Anda di halaman 1dari 15

Prediabetes

I. Pendahuluan Prevalensi prediabetes di Indonesia cukup tinggi, yakni 10,2 %, sehingga diperkirakan 24 juta penduduk Indonesia telah menyandang prediabetes.1,2 Penyandang prediabetes dalam perkembangannya mempunyai 3

kemungkinan: sekitar 1/3 nya akan tetap sebagai prediabetes, 1/3 kasus akan menjadi diabetes mellitus tipe 2 (DMT2), dan 1/3 sisanya dapat kembali menjadi normoglikemi. Prediabetes meningkatkan risiko absolut menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, bahkan pada beberapa populasi peningkatan resiko tersebut dapat lebih tinggi lagi.1,2 Resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Berbagai keadaan tersebut semakin meyakinkan bahwa tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi para pasien prediabetes yang dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya akan sangat bermanfaat tidak hanya bagi pasien, namun juga bagi keluarga dan pemerintah.1,2,3 Prediabetes adalah suatu kondisi yang serius. Siapapun yang mempunyai kondisi prediabetes beresiko besar untuk didiagnosis menjadi diabetes mellitus.1

II. Epidemiologi The National Diabetes Data Group (NDDG) pertama kali pada tahun 1970 memperkenalkan istilah intoleransi glukosa. Subjek dengan intoleransi glukosa tidak bisa dikategorikan menjadi diabetes, tetapi memiliki kadar glukosa lebih tinggi dari orang normal. The Expert Comitte on the Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus tahun 2003 memperluas konsep ini dengan memasukkan glukosa darah puasa terganggu (GDPT) dan toleransi glukosa terganggu (TGT) ke dalam kategori pra diabetes yang berhubungan dengan progresivitas dan komplikasiDM. Beberapa penelitian membuktikan bahwa TGT merupakan faktor resiko untuk timbulnya diabetes melitus tipe 2 dibandingkan GDPT.4

Diperkirakan 300 juta penduduk di seluruh dunia mengalami prediabetes. Penelitian di negara berkembang melaporkan 9,2% populasi umum mengalami GDPT, 4,3% mengalami TGT dan 25,5% mengalami keduanya.4 Prevalensi prediabetes pada populasi Indian di Arizona, Oklahoma dan Dakota Utara masing masingnya ada 14,8%, 15,1% dan 22,8%. Prevalensi GDPT di Australia, Mauritanius dan Skandinavia berkisar antara 4,55%-10,15%. Sedangkan di Taiwan prevalensi pra diabetes hingga 23,3%. Prevalensi pre diabetes di Jepang, Singapura, Afrika Selatan dan India berkisar antara 8,02%15,85%. Dari berbagai penelitianTGT merupakan resiko besar untuk terjadinya diabetes dibandingkan GDPT. Progresivitas perkembangan dari TGT menjadi diabetes kurang lebih 6-10% per tahun. Apabila pasien mengalami TGT dan GDPT sekaligus maka kemungkinan berkembang menjadi DM dalam waktu 6 tahun adalah 65%.4

III. Definisi Menurut definisi dari the American Diabetes Association and US Department of Health and Human Services, prediabetes adalah suatu tahapan dimana kadar glukosa diatas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diagnosis diabetes. Kondisi ini mencakup toleransi glukosa terganggu (TGT) dan / ataupun glukosa puasa terganggu (GPT). American Diabetes Association (ADA) mendefinisikan prediabetes sebagai GPT yaitu kadar glukosa puasa 100 mg/dl (5,6 mmol/L) 125 mg/dl (7,0 mmol/L) atau bila kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa 75 gram 140-199 mg/dl (7,8 11 mmol/L) yang sering disebut dengan TGT.2,3 Menurut consensus of Management and Prevention of Diabetes Mellitus Type- 2 di Indonesia,yang dilakukan oleh Indonesian Society for Endocrinologist, Penegakan TGT dan GPTditegakkan sesuai dengan algoritma diagnostik standar. Untuk pasien dengan keluhan diabetes klasik, jika setelah dua kali uji dari satu kali glukosa darah dan glukosa darah puasa, kita mendapatkan hasil yang meragukan (di atas normal, tetapi tidak sampai pada kriteria diabetes), pasien akan diminta untuk melakukan tes beban OGTT (Uji Glukosa Toleransi Oral).

Bila hasil darah dua jam beban glukosa pasca glukosa 140 - 199 mg / dL , pasien akan dimasukkan dalam kriteria toleransi glukosa terganggu.2 Definisi diabetes dan prediabetes berdasarkan penilaian resiko penyakit serta distribusi populasi plasma glukosa. Data menunjukkan bahwa level glukosa plasma di atas nilai ambang batas memiliki insidensi retinopati meningkat secara signifikan dan telah digunakan untuk membantu mendefinisikan diabetes.2

IV. Etiologi Penyebab pasti pradiabetes tidak diketahui, meskipun para peneliti telah menemukan beberapa gen yang terkait dengan resistensi insulin. Kelebihan lemak terutama lemak perut dan tidak beraktivitas juga tampaknya menjadi faktor penting dalam perkembangan pradiabetes. Yang jelas adalah bahwa orang yang memiliki pradiabetes, tubuhnya tidak bisa megelolah gula (glukosa) dengan baik lagi. Hal ini menyebabkan gula dalam aliran darah lebih banyak dari pada gula yang melakukan fungsi yang normal yaitu memicu sel yang membentuk otot-otot dan jaringan lain. Sebagian besar glukosa dalam tubuh berasal dari makanan yang kita makan, khususnya makanan yang mengandung karbohidrat. Setiap makanan yang mengandung karbohidrat dapat mempengaruhi kadar gula darah, tidak hanya makanan manis.4 Selama pencernaan, gula memasuki aliran darah dan dengan bantuan insulin kemudian diserap ke dalam sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi. Insulin adalah hormon yang berasal dari pankreas. Ketika kita makan, pankreas mengeluarkan insulin ke dalam aliran darah. Insulin beredar merupakan seperti sebuah kunci yang membuka pintu mikroskopis yang memungkinkan gula memasuki sel. Insulin menurunkan jumlah gula dalam aliran darah. Apabila tingkat gula darah turun, maka sekresi insulin dari pankreas juga akan berkurang.

Bila menderita pradiabetes, proses ini mulai bekerja tidak normal. Gula darah akan meningkat dari pada melaksanakan fungsinya untuk membuka sel-sel. Hal ini terjadi ketika pankreas tidak membuat cukup insulin atau sel-sel menjadi resisten terhadap tindakan insulin atau keduanya.3,4 Patofisiologi prediabetes umumnya didasari atas perubahan sensitivitas insulin dan fungsi -pancreas, biasanya karena peningkatan adiposit. Sensitivitas insulin berbanding terbalik dengan kadar glikemik, bahkan dalam rentang glukosa puasa normal. Peningkatan konsentrasi glukosa plasma puasa dari 70 125 mg/dL (3,9 6,9 mmol/L) berkaitan dengan suatu penurunan sensitivitas insulin > 3 kali. Individu dengan isolated GPT menunjukkan penurunan sensitivitas insulin sekitar 25 %, dan individu yang mengalami kombinasi GPT dan TGT menunjukkan penurunan sensitivitas insulin sekitar 80 % dibandingan dengan individu yang kadar glukosa puasanya berada dalam interval referensi.3,4,5

V. Faktor Resiko Faktor resiko terjadinya prediabetes sama dengan faktor resiko terjadinya DM tipe 2. Faktor resiko tersebut dapat dibagi menjadi faktor resiko yang dapat dirubah ( obesitas, aktivitas fisik, nutrisi) dan yang tidak dapat dirubah ( genetik, usia, diabetes gestasional). Faktor yang dapat dirubah yang penting adalah obesitas ( terutama perut) dan kurangnya aktivitas fisik.2 a. Faktor genetik Gen yang berhubungan dengan resiko terjadinya DM, sampai saat ini belum bias diidentifikasikan secara pasti. Adanya perbedaan yang nyata kejadian DM antara grup etnik yang berbeda meskipun hidup di lingkungan yang sama menunjukkan adanya kontribusi gen yang bermakna terjadinya DM. Meskipun tidak jelas sebabnya, orang-orang dari ras tertentu termasuk Afrika-Amerika, Hispanik, Indian Amerika, AsiaAmerika dan Kepulauan Pasifik lebih mungkin untuk menjad prediabetes.2 b. Usia Prevalensi DM meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Dalam dekade terakhir ini, usia terjadinya DM semakin muda. Resiko pradiabetes

meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45 tahun. Ini mungkin karena orang cenderung kurang berolahraga, kehilangan massa otot dan menambah berat badan dengan bertambahnya usia mereka. Namun, orang tua bukanlah satu-satunya beresiko prediabetes dan diabetes tipe 2. Insiden gangguan ini juga meningkat di kelompok usia yang lebih muda.2 c. Diabetes gestasional Diabetes gestasional adalah diabetes yang timbul selama kehamilan. Ini meliputi 2-5% dari seluruh diabetes. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar. 6 Pada diabetes gestasional toleransi glukosa biasanya kembali normal setelah melahirkan akan tetapi wanita tersebut memiliki resiko menderita DM di kemudian hari. Bila pernah menderita diabetes gestasional saat kehamilan, maka resiko menderita diabetes akan meningkat. Apabila pernah melahirkan bayi dengan berat bada lebih dari 9 pound (4,1 Kg), maka ririko DM juga meningkat.2 d. Obesitas Obesitas merupakan faktor resiko yang paling penting. Jaringan lemak lebih banyak yang dimiliki terutama di dalam dan di antara otot dan kulit di sekitar perut menyebabkan sel menjadi lebih tahan terhadap insulin. Beberapa studi jangka panjang menunjukkan bahwa obesitas merupakan prediktor yang kuat untuk timbulnya DM tipe 2. Lebih lanjut, intevensi yang bertujuan mengurangi obesitas juga mengurangi insidensi DM tipe 2. Beberapa studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa lingkar pinggang atau rasio pinggang pinggul yang menunjukkan keadaan lemak visceral ( abdominal), merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan indeks masa tubuh, sebagai faktor resiko prediabetes. Data tersebut memastikan bahwa distribusi lemak lebih penting dibanding dengan jumlah total lemak obesitas.2

e. Aktivitas Fisik Berkurangnya intensitas aktivitas fisik memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan obesitas. Berbagai studi menunjukan bahwa kurangnya aktifitas fisik merupakan prediktor bebas terjadinya DM Tipe 2 pada pria maupun wanita. Semakin sedikit beraktivitas, semakin besar resiko pradiabetes. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, dengan beraktivitas maka glukosa digunakan sebagai energi dan membuat sel-sel lebih sensitif terhadap insulin.2 f. Nutrisi Kalori total yang tinggi, diit rendah serat, beban glikemik yang tinggi dan rasio poly unsaturated fatty acid ( PUFA) dibanding lemak jenuh yang rendah, merupakan faktor resiko terjadinya DM.2

VI. Patogenesis Regulasi glukosa post prandial tergantung pada stimulasi sekresi insulin pada sel beta pancreas yang akan mensupresi glukoneogenesis hepar dan

menekan glikogenolisis. Insulin dilepaskan untuk meningkatkan ambilan glukosa di otot dan jaringan perifer. Kadar glukosa puasa tergantung pada produksi glukosa hepar (glikogenolisis dan glukoneogenesis), kadar insulin puasa dan sensitivitas insulin. Dalam keadaan normal insulin bekerja mempertahankan kadar glukosa plasma supaya selalu dalam batas normal (normoglikemia) saat puasa ataupun post prandial. Hipoglikemia tidak terjadi saat puasa karena hati memproduksi glukosa melalui glikogenolisis dan glukoneogenesis, sebaliknya sesudah makan glukosa plasma tidak terlalu meningkat karena sel beta pankreas menghasilkan insulin yang meningkatkan asupan glukosa pada otot dan jaringan adiposa. Perjalanan menjadi diabetes melitus (pra diabetes) awalnya masih terjadi normoglikemia, pada tahap lanjut akan terjadi kenaikan kadar glukosa plasma puasa dan post prandial. Insulin yang disekresikan tidak efektif menghambat glukoneogenesis hati dan kemampuannya meningkatkan ambilan glukosa di otot dan adiposa berkurang. Selain itu juga ditandai dengan gangguan respons terhadap fisiologi insulin terhadap metabolisme glukosa, lipid dan protein serta pengaruh

terhadap fungsi endotel. Glucose transporter 2/GLUT-2 merupakan transporter glukosa yang terdapat terutama di hepar dan sel beta pancreas yang berespons cepat dalam menjaga kadar glukosa dalam plasma. Glucose transporter 4/GLUT 4 terdapat pada otot dan jaringan adiposa yang berperan dalam ambilan glukosa. Gangguan transpor glukosa inilah yang tejadi pada pasien dengan resistensi insulin.Peningkatan insulin plasma (hiperinsulinemia) yang terjadi untuk mengompensasi resistensi insulin yang terjadi akan berefek pada sel beta pankreas dan akhirnya kelelahan sehingga tidak mampu menormalkan kadar glukosa menjadi normoglikemia lagi. Beberapa kepustakaan menyebutkan pada tahap pra diabetes sebenarnya sudah mulai terjadi defek sel beta pankreas hingga 70%. Pada saat itu kadar glukosa plasma berkisar 100-125 mg/dL disebut sebagai glukosa darah puasa terganggu (GDPT) dan kadar glukosa plasma setelah pembebanan 75 gram glukosa 140-199 mg/dL disebut sebagat toleransi glukosa terganggu(TGT).4 Peningkatan kadar glukosa plasma pada GDPT dan TGT menduga terdapat mekanisme yang berbeda dalam patogenesisnya. Glukosa darah puasa terganggu dan TGT berbeda pada tingkat dan lokasi dominan terjadinya resistensi insulin. Individu dengan GDPT predominan mempunyai resistensi insulin di hepar tetapi normal sensitivitas insulin di otot.Sedangkan individu dengan TGT memiliki sensitivitas insulin hepar yang normal atau sedikit menurun dan resistensi insulin sedang sampai berat di otot. Pada subjek yang sekaligus mengalami GDPT dan TGT sudah terjadi resistensi insulin baik pada otot maupun hepar.4 Setelah puasa 8-10 jam di hati akan terjadi glikogenolisis untuk mencegah hipoglikemia. Setelah itu insulin fase awal (3-5 menit) pertama akan berespons mensupresi glikogenolisis supaya mempertahankan darah dalam keadaan normoglikemia. Proses ini terganggu pada individu yang mengalami GDPT. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana terjadinya peningkatan glukosa darah puasa pada GDPT. Respons insulin fase lambat (50- 120 menit) setelah post prandial normal pada GDPT, sehingga glukosa darah 2 jam setelah pembebanan 75 Gram glukosa oral normal. Respons sekresi insulin fase awal pada TGT juga terganggu dan setelah 2 jam pemberian glukosa oral sudah terjadi defek berat pada sekresi

insulin fase lambat. Hal ini dapat menerangkan peningkatan glukosa plasma setelah 2 jam pembebanan glukosa oral tetapi peningkatannya belum bisa dikategorikan sebagai DM.4

VII. Gejala Seringkali, pradiabetes tidak memiliki tanda-tanda atau gejala. Adanya suatu area kulit yang gelap, suatu kondisi yang disebuta canthosis nigricans, adalah salah satu dari beberapa tanda-tanda yang menunjukkan risiko untuk diabetes. Daerah umum yang mungkin akan terkena meliputi leher, ketiak, siku, lutut, dan buku-buku jari. Gejala klasik diabetes tipe 2 yang harus dipantau meliputi: Peningkatan rasa haus, sering buang air kecil, kelelahan dan penglihatan kabur. 2

VIII. Diagnosis Test yang digunakan untuk mendiagnosis Prediabetes Pada bulan Juni 2009, sebuah komite internasional yang terdiri dari para ahli dari American Diabetes Association, the European Association for the Study of Diabetes dan the International Diabetes Federation merekomendasikan bahwa test untuk menegakkan diagnosis pradiabetes meliputi: Hemoglobin A1C atau hemoglobin glikosilasi. A1C adalah tes yang

mengukur kadar glukosa darah rata-rata seseorang selama 2 sampai 3 bulan terakhir. Hemoglobin adalah bagian dari sel darah merah yang

membawa oksigen ke sel-sel dan kadang-kadang bergabung dengan glukosa dalam aliran darah. Juga disebut hemoglobin A1C atau hemoglobin glikosilasi, tes ini menunjukkan jumlah glukosa yang menempel

pada sel darah merah, yang proporsional dengan jumlah glukosa dalam darah. Nilai A1C antara 6 dan 6,5 persen dianggap pradiabetes. Sedangkan bila level 6,5 persen atau lebih tinggi pada dua tes berbeda menunjukkan diabetes. Kondisi tertentu dapat membuat tes A1C tidak akurat - seperti jika sedang hamil atau memiliki varian hemoglobin.5

HbA1c

telah

direkomendasikan

oleh

ADA

sebagai

pilihan

untuk

mendiagnosis diabetes (> 6,5%) dan juga untuk mendeteksi peningkatan risiko penyakit diabetes (5,7 6,4%). Sekarang ini HbA1c memang dinyatakan sebagai penanda yang lebih baik dibandingkan glukosa plasma puasa dalam memprediksi risiko mortalitas dan penyakit kardiovaskular pada individu nondiabetik, namun kurang baik bila dibandingkan dengan konsentrasi glukosa 2 jam, akan tetapi tidak semua studi mendukung pernyataan ini.5

Test lain yang dapat dipakai untuk mendiagnosis prediabetes yaitu : Tes gula darah puasa. Contoh darah akan diambil setelah berpuasa selama sedikitnya delapan jam atau semalam. Dengan tes ini, gula darah tingkat yang lebih rendah dari 100 mg / dL - 5,6 mmol / L adalah normal. Sebuah tingkat gula darah 100-125 mg / dL (5,6-6,9 mmol / L) dianggap pradiabetes. Hal ini kadang-kadang disebut sebagai glukosa puasa terganggu (GPT). Apabila kadar gula darah 126 mg / dL (7.0 mmol / L) atau lebih tinggi dapat mengindikasikan diabetes mellitus.5 Uji FPG adalah tes pilihan untuk mendiagnosis diabetes karena kenyamanan dan biaya rendah. Tes FPG yang paling tepat yaitu bila dilakukan di pagi hari. Hasil dan maknanya ditunjukkan pada Tabel 1. Orang dengan kadar glukosa puasa 100 sampai 125 mg / dL memiliki bentuk yang disebut pradiabetes glukosa puasa terganggu (GPT). Memiliki GPT berarti seseorang memiliki peningkatan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 tetapi tidak belum diabetes. Apabila nilai FPG 126 mg / dL atau di lebih, sebagai diabetes.5 dan sudah

dikonfirmasi dengan mengulangi tes pada hari lain, berarti didiagnosis

Table 1. FPG test Plasma Glucose Result (mg/dL) 99 or below 100 to 125 126 or above Diagnosis Normal Prediabetes (impaired fasting glucose) Diabetes*

Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Contoh darah akan diambil setelah berpuasa selama sedikitnya delapan jam atau semalam. Kemudian pasien akan minum larutan gula, dan tingkat gula darah akan diukur lagi setelah dua jam. Tingkat gula darah kurang dari 140 mg / dL (7,8 mmol / L) adalah normal. Tingkat gula darah 140-199 mg / dL (7,8-11,0 mmol / L) dianggap pradiabetes. Hal ini kadang-kadang disebut sebagai toleransi glukosa

terganggu (TGT). Apabila nilai gula darah 200 mg / dL (11,1 mmol / L) atau lebih tinggi dapat mengindikasikan diabetes mellitus.5 Penelitian telah menunjukkan bahwa OGTT lebih sensitif dibandingkan tes FPG untuk mendiagnosa pradiabetes, tetapi kurang nyaman untuk mengelola. TTOG memerlukan berpuasa selama minimal 8 jam sebelum tes. Tingkat glukosa plasma diukur segera sebelum dan 2 jam setelah seseorang minum cairan yang mengandung 75 gram glukosa dilarutkan dalam air. Hasil dan maknanya ditunjukkan pada Tabel 2. Jika tingkat glukosa darah adalah antara 140 dan 199 mg / dL 2 jam setelah minum cairan, orang tersebut memiliki bentuk yang disebut pradiabetes toleransi glukosa terganggu (TGT). Memiliki TGT, seperti memiliki GPT, berarti seseorang memiliki peningkatan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 tetapi belum menjadi DM. Kadar glukosa 2 jam 200 mg / dL atau lebih, dikonfirmasi dengan mengulangi tes pada hari lain, berarti seseorang memiliki diabetes.5

10

Table 2. OGTT 2-Hour Plasma Glucose Result (mg/dL) 139 and below 140 to 199 200 and above Diagnosis Normal Prediabetes (impaired glucose tolerance) Diabetes*

Gestational diabetes juga didiagnosis berdasarkan pada nilai-nilai glukosa plasma diukur selama OGTT, sebaiknya dengan menggunakan 100 gram glukosa dalam cairan untuk ujian. Kadar glukosa darah diperiksa empat kali selama tes. Jika kadar glukosa darah yang di atas normal setidaknya dua kali selama pengujian, wanita memiliki gestational diabetes. Tabel 3 menunjukkan hasil di atas normal untuk OGTT untuk diabetes gestational.5 Table 3. Gestational diabetes: Above-normal results for the OGTT* When Fasting At 1 hour At 2 hours At 3 hours Plasma Glucose Result (mg/dL) 95 or higher 180 or higher 155 or higher 140 or higher

Jika kadar gula darah Anda normal, dokter anda dapat merekomendasikan tes skrining setiap tiga tahun. Jika Anda memiliki pradiabetes, pengujian lebih lanjut mungkin diperlukan. Misalnya, dokter harus memeriksa gula darah puasa Anda, A1C, kolesterol total, kolesterol HDL, low-density lipoprotein (LDL) kolesterol dan trigliserida setidaknya sekali setahun, mungkin lebih sering jika Anda memiliki faktor risiko tambahan untuk diabetes. Dokter

11

mungkin juga merekomendasikan tes mikroalbuminuria tahunan, yang memeriksa protein dalam urin Anda - tanda awal kerusakan pada ginjal.5

IX. Pencegahan Berbagai studi menunjukan hubungan yang linier status glikemia denga resiko penyakit kardiovaskuler. Kelompok prediabetes memiliki resiko terjadinya komplikasi seperti diabetes. Dalam kaitan terjadinya resiko diabetes dan PKV pada kelompok prediabetes, ternyata TGT lebih terkait dengan kedua resiko tersebut disbanding dengan GPT. Diperlukan langkah pencegahan yang segera untuk menurunkan jumlah penderita prediabetes, DMT2 dan PKV yang terkait diabetes.2 Langkah-langkah pencegahan meliputi: a. Intervensi gaya hidup Modifikasi gaya hidup merupakan bagian utama terapi dan diberikan pada semua pasien dan harus diingat pada setiap kunjungan pasien. Gaya hidup merupakan pendekatan pengelolaan fundamental yang dapat mencegah atau menunda berkembangnya prediabetes menjadi diabetes, serta menurunkan resiko penyakit mikrovaskular dan makrovaskular. Intervensi gaya hidup memperbaiki semua faktor resiko diabetes dan komponen sindrom metabolik, obesitas, hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia. Pasien diabetes seharusnya

menurunkan berat badan 5-10% dan mempertahankannya secara berkelanjutan. Penurunan BB yang moderat tersebut mengahsilkan penurunan masa lemak, tekanan darah, glukosa, kolesterol (LDL) dan trigliserida. Aktifitas jasmani yang direkomendasikan adalah aktifitas jasmani intensitas sedang yang teratur 30-60 menit perhari, paling sedikit 4 hari dalam satu minggu.2 Diit yang dianjurkan adalah pembatasan kalori, peningkatan asupan serat, dan pembatasan karbohidrat. Khusus untuk penderita hipertensi diit yang disarankan adalah asupan garam yang dikurangi dan pembatasan alkohol.2 b. Intervensi Farmakologis Intervensi farmakologis untuk pencegahan DM biasanya

direkomendasikan sebagai intervensi sekunder yang diberikan setelah atau bersama-sama dengan intervensi modifikasi gaya hidup. Jika dengan intervensi

12

gaya hidup belum terjadi penurunan BB maka harus dipertimbangkan dimulainya penggunaan obat.2 Metformin Alasan penggunaan metformin sebagian besar berdasar pada catatan keamanan obat iniyang telah dipergunakan40 tahun, namun demikian, metformin tidak direkomendasikan untuk semua orang dengan TGT. Metformin dapat menyebabkan asidosis laktat (gangguan iskemia pada ginjal dan hepar). Metformin juga kurang berperan dalam pencegahan DM pada orang usia tua > 60 tahun. Keterbatasan metformin juga disebakan adanya efek samping saluran pencernaan yang bisa diatasi dengan peningkatan dosis secara bertahap.2 Acarbose Acarbose bekerja dengan cara menghalangi enzim yang mencerna karbohidrat. Pada studi STP NIDDM, dalam follow up 3,3 tahun, acarbose menurunkan resiko DM sebesar 25% dan resiko penyakit kardiovaskular sebesar 31% ( dibandingkan 19% placebo) sehingga membatasi penggunaannya untuk pencegahan DM. Studi STP NIDDM merekomendasikan penggunaan acarbose pada orang yang toleran dengan efek samping saluran pencernaan untuk pencegahan DM dan resiko kardiovaskular. Acarbose juga menurunkan kadar lipid terutama kadar lipid dan trigliserida saat puasa sebesar 15%. Acarbose juga menurunkan aterogenisitas dari LDL pada pasien dengan TGT.2 Orlistat Orlistat adalah sebuah obat yang bekerja dengan mekanisme menghalangi enzim yang memecah trigliserida didalam saluran cerna. Hasil dari sebuah studi menunjukan orlistat dapat menurunkan BB sebesar 3-5 kg dalam 6 bulan, yang dapat dipertahankan dalam waktu 4 tahun. Pengobatan pada subjek TGT yang obesitas denga orlistat sebagai gaya hidup dapat menurunkan resiko terjadinya DMT2.2

13

KESIMPULAN

1. Penyandang

prediabetes

dalam

perkembangannya

mempunyai

kemungkinan: sekitar 1/3 nya akan tetap sebagai prediabetes, 1/3 kasus akan menjadi diabetes mellitus tipe 2 (DMT2), dan 1/3 sisanya dapat kembali menjadi normoglikemi. 2. Prediabetes adalah suatu tahapan dimana kadar glukosa diatas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diagnosis diabetes. 3. American Diabetes Association (ADA) mendefinisikan prediabetes sebagai GPT yaitu kadar glukosa puasa 100 mg/dl (5,6 mmol/L) 125 mg/dl (7,0 mmol/L) atau bila kadar glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa 75 gram 140-199 mg/dl (7,8 11 mmol/L) yang sering disebut dengan TGT. 4. Test yang digunakan untuk mendiagnosis prediabetes : Hemoglobin A1C atau hemoglobin glikosilasi, tes gula darah puasa, dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). 5. Langkah-langkah pencegahan prediabetes meliputi intervensi gaya hidup dan intervensi farmakologis.

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Nugroho H. Screening for IGT Clinical Practice. ( serial online ) 2011 ( Diakses 2 Maret 2013); Diunduh dari URL: http://ipd. undip.

ac.id/publikasi/pustaka/13-endokrin-metabolik/108-screening-for-igtclinical-practice 2. Meddy Setiawan.. Prediabetes dan Peran HBA1C dalam Skrining dan Diagnosis Awal Diabetes Mellitus. Vol 17. Staf pengajar fakultas kedokteran universitas Muhammadiyah Malang. 2011 3. Tjokroprawiro A. Diabetes Mellitus-Capita Selecta In Daily Clinical Practice. (serial online) 2011 (Diakses 2 Maret 2013 ); Diunduh dari URL: http://penelitian.unair.ac.id/artikel_dosen_diabetes%20mellituscapita%20selecta%20in%20daily%20clinical%20practice_39_1716 4. Nasrul E, Sofitri. Hiperurisemia pada Pra Diabetes. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012. Bagian Patologi Klinik FK Unand 5. National Diabetes Information Clearinghouse (NDIC). Diagnosis of Diabetes and Prediabetes. (serial online) 2012 (Diakses 2 Maret 2013); Diunduh dari URl: http://diabetes.niddk.nih.gov/dm/pubs/diagnosis/ 6. Suyono Slamet. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi ke IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.Jakarta: FKUI:2006 .Hal 1854

15