Anda di halaman 1dari 13

Obat-obat distrofi muscular duchenne: Berdasarkan perspektifnya dan data

Maria de los Angeles Beyta, Julia Vry, Janbernd Kirschner Divisi Neuropaediatrics dan Gangguan Otot, Pusat Medis Universitas Freiburg, Jerman

Distrofi otot muscular duchenne (DMD) adalah penyakit yang terkait dengan kromosom X yang mempengaruhi 1 dari 3,600-6,000 bayi laki-laki yang baru lahir. Dimanifestasikan oleh tidak adanya protein distrofin dalam serat otot, yang menyebabkan kerusakan progresif yang berujung pada kematian pada dekade ketiga kehidupan. Satu-satunya obat yang sejauh ini terbukti efektif dalam menunda progresifitas penyakit ini adalah kortikosteroid, yang telah

terbukti dapat meningkatkan kekuatan otot berdasarkan penelitian terkontrol secara acak, sedangkan berdasarkan penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kortikosteroid memperpanjang waktu berjalan dan memperlambat progresifitas dari disfungsi pernapasan, dilatasi kardiomiopati dan skoliosis. Beberapa obat potensial sekarang sedang diselidiki. Terapi genetik, berupa penyisipan gen distrofin melalui vektor, telah terbukti efektif pada hewan tetapi tidak pada manusia. Sekarang yang sedang diteliti adalah ataluren, suatu molekul yang mengikat dengan ribosom dan memungkinkan penyisipan suatu asam amino dalam kodon terminasi yang prematur, dan ekson-skipping, yang berikatan dengan RNA dan meniadakan tempat-tempat tertentu untuk penggandaan RNA, menghasilkan sebuah distrofin yang lebih kecil tapi masih berfungsi. Ada juga penelitian yang mencoba untuk memodulasi protein otot lainnya, seperti myostatin dan utrophin, untuk mengurangi gejala. Jurnal ini tidak tidak

membahas pengobatan kardiomiopati pada pasien DMD. Kata kunci: Duchenne distrofi otot, terapi obat, klinis uj Pengantar Distrofi otot duchenne (DMD) adalah penyakit terkait dengan kromosom X yang terjadi 1 dari 3,600-6,00 laki-laki yang baru lahir. Hal ini ditandai dengan kelemahan dalam otot

proksimal, diekspresikan melalui Gowers yang positif setelah bangun, abnormal gait, hyphertrophy di otot betis dan peningkatan creatinekinase. Kebanyakan pasien didiagnosis pada usia 5 tahun, ketika gejala menjadi lebih jelas. Gangguan ini memiliki kelemahan otot yang progresif yang juga mempengaruhi otot-otot jantung dan sistem pernapasan. Anak-anak

yang terkena biasanya berhenti berjalan di usia 13 tahun, dan jika tidak diobati dapat berujung pada kematian sebelum usia dua puluhan dikarenakan penyakit jantung atau infeksi saluran pernapasan (1, 2) DMD disebabkan oleh mutasi pada gen distrofin, yang mengakibatkan pengurangan berat atau tidak adanya protein distrofin, yang ditemukan dalam sarcolemma dari otot fiber dan terdiri dari empat bagian: domain C- terminal yang bergabung protein lain di membrane yang disebut kompleks distroglikan, domain batang, domain yang kaya sistein dan domain N-

terminal, yang berikatan dengan aktin (3). Domain C-terminal bertindak sebagai jembatan antara sarcolemma dan matriks ekstraseluler, dan berinteraksi dengan membran protein lainnya melalui kompleks distrofin-glikoprotein. Hal ini menunjukkan bahwa distrofin penting untuk mentransduksi kekuatan kontraktilitas aparatus ke matriks ekstraseluler dan melindungi serat otot dari setiap kerusakan yang disebabkan oleh kontraksi otot, yang dapat menyebabkan nekrosis (3, 4). Ketiadaan distrofin menyebabkan kerusakan mekanis dari sarcolemma, kehilangan homeostasis kalsium, dan degenerasi progresif dari serat otot. Gen distrofin adalah gen terbesar yang ditemukan pada manusia dan merupakan 0,1% dari total genom manusia. Gen ini terletak pada lengan pendek dari kromosom X dan terdiri dari 79 ekson dan 7 promotor (4). Frekuensi dari perbedaan mutasi yang menyebabkan DMD sangat bervariasi.. Menurut Leiden database (www.dmd.nl), duplikasi satu atau beberapa ekson sesuai dengan 7% dari mutasi, mutasi titik account untuk 20%, sedangkan penghapusan didapatkan pada 72% dari pasien (4, 5). Kebanyakan penghapusan terjadi antara ekson 44 dan 55, sesuai dengan domain rod distrofin (6). Jika mutasi ini mengubah kerangka pembacaan distrofin (diluar dari bingkai-mutasi), pembentukan protein dipotong, tidak ada distrofin diproduksi dan pasien mengarah ke DMD. Jika mutasi adalah "dalam bingkai distrofin menjadi lebih kecil dalam ukuran namun tetap berfungsi, dalam hal ini pasien didiagnosis dengan distrofi otot Becker (7). Meskipun asal-usul molekul DMD telah dikenal selama beberapa tahun, masih belum ada pengobatan kuratif untuk penyakit ini. Sampai saat ini, satu-satunya pengobatan yang terbukti efektif dalam memperlambat perkembangan penyakit adalah

kortikosteroid. Kortikosteroid telah mengubah sejarah dalam DMD. Namun, mekanisme yang tepat tidak sepenuhnya dipahami (2). Obat-obatan

Kortikosteroid: prednison dan deflazacort Glukokortikoid, lebih tepatnya prednison dan deflazacort, adalah pengobatan utama untuk DMD. Keduanya telah digunakan selama lebih dari dua dekade dan manfaat yang telah terbukti meningkatkan

dikenal sekarang. Keduanya adalah satu-satunya obat yang kekuatan otot.

Studi awal telah membuktikan bahwa penggunaannya memperpanjang

perjalanan penyakit dan meningkatkan fungsi dari aktivitas sehari-hari. Studi jangka panjang menunjukkan bahwa mereka juga mengurangi kebutuhan untuk operasi skoliosis,

meningkatkan fungsi paru-paru, dan membantu mempertahankan fungsi jantung (8, 9). Pada tahun 2005, American Academy of Neurology dan, pada tahun 2008, review Cochrane, mengevaluasi semua percobaan kontrol yang acak tentang penggunaan kortikosteroid dan menyimpulkan bahwa penggunaan prednison pada dosis 0,75 mg / kg / hari menunjukkan peningkatan kekuatan otot dan hasil yang lebih baik dalam tes fungsional standar dalam jangka pendek (10, 11). Peningkatan kekuatan otot terjadi selama enam bulan pertama pengobatan, diikuti oleh masa stabilisasi selama dua tahun, dengan masa penurunan berikutnya yang lebih lambat dari pada pasien yang tidak diobati (12). Lima penelitian terbaru, sebuah penelitian dengan metode pengontrolan yang tidak teracak ( meluas hingga 3 tahun) dengan prednison atau deflazacort menunjukkan bahwa pasien yang diberi salah satu dari obat tersebut, pasien dapat memiliki perjalanan penyakit 2 sampai 5 tahun lebih lama daripada mereka yang tidak diberi kortikosteroid, kebutuhan untuk oprasi stabilisasi tulang belakang dapat dikurangi, dan kebutuhan untuk ventilasi non-invasif tertunda (8). Dua dari studi ini mengevaluasi fungsi jantung dan menunjukkan bahwa pasien yang diobati dapat mempertahankan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak diobati (8). Studi lain mengungkapkan bahwa, 93% dari pasien yang diobati dengan prednison tidak menunjukkan disfungsi ventrikel pada usia 12 tahun dibandingkan rasio 53% dari pasien yang tidak diobati (13). Studi juga menunjukkan adanya peningkatan harapan hidup (14). Eagle menyebutkan bahwa pada tahun 1960, harapan hidup rata-rata untuk pasien DMD adalah 14,4 tahun, yang pada tahun 1990 telah meningkat menjadi 19,3 tahun dengan penggunaan kortikosteroid, terapi antibiotik dan perawatan intensif . Saat ini telah meningkat menjadi 24,5 tahun, mungkin karena penggunaan ventilasi non-invasif (8, 14). Singkatnya, ada bukti penting yang merekomendasikan penggunaan kortikosteroid kepada semua pasien DMD dengan tujuan memperpanjang waktu berjalan selama mungkin dan mengurangi komplikasi paru-paru, jantung dan ortopedi (2). Tentu saja, efek buruk dari

kortikosteroid juga harus diperhatikan. Dampak negative yang paling sering dalam pengobatan jangka panjang adalah penurunan tinggi badan pasien. Penambahan berat badan merupakan kedua yang paling sering, tetapi alasan utama untuk penghentian pengobatan (8). Kenaikan berat badan pada pasien DMD pada pengobatan steroid adalah masalah dengan beragam faktor. Hal ini tidak hanya merupakan efek samping dari kortikosteroid tetapi juga merupakan akibat dari keterbatasan gerak mereka dimana berat badan umumnya akan lebih parah pada pasien yang tidak dapat berjalan. Deflazacort menyebabkan kenaikan berat badan yang lebih ringan, namun resiko katarak lebih besar dari prednison. Patah tulang vertebral memilki frekuensi yang bervariasi sekitar 5-32% pada pasien yang diobati. Sekitar 80% dari patah

tulang ini ditemukan saat radiografi scoliosis rutin dan tidak disertai dengan gejala klinis (8, 15). Efek samping lainnya termasuk muka cushing, jerawat, hirsutisme, hipertensi arteri, gangguan perilaku, pubertas yang tertunda, patah tulang belakang, imunosupresi dan masalah pencernaan. Efek samping tersebut harus tetap dipantau meskipun efek samping ini kurang terjadi bila digunakan dalam dosis yang ditentukan. Dosis prednison adalah 0,75 mg / kg/hari. Dosis kurang dari 0,3 mg / kg kurang efektif, dan pemberian harian administrasi lebih efektif dibandingkan dengan pemberian yang berselang (10). Pemberian secara intermiten dikatakan memiliki keamanan yang lebih baik dalam hal efek samping, namun data dari uji coba terkontrol secara acak tidak tersedia (yang akan memungkinkan analisis statistik dan perbandingan dengan rejimen lain). Satu percobaan kelempok terbuka dengan intermiten deflazacort dilaporkan memperpanjang masa jalan pasien (12). Oleh karena itu, studi secara acak terkontrol dibutuhkan untuk membangun jadwal pengobatan yang optimal dalam jangka panjang. Rekomendasi saat ini untuk memulai pengobatan adalah ketika pasien dalam "fase plateau". Hal ini umumnya terjadi antara usia 4 sampai 6 tahun, ketika anak itu berhenti membuat kemajuan motorik. Saat ini, banyak dokter tetap pada pengobatannya, bahkan setelah pasien DMD telah kehilangan kemampuan untuk berjalan, dengan tujuan melestarikan fungsi ekstremitas atas, mengurangi progresi tingkat scoliosis, dan memperlambat penurunan fungsi pernafasan dan jantung (2). Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan apakah pasien non-rawat jalan masih memperoleh manfaat dari pengobatan ini. Deflazacort merupakan derivat oksazolin prednison dan pada dosis 0,9 mg / kg / hari, seefektif prednisone dalam mengobati DMD. Pilihan tergantung pada ketersediaan lokal dari

deflazacort dan prednison, pada biaya dan preferensi pasien. Suatu uji coba secara acak menunjukkan insiden yang lebih tinggi dimana tingkat keparahan berat badan dengan prednison lebih tinggi dibandingkan dengan deflazacort (13). Deflazacort demikian disukai oleh beberapa pasien. Namun, risiko perkembangan katarak yang meningkat dibandingkan dengan prednison: dalam studi non-acak, 10-30% dari katarak diamati pada rata-rata usia 3,2 tahun pada pengobatan dengan deflazacort. Karenanya pasien ini harus dimonitor setiap tahun oleh seorang dokter mata (2, 12). Imunosupresan lainnya Telah dikatakan bahwa manfaat dari kortikosteroid pengobatan mungkin dikaitkan dengan imunosupresif efek. Dengan demikian, penelitian lebih lanjut dengan imunosupresan lain dilakukan. Namun, secara acak controlled trial dari 99 anak laki-laki dengan DMD diberikan azathiprine sendiri atau dalam kombinasi dengan prednisone menunjukkan bahwa azathioprine tidak memiliki efek menguntungkan (16). Sebuah krontol placebo, studi dari 146 pasien rawat jalan dengan DMD yang menerima siklosporin-A atau plasebo saja dan dalam kombinasi dengan prednison tidak menemukan perbedaan kekuatan otot dan kemampuan fungsional antara kelompok perlakuan (17). Terapi genetic Penelitian baru-baru ini dilakukan berdasarkan pada potensi terapi genetic, termasuk terapi gen distrofin. Namun, ditemukan beberapa kendala. Ukuran dari gen distrofin menyulitkan untuk bekerja dengan dalam terapi gen. meskipun gen distrofin yang kecil ataupun mikro distrofin telah dikembangkan, yang dapat dimasukkan ke dalam vektor. Vektor yang paling cocok ditemukan sejauh ini adalah virus yang terkait dengan adenovirus, non-patogen Parvovirus, tetapi dapat menyebabkan respon imunologi. Dalam rangka untuk menilai responnya, MDX tikus dys-/dys- telah dibuat, dan ada bukti bahwa ketika gen disuntikkan, distrofin ada sebagian dan kekuatan otot ditingkatkan. Namun, dalam studi awal pada manusia, 90 hari setelah inisiasi pengobatan ekspresi gen ini tidak diamati. Hasil menunjukkan bahwa imunitas seluler menghambat keberhasilan terapi ini (18, 19). Ekson skipping Dalam distrofi otot Becker, protein distrofin adalah lebih kecil dan sebagian fungsional, sehingga dalam waktu kurang penyakit parah. Pada pasien DMD, seperti yang disebutkan sebelumnya, gen bermutasi memanifestasikan delesi, duplikasi dan titik mutasi yang

menginterupsi pembacaan informasi genetik yang bingkai. Saat ini, peneliti berusaha untuk menyuntikkan molekul yang mampu mengganggu splicing RNA sinyal untuk menghilangkan ekson berdekatan tambahan, sehingga memulihkan frame membaca dan memungkinkan untuk ekspresi protein yang lebih kecil tetapi sebagian fungsional, sepertipasien yang memiliki distrofi otot Becker. Ini sintetis, molekul RNA diubah disebut sebagai antisense oligonukleotida (AO) dan mampu mengikat dengan situs pra-RNA spesifik, masking dan termasuk ini ekson dari splicing (5). Terapi ini akan khusus untuk setiap mutasi. Saat ekson studi melewatkan yang menangani melompat-lompat dari ekson 51, yang "melompat-lompat" berlak untuk kelompok terbesar pasien, terdiri dari 13% dari semua pasien dengan DMD, diikuti oleh mutasi pada ekson 45. Dua AO saat ini sedang studi: 2'-O-metil-phosphorotioates (2OMP): studi yang awalnya dilakukan pada tikus MDX dengan 2OMP pada ekson 23. Mereka menunjukkan adanya distrofin di banyak serat otot rangka, tapi tidak di jantung (20). Sebuah studi klinis kemudian dilakukan pada empat pasien dengan DMD dengan PRO051/GSK2402964 (2OMP penargetan ekson 51), dan para peneliti mengamati bahwa 64-97% dari serat otot menyatakan distrofin yang protein yakni sebesar 17-35%. Tidak ada efek samping yang diamati (21). Sebuah studi multisenter ini sedang mengambil Tempat (22, 23). Phophorodiamidate morpholino oligomer (PMOS): penelitian dengan tikus MDX telah menunjukkan adanya distrofin tidak hanya dalam serat otot, tetapi juga dalam jantung setelah pemberian dosis tinggi obat. Perawatan berulang jangka panjang bahkan menunjukkan meningkatkan fungsi motorik (24). Pada manusia, suatu mempelajari menargetkan ekson 51, pada tujuh pasien DMD (AVI-4658) menunjukkan bahwa mereka yang menerima dosis tinggi (0,9 mg) yang dihasilkan distrofin pada tingkat 2232% dari normal dalam 44-79% dari serat otot mereka. Dalam hal ini studi, tidak ada tanda-tanda toksisitas diamati (25), sementara yang sebelumnya, dilakukan pada primata non-manusia, telah menunjukkan degenerasi tubular pada ginjal (26). Kelemahan obat ini adalah bahwa efeknya hanya fana dan terbatas pada waktu di mana AO tetap dalam jaringan. Selain menghasilkan tingkat distrofin bawah 30-60% dari normal, yaitu jumlah didalilkan cukup untuk kompensasi disfungsi otot (27). Prematur stop-kodon read-melalui: aminoglikosida dan ataluren Bentuk pengobatan hanya berlaku untuk laki-laki dengan mutasi mengakibatkan dini kodon terminasi, diperkirakan terjadi pada sekitar 13-15% dari DMD populasi. Hentikan kodon

read-through telah terbukti mampu menekan kodon terminasi dengan creatDrug pengobatan DMDUtrophin Utrophin saham 80% dari urutan distrofin dan yang diekspresikan dalam otot pasien dengan DMD. Itu telah mengemukakan bahwa upregulation yang bisa menunda perkembangan penyakit. Injeksi heregulin, Larginine atau oksida nitrat pada tikus MDX meningkatkan ekspresi utrophin dalam persiapan histologis (33) dan injeksi intraperitoneal TAT-utrophin meningkat protein kekuatan otot pada tikus MDX. Sebuah studi yang dilakukan di individu sehat dengan menggunakan obat yang dikembangkan oleh Summit PLC (C110/BM195), yang terbukti dapat ditoleransi dengan baik, meskipun farmakokinetik obat tidak memungkinkan kelanjutan pengobatan (5). Suplemen vitamin D Pasien dengan DMD memiliki peningkatan risiko mengembangkan fraktur patologis tulang panjang dan tulang belakang: Pertama, kepadatan mineral tulang menurun sebagai konsekuensinya dari mengurangi mobilitas. Kedua, risiko osteoporosis meningkat dengan efek samping terkenal jangka panjang kortikosteroid pengobatan. Ketiga, mereka cenderung memiliki tingkat rendah vitamin D, mungkin karena penurunan sinar matahari eksposisi. Oleh karena itu, latihan fisik dan kalsium yang cukup dan vitamin D dalam diet yang dianjurkan. Vitamin D suplemen disarankan pada pasien dengan Vitamin terbukti D defisiensi (serum 25 hydroxyvitamin D <50 mg / ml) (2, 35). Tidak ada bukti bahwa bisphosphates harus digunakan profilaksis pada anak yang menerima pengobatan steroid, Namun pemberian obat ini dianjurkan ketika fraktur patologis terjadi (7, 35, 36).

Kesimpulan Meskipun dasar molekul Duchenne muscular distrofi telah dikenal selama beberapa dekade, ada masih ada pengobatan yang menyembuhkan penyakit ini. Penelitian aktif tentang

topik ini saat ini sedang berlangsung. Sampai saat ini, satu-satunya obat terbukti efektif dalam memperlambat progresi penyakit ini adalah kortikosteroid.

Referensi 1. Poysky pada 8-9 J. Proyek Desember pola Perilaku Muscular 2006, dalam Dystrophy Amerika distrofi otot Duchenne: perilaku Laporan Induk Disord

lokakarya

Philadelphia,

Serikat. Neuromuscul

2007; 2. Bushby Duchenne farmakologis 2010; 3. O'Brien sekarang ing asam terminasi protein substitusi. Aminoglikosida Dalam subunit kodon Asam pada ekspresi (5). Namun, Bahkan kekuatan otot (28), salah kultur sel, dalam terminasi amino yang dan gentamisin berinteraksi transkripsi memasukkan studi di pada dengan RNA, tempatnya tikus ribosom distrofin RNA amino KF, dan Kunkel masa salah LM. Distrofin depan. Mol membaca, di dan Genet sehingga lokasi adalah dengan hanya berotot Metab distrofi: 2001; K, Finkel distrofi dan R, Birnkrant otot, DJ, bagian et al. Diagnosis 1: dan diagnosis,

17:986-94. manajemen dan Neurol 9:77-93. masa lalu,

psikososial

manajemen. Lanset

74:75-88. penyisipan prematur dari amino

memungkinkan yang bermutasi generasi satu asam

alternatif kodon. Hasilnya full-length

40-an menekan lain dan

menggantikannya. Dalam gentamisin serat otot tentang dari mereka dan dalam

MDX

manusia, dalam studi satu otot sedangkan selama hanya klinis 6

mampu sebesar pasien menunjukkan kembali penelitian lain bulan, 12 yang pasien, 20% DMD efek

memproduksi dari tetap yang tingkat

distrofin normal

kontroversial. dari di DMD distrofin tidak ada (29-30). (PTC124)

menguntungkan distrofin 12 pasien

ekspresi pada

dilakukan terdeteksi manfaat Ataluren Ataluren teori, yang pada ekspresi Dengan Penelitian akan

enam dari

ekspresi dan diamati

adalah memiliki efek pada MDX dalam hasil mirip yang 60s dengan

obat sama subunit gentamisin, dari double-blind, pada 174 seperti

oral, gentamisin,

yang, tetapi

terikat tikus

ribosom. Kemanjurannya memproduksi serat acak, otot distrofin (5). multisenter pasien. Setelah

20-25% tersebut,

dilakukan

48

minggu

mengambil perbaikan

dosis dalam

rendah tes belum berjalan

ataluren, 6 menit

pasien namun

menunjukkan hasil Myostatin Myostatin keluarga Sebagai tikus myostatin Beberapa follastatin, ekson-lompat Sebuah memproduksi satu antibodi dengan tidak Maria 8 21. van restorasi 2007; 22. Goemans dari J 23. Patridge Duchenne 24. Moulton janji studi

beberapa

akhir

dipublikasikan.

adalah factor-B hipertrofi dari bisa

protein

yang

membentuk yang diamati myostatin pengobatan

bagian mengatur dalam

dari

transformasi otot. gugur blok dari DMD.

pertumbuhan, otot gen telah

ukuran sistem

(mys-/mys-), yang potensial telah dan myostatin

berfungsi cara myostatin untuk

sebagai memblokir

myostatin blocker, gen itu disuntikkan kekuatan dilakukan (MYO-029) yang pada pada

diusulkan: merusak (5). tikus MDX,

receptor

antibodi hipertrofi klinis

myostatin otot telah myostatin otot,

ke lebih

dan

besar. Hanya dengan dewasa tapi (32). et al.

manusia pasien baik

terhadap distrofi

yang

ditahan kekuatan

dengan otot Beyta

meningkatkan de los

Angeles

Deutekom dengan

JC,

Janson

AA,

Ginjaar

IB,

et

al. Distrofin Engl J

Lokal Med

antisense

oligonukleotida

PRO051. N

357:2677-86. NM, Tulinius di Med T. Potensi distrofi HM, terapi Moulton dan Biophys Sharp PS, ekson otot. J M, van den Akker JT, et al. Administrasi Duchenne. N sistemik Engl 364:1513-22. untuk neurol dan bagi konjugasi pengobatan untuk

PRO051

distrofi

otot 2011;

melompat-lompat Anak

2010,25:1165-70. peptida mereka: muscular 1798:2296-303. sistemik kronis patologi Ther

JD. Morpholinos tantangan Acta Graham oligomer lokomotor IR,

Duchenne 2010;

distrofi. Biochim 25. Malerba dosis dan A,

et dengan pada

al. Terapi

rendah menormalkan

morpholino perilaku

ameliorates tikus MDX. Mol

2011; 26. Kinali ekspresi dalam dosis 2009; 27. Neri cukup Disord 28. Politano Pasien Acta 29. Wagner Duchenne Ann 30. Malik rea Neurol 31. Finkel studi Becker 2010; 32. Wagner Myo-029 2008; 33. Chaubourt fenotip 2004; 34. Krag fenotip 2004; 35. Quinlivan Kampanye 16th R, yang H Roper, didanai Davie M, et al. Laporan Birmingham, otot PADA, distrofi Bogdanovich pada S, Jensen CJ, et Natl al. Heregulin Acad E, distrofi Fossier pada P, Baux tikus G, et al. Heregulin Sci KR, pada Fleckenstein subyek JL, Amato AA, et al. Sebuah distrofi fase I / R, Wong B, Bushby ) otot V, KR, dan L, Nigro G, Nigro M, untuk Torelli S, Brown S, distrofi 2007; V, et al. Administrasi stop 2003; Hadley otot DW, et al. Pengobatan mutasi et al. Tingkat otot distrofin M, Arechavala-Gomeza distrofin distrofi eskalasi, otot dengan V, Feng morpholino L, et

19:345-54. al. Restorasi Lokal AVI-4658

oligomer

Duchenne: studi

single-blind,

placebo-controlled, Neurol 8:918-28. serendah 30%

proof-of-concept. Lanset

menghindari

pada

manusia. Neuromuscul 17:913-8. gentamisin dalam awal. 22:15-21. gentamisin omong dari

Duchenne

dengan Myol

kodon

prematur. Hasil

Hamed distrofi

S,

Becker

karena 2001;

kosong. 49:706-11.

Neurol Rodino-Klapac dari kodon LR, berhenti 2010; K, et Viollet di

L,

et

al. Gentamisin-induced otot Duchenne. Ann 67:771-80.

melalui

distrofi

al. Hasil mutasi

dari

Tahap nonsense

2b,

doseranging /

ataluren

(PTC124 distrofi

dalam

Duchenne

(nmDBMD). Neuromuscul

Disord 20:656. II sidang Neurol 63:561-71. ameliorates USA

dewasa

dengan

otot. Ann

MDX. Acad

101:13856-60. ameliorates Sci USA

tikus

MDX. Proc

101:13856-60. Muscular Inggris, Duchenne; Dystrophy Januar nya

lokakarya pada distrofi

2004. Osteoporosis

prevalensi, 2005;

pengobatan

dan

pencegahan. Neuromuscul

Disord 15:72-9.

36. Bachrach LK. Mengambil langkah-langkah untuk mengurangi osteoporosis di Duchenne distrofi 4. Muntoni beberapa 5. Pichavant pendekatan 2011. Mol 6. Nelson untuk 2009; 7. Manzur Duchenne 8. Moxley distrofi pengobatan: 2010; RT, otot AY, Kinali M, otot. Arch S, Ciafoli dengan bagi Muntoni Dis E, et F. Update Child pada 2008; SF, Crosbie F, otot. Neuromuscul Torelli S, Ferlini A. Disord distrofin dan Neurol PR, untuk 2011; Miceli otot MC, et al. Muncul terapi Opin 2005; mutasi: 2003; et mengobati satu 15:86-7. gen,

protein, C, terapi

beberapa Aartsma-Rus farmasi Ther R, distrofi

fenotipe. Lancet A, dan Clemens genetik

2:731-40. al. Status DMD. 19:830-40. genetik Neurol 22:532-8. pengelolaan 93:986-90.

mengobati

Duchenne. Curr

distrofi Pandya

al. Perubahan

sejarah

alam panjang neurol

Duchenne implikasi

kortikosteroid manajemen. J

jangka Anak

25:1116-29.

9. Houde S, M Filiatrault, Fournier A, et al. Deflazacort digunakan dalam Duchenne distrofi 2008; 10. Moxley pengobatan Standar dan 2005; 11. Angelini penilaian 12. Manzur untuk Rev 13. Markham pengembangan LW, AY, distrofi G. Peran kritis. Otot Kuntzer otot 2008; Kinnett K, dari Wong BL, T, Pike kortikosteroid Saraf M, et dalam distrofi 2007; al. Kortikosteroid RT 3, Ashwal S, Pandya otot: 8 tahun 38; S, et al. Parameter Praktek: laporan Academy Masyarakat of tindak lanjut. Pediatr Neurol 200-6. kortikosteroid Mutu Neurology Anak. Neurologi 64:13-20. otot: a

Duchenne Sub-komite dari Praktik

distrofi: American Neurology

Komite

36:424-35. glukokortikoid Syst CD003725.

Duchenne. Cochrane 1: et

database

al. Pengobatan di

kortikosteroid muscular 18:365-70.

menghambat

dysfuntion

ventrikel 2008;

Duchenne

distrofi. Neuromuscul

Disord

14. Elang distrofi ventilasi 2007; 15. Raja pengobatan distrofi 16. Griggs acak, azathioprine -

M,

J efek

Bourke, aditif dalam

Bullock dari

R,

et

al. Mengelola tulang

Duchenne dan

muscular rumah Disord

operasi

belakang

nokturnal

meningkatkan

kelangsungan

hidup. Neuromuscul

17:470-5. WM, Ruttencutter R, harian Nagaraja jangka HN, panjang 2007; Mendell JR, et (18 1993; Duchenne et al. Hasil dalam ortopedi Duchenne 68:1607-13. al. Duchenne bulan) distrofi: dan 43:520-7. muscular plasebo9:1053-9. terapi neurol 25:1145-8. V, di Kinali distrofi M, L otot Disord Chen YC, et Feng, et al. Serat reversi dan untuk 20:295-301. sistemik dalam antisense tubuh-lebar

kortikosteroid

otot. Neurology RC, Moxley RT 3,

percobaan (12 J, Schessl

terkontrol

prednisone

bulan). Neurology J, Schara A: U, et

17. Kirschner distrofi terkontrol 18. Mendell strategi 2010;

al. Pengobatan acak, Neurol Malik V.

dengan

ciclosporin

secara

double-blind, 2010; Molekuler Anak

multisenter JR, penargetan

pengadilan. Lancet LR, otot

Rodino-Klapac distrofi

Duchenne. J

19. Arechavala-Gomeza distrofin uji 20. Lu QL, jejak

Duchenne: 2010; al. Pengiriman distrofin

Implikasi

klinis. Neuromuscul Rabinowitz A,

oligoribonucleotide

mengembalikan

ekspresi

otot rangka. Proc Natl Acad Sci USA 2005; 102:198-203.