Anda di halaman 1dari 66

PENERAPAN ILMU FISIKA DALAM KESEHATAN

Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas resume fisika Dosen: Dr. Pendi Sinulingga, M.Pd

Disusun Oleh : KELOMPOK 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Eva Roslina Ferina Mufti Maulidzar Novera W Novi Krsitina Wirna Yadi

YAYASAN EKA HARAP PALANGKARAYA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEMESTER 2 TAHUN AJARAN 2011/2012 JL. BELIANG NO.110 TELP/FAX (0536) 3227707 Email: stikes_ekaharap@yahoo.com KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penerapan Ilmu Fisika dalam Kesehatan ini tepat pada waktunya. Makalah ini kami sajikan secara sistematis serta dengan bahasa yang sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Adapun makalah ini bersumber dari berbagai macam informasi, juga dari dunia maya. Dari sumber tersebut kami dapat mengembangkannya sehingga menjadi kumpulan informasi yang berguna. Dalam menulis makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat dikerjakan dengan baik. Oleh karena itu, jika seandainya dalam makalah ini terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan, kami dengan senang hati menerima masukan, kritikan dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini dilain kesempatan. Semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan serta wawasan kita semua dan berguna bagi siapapun yang membacanya, amin.

Palangkaraya,

Juni 2012

Penulis,

Kelompok 1 i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi . . i ii

Bab 1 Pendahuluan 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penulisan Metode Penulisan

Bab 2 Pembahasan 2.1 2.2 2.3 Biomekanika Biolistrik Bioakustik

Bab 3 Penutup 4.1 4.2 Kesimpulan Saran

Daftar Pustaka \

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas ada berbagai masalah yang timbul dalam

konsep pendidikan kesehatan. Berikut adalah masalah yang dibahas dalam makalah ini 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.3 Bagaimana penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang biomekanika ? Bagaimana penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang biolistrik ? Bagaimana penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang bioakustik ? Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui tentang Bagaimana penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang kesehatan dengan berbagai aspek atau bagiannya.

1.3.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penulisan makalah ini sebagai berikut: 1. Mengetahui tentang penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang biomekanika. 2. Mengetahui tentang penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang biolistrik.

3. Mengetahui tentang penerapann ilmu dalam kesehatan di bidang bioakustik .

1.4

Metode Penulisan Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis

menggunakan metode observasi dan kepustakaan. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.4.1 Studi Pustaka Pada metode ini, penulis membaca buku referensi yang berhubungan dengan penulisan makalah ini.

1.4.2 Internet Dalam metode ini penulis mencari informasi dari internet dan situs-situs yang relevan dan realistis.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 BIOMEKANIKA Ada 2 bidang yang termasuk dalam fisika kesehatan yaitu : bidang kesehatan dan bidang fisika. Oleh karena itu fisika keperawatan berperan dalam 2 hal, meliputi : 1. Penggunaan ilmu fisika untuk menentukan fungsi tubuh meliputi kesehatan dan penyakit. Dalam hal ini juga bisa di sebut dengan faal fisika. 2. Penggunaan fisika dalam praktek kesehatan meliputi pengetahuan tentang benda/alat yang dipergunakan dalam bidang kesehatan yaitu alat ultrasonik, laser, radiasi dsb. Pada generasi terdahulu di Inggris, seorang profesor ahli dalam bidang fisika juga merupakan seorang dokter. Kata ahli fakta physicist dan dokter physician mempunyai asala kata yang sama dalam bahasa Yunani yaitu Physike (Ilmu alam). Pengukuran Fisika maupun disiplin ilmu lain pengukuran kwantitas merupakan dasar utama. Dalam pengkuran ini akan dicari kolerasi atau intepretasi dan sering pula diadakan perbandingan dengan prediksi teoritis. Hal-hal yang meliputi pengukuran kwuantitas ini adalah sistem satuan Internasional atau disingkat dengan sistem S1 (System International Unit) atau Satuan Matrik. Dasar sistem SI yang dipakai adalah panjang dinyatakan dalam meter, massa dinyatakan dalam kilogram dan waktu dinyatakan dalam sekon (detik). Secara praktis sering dipergunakan satuan kecil atau satuan besar misalnya centimeter, gram, kadang-kadang untuk menyatakan kwantitas dipergunakan satuan Inggris misalnya : feet, poun dan galon.

a. Proses Pengukuran Dalam proses pengukuran dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang gambaran keadaan tubuh dan hasil pengukuran itu dpat dipakai sabagai bahan perbadingan. Dalam pengukuran fisik dibagi menjadi 2 group. yaitu : 1. Proses Pengukuran Pengulangan Pada proses ini biasanya melibatkan sejumlah pengulangan perdetik, permenit, perjam dan sebagainya. Misalnya pengukuran pernafasan diperoleh nilai pernapasan rata-rata kira-kira 15/menit, denyut nadi 17/menit. 2. Proses pengukuran yang tidak ulang Proses pengukuran ini hanya dilakukan sekali terhadap individu. Misalnya mengukur substansi asing yang dikeluarkan lewat ginjal ; potensial aksi dari suatu sel saraf.

Dalam proses pengukuran ini perlu diperhatiakan proses ketelitian dan kebenaran. Ketelitian dan kebenaran mempunyai arti yang berbeda dalam pengukuran. Ketelitian menunjukan pengukuran yang bagaimana memberikan pendekatan untuk memperoleh suatu standar. Contoh, tinggi seseorang ketika diukur diperoleh 1,765 meter, ketelitian mungkin 0,003 (=22mm) dibandingkan dengan patokan (standar) meter. Untuk memperoleh ketelitian diperlukan suatu pengukuran berkali-kali kemudian dicari rata-rata akhir dari kesemuanya itu dan dicari standart deviasi.

b. Registrasi Mencatat hal-hal yang diperoleh dari hasil pengukuran disebut registrasi. Registrasi ini penting untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Kadang-kadang diperlukan registrasi kontinyu terhadap suatu keadaan selama waktu tertentu, registrasi ini disebut registrasi analog. c. False positif dan false negatif

Dari hasil pengukuran itu belum bisa menentukan apa-apa tanpa membandingkan nilai yang ada. Suatu contoh, seorang dokter setelah memperoleh sejarah kesaktian dari seorang penderita, memperoleh hasil pemeriksaan fisik dan hasil pengukuran laboratorium,dapat menentukan apakah penderita itu atau sakit atau tidak. Dalam hal penentuan itu bisa terjadi false positip atau negatif. False positif merupakan suatu error (penyimpangan) yang terjadi di mana penderita dinyatakan menderita sebuah penyakit padahal sama sekali tidak. Sedangkan false negatif merupakan suatu error yang terjadi dimana penderita dinyatakan tidak sakit padahahal penderita tersebut enderita suatu penyakit. Untuk menghindari atau mengurangi false positif atau negatif perlu memperhatiakan : a. Dalam pengambilan pengukuran b. Pengulangan pengukuran c. Penggunaan alat-alat yang dapat dipercayai d. Kaliberasi sepatutnya terhadap alat-alat Satuan Apabila ingin mengatakan suatu kwantitas fisik yang melibatkan hukum atau prinsip, harus mengetahui bagaimana cara mengukur suatu kuantitas. Banyak yang menggunakan satuan di dalam pengukuran, meskipun para ilmuan telah membatasi kehendak itu. Para ilmuan telah mempertimbangkan kuantitas yaitu satuan dasa istilah dalam pengukuran. Dalam cabang ilmu fisika yang dikenal sebagai ilmu mekanika, kuantitas dasar adalahnpanjang, massa dan waktu sedangkan satuan dasar adalah meter, kilogram, dan detik. Seluruh kuantitas fisik yang terlibat di dalam mekanika dapat dinyatakan dalam istilah satuan dasar. Contoh, gaya (Force) dinyatakan sebagai kg m perdetik.

2.1.1 HUKUM DASAR DALAM BIOMEKANIKA Dalam biomekanika memakai hukum dasar yang dirumuskan oleh Isaac Newton (1643-1727) untuk mempelajari gerakan mekanik pada manusia dan hewan. Newton mula-mula mengembangkan hukum gerakan dan menjelaskan gaya tarik gravitasi antara dua benda. Hukum Newton sangat memadai dan banyak penggunaannya di dalam bidang astronomi, geologi, biomekanik dan keknik. Ada 3 hukum dasar mekanika yang dicetuskan oleh Newton : 1. Hukum Newton pertama 2. Hukum Newton kedua 3. Hukum Newton ketiga

a. Hukum Newton Pertama Hukum ini disebut pula hukum inersia (hukum kelembaman) ini berarti benda itu mempunyai sifat mempertahankan keadaanya apabila benda itu sedang bergerak maka benda itu akan bergerak terus. Demikian pula benda itu sedang tidak bergerak maka benda itu bersifat malas untuk mulai bergerak. Dapat pula dikatakan bahwa semua obyek/benda akan bergerak apabila ada gaya yang mengakibatkan pergerakan itu. Pandangan ini disimpulakan sebagai hukum Newton yang berbunyi : Setiap objek berlangsung dalam keadaan istirahat, atau gerakan yang sama pada suatu garis lurus. Kecuali benda itu dipaksa untuk berubah keadaan oleh gaya yang bekerja padanya hukum ini digunakan untuk mengukur suatu pengamtan. b. Hukum Newton Kedua Apabila ada gaya yang bekerja pada suatu benda maka benda akan mengalami suatu percepatan yang arahnya sama dengan arah gaya. Percepatan (a) dan gaya (F) adlah sebanding dengan besaran. Apabila kedua besaran ini sebanding maka salah

satu adlah sama dengan hasil perkalian bilangan konstan. maka hubungan gaya (F) dan percepatan (a). c. Hukum Newton Ketiga Bilamana suatu benda A memberi gaya F pada suatu benda B, pada waktu bersamaan benda B memberi gaya R pada benda A gaya R sama dengan F tetapi mempunyai arah yang berlawanan. 2.1.2 Gaya Pada Tubuh Dan Didalam Tubuh Gaya merupakan suatu konsep umum yang dapat dirasakan secar intuisi bagi fisikawan atau seorang insinyur. Ada gaya yang bekerja pada tubuh dan gaya berada didalam tubuh kita sendiri. Gaya yang bekerja pada tubuh dapat diketahui apabila kita menabrak suatu objek. Sedangkan gaya yang berda dalam tubuh, sering-sering tidak kita ketahui, padahal gaya itu ada, misalnya gaya otot yang menyebabkan mengalirnya darah dan paru-paru yang memperoleh udara. Newton telah membuat hukum gravitasi secara universal yang merupakan asal mula gaya yang diukenal dengan gaya gravitasi. Hukum ini merupakan gaya tarik antara 2 benda, misalnya berat badan, ini merupakan gaya tarik bumi terhadap badan kita terjadi varises pada vena merupakan gaya tarik bumi terhadap aliran darah yang mengalir secara berlawanan. Setelah gaya gravitasi adapula gaya listrik yaitu antara gaya elektron dan proton pada atom hidrogen. Ada pula 2 gaya lain yang fundamental/mendasar yaitu gaya inti kuat yang dihasilkan oleh proton dan gaya inti lemah yang dihasilkan elektron (beta) dari inti atom. Apa bila ditinjau dari segi statis dan dinamisnya tubuh manusia maka gaya yang bekerja pada tubuh manusia dibagi dalam 2 tipe yaitu : 1. Gaya pada tubuh dalam keadaan statis 2. Gaya pada tubuh dalam keadaan dinamis. 2.1.3 GAYA PADA TUBUH DALAM KEADAAN STATIS

Tubuh dalam keadaan statis/stasioner berarti objek/tubuh dalam keadaan seimbang berarti pula jumlah gaya dalam segala arah sama dengan nol, dan jumlah momen gaya terhadap sumbu juga sama dengan nol. Sistem otot dan tulang dari tubuh manusia bekerja sebagai pengupil. 2.1.4 FISIKA OLAH RAGA Yang perlu diperhatikan oleh ragawan yaitu keadaan fisik dan tekhnik yang dikuasai oleh olah ragawan. Keadaan fisik meliputi kesehatan dan poster tubuh hal ini akan dibahas dalam mata pelajaran Anatomi, Faal olah raga atau disiplin ilmu lainnya. Masalah teknik yang dikuasai serta hal-hal yang berkaitan dengan fisika yaitu mengenai penentuan pusat gravitasin momentum dan torsi. 2.1.5 KESEIMBANGAN TUBUH Tubuh dalam ststus setimbang atau balans apabila gaya yang bekerja padanya saling meniadakan dan tubuh tetap daam keadaan istirahat. Bilamana ditinjau dari segi pusat gravitasi dan luas kontak, keseimbangan tubuh bisa tercapai dan ditingkatkan apabila : a) Letak grvitasi direndahkan misalnya pada posisi duduk atau tidur b) Peningkatan luas permukaan penyagga misalnya dalam posisi tidur, posisi duduk waktu berjalan, bertinju kedua kaki dilebarkan. Keseimbangan tubuh dapat dikurangi dengan cara : a) Meningkatkan pusat gravitasi, dengan cara angkat tangan ke atas, menjujung barang diatas kepala. b) Mengurangi dasar permukaan penyangga dengan cara menjnjit atau berdiri dengan satu kaki. 2.1.6 MOMENTUM Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi tabrakan, misalnya pemain sepak bola petinju atau mobil. Gaya yang bekerja selama tabrakan berlangsung sering kali

sulit untuk ditentukan, walaupun penggunaan langsung hukum Newton kedua. Apabila terjadi tabrakan antara dua objek, maka penggunaan momentum sangat berhasil, oleh karena ttal momentum dari kedua objek seelalu tetap walaupun momentum tiap objek akan berubah. Momentum dari sebuah objek adalah hasil kali massa dan

kecepatannya.perubahan momentum suatu objek berkaitan erat akan gaya objek itu sendiri. Oleh sebab itu dalam mengukur perubahan momentum, harus dicari rata-rata gaya yang akan bekerja pada objek. Kegunaan Momentum Dalam Bidang Oleharaga Salah satu aktivitas atletik adalah mencoba untuk meningkatkan pemindahan momentum. Sebagai contoh pada waktu bertinju, pukulan melalui lencangan tangan tidak begitu efektif dalam memberi momentum kepada lawan kecuali pukulan tersebut berkaitan dengan gerakan badan. Dalam karate, untuk memindahkan momentumnya yang besar sering berkaitan sekali akan kecepatan gerak dari lengan dari pada gerakan seluruh badan. Sedangkan dalam lempar peluru terjadi pemindahan bentuk kecepatan lambat dari gerak massa seluruh tubuh menjadi kecepatan tinggi disalurkan kepada peluru. Dalam olah raga tennis, raket, lengan dan badan merupakan bagian dari tumbukan massa raket 0,4 Kg, dapat beraksi apabila tubuh dalam keadaan ekstensi. Massa efektif tumbukan (raket) tergantung kepada bagian tubuh manusia yang dipakai dan bagaimana cara mempergunakan. Apabila seseorang mengayuhkan raket, mula mula pergelangan tangan yan beraksi masa efektif tumbukan sangat kecil sehingga ayunan tangan dapat diabaikan. Apabila raket tennis dipakai memukul bola, menrut hukum newton ke III gaya akan menerima gaya dari raket, sedangkan raket mendapat gaya dari tubuh dan bola akan memberi gaya ke bumi pada saat bola mengenai tanah. Dengan demikian momentum yang dibebankan kepada bola akan diteruskan ke bumi. Oleh karena itu sangatlah tepat apabila dicarikan massa efektif

dari tumbukan. Andaikata tumbukan raket dan bola adalah dua bagian dari satuan sistem di mana tanpa gaya dari luar, sehingga momentum total dari tumbukan dan bola adalah konstan. Massa efektif bukanlah angka tanpa arti, melainkan dalam mempelajari gerakan atlit perlu mengetahui bagaimana meningkatkan massa efektif tumbukan dan kecepatan bola yang tinggi. Dalam karate momentum tinggi dari suatu tumbukan dicapai melalui gerakan cepat dari lengan. Pada pukulan ke delapan, gerakan mula-mula diperkirakan lurus dan terjadi tumbukan ketiga gerakan dengan kecepatan maksimum serta panjang jangkauan tangan 70%

2.2 BIOAKUSTIK (GELOMBANG BUNYI)

2.2 Bunyi Stres merupakan istilah yang sangat menonjol di kalangan masyarakat ini. Stres terkadang dipandang sebagai suatu penyakit masyarakat yang serba cepat dan penuh persaingan dan merupakan cerminan kehidupan yang berada di kota-kota padat dengan penduduk yang sangat besar. Salah satu faktor yang telah terbukti berkontribusi terhadap timbulnya stres adalah bunyi, terutama dalam bentuk kebisingan. Bunyi sulit untuk didefinisikan karena musik dari diri seseorang dapat menjadi suatu kebisingan, dan bayi yang menangis dapat menimbulkan rasa kasih dari seseorang dan penganiayaan fisik bagi orang lain. Gelombang adalah getaran atau gelombang yang merambat dalam suatu medium. Syarat terjadi dan terdengarnya bunyi : 1. Ada sumber bunyi yang bergetar 2. Ada medium dan zat antara 3. Ada penerima bunyi

Pengertian bunyi Bunyi adalah gelombang longitudinal yang dapat merambat melalui medium padat, cair, atau gas. Segala sesuatu yang bergetar dan menimbulkan bunyi disembut sumber bunyi. Telinga manusia dapat mendengar bunyi pada frekuensi 20 Hz sampai 20.000 Hz. Frekuensi bunyi di bawah 20 Hz disebut frekuensi infrasonik. Frekuensi bunyi di atas 20.000 Hz disebut gelombang ultrasonik. Frekuensi bunyi antara 20 Hz 20.000 Hz disebut gelombang audiosonik.

2.2 2.2.1

Karakteristik Bunyi Pembetukan Bunyi di hasilkan melalui vibrasi. Dalam hal ini ujing garpu tala bervibrasi ke

depan dan belakang, sperti di tujukan oleh panah. Masing-masing gerakan keluar dari ujung garpu tala tersebut akan menyebabkan udara tertekan di jalurnya sehingga terjadi kompresi, sedangkan gerakan kedalam atau kembali menyebabkan tekanan udara di ujung garpu tala menjadi rendah rarefaction (ekspansi). Proses tersebut berulag sehingga membentuk serangkaian kompresi dan rarefaction, dan tentu saja membentuk gelombang progesif lungitudinal. Gelombang tersebut memuat energi. Di atas tampak vibrasi terjadi pada ujung garpu tala tetapi vibrasi tersebut juga dapat dihasilkan oleh sebuah senar yang vibrasinya lebih mudah kita amati. Misalnya saja pada gitar, biola dan piano, atau dalam suatu corong suara, misalnya terompet, orgen, dan suling, dan dalam benda yang tertutup, misalnya segitiga. Pada contoh terakhir, vibrasi yang terjadi tidak mudah di amati. Dalam tubuh, bunyi dihasilkan melalui vibrasi pita suara didalam laring. Laring merupakan struktur bertulang rawan tempat sistem otot yang ekstensif mengendalikan ligamen suara atau pita suara. Pita suara sebenarnya merupakan lipatan-lipatan yang berada di sepanjang dinding laring yang menghasilkan bunyi dengan berbagai intonasi bergantung pada tegangan pada pita dan bentuk serta masa dari tepian pita suara tersebut.

2.2.2 Transmisi Transmisi bergantung pada medium yang dilalui bunyi untuk menyebar : di udara (pada suhu ), bunyi menjalar dengan kecepatan 331 m/s, tetapi pada logam

besi, bunyi menjalar dengan kecepatan 4900 m/s, darah di air laut pada kecepatan 1540 m/s. Di udara, kecepatan bunyi bergantung pada suhu menyebabkan

peningkatan kecepatan sebesar 0,6 m/s. Namun, frekuensi dan amplitudo bunyi tidak memeengaruhi kecepatan.

2.2.3 Penerimaan

Reseptor bunyi kita, tentu saja, telinga kita. Dilengkapi dengan sepasang telinga demi alasan yang baik : layaknya dua speaker dari suatu sistem stereo yang bukan saja memeungkinkan kita untuk mendengar bunyi tetapi juga memberi kesan pada kita bahwa bunyi berasal dari berbagai tempat dalam ruangan. Dengan demikian, telinga kita memberikan pendengaran stereo dan memungkinkan kita untuk mendeteksi arah sumber bunyi tersebut. Arah datangnya bunyi ditentukan oleh dua faktor utama. Pertama, jeda waktu antara penerimaan bunyi di satu telinga dan penerimaan bunyi di telinga lain. Jika bunyi berasal dari sisi kanan, misalnya, telinga kanan akan mendengar bunyi sebelum telinga kiri. Otak kemudian mengumpulkan dan menyatukan tersebut dan menyampaikannya kembali sehingga kita mengenali arah sumber bunyi tersebut. Jika bunyi, misalnya, bersal dari depan, kedua telinga akan mendengar disaat yang bersamaan. Faktor kedua yang digunakan untuk menentukan arah bunyi adalah perbedaan inbtensitas bunyi yang terdengar oleh kedua telinga. Untuk

mengidentifikasi lokasi yang tepat suatu bunyi yang lain, kita mungkin perlu memalingkan kepala. Telinga terdiri dari sistem pengumpul (pinna dan saluran auditori), dan penguat (amplifer) (sebagian struktur dari telinga dalam), sistem pengolah (koklea) dan saluran penghantar (saraf auditori). Telinga manusia normalnya mampu mendeteksi bunyi yang berada pada kisaran 20 20.000 Hz, dengan sensitivitas tertinggi pada kisaran 2000-5500 Hz. Telinga memiliki sensitivitas yang sangat menakjubkan, terkadang mampu mendeteksi perubahan frekuensi sampai serendah 1 Hz., dan juga sangat sensitif terhadap mutu bunyi atau not musik.

2.2.4 Resonansi Setiap objek memiliki frekuensi vibrasi paling kuat dari suatu objek adalah pada frekuensinya sendiri. Dengan demikian, jika sebuah not yang dimainkan dalam frekuensi yang sama dengan frekuensi suatu objek. Objke itu juga akan bervibrasi, terkadang sampai suatu tingkatan yang dampaknya cukup serius. Pada situasi lain,

putaran angin dalam badai terjadi dalam kecepatan yang sama dalam frekuensi alami jembatan sehingga jembatan runtuh. Tentara selalu diperintahkan untuk

membubarkan barisan saat melewati jembatan karena alasan tersebut, jika frekuensi suara langkah dalam barisan mereka sama dengan frekuensi alami jembatan, dampaknya mungkin akan menyengsarakan baik tentara maupun jembatannya. Kasus diatas merupakan resonansi kecenderungan satu objek untuk bervibrasi menyerupai objek lain suatu efek yang paling menonjol dari frekuensi alami suatu objek. Seorang penyanyi opera terkenal, Caruso, mampu memecahkan gelas anggur dengan menyanyikan not yang frekuensinya manyamai gelas tersebut, sehingga gelas akan bersonansi dan pecah. Instrumen musik yang menggunakan kotak berongga atau bilik berongga untuk menghasilkan resonansi yang dapat memperbaiki mutu suara instrumen tersebut. Dengan cara yang sama laring menggunakan mulut, hidung, dan sinus nasal yang berhubungan, faring, dan terkadang bahkan rongga dada sebagai resonator. Membran dasar memiliki begitu banyak serabut yang melekat padanya dengan derajat kekakuan yang beragam, yang berarti bahwa serabut yang berada dapat bersonansi pada frekuensi yang berbeda juga. Massa cairan dalam koklea di berbagai tempat juga berbeda guna membantu pembentukan resonansi. Frekuensi tinggi resonansi membran basiler berada di dekat bagian bawah koklea, dan frekuensi rendah resonansi berada di dekat bagian puncak koklea. Frekuensi perantara berada di tengah kedua ekstrem tersebut. 2.2.5 Intonasi Intonasi, dalam berbagai aspek, berkaitan dengan frekuensi suatu not/nada. Namun, ada unsur subjektif yang terlibat, yaitu bahwa intonasi cenderung bergantung pada persepsi individu terhadap rendah atau tinggi nya nada itu. Selain itu, berdasarkan pembahasan kita di atas, metode utama yang digunakan sistem saraf untuk mendeteksi berbagai intonasi adalah dengan menentukan posisi yang paling

terstimulasi atau yang paling bersonansi di sepanjang membran basiler. Itulah yang disebut dengan prinsip tempat. Intonasi bunyi yang dihasilkan oleh pita suara dapat diubah melalui dua cara yang berbeda dengan meregangkan atau merilekskan pita suara (nada tinggi dicapai dengan meregangkan pita suara, dan nada rendah dengan merilekskan pita suara); atau dengan mengubah bentuk massa dan tepian pita suara. Tepi pita suara menjadi tajam dan tipis untuk menghasilkan bunyi yang berfrekuensi tinggi, tetapi akan menebal dan menambah massanya untuk menghasikan bunyi berfrekuensi rendah. Dengan demikian intonasi bergantung pada frekuensi, dan beberapa prinsip umum berikut berlaku untuk objek yang menghasilkan bunyi (termaksuk pita suara): 1. Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi intonasi nada yang dihasilkan, dan sebaliknya; 2. Semakin tinggi tegangan pada tubuh yang di regangkan (misalnya senar), semakin tinggi intonasi (faktor yang lain tetap sama); 3. Semakin besar massa pada senar dengan panjang tertentu, semakin rendah nada yang dihasilkan (faktor lain tetap sama); 4. Semakin pendek medium vibrasi (mis. Panjang senar), semakin tinggi nada yang dihasilkan (sekali lagi, semua faktor tetap sama, karena semua faktor tersebut saling bergantung dan semuanya menentukan intonasi nada yang dihasilkan). 2.2.6 Volume Sistem auditori menentukan keras lemahnya bunyi sedikit dalam tiga cara: 1. Saat bunyi semakin keras, amplitudo vibrasi dari membran basiler an sel sel rambut juga akan meningkat sehingga sel sel rambut mengeksitasi ujung saraf pada laju yang lebih cepat; 2. Saat amplitudo vibrasi meningkat, semakin banyak sel rambut yang terstimulasi di perbatasan dari bagian yang bervibrasi pada membran basiler

yang mengakibatkan perambatan impuls melalui sejumlah sebesar serabut saraf; 3. Sistem sel rambut tidak akan terstimulasi sampai vibrasi pada membran basiler mencapai intensitas yang relatif tinggi, yang sekali mencerminkan fakta bahwa bunyi yang dihasilkan memang keras. Pengukuran terhadap intensitas bunyi atau keras lemahnya bunyi menggunakan skala desibel. Skala desibel. Skala tersebut memungkinkan dilakukannya perbandingan kuantitatif antara bunyi yang keras dan bunyi yang lemah. Karena sangat panjangnya kisaran intensitas bunyi yang dapat dideteksi telinga manusia (suara terkeras memiliki intensitas 1012 kali intensitas suara terlemah yang dapat di dengar) maka digunakan skala logaritma. Ini berarti bahwa tingkatan bunyi setinggi 100 desibel bukan nilai yang 20 kali lebih besar daripada tingkatan bunyi setinggi 80 desibel, tetapi 102 atau 100 kali lebih besar. (Tabel 12.1) 2.2.7 Bising atau Musik? Seperti dikatakan sebelumnya, perbedaan tersebut cenderung bersifat subjektif. Namun, definisi operasionalnya dapat dinyatakan sebagai berikut: bising tidak memiliki intonasi atau ketetapan yang pasti dan sifatnya cenderung berubah, tetapi not musik dapat diidentifikasi melalui intonasi yang pasti, keteraturan, dan kehalusannya. Pemantulan Jika gelombang bunyi menemui suatu halangan di antara dua medium, misalnya udara dan air, udara dan beton, atau udara dan jaringan tubuh manusia, sebagian dari gelombang bunyi akan dipantulkan dan sebagiannya lagi biasanya terserap atau dihantarkan ke permukaan yang baru. Beberapa permukaan dapat memantulkan sejumlah besar bunyi sehingga akan terbentuk gema.

Tingkatan 1000 Hz 0 20 40

desibel

pada Deskripsi bunyi

Berbagai ambang

intensitas

Ambang pendengaran Ruang yang sangat tenang

1 102

Musik yang sangat pelan 104 (ppp) yang khas ruang keluarga 106

60 80

Percakaan biasa

Kuliah di kelas, suara radio 108 yang keras pendengaran 1010

100

Kerusakan

setelah panjanan lama; rata rata bunyi aktivitas

pabrik, bunyi terkeras dari orkestra pada penonton 1012 1014 1016

terdekat (fff) 120 140 160 Keterangan : Ppp = sangat, sangat halus Fff = sangat, sangat keras (Dikutip dari Nave dan Nave: Physic for the Health Sciences). 2.2.8 Refraksi Jika gelombang bunyi melewati medium yang satu ke medium yang lain, seperti dijelaskan di atas, arah perjalanannya akan berubah karena kecepatannya di dalam medium yang baru berbeda dengan kecepatan pada medium lama. Ambang nyeri Nyeri parah Gendang telinga pecah

2.2.9 Interferens Ketika iterferens terjadi pada gelombang cahaya, efek yang serupa dapat diamati pada gelombang bunyi, dan baik interferens konstruktif maupun interferens destruktif dapat terjadi interferens konstrktif, bunyi akan menjadi semakin keras, sementara pada interferens destrukif, bunyi akan melemah. Selain itu, jika frekuensi dari dua elombang bunyi sangat serupa tetapi tidak cukup sama, layangan (beats) akan terdengar. Efek tersebut merupakan efek keras lemah yang dihasilkan dari penambahan dua gelombang bunyi yang digunakan pemusik dalam menyetel/menyelaraskan instrumen mereka. 2.3 Efek doppler Kecepatan bunyi di dalam udara cukup cepat tetapi cukup lambat untuk dapat dipengaruhi oleh gerakan relatif diantara sumber dan pengamat. Jika sebuah kereta api membunyikan peluitnya, perbahan intonasi yang cukup jelas akan terdengar oleh pengamat yang berada di stasiun di saat kereta melintas. Efek serupa juga dapat diamati pada sirene ambulans dan polisi walau intonasinya sudah berubah akibat sirene itu sendiri. Jika pengamat bergerak, sekali lagi efek yang sama akan dirasakan. Contoh, penumpang pada kereta akan mendengar turunnya intonasi bunyi yang dihasilkan bel penanda kereta lewat yang terpasang pada lintasan kereta api. Dibidang kedokteran, efek doppler dapat dimanfaatkan untuk membantu mendiagnosis ada tidaknya trombus. Instrumen menentukan kecepatan aliran darah dengan mengukur perbedaan yang nampak pada frekuensi antara sinyal yang dipancarkan dan sinyal yang diterima setelah pemantulan dari sel darah yang bergerak. Jikia gumpulan darah memang ada, aliran darah akan terhambat dalam pembuluh, sel darah merah akan melambat dan hal tersebut akan tampak pada instrumen. Hasil pengukuran baru itu dapat menunjukkan posisi gumpulan atau trombus.

2.4 Bunyi dalam pengobatan 2.4.1 Ultrasonik Disini digunakan frekuensi yang berada di atas kisaran pendengarn normal, dan cara penggunaan sonar untuk menentukkan letak kumpulan ikan dan kapal selam diterapkan untuk memanfaatkan gema. Sonar merupakan gelombang bunyi yang di pantulkan dari ikan atau kapal selam yang dapat menandai lokasinya. Dengan cara yang sama, beberapa jaringan tubuh memantulkan gelombang tersebut lebih banyak dari jaringan yang lain. Pada pemantulan menghasilkan suatu gambar dari struktur internal tubuh. tekhnik tersebut berguna terutama dalam obstetri dan tidak memiliki efek membahayakan seperti pada sinar-X. Bayangan janin yang dihasilkan memungkinkan dilakukan penetapan ukuran, lokasi, posisi, dan terkadang bahkan kelainan fisik. Kondisi tersebut menjadi informasi yang bermanfaat bagi dokter dan pasien untuk menentukan keputusan mengenai perkembangan kehamilan, persiapan untuk persalinan, dan masalah yang potensial. Teknik tersebut digunakan untuk menentukan lokasi tumor, gangguan kardiovaskular, dan efek mata. Pemindai ultrasonik memanfaatkan efek Doppler untuk mengaji gerakan dan fungsi jantung, aliran darah melalui arteri besar dan bunyi jantung janin. 2.4.2 Litotripsi ultrasonik Tekhnik litotripsi ultrasonik memilki manfaat yang besar karena sifat non invasifnya dan jauh lebih tidak raumatik dari pada pembedahan yang dapat menggantikannya. Pada sekitar 90 95% dari semua kasus pelvis ginjal dan batu ureter. Prinsip tekhnik ini mengandalkan pembentukan gelombang listrik yang di konsentrasikan pada wilayah lokasi batu tersebut. Gelombang tersebut di pancarkan melalui cairan di dalam bak khusus, atau dengan musim terbaru, bantal cairan atau

ikat pinggang dan kemudian di hantarkan menuju jaringan yang memiliki kandungan air tinggi. Namun, menjelang tiba di batu tersebut pelepasan energi dari gelombang listrik menyebabkan batu secara perlahan hancur. Namun, karena di perlukan sekitar 500 1500 impuls gelombang listrik, anestesi harus dilakukan jika digunakan adalah mesin lama. Banyak sudah aktivitas di luar negeriyang mengggunakan teknik tersebut untuk menghancurkan batu empedu, tetapi teknik tersebut belum terbukti keamanannya dan tidak disetujui oleh perundangan di Amerika Serikat, misalnya: 2.4.3 Stetoskop Stetoskop merupakan instrumen yang sangat sederhana dengan bel yang berfungsi sebagai detektor untuk bunyi yang lemah yang dapat memperkeras bunyi denyut jantung, atau aliran udara yang masuk dan keluar paru-paru. Bunyi yang di perkeras tersebut di lewatkan melalui slang menuju kedua telinga dengan cara yang sama saat bunyi alirkan melalui udara, dan vibrasi tersebut kemudian ditangkap oleh telinga pengguna. 2.4.4 Alat Bantu-Dengar dan Ketulian Ada beberapa jenis ketulian: 1. Sensorineural atau ketulian saraf di akibatkan oleh mulfungsi struktur saraf pada telinga dalam, saraf auditori menuju otak, atau pada otak itu sendiri. Disamping penyakit lain, ketulian juga dapat di akibatkan oleh serangan serebrovaskular (stroke). 2. Ketulian konduksi, saluran, atau ketulian transmisi yang terjadi akibat kerusakan mekanisme telinga luar dan atau telinga tengah sehingga bunyi tidak dapat menghantarkan menuju koklea. Penyebab umum ketulian konduksi pada anak kecil adalah infeksi telinga tengah yang krosnis. 3. Ketulian campuran akibat gangguan baik pada mekanisme konduktif maupun mekanisme saraf.

4. Ketulian fungsional bermula dari gangguan emosional ataupun psikologis. Dalam hal ini, tidak tampak lesi organik. Alat bantu pendengaran kerap memberikan hasil yang baik untuk ketulian konduksi karena tulang dapat bertindak sebagai konduktor untuk menghantarkan bunyi (yang diperkeras oleh alat bantu pendengar) melalui saraf auditori, yang masih dapat dapat berfungsi memuaskan pada ketulian jenis ini. Uji konduksi tulang, yaitu dengan meletakkan ujung garpu tala yang bervibrasi pada tonjolan tulang mastoid dibelakang telinga, di gunakan untuk membantu menentukan apakah ketulian termasuk jenis konduksi atau jenis saraf, dan pada glirannya, apakah alat pedengaran memanakan untuk menndng diperlukan atau tidak. Audiometer, sebuah instrumen yang mampu menghasilkan nada murni dengan beragam frekuensi, digunakan untuk menentukan sifat yang lebih tepat tentang ketulian yang terjadi. Ketulian sensorineural, yang terjadi akibat gangguan pada struktur saraf telinga dalam atau jalur saraf yang menuju otak, banyak ditemukan di dunia industri dan beberapa jenis usaha lain karena tingkat dan konsistensi kebisingan yang ditimbulkan. Ketulian jenis ini kerap menyebabkan kehilangan frekuensi wicara yang lebih tinggi (2 4 kHz) sehingga sebagian besar konsonan tidak terdengar penderitanya hanya mendengar bunyi bergumam. Alat bantu dengar biasanya tidak membantu untuk ketulian jenis ini. 2.5 Gelombang Bunyi Dan Kecepatan Gelombang bunyi timbul akibat terjadi perubahan mekanik pada gas. Zat cair atau gas yang merambat ke depan dengan kecepatan tertentu .Gelombang bunyi ini menjalar secara transversal atau longitudinal, lain dengan cahaya hanya menjalar secara transversal saja. Pada suatu percobaan, apabila terjadi vibrasi dari suatu bunyi maka akan terjadi suatu peningkatan tekanan dan penurunan tekanan pada tekanan atmosfer, peningkatan tekanan ini disebut kompresi sedangkan penurunan tekanan disebut rarefaksi (peregangan). Bunyi mempunyai hubungan antara frekwensi vibrasi (f)

bunyi, panjang gelombang ( ) dan kecepatan V, secara sistematis hubungan it u dapat dinyatakan dalam rumus. Pada penelitian lebih lanjut diperoleh bahwa bunyi yang melewati berbagai zat mempunyai kecepatan tersendiri seperti terlihat pada daftar di bawah ini :

2.5.1 Sumber Bunyi Banyak sekali fenomena menghasilkan bunyi. Misalnya pembakaran minyak dalam suatu mesin, selalu menghasilkan bunyi.Bunyi yang dihasilkan instrument musik, gerakan dahan, pohon atau daun juga menghasilkan bunyi. Ruang mulut dan ruang hidung manusia merupakan struktur resonansi untuk menghasilkan vibrasi melalui pita suara; demikian pula garputala yang digetarkan akan menghasilkan bunyi. Dari contoh diatas dapat disimpulkan bunyi itu bisa berasal dari alam, dan bisa berasal dari perbuatan manusia.

2.5.2

Mendeteksi Bunyi Untuk mendeteksi bunyi perlu mengkonversikan gelombang bunyi

bentuk vibrasi sehingga dapat dianalisa frekwensi dan intensitasnya. Untuk perubahan ini diperlukan alat mikrofon dan telinga manusia.Alat mikrofon merupakan transduser yang memberi respon terhadap tekanan bunyi (sound pressure 0 dan menghasilkan isyarat/signal listrik.Mikrofon yang banyak digunakan adalah mikrofon kondensor. Pemilihan mikrofon ini sangat penting oleh karena berguna untuk mendeteksi kebisingan lingkungan perusahaan (merupakan medan difus segala arah atau medan bebas) disamping itu perlu diperhatikan faktor kecepatan angina, cuaca oleh karena sangat mempengaruhi pada mikrofon.

2.5.3 Pembagian Frekwensi Bunyi. Pembagian frekwensi bunyi mempunyai arti dalam hal pengobatan, diagnosis, nyeri yang ditimbulkan dan sebagainya. Berdasarkan frekwensi maka bunyi dibedakan dalam 3 daerah frekwensi yaitu : a. Frekwensi bunyi antara 016 Hz (infrasound)

Frekwensi ini biasanya ditimbulkan oleh getaran tanah, gempa bumi, getaran bangunan maupun truk mobil. Vibrasi yang ditimbulkan oleh truk mobil biasanya mempunyai frekswensi sekitar 0 16 Hz. Frekwensi lebih kecil dari 16 Hz akan menyebabkan perasaan yang kurang nyaman (discomfort), kelesuan (fatique), kadang-kadang menimbulkan perubahan pada penglihatan. Apabila vibrasi bunyi dengan frekwensi infra yang mengenai tubuh akan menyebabkan resonansi dan akan terasa pada beberapa bagian tubuh. Frekwensi antara 16 20.000 Hz (frekwensi pendengaran). Dari hasil percobaan diperoleh kepekaan telinga terhadap frekwensi bunyi antara 16 4. 000 Hz. Nilai ambang rata-rata secara internasional terletak di daerah 1.000 Hz. Arti dari nilai ambang yaitu frekwensi yang berkaitan dengan nineau bunyi (dB) yang dapat didengar, misalnya pada frekwensi 30 Hz nineau bunyi harus 60 Hz dB (yaitu 10 6 x 10 -2 W/m2); untuk mendengar bunyi tersebut (60 dB) berarti telinga seseorang harus 10 6 x lebih kuat pada nada 1.000 Hz baru dapat mendengar bunyi tersebut dan berarti pula tekanan bunyinya harus 103 x lebih besar. Pada usia lanjut misalnya 60 tahun, nilai ambang pendengaran bagi 4.000 Hz terletak 40 dB lebih tinggi dari pada usia muda (20 tahun). Gejala naiknya nilai ambang karena usia tersebut dinamakan presbikusis (kurang pendengaran oleh karena umur semakin tua).

b.

c.

Frekwensi diatas 20.000 Hz

Frekwensi ini disebut ultrasonic/bunyi ultra. Frekwensi ini dalam bidang kedokteran digunakan dalam 3 hal yaitu pengobatan, destruktif/penghacuran dan diagnosis.Hal ini dapat terjadi oleh karena frekwensi yang tinggi mempunyai daya tembus jaringan cukup besar.

2.5.4

Intensitas Bunyi Untuk menghitung intensitas bunyi perlu mengetahui energi yang

dibawa oleh gelombang bunyi. Energi bunyi ada 2 yaitu energi potensial dan energi

kinetik.Intensitas gelombang bunyi (I) yaitu energi yang melewati medium 1 m2/detik atau watt/m2. Apabila dinyatakan dalam rumus maka =Masa jenis medium (Kg/m ) v = Kecepatan bunyi (m/detik) v = Z = Impedansi akustik A = Maksimum amplitude atom-atom/molekul. F = Frekwensi W = 2f = frekwensi sudut Intensitas (I) dapat pula dinyatakan sebagai berikut : Po = Perubahan tekanan maksimum (N/m ).

2.5.5 Skala Desibel (Nineau Bunyi) Alexander Graham Bell (1847 1922) guru besar Fisiologi di Boston, adalah penemu telpon tahun 1876, melakukan penelitian terhadap suara dan pendengaran, beliau mengatakan satu bel; (nineau suara) = apabila diperoleh intensitas suatu bunyi adalah 10 kali intensitas yang lainnya maka . Intensitas yang lainnya maka. Oleh karena bell merupakan unit yang besar sehingga dipakai decibel (dB). Hubungan bell dengan decibel dinyatakan 1 bell = 10 dB. Telah diketahui bahwa intensitas (I) berbanding langsung dengan P maka perbandingan antara tekanan dari dua bunyi dapat dinyatakan sebagai berikut : 10 Log = 20 Log

Rumus ini menunjukkan nilai decibel (dB) yang dipergunakan untuk membandingkan dua tekanan bunyi dalam medium yang sama.

2.5.6 Kekerasan Bunyi / Nyaring Bunyi Kekerasan bunyi merupakan bagian dari ukuran bunyi yang merupakan perbandingan kasar dari logaritma intensitas efketifnya jarak penekanan bunyi yang mengakibatkan respon pendengaran. Kenyaringan bunyi tidak berkaitan dengan frekwensi ; kenyaraan 30 Hz mempunyai kekerasan sama dengan 4. 000 Hz bahkan mempunyai perbedaan intensitas dengan faktor 1.000.000 atau 6 dB.

2.5.7 Sifat Gelombang Bunyi Gelombang bunyi mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap oleh benda. Apabila gelombang suara mengenai tubuh manusia (dinding) maka bagian dari gelombang akan dipantulkan dan bagian lain akan diteruskan / ditransmisi ke dalam tubuh. Mula-mula gelombang bunyi dengan amplitudo tertentu mengenai dinding, gelombang bunyi tersebut dipantulkan (R).pantulan tesebut tergantung pada impedansi akustik. Pernyataan itu ditulis sebagai berikut : Impedansi akustik (V) dari kedua media. Telah diketahui bahwa gelombang bunyi sebagian akan diteruskan (T); besarnya T dapat dihitung dengan menggunakan rumus. Pada hukum geometri diketahui bahwa cahaya bisa refleksi (pantul) dan refraksi (patah). Demikian pula pada gelombang bunyi dapat dipatah (direfraksi) dan gelombang bunyi yang masuk ke dalam jaringan akan mengakibatkan berkurangnya amplitude gelombang bunyi. Nilai amplitudo bunyi yang menetap pada jaringan dinyatakan dalam rumus : A = Amplitudo bunyi yang menetap pada jaringan yang tebal X cm Ao= Amplitudo bunyi mula-mula = Koefisien absorpsi jaringan (cm ) x = Tebal jaringan (cm). Hal yang sama dapat pula diketahui berupa nilai intensitas bunyi yang menetap pada jaringan yaitu : Io = Intensitas mula-mula I = Intensitas bunyi yang menetap pada jaringan = Koefisien absorpsi Dengan mempergunakan rumus-rumus tersebut dapat menghitung nilai absorpsi jaringan terhadap gelombang bunyi. Koefisien absorpsi dan nilai paruh ketebalan jaringan, bahan Frekwensi Nilai paruh ketebalan jaringan (cm) : 1. Otot 1 0,13 2,7

2.Lemak 0,8 0,05 6,9 3. Otak 1 0,11 1,2 4. Tulang 0,6 0,4 6,95 5. Air 1 2,5 x 10

2.5.8 Azas Doppler Pada tahun 1800 ahli fisika telah membuktikan bahwa sumber bunyi berfrekwensi fo mempunyai derajat tinggi apabila sumber bunyi bergerak mendekati pendengaran; apabila sumber bunyi bergerak menjauh pendengar akan terdapat frekwwensi dengan derajat rendah. Demikian pula apabila pendengar mendekati sumber bunyi akan memperoleh frekwensi bunyi dengan derajat tinggi. Percobaan frekwensi ini disebut Doppler Shift.Sedang efek yang timbul akibat bergeraknya sumber bunyi atau bergeraknya pendengar disebut efek Doppler. Efek Doppler ini dipergunakan untuk mengukur bergeraknya zat cair di dalam tubuh misalnya darah. Berkas ultrasonic/bunyi ultra uynag mengenai darah (darah bergerak menjauhi bunyi) darah akan memantulkan bunyi ekho dan diterima oleh detector .

2.6

Ultrasonik Dalam Bidang Kedokteran Ultrasonic / bunyi ultra dihasilkan oleh magnet listrik dan Kristal Piezo

Electric dengan frekwensi di atas 20.000 Hz. a. Magnet listrik.

Batang ferromagnet diletakkan pada medan magnet listrik maka akan timbul gelombang bunyi ultra pada ujung ferromagnet. Demikian pula apabila batang ferromagnet dilingkari dengan kawat kemudian dialiri listrik akan timbul gelombang ultrasonic pada ujung batang ferromagnet. b. Piezo electric.

Kristal piezo electric ditemukan oleh Piere Curie dan Jacques pada tahun sekitar 1880; tebal kristal 2, 85 mm. apabila kristal piezo electric dialiri tegangan listrik maka lempengan kristal akan mengalami vibrasi sehingga timbul frekwensi ultra;

demikian pula vibrasi kristal akan menimbulkan listrik. Berdasarkan sifat itu maka kristal electric dipakai sebagai transduser pada ultrasonografi.

2.6.1 Daya Ultrasonik Frekwensi dan daya ultrasonic yang dipakai dalam kedokteran menurut kebutuhan; apabila ultrasonic yang digunakan untuk diagnostic maka frekwensi yang digunakan sebesar 1 MHz sampai 5 MHz dengan daya 0,01 W/cm . Apabila daya ultrasonic ditingkatkan sampai 1 W / cm akan dipakai sebagai pengobatan, sedangkan untuk merusakkan jaringan kanker dipakai daya 10 W/cm .

2.6.2 Prinsip Penggunaan Ultrasonik Efek Doppler merupakan dasar penggunaan ultrasonic yaitu terjadi perubahan frekwensi akibat adanya pergerakan pendengar atau sebaliknya; dan getaran bunyi yang dikirim ke tempat tertentui (ke objek) akan direfleksi oleh objek itu sendiri. Efek gelombang ultrasonik. Ultrasonic sama dengan gelombang bunyi hanya saja frekwensi yang sangat tinggi dan mempunyai efek : a. Mekanik Yaitu membentuk emulsi asap / awan dan disintegrasi beberapa benda padat, dipakai untuk menentukan lokasi batu empedu. b. Panas Nelson Heerich dan Krusen, menunjukkan bahwa sebagian ultrasonic mengalami refleksi pada titik yang bersangkutan, sedangkan sebagian lagi pada titik tersebut mengalami perubahan panas. Pada jaringan bisa terjadi pembentukan rongga dengan intensitas yang tinggi. c. Kimia Gelombang ultrasonic menyebabkan proses oksidasi dan terjadi hidrolisis pada ikatan polyester. d. Efek biologis Efek yang ditimbulkan ultrasonic ini merupakan gabungan dari berbagai efek misalnya akibat pemanasan menimbulkan pelebaran pembuluh darah. Selain itu

ultrasonic menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel dan kapiler serta merangsang aktifitas sel. Sesuai hukum Vant Hoff (menimbulkan panas) otot mengalami paralyse dan sel-sel hancur; bakteri, virus dapat mengalami kehancuran. Selain itu menyebabkan keletihan pada tubuh manusia apabila daya ultrasonic ditingkatkan. 2.7 Penggunaan Dalam Bidang Kedokteran Berkaitan dengan efek yang ditimbulkan gelombang ultrasonic dan sifat gelombang bunyi ultra maka gelombang ultrasonic dipergunakan sebagai diagnosis dan pengobatan.

2.7.1

Ultrasonik sebagai pelengkap diagnosis Kristal piezo electric yang bertindak sebagai transduser mengirim

gelombang ultrasonic mencapai pada dinding berlawanan, kemudian gelombang bunyi dipantulkan dan diterima oleh transduser tersebut pula. Transduser yang menerima gelombang balik akan diteruskan ke amplifier berupa gelombang listrik kemudian gelombang tersebut ditangkap oleh CRT (ossiloskop). Gambaran yang diperoleh CRT tergantung tehnik yang

dipergunakan. Ada 3 macam metade dalam memperoleh gambaran yaitu : A Skanning

Disini yang akan dicari adalah besar amplitude sehingga di sebut A Skanning. Bunyi yang dihasilkan oleh piezo electric melalui transduser akan mencapai dinding B kemudian dipantulkan ke dinding A dan diterima oleh transduser. B Skanning

B Skanning disebut pula Bright Scanning. Metode skanning ini banyak dipakai di klinik oleh karena ini bisa memperoleh pandangan / gambaran dua dimensi dari bagian tubuh. Prinsip B Skanning sama dengan A Skanning. Hanya saja pada B Skanning transdusernya digerakkan (moving) sedangkan pada A Skanning transdusernya tidak digerakkan. Gerakan transduser mula-mula akan menghasilkan echo dapat dilihat adanya dot (dot ini disimpan pada CRT) kemudian transduser

digerakkan kea rah lain menghasilkan echo pula sehingga kemudian tercipta suatu gambaran dua dimensi. Pada B Skanning ini, operator boleh meilih dua mode control pada alat elektronik; untuk mencapai nilai ambang agar memperoleh gambaran yang dikehendakinya maka dipakai alat control leading edge display. Untuk mengatur cahaya benderang pada layer TV (=CRT = Tabung sinar katode) yang sebanding dengan besarnya echo / gema yang dihasilkan oleh transduser ultrasonic naka dipakai alat gray scale display. M Skanning

M Skanning atau Modulation scanning ini merupakan dua metode yang digunakan dalam kaitan untuk memperoleh informasi gerakan alat-alat dengan mempergunakan ultrasonic. Misalnya hal mempelajari gerakan jantung dan gerakan vulva, atau tehnik Doppler yang dipergunakan untuk mengukur aliran darah. Pada M Skanning dimana A akan dalam keadaan stationer sedangkang echo yang terjadi berupa dot dari B skan.

2.7.2 Hal-hal yang didiagnosis dengan ultrasonik Sesuai dengan metode skanning yang dipakai maka ultrasonic dapat dipergunakan untuk diagnosis : A Skanning

Mendiagnosis tumor otak ( echo encephalo graphy), memberi informasi tentang penyakit-penyakit mata, daerah / lokasi yang dalam dari bola mata, menentukan apakah cornea atau lensa yang opaque atau ada tumor-tumor retina. B Skanning

Untuk memperoleh informasi struktur dalam dari tubuh manusia. Misalnya hati, lambung, usus, mata, mamma, jantung janin. Untuk mendeteksi kehamilan sekitar 6 minggu, kelainan dari uterus / kandung peranakan dan kasus-kasus perdarahan yang abnormal serta treatened abortus (abortus yang sdang berlangsung). Lebih banyak memberi informasi daripada X-Ray dan sedikit resiko yang terjadi. Misalnya X-Ray hanya dapat mendeteksi kista yang radiopaque sedangkan B Skanning lebih banyak memberi petunjuk tentang yipe berbagai kista.

M Skanning

Memberi informasi tentang jantung, valvula jantung, pericardial effusion (timbunan zat cair dalam kantong jantung). M Skanning mempunyai kelebihan yaitu dapat dikerjakan sembari pengobatan berlangsung untuk menunjukkan kemajuan dalam pengobatan.

2.7.3

Penggunaan ultrasonic dalam pengobatan Sebagaimana telah diketahui bahwa ultrasonic mempunyai efek kimia

dan biologi maka ultrasonic dapat dipergunakan dalam pengobatan. Ultrasonic memberi efek kenaikan temperature dan peningkatan tekanan; efek ini timbul karena jaringan mengabsorpsi energi bunyi dengan demikian ultrasonic dipakai sebagai diatermi/ pemanasan.Daya ultrasonic yang dipakai sebesar beberapa W/cm dilakukan dalam 3 10 menit, dua kali sehari, seminggu dilakukan 3 kali. Gelombang ultrasonic berbeda dengan gelombang elektromagnetik dan panas yang ditimbulkan oleh ultrasonic sangat berbeda dengan microwave diathermi. Ultrasonic sebagai diathermi, intensitas yang dipakai 1 10 W / cm dengan frekwensi sebesar 1 MHz pemindahan amplitude sebesar 10 W/cm ke dalam jaringan 10 cm, maksimum tekanan 5 atm. Tekanan mula-mula maksimum, berubah menjadi minimum dengan panjang gelombang ; untuk 1 MHz gelombang ke dalam jaringan sebesar = 0,7 mm. Selain itu ultrasonic dapat dipakai untuk menghancurkan jaringan ganas (kanker). Sel-sel ganas akan hancur pada beberapa bagian sedangkan di daerah lain kadang-kadang menunjukkan rangsangan pertumbuhan ; masih diselidiki lebih lanjut. Pada penderita Parkinson, penggunaan ultrasonic dalam pengobatan sangat berhasil namun sangat disayangkan untuk memfokuskan bunyi kearah otak sangat sulit. Sedangkan pada penyakit meniere dimana keadaan penderita kehilangan pendengaran dan keseimbangan, apabila diobati dengan ultrasonic dikatakan 95 % berhasil baik, ultrasonic menghansurkan jaringan dekat telinga tengah.

2.8

Penggunaan Ultrasonografi Dalam Pemeriksaan Janin Perkembangan teknologi dan pengalaman penggunaan Ultrasonografi

(USG) dalam bidang kedokteran sejak tahun 1952-an, memyebabkan USG pada saat ini mampu memberikan berbagai informasi yang sangat penting mengenai janin bukan saja dimensi / ukurannya, melainkan juga morfologi, fisiologi dan patofisiologinya. Lebih lanjut, perkembangan teknologi USG pada saat ini telah jauh melampaui kemampuannya yang dahulu yaitu hanya sebagai alat Bantu diagnostic saja, tetapi juga telah menjadi alat Bantu terapi.Misalnya , janin yang anemia akibat penyakit aloimun dapat diperpanjang hidupnya dengan pemberian transfusi darah intra uterin dengan bantuan USG. Pada tahun 1986, AIUM (The American Institute of Ultrasound in Medicine) telah menetapkan batasan minimal yang merupakan tujuan pemeriksaan USG di bidang Obstetri, yaitu untuk menentukan : a. 1. 2. 3. 4. b. Pada trimester pertama : Lokasi kantong janin, janin dan ukuran Crown Rump Length (CRL-nya). Janin hidup atau mati Jumlah janin Keadaan rahim dan adneksa Pada trimester kedua dan ketiga, tujuannya adalah untuk menentukan

- Apakah janin hidup atau mati, jumlah dan presentasinya. - Jumlah cairan ketuban (normal, sedikit atau berlebihan). - Morfologi plasenta dan lokasinya terhadap ostium uteri internum. - Umur kehamilan ditentukan dengan kombinasi pemeriksaan Biparietal Diameter (BPD), Head Circumference (HC) dan Femur Length (FL).Pemantauan pertumbuhan janin dinilai dengan melibatkan pemeriksaan AC. - Evaluasi keadaan rahim dan adneksanya. Pemeriksaan anatomi janin, setidaknya meliputi pemeriksaan : hemisfer otak,

tulang belakang, lambung, kandung kemih, insersi tali pusat ke dinding perut janin dan ginjal janin.

Secara garis besar pemeriksaan janin dengan USG dapat dibedakan atas : a. Pemeriksaan morfometri / biometri janin. Dengan pemeriksaan morfometri

dapat ditentukan : 1. 2. 3. b. c. Umur kehamilan Berat badan janin Pertumbuhan janin Pemeriksaan kelainan congenital / morfologi janin dan tali pusat. Pemantauan fungsi organ tubuh (fisiologi )janin.

2.9

Pemeriksaan Morfometri / Biometri Janin 2.9.1 Penentuan umur kehamilan Untuk menentukan umur kehamilan secara USG, ada beberapa hal

yang perlu diperhatikan yaitu : a. b. c. d. Ketepatan perkiraan umur kehamilan berbanding terbalik dengan usia janin. Metode pengukuran yang optimal tergantung pada umur kehamilannya. Masih terdapat kemungkinan kesalahan dalam tehnik pengukuran. Ketepatan diagnosis semakin meningkat dengan penggunaan beberapa metode pengukuran. e. Pada kehamilan lanjut , ketepatan diagnosis semakin meningkat apabila dilakukan pemeriksaan serial. Berbagai a. metode pengukuran trimester I morfometri : yang ada Rump saat ini adalah :

Kehamilan

Crown

Length

(CRL)

Pengukuran dimensi lain dari janin pada kehamilan trimester I antara lain : - Pengukuran volume kantong janin - Pengukuran tebalnya lapisan trofoblas - Pengukuran diameter dan volume kantong kunir ( Yolk sac)

b. Kehamilan trimester II dan III Biparietal diameter (BPD)

a. b. c. d. e. f.

Panjang femur (FL = Femur Length) Lingkaran kepala (Head Circumference) Lingkaran perut (AC= abdominal circumference) Kombinasi beberapa pengukuran Parameter yang lain: Fetal ocular biometry (jarak kedua mata janin). Humerus length (panjang humerus). Tibia and fibula length ( panjang tibia dan fibula). Ulna and radius length (panjang ulna dan radius). Fetal Kidney bimetry (volume, ketebalan , panjang dan lebar). Fetal adrenal biometry.

2.9.2

Penaksiran berat badan janin Penaksiran berat badan janin, seperti juga penentuan usia kehamilan sangat

penting dalam penentuan jenis tindakan obstetric yang akan diambil oleh karena menyangkut prognosis janin atau neonatus yang akan dilahirkan. Perlu disadari bahwa cara penentuan berat badan janin dengan USG yang dianut saat ini setidaknya mempunyai 2 kelemahan utama yang menjadi penyebab ketidaktepatan dalam penafsiran, yaitu : a. Pengukuran volume janin sering ditentukan dengan pengukuran linier 1 dimensi atau 2 dimensi. Pengukuran BPD dan FL adalah cara pengukuran satu dimensi, pengukuran AC dan HC adalah 2 dimensi, sedangkan pengukuran TIUV dan volume janin adalah cara pengukuran 3 dimensi. b. Menganggap bahwa densitas rata-rata semua janin adalah sama, sehingga perbedaan berat badannya hanya ditentukan oleh perbedaan volume tubuhnya.

2.9.3 Pemantauan pertumbuhan janin Dengan melakukan pemeriksaan morfometrik dan berat badan janin secara serial, maka kita dapat membuat kurva pertumbuhannya yang dapat dibadingkan dengan kurva pertumbuhan normal.

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) atau IUGR (intra uterine growth retardation) didiagnosis apabila kurve pertumbuhan yang ditemukan berada pada atau di bawah garis 10 persentil dari kurve pertumbuhan normal.

2.9.4 Penentuan ada tidaknya kelainan congenital / kelainan morfologi Penggunaan USG untuk mendeteksi kelainan congenital dalam kehamilan,pertama kali dilaporkan oleh Ian Donald tahun 1961 dan kemudian oleh Suden B tahun 1964. akan tetapi, laporan mengenai kelainan congenital yang terdeteksi dalam kehamilan yang mempengaruhi pengelolaan persalinannya baru dilaporkan oleh Campbell S dkk tahun 1972. Nicolaids di Kings College Hospital, London melaporkan kemampuan USG yang tinggi untuk mendeteksi kelainan congenital dengan sensitifitas 84% dan spesifisitas 99,9%. Robert CJ dkk mengemukakan bahwa dengan adanya alat USG yang semakin baik resolusinya di tangan operator yang berpengalaman, sensitivitasnya dalam mendiagnosis kelainan congenital meningkat dari 36% menjadi 80% dan nilai positif palsunya menurun dari 90% menjadi 20%.

Kelainan congenital pada umumnya akan terdeteksi secara USG apabila ditemukan hal-hal sebagai berikut : a. b. Hilangnya struktur anatomi yang normal. Terjadinya perubahan bentuk, tepi, lokasi atau ukuran dari struktur anatomi yang normal. c. d. e. Adanya struktur yang abnormal. Kelainan biometri janin. Adanya gerakan janin yang abnormal.

Kemampuan USG untuk mendiagnosis kelainan congenital secara USG juga tergantung pada : a. b. Pengetahuan operator akan anatomi janin yang normal. Kemampuan resolusi alat USG.

c.

Embryologic time table, yaitu misalnya keadaan yang fisiologis pada trimester pertama bisa menjadi patologis bila menetap sampai trimester terakhir. d. Natural history of the disease, misalnya diagnosis infantile polycystic kidney disease (IPKD) digambarkan apabila ditemukan tanda-tanda gagal ginjal inutero yaitu oligohidramnionn vesika urinaria yang kosong disertai dengan gambaran ginjal yang besar dan hiperekhogenic. Mayden Argo menganjurkan untuk mencari kemungkinan adanya

kelainan congenital apabila ditemukan keadaan-keadaan sebagai berikut : a. Pasien dengan riwayat pernah melahirkan bayi dengan kelainan congenital yang terdiagnosis dengan USG. b. Janin yang sudah dicurigai mengalami kelainan congenital. c. Janin dengan riwayat kelainan kromosom yang berhubungan dengan kelainan struktural. d. Pada pemeriksaan USG rutin, dicurigai adanya kelainan janin. e. Adanya hidramnion atau oligohidramnion. f. Peningkatan kadar AFP (alfa feto protein). g. Kehamilan dicurigai mengalami keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan cacat bawaan, misalnya radiasi, abortivum dan lain-lain. h. Kehamilan dengan insuline-dependent DM. i. Hydrop foetalis.

2.9.5 Pemantauan lingkungan dan keadaan fungsional / fisiologi janin Dengan pemeriksaan USG bukan saja dapat diketahui keadaan morfologi dan ukuran dimensi janin, melainkan lebih penting lagi dapat diketahui keadaan kesejahteraan janin dengan cara mengevaluasi kelancaran proses fisiologi organ tubuh janin dan hasilnya. Tujuan pemeriksaan janin disini tidak terbatas untuk pemeriksaan diagnosis saja, melainkan juga untuk tujuan pengelolaan termasuk terapinya.

Keadaan gawat janin yang merupakan indikasi untuk mengakhiri suatu kehamilan , saat ini diketahui pada umumnya telah terjadi secara kronis dan perlangsungannya perlahan-lahan sehingga dapat memberikan kesempatan kepada janin untuk beradaptasi. Dengan mengetahui mekanisme dan patofisiologi terjadinya keadaan hipoksia dan gawat janin, serta mekanisme respon fisiologis janin, maka kita dapat memilih jenis pemeriksaan mana yang tepat untuk diambil. Yang termasuk dalam pemeriksaan keadaan lingkungan dan fungsional janin adalah : a. Volume cairan amnion. b. c. d. e. Kondisi biofisik (biophysical profile). Aliran darah janin (fetal haemodynamic). Tali pusat. Plasenta.

f. Penilaian ketebalan lemak subkutan dan otot janin.

2.10 Suara Suara pada hakekatnya sama dengan bunyi. Hanya saja kata suara dipakai untuk makhluk hiduk atau benda yang dimakhlukkan, sedangkan kata bunyi dipakai untuk benda mati. Untuk jelasnya disajikan beberapa contoh : Suara burung. Suara si slamet. Suara mobil ; disini mobil dimakhlukkan. Bunyi gaduh. Bunyi daun gemersik. Bunyi alarm

2.10.1 Mekanisme Pembentukan Suara / Ucapan Suara bicara normal merupakan hasil dari modulasi udara yang mengalir keluar dari dalam tubuh.Untuk macam-macam suara, mulai dari paru-paru yang penuh dengan uap udara melalui pita suara (vocal cords) kadang-kadang disebut

glottis dan beberapa ruang vocal, udara keluar melalui mulut dan sedikit melalui hidung.Pembentukan suara melalui mulut ini disebut bicara. Beberapa bunyi yang dihasilkan melalui mulut tanpa mempergunakan pita suara disebut unvoiced sound. Misalnya p, t, k, s, f dan ch, kalau kita perincikan lagi maka :

- P,t dan k suara / bunyi letupan (plosive sound). - S, f dan ch suara / bunyi frikatif (fricative sound). - Ch kombinasi dari kedua tipe di atas. Uncoiced sound merupan aliran udara melalui penciutan (contriction) atau dibentuk oleh lidah, gigi, bibir, dan langit-langit. Frekwensi dasar dari hasil vibrasi yang kompleks tergantung dari massa dan tegangan pita suara . laki-laki mempunyai frekwensi suara 125 Hz sedangkan wanita 150 Hz. Frekwensi rendah yang dihasilkan penyanyi sekitar 64 Hz (C rendah) dan frekwensi tinggi (suara sopran) sekitar 2, 048 Hz. Pada suatu studi mengenai ucapan huruf hidup dan mati diperoleh bahwa huruf hidup banyak mengandung tenaga daripada huruf mati; perbandingan tenaga antara huruf hidup dan huruf mati 68 : 1.

2.11 Alat Pendengaran Alat pendengaran yang dimaksud disini adalah telinga.Telinga merupakan alat penerima gelombang suara atau gelombang udara kemudian gelombang mekanik ini di ubah menjadi pulsa listrik dan diteruskan ke korteks pendengar melalui saraf pendengaran. 2.11.1 Pembagian Alat Pendengaran Telinga dibagi dalam 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telingan dalam.

a. Telinga bagian luar.

Terdiri dari daun telinga dank anal telinga, batas telinga luar yaitu dari daun telinga dampai dengan membran tympani. Berbagai binatang daun telinga berfungsi sebagai pengumpul energi dan dikonsentrasikan pada membran tympani.Pada manusia hanya menangkap 6-8 dB, sedangkan telinga gajah hanya berfungsi sebagai pelepas panas.

Pada kanalis telinga terdapat malam (wax) yang berfungsi sebagai peningkatan kepekaan terhadap frekwensi suara 3.000 4.000 Hz, panjang kanalis 2,5 cm ( ), = 10 cm. Membran tympani tebalnya 0,1 mm, luas 65 mm , mengalami vibrasi dan diteruskan ke telinga bagian tengah yaitu pada tulang telinga (incus, malleus dan stapes). Sarjana Van Bekesey melakukan studi tentang vibrasi membran tympani pada telinga cadaver yang mati. Kemudian melalui tehnik fisika yang modern (mors bauer effect) diperoleh secara nyata gerakan dari membran tympani yaitu nilai ambang pendengar pada 3.000 Hz 10 cm. Nilai ambang pendengar terendah yang dapat didengar ~ 20 Hz dan pada 160 dB membran tympani mengalami rupture/ pecah.

b. Telinga bagian tengah. Batas telinga tengah mulai dari membran tympani sampai dengan tuba eustachius.Terdiri dari 3 buah tulang yaitu malleus, incus dan stapes. Suara yang masuk itu 99,9% mengalami refleksi dan hanya 0,1% saja yang ditransmisi diteruskan. Pada frekwensi kurang dari 400 Hz membran tympani bersifat per sedangkan pada frekwensi 4.000 Hz membran tympani akan menegang. Telinga bagian tengah ini memegang peranan proteksi.Hal ini dimungkinkan oleh karena adanya tuba eustacius yang mengatur tekanan di dalam telinga bagian tengah, dimana tuba eustachius mempunyai hubungan langsung dengan mulut. Pada beberapa penyebab sehingga terjadi perbedaan tekanan antara telinga bagian tengah dan dunia luar akan mengakibatkan penurunan sensitifitas tekanan (misalnya pada penderita

influenza) ; pada tekanan 60 mm Hg yang mengenai membran tympani akan mengakibatkan perasaan nyeri.

c. Telinga bagian dalam. Berada di belakang tulang tengkorak kepala terdiri dari cochlea dan oval window.Bagian ini mengandung struktur spiral yang dikenal sebagai cochlea, berisikan cairan. Ukuran cochlea sangat kecil berkisar 3 cm panjang, terdiri dari 3 ruangan yaitu : ruangan vestibular merupakan tempat berakhirnya oval window, ductus cochlearis dan ruangan tympani berhubungan dengan atap spiral. Pada cochlea terdapat 8.000 konduktor yang berhubungan dengan otak melalui saraf pendengaran. Gelombang bunyi yang masuk melalui oval window menghasilkan gelombang bunyi yang berippel (bergerigi) mencapai membran basiler pada ductus cochlearis.Di sini gelombang tersebut di ubah menjadi gelombang sinyal listrik dan diteruskan ke otak lewat syaraf pendengaran. Apabila bunyi yang didengar 10.000 Hz, syaraf yang terdapat pada organ corti tidak mengirim rangsangan 10.000 Hz ke otak melainkan mengirim rangsangan secara seri ke otak yang berupa gelombang bunyi yang sinusoidal.

2.12 Spesialisasi Dalam Pendengaran Telinga Dalam bidang kedokteran dibagi dalam masing-masing bagian sesuai dengan keahlian. Otologist : seorang dokter yang ahli dalam hal telinga dan pendengaran. Otolaryngologist : seorang dokter yang ahli dalam bidang penyakit telinga dan operasi telinga. ENT Spesialist : dokter ahli THT yaitu seorang dokter yang ahli dalam hal telinga hidung dan tenggorokan. Audiologist : seseorang yang bukan dokter, tetapi ahli dalam mengukur respon pendengaran, diagnosis kelainan pendengaran melalui test pendengaran, rehabilitasi yang berkaitan dengan hilangnya pendengaran.

2.13 Test Pendengaran Dan Hilang Pendengaran a. Hilang pendengaran. Ada dua macam hilang pendengaran yaitu hilang pendengaran karena konduksi (tuli konduksi), hilang pendengaran karena syaraf (tuli syaraf/persepsi). - Tuli konduksi Dimana vibrasi suara tidak dapat mencapai telinga bagian tengah. Tuli semacam ini sifatnya hanya sementara oleh karena adanya malam/wax/serumen atau adanya cairan di dalam telinga tengah.Apabila tuli konduksi tidak pulih kembali dapat menggunakan hearing aid (alat pembantu pendengaran).

- Tuli persepsi Bisa terjadi hanya sebagian kecil frekwensi saja atau seluruh frekwensi yang tidak dapat didengar. Tuli persepsi ini sampai sekarang belum bisa diobati.

b. Tes pendengaran Untuk mengetahui tuli konduksi atau tuli syaraf dapat dilakukan test pendengaran dengan mempergunakan :

- Test suara berbisik / noise box Telinga normal dapat mendengar suara berbisik dengan tone / nada rendah. Misalnya suara konsonan dan palatal : b, p, t, m n pada jarak 5 10 meter. Suara berbisik dengan nada tinggi misalnya suara desis / sibiland s, z, ch, sh shel pada jarak 20 meter.

- Test garputala Untuk mengetahui secara pasti apakah penderita tuli konduksi atau persepsi dapat mempergunakan garputala. Frekwensi garputala yang dipakai C 1 2 8, C 1024, dan C 2048.ada 3 macam tes yang mempergunakan garputala yaitu tes weber, tes Rinne dan tes Schwabach.

Tes Weber Garputala C 128 digetarkan kemudian diletakkan pada verteks dahi/

puncak dahi verteks. Pada penderita tuli konduktif (disebabkan wax atau otitis media) akan terdengar terang / baik pada telinga yang sakit. Misalnya telinga kanan yang terdengar baik/ terang disebut Weber lateralisasi ke kanan.Pada penderita tuli persepsi, getaran garputala terdengar terang pada telinga normal.

Tes Rinne Tes ini membandingkan antara konduksi melalui tulang dan udara.

Garputala digetarkan (C 128) kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus (dibelakang telinga), setelah tidak mendengar getaran lagi garputala dipindahkan di depan liang telinga; tanyakan penderita apakah masih mendengarnya.

Normal : Konduksi melalui udara 85 90 detik. Konduks imelalui tulang 45 detik. Test Rinne positif (+) : Pendengran penderita baik juga pada penderita tuli persepsi. Test Rinne negatif (Rinne -). Pada penderita tuli konduksi dimana jarak waktu konduksi tulang mungkin sama atau bahkan lebih panjang.

Tes Schwabach Test ini membandingkan jangka waktu konduksi tulang melalui verteks atau

prosesus

mastoideus

penderita

dengan

konduksi

tulang

si

pemeriksa.

Pada tuli konduksi : Konduksi tulang penderita lebih panjang daripada si pemeriksa.

Pada tuli syaraf/persepsi : Konduksi tulang sangat pendek. Catatan : Garputala C 2048 dipakai untuk memeriksa ketajaman pendengaran terhadap nada tinggi. Pada orang tua/lansia dan tuli persepsi akan kehilangan pendengaran terhadap nada tinggi.

a.

Audiometer Merupakan alat elektronik pembangkit bunyi yang dipergunakan untuk

mengukur derajat ketulian.Alat elektronik ini dapat membangkitkan bunyi pada berbagai frekwensi dan dihubungkan dengan earphon.Pemeriksa menekan knop frekwensi tertentu sedangkan penderita mengacungkan tangan tanda mendengar. Pada saat ini pemeriksa memberi tanda pada sebuah kartu yang telah ada frekwensi tertentu.

2.14 Bising Bising didefinisikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki yang merupakan aktivitas alam (bicara, pidato) dan buatan manusia (bunyi mesin). Bunyi dinilai sebagai bising sangatlah relative sekali. Suatu contoh misalnya : musik tempat-tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidak merasa suatu kebisingan , tetapi bagi orang-orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang menganggu. Profesor Phoan Way On (Singapura, 1975) mengatakan bahwa dinegara industri misalnya Amerika Serikat, peningkatan kebisingan setiap tahunnya diperkirakan 1 dB. Pada tahun 1990 diperkirakan tingkat kebisingan akan mencapai 100 kali lebih besar daripada tahun 1975.

2.14.1

Pembagian Kebisingan Berdasarkan frekwensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga

bunyi maka bising di bagi dalam 3 katagori :

- Audio noise (bising pendengaran). Bising ini disebabkan oleh frekwensi bunyi antara 31,5 8.000 Hz. - Occupational noise (bising yang berhubungan dengan pekerjaan)

Bising ini disebabkan oleh bunyi mesin di tempat kerja, bising dari mesin ketik.

- Impuls

noise

(Impact

noise=

bising

impulsive)

Bising yang terjadi akibat adanya bunyi yang menyentak, misalnya pukulan palu, ledakan meriam tembakan kecil.

Berdasarkan waktu terjadinya, maka bising dibagi dalam beberapa jenis : a. Bising kontinyu dengan spectrum luas, misalnya bising karena mesin, kipas angina b. Bising kontinyu dengan spectrum sempit, misalnya bunyi gergaji, penutup gas. c. Bising terputus-putus (intermittent) , misalnya lalu lintas, bunyi kapal terbang. d. Bising sehari penuh (full time noise). e. Bising setengah hari (part time noise). f. Bising terus menerus (steady noise). g. Bising impulsive (impuls noise ataupun bising sesaat (letupan).

Berdasarkan dkala intensitas maka tingkat kebisingan dibagi dalam : sangat tenang, tenang, sedang, kuat, sangat hiruk pikuk dan menulikan. (Lihat daftar skala intensitas kebisingan).

2.14.2

Pengaruh Bising Terhadap Kesehatan Pengaruh utama dari kebisingan adalah kerusakan pada indera

pendengar dan akibat ini telah diketahui dan diterima umum. Kerusakan atau gangguan system pendengaran dibagi atas : a. Hilangnya pendengaran secara temporer/ sementara dan dapat pulih apabila bising tersebut dapat dihindarkan. b. Orang menjadi kebal atau imun terhadap bising. c. Telinga berdengung. d. Kehilangan pendengaran secara menetap dan tidak pulih kembali, biasanya dimulai pada frekwensi sekitar 4.000Hz, kemudian menghebat dan meluas pada frekwensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekwensi percakapan. kembali

Selain pengaruh bising terhadap system pendengaran , dapat pula mengganggu konsentrasi, meningkatnya kelelahan : ini dapat terjadi pada kebisingan tingkat rendah sedangkan pada tingkat tinghgi kebisingan dapat menyebabkan salah tafsir pada saat bercakap-cakap. Apabila bising berinterferensi dengan frekwensi 300 3.000 Hz akan menyebabkan perasaan tidak enak dalam pekerjaan dan terhadap lingkungan sekitarnya akan menimbulkan reaksi masyarakat yaitu protes terhadap kebisingan. Pada suatu penelitian di Jerman menunjukkan pekerja yang mengalami kebisingan dapat menyebabkan gangguan hormonal, system saraf dan merusak metabolisme. Para ahli Rusia menemukan pekerja-pekerja di industri mengalami perubahan saluran darah dan timbul bradicardia, fisik lesu dan mudah terangsang.

2.14.3

Pencegahan Ketulian Dari Proses Bising Prinsip pencegahan ketulian dari proses bising adalah menjauhi dari

sumber bising. Untuk itu dapat dilakukan dengan cara : a. Mesin atau alat-alat yang menghasilkan bising diberikan cairan pelumas. b. Membuat tembok pemisah antara sumber bising dengan tempat kerja. c. Pekerja-pekerja diharapkan memakai pelindung telinga seperti ear muff / penutup telinga ; penutup telinga ini sangat baik, tetapi tidak nyaman dipakai oleh karena sangat kaku. Selain ear muff dapat pula memakai ear plug / penyumbat telinga, tetapi berefek terhadap bising yang tingkatnya rendah. Kadang-kadang dapat pula menggunakan woll-katun atau woll-sintetis untuk mencegah kebisingan, tetapi woll katun kurang bermamfaat untuk mencegah kebisingan daripada menggunakan woll sintetis.

2.14.4

Parameter Kebisingan Dalam menentukan tipe/macam-macam bising mencakup parameter

dasar dan turunan yaitu : a. Parameter dasar Frekwensi, dinyatakan dalam hertz yaitu siklus perdetik.

Tenaga bunyi dinyatakan dalam watt yaitu energi pancaran bunyi total. Tekanan bunyi, dinyatakan dalam mikropaskal (upa), yaitu intensitas sebagai akar dari kwadrat amplitude.

b.

Parameter turunan - Tingkat tekanan bunyi ( sound pressure level) Dinyatakan dalam dB yang mana menyatakan tingkat dalam frekwensi

yang berkaitan dengan tekanan bunyi. Kegunaan : untuk mengukur / menentukan pita frekwensi. Hubungan antara tekanan bunyi dengan tingkat tekanan bunyi dapat dilihat dalam skala decibel (dB) yaitu logaritma dari tekanan bunyi :

Sound pressure level (dB) = P1 = Tekanan bunyi (upa) Po = Tekanan bunyi dasar = 20 upa (yaitu 0,002 Pa) - Tingkat bunyi Sama dengan dB yang mana menunjukkan tingkat linieritas.

2.14.5 Takaran Bising (Dose Noise) Yang dimaksud dengan takaran kebisingan adalah ekivalensi tingkat dB (dB equivanlent = dB Leq ) berkaitan dengan tingkat dB tetap yang dapat menghasilkan energi bunyi A lebih dari satu periode waktu.

Secara matematika tingkat bunyi dapat dinyatakan sebagai berikut : Leq = 10 Log dt. dB

2.14.6

Peralatan Dan Metodologi Dalam Mendeteksi Bising Peralatan dan metodologi yang dipergunakan dalam menetukan tingkat

kebisingan sangat erat kaitannya.Untuk mencapai tujuan dan hasil yanh diharapkan perlu mengetahui peralatan yang berkaitan dalam menentukan kebisingan. a. Peralatan. Alat-alat yang dipakai dalam laboratorium dan kegunaan dalam survey kebisingan dapat dilihat daftar table dibawah ini .

Peralatan Penggunaan Sound level meter dB ; dB and dB instantaneous fast (200 mm ) or slow (500 mm ) Sound level meter and octave band analysis As above with octave analysis 31,5 16 KHzImpulse noise meter Peaks level as instantanous or average. Noise average meter Average noise for time specifield. Noise dose meter Noise dose relative to predetermined Leq dB. Tape recorder Recording of noise prior to analysis. Third octave analyzer Detailed analysis from meter or tape. Statistical distribution analyzer Divides noise into level classes. Real time analyzer Gives instantanous changes in spesies

b. Metodologi pengukuran bising Maksud mengukur kebisingan adalah : - Memperoleh data kebisingan dimana saja maupun diperusahaan. gangguan. Sejalan dengan tujuan pengukuran maka perlu menggunakan Untuk memngurangi tingkat kebisingan agar tidak menimbulkan

metodologi serta peralatan yang tepat.Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter. Alat ini untuk mengukur kebisingan antara 30 130 dB dari frekwensi 20 20.000 Hz. Dalam kaitan analisa frekwensi dari suatu kebisingan biasanya dilakukan dengan alat octave band analiser untuk mengukur frekwensi menengah dari 31, 5, 63, 125, 250, 500, 1000, 2.000, 4.000, 8.000,16.000 dan 31.500 Hz. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran akan dipakai dalam estimasi tingkat bising dan menentukan bilakah menggunakan alat proteksi bising. Selain itu frekwensi analiser dipakai untuk estimasi pengukuran kebisingan. Untuk keperluan analisa akan distribusi bising, biasanya memakai tape recorder. Hasil rekaman kebisingan nantinya akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisa dengan menggunakan octave band analyzer seperti dB, dB (A), dB (A), leg ; dan data yang diperoleh akan dibuat distribusi statistic dengan menggunakan statistical distribution analyzer. Kadang kala data dari sound level meter tidak dapat diukur, untuk itu perlu dipikirkan suatu tehnik atau metode tertentu.

Suatu contoh pengukuran kebisingan impulsive ; pengukuran bising ini sangat sulit oleh karena waktu kejadian sangat singkat. Untuk itu Bohs (1976) memberikan suatu analisa tehnik pengukuran sebagai berikut : Catatan : Penggunaan osciloskop sangat baik namun sangat sulit. Dalam melakukan survey kebisingan pada lingkungan pekerjaan, sering menggunakan tehnik medan. Ada 3 macam medan bumi yaitu : - Medan dekat. - Medan bebas. - Medan semigaduh Hanya dalam medan bebas dapat menggunakan Hukum kebalikan kwadrat dan tingkat bunyi berkaitan dengan sumber bunyi. Pada medan dekat dan medan semigaduh banyak faktor ikut berperan pula misalnya : permukaan cekung memberi pantulan bunyi.

2.15 2.15.1

Vibrasi Bentuk Vibrasi Vibrasi adalah getaran, dapat disebabkan oleh getaran udara atau

getaran mekanis : misalnya mesin atau alat-alat mekanis lainnya. Oleh sebab itu vibrasi kita bedakan dalam 2 bentuk : a. b. Vibrasi karena getaran udara yang pengaruhnya terutama pada akustik. Vibrasi karena getran mekanis mengakibatkan timbulnya resonansi / turut bergetarnya alat-alat tubuh dan berpengaruh terhadap alat-alat tubuh yang sifatnya mekanis pula. c. Penjalaran vibrasi udara dan efek yang timbul Vibrasi udara oleh karena benda bergetar dan diteruskan melalui udara akan mencapai telinga. Getaran dengan frekwensi 1- 20 Hz tidak akan terjadi gangguan pengurangan pendengaran tetapi pada intensitas lebih dari 140 dB akan terjadi gangguan vestibular yaitu gangguan orientasi, kehilangan

keseimbangan dan mual-mual. Akan timbul nyeri telinga, nyeri dada dan bisa terjadi getaran seluruh tubuh (Gierke dan Nixon, 1976) d. Penjalaran vibrasi mekanik dan efek yang timbul Penjalaran vibrasi mekanik melalui sentuhan kontak dengan permukaan benda yang bergerak; sentuhan ini melalui daerah yang terlokalisasi (toolhand vibration) atau mengenai seluruh tubuh (whole body vibration). Bentuk tool hand vibration merupakan bentuk yang terlazim di dalam proses pekerjaan. Efek yang timbul : Efek vibrasi terhadap tubuh tergantung besar kecilnya frekuensi yang mengenai tubuh. Pada frekuensi 3-9 Hz : Akan timbul resonansi pada dada dan perut. 6-10 Hz : Dengan intensitas 0,6 g. tekanan darah, denyut jantung, pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah. Pada intensitas 1,2 g terlihat banyak perubahan system peredaran darah. 10 Hz : Leher, kepala, pinggul, kesatuan otot dantulang akan beresonansi. 13-15 Hz ; Tenggorokan akan mengalami resonansi.

Pada frekwensi kurang dari 20 Hz , tonus otot akan meningkat; akibat kontraksi statis ini otot menjadi lemah, rasa tidak enak dan kurang ada perhatian. Pada frekwensi diatas 20 Hz otot-otot menjadi kendor dan frekwensi 30- 50 Hz digunakan dalam kedokteran olahraga untuk memulihkan otot-otot sesudah kontraksi luar biasa.

2.15.2

Efek Vibrasi Terhadap Tangan Alat-alat yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut disalurkan

pada tangan. Getaran-getaran dalam waktu singkat tidak berpengaruh pada tangan sebab di dalam jangka waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan berupa: Kelainan pada persyarafan dan peredaran darah. Gejala kelainan ini mirip dengan fenomena Raynauld yaitu keadaan pucat dan biru dari anggota badan. Pada saat anggota badan kedinginan , tanpa ada penyumbatan pembuluh darah tepi dan tanpa

kelainan-kelainan gizi. Fenomena Raynauld ini terjadi pada frekwensi 30 40 Hz. Kerusakan-kerusakan pada persendian tulang.

3.15.3 Sikap Tubuh Terhadap Gerakan Mekanis Badan merupakan susunan elastis yang kompleks dengan tulang sebagai penyokong alat-alat dan landasan kekuatan serta kerja otot. Kerangka, alat-alat, urat dan otot memiliki sifat elastis yang bekerja secara serentak sebagai peredam dan penghaantar getaran.Pengaruh getaran terhadap tubuh ditentukan sekali oleh posisi tubuh atau sikap tubuh.

2.3

Biolistrik Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua

aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang kedokteraan yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh manusia. Pada tahun 1856 Caldani menunjukkan kelistrikan pada otot katak telah mati. Luigi Galvani (1780) mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh hewan kemudian pada tahun 1786 Luigi Galvani melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki katak terangkat ketika diberikan aliran listrik lewat suatu konduktor. Arons (1892) merasakan ada aliran frekuensi tinggi melalui beliau sendiri serta pembantunya/asistennya. Pada tahun 1899 Van Seynek melakukan pengamatan tentang terjadinya panas pada jaringan yang disebabkan oleh aliran frekuensi tinggi. Schliephake (1928) melaporkan tentang pengobatan penderita dengan mempergunakan short wave.

2.3.1 Rumus/hukum dalam biolistrik Ada beberapa rumus/hukum yag berkaitan dengan biolistrik antara lain: hukum Ohm dan hukum Joule. Hukum Ohm:

Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor. R = V/I R = dalam Ohm I = amper V = tegangan Hukum Joule: Arus listrik yang melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas. Hal ini dinyatakan dalam rumus: H1 (kalori) = VIT/J V = tegangan dalam voltage I = arus dalam amper T = waktu dalam detik J = joule = 0,239 Kal.

2.3.2 Macam-macam gelombang arus listrik Pengetahuan tentang gelombang arus listrik ini penting artinya oleh karena dalam banyak hal berkaitan erat dengan penggunaan arus listrik untuk merangsang syaraf motoris atau syaraf sensoris. Gelombang-gelombang arus listrik yang dimaksud dapat dilihat di bawah ini: 1. Arus bolak-balik/sinusoidal 2. Arus setengah gelombang (telah disearahkan) 3. Arus searah penuh tapi masih mengandung riple/desir 4. Arus searah murni 5. Faradik 6. Surged faradic/sentakan faradik 7. Surged sinusoidal/sentakan sinusoidal 8. Galvanik yang interuptus

9. Arus gigi gergaji

2.3.4 Kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam tubuh 1. Sistem syaraf dan neuron Sistem saraf dibagi dalam dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Sistem saraf pusat terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer ini adalah serat saraf yang mengirim informasi sensori ke otak atau ke medulla spinalis disebut saraf afferen sedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medulla spinalis ke otot serta kelenjar di sebut saraf efferen.Sedangkan sistem saraf otonom, serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak sadar. Otak berhubungan langsung dengan medula spinalis; keduanya dilipitu cairan serebro spinalis dan dilindungi tulang tengkorak serta tulang vertebralis (colomna vertebralis). Berat otak 1500 gram dan hanya 50 gram yang efektif. Struktur dasar dari sistem saraf disebut neuron/sel saraf. Suatu sel saraf mempunyai fungsi penerima, interprestasi dan menghantarkan aliran listrik. 2. Konsentrasi ion di dalam dan di luar sel Melalui suatu percobaan dapat ditunjukkan suatu model membran permeabel terhadap larutan KCL. Saat tertentu akan terjadi membran dipole/membran dua katub dimana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan kelebihan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif. Membran permeabel biasanya permeabel terhadap ion K, Na dan CL sedangkan terhadap protein besar (A-) sangat tidak permeabel. 3. Kelistrikan saraf Dalam bidang Neuroanatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf; serta saraf yang berdiameter besar mempunyai kemampuan menghantar impuls lebih cepat daripada serat saraf yang berdiameter kecil. Kalau ditinjau besar kecilnya serat

saraf maka serat saraf dapat dibagi dalam tiga bagian yang serat saraf tipe A,B dan C. Dengan mempergunakan mikroskop elektron, serat saraf dibagi dalam dua tipe: serta saraf bermyelin dan serat saraf tanya myelin. Serat saraf bermeilin banyak terdapat pada manusia. Meilin merupakan suatu insulator (isolasi) yang baik dan kemampuan mengaliri listrik sangat rendah. Potensial aksi makin menurun apabila melewati serat saraf yang bermeilin. Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan meilin ini. Akson tanpa meilin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50m/detik. Serat saraf bermeilin pada diameter 10 mm mempunyai kecepatan 20-50 m/detik. Serat saraf bermeilin aliran sinyal dapat meloncat dari satu simpyul ke simpul yang lain. Suatu saraf atau membran otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi impuls listrik), konsetrasi ion Na+ lebih banyak di luar sel dari pada di dalam sel; di dalam sel akan lebih negatif dibandingkan dengan di luar sel. Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90m Volt, membran sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan suatu potensial membran istirahat -90 m Volt. Apabila suatu rangsangan terhadap membran dengan mempergunakan listrik, mekanik atau zat kimia, butir-butir membran akan berubah dan beberapa ion Na+ akan masuk dari luar sel ke dalam sel. Di dalam sel akan menjadi kurang negatif dari pada di luar sel dan potensial membran akan meningkat. Keadaan membran ini dikatakan menjadi depolarisasi. Suatu rangsangan yang cukup kuat mencapai titik tertentu sehingga dapat menimbulkan depolarisasi membran, titik tertentu ini disebut nilai ambang, dan proses depolarisasi akan berkelanjutan serta irreversible, ion-ion Na+ akan mengalir ke dalam sel secara tepat dan dalam jumlah yang banyak. Pada keadaan ini potensial membran akan naik dengan cepat mencapai overshoot +40 m Volt. Terjadinya depolarisasi sel membran secara tiba-tiba disebut potensial aksi, yang berlangsung kurang dari 1 m detik. Potensial aksi merupakan

fenomena keseluruhan atau tidak sama sekali (all or none) yang berarti bahwa begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan amplitudo dari potensial aksi akan selalu sama, tidak perduli macam apapun intensitas dari rangsangan. Segera setelah potensial aksi mencapai puncak mekanisme pengangkutan di dalam sel membran dengan cepat mengembalikan ion Na+ ke luar sel sehingga mencapai potensial membran istirahat (-90 mV). Proses ini disebut polarisasi dan berakhir. Mulai dengan suatu rangsangan sampai mencapai nilai ambang timbul potensial aksi kemudian mencapai repolarisasi dan berakhir dengan potensial membran istirahat, keseluruhan siklus ini mencapai 3 m detik. 4. Perambatan potensial aksi Potensial aksi bisa terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot mendapatkan rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membran untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat terjadi perambatan potensial aksi ke segala jurusan sel membran keadaan ini disebut perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi. Melalui gambaran di bawah ini akan terlihat jelas perambatan potensial aksi ke kiri dan ke kanan. Mula-mula, rangsangan hingga Na+ masuk ke dalam sel dan terjadi depolarisasi, potensial aksi merangsang daerah sekitarnya. Setelah timbul potensial aksi, sel membran akan mengalami repolarisasi. Proses repolarisasi sel membran disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter absolut dan periode refrakter relatif. Periode refrakter absolut, selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan untuk menghaslkan potensial aksi yang lain. Periode refrakter relatif, setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrakter absolut akan menjadi periode refrakter relatif dan apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru. Sel membran setelah mencapai potensial membran istirahat, sel membran tersebut telah siap untuk menghantarkan impuls yang lain. Gelombang depolarisasi

setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah terjadi depolarisasi seluruhnya, gelombang tersebut akan berhenti dan tidak pernah terjadi aliran balik ke arah mulainya datang rangsangan. 5. Kelistrikan pada sinapsis dan neuromyal junction Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsis; berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal Junction. Baik sinapsis maupun neromyal junctin mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi ini penting pada sel membran otot, oleh karena pada waktu terjadi depolarosasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan trigger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami relaksasi. 6. Kelistrikan otot jantung Sel membran otot jantung (miokardium) sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan rangsangan maka ion-ion Na+ akan masuk ke dalam sel dan setelah tercapai nilai ambang akan timbul depolarisasi. Sedangkan pada sel otot jantung, ion Na+ mudah bocor sehingga segera setelah terjadi repolarisasi komplit, ion Na+ perlahan-lahan akan masuk kembali ke dalam sel dengan akibat terjadi gejala depolarisasi secara spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa memerlukan rangsangan dari luar. Dari keterangan di atas diketahui membran sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial aksi pada suatu rate/kecepatan yang teratur. Rate/kecepatan ini disebut natural rate/ kecepatan dasar membran sel otot jantung. Untuk menentukan natural rate berbagai sel otot jantung yaitu waktu antara terhitung mulai depolarisasi spontan sampai mencapai nilai ambang setelah terjadinya repolarisasi. Interval waktu ini bisa bervariasi oleh karena perubahan dalam hal: potensial, membran istirahat, tingkat dari nilai ambang dan slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang.

Perubahan ketiga parameter itu sangat mempengaruhi mekanisme kontrol fisiologis terhadap frekuensi jantung. Jika daerah sekitar miokardium belum mencapai nilai amabang sedangkan bagian lain telah menghasilkan potensial aksi, bagian ini akan dengan segera menyebabkan bagian lain mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial aksi, demikian seterusnya sehingga menghasilkan gelombang depolarisasi untuk seluruh otot miokardium. 7. Macam-macam gelombang potensial aksi 1. Gelombang potensial aksi dari akson. 2. Gelombang potensial aksi dari sel otot bergaris. 3. Gelombang potensial aksi dari sel otot jantung. 8. Elektroda Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan elektroda. Kegunaan dari elektroda untuk memindahkan transmisi ion kepenyalur elektron. Bahan yang dipakai sebagai elektroda adalah perak dan tembaga. Apabila sebuah elektroda tembaga dan sebuah elektroda perak dicelupkan ke dalam larutan misalnya larutan elektrolit seimbang cairan tubuh badan maka akan terjadi perbedaan potensial antara kedua elektroda itu. Perbedaan potensial ini kira-kira sama dengan perbedaan antara kedua elektroda itu. Perbedaan potensial ini kira-kira sama dengan perubahan antara potensial kontak kedua logam tersebut disebut potensial offset elektroda. Apabila sebuah elektroda tembaga dan elektroda perak ditempatkan dalam bak berisi elektrolit akan terdapat perbedaan potensial sebesar 0,80-0,30 = 0,46 V. Pada tabel di bawah ini akan tampak perbedaan potensial kontak dan beberapa macam logam yang diukur terhadap ion zat cair. Logam Aluminium Besi Zat cair Perak Ion A1+++ Fe++ H+ Ag++ Potensial (Volt) 1,66 -0,44 0 + 0,80

Emas Seng Timbal Tembaga Platina

Au++ Zn++ Pb++ Cu++ Pt+

+ 1,50 -0,76 -0,12 + 0,34 + 0,86

Macam-macam bentuk elektroda, bentuk elektroda penting artinya pada waktu pemihan dalam pemakaian, ada beberapa bentuk elektroda: 1. Elektroda jarum (mikro elektroda) Berbentuk konsentrik (consentric elektroda). Elektroda berbentuk jarum ini dipergunakan untuk mengukur aktivitas motor unit tunggal. Elektroda terbuat dari baja anti karat; walaupun bahan ini tidak memenuhi sarat namun telah diusahakan sedemikian rupa sehingga memenuhi sarat teknis yang tinggi. 2. Elektroda mikropipet Elektroda ini dibuat dari pada gelas. Cara pembuatannya ialah pipa gelas dipanaskan kemudian ditarik cepat-cepat kemudian ujung gelas tersebut dipotong. Diameter elektroda ini berukuran tidak lebih dari 0,5 um. 3. Elektroda permukaan kulit Elektroda permukaan kulit terbuat dari metal/logam yang tahan karat. Misalnya perak, nikel atau alloy. Bentuk plat, bentuk suction, bentuk floating, bentuk ear clip dan bentuk batang.

9. Isyarat listrik tubuh Isyarat listrik tubuh (electric signal) tubuh merupakan hasil perlakuan kimia dari tipe-tipe sel tertentu. Dengan mengukur isyarat listrik tubuh secara selektif sangat berguna untuk memperoleh informasi klinik tentang fungsi tubuh. Yang termasuk dalam isyarat listrik tubuh: 1. EMG (elektromiogram)

2. ENG (elektroneugram) 3. ERG (elektroretionogram) 4. EOG (elektrookulogram) 5. EGG (elektrogastrogram) 6. EEG (elektroensefalogram) 7. EKG (elektrokardiogram) 10. Aktifitas kelistrikan otot jantung Sel membran jantung serupa dengan sel membran otot bergaris, yaitu mempunyai kemampuan menuntun suatu perambatan potensial aksi/gelombang depolarisasi. Depolarisasi sel membran otot jantung (miokardium) oleh perambatan potensial aksi dengan menghasilkan kontraksi otot. Hanya saja 3 hal penting perbedaan antara sel otot jantung dengan sel otot bergaris yaitu sel otot jantung mempunyai high speed conductive (konduksi berjalan dengan kecepatan tinggi), long refractory period (periode refrakter yang panjang) dan automatisasi (otomatisasi). 2.3.5 Isyarat magnet jantung dan otak Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya arus listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan medan magnet jantung disebut magnetokardiogram. Besar medan magnet sekitar jantung adalah sekitar 5 x 10 -11. Tesla (T) atau sekitar 10x10 8 medan magnet bumi. Hubungan Tesla (T) dengan Gauss dapat dinyatakan : IT = 104 Gauss.

2.3.6 Penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh Sejak 2 abad belakangan ini perkembangan listrik begitu pesat; seiring dengan perkembangan listrik, diciptakan alat-alat yang mempergunakan energi listrik. Hal-

hal yang menyangkut soal listrik yaitu tegangan (V), tahanan listrik, arus listrik serta frekuensi listrik. Pada tahun 1890 Jacques A.D. arsonval telah menggunakan listrik berfrekuensi rendah untuk menimbulkan efek panas; tahun 1929 telah pula menggunakan listrik dengan frekuensi 30 MHz untuk pemanasan yang disebut short wave diathermy pada tahun 1950 sudah diperkenalkan penggunaa gelombang mikro dengan frekuensi 2.450 MHz untuk keperluan diathermi dan pemakaian radar. Frekuensi arus listrik antara lain listrik berfrekuensi rendah, listrik berfrekuensi tinggi, electrocauter dan electrosurgery dan defibrillator. 2.3.7 Magnetic blood flow meter Alat pengukur aliran darah magnetis berdasarkan atas prinsip induksi magnetis. Apabila suatu konduktor listrik digerakkan dalam medan magnet akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan gerakan (hukum faraday). Prinsip yang sama pula dipergunakan disini yaitu apabila konduktor bukan suatu kawat melainkan pipa konduksi yang ditempati pada medan magnet dan dilewati zat alir. 2.3.8 Syok listrik Syok listrik atau kejutaan listrik adalah suatu nyeri pada saraf sensoris yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Kejadian syok listrik merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan. Tidak mengherankan dengan meluasnya pemakaian listrik di rumah tangga dan industri kejadian syok listrik akan meningkat. Tambahan pula dengan kemajuan instrumentasi elektronik rumah sakit ada kecendrungan meningkatnya kejadian syok listrik. Bahaya syok listrik sangat besar; tubuh penderita akan mengalami ventricular fibrillation, kemudian diikuti dengan kematian. Oleh karena itu perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul akibat syok listrik, metoda pengamanan sehingga

bahaya syok dapat dihindari, adapun pembagian syok listrik yaitu syok dengan tujuan tertentu dan syok tanpa tujuan tertentu. 1. Parameter-parameter yang mempengaruhi syok listrik Syok semakin serius, apabila arus yang melewati tubuh semakin besar. Menurut Ohm intesitas arus listrik tergantung kepada tegangan dan tahan yang ada. Disamping itu ada pula parameter-parameter lain yang turut berperan mempengaruhi tingkat syok yaitu dari sudut arus dan dari sudut parameter-parameter lain yaitu jenis kelamin, frekuensi AC, duration, berat badan dan jalan yang ditempuh arus. 2. Pengaruh syok listrik terhadap organ tubuh Pada mikro syok tidak diperlukan arus listrik yang besar, cukup dengan mikro Amper saja (oleh Roy 1976 kimit mikro syok 10 mikri Amper): menyebabkan fibrilasi ventrikel. Hal ini dimungkinkan oleh karena tahanan dalam tubuh sangat kecil. Ditambah pula adanya kateter merupakan konduktor yang baik bagi arus listrik, maka apabila ada arus listrik yang melewati kulit kemudian masuk ke dalam jaringan tubuh akan terlihat jelas perubahan-perubahan/pengaruh terhadap organ tubuh (makro syok). 3. Pengobatan terhadap syok listrik Apabila terjadi syok listrik, AC switching segera di offkan/dipadamkan dan semua elektroda harus dijauhi dari penderita. Penderita dipindahkan dengan mempergunakan bahan-bahan isolator agar petugas terhindar dari bahaya syok. Pengobatan terhadap syok tergantung berat ringannya syok. Pada syok ringan penderita di istirahatkan dan diberi minum dengan air dingin dengan tujuan agar tidak menyebabkan vasodilatasi/pelebaran pembuluh darah dan berkeringat banyak yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah. Dan pada syok berat penderita ditelentangkan sedemikian rupa agar mudah bernafas, pakaian dibuka/dilonggarkan agar mendapat udara yang cukup, hindari

ruang yang panas/pengap yang dapat menyebabkan vasodilatasi dan berkeringat banyak yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, apabila kesadaran menurun dan kegagalan pernafasan dapat dilakukan pernafasan buatan melalui mouth to mouth, mouth to nose atau memberi oksigen melalui kantong udara atau masker dan kalau terjadi jantung berhenti berdenyut, lakukan mesase jantung. 4. Pencegahan terhadap syok Oleh karena bahaya syok sangat besar, dapat mengakibatkan kematian sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan pencegahan meliputi alat-alat yang dipergunakan, penderita, ruangan dan petugas. Terhadap alat listrik yang dipergunakan: Segala alat listrik harus mempergunakan threee wirw cord/ kabel tiga urat dan dihubungkan ke ground seadequat mungkin. Segala tombol dan tahanan harus berada pada live (kawat fasa). Seluruh tombol harus turn off dalam posis mati apabila tidak dipergunakan dan sterker harus dicabut dari sumber arus apabila tidak dipergunakan dalam jangka waktu lama. Alat pacu jantung atau kateter harus diisolasi dan dihindari dari sentuhan logam. Lakukan prosedur tes secara teratur. Alat-alat listrik, pipa radiator diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pegangan penderita Terhadap penderita: Penderita diisolasikan dari ground. Hal ini agak sulit dikerjakan oleh karena pada EKG monitor kaki kanan penderita selalu dihubungkan ke ground. Untuk menghindari hal tersebut dapat dipergunakan transformer. Terhadap ruangan: Lantai ruangan terbuat dari bahan tanpa penghantar listrik atau dipasang karpet karet. Ruangan harus sekering mungkin Terhadap petugas: Diberi pendidikan keterampilan tentang penggunaan alat-alat listrik. Pendidikan terhadap bahaya syok dan tehnik proteksi yang baik 5. Ringkasan

Pengaruh syok listrik terhadap organ tubuh tergantung arus yang melewatinya serta jalan yang ditempuh. Pada makro syok, arus 8-15 mA telah menyebabkan kontrajsi otot-otot involunter menetap dan arus di atas 100 mA dapat menyebabkan fibrilasi ventriel dan diikuti dengan kematian. Apabila penderita dipasang kateter jantung atau alat picu jantung ke jantung penderita denga arus 20 uA telah menyebakan fibrilasi ventrikel; penderita demikian dikatakan mikri syok sensitive. Pada penderita yang mengalami syok, ditelentangkan dan diberi minum air dingin, lakukan pernapasan buatan dan masase jantung. Untuk menghindari dari bahaya syok segala alat digroundkan. Isolasi penderita dari groud, hindari alat-alat yang berdekatan dengan penderita dan lakukan regular testing procedure.

DAFTAR PUSTAKA
Laurie Cree dan Sandra Rischmiller. (2005). Sains Dalam Keperawatan: Fisika, Kimia, Biologi. Jakarta:EGC. Gabriel, J. F. 1996. Fisika kedokteran, cetakan VII. Jakarta: EGC