Anda di halaman 1dari 18

HUBUNGAN ANTARA INFLAMASI, ADIPONEKTIN, DAN STRES OKSIDATIF DALAM SINDROM METABOLIK

Pendahuluan Peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak terhadap perubahan gaya hidup (aktifitas rendah, pola makan tinggi energi dan rendah serat). Pola makan sebagai penyebab utama obesitas. Manusia modern cenderung sibuk dengan berbagai aktifitas kehidupannya hingga tak sempat lagi mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Makanan instan menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat yang terpapar dengan kehidupan modern. Makanan tersebut tidak mengandung komposisi zat gizi sebagaimana yang dibutuhkan tubuh. Terlebih lagi makanan-makanan instant sangat miskin serat. Padahal, serat berfungsi untuk memperlambat pencernaan, mengenyangkan perut dan

memperlambat rasa lapar1. Diet tinggi serat telah mendapat perhatian besar dalam beberapa tahun terakhir disebabkan karena hubungannya dengan peningkatan insiden beberapa gangguan metabolik seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung dan kanker usus. Biasanya intake energi setiap hari mengandung 30% lemak, akan tetapi tidak boleh lebih dari 10% dari kalori ini bersumber dari lemak jenuh (hewani). Energi selebihnya seharusnya didapatkan dari lemak polyunsaturated atau monounsaturated2. Hasil Riskesdas tahun 2007 di Indonesia menunjukkan berdasarkan kriteria WHO prevalensi masyarakat yang kurang mengonsumsi buah sayur sebesar (93,6%) dan konsumsi buah sayur proporsinya semakin rendah dengan semakin rendahnya sosial ekonomi.

Data Susenas 2004 menunjukkan penduduk umur 15 tahun ke atas 85% kurang beraktivitas fisik dan hanya 6% penduduk yang cukup beraktivitas fisik. Penduduk wanita yang kurang beraktivitas fisik 87%, lebih tinggi daripada

penduduk laki-laki. Sedangkan penduduk di perkotaan yang kurang beraktifitas fisik adalah sebanyak 83%, lebih tinggi daripada penduduk di pedesaan (BPS, 2005). Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi kurang aktifitas fisik sebesar 48,2% dan terdapat kecenderungan prevalensi kurang aktifitas fisik semakin tinggi dengan meningkatnya status ekonomi1. Sindrom Metabolik (SM) merupakan pengelompokan dari kelainan fisiologis dan anthropometric serta dikenali sebagai faktor resiko yang signifikan untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus tipe II. The Third National Health and Nutrition Examination Survay (NHANES 1988-1994) melaporkan bahwa lebih dari 20% populasi dewasa di Amerika Serikat menderita SM. Laporan terbaru NHANES (2003-2006) bahwa tingkat prevalensi SM adalah 35,1% pada pria dan 32,6% pada wanita. Sementara di Taiwan, laporan dari the Nutrition and Health Survey in Taiwan (NAHSIT) observasi yang dilakukan pada tahun 1993-1996 menyatakan bahwa tingkat prevalensi SM adalah 13,6% pada pria dan 26,4% pada wanita. Laporan terbaru NAHSIT (2005-2008) melaporkan bahwa tingkat prevalensi SM mengalami peningkatan menjadi 25,5% pada pria dan 31,5% pada wanita3. Sedangkan di Indonesia menurut Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) pada tahun 2006 tingkat prevalensi SM 13,3% dan tidak menutup kemungkinan prevalensi ini akan terus meningkat4. Petanda terjadinya SM, termasuk resistensi insulin, diabetes tipe II, hipertensi, dyslipidemia, dan obesitas visceral, dapat meningkatkan stress

oksidatif dan mengurangi pertahanan antioksidan. Peningkatan stress oksidatif berkontribusi pada gangguan fungsi vascular, inflamasi, thrombosis, dan atherosclerosis yang pada akhirnya menimbulkan penyakit-penyakit pembuluh darah3. Status proinflamasi dapat menyebabkan gejala klinis dan manifestasi biokimia SM. Dalam studi klinis, tingkat dari high sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) dan interleukin-6 (IL-6) biasanya digunakan sebagai penanda inflamasi yang berkontribusi pada tahap awal penyakit arteri koronaria. hs-CRP merupakan produk inflamasi hati (hepatic inflammatory) dan dibawah regulasi IL-6. IL-6 adalah sitokin messenger (sitokin proinflamasi) yang disekresikan oleh makrofag dan sel-sel otot polos pada lesi atherosclerosis. Adiponektin adalah penanda (marker) anti-inflamasi yang berpotensi antiatherogenik dan disekresikan dalam kelimpahan oleh adiposit pada subyek normal. Studi klinis terbaru menunjukan bahwa tingkat inflamasi yang rendah mungkin memainkan peran penting dalam patobiologi sindrom metabolic. Dengan demikian, perlu mengetahuai apakah tingkat penanda inflamasi dan adiponektin berhubungan dengan peningkatan resiko SM. Selain itu, dilakukan studi tentang hubungan status inflamasi dan adiponektin dengan stress oksidatif. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penanda inflamasi (hs-CRP dan IL-6), adiponektin, stress oksidatif, dan komponen dari SM. Juga dilakukan penghitungan odds ratio dari SM berdasarkan tingkat penanda inflamasi dan adiponektin3.

Sindroma Metabolik Berdasarkan the National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III), Sindrom Metabolik adalah seseorang dengan memiliki sedikitnya 3 kriteria berikut: 1). Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria > 102 cm); 2). Peningkatan kadar trigliserida darah ( 150 mg/dL, atau 1,69 mmol/ L); 3). Penurunan kadar kolesterol HDL (< 40 mg/dL atau < 1,03 mmol/ L pada pria dan pada wanita < 50 mg/dL atau <1,29 mmol/ L); 4). Peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik 130 mmHg, tekanan darah diastolik 85 mmHg atau sedang memakai obat anti hipertensi); 5). Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa 110 mg/dL, atau 6,10 mmol/ L atau sedang memakai obat anti diabetes) ( Adult Treatment Panel III, 2001)5. Selain kriteria berdasarkan NCEP-ATP III diatas masih ada beberapa kriteria untuk definisi Sindrom Metabolik antara lain; kriteria World Health Organization (WHO), kriteria International Diabetes Federation (IDF), The American Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute (AHA/NHLBI), saat ini kriteria NCEP-ATP III telah banyak diterima secara luas. Reaven mengemukakan tentang the role of insulin resistance in human disease yang meliputi tiga topik utama yaitu (i) adanya sejumlah tanda-tanda dan gejala sehingga muncul sindroma yang disebut sindroma X. Tanda dan gejala ini termasuk resistensi insulin, intoleransi glukosa, hiperinsulinemia, peningkatan trigliserida, very low density lipoprotein (VLDL), penurunan kolesterol high density lipoprotein (HDL), dan hipertensi; (ii) sindroma ini umumnya meliputi resistensi insulin dan komponen lain yang berhubungan dengan resistensi insulin;

(iii) dan dapat disimpulkan resistensi terhadap insulin yang menstimulasi asupan glukosa berperan penting pada prediksi kejadian penyakit jantung koroner (PJK) 6. Konsep dari Sindrom Metabolik telah ada sejak 80 tahun yang lalu, pada tahun 1920, Kylin, seorang dokter Swedia, merupakan orang pertama yang menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan resiko penyakit kardiovaskuler aterosklerosis yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout (Eckel, dkk, 2005). Pada tahun 1988, Reaven menunjukkan berbagai faktor resiko: dislipidemi, hiperglikemi dan hipertensi secara bersamaan dikenal sebagai multiple risk factor untuk penyakit kardiovaskuler dan disebut dengan sindrom X. Selanjutnya sindrom X ini dikenal dengan sindrom resistensi insulin. Dan kemudian NCEP-ATP III menamakan dengan istilah Sindrom Metabolik. Konsep Sindrom Metabolik ini telah banyak diterima secara Internasional6. Inflamasi, Adiponektin, dan Stres Oksidatif Sindroma metabolik muncul sebagai akibat dari interaksi antara kerentanan genetic dan pola hidup. Definisi untuk SM berbedabeda dan masih diperdebatkan, tetapi semua setuju bahwa obesitas, resistensi insulin, dislipidemia dan hipertensi merupakan komponen SM. Komponen utama SM adalah obesitas. Obesitas merupakan suatu peningkatan massa jaringan lemak tubuh yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi. Sel adiposit tidak hanya berperan pasif sebagai tempat metabolisme dan penyimpanan energi dalam bentuk trigliserida tetapi juga berperan sebagai kelenjar endokrin yang mensekresikan berbagai sitokin dan neuropeptida yang berperan dalam

metabolisme. Pada keadaan obesitas terjadi gangguan keseimbangan adipositokin yang dilepaskan. Sel adiposit berusaha mempertahankan keseimbangan energi dengan melepaskan interleukin 6 (IL-6), tumor necorsis factor - (TNF-) dan monocyte chemotatic protein-1 (MCP-1). Pelepasan sitokin tersebut menandai awal inflamasi. Obesitas dapat dikatakan merupakan bentuk inflamasi kronik. Interleukin 6 dan TNF- dapat memicu pembentukan Creactiveprotein (CRP) di hati4.
Tabel 1. Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik 7.

Protein ini jika diproduksi terus menerus dapat memperburuk kondisi inflamasi melalui aktivasi kronik terhadap sel endotel, akibatnya terjadi disfungsi endotel. Proses lipolisis yang tinggi menyebabkan jumlah stress oksidatif yang dihasilkan juga sangat tinggi. Terjadi peningkatan jumlah reactive oxygen species (ROS) akibat peningkatan aktivitas enzim oksidase dan disregulasi hormon adipositas. Peningkatan stress oksidatif menyebabkan gangguan metabolisme, baik asupan glukosa pada otot maupun pada jaringan adipose, penurunan sekresi insulin dan kerusakan sel sehingga terjadi disfungsi endotel, aterosklerosis sampai akhirnya terjadi penyakit vaskuler. Tubuh kita sebenarnya memiliki mekanisme defensive terhadap stress oksidatif. Superoksida dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx) dan katalase merupakan enzim yang dapat mendegradasi ROS. Superoksida dismutase mengubah superoksida menjadi hydrogen peroksida (H2O2) dan molekul oksigen (O2). Penurunan aktivitas SOD merupakan penanda penting stress oksidatif. Penurunan SOD meningkatkan risiko penyakit vaskuler. Perkembangan SM hingga menyebabkan penyakit vaskuler dan T2DM terjadi melalui beberapa tahap. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa disfungsi endotel dan kondisi inflamasi merupakan konektor utama terhadap kejadian penyakit vaskuler. Lesi aterosklerotik dapat terjadi akibat induksi dari interaksi antara kondisi stress oksidatif, inflamasi, dan disfungsi endotel4. Kira-kira 80% pasien dengan T2DM menderita obesitas, dan obesitas dihubungkan dengan resistensi insulin. Jaringan adipose menginduksi resistensi insulin melalui berbagai mekanisme. Adiposa dapat melepaskan asam lemak bebas yang dapat berpengaruh pada proses pembentukan sinyal insulin melalui mekanisme stimulasi terhadap isoform protein kinase (PKC). Asam lemak bebas

juga mempunyai kemampuan mengganggu pelepasan glukosa dari hepar. Obesitas viseral atau dikenal dengan obesitas sentral merupakan contoh penimbunan lemak tubuh yang berbahaya karena lipolisis di daerah ini sangat efisien dan lebih resisten terhadap efek insulin dibandingkan adiposit didaerah lain. Jaringan adiposa juga membuat dan melepaskan beberapa adipositokin. Adipositokin yang paling penting adalah TNF-, yang berperan menginduksi resistensi insulin melalui glucose transporter 4 (GLUT 4) dan meningkatkan pelepasan asam lemak bebas. Adiponektin yaitu adipositokin yang baru ditemukan dan berperan mempengaruhi sensitivitas insulin. Penurunan kadar adiponektin pada T2DM dan obesitas menunjukkan adanya keterkaitan antara adiponektin, obesitas, dan T2DM. Hal yang lebih mendukung hipotesis ini adalah bahwa tikus yang kekurangan adiponektin ditemukan menunjukkan resistensi terhadap insulin dan gejala diabetes, sedangkan pemberian adiponektin menyebabkan efek penurunan glukosa dan perbaikan keadaan resistensi insulin7. Adiponektin merupakan plasma protein yang spesifik dari jaringan adipose yang berperan penting untuk mengendalikan homeostasis energi, metabolisme glukosa dan lemak, serta merespon antiinflamasi pada sistem vaskular. Molekul tersebut dilibatkan dalam perkembangan penyakit jantung aterosklerosis. Rendahnya kadar adiponektin dikaitkan dengan penyakit DM tipe 2, infark miokard, dan stroke iskemik. Banyak data dari penelitian hewan maupun manusia menunjukkan bahwa adipositokin ini memiliki sifat insulin-sensitizing, anti aterogenik dan anti inflamasi yang berperan dalam pencegahan progresifitas penyakit diabetes8.

Tingginya kadar glukosa ekstraseluler akan mencetuskan peningkatan produksi ROS (Reactive Oxygen Species) yang pada akhirnya akan mencetuskan kaskade proinflamasi dan hal tersebut menjadi umpan balik terhadap adiposit dan menyebabkan penurunan sensitivitas insulin. Mediator proinflamasi dari jaringan adipose berkontribusi secara langsung terhadap kerusakan vaskuler, resistensi insulin, dan aterogenesis. Yang termasuk adipositokin atau adipokin proinflamasi ini adalah TNF- (Tumor Necrosis Factor - ), IL-6 (Interleukin-6), leptin, PAI-1 (Plasminogen Activator Inhibitor-1), angiotensinogen, resistin, dan CRP (CReactive protein). Di sisi lain, NO (nitric oxide) dan adiponektin memberikan perlindungan terhadap inflamasi dan resistensi insulin yang terkait dengan obesitas. Adiponektin pada konsentrasi yang fisiologis memaksimalisasi efek insulin meskipun konsentrasi insulin rendah, menunjukkan bahwa fungsi adiponektin cukup efektif meningkatkan sensitifitas insulin pada hati. Rendahnya kadar adiponektin memainkan peranan penting terhadap berkembangnya resistensi insulin dan menyebabkan terjadinya disfungsi endotel. Adiponektin menghambat ekspresi molekul-molekul adesi endotel yang dipengaruhi TNF- pada sel endothelial dan adiponektin menurunkan transformasi aterogenik dari makrofag ke sel busa dengan menekan ekspresi reseptor scavenger. Mekanisme yang potensial dari adiponektin diantaranya berperan menghambat proliferasi sel otot polos, adesi monosit ke endotel dan pengambilan LDL oleh makrofag8.

Perhatikan gambar patofisiologi Sindrom Metabolik 7 .

Penelitian Chen, dkk3.

Penelitian

yang

berjudul

Relationships

between

Inflammation,

Adiponectin, and Oxidative Strees in Metabolic Syndrome, dilakukan oleh kerjasama fakultas-fakultas kedokteran dari berbagai universitas di Taiwan tahun 2011, menggunakan disain case-control, kelompok kasus berjumlah 72 orang partisipan dan kelompok control berjumlah 105 orang, melibatkan subjek yang direkrut dari Departemen Kedokteran Keluarga dan Masyarakat Chung Shan Medical University Hospital di Taiwan. Kriteria untuk SM pada orang dewasa berdasarkan pedoman dari Bureau of Health Promotion, Departement of Health
10

Taiwan (2007). Subjek dianggap memiliki SM bila didapati tiga dari lima karakteristik berikut: (1) obesitas abdominal (lingkar pinggang 90 cm pada pria dan 80 cm pada wanita), (2) gangguan glukosa puasa ( 5,6 mmol/L), (3) hipertrigliseridemia ( 1,7 mmol/L), (4) low high-density lipoprotein cholesterol (HDL-C < 1,0 mmol/L pada pria dan < 1,3 mmol/L pada wanita) dan (5) peningkatan tekanan darah ( sistolik 130 mmHg dan diastolic 85 mmHg). (3) Karakteristik subjek selengkapnya dapat dilihat pada table 1.

Hasil Penelitian Tabel 1 menunjukkan data demografi dan karakteristik kesehatan subyek. Subyek pada kelompok kasus memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi untuk tekanan darah sistolik, diastolic, indek massa tubuh, lingkar pinggang, ratio pinggang ke pinggul, parameter hematologi ( glukosa puasa, TG, LDL-C, dan

11

TC/HDL-C ), dan tingkat HDL-C lebih rendah dibandingkan dengan kelompok control. Konsentrasi petanda inflamasi, adiponektin, dan stress oksidatif

ditunjukkan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Subyek pada kelompok kasus memiliki tingkat signifikasi yang jauh lebih tinggi dari hs-CRP (p = 0,01) dan IL6 (p = 0,03), dan tingkat adiponektin yang lebih rendah (p < 0,01 ) dibandingkan kelompok control. Dihubungkan dengan aktivitas enzim-enzim antioksidan , subyek dengan SM memiliki tingkat signifikasi yang lebih rendah CAT(p = 0,02), SOD (p<0,01), dan GPx (p<0,01) dibandingkan subyek dalam kelompok control. Namun, tingkat MDA tidak secara signifikan berbeda antara dua kelompok. Korelasi antara tingkat petanda inflamasi, adiponektin, dan komponenkomponen SM ditunjukkan pada table 2. Tingkat hs-CRP secara signifikan berkorelasi dengan nilai-nilai tekanan darah diastolic (r = 0,26, p<0,01), lingkar pinggang (r = 0,47, p<0,01), glukosa puasa (r = 0,27, p<0,01), TG (r = 0,20, p = 0,01), dan HDL-C (r = -0,26, p = 0,01). Tingkat IL-6 signifikan berkorelasi dengan tekanan darah diastolic (r = 0,20, p=0,01), lingkar pinggang (r = 0,33, p < 0,01), dan HDL (r = - 0,22, p<0,01). Tingkat adiponektin signifikan berkorelasi dengan tekanan darah diastolic (r = - 0,28, p<0,01), lingkar pinggang (r = -0,30, p < 0,01), glukosa puasa (r = -0,25, p<0,01), TG (r = -0,32, p<0,01), HDL-C (r = 0,41, p<0,01), hs-CRP (r = -0,24, p<0,01), dan IL-6 (r = -0,11, p=0,06).

12

Figure 1. Concentrations of inflammatory makers (A, B) and adiponectin (C). *Values were significantly different between the case and control groups; p,0.05. hs-CRP, high sensitivity C-reactive protein; IL-6, interleukin-6. doi:10.1371/journal.pone.0045693.g001

13

Figure 2. Concentrations of lipid peroxidation marker (A) and antioxidant enzymes activities (B to D). *Values were significantly different between the case and control groups; p,0.05. CAT, catalase activity; GPx, glutathione peroxidase; MDA, malondialdehyde; SOD, superoxide dismutase. doi:10.1371/journal.pone.0045693.g002 Korelasi antara tingkat petanda inflamasi, adiponektin, stress oksidatif, dan aktivitas enzim-enzim antioksidan disajikan dalam Tabel 3. Tingkat hs-CRP secara signifikan berkorelasi dengan tingkat MDA (r = 0,13, p=0,01) dan dengan aktivitas CAT (r = -0,10, p=0,07), SOD (r = -0,16, p=0,04), dan GPx (r = - 0,15, p=0,04). Tingkat IL-6 secara signifikan berkorelasi dengan aktivitas SOD (r = -0,17, p=0,04) dan sedikit berkorelasi dengan aktivitas GPx (r = -0,10, p=0,08). Tingkat adiponektin secarasignifikan berkorelasi dengan aktivitas GPx (r = 0,12, p<0,03). Perhitungan ORs dari SM berdasarkan tingkat petanda inflamasi dan adiponektin ditunjukkan pada Tabel 4. Subyek dengan tingkat hs-CRP lebih tinggi (1,00 mg/L) dan IL-6 (1,50 pg/mL) atau tingkat adiponektin yang lebih rendah (<7,90 g/mL) secara signifikan memiliki resiko besar SM setelah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, dan tingkat trigliserida.

14

Penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat petanda inflamasi, adiponektin, dan stres oksidatif dalam SM. Subyek dengan SM memiliki status inflamasi yang lebih tinggi (Gambar 1). Berbagai fitur dari sindrom metabolik berhubungan dengan respon inflamasi sistemik. Tingkat petanda inflamasi (hs- CRP dan IL-6) secara signifikan

15

berkorelasi positif dengan komponen SM, sebaliknya, tingkat adiponektin berkorelasi terbalik dengan komponen SM (Tabel 2). Perhitungan ORs SM sesuai dengan tingkat petanda inflamasi dan adiponektin (Tabel 4). Tingkat hs-CRP (1,0 mg/L) atau IL-6 (1,5 pg / mL) digunakan sebagai titik cut-off untuk menentukan status inflamasi lebih tinggi, yang merupakan faktor risiko rata-rata untuk penyakit arteri coroner. Tingkat plasma adiponektin pada manusia secara substansial tinggi, rata-rata mencapai 5 sampai 10 g / mL. Dalam penelitian ini, setelah menghitung ORs SM pada persentil 50 dengan tingkat adiponektin (5,80 g/mL), tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat adiponektin dan risiko SM. Akibatnya, pada persentil 75 tingkat adiponektin (7,90 g / mL) digunakan sebagai titik cut-off penelitian ini. Subyek dengan status inflamasi yang lebih tinggi (hs-CRP 1,0 mg/L, IL-6 1,50 pg/mL atau adiponektin < 7,90 mg/mL) memiliki peningkatan risiko yang signifikan dari SM. Tampaknya inflamasi kronis adalah bagian dari SM dan petanda inflamasi (hs-CRP dan IL-6) serta adiponektin merupakan faktor risiko SM yang signifikan. Peneliti menyarankan tingkat petanda inflamasi (Hs-CRP dan IL-6) dan adiponektin dapat dimasukkan dalam diagnostik biomarker untuk SM. Stres oksidatif diperkirakan memainkan peran penting dalam

pengembangan SM . Meskipun tingkat MDA tidak berbeda secara signifikan antara kelompok kasus dan kelompok kontrol, aktivitas CAT, SOD, dan GPx secara signifikan lebih rendah di kelompok kasus (Gambar 2). Dalam penelitian ini, dinilai juga korelasi antara petanda inflamasi dan petanda stres oksidatif. Terlihat bahwa petanda inflamasi secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan stres oksidatif (Tabel 3). Secara khusus, subyek dengan status

16

inflamasi yang lebih tinggi (hs-CRP 3,0 mg/L) memiliki tingkat signifikan lebih tinggi pada MDA dan lebih rendah pada aktivitas enzim antioksidan (data tidak ditampilkan). Terbukti secara signifikan adanya korelasi positif antara status inflamasi dan stres oksidatif, dan peneliti berasumsi bahwa subyek dengan SM mungkin memiliki status inflamasi lebih tinggi dan juga tingkat stres oksidatif yang lebih tinggi. Enzim-enzim antioksidan merupakan garis pertahanan pertama melawan ROS dan menyebabkan penurunan aktivitas mereka. Selain itu, subyek SM pada umumnya memiliki tipe obesitas abdominal3. Penelitian ini mengamati bahwa nilai lingkar pinggang masing-masing secara signifikan berkorelasi dengan SOD (r = -0.25, p< 0,01) dan aktivitas GPx (r = -0.41, p< 0,01). Rasio pinggang ke pinggul masing-masing signifikan berkorelasi negatif dengan SOD (r = -0,22, p<0,01) dan aktivitas GPX (r = -0,30, p<0,01). Nilai-nilai indeks massa tubuh secara signifikan berkorelasi negatif dengan aktivitas GPx (r = -0.34, p<0,01). Nilai-nilai lingkar pinggang secara signifikan berkorelasi positif dengan tingkat MDA pada kelompok kasus (r = 0,24, p = 0,047). Obesitas merupakan beban oksidatif yang dapat menyebabkan penurunan aktivitas enzim antioksidan, dan induksi inflamasi memainkan peran patogenik dalam pengembangan dan kemajuan SM3.

Penutup Penderita Sindroma Metabolik (SM) memiliki status inflamasi yang lebih tinggi dan tingkat stress oksidatif yang juga lebih tinggi. Status inflamasi yang lebih tinggi secara signifikan berkorelasi dengan tingkat enzim-enzim antioksidan dan adiponektin yang lebih rendah, serta resiko tinggi SM.

17

Daftar Pustaka 1. Jafar N. Sindrom Metabolik. 1st ed. Makasar: Unhas; 2011. 2. Adrianjah H AJ. Sindroma Metabolik:Pengertian, Epidemiologi, dan Kriteria Diagnosis Jakarta: Informasi Laboratorium Prodia; 2006. 3. Chen S-J YCHHYCLBJHSLPT. Relationships between Inflammation, Adiponectin, and Oxidative Stress in Metabolic Syndrome. PloS ONE. 2012 September; 7(9). 4. Pusparini. Obesitas Sentral, Sindrom Metaolik, dan Diabetes Melitus Tipe 2. Universa Medicina. 2007 Oktober-Desember; 26(4). 5. Krentz AJ WN. Metabolic Syndrome and Cardiovascular Disease New York: Informa Healthcare; 2007. 6. Reaven GM LA. Insulin Resistance The Metabolic Syndrome X GM R, editor. New Jersey: Humana Press; 1999. 7. S M. The Metabolic Syndrome in Clinical Practise London: Springer; 2008. 8. Soares R CC. Oxidative Stress, Inflammation, and Angiogenesis in The Metabolic Syndrome London: Springer; 2009.

18