Anda di halaman 1dari 73

Pokok-Pokok

(Murbaisme)

Biro Pendidikan Partai Murba (1960)

Ajaran

Tan

Malaka

Sumber: Pokok-pokok adjaran Tan Malaka (Murbaisme). Djakarta: Biro Pendidikan Kader D.P. Partai Murba, 1960, 66 pp. [Seri Konsolidasi Partai no. 2]

Disalin ke ejaan baru oleh Jesus S. Anam (Oktober 2011)

DAFTAR ISI

V.

I. Ideologi

Tesis (10/VI-1946)

―Sosialisme‖ banyak coraknya, tetapi yang dinamai ―scientific socialism‖, atau sosialisme ilmiah pasti dibentuk oleh Marx dan teman pembentuknya, Engels.

Sesuatu ―isme‖ itu tentulah dibentuk pada ―satu masa‖, dalam susunan dan keadaan tertentu dengan memakai ―cara berpikir‖ yang ―tertentu‖ serta ―wujud dan penjuru menilik yang pasti‖ pula.

Sosialisme, bentukan Marx-Engels, timbul kurang lebih 100 tahun lampau dalam masyarakat kapitalisme muda, tetapi bergelora dengan cara berpikir dialektis berdasarkan kebendaan (materialisme) dengan wujud melenyapkan kelas borjuis menuju masyarakat sama-rata di antara kaum pekerja seluruh dunia.

Banyak sekali bahayanya mengakui diri ―ist‖ yang sebenarnya dan mengandung ―isme‖ tulen, sambil menuduh orang lain sebagai ―ist‖ palsu dan pengikut ―isme‖ lancung. Apalagi kalau masa revolusi dalam iklim yang termashur panas dalam segala-gala dan dalam masyarakat yang mengandung 93% buta huruf kita ini.

Banyak orang yang tak bisa membedakan ―cara berpikir‖ (metode) dan buah (hasil) berpikir. Seorang guru yang mengajarkan ―cara‖ menyelesaikan satu persoalan (perhitungan) mungkin salah perhitungannya, sedangkan muridnya mungkin benar. Mungkin si guru tadi ―silap‖, karena terburu-buru, salah baca, dan lain-lain, sedangkan ―cara‖ (metode) perhitungannya sudah tentu benar. Demikian pula tak akan mustahil kalau sekiranya ―perhitungan‖ Marx sendiri yang manusia juga dalam politik, ekonomi, dll. silap, karena belum nyata semua bukti politik, ekonomi, dll. di masa hidupnya itu. Meskipun begitu Marx tetap ―guru‖ dalam artian yang sebenarnya dalam ―cara berpikir‖ dialektika materialis itu. Dalam hal banding-membanding perhitungan politik, ekonomi, dll. di Indonesia dengan paham Marx 100 tahun yang lampau orang mesti berlaku hati- hati sekali. Janganlah dilupakan, bahwa suasana dan keadaan politik, ekonomi dan kebudayaan masyarakat Eropa dahulu dan sekarang berlainan dengan keadaan di Indonesia sekarang. Lagi pula kalau membawa-bawa Kautskyisme, Leninisme, Stalinisme, Trotskyisme ke Indonesia ini, janganlah ditelan paham, perhitungan atau sikap mereka itu bulat mentah begitu saja.

Karena paham perhitungan atau sikap mereka itu adalah hasil perhitungan politik ekonomi, kebudayaan yang bersejarah berlainan dari Indonesia kita dalam panas ini. Akhirnya kalau meraba-raba pertikaian di antara salah satu isme di atas dengan salah satu lainnya, janganlah lupa mengemukakan suasana persoalan mereka itu dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Kalau tidak begitu maka kekacauan yang akan ditimbulkan oleh pengertian setengah-tengah itu lebih besar daripada tiada memajukan isme dan pertikaian isme itu samasekali. Jarang orang bisa menduga korbannya bisikan palsu saja dalam masyarakat yang mengandung 93% buta huruf ini. Yang beruntung tentulah musuh.

Lebih baik pakai saja ―metode‖nya Marx berpikir serta syarat penting dalam sosialisme, buat dilaksanakan atas bahan politik, ekonomi, kebudayaan, sejarah dan jiwa revolusioner rakyat Indonesia sekarang ini menentang imperialisme, buat mewujudkan

masyarakat yang cocok dengan kekuatan lahir batin rakyat Indonesia dalam suasana internasional yang bergelora ini. (hal 11-12).

Tuduhan Trotskyisme

Tuduhan yang berdasarkan kebenaran memang perlu dijalankan buat membersihkan suasana yang keruh. Tetapi tuduhan yang jujur mesti berdasarkan bukti yang nyata.

Apakah Trotskyisme?

―Pertama adalah ‗kaum kiri‘ yang besar mulut, orang yang tak tetap dalam politik seperti Lominadxe, Shatskin, dll. yang memajukan, bahwa NEP itu (Politik Ekonomi baru tahun 1922) ialah pembatalan kemenangan Revolusi Oktober, pengembalian ke kapitalisme [1]

―Kemudian ada lagi capitulaters (penyerah) tulen seperti Trotsky, Radek, Zinoviev, Sokolnikov, Kamenev, Shlyapikew, Bhukarin, Rykov dll. mereka yang tak percaya akan kemungkinan kemajuan sosialisme di negara kita, bertekuk lutut dengan ―kemahakuasaan‖ kapitalisme dan dalam percobaan mereka memperkuat kedudukan kapitalisme di Soviet Rusia, menuntut pemberian konsesi (concession) yang berakibat jauh sekali buat negara Soviet. Mereka mengusulkan supaya kita membayar hutangnya Tsar, yang sudah dibatalkan oleh Revolusi Oktober. Partai Komunis Rusia mencap usul menyerah ini sebagai satu pengkhianatan.[2]

Teranglah sudah bahwa satu dua perkara yang penting dalam perbedaan Stalinisme dan Trotskyisme, menurut buku yang baru saja kami peroleh ini, ialah perkara sikap Soviet Rusia dan CP (Communist Party ed.) Rusia terhadap (1e) hutang pemerintah Tsar, dan (2e) kapitalisme asing di Rusia. Kedua hal itu ditolak oleh pihak Stalin, dan diakui oleh pihak Trotsky

PARI semenjak hampir 20 tahun, berfilsafat Marxisme, yang dengan siasat Leninisme, menuju ke arah revolusi nasional dan revolusi sosial, ke masyarakat sosialistis sampai ke masyarakat komunistis di seluruh dunia. (hal, 23, 24, dan 25 Thesis)

Kita akui penuh, bahwa aliran yang kita pakai ialah aliran Marx, yang berdasarkan pertentangan dalam hal sosial, politik dan ekonomi. Dengan pisau analisis yang bersifat pertentangan (dialektis) dua kelas dengan masyarakat (proletariat melawan borjuis) inilah kita coba menaksir arahnya politik dunia bergerak menuju ke depan. (Thesis, dalam ―Kata Pengantar‖, hal. 2)

Catatan:

[1] Tan Malaka menyuguhkan cuplikan-cuplikan dari buku yang pernah dibacanya sebagai contoh mengenai tuduhan-tuduhan yang belum berdasarkan bukti yang nyata editor.

[2] Nama-nama yang disebut sebagai pengkhianat di atas adalah nama-nama dari tokoh- tokoh yang diseret dalam drama pengadilan (Moscow Trial) Stalin. Rata-rata mereka dari kalangan Bolshevik Tua, kecuali Trotsky, dan jajaran pemimpin dinas rahasia Uni Soviet. Stalin menuduh mereka telah melanggar Pasal 58 UU KUHP Uni Soviet , yakni bersekongkol dengan kekuatan imperialis Barat. Setelah kematian Stalin, Moscow Trial ini diakui sebagai semua kalangan sebagai pengadilan akal-akalan Stalin, yang bertujuan

untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya, terutama dari kalangan Bolshevik Tua, dan seluruh potensi yang akan melawan kekuasaannya editor)

II.

Indonesia

Analisa

Masyarakat,

Tingkat

dan

Sifat

Revolusi

(Massa Aksi: Hal 7, 8, 9, 10, 11, 13-15, 21-24, 33, 38, 41, 42, 44, 45)

Dapat pula dipastikan bahwa Indonesia belum pernah melangkah keluar dari masyarakat feodalisme, dan bahwa ia jauh tercecer dari feodalisme di Eropa. Bangsa Yunani jauh lebih tinggi dari bangsa Indonesia dalam hal pemerintah negeri, politik, ilmu hisab dan kebudayaan daripada kerajaan Majapahit bila kerajaan ini dianggap sebagai tingkatan setinggi-tingginya. Ya, rakyat Majapahit sebenarnya tak pernah mengenal cita-cita pemerintahan negeri. Berabad-abad pemerintah itu tidak dengan, untuk dan kepunyaan rakyat. Perkataan ―bagi Tuankulah ya, Junjunganku, kemerdekaan, kepunyaan dan nyawa patik‖, pernah dan berulang-ulang diucapkan rakyat Indonesia terhadap raja- rajanya! Di sana tak ada Orachus, magna Charta dan tak ada pengetahuan yang diselidiki dengan betul-betul seperti yang dipergunakan Aristoteles, Pytagoras, Photomeus dll. Pengetahuan mendirikan gedung-gedung dan ilmu obat-obatan kita masih dalam tingkatan percobaan. Keanehan Borobudur kita tak seaneh segitiga Phytagoras, sebab yang pertama berarti jalan mati, sedang yang kedua menuntun manusia menuju pelbagai macam pengetahuan. Di mana-manapun tak ada jejak (bekas-bekas) pengetahuan serta puncak kecerdasan pikiran!

Biarlah, tak usah kita ceritakan ilmu kebatinan Timur! Hal ini ada di luar batas pikiran:

tambahan lagi bangsa Barat di jaman kegelapan (abad pertengahan) pun sudah mengenal itu. Kemudian dari itu tidaklah bersandarkan kepada kebenaran sedikit jua, bahwa masyarakat kita senantiasa beroleh dari luar dan tak mempunyai cita-cita sendiri. Agama Hindu, Budha dan Islam adalah barang-barang yang dimporkan, bukan keluaran negeri sendiri.

Selain dari itu cita-cita ini tak begitu subur tumbuhnya seperti kekristenan di Eropa Barat. Mesin yang menggerakkan (dinamo) sekalian pemasukan agama Hindu, Budha dan Islam sampai pada masa kedatangan kapitalisme Belanda serta dengan sekalian perang saudara di waktu itu adalah bertempat di luar negeri. Indonesia, adalah wayangnya senantiasa, dan luar negeri dalangnya (yang memainkan wayang kulitnya).

Bangsa Indonesia yang Asli

Di jaman dahulu, tatkala bangsa Indonesia didesak oleh bangsa Tinghoa dan hindu keluar negerinya, Hindia-Belakang, dan melarikan diri ke Nusantara Indonesia, mereka telah mempunyai peradaban yang tertentu. Pak tani di jaman itu menjelma menjadi bajak laut yang sangat buas dan ditakuti orang. Dengan vintas (semacam perahu) kecilnya mengedari seluruh kepulauan antara dua lautan yang besar, antara Amerika dam Afrika. Penduduk asli dari India dan oceania ditaklukannya. Rimba raja hingga puncak gunung dijadikan huma. Rumah-rumah yang bagus didirikannya, permainan dan pengetahuan dimajukannya. Tatkala bangsa Barat dan Timur menyembah kepada pedang Jengis Khan dan Timurleng serta lari ketakutan, waktu itu mereka bukan saja menentang, tetapi dapat pula mengundurkan laskar Mongolia. Bajak laut bernama Pakodato dari kerajaan Singha Phore di Semenanjung Tanah Melayu pada tahun 500 dapat menggeletarkan kerajaan Tiongkok dan Hindustan dengan angkatan armada serta pedangnya.

Pengaruh Hindu

Agaknya hawa tropika di lingkungan katulistiwa, yang terutama menyebabkan teknik kita tak maju. Hawa yang subur dan melemahkan itu serta ksedikitan penduduk menjadikan kaum tani yang senang hidupnya itu tinggal diam dan menerima, sedang kepulauan yang sangat banyak itu menarik hati penduduk di pantai-pantai, kepada perantauan dan pengalaman. Menurut riwayat dapat diketahui, sesudah dibawa pengaruh Hindu, kebudayaan mereka bertambah naik dan mereka mulai berkenalan dengan perampas. Kejadian ini sesudah bangsa kita bercampur darah dengan penjajah-penjajah bangsa Hindu. Kini terbayanglah dalam otak kita kejadian-kejadian yang dapat digambarkan oleh kekejaman-kekejaman itu, yang membangkitkan tenaga terpendam jadi dinamis. Bukan oleh percaturan hidup kita sendiri (melawan atau antara kelas-kelas) maka penguraian kita perihal teknik kebudayaan feodalistis seperti tersebut di atas, tetapi disebabkan pengaruh yang datang dari luar.

Bangsa yang lebih pintar itu mengajarkan pemerintahan negeri , teknik dan kebudayaan yang lebih sempurna. Penduduk pulau Jawa yang suka damai itu belum mempunyai pertentangan kelas dalam arti yang seluas-seluasnya, tidak memberi kesempatan kepada pengikut-pengikut agaama Hindu untuk mempertaruhkan pertentangan kepercayaan mereka, yakni Hiduisme yang aristokratis dan Budhisme yang lebih demokratis. Ketajaman pertentangan agama oleh masyarakat Jawa yang tidak mengenal kelas itu dapat ditariknya. Banyak sedikitnya semua filsafat Hindu diterima oleh penduduk pulau Jawa yang asli. Siwa, Wisnu dan dewa-dewa agama Budha yang dalam negeri asalnya satu dan lainnya bermusuhan serta berpisah-pisah hidup bersama di pulau Jawa dengan damainya.

Penduduk Jawa sekarang adalah ―kristalisasi‖ dari bermacam-macam agama ketuhanan dan agama dewa-dewa (Animisme). Ia bukan seorang animis, bukan seorang Hindu, bukan seorang Budha, bukan seorang kristen dan bukan seorang Islam yang sejati.

Tetapi Indonesia menurut alam, dan Hindu-Arab dalam pikirannya. Di masa Empu Sedah, pengaruh bangsa Tionghoa makai lama bertambah besar.

Telah pada tempatnya bangsa Tionghoa itu seboleh-bolehnya mempergunakan bangsawan Jawa sebagai perkakas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Bila maksud ini tak berhasil dengan pengaruhnya itu, adakalanya dengan jalan revolusi mereka mencoba-coba merebut pemerintahan negeri. Tetapi supaya mereka dapat tetap memperoleh kemenangan mestilah mereka lebih kuat atau mendirikan satu kelas.

Mereka haruslah menjadi anak negeri atau bercampur darah dengan bumiputera. Barulah mereka dapat menaklukkan raja dengan perantaraan kaum tani yang tidak senang itu. Karena bangsa tionghoa dalam hal sosial tetap tinggal dalam ketionghoaannya dan tak memperoleh pertolongan militer dari tanah air mereka, maka tak lamalah mereka sanggup mempertahankan kemenangan atas raja-raja Jawa itu.

Sudah tentu, penduduk bandar-bandar yang makin lama makin maju itu merasa beroleh rintangan dari kaum bangsawan di ibukota. Sebagaimana terjadi di negeri Eropah, penduduk bandar meminta hak politik dan ekonomi lebih banyak. Dari pertentangan antara pesisir dengan darat, perdagangan dengan pertanian, penduduk dengan pemerintahan timbullah satu revolusi yang membawa pulau Jawa ke puncak ekonomi dan pemerintahan.

Bila bandarnya mempunyai industri dan perdagangan nasional yang kuat, niscaya Jawa akan mengalami satu revolusi sosial yang dibangkitkan, dipecahkan dan dipimpin oleh tenaga-tenaga nasional seperti terjadi di Eropa Barat, jadi revolusi borjuis terhadap feodalis.

Tetapi Jawa sesungguhnya dikungkung oleh ramalan Empu Sedah: ―orang asing akan memimpin‖.

Seorang keturunan Hindu bernama Malik Ibrahim pada tahun 1419 dengan membawa agama yang belum dikenal orang di pulau Jawa datang di Gresik yang ketika itu penduduknya banyak orang asing. Dengan cepat ia memperoleh pengikut. Jadi boleh dikatakan kedatangannya ketika itu dengan membawa agama Islam bumiputera bagaikan beroleh ―durian runtuh‖, karena ketika itu sedang berapi-api pertentangan penduduk pesisir dengan ibukota.

Keadaan bertambah kusut, dan pada akhirnya sampai ke puncaknya, penyerangan terhadap raja-raja yang dipimpin oleh seorang Tionghoa-Jawa, bernama Raden Patah, sehingga perbuatannya (Raden Patah) menghancurkan kerajaan yang ada. Hal itu menunjukkan lagi bahwa, seorang asing dengan membawa faham baru (agama Islam) dan untuk mempertahankan kedudukan saudagar-saudagar asing di pesisir itu,berhasil menjatuhkan kerajaan bangsawan setengah Hindu. Kerajaan Demak berdiri dengan kemasyhurannya! Tetapi akhirnya terpecah-belah oleh perang saudara yang dinyala- nyalakan orang asing yang cerdik jahat.

Jipang bermusuhan dengan Pajang, Demak dengan Mataram. Semua perang saudara ini, besar atau kecil, untuk kepentingan bangsa asing, dalam waktu singkat berakhir dengan kemenangan seorang Tionaghoa-Jawa bernama Mas Garendi.

Dengan datangnya kekuasaan Belanda lenyaplah segala sesuatu yang menyerupai kemerdekaan. Pengaruh bangsa asing dan percampuran darah dengan bangsa Asia lain- lain, menyebabkan gencetan yang sebuas-buasnya. Sekalian hak-hak ekonomi dan politik ―ditelan‖ bangsa itu (Belanda) dengan kekerasan dan kecurangan seperti yang belum pernah dikenal oleh bangsa Indonesia! Pemerasan yang serendah-rendahnya (kebiadaban) serta kelaliman menjadi kebiasaan setiap hari!

Jika sekiranya pulau Jawa mempunyai borjuasi yang revolusioner dan Diponegoro dalam perjuangan melawan Mataram dan Kumpeni pastila ia akan berdiri di sisi borjuasi itu, niscaya dapatlah menciptakan satu perbuatan yang mulia dan tertentu. Tetapi itu tak ada, borjuasi yang berbau keislaman dalam lapangan ekonomi dihancurkan oleh kapital

Belanda samasekali. Dalam kekecewaan yang hebat itu terhadap Mataram dan Kumpeni dapatlah ia mempersatukan diri di bawah pimpinan Kyai Mojo seorang ahli agama Islam yang fanatik dan bersemboyan ―perang sabilillah‖, bukan kebangsaan.

Membentang satu kesimpulan terhadap pemberontakan Diponegoro bukanlah satu pekerjaan yang sangat mudah. Karena ini sesungguhnya satu perjuangan kaum borjuasi Islam Jawa menentang kapital Barat yang disokong oleh satu kerajaan yang hampir tenggelam (Mataram).

Akibatnya sungguh terang. Tak ada seorang manusia kuasa yang bagaimana pintar sekalipun dapat menolong satu kelas yang lemah, baik teknik maupun ekonomi melawan satu kelas yang makin lama makin kuat.

Satu kelas baru mesti didirikan di Indonesia buat melawan imperialisme Barat yang modern.

Apakah kesimpulan dari riwayat-riwayat tersebut di atas? Pertama, bahwa riwayat kita ialah riwayat Hindu atau setengah Hindu, kedua bahwa perasaan sebagai kemegahan nasional jauh dari tempatnya, dan yang penghabisan, bahwa setiap pikiran yang menyangkakan pembangunan (renaissance) samalah artinya dengan menggali aritokratisme dan penjajahan bangsa Hindu dan setengah Hindu yang sudah terkubur itu.

Bangsa Indonesia yang sejati dari dulu dan sekarang masih tetap merupakan budak belian yang penurut, bulan-bulanan dari perampok-perampok bangsa asing. Kebangsaan Indonesia yang sejati tidak ada selain dari dengan maksud melepaskan bangsa Indonesia yang belum pernah merdeka itu.

Bangsa Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain dari perbudakan.

Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai, setelah mereka terlepas dari tindasan imperialis.

Beberapa Macam Imperialisme

I) Beberapa cara pemerasan dan gencetan

―Tuhan mengadakan dunia menurut gambarnya sendiri.‖

Orang-orang yang menjajah 300 tahun di Asia adalah memenuhi sifat kebutuhan mereka masing-masing dan memerintah negeri taklukannya dengan berbagai cara itu (ekonomis) yang dari dulu sampai sekarang bolehlah dibagi:

1. Perampokan terang-terangan dahulu di Asia dilakukan oleh Portugis dan Spanyol.

2. Monopoli, yang dalam prakteknya sama dengan perampokan masih terus sampai

sekarang dilakukan oleh belanda di Indonesia.

3. Setengah monopoli, mulai dilakukan oleh Inggris di India.

4. Persaingan merdeka, mulai dilakukan di Filipina (cara-cara imperialis lain hampir

boleh disamakan dengan yang di atas ini).

Apabila kita ikuti cara-cara penggencetannya dalam politik seperti di bawah ini:

1.

Imperialisme biadab, yakni menghancurkan sekalian kekuasaan politik bumiputera dan

menjalankan pemerintahan yang sewenang-wenang (Spanyol di Filipina).

2. Imperialisme autokratis, yakni yang hampir tak berbeda dengan yang tersebut di fasal

a) seperti Belanda.

3. Imperialisme setengah liberal, yakni membrikan kekuasaan yang sangat terbatas kepada bumipetera yang berkuasa (raja-raja atau kepala negara yang turun-temurun seperti Inggris di India).

4. Imperialisme liberal, yakni memberikan sepenuh-penuhnya kemerdekaan kepada tuan

tanah yang besar-besar serta kepada borjuasi bumiputera yang mulai naik seperti

Amerika di Filipina.

II) Sebab-Sebab Perbedaan

Perbedaan dalam cara pemerasan dan penggencetan terhadap si terjajah disebabkan bukan karena perbedaan tabiat manusia di antara negri-negeri imperialis yang tersebut. Tetapi karena kedudukan kapital dari negeri masing-masing waktu mereka sampai di Asia, pun juga cara menjalankan kapitalnya.

Waktu Spanyol dan Portugis kira-kira tahun 1500 datang di Asia mereka belum terlepas dari feodalisme. Portugis dan Spanyol adalah negeri pertanian, pekerjaan tangan, kaum bangsawan dan kaum agama (jadi belum ada industri).

Barang-barang industri yang dapat dijual di pasar-pasar tanah jajahan belum ada. Mereka datang berkoloni-koloni akan merampok hasil-hasil di sana untuk dijual di pasar Eropa dengan harga tinggi. Karena mereka sangat keras memeluk agama katolik yang baru saja mengusir islam dari Spanyol, itulah sebabnya maka bangsa Indonesia yang memeluk agama animis di Filipina itu dipaksa menjadi orang kristen. Siapa yang tidak suka mengikut dipancung dengan pedang.

Waktu Belanda mengikuti Spanyol dan Portugis sampai ke Indonesia kira-kira tahun 1600, sebagian besar dari feodalisme Belanda telah didesak oleh borjuasinya. Mereka telah melepaskan diri dari tindakan feodalisme dan katolikisme dan mengambil jalan menuju perdagangan merdeka, liberalisme dan protestanisme. Negeri Belanda ada di dalam jaman kapitalisme muda.

Inggris sebenarnya pada tahun 1750 dapat berdidri tetap di India dan telah 100 tahun lamanya menyelami revolusi borjuasi di bawah pimpinan Cromwell.

Setelah itu kapitalisme Inggris semakin maju dengan sangat cepatnya, disertai dengan paham-paham perdagangan mereka, liberalisme, konstitusionalisme, dan kepercayaan merdeka.

Amerika sampai di Filipina pada tahun 1898 setelah mengalami dua revolusi borjuasi (1775 dan 1860). Ia kokoh memegang paham Monru, demokrasi dan terhadap Asia, politik pintu terbuka.

III) Akibat dari Berbagai Macam Cara Itu

Sebagai buah dari cara perampokan itu, maka Portugis dan Spanyol akhirnya dihalau dari jajahannya.

(Siapakah yang akan dihalaukan sekarang?) Sekalipun semangat revolusioner di Indonesia sudah matang dan menyala-nyala sedangkan persediaan belum cukup, maka imperialisme Belanda masih berdiri.

Dengan jalan memberikan konsesi yang besar-besar, kalau terpaksa serta politik kompromis kepada segolongan orang India, maka imperialisme Inggris masih berdiri di sana.

Dengan bertopengkan pengasuh, penolong dan mengasihi manusia serta memberikan otonomi-ekonomi, politik ekonomi yang besar-besar kepada bumiputera di Filipina maka Imperialisme Amerika masih dapat menahan kegegeran di sana.

IV) Kapitalisme Indonesia

Kapitalisme Indonesia adalah satu cangkokan dari Eropa yang di dalam beberapa hal tidak sama dengan kapitalisme yang tumbuh dan dibesarkan dalam negerinya sendiri, yakni Eropa dan amerika Utara.

a. Kapitalisme yang masih muda.

Hal ini berakibat, produksi dan pemusatannya belumlah meencapai tingkatan yang semestinya.

Industri Indonesia terutama industri pertanian yang masih tetap terbatas di Jawa dan beberapa tempat di Sumatera.

b. Tumbuh tidak dengan semestinya.

Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputera yang menurut kemauan alam. Ia adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputera.

Di Indonesia sebagai akibat kemajuan ekonomi yang tidak teratur sebagai mana mestinya, tidak seperti di atas halnya (di Eropa). Kota-kota kita kita tidak bisa dianggap sebagai konsentrasi dari teknik, industri, dan penduduk. Ia tak menghasilkan barang- barang baik untuk desa maupun untuk perdagangan luar negeri, dari kaptalis-kapitalis bumiputera. Mesin-mesin pertanian, keperluan rumahtangga, bahan-bahan untuk pakaian dan lain-lain tidak dibuat di Indonesia, tetapi didatangkan dari luar negeri oleh badan-badan perdagangan imperialistis. Desa-desa kita tak menghasilkan untuk kota- kota karena untuk mereka sendiripun tak mencukupi. Beras misalnya, makanan rakyat yang terutama mesti didatangkan dari luar, di tahun 1921 seharga f. 114.160.000, meskipun bangsa kita umumnya sangat pandai mengerjakan tanahnya dan semua syarat untuk menghasilkan beras bagi keperluan sendiri bahkan dapat pula mengeluarkan berasnya yang berlebih. Desa-desa kita mengeluarkan gula, karet, teh, dll. barang dagangan yang mengayakan saudagar asing, tetapi memiskinkan dan memelaratkan kaum tani, kota-kota kita bukanlah jadi pusat ekonomi bangsa Indonesia tetapi terus- terusan ekonomi yang mengalirkan keuntungan untuk setan-setan Uang luar negeri.

Sudah kita lihat bahwa politik perampok bangsa Belanda, memusnahkan sekalian benih- benih industri bumiputera yang modern. Hongi, cultur stelsel, monopoli stelsel dan gencetan pajak yang tak ada ampunnya. Dan pemasukan saudagar Tionghoa yang teratur

di jaman Kompeni Timur Jauh (VOC) menghancurluluhkan sekalian alat-alat sosial,

ekonomi dan teknik nasional yang kuat.

c. Kapital indonesia itu internasional.

Keadilan Sosial

Kecurangan tukang warung Belanda yang sudah 300 tahun di dalam dunia imperialis dinamai kolonisator, menciptakan pertentangan sosial dan kebangsaan yang satu-satunya

di seluruh Asia. Di satu pihak kelihatan kapital yang yang beranak-anak dalam pertanian, yang sangat modern, dengan produksi yang sangat tinggi dan perhubungan internasional, yang bersatu dalam beberapa sindkat dan trust yang memberi untung yang berlipat ganda. Di lain pihak tampak kaum tani, pedagang-pedagang kecil dijadikan buruh serta mereka ditumpuk-tumpukkan sebagai buruh indudtri di dalam kota-kota dan buruh tani

ke kebun-kebun. Semua hal ini melahirkan kesengsaraan, perbudakan dan kegelisahan.

Keadaan Politik

Tolehan ke belakang.

―Politik‖ di Indonesia belum pernah jadi

Faham Kenegaraan tak melewati segerombolan kecil penjajah Hindu atau setengah Hindu.

a common good kepunyaan umum rakyat.

Sebagai dalam kebanyakan negeri feodalistis di Indonesia pemerintahan negeri dipegang oleh seorang raja dan komplotannya. Seorang raja sesudah berhasil menjalankan rol ―jagoan‖, terus mengangkat dirinya jadi raja yang bertuan. Anaknya yang bodohnya lebih dari seokor kerbau atau seorang tukang pelesir , di belakang hari menggantikan ayahnya sebagai yang dipertuan dalam negeri. Peraturan turun-temurun ini ―lenyap‖ apabila seorang ―jagoan‖ baru datang menjatuhkan yang lama, dan mengangkat dirinya pula jadi raja.

Konstitusi tidak ada yang menentukan penebalan atau pemakzulan seorang raja dengan menteri-menterinya, serta menetapkan dengan saksama kekuasaan dan lapangan pengaruhnya semuanya bersandarkan kekerasan dan kemauan raja, kepercayaan dan perhambaan masa. Pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, oleh sebab rakyat sebagai yang dikatakan Lincoln tak pernah di Indonesia.

Kadang-kadang ada seorang rajalela yang ―agak adil‖ di panggung politik, tetapi ini suatu kekecualian, dan luar biasa. Tidak ada yang dapat dilakukan rakyat jika yang begitu terjadi selain daripada berontak . Indonesia hanya mengenai pemerintahan beberapa orang dan tak mengenal hukum-hukum yang tertulis.

Indonesia belum pernah mengenal ―demokrasi‖. Dan karena borjuasi bumiputera yang kuat tak ada buat sementara waktu indonesia tidak akan berkenalan dengan demokrasi itu. Semua daya upaya untuk memperolehnya tidak akan berhasil, dan boleh dikata

semua cita-cita seperti itu diktatur demokrasi borjuis tidak mungkin; hanya kelas buruh Indonesia saja yang dapat memegang diktatur (bila ia tetap insyaf dan bekerja).

Ia menguasai kehidupan ekonomi.

Dan di waktu sekarang salah satu kelas yang mempunyai organisasi yang terkuat di Indonesia. Kita tak usah menyesal jika kita langkahi jaman ―demokrasi tipuan‖ itu.

Kekokohan politik dari Republik Indonesia dapat dipertahankan oleh diktatur buruh yang kekuasaan semangatnya terkandung dalam satu partai revolusioner yang ―kuat‖. Lama- kelamaan kekuasaan politik dapat diperluas kepada tiap-tiap buruh Indonesia. Jika kita tak mau diperdayakan dengan nama-nama yang bagus dan janji yang manis-manis oleh pemerintah ini, dapatlah kita menyimpulkan semua politik kolonial Belenda tersebut:

1. Bangsa Indonesia yang 55.000.000 itu tak memiliki hak suara tentang politik (tahun

1926).

2. Kapital besar memerintah dengan perantaraan kaum birokrat yang tak berjantung dan

militaris yang picik.

3. Dewan rakyat itu ―seekor lintah‖ yang melekat di punggung rakyat Indonesia.

Sifat Revolusi Indonesia yang Bakal Timbul

Pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia merupakan syarat terutama untuk mendapat perkakas revolusi, dan itu pulalah yang menjadi syarat pertama yang mendatangkan kemenangan revolusi kita.

Jika pengupasan itu tidak sempurna atau kita keliru dengan ramalan dan kesimpulan kita, kemenangan itu tidak akan pasti atau untuk sebentar saja. Tetapi dengan Marx dan Lenin sebagai penunjuk jalan dapatlah kita tentukan sdikit garis-garis besar dari revolusi Indonesia (melihat tingkat kecerdasan kapitalisme pada waktu itu).

Tentulah akan berbeda dengan ‗Pemberontakan Maroko‖. Banar sekali, sebab Indonesia dengan tenaga produksinya yang lebih tinggi (industri), pertanian, pengangkutan dan keuangan yang besar (kuat) dari pada negeri tani kecil dan gembala domba sebagai Maroko. Juga Indonesia, terutama Jawa, tidak berpegunungan yang tak dapat didiami dan gurun pasir luas-luas di mana kaum revolusioner menyembunyikan diri bertahun- tahun dan setiap masa dapat meneruskan perang gerilya.

Dan lagi ia tak akan berupa revolusi proletar sejati seperti di Jerman, Inggris dan Amerika (yang penduduknya sebagian besar terdiri dari kaum buruh), karena kapitalIndonesia masih terlalu muda, belum subur dan masih daif. Karena itu kaum buruh kita kalau dibandingkan dengan kaum buruh di negeri Barat jauh ketinggalan baik kuantitet maupun kualitetnya. Tambahan pula keadaan kaum yang bukan buruh yang juga akan turut mengadakan revolusi masih ada di jaman borjuasi dan revolusi nasional.

Juga tidak akan menyamai revolusi borjuasi seperti di Perancis tahun 1789 karena borjuasi kita masih terlampau lemah dan feodalisme sebagain besar sudah dimusnahkan oleh imperialisme Belanda. Juga ia tidak akan menyamai revolusi Perancis tahun 1870, karena kita agaknya mempunyai tenaga-tenaga produksi lebih cerdas tambahan lagi, nisbah sosial sangat berlainan.

Akan berlainan pula dengan revolusi Rusia dengan feodalisme yang boleh dikatakan lemah dan borjuisnya muda, yang oleh perang bertahun-tahun menjadi sangat mundur , sedangkan kaum buruhnya muda, gembira dan dididik menurut aturan Lenin. Kita harus berjuang melawan imperialisme Barat, meskipun kecil tapi tak boleh diabaikan sebab ia

mempunyai tipu kelicikan dan suka pula menjadi ―pelayan‖ imperialis Inggris yang besar itu.

Ia akhirnya tidak akan menjadi revolusi politik semata-mata yang biasa akan terjadi di

India, Mesir dan Filipina yaitu borjuasi bumiputera merebut kekuasaan politik saja (kekuasaan parlemen) karena kaasitas nasionalnya kuat dan inteleknya sudah banyak darpada di Indonesia.

Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim ditambah lagi oleh dorongan kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menggencet dan menghinakan mereka.

Pati revolusi (sekurang-kurangnya di Jawa) harus dibentuk oleh kaum buruh industri modern, perusahaan dan pertanian (buruh mesin dan tani). Benteng-benteng politik terutama ekonomi imperialisme Belanda hanya dapat dipukul oleh kaum buruh. Di sekitar kaum buruh itu berbaris kaum borjuasi kecil yang mundur maju tak pungguh hala (kaum borjuis akan menurut bila mereka tahu akan beroleh kemenangan, dan di belakang sekali. Itupun kalau mereka sungguh suka turut. Lebih dari itu ―tidak‖ dan jangan diharap).

Revolusi Indonesia yang beroleh kemenangan akan mendatangkan perubahan yang jitu dalam perekonomian, politik dan sosial pada waktu kecerdasan kapitalistis menghadapi krisis. Bila kaum buruh kita tetap giat dapatlah mereka memegang rol yang terpenting.

Perusahaan Indonesia di jaman Belanda ialah perindustrian dan pertanian bahan mentah dan barang mewah. Bahan mentah dan bahan mewah itu tiadalah diadakan buat rakyat Indonesia melainkan buat diperdagangkan oleh Belanda dengan negara yang membutuhi. Barang mewah seperti teh, kopi, gula, tembakau dll. sebagaian besar dipakai oleh Belanda sendiri di Negeri Belanda, sebagian kecil oleh rakyat Indonesia, tetapi sebagian terbesar untuk diperdagangkan ke semua penjuru dunia. Bahan barang seperti kapuk, getah, kopra, sisal, palm-olie dll. sebagian ukan karena tak ada bahan buat membikin mesin, seperti besi dan campuran bauxite, alamunium dll., atau bukan pula karena tak ada modal, tenaga ataupun pasar dalam negeri, tetapi pertama sekali berhubungan dengan kecakapan dan semangatnya si penjajah Belanda, sebagai penduduk negara pertanian dan pedagang. Kedua berhubungan dengan terikatnya Belanda dalam hal ekonomi , politik dan diplomasi kepada Inggris. Balanda, yang sudah tak berkecakapan dan bersemangat perindustrian itu, tentulah tak akan mengganggu perindustrian Inggris, tuan besarnya, dengan menimbulkan persaingan membikin berbagai-bagai mesin di Indonesia ini, maka di belakang tanda nama (naambord) Dutch-Indies itu sebenarnya tertulis ‗Anglo-Dutch-Indies‖.

Di sekitarnya kapital ―Anglo-Dutch‖ itulah terdapat kapital Amerika, tiongkok, Perancis,

jepang dan sebagainya.

Sudah diketahui bahwa ―untung‖ modal Belanda di Indonesia dipukul rata F. 500.000.000 (uang lama) setahun. Sedangkan begrooting (anggaran uang) negara pukul ratanya belum lagi F. 400.000.000.

Dalam ini sudah termasuk pula pensiun pegawai Belanda. Untung F.500.000.000 ditambah sebagian F.400.000.000 terus mengalir ke negeri Belanda. Uang itu ditabungkan atau dibungakan dengan jalan memindahkan ke Amerika. Jerman atau lain

tempat. Sisanya untung tadi dipakai buat spekulasi di pasar (bursa) di Amsterdam dan di Rotterdam. Kalau sebagaian saja uang F. 500.000.000 itu dipakai buat ―industrialisasi‖di Indonesia, sudah lama Indonesia mempunyai industri enteng dan berat cukup buat kemakmuran dan pertahanan Indonesia setinggi-tingginya dan sehebat-hebatnya. Tetapi kemakmuran Indonesia itu sudah cukup digambarkan oleh Departemen Ekonomi dengan hasil perhitungan Huender. Menurut perhitungan itu, maka pencarian si ―inlander‖ Cuma sebenggol sehari. Si Belanda lain memutar-mutar ―kecelakaan‖ si ‖inlander‖ ini menjadi ―kebahagiaan‖ dengan mengatakan: bahwa si inlander bisa ―bisa hidup dengan sebenggol sehari ‖

Didikan sekolah Belanda, propaganda surat kabar dan buku kesusasteraan akhirnya, tetapi tak kurang pentingnya di beberapa puluh tahun belakangan ini ―Christening Politik‖ yang dijalankan imperialisme Belanda, menghasilkan satu golongan bangsa Indonesia, yang karena kurang perkataan yang lebih tepat kami sebutkan saja dengan nama baru ialah ―inlanders-alat‖ . Dia antara jenis sejawatnya, ―inlanders-alat‖ kita ini tak ada taranya di seluruh dunia ini, baik pun di jajahan atau di negeri merdeka. ―Inlander-alat‖ ini terdapat dalam Badan Pemerintah, kepolisian dan kemiliteran imperialisme Belanda. Reserve besar dari ―inlander-alat‖ ini terdapat pada golongan intelgensia, ber atau tak bertitel.

Titel ini buat mereka ―inlander-alat‖ Cuma memberi jaminan kecerdasan dalam vak yang berhubungan dengan teknik dan ilmu yang tak bersangkutan dengan masyarakat teristimewa politik dan ekonomi.

Dalam semua ilmu yang berhubungan dengan masyarakat, teristimewa politik dan ekonomi mereka menunjukkan sifat mereka yang teristimewa pula sebagai ―inlanders- alat‖. Tidak ada di seluruh dunia ini yang lebih gampang dipakai oleh imperialisme asing buat melakukan kemauannya dari pada ―inlanders-alat‖, ialah hasil pendidikan sekolah Belanda dan sekolah zending yang dibantunya dengan segala tipu dustanya.

Imperialisme Jepang mendapatkan alat yang baik sekali pada ―inlanders-alat‖ ini, yang memang berada dalam keadaan budak yang kehilangan tuan. Manusia yang biasa menerima perintah semacam ini sudahlah tentu menderita kesengsaraan dan membutuhkan ―tuan‖. Sedikit saja lagi usaha yang perlu dilakukan oleh tuan baru, yang menggelari dirinya ―saudara tua‖. Beri makan secukupnya pada ―inlanders-alat‖ yang ditinggalkan tuannya tadi dan tukar saja perkataan ―bevel‖ (perintah) dengan kata ―merei‖. Sendirinya jawab ―inlanders-alat‖ yang dulu berbunyi ―ya meneer‖ bertukar ―hei‖. Semua pekerjaan sebagai alatnya imperialisme asing akan berjalan terus

Sudah siap para ―inlanders-alat‖ , para pemimpin rakyat dan intelgensia sebagai reserve, buat menjalankan administrasi, perindustrian, pertanian Indonesia, warisan dari

buat dipakai imperialisme Jepang menegakkan ―Asia Timur

imperialisme Belanda

Raya‖ tadi, Pamong Praja, Syuuo Sangi-In, Para Kakka made in Japan, Pemimpin Besar, Tengah dan Kecil atas ―Panca Darma‖, semuanya ―kirei‖ berdiri ―Komando‖ dari Tenno

―Inlanders-alat‖ tetap konsequen dengan watak dan sejarahnya

sebagai alat imperialisme asing.

Heika di Tokyo

Sikap melempem di tengah revolusi itu bukanlah monopolinya kaum tengah Indonesia saja. Memang itu sifatnya kaum tengah, ialah maju mundur lebih memilih pihak yang kiranya akan menang. Borjuis tengah Indonesia, seperti saudagar tengah, Pamong Praja dan intelgensia memang tak bisa konsequen baik dalam revolusi nasional ataupun dalam revolusi sosial.

Sifat memilih dan membidik siapa yang kuat dan akan menang dalam pergulatan itu memangnya terbawa oleh susunan ekonomi dan sosial Indonesia. Kaum tengah Indonesia tak mempunyai tempat bersandar maupun dalam ekonomi ataupun dalam politik. Saudagar tengah Indonesia tak kenal sama saudagar importir sendiri, fabrikan Indonesia sendiri ataupun bankir sendiri. Mereka bersandar pada importir asing, fabrikan asing. Demikian pula Pamong Praja dan resevernya, ialah kaum intelgensia bersandar pada imperialisme asing. Tak ada parlemen atau pemerintah nasional yang bisa dijadikan tujuan dalam usaha mereka mencari pangkat.

Di mana ada kapital nasional dan borjuis nasional yang kukuh kuat, maka dalam masa revolusi kaum tengah sangsi bolak-balik di antara borjuis atas dan proletar nasional. Akhirnya di tengah-tengah kesukaran perjuangan mereka membelok kepada yang kiranya akan menang. Di Indonesia kapital dan borjuis yang kuat kukuh itu terdiri dari bangsa asing. Mungkin pada permulaaan perjuangan para inlanders memihak kepada rakyat murba. Tetapi kalau perjuangan itu sedikit lama dan tampaknya sukar, maka mereka akan mengabdi kepada kapital dan borjuis asing manapun juga.

Semenjak tangkapan Madiun dengan radio Hilversumnya, nyatalah sudah bahwa Persatuan Perjuangan dan Minimum Program sudah meningkat ke periode (musim)kedua dalam perjuangan anti-imperialisme dan revolusi nasional ini. Dalam periodekedua ini kaum setengah-kesini setengah kesana, setengah revolusioner dan setengah kompromistis itu mesti disingkirkan samasekali. Karena mereka telahnyata menyimpang dan memegang terus mereka itu berarti melemahkan barisan perjuangan. Persatuan perjuangan bukanlah berarti kumpulan kaum revolusioner dan kaum kompromis yang lengkap siap dengan 1001 perkataan buat menyelimuti politik komprominya. Sesudah tangkapan Madiun maka revolusi Indonesia mesti dikembalikan ke tangan mereka yang tegas terang mengakui kemerdekaan 100% menolak perundingan yang tiada berdasarkan pengakuan 100% itu dari tegas terang menolak kapitalisme asing dengan siasat menyita perusahaan musuh. Pembersihan dilakukan.

Dan dalam masa pembersiahan itu mesti dilakukan, dengan cepat dan kalau perlu dengan deras tangkas. Kalau tidak maka kaum kompromis akan jaya melembekkan semangat perjuangan, membelokkan dan mematahkan perjuangan itu samasekali dan mengembalikan Indonesia ke status penjajahan dengan atau dengan tidak dengan nama ―Republik‖.

Setengah kaum tengah bagian atas yang dipelopori oleh ―ahli‖ politik dan ―ahli‖ diplomasi serta para Pamong Praja dan intelligensia sudah terjerumus atau sengaja menerjunkan dirinya ke tengah-tengah barisan NICA. Kaum pembelok, yang sudah menjalankan rolnya dengan terbuka, setengah tertutup atau tertutup harus samasekali diberantas dari perjuangan revolusioner. Persatuan Perjuangan revolusioner mesti terdiri dari kaum dan golongan revolusioner saja. Dalam periode kedua ini, sesudah ujian dua setengah bulan ini, maka golongan yang tetap revolusioner ialah: pertama golongan proletariat perindustrian, yakni buruh pabrik, bengkel, tambang, pengangkutan, listrik, percetakan, PTT dll.nya.

Kedua proletariat tani, ialah buruh kebun bersama dengan kaum tani biasa, kaum tani menengah, sampai ke tani sederhana (kerja dan cukup buat keluarga sendiri saja) terus ke setengah tani. Ketiga kaum marhaen ialah pedagang kecil, warga kecil seperti jurutulis, guru, dan intelgensia miskin di kota-kota. Semua golongan ketiga ini menghendaki sungguh lenyapnya imperialisme asing dan berdirinya terus Republik Indonesia, dan banyak sekali memberikan pengorbanan harta dan jiwa dalam semua

garis pertempuran. Ketiga golongan yang masih revolusioner dalam periode kedua di masa revolusi nasional ini lebih kurang terikat oleh tiga aliran pula, yakni aliran keislaman, kebangsaan dan keproletaran (sosialisme, komunisme, ataupun anarkisme- sindikalisme). Ketiga aliran ini terus-menerus mempengaruhi pergerakan anti- imperialisme di Indonesia selama lebih 40 tahundi belakang ini. Dalam periode kedua inipun ketiga aliran itu bisa diabaikan.

Ketiga aliran itu masing-masingnya lebih kurang mempengaruhi masing-masing ketiga golongan tadi. Tetapi boleh jadi sekali dan sepatutnyalah pula keislaman lebih tebal pada kaum tani, kebangsaan lebih tebal pada kaum marhaen dan keproletariatan pada golongan proletariat.

Buat periode kedua ini cukuplah sudah minimum ProgramnyaPersatuan Perjuangan, yang

kalau dirasa perlu bisa ditambah di sana sini, dengan tiada mengurangi semangatnya yang revolusioner. Setelah kemerdekaan 100% tercapai, maka akan berlakulah Maksimum Program, yang maksudnya menuju kepada Indonesia berdasarkan

sosialisme

bersandarkan

kekuatan diri dan mengingat keadaan di sekitar Indonesia

(21, 22-23 Thesis)

Dari Penjara ke Penjara III

(Hal. 77, 78, 98, 99 dan 101)

thn.

1947)

Berhubungan dengan pertentangan tajam itulah, maka demarkasi revolusi Indonesia ini dapatlah ditarik dengan sejelas-jelasnya.

Dari bermula sekali saja anggap demarkasi revolusi Indonesia itu bukanlah satu amban (girdle, band) melainkan satu garis . Artinya bukanlah satu garis yang mempunyai panjang dan mempunyai lebar, melaunkan satu garis yang mempunyai panjang tetapi tidak mempunyai lebar. Bukanlah satu amban, di mana borjuis imperialis bisa berjabat tangan dengan borjuis jajahan, buat kerjasama memeras dan menindas murba di Indonesia. Melainkan satu garis, di mana borjuis imperialis belanda dengan memperkudakan inlander alat, memeras dan menindas murba Indonesia.

Di Hindustan, Tiongkok dan Filipina memangnya memangnya ada amban sosial yang bisa dijadkan demarkasi antara kaum penjajah dengan murba terjajah. Di sana kepentingan bersama dalam ekonomi antara borjuis imperialis dengan borjuis jajahan dapat dijadikan dasar untuk mengadakan kerjasama dalam politik. Di sana pertentangan antara borjuis imperialis dengan rakyat jajahan atau setengah jajahan (Tiongkok) boleh diperdamaikan. Dengan demikian, maka pergerakan revolusioner dapat dihalang-halangi atau dibelokkan kepada reformisme dan ke dalam status, di mana borjuis imperialis menyerahkan sebagian besar kekuasaan politiknya kepada borjuis jajahan (Hindustan dan Filipina). Bahkan pada lahirnya semua kekuasaan politik oleh borjuis imperialis boleh diserahkan kepada borjuis jajahan sambil tetap mengendali ―Negara Merdeka ― itu dengan ―perjanjian‖ keuangan, ―perjanjian‖ kemiliteran, ―perjanjian‖ ekonomi dan ―perjanjian‖ urusan luar negeri. Keadaan semacam itu terdapat lebih kurang pada perhubungan Amerika Serikat dengan Mexico dan dengan beberapa negara di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dengan Kanada, Filipina, Tiongkok, Turki, dll.

Karane tak adanya borjuis besar dan borjuis menengah yang kuat di Indonesia, dalam arti ekonomi, maka borjuis imperialis tak bisa mengadakan amban sebagai demarkasi di indonesia. Borjuis imperialis cuma bisa ―kerjasama‖ dengan bangsa Indonesia, yang bisa

diperalat semata-mata, dengan inlanders alat untuk memeras dan menindas murba Indonesia. Inlanders alat ini di jaman ―Hindia-Belanda‖ sebelumnya Belanda menyerah kalah kepada Jepang berpusat pada ―Binnenlands Bestuur Amtenaren‖, Pangreh Praja namanya di masa jepang. BB. Amtenaren itu adalah turunan dari Ningrat Takluk, yang akan menjadi enganggur (murba), kalau sekiranya tiada diperalatkan oleh Belanda. Dengan didikan sekolah Amtenaar, serta dipersenjatai dengan ―Undag-Undang Bumiputera‖ (Inlandsche Reglement) dan dengan politie, maka BB. Amtenaar, inilah intinya kekuatan borjuis Indonesia. Merekalah yang sudi ―kerjasama‖ dengan pelayannya untuk memeras manisan tebu.

Ringkasnya di ndonesia tak dapat diadakan amban-demarkasi, ialah garis yang mempunyai lebar, yang dapat mempermainkan borjuis-imperialis dengan borjuis nasional. Di Indonesia Cuma ada garis demarkasi, ialah garis yang tiada mempunyai lebar, garis yhang tajam, yang menghimpit, ialah borjuis alat, bernaba BB. Amtenaar, garis yang dengan terang-tajam memisahkan borjuis imperialis belanda dengan MurbaTerjajah Indonesia.

Barangsiapa yang berada di sebelah sananya garis demarkasi itu adalah kelas pemeras penindas. Barang siapa yang berada di sbelah sininya garis demarkasi itu adalah kelas murba terperas-tertindas. Ketika gerakan kemerdekaan itu berlaku dalam waktu damai, maka garis demarkasi itu cuma dapat diketahui dengan filsafat revolusioner.

Filsafat revolusi saja tak dapat memastikan lebih dahulu. Cuma prakteklah yang dapat memastikan. Bukan sedikit anak murba, yang meningalkan front murba. Bukan satu dua orang pula anggota yang bukan murba, yang sampai pada nafas terakhir berada di kalangan murba, seperti Marat, Marx, Engels, Lenin, Karl Leibnecht, Rosa Luxemburg dll., semunya berasal dari golongan yang bukan murba? Ada yang mendapatkan faham kemurbaan dengan melalui otak pikiran serta jantung erasaan saja. Tetapi sampai pada nafas terakhir, mereka setia kepada kelas yang dibelanya dan faham kelas yang dianutnya itu; adapula yang memangnya lebih banyak bagi mereka yang berasal dari kelas murba sendiri, yangsampai titik darah penghabisan membela kelasnya dan kepentingan serta faham kelasnya sendiri.

Bahwasanya jika kelak kapital asing akan terus bermarajalela di Indonesia, seperti sebelum tahun 1942, maka politik imperialisme pula yang akan bermarajalela di Republik Indonesia di hari kemudian. Dalam hal itu, maka kelak kemerdekaan Republik adalah kata yang tiada isi, kata kosong satu omong kosong! Kemerdekaan 100% yang diproklamirkan oleh rakyat Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, maka oleh semua pengembalian milik asing (negara sahabat ataupun negara musuh!) segera kelak akan merosot entah sampai berapa persen.

Jika sebaliknya semnjak permulaan berdirinya Republk, sebagaian besar dari perekonomian Indonesia (perindustrian, perkebunan, pertambangan, keunagan, ekspor- impor dll.) dimiliki, dikuasai, dan dikerjakan (owned, managed and operated) oleh rakyat Indonesia sendiri, untuk rakyat Indonesia sendiri maka adalah pengharapan bahwa kelak kekuasaan tertinggi kedaulatan rakyat Indonesia ke dalam dan ke luar negeri tak akan terancam.

Lain daripada dua puluh tahun lampau saja keraskan pula cara massa aksi buat mencapai kemerdekaan dari republik tadi, dan menolak sekeras-kerasnya jalan yang saya namai parlementarisme semata-mata, ataupun jalan putch.

Dalam waktu lebih daripada tiga puluh tahun itu belumlah sedikit berubah pandangan saya tentang sifat kapitalisme imperialisme Belanda, tiadalah berubah pula tujuan saya dalam politik dan ekonomi, serta akhirnya tiadalah sdikitpun berubah paham saya tenag caranya rakyat Indonesia harus mencapai tujuannya itu.

Sampai sekarang saya tidak percaya, bahwa akan bisa ada perdamaian kekal, atau dengan istilah baru, akan mungkin terdapat ―kerjasama‖ yang kekal antara kapitalis imperialis Belanda dengan rakyat Indonesia selama asing umumnya masih memegang kekuasaan kapitalnya seperti dahulu.

Saya masih yakin, bahwa kekuasaan kapital asing umumnya dan kekuasaan kapital Belanda khususnya, dan belanda khususnya, di tengah-tengah rakyat dan di atas bumi Indonesia harus dilenyapkan lebih dahulu sampai ke akar-akarnya, barulah rakyat Indonesia bisa bernafas dengan lega dan mulai menginjak jalan kemajuan dalam semua lapangan. (tentulah modal asing, yang iada memegang kekuasaan politik dan tidak mempengaruhi jalannya politik dalam dan luar negeri Indonesia akan dipertimbangkan. Tetapi ini cuma berlaku, kalau negara Indonesia sudah mendapatkan jaminan cukup buat kemerdekaan!).

Sayapun dari dulu insyaf, bahwa kapital asing dari negara sahabat tiada begitu saja dapat dilenyapkan! Tetapi kecerobohan Belanda terhadap Republik Indonesia ini, bagi saya adalah satu ―golden opportunity‖, satu saat baik, buat bertindak dan menempatkan Belanda pada tempat yang cocok dengan lakonnya sebagai negara penjajah yang sudah terbanting pada 8 Maret 1942.

Dengan lenyapnya kapitalisme Belanda dari bumi indonesia ini, dengan senjata ekonomi yang akan pindah ke tangan rakyat Indonesia dari tangan kapitalisme Belanda itu, maka rakyat Indonesia akan mendapatkan ―modal bermula‖ (initial capital) untuk membela dan memperdalam kemerdekaan serta mempertinggi kemakmurannya. Dengan demikian dan secara damai, secara jual beli, maka rakyat Indonesia kelak akan sanggup membeli kembali sisa perusahaan asing sekaligus atau berangsur-angsur dan mengadakan perhubungan diplomasi dan dagang dengan bangsa Belanda atas dasar kemerdekaan dan persetujuan ikhlas dari kedua belah pihak.

Tetapi dengan membiarkan bulat kembalinya kapital Belanda, maka rakyat Indonesia, walaupun ―digelari‖ merdeka , nasibnya akan sama saja dengan para pedagang kelontong, yang mau bersaingan dengan para pedagang besar-besaran. Dalam teori bisa dipikirkan persaingan semacam itu akan dapat memberikan hasil . Mungkin atu dua orang tukang kelontong bisa jaya, tetapi sebagai golongan, maka golongan tukang kelontong akan tetap berada di bawah haribaan golongan golongan saudagar besar-besaran. Demikianlah pula, jika semuanya kebun, tambang, pabrik, pengangkutan dan bank asing, yang menurut dasar ekonomi sudah mengambil tempat yang strategis dalam perekonomian di Indonesia akan diduduki kembali oleh bangsa asing, maka semua percobaan saudagar kecil dan perusahaan kecil Indonesia dengan cara apapun juga untuk bersaingan dengan kapital asing yang bekerja besar-besaran dan modern itu, akan sia-sia belaka. Atau denagn perkataan asing akan berarti Don Quisottery! Satu Don Quisotterylah pula pahamnya beberapa ekonomis borjuis kecil Indonesia, atau paham mereka yang menamai dirinya ―sosialis‖, bahwa dengan mengadakan 13 macam undang- undang, maka kelak kapitalis asing akan bisa ditundukkan atau dikendali. Saya terlampau banyak menyaksikan contoh yang hidup di negeri lain, tak bisa lagi percaya pada omongan borjuis kcil dan sosialis Indonesia seperti itu. Pertentangan kapitalis imperalis belanda dengan rakyat terjajah Indonesia saya anggap irreconcilable, tak bisa

diperdamaikan. Salah satunya harua menang atau lenyap dalam perjuangan yang tak kenal damai.

Maka berhubungan dengan kapital imperialis Belanda dengan rakyat terjajah Indonesia, antara pemeras-penindas Belanda dengan terperas-tertindas Indonesia inilah, maka satu pemerintahan yang berdasarkan parlementarisme tulen, satu pemerintahan yang berdasarkan suara terbanyak (majority) satu pemerintahan demokratis dalam masyarakat Indonesia, di mana kapital belanda dan asing lain kembali bermerajalela adalah satu khayal belaka. Dengan cara rekenkundig ataupun dengan perhitungan jari saja, boleh dikatakan bahwa sekepal dua kepal belanda kapitalis imperialis itu tak akan mau diperintahi, diatur kepentigan ekonominya oleh 70 juta bangsa Indonesia, yang 99% terdiri dari burger-kecil dan rakyat murba ialah golongan rakyat yang tak berpunya apa- apa lagi, kecuali tenaganya. Belanda mustahil akan percayakan kepada pemerintahan demokratis semacam itu dan Belanda akan mendapatkan 1001 malam akal bulus buat memperkosa dam memalsukan demokrasi dan parlementarisme dengan maksud hendak melakukan kekuasaan ekonomi mereka, yang sesungguhnya, yakni: melaksanakan paksaan golongan yang terkecil, tetapi berpunya atas golongan terbanyak, tetapi tiada berpunya.

Demikianlah pula sebagai materialis, sambil menghampiri sesuatu persoalan masyarakat dengan cara dialektis kami seharusnya dapat berkata: Beritahukanlah kepada kami, bagaimana perhubungan ekonomi antara kedua bangsa dan kedua kelas itu! Kami akan dapat membentuk bingkai politik antara kedua bangsa atau kedua golongan itu.

“Economic relation creates political and legal relation etc; perhubungan ekonomi

menciptakan perhubungan politik dan hukum

dsb,‖kata Marx dalam salah satu tempat.

Timbul Tumbuhnya republik Indonesia

(Pandangan Hidup Halaman 82 s/d 91/Oktober 1948)

Revolusi indonesia berbeda dengan revolusi Perancis (tahun 1979, 1848 atau 1971) dan berbeda dengan revolusi Rusia pada tahun 1917. Sifat kelas, yang memegang kekuasaan di Indonesia, sususan dan sifat beberapa golongan dalam masyarakat, sifat dan tingkat kemajuan perekonomian, serta akhirnya sifat keadaan bumi iklim serta teknik yang menjadi pendodrong semua perubahan dan dasarnya ekonomi, sosial politik dan kebudayaan berlainan sekali di pelbagai tempat yang tersebut di atas.

Berpegang untuk Indonesia ini, kepada kesimpulan (conclusion) yang ditetapkan oleh Marx dan engels 100 tahun yang lampau, kesimpulan mana dipertimbangkan menurut teknik-ekonomi, sosial politik serta kebudayaan-jiwa manusia di Eropa Barat di masa itu; ataupun berpegangan kepada semua kesimpulan Lenin yang dipertimbangkan menurut kupasan (analyse)masyarakat rusia pada tahun 1917 serta mengapalkan semua kesimpulan tersebut buat dilakanakan di Indonesia sekarang, bukanlah menjalankan hasilnya cara berpikirnya yang dialektis bersandar pada teori materialisme. Seorang Marxis yang mau mendapatkan sesuatu kesimpulan (conclusion) buat dijadikan obor dalam menentukan sikap dan tindakan di Indonesia sekarang, haruslah mempertimbangkan kesimpulan itu atas bahan berpikir (premises) yang diperoleh di indonesia sekarang pula. Bahan berpikir itu adalah bayangan (reflexion) dari semua faktornyua masyarakat Indonesia kini sendiri: teknik ekonomi Indonesia sendiri, sosial politik serta kebudayaan-jiwa (psychology) rakyat Indonesia sendiri. Dengan berbedanya hampir semua faktor ini bagi Indonesia dengan Perancis dan Rusia pada waktu yang

berlainan pula, maka kesimpulan (conclusion) yang diperoleh seorang Marxis di Indonesia sekarang tentulah berbeda pula dengan kesimpulan Marx dan Lenin seperti tersebut di atas, mungkin ada terdapat persamaan nama tetapi belum tentu sekali persamaan isi.

Yang bersamaan dan tetap bersamaan bagi sekalian Marxis Pada semua tempat dan semua tempo ialah:

Pertama: cara (metode) menyelesaikan dan memahamkan soal masyarakat (social problem) ialah dengan cara dielektika (hukum bertentangan).

Kedua: tafsiran, paham atau teori tentang kejadian (fenomena) dalam masyarakat itu didasarkan atas teori materialisme (kebendaan).

Ketiga: semangat pemeriksaan dan penyelesaian soal masyarakat serta sikap dan tindakan yang disandarkan kepada kesimpulan itu haruslah semangat kemajuan yang revolusioner.

Belum tentu sekali seorang yang menepuk dada dan mengakui dirinya seorang Marxis, Leninis dan Stalinis, karena sudah menghapalkan semua kesimpulan Marx dan lenin dalam keadaan masyarakat di lain tempat dan di lain tempo, belum tentu tentu sekali kesimpulan juga dihafalkan itu cocok dengan kesimpulan yang diperoleh atas masyarakat Indonesia dengan cara, tafsiran dan semangat yang Marxis. Ingat kita kalimat yang dijunjung tinggi oleh kaum bolshevik tua di Rusia, yang berbunyi: ―Marxisme itu bukan suatu dogma (apalan), melainkan suatu pedoman untuk bertindak.‖ (Marxism is not a dogma but a guide to action).

Yang boleh jadi memberi jaminan kepada kesimpulan, sikap dan tindakan yang Marxistis, terutama dalam sesuatu revolusi, ialah (1) cara penyelesaian yang dialektis (cocok dengan hukum pertentangan) bukannya mekanis (seperti mesin), (2) tafsiran yang materialistis (berdasarkan kebendaan), bukan yang idealistis (khayal) dan (3) semangat yang revolusioner, bukan kontrarevolusioner, maju ke depan, bukan mundur kembali kepada keadaan lama.

Maka ujian yang terakhir tentangan salah benarnya kesimpulan, sikap dan tindakan itu akan ditentukan oleh golongan yang berkepentingan sndiri yakni:

Pertama: dalam soal revolusi nasional, apakah bangsa yang terjajah yang berjuang untuk membela kemerdekaannya itu sesungguhnya menjadi bangsa yang merdeka dalam segala lapangan kehidupannya terhadap bangsa lain atau kembali dijajah dengan cara lama atau cara baru.

Kedua: dalam hal revolusi borjuis yang tertekan oleh kelas feodal dalam masyarakat feodal tadi dan berujung untuk mendirikan masyarakat borjuis sesungguhnya mendapatkan kekuasaan bagi menindas-memeras kaum proletar dan untuk membela kaum borjuis.

Ketiga: dalam hal revolusi proletar, apakah kelas proletar itu sanggup melepaskan dirinya dari pemerasan tindasan borjuis (feodal) dan mendirikan masyarakat yang sosialistis, yang menuju ke arah komunisme.

Demikianlah pentingnya interpretasi (interpretation) tentang revolusi, yang harus kita utarakan kepada revolusi Agustus di Indonesia ini, pada tiap-tiap tingkat perjuangan

kita, karena pada tfsiran itulah kelak kita harus menyandarkan taktik strategi serta sikap dan tindakan yang akan diambiluntuk membela revolsi itu.

Memperhatikan semua revolusi, baik revolusi kelas melawan kelas (kelas borjuis melawan feodal, seperti di Perancis tahun 1789; prolrtar melawan feodal-borjuis , seperti di Rusia tahun 1917); ataupun revolusi kolonial (terjajah melawan penjajah, seperti Amerika tahun 1776-1782), maka selayang pandang tampaklah:

―Bahwa timbulnya revolusi itu adalah pada suatu krisis, di mana pertentangan dua pihak (yang pada tingkat akhirnya berdasarkan pertentangan ekonomi), sedikit demi sdikit bertukar menjadi pertempuran. Revolusi itu jaya, apabila di masa krisi tadi nyata, yang lama tak sanggup membangun dan siap sedia untuk berkorban sebesar-besarnya.‖

Saya tegaskan lagi: definisi di atas ialah sekedarnya untuk meliputi semua jenis revolusi! Kalau dilakukan pada masyarakat Indonesia maka kita akan memperoleh seperti berikut:

Yang Lama: yakni belanda dan Jepang tak sanggup lagi emgatur dan Yang Baru (terutama pemuda Indonesia) pada kriris, 17 Agustus sanggup menyusun dan mengerahkan murba dan membangunkan Republok dengan tiada memandang korban.

Proses pertentangan dalam kebangsaan, politik dan kebudayaa Indonesia berlaku setelah masyarakat komunisme asli dari bangsa Indonesia semenjak permulaan tarikh masehi, lama-kelamaan Kkarena pengaruh saudagar hindu) bertukar menjadi negara feodal berdasarkan`hinduisme, ialah negara Sriwijaya dan negara Majapahit . Kedua negara feodal tersebut tentulah tiada berapa beda sususan sosial dan politiknya yang lain-lain di atas bumi ini. Dalam masyarakat komunisme asli, maka ―masyarakat bersenjata‖ itu ―bertindak sendiri‖ atass dasar kekeluargaan , permusayawaratan dan tolong bertolong. Di masa masyarakat feodal, maka negara itu sudah tiada luput lagi dari sifat penindas, oleh satu gologa atas golongan yang lain, seperti sifatnya suatu negara menurut tafsiran Marx, Engels dan Lenin. Cuma yang menjadi rakyat murba di jaman Sriwijaya dan Majopahit itua ialah bangsa Indonesia , sedangkan di kelas atasnya ialah pada perdagangan, pemerintah (sebagai alat penidas) dan urusan-urusan terdapat bangsa hindu asli atau campuran dengan bangsa Indonesia.

Pada masa runtuhnya Majapahit, maka pada kelas atas itu terdapat pula bangsa Arab, asli dan campuran. Berturut-turut hindu dan Indo-hindu serta Arab dan Indo-Arablah pula yang mengendalikan dan mempengaruhi perekonomian, terutama perdagangan Indonesia denga negara luar.

Pada permulaan abad ke 17 imperialisme fagang Belanda mengakibatkan hancurnya perekonoman feodal hindu Arab di indonesia dan menimbulkan perekonomian kolonial, yang tak ada bandingannya di dunia ini. Produksi tingkat manufaktur yang terdapat di Indonesia dirobohkan oleh produksi kapitalisme awal (pre-capitalism) di Eropah yang lebih tinggi derajatnya daripada sietem produksi yang terdapat di indonesia di masa itu, lantaran tekniknya sedikit lebih tinggi pula. Perdagangan dalam dan luar Indonesia dilenyapkan oleh perdagangan monopoli Belanda. Produksi cengkeh, pala, lada, kopi dan indigo dipaksakan oleh belanda kepada rakyat Indonesia. Pengangkatan barang dagang dari pulau ke pulau dan dari Indonesia ke Eropa dimonopoli oleh Belanda. Pada masa menyerahnya Belanda kepada Jepang, maka semua kebun modern, semua tambang, semua pabrik, semua alat pengangkutan, semua bank dan asuransi dan semua perdagangan ekspor dan impor boleh dikatakan berada samasekali di tangan Belanda, Tionghoa dan Arab, Amerika, Inggris, Belgia, dll.

Dengan timbulnya pemerasan oleh bangsa Belanda atas bangsa Indonesia dengan sistem roofbow (perampokan tenaga) menurut sistem Daendels, maka timbulla satu negara jajahan, yang tiada mengenal perikemanusiaan samasekali. Pekerjaan membikin jalan dari anyer ke Banyuwangi buat melancarkan jalannya alat penindas Belanda, ialah tentara penjajahnya, dipaksakan dengan kejam dan zonder bayaran oleh belanda atas bangsa Indonesia. Perampokan tenaga dan jiwa ribuan bangsa Indonesia di masa itu memerlukan satu negara kolonial, dengan alat penindas yang amat kejam dan keji.

Alat penindas negara jajahan tak berkurang keji kejamnya dengan pertukaran sistem rodi ala Daendels tadi dengan sistem rodi cuultur stelsel ala van den Bosch. Memang ada peraturan yang tertulis di atas kertas, berhubung dengan cuultur stelsel itu, (berapa tanahnya yag diharuskan ditanami kopi dll. dan berapa yang boleh ditanami dengan padi dan dll., tetapi dalam praktenya tani Indonesia terpaksa menamai semua tanahnya buat barang-barang Belanda dan mengerahka semua tenaganya buat mengisi kantongnya Belanda. Oleh sistem monopoli dalam perdagangan, maka hancurlah perdagangan indonesia sebelumnya Belanda. Oleh sistem politik jajahan, petani Indonesia 0jawa) bertukar menjadi kuli dan kaum sunan, sultan, raja dan ningrat di seluruh Indonesia bertukar menjadi mandor kebun pabrik.

Sisten cultuur stelsel, yang lambat laun didorong oleh perubahan teknik di Eropa, terpaksa pula dirubah menjadi sistem vrije-rbeid (kerja merdeka) ala Malafeit. Seperti sudah kita sebut lebuh dahulu maka pada jaman budak-slave, kaum budak, karena tidak berhak atas apa-apa, bahkan tidak berhak atas badan dan jiwanya sendiri itu tiada memperdulikan alat, pekerjaan serta hasil pekerjaannya. Sedikitpun tidak ada tidak ada mereka memperlihatkan inisiatif . bersama dengan sistem kerja merdeka, ala borjuis, maka kaum proletariat lebih memperhatikan pekerjaannya dan lebih menunjukkan inisiatif, oleh karena jamian hidupnya lebih banyak pula. Demikianlah pula pertukaran sistem cultuur stelsel dengan sistem vrije-rbeid itu membawa perubahan semangat kerja kuli Indonesia. Seperti pula proletariat industri di Eropa memerlukan sekolah dan latiat buat proletariat, yang harus melayani mesin itu, begitulah pula rakyat Indonesia harus sekedarnya diberi latihan dan pelajaran sekolah.

Bersama dengan tumbangnya kekuasaan feodal di Indonesia, maka tumbanglah pula alat penindasnya, yakni, yakni negara feodal. Dengan demikian (dalam bahasa Indonesia sekarang) maka jatuhlah kaum ningrat itu ke lembah pengangguran. Sebagaimana dalam jaman kapitalisme, para penganggur itu terpaksa menerima rimah yang dilemparkan oleh kaum kapitalis kepadanya itu, demikianlah pula para ningrat-penganggur sudi menerima sembarang ―pekerjaan‖ yang dilemparkan oleh Belanda penjajah kepadanya. Mereka dijadikan BB. Amtenaren (Pangreh Praja). Dari bupati sampai ke lurah, dari sersan sampai ke serdadu sewaan, jaksa, kepala penjara dan algojo semuanya itu adalah inlanders-alat untuk penindas bangsanya sendiri. Di mana pada semua badan alat pemerintahan diperlukan satu reserve (cadangan) demikianlah pula alat penindas di Indonesia memerlukan reserve rendah, menengah dan tinggi. Cadangan itu setiap tahun dicetak oleh berjenis-jenis sekolah rendah, menengah dan tinggi pula, buat inlanders- alat dalam produksi, perdagangan, administrasi, ketentaraan, kepolisisan, kejaksaan dan kepenjaraan kolonial.

Syahdan dalam garis besarnya kita melihat pertentangan yang ada dalam masyarakat Indonesia (sebelum 8 Maret 1942) seperti berikut:

Kaum berpunya, yang terdidri dari bangsa Belanda, Asia dan Eropa lainnya, yang kerja dengan ujung lidah dan telunjuknya, tetapi memiliki lata dan hasil, berhadapan dengan

yang tak berpunya ialah bangsa Indonesia asli, yang membanting tulang buat bangsa asing tetapi hidup dengan rimah yang dilemparkan kepadanya.

Gambaran yang lebih kongkrit, tentangan perbandingan bangsa Indonesia dan Belanda dalam masyarakat Indonesia, dalam waktu sebelum jatuhnya itu dapat ditegaskan dengan dua tiga kalimat di bawah ini:

Dalam perekonomian: sedangkan si inlander, menurut si Belanda bisa hidup sehari dengan sebenggol (heusch de inlanders kunnen wel met een benggol per dag leven!), maka tiap-tiap tahun mengalir fl. 500 juta rupiah ke negeri Belanda, sedangkan seorang pengemis di negeri Belanda bisa dengan mudah menjadi ―tua besar‖ di kebun atau tambang Indonesia.

Dalam kesosialan: di antara kaum tani di Jawa, yang berpenduduk 50 juta itu, sudah murah taksiran kita, kalau dikatakan, bahwa hanya lebih kurang 3% tani, yang mempunyai tganah cukup buat penghidupannya (ialah lebih kurang 3 bahu). Yang mempunyai tanah cuma 1/3 bahu mungkin sekali lebih daripada 50%. Tani proletar yang tak berpunya apa-apa yang lontang lantung mencari pekerjaan kian kemari, sedikitnya 25%. Di antara sisanya penduduk asli di Jawa, ialah sedikit saudagar tengahan sebagian besar pedagang kecil, pangreh praja, juru tulis dan intelek gembel.

Dalam politik: 70 juta rakyat Indonesia cuma memekai dua tiga orang wakil saja dalam gedung sandiwara (Volksraad) di Jakarta sedangkan semua “key position” (kekuasaan penting) dalam pemerintahan dan ketentaraan berada di tangan Belanda.

Dalam perguruan: kata Belanda, bahwa utuk membasmi buta huruf dan mengadakan undang-undang wajib belajar(compulsory education) Indonesia memerlukan usaha lebih kurang 150 tahun. Sedangkan Nederland dengan penduduknya yang 7 juta mempunyai 5 universitas dan sekolah tinggi lainnya, maka Indonesia dengan 70 juta penduduknya, belum lagi mempunyai satu universitas dan cuma 4 sekolah tinggi. (menurut ukuran perguruan di negeri Belanda, maka Indonesia mentinya mempunyai 50 universitas dan 50 sekolah tinggi).

Pertentangan takam antara rakyat Indonesia dengan imperialisme Belanda dalam segala- gala itu tiada dapat didamaikan, cuma dapat sementara waktu dininabobokkan oleh gerakan seperti PEB dan Legiun v.d. Greest (Gerakan Belanda inlanders-alatnya).

Maka apabila topan kemiliteran dari suatu bangsa berkulit kuning dan kecil-kecil, bertiup dari utara, maka pemerintah ―Hindia-Belanda‖ ditiup oleh tentara Jepang, sama mudahnya dengan angin meniup pasir dari atas batu. Tidak ada seorangpun diantara pecinta nusa dan bangsa Indonesia yang merasa sedih melihat lenyapnya imperialisme Belanda dengan alat penindasnya pada tanggal 8 Maret 1942.

Lebih kurang 30.000 serdadu Jepang yang menyeberangi lautan sejarak 5000 km yang telah letih dapat menghalaukan dan mempertekuk-lututkan 95.000 serdadu yang bersenjata lebih lengkap dalam 8 hari saja. Mungkin sekali 3000 biji Jibakutai Jepang sanggup melakukan pekerjaan yang tersebut . imperialisme Belanda tidak mempunyai urat sosial dan politik yang dalam dan sehat pada masyarakat Indonesia. Seandainya urat sosial-politik itu ada, sebab adanya kerjasama dan derajat sama dalam perekonomian, dan seandainya pula dalam 350 tahun itu Belanda berusaha membangunkan kekuatan yang ada dalam tanah, air dan rohani-jasmani 70 juta rakyat Indonesia, tentulah Jepang tak mempunyai harapan samasekali buat menghampiri tanah,

air dan udara Indonesia, jangankan pula hendak merampas tenaga, harta, benda dan manusia Indonesia.

Dalam tiga setengah yahun Jepang merampas sisa kekayaan yang dipaksakan belanda dan merampas tenaga, sedemikian rupa, hingga yang tinggal pada rakyat jelata cuma rombengan celana karung dan tulang kering romusha, sebagai sisa dari 3 dan 4 juta romusha yang musnah di dalam dan di luar Indonesia.

Jepang mewarisi dan memperkokoh alat penindas yang dipusakakan oleh Belanda dan yang ditukar oleh alat penindas Jepang, yakni Pemerintah Kempei, di bawah Seiko sikikan dengan alat peninabobokkan seperti Chuo sangi In, 3A, Putera, Hokokai, dan Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia. Tetapi ada pula organisasi, yang dibangun oleh Jepang untuk Jepang yang masih bisa membalik melawa Jepang seperti organisasi

Keibodan, Seinendan, Peta, heiho da Jibakutai, yang mendapat latihan kemiliteran yang

tepat hebat

imperialisme

Jepang pun menggali kuburnya sendiri!

Setelah Jepang di-atom-i dan menyerah kepada sekutu, maka Yang baru di Indonesia, yakni pemuda, yang insyaf dan sanggup menyusun dan mengerahkan rakyat murba mengambil kesempatan yang baik itu untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 agustus tahun 1945.

Rencana Ekonomi (28 Nopember 1945)

(halaman 10, 63, 64, 90 s/d 104)

Tiga paham yang sekarang berjuang bahu membahu: paham keislaman, kebangsaan dan sosialistis. Semuanya pada tingkat merebut kemerdekaan nasional ini adalah berhak buat diakui. Marilah kita berharap supaya ketiga paham itu bisa mengadakan persatuan yang teguh tetap.

Tetapi tak dapat disingkirkan kemungkinan bahwa kelak sesudah kemerdekaan nasional ini tercapai, boleh jadi ketiga paham itu, yang secara garis besarnya mewakili kaum tani, borjuis tengah dan proletar, bercekcokan satu sama lain. Berhubug dengan itu maka perlulah dicari ―persmaan‖ sebagai semen yang mempersatukan batu tembok. Persamaan itu didapat pada persamaan keperluan. Persamaan keperluan saya kira bisa didapat dalam satu rencana ekonomi yang sosialistis.

Rencana ekonomi, ialah daya upaya memasyarakatkan alat penghasilan, pembagia hasil, gaji dan hidup sosial.

Ekonomi anarkistis itu di Amerika dicoba ditukar dengan ekonomi (sedikit) teratur, ialah dengan New Dealnya Roosevelt. Berhubung dengan derajatya pemusatan kekusaan di negara demokratis dan tidak demokratis, maka pemusatan kekusaan buat mengatur ekonomi adalah bertinggi berendah pula. Di negara komunis semua mata pencaharian disita oleh negara. Di Amerika dan negara fasistis hak milik diakui terus.

Di negara Amerika Serikat itu pada lahirnya, ialah meurut undang-undang , maka hak dan kekuasaan itu memang dibagi-bagi: pertama antara rakyat dan pemerintah, kedua antara tiiga pemerintah, ialah kekuasaan membikin undang-undang, menjalankan undang-undang dan pengawasan undang-undang. Ketiga masing-masing Staat dan Amerika Serikat.

Jadi di Amerika kekuasan itu tidak begitu terpusat pada pemerintah. Sebagian juga ada di tangan rakyat, terutama di tangan para hartawan.

Itulah sebabnya maka di Amerika pemerintah itu tidak berani campur tangan langsung ke dalam rencana ekonomi di sana. Para kapitalis menerima usulnya peerintah Roosevelt , tetapi mereka, kapitalislah, yag mempraktekkan ekonomi itu.

Di masyarakat fasistis, kekuasaan itu terpaut pada pemerintahnya borjuis kecil. Pemerintah fasistis memaksa kaum kapitalis menjalankan rencana yang dibikin pemerintah secara fasistis. Di masyarakat fasistis simpulan di atas sedikit lebih berlaku daripada di Amerika.

Di masyarakat sosialistis, ialah Rusia, memesyarakatkan alat penghasil, pembagian hasil, gaji dan hidup sosial memangnya cocok dengan yang dimaksudkan di atas tadi.

Jumlah harga hasil mesti sama dengan jumlah gaji. Makin tinggi gaju makin bisa ditinggikan hsil, makin rendah gaji, makin sussah meninggikan hasil bukan?

Simpulan ini boleh kita pakai sebagai pedoman. Simpulan yang kedua: sebelumnya cukup banyaknya industri enteng, susahlah kita menimpbulkan industri beraty, industri induk.

Sebelumnya belum lagi cukup banyaknya pabrik teh, pabrik kina, pabrik kain, obat- obatan, minuman dan sebagainya, sebelum itu, tentu susah buat mengadakan mesin induk, yang mesti bikin mesin buat pabrik teh, kina, kain, obat-obatan, minuman dan lainnya itu.

Bukankah pula hasil pabrik ibu mestinya seimbang dengan hasil yang berupa mesin buat industri ringan?

Petunjuk yang ketiga ialah industrialisasi, atau rencana menukar megara-pertanian itu menjadi negara-perindustrian lambat jalannya pada permulaan, tetapi semakin lama semakin cepat.

Penting pula artinya buat Indonesia ialah: negara kecil tak bisa mengadakan rencana yang sempurna, terpisah dari negara besar. Negara kecil itu mesti bergabung dengan negara besar.

Jadi buat negara kecil susahlah kalau tak mustahil mengadakan ekonomi teratur itu.

Satu rencana penghasilan yang pasti, mesti didasarkan pula atas pembelian, ialah pemakaian yang mesti. Terlampau kurang pembeli kalutlah rencana yang semolek- moleknya diatas kertas itu!

Karena sarinya rencana itu ialah menaksir hasil yang cocok dengan pemakaian, maka perlulah di-rencanakan:

1. Industri umumnya

2. Mesin, ialah khususnya. Keduanya mesti dicocokan dengan,

4. Perdagangan masuk dan keluar negara

Mestinyalah yang 1. yaitu industri itu (termasuk juga pertanian), yang tentulah bergantung pada kekuatan mesin (2) itu, di-imbangkan, dicocokan dengan 3. ialah gaji. Bukankah jumlah harga hasil mesti sama dengan jumlah gaji? Dalam kekurangan mesin maka hendaklah kita periksa hasil atau barang bahan yang bisa dijual diluar negara (export). Ringkasnya kita cocokan dengan 4.

Pertama, periksalah industri yang ada, pun periksalah lebih dahulu apakah suatu pabrik, boleh ditukar menghasilkan barang yang lain. Bukankah pabrik oto itu kalau sedikit ditukar bisa menjadi pabrik mesin kapal terbang? Periksa lagi apakah satu cabang industri anak menghasilkan lebih atau kurang buat keperluan negara. Apakah harga itu kurang buat keperluan negara. Apakah harga itu kurang dari harga barang asing yang dijual dalam negeri. Kalau hasil itu memang lebih murah dan melebihi keperluan negara, maka hasil lebih itu boleh dijual diluar negeri buat membeli barang yang kurang.

Pendeknya ukurlah kekuatan industri awak. Kalau hasilnya bisa lebih dari keperluan awak dan harganya cukup murah, maka keluarkanlah hasil-lebih itu buat pembeli yang kurang, mesin atau barang dipakai.

Kalau perlu buat dipakai sendiri atau dijual diluar negara tukarlah kalau bisa satu pabrik buat barang ini menjadi pabrik buat menghasilkan barang lain.

Sesudahnya ditinjau kekuatan industri awak itu, cocokkanlah jumlah pekerja dengan jumlah industri yang ada atau akan diadakan.

Kemudian periksalah pula apakah ada pabrik lapuk. Yang saya maksudkan dengan pabrik lapuk itu, ialah pabrik yang lebih banyak memakai ongkos kalau dipakai dari pada merusakan pabrik itu sama sekali. Yang lapuk itu baik diruntuhkan saja. Anggaran ongkosnya pabrik-lapuk itu buat mengadakan hasil baik dipakai saja buat mendirikan pabrik baru.

Kita susun saja begini: Pabrik buat bangunan rumah, gedung, jembatan dan lain-lain. Pabrik buat perhiasan rumah, tikar, cat dinding dan sebagainya, jam, makanan, minuman dan sebagainya. Pabrik buat kain, benang-pencelupan dan lain-lain. Pabrik buat pengangkutan, kereta, oto, kapal air dan udara, baja, besi dan lain-lain. Tambang arang, minyak, besi, timah, tembaga, bausite dan sebagainya.

Pabrik obat-obatan dan lain-lain. Di Indonesia juga pabrik teh, kina, kopi, gula, karet dan lain-lain.

Cukuplah rasanya kita meninjau kekuatan-kekuatan industri awak. Jadi pabrik yang kurang ditambah dan pabrik yang menghasilkan lebih, dijual hasil lebihnya itu buat pembeli pabrik yang kurang. Sekarang tinjaulah permintaan (demand) berhubung dengan keperluan pembeli.

Ingatlah bahwa keperluan itu bertukar kalau takaran hidup itu bertukar pula.

Kalau seandainya gaji seseorang Cuma Rp. 0,50 sehari, bukankah yang dipikirkannya Cuma makanan saja? Kalau gajinya menjadi Rp. 2 ,barulah dipikirkannya membeli kain. Kalau takaran-hidupnya bertambah pula barulah dia memikirkan membeli pulpen, speda,

oto dan sebagainya. Sepadan dengan naiknya takaran-hidup setingkat demi setingkat bertukarlah keinginan dan keperluan si pembeli.

Memang, bermula sekali dipikirkan oleh si pembeli ialah barang yang paling dibutuhi. Kemudian baru dipikirkan membeli barang buat setengah kemewahan. Akhirnya barang buat kemewahan semata-mata.

Cuma ada satu lagi peninjauan ialah meninjau apakah barang yang dihasilkan industri- awak itu cukup ataukah tidak buat kita?

Jika perbedaan ongkos sesuatu barang yang awak bikin dengan harga pasarnya barang itu tetapi dimasukkan dari luar, lebih besar dari perbedaan ongkos awak dengan harga barang itu dipasar awak, maka baiklah barang itu dibikin di negara awak, walaupun ongkos pada permulaan membikinnya sedikit besar.

Kalau sebaliknya, bukankah ini berarti barang-barang itu, lantaran bermacam-macam sebab, tak mengandung harapan akan bisa kita bikin lebih murah dari barang aisng, walaupun pengalaman diperbanyak. Barangkali lantaran bahannya susah didapat, atau lain-lain sebab. Dalam hal nini, baiklah barang semacam itu kita datangkan dari luar negeri saja! Toh tak ada salahnya bertindak begitu asal saja cocok dengan undang- undang ekonomi ?

Manfaatnya juga banyak buat perhubungan baik antara satu negara dengan negara lain. Perdagangan itu adalah satu perkara yang merapatkan bangsa dengan bangsa, negara dan negara. Tak perlu semuanya barang itu kita sendiri yang membikin. Asal industri ibu sempurna ditangan kita, tak ada salahnya kalau hasil barang industri enteng kita datangkan dari luar. Yaitu kalau ongkos sendiri membikinnya akan terlampau tinggi dibanding dengan ongkos luar negeri. Tetapi baiklah jangan kita lanjutkan persoalan ini. Baiklah kita rundingkan sekarang perkara cara membagikan gaji. Penting bukan?

Bermula maka pembagian gaji itu boleh dijalankan atas dua macam: Pertama pada tingkat sosialisme yang sudah sampai ketingkat komunisme. Kedua pada tingkat sosialisme itu sendiri.

Pada tingkat komunisme: Tiap-tiap orang itu bekerja menurut kecakapannya, dan mengambil hasil usahanya menurut kebutuhannya.

Inilah tingkat tertinggi dan belum tampak akantercapainya tingkat ini. Tetapi sebagai pedoman hidup maka ideal, idaman pembagian secara komunistis itu perlu senantiasa dipercemin.

Tingkat ini kita capai, apabila kita sampai ketingkat sosialisme, ialah apabila semua alat penghasilan dalam masyarakat kapitalisme sudah dimiliki oleh masyarakat. Pada tingkat ini mungkin dipakai uang dan gaji dibayar ―menurut kecakapan si pekerja‖.

Jadi si pekerja masih menerima gaji. Tetapi mungkin pula pembagian itu sebagian berupa gaji yakni menurut kecakapan, dan sebagian lagi berupa ―bagian sosial‖.

Yang terakhir ini berarti bahwa pembagian itu rata buat orang dewasa serta rata pula buat kanak-kanak. Bagian ini ialah bagian tiap-tiap anggota masyarakat yang kera. Ini misalnya saja tiap-tiap negara sosialistis dalam keadaan istimewa boleh pula mengambil tindakan istimewa. Asal saja kita jangan lupa akan pedoman komunisme diatas.

Kita andaikan saja, kita memakai sistem-kembar ini, yakni sebagian dibayar sebagai gaji dan sebagian ―bagian sosial‖. Barangkali ini cocok dengan tingkat pertengahan (compromis).

Tetapi bagaimana menaksirnya?

Andaikan satu negara! Andaikan dalam negara itu ada 25.000.000 keluarga, terdiri dari ibu-bapa dan 2 orang anak belum balig.

Andaikan jumlah pencaharian negara itu setahun Rp. 4.500.000.000

Andaikan ―bagian sosial‖ jumlahnya seharga Rp. 2.000.000.000.—

Andaikan buat kelunturan mesin setahun Rp. 500.000.000.

Andaikan bunga uang dan sewa dihapuskan jadi 0.

Untung yang dibagikan pada kapitalis sudah dihapuskan pula.

Jadi sisa buat gaji Rp. 2.000.000.000.

Yang Rp. 2.000.000.000.itulah yang akan dibagikan kepada pekerja menurut kecakapan, kepada 25.000.000 keluarga tadi.

Jadi gaji itu masih bertinggi berendah menurut kecakapan, bukan? Memang kalau tak begitu yang rajin jadi malas, sebab manusia sekarang masih mempunyai semangat perseorangan. Tetapi kalau hasil sudah melambung dan didikan sosialisme sudah lebih mendalam, maka sistem-gaji ini bisa dihapuskan sama sekali. Jadi nanti tiap-tiap pekerja akan menerima ―bagian sosial‖nya.

Tentangan suasana itu banyak persamaan Indonesia ini dengan Rusia. Pertama, Rusia tak mempusakai sistem parlementer. Indonesia juga tidak. Kedua, Rusia tidak mempunyai kelas-tengah yang kuat buat menghalang-halangi btindakan sosialistis. Pun Indonesia tidak mempunyai. Rusia boleh dikatakan tak mempunyai mesin induk. Demikianlah juga Indonesia.

Dasarnya rencana itu ialah mencocokkan produksi dengan konsumsi. Teknisnya meninjau keadaan: 1e. industri, 2e. kemesinan, 3e. gaji dan 4e. perdagangan luar negeri.

Baik dalam hal industri berat, ataupun dalam industri ringan kita banyak sekali kekurangan mesin. Barang bahan kita benar pula lebih dari cukup buat dijual diluar negeri. Jualan itu bisa dibelikan mesin yang kurang. Lagi pula perindustrian Indonesia sebagai pusaka dari imperialisme Belanda amat pincang. Pabrik buat barang dipakai seperti kain dan lain-lain baru pada tingkat permulaan. Tetapi tambang, pabrik dan kebun buat penghasilan barang yang dijual diluar negeri, seperti teh, kopi, gula, minyak, timah, emas dan lain-lain lebih dari pada cukup. Dibawah telapak serdadu Jepang banyak pula mesin yang dirusak atau diangkut keluar Indonesia.

Indonesia dan dunia luar seolah-olah dipisahkan dari jurang yang dalam dan lebar. Indonesia kekurangan mesin dan kain, tetapi kebanyak barang bahan. Dunia luar ada sanggup menjualkan mesin pada kita dan membutuhkan bahan dari kita. (Tetapi

perniagaan sama sekali terhenti). Jurang tadi tak bisa atau belum bisa dijembatani selama Inggris-Nica menyerang Indonesia dan menghancur-leburkan kota Indonesia.

Rencana yang akan membawa kita kezaman sentosa ialah apabila kita sudah mempunyai industri berat, industri ibu. Apabila kita sudah mempunyai mesin membikin mesin, ialah mesin membikin lokomotif membikin mesin oto, kapal air dan kapal terbang, barulah boleh kita tidur dengan perasaan lebih aman dan meninggallkan anak cucu dan negara kita dengan hati aman-tenteram. Sebelumnya keadaan itu tercapai, belumlah berapa artinya sesuatu kemerdekaan, walaupun kita memperoleh kemerdekaan 100% yang kita tuntut itu.

III. Program Nasional

Dikutip dan diterjemahkan dari ―Menuju Republik Indonesia‖ 1924, diambil yang masih bisa dinyatakan berlaku. (Dalam teori dan prakteknya yang revolusioner)

SEBAGAI BAHAN BANDINGAN DAN CONTOH

A. Ekonomi:

1. Nasionalisasi pabrik-pabrik, dan tambang-tambang, seperti batubara, timah, minyak

dan emas.

2. Nasionalisasi dari hutan-hutan dan perusahaan-perusahaan perkebunan-perkebunan

yang modern seperti gula, karet, teh, kopi, kina, kelapa, indigo, tapioka.

3. Nasionalisasi dari transport dan perhubungan lain-lain.

4. Nasionalisasi bank-bank, vennootschap- vennootschap dan lain-lain perusahaan- perusahaan dagang yang besar-besar.

5. Elektrifikasi dan pendirian industri-industri baru dengan bantuan pemerintah seperti

pabrik-pabrik tekstil dan mesin-mesin serta galangan-galangan kapal.

6. Pendirian koperasi-koperasi rakyat dengan pemberian kredit yang murah dan mudah

oleh pemerintah.

7. Pemberian ternak dan alat-alat perlengkapan kepada kaum tani untuk perbaikan

pertanian dan pendirian kebun-kebun percobaan pemerintah.

8. Emigrasi besar-besaran atas bea negara dari Jawa keluar.

9. Pembagian dari tanah yang tidak dikerjakan kepada tani tak berpunya dan tani miskin

dengan pemberian bantuan keuangan untuk mengerjakannya.

10. Penghapusan sisa-sisa feodalisme dan tanah-tanah partikelir dan pembagian yang terakhir itu kepada tani tak berpunya atau tani miskin.

B. Politik = lihat program Murba.

C. Sosial:

1. Upah minimum yang layak (7 jam kerja) dan perbaikan syarat-syarat hidup dan kerja

para pekerja.

2. Perlindungan kerja dengan pengakuan dan perlaksanaan hak mogok.

3. Bagian untuk kaum pekerja dalam laba perusahaan-perusahaan besar.

4. Diadakannya Dewan-dewan Buruh pada industri-industri besar.

5. Pemisahan dari negara dan agama dan pengakuan kemerdekaan beragam.

6. Pemberian hak-hak sosial, ekonomi dan politik kepada semua warganegara Indonesia

baik lelaki maupun perempuan.

7. Nasionalisasi terhadap perumahan-perumahan kediaman yang besar dan pembangunan

perumahan-perumahan baru dan distribusi perumahan kepada buruh negara.

8.

Pembasmian yang hebat-hebatan terhadap penyakit yang menular.

D.

Pengajaran:

1.

Pengajaran wajib dan tiada bayar untuk kanak-kanak setiap warganegara Indonesia

sampai berumur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan bahasa Inggris

sebagai bahasa asing yang terpenting.

2. Pergantian sistem pengajaran yang berlaku dan penukarannya dengan sistem yang

praktis, yang langsung didasarkan kepada kebutuhan industri-industri yang ada dan yang

akan dibangunkan.

3. Perbaikan dan memperbanyak sekolah-sekolah kejuruan dan perdagangan dan

perbaikan dan memperbanyak sekolah-sekolah untuk pendidikan personil teknis dan

administratif yang tinggi.

E. Militer:

1. Penghapusan tentara ala penjajahan dan mengadakan milisi rakyat untuk pertahanan

R.I.

2. Penghapusan penghidupan dalam kempemen-kempemen dan kazerne-kazerne dan lain-lain peraturan yang merendahkan buat kaum militer bawahan, perkenan untuk bertempat tinggal dikampung-kampung dan dalam rumah-rumah baru yang dibikin untuk mereka, perlakuan yang lebih baik dan kenaikan gaji mereka.

3. Pemberian kepada kalangan bawahan hak sepenuhnya untuk berorganisasi dan

berrapat.

F. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu.

G. Program Aksi: Disusun sesuai dengan tempat, keadaan dan waktu.

Catatan: yang diatas adalah merupakan bahan bandingan dan contoh dari program yang disusun dalam th. 1924: untuk mendasari, merangkakan, mengisi dan mengarahkan kegiatan perjuangan waktu itu.

IV. Strategi dan Taktik

MENUJU REPUBLIK INDONESIA (April 1924)

Kata pengantar, halaman 2:

Kekurangan pandangan kasta, kemampuan berorganisasi dan moral revolusioner merupakan faktor-faktor pokok, mengapa kekuatan-kekuatan potensi dalam perhimpunan massa Sarekat Islam tidak dapat ditingkatkan menjadi kekuatan hidup yang revolusioner

Imperialisme Belanda yang berpandangan sempit, mundur dan biadab, menciptakan di Indonesia pertentangan nasional dan sosial yang tiada dua dinegeri-negeri koloni lainnya di Asia, dimana penduduk-penduduk pribuminya diberikan kemungkinan untuk memajukan diri dibidang sosial dan kebudayaan (Mesir, India, Pilipina, dll). Di Indonesia penjajahan nasinal (Belanda terhadap Indonesia) diperkeras dengan penjajahan kasta (kapitalis memeras buruh). Dinegeri-negeri jajahan lain, dimana terdapat kapital nasional yang besar, penjajahan nasional tidaklah demikian tak terdamaikan seperti di Indonesia, dimana lebih dari pada 99% dari penduduknya hidup dalam keadaan melarat dan sengsara. Dinegeri-negeri koloni lain-lain itu kompromi dapat dilangsungkan antara kapital imperialis dengan kapital nasional. Kompromi ekonomi yang menjadi kenyataan itu, melantunkan dirinya dalam kompromi politik antara penjajah asing dengan yang terjajah. Ketiadaan kapital nasional di Indonesia adalah merupakan sebab pokok, kenapa tiap permintaan dari pihak penjajah untuk berkompromi dengan yang dijajah, mesti gagal, karena tidak mungkin untuk mendasarinya dengan kompromi, ekonomi

Bab II, halaman 4:

Dinegeri-negeri kolonial seperti Mesir, India-Inggris dam Pilipina imperialisme yang berguncangan ditunjang oleh borjuis nasional dalam negeri-negeri

jajahan tsb. Tapi, di Indonesia tidaklah ada suatu kasta yang berarti, yang akan mampu mendukung dan menegakkan kembali keguncangan imperialisme Belanda

Hal. 5: Seperti di India-Inggris dimana telah sejak bertahun-tahun kuat berdiri industri nasional, disana dapat dibangunkan jembatan, mula-mula antara kappital Inggris dan kapital nasional, sesudah itu antara jurang yang dalam antara politik imperialisme dengan politik nasional. Tapi politik imperialisme Belanda sejak permulaannya telah ditujukan untuk menghancurkan industri kecil dan perdagangan kecil nasional, terutama di Jawa. Penghancuran itu terjamin, apabila dengan sadar dipergunakan kapita Tionghoa sebagai ―ganjel‖ diantara rakyat Indonesia dengan Belanda. Seua industri-industri Jawa mampus dimatikan dengan kekerasan, segera setelah tibanya imperialisme Belanda. Dengan itu musnahlah pula kecakapan dan daya- inisiatif orang Jawa, sifat-sifat mana diperlukan untuk membangunkan industri nasiona yang modern berdasarkan persaingan dan (hak) milik pribadi. Karena itu, dengan kemauan yang sebaik-baiknyapun imperialisme Belanda tidak akan menemukan titik- sambungan untuk melaksanakan kompromi ekonomi dengan orang-orang Indonesia. Dan oleh sebab itu sesuatu yang melayang diudara saja

Marx berkata: ―Proletariat tidak akan kehilangan sesuatu apapun, melainkan belenggu- pengikatnya. Kalimat ini berlaku untuk Indonesia dalam artian yang bahkan lebih luas. Di Indonesia anasir-anasir non-proletariat nyatanya berada dalam keadaan penghidupan yang sama celakanya seperti buruh industri, karena tiada industri dan perdagangan nasional disini. Dalam suatu pertumbuhan antara imperialisme Belanda dengan rakyat Indonesia seseorang rakyat Indonesia tidak akan kehilangan sesuatu apapun. Di Indonesia kita dapat serukan kepada rakyat Indonesia: ―Sdr-sdr tidak akan kehilangan apapun, kecuali belenggu-pengikat kalian !!!‖

Hal. 8: ―Politik Ekonomi Baru (N.E.P) sebagaimana gerakan mundur dalam tahun 1921 dinamakan di Rusia, tidak semata-mata terbatas berlaku untuk negeri itu. Juga dinegeri- negeri kapitalis yang termaju, seperti Jerman, Inggris dan Amerika, dimana rakyat untuk 75% terdiri dari pada kaum buruh, maka adanya milik perseorangan dan perdagangan bagi kaum borjuis cilik dan sekelompokan kaum tani, dalam permulaan revolusi, merupakan suatu keharusan! Teristimewa buat Indonesia ―Politik Ekonomi baru‖ tsb, berarti sangat penting. Kapitalisme Indonesia adalah kapitalisme kolonial dan tidaklah tumbuh secara wajar organis dari dalam masyarakat Indonesia sendiri, sebagaimana halnya dengan yang terjadi di Eropa. Kapitalisme Indonesia dipaksakan dengan kekerasan oleh suatu negara imperialisme barat, untuk kebutuhan-kebutuhan barat diatas masyarakat timur yang feodal

Hal. 8: ―Suatu dikatatur proletariat yang murni bagi Indonesia, terlebih-lebih bila masih belum timbul revolusi-dunia, dapat amat mengganggu kehidupan ekonomi. Akibatnya, jumlah terbesar dari rakyat, kaum non-proletaris, dapat diadu-dombakan dengan golongan buruh yang berjumlah kecil disini.

Untuk menjaga kehidupan ekonomi yang baik, maka dalam kemerdekaan nasional di Indonesia diberikan kesempatan kepada kaum non-proletariat (secara terbatas) memiliki hak milik perseorangan dan usaha-usaha kapitalistis. Bahkan lebih dari itu: negara haruslah membantu mereka secara moril dan material untuk meninggikan produksi. Tentu saja perusahaan-perusahaan besar harus segera dinasionalisasikan. Dengan demikian maka kegiatan ekonomi rakyat dikembangkan, tanpa memberikan kesempatan dan kemungkinan, bahwa akan timbul-muncul sesuatu kasta atau kelompokan golongan, yang akan memeras dan menindas kasta atau kelompokan golongan yang lainnya. Dengan

demikian dapatlah dijaga dan diperlihara keseimbangan ekonomi diantara proletariat dengan non-proletariat.

Bila keseimbangan ekonomi bisa dipercepat, maka segi politiknya (= keseimbangan politiknya) akan datang sendirinya sedikit-banyaknya secara otomatis. Dengan sendirinya, kasta buruh Indonesia, sebagaimana halnya dengan dibidang ekonomi, pun dibidang politik tidak boleh berlaku terlalu jauh-maju. Sekalipun seandainya saja kasta buruh nantinya lebih banyak jasa dan bagiannya dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional, sekalipun demikian, tidaklah dapat mereka mengabaikan begitu saja kaum non-proletariat tsb. Terlebih-lebih jika kaum non-proletariat itu memiliki saham jasa dalam perjuangan yang sama atau lebih besar dari kasta buruh, tidak mungkin direka- rekakan tentangan sistem soviet buat Indonesia ini. Sebab, tidak pernah boleh kita lupakan, bahwa kasta buruh ini berjumlah sedikit, kualitatif maupun kuantitatif, sedangkan kaum non-proletariat berjumlah lebih besar dan obyektif adalah revolusioner, dan kecuali itu hampir semuanya merupakan pemilik cilik. Karenanya dalam Indonesia merdeka dengan satu atau cara kepada kaum non-proletariat haruslah diberikan kesempatan untuk mengeluarkan suara mereka.

Segala sesuatunya itu akan lebih baik berlaku, kalau kasta buruh dalam perjuangan kemerdekaan merupakan barisan terdepan dari seluruh rakyat. Dengan itu, maka perusahaan-perusahaan besar akan jatuh ke dalam tangan-kekuasaannya dan seimbang dengan itu, kekuasaan politik yang ada. Suatu perseimbangan politik dengan kaum non- proletariat dengan mudah akan dapat diadakan, hal mana buat Indonesia merdeka merupakan suatu soal yang nilai kepentingannya sungguh tidak terkirakan besarnya

(Hal. 12): Kepentingan kemerdekaan itu sendiri mensyarakatkan, bahwa juga kaum non- proletariat (kaum tani, pedagang kecil, pengusaha kecil, intellegensia) harus diberikan keuntungan-keuntungan ekonomis, dikala kasta buruh menasionalisasi perusahaan- perusahaan besar. Karena boleh dikatakan tidak ada kapital nasional yang perlu mengkuatirkan politik nasionalisasi dari kasta buruh, dan karena lebih dari 90% rakyat hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, maka kerja sama antara kasta proletariat dengan non-proletariat sangat mungkin sekali. Dengan mendirikan lebih banyak industri- industri dan koperasi-koperasi negara, dengan bantuan yang sungguh-sungguh oleh negara terhadap kaum non-proletariat, maka perlahan jalan segala yang kecil akan melenyap untuk digantikan oleh perusahaan-perusahaan yang besar, didasarkan kepada syarat teknis yang lebih tinggi, milik umum dan kerja-sama gotong royong. Perusahaan- perusahaan kecil akan harus melihat, bahwa perusahaan-perusahaan negara kita lebih cepat, lebih baik dan lebih murah dapat menghasilkan dari pada mereka. Bilamana merka menyaksikan itu dan menyadarinya, maka secara suka dan rela mereka akan menyerahkan diri kepada perusahaan-perusahaan negara dan meninggalkan perusahaan- perusahaan mereka yang kecil-kecil itu.

Apabila proses ekonomi, ialah peleburan perusahan-perusahaan kecil ke dalam perusahaan-perusahaan negara yang besar-besar dapat berlangsung secara selaras- damai di Indonesia merdeka, maka politik borjuis cilik lambat-launpun akan melenyaplah pula untuk bertukar dengan politik kasta buruh yang internasional. Adalah jelas, bahwa kaum non-proletariat Indonesia dewasa ini, sekalipun obyektif , tapi dalam politik sangat sempit nasional. Mereka hanya menghancurkan lenyapnya imperialisme, bukannya penghapusan (hak) milik

Dimana kapital nasional tidak ada, disana kasta buruh industri sebagai kasta termaju dan paling terkonsolidasi merupakan satu-satunya kasta, yang mampu untuk menciptakan organisasi ekonomi dan politik yang tangguh dan dapat pula memasangkan tujuan yang dirumuskan secara tegas-jelas. Karena kaum non-proletariat di Indonesia tidak menghayati sesuatu kasta tertentu, sulitlah mereka akan merumuskan suatu tujuan kasta yang tertentu, apa lagi memberikan pimpinan yang tegak-tegap terhadap rakyat Indonesia ini. Ini dibuktikan dengan kegagalan-kegagalan dari partai-partai non- proletariat, seperti B.O., N.I.P dan S.I.

Jika kasta proletariat di Indonesia hendak merebut kemerdekaan, maka haruslah mereka mendapatkan dukungan segera dari buruh industri, yang dengan organisasi politiknya yang sadar dan sarekat-sarekat sekerjanya, akan mampu menghancurkan alat-alat ekonomi dan politik dari pada imperialisme.

Juga setelah merebut kemerdekaan nasional, kerja-sama erat dan kuat antara kasta proletariat dan kaum non-proletariat merupakan syarat yang diharuskan. Bila kerja-sama itu terputus, atau lebih buruk lagi, bilamana kaum non-proletariat itu menjadi musuh dari buruh industri, maka kemerdekaan nasional itu hanyalah merupakan jalan menuju keperbudakan nasional yang baru. Tidak jauh dari Indonesia beradalah maling-maling internasional, seperti imperialisme-imperialisme Inggris, Amerika dan Jepang, yang setiap saat menunggukan kesempatan mereka yang sebaik-baiknya untuk memberikan pukulan. Selama Indonesia dari dalam tetap utuh dan bersatu, selama itu pula mereka akan pikir-pikir panjang dulu sebelum menjangkaukan tangannya kemari. Tapi, begitu timbul kericuhan-kericuhan di dalam, akan segeralah mereka mendapatkan jalan untuk buat kesekian kalinya melaksanakan politik devide et empera-nya. Indonesia yang terdiri dari banyak pulau-pulau yang berada pada tingkat-kebudayaan yang berlain-lainan, merupakan padang petualangan yang bagus buat maling-maling internasional.

Daerah luar Jawa yang lebih bersifat borjuis-cilik dengan baik sekali akan diadu- dombakan dengan pulau Jawa yang bersifat lebih-proletaris. Keadaan seperti yang berlaku di Tiongkok, Mexico, dan Amerika Latin akan merupakan wajah gelanggang perjuangan di Indonesia pula: hasutan-hasutan imperialisme dan perang-saudara yang timbul dari waktu kewaktu.

Yang demikian itu haruslah dapat kita cegah!!! Tentulah tidak dengan wejangan- wejangan kata-kata yang muluk-muluk. Hanya suatu program, yang sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan materiil. Bagi seluruhnya rakyat dan dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya dapat membina solidaritas nasional. Suatu solidaritas yang tidak saja akan mampu menggulingkan imperialisme, tapi juga untuk mengusirnya buat selama- lamanya dan pada akhirnya membuka jalan buat kemenangan revolusi

Hal. 13: Kecuali dari kebenaran program kita maka sukses kita bergantung pula dari kejituan strategi dan taktik kita di dalam perjuangan. Dua kata ini berhubungan satu dengan lainya dalam hubungannya yang tiada terpisahkan satu dengan lainnya. Taktik adalah sebagian dari strategi. Taktik berhubungan dengan operasi kita disuatu tempat pada suatu waktu. Strategi adalah jumlah operasi-operasi kita sepanjang seluruhnya periode tingkat revolusi. Pukulan taktis adalah penggunaan sebagian kekuatan-kekuatan kita atau keseluruhan kekuatan kita tapi hanya untuk sesuatu tujuan yang terbatas. Pukulan strategi adalah pukulan penghabisan, dimana kita melemparkan dan mempertaruhkan segala kekuatan kita untuk memperebutkan kemenangan strategi, ialah: untuk mematah-patahkan hubungan organisasi lawan dan kemudian menghancurkannya. Suatu pukulan taktik harus dilakukan dengan sadar dan dengan

persiapan-persiapan dan kesiapan-kesiapan yang sebaik-baiknya. Ia tidak merupakan suatu pukulan yang tersendiri-terpisah, melainkan adalah merupakan persiapan dan bagian dari rangkaian pukulan strategi. Masih harus didahului oleh banyak sekali pukulan-pukulan taktik disini sebelum dapat mulai dipikirkan pukulan strategi.

Pukulan strategi yang menentukan menjamin kemungkinan-kemungkinan hasil yang lebih baik, jika kita dalam pukulan-pukulan taktik sebelumnya terbukti menunjukkan keberanian, ketangkasan dan keuletan. Itu tidak berarti, bahwa dalam perjuangan kita harus ngotot habis-habisan walaupun bagaimana. Tapi, kita harus tahu untuk mundur, dimana ternyata lawan kuat dan bisa menggunakan kemenangan yang diperoleh, dimana lawan terpukul-kalah disebagian dari medan-pertarungan yang berlangsung!

Bilamanakah kita dapat memulai melancarkan pukulan strategi, tidak saja tergantung dari pada mutu organisasi-organisasi kita, tapi juga kepada keadaan politik-ekonomi, baik di dalam maupun di luar negeri. Tapi pukulan strategi itu akan lebih mungkin berhasil, bila kita dapat menyelesaikan setiap aksi politik dan ekonomi sebelumnya dengan sukses. Itu berarti, bahwa kita, jikapun tidak dapat merebut kemenangan sepenuhnya, kita harus dapat sebanyak mungkin menghindari kekalahan, dimana organisasi-organisasi kita akan dapat dilumpuhkan untuk masa yang lama. (Tentulah tidak dengan menghindari pertarungan dan mengajar ilusi kepada kasta buruh seolah- olah dalam masyarakat kapitalis, perjuangan itu dapat dihindari, melainkan dengan persiapan yang bersemangat dan ketangkasan ). Adalah benar, bahwa sesuatu kemenangan politik atau ekonomi dalam masyarakat kapitalis adalah bersifat relatif, tapi kalau kekalahan dari sesuatu organisasi kita mengakibatkan organisasi kita tiada berdaya untuk waktu lama, maka datangnya pukulan strategi sendirinya diperpanjang pula.

Dilain pihak, jika salah satu diantara organisasi politik atau ekonomi kita mendapatkan kemenangan taktis, maka tidak hanya organisasi yang bersangkutan itu sendiri yang mengalami akibat-akibatnya yang menguntungkan, tapi pula keseluruhan barisan- barisan yang ada. Seimbang dengan itu, maka kepercayaan pada pimpinan, keyakinan terhadap kemenangan yang terakhir dan semangat perjuangannya menaik pula

Halaman 15: Didalam setiap perjuangan, inisiatif mempunyai nilai yang besar. Pihak pertama-tama mengambil inisiatif memiliki keuntungan yang besar sekali diatas lawannya. Karena dia beraksi terlebih dahulu dan dengan demikian menimbulkan keadaan-keadaan baru pada lawannya. Lawannya dengan demikian tidak dapat memikirkan rencananya secara bebas, tapi terikat oleh keadaan-keadaan baru yang ada itu. Dengan demikian, maka rencana mereka yang menunggu-nunggu dapat dihancurkan oleh pihak yang mengambil inisiatif. Pengambil inisiatif menguasai kemauan dan tindakan-tindakan lawannya yang terpaksa tetap pasif dan menunggukan serangan- serangan sipengambil inisiatif tsb.

Jika kita di dalam perjuangan kita tidak yang pertama-tama mengambil inisiatif, maka lawanlah yang akan berbuat demikian. Dengan begitu lawan dapat keuntungan untuk mengendalikan kemauan dan tindakan-tindakan kita hingga kita dipaksakan untuk bersikap pasif yang melumpuhkan. Jika seandainya reaksi bermaksud untuk penghancuran terhadap salah satu organisasi politik atau sarekat sekerja kita dan dia yang permulaan ambil inisiatif, maka kita akan merasa tertekan dan bimbang, karena kita tidak tau bagaimana dan bilamana lawan hendak melancarkan kehendaknya itu. Tapi, jika kita hendak menangkisnya dengan mengambil inisiatif terlebih dahulu, maka

kecuali keuntungan moril kita akan memiliki keuntungan lain, yaitu, bahwa kita dapat menguasai rencana yang semula dari pihak lawan atau bahkan mungkin dapat menghancurkannya.

Bentuk perjuangan yang merebut inisiatif ialah offensip. Pihak yang melancarkan serangan terlebih dulu, memegang inisiatif ditangannya dan menguasai kemauan dan langkah-langkah dari lawannya.

Bentuk offensip yang terbaik adalah, offensip yang dilancarkan secara defensip. Politik revolusioner kita di Indonesia dilakukan secara defensip. Sekalipun sasaran tujuan kita tidak kurang dari pada penghapusan imperialisme dan kapitalisme kita dipaksakan oleh keadaan untuk melancarkan serangan-serangan kita dalam bentuk pembelaan! Kita mempersiapkan suatu serangan apabila kita mulai diancam dan diserang. Diatas peraturan-peraturan yang reaksioner dari lawan kita dasarkan agitasi kita, protes atau tuntutan-tuntutan, yang mendekati tujuan terakhir kita selangkah demi selangkah.

Pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya dapat merebut kemenangan, jika kita ambil inisiatif terlebih dulu dan mempertahankan inisiatif itu senantiasa. Agar pukulan yang terakhir menentukan itu dapat mengujudkan tujuan kita, organisasi- organisasi sarekat dan politik kita harus sejak semula dan sekarang memiliki dan menguasai semangat offensip

Tujuan dari setiap offensip adalah, dengan mendadak dan dengan kekuatan terpusat sebesar mungkin memukul tempat dan segi pertahanan lawan yang terlemah dengan tujuan untuk mengkorat-karitkan hubungan keorganisasiannya dan pada akhirnya menghancurkannya sama-sekali.

Organisasi-organisasi perjuangan kita yang terpenting, sarekat massa dan politik, harus cepat-cepat digiring ketempat-tempat yang diperlukan pada sat-sata, dimana dan bilamana kita dapat memukulkan kerugian-kerugian yang terbesar terhadap musuh, jadi dimana lawan menempatkan kekuatan-induknya

Hal. 25: Tiada negeri koloni lain yang begitu diperas seperti Indonesia, karena di tempat-tempat lain itu, seperti Mesir, India dan Pilipina, atau yang setengah jajahan seperti Persia dan Tiongkok, setidak-tidaknya sebagian dari keuntungan tetap berada di dalam kantong-kantongnya borjuis nasional,yang setidak-tidaknya akan dipakai di dalam negeri. Sekalipun seandainya Amerika atau siapa saja kelak meminjamkan berjuta kepada Indonesia atau menanam modalnya di Indonesia krisis ekonominya dengan demikian belum lagi bisa di perbaiki. Karena jutaan uang tsb saban tahun minta bunga yang juga jutaan yang harus dihisap dari rakyat pekerja Indonesia yang mengalir keluar negeri pula llagi.

Hal. 26: Dengan kesengsaraan yang semakin memuncak dari rakyat Indonesia maka setiap saat dapat mencetus dan meluas kegiatan-kegiatan ekonomis dan politis dari massa

Namun kita tidak berilusi, seolah-olah jalan kedepan yang kita lalui adalah pendek dan datar. Gelap, panjang, sulit dan penuh dengan rintangan adalah jalan menuju ke kebebasan. Dikiri-kanan kita telah mendengar bisikan kawan-kawan yang bimbang-ragu: apakah ini akan kita teruskan???

Adalah berat kerja pendidikan diantara massa yang dari abad ke abad, baik dari pemerintah sendiri maupun asing tidak pernah mengalami lain kecuali hinaan dan pukulan-pukulan tongkat. massa yang menjadikan merangkak-rangkak dan memohon- mohon sebagai kebiasaannya dan yang mencari-cari penyelesaian dari semua persoalan- persoalan penghidupan ke dalam tahayul, ketiada percayaan dan pikiran-pikiran budak.

Adalah berat untuk bekerja mendidik di bawah suatu kekuasaan yang tidak ragu-ragu untuk mebohong, memperkosa hukum-hukum yang dibikinnya sendiri, menginjak-nginjak hak-hak rakyat dan menggunakan cara-cara paksaan yang sekurang ajar-kurang ajarnya suatu kekuasaan yang beruntung memiliki alat-alat penindas yang modern diatas rakyat timur yang penurut

Adalah berat melangsungkan perjuangan dengan suatu kekuatan, tiada bersenjata, kehabisan tenaga dan dikelilingi dengan pengkhianatan, berhadapan dengan kekuasaan yang mempunyai tenaga-tenaga emas dan lain-lain alat dan syarat

Tapi: Perkasa kuasalah kebenaran ! Kebenaran kita ! Pertentangan antara yang menguasai dengan yang dikuasai, dialektikdari pada perkembangan kapitalisme, adalah merupakan kekuatan-kekuatan yang mendorong-maju dalam perjuangan revolusioner kita, -- kekuatan pendorong yang membangun-tegakkan yang jatuh dan menyengat- semangatkannya kembali dan memberikan kemenangan bagi yang kuat-perkasa.

Kesengsaraan yang semakin mendalam, reaksi yang semakin kurang ajar , justru akan bahkan tambah memperkuat barisan-barisan kita dalam tempo yang lebih cepat lagi dan memperlemah barisan lawan.

KEPADA KAUM INTELEKTUIL KITA BERSERU:

Juga barisan-barisan sdr-sdr akan terkena pedang kesengsaraan. Akan tiba pula waktunya bahwa kapitalisme yang sekarang masih dapat memakai tenaga-tenaga sdr-sdr akan melemparkan sdr-sdr juga sebagai buah jeruk yang telah habis-kering diperas. Penyakit kapitalis, krisis, juga tidak akan dapat sdr-sdr hindari. Juga sdr, seperti juga halnya dengan ribuan rekan-rekanmu di Jepang, India dll, akan ditekan menjadi kasta intellegensia proletariat.

Tidaklah sdr-sdr mendengar teriakan kebebasan yang semakin keras dari pada massa di Indonesia? Tidakkah sdr-sdr menampak massa itu perlahan-lahan melangkah maju kedepan dalam perjuangannya yang mahaberat itu?

Apakah sdr-sdr akan tetap menanti-nanti begitu lama, sampai pembebasan itu nanti hanya sendirian saja dapat diperebutkan oleh massa, sedangkan sdr-sdr toh juga akan ikut-serta mengenyam buah kebebasan itu nanti? Tidak, demikian massa bodoh dan demikian rendah tentulah sdr-sdr tidak apat. Tapi segera, hingga golongan sdr-sdr kelak dengan bangga dapat menyatakan ―Sayaikut serta juga memperjuagkan kebebasan ini !‖

Dalam badai topan revolusioner yang sedang pasang, sdr-sdr akan mengenal massa Indonesia, segi-seginya yang baik dan segi-seginya yang buruk, kekuatannya dan kelemahan-kelemahannya. Disanalah sdr-sdr akan mendapatkan kesempatan ikut-serta menekan dongkrak revolusioner dengan kesanggupan-kesanggupan moril dan intelektuil sdr-sdr! Disanalah sdr-sdr akan menyadari, betapa bahagianya untuk mengabdikan diri kepada kerja-perjuangan kemasyarakatan dan bertarung untuk dan dengan massa

rakyat. Disanalah sdr-sdr akan merasakan betapa mati-kosongnya hidup individual masing-masing untuk diri sendiri-sendiri dari masyarakat kapitalis

(KUTIPAN-KUTIPAN DARI “MASSA-AKSI” 1926)

KATA PENGANTAR

Ketiadaan kaum modal bumiputera yang sifatnya hampir bersamaan dengan imperialisme Belanda (sama-sama mau menggencet buruh dan tani) menyebabkan immperialisme Belanda sukar sekali membereskan krisis ekonomi di Indonesia. Dimanakah ada di Indonesia tuan-tuan tanah bumiputera seperti di Mesir, India dan Pilipina yang dapat menunjang kaum imperialis untuk membela kepentingan-kepentingan ekonomi mereka? Dan dimanakah ada kaum modal bumiputera yang kuat, yang meminta-minta kekuasaan dalam politik perekonomiannya seperti di India?

Melindungi modal bumiputera sebagiannya bukanlah sama juga artinya dengan melindungi modal bangsa asing? Didalam nisbah sekarang ini nyatalah, bahwa tiap pemerintahan bangsa Indonesia haruslah tunduk kepada kemauan modal asing yang besar-besar. Dan pemerintahan seperti itu tak akan diakui sebagai dari rakyat dan oleh rakyat.

Dengan pendek Indonesia tak mempunyai faktor-faktor ekonomi, sosial maupun intelektuil buat melepaskan diri dari perbudakan ekonomi dan politik di dalam lingkungan imperialisme Belanda.

Indonesia dapat menaikkan ekonominya jika kekuasaan politik ada ditangan rakyat. Dan Indonesia akan mendapat kekuasaan politik tidak dengan jalan lain, melainkan dengan ―akal politik yang revolusioner, lagi teratur, dan yang tidak mau tunduk.‖

Kalau penjajahan Belanda selama 300 tahun itu tidak berupa perampokan (membunuh industri bumiputera semati-matinya) niscaya derajat kaum intelektuil kita jauh berbeda dari keadaan sekarang! Dan kita tentulah mempunyai semangat kecerdasan (intllegensia) yang menurut asal, didikan dan perasaan menjadi pemuka dari tuan-tuan tanah, industri, saudagar dan pegawai bumiputera. Pun juga akan timbul pergerakan ―demokrasi‖ dan ―kemerdekaan nasional‖ yang ―bersifat kerja sama‖ (kompromis) dengan bangsa Belanda atas pertolongan buruh dan tani seperti di India, Mesir dan Pilipina lebih kurang.

Atas ketiadaan kaum modal bumiputera intellegensia kita tak kuat berdiri. Ia melayang- layang diantara rakyat dengan pemerintah.

(Massa Aksi I-II-III)

Tidak dimaksud bahwa kita selamanya membelakangi Dewan Rakyat. Sebaliknya, bila besok atau lusa kita dapat kesempatan dengan jalan pemilihan yang langsung menduduki Dewan Rakyat, kewajiban kitalah memasukinya. Sungguh kita berbuat keliru dan penakut, bila tidak bertindak begitu. Tetapi belum semenit juga, kita bermaksud mau bekerja bersama di dalam Dewan Rakyat dengan perampok gula, pencuri minyak dan penyamun getah! Kita terpaksa memasukinya akan menentang melakukan aksi opposisi dan menambah keberanian, dan memecahkan topeng dan kita pergunakan Dewan Rakyat

sebagai ―Pengadilan Rakyat‖ dan merintangi tindakan pemerintah dari dalam. Dengan berbuat demikian dapat kita sekedarnya mendidik rakyat yang tak boleh menuliskan dan menyebutkan politik di luar Dewan Rakyat itu.

Mempergunakan cara yang sangat bertentangan dengan yang tersebut diatas, kita sanggup anggap satu kebodohan pula, yang lebih banyak merugikan usaha kemerdekaan seperti yang dipikir-pikirkan oleh kebanyakan bangsa kita. Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan ―putch‖ atau ―anarkisme‖ hanyalah impian seorang yang lagi demam. Dan mengembangkan kepercayaan itu diantara rakyat satu perbuatan yang menyesatkan, disengaja atau tidak.

―Putch‖ itu satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri dengan tidak memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa. Ia sekonyong-konyong keluar dari guanya dengan tidak memperhitungkan lebih dulu, apakah saat untuk bermassa-aksi sudah matang atau belum. Dia menyangka, bahwa sekalian lamunannya tentang massa benar sama sekali. Dia lupa atau tak mau tahu, bahwa massa hanya dengan berturu-turut dapat ditarik reaksi politik yang keras (secara modern!) dan pada waktu sengsara serta penuh reaksi yang membabi buta. ―Tukang- tukang putch‖ lupa, bahwa saat revolusi, yakni apabila massa-aksi berubah menjadi pemberontakan bersenjata tak dapat ditentukan ―berbulan-bulan‖ lebih dulu, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh seorang ―tukang-tenung‖. ―Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai-bagai keadaan.‖ Bila tukang-tukang putch pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba (seperti Herr Kapp tukang putch yang termasyur itu), massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak-memperhatikan, tetapi karena ―massa hanya berjuang‖ untuk kebutuhan yang terdekat dan menurut jalan kepentingan ekonomi.

Tiada satu kemenangan politik hingga sekarang diperoleh oleh massa (bukan oleh segerombolan militer!) jika tidak dengan aksi ekonomi dan politik!

Massa-aksi tak mengenal fantasi hampa seorang tukang putch atau seorang anarkis atau perbuatan berani dari salah seorang pahlawan. Massa-aksi dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka. Ini disebabkan oleh kemelaratan yang besar (krisis ekonomi dan politik) dan setiap ketika mungkin berubah menjadi kekerasan. Satu partai yang berdasarkan massa-aksi yang tersusun, mesti kuasa membawa massa-aksi yang memecah itu kepelabuhan yang tenang dan aman.

Sebagian

pembekotan‖

dari

massa-aksi

menunjukkan

dirinya

dengan

―pemogokan

atau

Pembekotan pajak yang dianggap jadi aksi itu di Indoea tak pernah dilakukan, karena kekuatiran borjuasi kepada akibat revolusioner. Di Indonesia pembekotan pajak satu senjata ekonomi politik yang sangat sakti.

Tetapi perbuatan seperti itu berarti ―mendurhaka kepada undang-undang‖, dan hanya terjadi dalam keadaan-keadaan revolusioner dan di bawah pimpinan satu partai revolusioner yang kuat betul

Demontrasi politik ditunjukkan dengan massa yang berbaris disepanjang jalan raya dan digedung rapat, dengan maksudmemajukan protes atau memperkuat penagihan politik dan ekonomi, dan menunjukkan kepada musuh berapa besarnya kekuatan kita. Bila ―semboyan dan penagihan‖ sungguh dituruti oleh massa, demonstrasi politik dapat jadi gelombang hebat, yang makin kuat meruntuhkan benteng-benteng ekonomi dan politik dari kelas yang berkuasa

Dinegeri yang berindustri sebagai Indonesia ―massa-aksi‖ yakni boikot, mogok, dan demonstrasi, boleh dipergunakan lebih sempurna sebagai senjata yang tajam sekali (di India tak terjadi, sebab bumiputera yang berkapital takut kepada pemogokan umum dan kekuasaan politik dari kaum buruh, ketakutan mereka tak berbeda dengan borjuasi Inggris).

Bila satu partai revolusioner berhasil menyuruh kaum buruh yang berjuta- juta meninggalkan pekerjaannya, dan yang bukan buruh tak mau bekerja bersama dan seluruh rakyat berdemonstrasi menuntut hak ekonomi dan politik dengan tidak melemparkan sebutir batu kecilpun kepada pegawai pemerintah, niatnya akibat politik moril dari aksi itu sangat besar artinya. Ia akan mendatangkan keuntungan besar dalam perjuangan politik dan moril, lebih besar dari pada 100 pemberontakan Jambi, atau huru-hara, pembunuhan yang reka-reka dan dikerjakan oleh anggota-anggota ―bagian B‖ dan tukang-tukang putch yang gagah

Hak-hak manusia yang asli seperti mogok (menolak penjualan tenaga sendiri), boikot (menolak kerja bersama, membeli atau menjual barang-barang) dan hak berdemonstrasi (mengumumkan cita-cita) akan lenyap selama-lamanya dari bangsa Indonesia, kalau dibelakang tiap-tiap orang Indonesia berdiri serdadu imperialis yang bersenjata.

Kelebihan massa-aksi dari pada putch, ialah dengan yang pertama perjuangan kita selamanya dapat dijaga, sedang dengan yang kedua, kita memperlihatkan diri kepada musuh. Didalam massa-aksi ―pemimpin boleh berjalan sekian jauh menurut kepatutan yang perlu diwaktu ini‖. Ia selamanya dapat menentukan berapa jauh ia boleh mengadakan tuntutan politik dan ekonomi dengan tidak menanggung kerugian besar (pengorbanan mesti ada dalam tiap-tiap massa-aksi). Dan dengan tidak kehilangan hubungan dengan massa dan antara massa itu sendiri. Dengan pertempuran sekonyong- konyong yaitu tindakan keras tykang-tukang putch, yang disengajanya terhadap musuh, mereka dari awalnya gampang diserang musuh. Pemimpin massa-aksi dengan memegang ―peta-perjuangan‖ ditangannya dapat mempermainkan musuh dengan jalan maju selangkah-selangkah, dan kemudian sekali menggempur habis-habisan.

Massa-aksi membutuhkan pemimpin yang revoluioner, lagi cerdas tangkas, sabar dan cepat menghitung kejadian yang akan datang, dan waspada politik. Juga ia mesti bekerja dengan tenaga nasional yang sudah ada dan tidak mengharapkan kekuatan dalam lamunan. Selanjutnya ia mesti mengetahui tabiat massa yang dipimpinnya (mengetahui waktu dan cara bagaimana reaksi rakyat terhadap kejadian-kejadian politik dan ekonomiu!).

Ia harus pandai pula bersemboyan yang menggemberikan rakyat, sehingga menarik ―kemauan massa‖ berubah menjadi ―perbuatan massa‖. Selain dari itu kedudukan politik dan ekonomi mesti diketahuinya betul-betul dan pandai mempergunakannya dengan tidak ragu-ragu. Disebabkan kelas yang berkuasa (pemerintah) mempunyai laskar yang lengkap dan senantiasa bersedia, maka kecakapan dan ketangkasan mempimpin dari gerakan modern pemimpin massa-aksi mesti mempunyai pengetahuan yang praktis,

tentang politik dan ekonomi dari negeri serta psychology rakyat dan kemudian pandai menghitung kejadian-kejadian politik yang terjadi. Terlebih lagi pemimpin itu mesti dapat mempergunakan ―waktu‖ dengan lekas dan benar dan mempergunakan sekalian pertentangan di dalam masyarakat kapitalistis juga dalam laskar) yang dapat mendatangkan keuntungan

Jadi kalau ―tenaga bodoh‖ (seperti dizaman feodal) dapat mengadakan putch seorang pemimpin pergerakan massa yang modern harus seorang manusia cerdas dan bijaksana massa (hal. 47 s/d 50).

Sesungguhnya kwaliteit pemimpin itu sendiri yang menyebabkan maka partai-partai borjuis Indonesia ―beriring-iringan patah ditengah‖. Penganjur-penganjur seperti Dr. A. Rivai dan Dr. Tjipto niscaya akan memegang rol yang jauh berlainan sekali di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia, jika sekiranya disini ada kapital besar kepunyaan bumiputera. Lambat laun dengan sendirinya mereka akan sampai kepada program nasional borjuis yang dengan perantaraan satu ―organisasi‖ dan taktik yang cocok, sebagian atau sama sekali dapat diwujudkan.

Karena kapital besar bumiputera tidak ada, program nasional dan organisasi mereka sebagai partai borjuis tak kuat hidup langsung. Mereka dibesarkan oleh pendidikan borjuis secara barat hingga tidak ada hubungannya dengan massa Indonesia, dan tidak berperasaan akan mencari logika untuk mendapat program nasional yang proletaris. Partai borjuis yang didirikan dengan perlahan-lahan lenyap sama sekali, hidup enggan mati tak mau atau ―namanya‖ saja yang hidup terus

Pekerjaan ―illegal‖ penuh dengan bahaya. Sambil lalu hal itu patut dan mesti juga bisa kita uraikan disini. Pekerjaan legal, dan pekerjaan legal sajalah yang melahirkan organisasi, pembicara, organisator dan pemimpin. Majalah, partai dan pidato-pidato yang legal dapat mendidik bangsa kita yang tercecer itu dengan cara yang berfaedah sekali jadi ahli politik dan menghidupkan pikiran umum revolusioner yang perlu itu. Sebaliknya di dalam satu negeri yang sedang dalam transformasi sebagai Indonesia, pekerjaan illegal mudah sekali terperosok ke dalam anrkisme, huru-hara, atau mempercayai jimat yang sangat merugikan itu. Sekalian yang bersangkutan dengan organisasi dan ideologi yang sudal lama kita peroleh, akan lenyap kembali disebabkan illegaliteit yang tidak pada waktunya. Provokasi lawan, mudah menjatuhkan pemimpin- pemimpin kita yang kurang pengalaman dan menghancurkan organisasi sama sekali.

Apakah kita telah matang bekerja di bawah tanah? Pertanyaan seperti itu berulang-ulang timbul dikepala kita. Ini berhubungan dengan soal pernahkah kita mempunyai tenaga yang cukup di dalam partai yang tidak mengindahkan sekalian rintangan setia menjalankan massa-aksi yang teratur. Seterusnya apakah pendidikan Marxistis benar dan cukup lama kita jalankan, hingga kaum buruh kita sudah mempunyai ketetapan Marxistis dan kelemasan Leninistis? Bila hal ini tidak dan belum terjadi niscayanya satu illegaliteit yang dipaksa akan menimbulkan kekacauan dalam seluruh pergerakan revolusioner di Indonesia. Kaum yang bukan revolusioner akan memegang kemudi dan menuntut partai kepada putch atau anarki dan akhirnya hancur sama sekali. Bahaya ini akan sekamin besar karena pemimpin revolusioner yang ulung dan berpengaruh atas massa, sebentar-sebentar dibuang dari Indonesia, sedang sikap reaksi tambah sengit.

Sekarang bukan perlu kepada keberanian semata-mata tetapi terlebih lagi ―pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner‖ (hal. 57-62-63).

Kutipan dari Manifesto Jakarta 1945

Strategi & Taktik

Tetapi tiada bisa disimpan di dalam hati saja, bahwa kita sekarang merasa amat malang, karena sampai sekarang belum juga mendapat keterangan yang cukup dan sah tentang keadaan yang sebenarnya terhadap gerakan ekonomi sosial politik dunia tadi.

Tetapi akan lebih malanglah kita kalau, ―taksiran‖ tiada dijalankan sama sekali. Lebih baik mempunyai taksiran yang berdasarkan bukti kurang sempurna, dari tak mempunyai taksiran sama sekali. Bukanlah sesuatu ―sikap‖ mesti didasarkan atas suatu taksiran? Bukanlah pula sikap yang pasti, yang dijalankan serempak, walaupun berdasarkan bukti yang kurang cukup, lebih baik dari pada sikap laksana ―pucuk pohon aur‖ yang terkenal ditiup angin kian kemari, walaupun sikap tadi berdasarkan bukti yang sempurna?

Tentulah sikap yang sempurna itu ialah sikap yang berdasarkan atas bukti yang telah sah serta cukup dan yang dijalankan serempak serempak dengan teguh tetap. Kebenaran inipun tak perlu dibubuhi komentar. (hal. 1,2).

Keadaan Kini (Agustus 1945)

Nippon akan meninggalkan Indonesia. Dalam tiga tahun di bawah pimpinan Balatentara Nippon, Indonesia mendapat perubahan yang maha hebat. Sejarah Indonesia belum pernah memperlihatkan perusakan semacam itu. Ekonomi yang dahulu berdasarkan imperialisme dalam waktu damai (mendapat bahan-bahan di Indonesia buat Negara Ibu:

menjualkan barang pabrik yang didatangkan oleh Negara Ibu di Indonesia, menanam modal di Indonesia) sekarang dibelokkan menjad ekonomi perang, perusahaan barang buat dikirim ke Luar Negeri (gula, getah, teh, kina, kopi, arang, minyak tanah, timah dan lain-lainnya) sekarang dipakai buat keperluan perang.

Banyak perusahaan dikurangi karena hasilnya tak bisa dikirim keluar (teh, kopi, getah, dll) tetapi pula perusahaan lain yang diperluas (besi, baja, mesin, obat-obatan, dll) dan perusahaan baru didirikan (perkapalan). Sosial mendapat pergoncangan luar biasa.

Berjuta-juta tani dijadikan romusha (prajurit pekerja) yang dikirim keseberang atau dikerahkan diseluruh Jawa. Hampir tak ada lagi pemuda atau yang tua kuat yang terlepas dari ikatan disiplin, perusahaan (industri ataupun perusahaan negara, Keibodan). Banyak pula saudagar kecil ataupun bekas jurutulis dan studen yang menjadi majikan, saudagar ataupun tukan catut. Dalam Jabatan Negara pun banyak sekali pekerjaan yang tinggi-tinggi yang dahulu dipegang oleh Belanda saja, dipindahkan ketangan Indonesia. Jadi dalam 3 tahun saja, tani menjelma menjadi prajurit perang dan pekerja, juru tulis dan studen menjadi pedagang, bekas pemimpin pergerakan di ―Hindia Belanda‖ menjadi pegawai negara tinggi ataupun rendah. Bukan puluhan tahun perlu buat penjelmaan sebesar itu, seperti dimasa damai tetapi cuma dalam tiga tahun saja, inilah pencaroba sosial yang sehebat-hebatnya di dalam sejarah Indonesia.

Dalam keadaan begini, maka pada tanggal 17 bulan 8 tahun 1945 ini, Indonesia menyatakan kemerdekaannya kesekalian umat manusia di dalam dan di luar Indonesia. Negara Indonesia yang merdeka itu ialah sebuah republik kesatuan dan kedaulatannya diakui terletak ditengah rakyat.

Sekutu dan Republik Indonesia

Republik Indonesia tadi tiadalah barang yang direbut dari tangan siapapun juga. Dia didirikan pada saat yang istimewa. Saat yang seolah-olah jatuh dari langit yakni pemegang kekuasaan yang lama akan berangkat (Nippon), tetapi belum berangkat, dan pemegangnya yang baru, akan tiba tetapi belum lagi sampai. Rakyat Indonesia cuma mengambil haknya yang memang haknya sendiri dalam saat yang istimewa. Dia ambil haknya, hak tiap-tiap bangsa. Ketika diambil maka hak itu terlantar saja, belum direbut oleh yang tidak berhak. Hak itu ialah hak kemerdekaan yang oleh filsafat politik modern sudah diakui sebagai hak mutlaknya, sebagai geboorte-recht (birth-right) sesuatu bangsa, yakni hak hidup, tak lebih dan tak kurang. Selama bangsa Indonesia masih ada di Indonesia ini, maka menurut hukum dia berhak sepenuhnya atas tanah dan kemerdekaannya.

Bangsa Indonesia hidup atau mati bersama dengan tanah dan kemerdekaan tadi. Hak atas tanah dan kemerdekaannya itu tiadalah bisa dipindahkan ketangan bangsa asing atau dibagi pada bangsa asing. Hak ini akan bisa menimbulkan salah satu dari dua akibat: atau

1. Bangsa Indonesia lambat laun akan punah, seperti bangsa Australia asli atau Amerika

asli mati kutu, merana dan terdesak seperti bangsa Indonesia di Semenanjung Malaka dan Borneo Utara;

2. Bangsa Indonesia akan bisa terus bertambah atau berkurang tetapi bercerai-berai

hidupnya diseluruh pelosok dunia. Memang buat mengambil hak hidupnya kembali, bangsa Indonesia tak perlu malu ataupun minta maap pada siapapun juga. Tetapi apakah sekutu akan mengakui kemerdekaan ini?

Apakah Atlantic Charter akan mengindahkan bangsa Indonesia? Inilah pertanyaan yang akan dijawab oleh sejarah dihari depan. Jawabannya itu sebagian saja terletaknya ditangan sekutu, tetapi sebagian pula, ialah ditangan rakyat Indonesia sendiri.

Susunan Sekutu

Australia yang dalam perang ini terpaksa lebih rapat kepada Amerika dari pada ke Inggris, barangkali kalau diwaktu damai akan lebih asnti asing lagi dari pada yang sudah- sudah.

Sebenarnya proletar Rusialah dalam perang dunia kedua ini yang menahan pukulan Jerman nazi maha dasyat itu, dengan sekuat-kuatnya dan segiat-giatnya (1941-1944). 3 tahun inilah yang sebenarnya memberi keputusan atas pertanyaan apakah nazi Jerman atau persekutuan Demokrasi Komunis yang akan menguasai dunia. Dengan kekuatan Rusia, maka kolektivisme, kerja tolong-menolong, pertama kali menyatakan kekuatannya kepada dunia kapitalis dan perseorangan di abad ke 20 ini.

Rusia mempunyai kepentingan sendiri yang cuma bisa diselesaikan oleh Rusia sendiri. Begitu pula adanya Indonesia, ialah mempunyai kepentingan sendiri tang cuma bisa diselesaikan Indonesia sendiri. Seandainya Indonesia, begitu lemah dan menggantungkan dirinya kepada Rusia, maka sifat ini, seandainya Rusia mau menerima, tiada akan memberi hasil yang akan memuaskan Indonesia. Pertama kalinya jaraknya Indonesia dan Rusia amat jauh sekali. Kedua: diantara Rusia dan Indonesia terletak pula daerah Asia bukan bagian Rusia, ialah Hindustan dan Tiongkok 1945. Ketiga: Rusia sekarang dan lama

tak akan bisa mengadakan armada yang akan bisa menandingi armada Amerika. Inggris yang sekarang menguasai dunia, apalagi Lautan Hindia dan Lautan Teduh, dan yang mempunyai pengalaman amat banyak sekali disemua lautan samudra. Percobaan Rusia dengan sebenarnya menyokong satu pemerintah Indonesia yang dipimpin dari Moskow, tentulah segera akan membawa akibat yang tiada diingini oleh Rakyat Indonesia sendiri:

Inggris dan dan Amerika tentulah akan tampil kemuka dengan armadanya buat membela Indonesia yang begitu penting buat siasat perang dan buat segala bahan perang. Inggris dan Amerika bertumpu pada segolongan Borjuis dan Feodal Indonesia akan memakai Indonesia sebagai medan Peperangan buat mempertahankan kekuasaannya di lautan Hindia dan Lautan Teduh. Indonesia akhirnya akan menjadi jajahan atau jatuh kebawah pengaruhnya salah satu pihak yang menang.

Dititik dari penjuru ini maka dalam suasana dan dalam keadaan seperti sekarang sedikit sekali kemungkinan dimana Rusia akan mencoba mendirikan atau akan membantu dengan sebenarnya satu pemerintah Indonesia yang langsung dipimpin dari Moskow.

Sebaliknya pula Rusia akan lebih merdeka sikapnya terhadap Indonesia yang berdasarkan kedaulatan nasional, yakni terhadap Indonesia yang mendirikan pemerintahan yang berdasarkan atas kemauan Rakyat Indonesia sendiri dan tiada dibantu oleh Negara manapun juga di luar Indonesia.

Rusia yang mempusakai dasarnya komunisme yang akan membantu kemerdekaan jajahan sekarang bisa melaksanakan dasarnya itu dengan jalan yang tak kurang arti dan akibatnya, ialah dengan jalan diplomasi itu. Pengakuan republik Indonesia dalam suasana internasional sekarang ini adalah satu bantuan yang sebesar-besarnya. Bantuan yang lebih dari pada itu tiada akan menguntungkan Rusia dan pasti akan mencelakakan republik Indonesia merdeka sendiri. Marilah kita sebentar menoleh ke Tiongkok, yang banyak sekali menderita akibatnya politik imperialisme dan akibatnya perang dunia kedua ini. Negara begitu luas dengan penduduk yang begitu ramai, pintar dan rajin yang lama sebelum perang dunia kedua ini dalam kakacauan disebabkan oleh perang saudara yang berulang-ulang sangat membutuhi modal dan mesin.

Modal Tionghoa yang ada di Indonesia adalah saru perkara yang bisa mempertemukan republik Tiongkok merdeka dengan republik Indonesia merdeka. Tiongkok butuh akan modal Tionghoa yang ada di Indonesia dan Indonesia akan banyak mendapat bahagia kalau modal Tionghoa itu dipindahkan dari Indonesia, bersama dengan sebagian besar Tionghoa yang berpengalaman yang dibutuhkan oleh Tiongkok baru. Dengan pemufakatan Tiongkok dan Indonesia dan bantuan dari kedua belah pihak bisa diadakan tindakan yang akan amat menguntungkan Indonesia dan Tiongkok keduanya. Selain dari pada kepentingan bersama seperti tersebut diatas keduanya sedang mempertahankan diri terhadap imperlialisme asing: kalau dipikirkan pula Tiongkok dan Indonesia mempunyai bentuk negara ialah bentuk republik yang berdasarkan kedaulatan rakyat maka sepantasnyalah kedua Negara itu bermufakat dan bersekutu menghadapi musuh bersama.

Akhirnya dalam perhubungan Tiongkok dan Indonesia mesti diperhatikan bahwa perasaan Tiongkok terhadap Indonesia tiadalah sama dengan perasaan HOAKIAU (Tionghoa seberang) umumnya terhadap Indonesia. Mereka di Tiongkok mempunyai pandangan yang lebih jauh dan hati yang lebih lapang, dalam dunia diplomasi; hal ini tiada kurang penting dari hal lain-lain kerapatan diplomat satu Negara dengan diplomat lain Negara karena banyak bersamaan faham, perasaan dan adat tingkat laku tak sedikit artinya dalam daya upaya merapatkan negara yang merdeka dari masing-masing wakil tsb.

Demikian sekedar penyelidikan yang jauh dari pada sempurna tentang sekutu yang akan berhadapan dengan kita.

Sebagai kesimmpulan dari penyelidikan diatas dan yang jauh dari sempurna itu, maka mungkin sekali Inggrislah dengan bantuan mulut dari pihak Belanda yang akan mengambil tindakan yang agresif atau ceroboh terhadap Indonesia buat kapitalis dan imperialis Inggris Republik Indonesia Merdeka, apalagi mengingat semenjanjung Malaka dan Borneo Utara adalah satu perkara penting buat pembangunan British Empire dan mempertahankan diri dan muka sebagai first-power atau negara kelas 1.

Indonesia Setelah Perang Dunia II Ini

Amat kekurangan benda yang berupa mesin, perkakas, mas intan pakaian dan lain-lain. Tetapi masih kaya dalam bahan tersimpan, hasil bumi yang keluar. Selama buminya ada, iklim dengan sungai dan danaunya ada selama itulah pula rakyat Indonesia masih satu rakyat yang terkaya dimuka bumi ini walaupun kekayaan terpendam saja. Semiskin- miskinnya Indonesia dalam hal mesin dalam masa depan, dengan kepandaian yang sudah diperoleh, ia akan bisa mengadakan hasil yang tiada bernilai harganya dipasar dunia, seperti minyak tanah, arang, emas, timah, hula, getah, kina, teh, kopi, kopra dll, dan sebagainya.

Dengan jualan barang tersebutndiluar negeri republik Indonesia dengan aman dan sentosa akan bisa mendapat mesin yang dibutuhkan. Dengan rencana 3,4 atau 5 tahun Indonesia lambat launnya bisa mendirikan Industri berat sebagai jaminan yang pasti buat kemerdekaannya.

Kemerdekaan modern itu terutama berdasarkan industri berat (pembikinan tanur besi, baja, auto, kereta, kapal laut dan udara, minyak dan lain-lainnya). Sebaliknya industri berat berdasarkan kemerdekaan pula; tak bisa diadakan industri berat kalau Indonesia diambat-ambat buat menimbulkan industri yang dirasanya penting buat penghidupan dan pertahanannya.

Indonesia merdeka boleh mendirikan ‗tarif wall‘ (dinding pajak), buat melindungi ‗Infant insdustry‘-nya (industri bayi).

Seperti bayi manusia atau pohon kecil, mesti dilindungi dari angin dan panas yang terik, begitu pulsa industri bayi mesti dilindungi dari pemasukan barang-barang luar negeri yang bisa menjadi saingan kelak. Sesudah industri bayi tadi teguh karena pengalaman manusia sudah cukup maka perlindungan itu bisa dilenyapkan. Indonesia yang mempunyai bahan yang banyak siafat dan bilangan, lalu lintas yang paling bagus (sungai dan lautan) disamping pekerja yang dilatih dari zaman Pajajaran (pandai) sampai kezaman majapahit dan akhirnya dizaman belanda, kalau sesudah beberapa tahun sudah cukup pengalaman tak perlu takut akan persaingan dengan negara manapun juga dimuka bumi ini. Baru kemerdekaan itu aman sentosa.

Barulah pula ‗ tariff wall‘ bisa dirubah.

Pertahanan Indonesia Merdeka

Adalah juga perkara yang penting buat mempertahankan Indonesia dihari depan. Pertama: persatuan yang teguh tegap diantara semua golongan rakyat. Persatuan itu mesti tahan uji terhadap serangan dari dalam dan dari luar negeri. Persatuan itu bisa

diselenggarakan oleh satu partai saja apalagi dimasa pancaroba yang istimewa. Pemerintah negarayag berdasarkan satu partai itu lebih lekas bisa mengambil tindakan yang perlu ataupun mengadakan koreksi (pembetulan) yang amat perlu. Persatuan rakyat itu juga bisa diselenggarakan oleh pergabungan lebih dari satu partai. Walaupun lebih berdasarkan kerakyatan, lebih sukar pula dikendalikan, karena berlainan aliran didalamnya. Memang dimasa pancaroba yang maha hebat diktatur satu partai terhadap rakyat Murbalah sistem yang sebaik-baiknya. Tetapi mesti diambil tindakan supaya dikatatur satu partai terhadap rakyat Murba itu jangan beralih menjadi diktatur seorang atas partai.

Dalam partai diantara anggota dan anggota mestinya ada semua kesempatan buat mengadakan kata mufakat yang berdasarkan kemerdekaan buat berfikir dan mengusul dan disiplin dalam hal mengambil suatu putusan dan menjalankan putusan itu. Kedua:

kemerdekaan yang penuh bulat kini juga. Ini sama arti dengan persatuan. Kemerdekaan itu boleh diumpamakan suatu besi berani yang menggetar gerakan jiwanya rakyat Murba, yang tidur lena itu.

Tetapi supaya getar gerakannya itu terus tetap, kemerdekaan itu seperti juga persatuan tadi mesti didasarkan ats keperlluan rakyat Murba sehari-hari. Jiwa Murba akan terus tetap menggetar dan bergelora, kalau jasmani Murba terpelihara, (makanan, pakaian, dan perumahan). Buat memenuhi keperluan rakyat Murba yang sekarang memang dalam segala kekurangan itu. Negara Indonesia harus menjalankan ekonomi teratur dengan rencana dengan kebulatan hati, tekad dan kegiatan, kebulatan tenaga serta akhirnya dengan segera.

Kemerdekaan penuh yang bisa menjalankan dan merencanakan ekonomi teratur itulah, yang bisa menjamin kekalahannya republik Indonesia.

Ketiga: jangan dibolehkan modal asing mengganggu kemajuan perusahaan Indonesia. Hal ini pasti akan terjadi kalau modal asing dibolehkan lagi menyewa tanah dan menguasai bahan Indonesia. Berapapun bagusnya rencana dan berapapun giat dijalankan semala negara asing dengan perantaraan modal di Indonesia bisa mempengaruhi jalannnya produksi dan distribusi kita, maka rencana yang bagus itupun akan mampus juga. Dengan suka-cita kita akan menukar hasil perusahaan kita dengan mesin luar negeri tetapi tanah, produksi, distribusi mesti dikuasai oleh negara Indonesia. Keempat: ekonomi mesti dikendali (diatur) dan negara mesti menjalankan rencana. Produksi dan distribusi liar, sesuka masing-masing orang dengan tak memakai perhitungan lebih dahulu, mesti ditolak dengan keras.

Kalau produksi dan distribusi dilepaskan ketangan satu dua orang kapitalis Indonesia yang kurang pengalaman dan pandangan Internasional yang tidak pula memperdulikan keperluan rakyat Murba, maka tak akan lama perekonomian dan akhirnya politik Indonesia yang bebas akan terlepas lagi ketangan asing ! Lebih lagi dari Amerika Selatan dan Tiongkok sebelum perang ini, modal Indonesia yang dipercayakan kepada kapitalis Indonesia itu akan segera menjadi bola sepak dan sepak bola imperliasme asing. Bolehlah dikatakan satu kebahagian buat Indonesia sekarang yang rakyatnya tiada mempunyai golongan kapitalis yang kuat yang bisa mempengaruhi dalam politiknya negara. Tiadalah susah buat Indonesia Merdeka buat memimpin majikan bumiputera kedaerah kolektivisme dan ekonomi teratur, yang mengatur hak milik, penghasilan, pembagian hasil, upah dan hidup sekeluarga.

Sifat Proletaris

Karena buruh perusahaan besarlah kelak yang penting sekali, diantara beberapa golongan rakyat, dalam daya-upaya membangunkan republik Indonesia dengan industri beratnya, maka buruh itulah pula yang mesti diinsyafkan dan disusun dari sekarang.

Mereka yang menduduki cabang perindustrian yang penting, sendirinya kelak akan menjadi golongan yang penting dalam satu masyarakat berdasarkan sama rata dan keadilan. Keinsyafan mereka akan kedudukan yang penting, dalam masyarakat dihari depan itulah pula kelak akan menimbulkan tekad, keberanian dan kegiatan yang menyala-nyala dihati mereka menentang usaha dan tindakan Imperlisme asing merubah Indonesia merdeka kembali ke derajat jajahan. Mereka kaum pekerja yang dengan kulit dan tulangnya merasakan perekonomian imperialisme, tentulah tiada ingin mau diisap olehnya dan ditindas kembali.

Mereka inilah pelopor rakyat yang akan giat mempertahankan republik Indonesia dan mengisi republik itu dengan kemakmuran dan keadilan.

Pertahanan Rakyat Murba

Siasat pegerahan rakyat Murba buat memperjuangkan kekuasaan negara sudah diterangkan dalam NAAR DE REPUBLIK INDONESIA 9tahun 1924) oleh Tan Malaka. Siasat yang berdasarkan Murba itu masih amat sedikit dimengerti di Indonesia. Gerakan di Indonesia umumnya menganggap perebutan kekuasaan itu sebagai usaha militer semata- mata (putch). Persiapan susunan tertutup hampir sama sekali dipusatkan kepada bentukan satu pasukan yang kelak tiba-tiba akan menyerbu keluar buat merebut kekuasaan politik dengan cara militer. Gerakan semacam itu terhadap satu susunan negara yang diatur oleh imperialisme modern nisacaya akan kandas sama sekali. Perebutan bisa berhasil, kalau benar seluruhnya atau sebagian terbesar rakyat jelata sudah mempunyai keinsyafan politik sedam-dalamnya, ikhlas berkorban mencapai idamannya, serta tahan ujian dalam aksi yang sukar, berbahaya dan lama. Keinsyafan yang dalam serta kemauan laksana baja itu tiadalah diperoleh dengan jalan propaganda secara mengomong saja, melainkan dengan agitasi yang berisi bukti yang senyata- nyatanya dan dengan pengalaman rakyat Murba dalam aksi politik (demonstrasi) dan ekonomi (pemogokan). Pengalaman rakyat Murba itu, perlusekali dan bisa diperoleh dalam aksi memperbaiki kehidupan sehari-hari (minta tambah gaji, mengurangkan pajak).

Pimpinan yang mengerti, cerdik, berpandangan jauh mesti mengerti, wataknya dan sifatnya tiap-tiap tingkat juga, sudah dan juga akan dijalani rakyat Murba tadi. Buat mengerti watak dan sifatnya tiap-tiap tingkat yang hatus dilalui oleh rakyat Murba itu perlu diketahui hasrat, idaman, kemauan dan impian tiap-tiap golongan rakyat Murba itu. Murba tani berlainan hasrat dan kemauannya dengan pedagang dan juru tulis kantor.

Dalam kaum pekerja sendiri ada pula bermacam-macam hasrat, paham dan kemauan menurut bagian pekerjaan, didikan dan sususan hidup masing-masing. Begitu pula dalam golongan tani dan pedagang, semuanya itu bisa diketahui dengan memakai cara berfikir yang berdasarkan MATERIALISME DAN DIALEKTIKA (lihat kitab MADILOG oleh Tan Malaka tahun 1924). Kalau satu pimpinan rakyat Murba mengerti betul akan hasrat dan kemauan tiap-tiap golongan dalam rakyat Murba yang bergerak itu, maka pimpinan tadi bisa pula mengambil tindakan juga sesuai dengan tingkatan aksi juga sudah tercapai. Seandainya seluruhnya rakyat Indonesia bisa dikerahkan sampai tercapai kemerdekaan nasional, maka pada titik ini rakyat akan berpecah dua. Golongan borjuis tak akan mau terus lagi, karena kemauan mereka buat memajukan modal kebangsaan saja. Merdeka buat mereka

berarti kemerdekaan buat mengembangkannya modal kebangsaan belaka. Kalau dalam Indonesia merdeka modal itu sudah jatuh ketangan mereka, maka mereka sudah sampai kepada hasratnya. Mereka akan tidak mau ditarik terus buat mendirikan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Kalau mereka ditarik juga maka boleh jadi sekali akan berbalik melawan rakyat Murba. Dari sifat revolusioner (mencapai kemerdekaan nasional) mereka akan bertukar menjadi kontra-revolusioner (melawan pekerja yang berdasarkan kolektivisme). Kalau mereka merasa lemah berhadapan dengan pekerja bangsa sendiri maka mereka tak akan segan menerima ataupun memanggil pertolongan dari luar negeri ialah kaum borjuis pula. Dalam batinnya kapitalis nasional itu bersifat internasional juga.

Seperti dalam hakekatnya pekerja dalam sesuatu negara itu bersifat internasional juga. Tetapi disebabkan oleh batasan negara yang ditentukan oleh politik dan sejarah masing- masing negara, diperdalam pula oleh perbedaan bangsa, bahasa dan kebudayaan masing- masing maka borjuis dan pekerja-pekerja masing-masing negara terikat kepada faham negara dan pandangan ke negara masing-masing. Pada tingkat mencapai kemerdekaan nasional, maka golongan borjuis bersetumpu kepada rakyat Murba. Tetapi kalau kemerdekaan nasional sudah tercapai dan pekerja mau terus ketingkat kolektivisme, maka golongan borjuis akan bersetumpu pada tani besar, pedagang tengan dan besar, sebagian golongan intelek, dan pekerja yang belum insyaf. Kalau terdesak, maka mereka akan menerima pertolongan imperialis, walaupun demikian sifat dan hasratnya borjuis tengan dan kecil itu, partai pekerja seperti kita tak boleh dan tak bisa mengabaikan mereka dalam tiap-tiap tingkat perjuangan. Mereka harus ditarik ke dalam medan perjuangan. Dalam perjuangan akan mencapai kemerdekaan nasional itu akan ternyata kegiatan dan keberanian tani kecil, pedagang kecil dan sebagian intelek borjuis itu. Mereka adalah satu pasukan yang perlu buat merebut kemerdekaan nasional itu.

Sebaiknya kalau mereka diabaikan, apalagi kalau dimushui, maka boleh dikatakan mustahil bisa merebut kemerdekaan nasional. Lebih mustahil pula membangunkan negara berdasarkan kolektivisme. Dengan sadar atau tidak, mereka dalam perjuangan nasional itu, akan bisa dijadikan perkakas oleh imperialisme dan dengan pertolongan borjusi nasional membasmi semua gerakan kaum pekerja yang revolusioner, berdasarkan kolektivisme.

Ikhtisar Pengerahan rakyat Murba

1. Karena rakyat terdiri tas berjenis-jenis golongan, maka hasrat dan kemauan dalam

rakyat juga berlain-lainan. Makin dekat tiap-tiap golongan itu kepada tujuan perjuangan,

makin susut kegiatannya bergantung kalau hasrat (ideal) sesuatu golongan sudah tercapai dan dipaksa meneruskan perjuangannya, maka golongan itu boleh jadi sekali akan membalik melawan bangsanya sendiri dan menerima pertolongan asing.

2. Pengerahan rakyat (Murba) seluruhnya buat mencapai tingkat kemerdekaan nasional

sampai ketingkat kolektivisme adalah perkara yang perlu sekali dijalankan. Tetapi harus diadakan segala persiapan buat meneruskan rakyat Murba bergerak, sesudah tinkat

kemerdekaan nasional dan konconya yang terbuka atau tersembunyi dalam dan luar negeri.

3. Tipu muslihat kelas (teknik dan strategy kelas)amat sulit dan berseluk-beluk. Ia selalu berubah menurut tempo dan tempat. Dalam kalangan Murba itu kawan sekarang, bisa menjadi musuh dikeesokan hari. Dalam perjuangan itu tingkat pemogokan ekonomi dihari ini besok boleh bertukar menjadi pemogokan ekonomi yang mengandung politik.

Demonstrasi damai dihari ini besok bertukar menjadi demonstrasi yang lebih keras dengan pemogokan. Mogok dan demonstrasi damai bisa menjadi berubah demonstrasi sabot, gerilya, terus menerus sampai kemerdekaan nasional dan sosial tercapai. Partai pekerja yang menuju kolektivisme harus mengetahui tiap-tiap golongan yang berjuang:

sifatnya, tingkat perjuangan yang sudah dicapai serta tindakan yang mesti diadakan pada tiap-tiap tingkat itu.

4. Keulungan satu partai pemimpin Murba, tiadalah terletak pada keberanian semata-

mata. Keberanian partai saja yang tiada disertai oleh perhubungan yang rapat dengan Murba dan pengetahuan dalam atas jiwanya Murba adalah satu rombongan kecil yang sanggup bekerja, tetapi sesudah berkorban tak dapatlah hasil yang sepatutnya dan secukupnya. Mereka karena terburu oleh nafsu sendiri saja, tiada disertai oleh nafsu Murba, jadi mudah dihancurkan oleh musuh. Partai Murba tulen jatuh dan berdiri dalam Murba. Ia bergerak serentak dan serempak dengan Murba dan di dalam Murba.

5. Pemimpin tentara perang membutuhkan satu kader opsir serta pengetahuan terkhusus

tentang siasat perang. Lagi pula pengetahuan teristimewa tentang pimpinan, latihan dan persenjataan sesuatu tentara perang. Pemimpin Murba membutuhkan suaru kader pemimpin, ialah partai dan pengetahuan terkhusus tentang siasat revolusi, yakni siasat kelas. Lagi pula pengetahuan istimewa tentang pimpinan, latihan dan persenjataan Murba. Pada suatu peperangan tekniklah yang memberi putusan yang terakhir tetapi pada suatu revolusi, baikpun nasional ataupun sosial jiwa Murbalah (massa-psycology) yang memberi putusan terakhir. Buat mempelajari jiwa Murba itu ilmu materialisme dan dialektikalah yang akan memberi pertolongan.

6. Dalam keadaan persenjataan republik Indonesia seperti sekarang yang dalam keadaan

serba kurang itu, maka senjata kita harus dipusatkan pada senjata diplomasi terhadap keluar negeri dan pergerarakan rakyat Murba di dalam negeri. Perjuangan senjata ialah

sekedar untuk memperkuat perjuangan ekonomi, politik dan diplomasi. Semboyan kita 75% senjata batin dan 25% senjata lahir.

7. Kecerdikan dan ketetapan hati ialah perkara yang terpenting buat pimpinan Murba.

Persatuan dan disiplin adalah kunci kekuatan Murba.

(Manifesto Jakarta 1945)

Kutipan-Kutipan Thesis (Halaman-halaman 17, 18, dan 19)

Dalam hal strategi kepentingan Singapura lebih nyata lagi. Ambillah jangka dan bikin satu lingkaran (circel) dengan radius (straal) 1500 mil. Dalam lingkaran itu terletak Birma, Siam Annam, Filipina, seluruhnya republik Indonesia dan Australia. Itulah yang kita pernah namai Asilia (Asia-Australia). Menurut ahli barat penduduk di Asilia itu termasuk ke dalam satu bangsa. Sepintas lalu kelihatan abhwa bagian bumi ini dikuasai oleh iklim yang sama dan musim yang sama (musson). Jadi watak ekonominya pun mempunyai banyak persamaan. Berhubung dengan itu membutuhkan satu koordinasi perekonomian. Tetapi yang kita terutama mau kemukakan disini, ialah kepentingan lingkaran ini dipandang dari penjuru strategi. Dengan Singapura sebagai pusat maka menurut kekuatannya terbang pesawat dimasa perang dunia ke II. Asilia terletak dalam ‗flying radius‘ (lingkaran terbang). Lingkaran teknik atom (yang berada di Australia) tiada akan mengecilkan arti Singapura dan Asilia.

Nyatalah disini, bahwa Inggris menganggap Asilia dalam hal strategi, sebagai satu unit, kesatuan. Jepang tentu tak ketinggalan. Ini hari Singapura direbut Jepang pada tanggal 13 februari 1942, besoknya Singapura ditukar namanya menjadi Shonanto (Kota Gemilang).

Seluruh Asilia dinamainya selatan. Sri Wijaya dan majapahit sudah cukup mengerti akan persatuan daerah Asilia itu dalam segala-gala.

Gerakan politik, diplomasi dan strategi Sri Wijaya dan Majapahit juga dengan segala keinsyafan ditujukan kearah kesatuan daerah Asilia itu. Oleh orang Tionghoa pun semuanya dinamai Huanna (bahasa Hokkian). Sekarang kalau kita, rakyat Indonesia revolusioner, ingin mengadakan rencana yang praktis, yang penting buat kemakmuran dan terutama pula buat keamanan republik Indonesia sekarang dan dihari depan, maka tiadalah boleh kita ketinggalan oleh paham 500 tahun lampau (Majapahit) apalagi oleh paham yang sudah masak 1500 tahun lampau (Sri Wijaya). Berbahaya selalu keadaan republik Indonesia dalam ekonomi dan strategi kalau kita tidak insyaf akan artinya politik dan strategi Raffles dan Yamasita. Walaupun ada Federasi Perancis dan Filipina Merdeka, tetapi dengan adanya Hongkong (Inggris) maka praktisnya Asilia, adalah effecti dikuasai oleh armada Inggris. Ditangan imperialisme Inggrislah sebenarnya terletak kekuasaan ekonomi dan militer buat mengangkangi seluruh Asilia. Imperialisme Inggris dan Belanda dan Perancis sebagai boneka para sultan atau raja dan sebagian dari intelegensia sebagai kaki tangan maka dimasa damai dia engendali politik-ekonomi Asilia. Dengan Singapura sebagai pusat armada dan pesawat, serta australian putih dan ceylon sebagai garis kedua (teknik atom?), maka imperialisme Inggris diwaktu perang berniat menguasai seluruhnya Asilia (Asia-Australia). Mau tidak mau, dalam prakteknya Rep. Ind Merdeka 100% mestibertentang dengan imperialisme Inggris. Diwaktu damai kepentingan ekonomi Indonesia Merdeka 100% mesti bertentang dengan kepentingan ekonomi penjajah Inggris . dalam masa perang Singapura akan mengancam Indonesia merdeka, yang tiada mau diboneka0kan oleh imperialisme Inggris. Real politik, politik sebenarnya (bukan impian) memaksa Indonesia pada satu pihak berhadapan muka dengan imperialis Inggris. Maka real politiklah pula pada lain pihak yang akan memaksa Indonesia Merdeka mengumpulkan semua tenaga revolusioner dalam lingkaran Asilia, flying radius, buat ditumbuhkan kepada imperialisme Inggris.

Kita percaya bahwa taktik-strategi yang cerdas, organisasi yang plastis (cat seperti karet) dengan usaha yang penuh kesabaran dan ketetapan hati, kita sanggup berhadapan muka dengan imperiliasme Inggris singa ompong itu.

Maka berhubung dengan kesemuanya diataslah pula, semua percobaan diplomat ulung di Indonesia ini yang berusaha memisahkan Belanda dari Inggris dan mengadu-dombakan Inggris dengan belanda adalah seorang cerdik yang mencoba memisahkan dan mengadu- dombakan kepala buaya dengan ekornya. Semujur-mujurnya si diplomat ulung tadi dia Cuma bisa menghindarkan dirinya dari pukulan ekor buaya itu. Tetapi semalang- malangnya si cerdik itu dia pasti akan masuk lebih dalam dirangkungan buaya tadi.

Adalah tiga syarat yang terutama, kalau seseorang ingin hendak menjalankan diplomasi bersandar kepada devide et empera itu dalam keadaan revolusioner sekarang. Pertama kali kekuatan diri sendiri dan kepercayaan atas diri sendiri semestinya ada cukup. Kedua diplomasi ini mesti bersifat revolusioneryang ada dalam negara. Ketiga, diplomasi devide et empera, yang revolusioner itu mesti ditujukan kepada bangunan musuh yang mengandung pertentang sesungguhnya, ialah pertentang keperluan (ekonomi). Kalau seorang diplomat Indonesia yang revolusioner mengemukakan, pertentang tajam dalam

hal keperluan penting (vital interest) antara Inggris dan Amerika, bahkan dengan Australia (commonwealth-Inggris), dan pertentang itu terus akan berlaku selama Indonesia itu masih berada dalam ruangan kemerdekaan nasional, kita tak akan menyangkal (membantah). Memangnya diplomasi-bambu-runcing dengan MINIMUM PROGRAM berlaku dalam suasana pertentang hebat diantara gabungan kapitalisme dan imperialisme asing, yang berada di Indonesia dijaman Belanda.

Dalam revolusi atau peperangan, maka rakyat Indonesia dalam suasana dan keadaan internasional seperti sekarang, terpaksa berdiri atas kaki sendiri, pada organisasi sendiri, bersandar pada otak, hati dan diantung sendiri, pada kecerdasan, keberanian, dan ketabahan hati sendiri. Teristimewa pula mesti berdiri atas alat hidup sendiri dan senjata sendiri, walaupun hanya bambu runcing saja. Disamping kepercayaan dan tindakan berdasarkan kekuataan diri sendiri yang sebenarnya, barulah kita berusaha meluaskan lapangan perjuangan kedaerah yang memberi kemungkinan memberi hasil (Asilia). Baru bertindak begitu rupa, supaya dapat merebut simpati dan pertolongan indirek (pemogokan) dari suara umum (publik-opinion) di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Semata-mata menyandarkan paham, organisasi dan aksi atas kekuatan yang tiada bisa dipakai sekarang, karena jauh atau belum bisa keluar, ataupun kalau keluar belum tentu bisa dipakai menurut kehendak atau kepentingan kita, sama juga dengan sikap seseorang yang iniigin menamai diri seorang revolusioner, tetapi takut kepada revolusi. Dalam perjuangan yang sebenarnya ini memang nyata, siapa yang revolusioner diwaktu revolusi dan siapa yang revolusioner diwaktu damai: si pembelalang di dalam gelap, si penggertak dari sebalik gunung (halaman-halaman 17, 18, dan 19).

SAAT itu pada instansi, tingkat terakhirnya, ialah ketika kita mempunyai kekuatan sebesar-besarnya dan musuh sekecil-kecilnya. Pada saat itulah bisa dilakukan pukulan terakhir (strategic-blow).

Maksud pukulan terakhir itu ialah dengan cepat, sekonyong-konyongnya dan dengan kekuatan sebesar-besarnya menerkam rantai lemahnya tentara musuh dengan maksud memutuskan rantai organisasinya serta akhirnya menghancur-leburkan seluruhnya tentara musuh itu.

Dinegara jajahan yang kapitalistis, maka PARTAI KASTA PEKERJA pada tingkat pertama memimpin REVOLUSI ANTI-IMPERIALISME buat mendirikan NEGARA DEMOKRATIS, serta selanjutnya menurut keadaan dalam dan luar negara mendorong ke revolusi sosial, ialah seberapa bisa pula.

Taktik strategi perjuangan dinegara setengah feodalistis dan setengah kapitalistis dan di negara jajahan itu amat kompleks, sulit dan berhubungan dengan itu PARTAI KASTA PEKERJA, mestinya amat plastis sanggup menyesuaikan dirinya dengan keadaan dan tingkatnya (phase) revolusi dengan tiada bolehmelupakan ke-revolusionerannya. Bagaimana memimpin golongan yang sekarang revolusioner(borjuis tengahan dan bawahan ) dan besoknya sebelum atau sesudahnya mencapai KEMERDEKAAN DEMOKRATIS, bisa dengan sekejap mata membalik menjadi kontra-revolusioner, inilah persoalan yang sukar dalam keadaan begini.

Dalam perjuangan maju mundur itu, dengan teman seperjuangan (kaum borjuis atas, tengah dan bawah) yang sekarang kawan, besoknya bisa menjadi lawan itu, maka DISIPLIN PARTAI itu mestinya tegap seperti baja. Putusan yang diambil dengan persetujuan bulat, SUARA LEBIH dalam perundingan demokratis, serta masak-masak, mesti dijalankan oleh seluruhnya PARTAI bahkan oleh SUARA KURANG pun

(minority) ! (hal. 36).

Perhatikanlah SUARA LEBIH DAN PERUNDINGAN DEMOKRATIE

Sekarang saja (May 1946) sesudah rakyat Indonesia 3 ½ tahun lamanya menyaksikan dengan matanya sendiri kerendahan watak budipekerti, bahkan moralnya belanda memakai agama dan provinsialisme, bahkan nasionalisme dan sosialsime buat meruntuhkan republik Indonesia dan mengembalikan Indonesia ke status penjajahan

TUNTUTAN YANG NYATA DAN SEMBOYAN

Membentuk tuntutan politik dan ekonomi yang nyata dan dirasa oleh rakyat umumnnya dan kelas proletariat khususnya, adalah satu perbuatan yang amat sulit. Cuma mereka yang sudah faham betul tentang dasarnya filsafat MATERIALISME DIALEKTIS dan cukup paham tentang SEJARAH KEBUDAYAAN, PENGHIDUPAN dan JIWANYA RAKYAT INDONESIA- lah yang bisa membentuk TUNTUTAN POLITIK EKONOMI sera SEMBOYAN yang nyata dan terasa itu yang bisa menggetarkan JIWA seluruhnya rakyat mMurba berjuang itu, memperteguh imannya dan menimbulkan keikhlasan berkorban.

SEMBOYAN yang tepatlah yang menggetarkan jiwa rakyat perancis dalam asa pemberontakan tahun 1789, terhadap feodalisme, yang mendorong mereka berkorban menanam KEMERDEKAAN dan PERSAUDARAAN diseluruhnya benua Eropa.

SEMOYAN dan TUNTUTAN yang konkrit, yang terasa, yang dibentuk oleh satu PARTAI PROLETARIAT, yang sudah lolos dalam beberapa ujian MASSA AKSI, besar-kecil, politik dan ekonomi, PARTAI YANG CAKAP bijaksana mencocokkan semboyan dan tuntutan itu dengan JIWANYA proletariatt mesin dan tani di Rusia pada tiap-tiap PHASE perjuangannya itulah pada perkara yang maha penting dalam revolusi di Rusia.

Cukuplah sudah kalau diperingatkan saja bahwa setelah revolusi-nasional demokratis yang sempurna kelak sudah berlaku dan kemerdekaan 100% tercapai,maka MAXIMUM PROGRAM yakni SOSIALISME 100% akan segera dijalankan. Mungkin apa tidaknya SOSIALISME 100% bisa dijalankan, adalah sama sekali tergantung pada kekuatan lahir batin Indonesia sendiri dan keadaan disekitar Indonesia.

Memeriksa dan menguraikan kemungkinan sekitar Indonesia akan memakan banyak tempo dan tempat. Tetapi semua kemungkinan kita dilatkan, seperti berikut: pertama

perang dunia ke 3 timbul. Dalam hal ini,

berhadapan dengan persoalan sosialsime dalam suasana peperangan. Kemungkinan pertama ini membawa kemungkinan terlibat atau tidaknya Indonesia dalam perang dunia ke 3 itu. Kedua, dunia akan mengalami perdamaian beberapa lama sesudahnya kemerdekaan 100%tercapai. Dalam hal ini persoalan sosialisme di Indonesia harus diselesaikan dengan sifat dan cara berlainan dari pada waktu peperangan. (Thesis, hal.

tentulah sendirinya Indonesia akan

23)

Thesis Tahun 1946, 10/VI (HAL. 3 S/D 9)

Disekitarnya Pertentang

Pertentang yang menyolok mata dalam beberapa hal ikhwal kehidupan manusia dalam masyarakat sosialisme di Rusia dan dalam masyarakat kemodalan, seperti di Amerika, Inggris, dll, ialah:

1.

Dalam hal politik

Di Soviet Rusia. Pada permulaan revolusi ditahun 1917, maka pemerintah negara berdasarkan dikataturnya kaum proletar, dalam arti proletar mesin dan tanah di bawah impinan partai komunis, yang ber-anggota beberapa puluh ribu orang saja, memaksakan kemauannya atas eluruh penduduk Rusia, yang lebih kurang 150 juta itu. Dalam pemilihan umum yang baru lalu partai komunis dengan anggota dan calonnya sudah menjadi beberapa juta dan jumlah pemilih sudah hampir 100 juta orang. Kekuasaan tetap ditangannya pekerja dalam pabrik, tambang dan pertanian.

Di Dunia kemodalan:

sLm mAyRkT, SIMn KWKUan (birokrasi), kekayaan dan kebudayaan dipegang oleh kaum borjuis (bankir, pabrikant, saudagar dengan para pembantunya progesor, pembesar negara, pangreh praja, jurnalis, pendeta dsb), maka pemilihan umum itu Cuma berarti memmindahkan kekuasaan negara tangannya satu golongan kaum borjuis ketangan golongan borjuis yang lain. Dengan perkakas pemerintah yang berupa birokrasi, dibantu oleh alat propaganda yang kuat, maka beberapa biji kaum kapitalis itu bisa memaksakan kemauannya atas seluruh rakyat. Dalam masyarakat kapitalistis, maka demokrasi itu adalah satu kedok.

2. Dalam hal bahan

Soviet Rusia berbahagia mempunyai hampir semuanya macam bahan kodrat seperti arang, minya tanah dan listrik, hampir semuanya bahan logam, seperti besi, mas, perak, platina dll. Hampir semuanya bahan pemakaian, seperti kapas, wol, kayu, kecuali getah, tetapi bisa diganti, dan akhirnya makanan yang melimpah, karena tanahnya luas dan subur, Soviet Rusia tak begitu membutuhkan bahan dari luar.

Inggris Cuma kecukupan arang saja. Minyak didatangkan dari semua pelosol dunia, besi tak cukup, mesti didatangkan dari luar. Timah dari Malaya. Hampir semua logam yan lain-lain tak terdapat di Inggris. Kapas kurang halus dari Hindustan. Yang halus dari Sudan (Mesir). Getah dari Malaya. Cuma + 40% barang makanan bisa dihasilkan di negara Inggris sendiri. Sebagian besar dari daging atau gandum mesti didatangkan dari luar (Argentina,Australia, Hindustan, dll).

Amerika Serikat berbahagia pula memiliki alam yang mengandung hampir semuanya jenis bahan timah dan getah yang tidak ada di Amerika Serikat bisa diperoleh di Amerika Selatan. Cuma boleh jadi sekali minyak telah sudah hampir kering dipompa dari kandungan Amerika Serikat. Kapitalis Amerika sudah hampir insyaf akan hal itu. Sebab itulah maka standart Oil Co. mempertajam hidungnya mencium-cium dimana ada minyak dan sudah lama mempereat cengkeramannya pada kebanyakan sumber minyak di luar Amerika. Getah dan timahpun adalah persoalan terpenting buat perindustriam terpenting di Amerika Serikat ialah perindustrian oto dan pesawat terbang.

3. Dalam hal perburuhan

Dengan hancur luluhnya beberapa biji kapitalis serta jatuhnya alat produksi ditangan masyarakat buat masyarakat, dengan lenyapnya hasrat mencari untung, lenyapnya dasar produksi yang anarkistis dan lenyapnya kebiasaan berlomba-lomba menghasilkan dan menjual murah seperti di dunia kapitalistis, maka kedudukan rakyat di Soviet Rusia tidak

lagi bertinggi berendah, kedudukan buruh dan majikan, melainkan kedudukan mereka sama sebagai sesama pekerja.

Perbedaan tentulah tak akan lenyap begitu saja, karena terbawa oleh pengaruh lama dan pengaruh kapitalisme disekitar Soviet Rusia. Perbedaan terbawa pula oleh perbedaan pekerjaan, tetapi perbedaan itu makin lama makin berkurang, selama penghisapan tenaga kaum buruh oleh majikan tiada berlaku, selama produksi bukan dilakukan buat mencari untung oleh beberapa biji kapitalis yang berlomba-lomba, melainkan buat keperluan masyarakat seluruhnya menurut satu perhitungan, selamanya itulah pula krisis dan pengangguran tetap (permanent unemployment) tak akan dikenal di sosialistis Rusia.

Sekaya-kayanya Amerika (dan Inggris) dan selama penghasilan Cuma buat memburu untung sebesar-besarnya oleh beberapa ahli kapitalis dengan jalan berlomba-lomba mempertinggi teknik, mengurangi gaji buruh dan mengurangkan banyaknya buruh dipakai maka kedudukan rakyat dalam garis besarnya adalah kedudukan majikan dan buruh, bertinggi berendah dan kedudukan yang mengancam dan terancam.

Kaum buruh ialah bagian pendudukan yang terbesar dalam masyarakat itu, selalu terancam oleh pengangguran. Adapun pengangguran itu adalah suatu penyakit yang tetap terkandung oleh masyarakat kapitalisme. Penyakit pengangguran itu bisa lenyap kalau kapitalisme dan kaum kapitalis sendiri lenyap dari muka bumi Amerika, Inggris & Co.

Sebelum perang dunia kedua ini, maka pengangguran tetap di Amerika Serikat mengenai kurang lebih 11 juta orang dan Inggris kurang lebih 2 juta orang.

4. Dalam hal pertanian

Dengan lenyapnya Latifundia (tanah ningrat) yang sering ratusan K.M persegi luasnya dan lenyapnya kasta kaum ningrat di Rusia, maka lenyaplah pula tindasan dan isapan kaum ningrat atas tenaganya buruh tanah dan lenyaplah pula akhirnya proletar tanah dalam arti lama. Dengan kemajuan kolektivisme (kerja bersama) dan mekanisasi (pemakaian mesin) maka timbullah kaum pekerja tanah disamping pekerja pabrik dan tambang.

Kedudukan buruh terhadap majikan (tani terhadap tuan tanah) bertukar menjadi kedudukan pekerja terhadap pekerja sama rata.

Di Amerika dan Inggris penghisapan dan penindasan farmers (tuan tanah) besar dan menengah terhadap jutaan buruh tanah, ialah mereka yang hidup dengan gajinya semata-mata masih merajalela. Seperti buruh mesin maka buruh tanah di Amerika, Inggris dll, masih menderita tindasan dan penghisapan dan masih terancam oleh pengangguran yang mengenai jutaan manusia pada waktu yang tetap pasti datanganya.

5. Dalam hal kebangsaan

Di Soviet Rusia perbedaanbentuk badan, besar tubuh, warna kulit dan perbedaan bahasa dan kebudayaan satu golongan manusia dengan golongan manusia lainnya tiada lagi menimbulkan pertentang, pembencian dan permusuhan. Soviat Rusia sanggup memusatkan semua persamaan diantara satu golongan manusia dengan golongan manusia yang lain, umpamanya dalam keperluan hidup (politik dan ekonomi). Sanggup pula memberi keoonggaran pada perbedaan, umpamanya tentang bahasa dan

kebudayaan. Dengan memakai bahasa Rusia sebagai bahasa pengantar buat seluruhnya Soviet Rusia dan membiarkan bangsa kulit putih, Turkis, Mongolia memakai dan memajukan bahasanya sendiri dalam satu federasi besar atas sistem sosialisme, maka pertentangan kebangsaan hilang lenyap.

Pertentangan majikan dan buruh yang melekat pada sistem kapitalisme memperdalam perbedaan bangasa dan bangsa, dalam sesuatu masyarakat kapitalisme. Dalam negara Amerika Serikat yang membanggakan demokrasi dan kemerdekaan itu, ada tempat dalam kereta api umpamanya, yang tiada bisa dimasuki oleh bangsa negro. Bangsa yang malang ini acap kali menderita serangan kejam, yang termasyur di dunia dengan perkataan ‗lynch‘, ialah pukul sampai mati, kalau ada orang hitam yang melanggar atau disangka melanggar kehormatannya (perempuan) bangsa kulit putih. Orang berwarna di Afrika Selatan amat dipisahkan tempatnya dengan orang kulit putih baik dalam ekonomi politik ataupun pergaulan hari-hari saja. Dalam kereta kendaraan sering tertulis ‗for white men only‘, Cuma buat orang putih saja.

Masih segar dalam peringatan kita tulisan di Shanghai di kebun umum, ‗Chinese and dogs are not allowed‘, Tionghoa dan anjing dilarang masuk.

Kemungkinan pertentangan.

Sejarah masyarakat kita yang mengandung pertentangan anatara kapitalisme dengan sosialisme itu, logikanya, bisa menimbulkan 4 kemungkinan. 1e. Kapitalisme menang sosialisme lenyap, 2e. Keduanya sosialisme dan kapitalisme bersama-sama masyarakat manusia hilang lenyap, 3e. Kapitalisme dan sosialisme berkompromis, 4e. Sosialisme menang sempurna.

Bahwa kapitalisme akan menang sempurna dan sosialsime akan lenyap sama sekali, tidaklah mungkin. Sekarangpun dinegara kapitalisme yang sekuat-kuatnya, sosialsime adalah satu faktor, satu kekuatan yang tiada bisa dibatalkan. Di Amerika atau Inggris adalah undang-undang perburuhan yang menjamin penghidupan (walaupun sederhana) kaum proletar. Hak kaum buruh mendirikan kumpulan dan surat kabar dan mengirimkan wakilnya ke Dewan Perwakilan sudah lama diakui dan dijalankan di Amerika, Inggris dll, negara kapitalistis.

Bahwa sosialisme dan kapitalisme keduanya bersama masyarakat manusia akan lenyap dari muka bumi, tiadalah perlu banyak dirundingkan. Kemungkinan itu memang ada. Umpamanya kalau negara sosialistis dan serikatnya berperang habis-habisan dengan negara kapitalistis dan serikatnya memakai senjata yang tiada lagi mengindahkan pri kemanusiaan, tetapi kemungkinan ini beralasan pula atas kemungkinan, bahwa manusia itu sudah tak berakal dan berkemanusiaan llagi. Dengan perkataan lain: manusia itu bukan manusia lagi.

Lebih mungin hal 3, bahwa kapitalisme dan sosialsime akan berkompromis, atau dengan jalan ambil-mengambil, atau sebagai dua sistem yang bertentangan, tetapi hidup sebagai dua tetangga yang berdamai atas dasar hormat-menghormati.

Kemungkinan ini bisa berlaku, kalau beberapa syarat bisa pula berlaku, pertama: Pada satu pihak dunia sosialistis cukup mempufyai bahan buat perindustriannya buat menjamin penghidupan yang cukup tinggi buat penduduknya dan teknik yang cukup kuat buat pertahanan masyarakatnya terhadap serangan dunia kapitalistis yang mungkin terjadi. Pada lain pihak dunia kapitalistis mesti tetap punya pasar buat membeli bahan

pabrik, pasar buat menjual hasil pabrik dan daerah buat menanam modalnya. Karena modalnya dan pabriknya kaum kapitalis senantiasa bertambah besar, dan senantiasa bertambah besar itu adalah syarat hidupnya kapitalisme pada satu pihak, tetapi pada pihak lain jajahan dan pasar sekarang saja sudah amat sempit buat seluruhnya kapitalisme di dunia, maka susahlah kalau tidak mustahil, yang dunia kapitalisme bisa terus hidupnya. Atau dunia kapitalisme akan terpaksa bertempur dengan dunia sosialisme atau akan eletus oleh kegembungan diri sendiri.

Tiap-tiap krisis, pengangguran dan pemogokan umum di dunia kapitalistis di waktu damaipun, akan menambah impati kaum proletar di negara kapitalistis terhadap negara sosialistis yang tak mengenal penyakit krisis, pengangguran dan pemogokan umum semacam itu.

Sebaliknya pulsa kebusukan negara kapitalistis itu akan menambah cemburu, kecurigaan dan kebencian kaum kapitalis di negara kapitalistis terhadap kemakmuran dan ketentraman sosial dari negara sosialistis itu. Apa lagi di waktu revolusi dalam salah satu negara kapitalistis atau dimasa peperangan imperialistis, susahlah buat negara sosialistis dan negara kapitalis buat menjauhi peperangan satu sama lainnya.

Kedua: Pembagian hasil diantara kaum kapitalis dan kaum buruh, yang berupa untung dll, (termasuk bunga uang gaji dan pensiun) buat kaum borjuis serta buat kaum proletar, haruslah semakin lama semakin mendekati sama rata dengan tidak melalui jalan revolusi. Tetapi kesulitan penyelesaian itu dengan damai amat susah sekali diperbolehkan, alau tidak mustahil. Karena memperbesar upah buat kelas buruh berarti memperkecil untung buat kaum borjuis. Kalau untungnya kecil, maka bunga uang buat meminjam modal itu sendirinya naik. Sendirinya pula harga barang pemakaian sehari- hari naik. Sendirinya pula, akhitnya upah yang diperbesar tadi dibatalkan oleh harga barang keperluan buruh sehari-hari naik itu. Kenaikan upah itu tak berguna. Kaum buruh perlu berusaha kembali menaikkan upahnya dengan jalan pemogokan. Lagi pula kalau upah buruh amat tinggi, maka kaum borjuis mencoba mendapatkan dan memakai mesin baru yang lebih cepat dan kuat (mekanisasi). Dengan begini maka terpaksa pula sebagian kaum buruh dilepas, sebab masih baru yang cepat kuat tadi membutuhkan sedikit orang saja. Dengan begitu timbullah pula pengangguran. Semua percobaan buat menaikan upah dengan jalan pemogokan dari pihak kaum pekerja dan jalan mengurangi banyak pekerja (pengangguran) dengan jalan mekanisasi dari pihak kaum kapitalis, ialah bunga api yang seaktu-waktu bisa membakar minyak tanah revolusi dalam masyarakat kapitalisme.

Ketiga: Kedudukan negara penjajah dan negara terjajah (seperti Inggris dan Hindustan) mesti dengan secara damai pula mendekati keadaan dua negara merdeka. Tetapi buat negara penjajah ini berarti kehilangan pasar buat membeli saham yang tetap murah, kehilangan pasar tempat menjual hasil pabriknya dengan harga tetap mahal dan kehilangan daerah yang tetap aman buat menanam modal yang tetap besar untungnya. Karena kemerdekaan tulen buat negara terjajah itu berarti mengendali harga bahannya dan dimana bisa memakai bahannya itu untuk pabriknya sendiri. Selainnya dari pada itu memakai pasar dalam negaranya sendiri buat menjual hasil pabriknya sendiri dan kalau perlu dengan menolak sama sekali masuknya atau mempajaki barang pabrik negara asing yang bisa menjadi saingan buat hasil pabriknya sendiri. Akhirnya dimana ada kesempatan negara dulunya terjajah, tetapi sekarang merdeka tulen (andaikata secara kapitalistis itu), tentulah akan memakai daerahnya sendiri buat menanam modalnya sendiri. Pada tingkat permulaan mungkin sesuatu negara baru merdeka itu mau dan perlu memakai modal asing, tetapi dalam tempo sedikit saja modal asing itu akan takut dan ngeri

sendiri melihat kemajuan dan persaingan hebat dari negara baru itu. Umumnya Asia dan Afrika mempunyai banyak bahan dan tenaga yang murah harganya. Membangunkan kapitalisme Asia berarti buat kapitalisme Eropa dan Amerika membangunkan saingan perdagangan yang kalau diperbandingkan dengan perdagangan Jepang sebelum perang dunia II, adalah seperti perbandingan gajah dengan lalat.

Keempat: Ketiganya almarhum negara fasis, yakni Jerman, Italia dan Jepang tetap bisa dikangkangi dan diinjak lehernya. Ini membutuhkan kekuatan dan persatuan kokoh antara bekas sekutu, ialah Inggris-Amerika dan Rusia. Sedikit saja kekuatan atau persatuan mengangkangi dan menekan ketiga negara yang berjumlah penduduk + 200 juta itu longgar, maka akan bangunlah kembali negara bekas fasis yang akan mendapatkan bermacam-macam jalan buat menimbulkan kembali perlawanan membalas dendam. Sekarang belum lagi negara memang berunding dengan negara-kalah buat menentukan nasib negara-kalah itu, sudah timbul percekcokan hebat antara 3 negara- menang yakni, Inggris, Amerika dan Rusia.

Boleh jadi kalau perundingan sudah dimulai akan timbul pertentangan malah permusuhan yang hebat, yang tak bisa dipadamkan. Sekarang pun sudah terdengar- dengar kabar, bahwa masing-masing negara-menang akan mengurus perdamaian dengan bagian negara-kalah yang didudukinya saja. Dengan begitu, maka negara-kalah akan berupa terbagi-bagi. Tetapi begitu pula negara-menang. Jikalau negara-menang itu, terbagi-bagi, maka akan terbukalah jalan buat mereka negara-kalah dengan jalan tertutup, setengah terbuka dan akhirnya terang-terangan bersatu-diri dan mengadakan perlawanan seperti dilakukan oleh Jerman itu kelak akan dipimpin oleh partai fasis pula atau oleh bentuk lain, bolehlah diserahkan kepada sejarah saja. Tetapi sudahlah beberapa kali sejarah Jerman membuktikan, bahwa bangsa Jerman tak bisa dikangkangi dikendali oleh negara asing ataupun dibagi-bagi kedaulatan kemerdekaan, daerah atau administrasinya, buat selama-lamanya.

Mengingat kesulitannya 4 perkara ini sebagai syarat buat negara sosialistis dan negara kapitalistis mengadakan kompromis, maka keadaan berkompromis itu adalah seolah-olah surga yang mesti didapat setelah melalui jembatan rambut menyeberangi api neraka.

Kemungkinan terakhir, ke 4 ialah: Kemenangan sempurna pada pihak sosialisme atas kapitalisme. Ini tiada akan berarti, bahwa peninggalan-peninggalan kapitalisme akan lenyap sama sekali. Sebab hasilnya (positive-result) yang dibawa olehkapitalisme ialah teknik, administrasi dan kerja bersama dalam sesuatu perindustrian, akan dibawa terus, bahkan dimajukan oleh sosialisme. Kemenangan sosialis yang semprna berarti, bahwa sosialismelah sistem yang akan diakui dan dijalankan diseluruh dunia. Dalam garis besarnya ini berarti:usaha mencocokkan produksi dan distribusi dengan cara teratur (rational), kerja bersama (cooperation), dan tergabung (coordination), untuk kemakmuran tiap-tiap anggota masyarakat yang bekerja diseluruh dunia. Akan lenyaplah cara menghasilkan menurut kehendak dan keperluan seseorang kapitalis, buat mencari untung seorang diri. Akan hilanglah perlombaan menjual murah dan mencari untung besar dan berhubung dengan itu, hilanglah pengangguran, krisis imperialisme, peperangan dan penjajahan.

Alasan buat kepastian kemenangan sosialisme atau kapitalisme adalah bermacam- macam, diantaranya adalah:

Pertama: Dalam hal Politik

Dalam masyarakat kapitalistis, maka beberapa biji kapitalis dengan hartanya membikin birokrasi dan penyewa kaki-tangannya buat menindas dan menghisap golongan tertindash dalam masyarakat, ialah pekerja otak, mesin dan tanah. Dalam masyarakat sosialistis, maka harta perseorangan yang mengacaukan masyarakat itu sudah dimiliki oleh masyarakat buat kemakmuran tiap-tiap anggota masyarakat.

Dalam masyarakat semacam ini kekuasaan politik tiada lagi dimonopoli oleh beberapa biji kapitalis buat kepentingan dirinya sendiri, melainkan oleh semua yang bekerja.

Kedua: Dalam hal Ekonomi

Dalam masyarakat kapitalistis pendapat baru (teknik) dipakai buat pemukul perusahaan saingan. Mesin baru bisa mengadakan barang yang lebih banyak, lebih bagus dan lebih murah. Tetapi sebaliknya sering pula mesin baru oleh satu monopoli, terus dibuang atau dipendam karena takut, kalau mesin baru menimbulkan terlampau banyak pengangguran, jadinya menggooncangkan pasar pula. Kalau pengangguran tiba-tiba terjadi, maka sebagian besar kaum buruh kehilangan upah. Jadinya mereka tidak sanggup membeli apa-apa walaupun mesin baru mengadakan barang yang bagus dan murah. Kalau barang tak laku, pabrik terpaksa pula ditutup. Masyarakat sosialistis, yang tidak berdasarkan concurrentie itu, melainkan berdasarkan perhitungan atas apa dan berapa keperluannya masyarakat itu, akan bergembira kalau seseorang anggotanya mendapatkan mesin baru buat memperbanyak, mempercepat dan memperbagus hasilnya. Syahdan keperluan dan keinginan manusia itu tak ada hingganya. Sesudah keperluan makan tertutup, orang mau pakaian. Sesudah keduanya tertutup, orang mau kendaraan. Seterusnya orang mau berjalan-jalan, bunyi-bunyian dll. Makanan dan minumanpun ada bermacam-macam tingkatnya, dari yang perlu buat hidupseperti nasi, sampai ke goreng ayam, perkedel dll. Pakaian: dari celana karung sampai mori, palmbeach dsbnya. Kendaraan: dari kuda dan kereta angin sampai ke oto dan pesawat terbang. Bunyi-bunyian dari biola sampai radio. Demikianlah seterusnya, dari yang paling perlu sampai ke setengah mewah dan mewah. Berhubung dengan tidak ada batasnya keinginan manusia itu maka tak pula ada batasnya buat kemajuan teknik dan temannya, ialah ilmu. Produksi bisa membumbung setinggi-tingginya.

Seperti sudah dibayangkan lebih dahulu, maka dalam masyarakat kapitalistis tak ada kecocokan antara produksi dan distribusi. Barang-barang dihasilkan oleh beberapa biji kapitalis, dengan tak merembukkan banyak dan sifat barangnya satu sama lainnya, menurut rancangan. Kemudian barang tadi dijual dipasar dan dibeli oleh yang mampu saja. Mungkin barang itu kurang, kalau kemampuan si pembeli ada. Celakanya kalau barang itu kekurangan, maka harganya naik, untungnyabesar. Dalam hal ini beberapa biji kapitalis yang sama-sama menghasilkan barang yang kurang tadi, dengan tidak berembuk satu sama lainnya memperbanyak barang sekuat-kuatnya. Tiba-tiba barang itu melimpah, harganya merosot. Untung kecil, hilang berganti menjadi kerugian. Pabrik terus ditutup dan pengangguran timbul. Dalam masyarakat sosialistis, makabanyak dan sifatnya barang yang akan dihasilkan dihitung lebih dahulu oleh satu badan yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri. Banyak dan sifatnya hasil semua (pabrik, tambang, kebon) yang sudah dimiliki oleh masyarakat itu, dicocokkan lebih dahulu dengan keperluan dan haknya anggota masyarakat yang bekerja. Banyak hasil pemakaian hasil tiadalah diombang-ambingkan oleh kekuatan membeli seseorang anggota masyarakat lagi, melainkan didasarkan atas perhitungan yang nyata, ialah keperluan masing-masing anggota yang bekerja. Dalam masyarakat yang sosialistis perhitungan itu masih berdasarkan upah orang yang kerja, atau sebagian atas upah dan sebagian atas keperluan manusia umpamanya. Dalam masyarakat komunisme penghasilan (produksi)

berdasarkan: tiap-tiap orang kerja menurut kesanggupannya. Pembagian hasil berdasarkan tiap-tiap orang yang mengambil hasil menurut keperluannya.

Ketiga: Dalam hal Diplomasi

Dalam masyarakat dunia kapitalistis maka negara yang kapitalistis yang kaya dan kuat dalam kemiliteran dan teknik bisa memaksakan kemauannya sendiri atas negara yang lemah buat dijadikan jajahan : ialah pasar tetap buat membeli bahan, menjual hasil pabrik dan mengembangkan modalnya. Pemaksaan itu (imperialisme) menimbulkan peperangan dengan negara lemah tadi atau dengan negara lain karena ingin pula mempunyai jajahan seperti itu atau lantaran takut kalau negara perampas bermula akan bertambah kuat dan bertambah berbahaya buat dirinya sendiri.

Dalam masyarakat dunia sosialistis, semua bahan dunia bisa dihitung dan dikumpulkan oleh satu badan yang dibentuk oleh masyarakat dunia itu. Barang bahan itu bila diperoleh dari sesuatu negara yang punya, dengan penukaran dengan hasil pabrik atau uangnya negara yang membutuhkan barang bahan itu. Dengan hilangnya rebut-merebut pasar buat membeli bahan dan menjual barang pabrik dengan lenyapnya usaha mencari untung dan bunga uang, maka hilanglah pula alasan dan dasar yang terpenting buat peperangan.

Keuntungan masyarakat sosialistis dalam hal sosial, kebudayaan dll, amat terlampau banyak. Tetapi kelebihan kekokohan masyarakat sosialistis dalam hal politik, ekonomi dan diplomasi seperti diuraikan diatas tadi sudah cukup memberi jaminan bahwa masyarakat sosialistis pasti menang. Sejarah masyarakat sudah membuktikan bahwa masyarakat yang lebih kokoh ekonomi, teknik dan politiknya menggantikan yang lebih lemah; masyarakat feodal menggantikan masyarakat budak dan masyarakat kapitalistis menggantikan masyarakat feodalistis. Sekaranglah jamannya buat masyarakat sosialistis menggulingkan masyarakat kapitalistis. Atau dunia terpaksa kembali menjunjung undang-undang rimba (the law of the jungle) dalam pergaulan satu negara dengan yang lain. Dengan bertambah cepatnya maju teknik perang (bom atom) maka bertambah cepatlah pula masyarakat kapitalistis itu didorong oleh undang-undang rimba itu ke perang dunia ke III sampai hancur lebur semuanya masyarakat kita manusia.

Gerpolek: 17 MEI 1948

(Hal. 11, 12 44 dan 45)

Rakyat Indonesia tiadalah bisa memperoleh jaminan bagi hidupnya dengan mendapatkan hak politik, ialah kedaulatan dan kekuasaan politik semata-mata, bilamana kapitalis asing masih terus merajalela disini

Revolusi Indonesia, bukanlah revolusi nasional semata-mata, seperti diciptakan beberapa gelintir orang Indonesia, yang maksudnya Cuma membela atau merebut kursi buat dirinya saja, dan bersiap sedia menyerahkan semua sumber pencaharian yang terpenting kepada semuanya bangsaasing, baik musuh atau sahabat,

Revolusi indonesia, mau tak mau terpaksa mengambil tindakan-ekonomi dan sosial serentak dengan tindakan merebut dan membela kemerdekaan 100%. Revolusi kemerdekaan Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan dibungkusi dengan revolusi-

nasional saja.perang kemerdekaan Indonesia harus diisi dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus.

Baru kalau disamping kekuasaan politik 100% berada lebih kurang 60% kekuasaan atas ekonomi modern ditangan Murba Indonesia, barulah revolusi-nasional itu ada artinya. Barulah ada jaminan hidup bagi Murba Indonesia. Barulah pula kaum Murba akan giat bertindak menghadapi musuh dan mengorbankan jiwa raganya buat memperoleh masyarakat baru bagi diri dan turunannya

Tetapi jika pemerintah Indonesia kembali dipegang oleh kaki tangan kapitalis asing, walaupun bangsa Indonesia sendiri dan 100% perusahaan modern berada ditangan kapitalis-asing, seperti di zaman Hindia Belanda maka revolusi nasional itu berarti membatalkan proklamasi dan kemerdekaan nasional dan mengembalikakn kapitalisme dan imperialisme internasional

Perbaikan perekonomian rakyat Indonesia haruslah diperbaiki dengan pertolongan rakyat sendiri dan watak rakyat sendiri. Tani, buruh, perdagangan Indonesia sendiri harus campur dalam merencanakan produksi (penghasilan), distribusi (pembagian) serta pertukarangan barang. Tidak cukup selusin atau lebih orang yang bertitel ini atau itu saja memikirkan begini atau begitu buat kaum buruh dan tani, zonder membawa kaum buruh dan tani itu sendiri ke dalam kincir produksi dan distribusi. Tetapi buruh dan tani Indonesia Cuma baru akan giat berkerja, kalau mereka merasakan sendiri faedahnya rencana ekonomi yang begini atau begitu

Penyakit perekonomian rakyat Indonesia sudah sampai begitu mendalam disebabkan oleh wabah kapitalisme Belanda selama 350 tahun dan wabah kapitalisme- militarisme Jepang 31/2 tahun. Penyakit perekonomian rakyat tak bisa diobati pil dan puyer lagi, melainkan harus disembuhkan oleh operasi, oleh pembedahan.

Terutama sekali perekonomian, rakyat Indonesia baru dapat diselenggarakan dalam republik yang merdeka 100%, yang sekurang-kurangnya 60% memiliki dan menguasai produksi, distribusi upah, export dan import. (Lihat Rencana Ekonomi oleh Tan Malaka)

V. Organisasi

“Menuju republik Indonesia” (April 1924)

Disiplin revolusioner mempunyai persamaan dengan disiplin militer dalam hal, bahwa putusan mesti dilaksanakan. Tapi kedua disiplin itu berbeda dalam hal, bahwa disiplin revolusioner itu bukanlah ―ketaatan-mati‖. Sedangkan Komando Pusat Militer tidak menghendakkan dari para prajurit, bahwa mereka mesti mengerti perintah yang dikeluarkan, maka bagi Pusat Pimpinan Revolusioner adalah syarat yang pertama-tama bahwa para anggota harus dengan sempurna mengerti sepenuhnya tentang putusan yang mereka mesti kerjakan itu ! Tidak saja arti dari putusan itu tapi setiap anggota juga mesti memahami keharusan untuk pengabdian ikhlas terhadap pelaksanaan dan penyelesaian putusan tsb, sekalipun itu seandainya bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Sesuatu putusan revolusioner didapatkan setelah perundingan yang masak-masak dari persoalannya. Dalam perundingan tsb, setiap anggota mempunyai hak yang sepenuh-penuhnya untuk mengeluarkan pendiriannya dan memperrahankannya dan menentang pendapat anggota lainnya yang disetujuinya dengan tiada pandang bulu, atau menyokong pendapat yang disetujuinya sendiri. Pada pungutan suara ada hak padanya

untuk memberikan suaranya secara bebas, sehingga dia dapat menggunakan pengaruh dirinya sepenuh-penuhnya atas setiap putusan partai yang diambil. Tapi, seandainya, sekalipun setelah dia ber-oposisi, tapi jumlah anggota yang terbanyak mengambil suatu putusan yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri, maka dia harus tunduk pada putusan yang diambil itu dan sebagai anggota ataupun pemimpin dia harus menjalankan putusan tsb. Dengan pengabdian yang tulus dan ikhlas.

Jika tidak demikian tidaklah mungkin dihimpun dan dipusatkan kekuatan yang bulat- padu dan massal revolusioner dari partai. Sesuatu partai dimana setiap anggotanya tetap bersitegang-leher bergantung kepada pendapat masing-masing sendiri-sendiri saja dan mensabot pelaksanaan dari putusan partai, tidak akan memiliki daya dan kekuatan sesuatu apapun. (dikutip dari halaman 19).

Massa Aksi 1926

Hal. 46

Disiplin & Demokrasi

Pertukaran susunan negara feodalistis dengan kapitalistis yang cepat dan tidak menurut kemauan alam menyebabkan bangsa Indonesia berubah cepat caranya berfikir. Tetapi perubahan cara berfikir ini biasanya tercecer oleh perubahan ekonomi. Umunya bangsa kita hidup dengan penghidupan lahir modern di zaman kapitalistis, tapi caranya berfikir masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu seperti menganut Mahabrata, pelbagai kepercayaan dan tahayul kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat dll, masih terus seperti kanak-kanan dan berfikiran fantastis.

Sebagaimana perbedaan tingkat dalam industrialisasi demikian pulalah perbedaan fikiran penduduk di berbagai daerah Indoonesia. Kita tunjukkan saja perbedaan kemajuan fikiran antara penduduk Jawa dan saudara-saudara kita di Halmahera atau antara saudara-saudara di Surabaya dan Semarang yang sadar itu dengan penduduk desa yang tidak berindustri. Dimana kapitalisme tumbuh serta berurat dan berakar, dimana mulailah hidup rasionalisme dan fikiran yang sehat serta lenyaplah dengan perlahan- lahan kepercayaan kepada segala tahayul dan sulap. Jadi psykologi dan ideologi jiwa dan akal rakyat Indonesia sejalan dengan kecerdasan kapitalisme yang senantiasa berubah- rubah. Yang lama lenyap dan yang baru menjadi cerdas.

Sukar sekali membawa sekalian perbedaan fikiran yang sedang dalam transformasi itu kepada satu cita-cita yang sama membangun dan tak berubah. Karena itu pekerjaan yang berat sekali bagi kaum revolusioner akan membawa seluruh rakyat Indonesia kepada garis-garis yang sesuai dan selaras dengan aksi-aksi Marxistis. Ia mudah tergelincir menjadi tindakan cari untung, anarki dan mempercayai jimat-jimat

Satu partai revolusioner telah gabungan orang-orang yang bersamaan pandangan dan perbuatannya dalam revolusi. Dan sebaik-baiknya perbuatan revolusioner tiap-tiap anggota bersamaan satu dengan lainnya dan dipusatkan.

Buat menghidangkan sesuatu perasaan yang kurang baik dari tiap-tiap anggota partai mestilah tiap-tiap orang diberi hak bersuara mengemukakan dan mempertahankan keyakinannya dengan seluas-luasnya. Dan sesuatu keputusan partai mestilah dianggap sebagai hasil permusyawaratan dan pertimbangan bersama-sama yang matang dari seluruh anggota. Tiap-tiap permusyawaratan hendaknyalah dijalankan dengan secara

demokratis yang sesungguhnya. Tiap-tiap tanda yang berbau demokrasi dan aristokrasi mesti dicabut hingga keakar-akarnya. Tetapi birokrasi dan aristokrasme dalam partai tak dapat dihapuskan dengan ―maki-makian‖ atau dengan meninju meja tetapi, dengan membiasakan bertukar fikiran yang merdeka dan kerja bersama-sama dari semua anggota. Tiap-tiap keputusan partai mesti diambil menurut suara yang terbanyak. Jika satu keputusan sudah diterima oleh suara yang terbanyak mestilah suara yang tersedikit meskipun bertentangan dengan keyakinannya ―tunduk‖ kepada putusan dan dengan jujur menjalankan keputusan itu. Jika tidak begitu niatnya tak akan pernah satu partai mencapai tenaga yang revolusioner. Putusan yang ―setengah betul‖, tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan lebih baik dari pada keputusan yang ―bagus sekali‖ tetapi dikhianati oleh seluruh anggota.

Partai mesti mempunyai ―peraturan besi‖, barulah ia kuasa memusatkan perbuatan partai. Partai mesti mempunyai alat-alat revolusioner untuk memeriksa dan memperbaiki sekalian perbuatan anggota. Belum lagi mencukupi, bila seorang ―mengakui setuju‖ dengan sesuatu keputusan atau peraturan partai. Ia mesti ―membuktikan dengan perbuatan‖ bahwa ia menjalankan keputusan itu dengan betul dan setia terhadap partai. Perbuatan itu biasanya berupa seperti mencari kawan, dalam surat-surat kabar partai, kursus, serikat pekerja dan mengerjakan administrasi dan organisasi partai. Jika ia tak memenuhi hal itu atau ―terbukti‖, bahwa ia tidak setiap kepada partai, mestilah dijalankan disiplin. Lebih baik ia keluar dari partaidari pada ia merusak partai atau memberikan teladan busuk kepada anggota-anggota yang lain, sebagai seorang revolusioner pemalas.

Tujuan politik, ekonomi dan sosial yang revolusioner dari satu partai untuk sesuatu negeri yang tertentu dan jalan yang ditempuh bersama, diterangkan dengan ―program nasional‖ yang revolusioner. Ialah penunjuk jalan bagi partai dan mesti diakui, dijalankan, dipertahakan dan di-kembang-kembangkan oleh tiap-tiap anggota. Perihal program nasional kita dan sifat-sifatnya yang umu sudah cukup.

Tugas dan organisasi Partai.

Partai itu menjalankan tujuan dan pelopor (Van-guarde) pergerakan di segala tingkatan revolusi. Penglihatannya lebih jauh dan senantiasa berjuang dibarisan depan sekali da karena itu ia menjadi ―kepala dan jantung‖ yang revolusioner

Yang berjuang dinegeri-negeri kolonial itu terutama sekali kaum buruh dan tani revolusioner.

Di Indonesia borjuasi bumiputera tak dapat memimpin, moril dan materiil. (hal. 51-52).

Agitasi itu mesti didasarkan kepada penghidupan massa yang sebenarnya. Tak cukup dengan meneriakkan kemerdekaan saja. Kita harus menunjukkan kemerdekaan dengan alasan yang sebenarnya. Kita harus menerangkan semua penderitaan rakyat sehari-hari seperti gaji, pajak, kerja berat, kediaman bobrok, perlakuan orang atas yang menghina dan kejam. Seorang agitator yang cakap setiap waktu harus sedia memecahkan sekalian soal yang bersangkutan dengan penghidupan materiil Pak Kromo dengan benar dan revolusioner. Juga harus senantiasa bersedia menarik dan memimpin pak-pak kromo itu kepada aksi politik dan ekonomi yang memperbaiki kebutuhan materiil mereka. Tak boleh kita harapkan, masssa akan masuk ke dalam perjuangan karena didorong cita-cita saja.

Massa (di timur atau di barat) hanya berjuang sebab kebutuhan materiil yang terpenting. Dengan perjuangan ekonomi seperti pemogokan atau pemboikotan serta ditunjang oleh demontrasi politik, kita akan membawanya kepada tujuan yang penghabisan !

Segala agitasi mestilah cocok dengan keadaan ditiap-tiap daerah daerah. Penerangan terhadap seorang buruh industri tak boleh disamakan dengan seorang tani, sebab keduanya mempunyai kebutuhan materiil yang berlainan. Seorang tani di Jawa pun tak boleh disamakan dengan seorang petani di Sumetera sebab keduanya mempunytai soal- soal tanah dan ekonomi yang berlainan.

Jika agitasi itu benar nyata dan mengenal segala kebutuhan rakyat yang tergencet- gencet pada tiap-tiap daerah di Indonesia dan bilamana program tuntutan dan semboyan-semboyan kita ―sungguh‖ difahamkan, dan dirasai oleh seluruh lapisan penduduk dan jika pemimpin partai liat, tangkas dan cerdas mempergunakan sekalian pertentangan yang ada di dalam masyarakat Indonesia, niatnya perhubungan yang perlu ―dengan‖ pengar uh yang diingini ―atas‖ dan akhirnya kepercayaan yang dibutuhkan ―dari‖ massa didapat oleh partai

Kekuatan-kekuatan partai yang revolusioner tidak dapat diperoleh dengan pembicaraan-pembicaraan akademistis di dalam partai atau menggunakan kesempatan saja terhadap bangsa kita yang sengsara dan dihina-hinakan, tetapi dengan senantiasa mendorongkan partai itu ke dalam perjuangan ekonomi dan politik yang besar ataupun yang menciptakan ―disiplin‖ yang diingini dan memberi pengaruh yang tak dapat ditinggalkan tas dan kepercayaan yang dibutuhkan dari: massa, dan lain dari itu kelihatan, kecerdasan dalam perjuangan. Itulah syarat-syarat yang akan membawa kita ke kemenangan. Bagaimana sekalipun rupa organisasi itu di dalam satu koloni seperti Indonesia kaum buruhlah yang paling aktif dan radikal. Organisasi tak boleh menghalang- halangi keaktifan itu. Sebaliknya ia mesti tahu mempergunakannya dan dapat menghidup-hidupkannya. Organisasi itu semestinya jadi gabungan dan pemusatan segala keaktifan kaum buruh.

Semestinya diikhtiarkan supaya kaum buruh sebanyak-banyaknya duduk dalam partai dan memegang pimpinan. Partai revolusioner kita akan bertenaga untuk hidup yang sebesar- besarnya dan sesehat-sehatnya bilamana benih-benih partai ditanam pada tiap-tiap pusat industri.

Jika satu partai revolusioner sungguh ingin menjadi pemimpin massa di Indonesia terlebih dulu partai itu sendiri harus dipimpin sebaik-baiknya. Organisasi partai ialah kesimpulan dari beberapa susunan partai. Dengan [erkataan lain boleh dikatakan jadi ―tali nyawa‖ dari partai, jadi yang ―seperlu-perlunya‖, misalnya seperti penyusunan, latihan, pendidikan bagi pemimpin dan anggota-anggotanya. Tambahan pula partai mesti berhubungan rapat dengan masa terutama dalam saat yang penting, dengan segala golongan rakyat dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, takkan ada pimpinan yang revolusioenr. (hal. 54/56)

Kutipan-Kutipan Thesis, 10/VI 1946

Golongan apakah yang lebih pantas lagi dalam masyarakat buat menjalankan perubahan masyarakat kapitalistis itu menjadi masyarakat sosialistis (anti-kapitalistis) selainnya dari pada golongan yang sehari-hari diisap dan ditindas dalam pekerjaannya dalam semua perusahaann kapitalistis? Dalam perusahaan kapitalistis, yang menghasilkan barang besar-besaran dengan alat mesin modern dan administrasi secara modern pulalah

terdapat proletariatt modern. Disinilah proletariatt diikatkan pada mesin modern, diorganisir dan di disiplin secara modern, scientific menurut ilmu.

Didalam perusahaan modern inilah sesuatu partai pekerja harusnya mencari cara buat dijadikan motive force, kodrat penggerak revolusi sosial. Tingkat pertama yang baiknya ditempuh oleh pekerja-Murba dalam dunia organisasi ialah pakbon. Sebagian (tak semuanya) pekerja yang insyaf akan keadaan hidupnya mempersatukan diri buat maksud yang sama (lama kerja, hak mogok dll). Dari pakbon sebagai organisasi buruh tingkat pertama inilah partai pekerja seharusnya mencari calon buat anggota-anggotanya. Dari anggota pakbon-lah disaring para anggota partai pekerja, ialah pelopor, kodrat- penggerak, motive-force dalam revolusi sosial. Tak pula perlu banyak asal saja cerdas, jujur, aktiv dan bisa memimpin atau mempengaruhi seluruhnya pakbon tadi.

Syahdan dalam gerakan rakyat berperang, maka kita lihat pertama kader-opsir, yang memimpin tentara tetap. Disekitarnya tentara-tetap di bawah pimpinan kader-opsir itu kita lihat reserve dan seluruhnya rakyat.

Memang para saudagar kecil bangsa Indonesia terdesak oleh saudagar asing. Majikan perusahaan kecil Indonesia (perusahaan batik umpamanya terdesak majikan perusahaan asing). Semuanya pedagang kecil, tukang warubg kecil, sampai penjual sate dan gado- gado, disampingnya warga-kota yang kecil seperti jurutulis, tukang, intelegensia-miskin, yang semuanya kita namai saja warga-miskin, terdesak sungguh oleh kapital asing. Tetapi tiada langsung terdesaknya. Mereka berada di luar kebun, tambang, pabrik, kereta dan perkapalan asing. Mereka tiada diikat oleh mesin, administrasi, organisasi dan disiplinnya kalau mereka dijadikan motive-force dalam gerakan revolusioner. Setengah atau satu lusin diantara mereka yang cerdas, jujur dan berani, yang terikat oleh filsafat materialisme dialektis dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat tentulah patut diterima di dalam partai. Tetapi umumnya mereka warga-miskin ini berhasrat dan berfilsafat hidup yang berlainan dari pada proletariatt modern. Memasukkan mereka terlampau banyak ke dalam partai niatnya akan memperlemah dasar tujuan partai majority, lebih dari setengahnya banyak warga kecil dala, partai mudah membelokkan partai kelapangan anarkisme atau opportunisme, putsch atau kontra-revolusi. Majority sebagian besar dari pada anggota sesuatu partai pekerja buat menjaga kesehatannya partai itu harus terdiri dari proletariat-industri. Para pekerja industri beratlah yang sepatutnya mendapat perhatian pertama buat dijadikan anggota partai pekerja.

Indonesia belum sampai ketingkat perindustrian-berat dan baru berada pada permulaan industri enteng, seperti perusahaan kain, kertas, tinta dan pena. Tetapi perkebunan, pertambangan, pengangkutan, serta perdagangan sudah dijalankan secara modern sekali dan mempunyai sifat internasional. Kepada perusahaan yang paling modern mesinnya, yang paling up to date (baru) administrasinya, yang paling penting hasilnya buat dalam dan luar Indonesia dan akhirnya kepada buruh yang paling banyak terpusat, paling tersusun-terdisiplin, jadinya mereka yang paling merasa pula isapan dan tindas- menindaslah perhatian dan usaha yang pertama seharusnya ditujukan.

Perusahaan lain-lainnya pun mesti mendapat perhatian sepenuh-penuhnya pula. Perusahaan itu, ialah perusahaan besi dan bengkel seperti bengkel manggarai di Jakarta. Haruslah pula dimasuki ratusan kebun modern dan pabrik kecil-kecil dimana-mana. Perusahaan kereta api, perkapalan, kantor, sekolah. (hal.31-32)

Menurut filsafat materialisme yang bersandar pada dialektisme, pertentangan, maka pikiran revolusioner itu melantun (terugkaatsen, rebound) kembali kepada matter, kebendaan, seperti penghidupan, produksi, distribusi: akhirnya kepada staat dan politik. Pada tingkat pertama keadaan hidup mempengaruhi jiwa (psychology). Pada tingkat kedua jiwa tadi hendak mempengaruhi, bahkan membentuk baru keadaan hidup, membongkar staat dan produksi-distribusi (ekonomi) lama dan membangunkan yang baru. Jiwa semacam ini dinamai revolusioner.

Ringkasnya dimusim krisislah bisa diharapkan tentara revolusioner yang besar, giat- berlatih secara massa-aksi seperi mogok: demonstrasi yang mempunyai maksud yang pasti-terbatas disertai oleh tuntutan pasti-terbatas pula (clear-cut-aim). Dalam latihan itu kelak bisa ternyata beberapa jauhnya rakyat Murba yang beraksi itu bisa dipimpin dengan selamat, ialah supaya pengorbanan bisa sekecil-kecilnya dan hasil yang diperoleh adalah sebesar-besarnya. (hal.35)

Disiplin itu mudah dijalankan kalau memang sebagian besar anggotanya sendiri terdiri dari proletariat industri modern yang sudah paham benar atas materialisme dialektis. Susah atau mustahil dijalankan kalau sebagian besar anggotanya terdiri dari borjusi kecil (tengah-cilik & non Murba lain-lain).

Lebih mudah disuruh maju diwaktu krisis, kalau terlampau banyak ber-anggota warga- miskin, yang umumnya condong kepada fasisme atau anarkisme itu. Lebih mudah disuruh mundur diwaktu kemakmuran, kalau terlampau banyak ber-anggota warga miskin dan tengah, karena mereka umumnya condong kepada opportunisme (hal. 36) lihat & pahamkan: keterangan istilah Murba.

Dari “Uraian Mendadak” – 7 NOVEMBER 1948

(Hal. 26, 27, 28, 29 dan 31)

Partai. Sifat ― Partai Murba‖ ialah menggalan rakyat Murba. Dan saudara sekalian, yang akan menjadi kader, yang bekerja buat dan untuk Murba, dari Murba. Saudara yang akan memimmpin gerakan seluruh Murba di Indonesia buat melanjutkan perjuangan kita. Jadi bukan kader terpisah dari Murba, yang terpisah dari rakyat, tetapi yang di tengah-tengah Murba. Maka harus ada kontak rapat dengan Murba, ialah buruh dan tani.

Apabila kita mendapat kepercayaan penuh, baru kita bisa menamakan diri ― Partai Murba‖. Apa syarat buat mendapat kepercayaan, autoriteit Murba buruh dan tani? Dengan membawa isme-isme saja dan berdebat-debat habis-habisan saja, kita belum lagi menjadi pemimpin Murba. Kita terjun kebawah. Dari bawah kembali keatas buat merundingkan apa pengalaman kita di bawah. Kalau kita tidak bisa mendapat kontak jiwa dengan jiwa, kita tidak akan mendapat kepercayaan: kita tidak bisa menjalankan disiplin; tidak bisa menasehati Murba; Murba tak mau dipanggil, kalau diserang musuh, karena kita tiada mendapat kepercayaan penuh dari Murba.

Buat mendapatkan kepercayaan penuh itu, haruslah kita senantiasa berhubungan dengan Murba, sepaya mengerti benar-benar kepentingan Murba sehari-hari, walaupun rupanya perkara kecil saja.

Soal tempat: Kita namakan partai kita Partai Murba. Tetapi kalau pusat atau markasnya akal-kita berada ditengah-tengah rombongan rumah yang indah permai di dalam kota,

atau kita cuma berdebat tentang isme-isme itu saja antara penduduk kota terpelajar dan hidup makmur saaja, kita tidak akan mendapat kontak dengan kaum Murba.

Jadi supaya kita sehari-hari bisa mendapat kontak dengan Murba, kita perlu campur dan berkumpul dengan mereka. Kalau kita membimbing kaum Murba mesin, maka carilah pabrik dimana Murba menggerakkan mesin buat hidupnya sehari-hari. Pergilah kekebun atau bekerjalah dikebun. Tempat itu yang kita cari. Jangan tempat terasing menghindarkan pergaulan dengan mereka itu.tidak bisa kita selami jiwa mereka, tidak bisa kita ketahui soal hidup mereka itu, kalau tidak bisa mendapat kepercayaan dan perkataan kita akanmelajang diatas kepala mereka. Mungkin kita bisa membikin mereka ketawa atau menangis, tetapi tidak bisa menggerakkan mereka, mundur kalau terpaksa, maju kalau perlu.

Tempat Murba ialah dibengkel, dipabrik,dipelabuhan, dimana-mana kaum gembel berkumpul dan juga kaum intelek, juga diantara mereka yang sekarang menjadi gembel, buat mengadakan propaganda dan agitasi.

Soal illegal dan legal! Kalau negara menjamin demokrasi dan menjamin hak berkumpul, mengadakan pers, tidak melarang atau menyerobot pabrik kertas atau mengangkapi orangnya, karena kalimat yang tidak enak didengar oleh yang berkuasa, selama demokrasi itu berjalan ditas rel, kita pun akan menghormatinya. Tetapi kalau cuma tinggal diatas kertas saja, maka kitapun akan mengambil sikap menurut keadaan. Illegal dan legal, ialah soal bagaimana keadaan, bagaimana suasana dalam negara, bagaimana sifat undang-undang yang ada. Maka kalau semua belum terang walaupun terang tertulis, tetapi belum terang dijalankan, karena pelbagai alasan, maka kita berjalan seperti amphibi, berjumpa air seperti kapal, berjumpa darat seperti tank. Dalam keadaan demokrasi borjuis pun kita harus siap dengan kesanggupan kerja-illegal. Jadi soal legal dan illegal bukanlah soal kita sendiri semata-mata, melainkan juga soal dari lain pihak, soal tata-negara dan pelaksanaan undang-undang yang ada dalam negara. Dan kalau kita dalam keadaan semacam itu mesti mengadakan persiapan dan kalau perlu berjalan di bawah tanah, maka itu bukan salah kita, tetapi karena keadaan berjuang, dipaksakan oleh siasatnya perjuangan. Jangan dianggap illegal berbisik-bisik dalam gelap, bagaimana mengamuk dan mengadakan putch, berbisik-bisik bagaimana mengumpulakan tenaga dan membikin putch, tetapi walaupun berjalan di bawah tanah tetap berhubungan dengan Murba.

Tidak boleh kita lepas dari Murba, setiap waktu mengetahui kemauan dan semangat Murba. Jadi tidak berarti merangkak-rangkak di bawah tanah berbisik- bisik

dan Propaganda: Artinya bukan pula menghasut terus-

menerus. Memang orang bisa dihasut sampai marah dan sampai memukul, tetapi orang bisa membalik memukul diri kita sendiri. Kalau tak ada yang dipukul lagi mungkin kita sendiri yang kelak menjadi sasaran. Terutama kalau tak ada wujud yang lebih mulia. Kita bisa perdalam keyakinan itu atas dasar-dasar kehidupan sehari-hari. Kalau pergi

ketempat buruh bbekerja di kereta api umpamanya, kita dasarkan propaganda kita atas penghidupan Murba-kereta api itu pula dll. Tak perlu kita mulai dengan mendewa- dewakan pemimpin ini atau itu. Cukuplah, kalau prinsip, cara-cara bekerja ataupun semangat serta sifat jujur-konsekuen salah seorang pemimpin yang dihormati. ― Berapa gaji, berapa orang keluarga, berapa kebutuhan sehari-hari, dan apa kekurangannya.‖ Inilah yang kita kemukakan. Dengan uraian atau pertanyaan yang sederhana berdasarkan pengalaman sehari-hari kita meningkat keatas melalui jenjang logika dan dialektika.

Agitasi

Dengan demikian kita bisa menerangkan akibatnya blokade Belanda, politik infiltrasi Belanda dan politik adu-domba. Begitulah pula kita bisa sampai kepada akibatnya perjanjian Linggarjati dan Renville. Akhirnya kita sampai kepada politiknya partai ini atau itu, isme ini atau itu. Sendirinya kita akan sampai usul cochran.

Kita membikin agitasi buat membangunkan pengertian, membangunkan keyakinan, memberikan jalan melalui organisasi dan mementingkan organisasi: Bersatu kita teguh, berpecah kita jatuh. Dengan organisasi kita bisa menggerakkan Murba.

Kunjungilah kaum Murba. Janganlah bosan memberi pertolongan atau penerangan, juga kepada Murba-bura huruf. Kita memerlukan perhubungan (kontak). Dan kontak berarti bersama-sama menyelesaikan persoalan penghidupan sehari-hari. Perlihatkan perhatian penuh kepada kaum Murba. Berikanlahbantuan lahir-bathin kepada mereka dimana perlunya. Saudara sendiri mengerti apa artinya ramah-tamah bagi kaum Murba Indonesia. Pakailah semua kesempatan buat mengadakan kontak dengan sikap ramah- tamah dan semangat tolong-menolong.

Andaikata saudara berada pada suatu desa atau kampung yang terdiri dari 30 rumah. Bentuklah satu komite kecil untuk pembagian pekerjaan. A 10 rumah, B 10 rumah, dan C 10 rumah. Sekali seminggu atau lebih, datangilah rumah-rumah itu dan tanyakan keperluan penduduknya. Persoalkanlah keperluan hidup mereka sehari-hari. Mungkin akhirnya saudara sampai kepada minimum dan maximum program, kepada Linggarjati dan Renville.

Rundingkanlah dan putuskanlah dalam komite tadi segala sesuatu sebeumnnya saudara menjumpai mereka yang membutuhkan petunjuk. Pelajarilah apa yang dibutuhkan oleh rakyat Murba. Periksalah dimana terdapat barang yang berlebihan dan yang kekurangan diantara barang kepentingan hidup seperti beras, sayur, garam, minyak, pacul, parang dll

V. Organinasi

“Menuju republik Indonesia” (April 1924)

Disiplin revolusioner mempunyai persamaan dengan disiplin militer dalam hal, bahwa putusan mesti dilaksanakan. Tapi kedua disiplin itu berbeda dalam hal, bahwa disiplin revolusioner itu bukanlah ―ketaatan-mati‖. Sedangkan Komando Pusat Militer tidak menghendakkan dari para prajurit, bahwa mereka mesti mengerti perintah yang dikeluarkan, maka bagi Pusat Pimpinan Revolusioner adalah syarat yang pertama-tama bahwa para anggota harus dengan sempurna mengerti sepenuhnya tentang putusan yang mereka mesti kerjakan itu ! Tidak saja arti dari putusan itu tapi setiap anggota juga mesti memahami keharusan untuk pengabdian ikhlas terhadap pelaksanaan dan penyelesaian putusan tsb, sekalipun itu seandainya bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Sesuatu putusan revolusioner didapatkan setelah perundingan yang masak-masak dari persoalannya. Dalam perundingan tsb, setiap anggota mempunyai hak yang sepenuh-penuhnya untuk mengeluarkan pendiriannya dan memperrahankannya dan

menentang pendapat anggota lainnya yang disetujuinya dengan tiada pandang bulu, atau menyokong pendapat yang disetujuinya sendiri. Pada pungutan suara ada hak padanya untuk memberikan suaranya secara bebas, sehingga dia dapat menggunakan pengaruh dirinya sepenuh-penuhnya atas setiap putusan partai yang diambil. Tapi, seandainya, sekalipun setelah dia ber-oposisi, tapi jumlah anggota yang terbanyak mengambil suatu putusan yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri, maka dia harus tunduk pada putusan yang diambil itu dan sebagai anggota ataupun pemimpin dia harus menjalankan putusan tsb. Dengan pengabdian yang tulus dan ikhlas.

Jika tidak demikian tidaklah mungkin dihimpun dan dipusatkan kekuatan yang bulat- padu dan massal revolusioner dari partai. Sesuatu partai dimana setiap anggotanya tetap bersitegang-leher bergantung kepada pendapat masing-masing sendiri-sendiri saja dan mensabot pelaksanaan dari putusan partai, tidak akan memiliki daya dan kekuatan sesuatu apapun. (dikutip dari halaman 19).

Massa Aksi 1926

Hal. 46

Disiplin & Demokrasi

Pertukaran susunan negara feodalistis dengan kapitalistis yang cepat dan tidak menurut kemauan alam menyebabkan bangsa Indonesia berubah cepat caranya berfikir. Tetapi perubahan cara berfikir ini biasanya tercecer oleh perubahan ekonomi. Umunya bangsa kita hidup dengan penghidupan lahir modern di zaman kapitalistis, tapi caranya berfikir masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu seperti menganut Mahabrata, pelbagai kepercayaan dan tahayul kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat dll, masih terus seperti kanak-kanan dan berfikiran fantastis.

Sebagaimana perbedaan tingkat dalam industrialisasi demikian pulalah perbedaan fikiran penduduk di berbagai daerah Indoonesia. Kita tunjukkan saja perbedaan kemajuan fikiran antara penduduk Jawa dan saudara-saudara kita di Halmahera atau antara saudara-saudara di Surabaya dan Semarang yang sadar itu dengan penduduk desa yang tidak berindustri. Dimana kapitalisme tumbuh serta berurat dan berakar, dimana mulailah hidup rasionalisme dan fikiran yang sehat serta lenyaplah dengan perlahan- lahan kepercayaan kepada segala tahayul dan sulap. Jadi psykologi dan ideologi jiwa dan akal rakyat Indonesia sejalan dengan kecerdasan kapitalisme yang senantiasa berubah- rubah. Yang lama lenyap dan yang baru menjadi cerdas.

Sukar sekali membawa sekalian perbedaan fikiran yang sedang dalam transformasi itu kepada satu cita-cita yang sama membangun dan tak berubah. Karena itu pekerjaan yang berat sekali bagi kaum revolusioner akan membawa seluruh rakyat Indonesia kepada garis-garis yang sesuai dan selaras dengan aksi-aksi Marxistis. Ia mudah tergelincir menjadi tindakan cari untung, anarki dan mempercayai jimat-jimat

Satu partai revolusioner telah gabungan orang-orang yang bersamaan pandangan dan perbuatannya dalam revolusi. Dan sebaik-baiknya perbuatan revolusioner tiap-tiap anggota bersamaan satu dengan lainnya dan dipusatkan.

Buat menghidangkan sesuatu perasaan yang kurang baik dari tiap-tiap anggota partai mestilah tiap-tiap orang diberi hak bersuara mengemukakan dan mempertahankan keyakinannya dengan seluas-luasnya. Dan sesuatu keputusan partai mestilah dianggap sebagai hasil permusyawaratan dan pertimbangan bersama-sama yang matang dari seluruh anggota. Tiap-tiap permusyawaratan hendaknyalah dijalankan dengan secara demokratis yang sesungguhnya. Tiap-tiap tanda yang berbau demokrasi dan aristokrasi mesti dicabut hingga keakar-akarnya. Tetapi birokrasi dan aristokrasme dalam partai tak dapat dihapuskan dengan ―maki-makian‖ atau dengan meninju meja tetapi, dengan membiasakan bertukar fikiran yang merdeka dan kerja bersama-sama dari semua anggota. Tiap-tiap keputusan partai mesti diambil menurut suara yang terbanyak. Jika satu keputusan sudah diterima oleh suara yang terbanyak mestilah suara yang tersedikit meskipun bertentangan dengan keyakinannya ―tunduk‖ kepada putusan dan dengan jujur menjalankan keputusan itu. Jika tidak begitu niatnya tak akan pernah satu partai mencapai tenaga yang revolusioner. Putusan yang ―setengah betul‖, tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan lebih baik dari pada keputusan yang ―bagus sekali‖ tetapi dikhianati oleh seluruh anggota.

Partai mesti mempunyai ―peraturan besi‖, barulah ia kuasa memusatkan perbuatan partai. Partai mesti mempunyai alat-alat revolusioner untuk memeriksa dan memperbaiki sekalian perbuatan anggota. Belum lagi mencukupi, bila seorang ―mengakui setuju‖ dengan sesuatu keputusan atau peraturan partai. Ia mesti ―membuktikan dengan perbuatan‖ bahwa ia menjalankan keputusan itu dengan betul dan setia terhadap partai. Perbuatan itu biasanya berupa seperti mencari kawan, dalam surat-surat kabar partai, kursus, serikat pekerja dan mengerjakan administrasi dan organisasi partai. Jika ia tak memenuhi hal itu atau ―terbukti‖, bahwa ia tidak setiap kepada partai, mestilah dijalankan disiplin. Lebih baik ia keluar dari partaidari pada ia merusak partai atau memberikan teladan busuk kepada anggota-anggota yang lain, sebagai seorang revolusioner pemalas.

Tujuan politik, ekonomi dan sosial yang revolusioner dari satu partai untuk sesuatu negeri yang tertentu dan jalan yang ditempuh bersama, diterangkan dengan ―program nasional‖ yang revolusioner. Ialah penunjuk jalan bagi partai dan mesti diakui, dijalankan, dipertahakan dan di-kembang-kembangkan oleh tiap-tiap anggota. Perihal program nasional kita dan sifat-sifatnya yang umu sudah cukup.

Tugas dan organisasi Partai.

Partai itu menjalankan tujuan dan pelopor (Van-guarde) pergerakan di segala tingkatan revolusi. Penglihatannya lebih jauh dan senantiasa berjuang dibarisan depan sekali da karena itu ia menjadi ―kepala dan jantung‖ yang revolusioner

Yang berjuang dinegeri-negeri kolonial itu terutama sekali kaum buruh dan tani revolusioner.

Di Indonesia borjuasi bumiputera tak dapat memimpin, moril dan materiil. (hal. 51-52).

Agitasi itu mesti didasarkan kepada penghidupan massa yang sebenarnya. Tak cukup dengan meneriakkan kemerdekaan saja. Kita harus menunjukkan kemerdekaan dengan alasan yang sebenarnya. Kita harus menerangkan semua penderitaan rakyat sehari-hari seperti gaji, pajak, kerja berat, kediaman bobrok, perlakuan orang atas yang menghina dan kejam. Seorang agitator yang cakap setiap waktu harus sedia memecahkan sekalian soal yang bersangkutan dengan penghidupan materiil Pak Kromo dengan benar dan

revolusioner. Juga harus senantiasa bersedia menarik dan memimpin pak-pak kromo itu kepada aksi politik dan ekonomi yang memperbaiki kebutuhan materiil mereka. Tak boleh kita harapkan, masssa akan masuk ke dalam perjuangan karena didorong cita-cita saja.

Massa (di timur atau di barat) hanya berjuang sebab kebutuhan materiil yang terpenting. Dengan perjuangan ekonomi seperti pemogokan atau pemboikotan serta ditunjang oleh demontrasi politik, kita akan membawanya kepada tujuan yang penghabisan !

Segala agitasi mestilah cocok dengan keadaan ditiap-tiap daerah daerah. Penerangan terhadap seorang buruh industri tak boleh disamakan dengan seorang tani, sebab keduanya mempunyai kebutuhan materiil yang berlainan. Seorang tani di Jawa pun tak boleh disamakan dengan seorang petani di Sumetera sebab keduanya mempunytai soal- soal tanah dan ekonomi yang berlainan.

Jika agitasi itu benar nyata dan mengenal segala kebutuhan rakyat yang tergencet- gencet pada tiap-tiap daerah di Indonesia dan bilamana program tuntutan dan semboyan-semboyan kita ―sungguh‖ difahamkan, dan dirasai oleh seluruh lapisan penduduk dan jika pemimpin partai liat, tangkas dan cerdas mempergunakan sekalian pertentangan yang ada di dalam masyarakat Indonesia, niatnya perhubungan yang perlu ―dengan‖ pengar uh yang diingini ―atas‖ dan akhirnya kepercayaan yang dibutuhkan ―dari‖ massa didapat oleh partai

Kekuatan-kekuatan partai yang revolusioner tidak dapat diperoleh dengan pembicaraan-pembicaraan akademistis di dalam partai atau menggunakan kesempatan saja terhadap bangsa kita yang sengsara dan dihina-hinakan, tetapi dengan senantiasa mendorongkan partai itu ke dalam perjuangan ekonomi dan politik yang besar ataupun yang menciptakan ―disiplin‖ yang diingini dan memberi pengaruh yang tak dapat ditinggalkan tas dan kepercayaan yang dibutuhkan dari: massa, dan lain dari itu kelihatan, kecerdasan dalam perjuangan. Itulah syarat-syarat yang akan membawa kita ke kemenangan. Bagaimana sekalipun rupa organisasi itu di dalam satu koloni seperti Indonesia kaum buruhlah yang paling aktif dan radikal. Organisasi tak boleh menghalang- halangi keaktifan itu. Sebaliknya ia mesti tahu mempergunakannya dan dapat menghidup-hidupkannya. Organisasi itu semestinya jadi gabungan dan pemusatan segala keaktifan kaum buruh.

Semestinya diikhtiarkan supaya kaum buruh sebanyak-banyaknya duduk dalam partai dan memegang pimpinan. Partai revolusioner kita akan bertenaga untuk hidup yang sebesar- besarnya dan sesehat-sehatnya bilamana benih-benih partai ditanam pada tiap-tiap pusat industri.

Jika satu partai revolusioner sungguh ingin menjadi pemimpin massa di Indonesia terlebih dulu partai itu sendiri harus dipimpin sebaik-baiknya. Organisasi partai ialah kesimpulan dari beberapa susunan partai. Dengan [erkataan lain boleh dikatakan jadi ―tali nyawa‖ dari partai, jadi yang ―seperlu-perlunya‖, misalnya seperti penyusunan, latihan, pendidikan bagi pemimpin dan anggota-anggotanya. Tambahan pula partai mesti berhubungan rapat dengan masa terutama dalam saat yang penting, dengan segala golongan rakyat dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, takkan ada pimpinan yang revolusioenr. (hal. 54/56)

Kutipan-Kutipan Thesis, 10/VI 1946

Golongan apakah yang lebih pantas lagi dalam masyarakat buat menjalankan perubahan masyarakat kapitalistis itu menjadi masyarakat sosialistis (anti-kapitalistis) selainnya dari pada golongan yang sehari-hari diisap dan ditindas dalam pekerjaannya dalam semua perusahaann kapitalistis? Dalam perusahaan kapitalistis, yang menghasilkan barang besar-besaran dengan alat mesin modern dan administrasi secara modern pulalah terdapat proletariatt modern. Disinilah proletariatt diikatkan pada mesin modern, diorganisir dan di disiplin secara modern, scientific menurut ilmu.

Di dalam perusahaan modern inilah sesuatu partai pekerja harusnya mencari cara buat dijadikan motive force, kodrat penggerak revolusi sosial. Tingkat pertama yang baiknya ditempuh oleh pekerja-Murba dalam dunia organisasi ialah pakbon. Sebagian (tak semuanya) pekerja yang insyaf akan keadaan hidupnya mempersatukan diri buat maksud yang sama (lama kerja, hak mogok dll). Dari pakbon sebagai organisasi buruh tingkat pertama inilah partai pekerja seharusnya mencari calon buat anggota-anggotanya. Dari anggota pakbon-lah disaring para anggota partai pekerja, ialah pelopor, kodrat- penggerak, motive-force dalam revolusi sosial. Tak pula perlu banyak asal saja cerdas, jujur, aktiv dan bisa memimpin atau mempengaruhi seluruhnya pakbon tadi.

Syahdan dalam gerakan rakyat berperang, maka kita lihat pertama kader-opsir, yang memimpin tentara tetap. Disekitarnya tentara-tetap di bawah pimpinan kader-opsir itu kita lihat reserve dan seluruhnya rakyat.

Memang para saudagar kecil bangsa Indonesia terdesak oleh saudagar asing. Majikan perusahaan kecil Indonesia (perusahaan batik umpamanya terdesak majikan perusahaan asing). Semuanya pedagang kecil, tukang warubg kecil, sampai penjual sate dan gado- gado, disampingnya warga-kota yang kecil seperti jurutulis, tukang, intelegensia-miskin, yang semuanya kita namai saja warga-miskin, terdesak sungguh oleh kapital asing. Tetapi tiada langsung terdesaknya. Mereka berada di luar kebun, tambang, pabrik, kereta dan perkapalan asing. Mereka tiada diikat oleh mesin, administrasi, organisasi dan disiplinnya kalau mereka dijadikan motive-force dalam gerakan revolusioner. Setengah atau satu lusin diantara mereka yang cerdas, jujur dan berani, yang terikat oleh filsafat materialisme dialektis dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat tentulah patut diterima di dalam partai. Tetapi umumnya mereka warga-miskin ini berhasrat dan berfilsafat hidup yang berlainan dari pada proletariatt modern. Memasukkan mereka terlampau banyak ke dalam partai niatnya akan memperlemah dasar tujuan partai majority, lebih dari setengahnya banyak warga kecil dala, partai mudah membelokkan partai kelapangan anarkisme atau opportunisme, putsch atau kontra-revolusi. Majority sebagian besar dari pada anggota sesuatu partai pekerja buat menjaga kesehatannya partai itu harus terdiri dari proletariat-industri. Para pekerja industri beratlah yang sepatutnya mendapat perhatian pertama buat dijadikan anggota partai pekerja.

Indonesia belum sampai ketingkat perindustrian-berat dan baru berada pada permulaan industri enteng, seperti perusahaan kain, kertas, tinta dan pena. Tetapi perkebunan, pertambangan, pengangkutan, serta perdagangan sudah dijalankan secara modern sekali dan mempunyai sifat internasional. Kepada perusahaan yang paling modern mesinnya, yang paling up to date (baru) administrasinya, yang paling penting hasilnya buat dalam dan luar Indonesia dan akhirnya kepada buruh yang paling banyak terpusat, paling tersusun-terdisiplin, jadinya mereka yang paling merasa pula isapan dan tindas- menindaslah perhatian dan usaha yang pertama seharusnya ditujukan.

Perusahaan lain-lainnya pun mesti mendapat perhatian sepenuh-penuhnya pula. Perusahaan itu, ialah perusahaan besi dan bengkel seperti bengkel manggarai di Jakarta. Haruslah pula dimasuki ratusan kebun modern dan pabrik kecil-kecil dimana-mana. Perusahaan kereta api, perkapalan, kantor, sekolah. (hal.31-32)

Menurut filsafat materialisme yang bersandar pada dialektisme, pertentangan, maka pikiran revolusioner itu melantun (terugkaatsen, rebound) kembali kepada matter, kebendaan, seperti penghidupan, produksi, distribusi: akhirnya kepada staat dan politik. Pada tingkat pertama keadaan hidup mempengaruhi jiwa (psychology). Pada tingkat kedua jiwa tadi hendak mempengaruhi, bahkan membentuk baru keadaan hidup, membongkar staat dan produksi-distribusi (ekonomi) lama dan membangunkan yang baru. Jiwa semacam ini dinamai revolusioner.

Ringkasnya dimusim krisislah bisa diharapkan tentara revolusioner yang besar, giat- berlatih secara massa-aksi seperi mogok: demonstrasi yang mempunyai maksud yang pasti-terbatas disertai oleh tuntutan pasti-terbatas pula (clear-cut-aim). Dalam latihan itu kelak bisa ternyata beberapa jauhnya rakyat Murba yang beraksi itu bisa dipimpin dengan selamat, ialah supaya pengorbanan bisa sekecil-kecilnya dan hasil yang diperoleh adalah sebesar-besarnya. (hal.35)

Disiplin itu mudah dijalankan kalau memang sebagian besar anggotanya sendiri terdiri dari proletariat industri modern yang sudah paham benar atas materialisme dialektis. Susah atau mustahil dijalankan kalau sebagian besar anggotanya terdiri dari borjusi kecil (tengah-cilik & non Murba lain-lain).

Lebih mudah disuruh maju diwaktu krisis, kalau terlampau banyak ber-anggota warga- miskin, yang umumnya condong kepada fasisme atau anarkisme itu. Lebih mudah disuruh mundur diwaktu kemakmuran, kalau terlampau banyak ber-anggota warga miskin dan tengah, karena mereka umumnya condong kepada opportunisme (hal. 36) lihat & pahamkan: keterangan istilah Murba.

Dari “Uraian Mendadak” – 7 NOVEMBER 1948

(Hal. 26, 27, 28, 29 dan 31)

Partai. Sifat ― Partai Murba‖ ialah menggalan rakyat Murba. Dan saudara sekalian, yang akan menjadi kader, yang bekerja buat dan untuk Murba, dari Murba. Saudara yang akan memimmpin gerakan seluruh Murba di Indonesia buat melanjutkan perjuangan kita. Jadi bukan kader terpisah dari Murba, yang terpisah dari rakyat, tetapi yang di tengah-tengah Murba. Maka harus ada kontak rapat dengan Murba, ialah buruh dan tani.

Apabila kita mendapat kepercayaan penuh, baru kita bisa menamakan diri ― Partai Murba‖. Apa syarat buat mendapat kepercayaan, autoriteit Murba buruh dan tani? Dengan membawa isme-isme saja dan berdebat-debat habis-habisan saja, kita belum lagi menjadi pemimpin Murba. Kita terjun kebawah. Dari bawah kembali keatas buat merundingkan apa pengalaman kita di bawah. Kalau kita tidak bisa mendapat kontak jiwa dengan jiwa, kita tidak akan mendapat kepercayaan: kita tidak bisa menjalankan disiplin; tidak bisa menasehati Murba; Murba tak mau dipanggil, kalau diserang musuh, karena kita tiada mendapat kepercayaan penuh dari Murba.

Buat mendapatkan kepercayaan penuh itu, haruslah kita senantiasa berhubungan dengan Murba, sepaya mengerti benar-benar kepentingan Murba sehari-hari, walaupun rupanya perkara kecil saja.

Soal tempat: Kita namakan partai kita Partai Murba. Tetapi kalau pusat atau markasnya akal-kita berada ditengah-tengah rombongan rumah yang indah permai di dalam kota, atau kita cuma berdebat tentang isme-isme itu saja antara penduduk kota terpelajar dan hidup makmur saaja, kita tidak akan mendapat kontak dengan kaum Murba.

Jadi supaya kita sehari-hari bisa mendapat kontak dengan Murba, kita perlu campur dan berkumpul dengan mereka. Kalau kita membimbing kaum Murba mesin, maka carilah pabrik dimana Murba menggerakkan mesin buat hidupnya sehari-hari. Pergilah kekebun atau bekerjalah dikebun. Tempat itu yang kita cari. Jangan tempat terasing menghindarkan pergaulan dengan mereka itu.tidak bisa kita selami jiwa mereka, tidak bisa kita ketahui soal hidup mereka itu, kalau tidak bisa mendapat kepercayaan dan perkataan kita akanmelajang diatas kepala mereka. Mungkin kita bisa membikin mereka ketawa atau menangis, tetapi tidak bisa menggerakkan mereka, mundur kalau terpaksa, maju kalau perlu.

Tempat Murba ialah dibengkel, dipabrik,dipelabuhan, dimana-mana kaum gembel berkumpul dan juga kaum intelek, juga diantara mereka yang sekarang menjadi gembel, buat mengadakan propaganda dan agitasi.

Soal illegal dan legal! Kalau negara menjamin demokrasi dan menjamin hak berkumpul, mengadakan pers, tidak melarang atau menyerobot pabrik kertas atau mengangkapi orangnya, karena kalimat yang tidak enak didengar oleh yang berkuasa, selama demokrasi itu berjalan ditas rel, kita pun akan menghormatinya. Tetapi kalau cuma tinggal diatas kertas saja, maka kitapun akan mengambil sikap menurut keadaan. Illegal dan legal, ialah soal bagaimana keadaan, bagaimana suasana dalam negara, bagaimana sifat undang-undang yang ada. Maka kalau semua belum terang walaupun terang tertulis, tetapi belum terang dijalankan, karena pelbagai alasan, maka kita berjalan seperti amphibi, berjumpa air seperti kapal, berjumpa darat seperti tank. Dalam keadaan demokrasi borjuis pun kita harus siap dengan kesanggupan kerja-illegal. Jadi soal legal dan illegal bukanlah soal kita sendiri semata-mata, melainkan juga soal dari lain pihak, soal tata-negara dan pelaksanaan undang-undang yang ada dalam negara. Dan kalau kita dalam keadaan semacam itu mesti mengadakan persiapan dan kalau perlu berjalan di bawah tanah, maka itu bukan salah kita, tetapi karena keadaan berjuang, dipaksakan oleh siasatnya perjuangan. Jangan dianggap illegal berbisik-bisik dalam gelap, bagaimana mengamuk dan mengadakan putch, berbisik-bisik bagaimana mengumpulakan tenaga dan membikin putch, tetapi walaupun berjalan di bawah tanah tetap berhubungan dengan Murba.

Tidak boleh kita lepas dari Murba, setiap waktu mengetahui kemauan dan semangat Murba. Jadi tidak berarti merangkak-rangkak di bawah tanah berbisik- bisik

dan Propaganda: Artinya bukan pula menghasut terus-

menerus. Memang orang bisa dihasut sampai marah dan sampai memukul, tetapi orang bisa membalik memukul diri kita sendiri. Kalau tak ada yang dipukul lagi mungkin kita sendiri yang kelak menjadi sasaran. Terutama kalau tak ada wujud yang lebih mulia.

Kita bisa perdalam keyakinan itu atas dasar-dasar kehidupan sehari-hari. Kalau pergi ketempat buruh bbekerja di kereta api umpamanya, kita dasarkan propaganda kita atas

Agitasi

penghidupan Murba-kereta api itu pula dll. Tak perlu kita mulai dengan mendewa- dewakan pemimpin ini atau itu. Cukuplah, kalau prinsip, cara-cara bekerja ataupun semangat serta sifat jujur-konsekuen salah seorang pemimpin yang dihormati. ― Berapa gaji, berapa orang keluarga, berapa kebutuhan sehari-hari, dan apa kekurangannya.‖ Inilah yang kita kemukakan. Dengan uraian atau pertanyaan yang sederhana berdasarkan pengalaman sehari-hari kita meningkat keatas melalui jenjang logika dan dialektika. Dengan demikian kita bisa menerangkan akibatnya blokade Belanda, politik infiltrasi Belanda dan politik adu-domba. Begitulah pula kita bisa sampai kepada akibatnya perjanjian Linggarjati dan Renville. Akhirnya kita sampai kepada politiknya partai ini atau itu, isme ini atau itu. Sendirinya kita akan sampai usul cochran.

Kita membikin agitasi buat membangunkan pengertian, membangunkan keyakinan, memberikan jalan melalui organisasi dan mementingkan organisasi: Bersatu kita teguh, berpecah kita jatuh. Dengan organisasi kita bisa menggerakkan Murba.

Kunjungilah kaum Murba. Janganlah bosan memberi pertolongan atau penerangan, juga kepada Murba-buta huruf. Kita memerlukan perhubungan (kontak). Dan kontak berarti bersama-sama menyelesaikan persoalan penghidupan sehari-hari. Perlihatkan perhatian penuh kepada kaum Murba. Berikanlahbantuan lahir-bathin kepada mereka dimana perlunya. Saudara sendiri mengerti apa artinya ramah-tamah bagi kaum Murba Indonesia. Pakailah semua kesempatan buat mengadakan kontak dengan sikap ramah- tamah dan semangat tolong-menolong.

Andaikata saudara berada pada suatu desa atau kampung yang terdiri dari 30 rumah. Bentuklah satu komite kecil untuk pembagian pekerjaan. A 10 rumah, B 10 rumah, dan C 10 rumah. Sekali seminggu atau lebih, datangilah rumah-rumah itu dan tanyakan keperluan penduduknya. Persoalkanlah keperluan hidup mereka sehari-hari. Mungkin akhirnya saudara sampai kepada minimum dan maximum program, kepada Linggarjati dan Renville.

Rundingkanlah dan putuskanlah dalam komite tadi segala sesuatu sebeumnnya saudara menjumpai mereka yang membutuhkan petunjuk. Pelajarilah apa yang dibutuhkan oleh rakyat Murba. Periksalah dimana terdapat barang yang berlebihan dan yang kekurangan diantara barang kepentingan hidup seperti beras, sayur, garam, minyak, pacul, parang dll