, banyak kesejajaran terminologis antara naskah-naskah Eseni dengan Perjanjian Baru, telah melahirkan minat para peneliti awal untuk mencari asalusul Kekristenan Perdana dari naskah-naskah Laut Mati. Misalnya, kehidupan jemaah
Dalam bahasa asli kata yang secara salah diterjemahkan belalang adalah akrides yang artinya: locust bean (kacang belalang) atau buah dari pohon carob yang bentuknya menyerupai belalang dan rasanya seperti coklat.
Edited by Glenn Tapidingan 25

Bambang Noorsena 19 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Kristen perdana (Kis. 2:42-47) yang tidak menekankan kepemilikan pribadi, ternyata juga sejajar dengan cara hidup komunitas Eseni. Begitu dalam beberapa ajaran teologisnya, munculnya tokoh Melkisedek dan pemaknaan teologis dalam hubungannya dengan Mesias (Ibr. 7:1-9), hubungan Kristus dan malaikat-malaikat-Nya (Ibr. 2:5-18), juga ditemukan banyak sekali kesejajaran dengan pemikiran madzab Qumran. Lebih dekat lagi, gambaran mengenai gelap (hosekh) dan terang (or), dan juga sosok Melkisedek dalam Surat Ibrani, sangat berdekatan secara terminologis dengan naskah-naskah dari Qumran. Dari kenyataan di atas, penemuan naskah-naskah Qumran tidak hanya bermanfaat bagi studi Perjanjian Lama, tetapi lebih-lebih juga bagi Perjanjian Baru. Sebelum penemuan Laut Mati, latar belakang sejarah, budaya dan pemikiran keagamaan di belakang Yesus dan rasul-rasul-Nya seolah-olah kosong selama hampir 2.000 tahun. Penemuan Naskah Laut Mati mengisi celah kosong itu. Celah kosong itu yang antara lain diisi oleh para teolog liberal, misalnya dengan teori mereka bahwa ide mengenai keilahian Yesus berasal dari pemikiran pagan Yunani (Hellenisme), dan gelar Tuhan bagi Yesus Kristus (Kis. 2:36; Flp. 2:11), seasal dengan Kyrios (Tuhan) dari dunia pagan yang antara lain diterapkan juga bagi Kaisar Romawi. Ternyata fragmen-fragmen Laut Mati yang baru-baru ini diterbitkan, khususnya fragmen Putra Allah (4Q246) dan Mesias surga dan bumi (4Q521), justru meneguhkan ajaran Kristen mengenai keilahian dan ketuhanan Yesus. Maksudnya, ide Kristen tersebut tidak berasal dari gagasan non-Yahudi, sebaliknya sudah dijumpai dalam harapan mesianis Qumran, sebagai salah satu cabang dari Yudaisme.26 Meskipun demikian, perbedaan mencolok antara Qumran dengan Kekristenan, juga cukup untuk mendukung kesimpulan bahwa Kekristenan sebagai komunitas iman yang tumbuh dari Yudaisme sebagai induknya, tetap mempertahankan keunikannya sendiri. Salah satu contoh dapat dikemukakan disini, bahwa penggenapan nubuat mesianis, Yesus Kristus sekaligus Nabi, Imam, dan Raja. Paguyuban Qumran agaknya membedakan Sang Nabi yang akan datang, yang dinubuatkan Taurat (Ul. 18:15-18), sebagai tokoh yang akan datang pada akhir zaman, dibedakan dengan sosok Sang Mesias Harun dan Israel. Gagasan tersebut mirip dengan literatur Yahudi pada umumnya yang menantikan kehadiran seorang nabi yang menyiapkan jalan bagi Sang Mesias. Malahan pula, kadang-kadang seorang figur lain lagi juga diharapkan datang pada akhir zaman, seperti yang disebut dalam naskah Dokumen Damascus (CD XX,11):

Mengenai pengharapan mesianik Yahudi dalam perspektif rabi-rabbi Yahudi praKristen dan kesejajarannya dengan pandangan Kristen, lihat dua buku Risto Santala, The Messiah in The New Testament in The Light of Rabbinical Writings (Jerusalem: Keren Ahvah Meshihit, 1992), hlm. 27-31; dan Al-Masih fi Al-Ahd al-Qadim (Cairo: Al-Jami wa al-Ikhraj AlFani wa al-Thabah, 2003), hlm. 39-62.
Edited by Glenn Tapidingan

26

Bambang Noorsena 20 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

... ad amod yoreh haTsedeq be aherit hayyamim

Artinya: ... sampai kedatangan seorang yang akan mengajarkan ajaran yang benar pada akhir zaman.27

Berdasarkan perbedaan konsep yang cukup mencolok itu, jelas bahwa Yesus bukan bergantung kepada sekte Eseni. Dan sebagaimana telah disinggung sebelumnya, term-term yang sama tidak berarti apa-apa untuk membuktikan ketergantungan Yesus dan Gereja Perdana terhadap Paguyuban Qumran. Misalnya, teori yang menghubungkan tema Injil Yohanes tentang terang dan gelap dari salah satu naskah berjudul Milkamah Bene Or we Bene Hosyek - Perang (1QM), sudah dianggap gugur. Sebab dalam pandangan dualisme Qumran perang itu bersifat abadi, karena manusia memang berada dalam medan tempur abadi antara dua roh, yaitu roh yang baik dan roh yang jahat, sedangkan dalam Injil Yohanes: Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh. 1:5). Maksudnya, terang telah menang atas kegelapan. Diakui, tema dua roh ini memang muncul juga dalam

Sosok ini pernah disalahpahami sebagai kedatangan kembali Guru Kebenaran pada akhir zaman. Kesimpulan ini akibat penafsiran Dupont-Sommer yang salah dari kata yoreh haSedeq sebagai Guru Kebenaran: Ad amod yoreh haTsedeq be aherit hayyamim (... until the coming of the teacher of rightousness at the ends of days). Sebagai perbandingan, Joseph A. Fitsmyer mengutip Hos. 10:12 dalam teks asli: ad yab we yoreh tsedeq lakhem (till he comes and ruins down rightousness upon you). Karena itu, Yoreh haTsedeq tidak merujuk kepada Guru Kebenaran (Joseph A. Fitsmyer, Op. Cit., hlm. 62-63).
Edited by Glenn Tapidingan

27

Bambang Noorsena 21 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Kekristenan purba yang agak belakangan, misalnya dalam Surat Barnabas (Epistle of Barnabas),28 tetapi tidak muncul dalam ayat-ayat Perjanjian Baru. Selanjutnya, kalau Guru Kebenaran masih menantikan saat kemenangan anakanak terang atas anak-anak gelap, Yesus bersabda: Akulah Terang Dunia, barangsiapa percaya kepada Ku ia tidak lagi berjalan dalam kegelapan, melainkan telah memperoleh terang kehidupan (Yoh. 8:12). Perbedaan yang paling mencolok lagi, legalisme Qumran bertabrakan dengan ajaran Yesus mengenai Hukum Taurat. Guru Kebenaran mencela orang-orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat apapun alasannya, sedangkan Yesus menyembuhkan orang dan memberi makan orang yang lapar pada hari Sabat. Karena ungkapan: Hari Sabat diciptakan untuk manusia, dan bukan manusia diciptakan untuk hari Sabat (Mrk. 2:27), dan Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk. 2:28), sangat bertolak belakang dengan pandangan Qumran yang sangat legalistik. Yesus sering mengkritik pedas kaum Farisi karena kemunafikan mereka, namun Yesus tetap mengakui otoritas mereka untuk menduduki Kursi Musa (Mat. 23:2-3), sebaliknya kaum Eseni hanya mereka yang berhak menafsir Taurat. Jadi, Guru Kebenaran hanya mengaku sebagai pengajar dan pelaku Taurat, sebaliknya Yesus Kristus mengklaim diri-Nya sebagai penggenap Taurat dan Kitab Para Nabi (Mat. 5:17; Luk. 4:21). Semua fakta ini dengan jelas dapat kita pahami, karena Yesus adalah Mesias itu sendiri, sedangkan Sang Guru Kebenaran masih berdoa:

- ... ad amod Mashiah mi Ahron we mi yisrael - ...


sampai datangnya Sang Mesias dari Harun dan Israel (CD-A XIII, 23-24).29

Dokumen Gereja purba yang disebut Epistle of Barnabas (Arab: Rislah Barnb) ini harus dibedakan dengan dokumen palsu berbahasa Itali dan Spanyol dari abad ke-16M yang berjudul Injil Barnb/The Gospel of Barnabas (Injil Barnabas). Perlu diketahui pula, bahwa dalam sebuah dokumen abad ke-6M berjudul Dekrit Pseudo-Gelasius I, menyebut ada satu naskah lagi yang memakai nama Barnabas, yaitu The Act of Barnabas (Kisah Barnabas) yang ditulis pada abad ke-5M, yang secara salah disebut Injil Barnabas. Padahal apa yang disebut Injil Barnabas sendiri tidak pernah ada, sampai ditulisnya buku Injil Barnabas, hasil pemalsuan dari abad pertengahan yang lahir dari konteks polemik Kristen-Islam. Lihat: Bambang Noorsena, Telaah Kritis Injil Barnabas (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1993). Juga: Bishai Abd alMasij, Barnab Rasl al-Mash: Haytuhu wa Rislatuhu (Cairo: Maktabah an-Nasyir li athThabah, 2001). Kenyataan bahwa kaum polemik Muslim tidak bisa memilah-milah dokumen palsu dan sumber sejarah otentik, memang sangat memalukan jagad pemikiran ilmiah. Lihat: M.A. Yusseff, Naskah Laut Mati, Injil Barnabas dan Perjanjian Baru (Jakarta: Fima Rodheta, 2006). Pemakaian dokumentasi palsu dalam dialog Kristen-Islam, sudah lama disayangkan oleh Prof. Dr. H.A. Mukti Ali. Florentino Garcia Martinez and Eibert J.C. Tigchelaar (ed.), Op. Cit., hlm. 570-571. Magen Broshi (ed.), Op. Cit., hlm. 22-23. Florentino Garcia Martinez, The Dead Sea Scrolls Translated. The Qumran Text in English Complete in One Volume (Leiden-New York-Cologne: E.J. Brill, 1992), hlm. 62-63.
Edited by Glenn Tapidingan 29

28

Bambang Noorsena 22 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

W Dr. Bambang Noorsena di depan Shrine of the Book, Museum Israel, Yerusalem, di sini naskahnaskah Alkitab Perjanjian Lama berusia lebih dari 2.000 tahun disimpan.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dirangkum persamaan dan perbedaan antara Yesus dan Guru Kebenaran dalam Tabel 3.3. sebagai berikut: TABEL 3.3. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA YESUS KRISTUS DAN GURU KEBENARAN

No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

YESUS KRISTUS
Yesus adalah Anak Allah, Kelahiran Ilahi dari Allah. Mesias adalah Imam, Nabi dan Raja Yesus adalah Terang yang sudah datang dalam dunia Jemaat Perjanjian Baru Menolak sumpah 70 masa Daniel sudah datang Memakai kalender bulan (qamariyah).30 Menerima Institusi Bait Allah di Yerusalem.

GURU KEBENARAN
Menunggu kedatangan Mesias Anak Allah, Kelahiran Ilahi Mesiah. Mesias adalah Imam, Nabi dan Raja (tetapi tidak jelas hubungannya) Perang antara anak-anak terang dan anak-anak gelap terus berlangsung Jemaat Perjanjian Baru Memberlakukan sumpah untuk jemaat Tidak jelas Memakai kalender matahari (syamsyiah). Menolak institusi Bait Allah di Yerusalem.

Setelah gereja perdana berkembang di luar Israel memakai berbagai sistem kalender: Kalender Matahari (syamsyiah) di Antiokia, dan Kalender Bintang (kawakibiyah) di Mesir sebagai konsekuensi pesan kontekstualisasi (Mat. 28:19. Kata panta ta ethne (segala bangsa, segala etnik bangsa-bangsa), termasuk bahasa, budaya dan sistem kalendernya.
Edited by Glenn Tapidingan

30

Bambang Noorsena 23 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

No.
10. 11.

YESUS KRISTUS
Menerima kaum goyim (non-Yahudi) sebagai jemaah. Menerima anggota wanita dalam jemaah. Bergaul dengan semua aliran, menerima otoritas Farisi menduduki kursi Musa, mengkritik kelakuannya. Menerima orang yang tidak tahir dalam ibadah, menekankan kesucian batin dalam ibadah. Beribadah di semua sinagoge (Rumah Ibadah) Mengajar semua orang dalam jemaah. Mengasihi musuh. Menolak tafsiran bebas dalam Taurat. Mengaku diri lebih tinggi dari Musa, dan menggenapi Taurat dan Kitab para Nabi. Yesus mengaku diri sebagai MesiahImam, Nabi dan Raja. Bersikap luwes terhadapSabat, Tuhan atas Hari Sabat. Kerajaan Allah sebagai ajaran yang utama.

GURU KEBENARAN
Menolak kaum goyim (non-Yahudi) sebagai jemaah. Menolak anggota wanita dalam jemaah. Menolak semua aliran keagamaan yang berbeda dengan Eseni. Tidak menerima orang yang tidak tahir, menekankan kesucian badani dalam ibadah. Berdoa dengan sektenya sendiri. Mengajar hanya khusus kepada anggota jemaahnya. Membenci musuh. Menambahkan tafsiran-tafsiran baru dalam Taurat. Hanya menjadi penafsir dan pemelihara Taurat. Guru Kebenaran menantikan kedatangan Mesiah bagi Harun dan Israel. Sangat kaku dan legalistik mengenai Sabat. Sedikit sekali mengajarkan Kerajaan Allah.

12.

13. 14. 14. 15. 16. 17.

18. 19. 20.

(Sumber: Berbagai rujukan sejarah, diolah).

4. CATATAN PENUTUP Antusiasme pada awal-awal penemuan Laut Mati untuk mencari asal-usul Kekristenan Perdana dari Laut Mati memang selalu manarik minat para teolog Barat, yang memang secara historis telah tercabut dari akar Gereja Perdana. Karena itu, setiap temuan seputar latarbelakang kehidupan religius pra-Kristiani di wilayah Israel, selalu mengundang sensasi. Namun telah terbukti bahwa banyak paralel yang ditemui antara naskah-naskah Qumran dan Kekristenan Perdana, ternyata tidak lebih karena keduanya berakar pada latarbelakang warisan spiritual dan kultural yang sama, yaitu
Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 24 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Yudaisme kuno pada abad-abad menjelang kelahiran Yesus Kristus dan Kekristenan Perdana. Selanjutnya, meskipun teori bahwa Guru Kebenaran adalah Yesus Kristus sendiri tidak lahir dari seorang pakar yang serius, tetapi karena teori serampangan ini sering dikembangkan dalam tulisan-tulisan polemis, informasi yang akurat yang merujuk langsung pada teks-teks asli naskah-naskah Laut Mati perlu dikemukakan di sini, bukan sekedar untuk meluruskan kesalahfahaman tetapi lebih-lebih secara jujur dan apa adanya mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya dan makna penting penemuan tersebut bagi kehidupan iman, khususnya Yahudi dan Kristen yang merujuk kepada Kitab Suci yang satu dan sama.
Gulungan Naskah Nabi Yesaya (lebar 31 cm dan lebar 731 cm) dipasang di Shrine of the Book, Museum Israel, Yerusalem. Inilah gulungan naskah asli Alkitab terbesar Naskah Laut Mati yang berusia lebih dari 2000 tahun W

X Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sedang mengamati naskah Nabi Yesaya yang disimpan di Shrine of The Books, Museum Israel, Yerusalem.

Edited by Glenn Tapidingan

Bambang Noorsena 25 THE DEAD SEA SCROLLS: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan

Salah satu fakta yang perlu diluruskan, Guru Kebenaran (Moreh HaTsedeq) atau Guru Paguyuban (Moreh HaYahad) memang sudah pasti bukan Yesus Kristus. Guru Kebenaran masih harus menunggu kedatangan Sang Mesiah Harun dan Israel, sedangkan Yesus menegaskan bahwa diri-Nya adalah Sang Mesiah. Karena itu konsekuensi dari gugurnya teori bahwa Yesus Kristus adalah Guru Kebenaran, pendiri Paguyuban Eseni, atau minimal dipengaruhi oleh madzab Qumran itu, maka segala spekulasi para penelaah pada tahun-tahun awal penemuan The Dead Sea Scrolls, seperti Charles Francis Potter dan A. Powell Davis, yang kemudian diikuti atau dijiplak sejauh menguntungkan oleh para polemikus Muslim, seperti H.M. Rasjidi, Saleh A. Nahdi, M. Hashem, M.A. Jussef, dan masih banyak lagi, benar-benar hanya tinggal sebagai opini tanpa bukti.

Edited by Glenn Tapidingan