Anda di halaman 1dari 21

75 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.

1 Kebutuhan Air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir Analisis kebutuhan air dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu: Kebutuhan air domestik, kebutuhan air untuk pertanian, dan kebutuhan air untuk industri. Kebutuhan air menurut wilayah administratif meliputi 5 kabupaten yang tercakup di dalam wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir, seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.1. Jumlah kecamatan yang masuk ke wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir adalah 88 kecamatan. Luas Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir adalah 7292,77 km2.

Kabupaten Bojonegoro merupakan kabupaten yang memiliki wilayah terluas yaitu 2384,02 km2 dari luas keseluruhan wilayah sungai Bengawan Solo Hilir, sedangkan Kabupaten Mojokerto dengan luas wilayah 77,50 km2 dari luas keseluruhan wilayah sungai Bengawan Solo Hilir merupakan kabupaten dengan luas terkecil. Peta Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir menurut batas kecamatan dibandingkan dengan luas wilayah kabupaten disajikan dalam gambar 4.1. 4.1.1 Kebutuhan Air Domestik Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan standar kebutuhan air penduduk di masing-masing wilayah administratif. Standar kebutuhan air penduduk mengacu pada standar kebutuhan air pada masing-masing daerah sesuai dengan ketetapan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Perbedaan nilai standar kebutuhan air ini mengindikasikan tingkat perkembangan dan kondisi ekonomi masing-masing wilayah administratif. Standar kebutuhan air tiap kabupaten dan kotamadya disajikan dalam tabel 4.1.
Tabel 4.1 Standar Kebutuhan Air Penduduk di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir
No. 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kodya Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Mojokerto
PDAM Kabupaten Mojokerto

Standar Kebutuhan Air (liter/orang/hari) 120 100 110 120 60

Sumber : PDAM Kabupaten Bojonegoro,PDAM Kabupaten Tuban, PDAM Kabupaten Lamongan,PDAM Kabupaten Gresik,

Nilai standar kebutuhan air diatas diperoleh berdasarkan perhitungan sebagai berikut (sebagai contoh untuk Kabupaten Tuban) :

75 Air terjual Jumlah pelanggan (per sambungan rumah) Asumsi jumlah jiwa per sambungan rumah Air terjual dikonversikan menjadi liter/tahun Jumlah penduduk yang mengkonsumsi air = 4.439.020 m3/tahun = 20.744 unit = 6 jiwa/sambungan = 4.439.020.000 liter/tahun = 20.744 x 6 = 124.464 jiwa Kebutuhan air penduduk Kabupaten Tuban = (4.439.020.000/124.464)/365 = 97,7 liter/orang/hari dibulatkan menjadi = 100 liter/orang/hari

(Perhitungan di atas dilakukan berdasarkan data pada lampiran 13) Data jumlah penduduk yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam pemenuhan kebutuhan air domestik yang terdiri atas penggunaan air untuk minum, memasak, mencuci, mandi dan lain sebagainya. Kebutuhan air bulanan untuk kebutuhan rumah tangga tiap kabupaten dan kota disajikan pada tabel 4.2. Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir dengan jumlah penduduk 4.456.164 orang memiliki tingkat kebutuhan air domestik sebesar 182,05 juta m3/tahun. Kebutuhan air domestik terbesar terdapat di Kabupaten Bojonegoro yang meliputi 25 kecamatan dengan tingkat kebutuhan sebesar 49,92 juta m3/tahun, dan terkecil di Kabupaten Mojokerto yang meliputi 1 kecamatan saja dengan tingkat kebutuhan sebesar 0,97 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.2). Kebutuhan air menurut kecamatan, terbesar terdapat di Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik (103.715 orang) sebesar 4,54 juta m3/tahun, dan terkecil di Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan (19.913 orang) yang hanya sebesar 0,80 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada lampiran 1). Contoh Perhitungan : Misal diambil Kabupaten Mojokerto dengan jumlah penduduk 44.375 orang Standar kebutuhan air = 60 liter/orang/hari Kebutuhan air = ((44.375 x 60 x 365)/1000) / 1000000 = 0,97 juta m3/tahun 4.1.2 Kebutuhan Air Pertanian Dalam penelitian ini, besarnya kebutuhan air di sektor pertanian mencakup besarnya kebutuhan air untuk irigasi, perikanan, dan peternakan. Kebutuhan air irigasi untuk suatu lahan persawahan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: curah hujan, evapotranspirasi, perkolasi, kebutuhan air untuk penyiapan lahan, pola tanam,

75 intensitas tanam, penggantian lapisan genangan dan efisiensi irigasi. Kebutuhan air untuk perikanan ditentukan oleh dua faktor utama yaitu: jenis budidaya perikanan dan luas area untuk usaha perikanan. Kebutuhan air untuk peternakan ditentukan oleh banyaknya tiap jenis usaha peternakan dan standar konsumtif tiap jenis ternak. 4.1.2.1 Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan air irigasi di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir dihitung berdasarkan pola tata tanam yang ada di lapangan sesuai dengan data dari Dinas Pengairan masing-masing kabupaten. Jumlah keseluruhan Daerah Irigasi (D.I) di wilayah sungai Bengawan Solo Hilir adalah sebanyak 175 D.I dengan luas Daerah Irigasi 180.054 ha. Total kebutuhan air irigasi adalah 1.629,78 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.3). Kebutuhan air irigasi menurut kabupaten yang terbesar adalah di Kabupaten Bojonegoro yaitu sebesar 573,14 juta m3/tahun dan yang terkecil adalah di Kabupaten Tuban yaitu sebesar 202,79 juta m3/tahun. Kebutuhan air irigasi menurut D.I, yang terbesar berada di D.I. Trucuk Bojonegoro dengan luas 16.688 ha dengan kebutuhan air sebesar 171,155 juta m3/tahun dan yang terkecil adalah D.I Lomanis Tuban dengan luas 4 ha kebutuhan air sebesar 0,01 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada lampiran 2 Tabel D dan Tabel N). Besarnya kebutuhan air irigasi di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir berdasarkan pembagian wilayah administratif (kabupaten) disajikan pada tabel 4.3. 4.1.2.2 Kebutuhan Air Perikanan Dalam perhitungan kebutuhan air perikanan berdasarkan dari luas kolam, sawah, dan perairan umum untuk budidaya perikanan. Dalam penelitian ini kebutuhan air perikanan dikategorikan menjadi dua macam yaitu : 1. Kebutuhan air konsumtif 2. Kebutuhan air non konsumtif Kebutuhan air konsumtif adalah kebutuhan air untuk budidaya perikanan kolam karena budidaya perikanan kolam memerlukan air penggenangan area kolam, sedangkan kebutuhan air non konsumtif meliputi : budidaya perikanan sawah, sungai, waduk, keramba, telaga dan perairan umum yang tidak memerlukan pengalokasian air secara khusus. Budidaya perikanan non konsumtif tidak memerlukan penggenangan area perikanan karena budidaya tersebut berada di dalam area genangan/sungai. Menurut Cahyono (2000) untuk usaha perikanan kolam, selain mutu air harus baik jumlahnya pun harus mencukupi untuk mengairi seluruh areal kolam. Jika jumlah air

75 tidak mencukupi, maka tidak seluruh kolam bisa dipergunakan sesuai fungsinya. Debit air yang memenuhi persyaratan di atas dialokasikan antara 10-15 liter/detik/ha. Besarnya kebutuhan air untuk perikanan dihitung berdasarkan alokasi debit di atas dikalikan dengan luas areal usaha perikanan. Data luas areal perikanan diperoleh dari Badan Pusat Statistik masing-masing kabupaten. Besarnya kebutuhan air untuk perikanan di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir disajikan pada tabel 4.4 dan tabel 4.5. Dari perhitungan dalam tabel 4.4 dan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa besarnya kebutuhan air sektor perikanan di wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir secara keseluruhan adalah 1087,81 juta m3/tahun (dengan luas usaha perikanan kolam 357,26 ha (Dapat dilihat pada tabel 4.4) dan perikanan tambak sebesar 730,54 ha (Dapat dilihat pada tabel 4.5)). Kebutuhan air untuk perikanan menurut kabupaten yang terbesar adalah di Kabupaten Gresik yaitu sebesar 671,81 juta m3/tahun (18285,20 ha). Sedang yang terkecil adalah Kabupaten Mojokerto yang hanya sebesar 0,21juta m3/tahun. Contoh perhitungan : Misal diambil pada perikanan kolam Kabupaten Mojokerto dengan luas 0,44 ha Standar kebutuhan air = 15 liter/detik/hektar Kebutuhan air = ((0,44 x 15 x 24 x 60 x 60 x 365)/1000)/1000000 = 0,21 juta m3/tahun Misal diambil pada perikanan tambak Kabupaten Tuban dengan luas 531 ha Standar kebutuhan air = 9,33 liter/detik/hektar Kebutuhan air = ((531 x 9,33 x 24 x 60 x 60 x 180)/1000)/1000000 = 77,05 juta m3/tahun Karena pada perikanan tambak komposisi penggunaan airnya meliputi 25% dari air tawar dan 75% dari air laut maka kebutuhan air untuk tambak dapat diperkirakan sebagai berikut : Kebutuhan air tambak = 77,05 x 25% = 19,26 juta m3/tahun Komposisi konsumsi air pada tambak diatas yaitu sebesar 25% air tawar dan 75% air laut diketahui berdasarkan hasil wawancara langsung di lapangan dengan para petani tambak di Kabupaten Tuban. Berdasarkan wawancara ini pula dapat diketahui bahwa sebelum tahun 2005 komposisi air tawar hanya sebesar 10%, namun karena meningkatnya pencemaran air laut maka semenjak tahun 2005 komposisi dari air tawar ditingkatkan menjadi 25%.

75 Besarnya kebutuhan air untuk usaha perikanan kolam memerlukan alokasi air secara khusus seperti dinyatakan sebelumnya, namun alokasi air ini tidak habis terpakai oleh usaha perikanan kolam tersebut. Hal ini dikarenakan setelah air diambil untuk dialirkan ke dalam kolam maka selanjutnya air tersebut mengalir kembali ke sungai. 4.1.2.3 Kebutuhan Air Peternakan Kebutuhan air peternakan dihitung berdasarkan jumlah ternak dan standar kebutuhan air bagi masing-masing tiap jenis ternak. Besarnya standar kebutuhan air untuk tiap jenis ternak didapatkan berdasarkan studi literatur yang disajikan pada tabel 4.6 Data jenis dan jumlah ternak diperoleh dari BPS masing-masing kabupaten yang disajikan pada tabel 4.7. Tabel 4.6 Standar Kebutuhan Air Untuk Berbagai Jenis Ternak
No 1 2 3 4 5 Jenis Ternak Sapi1) Ayam Buras2) Ayam Ras Petelur3) Kambing Ettawa4) Itik5) Standar Kebutuhan Air (liter/ekor/hari) 40,00 0,14 0,18 3,33 0,14
4)

Sumber: 1) Santosa (2004), 2) Rukmana (2003), 3)Sudaryani dan Santosa (2003), (2005),5) Sirregar (1996).

Setiawan dan Tanius

Jenis usaha ternak yang ada di wilayah DAS Bengawan Solo Hilir meliputi: sapi perah, sapi potong, kerbau, kuda, domba, kambing, ayam sayur, ayam ras potong, ayam ras petelur, enthok dan itik. Untuk menentukan standar kebutuhan air berdasarkan literatur di atas, maka jenis usaha ternak sapi perah, sapi potong, kerbau, dan kuda dikelompokkan dan diasumsikan mempunyai standar kebutuhan air sama dengan jenis usaha ternak sapi. Jenis usaha ayam sayur dan ayam ras potong diasumsikan mempunyai standar kebutuhan air sama dengan ayam buras. Untuk jenis usaha ternak kambing dan domba diasumsikan mempunyai standar kebutuhan air sama dengan jenis usaha ternak kambing Ettawa. Untuk ternak enthok diasumsikan mempunyai standar kebutuhan air sama dengan itik yang dapat dilihat pada tabel 4.6. Dari perhitungan dalam tabel 4.8 diketahui bahwa besarnya kebutuhan air untuk peternakan di wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir secara keseluruhan adalah 149,11 juta m3/tahun. Kebutuhan air peternakan menurut kabupaten terbesar adalah di Kabupaten Bojonegoro yaitu sebesar 69,14 juta m3/tahun. Sedang yang terkecil adalah Kabupaten Mojokerto sebesar 0,58 juta m3/tahun. Contoh perhitungan : Misal diambil contoh pada Kabupaten Mojokerto Jumlah ternak sapi perah = 9896 ekor

75 Standar kebutuhan air = 40 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((9896 x 40)/1000) x 31)/1000000 = 0,012 juta m3/bulan Jumlah ternak sapi potong = 1588 ekor Standar kebutuhan air = 40 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((1588 x 40)/1000) x 31)/1000000 = 0,002 juta m3/bulan Jumlah ternak kuda = 24 ekor

Standar kebutuhan air = 40 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((24 x 40)/1000) x 31)/1000000 = 0,00003 juta m3/bulan Jumlah ternak domba = 554 ekor

Standar kebutuhan air = 3,33 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((554 x 3,33)/1000) x 31)/1000000 = 0,0007 juta m3/bulan Jumlah ternak kambing = 696 ekor Standar kebutuhan air = 3,33 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((696 x 3,33)/1000) x 31)/1000000 = 0,0009 juta m3/bulan Jumlah ternak ayam ras potong = 1400 ekor Standar kebutuhan air = 0,135 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((1400 x 0,135)/1000) x 31)/1000000 = 0,0017 juta m3/bulan Jumlah ternak ayam ras petelur = 25490 ekor Standar kebutuhan air = 0,177 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((25490 x 0,177)/1000) x 31)/1000000 = 0,0316 juta m3/bulan Jumlah ternak itik = 330 ekor Standar kebutuhan air = 0,14 liter/ekor/hari Kebutuhan air ternak = (((330 x 0,14)/1000) x 31)/1000000 = 0,0004 juta m3/bulan Kebutuhan air untuk ternak = 0,012 + 0,002 + 0,0003 + 0,0007 + 0,0009 + 0,0017 + 0,0316 + 0,0004 = 0,05 juta m3/bulan

75 Untuk perhitungan yang lain, tiap Kabupaten dihitung tiap bulannya lalu

kemudian dari kebutuhan air bulanan dijumlahkan menjadi kebutuhan air tahunan. 4.1.2.4 Total Kebutuhan Air Pertanian Dari ketiga sub sektor di bidang pertanian yaitu irigasi, perikanan, dan peternakan yang telah dihitung pada sub bab sebelumnya maka dapat diketahui total kebutuhan air untuk sektor pertanian di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir sebesar 5.058,33 juta m3/tahun. Proporsi total kebutuhan air di sektor pertanian untuk masing-masing kabupaten disajikan pada tabel 4.9 4.10. Kabupaten Gresik (yang meliputi 16 kecamatan) paling banyak membutuhkan air untuk sektor pertanian yaitu 1.096,53 juta m3/tahun, sedangkan yang terkecil adalah Kabupaten Mojokerto (yang meliputi 1 kecamatan) sebesar 0,79 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.9). Kebutuhan air terbesar dalam sektor pertanian adalah irigasi yaitu mencapai 56,85% dari total kebutuhan air, kedua adalah perikanan sebesar

37,95% dan sektor peternakan sebesar 5,20% (Dapat dilihat pada tabel 4.10). 4.1.3 Kebutuhan Air Industri Besarnya kebutuhan air industri ditentukan oleh penggunaan air oleh industri tersebut dalam proses industri, pendinginan, penggelontoran limbah, dan tenaga kerjanya. Semua faktor tersebut bervariasi sehingga memungkinkan adanya perubahanperubahan pada jenis, macam, lokasi, maupun jumlah tenaga kerja dalam industri tersebut sehingga faktor-faktor tersebut cenderung berubah sehingga kebutuhan airnya sulit ditentukan secara tepat. Perhitungan kebutuhan air untuk industri dapat digolongkan menjadi dua yaitu: : kebutuhan air industri yang mengambil air permukaan dan kebutuhan air industri yang mengambil air tanah. Dalam menentukan kebutuhan air untuk industri, data industri didapatkan dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Bojonegoro dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Propinsi Jawa Timur. Dari data tersebut diketahui jumlah sektor industri di tiap kabupaten serta pengambilan air untuk industri. Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa industri di wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir memanfaatkan air dari airtanah dan juga dari air permukaan. Rerata dari kebutuhan air yang memanfaatkan airtanah mulai tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 sebesar 8,61 juta m3/tahun (13,17%) (Dapat dilihat pada tabel 4.11), sedangkan industri yang memanfaatkan air dari air permukaan sebesar 56,76 juta m3/tahun (86,83%) (Dapat dilihat pada tabel 4.12). Tabel perhitungan kebutuhan air industri disajikan pada tabel 4.11 dan 4.12.

75 Untuk pemanfaatan air permukaan dan airtanah, Kabupaten Lamongan paling banyak membutuhkan air untuk sektor industri yaitu sebesar 32,99 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.11 sebesar 1,46 juta m3/tahun dijumlahkan dengan 31,54 juta m3/tahun pada tabel 4.12), sedangkan yang paling sedikit adalah Kabupaten Gresik yaitu 2,13 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.12). Di Kabupaten Lamongan terdapat pabrik PT. Petrokimia Gresik dimana pabrik tersebut memanfaatan air dari air permukaan sebesar 1000 lt/dt atau 25,23 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.12), selain itu di Kabupaten Bojonegoro juga terdapat industri Exon Mobile/Pertamina DOH yang juga memanfaatkan air dari air permukaan sebesar 800 lt/dt atau 31,54 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.12). (Sumber: Balai PSDA Bengawan Solo Hilir Bojonegoro) 4.1.4 Total Kebutuhan Air Total kebutuhan air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir yang meliputi tiga sektor yaitu: domestik, pertanian, dan industri adalah sebesar 3.114,12 juta m3/tahun. Rincian dan proporsi total kebutuhan air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir disajikan pada tabel 4.14 dan gambar 4.11. Dari tabel 4.14 dan gambar 4.11 diketahui bahwa kebutuhan air di sektor pertanian memiliki proporsi terbesar yaitu sebesar 2.866,69 juta m3/tahun atau 92,05% dari total kebutuhan air. Sektor kedua adalah sektor domestik sebesar 182,05 juta m3/tahun atau 5,85% dari total kebutuhan air. Sektor ketiga adalah sektor industri sebesar 65,37 juta m3/tahun atau 2,10% dari total kebutuhan air. Sektor industri di sini mengambil air tanah sebesar 8,61 juta m3/tahun dan air permukaan sebesar 56,76 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.11 dan tabel 4.12). Pada tabel 4.14 sektor industri yang ditampilkan dalam bentuk bulanan hanya industri yang memanfaatkan air permukaan, hal ini dikarenakan industri yang memanfaatkan air tanah hanya dalam bentuk tahunan, sehingga untuk hasil akhir jumlah nilai tahunan industri yang memanfaatkan air permukaan ditambahkan dengan nilai tahunan untuk industri yang memanfaatkan air tanah. 4.1.5 Proyeksi Kebutuhan Air Berdasarkan RTRW Kabupaten Lamongan diambil contoh kondisi kawasan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Lamongan pada tahun 1999 dan perkiraan kebutuhan air bersih perpipaan di Kabupaten Lamongan. Penggunaan tanah untuk pertanian tanaman pangan di Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan walaupun selama 5 tahun terakhir mengalami kenaikan rata rata sebesar 0,20% per tahun dari luas lahan

75 yang ada, akan tetapi jika dilihat dari kenaikan luas lahan pertanian andalan seperti padi/sawah, jagung , kacang kedelai justru mengalami penurunan rata rata 2,8% per tahun. Jika hal tersebut dibiarkan berlarut larut, dikhawatirkan akan terjadi keadaan yang menggoyahkan kondisi swasembada pangan yang ada. Untuk itu perlu diadakan perencanaan pencegahan turunnya luas lahan tanaman pangan tersebut khususnya untuk lahan sawah (RTRW Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, 1999 : IV-22). Untuk perkiraan kebutuhan air bersih perpipaan di Kabupaten Lamongan disajikan pada tabel 4.15. Untuk mengetahui penggunaan lahan di Kabupaten Gresik berdasarkan yang telah tertulis di RTRW Kabupaten Gresik dapat dilihat pada tabel 4.16. Untuk Kabupaten Bojonegoro Diambil contoh pada pertumbuhan jumlah penduduknya yaitu : - Tahun 1999/2000 = 1.190.823 jiwa. - Tahun 2003/2004 = 1.238.301 jiwa. - Tahun 2008/2009 = 1.313.237 jiwa. Dari proyeksi terhadap jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bojonegoro sampai tahun 2009/2010 menghasilkan tingkat pertumbuhan rata rtaa/tahun sebesar 0,984% per tahun. Asumsi pertambahan penduduk di Kabupaten Daerah Tingkat II Bojonegoro untuk tahun 2009/2010 lebih tinggi dari asumsi untuk pertumbuhan penduduk di Jawa Timur pada tahun 2009/2010 sebesar 0,8%. Pada tahun tersebut wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bojonegoro mempunyai tingkat kepadatan sebesar 6 jiwa/Ha.(RTRW Kabupaten Daerah Tingkat II

Bojonegoro,1999/2000 : IV-8) Untuk Kabupaten Tuban juga diambil contoh pada aspek kependudukan, di dalam buku RUTRW Tuban tahun 1992/1993 tahun 2003/2004 disebutkan bahwa proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Tuban adalah sebagai berikut : - Tahun 1993/1994 = 991.861 jiwa - Tahun 1998/1999 = 1.021.250 jiwa - Tahun 2003/2004 = 1.047.021 jiwa Akan tetapi pada kenyataannya, jumlah penduduk Kabupaten Tuban sampai dengan tahun 1998 masih berjumlah 1.006.751 jiwa, sehingga terjadi perbedaan walaupun relatif kecil (1,45%). (RTRW Kabupaten Tuban, 2001 : II-1) Untuk itu, dalam rangka mengantisipasi penambahan dan penyusutan jumlah penduduk, lahan pertanian serta industri terhadap ketersediaan air di masa yang akan

75 datang, maka perlu adanya peninjauan kembali akan proyeksi jumlah penduduk, luas lahan pertanian serta banyaknya industri terhadap kebutuhan akan air. Proyeksi kebutuhan air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir di masa mendatang dihitung dengan skenario: 1. Pertumbuhan penduduk sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 1,02%, tidak terdapat pertambahan lahan pertanian, kebutuhan air untuk perikanan dan peternakan dianggap tetap, dan pertumbuhan industri tetap (Nilai pertumbuhan rata rata dapat dilihat pada lampiran 11). 2. Pertumbuhan penduduk sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 1,02%, pertambahan dan penyusutan lahan pertanian disesuaikan berdasarkan nilai rata rata pertumbuhan dan penyusutan dari BPS yaitu 1,00%, kebutuhan air untuk perikanan dan peternakan dianggap tetap, dan pertumbuhan industri tetap (Nilai pertumbuhan rata rata dapat dilihat pada lampiran 11). 3. Pertumbuhan penduduk sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 1,02% , tidak terdapat pertambahan lahan pertanian, kebutuhan air untuk perikanan dan peternakan dianggap tetap, dan pertumbuhan industri diasumsikan sesuai dengan laju pertumbuhannya sesuai dengan data BPS yaitu 0,97% (Nilai pertumbuhan rata rata dapat dilihat pada lampiran 11). 4. Pertumbuhan penduduk sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 1,02%, pertambahan dan penyusutan lahan pertanian disesuaikan berdasarkan nilai rata rata pertumbuhan dan penyusutan dari BPS yaitu 1,00%, kebutuhan air untuk perikanan dan peternakan dianggap tetap, dan pertumbuhan industri diasumsikan sesuai dengan laju pertumbuhannya sesuai dengan data BPS yaitu 0,97% (Nilai pertumbuhan rata rata dapat dilihat pada lampiran 11). Berdasarkan asumsi di atas selanjutnya dihitung proyeksi kebutuhan air domestik. Di sini penulis memproyeksikannya sampai tahun 2055, dengan basis tahun 2005. Besarnya proyeksi kebutuhan air sampai tahun 2055 dengan keempat asumsi diatas disajikan pada Tabel 4.17 4.20 dan Gambar 4.11. Dari perhitungan tersebut dapat diprediksikan bahwa pada tahun 2055 mendatang akan terjadi peningkatan kebutuhan air sebesar 2,59% (skenario 1); 1,28% (skenario2); 7,34% (skenario 3); 6,03% (skenario 4).

75 4.2 Ketersediaan Air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir Analisis ketersediaan air dalam penelitian ini meliputi 5 kategori yaitu: ketersediaan air hujan, ketersediaan aliran sungai, ketersediaan air dari mata air, ketersediaan dari tampungan waduk, dan ketersedian airtanah baik airtanah bebas maupun airtanah tertekan. Analisis ketersediaan ini pada dasarnya untuk mengetahui kuantitas dari berbagai aspek ketersediaan air. Untuk melakukan analisis keandalan dibutuhkan data runtut waktu (time series) yang panjang guna mendapatkan keandalan ketersediaan untuk berbagai peluang. Analisis peluang dalam penelitian ini menggunakan Metode Weilbull. 4.2.1 Ketersediaan Air Hujan Dalam penelitian ini ketersediaan air hujan dihitung dengan menggunakan metode Poligon Thiessen dari hujan bulanan 16 pos penakar hujan di dalam wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir. Dasar perhitungan ketersediaan hujan dengan memilih metode Poligon Thiessen yaitu dikarenakan topografi kabupaten yang tercakup dalam Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir termasuk dalam kategori dataran, serta keberadaan stasiun hujan di daerah studi yaitu sebanyak 16 stasiun yang dianggap cukup berdasar perhitungan penentuan jumlah stasiun hujan optimum pada tabel 4.21. Pemilihan pos penakar hujan didasarkan pada kelengkapan data hujan dan sebaran pos penakar hujan. Lokasi pos penakar hujan disajikan pada gambar 4.13. Dari analisis peluang tersebut maka dapat diketahui hujan dengan peluang kejadian tertentu di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir. Hasil perhitungan curah hujan rata-rata Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir dan curah hujan dengan berbagai peluang kejadian tertentu disajikan pada tabel 4.22 dan tabel 4.23. Hasil perhitungan curah hujan rata-rata bulanan dari data yang ada, didapatkan total ketersediaan hujan rata-rata di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir sebesar 14.650,53 juta m3/tahun (pada tabel 4.23). Ketersediaan air hujan rata-rata terendah pada bulan Agustus yaitu hanya 137,72 juta m3/tahun, dan tertinggi pada bulan Januari sebesar 2.699,28 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.23). 4.2.2 Ketersediaan Aliran Sungai Di sepanjang aliran Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir terdapat beberapa Stasiun Pengukur Aliran Sungai (SPAS) seperti digambarkan pada gambar 4.15. Dari data debit tersebut dapat dihitung ketersediaan debit untuk peluang 70%, 80%, dan 90% dimana kejadian dipenuhi atau dilampaui dengan kegagalan 30%, 20%, dan 10%.

75 Analisis ketersediaan debit ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya ketersediaan aliran sungai di daerah studi. Hal ini diperhitungkan karena kebutuhan air terutama untuk irigasi disuplai dari sungai yang fluktuasi debitnya dapat berubah setiap saat. Oleh karena itu, untuk kebutuhan pemanfaatan perlu dihitung peluang terjadinya suatu besaran debit sungai tersebut. Untuk perhitungan ketersediaan debit dianalisis dengan menggunakan metode Peluang Weilbull. Ketersediaan data debit dalam penelitian ini beragam dari 5 hingga 13 tahun pengamatan. Hasil perhitungan debit aliran sungai dengan berbagai peluang kejadian tertentu pada 15 titik pengukuran di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir disajikan pada tabel 4.24 dan gambar 4.15 (Perhitungan selengkapnya disajikan pada lampiran 5).
Tabel 4.24 Ketersediaan Debit Aliran Sungai di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir No. Debit Aliran Sungai Keterangan Luas DAS 2 (km ) Periode n Ketersediaan Debit Aliran Sungai (juta m3/tahun) Q80 Q90 Q70 Qrerata 11,552.61 12,006.16 45.71 26.56 92.66 11.53 839.99 77.44 13.43 35.89 32.29 9,980.85 8,348.39 5,546.51 152.93 8,652.23 8,990.73 21.83 16.59 36.07 1.67 390.90 46.27 6.10 10.95 8.76 6,898.26 6,025.06 3,738.49 81.78 7,626.13 6,284.48 15.87 11.64 24.80 0.69 262.26 26.92 4.10 8.21 6.05 6,045.32 4,880.71 3,031.02 59.75 5,616.01 4,929.22 10.40 14.54 173.23 8.33 1.91 5.90 4.37 4,119.41 3,698.85 39.37

1 B.Solo - Babat 2 B.Solo - Bojonegoro 3 Kerjo - Pejok 4 Cawak - Kedunglerep 5 Ganseng - Gandek 6 Pacal - Senganten 7 Gandong - Strent 8 Nglirip - Singgahan 9 Gembul - Merakurak 10 Prumpung - Belikanget 11 Klero - Genaharjo 12 B.Solo - Cepu 13 B.Solo - Napel 14 B.Solo - Kauman 15 Lamong - Simoanggrok Sumber : Hasil perhitungan

sungai utama sungai utama anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai anak sungai sungai utama sungai utama sungai utama anak sungai

16.266,2 1990 - 2001 11 13.956 1990 - 2003 13 50,88 1990 - 2003 13 64,97 1995 - 2002 13,53 1996 - 2001 7 5 70,4 1992 - 2003 11 67 1990 - 2002 12 97 1990 - 2001 13 67,5 1990 - 2002 12 53,33 1991 - 2002 11 430 1990 - 2001 13 11.125 1993 - 2003 11 9.689 1990 - 2003 13 9.195,6 1989 - 2001 12 209 1994 - 2003 9

4.2.3 Ketersediaan Air dari Mata Air Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Pengairan Propinsi Jawa Timur tercatat ada 146 mataair yang terkelola (Dapat dilihat pada lampiran 4). Pemanfaatan mata air digunakan untuk irigasi, domestik, dan sebagian dimanfaatkan oleh penduduk sekitar mataair. Tabulasi ketersediaan air mataair disajikan pada tabel 4.25. Dari tabel 4.25 maka didapatkan total ketersediaan air mata air sebesar 301,34 juta m /tahun. Kabupaten Tuban adalah yang paling besar ketersediaannya yaitu sebesar 230,34 juta m3/tahun, sedangkan untuk Kabupaten Lamongan adalah yang paling keci ketersediaannya yaitu sebesar 10,45 juta m3/tahun. Besar kecilnya debit mata air tergantung dari banyaknya curah hujan yang terjadi di daerah tersebut.
3

75 4.2.4 Ketersediaan Air dari Tampungan Waduk Di wilayah sungai Bengawan Solo Hilir terdapat 3 buah tampungan waduk. Kuantitas ketersediaan sumber daya air berupa tampungan waduk yang ada di wilayah sungai Bengawan Solo Hilir secara keseluruhan mencapai 23,58 juta m3. Tabulasi ketersediaan potensi tampungan air waduk di wilayah sungai Bengawan Solo Hilir disajikan pada tabel 4.26. Waduk Gondang adalah waduk yang paling besar ketersediaan tampungan airnya yaitu sebesar 11,37 juta m3, sedangkan Waduk Prijetan adalah waduk yang paling kecil volume tampungan sebesar sebesar 3,57 juta m3 (Dapat dilihat pada tabel 4.26). Data beserta perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6. 4.2.5 Ketersediaan Airtanah Volume besarnya ketersediaan air tanah di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir diduga dari Peta Cekungan Air Tanah skala 1:250.000. Peta Cekungan Air Tanah merupakan hasil kompilasi dari: Peta Topografi skala 1:250.000 yang digunakan sebagai dasar penentuan batas administrasi, Peta Hidrogelologi skala 1:250.000 digunakan sebagai dasar pertimbangan dari aspek hidrogeologi dalam penetapan batas cekungan airtanah, dan Peta Geologi skala 1:100.000 digunakan sebagai dasar

pertimbangan dari aspek geologi dalam penetapan batas cekungan airtanah serta penafsiran litologi akuifer utama dalam cekungan airtanah. Dari peta tersebut dapat diketahui jumlah volume airtanah dalam juta m3/tahun baik pada akuifer bebas maupun akuifer tertekan pada masing-masing cekungan airtanah yang ada. Peta Cekungan Air Tanah Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir diperoleh dengan cara mengoverlaykan Peta Cekungan Air Tanah (gambar 4.18) dengan peta batas Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir (gambar4.2). Peta Cekungan Air Tanah Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir yang merepresentasikan potensi airtanah baik airtanah bebas maupun airtanah tertekan di sungai tersebut disajikan pada gambar 4.19 dan tabel 4.27

75
Tabel 4.27 Potensi Airtanah di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir
Luas No Cekungan Air Tanah CAT (km2) 446.30 32.16 333.96 4057.08 97988.11 190.74 573.28 1054.42 Total Sumber : Hasil Perhitungan Potensi Total Q1 107 3 23 1547 3647 27 160 843 37 9 6 175 41 Q2 9 Proporsi Luas CAT dalam SWS (km ) 435.76 28.84 294.27 81.00 69.05 190.74 573.28 810.74 5099.76
2

Proporsi Potensi Airtanah dalam SWS Q1 104.47 2.69 20.27 30.88 2.57 27.00 160.00 648.18 996.06 996.06 86.41 86.41 Q2 8.79 0.00 7.93 0.12 0.12 41.00 0.00 28.45

(%) 97.64 89.68 88.12 2.00 0.07 100.00 100.00 76.89 -

1 Lasem 2 Watuputih 3 Randublatung 4 Ngawi-Ponorogo 5 Brantas 6 Panceng 7 Tuban 8 Surabaya - Lamongan 9 Daerah tidak berpotensi

Keterangan : Q1 = Potensi Airtanah Bebas (juta m3/tahun), Q2 = Potensi Airtanah Tertekan (juta m3/tahun)

Dari gambar 4.19 dan tabel 4.27, dapat diketahui bahwa di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir terdapat 8 cekungan airtanah dengan total potensi 996,06 juta m3/tahun untuk airtanah bebas dan 86,41 juta m3/tahun untuk air tanah tertekan. Cekungan Air Tanah Brantas merupakan cekungan airtanah terluas di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir dengan proporsi luas mencapai 97.988,11 km2 dari luas total sungai, sedangkan Cekungan Air Tanah Watuputih mempunyai area tersempit dengan proporsi luas 32,2 km2 dari luas total sungai. Luasnya daerah cekungan air tanah yang tidak berpotensi yaitu seluas 5.099,76 km2 dikarenakan sebagian besar daerah bengawan solo hilir merupakan tanah kapur yang mempunyai daya serap air sangat rendah.

4.3 Keseimbangan Air di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir Perhitungan keseimbangan air adalah dengan membandingkan kebutuhan air total yang meliputi kebutuhan air untuk domestik, pertanian, dan industri dengan ketersediaan total. Setelah dibandingkan bisa diketahui kondisi keseimbangannya untuk kondisi saat ini. Total Kebutuhan air untuk domestik, industri dan pertanian untuk seluruh Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir adalah sebesar 3.114,12 juta m3/tahun. Kebutuhan air terbesar adalah sektor pertanian dengan total kebutuhan air 2.866,69 juta m3/tahun, sedangkan kebutuhan air di sektor non pertanian sebesar 247,42 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.14). Ketersediaan air hujan rata-rata adalah 14.650,53 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.23), ketersediaan air dari mata air sebesar 318,95 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.25), dan ketersediaan tampungan air sebesar 23,58 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada tabel 4.26). Ketersediaan airtanah sebesar 996,06 juta m3/tahun

75 untuk airtanah bebas dan 86,41 juta m3/tahun untuk air tanah tertekan (Dapat dilihat pada tabel 4.27), sedangkan besarnya debit aliran sungai rata-rata di outlet Sungai (pada SPAS Solo Babat) adalah 11.552,61 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada lampiran 5), dan besarnya aliran permukaan yang terdapat di Wilayah Sungai Bengawan Solo Hilir sebesar 3.748,70 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada lampiran 9) .

4.4 Neraca Air Lahan Makro DAS Bengawan Solo Hilir Dalam menganalisis neraca air lahan makro DAS Bengawan Solo Hilir perlu dihitung tiap komponen sistem tersebut yaitu: total hujan, evapotranspirasi aktual, dan aliran sungai. Analisis neraca air lahan dihitung berdasarkan 5 tahun data pengamatan tahun 1995-1999 karena keterbatasan data yang ada selama penelitian dan minimumnya data yang ada di daerah kajian, dengan demikian dipilih periode data yang terdapat kesesuaian keberadaan data dari 3 komponen tersebut di atas. Dari perhitungan selama 5 tahun mulai tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 didapatkan nilai curah hujan rerata tertimbang sebesar 15.191,35 juta m3/tahun (dapat dilihat pada tabel 4.28). Evapotranspirasi potensial dihitung dari data klimatologi Stasiun Padangan dan Stasiun Balongpanggang selama 5 tahun mulai dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 dihitung dengan menggunakan bantuan program CropWat 4 Windows version 4.2 (Dapat dilihat pada lampiran 7). Berdasarkan data dari 2 stasiun klimatologi mulai tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 yang ada di DAS Bengawan Solo Hilir didapatkan harga evapotranspirasi potensial rerata tertimbang untuk DAS Solo Hilir sebesar 9.096,59 juta m3/tahun (Dapat dilihat pada lampiran 8). Selanjutnya perhitungan debit aliran sungai di outlet DAS Bengawan Solo Hilir (SPAS Babat) adalah 11.821,30 juta m3/tahun atau sebesar 59,67% dari total air yang masuk ke dalam DAS Bengawan Solo Hilir sebesar 19.810,60 juta m3/tahun (curah hujan, debit dari Bengawan Solo Hulu dan debit dari DAS Madiun) dari nilai tersebut di atas dapat diketahui bahwa air yang termanfaatkan sebesar 40,33% sedangkan sisanya yaitu sebesar 59,67 % terbuang melalui outlet DAS (Dapat dilihat pada tabel 4.28). Pada tabel 4.28 terlihat terjadi ketidakseimbangan neraca air, hal ini dimungkinkan karena estimasi besarnya evapotranspirasi potensial terlalu tinggi dibandingkan dengan evapotranspirasi yang sebenarnya terjadi di daerah tersebut (evapotranspirasi aktual). Dari kenyataan di atas agar keseimbangan air di Bengawan Solo Hilir memenuhi hukum fisika dalam hal ini hukum kekalan massa seperti ditunjukkan pada persamaan neraca air lahan (2-2) maka besarnya evapotranspirasi

75 aktual yang terjadi diduga rata rata sebesar 79% dari besarnya evapotranspirasi potensial (Dapat dilihat pada lampiran 8). Berdasarkan 4 skenario yang telah ditunjukkan pada tabel 4.17 4.20 dapat dibuat neraca air per lima tahunan yang ada di DAS Bengawan Solo Hilir seperti ditunjukkan pada tabel 4.32 4.35 dan gambar 4.21- 4.24. Selanjutnya dapat dibuat perbandingan antara kebutuhan air total dengan ketersedian air yang masuk ke dalam DAS Bengawan Solo Hilir seperti pada tabel 4.36 4.39 dan gambar 4.25 4.28. Keempat skenario Neraca air perlima tahunan dapat diklasifikasikan berdasarkan keandalan volume curah hujan. Volume curah hujan tersebut yaitu volume curah hujan rata rata, volume curah hujan dengan peluang 70%, volume curah hujan dengan peluang 80%, volume curah hujan dengan peluang 90%. Pertama, berdasarkan nilai volume hujan, debit dari DAS Bengawan Solo Hulu dan debit dari DAS Madiun rata-rata dapat diketahui bahwa total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan kebutuhan air total masih relatif surplus atau berlebih yaitu sebesar 16.932,13 juta m3/tahun (Kebutuhan air total pada tahun 2005 sebesar 3.114,12 juta m3/tahun, sedangkan air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir sebesar 20.046,25 juta m3/tahun, dapat dilihat pada tabel 4.36 4.39). Total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir rata-rata diasumsikan tetap sepanjang tahun untuk ke-4 skenario tersebut sebesar 20.046,25 juta m3/tahun (Hujan sebesar 11.081,12 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Solo Hulu sebesar 6.94,42 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Madiun sebesar 2.870,71 juta m3/tahun). Skenario 1 dengan menganggap kebutuhan air domestik saja (kebutuhan air domestik mengalami peningkatan pada seluruh skenario) yang mengalami kenaikan dengan total kebutuhan air sebesar 3.194,81 juta m3/tahun pada tahun 2055 maka perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 15,94%. Angka ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,40% dari tahun 2005 sebesar 15,53%. Total kebutuhan air pada skenario 2 mengalami peningkatan yang relatif kecil setiap tahunnya karena mengganggap luas lahan pertanian mengalami penurunan sehingga berhubungan langsung dengan penurunan kebutuhan air pertanian. Pada skenario 2 ini total kebutuhan air pada tahun 2055 adalah sebesar 3.153,91 juta m3/tahun atau mengalami peningkatan 0,99% dari total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan kata lain perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 15,73% dimana angka ini mengindikasikan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,20% dibandingkan pada tahun 2005. Skenario 3 merupakan skenario

75 dengan total kebutuhan air terbesar yaitu 3.342,77 juta m3/tahun karena mengasumsikan kebutuhan air industri meningkat sesuai dengan perkembangannya dan penyusutan lahan pertanian diasumsikan tidak terjadi. Pada skenario 4 ini pemanfaatan air hujan pada tahun 2055 mengalami peningkatan sebesar 0,94% dari tahun 2005. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2055 dengan ketersediaan air hujan adalah 16,47%. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan ketersediaan air hujan pada skenario 4 adalah 15,53% dengan perkembangannya dan terjadi penyusutan lahan pertanian. Kedua, berdasarkan nilai volume hujan, debit dari DAS Bengawan Solo Hulu dan debit dari DAS Madiun dengan peluang 70% dapat diketahui bahwa total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan kebutuhan air total masih relatif surplus atau berlebih yaitu sebesar 11.605,59 juta m3/tahun (Kebutuhan air total pada tahun 2005 sebesar 3.114,12 juta m3/tahun, sedangkan air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir sebesar 14.719,71 juta m3/tahun, dapat dilihat pada tabel 4.36 4.39). Total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan peluang 70% diasumsikan tetap sepanjang tahun untuk ke-4 skenario tersebut sebesar 14.719,71 juta m3/tahun (Hujan sebesar 8.479,94 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Solo Hulu sebesar 4.465,73 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Madiun sebesar 1.774,04 juta m3/tahun). Skenario 1 dengan menganggap kebutuhan air domestik saja (kebutuhan air domestik mengalami peningkatan pada seluruh skenario) yang mengalami kenaikan dengan total kebutuhan air sebesar 3.194,81 juta m3/tahun pada tahun 2055 maka perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 21,70%. Angka ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,55% dari tahun 2005 sebesar 21,16%. Total kebutuhan air pada skenario 2 mengalami peningkatan yang relatif kecil setiap tahunnya karena mengganggap luas lahan pertanian mengalami penurunan sehingga berhubungan langsung dengan penurunan kebutuhan air pertanian. Pada skenario 2 ini total kebutuhan air pada tahun 2055 adalah sebesar 3.153,91 juta m3/tahun atau mengalami peningkatan 0,99% dari total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan kata lain perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 21,43% dimana angka ini mengindikasikan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,27% dibandingkan pada tahun 2005. Skenario 3 merupakan skenario dengan total kebutuhan air terbesar yaitu 3.342,77 juta m3/tahun karena mengasumsikan kebutuhan air industri meningkat sesuai dengan

perkembangannya dan penyusutan lahan pertanian diasumsikan tidak terjadi. Pada

75 skenario 4 ini pemanfaatan air hujan pada tahun 2055 mengalami peningkatan sebesar 1,28% dari tahun 2005. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2055 dengan ketersediaan air hujan adalah 22,43%. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan ketersediaan air hujan pada skenario 4 adalah 21,16% dengan perkembangannya dan terjadi penyusutan lahan pertanian. Ketiga, berdasarkan nilai volume hujan, debit dari DAS Bengawan Solo Hulu dan debit dari DAS Madiun dengan peluang 80% dapat diketahui bahwa total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan kebutuhan air total masih relatif surplus atau berlebih yaitu sebesar 21.648 juta m3/tahun (Kebutuhan air total pada tahun 2005 sebesar 3.114,12 juta m3/tahun, sedangkan air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir sebesar 24.762,12 juta m3/tahun, dapat dilihat pada tabel 4.36 4.39). Total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan peluang 80% diasumsikan tetap sepanjang tahun untuk ke-4 skenario tersebut sebesar 24.762,12 juta m3/tahun (Hujan sebesar 19.561,06 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Solo Hulu sebesar 3.878,95 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Madiun sebesar 1.322,11 juta m3/tahun). Skenario 1 dengan menganggap kebutuhan air domestik saja (kebutuhan air domestik mengalami peningkatan pada seluruh skenario) yang mengalami kenaikan dengan total kebutuhan air sebesar 3.194,81 juta m3/tahun pada tahun 2055 maka perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 13,90%. Angka ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,33% dari tahun 2005 sebesar 12,58%. Total kebutuhan air pada skenario 2 mengalami peningkatan yang relatif kecil setiap tahunnya karena mengganggap luas lahan pertanian mengalami penurunan sehingga berhubungan langsung dengan penurunan kebutuhan air pertanian. Pada skenario 2 ini total kebutuhan air pada tahun 2055 adalah sebesar 3.153,91 juta m3/tahun atau mengalami peningkatan 0,99% dari total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan kata lain perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 12,74% dimana angka ini mengindikasikan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,16% dibandingkan pada tahun 2005. Skenario 3 merupakan skenario dengan total kebutuhan air terbesar yaitu 3.342,77 juta m3/tahun karena mengasumsikan kebutuhan air industri meningkat sesuai dengan

perkembangannya dan penyusutan lahan pertanian diasumsikan tidak terjadi. Pada skenario 4 ini pemanfaatan air hujan pada tahun 2055 mengalami peningkatan sebesar 1,95% dari tahun 2005. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2055 dengan ketersediaan air hujan adalah 34,28%. Perbandingan antara total kebutuhan air

75 pada tahun 2005 dengan ketersediaan air hujan pada skenario 4 adalah 32,33% dengan perkembangannya dan terjadi penyusutan lahan pertanian. Keempat, berdasarkan nilai volume hujan, debit dari DAS Bengawan Solo Hulu dan debit dari DAS Madiun dengan peluang 90% dapat diketahui bahwa total air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir dengan kebutuhan air total masih relatif surplus atau berlebih yaitu sebesar 6.517,66 juta m3/tahun (Kebutuhan air total pada tahun 2005 sebesar 3.114,12 juta m3/tahun, sedangkan air yang masuk ke DAS Bengawan Solo Hilir sebesar 9.631,78 juta m3/tahun, dapat dilihat pada tabel 4.36 4.39. Ketersediaan air hujan dengan keandalan 90% diasumsikan tetap sepanjang tahun untuk ke-4 skenario tersebut sebesar 9.631,78 juta m3/tahun (Hujan sebesar 5.557,71 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Solo Hulu sebesar 3.066,98 juta m3/tahun, aliran di inlet DAS Madiun sebesar 1.007,09 juta m3/tahun). Skenario 1 dengan menganggap kebutuhan air domestik saja (kebutuhan air domestik mengalami peningkatan pada seluruh skenario) yang mengalami kenaikan dengan total kebutuhan air sebesar 3.194,81 juta m3/tahun pada tahun 2055 maka perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 33,17%. Angka ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,84% dari tahun 2005 sebesar 32,33%. Total kebutuhan air pada skenario 2 mengalami peningkatan yang relatif kecil setiap tahunnya karena mengganggap luas lahan pertanian mengalami penurunan sehingga berhubungan langsung dengan penurunan kebutuhan air pertanian. Pada skenario 2 ini total kebutuhan air pada tahun 2055 adalah sebesar 3.153,91 juta m3/tahun atau mengalami peningkatan 0,99% dari total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan kata lain perbandingan antara total kebutuhan air dengan ketersediaan air hujan pada tahun 2055 adalah 32,74% dimana angka ini mengindikasikan peningkatan pemanfaatan air hujan sebesar 0,41% dibandingkan pada tahun 2005. Skenario 3 merupakan skenario dengan total kebutuhan air terbesar yaitu 3.342,77 juta m3/tahun karena mengasumsikan kebutuhan air industri meningkat sesuai dengan perkembangannya dan penyusutan lahan pertanian diasumsikan tidak terjadi. Pada skenario 4 ini pemanfaatan air hujan pada tahun 2055 mengalami peningkatan sebesar 1,95% dari tahun 2005. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2055 dengan ketersediaan air hujan adalah 34,28%. Perbandingan antara total kebutuhan air pada tahun 2005 dengan ketersediaan air hujan pada skenario 4 adalah 32,33% dengan perkembangannya dan terjadi penyusutan lahan pertanian.

75 Dari tabel 4.36 4.39, dapat diketahui bahwa pengggunaan air dengan skenario 1 pada kurun waktu antara tahun 2005 sampai tahun 2055 terjadi kenaikan rata rata sebesar 15,94%. Sedangkan pada skenario 2, 3 dan 4 masing masing mengalami kenaikan rata rata sebesar 15,73%, 16,88%, 16,47%.

75