Anda di halaman 1dari 45

NEUROLOGI INFEKSI

CEREBERITIS & ABSES OTAK ICD G O6.0 DEFINISI / ETIOLOGI penumpukan material piogenik yang terlokalisir di dalam / di antara parenkim otak etiologi : bakteri (yang sering) : Staphylococcus aureus, streptococcus anaerob, S.beta hemolitikus, s. Alfa hemolitikus, E. Coli, bacterioides jamur : N.asteroid, spesies candida, aspergillus. parasit (jarang) : E.histolitika, cystecicosis, schistosomiasis.

Patogenesis Mikroorganisme (MO) mencapai parenkim otak melalui : hematogen : dari suatu tempat infeksi yang jauh Perluasan di sekitar otak : sinusitis frontalis, otitis media trauma tembus kepala / operasi otak Komplikasi dari kardiopulmoner, meningitis piogenik. 20% kasus tak diketahui sumber infeksinya.

Lokasi :

hematogen paling sering pada substansia alba dan grisea perkontinutatum : daerah yang dekat dengan permukaan otak

Sifat : dapat soliter atau multiple. Yang multiple sering pada jantung bawaan sianotik karena ada shunt kanan ke kiri

Tahap-tahap: awal : reaksi radang yang difus pada jaringan otak (infiltrat leukosit, edema, perlunakan dan kongesti) kadang disertai bintik-bintik perdarahan beberapa hari-minggu : nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk rongga abses. Astroglia, fobroblas, makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik sehingga terbentuk abses yang tidak berbatas tegas. tahap lanjut : fibrosis yang progresif sehingga terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris

Stadium serebri dini (hari I-III) serebri lanjut (hari IV-IX) serebri kapsul dini (hari X-XIII) serebritis kapsul lanjut (>XIV hari)

KRITERIA DIAGNOSIS gambaran kliniknya tidak khas, kriteria terdapat tanda infeksi. TIK khas bilang terdapat trias : gejala infeksi + TIK + tanda neurologi fokal darah rutin : 50 -60 % didapati leukositosis 10.000 -20.000/ cm 70-95 % LED meningkat LP : bila tidak ada kontraindikasi untuk kultur dan tes sensitifitas radiologi : Foto polos kepala biasanya normal CT scan kepala tanpa kontras dan pakai konras bila berdiameter >10mm Angiografi

Pemeriksaan penunjang darah rutin (leukosit, LED) LP : bila tidak ada kontraindikasi untuk kultur dan tes sensitifitas rontgen : foto polos kepala, CT-scan kepala tanpa kontras dan pakai kontras atau angiografi

DIAGNOSIS BANDING space occupying lession lainnya (metastase tumor, glioblastoma)

meningitis

TATALAKSANA prinsipnya menghilangkan fokus infeksi dan efek massa. kausal : Ampisillin 2 gr/ 6 jam iv (200-400 mg /kgBB/hari selama minggu) Kloramfenikol 1 gr/ 6 jam iv selama 2 minggu Metronidazol 500 mg / 8 jam iv selama 2 minggu Antiedema : dexamethason / manitol Operasi bilatindakan konservatif gagal atau abses berdiameter 2 cm

PENYULIT herniasi hidrosefalus obetruktif koma

KONSULTASI Bedah syaraf

TEMPAT PELAYANAN

Perawatan di RS A atau B

TENAGA STANDAR Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf

LAMA PERAWATAN Minimal 6 minggu

PROGNOSIS Sembuh, sembuh + cacat atau meninggal Prognosis : tergantung dari : ukmur penderita, lokasi abses dan sifat absesnya.

MENINGITIS TUBERKULOSA ICD A 17.0 DEFINISI ETIOLOGI Meningitis tuberkulosa adalah reaksi perandangan yang mengenai selaput otak yang disebabkan oleh kuman tuberkulosa.

KRITERIA DIAGNOSIS

Anamnesis Didahului oleh gejala prodromal berupa nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, demam subfebris, disertai dengan perubahan tingkah laku dan penurunan kesadaran, onset subakut, riwayat penderita TB atau adanya fokus infeksi sangat mendukung

Pemeriksaan fisik tanda-tanda rangsangan meningeal berupa kaku kuduk dan tanda laseque dan kernig kelumpuhan saraf optak dapat sering dijumpai

Pemeriksaan penunjang pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan LCS (bila tidak ada tanda-tanda paninggian tekanan intrakranial), pemeriksaan darah rutin kimia, elektrolit. Pemeriksaan sputum BTA (+) pemeriksaan radiologi : Foto polos paru CT-scan kepala atau MRI/ dibuat sebelum dilakukan pungsi lumbal bila dijumpai peninggian tekanan intrakranial pemeriksaan penunjang lain IgG anti TB (untuk mendapatkan antigen bakteri diperiksa counterimmunoelectrophoresis, radioimmunoassay atau teknik ELISA) PCR

Pada pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan LCS (bila tidak ada tanda+tanda peninggian tekanan intrakranial) pelikel (+) / cobweb appearance (+) pleiositosis 50-500 /mm3, dominan sel mononuklear, protein meningkat 100-200 mg% , glukosa menurun <50%-60% dari GDS, kadar laktat, kadar asam amino, bakteriologis Ziehl Nielsen (+), kultur BTA (+). Pemeriksaan penunjang lain seperti IgG anti-TB atau PCR.

DIAGNOSIS BANDING meningoensefalitis karena virus meningitis bakterial yang pengobatannya tidak sempurna meningitis oleh karena infeksi jamur/parasit (Cryptococcus neoformans atau Toxoplasma gondii), sarkoid meningitis. tekanan selaput yang difus oleh sel ganas, termasuk karsinoma, limfoma, leukimia, glioma, melanoma, dan meduloblastoma.

PENATALAKSANA umum terapi kausal : kombinasi obat anti tuberkuloasa (OAT) INH Pirazinamida Rifampisin

Etambutol Kortikosteroid

PENYULIT / KOMPLIKASI hidrosefalus kelumpuhan saraf kranial iskemi dan infark pada otak dan mielum epilepsi SIADH retardasi mental atrofi nervus optikus

KONSULTASI Bedah saraf

JENIS PELAYANAN Rawat inap

TENAGA STANDAR Dokter spesialis saraf, dokter umum, perawat

LAMA PERAWATAN Minimal 3 minggu, tergantung respon pengobatan

PROGNOSIS meningitis tuberkulosis sembuh lambat dan umumnya meninggalkan sekuel neurologis bervariasi dari sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, meninggal.

RABIES ICD A 82

DEFINISI /ETIOLOGI Rabies adalah penyakit peradangan akut SSP oleh virus rabies, bermanifestasi sebagai kelainan neurologis yang umumnya berakhir dengan

KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis Penderita mempunyai riwayat tergigit, tercakar atau kontak dengan anjing, kucing atau binatang lainnya yang : rabies (hasil pemeriksaan otak hewan tersangka) dalam waktu 10 hari sejak menggigit (bukan dibunuh) dapat diobservasi setelah menggigit (dibunuh, lari, dan sebagainya)

tersangka rabie (hewan berubah sifat, malas makan, dll) Gambaran klinik stadium prodormal (2-10 hari) Sakit dan rasa kesemutan disekitar luka gigitan (tanda awal rabies), sakit. Kepala, lemah, anoreksia, demam, rasa takut, cemas, agitasi. stadium kelainan neurologis (2-7 hari) Bentuk spastik : peka terhadap rangsangan ringan, kontraksi otot faring dan esofagus, kejang, aerofobia, hidrofobia, kaku kuduk, delirium, semikoma, meninggal setelah 3-5 hari Bentuk dimensia Kepekaan terhadap rangsangan bertambah, gila mendadak, dapat melakukan tindakan kekerasan, koma,mati Bentuk paralitik (7-10 hari)

Gejala tidak khas, penderita meninggal sebelum diagnosis tegak, terlihat monoplegi atau paraplegi flaksid, gejala bulbar, kematian karena kelumpuhan otot napas.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium : leukosit, hematokrit, Hb, albumin urine, dan leukosit urine, likuor serebrospinal bila perlu. pemeriksaan radiologik : dapat dilakukan pemeriksaan CT-scam kepala untuk menyingkirka kausa lain pemeriksaan penunjang lain : tidak ada.

Menunjang diagnosis bila ditemukan : darah : urine Albuminuria Sedikit leukosit Leukosit : 8.000 -13.000 /mm3 Hematokrit : berkurang Hb : berkurang

CFS : proteindan sel normal atau sedikit meninggi

DIAGNOSIS BANDING intoksikasi obat-obatan ensefalitis tetanus histerikal pseudorabies poliomielitis

TERAPI bila sudah timbul gelaja prodromal prognosis infaust dalam 3 hari terapi hanya bersifat simptomatis dan supportif (Infus Dextrose, antikejang)

vaksin antirabies / serum antirabies : tidak diperlukan

PENYULIT Dehidrasi, gagal napas

KONSULTASI Anestesi

JENIS PELAYANAN Perawatan RS diperlukan untuk menenangkan pasien

TENAGA STANDAR Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf

TEMPAT PERAWATAN Dirawat di kamar isolasi 1-10 hari (umumnya penderita meninggal dalam 1-2 hari perawatan)

PROGNOSIS Infaust / meninggal dunia

PENATALAKSANAAN PENDERITA TERGIGIT ANJING ATAU HEWAN TERSANGKA DAN POSITIF RABIES : anjing / hewan yang menggigit terbukti secara laboratorium adalah positif rabies anjing atau hewan yang menggigit mati dalam waktu 5-10 hari anjing atau hewan yang menggigit menghilang atau terbunuh anjing atau hewan yang menggigit dengan gejala rabies

Catatan : penyunyikkan dilakukan secara lengkap bila : A. Hewan atau anjing yang menggigit positif rabies B. Hewan atau anjing liar atau gila yang tidak dapat diobservasi atau hewan anjing liar atau gila yang tidak dapat diobserbvasi atau hewan tersebut dibunuh. penyuntikan VAR tidak dilanjutkan apabila hewan atau anjing yang menggigit penderita tetap sehat selama observasi sampai dengan 10 hari. petugas (tenaga medis atau perawat) harus memakai sarung tangan, pakaian dan masker dokter / perawat harus terlebih dahulu memberikan penjelasan secukupnya tentang jumlah kali pemberian vaksin anti rabies (VAR) / serum anti rabies (SAR), termasuk manfaat maupun efek samping yang mungkin timbul. sebelum dilakukan vaksinasi dengan VAR / pemberian serum anti rabies (SAR) terhadap penderita terlebih dahulu dimintai persetujuan dari penderita ataupun keluarga terdekat penderita atas pemberian vaksinasi / serum tersebut. Dalam hal ini penderita atau keluarga terdekat penderita harus menandatangani surat persetujuan (informed consent) disaksikan oleh dua orang saksi termasuk dokter / perawat. No INDIKASI TINDAKAN Jenis VAR + dosis boster keterangan

Luka gigitan

1. dicuci dengan air sabun (detergen) 5-10 menit kemudian dibilas dengan air bersih 2. alkohol 4070% 3. berikan yodium, betadin solusio atau senyawa ammonium kuartener 0.1% 4. penyuntikan SAR secara infiltrasi sekeliling luka .

..

..

menunda penjahitan luka jika penjahitan diperlukan gunakan anti serum lokal bila diindikasikan dapat diberikan toxoid tetanus, antibiotic, anti inflamasi dan analgesik

2.

Kontak, tetapi tanpa lesi, kontak tak langsung, tak ada kontak Menjilat kulit, garukan atau abrasi kulit, gigitan kecil (daerah tertutup), lengan, badan dan tungkai

..

3.

Berikan VAR hari 0 : 2 suntikan i.m hari 7 : 1 x suntikan i.m hari 21 : 1x suntikan i.m

Imovax atau verorab 0,5 ml deltoideus kiri dan 0,5 ml deltoideus kanan 0,5 ml deltoideus kiri atau kanan 0,5 ml deltoideus kiri atau kanan

Dosis untuk semua umur sama

4.

Menjilat mukosa,luka gigitan besar atau dalam, multiple, luka pada muka, kepala, leher, jari tangan dan jari kaki

Serum anti rabies Imovag rabies (SAR) dosis disuntikkan secara infiltrasi disekitar luka dosis yang sisa disuntikkan i.m di region glutea Vaksin anti rabies (VAR) Sesuai poin 3A dan B Imovag, verorab Hari 90 : 0,5 ml i.m pada deltoid kiri atau kanan 20 IU/kgBB

5.

Kasus gigitan ulang A. kurang dari 1 tahun

Berikan VAR hari 0

Imova, verorab SMBV

0,5 ml i.m detoideus umur < 3 th 0.1 ml IC flexor lengan bawah umur >3 th 0,25 ml IC flexor lengan bawah

B. lebih dari 1 tahun Berikan SAR + VAR secara 6. Bila ada reaksi penyuntikan lengkap Berikan antihisamin Imovax, verorab, SMBV, imogan rabies

Sesuai poin 1,3,4,5

reaksi lokal kemerahan, gatal,

sistemik atau lokal. Tidak boleh diberikan

pembengkakan kortikoserois Bila timbul efek samping pemberian VAR berupa meningoensefalitis Terapi kortikosteroid dosis tinggi

ENSEFALITIS VIRAL ICD G 05

DEFINISI / ETIOLOGI suatu penyakit demam akut dengan kerusakan jaringan parenkim sistem saraf pusat yang menimbulkan kejang, kesadaran menurun, dan tanda-tanda neurologis fokal etiologi: Virus DNA poxviridae : poxvirus herpetoviridae : virus herpes simpleks, varicella zooster, virus sitomegalik

Virus RNA paramiksoviridae : virus parotitis, virus morbili (rubella) picornaviridae : enterovirus, virus poliomielitis, echovirus rhabdoviridae : virus rabies togaviridae : virus ensefalitis alpha, flavbivirus, ensefalitis jepang B, virus demam kuning, virus Rubi bunyaviridae : virus ensefalitis california arenaviridae : khoriomeningitis limfositaria retroviridae : virus HIV

KRITERIA DIAGNOSIS bentuk asimptomatik : Gejala ringan, kadang ada nyeri kepala ringan atau demam tanpa diketahui penyebanya. Diplopia, vertigo, parestesi berlangsung sepintas. Diagnosis ditegakkan denganpemeriksaan cairan serebrospinal bentuk abortif: Nyeri kepala, demam yang tidak tinggi, kaku kuduk ringan. Umumnya terdapat infeksi saluran napas bagian atau atau gastrointerstinal. bentuk fulminan : Berlangsung beberapa jam sampain beberapa hari yang berakhir dengan kematian. Pada stadium akut demam tinggi, nyeri kepala difus yang hebat, apatis, kaku kuduk, disorientasi, sangat gelisah dan dalam waktu singkat masuk ke dalam koma dalam. Kematian biasanya terjadi dalam 2-4 hari akibat kelainan bulbar atau jantung. Bentuk khas ensefalitis : Gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gajala infeksi saluran napas bagian atas atau gastrointestinal selama beberapa hari. Kaku kuduk, tanda Kernig positif, gelisah, lemah dan sukar tidur. Defisit neurologis yang timbul tergantung tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran menurun sampai koma, kejang fokal atau umum, hemiparesis, gangguan koordiansi, kelainan kepribadian, disorientasi , gangguan bicara dan gangguan mental

Pemeriksaan penunjang :

Pemeriksaan laboratorium pungsi lumbal (bila tak ada kontra indikasi)

Cairan serebrospinal jernih dan tekanannya dapat normal atau meningkat Fase dini dapat dijumpai peningkatan sel PMN diikuti pleositosis limfositik, umumnya kurang dari 1000/ul

Glukosa dan klorida normal Protein normal atau sedikit meninggi (80 -200 mg/dl)

pemeriksaan darah Leukosit : normal atau lekopeni atau lekositosis ringan Amilase serum sering meningkat pada parotitis Fungsi hati abnormal dijumpai pada hepatitis virus dan minonukleosis infeksiosa Pemeriksaan antibodi-antigen spesifik untuk HSC, cytomegalovirus dan HIV

Pemeriksaan radiologik foto thorax CT scan MRI

Pemeriksaan penunjang lain Bila tersedia fasilitas virus dapat dibiakkan dari cairan serebrospinal, tinja, urin, apusan nasofaring atau darah

DIAGNOSIS BANDING

infeksi bakteri, mikrobakteri, jamur, protozoa meningitis tuberkulosa, meningitis karena jamur abses otak Lues serebral intoksikasi timah hitam infiltrasi neoplasma (lekemia, limfoma, karisnoma

TERAPI perawatan umum anti edem serebri : dexamethason dan manito 20% atasi kejang : diazepan 10-20 mg iv perlahan-lahan dapat diulang sampai 3 kali dengan interval 15-30 menit. Bila masih kejang berikan fenitoin 100-200 mg/ 12 jam/hari dilarutkan dalam NaCl dengan kecepatan maksimal 50 mg/mebit terapi kausal : untuk HSV : acyclovir

PENYULIT / KOMPLIKASI defisit neurologis sebagai gejala sisa hidrosefalus gangguan mental epilepsi SIADH

KONSULTASI : -

JENIS PELAYANAN Rawat inap, segera

TENAGA STANDAR Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf

LAMA PERAWATAN Satu bukan bila tidak ada sequel neurologis Minumal 1 (satu) minggu

PROGNOSIS Beratnya sequel tergantung pada virus penyebab

MENINGITIS BAKTERI ICD G 00

DEFINISI / ETIOLOGI

Meningitis bakterial (disebut juga meningitis piogenik akut atau meningitis purulenta) adalah suatu infeksi cairan likuor serebrospinalis dengan proses peradangan yang melibatkan piamater, arakhnoid, ruangan subarakhnoid dan dapat meluas ke permukaan otak dan medula spinalis Etiologi : Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, H. Influenzae, Staphylococci, Listeria monosytogenes, basil gram negatif

KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis Gelaja timbul dalam 24 jam setelah onset, dapat juga subakut antara 1-7 hari. Gejala berupa demam tinggi, menggigil, sakit kepala, fotofobia, mialgia, mual, muntah, kejang, perubahan status mental sampai penurunan kesadaran.

Pemeriksaan fisik Tanda rangsang meningeal Papil edema biasanya tampak beberapa jam setelah onset Gejala neurologis fokal berupa gangguan saraf krnaialis Gejala lain : infeksi ekstrakranial misalnya sisusitis, otitis media, mastoid, pneumonia, infeksi saluran kemih, arthritis (N. Meningitidis)

Pemeriksaan penunjang Laboratorium Lumba pungsi Pemeriksaan likuor

Pemeriksaan kultur likuor dan darah Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan kimia darah ( gula darah, fungsi ginjal, fungsi hati) dan elektrolit darah.

Radiologis Foto polos paru CT-scan kepala Pemeriksaan penunjang lain : pemeriksaan antigen bakteri spesifik seperti C Reactive Protein atau PCR (Polymerase Chain Reaction).

Pemeriksaan laboratorium diperoleh : Lumbal pungsi : mutlak dilakukan tidak ada kontraindikasi. Pemeriksaan likuor : tekanan meningkat >180 mmH20, pleiositemia lebih dari 1.000/mm3 dapat sampai 10.000/mm3 terutama PMN, Protein meingkat lebih dari 150 mg/dL dapat >1.000 mg/dL, glukosa menurun <40% dari GDS. Dapat ditemukan mikroorganisme dengan pengecatan gram pemeriksaan darah rutin :lekositosis, LED meningkat.

Pemeriksaan penunjang lain Bila hasil analisis likuor serebrospinal mendukung, tetapi pada pengecatan gram negatif makan untuk menentukan bakteri penyebab dapat dipertimbangkan pemeriksaan antigen bakteri spesifik seperti Reactive Protein atau PCR (Polymerase Chain Reaction).

DIAGNOSIS BANDING Menigitis virus, perdarahan subarakhnoid, meningitis TB, meningitis leptospira, meningoensefalitis fungal.

TATALAKSANA perawatan umum kausal :lama pemberian 10-14 hari Bakeri penyebab S. Pneumoniae N.Meningitides L. Monocytogenes Antibiotika Cefotaxime 2 g / 6 jam max. 12 g/ hari aau ceftriaxone 2 g/12 jam + ampicillin 2 g / 4 jam/ IV (200 mg / kgBB/IV/hari) Chloramphenicol 1 g/6 jam + trimethoprim / sulfametoxazole 20 mg/ kg BB/hari. Bila prevalensi S. pneumonia resisten cephalosporin 2 % diberikan : cefotaxime / ceftriaxone + vancomycin 1 50 tahun S. Pneumoniae H. Influenza Species Listeria Pseudomonas aeroginosa N. meningtidis g / 12 jam / IV (max. 3 g/hari) Cefotaxime 2 g / 6 jam max. 12 g/ hari aau ceftriaxone 2 g/12 jam + ampicillin 2 g / 4 jam/ IV (200 mg / kgBB/IV/hari)

usia 50 tahun

Bila prevalensi S. pneumonia resisten cephalosporin 2 % diberikan : cefotaxime / ceftriaxone + vancomycin 1 g / 12 jam / IV (max. 3 g/hari) Ceftadizime 2 g /8 jam/ IV

Bakteri penyebab tidak dapat diketahui, maka terapi antibiotik empiris sesuai dengan kelompok umur, harus segera dimulai terapi tambahan : dianjurkan hanya pada penderita resiko tinggi, penderita dengan status mental sangat terganggu, edema otak atau TIK meninggi yaitu dengan deksamethason 0,15 mg/kgBB/ 6 jam / IV selama 4 hari dan diberikan 20 menit sebeum pemberian antibiorik. penanganan peningkatan TIK - Meninggikan letak kepala 30 dari tempat tidur - Cairan hiperosmolar : manitol atau gliserol - Hiperventiasi untuk mempertahankan pC02 antara 27-30 mmHG.

PENYULIT Gangguan serebrovaskuler Edema otak Hidrosefalus

Perdarahan otak Shock sepsis ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome) Disseminated Intravaskular Coagulatin Efusi subdural SIADH

KONSULTASI Konsultasi dengan bagian lain sesuai sumber infeksi

JENIS PELAYANAN Perawatan RS diperlukan segera

TENAGA STANDAR Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf

LAMA PERAWATAN 1-2 bulan di ruang perawatan intermediet

PROGNOSIS Bervariasi dari sembuh sempurna, sembuh debgan cacat, meninggal.

TETANUS ICD X : A 35

DEFINISI Infeksi sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan karakteristik kejang tonik persisten dan eksaserbasi singkat.

KRITERIA DIAGNOSIS Hipertoni dan spasme otot trismus, risus sardonikus, otot leher kaku dan nyeri, opistotomus, dinging perut tegang, anggota gerak spastik lain-lain : kesukaran menelan, asfiksia dan sianosis, nyeri pada otot-otot di sekitar luka

Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu Umumnya ada luka/ riwayat luka Retensi urin dan hiperpireksia Tetanus lokal

Pemeriksaan penunjang Bila memnungkinkan, periksa bekteriologik untuk menemukan C.tetani EKG bila ada tanda-tanda gangguan jantung

Foto thoraks bilaada tanda-tanda komplikasi paru-paru.

DIAGNOSIS BANDING Kejang karena hipokalsemia Reaksi distonia Rabies Meningitis Abses retrofaringeal, abese gigi, subluksasi mandibula Sindrom hiperventilasi / reaksi histeri Epilepsi / kejang tonik klonik umum

TATALAKSANA IVFD dekstrose 5% : RL = 1 :1 / 6 jam Kausal : antitoksin tetanus : A. Serum antitetanus (ATS) diberikan dengan dosis 20.000 IU/ hari / i.m. Selama 3-5 hari. TES KULIT SEBELUMNYA. ATAU B. Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG). Dosis 500 - 3.000 IU /i.m. Tergantung beratnya penyakit. Diberikan SINGLE DOSE. antibiotik :

A. Metronodazole 500 mg/8 jam drips i.v.

B. Ampisilin dengan dosis 1 gr/ 8 jam i.v (TES KULIT SEBELUMNYA) Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan : Eritromisin 500 mg / 6 jam / oral. ATAU Tetrasiklin 500 mg/ 6 jam / oral

penanganan luka : Dilakukan cross incision dan irigasi menggunakan H2O2

Simptomatis dan suportif diazepam Setelah masuk rumah sakit, segera diberikan diazepam dengan dosis 10 mg i.v. Perlahan 2-3 menit. Dapat diulang bila diperlukan Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg / 500 ml cairan infus (10-12 mg/kg BB/ hari) diberikan secara drips (syringe pump). Untuk mencegah terbentuknya kristalisasi, cairan dikocok setiap 30 menit. Setiap kejang diberikan bolus diazepam 1 ampul / IV perlahan selama 3-5 menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tak teratasi segera rawat di ICU. Bila penderita telah bebas kejang selama 48 jam maka dosis diazepam diturunkan secara bertahap 10% setiap 1-3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah intake peroral memungkinkan maka diazepam diberikan peroral dengan frekuensi pemberian setiap 3 jam. oksigen, diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distress pernapasan, sianosis. Nutrisi

Diberikan TKTP dalam bentuklunak, saring atau cair. Bila perlu, diberikanmelalui pipa nasogastrik menghindari tindakan / perbuatan yang bersifat merangsang termasuk rangsangan suara dan cahay yang intensitasnya bersifat intermitten mempertahankan /membebaskan jalan nafas : pengisapan lendir oro/nasofaring secara berkala posisi /letak penderita diubah-ubah secara periodik pemasangan kateter bila terjadi retensi urin.

PENYULIT asfiksia akibat depresi pernapasan, spasme jalan napas pneumonia aspirasi kardiomiopati fraktur kompresi

KONSULTASI dokter gigi dokter ahli bedah dokter ahli kebidanan dan kandungan dokter ahli THT dokter ahli anestesi

RUANG PELAYANAN Rawat segera, biladiperlukan, rawat di ICU

TENAGA STANDAR Perawat dokter umum / residen, dokter spesialis saraf

LAMA PERAWATAN 2 minggu - 1 bulan

PROGNOSIS / LUARAN Angka kemaatian tinggi bila : usia tua masa inkubasi singkat onset periode yang singkat demam tinggi spasme yang tidak cepat diatasi

Sebelum KRS : tetanus toksoid (TT1) 0,5 ml IM TT2 dan TT3 : diberikan masing-masing dengan interval waktu 4-6 minggu

MALARIA SEREBRAL

KRITERIA DIAGNOSIS Merupakan komplikasi dari malaria. Paling sering disebabkan oleh P. falciparum. Diagnosis ditegakkan pada penderita malaria (terbukti dari pemeriksaan apus darah) yang mengalami penurunan kesadaran (GCS <7) disertai gejala lain gangguan serebral (ensefalopati)

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan apus darah tebal : ditemukan parasit malaria

DIAGNOSIS BANDING Penurunan kesadaran sebab lain : Hipoglikemia, asidosis berat, syok karena hipotensi

TATA LAKSANA Antimalaria : kinin dihidroklorida IV Terapi suportif : antikonvulsan Antipiretika Penanganan hipoglikemia Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit Pencegahan : antimalaria oral sejak dua minggu sebelum perjalanan ke daerah endemis

PENYULIT Hipoglikemia, asidosis, edema paru, syok hemodinamik, gagal ginjal

KONSULTASI Bag. Penyakit dalam

JENIS PELAYANAN Rawat inap

TENAGA Perawat, dokter umum, dokter spesialis

LAMA RAWAT Tergantung klinis

PROGNOSIS Sequel jangka panjang : ataksia, buta kortikal, kejang, hemiparesis

SINUS TROMBOFLEBITIS

KRITERIA DIAGNOSIS Definisi adalah infeksi sinus venosus intakranial yang disebabkan berbagai bakteria. Biasanya berasal dari penjalaran infeksi sekitar wajah atas (furunkel) dan kepala (luka, mastoiditis, dll).

Gejala tergantung sinus venosus mana yang terkena. Pada trombosis sinus cavernosus, bisa didapat oftalmoplegi dan khemosis. Pada sinus sagita trombosis bisa disapat paraplegi.

Pemeriksaan Penunjang Darah rutin : gambaran infeksi umum dan leukositosis Pemeriksaan penunjang lain : cari sumber infeksi wajah atau kepala

DIAGNOSIS BANDING Pseudotumor serebri

TATALAKSANA Terapi farmaka : antibiotik seperti meningitis purulenta

PENYULIT / KOMPLIKASI Meningitis purulenta Abses otak

KONSULTASI : -

JENIS PELAYANAN Rawat inap

TENAGA Perawat, dokter umum, dokter spesialis

PROGNOSIS Tergantung stadium pengobatan

MENINGITIS KRIPTOKOKUS / JAMUR

KRITERIA DIAGNOSIS Definisi : adalah meningitis yang disebebkan oleh jamur kriptokokus. Diagnosis pasti : pemeriksaan sediaan langsung dan kultur dari CSS Predisposisi : gangguan imunitas berat (AIDS, penerima transplantasi jaringan atau sedang dalam terpai keganasan)

Pemeriksaan Penunjang pungsi lumbal : - profil LCS menyerupai MTB - pengecatan tinta india / Gram terhadap CSS pemeriksaan serologis Kultur Sabauraud

DIAGNOSIS BANDING Meningitis serosa sebab lain

TATALAKSANA terapi kausal : amfoterisin B dan 5 floro-sitosin IV (2 minggu) dilanjutkan Flukonazol 200 mg / hari terapi simptomatik / supertif : disesuaikan keadaan pasien

PENYULIT Herniasi

KONSULTASI Atas indikasi ke Bag Ilmu Penyakit Dalam dan Bag Bedah Saraf

JENIS PELAYANAN Rawat inap di ruang perawatan khusus

TENAGA Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf

PROGNOSIS

Buruk

Nama Penyakit / Diagnosis HIV - AIDS Susunan Saraf Pusat

DEFINISI / ETIOLOGI Definisi WHO untuk AIDS di Asia Tenggara adalah pasien yang memenuhi kriteria dibawah ini: A. Hasil positif untuk antibodi HIV dari dua kali tes yang menggunakan dua antigen berbeda B. Salah satu dari kriteria yang dibawah ini : 1. -berat badan menurun 10% atau lebih yang tidak diketahui sebabnya - diare kronik selama 2 bukan terus menerus atau periodik 2. Tuberkulosis milier atau menyebar 3. Kandidiasis esofagus yang dapat didiagnosis dengan adanya kandidiasis mulut disertai disfagia / odinofagia 4. Gangguan neurologis disertai gangguan aktifitas sehari-hari, yang tidak diketahui sebabnya 5. Sarkoma

Infeksi HIV emnimbulkan penyakit yang kronik dan progresif senhingga setelah bertahun-tahun tampaknya mengancam jiwa. Pengobatan yang tersedia sekarang dapat memperpanjang masa hidup dan kualitas hidup dengan cara memperlambat penurunan sistem imun dan mencegah infeksi oportunistik. Terdapat variasi yang luas dari respon imun terhadap efek patologik HIV. Karena itu mungkin saja sebagian dari mereka tetap hidup dan sehat dalam jangka panjang sedangkan sekitar 40-50 % dari mereka menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun

Etiologi : virus RNA (retrovirus)

Patofisiologi Infeksi HIV HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan non seksual. Didalam tubuh HIV akan menginfeksi sel yang mempunyai reseptor CD4 seperti sel limfosit, monosit dan makrofag dan beberapa sel tertentu lain, walaupun tidak mempunyai reseptor CD4 misalnya sel-sel glia dan sel-sel langerhans. Secara umum ada dua kelas sel dimana HIV ber-replikasi yaitu didalam sel T limfosit dan di salam sel makrofag, karena itu disebut T-tropik atau syncytium inducing isolates dan makrofag-tropik atau non-syncytium inducing isolates. Isolat M-tropik lebih sering tertular, tetapi isolat T-tropik terlihat pada 50% dari infeksi HIV stadium lanjut dan menimbulkan progresivitas penyakit yang sangat cepat. Bahkan diketahui bahwayang menimbulkan perbedaan tropisme adalah kadar ko-reseptor yang penting yaitu CXCR4 dan CCR5

Sebagai akibatnya akan terjadi dua kelompok gejala utama yaitu : a. Akibat penekanan pada sistim kekebalan tubuh, sehingga mudah terjadi infeksi, nyeri kepala yang spesifik dan penurunan berat badan yang drastis b. Disfungsi neurologik baik susunan saraf pusat maupun susunan saraf perifer

KRITERIA DIAGNOSIS Fase I - infeksi HIV primer (infeksi HIV akut) Fase II - penurunan imunitas dini (sel CD4 >500 / ul) Fase III - penurunan imunitas sedang ( sel CD4 500-200 / ul) Fase IV - penurunan imunitas berat (sel CD4 < 200 / ul)

Kriteria diagnosis presumptif untuk indikator AIDS : Kandidiasis esofagus : nyeri retrosternal saat menelan dan bercak putih diatas dasar kemerahan Retinitis virus sitomegalo Mikobakteriosis Sarkoma kaposi : bercak merah atau ungu pada kulit atau selaput mukosa Pneumonia pneumosistis karini : riwayat sesak nafas / batuk non produktif dalam 3 bulan terakhir Toksoplasmosis otak

Pemeriksaan penunjang Enzym-linked immunosorbent assay (ELISA) dan aglutinasi partikel Western Blot Analysis, indirect immunoflourescence assays (IFA) dan radioimmunoprecipitation assays (RIPA) Biakan darah, urin dan sifilis Antigen / antibodi HIV Lymposit cell CD 4 dan CD 8 Viral load Serologi sifilis, antigen kriptokokus Lumbal pungsi Pemeriksaan tinta india cairan serebrospinal

Brain CT scan, MRI Electromyography (EMG) Memory test Rontgen thorax Mikroskopis dan biakan dahak

DIAGNOSA BANDING Massa intrakranial TBC Polineuropathy karena penyebab lain Demensia karena penyabab lain

TATALAKSANA Dosis anti retroviral untuk ODHA dewasa (pedoman nasional 2004)

Infeksi oporunistik Sitomegalovirus pada HIV :pada funduskopi : retinitis sitomegalibvirus. Gansiklovir 5 mg /kgBB 2 kali sehari parenteral selama 14-21 hari. Selanjutnya 5 mg/kgBB sekali sehari dianjurkan sampai CD4 lebih dari 100sel/ml

Ensefalitis toksoplasma

Pirimetamin 50-75 mg perhari dengan sulfadiazin 100 mg / kg BB /hari. Asam folat 10-20 mg perhari atau Fansidar 2-3 tablet per hari dan klindamisin 4x600 mg per hari disertai leukovorin 10 mg perhari (fansidar mengandung : pirimetamine 25 mg + sulfadoksin 500 mg) untuk mencegah kekambuhan : kotrimoksazol 2 tab perhari.

Meningitis Cryptococcus Terapi primer fase akut : amfoterisin B 0,7 mg/kgBB/hari iv -2 minggu Selanjutnya fluconazole 400 mg per hari per oral selama 8-10 minggu Terapi pencegahan kekambuhan : fluconazole 100 mg perhari seterusnya selama jumlah sel CD4 masih dibawah 300 sel /mL (flow chart sesuai grafik gambar belakang)

Antiretroviral rekomendasi WHO 2004 ARV first line : D4T/3TC/NVP (stavudin /lamifusin / nevirapin) D4T/3TC/EFV (stavudin /lamifusin / efavirens) AZT/3TC/NVP (zidovudin /lamifusin / nevirapin) AZT/3TC/EFV (zidovudin /lamifusin / efavirens)

PENYULIT /KOMPLIKASI Drug toxicity AIDP

CIDP Mononeuropathy Focal brain lesions Distal symmetric polineuropathy Inflammatory demyelinating polyneuropathy Progressive polyradiculopathy Mononeuritis multiplex Spinal cord syndrome / vacuolar myelopathy

KONSULTASI Pokja HIV-AID RS setempat, VTC clinic

JENIS PELAYANAN Rawat inap dan rawat jalan

TENAGA STANDAR Spesialis saraf, spesialis penyakit dalam, perawat terlatih

PROGNOSIS Angka kekambuhan tinggi

Angka kematian tinggi

Gambar 1 : alogaritma penatalaksanaan keluhan intraserebral pada penderita HIV/AIDS


Jkeluhan intrserebral

MRI

CT scan Evaluasi CSF Shunt (kalau perlu) Meningeal enhancem e hidrosefalus Efek massa (-) Lesi desak Lesi mata

normal Positif

atrofi negatif

Terapi sesuai

observasi Gambar

Lesi massa intrakranial

Alethargic stabil

Stupor-coma Perburukkan cepat Massa besar dengan resiko herniasi

stab

Lesi multiple

Lesi tunggal

Gambar 2 : alogaritma penatalaksanna lesi massa intracranial pada penderita HIV/AIDS


Serologi toksoplasma

Ancaman herniasi

Steroid?

Obat antitoksoplasma

ya Obat antitoksoplasma seumur hidup

tida k

Biopsi stereotaktik Terapi sesuai etiologi Dekompresi biopsi terbuka