Anda di halaman 1dari 17

A. LATAR BELAKANG Proses kehamilan sampai melahirkan merupakan rantai satu kesatuan dari hasil konsepsi.

Pemeriksaan kehamilan dilakukan pada setiap kehamilan terutama kehamilan pertama. Perlunya pengawasan awal agar dapat secepatnya diketahui apakah ada komplikasi pada kehamilan tersebut. Kehamilan merupakan yang besar maknanya, kehamilan memerlukan pengawasan minimal 4 kali dalam kunjungan.3 Gangguan dan penyulit pada kehamilan umumnya ditemukan pada kehamilan resiko tinggi. Yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Makrosomia adalah salah satu komplikasi pada kehamilan yang akan berdampak buruk pada persalinan dan pada saat bayi lahir apabila komplikasi tersebut tidak dideteksi secara dini dan segera ditangani.7 Bayi besar (makrosomia) adalah bayi yang begitu lahir memiliki bobot lebih dari 4000 gram. Padahal pada normalnya, berat bayi baru lahir adalah sekitar 2.500-4000 gram. Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%. Persalinan ialah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.3 Salah satu upaya yaitu dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam menolong persalinan dengan berdasarkan pada konsep asuhan persalinan normal. Asuhan persalinan normal merupakan asuhan yang bersih, aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya

pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermi dan asfiksia bayi baru lahir.3 Persalinan dengan penyulit makrosomia umumnya faktor keturunan memegang peranan penting. Selain itu janin besar dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus, pada postmaturitas dan pada grande multipara. Pada panggul normal, janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul, atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul.1 Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet janin dapat meninggal akibat asfiksia. Pada disproporsi sefalopelvik (tidak seimbang kepala panggul) karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan.5 B. PENGERTIAN Makrosomia adalah bayi yang berat badannya pada saat lahir lebih dari 4.000 gram.

Makrosomia adalah bila berat badannya lebih dari 4000 gram. Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%.6 Kesulitan yang dapat terjadi adalah8 : 1. Kesulitanpada ibu : a) Robekan hebat jalan lahir b) Perdarahan c) Terjadi peningkatan persalinan dengan sectio caesaria. d) Ibu sering mengalami gangguan berjalan pasca melahirkan akibat peregangan maksimal struktur tulang panggul. Keluhan keluhan tersebut bisa sembuh dengan perawatan yang baik. 2. Pada bayi : a) Terjadinya distosia bahu yaitu kepala bayi telah lahir tetapi bahu tersangkut di jalan lahir. b) Asfiksia pada bayi sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan untuk melahirkan bahu. c) Brachial Palsy (kelumpuhan syaraf di leher) yang ditandai dengan adanya gangguan motorik pada lengan. d) Patah tulang selangka (clavicula) yang sengaja dilakukan untuk dapat melahirkan bahu. e) Kematian bila bayi tidak dapat dilahirkan. Makrosomia dapat meningkatkan resiko pada bayi mengalami

hipoglikemia, hipokalsemia, hiperviskostas, dan hiperbilirubinemia 1: 1.Hipoglikemia1 Hipoglikemi sering terjadi pada bayi dari ibu yang menderita penyakit DM karena cadangan glukosa rendah. Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa

berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi(transient hiperinsulinisme) sehingga terjadi hipoglikemi. Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian. Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir. Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan. Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara bermakna dibawah kadar rata-rata. Dikatakan hipoglikemia bila kadar glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada semua neonatus tanpa menilai masa gestasi atau ada tidaknya gejala hepoglikemia. Umumnya hepoglikemia terjadi pada neonatus umur 1-2 jam. 2. Hipokalsemia1 Bayi menderita hipokalsemia bika kadar kalsium dalam serum kurang dari 7 mg/dl (dengan/tanpa gejala), atau kadar kalsium 10 n kurang dari 3 mg/dl. Kejadiannya adalah kira-kira 50% pada bayi dari ibu penderita DM. Beratnya hipokalsemia berhubungan dengan beratnya diabetes ibu dan berkurangnya fungsi kelenar paranoid kadar kalsium terendah terjadi pada umur 24-72 jam. 3. Polestemia dan Hiperviskositas1 Penyebab polestemia kurang jelas akan tetapi mungkin disebabkan oleh meningkatnya produksi sel darah merah yang sekunder disebabkan oleh hipoksia intra uterin kronik pada ibu dengan penyakit vaskuler dan oleh transfusi plasenta intra uterin akibat hipoksia akut pada persalinan atau kelahiran.

Dengan adanya polisetemia akan menyebabkan hiperviskositas darah dan akan merusak sirkulasi darah. Selain itu peningkatan sel darah yang akan dihemolisis ini meningkatkan beban hederobin potensial heperbilirubinemia. Bayi makrosomia dapat menderita fraktur klavikula, laserasi limpa atau hati cedera flesus brakial, palsi fasial, cedera saraf frenik atau hemoragisubdural.Hiperviskositas mengakibatkan menurunnya aliran darah dan terjadinya hipoksia jaringan serta manifestasi susunan saraf pusat berupa sakit kepala, dizziness, vertigo, stroke, tinnitus dan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur, skotoma dan diplopia.

4.Hiperbilirubinemia1 Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar bilirubin dalam darah >13 mg/dL. Bilirubin pada neonatus meningkat akibat terjadinya pemecahan eritrosit. Bilirubin mulai meningkat secara normal setelah 24 jam, dan puncaknya pada hari ke 3-5. Setelah itu perlahan-lahan akan menurun mendekati nilai normal dalam beberapa minggu. Pada bayi baru lahir, ikterus yang terjadi pada umumnya adalah fisiologis, kecuali3: a) Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan b) Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL c) Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam d) Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL e) Ikterus menetap pada usia >2 minggu f) Terdapat faktor resiko

Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir, karena: - Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih pendek. - Fungsi hepar yang belum sempurna

B. ETIOLOGI Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan terjadinya kelahiran bayi besar / baby giant. Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya 2: 1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang menderita diabetes selama kehamilan. Sering memiliki kesamaan, mereka cenderung besar dan montok akibat bertambahnya lemak tubuh dan membesarnya organ dalam, mukanya sembab dan kemerahan (plethonic) seperti bayi yang sedang mendapat kortikosteroid. Bayi dari ibu yang menderita diabetes memperlihatkan insiden sindrom kegawatan pernafasan yang lebih besar dari pada bayi ibu yang normal pada umur kehamilan yang sama. Insiden yang lebih besar mungkin terkait dengan pengaruh antagonis antara kortisol dan insulin pola sintesis surfakton. 2. 3. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar (bayi giant). Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar. C. TANDA DAN GEJALA14 Berat badan lebih dari 4000 gram pada saat lahir Wajah menggembung, pletoris (wajah tomat) Besar untuk usia gestasi Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 11 Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht)

C. KOMPLIKASI Bayi besar yang sedang berkembang merupakan suatu indikator dari efek ibu. Yang walaupun dikontrol dengan baik dapat timbul pada janin, maka sering disarankan persalinan yang lebih dini sebelum aterm. Situasi ini biasanya dinilai pada sekitar kehamilan 38 minggu. Penilaian yang seksama terhadap pelvis ibu.Tingkat penurunan kepala janin dan diatas serviks. Bersama dengan pertimbangan terhadap riwayat kebidanan sebelumnya.9 Seringkali akan menunjukkan apakah induksi persalinan kemungkinan dan menimbulkan persalinan pervaginam. Jika tidak maka persalinan dilakukan dengan seksio sesarea yang direncanakan. Pada kasus-kasus Bordeline dapat dilakukan persalinan percobaan yang singkat. Resiko dari trauma lahir yang tinggi jika bayi lebih besar dibandingkan panggul ibunya perdarahan intrakranial, distosia bahu, ruptur uteri,serviks, vagina, robekan perineum dan fraktur anggota gerak merupakan beberapa komplikasi yng mungkin terjadi. Jika terjadi penyulitpenyulit ini dapat dinyatakan sebagai penatalaksanaan yang salah. Karena hal ini sebenarnya dapat dihindarkan dengan seksio sesarea yang terencana. Walaupun demikian, yang perlu dingat bahwa persalinan dari bayi besar (baby giant) dengan jalan abdominal bukannya tanpa resiko dan hanya dapat dilakukan oleh dokter bedah kebidanan yang terampil.7 D. PENATALAKSANAAN MEDIS Pemeriksaan klinik dan ultrasonografi yang seksama terhadap janin yang sedang tumbuh, disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan predisposisi terhadap makrosomia (bayi besar) memungkinkan dilakukannya sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yang berlebihan. Peningkatan resiko bayi

besar jika kehamilan dibiarkan hingga aterm harus diingat dan seksio sesarea efektif harus dilakukan kapan saja persalinan pervaginam.5 Pemantauan glukosa darah (Pada saat datang atau umur 3 jam, kemudian tiap 6 jam sampai 24 jam atau bila kadar glukosa 45 gr% dua kali berturut-turut. Pemantauan elektrolit Pemberian glukosa parenteral sesuai indikasi Bolus glukosa parenteral sesuai indikasi Hidrokortison 5 mg/kg/hari IM dalam dua dosis bila pemberian glukosa parenteral tidak efektif. Tanpa memandang besarnya semua bayi dari ibu diabetes sejak semula harus mendapat pengamatan dan perawatan yang intensif, kadar gula darah pada bayi harus ditentukan pada 1 jam post partum dan kemudian setiap 6 8 jam berikutnya, jika secara klinis baik dan kadar gula darahnya normal. Mula-mula diberikan makanan oral/sonde air glukosa 5% dilanjutkan dengan ASI. Air susu formula yang dimulai pada umur 2 3 jam dan diteruskan dengan interval makanan oral.3 Pemberian makanan harus dihentikan dan glukosa di berikan dengan infus intravena perifer pada kecepatan 4 8 mg/kg BB/menit untuk mengatasi:1 1.Hipoglikemia Tujuan utama pengobatan hipoglikemia adalah agar kadar glukosa serum tetap normal pada kasus hipoglikemia tanpa gejala lakukan tindakan berikut : - Apabila kadar glukosa dengan dextrosix 25 mg/dl maka bayi diberi larutan glukosa sebanyak 6 mg/kg BB/menit dan kemudian diperiksa tiap 1 jam hingga normaldanstabil. - Bila doxtrosix menunjukkan hasil 25 46 mg/dl dan bayi tidak tampak sakit maka diberi minum glukosa 5% lalu diperiksa tiap jam hingga stabil. Pada kasus hipoglikemia dengan gejala diberikan larutan glukosa 10% sebanyak 2 4 ml/kg BB intra vena selama 2 3 menit hingga kadar glukosa stabil.

2.Hipokalsemia Hipokalsemia dengan kejang harus diobati dengan larutan kalsium glukonat 10% sebanyak 0.2 0.5 ml/kg BB intravena yang harus diperhatikan selama pemberian adalah aritmia jantung, bradikardi dan ekstravasasi cairan dan alat infuse, kadar kalsiumserumharusdipantautiapjam. 3.Hiperbilirubinemia Sejak bayi mulai kurang kadar bilirubin harus dipantau dengan teliti kalau perlu berikanterapisinar/transfusidarah. 4.Polisitemia Dicoba dengan penambahan pemberian minum sebanyak 20 40 ml/kg BB/ hari disamping itu dipantau Hb darah tiap 6 12 jam tanpa gejala, bila dengan gejala seperti gangguan nafas jantung atau kelainan neurologik harus dilakukan transfusi parsialdenganplasmabekusegar.

A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN I. Pengkajian 1. Data Subyektif3 Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan (Allen Carol V. 1993 : 28). Data subyektif terdiri dari Biodata atau identitas pasien : Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat (Talbott Laura A, 1997 : 6). Riwayat kesehatan Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada kasus makrosomia yaitu: Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, pola makan, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru. Riwayat persalinan sebelumnya dan juga riwayat dari keluarga. 9

Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan. Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan postdate atau preterm). Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji : Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta previa. Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan. Riwayat post natal Yang perlu dikaji antara lain : Agar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan. Berat badan lahir : Preterm/BBLR < 2500 gram, untuk aterm 2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm). Adakah kelainan congenital.

Pola nutrisi Yang perlu dikaji pada bayi dengan makrosomia merupakan pola makan dan nutrisi/pemenuhan nutrisi dan cairan, muntah aspirasi, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena. Kebutuhan parenteral Bayi makrosomia menggunakan D10% Kebutuhan nutrisi enteral BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam BB 1250-< 2000 gram = 12 kali per 24 jam BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam Kebutuhan minum pada neonatus : Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari 10

Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 200 cc/kg BB/hari (Iskandar Wahidiyat, 1991 :1) Pola eliminasi Yang perlu dikaji pada neonatus adalah BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi. BAK : frekwensi, jumlah Latar belakang sosial budaya Kebudayaan yang berpengaruh terhadap makrosomia adalah ketergantungan obat-obatan tertentu. Kebiasaan ibu mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kalori dan lemak. Hubungan psikologis Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan makrosomia karena memerlukan perawatan yang intensif dan monitoring. 2. Data Obyektif2 Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi Nasrul, 1995) Keadaan umum Pada neonatus dengan makrosomia, keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan.

11

Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik. Tanda-tanda Vital Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh > 37 C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5C 37,5C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur (Potter Patricia A, 1996 : 87). Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik pasien untuk menentukan kesehatan pasien (Effendi Nasrul, 1995). Kulit Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi makrosomia terdapat lanugo dan verniks di lipatan-lipatan kulit. Kepala Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubunubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial. Mata Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya. Hidung Tidak terdapat pernafasan cuping hidung dan penumpukan lendir. Mulut Bibir berwarna merah, ada lendir atau tidak. Telinga

12

Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan Leher Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek

Thorax Bentuk simetris, tidak terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit. Abdomen Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 2 cm dibawah arcus costaae pada

garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi. Umbilikus Tali pusat normal, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda tanda infeksi pada tali pusat. Genitalia Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.

Anus Perhatiakan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari faeses.

13

Ekstremitas Warna merah, gerakan lemah/kuat, akral dingin/hangat, perhatikan adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.

II. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan4 No Diagnosa Keperawatan 1. Cedera berhubungan dengan kelahiran sekunder terhadap makrosomia Kriteria : Bayi tidak mengalami cedera yang tak teridentifikasi /tak teratasi atau gejala neurologis sisa Cedera teridentifikasi dan trauma teratasi Laporkan gejala-gejala tujuan catatan Tujuan/Kriteria Rencana Tindakan

cedera kelahiran pada dokter Dokumentasikan pengkajian pada

perawatan dan perbaiki pada setiap pergantian shift Ubah posisi dari satu sisi ke sisi lain setiap 2 jam Implementasikan dan pertahankan bebat, popok khusus, dll sesuai pesanan

2.

Resiko dengan

cedera Tidak cedera

terjadi

Lakukan glukosa darah

pemantauan heelstik,

berhubungan

setiap 1 jam 3 kali, laporkan

14

perubahan glukosa cairan elektrolit dan

Kriteria : darah, Bayi mampu mempertahankan cairan dan elektrolit dalam rentang normal Bayi mampu mencapai kan glukosa normal dan kadar darah mempertahan

nilai-nilai di bawah 45 mg% dan lakukan tes glukosa serum segera sesuai pesanan Observasi tanda dan gejala pernafasan Pantau kadar elektrolit dan Ht sesuai pesanan Lakukan pemberian makanan pada 2 sampai 3 jam usia dengan formula atau air dextrose 5 % sampai 10 % sesuai pesanan, ikuti jadual pemberian makan Kaji perubahan tingkat kesadaran setiap 4 jam jam Observasi gejala terhadap perdarahan Kaji tanda vital setiap 4 terhadap distres

intrakranial dan kejang Pertahankan pemberian glukosa pesanan Kolaborasi pemberian hidrokortison bila pemberian glukosa tidak efektif Berikan lingkungan normal Pertahankan suhu pada 36,5 C 15 suhu parenteral sesuai

Berikan

suplemen

elektrolit sesuai pesanan 3. Kurang pengetahuan orang berhubungan dengan informasi tentang perawatan bayi. tua Kriteria: Orang dan tua orang kurang Pengetahuan orang tua meningkat Diskusikan dengan orang tua tentang tanda dan gejala hipoglikemia atau dokter Tekankan Tekankan baik untuk pentingnya pentingnya kehamilan pemberian makan teratur perawatan prenatal dini dan selanjutnya Ajarkan pemberian obatobatan bila diindikasikan termasuk dosis, nama, tujuan, waktu pemberian, untuk dilaporkan kepada perawat

terdekat mampu mengungkapkan gejala pada bayi Orang tua/orang terdekat mampu memenuhi kebutuhan khusus bayi buruk

dan efek samping

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Arvin Behrman Kliegmen.1996, Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi 15 volume I. Jakarta : Egc 2. Wiknjosastro. Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo 3. Arvin Behrman Kliegmen.1996, Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi 15 volume I. Jakarta : Egc. 4. Bobak, dkk. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC 5. http://www.drdidispog.com/2008/11/makrosomia-bayi-besar.html 6. http://www.google.com/Posted on Juni 17, 2009/by ayurai. 7. Markum, A.H. 1996. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FAkultas Kedokteran Universitas Indonesia. 8. Tabloid Ibu Anak. Mother And Baby Edisi Senin, 04 Nov 2002 Persis mary. 1995. Dasar-dasar keperawatan maternitas. Jakarta : EGC. 9. Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 10. Wiknjosastro. Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo 11. Fraser, Diane M. 2009. Buku Ajar Bidan. Jakarta : EGC 12. Saifudin, Abdul Bari dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP-MNH PROGRAM 13. Wafi.2009. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya 14. Wijayanegara, Hidayat, 2003, Obstetri patologi, Jakarta :EGC 15. Varney, Helen. 2008. Asuhan Kebidanan . Jakarta : EGC

17