Anda di halaman 1dari 14

Angin Puting Beliung 3.

1 Pendahuluan Angin puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus, di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis ini yang ada di Amerika yaitu Tornado mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pacaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar. Sebelum bencana ini terjadi, terdapat beberapa ciri-ciri yang dapat diperhatikan yaitu:

satu hari sebelumnya, udara pada malam hari- pagi hari udaranya panas/pengap/sumu sekitar pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol

tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap perhatikan pepohonan disekitar tempat kita berdiri, apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada maka hujan dan angin kencang sudah akan datang

terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri biasanya hujan pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba dengan deras, apabila hujan nya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita berdiri

Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator tersebut dirasakan oleh kita maka ada kemungkinan hujan lebat+petir dan angin kencang akan terjadi

Jika 1 atau 3 hari berturut turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun tidak.

Atau dapat juga dilihat pada waktu siang hari terlihat adanya awan putih menjulang tinggi seperti bunga kol, kemudian berkembang menjadi awan gelap yang disertai hembusan udara dingin, dan angin mulai menggoyangkan pepohonan ke kiri dan ke kanan, tidak lama kemudian angin semakin cepat dan diikuti hujan lebat dan terkadang disertai hujan es. Terlihat di awan hitam pusaran angin berbentuk seperti kerucut turun menuju tanah (bumi). Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada musim pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak. Terjadinya puting beliung juga sangat berkaitan erat dengan fase tumbuh awan Cumulonimbus (Cb) : (1) Fase Tumbuh : Dalam awan terjadi arus udara naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun Kristal es masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan. (2) Fase Dewasa/Masak : Titik-titik air tidak tertahan lagi oleh udara naik ke puncak awan. Hujan turun menimbulkan gaya gesek antara arus udara naik dan turun. Temperatur massa udara yang turun ini lebih dingin dari udara sekelilingnya. Antara arus udara yang naik dan turun dapat timbul arus geser memuntir, membentuk pusaran. Arus udara ini berputar semakin cepat, mirip sebuah siklon yag menjilat bumi sebagai angin puting beliung. Terkadang disertai hujan deras yang membentuk pancaran air (water spout). (3) Fase Punah : Tidak ada massa udara naik. Massa udara yang turun meluas di seluruh awan. Kondensasi berhenti. Udara yang turun melemah hingga berakhirlah pertumbuhan awan Cb.

3.2 Siklus Bencana

1. Tanggap Darurat Pada siklus tanggap darurat (respons) bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Tahapan pelaksanaan pada fase tanggap darurat meliputi: pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, kerugian, dan sumber daya; penentuan status keadaan darurat bencana; penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana; pemenuhan kebutuhan dasar; perlindungan terhadap kelompok rentan; dan pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital. Lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana ini yaitu Pemerintah, element masyarakat itu sendiri dalam bentuk swadaya/ gotong royong. Pemerintah berdasarkan hirarkinya telah membentuk suatu badan yang dikenal dengan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) sementara ditingkat Provinsi seperti di Aceh dikenal dengan Badan Penangulangan Bencana Aceh ( BPBA) sementara di tingkat kabupaten disebut Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD). Prinsipnya tugas lembaga ini berfungsi sebagai komando, koordinasi dan pelaksana . Selain itu walaupun dari pemerintah itu sendiri masih ada bidang yang terkait dengan kebencanaan yang bersifat

dibawah Dinas/ institusi seperti; Dinas Sosial, Dinas Kesehatan (Brigade tanggap darurat), Dinas Pekerjaan Umum/ BMCK, Basarnas, BAPENAS/ BAPEDA, TNI/Polri, PDAM , PLN , BULOG, BMKG. Kegiatan yang menjadi fokus pada siklus respons/ saat tanggap darurat meliputi: melakukan penyelamatan, evakuasi korban dan harta benda; melakukan pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana; melakukan pemulihan pelayanan di bidang keagamaan; melakukan perlindungan dan pengurusan pengungsi; dan melakukan pemulihan sarana dan prasarana umum. Penyelamatan, evakuasi korban dan harta benda meliputi: pencarian dan penyelamatan korban; pertolongan darurat; dan evakuasi korban dan harta benda. Pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana, meliputi: kebutuhan air bersih dan sanitasi; pangan; sandang; pelayanan kesehatan; dan penampungan dan tempat hunian. Pemulihan pelayanan dibidang keagamaan, meliputi: penyuluhan agama; penyediaan kebutuhan pelayanan keagamaan; pelayanan psikososial; bimbingan dan konseling keagamaan; dan pelaksanaan fasilitasi fardhu kifayah. Perlindungan dan pengurusan pengungsi, meliputi: pendataan; penempatan pada lokasi yang aman; pemenuhan kebutuhan dasar; pemberian perlindungan prioritas kepada kelompok rentan; dan pemberian bantuan santunan duka cita. Juga melakukan pemulihan sarana dan prasarana umum seperti rumah sekolah, masjid, perbaikan selokan umum dll. Peran masyarakat yang berdomisili dalam wilayah bencana membentuk tim penanggulangan bencana berbasis desa yang telah terlatih dimana masyarakat pada saat terjadi bencana dapat melakukan evakuasi mandiri, keordinasi bersama dan pendataan korban sementara di wilayah masingmasing. Peran yang dapat diambil oleh S2 Kebencanaan pada siklus respons adalah membantu memberikan masukan dan menganalisi status darurat bencana berdasarkan pada kajian keilmuan yang dimiliki. Contohnya pada bencana angin putting beliung bantuan yang diberikan berupa makanan, tempat untuk mengungsi yang aman, obat-obatan, dan lain-lain. 2. Siklus Recovery. Pada siklus Recovery kegiatan meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi. Rahabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua

aspek

pemerintahan

dan

kehidupan

masyarakat

pada

wilayah

pascabencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana. Lembaga yang terlibat adalah pemerintah dan non pemerintah. Pemerintah melalui BPBA/ BPBD tetap melakukan fungsinya sebagai mengkoordinasikan dan melakukan evaluasi dan pengawasan kegiatan yang dilakukan oleh pihak terkait yang terlibat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi, meliputi: peningkatan kapasitas pelayanan keagamaan; perbaikan lingkungan daerah bencana; perbaikan sarana dan prasarana umum; pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; pemulihan sosial psikologis; pelayanan kesehatan; rekonsiliasi dan resolusi konflik; pemulihan ekonomi dan sosial budaya; pemulihan keamanan dan ketertiban; pemulihan fungsi pemerintahan; dan pemulihan fungsi pelayanan publik. Rekonstruksi, meliputi: pembangunan kembali sarana dan prasarana; pembangunan kembali sarana sosial masyarakat; revitalisasi kehidupan sosial budaya masyarakat; penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana; peningkatan partisipasi dan peran aktif lembaga, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat; peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan budaya; peningkatan fungsi pelayanan publik; dan peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat. Pada bencana angin putting beliung, banyak sekali rumah-rumah masyarakat mengalami kerusakan, seperti atap rumah yang telah hancur dikarenakan angin yang sangat kuat. Membantu masyarakat untuk memperbaiki rumahnya kembali adalah salah satu aspek dari siklus recovery. 3. Siklus Pencegahan dan Mitigasi Pencegahan dan Mitigasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Sementara Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan

peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kegiatan yang dilakukan pada fase ini ada dua yaitu: perencanaan dan pelaksanaan penataan ruang yang berdasarkan pada analisis risiko bencana; pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, dan tata bangunan; dan penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan, baik secara konvensional maupun modern. Lembaga yang terlibat terdiri dari Pemerintah (BPBA/BPBD) berupaya melakukan perencanaan penanggulangan bencana; melakukan upaya pengurangan dan pencegahan resiko bencana; melakukan koordinasi dalam penerapan rencana tata ruang yang berbasis pengurangan resiko bencana; melakukan koordinasi pelestarian fungsi lingkungan hidup; melakukan koordinasi pendidikan, analisis pemanduan pelatihan perencanaan dan dan pembangunan; di bidang menyelenggarakan penanggulangan standar teknis penelitian menyusun

bencana; melakukan pemetaan daerah rawan bencana; menyusun persyaratan resiko bencana; persyaratan penanggulangan bencana. Pihak pemerintah yang juga meliputi Dinas Sosial melakukan penyiapan dan perencanaan kebutuhan logistic Dinas Kesehatan melakukan pelatihan evekuasi bencana dibidang kesehatan. Dinas Pekerjaan Umum/ BMCK membuat perencanaan bangunan (building codes), relokasi , perencanaan dan penyediaan shealter, membuat pemcahan ombak, kanal banjir. Dan lain-lain. Dinas Pendidikan mempersiapkan pendidikan kebencanaan di seluruh tingkatan pendidikan (SD, SMP, SMA). Non Pemerintah seperti PMI membentuk kelompok siaga bencana desa, melakukan pelatihan dan pendidikan. TDMRC/Universitas melakukan penelitian dan pelatihan di bidang kebencanaan. Peran masyarakat pada fase ini menjadi bagian dari proses mitigasi secara aktif, membentuk kelompok tangguh bencana (PRB). Peran S2 melakukan penelitian dan kajian dalam Pengurangan risiko bencana. Dan mencoba menemukan metode-metode baru dalam Pelaksanaan PRB. 4. Siklus Preparedness (Kesiapsiagaan). Pada siklus Preparedness (kesiapsiagaan) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Peringatan dini adalah

serangkaian

kegiatan

pemberian

peringatan

sesegera

mungkin

kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi terdapat potensi terjadi bencana sebagaimana dimaksud meliputi: kesiapsiagaan; peringatan dini; Kesiapsiagaan, penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana; Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini; penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar; pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme tanggap darurat; penyiapan lokasi evakuasi penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap darurat bencana; dan penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana. Peringatan dini dilakukan dengan cara: mengamati gejala bencana; menganalisa data hasil pengamatan; mengambil keputusan berdasarkan hasil analisa; menyebarluaskan hasil keputusan; dan mengambil tindakan oleh masyarakat. Lembaga yang terlibat pihak pemerintah (BPBA/BPBD) berupaya melakukan penerapan melakukan perencanaan rencana tata penanggulangan ruang yang bencana; berbasis fungsi dan melakukan pengurangan lingkungan di upaya resiko hidup; bidang pengurangan dan pencegahan resiko bencana;melakukan koordinasi dalam bencana; melakukan menyelenggarakan koordinasi pendidikan, pelestarian pelatihan

koordinasi

pemanduan

perencanaan

pembangunan;

penelitian

penanggulangan bencana; melakukan pemetaan daerah rawan bencana; menyusun persyaratan analisis resiko bencana; dan menyusun persyaratan standar teknis penanggulangan bencana. Prinsipnya semua lembaga pemerintah dan non pemerintah berupaya focus pada melakukan pelatihan dan penyiapan masyarakat dalam peningkatan capasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Peran masyarakat yaitu diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan dan berupaya bersiapsiaga sebaik mungkin dalam menghadapi kondisi bencana apabila hal tersebut kajiannya terulang kembali sementara peran S2 kebencanaan dalam selain rangka merekomendasikan kegiatan apa yang baik dilakukan berdasarka kajianjuga dapat memberikan pelatihan-pelatihan

kesiapsiagaan terhadap bencana. 3.3 Pencegahan Bencana Pencegahan bencana adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Pencegahan dilakukan sebelum terjadinya bencana yang meliputi dua keadaan yaitu: dalam situasi tidak terjadi bencana dalam situasi terdapat potensi bencana

1. Situasi tidak terjadi bencana Situasi tidak ada potensi bencana yaitu kondisi suatu wilayah yang berdasarkan analisis kerawanan bencana pada periode waktu tertentu tidak menghadapi ancaman yang nyata. Penyelenggaraan penanggulangan dalam situasi tidak terjadi bencana angin puting beliung meliputi: a. perencanaan penanggulangan bencana; b. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang; c. pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat; 2. Situasi terdapat potensi bencana Pada situasi ini perlu adanya kegiatan-kegiatan kesiapsiagaan, peringatan dini dan mitigasi bencana dalam penanggulangan bencana. a. Kesiapsiagaan b. Peringatan dini c. Mitigasi bencana Adapu pelaku kegiatan penanggulangan bencana ini terdiri dari instansi pemerintahan terkait (sektor pemerintahan, kesehatan, dll) dan masyarakat. Pencegahan bencana angin puting beliung Angin puting beliung datang tanpa di duga sehingga kadang masyarakat menjadi bingung dan trauma dengan datangnya angin ini. Tips menghadapi puting beliung, hujan badai,angin ribut perlu diketahui terutama menjelang musim hujan (musim pancaroba peralihan dari musim kemarau ke musim hujan). Puting beliung dan angin ribut bisa merobohkan pohon dan rumah, maka perlu adanya antisipasi supaya tidak

timbul korban jiwa akibat puting beliung dan hujan disertai badai. Indonesia cukup berpeluang terjadinya puting beliung terutama di daerah-daerah yang memiliki hamparan dataran luas tanpa adanya penghalang bukit dan gunung yang dapat memecah pusat puting beliung. Berikut beberapa tips untuk menghidari bahaya angin puting beliung: 1. Situasi tidak terjadi bencana puting beliung

Dengar dan simaklah siaran radio atau televisi menyangkut prakiraan terkini cuaca setempat. Jika merupakan wilayah yang rawan terkena bencana angin puting beliung, siapkan bunker untuk tempat perlindungan sebelum terjadi bencana tersebut.

Upayakan tanaman yang berada di sekitar rumah anda tidak terlalu rimbun. supaya tidak mudah tumbang ketika diterjang puting beliung, apalagi pohon yang dekat dengan rumah anda, usahakan untuk segera dipangkas ketika menjelang musim hujan.

Waspadalah terhadap perubahan cuaca. Misalnya adanya angin topan puting beling yang mendekat. Perhatikan tanda alam dan keadaan sekitar seperti: langit gelap, sering berwarna kehijauan; hujan es dengan butiran besar; awan rendah, hitam, besar, seringkali bergerak berputar; suara keras seperti bunyi kereta api cepat.

2. Situasi terdapat potensi bencana angin puting beliung

Bersiaplah untuk ke tempat perlindungan ( bunker ) bila ada angin topan mendekat. Upayakan di rumah tersedia obat-obatan, cadangan penerangan, cadangan makanan dan air bersih. Hindari tempat tempat seperti rumah dengan dinding kayu/bambu, jembatan, pohon, antena radio, tiang listrik, tower tv, tower telepon seluler, dan gedung tinggi.

Jika waktu masih ada, mengungsilah ke tempat yang lebih jauh yang dianggap aman dan tidak berpotensi terkena bencana angin puting beliung.

Jika terkena bencana angin puting beliung, maka sebaiknya melakukan tindakan-

tindakan di bawah ini:

Segeralah ke tempat yang aman untuk berlindung (bungker/rumah, lantai basement, dan tempat-tempat yang anggap kokoh), atau berlindunglah di bawah meja jika sedang berada di ruang kerja. Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, maka yang harus dilakukan adalah segera menuju ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk menghadapi keadaan tersebut seperti sebuah ruangan yang dianggap paling aman, basement, ruangan anti badai, atau di tingkat lantai yang paling bawah. Bila tidak terdapat basement, segeralah ke tengah tengah ruangan pada lantai terbawah, jauhilah sudut sudut ruangan, jendela, pintu, dan dinding terluar bangunan. Semakin banyak sekat dinding antara diri anda dengan dinding terluar gedung semakin aman. Berlindunglah di bawah meja gunakan lengan anda untuk melindungi kepala dan leher. Jangan pernah membuka jendela.

Apabila sedang dalam perjalanan dengan sepeda motor/mobil sebaiknya segeralah menepi dan berhenti kemudian berlindung ke tempat yang aman, jangan berlindung di bawah pohon. Jangan berlindung di bawah jembatan, jalan layang, atau sejenisnya, akan lebih aman tiarap pada tempat yang datar dan rendah.

Apabila sedang berada di luar ruangan sebaiknya segera tiarap (tengkurap) lindungi kepala dan leher dengan lengan/tangan. Jangan pernah melarikan diri dari angin puting beliung dengan menggunakan kendaraan bermobil bila di daerah yang berpenduduk padat atau yang bangunannya banyak. Segera tinggalkan kendaraan anda untuk mencari tempat perlindungan terdekat. Antisipasi tindakan yang aman adalah berlindung dan tiarap di tempat yang aman seperti diatas tadi.

Hati hati terhadap benda benda yang diterbangkan angin puting beliung. Hal ini dapat menyebabkan kematian dan cedera serius.

3.4 Demo Penanggulangan Bencana Angin Puting Beliung maraknya. Apalagi ditunjang dengan cuaca pancaroba di Indonesia yang tidak

menentu. Ribuan rumah banyak yang rusak akibat bencana angin puting beliung. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penanggulangan bencana angin puting beliung. Gejala akan terjadinya puting beliung dapat dideteksi awal. Gejalanya antara lain, udara terasa panas dan gerah, di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus (awan putih bergerombo yang berlapis-lapis). Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol. Gejala lainnya yaitu, awan tiba-tiba berubah warna dari putih menjadi hitam pekat. Dan jika angin mulai bertiup kencang menggerakkan ranting pohon dengan cepat, maka akan terjadi tiupan angin putih beliung. Seperti halnya pada kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, yang merupakan satu dari 9 kecamatan yang dipetakan sebagai daerah rawan bencana oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pemerintah daerah melakukan upaya berupa Unit Pelayanan Teknis bencana karena jarak kecamatan jauh dari pusat pemerintahan, sehingga apabila terjadi bencana hal itu dapat mempercepat proses penanganan. Unit Pelayanan teknis dinas juga nantinya dapat memberikan deteksi dini terhadap bencana dan pembeian penyuluhan kepada masyarakat terkait cara-cara menghadapi bencana, khususnya angin puting beliung. Kemudian, di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Upaya penanganan bencana dilakukan dengan menyiapkan pekon tangguh. Pekon tangguh merupakan pekon yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana. Kemudian memulihkan diri dengan segera dampak bencana yang menimpa. Hal ini merupakan program strategis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tertuang dalam Peraturan Kepala BNPB No. 1/2012. Tetapi, harus didukung juga dengan peningkatan peran serta masyarakat maupun lembaga masyarakat melalui pemeliharaan kearifan lokal. Peran serta dapa dilakukan dengan meningkatkan kerja sama antara para pemangku kepentingan dalam pengurangan risiko bencana. Yakni dari pemerintah daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat, dan kelompokkelompok lainnya yang peduli terhadap bencana. Sosialisasi pengembangan pekon tangguh bencana melibatkan kepala pekon, hansip, LPM, dan tokoh pemuda. Sehingga, penanggulangan bencana angin puting beliung dapat dilakukan dengan

berbagai cara. Antara lain dapat dengan deteksi awal gejala terjadinya angin puting beliung, membuat Unit Pelayanan Teknis bencana khususnya pada daerah yang jauh dari pemerintah pusat, dan pembuatan pekon tangguh. Berikut ini merupakan fotofoto dari bencana angin puting beliung di Indonesia :

3.5 Peran Pemerintah dalam Penanggulanan Bencana Angin Putting Beliung Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat ( 3-5 menit). (bnp.go.id) Isi Penanggulangan bencana tanah longsor dari pemerintah : 1. Adanya Badan Penanggulangan Bencana Nasional bertugas membantu presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penanganan bencana dan kedaruratan secara terpadu, serta melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan dari sebelum, pada saat dan setelah

terjadi bencana yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat dan pemulihan. Dibentuk berdasarkan PP. No 8 Tahun 2008. Sebelumnya badan ini bernama Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005, menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001 2. Adanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah 3. Adanya Kesatuan Tanggap Bencana atau lebih tepatnya Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana atau disingkat Satkorlak PB adalah sebuah lembaga non structural di provinsi yang mempunyai tugas mengkoordinasikan upaya penanganan bencana dan kedaruratan yang terjadi di wilayah provinsinya dengan berpedoman pada kebijakan yang ditetapkan oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. Sebelum datangnya angin 1. Mewaspadai perubahan cuaca 2. Mendengarkan dan menyimak siaran radio atau televisi menyangkut perkiraan cuaca setempat terkini 3. Mewaspadai angin puting beliung yang mendekat 4. Mewaspadai tanda-tanda bahaya; awan hitam, hujan es, suara keras seperti bunyi kereta api cepat 5. Bersiap untuk berlindung di bunker atau dalam rumah Yang harus dilakukan saat terjadi angin puting beliung 1. Segera ke tempat perlindungan (bunker) 2. Pergi ke ruangan yang telah dianggap aman 3. Menghentikan kendaraan jika sedang mengendarai 4. Jika berada diluar ruangan dan jauh dari tempat perlindungan, carilah tempat perlindungan yang serendah mungkin sambil melindungi kepala. Hindari berlindung dibawah jembatan. Pemerintah dalam rangka penanggulangan bencana puting beliung sudah memiliki lembaga-lembaga yang bertugas mengkoordinasi serta melakukan tindakan-tindakan penanggulangan bencana puting dengan dasar dasar hukum yang jelas.