Anda di halaman 1dari 21

Kehamilan ektopik adalah kehamilan abnormal yang terjadi di luar rongga rahim, janin tidak dapat bertahan hidup

dan sering tidak berkembang sama sekali. Kehamilan ektopik disebut juga ectopic pregnancy, ectopic gestation, eccecyesis. Kehamilan ektopik merupakan penyebab kematian ibu pada umur kehamilan trimester pertama. Frekuensi kejadian kehamilan ektopik berkisar 1: 14,6 % dari seluruh kehamilan.

Istilah dalam Kehamilan Ektopik


Beberapa istilah yang berkaitan dengan kehamilan ektopik antara lain: 1. Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan ektopik yang membahayakan wanita. 2. Kehamilan heterotopik adalah kehamilan intrauterin yang berdekatan dengan kehamilan ektopik. 3. Kehamilan ektopik kombinasi (combined ectopic pregnancy) adalah kehamilan intrauterin yang bersamaan dengan kehamilan ekstrauterin. 4. Kehamilan ektopik rangkap (compound ectopic pregnancy) adalah kehamilan intrauterin dan ekstrauterin lebih dulu terjadi, tapi janin sudah mati dan menjadi litopedion (janin yang sudah membatu).

Penyebab Kehamilan Ektopik


Penyebab kehamilan ektopik belum diketahui secara pasti. Namun demikian, penyebab kehamilan ektopik yang paling sering adalah faktor tuba (95%). Di bawah ini merupakan penyebab kehamilan ektopik: 1. Faktor tuba, meliputi: penyempitan lumen tuba, gangguan silia tuba, operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna, endometriosis tuba, tumor; 2. Faktor ovum, meliputi: rapid cell devision, migrasi eksternal dan internal ovum, perlekatan membran granulosa; 3. Penyakit radang panggul; 4. Kegagalan kontrasepsi; 5. Efek hormonal, meliputi: penggunaan kontrasepsi mini pil, dan 6. Riwayat terminasi kehamilan sebelumnya.

Klasifikasi Kehamilan Ektopik


Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada tuba. Tempat implantasi yang paling sering adalah ampula, kemudian isthmus, fimbriae, kornu, serta uterus intersisialis. Sedangkan kehamilan ektopik non-tuba sangat jarang terjadi, tetapi dapat terjadi pada abdomen, ovarium, atau servik. Beberapa klasifikasi kehamilan ektopik adalah: 1. 2. 3. 4. Kehamilan interstisial (kornual) Kehamilan ovarium Kehamilan servik kehamilan abdominal

Kehamilan interstisial (kornual)


Kehamilan interstisial merupakan kehamilan yang implantasi embrionya di tuba falopi. Pasien menunjukkan gejala yang cukup lama, sulit didiagnosis dan lesi menyebabkan perdarahan masif ketika terjadi ruptur. Pada usia kehamilan 6-10 minggu akan terganggu. Hasil konsepsi dapat mati dan diresorbsi, keguguran, ruptur tuba. Angka kematian ibu akibat kehamilan interstisial adalah 2 %. Penanganan pada kasus ini dengan laparatomi.

Kehamilan ovarium
Kehamilan di ovarium lebih sering dikaitkan dengan perdarahan dalam jumlah banyak dan pasien sering mengalami ruptur kista korpus luteum secara klinis, pecahnya kehamilan ovarium, torsi, endometriosis.

Kehamilan servik
Kehamilan servik merupakan kehamilan dengan nidasi di kanalis servikalis, dinding servik menjadi tipis dan membesar. Kehamilan di servikalis ini jarang dijumpai. Tanda dari kehamilan ini adalah: kehamilan terganggu, perdarahan, tanpa nyeri, abortus spontan. Terapinya adalah histerektomi.

Kehamilan abdomen
Kehamilan abdominal terbagi menjadi: primer (implantasi sesudah dibuahi, langsung pada peritonium/ kavum abdominal) dan sekunder (embrio masih hidup dari tempat primer). Kehamilan dapat aterm dan anak hidup, namun didapatkan cacat. Fetus mati, degenerasi dan maserasi, infiltrasi lemak jadi lithopedion/ fetus papyraceus. Terapi kehamilan abdominal adalah: laparotomi, plasenta dibiarkan (teresorbsi).

Faktor Resiko Kehamilan Ektopik


Kondisi yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik diantaranya adalah: endometriosis; riwayat radang panggul; riwayat kehamilan ektopik sebelumnya; riwayat pembedahan tuba; riwayat infertilitas; riwayat pemakaian IUD belum lama berselang; riwayat penyakit menular seksual (PMS) seperti: gonore dan klamidia; faktor usia hamil di atas 35 tahun; riwayat kebiasaan buruk (merokok) dan pasien dalam proses fertilisasi in vitro.

Gejala dan Tanda Kehamilan Ektopik


Ibu hamil yang mengalami kehamilan ektopik akan merasakan gejala pada usia kehamilan 610 minggu. Adapun gejala dan tanda yang dirasakan antara lain: amenorea/ tidak haid; Nyeri perut bagian bawah; perdarahan per vaginam iregular (biasanya dalam bentuk bercak-bercak darah); rasa sakit pada salah satu sisi panggul; tampak pucat; tekanan darah rendah, denyut nadi meningkat, ibu hamil mengalami pingsan dan terkadang disertai nyeri bahu akibat iritasi diafragma dari hemoperitoneum.

Diagnosis Banding Kehamilan Ektopik

Beberapa penyakit yang menyerupai dengan tanda dan gejala kehamilan ektopik antara lain: abortus iminen, abortus kompletus, Korpus luteum pecah, perdarahan disfungsional, apendisitis, penyakit radang panggul, dan fibroid.

Diagnosis Kehamilan Ektopik


Kehamilan ektopik biasanya sulit didiagnosa dengan cepat, dikarenakan tanda dan gejala sama dengan kehamilan normal. Untuk menegakkan diagnosa, maka dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Anamnesis, untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu; Pemeriksaan fisik; Tes kehamilan; Pengukuran kadar beta-HCG; Sonografi transvaginal, untuk mendeteksi kantung kehamilan intrauterin; Kuldosintesis, untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah; Pemeriksaan hematokrit; Dilatasi dan kuretase, dan Laparoskopi, digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lainnya meragukan.

Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik


Tujuan pengobatan akan bergeser dari mencegah kematian menjadi mengurangi kesakitan dan mempertahankan kesuburan, apabila dilakukan diagnosis yang lebih awal Adapun penatalaksanaan pada kasus kehamilan ektopik antara lain: 1. Terapi medikamentosa 2. Terapi pembedahan

Terapi medikamentosa
Terapi medikamentosa dapat dilakukan dengan pemberian Metotreksat (MTX), injeksi intramuskular 50 mg/m2 merupakan pengobatan yang efektif untuk pasien-pasien yang memenuhi kriteria. Dosis diberikan pada hari ke 1, tetapi kadar beta-HCG akan mengalami peningkatan selama beberpa hari. Kriteria untuk mendapatkan metotreksat adalah: stabil secara hemodinamik tanpa perdarahan aktif, pasien ingin mempertahankan kesuburannya, tidak ditemukan gerakan janin dan kadar beta-HCG tidak lebih 6000 mIU/ml. Adapun kontraindikasinya adalah: imunodefisiensi, ibu menyusui, alkoholisme, leukopenia, penyakit paru aktif, disfungsi hati, disfungsi ginjal, gerakan jantung embrio dan kantung kehamilan lebih dari 3,5 cm.

Terapi pembedahan
Terapi pembedahan definitif berupa salpingektomi merupakan terapi pilihan untuk wanita yang secara hemodinamik tidak stabil. Adapun terapi pembedahan konservatif yang sepenuhnya sesuai untuk pasien dengan hmodinamik stabil adalah:

Salpingostomi linear laparoskopik adalah prosedur yang paling sering digunakan. Salpingektomi parsial meripakan pengangkatan bagian tuba falopi yang rusak dan diindikasikan ketika terdapat kerusakan yang luas atau perdarahan lanjutan setelah salpingostomi.

Prognosis Kehamilan Ektopik


Sepertiga dari wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, untuk selanjutnya dapat hamil lagi. Kehamilan ektopik bisa terjadi kembali pada sepertiga wanita dan beberapa wanita tidak hamil lagi. Kemungkinan wanita dapat berhasil hamil, tergantung dari: faktor usia, apakah sudah memiliki anak dan mengapa kehamilan ektopik pertama terjadi. Sedangkan tingkat kematian akibat kehamilan ektopik telah terjadi penurunan dalam 30 tahun terakhir menjadi kurang dari 0,1%.

Komplikasi Kehamilan Ektopik


Komplikasi yang dapat timbul akibat kehamilan ektopik, yaitu: ruptur tuba atau uterus, tergantung lokasi kehamilan, dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan masif, syok, DIC, dan kematian. Komplikasi yang timbul akibat pembedahan antara lain: perdarahan, infeksi, kerusakan organ sekitar (usus, kandung kemih, ureter, dan pembuluh darah besar). Selain itu ada juga komplikasi terkait tindakan anestesi.

Referensi
Errol, Norwitz. 2008. At aGlance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Erlanga. Hlm: 16-17 Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika. Hlm. 43-47. Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hlm. 226-237. Scoot, James. 2002. Danforth Buku Saku Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika. Hlm116-123. Linda J. Vorvick, MD. Ectopic Pregnancy. nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000895.htm Diunduh 3 April 2012 pukul 01:40 WIB. Josie, tenor. 2000. Ectopic Pregnancy. aafp.org/afp/2000/0215/p1080.html Diunduh 3 April 2012 pukul 02:10 WIB. Anggasuryadi. 2010. Kehamilan Ektopik. anggasuryadi.wordpress.com/2010/01/23/kehamilan-ektopik/ Diunduh 3 April 2012 pukul 03:42 WIB. Image, umm.edu

Kehamilan ektopik atau juga dikenal sebagai kehamilan di luar kandungan merupakan suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat ada tempat yang lain atau berbeda yaitu di tempat yang dikenal dengan nama tuba falopi atau saluran telur, di leher rahim, dalam rongga perut atau di indung telur. Atau dengan kata lain, kehamilan ektopik meruapakan suatu kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi mengalami implantasi pada tempat selain tempat seharunya, yaitu uterus. Jika sel telur yang telah dibuahi menempel pada saluran telur, hal ini akan menyebabkan bengkaknya atau pecahnya sel telur akibat pertumbuhan embrio. Kehamilan ektopik menimpa sekitar 1% dari seluruh kehamilan dan hal ini merupakan suatu kondisi darurat dimana dibutuhkan pertolongan secepatnya. Karena jika dibiarkan kondisi ini sangat berbahaya dan mampu mengancam nyawa ibu, hal ini disebabkan oleh perdarahan dalam rongga abdomen, dan bukan terjadinya perdarahan keluar. Dalam kasus kehamilan ektopik, janin memiliki kemungkinan yang sangat kecul untuk dapat bertahan hidup. Namun di sejumlah kondisi kecil, contoh pada kehamilan abdominal, kehamilan dan janin bisa bertahan hingga masa persalinan dan jika persalinan dilakukan dengan cara caesar, maka ada harapan serta kemungkinan bayi untuk dapat bertahan hidup.

Penyebab Kehamilan Ektopik


Kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh berbagai hal, dan yang paling sering adalah disebabkan adanya infeksi pada saluran falopi (tuba falopi - fallopian tube). Kehamilan ektopik besar kemungkinan terjadi pada kondisi:

Ibu pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya (terdapat riwayat kehamilan ektopik) Ibu pernah mengalami operasi pembedahan pada daerah sekitar tuba falopi Ibu pernah mengalami Diethylstiboestrol (DES) selama masa kehamilan Kondisi tuba fallopi yang mengalami kelainan kongenital Memiliki riwayat Penyakit Menular intimual (PMS) seperti gonorrhea, klamidia dan PID (pelvic inflamamtory disease)

Gejala Kehamilan Ektopik


Pada saat usia kehamilan mencapai usia 6-10 minggu, biasa ibu hamil yang mengalami kehamilan ektopik akan mengalami gejala:

Ibu hamil mengalami rasa sakit pada daerah panggul salah satu sisinya dan biasanya terjadi dengan tiba-tiba Mengalami kondisi perdarahan alat kelamin di luar jadwal menstruasi atau menstruasi yang tidak biasa Mengalami rasa nyeri yang sangat pada daerah perut bagian bawah Ibu hamil mengalami pingsan

Gejala tahap lanjut pada kehamilan ektopik


Rasa sakit perut yang muncul akan terjadi semakin sering Gejala lainnya adalah kulit ibu hamil terlihat lebih pucat Adanya tekanan darah rendah (hipotensi) Terjadinya denyut nadi yang meningkat

Diagnosa
Kehamilan ektopik biasanya sangat sulit di diagnosa oleh dokter, karena gejala dan tanda kehamilan ektopik juga biasanya terjadi pada kehamilan normal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi terjadinya kehamilan ektopik, yaitu dengan cara:

Menggunakan USG (ultrasonography). Melalui usg dokter dapat mendeteksi kehamilan ektopik karena tuba falopi terdetek mengalami kerusakan dan terjadinya perdarahan atau terdeteksi di luar uterus terdapat embrio Melalui pengukuran terhadap kadar HCG (human chrionic gonadotopin - hormon kehamilan). Ibu hamil yang mengalami ektopik biasanya kadar hcg nya tidak mengalami peningkatan Dilakukannya pembedahan dengan sayatan kecil di bagian bawah perut (laparoskopi)

Pengobatan
Dokter akan selalu membatalkan kondisi kehamilan ektopik dengan cara pemberian obatobatan untuk menahan perkembangan embrio. Efek jangka panjang akan dapat terhindarkan jika, kehamilan ektopik dapat terdekteksi sejak dini. jika kehamilan ektopik telah terdektesi sejak dini, hal ini dapat ditangani dengan pemberian obat suntik agar dapat diserap oleh tubuh ibu hamil, hal ini dapat menyebabkan kondisi tuba falopi masih dalam keadaan utuh. Jika kondisi serius, seperti jika tuba falopi telah mengembang, maka dokter akan melakukan operasi.

Prognosa
Sekitar 12% wanita akan kembali mengalami kehamilan ektopik, ketika sebelumnya juga pernah mengalami ektopik. Wanita akan kembali menjadi subur kembali setalah mengalami kehamilan ektopik (60%), trauma berat setalah mengalami kehamilan ektopik dan akibatnya tidak ingin mengalami kehamilan kembali (30%) serta sekitar 10% wanita akan memiliki masalah kesuburan setelah mengalami kehamilan ektopik. Dukungan positif suami, saudara, atau teman terdekat akan sangat diperlukan bagi wanita yang mengalami kehamilan ektopik. Hal ini diharapkan dapat mengurangi pengalaman

traumatic dari kehamilan ektopik, sehingga recovery dan keinginan untuk hamil kembali bisa secapatnya pulih (tentunya melihat kondisi setelah mengalami kehamilan ektopik). Konsultasikan kondisi anda kepada dokter atau bidan jika anda ingin hamil kembali setelah mengalami kehamilan ektopik. Hal ini sangatlah penting untuk dilakukan, agar dokter atau bidan dapat memberikan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk menghindari kembali terjadinya kehamilan ektopik. Dan jika, memutuskan untuk hamil kembali, maka pengawasan ketat terhadap kehamilan berikutnya sangat diperlukan, guna menjaga agar kehamilan tetap berlangsung dengan baik hingga masa persalinan nanti.

a Journey to the Dream...

Selasa, 08 Mei 2012


Makalah Asuhan Kebidanan Kehamilan Ektopik Terganggu

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat keadaan yang gawat ini dapat terjadi apabila kehamalan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapi oleh setiap Bidan, karna sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopik terganggu itu. Hal yang perlu di ingat ialah, bahwa pada setiap wanita dalam masa produksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang di sertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu dipikirkan kehamilan ektopik terganggu.

B.

Rumusan Masalah a. Apa yang dimaksud dengan Kehamilan Ektopik Terganggu? b. Apa penyebab terjadinya Kehamilan Ektopik Terganggu?

c. Bagaimana mekanisme terjadinya Kehamilan Ektopik Terganggu?

d. Apa saja tanda gejala dan diagnosis Kehamilan Ektopik Terganggu? e. Bagaimana penatalaksanaan Kehamilan Ektopik Terganggu?

C.

Tujuan a. Mengetahui tentang Kehamilan Ektopik Terganggu beserta penyebab dan mekanismenya. b. Untuk menentukan Asuhan kebidanan yang tepat dalam menangani Kehamilan Ektopik Terganggu.

D. a.

Manfaat Agar mahasiswa dapat melakukan asuhan yang tepat dalam menangani Kehamilan Ektopik Terganggu. b. Sebagai tambahan teori mengenai Kehamilan Ektopik Terganggu.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Menurut Buku Obstetri Patologi Universitas Pajadjaran Bandung

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba,

ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik.

B. Penyebab Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan dan Ilmu Kandungan adalah

Penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masaih di tuba.

Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba: a. Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang. Terbentuk trofoblast sebelum telur ada di

cavum uteri. b. Pada hipoplasia lumen, tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan

fungsi silia endosalping. c. Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba

menyempit d. Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga

walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat. e. Infeksi alat genitalia intern khususnya tuba fallopi (infeksi STD, infeksi asenden akibat IUD,

chlamydia trachomatis menyebabkan penyempitan tuba f. Desakan luar tuba (kista ovarium, mioma, endometriosis yang menimbulkan perlekatan

dengan sekitarnya sehingga terjadi penyempitan lumen) g. Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb.

h.

Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang

menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh. i. Abortus buatan.

Kehamilan Ektopik Terganggu dapat terjadi di beberapa tempat, antara lain : a. b. c. d. e. Tuba fallopi (ampulla tuba, isthmus tuba, interstisial tuba) Kehamilan ektopik servikal Kehamilan ovarial Kehamilan abdominal Kehamilan interstisial

C. Patologi Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian di reasorbsi. Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Kemungkinan yang dapat terjadi antara lain : 1. Hasil konsepsi mati dini dan direasorbsi

Ovum mati dan kemudian direasorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap sebagai haid yang datangnya agak terlambat.

2.

Abortus ke dalam lumen tuba

Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu menyebabkan pembesaran tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di kavum Douglas dan menyebabkan hematokele retrouterina.

3.

Ruptur dinding tuba

Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.

Berdasarkan tempat Implantasinya dapat terjadi beberapa kemungkinan sbb : TEMPAT IMPLANTASI PATOFISIOLOGI HASIL KONSEPSI Bisa terjadi ruptur,perdara han banyak, syokk irreversibel, kematian tertinggi Kehamilan ektopik rekuren Paling sering ruptur

Interstisial tuba

Letak intramural Vaskularisasi dapat mendukung tumbuh kembang janin (aterm) Ada kemungkinan ekspulsi ke cavum uteri sehingga aterm di uterus

Isthmus tuba

Lumennya kecil mudah terjadi destruksi endosalping sejak UK 6 hari Daya tampung lumen kecil,bisa ruptur, perdarahan intraabdominal

sebabkan perdarahan intraabdomina l Ampulla tuba 1. Spermatozoa dan ovum paling lama tinggal di perdarahan ampula tuba karena lumen paling besar 2. Kesempatan konsepsi paling besar terjadi di ampula tuba yang terletak 1/3 bag distal tuba fallopi 3. Implantasi hasil konsepsi bisa mengalami : Gangguan implantasi (absorbsi) Abortus tuba,perdarahan intraabdominal, hematokel) Ruptur ligamentum latum

D. Gambaran klinik. Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan

Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda: Dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam ronga perut sampai terdapat nya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan ektopik terganggu, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil. HAMIL EKTOPIK INTAK 1. Amenore 2. Rasa tidak nyaman di abdomen bawah 3. Mungkin terdapat perdarahan ringan (pada px vaginal terdapat nyeri gerak serviks, adneksa tegang atau teraba massa, terasa nyeri saat palpasi) 4. Tanda perdarahan intrabdominal negatif 5. Kesimpulan diagnosis sulit (konfirmasi dengan laparaskopi) 6. Terapi (laparaskopi untuk mengangkat hasil konsepsi, khemoterapi agar hasil konsepsi mati dan diabsorbsi) HAMIL EKTOPIK RUPTUR

7. Terdapat trias ruptur KET(amen mendadak, terdapat perdarahan 8. Perdarahan pervaginam 9. Tanda perdarahan intraabdomin cairan intraabdominal, peritoni 10. Pemeriksaan dalam (nyeri goya doglas menonjol dan nyeri) 11. Fungsi cavum doglas terdapat d 12. Terapi (laparaskopi untuk henti

perdarahan, cegah syok hipovol

E. Diagnosis Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kandungan

Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik, gejala-gejala kehamilan ektopik beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesukaran. Yang terpenting dalam pembuatan diagnosis kehamilan ektopik ialah supaya pada pemeriksaan penderita selalu waspada terhadap kemungkinan kehamilan ini.

Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal

Pemeriksaan untuk membantu diagnosis: a. b. Tes kehamilan : Apa bila tes nya positip, itu dapat membantu diagnosis. Pemeriksaan umum : Penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam rongga perut tanda syok dapat di temukan. Pada jenis perdarahan tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan. c. Anamnesis : Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda nyeri perut bagian bawah. d. Pemeriksaan ginekologi : Tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. e. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu terutama ada tanda perdarahan dalam rongga perut.

f.

Pemeriksaan kuldosentesis : Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah, cara ini amat berguna dalam membantu diagnosis kehamilan ektopik terganggu.

g.

Pemeriksaan ultra sonografi : Pemeriksaan ini berguna dalam diagnosis kehamilan ektopik. Diagnosis pastinya ialah apa bila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalam nya tampak denyut jantung janin.

h.

Pemeriksaan laparoskopi : Digunakan sebagai alat Bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik.

F. Gejala Menurut buku obstetri patologi universitas padjajaran

Hal yang khas dari kehamilan ektopik terganggu ialah seorang wanita yang sudah terlambat haidnya, tiba-tiba nyeri perut kadang-kadang jelas lebih nyeri sebelah kiri atau sebelah kanan. Selanjutnya pasien pusing dan kadang-kadang pingsan sering keluar darah pervaginam. Gejala-Gejala Yang Terpenting: a. Nyeri perut: nyeri perut ini paling sering dijumpai biasanya nyeri datang setelah mengangkat benda yang berat. Buang air besar namun kadang-kadang bisa juga pada waktu sedang istirahat. b. Adanya amenorea: amenorea biasanya muncul beberapa waktu sebelum terjadi perdarahan. c. Perdarahan: perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam.

d. Shock karena hypovolemia. e. Nyeri Bahu dan Leher (iritasi diafragma) f. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak kembung.

g. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar. h. Gangguan kencing: kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut.

i.

Perubahan darah: dapat di duga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu karena perdarahan yang banyak dalam rongga perut.

G. Diagnosis Banding Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2002. a. b. c. Abortus imminens Penyakit radang panggul (akut / kronik) Kista ovari

H. Penatalaksanaan Atau Penanganan Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal

a.

Setelah diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif gawat

darurat. b. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif

karena sumber perdarahan harus dihentikan. c. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid

NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung) d. Bila darah pengganti belum tersedia, berikan autotransfusion berikut ini :

1) Pastikan darah yang dihisap dari rongga obdomen telah melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril

2) Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah. 3) Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan. e. Tindakan dapat berupa :

1) Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi. 2) Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan). f. Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang di

sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas. g. Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan:

1) Ketoprofen 100 mg supositoria. 2) Tramadol 200 mg IV. 3) Pethidin 50 mg IV (siapkan anti dotum terhadap reaksi hipersensitivitas) h. i. Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari. Konseling pasca tindakan

1) Kulanjutan fungsi reproduksi. 2) Resiko hamil ektopik ulangan. 3) Kontrasepsi yang sesuai. 4) Asuhan mandiri selama dirumah. 5) Jadwal kunjungan ulang.

I.

Komplikasi Potensial Komplikasi-komplikasi kehamilan tuba yang biasa adalah ruptur tuba atau abortus tuba, aksierosif dari trofroblas dapat menyebabkan kekacauan dinding tuba secara mendadak: ruptur mungkin paling sering timbul bila kehamilan berimplatasi pada pars ismikus tuba yang sempit, abortus tuba dapat menimbulkan hematokel pelvis, reaksi peradangan lokal dan infeksi skunder dapat berkembang dalam jaringan yang berdekatan dengan bekuan darah yang berkumpul.

J.

Prognosis Menurut Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan

Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup, Hellman dkk, (1971) 1 kematian diantara 826 kasus, dan Willson dkk. (1971) 1 antara 591. Tetapi bila pertolongan terlambat angka kematian dapat tinggi, Sjahid dan Martohoesodo (1970) Mendapat angka kematian 2 dari 120 kasus, Sedangkan Tarjamin dkk (1973) 4 dari 138 kehamilan ektopik. Diposkan oleh abestiahaninil di 17:54 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: Asuhan Kebidanan, Kehamilan, Kehamilan Ektopik, KET, Makalah Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Kenali Saya

abestiahaninil

Yogyakarta, DI.Yogyakarta, Indonesia i'm not a girl, not yet a woman a student for midwifery faculty in Yogyakarta. Nice to meet u all... Lihat profil lengkapku

My Wordpress Blog

Arsip Blog

2012 (17) o Mei (17) Past Never Hurt (part 7) Past Never Hurt Part 6 20 Fakta Unik dan Menarik tentang Lady Gaga Pelecehan Seksual Mitos Seputar Masalah Seksualitas dan Kesehatan Re... Mitos Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi yang Um... Penelope Cruz berbagi Tips Kecantikan Past Never Hurt (Masa Lalu Tak Pernah menyakiti) P... Florida- Whistle Gym Class Heroes ft Adam Levine- Stereo Hearts The Avengers (Sinopsis) Makalah Asuhan Kebidanan Kehamilan Ektopik Tergang... Past Never Hurt (Masa Lalu Tak Pernah Menyakiti) p... Asuhan Kebidanan pada bayi dengan Oral Trush Manajemen Asfiksia Bayi baru lahir Pantai Indrayanti Cherry

My Facebook

Abestia Haninil Miril Sobesti

Create Your Badge

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.