Anda di halaman 1dari 29

Sedangkan bahan dan atau senyawa yang dilarang terdapat dalam perisa yang digunakan dalam produk pangan

adalah dulkamara, kokain, nitrobenzen, sinamil antranilat, dihidrosafrol, biji tonka, minyak kalamus, minyak tansi, dan minyak sasafras. Khusus untuk ajudan perisa dibahas tersendiri seperti uraian berikut. Ajudan perisa (flavouring adjunct) Seperti telah diuraikan, perisa terdiri atas dua komponen utama, yakni bagian perisa dan bukan perisa. Bagian bukan perisa dikenal sebagai ajudan perisa (flavouring adjunct). Disesi ini, penulis mengajak untuk mengenal lebih jauh mengenai ajudan perisa (flavouring adjunct). Istilah ajudan perisa (flavouring agent) didefinisikan sebagai bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan, pelarutan, pengenceran, penyimpanan, dan penggunaan perisa. Ajudan perisa terdiri dari pembawa (carrier) dan pelarut pengekstrak (extraction solvent). Definisi pembawa (carrier) adalah bahan tambahan pangan yang digunakan untuk melarutkan, mengencerkan, mendispersi atau memodifikasi secara fisik bahan tambahan pangan atau zat gizi tanpa mengubah fungsinya (pembawa tersebut tidak menghasilkan efek teknologi) untuk memfasilitasi penanganan, aplikasi atau penggunaan bahan tambahan pangan atau zat gizi di dalam pangan. Sedangkan definisi pelarut pengekstrak (extraction solvent) adalah pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi selama pengolahan bahan baku, bahan pangan, atau komponen atau ingridien dari bahan baku atau bahan pangan yang selanjutnya dihilangkan, tetapi secara tidak sengaja dapat menyisakan atau secara teknologi tidak dapat dihindari keberadaan residu atau produk turunan dalam bahan pangan atau ingredien. Peranan pelarut dalam pembuatan perisa sangatlah penting karena pada umumnya perisa dibuat melalui proses pencampuran bahan-bahan kimia yang disebut dengan aroma chemicals. Kemudian bahan-bahan kimia tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut yang sesuai sehingga perisa tersebut nantinya dapat digunakan dalam produk pangan. Penggunaan senyawa lain yang ditujukan sebagai ajudan perisa namun tidak tercantum dalam pembawa (carrier) dan pelarut pengekstrak (extraction solvent) dapat digunakan apabila termasuk dalam golongan bahan pangan, bahan tambahan pangan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku, dan bahan penolong (processing aids) mengikuti peraturan bahan penolong yang berlaku. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh CAC/GL 66-2008 Guidelines For The Use of Flavourings bahwa perisa dapat mengandung non-flavouring food ingredients, yang meliputi bahan tambahan pangan, bahan baku yang diperlukan untuk produksi, penyimpanan, penanganan dan penggunaan. Berdasarkan peraturan tersebut, non-flavouring food ingredients ini seharusnya:

Dibatasi seminimal mungkin demi menjaga keamanan dan kualitas dari perisa juga untuk memfasiitasi penyimpanan dan kemudahan dalam penggunaannya. Jika tidak memiliki fungsi teknologi dalam produk pangan maka pemaka

http://www.foodreview.biz/login/preview.php?view&id=55775

MASIH rendahnya pengetahuan masyarakat soal mutu dan keamanan pangan menyebabkan maraknya kasus keracunan makanan. Hal ini diperparah dengan berbagai jenis bahan tambahan makanan (BTM) yang bersumber dari produk-produk senyawa kimia dan turunannya. Mengingat beredarnya beberapa bahan tambahan makanan yang berisiko, hendaknya konsumen lebih kritis dan berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi aneka makanan yang ada. Atau dapat membiasakan dengan menambahkan bahan tambahan makanan alami semisal kunyit, daun pandan dan lain sebagainya.

MASIH rendahnya pengetahuan masyarakat soal mutu dan keamanan pangan menyebabkan maraknya kasus keracunan makanan. Hal ini diperparah dengan berbagai jenis bahan tambahan makanan (BTM) yang bersumber dari produk-produk senyawa kimia dan turunannya. Mengingat beredarnya beberapa bahan tambahan makanan yang berisiko, hendaknya konsumen lebih kritis dan berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi aneka makanan yang ada. Atau dapat membiasakan dengan menambahkan bahan tambahan makanan alami semisal kunyit, daun pandan dan lain sebagainya. Pelabelan Sebagai konsumen, tentunya kita mempunyai hak untuk memperoleh kebutuhan pokok yang memadai, mendapatkan keamanan dari makanan dan minuman yang kita akan konsumsi. Bila konsumen mengalami kerugian dalam mengonsumsi makanan dan minuman, dapat mengajukan klaim pada instansi yang berwenang. Dalam hal ini instansi yang berwenang tersebut adalah Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, dan Departemen Kesehatan. Masyarakat konsumen sebaiknya tidak mengonsumsi makanan dan atau minuman yang tidak mencantumkan batas tanggal kedaluwarsa. Ada beberapa informasi penting yang harus diketahui konsumen. Pertama, harga, konsumen berhak mendapatkan informasi dan membandingkannya dengan informasi lain sehingga ia dapat membeli dengan harga sesuai daya beli mereka. Kedua, label, sebelum mengonsumsi makanan, konsumen perlu memperhatikan informasi pada kemasan atau label produksi yang harus meliputi nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat atau isi bersih, nama dan alamat produsen dan tanggal kadaluwarsa. Pemberian label pada makanan kemasan itu bertujuan agar konsumen mendapatkan informasi yang benar dan jelas tentang produk tersebut. Ketiga, kemasan dan perubahan fisik, produk makanan dengan kemasan yang sudah rusak tidak layak dikonsumsi. Perhatikan jika bau tidak sedap, perubahan warna, bentuk, dan rasa adalah tanda-tanda makanan dalam kemasan telah rusak.

Bahan pengawet Dalam produksi pangan olahan untuk tujuan komersial, penggunaan bahan tambahan yang bersumber dari substansi kimia sebagai bahan pengawet tidak mungkin dihindari, terutama dalam pengolahan industri rumah tangga. Penggunaan bahan tambahan makanan yang salah satunya yakni pengawet bertujuan untuk menghambat atau menghentikan aktivitas mikroba seperti bakteri, kapang, dan khamir. Sehingga dapat meningkatkan daya simpan suatu produk olahan, meningkatkan cita rasa, warna, menstabilkan dan memperbaiki tekstur, sebagai zat pengental/penstabil, anti lengket, mencegah perubahan warna, memperkaya vitamin, mineral dan lain-lain. Penggunaan zat pengawet sebaiknya dengan dosis di bawah ambang batas yang telah ditentukan. Pemberian bahan tambahan makanan telah ditetapkan standarnya oleh badan yang berwenang dan ada ketentuan yang mesti ditaati oleh industri pembuat makanan, sebab jika kadarnya melebihi batas ketentuan tentu saja tidak aman dan dapat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan konsumen. Menurut ketentuan yang ditetapkan, ada beberapa jenis kategori bahan tambahan makanan. Pertama, bahan tambahan makanan yang bersifat aman, dengan dosis yang tidak dibatasi misalnya: pati. Kedua, bahan tambahan makanan yang digunakan dengan dosis tertentu, yang untuk menggunakannya ditentukan dosis maksimum. Ketiga, bahan tambahan yang aman dan dalam dosis yang tepat, dan telah

mendapatkan izin beredar dari instansi yang berwewenang, misalnya zat pewarna yang sudah dilengkapi sertifikat aman. Bahan berbahaya Berikut ini dibahas jenis bahan tambahan makanan yang dibatasi dan yang dilarang penggunaannya karena dampaknya yang berbahaya bagi manusia. Bahan pengawet seperti dietilpirokarbonat (DEP), kloroform, dan nitrofuran (ketiganya dilarang penggunaannya). Sedangkan bahan lainnya adalah natrium sulfite dan kalium sulfite, asam benzoat, natrium benzoat, Propil p-hidroksi benzoate, serta natrium dan kalium nitrit (dibatasi penggunaannya atau diatur dosisnya). Untuk asam benzoat dan natrium benzoat bisa menimbulkan reaksi alergi dan penyakit saraf. Sedangkan natrium dan kalium nitrit, dapat menyebabkan efek seperti kegagalan reproduksi, perubahan sel darah, tumor pada saluran pernapasan, dan bisa menimbulkan efek toksik pada manusia di jaringan lemak. Untuk kalium dan natrium sulfit penggunaannya dapat mengganggu saluran pernapasan pada manusia, mengganggu pencernaan, mengganggu metabolisme vitamin A dan B dan metabolisme kalsium. Bahan pewarna Bahan pewarna makanan seperti amaranth, allura merah, citrus merah, karamel, erythrosin, indigotine, karbon hitam, Ponceau SX, fast green FCF, chocineal, dan kurkumin dibatasi penggunaannya. Amaranth dapat menimbulkan tumor, reaksi alergi pada pernapasan, dan dapat menyebabkan hiperaktif pada anakanak. Allura merah bisa memicu kanker limpa. Karamel dapat menimbulkan efek pada sistem saraf, dan dapat menyebabkan penyakit pada sistem kekebalan. Indigotine dapat meningkatkan sensitivitas pada penyakit yang disebabkan oleh virus, serta mengakibatkan hiperaktif pada anak-anak. Pemakaian Erythrosin menimbulkan reaksi alergi pada pernapasan, hiperaktif pada anak-anak, dan efek yang kurang baik pada otak dan perilaku. Ponceau SX dapat berakibat pada kerusakan sistem urin, sedangkan karbon hitam dapat memicu timbulnya tumor. Pemanis sintetis Bahan pemanis sintetis seperti dulsin, aspartam, xyllotil, siklamat, dan sakharin yakni natrium dan kalium sakarin, dilarang penggunaannya. Pemanis aspartam dapat mengakibatkan penyakit fenilketonuria, memicu sakit kepala, pusing-pusing, dapat mengubah fungsi otak dan perilaku. Siklamat mempengaruhi hasil metabolismenya karena bersifat karsinogenik. Sakarin, yang nama kimia sebenarnya adalah natrium sakarin atau kalium sakarin penggunaan yang berlebihan dapat memicu terjadinya tumor kandung kemih, dan menimbulkan rasa pahit getir. Sedangkan penggunaan xyllotil akan berimplikasi pada timbulnya kanker karena bersifat karsinogenik.

Penyedap rasa Penyedap rasa dan aroma seperti kafein, brominasi minyak nabati, monosodium glutamate (MSG), dan asam tannin, semuanya dibatasi penggunaannya. Pemakaian kafein yang berlebihan akan merangsang sistem saraf, pada anak-anak menyebabkan hiperaktif, dan memicu kanker pankreas. Monosodium glutamate menyebabkan sakit kepala, memicu jantung berdebar, mudah lemah, menyebabkan mati rasa (Chinese Restorant Syndrome), bisa menyebabkan asma, kerusakan saraf, dan efek psikologi. Brominasi minyak nabati dapat menyebabkan abnormalitas pada beberapa anatomi, sedangkan penggunaan asam tarin yang berlebihan dapat merangsang kerusakan liver, dan memicu timbulnya tumor.

Bahan pemutih Bahan pemutih seperti benzoilperioksida harus dibatasi penggunaannya karena merusak vitamin C, bersifat karsinogenik dan menimbulkan reaksi alergi. Bahan sekuestran seperti asam Etilen Diamin Tetra Asetat (EDTA), bisa menimbulkan gangguan pada absorpsi mineral-mineral esensial seperti tembaga, besi, dan seng. Bahan tambahan makanan yang digunakan untuk memperbaiki tekstur, yaitu karboksimetil selulosa, epikklorohidrin, natrium dan kalsium karagenan, polieksietilen stearat, saponin, dan natrium alginat.

Penggunaan karboksimetil selulosa dapat menyebabkan gangguan pada usus, dan bersifat karsinogenik. Saponin mengakibatkan efek pada masa kehamilan, dan gangguan darah. Karagen bisa memicu luka pada hati, efek pada sistem imun, karsinogenik, dan menyebabkan bisul pada perut. Penggunaan berlebihan dari Epikklorohidrin dapat menyebabkan kerusakan ginjal, karsinogenik, dan bahkan efek perubahan pada kromosom. Polieksietilen stearat dapat menyebabkan efek pada usus lambung dan urin, seperti batu pada tumor, dan kandung kemih. Sedangkan penggunaan natrium alginat dapat menyebabkan reaksi alergi dan penyerapan pada mineral esensial. Beberapa bahan tambahan makanan seperti pembentuk cita rasa seperti koumarin, safrol, minyak kalamus, dan sinamil antranilat, semuanya dilarang). Bahan antioksidan Bahan antioksidan seperti asam askorbat, BHA, tert-butihidrokinon, dan tokoferol harus dibatasi penggunaannya. Bahan antibusa seperti dimetilpolisiloksan dibatasi. Bahan pengental seperti metilsellulosa, CMC, asam alginat, harus dibatasi penggunaannya. Bahan pemantap seperti propilenglikol, harus dibatasi penggunaannya. Pengetahuan yang memadai tentang bahan tambahan makanan akan membantu kita dalam mengonsumsi bahan makanan atau minuman yang aman. Juga dari segi kehalalan dari suatu makanan atau minuman perlu kita ketahui dengan baik sebelum kita mengonsumsinya.***

Dra. Endang Srieatimah Peneliti Ahli di Lab. Rekayasa Genetika, ITB. Yohanis Ngili, M.Si Alumnus Departemen Kimia-ITB.

Sumber: pikiran-rakyat.com

http://www.lizaherbal.com/main/content/view/180/1/

BAHAN TAMBAHAN MAKANAN(AMAMIA)


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan Tambahan Makanan (BTP) atau yang lebih sering kita kenal dengan Zat Aditif Makanan. Peraturan mengenai BTP tertulis jelas dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722 tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan (Lampiran II) atau yang lebih akrab kita sebut Permenkes 722/88. Seiring perkembangan ilmu teknologi pangan dan adanya kajian ilmiah terbaru mengenai keamanan BTP yang ada di dunia saat ini, maka saat ini Badan POM bersama dengan Pakar terkait sedang mempersiapkan revisi dari Permenkes 722/88 tersebut yang nantinya revisi peraturan ini akan dimandatorikan melalui Peraturan Kepala BPOM tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan dalam Pangan. Sampai saat ini, rancangan peraturan tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama Tim Pakar. Penggunaan BTP ke dalam produk pangan ditujukan untuk menghasilkan produk yang mempunyai rasa yang enak, berwarna menarik, lebih awet serta mempunyai berbagai macam rasa sesuai perkembangan jaman dan permintaan konsumen. Kemajuan ilmu teknologi pangan dan inovasi oleh produsen karena adanya permintaan dari konsumen di dunia dewasa ini, juga menyebabkan meningkatnya penggunaan BTP pada produk-produk ini. Beberapa penggunaan BTP dalam produk makanan adalah pewarna makanan, penguat rasa. perisa, penstabil, pengemulsi, pengental, pengembang, pengawet dan lainnya. B. Tujuan Dari permasalahan yang diajukan, maka tujuan pembuatan makalah ini antara lain : 1. Untuk mengetahui jenis-jenis BTP yang tergolong dalam penstabil, pengemulsi dan pengembang 2. Untuk mengetahui ambang batas yang diperbolehkan untuk BTP tersebut 3. Untuk memberikan rujukan kepada industry pangan terkait dalam penggunaan jenis BTP penstabil, pengemulsi dan pengembang

BAB II PEMBAHASAN 1) Defenisi Zat aditif atau Bahan tambahan makanan adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.Pada awalnya zatzat aditif tersebut berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan yang selanjutnya disebut zat aditif alami. Umumnya zat aditif alami tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia. Akan tetapi, jumlah penduduk bumi yang makin bertambah menuntut jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat aditif alami tidak mencukupi lagi. Oleh karena itu, industri makanan memproduksi makanan yang memakai zat aditif buatan (sintesis). Bahan baku pembuatannya adalah dari zat-zat kimia yang kemudian direaksikan. Zat aditif sintesis yang berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping misalnya: gatal-gatal, dan kanker. 2) Jenis-Jenis Bahan Tambahan Makanan a) Bahan Pengawet Makanan Pengawetan makanan adalah suatu proses penambahan zat lain baik yang bersifat alami atau kimiawi yang bertujuan untuk membuat suatu makanan menjadi lebih tahan lama bila dibadingkan dengan biasanya Jenis-Jenis Bahan Pengawet

1. Natrium Benzoate (sodium benzoate), Digunakan untuk acar dalam botol, keju, margarin, zapricot kering, selai, jely, sirup, saus, kecap, anggur buah dan minuman berakohol, serta makanan lainnya kecuali daging, ikan dan unggas. Batas maksimum penggunaan 200mg-1gr / kg. 2. Natrium Bisulfit (sodium Hydrogen Sulphite), Digunakan pada potongan kentangan goreng beku, udang beku, dan selai dengan batas maksimum penggunaan 50-500 mg/kg. 3. Natrium Metabilsufit (Sodium Methabisulphite), Digunakan pada potongan kentangan goreng beku, udang beku, dengan batas maksimum penggunaan 50-100 mg/kg. 4. Natrium Nitrat (Sodium Nitrat), Digunakan untuk daging olahan dan awetan, keju dengan dosis 50-500 mg/kg. 5. Natrium Nitrit (Sodium Nitrite), Digunakan untuk daging olahan, daging awetan, corned kalengan dengan 50 mg 125 mg/kg. 6. Natrium Propionat (Sodium Propionat), Digunakan untuk olahan keju dan roti, batas penggunaan 2-3 gr/kg. 7. Natrium Sulfit (Sodium Sulphite), Digunakan untuk potongan kentang goreng beku, udang beku dan selai dengan batas maksimum penggunaan 50-500 mg/kg. 8. Nisin (Nisin), Digunakan untuk keju olahan dengan dosis 12,5 mg/kg. 9. Asam Benzoat (Benzoic Acid), Bahan ini banyak digunakan pada kecap, minuman ringan, acar, margarin, selai, saos, dll. Batas maksimum penggunaan 600 mg 1 gr/kg. 10. Asam Propionat (Propionic Acid), Banyak digunakan untuk olahan keju dan roti. Batas maksimum penggunaan 2-3 gr/kg 11. Asam Sorbat (Sorbic Acid), Digunakan untuk keju olahan. Dosis penggunaan 3gr/kg. 12. Belerang Dioksida (Sulfur Dioxide), Banyak digunakan untuk acar, jelly, selai, saus, gula bubuk, gula pasir, cuka, sirup, bir/minuman ringan, anggur, sosis, ekstrak kopi kering, gelatin dll. Batas maksimum penggunaan 20-500 mg/kg. 13. Metil p-Hidroxybenzoate (Methyl p-Hidroxybenzoate), Digunakan untuk selai, jelly, acar dalam botol, kecap, ekstrak kopi cair, pasta tomat, sari buah dan makanan lainnya kecuali daging, ikan dan unggas. Batas maksimum penggunaan 200 mg 1gr/k b) Bahan Pemanis Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri serta minuman dan makanan kesehatan. Menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nomor 235, pemanis termasuk ke dalam bahan tambahan kimia, selain zat lain seperti antioksidan, pemutih, pengawet, pewarna, dan lain-lain. Berdasarkan proses produksi dikenal suatu jenis pemanis yaitu sintetis dan natural.

Pemanis Sintesis 1) . Aspartam Aspartam ditemukan pada tahun 1965 secara kebetulan. Aspartam adalah senyawa metil ester dipeptida yaitu L-fenilalanin-metil ester yang mempunyai daya kemanisan kurang lebih dua ratus kali kemanisan sakarosa. Struktur kimianya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.Aspartam merupakan pemanis sintesis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanin. Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal Nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen Belakangan aspartam mendapat penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan aspartam menyebabkan banyak efek negatif. Dan akhirnya, pangsa pasarnya mulai berkurang direbut oleh pemanis lain yaitu sukralosa.

2) Sakarin Sakarin berupa Ca- atau Na-sakarin merupakan pemanis buatan yang paling lama dikenal. Sakarin merupakan senyawa benzosulfimida atau o-sulfobenzimida dengan rumus molekul C7H5NO3S. Sakarin merupakan pemanis rendah kalori yang sudah di kenal sejak lama. Sakarin tidak mengandung kalori. 3) Siklamat Siklamat diperkenalkan ke dalam makanan dan minuman pada awal tahun 1950-an. Daya kemanisannya adalah 80 kali kemanisan sukrosa. Siklamat biasa dipakai dalam bentuk garam natrium dan asam siklamat. 4) Sukade Sukade adalah manisan kulit jeruk sitrus, Citrus medica. Setelah dipetik dan dimasak dengan gula, sukade dikeringkan dan dipotong-potong kecil. Sukade biasanya berwarna kuning atau hijau tembus pandang, rasanya mirip jeruk tapi lebih pahit. Sukade digunakan dalam berbagai kue dan pastry, oliebollen, dan roti kismis (krentenbrood) Pemannis Natural 1) Sukrosa Sukrosa atau sakarosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Secara komersial gula pasir yang 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan tersebut melalui proses penyulingan dan kristalisasi. Gula merah yang banayk digunakan di Indonesia dibuat dari tebu, kelapa atau enau melalui proses penyulingan tidak sempurna. Sukrosa juga terdapat di dalam buah, sayuran, dan madu. 2) Glukosa Glukosa, dinamakan juga dekstrosa atau gula anggur, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit,yaitu di dalam sayur, buah, sirup jagung, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Glukosa memegang peranan sangat penting dalam ilmu gizi. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa, dan laktosa pada hewan dan manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber energi. 3) Fruktosa Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa, C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosda merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. 4) Galaktosa Galaktosa, tidak terdapat bebas di alam seperti halnya glukosa dan fruktosa, akan tetapi terdapat dalam tubuh sebagai hasil pencernaan laktosa. 5) Manosa Manosa jarang terdapat di dalam makanan. Di gurun pasir, seperti di Israel terdapat di dalam manna yang mereka olah untuk membuat roti. 6) Pentosa Pentosa, merupakan bagian sel-sel semua bahan makanan alami. Jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak penting sebagai sumber energi. Ribosa merupakan salah satu unsur dari pentosa. Adapun struktur cicin struktur terbuka dari glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa, ribosa yaitu : Struktur terbuka 7) Maltosa

Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terbentuk pada setiap pemecahan pati, seperti yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan bila benih atau bijian berkecambah dan di dalam usus manusia pada pencernaan pati. 8) Laktosa Laktosa (gula susu) hanya terdapat dalam susu dan terdiri atas satu unit glukosa dan satu unit galaktosa. Kekurangan laktase ini menyebabkan ketidaktahanan terhadap laktosa. Laktosa yang tidak dicerna tidak dapat diserap dan tetap tinggal dalam saluran pencernaan. Hal ini mempengaruhi jenis mikroorgnaisme yang tumbuh, yang menyebabkan gejala kembung, kejang perut, dan diare. Ketidaktahanan terhadap laktosa lebih banyak terjadi pada orang tua. Mlaktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis (seperenam manis glukosa) dan lebih sukar larut daripada disakarida lain 9) Sorbitol Sorbitol, terdapat di dalam beberapa jenis buah dan secara komersial dibuat dari glukosa. Enzim aldosa reduktase dapat mengubah gugus aldehida (CHO) dalam glukosa menjadi alkohol (CH2OH). Struktur kimianya dapat dilihat di bawah. Sorbitol banyak digunakan dalam minuman dan makanan khusus pasien diabetes, seperti minuman ringan, selai dan kue-kue. Tingkat kemanisan sorbitol hanya 60% bila dibandingkan dengan sukrosa, diabsorpsi lebih lambat dan diubah di dalam hati menjadi glukosa. Pengaruhnya terhadap kadar gula darah lebih kecil daripada sukrosa. Konsumsi lebih dari lima puluh gram sehari dapat menyebabkan diare pada pasien diabetes. 10) Manitol Manitol adalah alkohol yang dibuat dari monosakarida manosa dan galaktosa. Manitol terdapat di dalam nanas, asparagus, ubi jalar, dan wortel. Secara komersialo manitol diekstraksi dari sejenis rumput laut. Kedua jenis alkohol ini banyak digunakan dalam industri pangan. 11) Trehalos Trehalosa seperti juga maltosa, terdiri atas dua mol glukosa dan dikenal sebagai gila jamur. Sebanyak 15% bagian kering jamur terdiri atas trehalosa. Trehalosa juga terdapat dalam serangga.
3) Pengemulsi,Pemantap,Pengental Bahan tambahan pangan jenis pengemulsi merupakan bahan yang dapat mengemulsikan atau menghomogenkan beberapa fasa dengan kelarutan tertentu agar diperoleh produk olahan yang homogen. Sifat emulsi ditentukan oleh sistem gaya yang terbentuk oleh komposisi, jenis bahan yang membentuk emulsi, dan interaksi antara bahan-bahan tersebut. Berbagai emulsi makanan baik yang bersifat elastis maupun yang bersifat plastis dapat dibuat dengan mengatur proses pembuatan, komposisi, dan jenis bahan pembantunya. Emulsi yang baik seharusnya stabil, tidak memisah, tidak berubah warna selama pendiaman, dan tidak berubah konsistensinya. Stabilitas emulsi dipengaruhi oleh ukuran partikel, perbedan densitas kedua fase, viskositas fase pendispersi, emulsi keseluruhan, jumlah dan jenis emulsifier, serta kondisi penyimpanan (Bennet, 1947). Bila sistem emulsi tidak stabil, maka akan terbentuk kembali lapisan dari kedua fase tersebut. Proses terbentuk dimulai dengan terbentuknya agregat yang lebih besar dari butiran-butiran minyak, dan berlangsung terus-menerus sampai terjadi pemisahan. Menurut Nawar (1985) emulsifier adalah suatu bahan aktif permukaan untuk mempermudah pembentukan emulsi atau meningkatkan kestabilitasannya. Kemudahan pembentukan emulsi disebabkan oleh adanya penurunan tegangan permukaan antara kedua fase, sedangkan peningkatan stabilitas disebabkan kemampuan emulsifier dalam mencegah penggabungan antar partikel terdispersi. Daya kerja emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekuInya yang dapat terikat baik pada minyak maupun air. Apabila emulsifier tersebut lebih terikat pada air atau lebih larut dalam air, maka dapat lebih membantu terjadinya dispersi minyak dalam air sehingga terjadi emulsi minyak dalam air

(o/w). Sebaliknya, bila emulsifier lebih larut dalam minyak (non polar), dapat terbentuk emulsi air dalam minyak (w/o). Struktur emulsifier terdiri atas molekul-molekul yang mempunyai gugus lipofil dan hidrofil. Dalam suatu emulsi, gugus lipofil akan larut dalam fase minyak, sedangkan gugus hidrofil akan larut dalam fase air. Kedua gugus tersebut bersama-sama membentuk globula-globula emulsi.

No Nama Pengemulsi, Penggunaan Dalam Pangan Pemantap, dan Pengental 1 Agar Sardine dan sejenisnya Es krim, es puter dan sejenisnya Keju Yogurt 2 Dekstrin Es Krim Keju Kaldu 3 Gelatin Keju Yogurt 4 Gom Es Krim Keju Saus Selada Yogurt 5 Karagen Sardine Es Krim Yogurt 6 Lecitin Minuman hasil olahan susu, roti, dan margarine 7 Karboksimetil selulosa Sardine (CMC) Es Krim Keju 8 Pektin Es Krim Yogurt dan sayuran kaleng yang mengandung mentega

Ukuran Maksimum yang diijinkan 2 gram/kg 10 gram/kg 8 gram/kg 5 gram/kg 30gr/kg 10gr/kg Secukupnya 10 gr/kg 5 gr/kg 10 gr/kg 8 gr/kg 7.5 gr/kg 5 gr/kg 20 gr/kg 10 gr/kg 5 gr/kg Secukupnya 20 gr/kg 10 gr/kg 5 gr/kg 30 gr/kg 10 gr/kg

4) Bahan Anti Kempal Fungsi Anti Kempal adalah senyawa anhidrat yang dapat mengikat air tanpa menjadi basah dan biasanya ditambahkan ke dalam bahan pangan yang bersifat bubuk atau partikulat seperti garam meja, campuran kering (dry mixes), dan lain-lain. Penambahan senyawa anti kempal bertujuan untuk mencegah terjadinya penggumpalan dan menjaga agar bahan tersebut tetap dapat dituang (free flowing). Senyawa anti kempal biasanya merupakan garam-garam anhidrat yang bersifat cepat terhidrasi dengan mengikat air, atau senyawa-senyawa yang dapat mengikat air melalui pengikatan di permukaan (surface adhesion) tanpa menjadi basah dan menggumpal. Senyawa-senyawa tersebut

biasanya adalah senyawa yang secara alami berbentuk hampir kristal (near crystalline). Senyawa anti kempal dapat digolongkan menjadi : Garam (aluminium, amonium, kalsium, potassium, dan sodium). Kalsium posfat. Magnesium oksida. Garam (magnesium, kaslium, dan campuran kalsium aluminium) dari asam silikat.

Bahan anti kerak dan antikempal yang diijinkan adalah :

No Nama Bahan Antikempal 1 2 Alumunium Siklat Kalsium Alumunium Silikat

Penggunaan Dalam Pangan susu dan Krim Bubuk Serbuk Garam dengan Rempah dan Merica Gula Bubuk Garam Meja Sama seperti Kalsium Silikat Sama seperti Alumunium Silikat

Ukuran Maksimum Yang Diijinkan 1 gr/kg 20 gr/kg 15 gr/kg 10 gr/kg

3 4

Magnesium Karbonat Magnesium Oksida dan Magnesium Silikat

5) Bahan Pengikat Logam Logam terdapat dalam bahan alami dalam bentuk senyawa kompleks misalnya Mg dalam klorofil, Fe sebagai feritin, rufin, porfirin, serta hemoglobin; Co sebagai vitamin B12; Cu, Zn dan Mn dalam berbagai enzim. Ion-ion logam ini dapat terlepas dari ikatan kompleknya karena proses hidrolisis maupun terdegradasi. Ion logam yang bebas mudah bereaksi dan mengakibatkan perubahan warna, ketengikan, kekeruhan dan perubahan rasa. Sekuestran akan mengikat ion logam sehingga menjaga kestabilan bahan. Sekuestran yang paling sering digunakan dalam bahan makanan adalah asam sitrat dan turunannya, fosfat dan garamnya serta etilendiaminatetraasetat (EDTA). Penambahan sekuestran pada sayuran dapat melepaskan ion kalsium dari pektin dinding sel sehingga menyebabkan sayuran menjadi lunak. 6) Pemutih dan Pematang Tepung Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Pangan, Pemutih dan pematang tepung adalah bahan tambahan makanan yang dapat mempercepat proses pemutihan dan atau pematang tepung sehingga dapat memperbaiki mutu pemanggangan. Bahan sekuestran seperti asam Etilen Diamin Tetra Asetat (EDTA), bisa menimbulkan gangguan pada absorpsi mineral-mineral esensial seperti tembaga, besi, dan seng. Bahan tambahan makanan yang digunakan untuk memperbaiki tekstur, yaitu karboksimetil selulosa, epikklorohidrin, natrium dan kalsium karagenan, polieksietilen stearat, saponin, dan natrium alginat. Penggunaan karboksimetil selulosa dapat menyebabkan gangguan pada usus, dan bersifat karsinogenik. Saponin mengakibatkan efek pada masa kehamilan, dan gangguan darah. Karagen bisa memicu luka pada hati, efek pada sistem imun, karsinogenik, dan menyebabkan bisul pada perut. Penggunaan Epikklorohidrin secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan ginjal, karsinogenik, dan bahkan efek perubahan pada kromosom. Polieksietilen stearat dapat menyebabkan efek pada usus lambung dan urin, seperti batu pada tumor, dan kandung kemih. Sedangkan penggunaan natrium alginat dapat menyebabkan reaksi alergi dan penyerapan pada mineral esensial.

Bahan-bahan yang termasuk bahan pemutih dan pematang tepung di antaranya:Asam Askorbat,Aseton Peroksida,Azodikarbon Amida, Kalsium stearoil, Natrium Stearil Fumarat ,Natrium Stearoil. LSisteina (Hidroklorida) Beberapa bahan tambahan makanan seperti pembentuk cita rasa seperti koumarin, safrol, minyak kalamus, dan sinamil antranilat, semuanya dilarang. Masing-masing mempunyai daya pengoksidasi yang tinggi, sehingga tidak bisa digunakan sebagai BTM mamin berlemak, karena akan memicu ketengikan. Bahan pemutih dan pematang yang diizinkan adalah asam askorbat 7) Penguat Rasa dan Aroma Aroma buah-buahan disebabkan oleh berbagai ester yang bersifat volatil. Prosestimbulnya aroma ini pada bahan yang berbeda tidak sama. Pada buah-buahan, produksisenyawa aroma ini meningkat ketika mendekati masa klimaterik.Usaha-usaha mengekstraksi senyawa aroma dari bahan-bahan senyawa aroma daribahan-bahan pangan meningkat sejalan dengan usaha untuk mengidentifikasi senyawaaroma tersebut. Hal ini akhirnya menyebabkan timbulnya usaha untuk mengekstraksisenyawa aroma untuk tujuan komersial. Keuntungan senyawa aroma hasil ekstraksi iniadalah dapat digunakan untuk menambah aroma dari bahan lain. a) MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) Rumus Struktur dan Molekul Rumus strukturRumus molekul : C12H22O11.2H2O Penggunaan:MSG memberikan rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan,walaupun masakan itu sebernarnya tidak membrikan rasa gurih yang berarti. Dampak Pengaruh penggunaan penyedap rasa yang berlebihan pada dasarnya menyebabkan gangguan leper dan kelainan darah Jika digunakan secara berlebihan, MSG mempunyai efek negatif terhadap tubuh. 12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung,gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Beberapa orang memiliki alergi bila mengkonsumsi berlebihan yaitu gejala seperti pening, mati rasa yangmenjalar dari rahang sampai belakang leher, sesak nafas dan keringat dingin.Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker sertadiabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan. MSG dapatmenyebabkan timbulnya berbagai masalah kesehatan seperti kegemukan,kerusakan otak, kerusakan sistem syaraf, depresi, sampai kanker.Menyebabkan hipertensi, menyebabkan lemah jantung, penyakit jantung koroner dan gangguan Ginjal b) ASAM ASETAT Rumus molekul: CH3COOH Pembuatan Asam asetat diproduksi secara sintesis maupun secara alami melalui fermentasi bakteri. Sekarang hanya 10% dari produksi asam asetat dihasilkan melalui jalur alami, namun kebanyakan hukum yang mengatur bahwa asetat yang terdapat dalam cuka haruslah berasal dari biologis. Dari asam asetat yang diproduksi oleh industri kimia, 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Sisanya dihasilkan melalui metode-metode alternatif. Penggunaan Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil asetat (vynil acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil. c) ASAM BUTIRAT

Rumus molekul: CH3(CH2)2CO2H Asam butanoat (Asam butirat) Pembuatan Pembuatannya dengan mengocok dan mengguncangkan krim susu, hingga tercapai keadaan semipadat. Margarin umumnya dibuat dari minyak nabati.Kedua jenis bahan pangan ini merupakan emulsi dengan tipe yang sama, yaitufase air yang berada dalam fase minyak (water in oil). Air dan minyakmerupakan cairan yang tidak saling berbaur karena memiliki berat jenis yangberbeda. Untuk menjaga agar butiran minyak tetap tersuspensi di dalam air,pada mentega dan margarin diperlukan suatu zat pengemulsi (emulsifier).Bahan yang dapat berperan sebagai pengemulsi antara lain kuning telur, kasein,albumin, atau lesitin. Daya kerja emulsifier didukung oleh bentuk molekulnyayang dapat terikat pada minyak maupun air. Pada pembuatan mentega danmargarin, penambahan emulsifier berfungsi untuk (1) mengurangi daya percikproduk apabila digunakan untuk menggoreng karena air yang ada di dalamproduk diikat oleh lemak, (2) memperpanjang daya simpan, sebab produkdinyatakan rusak apabila terjadi pemisahan komponen lemak dan air, (3)memperkeras tekstur agar tidak meleleh pada suhu kamar, dan (4)mempertinggi titik didih untuk memenuhi tujuan penggorengan. Penggunaan Asam butirat berguna untuk melawan infeksi khamir (mikroorganisme yang melakukan fragmentasi buah menjadi wine) dengan asam glukonoat. Dampak Butirat menunjukan kemampuan untuk menghambat pertumbuhan kanker kolorektal. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa butirat dapat menghambat pertumbuhan sel-sel kanker kolorektal dengan cara enghambat proliferasi sel, serta meningkatkan kemampuan diferensiasi dan apoptosis sel. Kadar kolesterol tinggi tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan. Bahkan sebaliknya, kolesterol memegang peran penting dalam fungsi organ tubuh. Kolesterol berguna untuk menyusun empedu darah, jaringan otak, serat saraf, hati, ginjal, dan kelenjar adrenalin. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon steroid, yaitu progestron, estrogen,estosteron, dan kortisol. d) ASAM SITRAT Rumus molekul: CH2(COOH)COH(COOH)CH2(COOH) atau C6H8O7 Pembuatan Dalam proses produksi asam sitrat yang sampai saat ini lazim digunakan,biakan kapang Aspergillus niger diberi sukrosa agar membentuk asam sitrat.Setelah kapang disaring dari larutan yang dihasilkan, asam sitrat diisolasi dengan cara mengendapkannya dengan kalsium hidroksida membentuk garamkalsium sitrat. Asam sitrat di-regenerasi-kan dari kalsium sitrat dengan penambahan asam sulfat. Cara lain pengisolasian asam sitrat dari hasilfermentasi adalah dengan ekstraksi menggunakan larutan hidrokarbon senyawabasa organik trilaurilamina yang diikuti dengan re-ekstraksi dari larutan organic tersebut dengan air. Penggunaan Penggunaan utama asam sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita rasa danpengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan. Kode asam sitratsebagai zat aditif makanan (E number ) adalah E330. Garam sitrat denganberbagai jenis logam digunakan untuk menyediakan logam tersebut (sebagaibentuk biologis) dalam banyak suplemen makanan. Sifat sitrat sebagai larutanpenyangga digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih dalamrumah tangga dan obat-obatan.. Dampak Asam sitrat dikategorikan aman digunakan pada makanan oleh semua badan pengawasan makanan nasional dan internasional utama. Senyawa ini secara alami terdapat pada semua jenis makhluk hidup, dan kelebihan asam sitrat dengan mudah dimetabolisme dan dihilangkan dari tubuh. Paparan terhadap asam sitrat kering ataupun larutan asam sitrat pekat dapat menyebabkan iritasikulit dan mata. Pengenaan alat protektif (seperti sarung tangan atau kaca mata pelindung) perlu dilakukan saat menangani bahan-bahan tersebut.

e) KECAP Pembuatan Secara umum, kecap dapat dibuat atau diproduksi dalam usaha skala kecil ataumenengah bahkan rumah tangga. Namun demikian masing masing industrikecap memiliki "bumbu rahasia" atau resep khusus sehingga rasa kecap yangdihasilkannya memiliki nilai lebih ("lebih enak") dibandingkan dengan yanglain. Mula-mula kedelai difermentasi oleh kapang Aspergillus sp. dan Rhizopussp. menjadi semacam tempe kedelai. Kemudian "tempe" ini dikeringkan dandirendam di dalam larutan garam. Penggunaan Kecap biasanya digunakan penyedap rasa atau lebih tepatnya pemantap rasa.Kecap biasanya ditambahkan dalam berbagai masakan sesuai selera. Kecapdapat ditambahkan dalam nasi putih, bakso, mie, semur, dan lain sebagainya. Dampak Isoflavon merupakan senyawa organik dalam kedelai yang berperan sebagai fitoestrogen (komponen kimia tanaman yang memiliki struktur kimia mirip hormon estrogen dan bekerja meniru estrogen di dalam tubuh). Karenakemampuannya sebagai fitoestrogen, isoflavon sering dimanfaatkan sebagai suplemen bagi wanita menopause yang mengalami penurunan kadar hormonestrogen, terutama untuk mengatasi gejala menopause seperti hot flashes(rasapanas dan keringat yang berlebihan) dan mencegah osteoporosis. Meskipundemikian, konsumsi isoflavon yang berlebihan juga dapat memberi dampakyang kurang baik bagi kesehatan.Sebagian penelitian mengatakan bahwaisoflavon dapat mencegah kanker, namun ada yang mengatakan sebaliknya.Banyak penelitian yang menyatakan bahwa isoflavon dan antioksidan kedelaimembantu melawan kanker dengan cara membatasi pertumbuhan sel kankerdan menghambat radikal bebas yang dapat mempengaruhi perkembangankanker. 8). Pewarna Makanan Warna merupakan salah satu sifat penting makanan yang dapat menambah selera makan. Beberapa alasan penambahan bahan pewarna dalam makanan adalah: Mengurangi atau mencegah hilangnya warna makanan yang disebakan oleh adanya paparan sinar matahari, suhu yang ekstrem, kelembaban, dan kondisi penyimpanan. Memperbaiki perubahan warna bahan makanan yang terjadi secara alami. Memperkuat warna yang secara alami sudah ada. Memperkuat identitas makanan dengan warna. Melindungi flavor dan vitamin yang dapat dipengaruhi oleh sinar matahari selama penyimpanan. Memberikan penampilan makanan sesuai keinginan konsumen. Bahan pewarna yang diizinkan digunakan dalam makanan diklasifikasikan menjadi: Bahan pewarna buatan Bahan pewarna buatan perlu disertifikasi oleh pihak yang berwenang sebelum dapat digunakan. Bahan pewarna buatan digunakan secara luas karena kekuatan zat warnanya lebih kuat dibandingkan bahan pewarna alami. Karena itu, bahan pewarna buatan dapat digunakan dalam konsentrasi yang kecil. Lagi pula, bahan pewarna buatan lebih stabil, penampilan warna lebih seragam, dan umumnya tidak mempengaruhi rasa makanan. Bahan pewarna alami Bahan pewarna alami meliputi pigmen yang berasal dari bahan alami seperti tumbuhan, mineral dan hewan, serta bahan yang diproses oleh manusia yang bahan bakunya berasal dari bahan alami. Karotenoid merupakan kelompok pigmen berwarna kuning, oranye, dan merah oranye yang terlarut dalam lipida (minyak). Bahan tersebut berasal dari hewan maupun tanaman. Misalnya fukoxanthin yang terdapat pada lumut; lutein, violaxanthin, dan neoxanthin pada dedaunan; likopen pada tomat; kapsanthin pada cabe merah; biksin pada annatto; caroten pada wortel; dan astazanthin pada lobster.

Anthosianin dan anthoxanthin tergolong pigmen yang disebut flavonoid. Pigmen tersebut pada umumnya larut dalam air. Anthosianin tersusun oleh sebuah aglikon berupa anthosianidin yang teresterifikasi dengan molekul gula, bisa satu atau lebih. Gula yang sering ditemukan adalah glukosa, ramnosa, galaktosa, xilosa dan arabinosa. Anthosianin yang mengandung satu molekul gula disebut monosida, dua gula disebut diosida dan tiga gula disebut triosida. Sedikitnya ada enam jenis anthosianidin yang sering terdapat di alam dan penting manfaatnya untuk makanan, yaitu pelargonidin, sianidin, delfinidin, peonidin, petunidin dan malvinidin. Jenis BTP pewarna yang diperbolehkan oleh Badan POM adalah sebagai berikut : Pewarna Alami Anato,Beta-Apo-8-karotenal,EtilBeta-Apo8karotenoat,Kantasantin,Karamel amonia Sulfit proses, Karamel, Karmin, Beta-karoten, Klorofil, Klorofil tembaga komplex,Kurkumin.,Riboflafin,Titanium dioksida Pewarna Sintetik Biru Berlian,Coklat HT,Eritrosin,Hijau FCF,Hijau S ,Indigotin, Karmosin, Kuning FCF,Kuning Kuinolin 9). Antioksidan Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak dan minyak. Meskipun demikian antioksidan dapat pula digunakan untuk melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya. Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat, dan dapat juga disebut bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikkan efektivitas antioksidan utamanya.Untuk dapat digunakan sebagai antioksidan, suatu senyawa harus mempunyai sifat-sifat : tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahap pada kondisi pengolahan pangan umumnya Antioksidan merupakan BTP yang digunakan untuk mencegah terjadinya ketengikan pada pangan akibat terjadinya proses oksidasi lemak atau minyak yang terdapat dalam bahan pangan.

Bahan Antioksidan yang Diijinkan Dalam Pangan No Nama Antioksidan Penggunaan Dalam Pangan Ukuran Maksimum yang diijinkan 1 Askorbat Kaldu 1 gr/kg Daging Olahan, Jam, Jelly 500 mg/kg Ikan Beku 400 mg/kg 2 Butil Hidroksianisol Lemak dan minyak makan serta 200 mg/kg (BHA) mentega Margarin 100 mg/kg 3 Butil Hidroksitoluen Ikan Beku 1 gr Minyak, Mentega, Margarine 200 mg/kg 4 Propil Galat Lemak, minyak makan, margarine, 100 mg/kg dan mentega 5 Tokoferol Pangan Bayi 300/kg
1) .Pengeras Makanan

1. 2. 3. 4. 5.

BTP pengeras atau firming agent dapat diaplikasikan pada proses pembuatan acar ketimun, sayuran, buah dalam kaleng, daging dan ikan dalam kaleng serta jem dan jeli sehingga diharapkan tekstur makanan tersebut masih tetap terjaga lebih renyah (crispy) dan tidak menjadi lunak selama proses.. . Penambahan kalsium banyak diaplikasikan pada buah dan sayuran sebelum dan sesudah panen untuk menunda proses pematangan. Disamping itu, proses pengerasan dan ketahanan terhadap proses pelayuan dihasilkan dari kestabilan sistem membran dan pembetukan kalsium pektat (Ca-Pectates) yang akan menambah pengerasan pada dinding sel dan penguatan pada kulit buah dan sayuran. Salah satu bahan pengeras yang diijinkan yaitu kalsium klorida dapat ditambahkan dengan kombinasi proses pemanasan untuk buah dan sayuran dalam kaleng. Pada proses panas, molekul COO - akan terbentuk dari pektin yang terkandung pada buah dan sayuran selanjutnya dengan Ca2+ akan membentuk lapisan garam saling bersilangan. Lapisan garam ini menyebabkan dinding sel buah akan terlindungi dari enzim-enzim yang menyebabkan proses pelayuan dan matang. Bahan-bahan tambahan makanan diijinkan sebagai bahan pengeras diantaranya : Aluminium Amonium Sulfat Aluminium Kalium Sulfat Aluminium Natrium Sulfat Aluminium Sulfat (Anhidrat) Kalsium Glukonat

BAB III PENUTUP Kesimpulan Zat aditif atau Bahan tambahan makanan adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.Pada awalnya zatzat aditif tersebut berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan yang selanjutnya disebut zat aditif alami. Umumnya zat aditif alami tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia. Penggunaan BTP ke dalam produk pangan ditujukan untuk menghasilkan produk yang mempunyai rasa yang enak, berwarna menarik, lebih awet serta mempunyai berbagai macam rasa sesuai perkembangan jaman dan permintaan konsumen. Kemajuan ilmu teknologi pangan dan inovasi oleh produsen karena adanya permintaan dari konsumen di dunia dewasa ini, juga menyebabkan meningkatnya penggunaan BTP pada produk-produk ini.

http://ekarielanalis.blogspot.com/2012/07/bahan-tambahan-makananamamia_09.html

OBAT BERBAHAYA
PHENYLPROPANOLAMINE obat influenza (decongestant) mulai 1 maret 2009 ditarik Badan Pengawasan Obat & Makanan USA (FDA) karena terbukti menyebabkan PENDARAHAN di OTAK Obat2 di Indonesia yang mengandung Phenyl propanolamine antara lain: Decolgen Decolsin Sinutab Allerin Bodrexin Sanaflu Tusalgin Contac 500 Cosyr Flucyl Fludane Flugesic Siladex dll Inza Komix Mixaflu Mixagrip Nalgestan Stopcold Neozep Forte Nodrof Paratusin Procold Rhinotussal Triaminic drops

Bagaimana pemerintah kita? berani tidak menindak? Seperti kasus makanan impor makanan dan minuman yang mengandung bahan melamin dan bahan beracun serta bahan berbahaya lainnya, yang bisa mengakibatkan gagal ginjal, penumpukan racun dalam tubuh dsb Ternyata impor masih terus berlanjut. Pemerintah tidak berani menindak mereka yang impor makanan & minuman yang mengandung bahan beracun dan berbahaya itu. Yang dilakukan adalah sesekali merazia toko yang menjual makanan & minuman impor itu. Apa memang bangsa ini mau dibuat sakit2an, asal para penguasa mendapat uang banyak

BAHAN BERBAHAYA YANG DILARANG UNTUK PANGAN


Bahan berbahaya adalah bahan kimia baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi

(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 472/ Menkes/ Per/ V/ 1996 tentang Pengamanan Bahan Berbahaya BagiKesehatan). Sesungguhnya bahan kimia bersifat esensial dalam peningkatan kesejahteraan manusia, dan penggunaannya sedemikian luas di berbagai sektor antara lain industri, pertanian, pertambangan dan lain sebagainya. Singkatnya, bahan kimia dengan adanya aneka produk yang berasal dari padanya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun hal yang perlu kita waspadai adalah adanya kecenderungan penggunaan yang salah (misuse) sejumlah bahan (kimia) berbahaya pada pangan. Bahan kimia berbahaya yang sering disalah gunakan pada pangan antara lain boraks, formalin, rhodamin B, dan kuning metanil. Keempat bahan kimia tersebut dilarang digunakan untuk pangan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di bawah ini diketengahkan sejumlah tujuan peruntukan dari senyawa-senyawa tersebut. - Boraks digunakan untuk mematri logam; pembuatan gelas dan enamel; anti jamur kayu; pembasmi kecoa; antiseptik; obat untuk kulit dalam bentuk salep; campuran pembersih. - Formalin digunakan untuk pembunuh kuman sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian; pembasmi lalat dan berbagai serangga lain; bahan untuk pembuatan sutra buatan, zat pewarna, pembuatan gelas dan bahan peledak; dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas; bahan untuk pengawet mayat; bahan pembuatan pupuk lepas lambat (slow- release fertilizer) dalam bentuk urea formaldehid; bahan untuk pembuatan parfum; bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku; pencegah korosi untuk sumur minyak; bahan untuk insulasi busa; bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood); dalam konsentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai produk konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan pembersih karpet. - Rhodamin B digunakan sebagai zat warna untuk kertas, tekstil (sutra, wool, kapas); sabun, kayu dan kulit; sebagai reagensia di laboratorium untuk pengujian antimon, kobal, niobium, emas, mangan, air raksa, tantalum, talium dan tungsten; untuk pewarna biologik.

- Kuning metanil selain digunakan sebagai pewarna tekstil dan cat; juga digunakan sebagai indikator reaksi netralisasi (asam-basa). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, bahan yang dilarang digunakan pada pangan meliputi boraks/ asam borat, asam salisilat dan garamnya, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi, nitrofuranazon, serta formalin. Disamping itu, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 239/ Menkes/ Per/ V/ 1985 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan Sebagai BahanBerbahaya, memuat sebanyak 30 zat warna yang dilarang digunakan untuk pangan termasuk rhodamin B dan kuning metanil. Pelarangan tersebut tentunya berkaitan dengan dampaknya yang merugikan kesehatan manusia. Potensi risiko yang dapat ditimbulkan dari masing-masing keempat bahan berbahaya tersebut adalah sebagai berikut: - Boraks beracun terhadap semua sel. Bila tertelan senyawa ini dapat menyebabkan efek negatif pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Ginjal merupakan organ yang paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan organ lain. Dosis fatal untuk dewasa berkisar antara 15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g. Bila tertelan, dapat menimbulkan gejala-gejala yang tertunda meliputi badan terasa tidak nyaman (malaise); mual, nyeri hebat pada perut bagian atas (epigastrik); pendarahan gastroenteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan rasa sakit kepala. - Formalin (larutan formaldehid), paparan formaldehid melalui saluran pencernaan dapat mengakibatkan luka korosif terhadap selaput lendir saluran pencernaan disertai mual, muntah, rasa perih yang hebat dan perforasi lambung. Efek sistemik dapat berupa depresi susunan syaraf pusat, koma, kejang, albuminaria, terdapatnya sel darah merah di urine (hematuria) dan asidosis metabolik. Dosis fatal formalin melalui saluran pencernaan pernah dilaporkan sebesar 30 ml. Formaldehid dapat mematikan sisi aktif dari protein- protein vital dalam tubuh, maka molekulmolekul itu akan kehilangan fungsi dalam metabolisme. Akibatnya fungsi sel akan terhenti. Pada dasarnya, formaldehid dalam jaringan tubuh sebagian besar akan dimetabolisir kurang dari 2 menit oleh enzim formaldehid dehidrogenase menjadi asam format yang kemudian diekskresikan tubuh melalui

urin dan sebagian dirubah menjadi CO2 yang dibuang melalui nafas. Fraksi formaldehid yang tidak mengalami metabolisme akan terikat secara stabil dengan makromolekul seluler protein DNA yang dapat berupa ikatan silang(cross-linked). Ikatan silang formaldehid dengan DNA dan protein ini diduga bertanggungjawab atas terjadinya kekacauan informasi genetik dan konsekuensi lebih lanjut seperti terjadi mutasi genetik dan sel kanker. Bila gen-gen rusak itu diwariskan, maka akan terlahir generasi dengan cacat gen. Dalam pada itu, International Agency Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikannya sebagai karsinogenik golongan 1 (cukup bukti sebagai karsinogen pada manusia); khususnya pada saluran pernafasan. - Rhodamin B bisa menumpuk di lemak sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah. Rhodamin B diserap lebih banyak pada saluran pencernaan dan menunjukkan ikatan protein yang kuat. Kerusakan pada hati tikus terjadi akibat makanan yang mengandung rhodamin B dalam konsentrasi tinggi. Paparan rhodamin B dalam waktu yanglama dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati. dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah. Pada jangka panjang dapat menyebabkan kanker kandung kemih.Meskipun bahan kimia tersebut telah dilarang penggunaannya untuk pangan, namun potensi penggunaan yang salah (misuse) hingga saat ini bukan tidak mungkin. Terdapat berbagai faktor yang mendorong banyak pihak untuk melakukan praktek penggunaan yang salah bahan kimia terlarang untuk pangan. Pertama, bahan kimia tersebut mudah diperoleh di pasaran. Kedua, harganya relatif murah. Ketiga, pangan yang mengandung bahan tersebut menampakkan tampilan fisik yang memikat. Keempat, tidak menimbulkan efek negatif seketika. Kelima, informasi bahan berbahaya tersebut relatif terbatas, dan pola penggunaannya telah dipraktekkan secara turun-temurun. Oleh karena itulah kita sebagai konsumen hendaknya perla berhati-hati dalam memilih produk pangan antara lain dengan mengenal ciri-ciri produk pangan yang mengandung bahan terlarang. Misalnya, tahu yang mengandung formalin mempunyai bentuk fisik yang terlampau keras, kenyal namun tidak padat, bau agak menyengat (bau formalin); tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25o C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10o C).

Tentu upaya lain dapat ditempuh dalam hal sulit untuk menentukan ciri-ciri fisik produk pangan yang mengandung bahan kimia yang terlarang. Misalnya, membeli dari toko/ pasar swalayan yang bereputasi baik atau mengecek apakah produk dimaksud telah terdaftar . Disamping itu, masyarakat dapat mencari informasi tentang bahan berbahaya dari berbagai sumber yang tersedia antara lain: melalui media elektronik (TV, radio, internet); media cetak ( koran, leaflet, booklet, poster) atau komunikasi langsung melalui penyuluhan, seminar dan lain sebagainya. Dengan demikian, secara perlahan diharapkan terjadi perubahan perilaku dari mereka yang tidak tahu menjadi tahu dan dapat menggugah kesadaran mereka sehingga mau dan mampu untuk melakukan pengamanan paling tidak untuk lingkungan keluarganya sendiri. Pada gilirannya akan terbentuk suatu budaya yang menonjolkan perilaku kehidupan yang aman (safety culture) di tengah masyarakat. Pemerintah dalam hal ini Badan POM bersama jajarannya yaitu Balai Besar POM/ Balai POM secara rutin melakukan pengawasan dan pengamanan termasuk melakukan sampling terhadap sejumlah sampel yang diduga mengandung bahan berbahaya antara lain: tahu, mie basah, kerupuk, ikan asin dan sebagainya untuk dilakukan uji laboratorium terhadap produk- produk tersebut, serta melakukan tindakan pengamanan yang sesuai. Dalam rangka meminimalisir praktek penggunaan bahan kimia yang salah dalam pangan maka Badan Pengawas Obat dan Makanan tidak dapat melakukannya sendiri. Terdapat sejumlah aspek yang bukan merupakan kewenangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Salah satu diantaranya adalah pengaturan di bidang tata niaga dan distribusi bahan berbahaya yang merupakan kompetensi dari Departemen Perdagangan. Baru-baru ini Departemen Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 04/M-Dag /Per/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya, yang diamandemen dengan Peraturan Menteri Perdagangan No.8/MDAG/PER/6/2006. Peraturan ini ditetapkan dengan maksud agar kasus penggunaan yang salah (misuse) bahan berbahaya pada pangan dapat dicegah atau paling tidak dikurangi dengan cara mengendalikan pasokan bahan berbahaya tersebut melalui mekanisme distribusi yang jelas. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa yang boleh memproduksi bahan berbahaya di dalam negeri adalah perusahaan yang sudah memiliki izin sebagai Produsen Bahan Berbahaya (PB2) dan PB2 hanya boleh

menyalurkan bahan berbahaya kepada Pengguna Akhir Bahan Berbahaya (PAB2) atau melalui Distributor Terdaftar Bahan Berbahaya (DTB2). Selanjutnya, bahan berbahaya boleh diimpor oleh Importir Terdaftar Bahan Berbahaya (ITB2) yang berhak mendistribusikan secara langsung kepada PAB2. Importasi bahan berbahaya juga boleh dilakukan oleh Importir Produsen Bahan Berbahaya (IPB2) untuk kepentingan produksinya sendiri. DTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2 dan Pengecer terdaftar Bahan Berbahaya (PTB2) dan PTB2 hanya boleh menyalurkan bahan berbahaya kepada PAB2. Surat izin Usaha Perdagangan Bahan Berbahaya untuk DTB2 dan PTB2 dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan dan gubernur di propinsi PTB2 tersebut berada. Pembinaan dan pengawasan terhadap IPB2, ITB2, DTB2, PTB2 dilakukan oleh Departemen Perdagangan berkoordinasi dengan departemen/ instansi yang terkait. Pada peraturan menteri tersebut, diatur 54 jenis (terlampir) bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya dalam pangan. DAFTAR JENIS BAHAN BERBAHAYA UNTUK KEPERLUAN LAIN DILUAR PANGAN LABORATORIUM / PENELITIAN No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Bahan Alkannin Asam Borat Nomer Cas 23444-65-7 10043-35-3 Kemasan Terkecil 1 kg 1 kg 1l 1 kg 25 g 25 g 25 ml 25 g 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 2,5g 10 g 10 g 10 g 25 g

Asam Monokloroasetat79 11 8 Asam Nordihidroguaiaretat500-38-9 Asam Salisilat Auramin Amaran 69-72-7 2465-27-2 915-67-3

Besi (III) oksida1309-37-1 Bismut Oksiklorida7787-59-9

10. Boraks 11. Coklat FB

1303-96-4 12236-46-3 1 kg

5 kg 1 kg 25g 1 kg 10 l 1 kg

25 g 25 g

12. Dietil Pirokarbonat1609-47-8 13. Dulsin150-69-6 14. 15. 16. Formaldehid larutan50-00-0 Hijau Amasid G 5141-20-8 Indantren Biru R 81-77-6

5g

25 ml 25 g

1 kg 10 g 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 1 kg 10 g 10 g 25 g 10 g 10 g 25 g 50 g 5g 5g 5g 5g 50 g 10 g 5g

17. Kalkozin Magenta N569-61-9 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Kalium Borat Kalium Klorat Kobalt Asetat Kobalt Klorid Kobalt Sulfat Krisoidin Krisoin S Kumarin 7758-01-2 3811-04-9 71-48-7 7646-79-9 5610124-43-3 532-82-1 547-57-9 91-64 5

Kuning Anilin 2706-28-7 Kuning Mentega 60-11-7 Kuning Metanil 587-98-4 Kuning AB Kuning OB 85-84-7 131-79-3

31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52.

Magenta I 632-99-5 1 kg 25 g Magenta II 26261-57-4 1 kg 25 g Magenta III 3248-91-7 1 kg 25 g Merah Sitrus 26358-53-8 1 kg 25 g Minyak Oranye SS 562646-17-5 1 kg 25 g Minyak Oranye XO 3118-97-6 1 kg 25 g Nitrobenzen 98-95-3 1l 25 ml Nitrofurazon 59-87-0 1kg 5g Natrium Salisilat 54-21-7 1 kg 5g Oranye G 1936-15-8 1 kg 25 g Oranye GGN 523-44-4 1 kg 25 g Orcein 1400-62-0 1 kg 5g P 400 553 79 7 1 kg 5g Paraformaldehid 30525-89-4 1 kg/ 1 fl (100 tab) 5 g Ponceau 3R 3564-09-08 1 kg 5 g Ponceau 6R 5850-44-2 1 kg 5 g Ponceau SX 4548-53-2 1 kg 10 g Rhodamin B 5681-88-9 1 kg 1 g Sinamil Antranilat 87-29-6 Skarlet GN 3257-28-1 Sudan 1 842-07-9 Tiourea 62 56 6 110-88-3 1694-09-3 1 kg 10 g 1 kg 10 g 1 kg 25 g 1 kg 25 g 1 kg 25 g 1 kg 10 g

53. Trioksan 54. Violet 6B

Sumber : http://www.indonesia.go.id/id REPUBLIK INDONESIA

http://allkimia.wordpress.com/news/

KAMIS, 30 MEI 2013

Kecanduan Cola Sama Seperti Kecanduan Kokain?

Kecanduan soda sama dengan kecanduan kokain. (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAlife -Sebuah penelitian baru menunjukkan, konsumsi minuman soda dalam waktu berkepanjangan, dapat mempengaruhi kesehatan gigi. Gangguan mulut ini sama dengan efek samping dari penyalahgunaan metamfetamin atau kokain, seperti yang ditulis Business insider. Asam dalam minuman tersebut secara perlahan akan menggerogoti enamel gigi. Permukaan gigi yang tadinya keras dan bewarna putih bak mutiara, akan berubah menjadi rapuh, retak, berlubang dan menguning.

Selain kesehatan gigi, minuman ini juga berdampak pada obesitas, depresi dan diabetes. Berikut ini adalah 4 fakta menakutkan seputar konsumsi minuman soda.

1. Meningkatkan Serangan Jantung Para peneliti dari Havard School of Public Health, menemukan, konsumsi minuman manis buatan, seperti yang ada dalam soda, meningkatkan risiko serangan jantung pada pria.

2. Bisa Jadi Karsinogen Sebuah studi independen pada tahun 2012 oleh Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum, menemukan senyawa 4-methylimidazole (4-MI) pada minuman Coke, Coke Diet, Pepsi dan Pepsi diet. Senyawa tersebut digunakan untuk pewarna cokelat minuman. Yang menjadi masalah adalah kadar dari senyawa tersebut melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan pihak keamanan pangan.

3. Membangun Lemak Dalam American Journal of Clinical Nutrition menuliskan, orang yang minum soda memiliki total lemak jauh lebih tinggi dibandingkan orang yang minum susu. Padahal susu dan soda memiliki total kalori yang sama.

4. Memperpendek Umur Tingginya tingkat fosfor dalam cola berkontrubusi terhadap umur seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan pada tikus percobaan, kandungan fosfor yang tinggi dalam darah memperpendek umur binatang tersebut.

Sumber : http://life.viva.co.id/news/read/417114-kecanduan-cola-sama-seperti-kecanduan-kokain-

COCAINE, MAKES YOU HAPPY, MAKES YOU COLD


Penamaan Sistematis (IUPAC) methyl (1R,2R,3S,5S)-3- (benzoyloxy)-8-methyl-8-azabicyclo[3.2.1] octane-2carboxylate Data Kimiawi Rumus Kimia C17H21NO4 Massa Molekul Relatif 303.353 g/mol Data Fisik Titik Leleh 195C Kelarutan 1800 mg/mL pada suhu 20C Data Farmasi Penggunaan Efektif Mulut : 33% Hidung : 19% (11%26%) Metabolisme Hepatis CYP3A4 Lama Efek Berpengaruh 1 jam Pengeluaran Ginjal (dalam bentuk benzoylecgonine dan ecgonine methyl ester) Kokain (benzoylmethyl ecgonine) adalah zat crystalline tropane alkaloid yang diperoleh dari daun tanaman Coca (Erythroxylon coca) yang tumbuh di Amerika Selatan. Kokain biasa dijual dalam bentuk serbuk berwarna putih. Di negara negara Barat, istilah untuk kokain antara lain Cracks, PCP, Snow White, Gummies, dan lain lain. Di Indonesia, kokain dikenal dengan istilah Putaw. Kokain biasa digunakan dengan dihisap melalui mulut atau hidung serta disuntikkan. Kokain adalah stimultan sistim saraf pusat. Kokain merupakan salah satu zat adiktif atau dapat menyebabkan ketagihan. Menjual dan menggunakan kokain secara ilegal melanggar hukum, sedangkan penjualan dan penggunaan kokain untuk kepentingan medis (misalnya operasi THT) tidak dilarang dalam jumlah tertentu. Kokain berasal dari daun tanaman Coca (Erythroxylon coca) yang hanya ditemukan di wilayah Amerika Selatan. Oleh karena itu, tempat pemberdayaan kokain cenderung berada di wilayah Amerika Selatan, tetapi kokain bisa saja dikembangkan dan dibudidayakan di luar wilayah Amerika Selatan. Namun, kokain adalah tanaman yang rapuh sehingga sangat jarang orang menyelundupkan kokain ke luar Amerika Selatan dalam bentuk tanaman, para mafia menyelundupkan kokain dalam bentuk serbuk (siap dikonsumsi). Dalam dunia medis, kokain digunakan sebagai obat bius atau penghilang rasa sakit pada operasi THT (telinga, hidung, dan tenggorokan). Namun, penggunaan kokain untuk hal ini jarang digunakan akibat efek samping jangka panjang yang akan ditimbulkan. Dokter cenderung memilih alternatif lain berupa obat bius yang lebih aman, meskipun harganya lebih mahal.

Suku Aztec di Amerika Selatan biasa mengunyah daun Coca (seperti orang Indonesia mengunyah dau sirih). Mereka percaya bahwa mengunyah daun Coca berkhasiat memutihkan dan menguatkan gigi, menambah tenaga dan stamina, serta dapat menghilangkan rasa lelah dan lapar. Tidak aneh mengingat kokain bersifat menstimulasi sistem saraf pusat. Seorang ilmuwan kimia asal Italia, Angelo Mariani, menciptakan minuman tonikum bermerek Vin Mariani (dipasarkan sekitar akhir abad ke-19) dengan menambahkan ekstrak daun Coca pada tonikum tersebut, atas dasar khasiat yang ditimbulkannya. Kandungan kokain dalam tonikum tersebut adalah sekitar 6 7,2 mg per 100 gram. Seorang pebisnis Amerika, John Styth Pemberton, membuat minuman sejenis di awal abad ke-20, dengan nama Coca Cola, namun, setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS menyatakan bahwa ekstrak daun Coca dilarang dijual secara bebas, kandungan ekstrak daun Coca pada Coca Cola dihilangkan. Secara umum, kokain digunakan melalui mulut, hidung, atau disuntikkan. Biasanya, kokain dibakar dan dihisap seperti rokok (dengan dicampur dengan rokok, cannabis, atau ganja), dihisap dengan alat penghisap (bong) dicampur dengan sabu sabu atau methamfetamin. Bila disuntikkan, kokain dicampur dengan air lalu disuntikkan ke tangan atau leher. Meskipun ekstrak daun Coca mengandung manfaat, namun ternyata ekstrak daun Coca bersifat adiktif. Dengan konsumsi yang konstan, kokain dapat mengakibatkan kelainan pada tubuh pecandunya. Sifat kokain adalah menstimulasi sistem saraf pusat, sehingga kokain bisa saja merubah pengecut menjadi berani, pendiam menjadi banyak bicara, dan pemalu menjadi lebih terbuka. Namun, penggunaan berlebihan terbukti dapat menyebabkan suatu tindak kriminal. Misalnya, di wilayah Amerika Serikat Selatan pada awal abad ke-20, kejahatan seperti pembunuhan, pengeroyokan, perampokan, dan lainnya, cenderung dilakukan oleh orang orang yang mengonsumsi kokain. Sejak saat itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS menyatakan kokain sebagai barang haram untuk diperdagangkan di seluruh wilayah AS. Efek dari kecanduan kokain secara umum adalah kerusakan fungsi organ tubuh (terutama hati, ginjal, dan otak), euforia (rasa senang yang berlebihan), psikosis, depresi, serta yang paling parah, kematian akibat overdosis. Di AS, kokain dijual sekitar $10 untuk 0,1 gram, serta sekitar $20 untuk 0,3 gram. Bandar mendapatkan kokain dari mafia dengan harga sekitar $50 per gram. Di Inggris, kokain dijual dengan harga 80 Pound per gram. Bandar bandar internasional kokain umumnya adalah mafia mafia Amerika Selatan, misalnya dari Kolombia, Peru, dan Bolivia. Mereka menggunakan mulas (istilah bahasa Spanyol untuk distributor) untuk menyeludupkan kokain ke Amerika Tengah dan Utara, Eropa, serta Asia.
http://d2n.web44.net/article/cocaine.html

Nitrobenzene (C6H5NO2) Secara umum digunakan dalam pembuatan aniline dan zat aditif pada karet sebagai anti-oksidant (mencagah oksidasi).

Sinamil antranilat sebagai pembentuk cita rasa Cinnamyl anthranilate digunakan selama hampir 50 tahun di tingkat yang sangat rendah sebagai sintetis bumbu dan agen aroma. Itu digunakan sebagai agen penyedap untuk memberikan anggur atau rasa cherry dalam minuman non-alkohol, es krim dan es, permen, makanan yang dipanggang, gelatin dan puding dan permen karet. Telah digunakan sebagai bahan wewangian di berbagai produk kosmetik termasuk sabun, deterjen, krim dan lotion dan sebagai bahan parfum di orange blossom, neroli, cologne, dan campuran lainnya (Opdyke, 1975; IARC, 1983; Program Toksikologi Nasional, 1991; Budavri, 1996).

Meskipun cinnamyl anthranilate diklasifikasikan di masa lalu sebagai Diakui Umumnya Sebagai Safe (GRAS) substansi oleh Food and Drug Administration, penggunaannya dalam makanan manusia telah dilarang di Amerika Serikat sejak tahun 1985. The Food and Agriculture Organization dan Organisasi Kesehatan Dunia telah merekomendasikan bahwa cinnamyl anthranilate tidak dapat digunakan dalam makanan (FAO / WHO, 1981; Toksikologi Nasional Program, 1991; Food and Drug Administration, 1999)