Anda di halaman 1dari 2

Perspektif Peradaban Islam Indonesia

JAKARTA- Agama dirumuskan para cendekiawan sebagai unsur pokok dalam suatu
peradaban. Agama menurut para cendekiawan merupakan faktor terpenting dalam
menentukan karakteristik peradaban.

Tanda-tanda kehancuran suatu peradaban dapat dilihat sejauh mana unsur utama
peradaban tersebut dapat terpelihara dengan baik. "Jika agama yang menjadi pondasi
utama peradaban sudah rusak, dapat diartikan peradaban telah mengalami perubahan
yang sangat signifikan. Mungkin juga peradaban tersebut hanya tinggal nama. Tetapi
hakikatnya peradaban itu sudah rusak atau hancur," ujar Adian Husaini, Doktor bidang
peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization International
Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), Sabtu (18/4) dalam acara tasyakur dan orasi
ilmiah di Aula Masjid Al Furqon.

Menurut Adian berbagai perdebatan seputar hubungan agama dan negara di Indonesia
dan diskursus tentang Islam dan sekulerisme dalam sejarah perjalanan Indonesia bisa
dijadikan bahan untuk melakukan introspeksi perjalanan bangsa. Umat Islam seharusnya
dapat melihat secara cermat peradaban mana akan dikaitkan, pada masa lalu atau masa
mendatang. Dikaitkan dengan peradaban Islam, peradaban Jawa, atau peradaban Barat
atau dengan meramu ketiga unsur nilai dasar peradaban menjadi peradaban baru.

Sejak zaman VOC, Belanda mengakui hukum Islam di Indonesia. Kemudian pada tahun
1855, Belanda mempertegas pengakuannya terhadap hukum Islam di Indonesia. Dalam
sejarah disebutkan perjuangan Pangeran Diponegoro, untuk menegakkan Islam di Tanah
Jawa.

Para Orientalis Belanda dalam usaha meminggirkan Islam dalam sejarah nasional
Indonesia menjadikan Kitab Darmagandul sebagai bahan rujukan penulisan sejarah.
Bahkan seorang orientalis Belanda, GWJ Drewes menjadikan rujukan kitab itu untuk
menggambarkan islam sebagai agama yang ditolak oleh orang Jawa.

Dalam kitab itu juga digambarkan seharusnya Al Quran tidak digunakan lagi sebagai
pedoman dalam kehidupan manusia karena keberadaannya meresahkan. Kasus kitab
Darmogandul menunjukkan kitab ini dirancang untuk menepikan Islam dari kehidupan
masyarakat.

1
Adian mengungkapkan, sebagaimana yang diungkapkan M Natsir, ada tiga tantangan
dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia, yaitu pemurtadan, gerakan sekulerisasi, dan
gerakan nativisasi. Dengan demikian, umat Islam harus mencermati secara serius
gerakan nativisasi yang dirancang secara terorganisir, yang biasanya melakukan koalisi
dengan kelompok lain yang tidak senang pada Islam

Dikatakan Adian, Natsir dulu pernah mengkhawatirkan sekulerisasi dan pembaharuan


yang dibuka tanpa kendali. Peristiwa-peristiwa tragis dalam dunia pemikiran Islam
Indonesia susul menyusul berlangsung secara liar dan tidak dapat dikendalikan.

Saat ini di tengah-tengah era liberalisasi dalam berbagai bidang, liberalisasi pemikiran
Islam juga menemukan medan yang kondusif karena didukung secara besar-besaran oleh
negara-negara Barat. Sekulerisasi dan liberalisasi Islam juga dilakukan secara besar-
besaran di 500 Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Indonesia.

Begitupula dengan Piagam Jakarta yang ditolak karena adanya unsur-unsur Islam dalam
kehidupan kebangsaan Indonesia. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia muslim. Slah
satu poin terpenting Pancasila " Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya."

Adian menggarisbawahi peradaban Islam akan dapat terwujud jika umat Islam dapat
membangun satu bentuk perjuangan yang cerdas dan ikhlas. Secara internal, para
pejuang Islam dituntut memiliki kemampuan keilmuan yang tinggi dan hati yang ikhlas.

Tiga tantangan yang disebutkan M Natsir, yaitu pemurtadan, sekulerisasi, dan nativisasi
harus dapat direspon dengan cerdas dan bijaksana oleh umat Islam. " Tantangan tersebut
tidak boleh membuat kita loyo, tetapi kita harus bersemangat menghadapi semua
tantangan tersebut," ujarnya.

Tantangan terberat saat ini melalui gerakan liberalisasi Islam. Gerakan ini didukung
kekuatan-kekuatan global yang masih memendam sikap islamofobia, dengan
menyebarkan paham Pluralisme Agama, kesetaraan gender dan gerakan liberalisasi
lainnya yang berusaha meruntuhkan pondasi islam, dnegan mendangkalkan akidah Islam
dan merombak tatanan kelurga dan sistem sosial Islam.

Adian mengharapkan kaum Muslim dapat menekuni berbagai bidang dengan sungguh-
sungguh dan sabar agar dapat menjadi teladan masyarakat. Dia memberi contoh, dalam
lapangan politik, partai-partai Islam dan para politisi Muslim harus menjadi politisi teladan,
baik dalam pemikiran maupun perilaku. "Mereka harus cerdas dan zuhud," tegasnya.

Sedangkan dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah dan pesantren dan perguruan


tinggi Islam harus diarahkan untuk menghasilkan pelajar dan sarjana yang unggul,
beradab dan menjadikan Rasulullah sebagai uswah. Dalam bidang ekonomi, Adia
mengharapkan lembaga-lembaga ekonomi syariah benar-benar menjadikan iman, ilmu
dan ketakwaan sebagai landasan aktivitas perekonomian, dan bukan berlandaskan pada
pragmatisme ekonomi.

Begitu juga di bidang lain, seperti sosial, budaya, informasi, sains dan teknologi. Umat
Islam juga dituntut bekerja keras agar dapat menunjukkan bahwa Islam sebagai rahmatan
lil'alamin.

C85/kpo.mr-republika