Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN STUDI KASUS MINOR RECURRENT APHTOUS STOMATITIS Disusun dalam rangka memenuhi tugas laporan bagian Oral

Medicine

Oleh: Rori Sasmita 160110080035 Pembimbing: Shelli Lelyana, drg

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2012

BAB I PENDAHULUAN

Recurrent aphthous stomatitis adalah penyakit mulut yang paling sering ditemukan dimana 10-25% populasi pernah mengalaminya, namun biasanya bersifat ringan dan jarang dikeluhkan (Cawson and Odell, 2002). RAS merupakan radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa ulser putih kekuningan. Ulser ini dapat berupa ulser tunggal maupun lebih dari satu. RAS dapat menyerang selaput mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, serta palatum dalam rongga mulut (Kutcher, 2001). Sampai saat ini, etiologi RAS belum diketahui secara pasti. Tetapi para ahli mengatakan terdapat beberapa faktor yang telah diketahui berperan dalam timbulnya lesi-lesi RAS. Faktor-faktor tersebut diantaranya: trauma, herediter, infeksi bakteri dan virus, psikologi atau emosi, gangguan system imun,

hipersensitif atau alergi, hormonal, penyakit gastrointestinal dan penyakit darah (Haikal, 2009). Diagnosis yang tepat akan memberikan rencana perawatan yang tepat pula sehingga pengobatan yang adekuat dapat diberikan. Di samping itu, kesalahan dalam mendiagnosis penyakit ulseratif dapat menyebabkan tidak sembuhnya atau bahkan meluas dan bertambah beratnya penyakit. Pada makalah ini dibahas mengenai laporan kasus seorang pasien wanita usia 21 tahun dengan keluhan terdapat sariawan di daerah bibir kanan atas bagian dalam yang didiagnosis sebagai RAS. Terapi yang diberikan pada pasien adalah pmberian triamcinolone acitonid untuk ulcer yang terdapat di daerah bibir kanan atas bagian dalam.

BAB II STATUS KLINIK DAN KONTROL

2.1

Status Klinik IPM

2.1.1 Data Pasien Tanggal : 22 Mei 2012


5

Nama Pasien Nomor Rekam Medik Usia Status Perkawinan Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Rumah

: R.A. : 2009- 068XX : 21 tahun : Belum Menikah : Perempuan : Islam : Mahasiswi : Jl.Sekeloa, Bandung

2.1.2 Anamnesis Pasien perempuan 21 tahun datang mengeluhkan sariawan di daerah bibir kanan atas bagian dalam sejak 2 hari yang lalu. Penyebab awalnya karena tergigit saat makan. Sariawan tersebut terasa perih saat makan pedas dan panas. Sariawan tersebut dibiarkan dan belum pernah diobati untuk mengobati sariawan.pasien jarang mengalami sariawan (3 bulan sekali mengalami sariawan). Tidak ada riwayat keluarga yang sering mengalami sariawan. Sekarang pasien ingin sariawannya diobati.

2.1.3

Riwayat Penyakit Sistemik

Penyakit jantung Hipertensi Diabetes Melitus Asma/Alergi Penyakit Hepar Kelainan GIT Penyakit Ginjal Kelainan Darah Hamil Kontrasepsi Lain-lain

: YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK (Makanan: durian, obat: Antalgin) : YA/TIDAK : YA/TIDAK (Maag) : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK : YA/TIDAK

2.1.4

Riwayat Penyakit Terdahulu

Disangkal

2.1.5

Kondisi Umum : Baik

Keadaan Umum

Kesadaran Tekanan Darah Denyut Nadi Pernapasan Suhu

: Compos Mentis : 110/90 mm Hg : 80 x / menit : 20 x / menit : Afebris

2.1.6 Pemeriksaan Ekstra Oral Kelenjar Limfe Submandibula kiri : teraba +/lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/-

kanan : teraba +/Submental kiri : teraba +/-

kanan : teraba +/Servikal kiri : teraba +/-

kanan : teraba +/Mata TMJ Bibir

: konjungtiva non anemis, pupil isokhor, sklera non ikterik : TAK :TAK

Wajah Sirkum Oral Lain-lain

:Simetri/Asimetri :TAK :-

2.1.7 Pemeriksaan Intra Oral Kebersihan Mulut : baik/sedang/buruk Kalkulus +/Gingiva Mukosa Bukal : TAK : Terdapat teraan gigitan berwarna putih a/r posterior gigi geligi sinistra dan dextra. Mukosa Labial : Terdapat ulcer 2 buah dengan diameter 5 mm dan 4 mm, berbentuk oval, irregular dengan tepi eritema, berwarna putih dibagian kanan atas Palatum Durum Palatum mole Frenulum Lidah Dasar Mulut : TAK : TAK : frenulum labii rendah : TAK : TAK plak +/stain +/-

Gigi Geligi UE 8 7 6 5 4 3 2 1 8 7 6 5 4 3 2 1 UE

: UE 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 UE

2.1.8

Pemeriksaan Penunjang TDL TDL TDL TDL

Radiologi Darah Patologi Anatomi Mikrobiologi

2.1.9 Diagnosis D/ Stomatitis Aphtous Rekuren Minor a/r mukosa labial dextra daerah gigi 1.3 DD/ Traumatic Ulcer a/r mukosa labial dextra daerah gigi 1.3

D/ Cheek Biting

10

DD/ Linea Alba

2.1.10 Rencana Perawatan dan Perawatan Pro Oral Hygiene Instruction Pro R/ Triamcinolone Acetonide 0,1% oral base tube No. I S p.r.n Pro perbanyak asupan cairan dan nutrisi vitamin B12 dan zat besi (kacang-kacangan, bayam, kuning telur) Pro kontrol 1 minggu

2.1.11 Gambaran Traumatic Ulcer

2.2

Status Kontrol IPM

Tanggal pemeriksaan : 29 Mei 2012

11

Nomor Rekam Medik : 2009-068XX Nama Jenis Kelamin Usia : R.A : Perempuan : 21 tahun

2.2.1 Anamnesis Pasien perempuan 21 tahun tiga minggu yang lalu datang dengan keluhan sariawan pada bibir atas kanan bagian dalam karena tergigit saat makan. Pasien telah diberikan Povidone Iodine 10% dan Triamcinolone Acitonid 0.1%. Sekarang pasien mengalami sariawan lagi pada bibir bawah bagian dalam sejak 2 hari yang lalu. Pasien sedang dalam keadaan PMS. Saat ini sariawan perih saat makan pedas dan panas.

2.2.2 Pemeriksaan Ekstra Oral Kelenjar Limfe Submandibula : kiri : teraba +/lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/-

kanan : teraba +/Submental : kiri : teraba +/-

kanan : teraba +/12

Servikal

kiri

: teraba +/-

lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras

sakit +/sakit +/-

kanan : teraba +/Bibir Wajah Sirkum Oral Lain-lain : : : : TAK Simetri/Asimetri TAK -

2.2.3 Pemeriksaan Intra Oral Kebersihan Mulut Debris Indeks 16 0 46 0 31 0 11 0 36 0 26 0 46 0 Kalkulus Indeks 16 0 31 0 11 0 36 0 26 0 OHI-S Baik/ sedang/ buruk Stain +/-

Gingiva

TAK Terdapat teraan gigitan berwarna putih a/r posterior gigi geligi sinistra dan dextra.

Mukosa Bukal :

13

Mukosa Labial :

Terdapat ulcer 2 buah dengan diameter 2 mm dan 1 mm, berbentuk oval, ireguler dengan tepi eritem, berwarna putih di bibir bawah bagian dalam

Palatum Durum : Palatum mole : Frenulum Lidah Dasar Mulut : : :

TAK TAK Frenulum labii rendah TAK TAK

2.2.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang TDL

2.2.5 Diagnosis D/ Post stomatitis aphtous rekurent minor a/r mukosa labial dextra daerah gigi 1.3 D/ Stomatitis aphtous rekuren minor a/r mukosa labial daerah gigi 3.1 dan 4.1 D/ Cheek Biting DD/ Linea Alba

14

2.2.6 Rencana Perawatan Pro Oral Hygiene Instruction Pro R/ Triamcinolone Acetonide 0,1% oral base tube No. I S p.r.n Pro perbanyak asupan cairan dan nutrisi vitamin B12 dan zat besi (kacang-kacangan, bayam, kuning telur) Pro kontrol II

2.2.7 Gambaran Post Stomatitis Aphthous Reccurent (SAR)

15

2.2.8 Gambaran Stomatitis Aphthous Reccurent (SAR)

2.3 Status Kontrol II IPM Tanggal pemeriksaan : 5 Juni 2012 Nomor Rekam Medik : 2009-068XX Nama Jenis Kelamin Usia : R.A : Perempuan : 21 tahun

2.3.1 Anamnesis Pasien perempuan 21 tahun, 1 minggu yang lalu datang dengan untuk kmontrol sariawan di daerah bibir kanan atas bagian dalam. Terdapat sariawan baru pada bibir bawah bagian dalam. Pasien telah diberikan Povidone Iodine 10%

16

dan Triamcinolone Acitonide 0.1%. Setelah penggunaan obat selama 3 hari, sariawan pasien sembuh dan tidak terasa sakit. Sekarang pasien datang kembali untuk dilakukan kontrol sariawan yang berada di bibir bawah bagian dalam, sekarang sudah sembuh dan tidak sakit lagi.

2.3.2 Pemeriksaan Ekstra Oral Kelenjar Limfe Submandibula : kiri : teraba +/lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras lunak/kenyal/keras sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/sakit +/-

kanan : teraba +/Submental : kiri : teraba +/-

kanan : teraba +/Servikal : kiri : teraba +/-

kanan : teraba +/Bibir Wajah Sirkum Oral Lain-lain : : : : TAK Simetri/Asimetri TAK -

17

2.3.3 Pemeriksaan Intra Oral Kebersihan Mulut Debris Indeks 16 0 46 0 31 0 11 0 36 0 26 0 46 0 16 0 31 0 Kalkulus Indeks 11 0 36 0 26 0 OHI-S Baik/ sedang/ buruk Stain +/-

Gingiva

TAK Terdapat teraan berwarna putih a/r posterior gigi geligi sinistra dan dextra.

Mukosa Bukal :

Mukosa Labial : Palatum Durum : Palatum mole : Frenulum Lidah Dasar Mulut : : :

TAK TAK TAK Normal TAK TAK

2.3.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang


18

TDL

2.3.5 Diagnosis D/ Post Stomatitis Aphthous Reccurent Minor a/r mukosa labial daerah gigi 3.1 dan 4.1 D/ Cheek Biting DD/ Linea Alba

2.3.6 Rencana Perawatan Pro Lanjutkan OHI Pro Lanjutkan asupan makanan yang mengandung vitamin B12, asam folat dan zat besi.

2.3.7 Gambaran Post Stomatitis Aphthous Reccurent Minor

19

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Recurrent aphtous stomatitis (RAS) 3.1.1 Definisi Recurrent aphthous stomatitis adalah penyakit mulut yang paling sering ditemukan dimana 10-25% populasi pernah mengalaminya, namun biasanya bersifat ringan dan jarang dikeluhkan (Cawson and Odell, 2002). Terdiri atas

20

dasar ulser yang berwarna putih dan dikelilingi daerah eritem. Lesi dapat tunggal, dapat juga multiple, biasanya berbentuk bulat, simetris dan dangkal. RAS adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya recurring ulcer yang terbatas pada mukosa oral dalam pasien yang tidak memiliki tanda-tanda penyakit lainnya. Banyak peneliti dan spesialis dalam oral medicine tidak lagi menganggap RAS sebagai penyakit tunggal, melainkan beberapa gejala patologis dengan manifestasi klinik yang serupa. Immunologic disorders, hematologic deficiencies, dan keabnormalan alergi atau psikologis semuanya telah dianggab sebagai gejala patologis dari RAS (Greenberg and Glick, 2003).

3.1.2

Epidemiologi Kira-kira 20% dari populasi umum telah terkena RAS, tetapi ketika

kelompok etnik tertentu atau social-ekonomi tertentu diteliti, ternyata insidensinya terbentang dari 5%-50%. RAS diklasifikasikan berdasarkan karakteristik klinik: minor ulcer, major ulcer (Suttons disease, periadenitis mucosa necrotica recurrens), dan herpetiform ulcer. Minor ulcer, yang meliputi 80% dari kasus RAS, diameternya kurang dari 1cm dan sembuh tanpa meninggalkan bekas. Major ulcer, diameternya lebih dari 1cm dan memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh dan sering meninggalkan bekas. Herpetiform ulcer dianggap sebagai kesatuan dari gejala klinik yang berbeda yang bermanifestasi sebagai ulcer kecil yang banyak disepanjang mukosa oral (Greenberg and Glick, 2003). 3.1.3 Etiologi

21

Penyebab terjadinya RAS belum diketahui secara pasti. Dahulu diperkirakan bahwa RAS merupakan suatu bentuk dari infeksi HSV, sampai sekarang masih banyak klinisi yang menyebut RAS sebagai herpes. Terdapat beberapa factor pendukung terjadinya RAS menurut Greenberg and Glick, yaitu: 1. Genetik Faktor genetik merupakan kemungkinan penyebab paling tinggi dari seluruh kejadian RAS, dengan peningkatan insidensi yang dipengaruhi keterlibatan faktor lingkungan. Sekitar 40-50% pasien yang terkena RAS memiliki riwayat keluarga yang juga pernah terkena RAS. Kemungkinan dipengaruhi oleh status RAS orangtua. Hubungan juga meningkat pada anak kembar (Field and Longman, 2003). 2. Defisiensi hematologik Gangguan hematologik terutama defisiensi besi, folat atau vitamin B12. khususnya serum Fe, folat, atau vitamin B12 juga dihubungkan dengan RAS. Pada defisiensi ini, hemoglobin berada di bawah normal, dan ditandai dengan mikro/makrositosis sel darah merah (Cawson, 1998). 3. Abnormalitas immunologis Sebagian besar penelitian etiologi RAS, mengungkapkan keterkaitan antara RAS dan faktor immunologi. Pada penelitian terbaru, menganggap bahwa RAS merupakan abnormalitas dari respon imun terhadap antigen bakteri mulut khususnya Streptococcus Sanguis (Greenberg and Glick, 2003). 4. Faktor Sistemik

22

Kondisi sistemik yang mempengaruhi kejadian RAS diantaranya gangguan GIT, neutropenia, HIV, defisiensi IgA, dan penggunaan obat-obatan anti inflamasi non steroid (Field and Longman, 2003). 5. Trauma Pasien RAS sering dilaporkan terkena ulser akibat trauma seperti terkena sikat gigi atau injeksi saat anestesi lokal (Field and Longman, 2003). Trauma akibat gigitan dan penyikatan gigi yang salah, dapat menyebabkan robeknya mukosa dan memperparah ulser yang sudah ada (Cawson and Odell, 2002). 6. Stress dan menstruasi Pada wanita, RAS dihubungkan dengan siklus menstruasi, terutama fase luteal. Tidak ada hubungan yang pasti dari menstruasi maupun stres dengan RAS namun dapat dihubungkan dengan kondisi hormonal (Field and Longman, 2003) 7. Defisiensi nutrisi Defisiensi zat besi (Fe), asam folat, vitamin B12 dan vitamin B-kompleks (vitamin B1, B2, dan B6) dilaporkan berhubungan dengan kejadian RAS (Tyldesley, 2003). Hubungannya biasanya karena defisiensi, terutama vitamin B12 dan asam folat akibat malabsorpsi. Gangguan hematologik terutama defisiensi besi, folat atau vitamin B12 khususnya serum Fe, folat, atau vitamin B12 juga dihubungkan dengan RAS (Greenberg and Glick, 2003). Pada defisiensi ini, hemoglobin berada di bawah normal, dan ditandai dengan mikrositosis atau makrositosis sel darah merah (Cawson and Odell, 2002).

23

3.1.4

Gambaran Klinis Episode pertama dari RAS paling sering dimulai pada dekade hidup kedua

dan mungkin dipercepat oleh minor trauma, menstruasi, infeksi pernapasan bagian atas,atau karena makanan tertentu. Lesi terbatas pada mukosa oral dan dimulai dengan prodromal burning kapan saja dari 2-48 jam sebelum ulcer muncul. Selama periode initial ini, suatu area erythema yang terlokalisir muncul. Dalam satu jam, muncul papule putih kecil, membisul, dan berangsur-angsur membesar dalam 48-72 jam berikutnya. Lesi individual berbentuk bulat, simetris, dan dangkal (serupa dengan viral ulcer), tetapi tidak ada tissue tags yang keluar dari vesikel yang ruptur (ini dapat membedakan RAS dari penyakit dengan ulcer yang irregular seperti EM, pemphigus, dan pemphigoid). Lesi multipel biasanya muncul, tetapi jumlah, ukuran, dan frekuensinya sangat berubah-berubah. Lesi paling sering muncul di mukosa bukal dan mukosa labial. Lesi biasanya jarang muncul pada palatum atau ginggiva yang berkeratin. Pada RAS yang ringan, lesi mencapai ukuran 0,3-1,0 cm dan memulai penyembuhan dalam satu minggu. Penyembuhan tanpa scarring biasanya selesai dalam 10-14 hari (Greenberg and Glick, 2003). Kebanyakan pasien RAS mempunyai lesi antara 2-6 lesi setiap episode dan mengalami beberapa episode setiap tahunnya. Penyakit ini merupakan gangguan bagi mayoritas pasien RAS ringan, tetapi ini dapat melumpuhkan bagi pasien dengan severe frequent lesion, terutama bagi mereka yang tergolong major aphtous ulcer. Pasien dengan major ulcer mempunyai lesi yang dalam dan mempunyai diameter lebih besar dari 1cm (bisa mencapai 5cm). Sebagian besar

24

dari mukosa oral dapat tertutupi oleh ulcer besar yang dalam dan dapat menjadi confluent. Lesi sangat menyakitkan dan menganggu saat bicara dan saat makan. Banyak dari pasien ini secara terus menerus meninggalkan satu klinikan dan mendatangi klinikan yang lain, hanya untuk mencari penyembuhan. Lesi dapat bertahan selama sebulan dan terkadang dapat menjadi salah diagnosa sebagai squamous cell carcinoma, penyakit granulomatous kronis, atau pemphigoid. Lesi ini sembuh secara pelan-pelan dan meninggalkan bekas (parut) yang dapat mengakibatkan berkurangnya mobilitas dari uvula dan lidah dan penghancuran dari sebagian mukosa oral. Jenis RAS yang paling jarang terjadi adalah tipe herpetiform, yang cenderung terjadi pada orang dewasa. Pada pasien akan muncul small punctate ulcer yang menyebar di sebagian besar mukosa oral (Greenberg and Glick, 2003).

3.1.5

Diagnosis Recurrent Apthous Stomatitis adalah penyebab paling umum dari

recurring oral ulcer. Pemeriksaan harus membedakan Recurrent Apthous Stomatitis dari lesi akut primer seperti virus stomatitis atau dari beberapa lesi kronis seperti pemphigoid, serta kemungkinan penyebab lain dari recurring ulcer, seperti penyakit jaringan penghubung , reaksi obat, dan gangguan dermatologic. Pengujian laboratorium harus dilakukan bila ulcer memburuk. Biopsi hanya dilakukan bila perlu untuk menyingkirkan penyakit lain, terutama penyakit granulomatosa seperti penyakit Crohn atau sarcoidosis (Greenberg and Glick, 2003).

25

Pasien dengan minor atau major aphthous ulcer sebaiknya tahu faktorfaktor yang terkait, termasuk penyakit jaringan penghubung dan tingkat

ketidaknormalan serum besi, folat, vitamin B12, dan ferritin. Pasien dengan kelainan pada nilai-nilai ini harus dirujuk ke internis untuk menghilangkan sindrom malabsorpsi dan untuk memulai terapi pengganti yang tepat (Greenberg and Glick, 2003).

3.1.6

Perawatan Obat yang diberikan harus berhubungan dengan berat ringannya kasus

penyakit. Kasus ringan dengan dua atau tiga lesi kecil, gunakan proteksi seperti Orabase (Bristol-Myers Squibb, Princeton, NJ) atau Zilactin (Zila

Pharmaceutions, Phoenix, AZ) (Greenberg and Glick, 2003). Nyeri lesi ringan dapat diberikan anestesi topikal agen atau

topikal diclofenac. Dalam kasus yang lebih berat, digunakan topical steroid, seperti fluosinonida, betametason atau clobetasol, diberikan langsung pada penyembuhan lesi dengan jangka waktu lebih singkat. Gel dapat dengan hatihati diaplikasikan langsung pada lesi setelah makan dan pada waktu tidur dua sampai tiga kali sehari Greenberg and Glick, 2003). Lesi yang lebih besar dapat diobati dengan menempatkan perban berisi steroid topikal pada ulcer. Untuk mempercepat waktu penyembuhan lesi Recurrent Apthous Stomatitis diberikan pasta topikal amlexanox tetracycline, yang dapat digunakan baik sebagai cuci mulut. Intralesional steroid dapat digunakan untuk mengobati lesi Recurrent Apthous Stomatitis besar. Bila tidak

26

responsive, diberikan terapi topikal, maka penggunaan terapi sistemik harus dipertimbangkan misalnya colchicine, pentoxifylline, dapson, dan thalidomide. Thalidomide diberikan untuk mengurangi insiden dan tingkat keparahan

Recurrent Apthous Stomatitis terutama pada pasien HIV-positif dan HIV-negatif, namun obat ini harus digunakan dengan sangat hati-hati. Efek samping lain dari thalidomide termasuk neuropati perifer, masalah gastrointestinal, dan mengantuk (Greenberg and Glick, 2003).

3.1.7

Diagnosis Banding

3.1.7.1 Definisi Traumatic Ulcer Ulser adalah suatu defek pada jaringan epitel berupa lesi cekung berbatas jelas yang telah kehilangan lapisan epidermis (Greenberg dan Glick, 2003). Sedangkan menurut Dorland (1998), ulser merupakan suatu kerusakan lokal ekskavasi permukaan organ atau jaringan yang ditimbulkan oleh jaringan nekrotik radang. Menurut Mosby's Dental Dictionary (2008), ulser traumatik adalah

ulserasi yang disebabkan karena trauma. Ulser traumatik biasanya terasa sakit dan lesinya berupa ulser tunggal berbatas eritema dengan dasar yang dilapisi pseudomembran. Jika lesi multiple disebabkan karena stomatitis apthous rekuren. Ulser traumatik terjadi karena tergigit, adanya gigi yang tajam, atau gigi tiruan yang kasar (Thomas, 2010). Traumatic ulcer adalah bentukan lesi ulseratif yang disebabkan oleh adanya trauma. Traumatic ulcer dapat terjadi pada semua usia dan pada kedua jenis kelamin. Lokasinya biasanya pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, dan

27

tepi perifer lidah. Traumatic ulcer disebabkan oleh trauma berupa bahan-bahan kimia, panas, listrik, atau gaya mekanik (Langlais & Miller, 2000). 3.1.7.2 Etiologi Traumatic Ulcer Trauma penyebab ulserasi oral bisa fisik ataupun kimia. kerusakan pada mukosa oral dapat disebabkan oleh permukaan yang tajam di dalam mulut, seperti : bagian gigi palsu, alat Orthodontic, restorasi gigi, atau prominent bonjol gigi. Trauma fisik yang biasa terjadi termasuk pipi atau lidah yang tergigit, iritasi gigi tiruan yang tidak sesuai, trauma dari benda asing atau bahkan trauma dari sebuah sikat gigi karena terlalu bersemangat menyikat gigi (Cunningham, 2002). Situasi yang juga kadang-kadang muncul di mana pasien dengan masalah psikologi mungkin sengaja menyebabkan ulserasi di dalam mulut mereka (Jordan and Lewis, 2004). Kerusakan fisik pada mukosa mulut dapat disebabkan oleh permukaan tajam, seperti cengkeram atau tepi-tepi protesa, peralatan ortodonti, kebiasaan menggigit bibir, atau gigi yang fraktur. Ulser dapat diakibatkan oleh kontak dengan gigi patah, cengkeram gigi tiruan sebagian atau mukosa tergigit secara tak sengaja. Luka bakar dari makanan dan minuman yang terlalu panas umumnya terjadi pada palatum. Ulser traumatik lain disebabkan oleh cedera akibat kuku jari yang mencukil-cukil mukosa mulut (Lewis & Lamey, 1998; Langlais & Miller, 2000). Traumatic ulcer akibat trauma seperti terkena sikat gigi atau injeksi saat anestesi lokal (Tyldesley, 2003). Trauma akibat gigitan dan penyikatan gigi yang

28

salah, dapat menyebabkan robeknya mukosa dan memperparah ulser yang sudah ada (Cowson and Odell, 2002).

3.1.7.3 Patofisiologi Traumatic Ulcer Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel berlapis gepeng yang tipis dan rapuh, dan banyak terdapat suplai darah. Seperti epidermis dan lapisan saluran pencernaan, epitel oral mempertahankan integritas struktural oleh proses pembaharuan sel terus-menerus di mana sel-sel yang dihasilkan oleh pembelahan mitosis dalam lapisan terdalam bermigrasi ke permukaan untuk menggantikan sel yang membuka. Dengan pembaharuan sel yang berlangsung cepat, penyembuhan luka akan cepat terjadi, namun kemungkinan untuk mutasi sel dan kerusakan pada sel juga tinggi. Karena suplai darah yang melimpah dan kerapuhan sel epitel, risiko untuk terjadinya infeksi, inflamasi, dan trauma meningkat (Cunningham, 2002). Perjalanan Traumatic Ulcer dimulai dari masa prodromal 1-2 hari, berupa panas atau nyeri setempat. Kemudian mukosa berubah menjadi macula berwarna merah, yang dalam waktu singkat bagian tengahnya berubah menjadi jaringan nekrotik dengan epitelnya hilang sehingga terjadi lekukan dangkal. Ulkus akan ditutupi oleh eksudat fibrin kekuningan yang dapat bertahan selama 10-14 hari. Bila dasar ulkus berubah warna menjadi merah muda tanpa eksudat fibrin, menandakan lesi sedang memasuki tahap penyembuhan (Pindborg, 1994).

3.1.7.4 Histopatologis Traumatic Ulcer

29

Mukosa rongga mulut dibentuk oleh epitel gepeng berlapis dan lamina propria, yaitu (Bloom and Fawcett, 2002): 1. Epitel gepeng berlapis tidak mengalami keratinisasi sempurna seperti pada kulit. Seperti pada vestibulum, dasar mulut, dan lidah bagian bawah. Epitel ini relatif tipis. Sel-sel epitel gepeng berlapis ini antara lain (Bloom and Fawcett, 2002): a. Stratum basale/germinativum Merupakan selapis sel berbentuk silindris pendek yang terletak paling bawah dari epitel gepeng berlapis keratin, dan dalam sitoplasma terdapat butir-butir pigmen melanin. b. Stratum spinosum Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk polihedral, sel nya seolah-olah berduri (spina) yang dikarenakan adanya desmosom yang berfungsi sebagai tempat perlekatan dua sel yang berdekatan. c. Stratum granulosum Terdiri dari dua hingga empat lapis sel berbentuk belah ketupat, dan dalam selnya terdapat keratohialin. Pada lapisan ini mulai terjadi perubahan fungsi. d. Stratum lucidum Lapisan ini sebenarnya terdiri dari sel-sel tidak berinti yang mati, oleh karena itu terkadang gambaran lapisan ini tidak jelas sehingga hanya tampak sebagai garis jernih yang homogen. e. Stratum korneum

30

Merupakan lapisan teratas epidermis. f. Stratum disjungtivum Pada lapisan ini bagian-bagian epidermis sudah ada yang terlepas. 2. Lamina propria merupakan epitel yang meluas ke dalam lekuk-lekuk pada permukaan bawah epitel berupa papila jaringan ikat namun lebih halus dengan serat-serat kolagen dan sel melanin. Banyak limfosit yang dijumpai di lamina propria mukosa di bagian posterior rongga mulut dan banyak di antaranya bermigrasi ke dalam epitel. Dasar mulut dan pipi, lamina propria yang mukosa dapat digerakkan atau diangkat berupa lipatan-lipatan (Bloom and Fawcett, 2002). 3.1.7.5 Gambaran Klinis Traumatic Ulcer Gambaran klinis dari traumatic ulcer bervariasi dalam ukuran dan bentuknya sesuai dengan penyebabnya. Biasanya traumatic ulcer mempunyai gambaran khas berupa ulser tunggal dengan batas yang tidak teratur, tampak sedikit cekung tidak ada indurasi, jika dipalpasi terasa lunak dan sakit. Pada bagian tengah ulser biasanya berwarna kuning-kelabu, dengan batas yang tegas dan adanya membran fibrinopurulen. Sedangkan di perifer lesi pada awalnya terdapat daerah eritematous, kemudian perlahan-lahan warnanya menjadi lebih muda karena proses keratinisasi (Field, 2003; Langlais dan Miller, 2000). Rasa sakit pada ulser biasanya timbul terutama saat memakan makanan yang panas, pedas, atau asin. Mukosa yang rusak karena bahan kimia, seperti terbakar oleh aspirin, lapisan epitel mukosanya menjadi nekrosis dengan gambaran plak berwarna putih. Kemudian epitel yang mengalami nekrosis ini mengelupas dan

31

meninggalkan daerah ulserasi. Oleh sebab itu traumatic ulcer yang disebabkan oleh bahan kimia bentuk lesinya memiliki batas yang tidak jelas (Langlais dan Miller, 2000). Lokasi, ukuran, dan bentuk lesi tergantung trauma yang menjadi penyebab. Secara simtomatik, gambaran yang paling sering berupa ulser tunggal dan sakit dengan permukaan lesi halus, berwarna putih kekuningan atau merah, dengan tepi eritem tipis. Ulser biasanya lunak pada palpasi, dan sembuh tanpa berbekas dalam 6-10 hari, secara spontan atau setelah menghilangkan penyebab. Meskipun demikian, traumatic ulcer yang kronis mungkin secara klinis menyerupai karsinoma. Predileksi dapat pada lidah, bibir, dan mukosa bukal. Diagnosis berdasarkan riwayat dan gambaran klinisnya. Bagaimanapun, jika ulser tetap ada melebihi 10-12 hari, maka biopsi harus dilakukan (Laskaris, 2006; Scully, 2005). Rasa sakit pada ulser biasanya timbul terutama saat memakan makanan yang panas, pedas, atau asin. Mukosa yang rusak karena bahan kimia, seperti terbakar oleh aspirin, lapisan epitel mukosanya menjadi nekrosis dengan gambaran plak berwarna putih. Kemudian epitel yang mengalami nekrosis ini mengelupas dan meninggalkan daerah ulserasi. Oleh sebab itu traumatic ulcer yang disebabkan oleh bahan kimia bentuk lesinya memiliki batas yang tidak jelas (Langlais dan Miller, 2000).

3.1.7.6 Terapi Traumatic Ulcer

32

Terapi trumatik ulser berupa terapi kausatif dengan menghilangkan faktor etiologi atau penyebab (trauma). Terapi simptomatik pasien dengan traumatic ulcer yaitu dengan pemberian obat kumur antiseptik seperti khlorhexidin dengan analgesic dan bisa dengan topikal anatesi. Terapi paliatif pada pasien ini dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Terapi suportif dapat berupa dengan mengkonsumsi makanan lunak. Jika lesi benar-benar trauma, maka ulser akan sembuh dalam waktu 7-10 hari. Pendapat lain mengatakan bahwa setelah pengaruh traumatik hilang, ulser akan sembuh dalam waktu 2 minggu, jika tidak maka penyebab lain harus dicurigai dan dilakukan biopsi. Setiap ulser yang menetap melebihi waktu ini, maka harus dibiopsi untuk menentukan apakah ulser tersebut merupakan karsinoma (Bengel et al., 1989; Lewis & Lamey, 1998; Langlais & Miller, 2000; Houston, 2009).

Secara umum, pasien dengan keluhan traumatic ulcer dapat diterapi dengan:

1. Obat kumur antiseptik seperti povidon iodine 1 % , chlorhexidine gluconat 0,2 % (Glen, 2009).

2. Antibiotik seperti penicilin diberikan untuk mencegah infeksi sekunder, khususnya jika lesi dalam dan parah, namun hal ini jarang dilakukan (Glen, 2009).

3. Anestesi lokal seperti:

33

a. benzydamine HCl 0,15 %, dikumur sebanyak 15 ml selama 60 detik dan dilakukan 2x sehari, maksimal pemakaian selama 7 hari (Kosterman, 2006, MIMS, 2009).

b. viscous lidocain 2 % dan dipenhydramine yang dikumur 1 sendok makan, digunakan sebelum makan atau pada saat sakit (Cunningham, 2002; Langlais, 2000).

4. Steroid topical seperti triamcinolone acetonide 0,1 % yang dioleskan tipis pada ulser dan dipakai 2 x sehari, sesudah makan dan sebelum tidur (Laskaris, 2006; MIMS, 2009).

5. Jika traumatic ulcer bersifat kronis dan sangat sakit, penderita bisa diberikan prednisone 15 20 mg dalam jangka waktu 4 6 hari (Laskaris, 2005).

3.2 Cheek Biting Trauma yang terjadi bersifat kronis dan dihubungkan dengan kebiasaan gugup yang tidak disadari, pergerakan lidah, dan rahang yang tidak terkontrol. Umumnya terjadi pada pasien dengan gangguan saraf motorik. Secara klinis lebih sering terlihat pada mukosa pipi; lesi tampak superfisial karena gesekan yang berulang-ulang, isapan, atau gerakan mengunyah berbatas jelas dan terasa kasar bila diraba. Tidaka ada perawatan kusus untuk lesi ini. Pasien diinstruksikan untuk menghilangkan kebiasaan buruknya (Bruch and Nathanie, 2010).

34

3.3 Linea Alba Linea alba merupakan variasi struktur dan penampakan dari mukosa rongga normal. Lesi merupakan bentuk umum dari hyperkeratosis fisiologi yang merupakan kondisi yang terdiri dari penebalan pada epitel mukosa sebagai respon terhadap friksi atau gesekan secara berulang. Linea alba merupakan garis putih keabu-abuan yang terjadi di sepanjang mukosa bukal pada ketinggian occlusal plane. Lesi ini merupakan penemuan lazim, dan biasanya dihubungkan dengan tekanan, iritasi friksional, atau sucking trauma dari permukaan fasial gigi geligi. Coleman (1993) menyatakan bahwa linea alba dapat terjadi karena chronic chewing serta sucking pada pipi yang pada akhirmya menghasilkan lapisan tipis putih pada mukosa bukal. Kelihatannya, linea alba tidak ada hubungannya dengan cusp yang kasar atau horizontal overlap yang gigi-geligi yang tidak mencukupi. Apabila terdapat pada suatu mukosa bukal, linea alba (garis putih) merupakan garis putih atau putih abu-abuan yang menonjol dan memanjang dari komisura bibir sampai dengan daerah molar. Lesi ini memiliki demarkasi yang baik terhadap mukosa bukal berwarna kemerahan yang ada di sekitarnya, lunak dan lembut dengan batas yang relative sulit dibedakan. Biasanya linea alba terjadi

35

secara bilateral. Linea alba tidak memiliki tanda-tanda patologis. Lesi ini benarbenar jinak. Oleh karena itu, tidak diperlukan perawatan untuk lesi ini. Garis putih ini dapat menghilang secara spontan pada sebagian orang.

36

BAB IV PEMBAHASAN

Pada kunjungan pertama pasien perempuan 21 tahun datang dengan keluhan sariawan di daerah bibir kanan atas bagian dalam sejak 2 hari yang lalu. Penyebab awalnya karena tergigit saat makan. Sariawan tersebut terasa perih dan bertambha perih saat makan panas dan pedas. Pasien tidak menggunakan obat untuk mengobati sariawan. Pasien mengalami sariawan setiap 3 bulan. Pasien tidak mempunyai riwayat keluarga yang sering mengalami sariawan. Melalui anamnesis ini dapat diketahui bahwa ulser yang dialami pasien terjadi berulang (rekuren) dan factor pemicunya adalah trauma akibat gigitan. Pemeriksaan intraoral pada pasien ditemukan adanya ulser 2 buah berukuran 5 mm dan 4 mm pada mukosa labial bagian atas, dengan tepi eritem dan dasar berwarna putih. Dari anamnesis dan pemeriksaan klinis dapat disimpulkan bahwa penyakit pasien adalah Recurrent Aphtous Stomatitis et causa trauma akibat gigitan a/r mukosa labial dextra daerah gigi 1.3. Pada kunjungan kedua pasien mengalami sariawan kembali pada daerah yang berbeda. Pada sedang mengalami PMS (Pra Menstruasi). Pada pemeriksaan
37

intraoral ditemukan adanya ulser 2 buah berukuran 2 mm dan 1 mm pada mukosa labial bagian bawah, dengan tepi eritem dan dasar berwarna putih. Dari anamnesis dan pemeriksaan klinis dapat disimpulkan bahwa penyakit pasien adalah Recurrent Aphtous Stomatitis et causa menstruasi. Pasien mengalami RAS karena trauma akibat gigitan karena gigi 1.3. Daerah mukosa labial daerah gigi 1.3 sering mengalami sariawan karena tergigit. Pasien mengalami sariawan setiap 3 bulan pada daerah yang sama. Trauma akibat gigitan yang salah dapat menyebabkan robeknya mukosa (Cawson and Odell, 2002). Selain itu juga terdapat faktor menstruasi pada pasien. Pada kunjungan ke-2, pasien dalam keadaan PMS. RAS dapat dihubungkan dengan kondisi hormonal pada saat menstruasi (Field and longman, 2003). Perawatan yang diberikan pada penderita tersebut adalah pemberian Triamcinolone Acitonide. Pasien diberikan obat yang mengandung kortikosteroid karena ada keluhan rasa sakit pada pasien. Pasien juga di instruksikan untuk menjagao oral hygiene dan menjaga asupan makanan. Satu minggu kemudian pasien datang untuk kontrol lagi, tidak terlihat kembali ulser. Pasien mengaku lesi tersebut sembuh setelah lima hari pengobatan.

38

BAB V Kesimpulan

Anamnesis dan pemeriksaan klinis pada pasien menunjukkan bahwa pasien mengalami Recurrent Aphtous Stomatitis (RAS) di mukosa labial bagian atas berdiameter 5 mm dan 4 mm dengan batas ireguler, pinggir eritem dan dasar berwarna putih. Pada kunjungan ke-2 (7 hari kemudian) juga terdapat ulcer di mukosa labial bagian bawah berdiameter 2 mm dan 1 mm dengan batas ireguler, pinggir eritem dan dasar berwarna putih. Terapi yang diberikan pada pasien adalah aplikasi triamcinolone acetonide pada lokasi ulser dan pemberian vitamin B12. Hasilnya ketika pasien datang kembali, kunjungan ke 2 (kontrol) sariawan pada daerah mukosa labial bagian atas telah sembuh. Namun terdapat keluhan kembali berupa sariawan pada mukosa labial bagian bawah. Terapi yang diberikan adalah terapi lanjutan pada saat kunjungan pertama. Hasilnya ketika pasien datang kembali, kunjungan ke 3

39

(kontrol) tidak terdapat keluhan kembali berupa sariawan setelah lima hari pengobatan baik pada lokasi sebelumnya maupun pada lokasi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Banuarea, Tahan H.P. 2009. Prevalensi Terjadinya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Berpengalaman SAR. Skripsi. Medan: FKG USU. Dalam http:// repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8360/1/09E02835.pdf. Diunduh pada 8 Maret 2012, 18.30. Cawson, R.A and E.W. Odell. 2002. Essentials of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. Churchill Livingstone: Edinburg. Field, A and L. Longman. 2003. Tyldesley's Oral Medicine. 5th ed. New York : Oxford University Press. Greenberg and Glick. 2008. Burkets Oral Medicine. Oral Medicine. 11 th edition. Ontario: BC Decker Inc Kutcher MJ, et al. Evaluation of a bloadhesif device for the management of aphthous ulcer. J Am Dent Assoc2001 Laskaris, George. 2006. Pocket Atlas of Oral Diseases. New York: Thieme.

40

Motallebnejad M, Babaee N, Sakhdari S. An epidemiologic study of tongue lesions in 1901 iranian dental outpatients. The Journal of Contemp Dent Pract. 2008; 9 (7): 1-17 Ryles J. Evidence based mouthcare policy. Clinical Review Group. 2007 Scully, Crispian. 2004. Oral and Maxillofacial Medicine. Churchill Livingstone: Elsevier Cunningham, S., Francis B. Quinn, Matthew W. Ryan. 2002. Ulcerative Lesions of The Oral Cavity. Dept. of Otolaryngology: Grand Rounds Presentation.

41