Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

Kasus Herpes Simplex

Disusun Oleh : Ade Rininta Sawitri Cicy Chyntiawati Faulya Nurmala Arofah Hanik Fitria Cahyani Ike Yulianti Nurqomariah Sri Wahyuningsih Sumiyati Astuti Qoys M. Iqbal

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011
ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT

CIRI-CIRI KULIT: 1. Pembungkus yang elastis yang melindungi kulit dari pengaruh lingkungan. 2. Alat tubuh yang terberat : 15 % dari berat badan. 3. Luas : 1,50 1,75 m. 4. Tebal rata rata : 1,22mm. 5. Daerah yang paling tebal : 66 mm, pada telapak tangan dan telapak kaki dan paling tipis : 0,5 mm pada daerah penis.

KULIT TERBAGI MENJADI 3 LAPISAN:

1. EPIDERMIS

Terbagi atas 4 lapisan: a. Lapisan basal / stratum germinativum


Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade. Lapisan terbawah dari epidermis.

Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin (melindungi kulit dari sinar matahari).

b. lapisan Malpighi/ stratum spinosum.


Lapisan epidermis yang paling tebal. Terdiri dari sel polygonal Sel sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.

c. lapisan Granular / stratum granulosum.

Terdiri dari butir butir granul keratohialinyang basofilik.

d. lapisan tanduk / korneum.

Terdiri dari 20 25 lapis sel tanduk tanpa inti.

Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi: 1. Mengusir mikroorganisme patogen. 2. Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh. 3. Unsure utama yang mengeraskan rambut dan kuku.

Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Dalam epidermis terdapat 2 sel yaitu : 1. Sel merkel. Fungsinya belum dipahami dengan jelas, tapi diyakini berperan dalam pembentukan kalus dan klavus pada tangan dan kaki.

2. Sel langerhans. Berperan dalam respon respon antigen kutaneus. Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.

2. DERMIS (korium)

Merupakan lapisan dibawah epidermis. Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan: pars papilaris, terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak pembuluh darah, limfe, dan akar rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus.

3. JARINGAN SUBKUTAN ATAU HIPODERMIS / SUBCUTIS.


Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak. Merupakn jaringan adipose sebagai bantalan antara kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang.

Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas. Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi.

RAMBUT. Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir. Terdapat 2 jenis rambut :

a. Rambut terminal (dapat panjang dan pendek)

b. Rambut velus (pendek, halus dan lembut). Fungsi rambut 1. melindungi kulit dari pengaruh buruk: Alis mata melindungi mata dari keringat agar tidak mengalir ke mata, bulu hidung (vibrissae) 2. menyarig udara. 3. serta berfungsi sebagai pengatur suhu, 4. pendorong penguapan keringat dan 5. indera peraba yang sensitive. Rambut terdiri dari akar (sel tanpa keratin) dan batang (terdiri sel keratin).

Bagian dermis yang masuk dalam kandung rambut disebut papil. Terdapat 2 fase : 1. fase pertumbuhan (Anagen) kecepatan pertumbuhan rambut bervariasi, rambut janggut tumbuh lebih rcepat diikuti kulit kepala, berlangsung sampai dengan usia 6 tahun (90 % dari 100.000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan)

2. Fase Istirahat (Telogen) Berlangsung lebih dari 4 bulan rambut mengalami kerontokan 50 100 lembar rambut rontok dalam tiap harinya. Gerak merinding jika terjadi trauma , stress, disebut Piloereksi. Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin. Pertumbuhan rambut pada daerah tertentu dikontrol oleh hormon seks (rambut wajah, janggut, kumis, dada, punggung, di kontrol oleh hormon Androgen. Kuantitas dan kualitas distribusi ranbut ditentukan oleh kondisis Endokrin. Hirsutisme (pertumbuhan rambut yang berlebihan pada sindrom Cushing (wanita))

KUKU Permukaan dorsal ujung distal jari tangan atau kaki tertdapat lempeng keatin yang keras dan transparan. Tumbuh dari akar yang disebut kutikula. Berfungsi mengangkat benda benda kecil. Pertumbuhan rata- rata 0,1 mm / hari. Pembaruan total kuku jari tangan : 170 hari dan kuku kaki: 12- 18 bulan. KELENJAR KELENJAR PADA KULIT 1. Kelenjar Sebasea Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak. 2. Kelenjar keringat Diklasifikasikan menjadi 2 kategori: a. Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit. Melepaskan keringat sebagai reaksi peningkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh. Kecepatan sekresi keringat dikendalikan oleh saraf simpatik.pengeluaran keringat pada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dan lainnya.

b. Kelenjar Apokrin. Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan bermuara pada folikel rambut. Kelenjar inaktif pada masa pubertas, pada wanita akan membesar dan berkurang pada siklus haid. Kelenjar apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bakteri, menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga

bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut kelenjar seruminosa yang menghasilkan serumen.

FUNGSI KULIT SECARA UMUM. 1. SEBAGAI PROTEKSI.


Masuknya benda-benda dari luar (benda asing, invasi bakteri) Melindungi dari trauma yang terus menerus. Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh. Menyerap berbagai senyawa lipid, vitamin A dan D yang larut lemak. Memproduksi melanin, mencegah kerusakan kulit dari sinar UV.

2. PENGONTROL/PENGATUR SUHU. Vasokonstriksi pada suhu dingin dan dilatasi pada kondisi panas, peredaran darah meningkat, terjadi penguapan keringat. 3 proses hilangnya panas dari tubuh: Radiasi: pemindahan panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah. Konduksi : pemindahan panas dari tubuh ke benda lain yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh. Evaporasi : membentuk hilangnya panas lewat konduksi

Kecepatan hilangnya panas dipengaruhi oleh suhu permukaan kulit yang ditentukan oleh peredaran darah kekulit.(total aliran darah N: 450 ml / menit.) 3. SENSIBILITAS Mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan rabaan.

4. KESEIMBANGAN AIR

Sratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subcutan.

Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata)+ 600 ml / hari untuk dewasa.

5. PRODUKSI VITAMIN. Kulit yang terpajan sinar UV akan mengubah substansi untuk mensintesis vitamin D.

Kasus 2 Tn. L datang ke balai asuhan keperawatan dengan keluhan nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir

PEMBAHASAN

Prevalensi dan Kejadian Herpes simplex HSV adalah penyakit yang sangat umum. Di AS, kurang lebih 45 juta orang memiliki infeksi HSV kurang lebih 20% orang di atas usia 12 tahun. Diperkirakan terjadi satu juta infeksi baru setiap tahun. Prevalensi dan kejadian di Indonesia belum diketahui. Prevalensi infeksi HSV sudah meningkat secara bermakna selama dasawarsa terakhir. Sekitar 80% orang dengan HIV juga terinfeksi herpes kelamin. Infeksi HSV-2 lebih umum pada perempuan. Di AS, kurang lebih satu dari empat perempuan dan satu dari lima laki-laki terinfeksi HSV-2. HSV kelamin berpotensi menyebabkan kematian

pada bayi yang terinfeksi. Bila seorang perempuan mempunyai herpes kelamin aktif waktu melahirkan, sebaiknya melahirkan dengan bedah sesar. Jangkitan HSV berulang dapat terjadi bahkan pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Jangkitan HSV berjangka lama mungkin berarti sistem kekebalan tubuh sudah lemah. Ini termasuk Odha, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untungnya, jarang ada jangkitan lama yang tidak menjadi pulih kecuali pada Odha dengan jumlah CD4 yang sangat rendah. Jangkitan lama ini juga sangat jarang terjadi setelah tersedianya terapi antiretroviral (ART). Sumber:Yayasan Spiritia A. Definisi Herpes simplex adalah erupsi vesikula pada kulit dan membran mukosa yang disebabkan oleh virus herpes (Geri Morgan & Carol Hamilton :2003) Herpes simpleks adalah infeksi yang disebabkan Herpes simplex virus (HSV) tipe 1 dan 2, meliputi herpes orolabialis dan herpes genitalis. Penularan virus paling sering terjadi melalui kontak langsung dengan lesi atau sekret genital/oral dari individu yang terinfeksi (Wolf K,dkk:2008) Herpes kulit / Penyakit herpes simpleks adalah penyakit kulit karena infeksi yang disebabkan oleh jenis virus herpes simpleks 1 (HSV-1), virus yang sama yang menyebabkan luka dingin di bibir (www.kesehatan.com) Herpes simpleks adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan herpes kelamin atau luka demam di sekitar mulut. HSV mudah menular dari orang ke orang waktu hubungan seks atau hubungan langsung yang lain dengan daerah infeksi HSV. Herpes dapat menular walaupun luka terbuka tidak terlihat (Yayasan Spiritia) B. Etiologi Herpes simplex disebabkan oleh Herpes Virus Hominis (HSV). Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang menginfeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 merupakan penyebab dari

luka di bibir (herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks); biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut. HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual. Virus Herpes Simpleks Virus Herpes Simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi akut pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab. Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang sering menginfeksi yaitu: a. HSV-Tipe I (Herpes Simplex Virus Type I) b. HSV-Tipe II (Herpes Simplex Virus Type II) Klasifikasi Ilmiah Famili : Herpesviridae Subfamili : Alphaherpesvirinae Genus : Simpleksvirus Spesies : Virus Herpes Simpleks Tipe 1 dan Virus Herpes Simpleks Tipe 2 Struktur, Komposisi, dan Sifat Virus herpes berukuran besar dibandingkan dengan virus lain. Struktur virus herpes dari dalam ke luar terdiri dari genom DNA untai ganda liniar berbentuk toroid, kapsid, lapisan tegumen, dan selubung. Dari selubung keluar tonjolan-tonjolan (spike), tersusun atas glikoprotein. Terdapat 10 glikoprotein untuk HSV-1 Pembungkus berasal dari selaput inti sel yang terinfeksi. yaitu glikoprotein (g)B, gC, gD, gE, gH, gI, gK, gL, dan M. Glikoprotein D dan glikoprotein B merupakan bagian penting untuk infektivitas virus. Glikoprotein G HSV-1 berbeda dengan HSV2 sehingga antibodi terhadapnya dapat dipakai untuk membedakan kedua spesies tersebut. Virus herpes humanus relatif tidak stabil pada suhu kamar dan dapat dirusakkan dengan perebusan , alkohol, dan pelarut lipid seperti eter atau kloroform.

Replikasi virus Virus masuk ke dalam sel melalui fusi antara glikoprotein selubung virus dengan reseptornya yang terdapat di membran plasma. Selanjutnya nukleokapsid pindah dari sitoplasma ke inti sel. Setelah kapsid rusak, genom virus dilepas di dalam inti sel, berubah dari liniar menjadi sirkular. Sebagian gen langsung ditranskripsikan dan produk RNA-nya dipindahkan ke sitoplasma. Pada tahap akhir, dengan bantuan protein beta, terjadi transkripsi dan translasi late genes menjadi protein gamma. Transkripsi DNA virus terjadi sepanjang siklus replikasi di dalam sel dengan bantuan enzim RNA polimerase sel pejamu dan protein virus lain. Transkrip dalam bentuk DNA virus selanjutnya dirakit menjadi virion pada membran inti sel. Virion selanjutnya dilepaskan ke luar inti sel melalui proses eksositosis. Satu kali siklus replikasi berlangsung sekitar 18 jam untuk herpes simpleks. Replikasi HSV di dalam sel akan menghambat sintesis DNA dan protein selular sejak fase dini replikasi. Infeksi awal virus herpes Setelah infeksi awal, virus herpes tidak memberi dampak apa-apa di dalam tubuh, tetapi dapat memberi berbagai rangsangan seperti stres, menstruasi, penggunaan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh dan kerusakan kulit dari panas, matahari atau bahan kimia. Seberapa sering virus herpes tersebut aktif akan bervariasi dari satu orang ke yang berikutnya. Virus melewati respon kekebalan tubuh biasanya oleh serat saraf penetrasi. Sebagai sistem kekebalan tubuh yang bergerak untuk mengendalikan infeksi, virus herpes menyembunyikan

dirinya sendiri didalam sel saraf dan cangkokan jauh dari tempat kejadian dengan menumpang pada sistem saraf transportasi kususu yang digunakan untuk memindahkan material dari satu ujung ke ujung. Dengan cara ini virus herpes dibawa ke tubuh sel saraf dalam pembengkakan disebut ganglion yang terletak dekat dengan sumsum tulang belakang. Ketika mencapai tubuh sel, DNA virus akan ditambahkan bersama DNA sel saraf sendiri dalam nukleus. Pada tahap selanjutnya virus herpes memproduksi dirinya sendiri menggunakan DNA virus yang tersembunyi dalam sel saraf. Partikel-partikel virus baru dirakit kemudian dikirimkan kembali ke srat saraf ke daerah kulit kemudian bertambah terus-menerus (misalnya di sekitar bibir). Dalam kasus yang jarang virus herpes simplex juga bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius, seperti meningitis, ensefalitis (infeksi otak), herpes neonatal, dan ulserasi kornea, jaringan parut infeksi mata yang mengakibatkan penurunan fungsi visual. Virus herpes juga dapat menyebabkan infeksi umum yang lebih parah diantara orang-orang dengan kekebalan lemah. Jenis Virus Herpes Simplex a. HSV-Tipe I (Herpes Simplex Virus Type I) b. HSV-Tipe II (Herpes Simplex Virus Type II)

a. HSV-Tipe I biasanya menginfeksi daerah mulut dan wajah (Oral Herpes). HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata. HSV I ditransmisikan melalui sekresi oral,virus menyebar melalui droplet pernapasan atau melalui kontak langsung dengan air liur yang terinfeksi. Ini sering terjadi selama berciuman, atau dengan memakan atau meminum dari perkakas yang terkontaminasi. HSV-I dapat menyebabkan herpes genitalis melalui transmisi selama seks oral-genital. Karena virus ditransmisikan melalui sekresi dari oral atau mukosa (kulit) genital, biasanya tempat infeksi pada laki-laki termasuk batang dan kepala penis, skrotum, paha bagian dalam, anus. Labia, vagina, serviks, anus, paha bagian dalam adalah tempat yang biasa pada wanita. Mulut juga dapat menjadi tempat infeksi untuk keduanya.

b. HSV-Tipe II biasanya menginfeksi daerah genital dan sekitar anus (Genital Herpes). HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Infeksi pada vagina terlihat seperti bercak dengan luka. Pada pasien mungkin muncul iritasi, penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan kesulitan bernapas atau kejang. Lesi biasanya hilang dalam 2 minggu infeksi . Penyebaran herpes genetalis atau Herpes Simpleks II dapat melalui kontak langsung antara seseorang yang tidak memiliki antigen terhadap HSV-II dengan seseorang yang terinfeksi HSV-II. Kontak dapat melalui membran mukosa atau kontak langsung kulit dengan lesi. Transmisi juga dapat terjadi dari seorang pasangan yang tidak memiliki luka yang tampak. Kontak tidak langsung dapat melalui alat-alat yang dipakai penderita karena HSV-II memiliki envelope sehingga dapat bertahan hidup sekitar 30 menit di luar sel. Penyakit yang ditimbulkan Virus Herpes Simpleks A. HSV-1 1. Gingivostomatitis herpetik akut Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan terdiri atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir mulut, demam, dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi pendek(sekitar 3-5 hari) dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu. 2. Keratojungtivitis Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat mengakibatkan kebutaan. 3. Herpes Labialis Terjadi pengelompokan vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan mukokutan bibir.Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan menyembuh tanpa jaringan parut. Lesi-lesi dapat kambuh kembali secara berulang pada berbagai interval waktu. B. HSV-2 1. Herpes Genitalis

Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis pria atau serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa sangat nyeri dan diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan limfadenopati inguinal. Infeksi herpes genetalis dapat mengalami kekambuhan dan beberapa kasus kekambuhan bersifat asimtomatik. Bersifat simtomatik ataupun asimtomatik, virus yang dikeluarkan dapat menularkan infeksi pada pasangan seksual seseorang yang telah terinfeksi. 2. Herpes neonatal Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir. Virus HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran melalui kontak dengan lesi-lesi herpetik pada jalan lahir. Untuk menghindari infeksi, dilakukan persalinan melalui bedah caesar terhadap wanita hamil dengan lesi-lesi herpes genetalis. Infeksi herpesneonatal hampir selalu simtomatik. Dari kasus yang tidak diobati, angka kematian seluruhnya sebesar 50%. C. Manifestasi Klinik 1. Masa inkubasi Berkisar 2-24 hari setelah infeksi

2. Fase prodromal Berkisar 2-6 minggu Lesi Virus bersifat menular Demam ringan Malaise Rasa terbakar atau gatal di mulut atau genetalia

3. Fase Vesikel Vesikel pecah, menjadi ulkus dan krusta dalam 48 jam

Lesi dapat sembuh dalam 7-14 hari Faktor predisposisi diantaranya stress, demam, terpapar sinar UV, kelelahan dan menstruasi.

4. Fase Laten Biasanya menyebabkan herpes labialis ditandai dengan munculnya vesikula superfisial yang jelas dengan dasar erythematous, biasanya pada muka atau bibir, mengelupas dan akan sembuh dalam beberapa hari. Penyebaran infeksi yang luas dan mungkin terjadi pada orang-orang dengan

immunosuppressed.

D. Patofisiologi Dilampirkan pada halaman belakang

E. Komplikasi HSV-1 1. Gingivostomatitis herpetik akut Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan terdiri atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir mulut, demam, lekas marah dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi pendek (sekitar 3-5 hari) dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu. 2. Keratojungtivitis Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat mengakibatkan kebutaan. 3. Herpes Labialis Terjadi pengelompokan vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan mukokutan bibir. Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan menyembuh tanpa jaringan parut. Lesi-lesi dapat kambuh kembali secara berulang pada berbagai interval waktu.

HSV-2 1. Herpes Genetalis Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis pria atau serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa sangat nyeri dan diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan limfadenopati inguinal. Infeksi herpes genetalis dapat mengalami kekambuhan dan beberapa kasus kekambuhan bersifat asimtomatik. Bersifat simtomatik ataupun asimtomatik, virus yang dikeluarkan dapat menularkan infeksi pada pasangan seksual seseorang yang telah terinfeksi. 2. Herpes neonatal Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir. Virus HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran melalui kontak dengan lesi-lesi herpetik pada jalan lahir. Untuk menghindari infeksi, dilakukan persalinan melalui bedah caesar terhadap wanita hamil dengan lesi-lesi herpes genetalis. Infeksi herpesneonatal hampir selalu simtomatik. Dari kasus yang tidak diobati, angka kematian seluruhnya sebesar 50%. (Sardjito, 2003) F. Pemeriksaan Penunjang a) Tes Sitologi 1) Tzanck test 2) Pap smear Tes ini pengujinya dengan mengorek dari lesi herpes kemudian menggunakan pewarnaan werght dan giemsa. Pada pemeriksaan ditemukan sel raksasa khusus dengan banyak nucleus atau partikel khusus yang membawa virus (inklusi). Mengindikasikan infeksi herpes. Tes ini cepat dan akurat tapi tidak dapat membedakan antara herpes simplek dan herpes zoster

b)

Virologi

1) Mikroskop cahaya. Sampel berasal dari sel-sel di dasar lesi, apusan pada permukaan mukosa, atau dari biopsi, mungkin ditemukan intranuklear inklusi (Lipschutz inclusion bodies). Sel-sel yang terinfeksi dapat menunjukkan sel yang membesar menyerupai balon (ballooning) dan ditemukan fusi. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa atau Wright, dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear. 2) Pemeriksaan antigen langsung (imunofluoresensi). Sel-sel dari spesimen dimasukkan dalam aseton yang dibekukan. Kemudian pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan cahaya elektron (90% sensitif, 90% spesifik) tetapi, pemeriksaan ini tidak dapat dicocokkan dengan kultur virus. 3) PCR Test reaksi rantai polimer untuk DNA HSV lebih sensitif dibandingkan kultur viral tradisional (sensitivitasnya >95 %, dibandingkan dengan kultur yang hanya 75 %). Tetapi penggunaannya dalam mendiagnosis infeksi HSV belum dilakukan secara reguler, kemungkinan besar karena biayanya yang mahal. Tes ini biasa digunakan untuk mendiagnosis ensefalitis HSV karena hasilnya yang lebih cepat dibandingkan kultur virus. 4) Kultur Virus Kultur virus dari cairan vesikel pada lesi (+) untuk HSV adalah cara yang paling baik karena paling sensitif dan spesifik dibanding dengan cara-cara lain. HSV dapat berkembang dalam 2 sampai 3 hari. Jika tes ini (+), hampir 100% akurat, khususnya jika cairan berasal dari vesikel primer daripada vesikel rekuren. Pertumbuhan virus dalam sel ditunjukkan dengan terjadinya granulasi sitoplasmik, degenerasi balon dan sel raksasa

berinti banyak. Sejak virus sulit untuk berkembang, hasil tesnya sering (-). Namun cara ini memiliki kekurangan karena waktu pemeriksaan yang lama dan biaya yang mahal. Virus Herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Jika tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dari bahan vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear. C) Tes serologi

Dapat mengidentifikasikan antibodi yang spesifik untuk virus dan jenis,herpes simplek virus 1 (HSV 1) atau virus herpes simplek 2 (HSV 2). Ketika herpes virus menginfeksi seseorang, sistem kekebalan tubuh tersebut menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan virus. Adanya antibodi terhadap herpes menunjukkan bahwa seseorang adalah pembawa virus dan mungkin mengirimkan kepada orang lain. Tes antibodi terhadap protein yang berbeda yang berkaitan dengan virus herpes yaitu Glikoprotein GG-1 dikaitkan dengan HSV 1 dan Glikoprotein GG-2 berhubungan dengan HSV 2. Meskipun glikoprotei (GG) jenis tes spesifik telah tersedia sejak tahun 1999, banyak tes khusus non tipe tua masih di pasar. CDC merekomendasikan hanya tipe spesifik GG tes untuk diagnose herpes. Pemeriksaan serologi yang paling akurat bila diberikan 12-16 minggu setelah terpapar virus. Fitur tes meliputi: 1) ELISA Dasar dari pemeriksaan ELISA adalah adanya ikatan antara antigen dan antibodi, dimana antigen berasal dari suatu konjugat igG dan antibodi berasal dari serum spesimen. Setelah spesimen dicuci untuk membersihkan sample dari material (HRP) kemudian diberi label antibodi IgG konjugat. Konjugat ini dapat mengikat antibodi spesifik HSV-II. komplek imun dibentuk oleh ikatan konjugat yang ditambah dengan Tetramethylbenzidine (TMB) yang akan memberikan reaksi berwarna biru. Asam sulfur ditambahkan untuk menghentikan reaksi yang akan memberikan reaksi warna kuning. Pembacaan reaksi dilakukan dengan mikrowell plate reader ELISA dengan panjang gelombang 450 nm. Interpretasi hasil:

Jika terdapat antibodi HSV-II berarti pernah terinfeksi HSV-II, virus dorman didalam nervus sakralis dan pasien sedang menderita herpes genitalis.

Jika antibodi HSV-II tidak ada berarti 95-98% anda tidak menderita

herpes genital kecuali anda baru saja terinfeksi HSV-II karena antibodi baru akan terbentuk 6 minggu kemudian, bahkan ada beberapa individu (1 diantara 5) baru mampu membentuk antibodi tersebut setelah 6 bulan, oleh karena itu lebih baik mengulang pemeriksaan 6-8 minggu kemudian. Jika terdapat antibodi HSV-I berarti anda mengalami infeksi HSV-I.

Antibodi ini tidak bisa mendeteksi virus yang dorman. Pada sebagian besar orang (>90%) virus berada dalam syaraf mulut dan mata. Beberapa orang yang mempunyai infeksi HSV-I pada genital dapat mempunyai antibodi dari infeksi HSV-I pada daerah genital. Jika tidak terdapat antibodi HSV-I dan HSV-II, berarti anda tidak terinfeksi HSV-I maupun HSV-II tetapi suatu ketika anda mungkin dapat terinfeksi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa anda baru saja terinfeksi tetapi belum terbentuk antibodi. Pada infeksi primer, antibodi HSV-I dan II dapat terdeteksi pada hari-hari

awal setelah onset dari penyakit. Serokonversi terhadap kandungan antibodi Ig M dan IgG diperlukan sebagai deteksi adanya infeksi primer, sebagai tambahan antibodi IgA spesifik juga dapat terdeteksi mengikuti terbentuknya antibodi IgM dan IgG. Ketika infeksi berjalan, antibodi IgM dan IgA belum terdeteksi beberapa minggu-bulan ketika individu tersebut telah mempunyai antibodi IgG yang menetap dalam tubuhnya untuk seumur hidup dan dalam titer yang tinggi (gambar A). Pola serologis yang lain membuktikan kandungan IgG, IgM dan IgA pada kasus reaktivasi dari infeksi laten atau periode reinfeksi (gambar B). Sebagian besar serum sampel diambil dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi menunjukkan peningkatan antibodi IgG yang signifikan. Peningkatan kadar antibodi IgA juga sering ditemui, peningkatan serokonversi IgA pada kasus dimana juga terjadi peningkatan

kadar IgG menunjukkan bahwa serum sampel secara serologik terinfeksi HSV 2) Biokit HSV Tes ini mendeteksi HSV-2 saja. Keunggulan utamanya adalah bahwa hanya membutuhkan tusukan jari dan hasil yang disediakan dalam waktu kurang dari 10 menit dan lebih murah. 3) Western Blot Test Western Blot test merupakan test yang sangat akurat untuk mendeteksi HSV, namun harganya lebih mahal dibandingkan tes-tes yang lain dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengintepresentasikannya. Test ini merupakan metoda gold standard dalam pemeriksaan antibodi. Tes ini hanya digunakan sebagai referensi dan konfirmasi apabila tes dengan ELISA menunjukkan hasil yang meragukan. Test ini memiliki ketelitian untuk menyimpulkan secara spesifik bahwa sample benar-benar mengandung antibodi terhadap protein tertentu dari virus. d) Herpes virus antigen deteksi Sel-sel dari jaringan luka diambil dan kemudian diusapkan pada permukaan mikroskop untuk diteliti. Tes ini menemukan tanda-tanda (yang disebut antigen) pada permukaan sel yang terinfeksi oleh virus herpes. G. Penatalaksanaan medis dan non medis 1. Penatalaksanaan Medis Menurut buku Patofisiologi dikatakan bahwa tidak ada pengobatan yang adekuat untuk infeksi herpes kulit. Tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah berulangnya infeksi ini . Obat antivirus yang kini telah banyak dipakai adalah acyclovir, di samping itu ada 2 macam obat lagi antivirus baru yaitu valacyclovir dan famacyclovir. Efek obat antivirus tersebut belum dapat mengeradikasi virus, yang ada hanya mengurangi viral shedding, memperpendek hari sakit dan memperpendek rekurensi.

a. Asiklovir

Asiklovir adalah obat yang pilihan untuk herpes simplex. Obat ini diberikan dalam tablet atau cairan intravena dan efeektif untuk mengatasi herpes kulit. Obat ini menghambat sintesis DNA virus herpes simplex. Salep asiklovir tidak mencegah kekambuhan atau memendekkan waktu erupsi herpes pada pasien yang sehat. Biasanya pasien dengan herpes primer diobati secara simtomatik dengan kompres, antibiotika topikal, obat-obatan penghilang nyeri dan asiklovir oral 200 mg 5 kali sehari selama 5-10 hari. Pemberian Asiklovir dapat membuat pasien mengalami rasa sakit yang lebih kurang dan resolusi yang lebih cepat dari lesi kulit bila digunakan dalam waktu 48 jam dari onset ruam. Mungkin dapat mencegah rekurensi. Infeksi herpes berulang diobati dengan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 5 hari. Asiklovir 400 mg oral 3 kali sehari dapat membantu mengurangi serangan kekambuhan dari herpes simplex. Jika ada komplikasi berat dapat diberikan asiklovir intravena 3 x 5 mg/kgBB/hari selama 710 hari. Pemberian terapi topikal juga mempunyai beberapa keuntungan dalam

penatalaksanaan herpes genitalis yang bersifat rekuren. Di Amerika Serikat preparat asiklovir 5% topikal dalam propiletilen glikol menghasilkan efek antivirus, tetapi hanya sedikit keuntungan klinis yang didapat. Di Eropa dengan sediaan preparat asiklovir 5% dalam krim aqua lebih efektif. Obat topikal yang dapat diberikan adalah Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau Acyclovir krim 5% (5 kali sehari selama 5 hari). Idealnya, krim ini digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi. Efek samping yang dapat dirasakan pasien umumnya nyeri ringan termasuk rasa terbakar sementara dan rasa yang menyengat. Reaksi lokal termasuk pruritus, rash, vulvitis, dan edema. b. Valasiklovir Oral (Valtrex) Valasiklovir oral (Valtrex) diindikasikan untuk pengobatan herpes primer diberikan 1 gram 2 kali sehari selama 10 hari. Dan untuk herpes berulang diberikan 500 mg 2 kali

sehari selama 5 hari. Terapi supresif untuk herpes berulang (500 mg sehari) kelihatan aman untuk paling tidak i tahun terapi c. Famvir oral (Famciclovir) Famvir oral (Famciclovir) juga efektif untuk melawan virus herpes. Obat tersebut digunakan untuk herpes simplex berulang. Diberikan 125 mg 2 kali sehari selama 5 hari dan menekan herpes simplex berulang dengan memberikan 250 mg 2 kali sehari selama lebih dari 1 tahun. Pencegahan yang bisa dilakukan : Untuk serangan ulang herpes di bibir kadang-kadang dapat dicegah dengan memakai pelindung sinar matahari dan menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan. Untuk penyebaran herpes genitalis melalui hubungan seksual dapat dicegah dengan memakai kondom karet ketika ada vesikel dan diteruskan sampai 7 hari sesudahnya. Dan cara prevensi alternatif lainnya adalah tidak melakukan hubungan seksual selama ada vesikel. Jangan memakai handuk, pakaian dalam, dan pakaian renang milik orang lain.

d. Foscarnet HSV resisten Acyclovir: 40 mg/kg IV setiap 8-10 jam selama 10-21 hari Mucocutaneous, resisten acyclovir: 40 mg/kg IV, selama 1 jam, setiap 8-12 jam selama 2-3 minggu atau hingga sembuh. Efek samping obat oral : Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada sistem pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%). (McEvoy, G.K,2004)

2. Penatalaksanaan Non Medis Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

Bahaya PMS dan komplikasinya. Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan. Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya. Hindari hubungan seksual sebelum sembuh , dan memakai kondom jika tak dapat menghindari lagi.

Cara cara menghindari infeksi PMS di masa datang berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih panjang. (Rakel, David.,2003)

Menjaga kebersihan daerah local (daerah yang memungkinkan terjadinya infeksi virus tersebut).

Menghindari trauma atau factor predisposisi terjadinya herpes simplex.

H. PENCEGAHAN Upaya pencegahan 1. Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan tentang kebersihan perorangan yang bertujuan untuk mengurangi perpindahan bahan-bahan infeksius. 2. Mencegah kontaminasi kulit dengan penderita eksim melalui bahan-bahan infeksius. 3. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan pada saat berhubungan langsung dengan lesi yang berpotensi untuk menular. 4. Disarankan untuk melakukan operasi Cesar sebelum ketuban pecah pada ibu dengan infeksi herpes genital primer yang terjadi pada kehamilan trimester akhir, karena risiko yang tinggi terjadinya infeksi neonatal (30-50%). Penggunaan elektrida pada kepala merupakan kontra indikasi. Risiko dari infeksi neonatal yang fatal setelah infeksi berulang lebih rendah (3-5%) dan operasi Cesar disarankan hanya jika terjadi lesi aktif pada saat persalinan.

5. Menggunakan kondom lateks saat melakukan hubungan seksual mengurangi risiko infeksi; belum ada anti virus yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi primer meskipun acyclovir mungkin dapat digunakan untuk pencegahan untuk menurunkan insidensi kekambuhan, dan untuk mencegah infeksi herpes pada pasien dengan defisiensi imunitas. Pengawasan penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 1. Laporan kepada Instansi kesehatan setempat; laporan resmi penderita dewasa biasanya tidak diwajibkan, tetapi beberapa negara bagian mengharuskan laporan untuk herpes genital, kelas 5; infeksi neonatal di beberapa negara bagian wajib dilaporkan, kelas 3 B 2. Isolasi: Lakukan isolasi kontak terhadap infeksi neonatal dan terhadao lesi yang menyebar atau lesi primer yang berat; untuk lesi yang berulang, perlu dilakukan kewaspadaan terhadap discharge dn sekret. Pasien dengan lesi herpetic dilarang berhubungan dengan bayi baru lahir, anak-anak dengan eksim atau anak dengan luka bakar atau pasien dengan immunosuppresed. 3. Disinfeksi serentak: tidak dilakukan. 4. Karantina: Tidak dilakukan. 5. Imunisasi kontak: Tidak ada. 6. Penyelidikan kontak dan sumber infeksi: Jarang dilakukan karena tidak praktis.v Pengobatan spesifik: Gejala akut dari herpetic keratitis dan stadium awal dendritic ulcers diobati dengan trifluridin atau adenine arabisonide (vidarabine, via-A atau Ara-A) dalam bentuk ophthalmic ointment atau solution. Corticosteroid jangan digunakan untuk herpes mata kecuali dilakukan oleh seorang ahli mata yang 275 sangat berpengalaman. Acyclovir IV sangat bermanfaat untuk mengobati herpes simpleks encephalitis tetapi mungkin tidak dapat mencegah terjadinya gejala sisa neurologis Acyclovir (zovirax) digunakan secara oral, intravena atau topical untuk mengurangi menyebarnya virus, mengurangi rasa sakit dan mempercepat waktu penyembuhan pada infeksi genital primer dan infeksi herpes berulang, rectal herpes dan herpeticwhitrow (lesi pada sudut mulut bernanah). Preparat oral paling nyaman digunakan dan mungkin sangat bermanfaat bagi pasien dengan infeksi ekstensif berulang. Namun, telah dilaporkan adanya mutasi strain virus herpes yang resosten terhadap acyclovir. Valacyclovir dan famciclovir baru-baru ini

diberi lisensi untuk beredar sebagai pasangan acyclovir dengan efikasi yang sama. Pemberian profilaksis harian obat tersebut dapat menurunkan frekuensi infeksi HSV berulang pada orang dewasa. Infeksi neonatal seharusnya diobati dengan acyclovir intravena.

I. Pengkajian Anamnesis a) Biodata (Identitas Pasien) Di dalam identitas hal-hal yang perlu di kaji antara lain nama pasien, alamat pasien, umur pasien biasnya kejadian ini mencakup semua usia antara anak-anak sampai dewasa, tanggal masuk ruma sakit penting untuk di kaji untuk melihat perkembangan dari pengobatan, penanggung jawab pasien agar pengobatan dapat di lakukan dengan persetujuan dari pihak pasien dan petugas kesehatan b) Keluhan utama Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul dan gatal-gatal pada daerah yang terkena pada fase-fase awal baik pada herpes zoster maupun simpleks.

c) Riwayat penyakit sekarang Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien. Pada beberapa kasus, timbul lesi/vesikel perkelompok pada penderita yang mengalami demam atau penyakit yang disertai peningkatan suhu tubuh atau pada penderita yang mengalami trauma fisik maupun psikis. Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit yang mengalami peradangan berat dan vesikulasi yang hebat. d) Riwayat penyakit dahulu Sering diderita kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit herpes simplek atau memiliki riwayat penyakit seperti ini. e) Riwayat penyakit keluarga Tanyakan kepada penderita ada atau tidak anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini. f) Kebutuhan psikososial

Klien dengan penyakit kulit, terutama yang lesinya berada pada bagian muka atau yang dapat dilihat oleh orang, biasanya mengalami gangguan konsep diri. Hal itu meliputi perubahan citra tubuh, ideal diri tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran, atau identitas diri. Reaksi yang mungkin timbul adalah: 1. Menolak untuk menyentuh atau melihat salah satu bagian tubuh. 2. Menarik diri dari kontak sosial. 3. Kemampuan untuk mengurus diri berkurang. g) Kebiasaan sehari-hari. - Aktivitas dan Istirahat Apakah pasien mengeluh merasa cemas, tidak bisa tidur karena nyeri, dan gatal. Pola Nutrisi dan Metabolik Bagaimana pola nutrisi pasien, apakah terjadi penurunan nafsu makan, (anoreksia) Pola Hubungan dan peran

Klien akan sedikit mengalami penurunan psikologis, isolasi karena adanya gangguan citra tubuh Pemeriksan fisik Pemeriksaan fisik Keadaan umum klien bergantung pada luas, lokasi timbulnya lesi, dan daya tahan tubuh klien Pada kondisi awal/saat proses peradangan,dapat terjadi peningkatan suhu tubuh atau demam dan perubahan tanda-tanda vital yang lain a) Pada pengkajian kulit,ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri,edema di sekitar lesi,dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder b) Perhatikan mukosa mulut, hidung, dan penglihatan klien c) Pada pemeriksaan genitalia pria, daerah yang perlu diperhatikan adalah bagian glans penis, batang penis, uretra, dan daerah anus d) Jika timbul lesi, catat jenis, bentuk, ukuran / luas,warna, dan keadaan lesi

e) Palpasi kelenjar limfe regional, periksa adanya pembesaran; pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar limferegional f) Untuk mengetahui adanya nyeri, kita dapat mengkaji respon individu terhadap nyeri akut secara fisiologis atau melalui respon perilaku g) Secara fisiologis,terjadi diaphoresis, peningkatan denyut jantung, peningkatan

pernapasan, dan peningkatan tekanan darah; pada perilaku, dapat juga dijumpai menangis, merintih, atau marah h) Lakukan pengukuran nyeri dengan menggunakan skala nyeri 0-10 untuk orang dewasa i) Untuk anak-anak, pilih skala yang sesuai dengan usia perkembangannya kita bisa menggunakan skalawajah untuk mengkaji nyeri sesuai usia; libatkan anak dalam pemilihan

Asuhan Keperawatan Herpes Simplek

a) Clustering Data Data Subjektif Klien mengatakan: Data Objektif

- Klien tampak: - menahan nyeri Nyeri pada daerah bibir dan - sering menutup mulutnya muncul bintik-bintik pada daerah - kesadaran composmentis bibir - Suhu 370C Nyeri saat makan - Tekanan Darah 120/80 mmHg Nafsu makan menurun - Nadi 87x/ mnt Mengalami gatal-gatal selama 2 hari - RR 17 x/ mnt Tidak percaya diri saat bertemu - Terdapat vesikula purulen pada bibir rekan kerja bawah bagian kanan tidak segera cuci tangan setelah - Terdapat lesi pada bekas vesikula menyentuh area luka yang pecah - Limfadenopati tonsil - Skala Nyeri 5 - Mukosa bibir kering

Pemeriksaan laboratorium - Serologi test: HSV-1 (+); HSV-2 (-) - Viral kultur (+) - Tzank test (+), pembesaran sel dengan multinukleus

b) Analisa Data DS Klien mengatakan: - Nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir - Nyeri saat makan - Nafsu makan menurun DO - Klien tampak menahan nyeri - Suhu 370C - Tekanan Darah 120/80 mmHg - Nadi 87x/ mnt - RR 17 x/ mnt - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Limfadenopati tonsil - Skala Nyeri 5 - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan Diagnosa

Nyeri akut

- Klien mengatakan tidak segera cuci tangan setelah menyentuh area luka

Risiko penyebaran infeksi

Pemeriksaan laboratorium: - Serologi test: HSV-1 (+); HSV-2 (-) - Viral kultur (+) Tzank test (+), pembesaran

sel dengan multinukleus

Klien mengatakan muncul bintik-bintik pada daerah bibir

- Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Terdapat lesi pada bekas vesikula yang pecah

Kerusakan integritas kulit

Klien mengatakan: - Nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir - Nyeri saat makan - Nafsu makan menurun

Terdapat lesi pada bekas vesikula yang pecah

Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Klien mengatakan tidak percaya diri saat bertemu rekan kerja

Klien tampak sering menutup mulutnya

Gangguan citra tubuh

1. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan masalah herpes simplek antara lain: a. Nyeri akut b.d inflamasi jaringan b. Kerusakan integritas kulit b.d lesi dan respon peradangan

c. Risiko penyebaran infeksi b.d pemajanan melalui kontak (kontak langsung, tidak langsung, kontak droplet) d. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia e. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan, sekunder akibat penyakit herpes simpleks No. 1. Problem Nyeri akut Etiologi b.d inflamasi jaringan Symptom Ditandai dengan DS: Klien mengatakan: - Nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir - Nyeri saat makan - Nafsu makan menurun DO: - Klien tampak menahan nyeri - Suhu 370C - Tekanan Darah 120/80 mmHg - Nadi 87x/ mnt - RR 17 x/ mnt - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Limfadenopati tonsil - Skala Nyeri 5

2.

Kerusakan integritas kulit

b.d lesi dan respon peradangan

Ditandai dengan DS: DO: Klien mengatakan muncul bintik-bintik pada daerah bibir

- Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Terdapat lesi pada bekas vesikula yang pecah

3.

Risiko penyebaran infeksi

b.d pemajanan melalui kontak (kontak langsung, tidak langsung, kontak droplet)

Ditandai dengan DS: Klien mengatakan tidak segera cuci tangan setelah menyentuh area luka DO: - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan Pemeriksaan laboratorium: - Serologi test: HSV-1 (+); HSV-2 (-) - Viral kultur (+) Tzank test (+), pembesaran sel dengan multinukleus

4.

Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

b.d anoreksia

Ditandai dengan DS: Klien mengatakan: - Nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir - Nyeri saat makan - Nafsu makan menurun DO: Terdapat lesi pada bekas

vesikula yang pecah

5.

Gangguan citra tubuh

b.d perubahan penampilan, sekunder akibat penyakit herpes simpleks

Ditandai dengan DS: Klien mengatakan tidak percaya diri saat bertemu rekan kerja DO: Klien tampak sering menutup mulutnya

3. Intervensi keperawatan No. 1. Diagnosa Nyeri akut b.d inflamasi jaringan ditandai dengan DS: Klien mengatakan: - Nyeri pada daerah bibir dan muncul bintik-bintik pada daerah bibir - Nyeri saat makan Tujuan & KH Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 1x 24 jam nyeri berkurang

Intervensi

Rasional

Kaji kualitas Membantu dalam & kuantitas menentukan kebutuhan nyeri manajemen nyeri dan keefektifan program. Kaji respon klien terhadap nyeri Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasiens Nyeri mempengaruhi ttv dapat stabilitas

Kriteria hasil :

Klien mengungkapkan rasa nyeri

Pantau TTV

- Nafsu makan menurun DO: - Klien tampak menahan nyeri - Suhu 370C - Tekanan Darah 120/80 mmHg - Nadi 87x/ mnt - RR 17 x/ mnt - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Limfadenopati tonsil - Skala Nyeri 5

berkurang/hilang

Klien bisa istirahat dengan cukup

Klien menunjukkan ekspresi wajah rileks, tenang

Beri informasi atau penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab rasa nyeri (penjelasan tentang proses penyakitnya) Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

Dengan penjelasan yang tepat maka akan membantu klien memahami proses penyakit yang dialaminya

Klien menunjukkan mekanisme koping baik

Meningkatkan istirahat, memusatkan kembali Hindari perhatian dan rangsangan nyeri meningkatkan koping yang dapat membantu menghilangkan rasa nyeri

Skala nyeri < 5

Libatkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program (ex: asam mefenamat)

Meminimalkan keadaankeadaan yang dapat menambah perasaan nyeri seseorang Dengan menciptakan lingkungam yang tenang dan nyaman, maka pasien akan dapat beristirahat dengan tenang.

Kolaborasi pemberian asiklovir

Dengan melakukan kolaborasi dengan pemberian analgetik ( asam mefenamat) akan dapat mengurangi tingkat nyeri pasien.

Pemberian asiklovir dapat menyembuhkan penyakit pasien 2. Kerusakan integritas kulit b.d lesi dan respon peradangan ditandai dengan DS: Klien mengatakan muncul bintik-bintik pada daerah bibir Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 7x24 jam integritas kulit tubuh kembali Kriteria hasil :

Kaji tingkat kerusakan kulit

Memberikan

informasi dasar untuk menentukan intervensi yang tepat

Jauhkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi Berikan diet TKTP

Mencegah

terjadinya infeksi oportunitis

Tidak ada lesi baru Ajarkan pada pasien untuk waspada terhadap tandatanda awal kerusakan jaringan. Usahakan kulit klien selalu bersih dan kering

Untuk

mempercepat proses penyembuhan

DO: - Terdapat vesikula purulen pada bibir bawah bagian kanan - Terdapat lesi pada bekas vesikula yang pecah Lesi lama mengalami involusi

Untuk

mewaspadai terjadinya penularan dan penyebaran luka

Erupsi berkurang

Kulit tidak kemerahan dan tidak terjadi iritasi yang lebih parah

Dengan

Kolaborasi pemberian obat topical sesuai

menjaga kulit yang senantiasa kering dan bersih akan dapat mempercepat penyembuhan dimana keadaan kulit pasien

program

terutama luka/vesikel yang mudah pecah ( mencegah penularan dan penyebaran luka) Digunakan pada perawatan lesi kulit

3.

Resiko penyebaran infeksi b.d pemajanan melalui kontak ditandai dengan DS:

Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 1x24 jam penyebaran infeksi tidak terjadi.

Pantau TTV

Jelaskan kepada klien/keluarga tentang Klien penyakit herpes mengatakan tidak simpleks, KH: segera cuci penyebab, cara penularan, dan tangan setelah - Klien akibat yang menyentuh area menyebutkan ditimbulkan. luka perlunya Implementa isolasi sikan teknik DO: sampai ia isolasi yang tidak lagi tepat sesuai - Terdapat menularkan indikasi vesikula infeksi. purulen pada bibir bawah bagian kanan - Klien dapat Gunakan menjelaskan cara penularan teknik aseptic penyakit dan dalam pencegahannya perawatannya Pemeriksaan laboratorium: Batasi pengunjung dan - Serologi test: minimalkan HSV-1 (+); kontak langsung HSV-2 (-) - Viral kultur (+) Tekankan Tzank test (+), pentingnya pembesaran sel teknik cuci

Perluasan infeksi dapat mempengaruhi tanda-tanda vital. Penjelasan yang tepat akan membantu klien dan keluarganya memahami proses penyakit dan akibatakibat yang ditimbulkan

Untuk menurunkan risiko kontaminasi silang pada orang lain

Untuk mencegah terpajannya organisme yang infeksius Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung.

dengan multinukleus

tangan yang baik pada keluarga yang datang kontak dengan pasien

Perhatikan/c atat perubahan penampilan vesikel

Mencegah kontaminasi silang; menurunkan risiko penyebaran infeksi

Mengidentifikasi adanya penyembuhan

Peran Perawat: a. Mengatasi nyeri agar berkurang/hilang b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang proses penyakit dan cara penularannya c. Meningkatkan mekanisme koping yang baik bagi pasien dan keluarga d. Menghindari terjadinya penyebaran infeksi e. Menindaklanjuti intervensi agar tidak terjadi komplikasi

DAFTAR PUSTAKA

Morgan Geri & Hamilton Carol. Obstetri dan Ginekologi: Panduan praktik: edisi 2.Jakarta: EGC.2003. Marques AR, Straus SE. Herpes simplex. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Editor. Fitzpatricks Dermatology in general medicine. 7 th York: Mc-Graw Hill Companies, 2008; 1873-85. Anonim. Herpes Simplex. Diakses pada tanggal 11 Maret 2012 pukul 14.30 dari www.kesehatan.com Anonim. Herpes Simplex. Diakses pada tanggal 11 Maret 2012 pukul 15.00 dari www.yayasan spirita.go.id FKUI, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius. Prof. Dr. Marwali H, 2000. Ilmu Penyakit Kulit. cetakan I. Jakarta FK UI, 2000. ,Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi keempat. Jakarta Manjur,A.,dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FK UI. Jakarta.2000
ed.

New

Wilkinson,J.M. Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Buku Kedokteran EGC.Jakarta. 2006 Ganong, William F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Ed.20. Jakarta: EGC (2003) Sylvia dan Lorraine. Patofisiologi: KOnsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.6. Jakarta: EGC (2006) http://www.emedicinehealth.com/oral_herpes/page2_em.htm#Oral%20Herpes%20Causes di akses pada tanggal 9 maret 2012 pada pukul 16.30 WIB http://virology-online.com/viruses/HSV2.htm di akses pada tanggal 9 maret 2012 pada pukul 16.15 WIB Mitaart, adolf H. Infeksi Herpes pada Pasien Imunokompeten. Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Sam Ratulangi. (2010) Nasution, Tetty A. Antibody (Fungsi, Struktur, Genetik). Departemen Mikrobiologi FK-USU. (2010)