Anda di halaman 1dari 24

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. PENGERTIAN

Meningitis adalah radang meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis ) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur. Suatu infeksi atau peradangan dari meninges, lapisan yang tipis atau encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung disebabkan oleh bakteri, virus riketsia atau protozoa yang dapat terjadi secara akut kronis ( HARSONO.2003). Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut ( ANOMIN.2007).

2. ETIOLOGI

Penyebab dari Meningitis adalah : Penyebab dari Meningitis ada 2 yaitu bakteri dan virus Bakteri Neonatus sampai 2 bulan: Gbs, basilli gram negative, Escherichia coli, Liateria monocytogenes, S. agalactiae (stretococus gram B). 1 bulan6 tahun: Neisseria meningidis (meningokokus), Streptococcus Pneumonia, Hib.

> 6 tahun : Neisseria meningidis, Streptococcus Pneumonia, Parotitis (pre-MMR).

Mycobacterium Tuberculossis: dapat menyebabkan meningitis TB pada semua unmur, paling sering pada anak umur 6 bulan 6 tahun.

Virus Enterovirua, CMV , arbovirus , dan HSV

3. GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang muncul akibat Meningitis adalah : Sakit Kepala dan Demam akibat iritasi meningen Perubahan tingkat kesadaran (letargik, tidak responsive, dan koma) Iritasi meningen Rigiditas nukal (kaku leher) Tanda kernig positif Brudzinski

Fotofobia (sensitive berlebihan terhadap cahaya) Kejang dan Peningkatan TIK

4. PATOFISIOLOGI

Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah daerah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat. Eksudat dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis yang dapat menyebabkan peningkatan cairan serebro spinalis yang dapat menyebabkan obstruksi dan penumpukan cairan edema serebral. Obstruksi akan mengakibatkan penurunan suplai oksigen ke jaringan dan akan menyebabkan hipoksia. Hipoksia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan serebral dan iskemik jaringan. Iskemik jaringan akan menyebabkan infark meningen. Sedangkan penumpukan cairan edema serebral akan menyebabkan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari hambatan suplai darah ke otak dan peningkatan tekanan intrakranial. Hambatan suplai darah ke otak akan mengakibatkan penurunan aliran darah ke otak kemudian akan menyebabkan tingkat kesadaran menurun dan menimbulkan masalah keperawatan yaitu resiko aspirasi. Sedangkan peningkatan tekanan intrakranial menyebabkan kejang maka muncul masalah keperawatan yaitu resiko cidera. Kemudian tanda rangsang meningeal akan memunculkan masalah keperawatan yaitu nyeri akut. Selain itu kompresi pada N. Vagus akan menimbulkan rangsangan di pusat muntah dan menyebabkan reaksi motorik otomatis kemudian menyebabkan muntah proyektil dan memunculkan masalah keperawatan yaitu mual. Muntah proyektil akan memunculkan masalah keperawatan yaitu ketidakseimbangan nutrisi dan defisit volume cairan.

5. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan yang berhasil bergantung pada pemberian antibiotic yang melewati darah-barier otak ke dalam ruang subarachnoid dalam konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri. Cairan cerebrospinal (CSS) dan darah perlu dikultur, dan terapi antimikroba dimulai segera. Dapat digunakan penisilin, ampisilin, atau khlroam, atau satu jenis dari sefalosforins. Antibiotikk lain digunakan jika diketahui strein bakteri resisten. Pasien dipertahankan pada dosis besar antibiotic yang tepat per intavena. Dehidrasi atau syok diobati dengan pemberian tambahan volume cairan. Kejang dapat terjadi p[ada awal penyakit, dikontrol dengan menggunakan diazepam atau fenitoin. Diuretik osmotic (seperti manitol) dapat digunakan untuk mengobati emdema serebral

6. PENCEGAHAN

Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau bakteri penyebab meningitis. Ajarilah anak-anak dan orang-orang sekitar untuk selalu cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi. Usahakan pula untuk tidak berbagi makanan, minuman atau alat makan, untuk membantu mencegah penyebaran virus. Selain itu lengkapi juga imunisasi si kecil, termasuk vaksin-vaksin seperti HiB, MMR, dan IPD. (Japardi, Iskandar., 2002 )

7. PROGNOSIS Prognosis pasien bergantung pada dukungan perawatan yang diberikan. Pasien yang parah dan dengan kombinasi adanya demam, dehidrasi, alkalosis dan edema serebral memungkinkan terjadinya kejang. Obstruksi jalan nafas, henti nafas atau disritmia jantung dapat terjadi, sehingga intervensi keperawatan harus bekerja sama dengan dokter.

Pada semua tipe meningitis, status klinis pasien da tanda tanda vital dikaji terus menerus sesuai perubahan kesadaran yang dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas. Penentuan gas darah arteri, pemasangan selang endotrakea (atau trakeostomi) dan penggunaan ventilasi mekanik. Oksigen dapat diberikan untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri parsial (PO 2) pada tingkat yang diinginkan. Pantau tekanan arteri untuk mengkaji syok, yang mendahului gagal jantung dan pernafasan. Catat adanya vasokonstriksi, sianosis yang menyebar, dan ekstrimitas dingin. Demam yang tinggi diturunkan untuk menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen otak. Penggantian cairan intravena dapat diberikan, tetapi perawatan tidak dilakukan untuk melebihi hidrasi pasien karena resiko edema serebral. Berat badan, elektrolit serum, volume dan berat jenis urine, dan osmolalitas urine dipantau secara ketat, dan khususnya bila disurigai hormone sekresi antidiuretik yang tidak tepat (ADH). Penatalaksanaan keperawatan berkelanjutan memerlukan pengkajian yang terus menerus terhadap status klinis pasien, perhatikan terhadap kebersihan kulit dan mulut, peningkatan kenyamanan, dan perlindungan selama kejang dan saat koma. Rabas dari hidung dan mulut dipertimbangkan infeksius. Isolasi pernafasan dianjurkan sampai 24 jam setelah mulainya terapi antibiotik.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN Ada 2 tipe data pada pengkajian: 1. Data subyektif Data yang di dapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui suatu interaksi atau komunikasi.Data subyektif didapatkan, dari riwayat keperawatan termasuk persepsi klien, perasaan, dan ide tentang status kesehatannya.Seperti: penjelasan klien tentang nyeri, lemah, Frustasi, dan mual. Informasi yang diberikan sumber lain. Berdasarkan kasus didapatkan pengkajian sebagai berikut: 1) Pengkajian kesehatan saat ini: Keluhan utama Kx mengalami demam tinggi dan kejang Muntah proyektil sejak tadi pagi SMRS Kesadaran kx somnolen tanpa rangsang meningeal (+)

2) Status kesehatan masa lalu yaitu: bisa dilihat dari catatan rekam medis pasien, jika penyakit terulang: Penyakit yang pernah dialami kx yaitu: Riwayat terkena infeksi saluran nafas atas

Klien belum pernah mendapatkan imunisasi BCG sejak lahir

Kebiasaan makan

3) Riwayat penyakit Keluarga 2. Data obyektif Data yang dapat diobservasi dan diukur informasi tersebut diperoleh melalui 2S(sight,shel) dan HT Hearing touch/taste. Selama pemeriksaan fisik misalnya: frekuensi pernafasan ,Tekanan darah, edema dan berat badan. Dari kasus didapatkan data sebagai berikut: Tax HR RR : 39,5 celsius : 50-60x/menit : 30x/menit Ibu dan kakek kx .memiliki riwayat terkena TB

Produksi sputum (+) Ronchi (+)

Selain data diatas ,dibawah ini dijelaskan mengenai 11 pengkajian pola Gordon yang terdiri atas: 1. Pengkajian berdasarkan pola Gordon a. Pola manajemen kesehatan-persepsi kesehatan Status kesehatan secara keseluruhan Pandangan terhadap kesehatan Pengetahuan tentang pemeriksaan diri

Riwayat medis, riwayat perawatan di RS dan operasi, riwayat medis keluarga

b.

Pola metabolik-nutrisi Kebiasaan jumlah makanan dan makanan kecil Tipe dan banyaknya makanan dan minuman Faktor-faktor yang berkaitan seperti aktivitas, penyakit, dan stress

c. Pola eliminasi Kebiasaan pola buang air kecil, frekuensi, jumlah, warna, bau, dan perubahan-perubahan lain. Kebiasaan pola buang air besar, frekuensi, jumlah, warna, bau, dan perubahan-perubahan lain. Kemampuan perawatan diri: ke kamar mandi, kebersihan diri. d. Pola aktivitas-latihan Aktivitas sehari-hari Aktivitas yang menyenangkan Kemampuan untuk merawat diri (berpakaian, mandi, makan) Penggunaan alat bntu

e. Pola istirahat dan tidur Kebiasaan tidur sehari-hari

Penggunaan alat untuk memudahkan tidur Gejala perubahan pola tidur Faktor-faktor yang mempengaruhi misalnya nyeri f. Pola persepsi-kognitif Menggunakan alat bantu Perubahan dalam pengindraan Persepsi nyeri Alat bantu untuk mengatasi ketidaknyamanan g. Pola konsep diri-persepsi diri Keadaan sosial, pekerjaan, situasi keluarga Harga diri Ancaman terhadap konsep diri h. Pola hubungan-peran Gambaran tentang peran berkaitan dengan keluarga, temanteman, rekan kerja Efek terhadap status kesehatan Pentingnya keluarga Struktur dan dukungan keluarga Proses pengambilan keputusan Pola membersarkan anak

i. Pola reproduktif-seksualitas Masalah seksual yang timbul Dampak terhadap kesehatan j. Pola toleransi terhadap stress-koping Penyebab stress belakangan ini Penetapan tingkat stress Strategi koping yang biasa dilakukan Pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress k. Pola keyakinan-nilai Latar belakang budaya Dampak masalah kesehatan terhadap spiritualitas

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL -

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas b/d Sekresi yang tertahan/sisa sekresi.


Resiko Aspirasi b/d Edema. Mual b/d Meningitis Peningkatan Tekanan Intrakranial. Nyeri Akut b/d Agen Cidera. Resiko cedera b/d kejang yang ditimbukan oleh Meningitis. Kekurangan Volume Cairan b/d kehilangan Cairan Aktif Keletihan b/d kurang energy Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak.

3. ASUHAN KEPERAWATAN (terlampir)

4. EVALUASI (terlampir)

ASUHAN KEPERAWATAN

No

Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional Evaluasi Hasil 11Ketidakefektif Setelah dilakukan 1. NIC label : 1) Untuk S :Klien an Bersihan perawatan selama 2. Respiratory mengetahui mengatak Jalan Nafas ..x24 jam , nafas rate pernafasan an pola b/d Sekresi pasien membaik 3. kx yg nafas yang dengan kriteria hasil: 1. Memantau normal. normal. tertahan/sisa pola sekresi. NOC label: pernafasan 2) Agar pasien O: Suara Respiratory status: kx (gerak mengetahui dan Ventilatin diafragma masalah frekuensi (gerak pernafasan nafas kx 1) Tingkat paradox) yang normal. pernafasaan kx pada klien. dialami. normal. (skala A: Tujuan 3) 2. Memantau 3) Pasien tercapai suara dapat sebagian. 2) Ritme respirasi kx mengatakan pernafasan kx (suara berisik struktur dan P: Lanjutkan normal. (skala4) atau warna intervensi mendengkur) secret yang . 3) tidak adanya . menggangu akumulasi jalan nafas. 3. Memantau sputum yang sekret pada dapat pernapasan menghambat 4) Untuk pasien. jalan nafas kx. mengetahui (skala 3) frekuensi 4. Memantau nafas yang pembacaan 4) Tidal volume normal pd ventilator px normal. px. mekanik, (skala 4) mencatat peningkatan tekanan inspirasi dan penurunan

Diagnosa

volume tidal.
No 2 Diagnosa Resiko Aspirasi b/d Edema. Tujuan & Kriteria Hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan x24 jam, diharapkan pasien sembuh, dengan kriteria hasil: NOC Label: Respiratory Status: 1. Tingkat pernapasan pasien menjadi lebih baik. (skala 4) 2. Ritme pernapasan pasien lebih baik. (skala 4) 3. Sifat tidur pasien lebih baik dari sebelumnya. (skala 4) Intervensi NIC Label: Respiratory Monitoring: 1. Memantau tingkat pernapasan, ritme pernapasan, dan upaya pernapasan pasien. 2. Catat gerakan dada pasien, menonton untuk simetri, penggunaan otot aksesori, dan retraksi otot supraklavikular dan intereostal pasien. Rasional 1. Untuk mengetahui tingkat pernapasan pasien, diharapkan pernapasan pasien menajdi lebih baik. Evaluasi S: Pasien mengatakan pernapasann ya lebih baik dari sebeumnya. O: Wajah pasien tampak lebih nyaman dari sebelumnya.

2. Untuk mengetahui gerakan dada A: Tujuan pasien apakah tercapai. masih baik atau tidak. P: Lanjutkan intervensi.

No 3

Diagnosa Mual b/d Meningitis Peningkatan Tekanan Intrakranial.

Tujuan & Kriteria Hasil Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x 24 jam, diharapkan mual klien berkurang dengan kriteria hasil: NOC Label: Nausea and Vomiting Control o Klien dapat mengetahui faktor penyebab mual (skala4) Mual klien berkurang (skala 4) Menjauhkan bebauan yang tidak disukai klien (skala4)

Intervensi NIC Label: Nausea Management a. Dorong klien untuk memonitor pengalaman mual. b. Dorong klien belajar strategi untuk mengatur mual. c. Evaluasi tentang pengalaman mual klien. d. Identifikasi faktor yang mungkin menyebabkan klien mual. e. Control lingkungan yang mungkin menyebabkan timbulnya rasa mual klien f. Identifikasi strategi keberhasilan untuk menghilangkan mual.

Rasional a. Untuk mengetahui frekuensi mual klien. b. Memandirikan klien agar mampu mengidentifikasi tindakan saat merasa mual. c. Mengetahui keparahan mual yang dialami. d. Menghindari penyebab yang dapat menimbulkan rasa mual klien. e. Mencegah pasien merasa mual lagi. f. Mengatasi mual kembali.

Evaluasi S: Pasien mengataka n tidak mual lagi O: Pasien merasa nyaman dan intake pasien mulai membaik A: Intervesi terpenuhi sebagian P: Lanjutkan intervensi

No 4

Diagnosa Nyeri Akut b/d Agen Cidera.

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Evaluasi S: Pasien mengatakan merasa nyaman setelah dilakukan manajemen nyeri. O: Ekspresi wajah pasien tidak menunjukka n tandatanda kesakitan. A: Tujuan asuhan keperawatan tercapai. P: Lanjutkan intervensi yang dapat mungurangi intensitas nyeri pasien.

Setelah dilakukan tindakan NIC Label: Pain 1. Untuk keperawatan selama Management mengetahui x 24 jam diharapkan lokasi, pasien dapat melaporkan 1. Lakukan penilaian karakteristi, tingkat nyeri dengan komprehensif tentang durasi, Kriteria Hasil: lokasi, karakteristik, frekuensi, durasi, frekuensi, kualitas dan NOC Label: Pain Level kualitas, intensitas, intensitas keparahan, dan faktor nyeri. - Lamanya periode pencetus nyeri. 2. Untuk nyeri. (skala 4) 2. Pastikan pasien mengurangi menerima perawatan rasa nyeri - Meringis. (skala 3) analgesic secara tepat. pasien. - Ketegangan otot. 3. Pergunakan strategi 3. Untuk (skala 3) komunikasi terapeutik memperoleh dalam menanyakan informasi - Agitasi. (skala 3) respon nyeri pada yang tepat. pasien. - Mual (skala 4) 4. Untuk 4. Kaji pengetahuan dan mengetahui pengalaman pasien pengetahuan tentang nyeri. pasien tentang 5. Berikan informasi nyeri. tentang penyebab nyeri, durasi, dan 5. Untuk ketidaknyamanan memberikan yang perlu health diantisipasi. education 6. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien. pada pasien. 6. Untuk memodifikas i lingkungan pasien.

7. Kurangi faktor -faktor 7. Untuk yang dapat memicu mencegah nyeri. tingkat keparahan. 8. Ajarkan prinsip manajemen nyeri. 8. Untuk membantu pasien mengontrol nyeri.

No 5

Diagnosa Resiko cedera b/d kejang yang ditimbukan oleh Meningitis.

Tujuan & Kiteria Hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam diharapkan pasien dapat mencegah terjadinya jatuh dengan kriteria hasil: NOC Label: Knowledge: Fall Prevention Penggunaan alat bantu yang benar. (skala 5) Penggunaan alat bantu yang aman. (skala 5)

Intervensi NIC Label: Fall Prevention 1. Identifikasi karakteristik dari lingkungan yang dapat meningkatan potensial untuk jatuh. 2. Identifikasi prilaku dan factor yang dapat mempengaruhi resiko jatuh.

Rasional 1. Menghindari lingkungan yang beresiko tinggi menyebabkan jatuh. 2. Mengurangi resiko untuk jatuh. 3. Keseimbangan sangat mempengaruhi resiko terjadinya jatuh. 4. Mengurangi ketinggian jika terjadinya jatuh. 5. Mencegah klien melakukan moblisasi sendiri. 6. Mengoptimalkan kemampuan pasien untuk melakukan mobilisasi.

Evaluasi S: Pasien mengatakan dapat menggunakan alat bantu dengan benar. O: Pasien terlihat aktif dalam mencegah terjadinya jatuh. A: Tujuan asuhan keperawatan tercapai P: Lanjutkan intervensi yang brtujuan mencegah terjadinya jatuh

3. Monitor cara berjalan, tingkat keseimbangan, dan kelelahan. 4. Tempatkan posisi tempat tidur pasien dengan posisi yang rendah. 5. Intrusksikan pasien untuk memanggil keluarga apabila ingin berpindah. 6. Monitor kemampuan unuk berpindah dari tempat tidur ke kursi.

No 6

Diagnosa Kekurangan Volume Cairan b/d kehilangan Cairan Aktif.

Tujuan & Kriteria Hasil Dalam melakukan perawatan selama x24 jam, diharapkan masalah pasien dalam mengalami kekurangan volume cairan teratasi, dengan kriteria hasil: NOC label: Nutritional Status: Food & Fluid Intake Asupan makanan melalui mulut. (skala 3) Asupan cairan melalui mulut. (skala 3) Asupan cairan melalui intravena. (skala4)

Intervensi NIC Label: Fluid/Electrolyte Management Memberikan cairan yang sesuai. Memantau ketersediaan kadar normal elektrolit dalam darah. Memantau berat badan pasien sehari-hari. Menjaga catatan yang akurat asupan dan pengeluran.

Rasional Untuk menyesuaikan cairan yang benarbenar diperlukan oleh tubuh. Untuk mengetahuai dam mempermudah memberikan cairan elektrolit bila berkurang. Untuk mengetahui adanya atau tidak penurunan berat badan akibat mual dan muntah yang dialami yang mengakibatkan kekurangan volume cairan. Mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian cairan tambahan.

Evaluasi S: Pasien mengatakan bahwa kekurangan cairan dalam tubuhnya yang disebabkan karena mual dan muntahnya sudah mulai membaik. O: Terlihat dari raut wajah pasien yang mulai berseri. A: Tujuan tercapai sebagian. P: Lanjutkan Intervensi.

Nausea and Vomiting Severity Nyeri lambung. (skala 3) Frekuensi muntah. (skala4) Frekuensi mual. (skala 4) Intensitas mual. (skala 3) Intensitas

muntah. (skala3)

No.

Diagnosa

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Evaluasi

Mual b/d meningitis dan Peningkatan Tekanan Intrakranial.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x 24 jam, diharapkan mual klien berkurang dengan kriteria hasil: NOC Label: Nausea and Vomiting Control o Klien dapat mengetahui faktor penyebab mual. (skala 4) Mual klien berkurang. (skala 4) Menjauhkan bebauan yang tidak disukai klien. (skala 4)

NIC Label: Nausea Management a) Dorong klien untuk memonitor pengalaman mual. b) Dorong klien belajar strategi untuk mengatur mual. c) Evaluasi tentang pengalaman mual klien. d) Identifikasi faktor yang mungkin menyebabkan klien mual. e) Control lingkungan yang mungkin menyebabkan timbulnya rasa mual klien. f) Identifikasi strategi keberhasilan untuk menghilangkan mual.

a) Untuk mengetahui frekuensi mual klien. b) Memandirikan klien agar mampu mengidentifikasi tindakan saat merasa mual. c) Mengetahui keparahan mual yang dialami. d) Menghindari penyebab yang dapat menimbulkan rasa mual klien. e) Mencegah pasien merasa mual lagi. f) Mengatasi mual kembali.

S: Pasien mengatakan tidak mual lagi. O: Pasien merasa nyaman dan intake pasien mulai membaik. A: Intervesi terpenuhi sebagian. P: Lanjutkan intervensi.

NO 8

Diagnosa Keletihan b/d kurang energi.

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional - Agar jumlah istirahat meningkat untuk mengurangi keletihan. - Agar pasien terinisiasi untuk tidur. - Agar pasien memahami pentingnya tidur dan mengikuti saran terkait tidur yang baik. - Untuk mempercepat inisiasi tidur pasien dengan menggunakan fasilitas yang pasien inginkan agar nyaman, misalkan pasien dibacakan cerita.

Evaluasi S : Klien mengatakan setelah bangun dari istirahat badanya lebih segar. O : klien tidur 810 jam tanpa gangguan. A : Tujuan tercapai. P : Lanjutkan intervensi mengatasi keletihan.

Setelah dilakukan NIC Label : Sleep asuhan keperawatan Enhancement selama x24 jam, diharapkan level lelah - Usulkan pasien berkurang dengan peningkatan kriteria hasil: kuantitas tidur. NOC Label: Fatigue Level - Dapat melakukan aktivitas harian. (skala4) - Kualitas istirahat membaik. (skala 4) - Kualitas tidur membaik. (skala 4) - Aktivitas dan istirahat seimbang. (skala 3) - Pelihara lingkungan seperti lingkungan siang dan malam. - Diskusikan dengan pasien dan keluarganya tentang teknik meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur. - Dorong pasien untuk menentukan fasilitas yang mendorong rasa kantuk.

No 9

Diagnosa Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak.

Tujuan & Kriteria Hasil Setelah diberikan perawatan selama x24 jam perfusi jaringan otak klien kembali baik dengan kriteria hasil : NOC label: Tissue Perfussion: Cerebral TIK klien berkisar 010 mmHg. (skala 3) Tekanan sistolik berkisar 110-140 mmHg. (skala 4) Tekanan diastolic berkisar 70-100. (skala 4) Keluhan pusing klien berkurang. (skala 3) Muntah klien berkurang. (skala 3)

Intervensi NIC Label: Cerebral Perfusion Promotion Berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan posisi HOB (head of Bed) klien yang optimal. Memberikan agen penambah volume intravaskuler. Memonitor TIK klien dan respon neurologis.

Rasional Bertujuan untuk menurunkan TIK. Mengurangi hipertensi dengan memperbesar volume darah. Memastikan keadaan TIK dan status neurologis klien.

Evaluasi S: Klien mengatakan nyeri akubat pusing berkurang dan tidak muntah selama perawatan. O: Raut wajah klien sudah tidak meringis akibat nyeri kepala. A: Tujuan tercapai. P: Lanjutkan intervensi.

KESIMPULAN Meningitis merupakan peradangan pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa yang dapat terjadi secara akut kronis. Meningitis juga merupakan infeksi yang menular, sama seperti flu dan pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkannya kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. Dalam meningitis ada manifestasi klinisnya yaitu gejala dini hipotiroid tidak spesifik, hipotiroid berat dan mulanya merasa mudah

tersinggung dan mengeluh merasa lemah, mental menjadi tumpul dan tampak apatis. Dalam merangsang meningeal ada tanda-tanda rangsangan meningeal yang digunakan yaitu kaku kuduk, kernig sign, bruszinky, opistotonus dan nyeri punggung.

DAFTAR PUSTAKA

Bunner&Suddarth. 1997. Keperawatan Medikal-Bedah Vol 2. Jakarta : EGC


Arthur C.Guyton dkk .2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran .Jakarta : EGC,2007 Sue Mooerhead,dkk.Nursing Outcame Clasification (NOC) Joanne Mcclokey Dochter .dkk.Nursing Intervention Clasification