Anda di halaman 1dari 11

BAB II REVIEW JURNAL

Berdasarkan Jurnal penelitian K.Rosyidah, S.A.Nurmuhaimina, N.Komari, dan M.D.Astuti yang bejudul AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI SAPONIN DARI KULIT BATANG TUMBUHAN KASTURI (Mangifera casturi) menunjukkan hasil positif bahwa saponin dari kulit batang tumbuhan kasturi memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli (penyebab diare) dan S.aureus ( penyebab penyakit kulit ) secara in vitro. Penilitian Uji fitokimia pendahuluan dari tanaman kasturi yang dilakukan Mustikasari dan Ariyani (2007) mengindikasikan bahwa batang kasturi mengandung senyawa terpenoid, steroid, dan saponin. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa terpenoid (Gunawan, 2008), steroid (Islam, et al., 2003), dan saponin (Prihatman, 2001) Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Metanol merupakan pelarut universal yang dapat menyari senyawa yang bersifat polar, semi polar , dan non polar yang cocok untuk menyari senyawa saponin. Ektrak methanol kulit batang tumbuhan kasturi dipekatkan dengan rotary vaccum evaporator hingga diperoleh ekstrak methanol kering.Ekstrak metanol kering dilarutkan dalam metanol kemudian dipartisi dengan n-heksana dalam corong pisah sehingga terbentuk busa stabil. Busa yang stabil dipekatkan dengan penguap putar sampai kering sehingga diperoleh ekstrak saponin padat. Ekstrak saponin padat diimpregnasi menggunakan silika gel 60 kemudian dimasukkan ke dalam kolom KVC. Kolom dielusi dengan pelarut kloroform:aseton (7:3). Eluat yang dihasilkan dari proses elusi ditampung dalam wadah terpisah sehingga menghasilkan sejumlah fraksi. Fraksi yang harga Rf nya sama digabungkan sehingga diperoleh beberapa fraksi gabungan. Setiap fraksi gabungan diuji aktivitas antibakterinya. Berdasarkan hasil penelitian fraksi A yang diperoleh dari ekstrak saponin pada kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) dengan diameter hambat sebesar 10,3 0,5 mm terhadap bakteri E.coli dan 10,8 0,3 mm terhadap S.aureus.

Berdasarkan penelitian tersebut, saya ingin melanjutkan proses uji antibakteri saponin dari kulit tumbuhan kasturi pada Staphylococcus Aureus secara in vivo. Saponin lebih berpotensi sebagai antibakteri dibandingkan dengan senyawa aktif lainnya. Berdasarkan

literatur, Saponin bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula dalam darah, mengurangi penggumpalan darah. Saponin yang didapatkan,di buat seri kadar tertentu diuji secara secara in vivo dalam bentuk sediaan krim, karena akan digunakan secara topikal. Hewan uji yang digunakan adalah kelinci yang sebelumnya diinduksi dengan bakteri Staphylococcus aureus pada baigan kulit hingga terjadi infeksi (terbentuk nanah) serta uji iritasi untuk menjamin keamanan pemakaian dari sediaan krim ini.

BAB III PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi oleh S. aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses bernanah. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus adalah bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Bisul atau abses setempat, seperti jerawat dan borok merupakan infeksi kulit di daerah folikel rambut, kelenjar sebasea, atau kelenjar keringat. Mula-mula terjadi nekrosis jaringan setempat, lalu terjadi koagulasi fibrin di sekitar lesi dan pembuluh getah bening, sehingga terbentuk dinding yang membatasi proses nekrosis. Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah, sehingga terjadi peradangan pada vena, trombosis, bahkan bakterimia. Bakterimia dapat menyebabkan terjadinya endokarditis, osteomielitis akut hematogen, meningitis atau infeksi paru-paru (Warsa, 1994; Jawetz et al., 1995). Kontaminasi langsung S. aureus pada luka terbuka (seperti luka pasca bedah) atau infeksi setelah trauma (seperti osteomielitis kronis setelah fraktur terbuka) dan meningitis setelah fraktur tengkorak, merupakan penyebab infeksi nosokomial (Jawetz et al., 1995) Tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) atau mangga kalimantan menarik untuk diteliti karena tumbuhan ini merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan dan termasuk tumbuhan langka. Tumbuhan kasturi tersebar di daerah Kalimantan Selatan seperti Banjarbaru, Martapura, Kandangan, dan Tanjung. Selain itu tersebar juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti Kutai dan Tenggarong Sebrang. Dilihat dari ekologinya tumbuhan ini hidup di daerah rawa. Buahnya menyerupai mangga kecil dan agak padat, baunya tajam dan rasanya khas. Kulitnya tipis, licin, hijau mengkilat dengan noda gelap (Kostermans & Bompard, 1993). Tumbuhan dari genus Mangifera yang sudah diteliti kandungan kimianya adalah Mangifera indica atau yang dikenal dengan sebutan mangga. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa M.indica mengandung flavonoid, terpenoid, saponin, tanin (Depkes, 2007),Uji fitokimia dari tanaman kasturi mengindikasikan bahwa batang kasturi mengandung senyawa terpenoid, steroid, dan saponin (Mustikasari dan Ariyani , 2007). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa terpenoid (Gunawan, 2008), steroid (Islam, et al., 2003), dan saponin (Prihatman, 2001) mempunyai aktivitas sebagai antibakteri .

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar Belakang masalah diatas maka dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah krim saponin kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) yang diuji aktivitas antibakteri secara in vivo pada kulit kelinci dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ? 2. Pada kadar berapakah saponin yang dibuat dalam sediaan krim dapat berefek terhadap infeksi kulit yang disebabkan Staphylococcus aureus ? 3. Apakah terjadi iritasi setelah diberikan krim saponin kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi)?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui aktivitas antibakteri sediaan krim saponin dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus 2. Mengetahui kadar saponin dalam sediaan krim yang dapat mengurangi infeksi kulit yang disebabkan Staphylococcus aureus 3. Mengetahui efek samping yang ditimbulkan setelah diberikan krim saponin kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi)

D. Tinjauan Pustaka

a. Morfologi tanaman Tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) atau mangga kalimantan menarik untuk diteliti karena tumbuhan ini merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan dan termasuk tumbuhan langka. Tumbuhan kasturi tersebar di daerah Kalimantan Selatan seperti Banjarbaru, Martapura, Kandangan, dan Tanjung. Selain itu tersebar juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur seperti Kutai dan Tenggarong Sebrang. Dilihat dari ekologinya tumbuhan ini hidup di daerah rawa. Buahnya menyerupai mangga kecil dan agak padat, baunya tajam dan rasanya khas. Kulitnya tipis, licin, hijau mengkilat dengan noda gelap (Kostermans & Bompard, 1993). Mangifera casturi Kosterm

Klasifikasi Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Plantae Tracheophyta Magnoliopsida Sapindales Anacardiaceae Mangifera M. casturi Mangifera casturi

Nama binomial:

b. Kandungan senyawa Aktif Tumbuhan dari genus Mangifera yang sudah diteliti kandungan kimianya adalah Mangifera indica atau yang dikenal dengan sebutan mangga. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa M.indica mengandung flavonoid, terpenoid, saponin, tanin (Depkes, 2007),Uji fitokimia dari tanaman kasturi mengindikasikan bahwa batang kasturi mengandung senyawa terpenoid, steroid, dan saponin (Mustikasari dan Ariyani , 2007). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa terpenoid (Gunawan, 2008), steroid (Islam, et al., 2003), dan saponin (Prihatman, 2001) mempunyai aktivitas sebagai antibakteri . c. Maserasi Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) : adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Farmakope Indonesia, 1995). Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya : 1. Digesti 2. Maserasi dengan Mesin Pengaduk 3. Remaserasi 4. Maserasi Melingkar 5. Maserasi Melingkar Bertingkat

d. Saponin pada kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) Saponin pada kulit batang tumbuhan kasturi (Mangifera casturi) aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escerichia coli Staphylococcus aureus (K.Rosyidah, et al., 2010). Saponin adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan membui bila dikocok. Glikosida saponin bisa berupa saponin steroid maupun saponin triterpenoid. Saponin bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula dalam darah, mengurangi penggumpalan darah.

e. Bakteri Uji Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat berdiameter 0,7-1,2 m, tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan tidak bergerak (Gambar 2.1). Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37 C, tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25 C). Koloni pada perbenihan padat berwarna abu-abu sampai kuning keemasan, berbentuk bundar, halus, menonjol, dan berkilau. Lebih dari 90% isolat klinik menghasilkan S. aureus yang mempunyai kapsul polisakarida atau selaput tipis yang berperan dalam virulensi bakteri (Jawetz et al., 1995 ; Novick et al., 2000).

Infeksi oleh S. aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses bernanah. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus adalah bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya pneumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. S. aureus juga merupakan penyebab utama infeksi nosokomial, keracunan makanan, dan sindroma syok toksik (Ryan, et al., 1994; Warsa, 1994).

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Penelitian Alat Maserator, evaporator, oven, corong pisah dan untuk pembuatan sediaan topikal (krim) digunakan: lumpang, timbangan analitik, spatula, sudip, vial, Laminar Air Flow, oven, autoklaf, pipet mikro, cawan penguap, kaca arloji, perkamen, lampu spiritus dan stirrer. Untuk uji preklinis digunakan: hand skun, masker, slit 1 ml, alat cukur, tabung reaksi, kain kasa steril, plaster dan gunting.

Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kulit batang kasturi, pelarut organik yang mempunyai kualitas teknis seperti CH3OH (metanol), untuk pembuatan sediaan topikal (krim) digunakan bahan-bahan orientasi berbagai basis krim, DMSO dan etanol. Untuk uji preklinis: larutan NaCl fisiologis, bakteri uji Staphylococcus aureus ATTC 6538 dan kelinci Metode Penelitian Secara Skematis :
Persiapan Sampel

Ekstraksi

Partisi

Fraksinasi

Didapatkan isolate saponin murni

Pembuatan sediaan krim dengan zat aktif saponin

Induksi bakteri S.aureus pada kulit kelinci

Pengobatan krim pada kelinci

Pengamatan efek terapi dan pengamatan efek samping

Jalannya Penelitian Sampel berupa kulit batang tumbuhan kasturi dikumpulkan, dicuci dan dikeringkan di udara terbuka. Sampel yang sudah kering dibuat menjadi potongan kecil lalu dihaluskan dengan blender. Ekstraksi sebanyak 500 gram serbuk kulit batang tumbuhan kasturi dimaserasi dengan 10L metanol sebanyak2 kali selama 24 jam. Selanjutnya disaring, filtratnya dipekatkan dengan rotary vaccum evaporator hingga diperoleh ekstrak metanol kering. Partisi ekstrak metanol kering dilarutkan dalam metanol kemudian dipartisi dengan nheksana dalam corong pisah sehingga terbentuk busa stabil. Busa yang stabil dipekatkan dengan penguap putar sampai kering sehingga diperoleh ekstrak saponin padat. Fraksinasi ekstrak saponin padat diimpregnasi menggunakan silika gel 60 kemudian dimasukkan ke dalam kolom KVC. Kolom dielusi dengan pelarut kloroform:aseton (7:3). Eluat yang dihasilkan dari proses elusi ditampung dalam wadah terpisah sehingga menghasilkan sejumlah fraksi. Fraksi yang harga Rf nya sama digabungkan sehingga diperoleh beberapa fraksi gabungan. Setiap fraksi gabungan diuji aktivitas antibakterinya. Uji aktivitas antibakteri. Saponin dibuat seri kadar tertentu kemudian dalam sediaan krim. Formulasi krim sediaan topikal sebagai bahan aktif digunakan saponin (hasil isolasi) yang telah dimurnikan. Bahan dasar krim dipilih melalui orientasi terhadap berbagai buku standar pembuatan sediaan krim. Bahan dasar yang lebih baik sifatnya ditetapkan melalui uji preklinis sediaan. Evaluasi sediaan mencakup pemeriksaan pemerian, meliputi penampilan, warna dan bau. Pemeriksaan homogenitas dilakukan menurut cara berikut: Ditimbang 0,1 gram sediaan, kemudian dioleskan secara merata dan tipis pada kaca yang transparan, sehingga krim terlihat homogen dan tak boleh ada bintik-bintik partikel di bawah mikroskop. Pemeriksaan daya tercuci krim, dilakukan menurut cara berikut: Ditimbang 1 gram krim, dioleskan pada telapak tangan, kemudian dicuci dengan sejumlah volume air yang dilewatkan melalui buret makrometer. Sambil membilas tangan secara periodik, diamati apakah ada atau tidak krim yang masih menempel pada tangan. Pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan cara memberikan satu tetes larutan metilen biru pada 0,1 gram krim, kemudian diamati penyebaran warna metilen biru dalam sediaan dibawah mikroskop. Jika warna menyebar secara merata pada sediaan krim, berarti tipe krim adalah minyak dalam air (M/A), tetapi jika warna hanya berupa bintik-bintik,berarti tipe krim adalah air dalam minyak (A/M). Pemeriksaan pH dilakukan menggunakan kertas pH universal.

Uji preklinis secara in-vivo dilakukan sebagaimana yang umum dilakukan oleh para peneliti lain. Sediaan krim yang paling stabil secara fisika dan kimia, diuji aktifitas antibakteri topikalnya terhadap kulit kelinci yang sudah terinfeksi. Kelinci dikarantinakan selama satu malam, kemudian dicukur bulu punggungnya sampai bersih dan dibiarkan selama satu malam. Kemudian dibuat suspensi bakteri Staphylococcus aureus yang berusia 18-24 jam dan 0,5 ml suspensi bakteri ini disuntikkan pada kulit punggung kelinci dengan hati-hati. Penyuntikan dilakukan sebanyak 6 kali pada tempat yang berbeda. Bekas suntikan ditutup dengan kain kasa untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah 2 jam dioleskan sediaan krim pada tempat terinfeksi dan sebagai pembanding digunakan krim kloromfenikol. Masingmasing sediaan krim menggunakan 1 kelinci dan infeksi sebelah kanan diberi perlakuan sediaan krim, sedangkan yang disebelah kiri tanpa perlakuan. Setelah diberi sediaan, permukaan yang terinfeksi ditutup kembali dengan kain kasa supaya tidak terjadi infeksi sekunder. Pemberian krim selanjutnya dilakukan 2 kali sehari dan pengamatan dilakukan setiap hari sampai sembuh. Parameter yang diamati ialah luas daerah pembengkakan (udema), pemerahan (eritema) dan ada atau tidaknya nanah pada daerah infeksi. Uji iritasi sediaan krim: Pengujian dilakukan melalui uji tempel pada kulit kelinci menurut Formularium Kosmetika Indonesia. Kulit perut kelinci dicukur bulunya sampai bersih, lalu dioleskan 0,1 gram krim secara merata, kemudian ditutupi dengan perban dan plester. Setelah dibiarkan selama 1x24 jam, diamati gejala yang ditimbulkan, berupa bercak merah, bengkak atau berbintik-bintik. Pengujian pada kulit kelinci memberikan hasil yang baik jika tidak menimbulkan iritasi.

SARAN Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilakukan uji toksisitasnya, dilakukan standarisasi oleh BADAN POM, uji klinis pada manusia untuk menjadi fitofarmaka.

TUGAS JURNAL PENELITIAN FITOMEDISIN


AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI SAPONIN DARI KULIT BATANG TUMBUHAN KASTURI (Mangifera casturi)

Pengampu : Maulita Cut Nuria, MSc ., Apt

Disusun oleh : Halimatus s Zein (105010567)

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2012