Anda di halaman 1dari 22

RESUME

Presentasi kasus yang akan dibahas pada laporan ini adalah kejahatan seksual pada anak. Kekerasan seksual pada anak adalah segala bentuk kegiatan seksual dengan seorang anak, dengan atau tanpa ijin, yang dilakukan oleh seorang dewasa atau anak yang mempunyai bentuk fisik lebih kuat5, yang mana pada kasus ini adalah teman korban. Seorang anak prempuan berusia 15 tahun datang ke PPT Rumkit Polpus Raden Said Sukanto pada senin 20 mei 3013 pukul 21.30 bersama ayah korban dan polisi membawa surat permohonan visum dengan nomor B / 42 / V / 2013 / Reskrim dari Polres Bogor sektor Cileungsi. Korban mengaku telah disetubuhi oleh pelaku (teman korban) di rumah pelaku pada tanggal delapan belas mei dua ribu tiga belas pukul dua puluh satu titik kosong-kosong Waktu Indonesia Bagian Barat. Hasil dari pemeriksaan kasus ini adalah tidak ditemukan perlukaan. Pada pemeriksaan alat kelamin didapatkan terdapat robekan lama arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar. Terdapar robekan lama arah jam sebelas yang tidak sampai dasar. Tes bilasan vagina dilakukan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa luka-luka tersebut diakibatkan kekerasan oleh benda tumpul. Selanjutnya dibuatkanlah VER untuk kepentingtan peradilan.

ILUSTRASI KASUS
Pada tanggal 18 Mei 2013 pukul 21.00 WIB bertempat dirumah pelaku, korban mengaku telah disetubuhi oleh pelaku (teman korban) di rumah pelaku di daerah Cileungsi Bogor. Awalnya pelaku menjemput korban dirumah korban pada pukul 18.00 WIB lalu korban dibawa kerumah pelaku, dirumah pelaku memaksa korban untuk melakukukan hubungan badan. Korban sempat melawan dan tidak mau melakukan hubungan badan tapi pelaku memegang tangan korban. Korban mengaku pelaku ejakulasi didalam kelamin korban. Korban mengaku kejadian ini merupakan yang pertama kalinya.

SURAT PERMINTAAN VISUM

RUMAH SAKIT KEPOLISIAN PUSAT RADEN SAID SUKANTO INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK

STATUS FORENSIK KLINIK

Hari / tanggal pemeriksaan I.

: Senin, 20 Mei 2013 pukul 21.30 WIB

IDENTITAS PASIEN/ KORBAN Nama Tempat tanggal lahir Usia Warga negara Agama Pekerjaan Alamat : Nn. Nanda Yunita Rahmadanti : Jakarta, 15 Desember 1998 : 15 tahun : Indonesia : Islam : Pelajar : Jln. BTP Blok F3 no 24 RT 016 RW 012 Kelurahan Setia mekar Kecamatan Tambun selatan Bekasi.

II.

IDENTITAS PELAKU Nama Usia Alamat : Firman : 18 tahun : Griya Cileungsi Permai blok B 06 No 6 Desa mampir Kecamatan Cileungsi kabupaten Bogor Warga negara Agama Pekerjaan Hubungan : Indonesia : Islam :: Teman Korban

III. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis Korban datang ke PPT Rumkit Polpus Raden Said Sukanto pada senin 20 mei 3013 pukul 21.30 bersama ayah korban dan polisi membawa surat

permohonan visum dengan nomor B / 42 / V / 2013 / Reskrim dari Polres Bogor sektor Cileungsi. Pada tanggal 18 Mei 2013 pukul 21.00 WIB bertempat dirumah pelaku, korban mengaku telah disetubuhi oleh pelaku (teman korban) di rumah pelaku di daerah Cileungsi Bogor. Awalnya pelaku menjemput korban dirumah korban pada pukul 18.00 WIB lalu korban dibawa kerumah pelaku, dirumah pelaku memaksa korban untuk melakukukan hubungan badan. Korban sempat melawan dan tidak mau melakukan hubungan badan tapi pelaku memegang tangan korban. Korban mengaku pelaku ejakulasi didalam kelamin korban. Korban mengaku kejadian ini merupakan yang pertama kalinya. Haid terakhir korban lupa, tapi menurut perkiraan korban haid terakhir pertengahan bulan april 2013.

II.

PEMERIKSAAN FISIK UMUM Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Frekuensi napas Suhu : Baik : Compos mentis : 100/80 mmHg : 76 x/menit : 18 x/menit : 36,5o C

IV. PEMERIKSAAN FISIK KHUSUS Status Lokalis : Tidak ada luka memar pada tubuh korban.

Pada Pemeriksaan alat kelamin : 1. Terdapat lendir kental berwarna putih dan berbau 2. Terdapat robekan selaput dara arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar,serta robekan selaput dara arah jam sebelas yang tidak sampai dasar. Warna seperti jaringan sekitar.

Gambar 1. Terlihat robekan pada selaput dara arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar,serta robekan selaput dara arah jam sebelas yang tidak sampai dasar.

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Dilakukan bilas vagina, hasil belum diketahui

VI. TERAPI Pengobatan tidak diberikan

VII. KESIMPULAN Telah dilakukan pemeriksaan pada seorang anak perempuan yang menurut keterangfan berusia 15 tahun. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Pada pemeriksaan khusus alat kelamin ditemukan robekan lama arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar . Terdapat robekan lama arah jam sebelas yang tidak sampai dasar. Robekan ini akibat kekerasan tumpul yang melalui liang senggama.

Dokter Pemeriksa,

Rika Enjelia, S.Ked

R/11/VERPPT/V/2013Rumkit/BhyTK I

Halaman 1 dari 3

RUMAH SAKIT PUSAT KEPOLISIAN R.S.SUKANTO INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK

PRO JUSTITIA VISUM ET REPERTUM

Jakarta, 20 Mei 2013

No. Pol : B / 42 / V / 2013 / Reskrim Yang bertandatangan di bawah ini, Rika Enjelia, dokter muda pada Rumah Sakit Kepolisian Pusat R.S. Sukanto Jakarta, Menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Polres Metropolitan Jakarta Timur dengan nomor B / 42 / V / 2013 / Reskrim, tertanggal dua puluh mei dua ribu tiga belas, maka dengan ini menerangkan bahwa pada Tanggal Lima Belas Mei Dua Ribu Delapan, Pukul dua puluh satu titik kosong-kosong Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang Pusat Pelayanan Terpadu RS PolPus R.S Sukanto Jakarta telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan keterangan sebagai berikut :-------------------Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Warga Negara : Nn. Nanda Yunita Rahmadanti -------------------------------: 15 tahun ---------------------------------------------------------: Perempuan ------------------------------------------------------: Islam -------------------------------------------------------------: Pelajar -----------------------------------------------------------: Indonesia ---------------------------------------------------------

R/11/VER- PPT-KSA/V/2013Rumkit/BhyTK I

Alamat

: Jln. BTP Blok F3 no 24 RT 016 RW 012 Kelurahan Setia mekar Kecamatan Tambun selatan Bekasi --------------------

./HasilPemeriksaan...

Halaman 2 dari 2 Riwayat kejadian--------------------------------------------------------------------------Pada tanggal delapan belas mei dua ribu tiga belas pukul dua puluh satu titik kosong-kosong Waktu Indonesia Bagian Barat bertempat dirumah pelaku, korban mengaku telah disetubuhi oleh pelaku (teman korban) di rumah pelaku di daerah Cileungsi Bogor titik Awalnya pelaku menjemput korban dirumah korban pada pukul delapan belas titik kosong-kosong Waktu Indonesia Bagian Barat lalu korban dibawa kerumah pelaku dirumah pelaku memaksa korban untuk melakukukan hubungan badan titik Korban sempat melawan dan tidak mau melakukan hubungan badan tapi pelaku memegang tangan korban titik Korban mengaku pelaku ejakulasi didalam kelamin korban titik Korban mengaku kejadian ini merupakan yang pertama kalinya titik Haid terakhir korban lupa, tapi menurut perkiraan korban haid terakhir pertengahan bulan april 2013 -----------------------------------------------------------------------------------------

Hasil Pemeriksaan sebagai berikut :---------------------------------------------------1. Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum baik ---------------2. Pada pemeriksaan tubuh korban tidak ditemukan luka- luka ---------------------4. Pada pemeriksaan alat kelamin : ------------------------------------------------------a) Terdapat lendir kental berwarna putih dan berbau ------------------------------

b) Terdapat robekan selaput dara arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar,serta robekan selaput dara arah jam sebelas yang tidak sampai dasar. Warna seperti jaringan sekitar.----------------------------------------------------------

KESIMPULAN : ---------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan fisik, seorang anak perempuan yang berusia lima belas tahun dengan keadaan umum baik, dan kesadaran tampak sadar penuh. Pada pemeriksaan selaput dara terdapat robekan lama arah jam tiga, enam , dan sembilan sampai dasar. Terdapar robekan lama arah jam sebelas yang tidak sampai dasar.. Robekan ini akibat kekerasan tumpul yang melalui liang senggama ---------------------------------------------------------------------------------------------------

Demikianlah Visum et Repertum

ini saya buat dengan sebenarnya dan

menggunakan keilmuan saya yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ----------------------------------------------------------------------------------------------

Jakarta, 15 Mei 2008 Dokter Pemeriksa,

Rika Enjelia, S.Ked NRP : 2008730107

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI a. Persetubuhan Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana di Indonesia istilah persetubuhan tidak dirumuskan. Namun menurut Hooge Raad (Mahkamah Agung di Negeri Belanda) bahwa persentuhan sebelah luar (eksternal ) alat kelamin pria dengan alat kelamin wanita saja, tidak cukup untuk menyatakan bahwa persetubuhan telah terjadi, namun harus terjadi penyatuan ( vereniging ) dari alat kelamin pria dengan alat kelamin wanita. Jadi dapat dikatakan bahwa persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.

b. Perbuatan Cabul Definisi percabulan pada berbagai negara berbeda beda. Di Amerika Serikat pengertian percabulan yang diambil dari The National Center On Child Abuse and Neglect US, sexual assault adalah kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa dimana anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki kekuatan atau kendali atas korban. Termasuk kontak fisik yang tidak pantas, membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi atau memperlihatkan alat genital orang dewasa kepada anak. Di Belanda, percabulan adalah persetubuhan di luar perkawinan yang dilarang dan diancam pidana. Di Indonesia pengertian percabulan sendiri tidak cukup jelas. Menurut buku Kejahatan Seks dan Aspek Medikolegal Gangguan Psikoseksual, adalah semua perbuatan yang dilakukan untuk

10

mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan.

c. Pemerkosaan Adalah tindakan menyetubuhi seorang wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Berdasarkan pengetian ini maka seorang suami tidak dapat dipidana karena menyetubuhi istrinya dengan paksa. Penuntut umum harus dapat membuktikan bahwa persetubuhan telah terjadi dengan paksaan ( kekerasan atau ancaman kekerasan ) dan tertuduhnya yang berbuat itu. Pemerkosaan dapat dibagi dalam : 1. Date rape Adalah hubungan seks tanpa persetujuan antara orang-orang yang sudah kenal satu sama lain, misalnya teman, anggota keluarga, atau pacar. Kebanyakan pemerkosaan dilakukan oleh orang yang mengenal korban. 2. Pemerkosaan dengan obat Banyak obat-obatan digunakan oleh pemerkosa untuk membuat korbannya tidak sadar atau kehilangan ingatan. 3. Pemerkosaan wanita Walaupun jumlah tepat korban pemerkosaan wanita tidak diketahui, diperkirakan 1 dari 6 wanita di AS adalah korban serangan seksual. Banyak wanita yang takut dipermalukan atau disalahkan, sehingga tidak melaporkan pemerkosaan. Pemerkosaan terjadi karena si pelaku tidak bisa menahan hasrat seksualnya melihat tubuh wanita. 4. Gang rape Gang rape terjadi bila sekelompok orang menyerang satu korban. 10% sampai 20% pemerkosaan melibatkan lebih dari 1 penyerang. Di beberapa negara, gang rape dihukum lebih berat daripada pemerkosaan oleh satu orang. 5. Pemerkosaan laki-laki Diperkirakan 1 dari 33 laki-laki adalah korban pelecehan seksual. Di banyak negara, hal ini tidak diakui sebagai suatu kemungkinan.

11

Misalnya, di Thailand hanya laki-laki yang dapat dituduh memperkosa. 6. Pemerkosaan anak-anak Jenis pemerkosaan ini adalah incest bila dilakukan oleh kerabat dekat, misalnya orangtua, paman, bibi, kakek, atau nenek. Diperkirakan 40 juta orang dewasa di AS, di antaranya 15 juta lakilaki, adalah korban pelecehan seksual saat masih anak-anak. 7. Pemerkosaan dalam perang Dalam perang, pemerkosaan sering digunakan untuk mempermalukan musuh dan menurunkan semangat juang mereka. Pemerkosaan dalam perang biasanya dilakukan secara sistematis, dan pemimpin militer biasanya menyuruh tentaranya untuk memperkosa orang sipil. 8. Spousal rape Pemerkosaan ini dilakukan dalam pasangan yang menikah. Di banyak negara hal ini dianggap tidak mungkin terjadi karena dua orang yang menikah dapat berhubungan seks kapan saja. Dalam kenyataannya banyak suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan seks. 9. Statutory rape Di banyak negara, hubungan seks dengan orang di bawah usia tertentu disebut statutory rape. Senggama yang legal ( tidak melanggar hukum ) adalah yang dilakukan dengan prinsip prinsip sebagai berikut : Adanya izin ( consen ) dari wanita yang disetubuhi,. Izin yang sah menurut hukum adalah yang dengan sadar ( conscious ), wajar (naturally), tanpa keragu raguan ( unequivocal ), dan atas kemauan sendiri (voluntary). Jadi izin tidak sah menurut hukum jika diperoleh dengan cara paksaan (force), tipu daya ( round ) atau tanpa menciptakan ketakutan ( fear ). Wanita tersebut telah cukup umur , sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan terikat perkawinan dengan laki laki lain dan bukan anggota keluarga terdekat.

12

II.

PEMERIKSAAN KORBAN KEJAHATAN SEKSUAL Pada korban kejahatan seksual, hendaknya diperlakukan sebagai seorang pasien. Menjadi kewajiban dokter untuk mengobati luka yang terdapat, mencegah timbulnya penyakit kelamin, mencegah terjadinya kehamilan, dan mencegah atau mengobati trauma psikologik yang ada. Hal hal yang perlu diperhatikan : Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Izin tertulis untuk pemeriksaan dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah seorang anak, dari orang tua atau walinya. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksa korban. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin, jangan ditunda terlalu lama. Ada tiga unsur yang harus diperhatikan, yaitu : unsur pelaku, unsur korban, unsur perbuatan. Pemeriksaannya antara lain : Anamnesis Meliputi : umur, tempat tanggal lahir, status perkawinan, siklus haid, apakah pernah bersetubuh sebelumnya, kapan persetubuhan terakhir apakah memakai alat kontrasepsi, kapan waktu kejadian, dimana tempat kejadian, saat itu korban sadar atau tidak, apakah terjadi penetrasi, apakah terjadi ejakulasi, apakah korban sudah mandi, mencuci, atau mengganti pakaian. Pemeriksaan pakaian Meliputi : robekan, kancing yang terputus, pakaian yang mengandung bercak darah, air mani, dll. Pemeriksaan tubuh korban

13

a. Pemeriksaan Secara Umum Meliputi : penampilannya, keadaan emosional, tanda tanda bekas kehilangan kesadaran dan tanda tanda kekerasan, jika perlu diambil sampel urine dan darah. b. Pemeriksaan Daerah Khusus ( genitalia ) Meliputi : bercak air mani disekitar alat kelamin, ada tidaknya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu, adanya tanda tanda kekerasan pada daerah kelamin, periksa selaput dara dan ada tidaknya penyakit kelamin.

III.

DASAR HUKUM Dari anamnesis diketahui bahwa korban adalah perempuan berusia tiga belas tahun sebelas bulan, maka menurut KUHP dan Undang Undang Perlindungan Anak adalah belum cukup umur. Korban masih dibawah umur maka digunakan UU RI. No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adapun dasar hukum yang dapat dipakai antara lain : UU RI. No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 81 (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 ( lima belas ) tahun dan paling singkat 3 ( tiga ) tahun dan denda paling sedikit rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak

melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82

14

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian

kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabal, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 ( lima belas ) tahun dan paling singkat 3 ( tiga ) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 ( tiga ratus juta rupiah ) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 ( enam puluh juta rupiah ). Pada undang undang ini menegaskan bahwa pertanggung jawaban orangtua, keluarga, masyarakat, dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus demi terlindungi hak hak anak. Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin yakni sejak janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 ( delapan belas tahun ). KUHP ( Kitab Undang Undang Hukum Pidana ) Pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama lamanya 12 tahun.

Pasal 287 ayat 1 Barangsiapa yang bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya sedangkan diketahui atau harus patut disangkanya, bahwa umur perempuan itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa perempuan itu belum masanya untuk kawin, dihukum penjara selama lamanya 9 tahun.

Pasal 289

15

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, dihukum karena merusak kesopanan dengan hukuman penjara selama lamanya sembilan tahun.

Pasal 290 2e. Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, sedang diketahui atau patut disangkanya , bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau tidak nyata berapa umurnya, bahwa orang itu belum masanya buat dikawini. 3e. Barangsiapa membujuk ( menggoda ) seseorang, yang diketahui atau patutnya harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa ia belum masanya buat dikawini, akan melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, atau akan bersetubuh dengan orang lain dengan tiada kawin.

Pasal 293 ayat 1 Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum cukup umut dan baik tingkah lakunya, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum cukup umurnya itu diketahui atau selayaknya harus diduga, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

IV.

DAMPAK KORBAN KEJAHATAN SEKSUAL Dampak kekerasan seksual bagi anak perempuan tidaklah sesaat, tapi bisa jadi seumur hidup. Banyak dari mereka yang pada akhirnya terjerumus ke dunia prostitusi anak. Dalam hal ini, kekerasan dan eksploitasi seksual menjadi semakin dekat dengan kehidupan anak-anak tersebut.

16

Dampak secara fisik yang dapat terjadi adalah mengalami infeksi di saluran reproduksinya. Misalnya, mengalami keputihan dan memar di bagian kelamin. Akibat lainnya adalah dampak psikologis berupa trauma yang dialami sebagian besar korban. Bentuk trauma berbeda antara satu korban dengan korban lainnya. Trauma ini tergantung dari usia korban serta bentuk kekerasan yang dialami korban. Trauma dapat berupa ketakutan bertemu dengan orang lain, mimpi buruk atau ketakutan saat sendiri. Dampak lebih besar terjadi apabila lingkungan korban tidak mendukung korban. Akibatnya, korban menjadi malu dan rendah diri. Banyak hal yang dapat dilakukan terhadap anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Pendampingan psikologis dapat dilakukan melalui dukungan kepada korban dan keluarga korban. Anak-anak korban ini rentan terhadap infeksi dan harus mendapatkan perawatan agar tidak mengganggu kesehatan reproduksi mereka di masa yang akan datang. Karena itulah, pelayanan medis secara intensif sangat diperlukan bagi korban. Selain itu, korban juga membutuhkan pendampingan di bidang hukum, mulai dari pendampingan di kepolisian sampai dengan proses di pengadilan. Selama mendampingi proses hukum, pengawalan terhadap proses hukum yang terjadi dalam setiap tahapnya sangatlah penting. Hal yang perlu dikawal antara lain, apakah semua proses sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; apakah dalam penyidikan polisi sudah memperhatikan hak-hak anak; apakah hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih berperspektif pada korban; apakah jaksa yang merupakan wakil korban di pengadilan juga sudah berperspektif pada korban.

17

llustrations of the hymen in various states

Illustrations of Hymen Types

18

BAB III PEMBAHASAN Pada hari senin tanggal 20 mei 3013 pukul 21.30, seorang anak prempuan berusia 15 tahun datang ke PPT Rumkit Polpus Raden Said Sukanto bersama ayah korban dan polisi membawa surat permohonan visum dengan nomor B / 42 / V / 2013 / Reskrim dari Polres Bogor sektor Cileungsi. Hal ini sesuai dengan Pasal 133 KUHAP dimana Visum et Repertum yang diminta oleh penyidik dibuat secara tertulis dan dengan tegas dituliskan untuk pemeriksaan luka. Visum et Repertum yang berisi hasil pemeriksaan dapat dijadikan salah satu alat bukti yang sah di pengadilan. Hal ini sesuai dengan Pasal 184 ayat 1 KUHAP. Dengan adanya SPV yang dibuat oleh penyidik maka dokter berkewajiban memberikan keterangan ahli sesuai dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yaitu : 1,5 Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Korban mengaku telah disetubuhi dengan paksa oleh pelaku ( teman korban ) pada bulan mei pukul 21.30 WIB bertempat di rumah pelaku. PASAL 13 1. Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: 1,5 a. Diskriminasi b. Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual c. Penelantaran d. Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan e. Ketidakadilan f. Perlakuan salah lainnya PASAL 81 1. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling

19

singkat 3 tahun dan denda paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). 1,5 2. Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. 1,5 PASAL 82 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). 1,5

Pada undang-undang ini menegaskan bahwa pertanggung jawaban orangtua, keluarga, masyarakat, dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus demi terlindungi hak-hak anak. Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin yakni sejak janin dalam kandungan sampai anak berumur 18. 1,5

20

BAB IV PENUTUP KESIMPULAN

1. Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi. 2. Percabulan adalah semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan. 3. Pemerkosaan adalah tindakan menyetubuhi seorang wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. 4. Jenis jenis pemerkosaan : date rape, pemerkosaan dengan obat, pemerkosaan wanita, gang rape, pemerkosaan laki laki, pemerkosaan anak anak, pemerkosaan dalam perang, spousal rape, statutory rape. 5. Senggama yang legal prinsipnya : ada izin, cukup umur, sehat akalnya, tidak terikat perkawinan, dan bukan anggota keluarga terdekat. 6. Pemeriksaan korban kejahatan seksual meliputi : anamnesis, pemeriksaan pakaian, pemeriksaan tubuh korban. 7. Dasar hukumnya : UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ( pasal 81 dan pasal 82 ), KUHP ( pasal 285, pasal 287 ayat 1, pasal 289, pasal 290 ayat 2e dan 3e, pasal 293 ayat 1 ). 8. Dampak korban kejahatan seksual yaitu : dampak fisik dan dampak psikologi

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto, Arif dkk (kontributor). 1997. Ilmu Kedokteran Forensik edisi pertama cetakan kedua. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Munim A. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. 3. He-man. Kekerasan seksual pada anak-anak di Indonesia. In:

www.smeru.or.id. Diakses pada Mei 2013. 4. Child Sexual Molestation Law and Legal Definition. In: www. uslegalforms.com. diakses pada Mei 2013 5. Anonim. Jaksa mulai mengesampingkan KUHP dalam perkara anak-anak. In: www.hukumonline.com. Diakses pada tanggal Mei 2013. 6. Pelaku Pencabulan Harus Dijerat UU Perlindungan Anak. In:

www.suaramerdeka.com. Diakses pada tanggal mei 2013

22