Anda di halaman 1dari 1

Rifampisin Rifampisin merupakan salah satu agen penginduksi enzim yang sangat berpotensi, yang juga dikenal sebagai

agen antituberkolosis. Sejak diperkenalkannya pada dunia klinis, didapatkan beberapa laporan mengenai interaksinya dengan obat lain dalam hal kemampuannya dalam menginduksi. Rifampisin dilaporkan mampu meningkatkan reticulum endoplasma halus pada manusia dan hepatosit pada hewan coba (Galehrter, 1972). Adanya peningkatan tersebut tercatat setelah 2 hari dan berada pada tingkat maksimum pada hari ke-5. Sitokrom P-450 yang merupakan komponen dari hati manusia juga telah dilaporkan meningkatkan dikarenakan efek dari rifampisin (Bolt et al., 1975). Rifampisin menghasilkan perubahan maksimum pada aktifitas obat hati yang memetabolisme enzim dalam 9 sampai 12 hari (Park dan Breckenridge, 1981). Telah banyak penelitian yang telah telah membuktikan efek induksi dari rifampicin (Ohnhaus et al., 1987). Induksi dari obat metabolisme enzim oleh rifampisin adalah 60-70% sebagai hasil dari peningkatan klirens antipyrin. Menariknya, induksi dari klirens antipyrine pada pasien dengan kasus pulmonary tuberculosis oleh rifampisin ini hanya berkisar 30% (Teunissen et al., 1984). Rute-rute oksidasi dari metabolisme antipyrine diinduksi secara berbeda oleh rifampisin didasarkan pada adanya beberapa bentuk dari sitokrom P-450, pada rute yang berlainan dari metabolism antipyrine akan dikatalisis oleh bentuk yang lain dari sitokrom P-450 (Saenger et al., 1976). Dalam beberapa penelitian, klirens dari norantipyrine juga meningkat secara signifikan. Lebih jauh lagi, subjek dengan nilai rendah pada kliren antipyrine ternyata lebih dapat diinduksi dibandingkan yang memiliki nilai klirens yang lebih tinggi (Teunissen et al., 1984). Pada pengamatan pada pasien yang mendapatkan pemberian antikoagulan jangka panjang, ditunjukkan adanya peningkatan dosis yang dibutuhkan pada dosis hariannya dengan pemberian rifampisin, ini merupakan salah satu dari laporan awal menganai interaksi rifampisin. Penelitian-penelitian selanjutnya melaporkan adanya pengurangan pada protrombin dan pengurangan setengah dari warfarin pada plasma dikarenakan efek rifampisin (OReilly, 1974). Kasus klinik lain mengenai interaksi dengan rifampisin yakni pada penggunaan pil kontrakspsi per oral. Adanya gangguan menstruasi dan kehamilan yang tidak terkontrol telah dilaporkan karena adanya kombinasi ini. Efek dari rifampisin ternyata cukup luas untuk mempengaruhi eksogen dan endogen sehingga dapat meningkatkan metabolisme dari estrogen dan progesterone. Rifapentin, yang mrupakan derivate siklopentil dari rifampisin, juga dilaporkan mampu menginduksi enzim (Durand et al., 1986).