Anda di halaman 1dari 14

NAMA NIM

I.

: ANGGIA FITRI WIDYANI : 1102010023

MM. Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Telinga

Anatomi Makro, terbagi menjadi tiga bagian : 1. Auris Externa, Terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus,dipisahkan dari telinga tengah oleh membrana timpani (gendang telinga). Aurikel (pinna) terbuat dari kartilago yang dibungkus oleh kulit, aurikulus membantupengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditoriuseksternus. Kanalis auditorius externus yang masuk ke dalam tulang temporal, panjangnya sekitar2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat dimana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kelenjar cerumen berfungsi untuk menjaga gendang telinga lentur, menangkap debu,mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit telinga.

2. Auris Media, Terletak di rongga berisi udara dalam bagian dalam bagian petrosus tulang temporal. Batasbatas telinga tengah adalah sebagai berikut : - Batas luar : membran timpani - Batas depan : tuba eustachius - Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis) - Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis - Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak) - Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promontorium Membran timpani merupakan perbatasan telinga tengah, berbentuk kerucut dan dilapisi kulit pada permukaan eksternal dan membran mukosa permukaan internal. Membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah dan memiliki tegangan, ukuran dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell) sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Tulang pendengaran di telinga tengah terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus dan inkus melekat

pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Tulang-tulang ini mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenestra vestibulii yang memisahkan telinga tengah dari telinga dalam. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.

3. Auris Interna, Berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, di sisi medial telinga tengah. Telinga tengah terdiri dari dua bagian : Labirin tulang (ossea) Merupakan ruang berliku berisi perilimfe, suatu cairan yang menyerupai cairan serebrospinalis. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang temporal dan terbagi menjadi tiga bagian : 1. Vestibula - Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan venestra cochleae, yang berhubungan dengan telinga tengah. - Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perilimfe. 2. Saluran Semisirkularis - Menonjol dari bagian posterior vestibula. - Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang vertikal di setiap sudut kanannya. - Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua saluran di atas. - Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya. - Skala vestibuli berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. - Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. - Pada membran basalis terdapat organ corti. - Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria. - Pada membran basal melekat sel rambut dalam, sel rambut luar dan canalis corti yang membentuk organ corti. 3. Koklea - Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. - Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. - Koklea mengandung reseptor pendengaran.

Perdarahan Telinga dalam memperoleh perdarahan dari a. auditori interna (a. labirintin) yang berasal dari a. serebelli inferior anterior atau langsung dari a. basilaris yang merupakan suatu end arteri dan tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis. Setelah memasuki meatus akustikus internus, arteri ini bercabang 3 yaitu : 1. Arteri vestibularis anterior yang mendarahi makula utrikuli, sebagian makula sakuli, krista ampularis, kanalis semisirkularis superior dan lateral serta sebagian dari utrikulus dan sakulus. 2. Arteri vestibulokoklearis, mendarahi makula sakuli, kanalis semisirkularis posterior, bagian inferior utrikulus dan sakulus serta putaran basal dari koklea. 3. Arteri koklearis yang memasuki modiolus dan menjadi pembuluh-pembuluh arteri spiral yang mendarahi organ Corti, skala vestibuli, skala timpani sebelum berakhir pada stria vaskularis. Aliran vena pada telinga dalam melalui 3 jalur utama. Vena auditori interna mendarahi putaran tengah dan apikal koklea. Vena akuaduktus koklearis mendarahi putaran basiler koklea, sakulus dan utrikulus dan berakhir pada sinus petrosus inferior. Vena akuaduktus vestibularis mendarahi kanalis semisirkularis sampai utrikulus. Vena ini mengikuti duktus endolimfatikus dan masuk ke sinus sigmoid. Persarafan N. akustikus bersama N. fasialis masuk ke dalam porus dari meatus akustikus internus dan bercabang dua sebagai N. vestibularis dan N. koklearis. Pada dasar meatus akustikus internus terletak ganglion vestibulare dan pada modiolus terletak ganglion spirale

Anatomi Mikroskopik 1) Telinga Luar - Meatus acusticus externa Dilapisi kulit tipis tanpa subcutis dan berhubungan erat dengan perichondrium / periosteum yang ada di bawahnya. Pada kulit bagian sepertiga luar terdapat: Rambut pendek,Kel sbacea (bermuara d folikel rambut), Kel ceruminosa (tubulosa apocrin /modifikasi kel keringat) bermuara pada permukaan / pada ductus kel.sbacea. - Membrana tympani 2 lapisan jaringan penyambung : Lap Luar ,mgd serat-serat kolagen tersusun radial Lap dalam,mgd serat-serat kolagen tersusun circular Serat Elastin terutama di bagian central dan perifer Bagian superior tidak mengandung serat collagen,lunak dan tipis disebut pars flaccida (membrana schrapnell) Permukaan luar diliputi :kulit,tanpa rambut,kel sebacea,maupun kelenjar keringat. Pemukaan Dalam dilapisi mukosa yang terdiri dari epithel selapis cuboid dan lamina propria yang tipis. Cavum tympani Medial dipisahkan dari telinga dalam oleh tulang : Fenestra ovalis dan fenestra rotundum Terdapat tulang pendengaran : Maleus,Incus,Stapes.ketiga tulang ini menghubungkan membrana tympani dengan fenestra ovalis. Cavum tympani,tulang pendengaran nervus dan musculi dilapisi mucosa yang terdiri dari epithel selapis cuboid dan l.propria tipis. Epithel tympani sekitar muara tuba faryngotympani t.d epithel selapis cuboid/silindris dengan cilia. Tuba Faringotympani Mucosa berbentuk rugae t.d epitel selapis / bertingkat silindris dengan cilia dan l propria tipis.disekitar mucosa terdapat lymposit.

2) Telinga Tengah

3) Telinga Dalam - Labirynth Ossea - Berisi caira perilimph Terdiri dari 3 bagian : Vestibulum Canalis semisircularis tulang Cochlea Labirynth Membranosa (terdapat di dalam labirynth ossea) Berisi cairan endolimf Terdiri dari : Labyrinth Vestibularis : terdiri dari Makula ( utrikulus dan sakulus ).krista ampularis. Labyrinth Vestibularis untuk keseimbangan Labirynth Cochlearis : epitel selapis gepeng

Organ Corti Terdiri 2 abgian : Sel rambut : dalam dan luar Sel Penyokong : Sel Batas dalam dan luar Sel Phalanx dalam dan luar Sel Tiang dalam dan dalam

II.

MM. Fisiologi Pendengaran dan Keseimbangan

1. pendengaran Reseptor reseptor khusus untuk suara terletak di telinga dalam yang berisi cairan. Dengan demikian, gelombang suara hantaran udara harus disalurkan ke arah dan dipindahkan ke telinga dalam, dan dalam prosesnya melakukan kompensasi terhadap berkurangnya energy suara yang terjadi secara alamiah sewaktu gelombang suara bepindah dari udara ke air. Telinga luar (pinna), adalah suatu lempeng tulang rawan terbungkus kulit, mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke telinga luar. Pintu masuk ke kanalis telinga dijaga oleh rambut rambut halus yang berfungsi sebagai mekanisme imun tubuh. Demnikian juga dengan fungsi serumen. Membrane timpani, yang teregang menutupi pintu masuk telinga tengah, bergetar sewktu terkena gelombang suara seiring dengan frekuensi yang masuk. Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membrane timpani ke cairan di telinga tengah dalam. Pemindahan ini dipermudah dengan adanya rantai tulang (osikula auditiva) yang terdiri dari maleus, incus, stapes. Tulang pertama, maleus, melekat ke membrane timpani sedangkan tulang terakhir, stapes, melekat ke fenestra ovalis. Ketika membrane timpani bergetar sebagai respons terhadap gelombang suara, rantai tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi sama. Terdapat 2 mekanisme yang berkaitan dengan system osikuler yang memperkuat tekanan gelombangsuara dari udara untuk menggetarkan cairan di koklea. Pertama, karena luas permukaan membrane timpani jauh lebih besar daripada luas permukaan fenestra ovalis, terjadi peningkatan tekanan ketika gaya yang bekerja di membrane timpani disalurkan ke fenestra ovalis. Kedua, efek pengungkit tulang tulang pendengaran menghasilkan keuntungan mekanis tambahan. Kedua mekanisme ini bersama sama meningkatkan gaya yang timbul pada fenestra ovalis sebesar 20 kali lipat dar gelombang yang langsung mengenai gendang telinga. Tekanan tambahan ini cukup untuk menggetarkan cairan di koklea.

Sel rambut di organ corti mengubah gerakan cairan menjadi sinyal saraf Bagian koklearis telinga dalam yang berbentuk seperti siput adalah suatu system tubulus bergelung yang terletak dalam tulang temporalis. Organ corti yang terletak diatas membrane basilaris, diseluruh panjangnya mengandung sel sel rambut yang ,merupakan reseptor untuk suara. Sel sel rambut ini menghasilkan sinyal saraf jika rambut di permukaannya secara mekanis mengalami perubahan bentuk berkaitan dengan pergerakan cairan di telinga dalam. Karena organ coti menumpang pada membrane basilaris, sel sel rambut juga bergerak naik turun ketika membrane basilaris bergetar. Perubahan bentuk mekanis rambut ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian, sehingga menyebabkan perubahan potensial berjenjang di reseptor dan mempengarihi kecepatan potensi aksi yang merambat ke otak. 2. keseimbangan Kanalis semisirkularis merupakan alat keseimbangan dinamik dan terangsang oleh gerakan yang melingkar, sehingga kemana saja arah kepala, asal gerakan itu membentuk putaran, maka gerakan itu akan tertangkap oleh salah satu, dua atau ketiga kanalis semisirkularis bersama-sama. Pada manusia, kanalis semisirkularis horizontal yang mempunyai peran dominan oleh karena manusia banyak bergerak secara horizontal. Utrikulus dan sakulus merupakan alat keseimbangan statik, yang terangsang oleh gerak percepatan atau perlambatan yang lurus arahnya, dan juga oleh gravitasi. Utrikulus terangsang oleh gerakan percepatan lurus dalam bidang mendatar, sedangkan sakulus terangsang oleh gerakan percepatan lurus dalam bidang vertikal. Dalam keadaan diam, gravitasi berpengaruh terhadap utrikulus maupun sakulus. Hubungan sistem vestibuler dengan otot-otot mata erat sekali, sehingga semua gerakan endolimfe selalu diikuti oleh gerakan bola mata. Sistem vestibuler berhubungan dengan sistem tubuh yang lain, sehingga kelainan sistem vestibuler bisa menimbulkan gejala pada sistem tubuh yang bersangkutan.

III.

MM. Gangguan Pendengaran a. Definisi gangguan pendengaran adalah kehilangan pendengaran di salah satu atau kedua telinga. Tingkat penurunan gangguan pendengaran terbagi menjadi ringan, sedang, sedang berat, berat, dan sangat berat. b. Klasifikasi Klasifikasi derajat gangguan pendengaran menurut International Standard Organization (ISO) dan American Standard Association (ASA) Derajat Gangguan Pendengaran Pendengaran Normal Ringan Sedang Sedang Berat Berat Sangat Berat ISO 10-25 dB 26-40 dB 41-55 dB 56-70 dB 71-90 dB Lebih 90 dB ASA 10-15 dB 16-29 dB 30-44 dB 45-59 dB 60-79 dB Lebih 80 dB

Jenis Gangguan Pendengaran Ada tiga jenis gangguan pendengaran, yaitu : Konduktif terdapat masalah di dalam telinga luar atau tengah sehingga transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai telinga dalam secara efektif, Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi pada kanal telinga luar, rantai tulang pendengaran, ruang telinga tengah, fenestra ovalis, fenestra rotunda, dan tuba auditiva. Tanpa kerusakan pada telinga dalam, maupun jalur persyarafan pendengaran. Penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengandung nada rendah. Sensorineural terdapat masalah di telinga bagian dalam dan saraf pendengaran (irreversibel). Penderita sukar mendengar kata-kata yang mengundang nada tinggi (huruf konsonan). Tes Schwabach ada pemendekan hantaran tulang. Campuran disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tuli sensorineural. Penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah maupun nada tinggi.

Penyakit Gangguan Pendengaran 1. Tinnitus - Tinnitus (telinga mendenging) adalah suara gaduh berasal di dalam telinga melebihi lingkungan sekitar. - luka dari suara gaduh atau ledakan, infeksi telinga, saluran telinga yang tersumbat - gejalanya telinga berdengung, berdering, meraung, bersiul, atau suara berdesis. Suara ini lebih jelas di lingkungan yang sunyi , cenderung lebih mengganggu orang ketika mereka berusaha untuk tidur. - Diagnosa melalui test pendengaran , (MRI) pada kepala , CT Scan pada tulang rawan pada saluran telinga, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam - Pengobatan dengan Alat Bantu Dengar yang menghasilkan tingkat tetap pada suara netral. 2. Otosklerosis - Otosklerosis adalah suatu penyakit dimana tulang-tulang di sekitar telinga tengah dan telinga dalam tumbuh secara berlebihan sehingga menghalangi pergerakan tulang stapes, akibatnya tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara sebagaimana mestinya. Penyakit ini biasanya mulai timbul pada akhir masa remaja atau dewasa awal. - Penyebabnya merupakan suatu penyakit keturunan dan merupakan penyebab tersering dari tuli konduktif progresif pada dewasa yang gendang telinganya normal. - Gejala Tuli dan telinga berdenging (tinnitus). - Diagnosa dengan pemeriksaan audiometri/audiologi. - Pengobatan dengan Pengangkatan tulang stapes dan menggantinya dengan tulang buatan bisa mengembalikan pendengaran penderita.

3. Ketulian Mendadak - Ketulian Mendadak adalah kehilangan pendengaran yang berat, biasanya hanya menyerang 1 telinga, yang terjadi selama beberapa jam atau kurang. - Disebabkan oleh penyakit virus, aktivitas yang berat dan suara ledakan yang hebat. - Ketulian bersifat berat tetapi mengalami penyembuhan total dalam waktu 10-14 hari - Pengobatan diberikan corticosteroid per-oral 4. Berkurangnya Pendengaran Akibat Kegaduhan - Berkurangnya Pendengaran Akibat Kegaduhan adalah penurunan fungsi pendengaran yang terjadi setelah telinga menerima suara-suara yang berisik/gaduh. - Penyebabnya Suara bising, pemakaian headphone dan berdiri di dekat speakers - Gejalanya Penurunan fungsi pendengaran yang bersifat menetap dan disertai dengan telinga berdenging (tinnitus). - Pencegahan Hindari suara-suara yang bising/gaduh. Gunakan pelindung telinga. 5. Berkurangnya Pendengaran Akibat Pertambahan Usia - Berkurangnya Pendengaran Akibat Pertambahan Usia (Presbikusis) adalah penurunan fungsi pendengaran sensorineural yang terjadi sebagai bagian dari proses penuaan yang normal. - Penurunan fungsi pendengaran ini merupakan bagian dari proses penuaan. - Gejalanya Fungsi pendengaran mulai menurun setelah usia 20 tahun, yang pertama kali terkena adalah nada-nada tinggi dan kemudian disusul dengan nada-nada rendah. 6. Gangguan pendengaran pada bayi dan anak - Penyebabnya : 1) Masa prenatal : Genetik heriditer, dan Non genetik seperti kelainan pada masa kehamilan. 2) Masa perinatal : berat badan lahir rendah (<2500 gram), hiperbilirubinemia, asfiksia (lahir tidak menangis). 3) Masa postnatal : infeksi bakteri atau virus seperti rubela, campak, parotis, infeksi otak (meningititis, ensefalitis), perdarahan pada telinga tengah. - Pemeriksaannya : 1) Behavioral Observation Audiometry (BOA) 2) Timpanometri 3) Audiometri bermain (play audimetry) 4) Oto Acoustic Emission (OAE) 5) Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) - Baku emas pemeriksaan skrining pendengaran pada bayi adalah pemeriksa Otoacousti Emission (OAE) dan Automated ABR (AABR).

7. Kerusakan Telinga Akibat Obat-obatan - diuretik asam etakrinat dan furosemid tuli permanen atau tuli sementara. - Aspirin dan zat-zat yang menyerupai Aspirin (salisilat) tuli dan tinnitus (telinga berdenging), yang biasanya bersifat sementara. - kuinin menyebabkan tuli permanen - jenis antibiotik, neomisin memiliki efek yang paling berbahaya terhadap pendengaran, diikuti oleh kanamisin dan amikasin. - Viomisin, gentamisin dan tobramisin bisa mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan. - Antibiotik streptomisin lebih banyak mempengaruhi keseimbangan.

IV.

MM. Gangguan Pendengaran akibat bising a. Definisi

Gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Gangguan pendengaran akibat bising bersifat sebagai tuli sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga. b. Etiologi 1. Intensitas kebisingan 2. Frekwensi kebisingan 3. Lamanya waktu pemaparan bising 4. Kerentanan individu 5. Jenis kelamin 6. Usia 7. Kelainan di telinga tengah

c. Kalsifikasi Secara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu : 1. Noise Induced Temporary Threshold Shift ( TTS ) Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada frekwensi tinggi. Pada gambaran audiometri tampak sebagai notch yang curam pada frekwensi 4000 Hz, yang disebut juga acoustic notch. Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara, yang disebut juga NITTS. Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat kembali normal. 2. Noise Induced Permanent Threshold Shift ( NIPTS ) Didalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat suara bising, dan hal ini disebut dengan occupational hearing loss atau kehilangan pendengaran karena pekerjaan atau nama lainnya ketulian akibat bising industri. Untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu bekerja dilingkungan bising selama 10 15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada : 1. tingkat suara bising 2. kepekaan seseorang terhadap suara bising Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekwensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah.

d. Patofisiologi Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekwensi bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa : Adaptasi Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan. Peningkatan ambang dengar sementara Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahanlahan akan kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masing-masing individu. Peningkatan ambang dengar menetap Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan. Gangguan ditemukan bersifat permanen. Penderita tidak menyadari pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram.

Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam ( 1 2 jam ). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama ( 10 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti. Karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti. Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Umumnya frekwensi pendengaran yang mengalami penurunan intensitas adalah antara 3000 6000 Hz dan kerusakan alat Corti untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekwensi 4000 Hz (4 K notch). e. Pathogenesis Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Bila stereosilia hilang, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak.

Perubahan Anatomi Yang Berhubungan Dengan Paparan Bising Ketika gelombang suara lewat membrana basilaris meregang sepanjang sisi ligamentum spiralis, dimana bagian tengahnya tidak disokong. Pada daerah ini terjadi penyimpangan yang maksimal. Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga sering mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinan merupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya

bersinggungan dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah yang paling sering rusak. Gerakan mekanis pada barisan yang paling atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+dan Ca++dan menghasilkan depolarisasi membran plasma. Pergerakan daerah yang berlawanan akan menutup saluran serta menurunkan jumlah depolarisasi membran. Apabila depolarisasi mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa intraseluler. Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen. Gerakan mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar berkontraksi sehingga meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. Kerusakan sel rambut luar mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kekakuan silia berhubungan dengan tip links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut. Paparan bising dengan intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia, tanpa fraktur daerah basal atau kerusakan tip links yang luas. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat, fraktur daerah basal dan perubahan-perubahan sel yang irreversibel.

Perubahan Histopatologi Telinga Akibat Kebisingan Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah sebagai berikut : 1. Kerusakan pada sel sensoris a. degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis b. pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris c. anoksia 2. Kerusakan pada stria vaskularis Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi. 3. Kerusakan pada serabut saraf dan nerve ending Keadaan ini masih banyak dipertentangkan, tetapi pada umumnya kerusakan ini merupakan akibat sekunder dari kerusakan-kerusakan sel-sel sensoris. 4. Hidrops endolimf f. Manifestasi
Tuli akibat bising mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara ( speech discrimination ) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Mengeluh suara berdenging dan sangat mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi. Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss ) adalah : o Bersifat sensorineural o Hampir selalu bilateral o Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat ( profound hearing loss ) o Apabila paparan bising dihentikan, tidak dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan. o Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz.

Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun. Mengganggu komunikasi wicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi

g. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang seperti audiometri. Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil tes rinne positif, Tes webber lateralisasi ke telinga pendengaran yang lebih baik dan schwabach memendek. Kesan jenis ketulianya tuli sensorineural.

Pemeriksaan audiologi khusus yaitu tes SISI (short increment sensitivity index), ABLB (alternate binaural loudness balance), audimetry bekessy, audiometri tutur (speech audiometry), hasilnya fenomena rekrutmen (recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea. Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. Untuk menegakkan diagnosis klinik dari ketulian yang disebabkan oleh bising dan hubungannya dengan pekerja, maka seorang dokter harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut : 1. Riwayat timbulnya ketulian dan progresifitasnya. 2. Riwayat pekerjaan, jenis pekerjaan dan lamanya bekerja. 3. Riwayat penggunaan proteksi pendengaran. 4. Meneliti bising di tempat kerja, untuk menentukan intensitas dan durasi bising yang menyebabkan ketulian. 5. Hasil pemeriksaan audiometri sebelum kerja dan berkala selama kerja. Pentingnya mengetahui tingkat pendengaran awal para pekerja dengan melakukan pemeriksaan audiometri sebelum bekerja adalah bila audiogram menunjukkan ketulian, maka dapat diperkirakan berkurangnya pendengaran tersebut akibat kebisingan di tempat kerja. 6. Identifikasi penyebab untuk menyingkirkan penyebab ketulian non industrial seperti riwayat penggunaan obat-obat ototoksik atau riwayat penyakit sebelumnya. Pemeriksaan dan Diagnosis Gangguan Pendengaran Tes bisik merupakan suatu tes pendengaran dengan memberikan suara bisik berupa kata-kata kepada telinga penderita dengan jarak tertentu. berbisik ialah 5/6 6/6. Tes garputala merupakan tes kualitatif. disekitarnya. Garputala 512 Hz tidak terlalu dipengaruhi suara bising Menurut Guyton dan Hall, cara melakukan tes Rinne adalah penala digetarkan, Hasil tes berupa jarak pendengaran, yaitu jarak antara pemeriksa dan penderita di mana suara bisik masih dapat didengar enam meter. Pada nilai normal tes

tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. Setelah tidak terdengar penala dipegang di depan teling kira-kira 2 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif. Bila tidak terdengar disebut Rinne negatif.

Cara melakukan tes Weber adalah penala digetarkan dan tangkai garputala diletakkan di garis tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal hidung, dan di dagu). Apabila bunyi garputala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke arah teling mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi.

Cara melakukan tes Schwabach adalah garputala digetarkan, tangkai garputala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai garputala segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya, yaitu garputala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih dulu. Bila penderita masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut Schwabach sama dengan pemeriksa.

Tes audiometri merupakan tes pendengaran dengan alat elektroakustik. Tes ini meliputi audiometri nada murni dan audometri nada tutur. Audiometri nada murni dapat mengukur nilai ambang hantaran udara dan hantaran tulang penderita dengan alat elektroakustik. Alat tersebut dapat menghasilkan nada-nada tunggal dengan frekuensi dan intensitasnya yang dapat diukur. Untuk mengukur nilai ambang hantaran udara penderita menerima suara dari sumber suara lewat heaphone, sedangkan untuk mengukur hantaran tulangnya penderita menerima suara dari sumber suara lewat vibrator. h. Terapi o Penderita dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (earplug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung kepala (helmet). o Tuli akbat bising merupakan tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap (irreversibel), bila gangguan pendengaran sudah mengganggu komunikasi dapat dicoba dengan pemasangan alat bantu dengar (ABD/Hearing Aid). o o Apabila dengan bantuan ABD masih susah untuk berkomunikasi maka diperlukan psikoterapi agar dapat menerima keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. o o Selain itu oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea.

i.

Prognosis Akibat jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli seonsorineural koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu pencegahan sangat dibutuhkan.

V.

MM. Agama

Ketahuilah mata kita, Allah ciptakan untuk dapat melihat kebenaran. Telinga kita, Allah ciptakan untuk dapat mendengarkan kebenaran. Dan akal kita, Allah ciptakan untuk memikirkan dan memahami penjelasan dari apa yang kita lihat maupun kita dengar. Allah Subhanahu wa Ta'la berfirman: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggung jawabannya". (QS. al-Isra': 36).

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka* itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binat ang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (al-furqaan: 44) *yaitu orang kafir secara khusus dan orang sesat secara umum, Mengapa? Allah berfirman:

Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (kebenaran)

Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran, dan tanda-tanda kekuasaan allah lainnya),:

Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (kebenaran).

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang -orang yang lalai. (al-araaf: 179)

dalam ayat lain allah berfirman:

Dan kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolokolokkannya. (al-ahqaf: 26) Allah berfirman:

Dan allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (an-nahl: 78) Allah berfirman:

Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ci ptaan)-nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (as sajdah: 9) Allah berfirman:

katakanlah: Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (al-mulk: 23) Jangan gunakan juga telingamu dalam hal-hal yang baathil (seperti mendengarkan ghibah, mendengarkan musik, mendengarkan ceramahceramah kesesatan, kekufuran, kesyirikan maupun kebidahan). Sehingga menghalangimu untuk mendengarkan kebenaran yang sedemik ian jelasnya.