Anda di halaman 1dari 4

OTITIS MEDIA

Definisi Otitis Media Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah. Infeksi ini banyak terjadi pada bayi dan anak-anak. Otitis media mempunyai puncak insiden pada anak usia 6 bulan sampai 3 tahun, diduga penyebabnya adalah obstruksi tuba Eustachius, dan sebab sekunder yaitu menurunnya imunokompetensi pada anak (Bluestone & Klein, 1988). Disfungsi tuba Eustachius berkaitan dengan adanya infeksi saluran napas atas dan alergi. Beberapa anak yang memiliki kecenderungan otitis akan mengalami 3 - 4 kali episode otitis pertahun atau otitis media yang terus menerus selama > 3 bulan (Otitis media kronik) (Korzyrskyj & Lacy, 2001). Tanda, Diagnosis Dan Penyebab Otitis media akut ditandai dengan adanya peradangan lokal, otalgia, iritabilitas, serta demam. Otitis media akut dapat menyebabkan nyeri, hilangnya pendengaran, demam, leukositosis. Manifestasi otitis media pada anak-anak kurang dari 3 tahun seringkali bersifat non-spesifik seperti iritabilitas, demam, terbangun pada malam hari, nafsu makan turun, pilek dan tanda rhinitis, konjungtivitis (Blanchard, 2001). Otitis media didiagnosis dengan melihat membran timpani menggunakan otoscope. Tes diagnostik lain adalah dengan mengukur kelenturan membran timpani dengan Tympanometer. Dari tes ini akan tergambarkan ada tidaknya akumulasi cairan di telinga bagian tengah (ICSI, 2004). Pada kebanyakan kasus, otitis media disebabkan oleh virus, namun sulit dibedakan etiologi antara virus atau bakteri berdasarkan presentasi klinik maupun pemeriksaan menggunakan otoskop saja. Otitis media akut biasanya diperparah oleh infeksi pernapasan atas yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan edema pada tuba eustachius. Hal ini berakibat pada akumulasi cairan dan mukus yang kemudian terinfeksi oleh bakteri. Patogen yang paling umum menginfeksi pada anak adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae,dan Moraxella catarrhalis (ICSI, 2004).

Penularan Dan Faktor Risiko Oleh karena sebagian besar otitis media didahului oleh infeksi pernapasan atas, maka metode penularan adalah sama seperti pada infeksi pernapasan tersebut. Faktor risiko untuk mengalami otitis media semakin tinggi pada anak dengan otitis-prone yang mengalami infeksi pernapasan atas (DepKes, 2005).

Penatalaksanaan Terapi Tujuan terapi yang ingin dicapai adalah : a. Mengurangi nyeri b. Menghilangkan infeksi c. Mencegah komplikasi (Dipiro, et. al., 2008) Terapi Farmakologi Terapi otitis media akut meliputi pemberian antibiotika oral dan tetes bila disertai pengeluaran sekret. Semua obat harus harus dihitung dosisnya hingga pasien umur 12 tahun. Tidak dianjurkan untuk memberikan dosis obat dewasa pada anak-anak. Secara umum tahapan terapi otitis media akut digambarkan sebagai berikut : a. Terapi antibiotik oral 1. Jika ada keraguan mengenai diagnosis apakah pasien menderita otitis media akut atau tidak, pasien tidak perlu diberikan antibiotik. Pada 70% kasus otitis media sembuh dengan hanya pengobatan suportif

(pendukung). 2. Terapi antibiotik untuk otitis media akut masih kontroversial. Untuk anakanak umur lebih dari 2 tahun, terapi rasa sakit secara agresif, dan tetap beri banyak minum. Jika tidak membaik setelah 2 hari, berikan terapi antibiotik dengan ketentuan : a) Amoksisilin 40 mg-50 mg/kg per hari, per oral dalam dosis bagi 3 kali sehari untuk 5-10 hari. Dosis maksimum 1500 mg/hari b) Amoksisilin klavulanat 40 mg/kg/ hari dalam dosis bagi 2 kali sehari untuk 5-10 hari. Dosis berdasarkan dosis amoksisilin maksimum 1500 mg/hari

3. Jika tidak ada perbaikan gejala setelah 48 jam dengan terapi inisial antibiotik, dapat diberikan : a) Amoksisilin dosis tinggi 80 mg/kg/hari, per oral dosis bagi 3 kali sehari untuk 5-10 hari. Dosis maksimum 1500 mg/hari b) Amoksisilin-kalvulanat 80 mg/kg/hari dalam dosis bagi 2 kali sehari untuk 5-10 hari. Dosis berdasarkan dosis amoksisilin maksimum 1500 mg/hari. c) Trimetoprim/sulfametoksazol 6-12 mg/kg/hari, per oral dalam dosis bagi 2 kali sehari untuk 10 hari. Maksimum 160 mg trimetoprim/hari. 4. Untuk pasien dengan alergi penisilin a) Trimetoprim/sulfametoksazol suspense, 6-12 mg/kg/hari, per oral dalam dosis bag i 2 kali sehari untuk 10 hari. Maksimum 160 mg trimetoprim/dosis atau b) Azitromisin 10 mg/kg/hari sekali sehari pada hari pertama, kemudian 5 mg/kg/hari sekali sehari untuk 4 hari. 5. Penggunaan antihistamin dan dekongestan tidak memberikan bukti yang baik dalam perbaikan (Anonim, 2012).

Anak-anak (umur 6 bulan sampai 2 tahun) dengan resiko rendah, tanpa penyakit berat dan diagnosis yang belum pasti seharusnya diterapi dengan analgetik oral dan diobservasi selama 48-72 jam. Jika gejala tidak teratasi atau makin parah, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang dan/atau diberikan antibiotik. Penyakit berat diartikan dengan demam tinggi 39 derajat celcius atau lebih lebih dari 24 jam, dan otalgia sedang hingga berat. Ketika terapi antibiotik diperlukan, berikan amoksisilin dosis inisial. Alasan penggunaan amoksisilin adalah karena keamanan, efektifitas, ditoleransi baik dan harga terjangkau.

Untuk pasien dengan sekret telinga (otorrhea), maka disarankan untuk menambahkan terapi tetes telinga ciprofloxacin atau ofloxacin. Pilihan terapi untuk otitis media akut yang persisten yaitu otitis yang menetap 6 hari setelah

menggunakan antibiotika, adalah memulai kembali antibiotika dengan memilih antibiotika yang berbeda dengan terapi pertama (DepKes, 2005). Profilaksis bagi pasien dengan riwayat otitis media ulangan menggunakan amoksisilin 20mg/kg satu kali sehari selama 2-6 bulan berhasil mengurang iinsiden otitis media sebesar 40-50% (Children Hospital Medical Centre, 2004).

Terapi Penunjang Terapi penunjang dengan analgesik dan antipiretik memberikan

kenyamanan pada pasien otitis media khususnya pada anak. Terapi penunjang lain dengan menggunakan dekongestan, antihistamin, dan kortikosteroid pada otitis media akut tidak direkomendasikan, mengingat tidak memberikan keuntungan namun justeru meningkatkan risiko efek samping (Flynn, Griffin, & Schultz, 2004). Dekongestan dan antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotika tunggal. Penggunaan Prednisone 2x5mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika efektif menghentikan efusi (Butler & Van der Voort, 2005).