Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pegeluaran kemih (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal. (Tan Hoan Tjay, 2007). Diuretika merupakan senyawa yang dapat menyebabkan ekskresi urin yang lebih banyak . jika pada peningkatan ekskresi air, terjadi juga peningkatan ekskresi garam-garam, maka diuretika ini dinamakan saluretika atau natriuretika (diuretika dalam arti sempit) (Ernst Mutschler, 1991). Walaupun kerjanya pada ginjal, diuretika bukan obat ginjal, artinya senyawa ini tidak dapt memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal. Demikian juga pada pasien insufisiensi ginjal jika diperlukan dialisis, tidak dapat ditangguhkan dengan penggunaan senyawa ini. Beberapa diuretika pada awal pengobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat penting urin dengan mengurangi laju filtrasi glomerulus sehingga akan memperburuk insufisiensi ginjal. (Ernst Mutschler, 1991) Diuretika dipakai untuk dua tujuan utama, yaitu untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan untuk memperkecil edema (perifer dan paru-paru) pada payah jantung kongestif. Diuretik menghasilkan peningkatan aliran urin (diuresis) dengan menghambat reabsorbsi natrium dan air dari tubulus ginjal. Kebanyakan reabsorbsi natrium dan air terjadi di sepanjang segmen-segmen tubulus ginjal (proksimal, ansa henle (ansa desending dan ansa asending), dan distal). Diuretik dapat mempengaruhi satu atau lebih segmen tubulus ginjal. (Joyce L. Kee, 1996) Secara fisiologis glomeruli ginjal memfiltrasikan sebanyak 180-200 liter air, 600 gram ion natrium, 640 gram ion klorida, dan 7 gram ion kalium dari darah selama 24 jam. Air dan garam tersebutkemudian mengalami reabsorbsi kembali sehingga urin dikeluarkan dalam 24 jam mengandung 1-1,5 liter air, 4-20 gram ion natrium, 6-9 gram ion klorida, dan 2,5-3,5 gram ion kalium. (Leilani F. Yodhian, 2009).

BAB II TUJUAN PERCOBAAN

Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu: 1. 2. 3. 4. Mengevaluasi aktivitas diuretika obat / sediaan uji Mengetahui efek dari furosemid terhadap hewan percobaan Mengetahui efek dari ekstrak daun keluwih terhadap hewan percobaan Membandingkan efek diuretik antara furosemid dengan ekstrak daun keluwih

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Pengertian Diuretik Diuretik ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan air. Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal. (Sulistia Gan Gunawan, 2007). Obat-obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urin disebut diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat transpor ion yang menurunkan reabsorbsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda. Akibatnya, Na+ dan ion lain seperti clmemasuki urine dalam jumlah lebih banyak

dibandingkan bila keadaan normal bersama-sama air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotik. Jadi, diuretik meningkatkan volume urin dan sering mengubah pH-nya serta komposisi ion di dalam urine dan darah. (Mycek, 1997). Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah dengan jalan mengeluarkan semua zat asing dan sisa pertukaran zat dari dalam darah. Untuk ini, darah mengalami filtrasi, dimana semua komponennya melintasi saringan ginjal kecuali zat putih telur dan sel-sel darah. Fungsi penting lainnya adalah meregulasi kadar garam dan cairan tubuh. Ginjal merupakan organ terpenting pada pengaturan homeostasis, yakni keseimbangan dinamis antara cairan intrasel dan ekstra sel, serta pemeliharaan volume total dan susunan cairan ekstrasel. Hal ini terutama tergantung jumlah ion Na+ yang untuk sebagian besar terdapat diluar sel, di cairan antar sel dan di plasma darah. Kadar Na+ di cairan ekstra sel diregulasi oleh sekresi ADH di neurohipofisis. Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler), yang terletak di bagian cortex ginjal. Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air, garam-garam, dan glukosa. (Tan Hoan Tjay, 2007).

3.2. Mekanisme Yang Meningkatkan Produksi Urine a). Meningkatkan aliran darah ginjal dan kecepatan filtrasi glomeruli, yaitu dengan memberikan : Derivat Xantin (teofilin, Teobromin, Kafein) bekerja dengan cara menstimulasi jantung Glikosida jantung (digoksin, digitoksin) bekerja dengan cara memperbaiki kontraksi jantung Dopamin mendilatasi pembuluh darah ginjal dan juga dengan stimulasi jantung. b). Meningkatkan tekanan osmotik dalam tubuli ginjal : Diuretika osmotik adalah obat-obat diuretika yang diberikan secara suntikan, kemudian akan difiltrasi oleh glomeruli, tetapi tidak direabsorbsi dari tubuli ginjal sehingga akan meningkatkan tekanan osmotik dalam lumen tubuli. Misalnya, manitol dan urea. Dalam nefron, efek utama diuretika osmotik adalah pada tubuli proksimal, dengan reabsorbsi pasif air dikurangi karena adanya substansi yang tidak bisa diabsorbsi. Dengan banyaknya air dalam filtrat tersebut, ini juga akan mengurangi reabsorbsi natrium. Jadi, efek utama diuretika osmotik adalah meningkatkan jumlah air yang dikeluarkan disertai penambahan ekskresi natrium yang relatif sedikit. Penggunaan klinis diuretika osmotik sangat terbatas, misalnya pada kegagalan ginjal akut, dan peningkatan tekanan intrakranial atau tekanan intraokuler yang kuat (pada edema otak dan glaukoma) c). Menghambat reabsorbsi aktif tubuler : Diuretika tiazid dan derivat-derivatnya : klortalidon, hidroklortiazid, bendroflumetiazid, hidroflumetiazid, indapamid, sipamid. Diuretika loop/high ceiling : furosemid, bumetanid, asam etakrinat. Diuretika hemat kalium : amilorid, triamteren. Penghambat karbonik anhidrase : asetazolamid. Diuretika merkurial : salirgan, mersalil. Antagonis aldosteron : Spironolakton Derivat Xantin : teofilin, teobromin, kafein. (Leilani F. Yodhian, 2009)

3.3. Tempat Kerja Diuretika

(Leilani F. Yodhian, 2009)

Diuretik menghasilkan peningkatan aliran urin (diuresis) dengan menghambat reabsorbsi natrium dan air terjadi di sepanjang segmen-segmen tubulus ginjal (proksimal, ansa henle [ansa desending dan ansa asending], dan distal). Diuretik dapat mempengaruhi satu atau lebih segmen tubulus ginjal. Enam kategori diuretik yang efektif untuk menghilangkan natrium dan air adalah : 1. Tiazid 2. Diuretika Kuat 3. Hemat Kalium 4. Penghambat Anhidrase karbonik 5. Osmotik 6. Merkurial Diuretik Kuat dan Hemat Kalium merupakan diutretik yang paling sering diresepkan untuk penyakit hipertensif dan payah jantung kongestif. Semua golongan diuretik diatas tidak menghambat kalium, kecuali golongan diuretik hemat kalium. (Joyce L. Kee, 1996)

Tabel : Tempat dan cara kerja diuretik Obat Diuretik Osmotik


(2) Ansa Henle Desenden bagian epitel tipis

Tempat Kerja Utama


(1) Tubuli proksimal

Cara Kerja Penghambatan Reabsorbsi natrium dan air melalui daya osmotiknya. Penghambatan Reabsorbsi natrium dan air oleh karena hipertonisitas daerah medulla menurun

(3) Duktus Koligentes

Penghambatan Reabsorbsi natrium dan air oleh karena penghambatan efek ADH

Penghambat enzim karbonik anhidrase Tiazid

Tubuli Proksimal

Penhambatan
+

terhadap
+

reabsorbsi

HCO3 , H , dan Na

Hulu Tubuli Distal

Penghambatan terhadap reabsorbsi natrium klorida


dan Penghambatan antiport Na+ / K+

Diuretik

Hilir

tubuli

distal

hemat kalium duktus koligentes daerah (reabsorbsi


korteks

natrium

dan

sekresi

kalium) dengan jalan antagonisme kompetitif (spironolakton) atau

secara langsung (Triamteren and amilorid) Diuretik Kuat Ansa Henle pada bagian Penghambatan terhadap kotranspor
dengan epitel tebal

Na+ / K+ / Cl-

3.4. Mekanisme Kerja Diuretika Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorbsi natrium, sehingga pengeluaran lewat kemih dan demikian juga dari air-diperbanyak. Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli, tetapi juga ditempat lain yakni di : a) Tubuli Proksimal Dalam Tubulus kontortus proksimal yang berada dalam korteks ginjal, hampir semua glukos, bikarbonat, asam amino dan metabolit lain

direabsorbsi. Sekitar dua pertiga jumlah Na+ juga direabsorbsi di tubulus proksimal, klorida dan air mengikuti dengan pasif untuk mempertahankan keseimbangan elektrik dan osmolaritas. (Mycek, 1997). Diuretik osmotis (manitol, sorbitol) bekerja disini dengan merintangi reabsorbsi air dan juga natrium. (Tan Hoan Tjay, 2007). b) Lengkungan Henle Pars Desendens Sisa filtrat yang isotonis, memasuki ansa henle pars desendens dan terus ke dalam medula ginjal. Osmolaritas meningkat sepanjang bagian desendens dari ansa henle karena mekanisme arus balik. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi garam tiga kali lipat dalam cairan tubulus. (Mycek, 1997). c) Lengkungan Henle Pars Asendens Sel-sel epitel tubulus asendens unik karena impermeable untuk air. Reabsorbsi aktif ion-ion natrium, kalium, dan klorida dibantu oleh suatu kontrasporter Natrium/ Kalium/ Klorida, Magnesium dan Kalsium memasuki cairan interstisial melalui saluran paraselular. Jadi pars asendens merupakan bagian pengencer dari nefron. Kira-kira 25-30% NaCl di tubulus kembali ke cairan interstisial, dengan demikian membantu mempertahankan osmolaritas tinggi dari cairan. Karena ansa henle merupakan bagian terbesar untuk reabsorbsi garam, maka obat-obat yang bekerja di tempat ini, seperti loop diuretics merupakan kelompok diuretik yang paling efektif. (Mycek, 1997). d) Tubulus Renalis Kontortus Distal Sel-sel tubulus distal juga impermeabel untuk air. Sekitar 10% dari natrium klorida yang disaring direabsorbsi melalui suatu transporter Natrium/Klorida, yang sensitif terhadap diuretik tiazid. Selain itu ekskresi Kalsium diatur oleh hormon-hormon paratiroid pada bagian tubulus ini
(Mycek, 1997).

Pada bagian kedua segmen ini, Ion Natrium ditukarkan dengan ion kalium atau amonium, proses ini dikendalikan oleh hormon anak ginjal aldosteron. Antagonis Aldosteron (spironolakton) dan zat-zat penghemat kalium (amilorida, triamteren) bertitik kkerja disini dengan mengakibatkan

ekskresi natrium (kurang dari 5%) dan retensi Kalium. (Tan Hoan Tjay, 2007). e) Tubulus dan Duktus Renalis Rektus Sel-sel utama dan sel-sel interkalasi dari tubulus renalis rektus bertanggung jawab untuk pertukaran Natrium, Kalium dan untuk sekresi H+ dan reabsorbsi K+. Stiumalsi reseptor aldosteron pada sel-sel utama menyebabkan reabsorbsi Na+ dan sekresi K+. Reseptor hormon antidiuretic
(ADH, Vasopresin) meningkatkan reabsorbsi air dari tubulus dan duktus renalis rektus. Aktivitas ini dibantu oleh cAMP. (Mycek, 1997).

3.5. Obat-Obat Diuretik a) Inhibitor Anhidrase Karbonat Asetazolamid adalah suatu sulfonamid tanpa aktivitas antibakteri. Efek utamanya menghambat karbonik anhidrase pada sel epitel tubulus proksimal. Namun, penghambat karbonik anhidrase lebih sering digunakan untuk efek farmakologis lain dibandingkan efek diuretika karena obat-obat ini jauh kurang efektif dibandingkan golongan tiazid atau diuretika loop.
(Leilani F. Yodhian, 2009)

Mekanisme Kerja Asetazolamid menyebabkan suatu hambatan nonkompetitif

terhadap enzim karbonik anhidrase sehingga mengurangi pembentukan ion H dan bikarbonat di dalam sel epitel tubuli. Proses ini menyebabkan terjadinya penghambatan terhadap reabsorbsi bikarbonat. Dalam keadaan normal, enzim karbonik anhidrase berfungsi sebagai katalisator dalam reaksi pembentukan asam karbonat dari CO2 dan H2 O. Asam karbonat yang terbentuk ini langsung terurai menjadi ion H dan bikarbonat. Ion bikarbonat langsung masuk ke dalam plasma. Sedangkan ion hidrogen disekresikan ke dalam lumen tubuli yang diimbangi oleh masuknya ion Na ke dalam sel. Di dalam lumen, ion-ion H, tersebut bereaksi dengan ion bikarbonat yang difiltrasi melalui glomeruli, membentuk asam karbonat. Reaksi ini dikatalis oleh enzimkarbonik anhidrase. Asam karbonat yang terbentuk akan terurai menjadi CO2 dan H2O. Selanjutnya, karbon dioksida yang terbentuk akan berdifusi kembali ke dalam sel. Jadi, obat-obat seperti asetazolamid yang menghambat enzim karbonik anhidrase meningkatkan 8

jumlah urine yang keluar dengan cara mencegah reabsorbsi bikarbonat, yang juga mengakibatkan pengosongan bikarbonat ekstraselular (Leilani F. Yodhian, 2009) Efek Samping Efek diuresis asetazolamid yang terjadi disertai dengan hilangnya ion bikarbonat dapat menimbulkan asidosis metabolik hiperkloremia dan juga meningkatkan hilangnya ion kalium karena lebih banyak ion natrium yang memasuki tubuli distal dan meningkatnya pertukaran Na-K. Adanya pembentukan batu ginjal, mengantuk, dan parestesia. (Leilani F. Yodhian, 2009). b) Tiazid Tiazid merupakan diuretika dengan potensi sedang sehingga 5-10% natrium yang difiltrasikan dapat diekskresikan. Kerja utama tiazid adalah dengan menghambat reabsorbsi aktif natrium disertai klorida dan air pada tubuli dital. Hambatan ini menghasilkan peningkatan volume urine dan meningkatnya kehilangan natrium, klorida dan kaloum. Beberapa golongan tiazid juga menghambat enzim karbonik anhidrase sehingga mengurangi reabsorbsi ion bikarbonat.. (Leilani F. Yodhian, 2009) Mekanisme Kerja Tiazid bekerja terutama pada tubulus distal untuk mnurunkan reabsorbsi Natrium dengan menghambat kontrasporter Natrium/clorida pada membran lumen. Obat-obat ini memiliki sedikit efek pada tubulus proksimal. Akibatnya, obat-obat ini meningkatkan konsentrasi Natrium dn clorida pada cairan tubulus. Keseimbangan asam-basa biasanya tidak dipengaruhi. (Leilani F. Yodhian, 2009) Efek Samping 1) Hipokalemia. Hipokalemia merupakan persoalan yang paling sering dijumpai pada penggunaan diuretika golongan tiazid dan dapat menyebabkan aritmia ventrikular pada penderita yang menggunakan digitalis. Aktivasi RAAS dengan penurunan voluma intravaskular menyokong kehilangan kalium yang bermakna melalui urin.

Kekurangan kalium dapat diatasi dengan spironolakton, yang

mengganggu efek aldosteron, atau dengan memberikan triamteren (diuretika hemat kalium), yang bekerja untuk mempertahankan kalium. 2) Hiperurikemia. Tiazid meningkatkan asam urat serum dengan menurunkan jumlah asam yang diekskresikan oleh sistem sekresi asam organik. Karena tidak larut, asam urat terkumpul di dalm persendian, dan dapa menimbulkan serangan pirai akut pada individu dengan prediposisi pirai. 3) Hiperkalsemia. Tiazid menghambat sekresi kalsium, kadang-kadang menyebabkan peningkatan kadar kalsium dalam darah 4) Hiperglikemia. Pederita dengan diabetes melitus, yang menggunakan tiazid, dapat mengalami hiperglikemia dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. 5) Penurunan volume. Hal ini dapat menyebabkan hipotensi ortostatik 6) Hipersensitivitas. Penekanan sum-sum tulang, dermatitis, vaskulitis nekrotikans, dan nefritis interstisial (jarang terjadi) 7) Efek-efek samping lainnya adalah Hiperkolestrolemia, GFR (Lau Filtrasi Glomerulus) pada berkurang, impotensiseksual, insipidus. serta Tiazid efek dapat

antidiuretik,

penderita

diabetes

menggantikan hormon antidiuretik untuk mengobati diabetes insipidus yang nefrogenik. (Leilani F. Yodhian, 2009) c) Loop atau High Ceiling Diuretic Bumetanid, Furosemid, torsemid dan asam etakrinat merupakan empat diuretik yang efek utamanya pada pars asendens ansa henle. Dibandingkan dengan semua kelas diuretik lain, obat-obat ini memiliki efektivitas yang tertinggi dalam memobilisasi Natrium dan Klorida dari tubuh. (Mycek, 1997). Mekanisme Kerja loop diuretic menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- dari membran lumen pada pars asendens ansa henle. Karena itu, reabsorbsi Na+/K+/Clmenurun. loop diuretic merupakan obat diuretik yang paling efektif, karena pars asendens bertanggung jawab untuk reabsorbsi 25-30% NaCl

10

yang disaring dan bagian distalnya tidak mampu untuk mengkompensasi kenaikan muatan Na+ (Mycek, 1997). Efek Samping 1) Ototoksisitas, Pendengaran dapat terganggu oleh loop diuretic, terutama bila digunakan bersama-sama dengan antibiotika

aminoglikosida. Kerusakan permanen dapat terjadi bila terapi dilanjutkan. 2) Hiperurisemia, Furosemid dan Asam etakrinat bersaing dengan asam urat untuk sistem sekresi renal dan empedu, jadi menghambat sekresinya dan dengan demikian menyebabkan munculnya serangkaian pirai. 3) Hipovolemia akut, loop diuretic dapat menyebabkan pengurangan volume darah yang cepat dan parah, dengan kemungkinan hipotensi, syok dan aritmia jantung. 4) Kekurangan Kalium, Muatan Natrium yang besar yang terjadi di tubulus renalis rektus menyebabkan pertukaran natrium di tubulus dengan Kalium dari sel, dengan kemungkinan menyebabkan

hipokalemia. Hilangnya kalium dari sel dalam pertukaran dengan Hidrogen menyebabkan alkalosis hipokalemia. Pengurangan kalium dapat dicegah dengan menggunakan diuretik hemat kalium diet dengan tambahan kalium. (Mycek, 1997). d) Diuretika Hemat Kalium Anggota dari kelompok ini mengantagonisasi efek alosteron pada korteks tubulus pengumpul dan pada bagian akhir tubulus distal. Penghambatan dapat terjadi dengan antaginisme farmakologis langsung dari reseptor mineralcoticoid (Spironolactone) atau dengan penghambatan aliran natrium melalui kanal ion pada membran luminal (Triameren, amiloride). Efek hemat kalium yang lebih kecil kadang terjadi pada obat yang menekan renin atau angiotensin II (agen antiinflamasi nonsteroid, penyakit beta, penghambat enzim pengonversi [ACE], penghambat reseptor angiotensin). (Katzung, 2001).

11

Mekanisme Kerja Diuretik Hemat Kalium menurunkan absorbsi Na+ pada tubulus dan duktus pengumpul. Ansorbsi Na+ (dan Sekresi K+) pada tempat tersebut diregulasi oleh aldosterone. Pada tiap lau penghantaran Na+, Laju sekresi K+ di distal secara posisi berkaitan dengan kadar aldosterone. Aldosterone meningkatkan sekresi K+ dengan meningkatkan aktivitas Na+ /K+ ATPase dan aktivitas kanal Na+ dan K+. Absorbsi Na+ pada tubulus pengumpul menyebabkan potensial elektris negatif-lumen, yang menyebabkan peningkatan sekresi pada antagonis aldosterone berpengaruh dalam proses tersebut. (Katzung, 2001). Spironolactone mengikat reseptor mineralcorticoid sitoplasmik dan mencegah translokasi kompleks reseptor menuju nukleus. Obat tersebut dapat menurunkan pembentukan metabolit aktif aldosteron intraseluler dengan penghambatan reduktase-5a. (Katzung, 2001). Efek Samping Efek toksik yang utama dari spironolakton adalah hiperkalemia yang sering terjadi bila obat ini diberikan bersama-sama dengan asupan kalium yang berlebihan. Tetapi efek toksik ini dapat pula terjadi bila dosis yang biasa diberikan bersama dengan tiazid pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berat. (Sulistia Gan Gunawan, 2007). Efek samping lain yang ringan dan reversibel diantaranya ginekomastia, efek samping mirip androgen dan gejala saluran cerna. (Sulistia Gan Gunawan, 2007). e) Diuretika Osmotik Tubulus proksimal dan cabang menurun ansa dengan bebas permeabel air. Suatu agen osmotik yang tidak ditranspor menyebabkan air tertahan pada segmen tersebut dan meningkatkan diuresis air. Satu jenis agen, mannitol terutama digunakan untuk meningkatkan pembuangan toksin dari ginjal yang dibutuhkan pada kasus hemolisis akut atau setelah penggunaan agen radiokontras. (Katzung, 2001).

12

Mekanisme Kerja Diuretik Osmotik membatasi reabsorbsi air terutama pada segmen dari nefron tersebut yang secara bebas permeabel air : tubulus proksimal dan cabang menurun ansa henle. Kehadiran larutan yang tak dapat direabsorpsi tersebut seperti halnya manitol dapat mencegah absorbsi normal air dengan menempatkan kekuatan osmotik yang berlawanan. Sebagai hasilnya, volume urin meningkat pada penggabungan dengan ekskresi mannitol. Peningkatan yang cukup besar pada laju aliran urine menurunkan waktu kontak antara cairan dan epitel tubulus, sehingga menurunkan reabsorpsi Na+ .Bagaimanapun, natriuresis yang dihasilkan lebih kecil daripada diuresi air, yang akhirnya membawa pada hipernatremia. (Katzung, 2001). Efek Samping Manitol didistribusi ke cairan ekstra sel, pleh karena itu pemberian larutan mannitol hipertonis akan meningkatkan osmolaritas cairan ekstrasel, sehingga dapat menambah jumlah cairan ekstrasel. Hal ini tentu berbahaya bagi pasien payah jantung. Kadang-kadang mannitol juga menimbulkan reaksi hipersensitiv. (Sulistia Gan Gunawan, 2007). Kontra Indikasi Manitol dikontraindikasikan pada penyakit ginjal dengan annuria atau pada keadaan oliguria yang tidak responsif dengan dosis percobaan; kongesti atau edema yang berat, dehidrasi hebat dan pendarahan intrakranial kecuali bila akan dilakukan kraniotomi. infus mannitol harus segera dihentikan bila terdapat tanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti paru. (Sulistia Gan Gunawan, 2007). Manitol hanya dapat diberikan secara intra vena, tidak diabsorbsi bila diberikan secara oral. (Mycek, 1997) Dosis infus intra vena yaitu 1,5-29 /kg dalam 30-60 Menit (larutan 15-25%) . (Tan Hoan Tjay, 2007).

13

BAB IV METODOLOGI PERCOBAAN

4.1.

Alat a) Kandang Metabolisme b) Oral Sonde c) Spuit 1 ml d) Spuit 5 ml e) Stopwatch f) Timbangan hewan digital g) Vial

4.2.

Bahan a) Aquadest b) Ekstrak Daun Keluwih 5%, dosis 40 mg/kg BB c) Furosemid 1% dosis 3,2 mg/kg BB d) Suspensi CMC 0,5%

4.3.

Hewan Percobaan Tikus galur Wistar usia 4 bulan, berat 180-220 gram.

4.4.

Prosedur Percobaan

4.4.1. Perhitungan Dosis a) Perhitungan Dosis untuk Kontrol Kontrol yang digunakan adalah suspensi CMC 0,5% dosis 1% BB 1. Tikus I (Berat Badan = 138,3 g) Suspensi CMC yang diambil = 2. Tikus II (Berat Badan = 136,5 g) Suspensi CMC yang diambil = = 1,3 ml = 1,3 ml

14

b) Perhitungan Dosis Ekstrak Daun Keluwih 5%, dosis 40 mg/kg BB Konsetrasi Ekstrak Daun Keluwih 5 % = 5 g / 100 ml = 5000 mg / 100 ml = 50 mg / ml Dosis 40 mg / kg BB 1. Tikus III (Berat Badan = 144,1 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih = 2. Tikus IV (Berat Badan = 115,3 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih = 3. Tikus V (Berat Badan = 152,5 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih =

= 40 mg / 1000 g BB

= 0,1 ml

= 0,09 ml

= 0,12 ml

c) Perhitungan Dosis Pembanding Furosemid 1%, dosis 3,2 mg/kg BB Konsetrasi Furosemid1 % = 1 g / 100 ml = 1000 mg / 100 ml = 10 mg / ml Dosis 3,2 mg / kg BB 1. Tikus III (Berat Badan = 128,9 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih = 2. Tikus IV (Berat Badan = 167,3 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih = 3. Tikus V (Berat Badan = 99,9 g) Diambil Ekstrak Daun Keluwih = 4.4.2. Pembuatan Larutan a) Pembuatan Suspensi CMC 0,5 % Ditimbang 0,5 gram CMC kemudian tambahkan air panas hingga 100 ml, aduk sampai homogen. Diberikan secara peroral pada hewan uji sebagai larutan kontrol

= 3,2 mg / 1000 g BB

= 0,04 ml

= 0,05 ml

= 0,03 ml

15

b) Pembuatan ekstrak daun keluwih 5% Ditimbang 5 gram Ekstrak daun Keluwih kemudian tambahkan cairan penyari hingga 100 ml, aduk sampai homogen. Diberikan secara peroral pada hewan uji sebagai larutan control. c) Pembuatan Larutan Furosemid 1% Larutan Furosemid yang digunakan adalah larutan injeksi furosemid 1%. 4.4.3. Prosedur Kerja a) Tikus dipuasakan 1 malam b) Ditimbang dan dibagi menjadi 3 kelompok : 1. : Kontrol, diberikan CMC 0,5 % 2. : Uji, diberikan Ekstrak Daun Keluwih 5%, dosis 40 mg/kg BB 3. : Pembanding, diberikan furosemid 1% dosis 3,2 mg/kg BB c) Diberi loading aquadest 10 ml/kg BB d) Dibiarkan selama 3 jam dan ditampung urinenya untuk diukur volumenya. e) Dibuat grafik Volume Urin VS Waktu

16

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Hasil

5.1.1. Tabel Hasil Pengamatan Terlampir 5.1.2. Grafik Hasil Pengamatan Terlampir 5.2. Pembahasan Percobaan kali ini yaitu tentang sediaan diuretikum. Adapun sediaan yang digunakan yaitu Suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol, Ekstrak daun keluwih 5% sebagai larutan uji, dan Furosemid 1% sebagai pembanding yang masingmasing diberikan secara peroral. Diuretik merupakan sediaan yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Fungsi utama diuretic adalah untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan sehingga cairan ekstrasel menjadi normal. Pada tikus yang diberi suspensi CMC 0,5 % secara per oral mengahasilkan pengeluaran urin yang paling sedikit yaitu sejumlah 0,02 ml pada menit ke 60, sejumlah 0,2 ml pada menit ke 120 dan 0,3 ml pada menit ke 180. jumlah ini merupakan jumlah yang sangat kecil, hal ini menunjukkan bahwa suspensi CMC 0,5 % tidak memiliki efek diuretik Hal ini disebabkan karena pada suspensi CMC 0,5 % tidak terkandung zat aktif yang dapat meningkatkan volume urin. Pada Tikus yang diberi Ekstrak daun keluwih 5% secara per oral menghasilkan pengeluaran urin sejumlah 0,3 ml pada menit ke 60, meningkat pada menit ke 120 sejumlah 0,66 ml dan pada menit ke 180 sejumlah 0,7 ml. Mengalami kenaikan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (suspensi CMC 0,5%), hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun keluwih dapat meningkatkan volume urin yang disebabkan karena adanya kandungan zat aktif yang berperan dalam meningkatkan volume urin (diuresis). 17

Pada Tikus yang diberi furosemid 1% secara per oral menghasilkan pengeluaran urin sejumlah 0,72 ml pada menit ke 60, dan tidak mengeluarkan urin pada menit ke 120 dan 180. Furosemid golongan Loop Diuretic yang bekerja pada lengkung Henle. Golongan obat-obat ini memiliki efektivitas yang tertinggi dalam memobilisasi Na+ dan Cl- dari tubuh. Loop Diuretic menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- dari membran lumen pada pars ascendens ansa Henle sehingga reabsorpsi Na+, K+, dan Cl- menurun. Loop Diuretic merupakan obat diuretik yang paling efektif , karena pars ascendens bertanggung jawab untuk reabsorpsi 25-30% NaCl yang disaring dan di bagian distalnya tidak mampu mengkompensasi kenaikan Na+ sehingga urin yang keluar jumlahnya banyak. Pada data secara kumulatif, pemberian suspensi CMC 0,5% memberikan pengeluaran urin sejumlah 0,17 ml, pemberian ekstrak daun keluwih 5% memberikan pengeluaran urin sejumlah 0,9 ml, pemberian furosemid 1% memberikan pengeluaran urin sejumlah 0,29 ml. Hal ini menunjukkan bahwa ektrak daun keluwih memiliki efek diuresis yang paling baik dibandingkan furosemid 1% dan CMC 0,5%. Daun Keluwih mengandung Kaempferol dan quercetin.

Kaempferol merupakan anti oksidan, anti kanker dan neuroprotector. Kaempferol pada dosis tinggi relatif toxic. Kaempferol dan quercetin dapat menghambat resorpsi, sehingga dapat mencegah atau mengurangi penurunan densitas tulang. Studi menunjukkan bahwa orang yang rutin mengkonsumsi quercetin, sebuah flavonoida, dapat mencegah resiko terjadinya asma, penyakit jantung, diabetes tipe 2, kanker paru-paru dan stroke. (Ong Hean Chooi, 2008). Daun Keluwih dapat digunakan untuk mengobati herpes, dan beberapa penyakit kulit dan dapat mengatasi pembengkakan limpa. Daun yang ditumbuk dapat mengobati sakit kepala. ekstrak atau air rebusan daun keluwih dapat mengobati asma dan darah tinggi, mengunyah dan menelan daun yang masih muda dapat mengatasi keracunan makanan. (Ong Hean Chooi, 2008).

18

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan

6.1.1. Pemberian obat dan ekstrak daun keluwih memberikan efek diuretik pada hewan percobaan ditandai dengan terjadinya diuresis pada hewan percobaan 6.1.2. Pada pemberian Furosemid sebagai pembanding menunjukkan aktivitas sebagai diuretik yang baik. 6.1.3. Pada pemberian ekstrak daun keluwih menunjukkan aktivitas yang baik sebagai diuretik, hal ini ditunjukkan melalui volume urin yang dikeluarkan 6.1.4. Pemberian ekstrak daun keluwih memberikan efek diuresis yang lebih baik dibandingkan furosemid.

6.2.Saran 6.2.1. Pada percobaan selanjutnya disarankan bagi praktikan untuk menggunakan ekstrak tumbuhan lain seperti ekstrak daun kumis kucing untuk uji aktivitas diuretika sebagai perbandingan dengan ekstrak daun keluwih. 6.2.2. Pada percobaan selanjutnya disarankan praktikan untuk menggunakan obat lain sebagai pembanding yang memiliki aktivitas diuretik seperti spironolakton dan lainnya. 6.2.3. Pada percobaan selanjutnya disarankan menggunakan hewan lain seperti kelinci agar lebih efektif dalam melakukan percobaan.

19