Anda di halaman 1dari 29

Disusun Oleh : Kelompok II Aprilia Fitriani (8105108114) Ani Afriyani (8105108107) Siti Nurkholifah (8105108128)

Konsentrasi Pendidikan Akuntansi Non Reguler 2010 Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ekonomi dan Administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta 2012-2013

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbilalamin , segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya maka penyusunan makalah ini dapat kami selesaikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada orang tua kami yang telah mendukung kami dalam belajar selama ini, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Indra selaku Dosen Mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi di Universitas Negeri Jakarta yang banyak membantu kami dalam memahami materi disetiap mata kuliah yang diajarkan. Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberi manfaat bagi mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang membaca dan mempelajarinya. Pembahasan dalam makalah ini dipaparkan secara praktis dan sederhana sehingga mudah untuk dipahami. Seperti pepatah yang mengatakan tak ada gading yang taj retak begitu juga dengan makalah ini yang belum sempurna kami buat. Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari para pembaca guna kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Jakarta, 10 Oktober 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan audit merupakan media komunikasi antara auditor dan pengguna laporan keuangan. Laporan audit disebut sebagai media komunikasi karena laporan audit menyampaikan hasil dari proses audit kepada pengguna laporan keuangan. Menurut Mulyadi (2002), laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa laporan audit juga merupakan sumber informasi. Dengan demikian diharapkan agar laporan audit dapat memberikan pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan. Al-Thuneibat, et al. (2008) mengemukakan bahwa laporan audit harus dapat dimengerti, objektif, dan dapat diterima oleh pengguna sebagai sumber informasi yang relevan. Laporan audit dikatakan relevan apabila dapat memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan. Hal ini berarti laporan audit harus berisi informasi yang mempengaruhi keputusan. Karena pentingnya laporan audit maka memahami konsep mengenai laporann audit dan memahami pengumpulan bahan bukti sangatlah penting. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja yang menjadi bagian dari laporan audit ? 2. Kondisi-kondisi apa saja yang wajib ada untuk menerbitkan laporan audit? 3. Apa saja yang mempengaruhi keputusan-keputusan dalam pembuatan laporan audit ?

1.3 Tujuan Memahami konsep dari pembuatan laporan audit Memahami kondisi-kondisi yang diperlukan dalam menerbitkan laporan audit Mengetahui cara materialitas mempengaruhi keputusan-keputusan dalam pembuatan laporan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Laporan Laporan merupakan hal yang esensial dalam penugasan audit dan assurance karena laporan berfungsi mengkomunikasikan temuan-temuan auditor. Para pengguna laporan keuangan menyadarkan diri pada laporan auditor untuk memperoleh keandalan dari laporan keuangan perusahaan. Pelaporan adalah bagian yang hakiki dari proses auditing karena di dalam laporan itu dijelaskan mengenai apa yang dilakukan oleh auditor dan kesimpulan apa yang diperolehnya. Laporan audit adalah tahap akhir dari keseluruhan proses audit. Sering kali hanya laporan ini yang dilihat oleh pihak yang berkepntingan. Karena itu, mereka memandang laporan ini sebagai produk dari auditor. Persyaratan dasar untuk menyusun laporan audit digali dari keempat norma pemeriksaan akuntan. Akuntan terutama harus melihat kepada standar (norma) yang terakhir dan terpenting karena standar ini menetapkan bahwa harus dibuat suatu pernyataan pendapat (opini) mengenai keseluruhan laporan keuangan atau pernyataan bahwa pendapat tersebut tidak dapat diberikan disertai dengan alasan-alasannya. Standar ini juga mensyaratkan adanya pernyataan yang jelas oleh auditor mengenai sifat pemerikasaan yang dijalankannya dan sampai mana dia membatasi ruang lingkup pertanggungjawabannya.

2.2 Laporan Audit Bentuk Baku Standar pelaporan yang keempat mengahruskan laporan audit berisi suatu petunjuk yang jelas tentang sifat pekerjaan auditor serta tingkat tanggung jawab yang diembannya atas laporan keuangan. Agar para pengguna laporan dapat memahami laporan audit, maka profesi telah meyediakan standar kalimat yang digunakan dalam laporan auditor. Setiap auditor diperbolehkan mengubah sedikit penyajian atau kalimat laporan tersebut, tetapi arti laporan harus tetap sama. Yang termasuk unsure-unsur laporan audit bentuk baku ada tujuh, yaitu: 1. Judul laporan. Standar auditing mewajibkan setiap laporan diberi judul laporan , dan dalam judul tersebut tercantum pula kata independen yang dimasudkan untuk meyakinkan pemakai bahwa dalam semua aspek penugasan pemeriksaan tersebut dilaksanakan secara objektif atau tidak menyimpang. Sebagai contoh, judul yang tepat adalah laporan auditor independen, laporan dari auditor independen, atau pendapat akuntan independen. 2. Alamat laporan audit. Laporan ini umumnya ditujukan kepada perusahaan, para pemegang saham atau dewan direksi perusahaan. Dalam tahun-tahun terakhir ini, telah menjadi suatu kebiasaan untuk mengalamatkan laporan ini kepada para pemegang saham

untuk menunjukkan bahwa setiap auditor itu independen terhadap perusahaan dan dewan direksi perusahaan yang diaudit. 3. Paragraph pendahuluan. Paragraph pertama laporan menunjukkan tiga hal: pertama, membuat suatu pernyataan sederhana bahwa kantor akuntan public telah melaksanakan audit. Pernyataan ini dibuat untuk membedakan laporan audit ini dari suatu laporan kompilasi atau laporan review. Kedua, paragraph ini menyatakan laporan keuangan yang telah diaudit, termasuk pencantuman tanggal neraca serta periode akuntansi dari laporan laba rugi dan laporan arus kas. Kata-kata dalam laporan audit yang menyatakan laporan keuangan hasil audit harus identik dengan sebutan yang digunakan oleh manajemen terhadap laporan keuangan tersebut. ketiga, paragraph pendahuluan menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pelaksanaan audit. Tujuan dari pernyataan pernyataan ini adalah untuk mengkomunikasikan bahwa manajemen bertanggung jawab atas pemilihan prinsip akuntansi yang tepat, atas keputusan mereka memilih ukuran yang digunakan serta pengungkapan mereka tentang penggunaan prinsip-prinsip tersebut serta untuk mengklarifikasikan peran manajemen dan asuditor.. 4. Paragraph scope. Paragraph scope ini berisi pernyataan factual tentang apa yang dilakukan auditor selama proses audit. Paragraph ini pertama kali menyatakan bahwa auditor melaksanakan audit berdasarkan standar professional akuntan public. Bagian selanjutnya menerangkan secara singkat mengenai aspek-aspek penting dari suatu aspek. Paragraph scope menyatakan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material. Pencantuman kata material menunjukkan bahwa auditor hanya bertanggung jawab dalam mencari kesalahan penyajian yang signifikan, bukan mencari kesalahan penyajian yang tidak mempengaruhi pembuatan keputusan oleh para pengguna laporan keuangan. Istilah keyakinan yang memadai (reasonable assurance) digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu audit tidak dapat diharapkan untuk menghapus seluruh kemungkinan hadirnya kesalahan penyajian yang material dalam laporan keuangan. Dengan kata lain, suatu audit memang memberikan tingkat keandalan yang tinggi, tetapi bukanlah suatu jaminan. Berikutnya paragraph scope membahas tentang pengumpulan bukti audit serta menyatakan bahwa auditor yakin bahwa bukti audit yang dikumpulkan telah memberikan dasar yang memadai bagi pernyataan pendapat. Kata dasar pengujian (test basis) meunjukkan telah dilakukannya suatu sampling audit dan bukan pelaksanaan audit bagi setiap transaksi serta nilai yang tersaji dalam laporan keuangan. Jika paragraph pendahuluan dalam laporan audit menyatakan bahwa manjemen bertanggung jawab atas penyiapan serta isi dari laporan keuangan, maka paragraph scope menyatakan bahwa auditor mengevaluasi ketepatan penggunaan prinsip akuntansi, astimasi-estimasi, serta pengungkapan dan penyajian laporan keuangan tersebut.

5. Paragraph pendapat. Paragraph terakhir dalam laporan audit bentuk baku menyajikan kesimpulan auditor berdasarkan hasil dari proses audit yang telah dilakukan. Bagian ini merupakan bagian terpenting dari keseluruhan laporan ausit, sehingga seringkali seluruh laporan audit dinyatakan secara sederhana sebagai pendapat auditor. Paragraph pendapat dinyatakan sebagai suatu pendapat/opini saja daripada sebagai suatu pernyataan yang mutlak atau sebagai suatu jaminan. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa kesimpulam tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan professional. Frase menurut pendapat kami menunjukkan kemungkinan bahwa di dalam laporan keuangan masih terdapat risiko informasi, walaupun laporan keuangan tersebut telah diaudit. Paragraph pendapat berkaitan langsung dengan standar professional akuntan public pertama dan keempat sebagaimana yang dapat dilihat pada bab sebelumnya. Auditor diwajibkan untuk menyatakan pendapatnya tentang keseluruhan laporan keuangan, termasuk di dalamnya kesimpulan tentang apakah perusahaan telah mengikuti prinsip akuntansi yang berlaku umum. Salah satu bagian dalam laporan auditor yang menimbulkan kontroversi adalah arti dari istilah menyajikan secara wajar (present fairly). Apakah hal tersebut berarti bahwa jika prinsip akuntansi yang berlaku umum telah dipatuhi, maka laporan keuangan telah disajikan secara wajar, atau disajikan lebih baik? Adakalanya, pengadilan menyatakan bahwa auditor bertanggung jawab untuk mencari lebih dari sekedar kepatuhan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum terutama agar para pengguna laporan tidak disesatkan oleh laporan keuangan tersebuut, bahkan jika prinsip akuntansi tersebut telah dipatuhi seluruhnya. Mayoritas auidtor merasa yakin bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar ketika lapporan keuangan tersebut disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum tetapi merupakan kewajiban auditor pula untuk menguji substansi transaksi serta saldo-saldo akun itu terhadap kemungkinan timbulnya kesalahan informasi. 6. Nama KAP. Nama tersebut akan mengidentifikasikan kantor akuntan public atau praktisi mana yang telah melaksanakan proses audit. Umumnya yang dituliskan adalah nama kantor akuntan public karena seluruh bagian dari kantor kauntan public tersebut bertanggung jawab, baik secara hukum maupun secara profesi, dalam memastikan agar kualitas pekerjaan audit memenuhi standar profesi. 7. Tanggal laporna audit. Tanggal yang tepat untuk dicantumkan dalam laporan audit adalah tanggal pada saat auditor menyelesaikan prosedur audit terpenting di lokasi pemeriksaan. Tanggal ini merupakan tanggal yang penting pula bagi para pengguna laporan karena tanggal tersebut menunjukkan kapan saat terakhir sang auditor masih bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan. Jika di dalam laporan audit tanggal neraca adalah 31 Desember 2002, dan tanggal laporan audit adalah 15 Februari 2003. Maka hal tersebut menunjukkan bahwa auditor telah mencari transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa yang belum tercatat dan yang terjadi hingga 15 Februari 2003.

Laporan audit bentuk baku (laporan audit wajar tanpa syarat) diterbitkan bila kondisikondisi berikut ini terpenuhi: 1. Seluruh laporan keuangan-neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas telah lengkap. 2. Semua aspek dari ketiga standar umum GAAS/SPAP telah dipatuhi dalam penugasa n audit tersebut. 3. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan sang auditor telah melakasanakan penugasan audit ini dengan sedemikian rupa sehingga membuatnya mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipatuhi. 4. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Hal tersebut berarti pula bahwa pengungkapan informatif yang cukup telah tercantum dalam catatan atas laporan keuangan serta bagian-bagian lainnya dari laporan keuangan tersebut. 5. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah paragraph penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam laporan audit. Laporan audit bentuk baku seringkali disebut sebagai opini yang bersih ( clean opinion) karena tidak terdapat suatu situasi pun yang memerlukan suatu kualifikasi atau modifikasi dalam pendapat auditor. Laporan audit bentuk baku merupakan opini audit yang paling umum. Kadangkala terdpat situasi yang berada di luar kendali klien atau auditor, yang mencegah diterbitkannya suatu opini yang bersih. Bagaimanapun, pada banyak kasus, perusahaan akan melakukan beberapa perbaikan pada catatan akuntansinya dalam rangka menghindari penerbitan suatu kualifikasi atau modifikasi oleh auditor. Jika salah satu dari kelima kondisi laporan audit bentuk baku tidak dapat dipenuhi, maka laporan audit bentuk baku tersebut tidak dapat diterbitkan. Para pengguna laporan keuangan umumnya akan lebih memperhatikan pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimner) atau suatu pendapat tidak wajar (adverse) daripada memperhatikan suatu laporan audit wajar tanpa syarat dengan sebuah paragraph penjelasan.

2.3 Laporan Audit Wajar Tanpa Syarat Dengan Paragraf Penjelasan Atau Modifikasi Kalimat Pada beberara situasi, suatu laporan audit wajar tanpa syarat diterbitkan, tetapi dengan kalimat yang sedikit menyimpang dari laporan audit bentuk baku. Laporan audit wajar tanpa syarat dengan paragraph penjelasan atau modifikasi kalimat (unqualified audit report with explanatory paragraph or modified wording) sesuai dengan criteria suatu audit yang lengkap dengan hasil audit yang memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi auditor merasa wajib untuk memberikan informasi tambahan. Suatu laporan audi bentuk wajar dengan pengecualian (qualified), tidak wajar (adverse), atau tidak memberikan pendapat (disclaimer), diterbitkan pada saat auditor merasa tidak memperoleh

kepuasan dalam pelaksanaan auditnya, atau menemukan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, atau merasa tidak independen. Berikut ini adalah penyebab-penyebab utama ditambahkannya suatu paragraph penjelasan atau modifikasi kalimat pada laporan audit bentuk baku: Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan (going concern). Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penekanan pada suatu masalah. Laporan yang melibatkan auditor lainnya. Untuk keempat penyebab pertama dibutuhkan suatu paragraph penjelasan. Pada masing-masing kasus, tiga paragraph standar tetap disertakan tanpa dibubuhi modifikasi apapun kemudian ditambahkan sebuah paragraph penjelasan dan baru dengan diikuti paragraph pendapat. Hanya pembuatan laporan yang melibatkan auditor lainlah, yang memerlukan suatu modifikasi kalimat. Laporan ini berisi tiga buah paragraph dan keseluruhan paragraph tersebut mengalami modifikasi. 2.3.1 Tidak Adanya Konsistensi dalam Penerapan GAAP/PSAK Standar pelaporan kedua mewajibkan auditor untuk menaruh perhatian pada kondisikondisi yang membuat prinsip akuntansi tidak diberlakukan secara konsisten antara prinsip akuntansi yang digunakan pada sebelumnya. GAAP/PSAK menghendaki agar perunahan dalam prinsip atau metode akuntansi yang digunakan serta sifat dan pengaruh perubahan tersebut diungkapkan secukupnya. Saat suatu perubahan yang material terjadi, auditor harus memodifikasi laporannya dengan menambahkan suatu paragraph penjelasan yang diletakkan setelah paragraph pendapat, paragraph penjelas ini mem bahas tentang sifat perubahan tersebut serta menunjukkan kepada para pembaca letak pembahasan perubahan prinsip akuntansi itu dalam catatan atas laporan keuangan. Materialitas perubahan prinsip akuntansi dievaluasi yang dilakukan secara sukarela maupun perubahan prinsip akuntansi yang harus dilakukan karena adanya suatu pernyataan akuntansi yang baru. Gambar 3-3 menampilkan suatu contoh dari paragraph penjelasan. Gambar 3.3 Paragaraf Penjelasan Karena Adanya Perubahan Prinsip Akuntansi

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN (Sama dengan paragraph pendahuluan, paragraph scope, dan paragraph pendapat pada laporan audit bentuk baku) Sebagaimana dinyatakan pada Catatan atas laporan keuangan No.8 perusahaan telah mengubah metode perhitungan depresiasinya pada tahun 2002.

Tersirat dalam paragraph penjelasan pada gambar 3-3 bahwa auditor menganggap perubahan prinsip akuntansi tersebut telah dilakukan secara tepat. Jika auditor menganggap bahwa perubahan prinsip akuntansi tersebut tidak tepat untuk dilakukan, maka perubahan prinsip akuntansi tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran pada prinsip akuntansi yang berlaku umum serta auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified). Konsistensi versus Komparabilitas Auditor harus dapat menetukan perbedaan antara perubhana yang dapat mempengaruhi konsistensi pelaporan serta perubahan yang dapat mempengaruhi komparabilitas tetapi tidak mempengaruhi konsistensi pelaporan. Berikut ini adalah contoh-contoh perubahan yang dapat mempengaruhi konsistensi pelaporan dan memerlukan suatu paragraph penjelasan saat perubahan tersebut bersifat material: 1. Perubahan prinsip akuntans, seperti perubhaan metode penilaian persediaan dari FIFO menjadi LIFO 2. Perubahan dalam entitas pelaporan seperti penambahan suatu perusahaan baru dalam laporan keuangan gabungan. 3. Perbaikan kesalahan yang melibatkan prinsip-prinsip akuntansi, yaitu dengan melakukan perubahan dari prinsip yang tidak diterima secara umum, termasuk di dalamnya perbaikan atas akibat dari kesalahan penggunaan prinsip akuntansi tersebut. Termasuk dalam perubahan yang mempengaruhi komparabilitas tetapi tidak mempengaruhi konsistensi pelaporan sehingga tidak perlu dicantumkan dalam laporan audit adalah sebagai berikut: 1. Perubahan estimasi, seprti penurunan umur ekonomis suatu aktiva untuk tujuan perhitunga depresiasi. 2. Perbaikan kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi, misalnya kesalahan perhitungan matematis dalam laporan keuangan terdahulu. 3. Variasi format dan penyajian informasi keuangan. 4. Peruabahan yang terjadi akibat transaksi atau peristiwa yang sangat berbeda, seprti suatu proyek penelitian dan pengemgbangan yang baru atau penjualan sebuah anak perusahaan. Hal-hal yang secara material mempengaruhi komparabilitas laporan keuangan umumnya memerlukan suatu pengungkapan informatif dalam catatan atas laporan keuangan. Suatu laporan audit wajar dengan pengecualian untuk pengungkapan informatif yang tidak memadai barangkali akan diperlukan pada saat klien menolak mengungkapan denagn tepat hal-hal tersebut dalam catatan atas laporan keuangannya. 2.3.2 Kelangsungan Hidup Perusahaan Walaupun mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan bukan tujuan dari suatu proses audit, tetapi auditor memiliki suatu tanggung jawab untuk mengevaluasi apakah perusahaan tersebut memiliki kecendrungan untuk tetap bertahan (going concern) . contoh, keberadaan saru atau lebiih dari faktor-faktor berikut ini dapat menimbulkan ketidakpastian atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya: 1. Terjadinya kerugian operasional atau kekurangan modal kerja yang signifikan.

2. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jatuh temponya. 3. Kehilangan pelanggan-pelanggan utama, terjadi bencana yang tak dijamin oleh asuransi seperti gempa bumi atau banjir, atau suatu masalah ketenagakerjaan yang tidak umum. 4. Pengadilan, perundang-undangan, atau hal-hal lainnya yang serupa yang dapat mengancam kemampuan operasional perusahaan. Pertimbangan auditor atas situasi-situasi tersebut adalah timbulnya suatu kemungkinan bahwa klien mungkin tidak dapat meneruskan kegiatan usahanya atau memenuhi kewajibannya dalam suatu periode tertentu. Untuk tujuan ini, suatu periode tertentu dianggap tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan tersebut diaudit. Ketika auditor menyimpukan bahwa terdapat ketidakpastian akan kelangsungan hidup perusahaan, maka suatu laporan audit wajar tanpa syarat dengan suatu paragraph penjelsan harus diterbitkan, tanpa memperhatikan pengungkapan dalam laporan keuangan. SAS 59 menijinkan tetapi tidak mewajibkan suatu penolakan pemberian pendapat ketika terdapat suatu ketidakpastian akan kelangsungan hidup perusahaan. Criteria kapan menolak memberikan pendapat dan kapan memberikan pendapat denagan menambahkan suatu paragraph penjelasan tidak dijelaskan dalam standar ini, dan pada prakteknya penolakan pemberian pendapat terjadi ketika suatu lembaga pengatur, seperti Badan Perlindungan Lingkungan, telah memustuskan untuk membebankan sejumlah denda yang sangat besar kepada sebuah perusahaan, dan jika hal tersebut mengakibatkan suatu hasil akhir yang kurang menyenangkan, maka perusahaan mungkin terpaksa dilikuidasi. 2.3.3 Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari Prinsip Akuntansi yang berlaku umum Aturan 203 Kode Etik Profesional AICPA menyatakan bahwa dalam sistuasi-situasi yang tidak umum, suatu penyimpangan dari prinsip akuntansi yang telah disusun oleh sebuah lembaga untuk digunakan oleh AICPA sebagai panduan prinsip akuntansi, barangkali tidak memerlukan suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. Bagaimanapun agar memperoleh suatu pendapat wajar tanpa syarat, auditor harus merasa puas serta harus menyatakan dan menjelaskan, dalam sebuah atau beberapa paragraph terpisah dalam laporan auditnya, tentang prinsip akuntansi yang dapat menimbulkan suatu hasil yang menyesatkan pada situasi tersebut. 2.3.4 Penekanan Masalah Dalam bebrapa situasi, akuntan public barangkali ingin memberikan penekanan pada beberapa masalah tertentu yang terkait dengan laporan keuangan, walaaupun ia bermaksud untuk memberikan suatu pendapat wajar tanpa syarat. Biasanya, beberapa informasi tambahan yang menjelaskan maslah tersebut harus dinyatakan pada suatu paragraph terpisah dalam laporan audit. Berikut ini adalah contoh-contoh kasus yang menyebabkan seorang auditor berpikir bahwa ia harus menjelaskan permasalahan yang terjadi, terdapat transaksi dengan pihak terkait yang bernilai sangat besar, peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal neraca, penjelasan masalah akuntansi yang mempengaruhi komparabilitas laporan keuangan

tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya, serta ketidakpastian material yang diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. 2.3.5 Laporan yang melibatkan Auditor lainnya Ketika auditor menyadarkan dirinya pada sebuah kantor akuntan public lain untuk melaksanakan sebagian proses audit, yang biasa terjadi bila klien memilki sejumlah cabang atau subdivisi yang tersebar letaknya, maka kantor akuntan public utama memiliki tiga alternative pilihan. Hanya alternative kedua yang memberikan pilihan akan suatu laporan audit wajar tanpa syarat dengan modikasi kalimat. 1. Tidak memberikan referensi dalam laporan audit. Ketika tidak ada referensi yang dibuat untuk auditor lainnya, maka suatu pendapat wajar tanpa syarat diberikan kecuali terdapat kondisi lain yang mengharuskan dikeluarkannya pendapat lain di luar pendapat wajar tanpa syarat. Pendekatan ini dilakukan pada saat auditor lain mengaudit laporan keuangan dengan proporsi yang tidak material, auditor lain sangat dikenal atau disupervisi secara ketat oleh auditor utama,atau auditor utama telah melakukan review yang mendalam pada pekerjaan yang dilakukan oleh auditor lain. Auditor lainnya tersebut tetap bertanggung jawab atas laporan auditnya sendiri dan turut bekerja saat terjadi suatu gugatan pengadilan atau tindakan dari SEC. 2. Memberikan referensi dalam laporan (modifikasi kalimat) Jenis laporan ini disebut pula sebagai suatu laporan atau pendapat bersama. Suatu laporan bersama wajar tanpa syarat merupakan laporan yang tepat untuk diterbitkan bila merupakan hal yang tidak praktis untuk mereview kembali pekerjaan auditor lain atau ketika proporsi laporan keuangan yang diaudit oelh auditor lain material terhadap keseluruhan laporan keuangan. Suatu contoh laporan bersama yang tidak dapat diinterpretasikan sebagai suatu pengklasifikasian dapat dilihat pada Gambar 3-5. Perhatikanlah bahwa laporan tersebut tidak menambahkan suatu paragraph terpisah yang membahas tentang pembagian tanggung jawab, tetapi membahasnya dalam paragraph pendahuluan serta menunjukkan adanya auditor lain dalam paragraph scope dan paragraph pendapat. Proporsi laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lainnya dapat dinyatakannya sebagai suatu prosentase atau jumlah tertentu. 3. Mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian Auditor utama dapat meyimpulkan bahwa perlu diterbitkan suatu pendapat wajar dengan pengecualian. Suatu pendapat wajar tanpa syarat atau tidak memberikan pendapat (disclaimer), tergantung pada materialitasnya, diperlukan jika auditor utama tidak menginginkan untuk mengambil tanggung jawab apapun atas pekerjaan auditor lainnya. Auditor utama pun dapat memutuskan bahwa suatu pendapat wajar dengan pengecualian diperlukan bagi keseluruhan laporan keuangan jika auditor lainnya memberikan pendapat wajar dengan pengecualian untuk sebagian laporan keuangan yang telah diauditnya tersebut.

2.4 Penyimpangan Dari Laporan Audit Bentuk Baku Merupakan hal yang penting bagi auditor dan pembaca laporan audit untuk memahami kapan kondisi-kondisi yang tidak tepat untuk menerbitkan suatu laporan audit bentuk baku serta jenis laporan audit yang harus diterbitkan dalam setiap kondisi tersebut. dalam studi laporan audit yang menyimpang dari laporan audit bentuk baku, terdapat tiga topic yang saling terkait satu sama lain.: kondisi-kondisi yang menyebabkan penyimpangan dari laporan audit bentuk baku jenis laporan pendapat audit lainnya selain laporan audit bentuk baku, serta materialitas. Pertama, ikhtisar dari ketiga kondisi yang menyebabkan penyimpangan dari laporan audit bentuk baku, yaitu: 1. Ruang lingkup audit dibatasi Ketika auditor tidak dapat mengumpulkan bukti audit yang memadai untuk menyimpulkan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP/PSAK, maka terdapat suatu pembatasan atas ruang lingkup audit. Terdapat dua penyebab utama atas pembatasan lingkup audit ini: pembatasan oleh klien dan pembatasan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi di luar kendali klien atau auditor. Suatu contoh dari pembatsan oleh klien adalah penolakan manajemen untuk memberikan ijin kepada auditor mengkonfirmasikan piutang-piutang yang material atau pengujian fisik persediaan. Suatu contoh pembatasan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi di luar kendali adalah saat tidak adanya kesepakatan penugasan audit hingga setelah akhir periode keuangan klien. Merupakan hal yang tidak mungkin untuk mengamati persediaan secara fisik, mengkonfirmasikan piutang, atau melaksanakan prosedur-prosedu setelah tanggal neraca yang penting. 2. Penyajian laporan keuangan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (penyimpangan dari GAAP/PSAK) Sebagai contoh, jika seorang klien bersikeras untuk menggunakan harga penggantian (replacement cost) bagi aktiva tetapnya atau menilai persediaannya berdasarkan harga jual daripada berdasarkan harga historis, maka perlu diberikan pendapat di luar pendapat wajar tanpa syarat. Ketika prinsip akuntansi yang berlaku umum diterapkan menurut konteks ini, maka pertimbangan auditor atas kecukupan selluruh pengungkapan informative, termasuk catatan atas laporan keuangan, memiliki pernanan sangat penting. 3. Auditor tidak independen Independensi umumnya ditentukan berdasarkan Aturan 101 dari Aturan Kode Etik Profesional. Ketika salah satu dari ketiga kondisi tersebut menunjukkan gejala bahwa suatu penyimpangan dari laporan bentuk baku hadir dan bernilai material, maka suatu laporan selain laporan bentuk baku/laporan wajar tanpa syarat harus diterbitkan. Tiga jenis laporan audit yang dapat diterbitkan di bawah ketiga kondisi ini adalah laporan wajar dengan pengecualian (qualified), tidak wajar (adverse), serta menolak memberikan pendapat (disclaimer).

2.4.1 Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion) Laporan wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan akibat dari pembatasan lingkup audit atau kegagalan dalam mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan wajar dengan pengecualian hanya dapat diterbitkan pada saat auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan disajikan secara wajar. Laporan tidak wajar (adverse) atau tidak memberikan pendapat (disclaimer) harus diterbitkan jika auditor merasa yakin bahwa kondisi-kondisi tersebut bersifat material. Oleh karena itu, pendapat wajar dengan pengecualian dianggap sebagai jenis laporan audit yang paling baik artinya setelah laporan audit wajar tanpa syarat (unqualified report). Laporan wajar tanpa pnegcualian dapat berbentuk penegecualian baik atas lingkup maupun pendapat audit maupun pengecualian atas pendapat saja. Suatu pengecaualian atas lingkup dan pendapat audit dinyatakan hanya pada saat auditor merasa tidak mampu mengumpulkan semua bukti audit yang diwajibkan dalam standar professional akuntan public. Selanjutnya, jenis pengecualian ini, digunakan pada saat lingkup audit sang auditor dibatas oleh klien maupun oleh kondisi-kondisi yang ada, yang mencegah auditor untuk melaksanakan proses audit secara lengkap. Penggunaan suatu pengecualian atas pendapat saja terbatas pada situasi-situasi di mana laporan keuangan disajikan tidak sesuai PSAK.\ Ketika auditor menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian, ia harus menggunakan istilah kecuali (except for) dalam paragraph pendapat. Sebagai implikasinya, sang auditor merasa puas bahwa laporan keuangan telah disajikan dengan benar kecuali aspek tertentu laporan keuangan saja. Tidak diijinkan menggunakan frase kecuali pada jenisjenis pendapat audit lainnya. 2.4.2 Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion) Pendapat tidak wajar digunakan saat auditor percaya bahwa secara material keseluruhan laporan keuangan telah disajikan secara tidak wajar sehingga laporan keuangan tersebut tidak menyajikan posisi keuangan atau hasil usaha dan arus kas yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan pendapat tidak wajar hanya dapat diterbitkan jika sang auditor memiliki pengetahuan, yang diperoleh stelah melakukan suatu investigasi mendalam. Bahwa terdapat ketidaksesuaian dengan PSAK. Hal ini jarang terjadi sehingga pendpat tidak wjar jarang sekali diterbitkan. 2.4.3 Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion) Laporan audit yang tidak memberikan pendapat diterbitkan pada saat auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan keuangan yang diauditnya telah disajikan secara wajar. Kewajiban untuk menolak memberikan pendapat akan timbul jika terdapat pembatasan lingkup audit atau terdapat hubungan yang tidak independen menurut Kode Etik Profesional antara auditor dengan kliennya. Kedua situasi ini mencegah auditor untuk mengeluarkan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Auditor pun memiliki pilihan untuk menolak memberikan pendapat pada suatu masalah kelangsungan hidup perusahaan.

Penolakan pemberian pendapat ini berbeda dengan pemberian pandapat tidak wajar sebab penolakan pemberian pendapat terjadi saat auditor kurang memiliki penegtahuan atas penyajian laporan keuangan, sementara untuk menyatakan pendapat tidak wajar, seorang auditor harus memiliki pengetahuan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar. Penolakan pemberian pendapat maupun pendapat tidak wajar hanya diberikan pada saat kondisi, yang menyebabkan dikeluarkannya salah satu dari kedua jenis pendapat tersebut, sangat material. 2.5 Materialitas Materialitas memberikan suatu pertimbangan penting dalam menentukan jenis laporan audit mana yang tepat untuk diterbitkan dalam suatu kondisi tertentu. Sebagai contoh, jika suatu kesalahan penyajian yang terjadi relative bersifat tidak material terhadap keseluruhan laporan keuangan suatu entitas pada periode berjalan, maka merupakan hal yang tepat untuk menerbitkan sutau pendapat wajar tanpa syarat. Suatu contoh yang umum adalah pembebanan persediaan kantor langsung sebagai biaya daripada membukukan sebagian persediaan kantor yang belum digunakan tersebut ke dalam persediaan karena jumlahnya yang tidak signifikan. Situasi akan berubah secara total ketika nilai persediaan kantor itu cukup signifikan yang membuat keseluruhan laporan keuangan akan dipengaruhi secara material. Dalam kondisi tersebut, merupakan suatu kewajiban untuk menerbitkan suatu pendapat tidak wajar atau menolak memberikan pendapat , di mana pemberian salah satu dari kedua pendapat itu tergantung dari sifat kesalahan penyajian tersebut. pada situasi-situasi yang tingkat materialitasnya lebih rendah, maka akan lebih tepat jika menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian. 2.5.1 Tingkat Materialitas Definisi umum materialitas yag diterapkan dalam bidang akuntansi dan selanjutnya berlaku pula dalam pelaporan audit adalah sebagai berikut: Kesalahan penyajian laporan keuangan dapat dianggap material jika kesalahan penyajian tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna laporan. Dalam penerapan definisi ini, terdapat tiga tingkat materialitas yang digunakan Untuk menentukan jenis pendapat yang akan diterbitkan. 1. Nilainya tidak material Ketika suatu kesalahan penyajian terjadi dalam laporan keuangan tetapi salah saji tersebut tidak mungkin mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan, maka hal tersebut dikategorikan sebagai tidak material. Dalam kondisi tersebut sangat pantas untuk menerbitkan pendapat wajar tanpa syarat. Sebaga contoh, diasumsikan bahwa manjemen pada tahun sebelumnya mencatat asuransi yang belum jatuh tempo sebagai suatu aktiva dan memutuskan untuk membebankannya sebagai biaya dalam tahun berjalan untuk mengurangi biaya pemeliharaan catatan keuangan. Dengan demikian manajemen telah gagal untuk

mematuhi PSAK, tetapi jika jumlahnya sedikit, maka kesalahan penyajian tersebut bersifat tidak material dan suatu laporan audit bentuk baku layak untuk diterbitkan. 2. Nilainya material tetapi mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan keuangan Tingkat materialitas yang kedua hadir pada saat terdapat suatu kesalahan penyajian dalam laporan keuangan yang dapat mempengaruhi keputusan seorang pengguna laporan, tetapi secara keseluruhan laporan keuangan tetap disajikan secara wajar dan tetap dapat digunakan. Sebagai contoh, bila digunakan terdapat kesalahan penyajian dalam aktiva tetap yang bernilai cukup besar, hal tersebut dapat mempengaruhi kesediaan dari si pengguna laporan untuk meminjamkan sejumlah uang kepada perusahaan jika aktiva tetap tersebut akan digunakan sebagai jaminan pinjamannya. Tidak berarti bila terdapat suatu kesalahan penyajian dalam nilai persediaan, maka kas, piutang dagang, serta elemen-elemen laporan keuangan lainnya, atau keseluruhan laporan keuangan, akan mengalami kesalahn penyajian yang material pula. Untuk menentukan tingkat materialitas yang terjadi saat hadirnya suatu kondisi tertentu yang mewajibkan auditor menerbitkan pendapat di luar pendapat wajar tanpa syarat, maka auditor harus melakukan evaluasi atas semua pengaruh yang mungkin timbul dalam laporan keuangan. Diasumsikan bahwa auditor tidak dapat memuaskan keingintahuannya tentang apakah nilai persediaan telah disajikan secara wajar pada saat ia akan memutuskan tentang pendapat apa yang akan diterbitkannya untuk laporan keuangan tersebut. karena kesalahan penyajian nilai persediaan berpengaruh pula pada akun-akun lainnya serta pada nilai yang tercantum dalam laporan keuangan, maka auditor wajib mempertimbangkan materialitas dari efek gabungan itu pada persediaan, total aktiva lancar, total modal kerja, harga pokok penjualan, laba bersih sebelum pajak, serta laba bersih setelah pajak. Ketika auditor berkesimpulan bahwa suatu kesalahan penyajian bersifat material tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan keuangan, maka pendapat auditor yang tepat adalah pendapat wajar dengan pengecualian (menggunakan kecuali untuk). Nilainya Sangat Material sehingga Kewajaran Seluruh Laporan Keuangan Dipertanyakan. Tingkat materialitas tertinggi hadir pada saaat terdapat probabilitas yang sangat tinggi bahwa penggunaan laporan akan mempbuat keputusan yang tidak benar jika pengguna laporan menydarkan dirinya pada keseluruhan laporan keuangan dalam pembuatan keputtusan mereka. Kembali pada contoh sebelumnya jika persediaan merupakan nilsi terbesar dalam laporan keuangan,maka suatu kesalahaan pencatatan yang bernilaai tinggi dan sedemikian material akan mengharuskan laporan auditor untuk mengindikasikan bahwa keseluruhan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar. Ketika tingkat meterialitas tertinggi hadir, auditor harus menolak memberikan pendapat atau memberikan pendapat tidak wajar, tergantung pada situasi saat itu. Saat menentukan tingkat materialitas dari suatu kesalahan penyajian, maka auditor harus dipertimbangkan seberapa besar pengaruh salah saji tersebut terhadap bagian-bagian laporan keuangan lainnya. Hal ini disebut tingkat resapan (pervasiveness). Suatu kesalahan

pengklasifikasian antara kas dan piutang dagang hanya mempengaruhi kedua akuntersebut dan dikatakan tidak pevasive. Di sisi lain, kegagalan mencatat suatu penjualan yang bernilai tinggi dikatakan sangan pervasive karenaa hal tersebut mempengaruhi nialai penjualan, piutang dagang, pajak penghasilan yang harus dibayar, pajak penghasilan yang terutang, serta laba ditahan, yang kemudian mempengaruhi pula aktiva lancar, total aktiva, hutang lancar, total hutang, modal, laba kotor dan pendapatan operasional. Saat kesalahan penyajian semakin pervasive, probabilitas diterbitkaannya suatu pendapat yang tidak wajar dibandingkan penertiban pendapatan wajar dengan pengecualian akan semakin tinggi. Sebagai contoh, andai kata auditor memutuskan terdapat suatu kesalahan k;asifikasi antara kas dan piutang dagang dan mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian karena kesalahan klasifikasi tersebut dianggap tidak material, maka kegagalan dalam mencatat suatu penjualan dengan nilai yang sama dengan nilai kesalahan klsifikasi antara kas dan piutaang dagang tersebut, akan mengakibatkan diterbitkannya suatu pendapat tidak wajar karena efek pervasive-nya itu. Tanpa memperhatikan nilainya, suatu penolakan pemberian pendapat harus dilakukan saat auditor merasa tidak memiliki independensi sebagaimana independensi yang didefinisikan dalam aturan pada Kode Etik Profesional. Ketentuan yang sangat keras ini mencerminkan pentingnya independensi bagi para auditor. Setiap penyimpagan dari aturan independensi ini akan dianggap sangat material. Setiap penyimpangan dari aturan independensi ini akan dianggap sangat material. Table 3-1 mengikhtisarkan hubungan antara materialitas dan jenis pendapat/opini yang harus diterbitkan auditor. Tabel 3-1 Hubungan antara Materialitas dan Jenis Opini Tingkat Pengaruhnya terhadap Keputusan yang Dibuat oleh Materialitas Pengguna Laporan Tidak material Tidak mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan. Material Mempengaruhi keputusan pengguna laporan hanya jika informasi yang salah saji tersebut sangat penting bagi keputusan tertentu. Tetapi keseluruhan laporan keungan disajikan secara wajar. Sangat material Sebagian besar atau seluruh keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan sangat dipengaruhi oleh kesalahan penyajian tersebut.

Jenis Opini Wajar tanpa syarat Wajar dengan pengecualian

Tidak memberikan pendapat (disclaimer) atau pendapat tidak wajar (adverse)

2.5.2 Keputusan Materialitas Dalam konsepnya, tingakat meterialitas berpengaruh langsung terhadap jenis opini yang diterbitkan. Dalam penerwpannya, merupakan suatu pertimbangan yang cukup sulit untuk memutuskan berapa materialitas sebenarnya dalam suatu situasi tertentu. Tidak

terdapat suatu panduan yang sderhana dan terstrukturr yang dapat menolong seorang auditor untuk memutuskan apakah sesuatu hal bersifat tidak material, material, atau sangat material. Evaluasi meteerialitas tergantung pula pada apakah dalam suatu situasi tertenttu terdapat suatu ketidaksesuaian dengan GAAP/PSAK atau terdapat suatu pembatasan lingkup audit. Keputusan Materialitas Kondisi Non-GAAP Ketika seorang klien gagal dalam mengikuti prinsip-prinsip GAAP, maka laporan audit yang diterbitkan apakah berupa pendapat wajar tanpa syarat, hanya pendapat wajar dengan pengecualian, atau pendapat tidak wajar, tergantung pada materialitas dari penyimpangan yang terjadi. Beberapa aspek materialitas harus dipertimbangkan. Perbandingan Nilai Dollar pada Suatu Patokan Tertentu Pada saat seseorang klien gagal mematuhi prinsip-prinsip GAAP maka yang menjadi perhatian utama dalam pengukuran materialitasnya umumnya adalah nilai uang dari total kesalahan pada akun-akun yang terkait, dibandingkan pada suatu patokan tertentu. Suatu kesalahan senilai $10,000 mungkin bersifat material bagi sebuah perusahaan skala kecil, tetapi tidak material bagi sebuah perusahaan besar. Oleh karenanya, kesalahan penyajian harus dibandingkan dengan suatu patokan tertentu sebelum dibuat suatu keputusan tentang tingkat materialitas dari kegagalan mematuhi prinsip-prinsip GAAP itu. Patokan/panduan yang umumnya digunakan adalah laba bersih, total aktiva, aktiva lancar, dan modal kerja. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa seorang auditor meyakini adanya kelebihan pencatatan saldo persediaan sebesar $100,000 akibat dari kegagalan klien dalam mematuhi prinsip-prinsip GAAP. Diasumsikan pula saldo persediaan tercatat sebesar $1,000,000, aktiva lancar $ 3,000,000 dan laba bersih sebelum pajak sebesar $2,000,000. Dalam kasus ini, auditor harus mengevaluasi materialitas dari suatu kesalah pencatatan yang berprosentase 10% terhadap nilai persediaan, 3,3% dari aktiva lancar, dan 5% dari laba bersih sebelum pajak. Untuk mengevaluasi keseluruhan materialitas, auditor pun harus menggabungkan seluruh kesalahan saji yang belum diperbaiki serta menimbang apakah mungkin terdapat kesalahan yang bersifat tidak material yang ketika digabungkan dengan kesalahan saji lainnya., akan mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Dalam kasus persediaan diatas, diasumsikan bahwa auditor meyakini pula adanya kelebihan pencatatan saldo piutang dagang sebesar $150,000. Maka total pengaruh kelebihan pencatatan tersebut pada aktiva lancar sekarang sebesar 8,3% ($250,000 dibagi dengan $3,000,000) dan sebesar 12,5% ($250,000 dibagi dengan $2,000,000) pada laba bersih sebelum pajak. Ketika membandingkan potensi kesalahan penyajian dengan suatu patokan tertentu, seorang auditor harus mempertimbangkan dengan secara berhati-hati seluruh akun yang dipengaruhi oleh kesalahan penyajian tersebut (pervasiveness). Sebagai contoh, merupakan hal yang penting untuk tidak memperhatikan pengaruh dari kekurangan pencatatan saldo persediaan pada hargaa pokok penjualan, laba sebelum pajak, pajak penghasilan yang dibayarkan, serta pajak yang terutang.

Terukur nilai uang dari sejumlah kesalahn penyjian tidak dapat diukur secara akurat. Sebagai contoh, ketidaksediaan seorang klien untuk mengungkapkan suatu gugatan pengadilan yang sedang berlangsung atau pembelian sebuah perusahaan baru yang dilakukan setelah tanggal neraca sulit, jika memungkinkan, untuk diukur dalam satuan uang. Pertanyaan materialitas yang harus dievaluasi oleh auditor dalam situasi-situasi seperti ini adalah pengaruh dari kegagalannya dalam meengungkapkan hal-hal tersebut pada para pengguna laporan. Karakteristik Item itu Sendiri Keputusan seorang pengguna laporan mungkin pula dipengaruhi oleh jenis kesalahan penyajian dalam laporan keuangan. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat mempengaruhi keputusan para pengguana laporan serta mempengaruhi pula pendapat auditor dalam suatu pendekatan yang berbeda dengan mayoritaas kesalahan penyajian. 1. Transaksi-transaksi bersifat illegal atau curang 2. Suatu item secara material dapat mempengaruhi penyajian dalam beberapa periode mendatang walaupun kesalahan penyajian tersebut tidak bersifat material bagi penyajian laporan pada periode berjalan. 3. Suatu item mempunyai suatu pengaruh fisik (sebagai contoh, sejumlah kecil laba terhadap sejumlah kecil kerugian atau saldo kas terhadap cerukan). 4. Suatu item mungkin bersifat penting dalam kaitannya dengan probabilitas konsekuensi yang tibul dari kewajiban pada perjanjian yang telah disepakati bersama (sebagai contoh, pengaruh dari kegagalan mematuhi persyaratan dalam suatu perjanjian hutang dapat berakibat pada suatu penarikan pinjaman yang material). Keputusan Materialitas Kondisi pembatasan lingkup Audit Ketika terdapat suatu pembatasan lingkup audit, laporan audit dapat berupa wajar tanpa syarat, wajar dengan pengecualian atas ruang lingkup dan pendapat audit, atau penolakan pemberian pendapat, tergantung dari materialitas pembatasan lingkup audit tersebut. Auditor akan mempertimbangkannnya terhadap ketiga factor yang sama yang telah dibahas sebelumnya dalam keputusan materialitas atas kondisi non-GAAP, tetapi dengan pertimbangan yang sama sekali berbeda. Ukuran kesalahan saji potensial, daripada kesalahan saji yang telah diketahui saat ini, merupakan hal yang penting dalam menentukan apakah suatu pendapat wajar tanpa syarat, pendapat wajar dengan pengecualian, atau suatu peolakan pemberian pendapat adalah hal yang tepat bagi suatu pembatasan lingkup audit. Sebagai contoh, jika saldo hutang dagang sebesar $400,000 tidak diaudit, auditor harus mengevaluasi potensi kesalahan penyajian dalam hutang dagang tersebut serta memutuskan beberapa material pengaruhnya pada laporan keuangan. Tingkat resapan (pervasiveness) dari kesalahan saji potensial ini pun harus dipertimbangkan. Umumnya melakukan evaluasi meterialitas atas kesalahan saji yang potensial yang diakibatkan oleh pembatasan lingkup audit lebih sulit dilakukan daripada melakukan evaluasi materialitas yang disebabkan oleh ketidakpatuhan pada prinsip-primsip GAAP. Kesalahn penyajian yang diakibatkan oleh ketidakpatuhan pada prinsip-prinsip GAAP dapat diketahui.

Sementara kesalahan penyajian yang diakibatkan oleh pembatasan lingkup audit umumnya harus diukur secara subjektif atas potensi terjadinya kesalahan penyajian. Sebagai contoh, suatu pencatatan hutang dagang sebesar $400,000 mungkin saja mengalami kekurangan pencatatan lebih dari $1 juta, yang dapat mempengaruhi beberapa nilai, termasuk di dalamnya adalah laba kotor, laba bersih, serta total aktiva. 2.6 Diskusi Atas Kondisi-Kondisi Yang Membutuhkan Penyimpangan Anda seharusnya sekarang telah memahami hubungan antara kondisi-kondisi apa yang membutuhkan suatu penyimpangan atas laporan audit baku, jenis-jenis laporan audit uatama selain laporan audit bentuk baku, serta tiga tingkat materialitas. Sub bab ini akan membahas dengan lebih terinci tentang kondisi-kondisi yang membutuhkan suatu penyimpangan dari suatu laporan audit bentuk baku serta menunjukkkan contoh-contoh dari laporan-laporan itu. 2.6.1 Lingkup Audit Auditor telah dibatasi Dua kategori utama dari pembahasan lingkup audit adalah : pembatasan lingkup audit yang disebabkan oleh klien serta pembatasan lingkup audit yang disebabkan oleh kondisikondisi di luar kendali klien maupun auditor. Kedua jenis pembatasan lingkup audit tersebut memiliki pengaruh yang sama pada laporan auditor, tetapi interpretasi mateerialitasnya kemungkinan besar berbeda. Saat terdapat pemtasan lingkup audit, maka respons yang tepat adalah menerbitkan suatu laporan audit bentuk baku, suatu lapiran wajar dengan pengecualian pada lingkup dan pendapat audit, serta suatu penolakan pemberian pendapat, tergantung pada tingkat materialitasnya. Untuk pembatasan linkup audit yang disebabkan oleh klien, auditor harus mempertimbangkan suatu kemungkinan bahwa manajemen berusaha untuk mencegah ditemukannya informasi yang salah saji. Dalam beberapa kasus, saat tingkat materialitasnya dipertanyakan, AICPA telah memberikan saran kepada para auditor untuk menolak memberikan pendapat. Ketika pembatasan lingkup audit terjadi akibat kondisi-kondisi yang berada di luar kendalai kliien maupun auditor, maka laporan audit wajar dengan pengecualian pada lingkup dan pendapat audit lebih tepat untuk diterbitkan. Dua jenis pembatasan lingkup audit yang seringkali dilakukan klien kepada auditornya berkaitan dengan pengamatan fisik persediaan serta konfirmasi atas piutang dagang, tetapi jenis pembatasan lingkup audit lainnya pun mungkin saja terjadi. Alasanalasan klien untuk membatasi lingkup audit dapat berupa kehendak untuk menghemat biaya audit dan, dalam hal konfirmasi piutang dagang, untuk mencegah kemungkinan terjadinya konflik antara klien dengan pelanggannya saat jumlah yang dikonfirmasikan ternyata berbeda. Kasus yang umum terjadi pada saat terdapat kondisi-kondisi yang berada di luar kendali klien dan auditor sehingga menyebabkan terjadinya pembatasan lingkup audit adalah penugasan baru yang ditandatangani setelah tanggal neraca klien. Konfirmasi atas piutang dagang, pengamatan fisik persediaan, serta prosedur-prosedur pemting lainnya barangkali

tidak mungkin dilaksanakan dalam kondisi-kondisi itu. Ketika auditor tidak dapat melaksanakan prosedur-prosedur yang menurutnya harus dilakukan, tetapi ia dapat dipuaskan dengan suatu prosedur alternatif yang dapat membantunya menyimpulkan bahwa informasi yang diuji telah disajikan secara wajar, maka suatu laporan audit bentuk baku dapat diterbitkan. Jika prosedur alternative tersebtu tidak dapat dilaksanakan, suatu pendapat wajar dengan pengecualian pada lingkup audit dan tergantung pada tingkat materialitas yang ada, baik suatu pendapat wajar dengan pengecualian pada opini audit atau suatu penolakan pemberian pendapat wajib diberikan. Batasan pada cakupan ujian auiditor mewajibkan paragraf yang mengukur yang mendahului pendapat untuk menjalaskan batasannya. Dalam kasus tidak memberikan pendapat, seluruh cakupan paragraph dikeluarkan dari laporan. Sebagai contoh, laporan yang terdapat pada Gambar 3-6 akan menjadi laporan yang tepat untuk diterbitkan pada saat nilai pembatasan lingkup audit tersebut material tetapi tidak pervasive serta auditor tidak dapat memperoleh laporan keuangan hasil audit yang mendukung suatu invesatsi pada perusahaan afiliasi dari luar negeri serta ia pun tidak dapat memuaskan dirinya dengan prosedur alternatif yang ada. Keseluruhan paragraph pendahuluan serta sebagian besar kalimat dalam paragraf kedua dihilangkan karena kedua paragraph tersebutt mengguanakan kaliamat dari laporan audit bentuk baku. Gambar 3-6 Wajar dengan Pengecualian Akibat Adanya Pembatasan Lingkup Audit LAPORAN AUDITOR INDEPNDEN Paragraph Scope Wajar dengan pengecualian (sama dengan paragraph pendahuluan pada laporan audit bentuk baku) Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraph berikut ini, kami melaksanakan audit. (sisa kalimat dalam paragraph ini sama dengan kalimat pada paragraaf scope dalam laporan audit bentuk baku) Paragraf ketiga ditambahhkan Kami tidak dapat memperoleh laporan keuangan yang diaudit dari auditor indepnden lain yang mendukung investasi Perusahaan dalam anak perusahaan di luar negeri sebesar $475,000, atau hak atas laba anak perusahaan sebesar $365,000 yang dicantumkan dalam laba bersih seperti yang dijelaskan pada catatan X dalam catatan atas laporan keuangan. Disebabkan oleh karakteristik pencatatan perusahaan, kami juga tidak dapat memperoleh keyakinan atas nilai investasi dalam anak perusahaan di luar negeri tersebut beserta hak atas labanya dengan prosedur audit kami. Paragraf Opini wajar dengan pengecualian Menurut pendapat kami, kecuali atas damapak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan jika kami memeriksa bukti tentang investasi di luar negeri dan labanya tersebut, laporan keuangan yang kami sebut di atas disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Laughlin Corporation tanggal 31 Desember 2002, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Ketika nila pembatasan lingkup audit tersebut sangat material sehingga suatu penolakan pemberian pendapat daripada suatu pendapat wajar dengan pengecualian harus diterbitkan, maka auditor hanya menggunakan tiga buah paragraph. Paragraph pertama (paragraph pendahuluan) dimodifikasi sedikit dengan kalimat kami telah ditugaskan untuk mengaudit. Paragraph kedua sama dengan paragraph ketiga dalam gambar 3-6. Paragraph scope ditiadakan serta paragraph terakhir (paragraph pendapat) diubah menjadi suatu penolakan pemberian pendapat. Alasan atas ditiadakannya paragraph scope adalah untuk menghindari dibuatnya pernyataan apapun yang dapat membuat para pembaca meyakini bahwa bagian lainnya dari laporan keuangan telah diaudit sehingga menimbulkan suatu kesimpulan bahwa mungkin saja bagian tersebut telah diasajikan secara wajar. Gambar 3-7 menampilkan laporan audit yang mengassumsikan bahwa auditor telah menyimpulkan bahwa fakta-fakta yang terdapat dalam gambar 3-6 membutuhkan suatu penolakan pemberian pendapat daripada diberikannya suatu pendapat wajar dengan pengecualian.

Gambar 3-7 penolakan pemberian pendapat audit akibat adanya pembatasan lingkup audit LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Paragraph pendahuluan Modifikasi laporan audit bentuk baku Kami telah ditugaskan untuk mengaudiit . (sisa kalimat dalam paragraph sama dengan paragraph pendahuluan pada laporan audit bentuk baku) Paragraph kedua ditambahkan Menggunakan kalimat yyang sama dengan kalimat yang digunakan dalam paragraph ketiga dalam gambar 3-6) Paragraph Pendapat menolak memberikan ppendapat (Disclameir) Karena kami tidak dapat memperoleh laporan keuangan auditan yang mendukung investasi perusahaan dalam anak perusahaan di luar negeri dan kami pun tidak dapat memperoleh keyakinan atas nilai investasi dalam anak perusahaan di luar negeri beserta hak atas labanyaa dengan prosedur audit kami maka lingkup audit kami tidak memadai untuk memungkinkan kami menyatakan dan kami tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan ini. 2.6.2 Penyajian Laporan Keuangan tdak sesuai dengan GAAP Ketika auditor mengetahui bahwa laporan keuangan dapat menyesatkan pengguna laporan karena laporan keuangan tersebut penyusunannya tidak sesuai dengan GAAP/PSAK, maka ia harus menerbitkan suatu pendapat wajar dengan pengecualian atas suatu pendapat tidak wajar, tergantung dari tingkat materialitas dari item yang dipertanyakan tersebut. Pendapat tersebut harus dengan jelas menyatakan karakteristik penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum serta nilai dari kesalahan penyajian tersebut, jika nilainya diketahui. Gambar 3-8 menampilkan suatu contoh pendapat wajar dengan pengecualian ketika seorang klien tidak mengkapitalisasikan nilai sewa guna usaha sebagaimana yang

telah diatur dalam GAAP. Paragraph pertama dan kedua ditiadakan karena kedua paragraph tersebut berisi kalimat standar. Saat nilainya sangat material atau sangat pervasive sehingga diperlukan suatu pendapat tidak wajar , maka paragraph scope-nya tetap sama dengan paragraph scope dalam laporan audit bentuk baku, paragraph ketiga (qualifying paragraph) dapat tetap sama, tetapi paragraaf pendapat dibuat sebagaimaana yang tampak dalam Gambar 3-9. Ketika seorang klien gagal menampilkan informasi yang wajib disampaikan agar ia dapat menyajikan laporan keuangan secara wajar, baik menampilkan informasi tersebut dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan yang terkait, maka merupakan tanggungjawab auditor untuk menyajikan informasi tersebut dalam laporan auditnya serta menerbitkan pula suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau suatu pendapat tidak wajar. Merupakan hal yang umum untuk menuliskan jenis pengecualian ini dalam suatu paragraph tambahan yang diletakan di atas paragraph pendapat (sementara paragraph scope-nya tetap sama dengan paragraph scope dalam laporan audit bentuk baku) sedangakan dalam paragraph pendapat, auditor merujuk kembali pada paragraph tambahan tersebut. Gambar 3-10 menampilkan sebuah contoh dari suatu laporan audit yang diterbitkan oleh seorang auditor yang meyakini bahwa pengungkapan informasi yang mendukung laporan keuangan klien disajiakan tidak memadai. Gambar 3-8 pemberian pendapat wajar dengan pengecualian akibat tidak dipatuhinya prinsip dalam GAAP LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Paragraf Ketiga Ditambahkan (Sama dengan paragraph pendahuluan dan paragraph scope dalam laporan audit bentuk baku perusahaan tidak memasukkan kewajibansewa guna usaha tertentu dari aktiva tetap dan kewajiban dalam neraca terlampir, dan menurut pendapat kami, harus dikapitalisasi agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jika kewajiban sewa guna ini dikapitalisasi, aktiva tetap akan bertambbah sebesar $4,600,000, kewjaiban jangka panjang sebesar $4,200,000, dan lab ditahan sebesar $400,000 pada tanggal 31 Desember 2002, serta laba bersih dan laba per lembar saham berturut-turut akan bertambah sebesar $400,000 dan $1,75, untuk tahunyang berakhir pada tanggal tersebut. Paragraf Pendapat wajar dengan Pengecualian Menurut pendapat kami, kecuali atas dampak tidak dikapitalisasinya kewajiban sewa guna usaha tertentu, seperti yang kami uraikan dalam paragraph diatas, laporan keuangan yang kami sebut diatas disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Ajax Company tanggal 31 Desember 2002, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum.

Gambar 3-9 pemberian Pendapat Tidak Wajar Akibat tidak Dipatuhinya prinsip d a LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN l Paragraph Ketiga Ditambahkan a (Sama dengan paragraph pendahuluan dan paragraph scope dalam laporan audit bentuk m baku) (merupakan paragraph ketiga yang sama dengan paragraph ketiga 3-8) G Paragraf Pendapat Pendapat Tidak Wajar (Adverse) A Menurut pendapat kami, karena dampak dari hal yang kami uraikan dalam paragraph di A ats, seperti yang kami uraikan dalam paragraph di atas, laporan keuangan yang kami sebut P di atas tidak menyajikan secara wajar, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, posisi keuangan Ajax Company tanggal 31 Desember 2002, atau hasil usaha atau arus kas untuk tahun yang berakhir tanggal tersebut. Gambar 3-10 Pemberian Pendapat Tidak Wajar Akibat tidak Dipatuhinya Prinsip dalam GAAP LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Paragraf Ketiga Ditambahkan (Sama dengan paragraph pendahuluan dan paragraph scope dalam laporan audit bentuk baku) Pada tanggal 15 Januari 2002, perusahaan menerbitkan surat hutang senilai $3,600,000 yang bertujuan untuk membiayai perluasan pabrik. Perjanjian hutang piutang tersebut membatasi pengguanaan pendapatan yang diperoleh setelah tanggal 31 Desember 2002 untuk pembayaran deviden kas. Menurut pendaoat kami, pengungkapan atas informasi ini diwajibkan oleh prinsip akuntansi yang berlaku umum. Paragraph pendapat Wajar dengan Pengecualian Menurut pendapat kami, kecuali tidak disajikannya informasi yang diuraikan dalam paragraph diatas, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar (sisa kalimat sama dengan kalimat yang terdapat dalam laporan aaudit bentuk baku) Laporan Aturan 203 Menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP/PSAK dapat menjadi suatu tugas yang sulit. Aturan 203, dari Kode Etik Profesional, mengijinkan adanya penyimpangan dari bulletin penelitian akuntansi, pendapat Dewan Prinsip-Prinsip Akuntansi, serta dari pernyataan FASB ketika sang auditor meyakini bahwa ketaatan pada ketiga hal diatas dapat menyebabkan kesalahan pada laporan keuangan. Aturan 203 Prinsip-Prinsip Akuntansi Seorang anggota tidak diperbolehkan untuk (1) mengeluarkan suatu pendapat atau pernyataan alternatif bahwa laporan keuangan lainnya pada suatu entitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau

(2) menyatakan bahwa ia tidak menyadari bahwa diperlukan suatu modifikasi yang material pada laporan keuangan lainnya agar laporan keuangan dan data keuangan lainnya tersebut disajikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, jika laporan keuangan atau data keuangan lainnya itu berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang telah ditetapkan oleh suatu badan yang berwenang yang ditetapkan oleh Pengadilan untuk menyusun prinsipprinsip tersebut sehingga mengakibatkan suatu dampak yang berdampak material pada kaseluruhan pada keseluruhan laporan keuangan atau data keuangan tersebut. Bila, memang, laporan keuangan atau data keuangan berisi suatu penyimpangan serta anggota dapat menunjukkan bahwa hal tersebut terjadi akibat adanya kondisi-kondisi yang tidak biasa, dan penyajian laporan keuangan atau data keuangan yang sebaliknya dapat menimbulkan kesesatan maka anggota dapat mematuhi aturan yang menjelaskan tentang penyimpangan, kurang lebih pengaruh yang ditimbulkannya, jika dapat dilaksanakan, serta alasan-alasan mengapa kepatuhan pada prinsip-prinsip yang berlaku dapat mengakibatkan kesesatan pada laporan keuangan. Ketika seorang auditor memutuskan bahwa ketaatan pada GAAP dapat mengakibatkan tejadinya kesesatan pada laporan keuangan, maka harus dibuat suatu penjelasan yang lengkap dalam paragraph ketiga. Paragraph ini harus menjelaskan secara lengkap atas penyimpangan yang terjadi serta mengapa GAAP dapat menyebabkan terjadinya kesesatan pada laporan keuangan itu. Paragraf pendapat selanjutnya harus berisi pendapat wajar tanpa syarat kecuali untuk hal-hal yang dibahas dalam paragraf ketiga. Sebagaimana yang telah dibahas awal bab ini, laporan audit seperti ini disebut sebagai laporan audit wajar tanpa syarat dengan suatu paragraf penjelasan. Ketiadaan Laporan Arus Kas, Ketidakbersediaan klien untuk memasukkan laporan arus kas dapat dilihat dengan lebih spesifik dalam SAS 58 (AU 508). Ketika laporan arus kas ini ditiadakan, harus dibuat paragraf ketiga yang menyatakan tentang penghapusan laporan tersebut serta penerbitan suatu pendapat wajar dengan pengecualian kecuali untuk. Gambar 3-11 Penolakan Pemberian Pendapat Akibat Tidak Adanya Independensi Kami tidak independen atas XYZ Company, dan neraca tanggal 31 desember 2002, dan laporan laba rugi, laba ditahan, dan arus kas terlampir yang berakhir pada tanggal tersebut tidak kami audit. Oleh karena itu, kamu tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan tersebut. 2.6.3 Auditor Tidak Independen Jika auditor tidak dapat memenuhi persyaratan independensi sebagaimana yang dinyatakan dalam Kode Etik Profesional, maka penolakan pemberian pendapat harus dilakukan walaupun seluruh prosedur audit yang dilaksanakan dianggap telah sesuai dengan kondisi yang ada. Saat auditor tidak independen, maka kalimat dalam Gambar 3-11 direkomendasikan untuk digunakan. Ketiadaan independensi akan menyingkirkan semua pembatasan lingkup audit jenis lainnya. Selanjutnya, tidak ada alasan untuk memberikan pernyataan menolak memberikan

pendapat. Di dalam laporan audit yang memberikan pernyataan menolak memberikan pendapat, tidak boleh menuliskan satupun kalimat tentang pelaksanaan ata prosedur audit apapun. Laporan audit ini merupakan suatu contoh dari laporang audit paragraf. 2.6 Proses Pembuatan Keputusan Auditor Untuk Penerbitan Laporan Audit Para auditor menggunakan suatu proses yang tersusun baik dalam memutuskan laporan audit apa yang tepat untuk diterbitkan pada serangkaian kondisi tertentu. Pertamatama, auditor harus memberikan penilaian mengenai apakah terdapat kondisi yang menyebabkan menerbitkan laporan audit di luar laporan audit bentuk baku. Jika memang terdapat kondisi yang dimaksud, auditor kemudian harus menilai tingkat materialitas dari kondisi tersebut dan menentukan jenis laporan audit yang tepat. Menentukan Apakah Terdapat Kondisi yang Memerlukan Penyimpangan dari Laporan Audit Bentuk Baku Hal yang paling pentting dari kondisi-kondisi tersebut telah diidentifikasikan dalam table 3-3. Para auditor mengidentifikasikan kondisi-kondisi ini saat mereka sedang melaksanakan proses audit serta memasukkan berbagai informasi yang ada ke dalam kertas kerja mereka sebagai bahan diskusi untuk menentukkan laporan audit apakah yang tepat untuk diterbitkan. Jika tak ada satu pun dari kondisi-kondisi tersebut yang hadir, yang umumnya terjadi pada mayoritas penugasan audit, maka auditor akan menerbitkan laporan audit bentuk baku. Memutuskan Tingkat Materialitas Tiap-tiap Kondisi Ketika terdapat kondisi yang memerlukan penyimpanggan dari laporan audit bentuk baku, auditor mengevaluasi potensi pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Dalam kondisi terdapat penyimpangan GAAP atau pembatasan lingkup audit, auditor harus memutuskan apakah hal tersebut tidak material, material, atau sangat material. Semua kondisi lainnya, kecuali bia terjadi ketiadaan independensi bagi auditor, hanya membedakan apakah hal tersebut tidak material atau material. Memutuskan materialitas merupakan hal yang sulit, dan membutuhkan pertimbangan yang matang. Sebagai contoh, diasumsikan terdapat suatu pembatasan lingkup audit dalam mengau dit persediaan. Merupakan hal yang sulit untuk menilai kesalahan saji potensial dari suatu akun yang tidak di audit oleh auditor. Memutuskan Jenis Laporan Audit yang Tepat bagi Kondisi Tertentu, pada Tingkat Materialitas Tertentu setelah memutuskan kedua hal yang pertama, maka merupakan hal yang mudah untuk memutuskan jenis pendapat yang akan diberikan dengan bantuan suatu alat pembantu pembuat keputusan. Suatu contoh dari jenis alat tersebut adalah Tabel 3-2. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa auditor menyimpulkan terdapat suatu penyimpangan dari GAAP yang bersifat material, tetapi tidak bersifat sangat material. Table 3-2 menunjukkan bahwa jenis laporan audit yang ttepat untuknya adalah suatu pendapat wajar dengan pengecualian disertai dengan suatu paragraph ttambahan yang membahas tentang penyimpangan tersebut. Paragraph pendahuluan dan paragraph scope-nya berisi kalimat-kalimat baku.

Tabel 3-2 Laporan Audit untuk setiap Kondisi yang Mengharuskan Adanya Penyimpangan dari Laporan audit bentuk baku pada tingkat materialitas yang berbedabeda
Tingkat Materialitas Kondisi yang memerlukan Laporan AuditBentuk Baku dengan Modifikasi Kalimat atau Paragraf dan Penjelasan Prinsip akuntansi tidak diterapkan Secara konsisten Keragu-raguan tentang kelangsungan Hidup perusahaan

Tidak material Wajar tanpa syarat Wajar tanpa syarat

Material wajar tanpa syarat paragraf penjelasan wajar tanpa syarat paragraf penjelasan

Pembenaran penyimpangan dari GAAP atau dari prinsip akuntansi Lainnya

Wajar tanpa syarat

wajar tanpa syarat paragraf penjelasan

Penekanan pada masalah

Wajar tanpa syarat

wajar tanpa syarat paragraf penjelasan

Kondisi yang memerlukan penyimpangan dari laporan bentuk baku

Tidak Material

Tingkat Materialitas Material tetapi tidak mempengaruhi Sangat material sehingga keseluruhan penyajian kewajaran seluruh laporan laporan keuangan leuangan dipertanyakan

Lingkup audit dibatasi Oleh klien atau oleh Kondisi lain

wajar dengan pengecualian atas lingkup paragraf tambahan dan wajar dengan Wajar tanpa syarat pendapat pengecualian

Menolak memberikan pendapat

Penyusunan laporan Keuangan tidak sesuai GAAP

Wajar tanpa syarat

paragraph tambahan dan wajar dengan pendapat pengecualian (kecuali)

pendapat tidak wajar

Auditor Tidak IndePenden

Menolak memberikan pendapat (terlepas dari Tingkat materialitasnya)

Menuliskan Laporan Audit Mayoritas kantor akuntan public memiliki suatu file computer yang teah berisi kalimat yang tepat untuk masing-masing kondisi yang berbeda-beda yang dapat membantu auditor menuliskan laporan auditnya. Selain itu, satu atau lebih rekanan dalam mayoritas kantor akuntan public memiliki keahlian khusus dalam menuliskan laporan audit. Pada rekanan ini umumnya menulis atau mereview seluruh laporan audit sebeum laporan-laporan audit diterbitkan. Para auditor sering kali menemui situasi-situasi yang meibatkan lebih dari satu kondisi yang membutuhkan suatu penyimpangan dari laporan audit wajar tanpa syarat atau modifikasi dari laporan audit bentuk baku. Dalam situasi-situasi ini, auditor harus memodifikasi pendapatnya bagi setiap kondisi tersebut kecuali bila terdapat suatu kondisi yang dapat menetralkan pengaruh dari kondisi lainnya. Sebagai contoh, jika terdapat suatu pembatasan lingkup audit dan sautu situasi yang membuat auditor tidak memiliki independensi, maka pembatasan lingkup audit tersebut tidak perlu dinyatakan. Situasi-situasi berikut merupakan contoh-contoh ketika diperlukan lebih dari satu modifikasi kalimat untuk dicantumkan dalam laporan : Auditor tidak independen serta ia mengetahui bahwa perusahaan tidak menyajikan laporan keuanggan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Terdapat suatu pembatasan lingkup audit serta terdapat pula keragu-raguan akan kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup. Terdapat suatu keragu-raguan akan kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup, dan informasi mengenai penyebab ketidakpastian ini tidak diungkapkan secara memadai pada catatan atas laporan keuangannya. Terdapat suatu penyimpangan terhadap GAAP dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan, serta telah diterapkannya suatu prinsip akuntansi di mana penerapannya tidak konsisten dengan penerapan prinsip akuntansi pada tahun sebelumnya. Jumlah Paragraph dalam Laporan Banyak pembaca laporan menginterpretasikan bahwa jumlah paragraph dalam laporan audit merupakan suatu tanda yang penting tentang apakah penyajian laporan keuangan tersebut benar. Suatu laporan audit yang terdiri dari tiga paragraph umumnya mengindikasikan bahwa tidak terdapat suatu pengecualian apa pun dalam audit. Bagaimanapun, laporan audit yang berisi tiga paragraph pun diterbitkan ketika dikeluarkan suatu pernyataan yang menolak memberikan pendapat akibat adanya suatu pembatasan lingkup audit, atau saat dikeluarkannya suatu laporan audit yang melibatkan auditor indepnden lainnya. Lebih dari tiga paragraph mengindikasikan tentang jenis laporan audit wajar dengan pengecualian atau menyertakan suatu penjelasan. Suatu paragraph tambahan yang ditambahkan sebelum paragraph pendapat pada laporan audit wajar dengan pengecuualian, pendapat tidak wajar, serta pada laporan audit yang berisi pernyataan menolak memberikan lpendapat atas adanya pembatasan lingkup audit. Hal tersebut menghasikan suatu laporan audit yang berisi empat paragraph, kecuali

untuk laporan audit yang berisi pernyataan menolak memberikan pendapat atas adanya pembatasan lingkup audit akan menghasilkan laporan audit yang terdiri dari tiga paragraph karena paragraph scope-nya telah dihapuskan. Sementara pernyataan menolak memberikan pendapat karena tidak adanya independensi akan menghasilkan laporan audit yang terdiri dari satu paragraph saja. Ketika suatu laporan audit wajar tanpa syarat dengan paragraph penjelasan diterbitkan, maka paragraph penjelasan umumnya diletakkan setelah paragraph pendapat. Paragraph penjelasan tidak ditambahkan dalam suatu laporan audit wajar tanpa syarat yang melibatkan auditor independen lain, tetapi kalimat dalam ketiga paragraph mengalami modifikasi. Table 3-3 mengikhtisarkan jenis-jenis laporan yang diterbitkan atas audit pada laporan keuangan, jumlah keuangan, jumlah paragraph pada setiap jenis laporan, modifikasi atas kalimat baku dalam paragraph, serta letak dari paragraph tambahan. Table ini tidak mencantumkan suatu laporan audit yang berisi pernyataan menolak memberikan pendapat akibat adanya independensi, yang khusus berisi satu paragraph saja. Tabel 3-3 Jumlah Paragraf, Modifikasi atas Kalimat Baku dalam Paragraf dan letak Paragraf Tambahan dalam Laporan Audit Jenis Laporan Laporan audit bentuk baku (wajar tanpa syarat ) Wajar tanpa syarat dengan paragraph penjelasan Wajar tanpa syarat yang melibatkan auditor independen lain Wajar dengan pengecualian pendapat saja Wajar dengan pengecualian lingkup dan pendapat audit Menolak memberikan pendapat Jumlah Paragraf Modifikasi atas kalimat Baku dalam Paragraf 3 Tidak ada Letak Paragraf tambahan Tidak ada

Tidak ada

Setelah paragraph pendapat Tidak ada

Dalam ketiga paragraph

Hanya paragraph pendapat

Sebelum paragraph pendapat Sebelum paragraph pendapat

Paragraph scope dan paragraph pendapat

Paragraph pendahuluan Sebelum paragraph dan pendapat dimodifikasi, pendapat paragraph scope ditiadakan

pembatasan lingkup audit Pendapat Tidak Wajar

Hanya paragraph pendapat

Sebelum paragraph pendapat

2.7 Dampak E-Commerce pada Laporan Audit Kebanyakan perusahaan public memberikan akses informasi keunagan melalui situs web awal mereka. Pengunjung ke situs web perusahaan bias melihhat laporan keuangan perusahaan yang paling baru diaudit, termasuk laporan auditor. Sebagai tambahan, adalah umum untuk perusahaan juga menyertakan informasi seperti laporan keuangan tiga bulan yang tidak diaudit, informasi keuangan lainnya yang terpilih, dan berita untuk wartawan seringkali diberi judul Tentang Perusahaan atau Hubungan Investor pada situs web-nya. Bahkan sebelum penggunaan luas atas internet, perusahaan sering menerbitkan dokumen yang berisi informasi sebagai tambahan untuk laporan keuangan yang diaudit dan laporan auditor independen. Contoh yang paling umum adalah dan masih laporan tahunan perusahaan. Di bawah standar audit yang umum diterima, auditor tidak memiliki kewajiban untuk melakukan prosedur untuk membenarkan informasi lainnya. Namun auditor bertanggung jawab untuk membaca informasi lainnya untuk menentukan apakah hal ini tidak konsisten secara material dengan informasi dalam laporan keuangan yang diaudit. Namun, dibawah standar audit saat ini, para auditor tidak diwajibkan untuk membaca informasi yang dikandung dalam situs elektronik, seperti situs web perusahaan, yang juga mengandung aporan keungan perusahaan yang telah diaudit dan laporan auditor. Standar audit menekankan bahwa situs elektrronik adalah sebuah cara mendistribusikan informasi dan tidak dianggap dokumen seperti istilah yang digunakan dalam GAAS.