Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius.

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 % pria dalam suatu waktu kehidupannya pernah mengalami depresi (Amir N, 2005). Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Seiring tahap kehidupan lain, lansia memiliki tugas perkembangan khusus yang meliputi tujuh kategori utama yaitu menyesuaikan diri terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan penurunan pendapatan. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan, memantapkan secara eksplisit bahwa ia ada pada kelompok usianya itu, mempertahankan kepuasan pengaturan hidup, mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa dan menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup. Lansia yang tidak berhasil menyelesaikan tugas perkembangan yang diperlukan dan tidak berada pada tingkat penyesuaian, kedamaian dalam diri lansia itu serta kepuasan hidup maka beresiko mengalami depresi ( Potter, dkk, 2005) Depkes RI (2008) menyatakan yang paling berpengaruh terhadap kesehatan lansia adalah mental lansia itu sendiri. Beberapa faktor yang sangat penting yang berhubungan dengan kondisi pencapaian kesehatan mental lansia adalah kesehatan fisik dan aktifitas fisik, aktifitas sosial dan dukungan sosial. Pencapaian kesehatan mental lansia tidak hanya dikaji pada satu hal saja, melainkan multifaktorial. Untuk itu perlu pemahaman tentang depresi pada lansia sehingga asuhan keperawatan yang diberikan dapat bermanfaat untuk mengatasi depresi pada lansia. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan depresi pada lansia? 2. Bagaimanakah etiologi dari depresi pada lansia? 3. Apa sajakah tanda dan gejala depresi pada lansia? 4. Apa sajakah macam-macam depresi pada lansia? 5. Apa sajakah karakteristik depresi? 6. Bagaimana skala pengukuran depresi pada lansia?

7. Bagaimana asuhan keperawatan depresi pada lansia? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian depresi pada lansia. 2. Untuk mengetahui etiologi dari depresi pada lansia. 3. Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi pada lansia. 4. Untuk mengetahui macam-macam depresi pada lansia. 5. Untuk mengetahui karakteristik depresi. 6. Untuk mengetahui skala pengukuran depresi pada lansia. 7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan depresi pada lansia.

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Depresi Depresi dan usia lanjut sebagai tahap akhir siklus perkembangan manusia. Masa dimana semua orang berharapan menjalani hidup dengan tenang, damai serta menikmati masa pensiun bersama anak cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataannya tidak semua usia lanjut mendapatkannya. Berbagai persoalan hidup yang menimpa lansia sepanjang hayatnya seperti kemiskinan, kegagalan yang beruntun, keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bisa merawatnya dan sebagainya. Kondisi-kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi. (Setiabudi, 1999) Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh kesedihan, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa, perasaan kosong (Keliat,1996). Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010). Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP (terutama pada sistem limbik) (Maslim, 2002). Depresi merupakan gangguan perasaan dengan ciri-ciri antara lain: semangat berkurang, rasa harga diri rendah, menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur, dan makan. Pada depresi terdapat gejala psikologik dan gejala somatik. Gejala psikologik antara lain adalah menjadi pendiam, rasa sedih, pesimistik, putus asa, nafsu bekerja dan bergaul kurang, tidak dapat mengambil keputusan, mudah lupa dan timbul pikiran-pikiran bunuh diri. Gejala somatik antara lain: penderita kelihatan tidak senang, lelah, tidak bersemangat, apatis, bicara dan gerak geriknya pelan, terdapat anoreksia, isomnia, dan konstipasi (Maramis, 2005). Menurut Atkinson, depresi sebagai suatu gangguan mood yang dicirikan tak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tak mampu mengambil keputusan, memulai suatu kegiatan, tak mampu kosentrasi, tak punya semangat hidup, selalu tegang dan mencoba bunuh diri. (Lubis, 2009)

B. Etiologi Etiologi diajukan para ahli mengenai depresi pada usia lanjut (Damping, 2003) adalah: 1. Polifarmasi Terdapat beberapa golongan obat yang dapat menimbulkan depresi, antara lain: analgetika, obat antiinflamasi nonsteroid, antihipertensi, antipsikotik, antikanker, ansiolitika, dan lain-lain. 2. Kondisi medis umum Beberapa kondisi medis umum yang berhubungan dengan depresi adalah gangguan endokrin, neoplasma, gangguan neurologis, dan lain-lain. 3. Teori neurobiologi Para ahli sepakat bahwa faktor genetik berperan pada depresi lansia. Pada beberapa penelitian juga ditemukan adanya perubahan neurotransmiter pada depresi lansia, seperti menurunnya konsentrasi serotonin, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, serta meningkatnya konsentrasi monoamin oksidase otak akibat proses penuaan. Atrofi otak juga diperkirakan berperan pada depresi lansia. 4. Teori psikodinamik Elaborasi Freud pada teori Karl Abraham tentang proses berkabung menghasilkan pendapat bahwa hilangnya objek cinta diintrojeksikan ke dalam individu tersebut sehingga menyatu atau merupakan bagian dari individu itu. Kemarahan terhadap objek yang hilang tersebut ditujukan kepada diri sendiri. Akibatnya terjadi perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri, merasa diri tidak berguna, dan sebagainya. 5. Teori kognitif dan perilaku Konsep Seligman tentang learned helplessness menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kehilangan yang tidak dapat dihindari akibat proses penuaan seperti keadaan tubuh, fungsi seksual, dan sebagainya dengan sensasi passive helplessness pada pasien usia lanjut. 6. Teori psikoedukatif Hal-hal yang dipelajari atau diamati individu pada orang tua usia lanjut misalnya ketidakberdayaan mereka, pengisolasian oleh keluarga, tiadanya sanak saudara ataupun perubahan-perubahan fisik yang diakibatkan oleh proses penuaan dapat memicu terjadinya depresi pada usia lanjut. Dukungan sosial yang buruk dan kegiatan religius yang kurang dihubungkan dengan terjadinya depresi pada lansia. Suatu penelitian komunitas di Hongkong menunjukkan hubungan antara dukungan sosial yang buruk dengan depresi. Kegiatan

religius dihubungkan dengan depresi yang lebih rendah pada lansia di Eropa. Religious coping berhubungan dengan kesehatan emosional dan fisik yang lebih baik. Religious coping berhubungan dengan berkurangnya gejala-gejala depresif tertentu, yaitu kehilangan ketertarikan, perasaan tidak berguna, penarikan diri dari interaksi sosial, kehilangan harapan, dan gejala-gejala kognitif lain pada depresi (Blazer, 2003). C. Tanda dan Gejala Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996) meliputi beberapa aspek seperti: 1. Afektif Kemarahan, ansietas, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan, kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian,harga diri rendah, kesedihan. 2. Fisiologik Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing, keletihan,gangguan pencernaaan, insomnia, perubahan haid, makan berlebihan/ kurang, gangguan tidur, dan perubahan berat badan. 3. Kognitif Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian. 4. Perilaku Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas, kecanduan obat,intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung, kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, dan menarik diri. D. Macam-macam Depresi Menurut PPDGJ-III (Muslim, 1997), tingkatan depresi ada 3 berdasarkan gejalagejalanya yaitu: 1. Depresi Ringan Gejala: a. Kehilangan minat dan kegembiraan b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas c. Konsentrasi dan perhatian yang kurang d. Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang e. Lamanya gejala tersebut berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu.

f. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya. 2. Depresi Sedang Gejala: a.Kehilangan minat dan kegembiraan b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas c. Konsentrasi dan perhatian yang kurang d. Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang. e. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna f. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis g. Lamanya gejala tersebut berlangsung minimum sekitar 2 minggu h. Mengadaptasi kesulitan untuk meneruskan kegiatan sosial pekerjaan dalam urusan rumah tangga 3. Depresi Berat Gejala :a. Mood depresif b. Kehilangan minat dan kegembiraan c. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas d. Konsentrasi dan perhatian yang kurang e. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna f. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis g. Perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri atau bunuh diri h. Tidur terganggu i. Disertai waham, halusinasi j. Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu 3. E. Karakteristik Depresi pada Lanjut Usia Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia, depresi ini sering diagnosis salah atau diabaikan. Rata-rata 60-70% lanjut usia yang mengunjungi praktik dokter umum adalah mereka dengan depresi, tetapi acapkali tidak terdeteksi karena lansia lebih banyak memfokuskan pada keluhan badaniah yang sebetulnya adalah penyerta dari gangguan emosi (Mahajudin, 2007). Menurut Stanley & Beare (2007), sejumlah faktor yang menyebabkan keadaan ini, mencakup fakta bahwa depresi pada lansia dapat disamarkan atau tersamarkan oleh gangguan fisik lainnya (masked depression).

Selain itu isolasi sosial, sikap orang tua, penyangkalan, pengabaian terhadap proses penuaan normal menyebabkan tidak terdeteksi dan tidak tertanganinya gangguan ini. Depresi pada orang lanjut usia dimanifestasikan dengan adanya keluhan merasa tidak berharga, sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa kosong, tidak ada harapan, menuduh diri, ide-ide pikiranbunuh diri dan pemeliharaan diri yang kurang bahkan penelantaran diri (Wash, 1997). Samiun (2006) menggambarkan gejala-gejala depresi pada lansia: 1) Kognitif Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognitif pada lansia yang menunjukan gejala depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi memiliki self-esteem yang sangat rendah. Mereka berpikir tidak adekuat, tidak mampu,merasa dirinya tidak berarti, merasa rendah diri dan merasa bersalah terhadap kegagalan yang dialami. Kedua, lansia selalu pesimis dalam menghadapi masalah dan segala sesuatu yang dijalaninya menjadi buruk dan kepercayaan terhadap dirinya (selfconfident) yang tidak adekuat. Ketiga, memiliki motivasi yang kurang dalam menjalani hidupnya, selalu meminta bantuan dan melihat semuanya gagal dan siasia sehingga merasa tidak ada gunanya berusaha. Keempat, membesar-besarkan masalah dan selalu pesimistik menghadapi masalah. Kelima, proses berpikirnya menjadi lambat, performance intelektualnya berkurang. Keenam,generalisasi dari gejala depresi, harga diri rendah, pesimisme dan kurangnya motivasi. 2) Afektif Lansia yang mengalami depresi merasa tertekan, murung, sedih, putus asa, kehilangan semangat dan murung. Sering merasa terisolasi, ditolak dan tidak dicintai. Lansia yang mengalami depresi menggambarkan dirinyaseperti berada dalam lubang gelap yang tidak dapat terjangkau dan tidak bisa keluar dari sana. 3) Somatik Masalah somatik yang sering dialami lansia yang mengalami depresi seperti pola tidur yang terganggu (insomnia), gangguan pola makan dan dorongan seksual berkurang. Lansia lebih rentan terhadap penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya melemah, selain karena aging process juga karena orang yang mengalami depresi menghasilkan sel darah putih yang kurang (Schleifer et all, 1984; Samiun, 2006). 4) Psikomotor Gejala psikomotor pada lansia depresi yang dominan adalah retardasimotor. Sering duduk dengan terkulai dan tatapan kosong tanpa

ekspresi,berbicara

sedikit

dengan

kalimat

datar

dan

sering

menghentikanpembicaraan karena tidak memiliki tenaga atau minat yang cukup untuk menyelesaikan kalimat itu. Dalam pengkajian depresi pada lansia, menurut Sadavoy et all (2004) gejala-gejala depresi dirangkum dalam SIGECAPS yaitu gangguan pola tidur (sleep) pada lansia yang dapat berupa keluhan sukar tidur, mimpi buruk dan bangun dini dan tidak bisa tidur lagi, penurunan minat danaktifitas ( interest), rasa bersalah dan menyalahkan diri (guilty), merasa cepat lelah dan tidak mempunyai tenaga (energy) , penurunan minat dan aktifitas (interest), penurunan konsentrasi dan proses piker (concentration), nafsu makan menurun (appetite), gerakan lambat danlebih sering duduk terkulai (psychomotor) dan penelitian diri serta ide bunuh diri (suicidaly) F. Skala Pengukuran Depresi pada Lansia Skrining depresi pada lansia pada layanan kesehatan primer sangat penting. Hal ini penting karena frekuensi depresi dan adanya gagasan untuk bunuh diri pada lansia adalah tinggi (Blazer, 2003). Skrining juga perlu dilakukan untuk membantu edukasi pasien dan pemberi perawatan tentang depresi, dan untuk mengikuti perjalanan gejalagejala depresi seiring dengan waktu (Gallo & Gonzales, 2001). Skrining tidak ditujukan untuk membuat diagnosis depresi mayor, namun untuk mendokumentasikan gejala-gejala depresi sedang sampai berat pada lansia apapun penyebabnya. Skrining depresi pada lansia memiliki kekhususan tersendiri. Gejala-gejala depresi seperti kesulitan-kesulitan tidur, energi yang berkurang, dan libido yang menurun secara umum ditemukan pada lansia yang tidak mengalami depresi. Pemikiran tentang kematian dan keputusasaan akan masa depan mempunyai makna yang berbeda bagi mereka yang berada pada fase terakhir kehidupan. Lagi pula, kondisi medik kronik lebih umum pada pasien geriatri dan dapat berhubungan dengan retardasi motorik dan tingkat aktivitas yang berkurang. Komorbiditas dengan demensia dapat mempengaruhi konsentrasi dan proses kognitif. Geriatric Depression Scale (GDS) dirancang untuk menjadi tes untuk skrining depresi yang mudah untuk dinilai dan dikelola (Rush, et al, 2000). Geriatric Depression Scale memiliki format yang sederhana, dengan pertanyaan-pertanyaan dan respon yang mudah dibaca. Geriatric Depression Scale telah divalidasi pada berbagai populasi lanjut usia, termasuk di Indonesia. Selain GDS, screening scale lain yang telah terstandardisasi adalah Center for Epidemiologic Studies Depression Scale, Revised (CES-D-R). Selain

GDS dan CES-D-R, masih ada instrumen skrining lain seperti Hamilton Rating Scale for Depression, Zung Self-Rating Depression Scale, Montgomery-Asberg Depression Rating Scale (Holroyd dan Clayton, 2002), namun kedua instrumen inilah yang paling sering digunakan (Blazer, 2000). Geriatric Depression Scale terdiri dari 30 pertanyaan yang dirancang sebagai suatu self-administered test, walaupun telah digunakan juga dalam format observeradministered test. Geriatric Depression Scale dirancang untuk mengeliminasi hal-hal somatik, seperti gangguan tidur yang mungkin tidak spesifik untuk depresi pada lansia (Gallo & Gonzales, 2001). Skor 11 pada GDS mengindikasikan adanya depresi yang signifikan secara klinis, dengan nilai sensitivitas 90,11 % dan nilai spesifisitas 83,67% (Nasrun, 2009). Terdapat juga GDS versi pendek yang terdiri dari 15 pertanyaan saja. Pada GDS versi pendek ini, skor 5 atau lebih mengindikasikan depresi yang signifikan secara klinis. Geriatric Depression Scale menjadi tidak valid bila digunakan pada lansia dengan gangguan kognitif. Status kognitif harus terlebih dahulu dinilai dengan Mini Mental State Examination (MMSE), karena kemungkinan yang besar dari komorbiditas depresi dan fungsi kognitif (Blazer, 2003). Mini Mental State Examination adalah suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 poin yang dikelompokkan menjadi tujuh kategori: orientasi tempat, orientasi waktu, registrasi, atensi dan konsentrasi, mengingat kembali, bahasa, dan konstruksi visual. Mini Mental State Examination didesain untuk mendeteksi dan menjejaki kemajuan dari gangguan kognitif yang terkait dengan gangguan neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer. MMSE telah terbukti merupakan instrumen yang valid dan sangat dapat dipercaya (Rush, et al, 2000). Nilai MMSE 0-16 menunjukkan suatu definite gangguan kognitif. Selain itu untuk mengukut (skrining) depresi adalah BDI (Beck Depression Inventory). BDI merupakan skala depresi yang disusun oleh Aaron T Beck pada tahun 1960-an. Skala ini didasarkan pada teori kognitif dan depresi dari Beck. BDI tidak hanya menangkap perubahan suasana dalam hati, tetapi juga perubahan dalam motivasi, fungsi fisik dan fitur kognitif dari penderita depresi. Beck mulai memperhatikan karakteristik distorsi kognitif yang terjadi pada depresi. Dalam pengamatan beck, depresi atau perubahan suasana hati disebabkan oleh gangguan berpikir. Skala BDI merupakan skala pengukuran interval yang mengevaluasi 21 gejala depresi 15 diantaranya menggambarkan emosi, 4 perubahan sikap, 6 gejala somatic. Setiap gejala dirangking dalam skala intensitas 4 poin dan nilainya ditambahkan untuk

memberi total nilai dari 0-63, nilai yang lebih tinggi mewakili depresi yang lebih berat. Pertanyaan dalam skala tersebut diisi sendiri oleh responden. G. Penatalaksanaan Depresi pada Usia Lanjut a. Terapi fisik Obat Secara umum, semua obat antidepresan sama ektivitasnya. Pemilihan jenis antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus dan pengenalan terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya pengobatan dimulai dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala. Terapi Elektrokonfulsi (ECT) Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat bunuh diri atau retradasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi yang efektif dan aman. ECT diberikan 1-2 kali seminggu pada pasien rawat inap, unilateral untuk mengurangi confusion/memory problem. Terapi ECT diberikan sampai ada perbaikan mood (sekitar 5-10 kali), dilanjutkan dengan anti depresan untuk mencegah kekambuhan. b. Terapi Psikologik Psikoterapi Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika dilakukan bersamasama dengan pemberian antidepresan. Baik pendekatan psikodinamik maupun kognitif behavior sama keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi tidak sepenuhnya dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan terapis dalam proses terapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri. Terapi kognitif Terapi kognitif- perilaku bertujuan mengubah pola piker pasien yang selalu negative (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tidak berguna, tak mampu dan sebagainya) kea rah pola piker yang netral atau positif. Ternyata pada pasien usia lanjut dengan depresi dapat menerima metode ini meskipun penjelasan harus diberikan secara singkat dan berfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan aktifitas tertentu terapi kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola piker. Terapi keluarga Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat penting. Proses penuaan mengubah dinamika keluarga pasien yang depresi adalah untuk meredakan perasaan frustasi

dan putus asa, mengubah dan memperbaiki sikap/ struktur dalam keluarga yang menghambat proses penyembuhan pasien. Penanganan ansietas Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi progresif baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau terapis okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik ini dapat dilakukan dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai teknik ini diperlukan kursus singkat terapi relaksasi. (Townsend, 1998)

H. Pohon Masalah

I. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Salah satu langkah awal yang penting dalam penatalaksanaan depresi adalah mendeteksi atau mengidentifikasi. Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah Geriatric Depression Scale (GSD) yang terdiri atas 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh pasien sendiri. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan saja. Bilamana ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada depresi, harus dilakukan lagi pemeriksaan yang lebih rinci sebagai berikut: 1. Riwayat klinik/ anamnesis a. Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa b. Gangguan psikiatri yang lampau c. Kepribadian d. Riwayat sosial e. Ide/ percobaan bunuh diri f. Gangguan-gangguan somatik g. Perkembangan gejala depresi 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik pada pasien depresi sangat penting karena gejala-gejala depresi disertai penyakit fisik 3. Pemeriksaan kognitif Penilaian Mini Mental state Examination (MMSE) pada usia lanjut yang menunjukan depresi bermanfaat dalam tindak lanjut penatalaksanaan pasien. Perbaikan pada MMSE setelah dilakukan terapi terhadap depresi, menunjukkan bahwa pasien dengan depresi mengalami masalah kosentrasi memori yang mempengaruhi fungsi kognitifnya. 4. Pemeriksaan status mental a. Penampilan dan perilaku b. Mood / suasana perasaan hati c. Pembicaraan d. Isi pikiran e. Gejala ansietas f. Gejala hipokondriakal

5. Pemeriksaan lainnya Mengingat pasien usia lanjut rentan terhadap gangguan metabolic sekunder akibat penyakit depresi berat, seperti tidak adekuatnya asupan cairan, maka perlu dipertimbangkan pemeriksaaan sebagai berikut; Ureum dan elektrolit Darah lengkap dan hitung jenis Vitamin B12 dan folat Tes fungsi tiroid Lain-lain Elektro Cardio Graphy (ECG), Electro Encephalo Grapy (EEG), CTscan (Townsend, 1998) 2. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan lansia dengan depresi adalah: 1. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental 2. Ketidakefektifan koping berhubungan dengan dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan 3. Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan gangguan kognitif 4. Insomnia berhubungan dengan depresi 5. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakadaan orang terdekat 6. Resiko bunuh diri berhubungan dengan depresi 7. Resiko distress spiritual berhubungan dengan depresi 8. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan depresi

3. Intervensi Diagnosa Keperawatan Setelah 24 jam NOC dilakukan Dukungan lansia dapat den kelengkapan NIC sosial: bantuan

tindakan keperawatan 1x ketersedian yang dirasakan menunjukkan keadekuatan eksistensial respon emosi, sosial dan dari orang lain yang mungkin tingkat Tindakan keperawatan: 1. Mengidentifikasi dan menerima karakteristik atau perilaku berpengaruh isolasi sosial 2. Mengungkapkan perasaan pengalaman 1. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental 3. Menunjukkan situasi 4. Mengembangkan ketrampilan yang sosial dapat sedikit dilibatkan afek yang sesuai terhadap atau lebih pribadi yang pada

mengurangi isolasi 5. Dukung usaha-usaha yang dilakukan untuk lansia, keluarga dan teman-teman berinteraksi

Setelah 24 jam

dilakukan Peningkatan pasien lansia

koping: untuk atau

tindakan keperawatan 1x membantu menunjukkan kemampuan stressor stressor,

dapat beradaptasi dalam menerima perubahan,

mengatasi ancaman yang berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan dan peran dalam kehidupan Tindakan keperawatan: 1. Evaluasi kemampuan pasien 2. Tentukan kemungkinan dalam membuat keputusan

2. Ketidakefektifan koping berhubungan dengan dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan

menyakiti diri 3. Anjurkan untuk teknik sesuai kebutuhan 4. Berikan ketrampilan yang sesuai 5. Bantu pasien dalam mengidentifikasi kekuatan personal 6. Dukung sesuai 7. Hindari perbuatan keputusan pada saat pasien berada pada stress berat mekanisme yang pertahanan pelatihan sosial pasien relaksasi, dengan menggunakan

3. Defisit perawatan diri: mandi berhubungan

Setelah

dilakukan Mandi: membersihkan tubuh berguna untuk

tindakan keperawatan 1x yang

24

jam

lansia

dapat relaksasi,

kebersihan

dan

menunjukkan kemampuan membersihkan sendiri dirinya

penyembuhan Tindakan keperawatan: 1. Kaji bantu 2. Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi 3. Pantau kuku, kebersihan berdasarkan kemampuan alat menggunakan

dengan gangguan kognitif

kemampuan perawatan diri pasien 4. Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygiene mulut, bantu pasien hanya jika diperlukan

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Depresi adalah terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyerta seperti penurunan fungsi kognitif, afektif, somatik dan psikomotor. Berdasarkan gejala depresinya depresi dibagi menjadi tiga yaitu depresi ringan, sedang dan berat. Untuk mengetahui tingkatan depresi lansia ada beberapa skrining depresi lansia, yaitu Geriatric Depression Scale (GDS) dan BDI (Beck Depression Inventory). Skrining menggunakan GDS bukan bertujuan untuk diagnosis depresi mayor, namun untuk mendokumentasikan gejala-gejala depresi sedang sampai berat pada lansia. Kelemahan metode ini adalah kita harus mengukur tingkat kemampuan kognitif lansia terlebih dahulu dengan menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE), karena data akan menjadi tidak valid ketika terdapat gangguan kognitif pada lansia. Sedangkan BDI bertujuan untuk menilai depresi atau perubahan suasana hati disebabkan oleh gangguan berpikir yang merupakan perpaduan antara kognitif dan depresi. Pada pemeriksaan depresi pada lansia juga harus diperhatikan SIGECAPS (Sleep, Interest, Guilty, Energy, Concentration, Appetite, Psychomotor dan Suicidaly).

DAFTAR PUSTAKA Blazer, D.G. 2003. Depression in Late Life: Review and commentary. J Gerontology Med Sci 58A No: 249-265. http://focus.Psychiatyonline.Org/cgicontent/full/7/1/118 Damping, C.E.2003. Depresi pada Geriatri: Apa kekhususannya. Dalam Supartondo, Setiati, S., dan Soejono, C.H, (eds). 200. Prosiding Temu Ilmiah Geriatri 2003Penatalaksaanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan Interdisiplin. Pusat Informasi dan Penerbitan BagianIlmu Penyakit DalamFakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 1007-112 Kaplan, H. I dkk. 2010.Synopsis of Psychiatry (jilid 1). Tangerang: Binarupa Aksara Publisher. Alih bahasa: Kusuma,Widjaja Keliat,Budi Anna. 1996. Marah Akibat Penyaki yang Diderita. Jakarta: EGC Keliat. Budi Anna. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC Lubis, Namora. 2009. DEPRESI : Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Maslim. R., 2002. Gejala Depresi, Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJIII. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, 58-65 Riadiany, Dessy. 2011. Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Tingkat Depresi pada Lansia di Kelurahan Polowijwn Wilayah Puskesmas Pandanwangi Malang. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Setiabudi, T. 1999. Panduan Gerontologi. Jakarta: Gramedia Townsend M,C. 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Jiwa Edisi 3. Alih bahasa; Achiryani S. Jakarta: EGC