Anda di halaman 1dari 20

BAB 1 PENDAHULUAN Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia.

Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerjasama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM JanuariAgustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis.1 Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rinosinusitis. Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini.2 Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan klinis, dibantu pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan sering secara konservatif dengan pengobatan medikamentosa empirik dan bisa meningkat dengan tindakan operatif pada kasus dengan komplikasi atau pada kasus kronis yang gagal dengan pengobatan medikamentosa.1,3 Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari.1
1

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1. Anatomi dan Fisiologi Sinus Paranasal Terdapat delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrum Highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa saluran pernafasan yang mengalami modifikasi, bersilia serta mampu menghasilkan mukus dan bermuara di rongga hidung melalui ostium masingmasing. Sekret yang dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara.4

Gambar 1: Anatomi sinus

Daerah sinus maksila, sinus frontal, dan sinus ethmoid anterior bermuara ke dalam hidung melalui kompleks osteomeatal yang terletak lateral dari meatus medial. Sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid membuka menuju meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media dan resesus sfeno-ethmoidal. Pada meatus medius yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit
2

yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.4

Gambar 2 : Kompleks Osteomeatal (KOM)

Kompleks Osteomeatal (KOM) Kompleks osteomeatal (KOM) merupakan daerah yang rumit dan sempit pada sepertiga tengah dinding lateral hidung, yaitu di meatus media, ada muaramuara saluran dari sinus maksila, sinus etmoid anterior. KOM merupakan serambi muka bagi sinus maksila dan frontal memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis. Pada potongan koronal sinus paranasal terlihat gambaran suatu rongga antara konka media dan lamina papyraceae. Isi dari KOM terdiri dari infundibulum ethmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, sel agger nasi, resesus frontalis, bula ethmoid, dan sel-sel ethmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.4,5 Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk.4,5

Fungsi sinus paranasal adalah :1 i. Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak. ii. iii. iv. v. Sebagai pengatur udara (air conditioning). Peringan cranium. Resonansi suara. Membantu produksi mukus.

2.1.1. Sinus Ethmoidalis Sinus ethmoid terbentuk pada usia fetus bulan IV. Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae, dindingnya tipis. Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan mata. Terdapat banyak variasi dari ruang-ruang sinus ethmoid yang jumlahnya dapat mencapai 10 hingga 12 ruang di satu sisi dan terletak di dalam labirinthus ethmoidalis di antara orbita dan kavitas nasi.1,2,3 Ruang-ruang sinus ethmoid terletak di depan bawah (ruang ethmoid anterior) atau di belakang atas (ruang ethmoid posterior) dari perlekatan konka medial terhadap dinding nasal lateral. Ruang ethmoid anterior membuka ke infundibulum di meatus media dan ruang posterior membuka ke meatus superior. Sinus-sinus ini terletak pada superior dari kavum nasi dan dibatasi dari orbita oleh lamina papyraceae.4 Dinding sinus ethmoid dibentuk oleh os frontale, os maxilla, os lacrimale, os sphenoidale, dan os palatina. Berdasarkan bagian-bagian dari sinus ethmoidalis disebut cellulae ethmoidales. Muaranya, cellulae ethmoidales digolongkan menjadi: i. Cellulae ethmoidales anterior yang bermuara di meatus nasi medius.

ii.

Cellulae ethmoidales posterior yang bermuara di meatus nasi superior dan suprema. Diinervasi oleh nervus arteri ethmoidalis ethmoidalis posterior posterior dan dan nervus arteri ethmoidalis anterior. Vaskularisasi oleh ethmoidalis anterior.1,2,3

2.2.

Sinusitis Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus paranasal yang terjadi karena

2.2.1. Definisi alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yaitu maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Kadang kala, semua sinus pada satu sisi atau kedua sisi terlibat secara bersamaan (pansinusitis unilateral atau bilateral).5 Dari semua jenis sinusitis, yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksilaris dan sinusitis ethmoidalis. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus ethmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus sfenoid belum.5 Menurut Cauwenberg berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi atas : i. ii. iii. iv. Sinusitis akut, bila infeksi berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu. Sinusitis subakut, bila infeksi berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan. Sinusitis kronis, bila infeksi berlangsung lebih dari 3 bulan. Rekuren akut apabila didapati 3 atau lebih episode tiap tahun dengan tiap episode berlangsung kurang dari 2 minggu.3,4,5 Berdasarkan gejalanya disebut akut bila terdapat tanda-tanda radang akut, subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel, dan kronik bila perubahan tersebut sudah irreversibel, misalnya menjadi jaringan granulasi atau polipoid. 3,4,5

Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi atas 4,5: 1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Contohnya rinitis akut (influenza), polip, dan deviasi septum. 2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis infeksi adalah pada gigi geraham atas (pre molar dan molar). Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenza, Steptococcus viridans, Staphylococcus aureus, Branchamella catarhatis. 2.3. Ethmoiditis Ethmoiditis adalah infeksi dari sinus-sinus ethmoid, yang berbentuk seperti sarang lebah terdiri dari sel-sel udara yang berkumpul antara kavum nasal dan orbita. Ethmoiditis akut biasanya timbul dari penyebaran infeksi dari sinus-sinus lain. Ethmoiditis merupakan kasus yang jarang dan dapat terjadi pada semua umur.6 2.3.2. Etiologi Penyebab ethmoiditis secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu 5,6 : i. Penyebab pembangkit a. Infeksi hidung: Ethmoiditis sering merupakan komplikasi dari infeksi saluran nafas atas seperti influenza. Mukosa sinus adalah kelanjutan dari mukosa hidung dan infeksi pada hidung dapat berpindah secara langsung atau melalui aliran limfe submukosal. Penyebab terbanyak dari ethmoiditis akut adalah infeksi virus rinitis yang diikuti oleh invasi oleh bakteri. Yang banyak dilaporkan adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae lebih dari 50% penyebab sinusitis akut. Kuman lainnya

2.3.1. Definisi

termasuk Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Tetapi setelah vaksin, Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae ditemukan, predominansi ini mungkin berubah. b. Berenang dan menyelam: Air yang terinfeksi dapat masuk ke sinus melalui salurannya. Kandungan klorin yang tinggi juga dapat menyebabkan inflamasi kimiawi. c. Trauma: Fraktur atau cedera penetrasi pada sinus frontal, maksila, atau etmoid dapat mengakibatkan infeksi langsung pada mukosa sinus. d. Infeksi gigi: Infeksi pada gigi molar atau premolar atau pencabutannya menyebar terutama melalui pembuluh darah dapat diikuti oleh sinusitis akut. ii. Penyebab predisposisi a. Obstruksi terhadap ventilasi dan drainase sinus: Faktor-faktor yang menghambat fungsi ventilasi dan drainase dari sinus seperti polip, benda asing, abnormalitas anatomi (seperti deviasi septum), tumor, imunodefisiensi, trauma, gangguan letak saluran gastrointestinal, dan abnormalitas dari motilitas silia mukosa dapat menyebabkan sinusitis akibat stasis dari sekret dalam sinus. b. Stasis dari sekret dalam kavum nasi: Sekret normal dari hidung tidak dapat dialirkan ke nasofaring karena viskositasnya atau karena obstruksi yang kemudian terinfeksi. c. Serangan sinusitis sebelumnya. Ethmoiditis akut biasanya tidak terjadi tiba-tiba, kecuali yang disebabkan oleh, penyelaman atau berenang di mana air yang mengandung bakteri atau virus patogen langsung masuk ke struktur paranasal.4,5,6

2.3.3. Epidemiologi Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di tempat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi pollen yang tinggi terkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis. Virus adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. Namun, sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik.1,2,3 Angka kejadian sinusitis akut mendekati 3 dalam 1000 orang, sedangkan sinusitis kronis lebih jarang kira-kira 1 dalam 1000 orang. Bayi di bawah 1 tahun tidak menderita sinusitis karena pembentukan sinusnya belum sempurna, tetapi sinusitis dapat terjadi pada berbagai usia dengan cara lain.1,2,3 2.3.4. Manifestasi klinis Secara umum, pasien dengan ethmoidIitis akut biasanya akan timbul gejala lemas badan dari derajat ringan sampai sedang. Nyeri terasa pada jembatan hidung, medial dan di dalam mata. Nyeri ini diperberat oleh pergerakan bola mata. Perubahan ke lateral dari pada boal mata mungkin menunjukkan adanya infeksi pada lamina papirasea. Edema dari kelopak mata disertai peningkatan lakrimasi juga dapat dijumpai.3,4,6 Pada rhinoskopi anterior, pus dapat dijumpai pada meatus media atau superior tergantung pada keterlibatan sinus etmoid anterior atau posterior. Edema pada konka medial juga dapat dijumpai. Nasofaring dan orofaring mungkin eritema, pasien dapat merasakan panas badan dengan variasi suhu dan sakit kepala. Jumlah leukosit biasanya tidak meningkat tajam sampai terjadi infeksi sistemik. Bila infeksi semakin berat, nyeri juga semakin meningkat sesuai bertambahnya daerah sinus yang terinfeksi dan nyeri dapat menyebar sesuai
8

persarafan ke bagian medial orbita, area mata dan kening. Secara radiologi tampak opasifikasi dari sinus yang terkena. Pada ethmoiditis akut yang berat, khususnya pasien immunocompromised dapat berkembang menjadi kasus emergensi dengan selulitis fasial, selulitis orbita dan meningitis.5,7 Gejala ethmoiditis dapat berupa 6 : i. ii. iii. iv. v. vi. vii. Nyeri kepala bagian bawah antara mata dan hidung Sedikit kemerahan, nyeri, dan bengkak di sekitar sudut mata Sulit bernafas melalui mulut Demam Hipomia atau anosmia Hidung tersumbat Keluar sekret dari hidung

2.3.5. Patofisiologi Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril. Sinusitis dapat terjadi bila klirens silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen. Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.7,8 Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas mukosa. Sebagian besar episode sinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut sebagian besar menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, influenza A dan B, parainfluenza, respiratory syncytial virus, adenovirus dan enterovirus. Sekitar 90 % pasien yang mengalami infeksi saluran pernafasan atas akan memberikan bukti gambaran radiologis yang melibatkan sinus paranasal. Selama infeksi akut virus, berbagai mediator inflamasi seperti interleukin, TNF-, dan sitokin mengalami up-regulation. Inflamasi akut pada

mukosa sinus bermanifestasi dalam bentuk hipersekresi mukosa dan edema yang menyebabkan obstruksi dari ostium sinus dan berpengaruh pada mekanisme drainase dan ventilasi dalam sinus. Obstruksi tersebut mengakibatkan hipoksia lokal dan sekret sinus berakumulasi. Kombinasi dari rendahnya kadar oksigen dan media kultur yang kaya memungkinkan pertumbuhan bakteri secara eksponensial di dalam sinus.4 Infeksi virus juga merusak epitel dan fungsi silia yang akhirnya menyebabkan infeksi sekunder bakteri.3,6,7,8 Virus yang menginfeksi tersebut dapat memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Silia yang kurang aktif fungsinya tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus. Terganggunya fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kehilangan lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri, environmental ciliotoxins, mediator inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa, parut, primary cilliary dyskinesia (Kartagener syndrome). 3,5,8 Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri patogen. 7,8 Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema
10

mukosa, di mana stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip.7 Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini, yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan 7: 1. Jaringan submukosa diinfiltrasi oleh serum. Sedangkan permukaannya kering. Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa. 2. Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan epitel. 3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan bakteri, debris, epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah bercampur dengan sekret. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit, kemudian menjadi kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum. 4. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya pengeluaran leukosit memakan waktu 10 14 hari. 5. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di bawahnya dapat memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang. Meskipun infeksi virus akut merupakan penyebab utama pada sinusitis akut, faktor lain seperti atopi, immunodefisiensi, atau obstruksi anatomik juga
11

dapat menjadi faktor predisposisi. Selain itu inflamasi, polip, tumor, trauma, parut, anatomic variant, dan nasal instrumentation juga menyebabkan menurunnya patensi sinus ostia. 2.3.6. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis ethmoidalis posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan pada kantus medius. Untuk membantu diagnosis sinusitis, American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery (AAO-HNS) membuat bagan diagnossi yang disebut Task Force on Rhinosinusitis pada tahun 1996. Bagan ini didasarkan atas gejala klinis yang dibagi atas kategori gejala mayor dan minor untuk diagnosis rhinosinusitis.9
Minor Factors Headache Fever (non acute) Halitosis Nasal discharge/discolored postnasal drip Dental pain Hyposmia/anosmia Fatigue Purulence in examination Cough b Fever (acute) Ear pain/pressure/fullness a Facial pain/pressure alone does not constitute a suggestive history for diagnosis in the absence of another symptom or sign b Fever in acute sinusitis alone does not constitute a suggestive history for diagnosis in the absence of another symptom or sign Tabel 2.1 Bagan Task Force on Rhinosinusitis 1996 Major Factors Facial pain/pressure a Nasal obstruction

Riwayat yang konsisten dengan rhinosinusitis memerlukan 2 faktor mayor atau 1 mayor dan 2 faktor minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari. Ketika hanya 1 faktor mayor atau 2 atau lebih faktor minor yang ada, ini
12

menunjukkan kemungkinan di mana rhinosinusitis perlu dimasukkan ke dalam diagnosa banding.7 Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto polos posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, air-fluid level, atau penebalan mukosa. Rontgen sinus dapat menunjukkan kepadatan parsial pada sinus yang terlibat akibat pembengkakan mukosa atau dapat juga menunjukkan cairan apabila sinus mengandung pus. Pilihan lain dari rontgen adalah ultrasonografi terutama pada ibu hamil untuk menghindari paparan radiasi.7,9

Gambar 2.1 Foto rontgen sinus yang menunjukkan air-fluid level pada sinus etmoid

CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. CT scan mampu memberikan gambaran yang bagus terhadap penebalan mukosa, air-fluid level, struktur tulang, dan
13

kompleks osteomeatal. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronis yang tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. 9 MRI sinus lebih jarang dilakukan dibandingkan CT scan karena pemeriksaan ini tidak memberikan gambaran terhadap tulang dengan baik.2 Namun, MRI dapat membedakan sisa mukus dengan massa jaringan lunak di mana nampak identik pada CT scan. Oleh karena itu, MRI akan sangat membantu untuk membedakan sinus yang terisi tumor dengan yang diisi oleh sekret.9 Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Hal ini lebih mudah diamati bila sinusitis terjadi pada satu sisi wajah, karena akan nampak perbedaan antara sinus yang sehat dengan sinus yang sakit. Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas kegunaannya. Endoskopi nasal kaku atau fleksibel dapat digunakan untuk pemeriksaan sinusitis. Endoskopi ini berguna untuk melihat kondisi sinus ethmoid yang sebenarnya, mengkonfirmasi diagnosis, mendapatkan kultur dari meatus media dan selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. Ketika dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi dari hidung, kultur meatus media sesuai dengan aspirasi sinus yang mana merupakan baku emas. Karena pengobatan harus dilakukan dengan mengarah kepada organisme penyebab, maka kultur dianjurkan.9,10 2.3.7. Diagnosis banding Diagnosis banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak sensitif dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan kokain, rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang dengan gejala pilek dan kongesti nasal. Rhinorrhea cairan serebrospinal harus dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat cedera kepala. Pilek persisten unilateral dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma atau benda asing nasal.2,3

14

Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah diagnosis alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah. Pasien dengan demam memerlukan perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi sinusitis saja atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau abses intrakranial.2,3,4 2.3.8. Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah: i. Mempercepat penyembuhan ii. Mencegah komplikasi iii. Mencegah perubahan menjadi kronik Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di kompleks osteo-meatal sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan pembedahan (operasi). 9 Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan selama 10-14 hari walaupun gejala klinik sudah menghilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk kuman gram negatif dan anaerob. Dekongestan lokal berupa obat tetes hidung diberikan untuk memperlancar drainase hidung.9 Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, dan steroid oral/topical. Antihistamin tidak rutin diberikan karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat. 9,10

15

Irigasi sinus atau Proetz displacement juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat.Indikasinya adalah apabila terapi di atas gagal dan ostium sinus sedemikian edematosa sehingga terbentuk abses sejati. Irigasi dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat. Cairan ini kemudian akan mendorong pus untuk keluar melalui ostium normal. 9,10 Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus. Dianjurkan unutk menghilangkan faktor predisposisi dan kausanya jika ethmoiditis diakibatkan oleh kelainan gigi. 9,10 Pembedahan (operasi) pada pasien sinusitis akut jarang dilakukan kecuali telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial. Selain itu nyeri yang hebat akibat sekret yang tertahan oleh sumbatan dapat menjadi indikasi untuk melakukan pembedahan. Ethmoidektomi dilakukan dengan 3 teknik yaitu ethmoidektomi eksternal, ethmoidektomi intranasal, dan ethmoidektomi transantral. Keputusan terhadap teknik yang akan digunakan bergantung pada pilihan operator dan luasnya penyakit. Lebih dari 1 teknik dapat dikombinasikan selama operasi.10 2.3.9. Pencegahan Sulit untuk mencegah ethmoiditis untuk menyebar ke organ lain. Tetapi bagaimana pun membersihkan sekret hidung dapat mencegah infeksi bakteri. Membersihkan hidung bisa dengan cara minum banyak cairan, membatasi susu, dan mencuci sinus dengan cairan garam fisiologi. Dalam kasus alergi, seseorang harus menghindari alergen yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Bila ada inflamasi kronis pada infeksi, semprot hidung dapat membantu mencegah kerusakan mukosa membran seiring dengan waktu.3,4 2.3.10. Komplikasi Ethmoiditis dapat meluas keluar dari area sinus dan menyebabkan selulitis orbita, abses orbita subperiosteal, abses orbita, sindrom fisura orbitalis superior,
16

trombosis sinus kavernosus. Trombosis sinus kaveronous harus diobati seumur hidup dan menyebabkan gerak mata terbatas, proptosis, dan penglihatan berkurang. Komplikasi intrakranial dari sinusitis biasanya jarang tapi bila ada sangat berbahaya meliputi meningtis, tromboplebitis sinus sagital superior dan bentuk abses. Osteitis dan osteomielitis pernah dilaporkan, mukokel dan piokel juga dapat terjadi.11 Komplikasi ethmoiditis berhubungan dengan penyebaran infeksi dari sistem sel-sel udara ethmoid. Komplikasi dari bagaian tengah orbita dapat menyebabkan kebutaan. Begitu juga dapat terjadi penyebaran infeksi ke tulangtulang lain dalam tulang tengkorak dan berkembang menjadi meningtis, trombosis vena-vena besar dalam kepala dan abses otak epidural dan intraperenkim. 3,4,11 Komplikasi lokal sinusistis termasuk osteomielitis dan mukokel yang merupakan efek dari obstruksi duktus yang lama dan paling sering pada ethmoid supraorbital dan dapat menyebar ke sinus frontalis. Secara radiologis tampak ekspansi sinus oleh jaringan dengan densitas rendah yang homogen. Pengobatannya adalah operasi termasuk drainase mukokel intranasal atau eksisi lengkap dengan ablasio lewat ke kavum sinus. Osteomielitis membutuhkan terapi antibiotik jangka panjang sampai jaringan nektorik tulang sembuh. Prosedur operasi kedua untuk rekonstruksi kosmetik mungkin diperlukan.11 Komplikasi intrakranial dari sinusitis biasanya melewati penyebaran hematogen misalnya trombosis sinus kavernous dan meningitis atau penyebaran secara langsung seperti abses epidural dan abses parenkhimal. Untungnya sekarang ini jarang terjadi. Trombosis sinus kavernosus ditandai dengan optalmoplegia, kemosis, hilangnya penglihatan. Epidural abses biasanya sulit terdiagnosais, dan mungkin terdeteksi dengan CT Scan. Harus selalu diingat bahwa diagnosis karsinoma sinus pranasal adalah berbeda dengan sinusitis. 11 Gambaran destruksi tulang secara radiologis, neuropati saraf kranial, nyeri persisten, epistaksis, gejala klinis yang terus-menerus dapat dicurigai kemungkinan adanya suatu karsinoma(8). Bila ada riwayat alergi yang lama,

17

infeksi bakteri, gangguan struktural, dinding sinus menipis dan drainase terhambat. Hai ini dapat berkembang menjadi sinusitis kronis.11 2.3.11. Prognosis Sinusitis tidak menyebabkan mortalitas namun komplikasi dari sinusitis dapat menyebabkan morbiditas dan pada kasus yang jarang dapat mengakibatkan kematian. Sekitar 40% dari akut sinusitis akan sembuh sendiri tanpa pemberian antibiotik. Pada viral sinusitis, tingkat kesembuhan spontannya sebesar 98%. Pasien dengan terapi antibiotik yang adekuat biasanya menunjukkan perbaikan.3,11 Tingkat kekambuhan setelah terapi yang sukses adalah kurang dari 5%. Sinusitis yang tidak ditangani atau ditangani tidak sempurna dapat berujung pada komplikasi seperti meningitis, orbital cellulitis, abses orbita, atau abses otak.3,11

BAB 3 KESIMPULAN Ethmoiditis akut merupakan inflamasi akut dari mukosa sinus yang berlangsung selama kurang dari 4 minggu. Penyebab sinusitis dibagi menjadi dua

18

yaitu penyebab pembangkit dan penyebab predisposisi. Penyebab terbanyak dari sinusitis adalah infeksi virus yang diikuti oleh infeksi bakteri.5,7 Gejala klinis dari ethmoiditis akut adalah kombinas dari akut rhinitis dan sakit kepala dengan derajat berbeda yang bertambah parah apabila membungkuk ke depan. Secara umum, nyeri lebih berat pada sinus yang terkena.1 Pada sinus etmoid, nyeri terasa pada jembatan hidung, medial dan di dalam mata. Nyeri ini diperberat oleh pergerakan bola mata. Edema dari kelopak mata disertai peningkatan lakrimasi juga dapat dijumpai. Pada rhinoskopi anterior, pus dapat dijumpai pada meatus media atau superior tergantung pada keterlibatan sinus etmoid anterior atau posterior. Edema pada konka medial juga dapat dijumpai.5 Diagnosis ethmoiditis dapat melalui gejala klinis sesuai dengan Task

Force on Rhinosinusitis 1996.7 Metode lain untuk mendiagnosis yaitu melalui foto rontgen sinus, endoskopi nasal, CT scan, atau MRI.2 Terapi dari sethmoiditis yaitu konservatif dan operatif. Terapi konservatif yaitu dengan pemberian nasal dekongestan dan antibiotik. Operasi etmoidektomi dilakukan pada keadaan-keadaan tertentu yaitu sinusitis yang tidak respon terhadap terapi, sinusitis yang berprogresif cepat, sinusitis yang mengakibatkan abses di sinus atau daerah sekitar, dan sinusitis yang mempengaruhi keselamatan pasien.1,10 Komplikasi pada sinusitis dibagi atas sekuele sistemik dan lokal. Efek akut yang sistemik termasuk toxic shock syndrome. Komplikasi lokal dapat melibatkan mata, intrakranial, dan tulang. 3,11

DAFTAR PUSTAKA 1. Probst, R., 2006. Acute Sinusitis. In: Basic Otorhinolaryngology. Sttutgart: Georg Thieme Verlag; 54-56

19

2. Lalwani, A.K., 2007. Acute and Chronic Sinusitis. In: Current Diagnosis & Treatment: Otolaryngology Head and Neck Surgery 2 nd edition. New York: Lange 3. Brook, April 2012] 4. Ballenger, J.J., and J.B. Snow, 2003. Sinusitis and Polyposis. In: Ballengers Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery 16th Edition. Hamilton: BC Decker; 760-764 5. Dhingra, P.L., 2005. Acute Sinusitis. In: Diseases of Ear, Nose, and Throat 4th Edition. New York: Elsevier; 181-184 6. Radojicic, C., 2006. Sinusitis: Allergy, antibiotics, aspirin, asthma. Cleveland Clinical Journal of Medicine vol 73 no 7; 671-675 7. Bailey, B.J., and J.T. Johnson, Nonpolypoid Rhinosinusitis: Classification, Diagnosis, and Treatment. In: Head & Neck Surgery Otolaryngology 4 th Edition. London: Lippincott Williams & Wilkins; 407-415 8. Brook, I., 2005. Bacteriology of Acute and Chronic Ethmoid Sinusitis. Journal of Clinical Microbiology volume 43 no 7; 3479-3480 9. Cummings, C.W., 2006. Radiology of Nasal Cavities and Paranasal. In: Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 4th Edition. Los Angeles: Mosby Elsevier 10. Mercandetti, M., 2011. Surgical Treatment of Acute Ethmoid Sinusitis Historical Overview. Available in: http://emedicine.medscape.com/article/862183-overview [4 April 2012]
11. Shah, N.J., 1999. Complications of Sinusitis. Bombay Hospital Journal

I.,

2012.

Acute

Sinusitis.

Available

in:

http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview [Accessed on 4

volume 41 no 4

20