Anda di halaman 1dari 15

GINEKOMASTIA

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Jaringan payudara pada kedua jenis kelamin pria dan wanita secara histologi sama saat lahir dan cenderung untuk pasif selama masa anak-anak sampai pada saat pubertas. Pada kebanyakan pria, proliferasi sementara duktus dan jaringan mesenkim sekitar terjadi saat masa pematangan seksual, yang kemudian diikuti involusi dan atrofi duktus. Sebaliknya, duktus payudara dan jaringan periduktal pada wanita terus membesar dan membentuk terminal acini, yang memerlukan estrogen dan progesteron karena stimulasi estrogen terhadap jaringan payudara dilawan dengan efek androgen, ginekomastia dipertimbangkan sejak dulu akibat ketidakseimbangan antara hormon tersebut. Ginekomastia merupakan kelainan bentuk jinak yang terjadi sekitar 60% dari seluruh kelainan payudara pada laki-laki dan sekitar 85% dari kelainan benjolan pada payudara lakilaki. Berbagai studi populasi banyak menemukan ginekomastia. Ada tiga distribusi periode usia tersering terjadinya ginekomastia atau perubahan payudara yang pada umumnya dipengaruhi hormon. Periode

pertama ditemukan saat neonatus yang terjadi sekitar 60-90% dari seluruh penyaluran kelahiran estrogen akibat melalui

plasenta. Periode kedua terjadi saat pubertas, yaitu dimulai saat

umur 10 tahun dan puncaknya antara usia 13-14 tahun. Periode ketiga ditemukan pada orang

dewasa yang terjadi antara usia 5080 tahun. Faktor terhadap ras tidak

berpengaruh ginekomastia.

kejadian

Tabel 1. Prevalensi terjadinya ginekomastia berdasarkan penelitian


KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012 1

GINEKOMASTIA 1.2. Batasan Masalah Berdasarkan pemaparan/latar belakang di atas, maka batasan masalah yang akan dibahas dalam referat ini mencakup anatomi payudara, definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan serta prognosis dari ginekomastia.

1.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan referat ini yaitu untuk memenuhi tugas yang telah diberikan oleh dokter pembimbing Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu Bedah di RSUD H. Abdul Manan Simatupang - Kisaran. Selain itu, penulisan referat ini juga bertujuan untuk lebih mengetahui dan memahami anatomi payudara, definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan serta prognosis dari ginekomastia.

1.4. Manfaat Penulisan Dengan adanya penulisan referat ini diharapkan bisa membantu penulis maupun pembaca yang lainnya untuk menambah informasi maupun pengetahuan tentang Ginekomastia.

1.5. Metode Penulisan Penulisan referat ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang bersumber dari beberapa literature.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

GINEKOMASTIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Payudara Pada pria dan wanita payudara adalah sama sampai masa pubertas, sampai estrogen dan hormon-hormon lainnya mempengaruhi perkembangan payudara pada wanita dan pria. Payudara terdiri dari jaringan kelenjar fibrosa dan lemak. Jaringan-jaringan ini terpisah dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan seratus anterior oleh jaringan ikat. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting (papila mamaria), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh areola, puting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil-kecil, apertura duktus laktiferosa. Tuberkel-tuberkel montgomery adalah kelenjar lemak pada permukaan areola.

Gambar 1. Anatomi Payudara Wanita (kiri) dan Anatomi Payudara Pria (kanan) Jaringan kelenjar membentuk 15-25 lobus yang tersusun radier di sekitar puting dan dipisahkan oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya, yang mengelilingi jaringan ikat (stroma) di antara lobus-lobus. Setiap lobus berbeda, sehingga penyakit yang menyerang satu lobus tidak menyerang lobus lainnya. Drainase atau lobus menuju ke dalam sinus laktiferosa, yang kemudian bermuara ke puting. Di banyak tempat jaringan ikat akan memadat membentuk pita fibrosa yang tegak lurus terhadap substansi lemak, mengikat lapisan dalam dari fasia subkutan payudara pada kulit. Pita ini yaitu ligamentum cooper, merupakan ligamentum suspensorium dari payudara.
KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012 3

GINEKOMASTIA 2.2. Ginekomastia 2.2.1. Definisi Ginekomastia merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu gyvec yang berarti perempuan dan mastos yang berarti payudara, yang dapat diartikan sebagai payudara seperti perempuan. Ginekomastia berhubungan dengan beberapa kondisi yang menyebabkan pembesaran abnormal dari jaringan payudara pada pria. Ginekomastia merupakan pembesaran jinak payudara lakilaki yang diakibatkan proliferasi komponen kelenjar. Ginekomastia biasanya ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan kesehatan rutin atau dapat dalam bentuk benjolan yang terletak dibawah regio areola baik unilateral maupun bilateral yang nyeri saat ditekan atau pembesaran payudara yang progresif yang tidak menimbulkan rasa sakit. 2.2.2. Etiologi Ginekomastia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya. Ginekomastia idiopatik terjadi sekitar 75% dari kasus. Keadaan fisiologis terjadi pada bayi baru lahir dan usia dewasa saat memasuki pubertas. Pada bayi baru lahir, jaringan payudara yang membesar berasal dari interaksi estrogen ibu melalui transplasenta. Ginekomastia pada orang dewasa sering ditemukan saat pubertas dan sering bersifat bilateral. Ginekomastia pada masa remaja terjadi pada 2/3 remaja. Dan bertahan sampai beberapa bulan. Jika ginekomastia selama masa puber ini menetap maka disebut ginekomastia esensial. Kondisi patologik diakibatkan oleh defisiensi testosteron, peningkatan produksi estrogen atau peningkatan konversi androgen ke estrogen. Kondisi patologik juga didapatkan pada anorchia kongenital, klinefelter sindrom, karsinoma adrenal, kelainan hati dan malnutrisi.
KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012 4

Gambar 2. Ginekomastia

GINEKOMASTIA Penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan ginekomastia. Obat-obat penyebab ginekomastia dapat dikategorikan berdasarkan mekanisme kerjanya. Tipe pertama adalah yang bekerja seperti estrogen, seperti diethylstilbestrol, digitalis dan juga kosmetik yang mengandung estrogen. Tipe kedua adalah obat-obat yang meningkatkan pembentukan estrogen endogen, seperti gonadotropin. Tipe ketiga adalah obat yang menghambat sintesis dan kerja testosteron, seperti ketokonazole, metronidazole dan cimetidine. Tipe terakhir adalah obat yang tidak diketahui mekanismenya seperti captopril, antidepresan trisiklik, diazepam dan heroin.

Tabel 2. Etiologi Ginekomastia

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

GINEKOMASTIA 2.2.3. Patogenesis Jaringan payudara pada kedua jenis kelamin pria dan wanita secara histologi sama saat lahir dan cenderung untuk pasif selama masa anak-anak sampai pada saat pubertas. Pada kebanyakan pria, proliferasi sementara duktus dan jaringan mesenkim sekitar terjadi saat masa pematangan seksual, yang kemudian diikuti involusi dan atrofi duktus. Sebaliknya, duktus payudara dan jaringan periduktal pada wanita terus membesar dan membentuk terminal acini, yang memerlukan estrogen dan progesteron karena stimulasi estrogen terhadap jaringan payudara dilawan dengan efek androgen, ginekomastia dipertimbangkan sejak dulu akibat ketidakseimbangan antara hormon tersebut. Masa transisi dari prepuber ke post puber diikuti oleh peningkatan 30 kali lipat hormon testosteron dan 3 kali lipat hormon estrogen. Ketidakseimbangan relatif antara level estrogen dan androgen menghasilkan ginekomastia. Perubahan rasio estrogen dan androgen ditemukan pada pasien ginekomastia yang berhubungan dengan obat-obatan, neoplasma adrenal dan testis, sindrom Klinefelter, tirotoksikosis, sirosis, hipogonadisme, malnutrisi dan penuaan. Estradiol adalah hormon pertumbuhan pada payudara yang dapat meningkatkan proliferasi jaringan payudara. Sebagian estradiol pada pria didapat dari konversi testosteron dan adrenal estron. Mekanisme dasar ginekomastia adalah penurunan produksi androgen, peningkatan produksi estrogen dan peningkatan availabilitas prekursor estrogen untuk konversi estradiol. a. Peningkatan konsentrasi estrogen serum Normalnya testis pria dewasa menghasilkan 15 persen estradiol dan kurang dari 5 persen estron dalam sirkulasi. Dan 85 persen estradiol dan lebih dari 95 persen estron diproduksi di jaringan ekstragonad melalui aromatisasi prekusor. Prekusor utama dari estradiol adalah testosterone, 95% dihasilkan oleh testis. Androstenedion, androgen yang disekresikan oleh kelenjar adrenal, menjadi prekursor pada pembentukan estron. Tempat ekstragrandular yang penting terhadap aromatisasi adalah jaringan adipose, hati dan otot. Derajat intervensi substansial antara estron dan estradiol terjadi melalui reduktase enzim 17kortikosteroid yang juga mengkatalis konversi androstenedion ke testosteron.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

GINEKOMASTIA Peningkatan patologis dari konsentrasi estrogen dalam serum ditemukan

pada beberapa keadaan. Tumor sel Leydig dan neoplasma adrenokortikal feminis mensintesis dan menghasilkan jumlah estrogen yang meningkat. Aromatisasi prekusor estrogen yang meningkat terjadi pada sel sertoli atau tumor seksual testis, tumor sel-germ testis terdiri dari jaringan tropoblastik, beberapa kanker nontropoblastik dan pada pasien obesitas, penyakit hati, hipertiroidisme, feminisasi testicular atau pada sindrom Klinefelter, pria yang mengkonsumsi spironolakton. Peningkatan aromatisasi juga ditemukan pada penuaan, yang menggambarkan peningkatan lemak tubuh. Peningkatan idiopatik pada aromatisasi ekstraglandular, biasanya berhubungan dengan aromatase janin yang mengakibatkan produksi estrogen perifer yang masif. Meskipun globulin pengikat hormon seksual sama-sama mengikat estrogen dan androgen, namun afinitas pengikatan terhadap androgen lebih besar daripada estrogen. Kemudian, obat-obatan seperti spironolakton dan ketokonazol yang dapat memecah ikatan steroid dengan globulin, memecah estrogen lebih mudah daripada endrogen pada konsentrasi yang rendah. Situasi lain dimana level sirkulasi estrogen bebas dapat meningkat antara lain metabolisme estrogen yang menurun, sebuah mekanisme yang menyebabkan ginekomastia pada pasien dengan sirosis. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena laju klearens metabolic dari estrogen normal pada pasien sirosis. Konsumsi estrogen baik sengaja maupun sebagai obat, juga dapat memicu peningkatan dari konsentrasi estrogen total dan bebas dan menimbulkan ginekomastia pada beberapa pasien. Aktivasi dari reseptor estrogen pada jaringan payudara dapat terjadi pada konsumsi obat yang memiliki struktur yang sama dengan esterogen seperti digoksin. b. Penurunan konsentrasi androgen serum Peningkatan rasio estrogen-androgen akan ditemukan pada pasien dengan level estrogen yang normal atau meningkat tapi mengalami penurunan konsentrasi androgen. Penurunan sekresi androgen biasanya ditemukan pada pria tua sebagai akibat dari proses penuaan, pasien dengan hipogonadisme primer atau sekunder, pasien dengan kekurangan enzim testikuler atau pada konsumsi obat seperti spironolakton dan ketokonazol yang menginhibisi biosintesis testosterone. Penurunan sekresi juga ditemukan pada keadaan hiperesterogenik, baik pada supresi hormone LH hipofisis yang diinduksi estrogen, yang menghasilkan supresi sekresi hormone testosterone, maupun pada inhibisi aktivitas enzim sitokrom P-450c 17 di testis yang di induksi estrogen yang dibutuhkan pada biosintesis
KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012 7

GINEKOMASTIA testosterone. Efek yang sama terlihat pada stimulasi LH pada sel interstisial testis yang terjadi pada hipogonadisme primer, gonadotropinkorionik yang dihasilkan oleh tumor germ-sel testikuler dan ekstragonad dan pada beberapa neoplasma nontropoblastik, seperti tumor paruparu, abdomen, hati atau ginjal. Level gonadotropin serum yang tinggi menstimulasi aktivitas aromatase sel interstisial dan peningkatan sekresi estradiol yang kemudian menginhibisi aktivitas enzim sitokrom P-450c 17. Level testosterone serum juga dapat turun sebagai akibat peningkatan aromatase testosterone ke estradiol pada beberapa kondisi berhubungan dengan ginekomastia atau peningkatan klirens dari sirkulasi melalui aktivitas reduktase cincin reduktase-A testosterone hepatic sebagai akibat konsumsi alcohol. Karena androgen terikat erat dengan globulin pengikatan hormon seks, maka kondisi-kondisi yang meningkatkan level dari protein ini dapat mengakibatkan konsentrasi androgen bebas rendah, terutama jika kondisi tersebut juga menurunkan produksi androgen. c. Masalah reseptor androgen Defek pada struktur dan fungsi dari reseptor androgen yang ada pada pasien dengan sindrom insensitivitas androgen komplit atau parsial atau pelepasan androgen dari reseptor androgen payudara oleh obat seperti spironolakton, cyproterone asetat, flutamide cimetidine atau cimetidine mengakibatkan efek yang tidak diinginkan pada jaringan payudara. d. Hipersensitivitas pada jaringan payudara Ginekomastia terjadi jika jaringan payudara pada pria memiliki sensitivitas yang meningkat pada estrogen. Meskipun peningkatan aktivitas aromatase ditemukan pada pasien ginekomastia. Aromatase androgen ke estrogen dalam jaringan payudara merupakan penyebab dari ginekomastia idiopatik. Ginekomastia yang terjadi pada neonatus biasanya diikuti pada masa pubertas yang mendukung bahwa jaringan glanduler payudara lebih sensitif terhadap stimulasi estrogen pada beberapa pria dibandingkan pria lainnya. Hormon utama pada laki-laki adalah testosteron, yang dihasilkan testis . Pada wanita hormon utama adalah estrogen, yang dikeluarkan oleh ovarium. Kedua hormon tersebut masing-masing diproduksi oleh kedua kelenjar. Estrogen juga diproduksi di testis dan sejumlah testosteron juga diproduksi di ovarium. Ginekomastia terjadi karena

ketidakseimbangan antara estrogen (yang menstimuli jaringan payudara) dan androgen (yang menghambat stimulus).

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

GINEKOMASTIA

Gambar 3. Proses terbentuknya estrogen yang menyebabkan ginekomastia 2.2.4. Diagnosis Langkah pertama dalam evaluasi klinik adalah menetapkan bahwa benjolan ini adalah ginekomastia. Keadaan yang paling sulit dibedakan dengan ginekomastia adalah pembesaran jaringan lemak subareolar payudara tanpa proliferasi kelenjar (psuedoginekomastia). Pasien dengan pseudoginekomastia memiliki badan obesitas menyeluruh dan tidak mengeluhkan nyeri. Dan sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan payudara. Pemeriksaan yang baik dengan meletakkan tangan pasien dibelakang kepala sambil pasien baring. Pemeriksa meletakkan ibu jari pada sisi yang satu dan jari kedua diletakkan pada sisi lain lalu memeriksa dengan seksama. Pada pasien ginekomastia akan didapatkan benjolan yang kenyal dan berbatas tegas dan berada ditengah dan puting susu serta mudah dipalpasi. Sedangkan pada pseudoginekomastia tidak ada hambatan saat kedua jari dipertemukan.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

GINEKOMASTIA

Gambar 4. Cara pemeriksaan fisik dalam mendiagnosis ginekomastia Biasanya ginekomastia terjadi asimetrik. Ginekomastia unilateral biasanya

menandakan adanya pertumbuhan ginekomastia bilateral. Meskipun kelainan seperti neurofibroma, limpangioma, hematoma, lipoma dan kista dermoid dapat mengakibatkan pembesaran unilateral, namun yang paling harus dibedakan ialah dengan karsinoma payudara yang terjadi pada pria kurang dari 1%. Kanker payudara pada pria biasanya massanya unilateral, keras, terfiksasi pada jaringan dibawahnya, adanya dimpling, retraksi atau crusting puting susu, keluarnya cairan dari puting susu atau adanya limfadenopati aksilla.

Gambar 5. Ginekomastia asimetris


KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012 10

GINEKOMASTIA Setelah diagnosis ginekomastia dapat dibuat, beberapa etiologi lain dapat diketahui melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan rasa sakit pada payudara. Riwayat penggunaan obat-obatan dan juga riwayat kelainan hati dan ginjal menjadi hal penting dalam menetapkan etiologi. Riwayat penurunan berat badan, takikardi, gemetar, diaporesis dan hiperdefekasi dapat membantu ke arah hipertiroid. Pada pemeriksaan fisik dilakukan palpasi pada payudara untuk membedakan dengan pembesaran akibat jaringan lemak. Pemeriksaan palpasi pada testis juga perlu dilakukan untuk menilai apakah ada rasa sakit atau tidak. Gejala-gejala dan hipogonadisme juga perlu di periksa, seperti penurunan libido, impotensi, penurunan kekuatan dan juga atrofi testis. Pemeriksaan yang teliti terutama untuk massa di abdomen, dapat membantu dalam menemukan kanker adrenocortical. Mammografi atau FNA sangat membantu dalam membedakan kanker atau ginekomastia, meskipun biopsy bedah harus dilakukan jika kedua prosedur sebelumnya tidak menunjukkan adanya proses keganasan. Pada pasien dengan kemungkinan neoplasma testikular dapat dilakukan USG testis. Pada pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan kadar serum hormonhormon tertentu untuk dapat menentukan etiologi, seperti pemeriksaan gonadotropin korionik serum (hCG), testosterone, estradiol dan LH. 2.2.5. Penatalaksanaan Penanganan ginekomastia dilakukan berdasarkan penyebabnya. Secara umum tidak ada pengobatan bagi ginekomastia fisiologis. Tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi kesakitan dan menghindari komplikasi. Penanganan ginekomastia meliputi tiga hal yaitu observasi, medikamentosa dan operasi. 2.2.5.1. Observasi Observasi dilakukan pada pasien-pasien yang mendapatkan terapi obat-obatan yang biasa menyebabkan ginekomastia. Penggunaan obat-obatan tersebut dihentikan dan pasien dievaluasi setelah 1 bulan. Jika ginekomastia terjadi akibat obat-obatan, maka penghentian konsumsi obat-obatan tersebut akan menyebabkan berkurangnya rasa sakit pada payudara. Penggantian obat yang menyebabkan ginekomastia dengan obat lainnya dapat dilakukan.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

11

GINEKOMASTIA Sebagai contoh, ketika hendak memberikan obat calcium channel blocker pada orangtua, penggunaan nifedipine lebih berpotensi timbulnya ginekomastia, dibandingkan dengan verapamil dan juga diltiazem. Keadaan yang sama juga terjadi pada penggunaan histamin reseptor atau parietal cell proton-pump. Penggunaan obat cimetidine lebih memiliki resiko dibandingkan ranitide dan juga omeprazole. Observasi juga dapat dilakukan pada keadaan fisiologis, termasuk pasien usia pubertas dan memiliki pemeriksaan fisik dan testis yang normal. Pasien tersebut dievaluasi selam 6 bulan 2.2.5.2. Medikamentosa Identifikasi kelainan penyebab ginekomastia dapat membantu meringankan pembesaran payudara. Obat-obat yang dapat digunakan sebagai berikut : a) Clomiphene (anti estrogen) dapat diberikan dengan dosis 50-100 mg setiap hari selama 6 bulan. Efek samping obat ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan, muntah dan bintik merah. b) Tamoxifen (antagonis estrogen) dapat diberikan dengan dosis 10-20 mg dua kali sehari selama 3 bulan. Efek samping obat ini dapat mengganggu epigastrium dan mual. c) Danazol, obat testosteron sintetik, yang menghambat sekresi LH dan FSH dan menurunkan sintesis estrogen di testis. Diberikan dengan dosis 200 mg dua kali sehari. Efek samping obat ini adalah akne, penambahan berat badan, retensi cairan, mual dan hasil fungsi hati yang abnormal. d) Testolactone (inhibitor aromatisasi), diberikan 450 mg sehari selama 6 bulan. Efek samping obat ini adalah mual, muntah dan udem. 2.2.5.3. Operatif Pengobatan dengan bedah bertujuan mengembalikan bentuk normal payudara dan memperbaiki kalainan payudara, puting dan areola. Pengobatan operatif dilakukan jika respon obat-obatan tidak mencukupi. Pembedahan yang bersifat kuratif dapat dilakukan pada tumor yang menyerang penghasil estrogen atau hCG.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

12

GINEKOMASTIA Ada 2 jenis operasi yang dapat dilakukan yaitu Surgical resection (subcutaneous mastectomy) dan Liposuctio-assisted mastectomy. a. Surgical Resection (Subkutaneus Mastektomi) Ada beberapa jenis irisan pada eksisi payudara laki-laki. Jenis irisan yang sering dilakukan adalah dengan insisi intra-areolar atau Webster incision. Insisi Webster dibuat sepanjang lingkaran areola bagian bawah dan dengan panjang irisan yang bervariasi tergantung dari areola pasien. Insisi lain yang digunakan adalah insisi tranversal yang melewati papilla mamae. Insisi ini memiliki bukaan yang terbatas. Triple-V incision memiliki bukaan yang paling besar namun jarang digunakan saat sekarang. Sebelum operasi, dokter bedah harus menentukan garis insisi dan memperkirakan kedalaman jaringan lemak dan jaringan payudara yang akan dikeluarkan. Selain itu ada teknik Letterman dan juga teknik yang digunakan jika ginekomastia bersifat masif.

Gambar 6. (a) Webster incision, (b) Webster incision yang diperlebar ke arah medial dan lateral, (c) Transverse incision, (d) Triple-V incision, (e) Teknik yang paling sering digunakan untuk reseksi kulit dan transposisi puting susu (Letterman Technique), (f) Teknik yang digunakan pada ginekomastia massif.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

13

GINEKOMASTIA b. Liposuctio-assisted mastectomy Liposuctio-assisted mastectomy merupakan salah satu jenis operasi untuk pseudognikomastia. Insisi dibuat sekitar 1 cm diatas areola, lalu jaringan kelenjar dan parenkim disedot keluar. Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980an. Sekarang digunakan ultrasonic liposuction yang meningkatkan hasil koreksi pascaoperasi dibandingkan mastektomi. payudara. ini dengan Komplikasi lebih operasi kecil open

Gambar 7. Sebelum dan setelah operasi Liposuction-assisted mastectomy 2.2.6. Prognosis Prognosis dari ginekomastia baik untuk semua etiologi. Suatu studi menunjukkan 90% pasien ginekomastia fisiologis membaik dalam 2 tahun. Pasien ginekomastia akibat keadaan patologik dapat membaik dengan terapi obat dan pembedahan.

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012

14

GINEKOMASTIA

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Ginekomastia merupakan kelainan bentuk jinak yang terjadi sekitar 60% dari seluruh kelainan payudara pada laki-laki dan sekitar 85% dari kelainan benjolan pada payudara lakilaki. Ginekomastia berhubungan dengan beberapa kondisi yang menyebabkan pembesaran abnormal dari jaringan payudara pada pria. Ginekomastia merupakan pembesaran jinak payudara laki-laki yang diakibatkan proliferasi komponen kelenjar. Ginekomastia biasanya ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan kesehatan rutin atau dapat dalam bentuk benjolan yang terletak dibawah regio areola baik unilateral maupun bilateral yang nyeri saat ditekan atau pembesaran payudara yang progresif yang tidak menimbulkan rasa sakit. Ginekomastia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologinya. Ginekomastia idiopatik terjadi sekitar 75% dari kasus. Keadaan fisiologis terjadi pada bayi baru lahir, masa pubertas dan lanjut usia (memasuki usia 50-80 tahun). Kondisi patologik diakibatkan oleh defisiensi testosteron, peningkatan produksi estrogen atau peningkatan konversi androgen ke estrogen misalnya pada sindrom klinefelter, karsinoma adrenal, kelainan hati dan lain-lain juga bisa menyebabkan ginekomastia. Selain itu, penggunaan obat-obatan juga dapat menyebabkan terjadinya ginekomastia. Penanganan ginekomastia dilakukan berdasarkan penyebabnya. Secara umum tidak ada pengobatan bagi ginekomastia fisiologis. Tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi kesakitan dan menghindari komplikasi. Penanganan ginekomastia meliputi tiga hal yaitu observasi, medikamentosa dan operasi. 3.2. Saran Untuk mencegah dan mengontrol resiko ginekomastia, hal berikut dapat dilakukan : Hindari penyalahgunaan narkoba dan doping, termasuk steroid, heroin dan lain-lain. Hindari konsumsi alkohol, meskipun sedikit. Periksa ulang obat-obat harian yang dikonsumsi dan konsultasi ke dokter.
15

KKS Ilmu Bedah RSUD H. Abdul Manan Simatupang Kisaran 2012