Anda di halaman 1dari 25

laporan pendahluan pada pasien eklampsia

I. KONSEP DASAR PENYAKIT A. DEFINISI Eklampsia adalah kelaianan akut pada ibu hamil, saat hamil tua,persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala preeclampsia(hipertensi, edems, proteinuri). (Wirjoatmodjo, 2000: 49). Eklampsia adalah suatu keadaan dimana didiagnosis ketika preeklampsia memburuk menjadi kejang (helen varney;2007) Eklampsi lebih sering terjadi pada primigravidarum dari pada multipara. B. ETIOLOGI Etologi dan patogenesis Preeclampsia dan Eklampsia saat ini masih belum sepenuhnya dipahami, masih banyak ditemukan kontroversi, itulah sebabnya penyakit ini sering disebut the disease of theories. Pada saat ini hipotesis utama yang dapat diterima untuk dapat menerangkan terjadinya Preeklampsia adalah : factor imunologi, genetik, penyakit pembuluh darah, dan keadaan dimana jumlah throphoblast yang berlebihan dan dapat mengakibatkan ketidakmampuan invasi throphoblast terhadap arteri spiralis pada awal trimester satu dan dua. C. PATOFISIOLOGI Kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan penimbunan cairan yang berlebihan dalam ruang interstitial. Bahwa pada eklampsia di jumpai kadar aldosteron yang rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi dari pada kehamilan normal. Aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan mengatur retensi air dan natrium. Serta pada eklampsia parmeabilitas pembuluh darah terhadap protein meningkat. Pada plasenta dan uterus terjadi penurunan aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi plasenta. Pada hipertensi pertumbuhan janin terganggu sehingga terjadi gawat janin sampai menyebabkan kematian karena kekurangan oksigenasi. Kenaikan tonus uterus dan kepekaan terhadap perangsangan sering terjadi pada eklampsia, sehingga mudah terjadi pada partus prematurus. Perubahan pada ginjal disebabkan oleh aliran darah dalam ginjal menurun, sehingga menyebabkan filtrasi glomerulus berkurang. Kelainan pada ginjal yang penting ialah dalam hubungan dengan proteinuria dan mungkin dengan retensi garam dan air. Mekanisme retensi garam dan air akibat perubahan dalam perbandingan antara tingkat filtrasi glomerulus dan tingkat penyerapan kembali oleh tubulus. Pada kehamilan normal penyerapan ini meningkat sesuai dengan kenaikan filtrasi glomerulus. Penurunan filtrasi glomerulus akibat spasmus arterioles ginjal menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun, yang menyebabkan retensi garam dan retensi air. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dari normal, sehingga menyebabkan dieresis turun pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria atau anuria. Pada retina tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada beberapa arteri jarang terlihat perdarahan atau eksudat. Pelepasan retina disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan indikasi untuk pengakhiran kehamilan. Setelah persalinan berakhir, retina melekat lagi dalam 2 hari samapai 2 bulan. Skotoma, diplopia, dan ambiliopia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia. Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau dalam retina.

Edema paru-paru merupakan sebab utama kematian penderita eklampsia. Komplikasi disebabkan oleh dekompensasio kordis kiri. Perubahan pada otak bahwa resistensi pembuluh darah dalam otak pada hipertensi dalam kehamilan lebih tinggi pada eklampsia. Sehingga aliran darah ke otak dan pemakaian oksigen pada eklampsia akan menurun. Metabolism dan elektrolit yaitu hemokonsentrasi yang menyertai eklampsia sebabnya terjadi pergeseran cairan dan ruang intravaskuler keruang interstisial. Kejadian ini, diikuti oleh kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum, dan bertambahnya edema, menyebabkan volume darah edema berkurang, viskositet darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai tubuh berkurang akibatnya hipoksia. Dengan perbaikan keadaan, hemokonsentrasi berkurang, sehingga turunnya hematokrit dapat dipakai sebagai ukuran perbaiakan keadaan penyakit dan berhasilnya pengobatan. Pada eklampsia, kejang dapat menyebabkan kadar gula darah naik untuk sementara. Asidum latikum dan asam organic lain naik, dan bicarbonas natrikus, sehingga menyebabkan cadangan alakali turun. Setelah kejang, zat organic dioksidasi sehingga natrium dilepaskan untuk dapat berekreasi dengan asam karbonik menjadi bikarbaonas natrikus. Dengan demikian, cadangan alakali dapat pulih kembali. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat. Waktu pembekuan lebih pendek dan kadang-kadang ditemukan kurang dari 1 menit pada eklmpsia. D. KLASIFIKASI Eklampsia di bagi menjadi 2 golongan : 1. Eklampsia antepartum ialah eklampsia yang terjadi sebelum persalinan (ini paling sering terjadi) kejadian 150 % sampai 60 % serangan terjadi dalam keadaan hamil 2. Eklampsia intrapartum ialah eklampsia saat persalinan. Kejadian sekitar 30 % sampai 35 % Saat sedang inpartu Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai inpartu. 3. Eklampsia postpartum ialah eklampsia setelah persalinan Kejadian jarang Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir. E. MANIFESTASI KLINIS Eklampsia terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih, yaitu: kejang-kejang atau koma. Kejang dalam eklampsia ada 4 tingkat, meliputi : 1. Tingkat awal atau aura (invasi) Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong), kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar ke kanan dan ke kiri. 2. Stadium kejang tonik Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalm, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik. 3. Stadium kejang klonik Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan

menutup, keluar ludah berbusa, dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung 1-2 menit kejang klonikberhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas seperti mendengkur. 4. Stadium koma Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita teteap dalam keadaan koma. F. KOMPLIKASI Komplikasi yang terberat adalah kematia ibu dan janin, usaha utama adalah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita preeclampsia dan eklampsia. a. Terhadap janin dan bayi. 1. Solution plasenta Karena adanya tekanan darah tinggi, maka pembuluh darah dapat mudah pecah sehingga terjadi hematom retoplasenta yang menyebabkan sebagian plasenta dapat terlepas. 2. Asfiksia mendadak, persalinan prematuritas, kematian janin dalam rahim. 3. Hemolisis Kerusakan atau penghancuran sel darah merah karena gangguan integritas membran sel darah merah yang menyebabkan pelepasan hemoglobin. Menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. b. Terhadap ibu 1. Hiprofibrinogenemia Adanya kekurangan fibrinogen yang beredar dalam darah, biasanya dibawah 100mg persen. Sehingga pemeriksaan kadar fibrinogen harus secara berkala. 2. Perdarahan otak Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita eklampsia. 3. Kelainan mata Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina yang merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri. 4. Edema paru paru 5. Nekrosis hati Nekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzimenzimnya. 6. Sindroma HELLP Merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan. 7. Kelainan ginjal Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal. 8. Kopmlikasi lain yaitu lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang - kejang pneumonia aspirasi, dan DIC. 9. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin.

G. DIAGNOSIS Eklampsia selalu didahului oleh pre eklampsia. Perawatan prenatal untuk kehamilan dengan predisposisi pre eklampsia perlu ketat dilakukan agar dapat dideteksi sedini mungkin gejala gejala eklampsia. Sering di jumpai perempuan hamil yang tampak sehat mendadak menjadi kejang kejang eklampsia karena tidak terdeteksi adanya pre eklampsia sebelumnya. Eklampsia harus dibedakan dari epilepsy ; dalam anamnesis diketahui adanya serangan sebelum hamil atau pada hamil muda dengan tanda pre eklampsia tidak ada, kejang akibat obat anastesi, koma karena sebab lain. Pemeriksaan laboratorium meliputi adanya protein dalam air seni, fungsi organ hepar, ginjal dan jantung, fungsi hematologi atau hemostasis Konsultasi dengan displin lain kalau dipandang perlu Kardiologi Optalmologi Anestesiologi Neonatologi H. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI 1. Penanganan eklampsia Tujuan utama penanganan eklampsia adalah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengizinkan. Penanganan yang dilakukan : Beri obat anti konvulsan Perlengkapan untuk penanganan kejang Lindungi pasien dari kemungkinan trauma aspirasi mulut dan tenggorokan baringkan pasien pada sisi kiri posisikan secara trandelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi berikan oksigen 4 6 liter / menit. 2. Pengobatan eklampsia Eklampsia merupakan gawat darurat kebidanan yang memerlukan pengobatan di rumah sakit untuk memberikan pertolongan yang adekuat. Konsep pengobatannya : a. Menghindari terjadinya : Kejang berulangMengurangi koma Meningkatkan jumlah dieresis b. Perjalanan kerumah sakit dapat diberikan : Obat penenang dengan injeksikan 20 mgr valium Pasang infuse glukosa 5 % dan dapat di tambah dengan valium 10 sampai 20 mgr c. Sertai petugas untuk memberikan pertolongan: Hindari gigitan lidah dengan memasang spatel pada lidah Lakukan resusitasi untuk melapangkan nafas dan berikan O2 Hindari terjadinya trauma tambahan Perawatan kolaborasi yang dilaksanakan dirumah sakit sebagai berikut : 1. Kamar isolasi - Hindari rangsangan dari luar sinar dan keributan

- Kurangi penerimaan kunjungan untuk pasien - Perawat pasien dengan jumlahnya terbatas 2. Pengobatan medis Banyak pengobatan untuk menghindari kejang yang berkelanjutan dan meningkatkan vitalitas janin dalam kandungan. Dengan pemberian : - Sistem stroganoff - Sodium pentothal dapat menghilangkan kejang - Magnesium sulfat dengan efek menurunkan tekanan darah , mengurangi sensitivitas saraf pada sinapsis, meningkatkan deuresis dan mematahkan sirkulasi iskemia plasenta sehingga menurunkan gejala klinis eklampsia. - Diazepam atau valium - Litik koktil 3. Pemilihan metode persalinan Pilihan pervaginam diutamakan : - Dapat didahului dengan induksi persalinan - Bahaya persalinan ringan - Bila memenuhi syarat dapat dilakukan dengan memecahkan ketuban, mempercepat pembukaan, dan tindakan curam untuk mempercepat kala pengeluaran. - Persalinan plasenta dapat dipercepat dengan manual - Menghindari perdarahan dengan diberikan uterotonika Pertimbangan seksio sesarea : - Gagal induksi persalinan pervaginam - Gagal pengobatan konservatif J. PROGNOSE Eklampsia di Indonesia masih merupakan penyakit pada kehamilan yang meminta korban besar dari ibu dan bayi ( Hanifa dalam Prawiroharjo, 2005 ). Diurese dapat dipegang untuk prognosa ; jika diurese lebih dari 800 cc dalam 24 jam atau 200 cc tiap 6 jam makan prognosa agak baik. Sebaliknya oliguri dan anuri merupakan gejala yang buruk. Gejala gejala lain memperberat prognosa dikemukakan oleh Eden ialah ; koma yang lama, nadi di atas 120 x / menit, suhu di atas 39 c, tekanan darah di atas 200 mmHg, proteinuria 10 gram sehari atau lebih, tidak adanya edema, edema paru paru dan apoplexy merupakan keadaan yang biasanya mendahului kematian.

DAFTAR PUSTAKA
Buku ajar bidan Myles, Diane M. Fraser, Margaret A Cooper. Jakarta EGC 2009 Obstetri William : panduan ringkas / Kenneth J. Lereno, Egi Komara Yudha, Nike Budhi Subekti, Jakarta EGC 2009. Rukiyah, Lia yulianti. 2010. ASUHAN KEBIDANAN 4 PATOLOGI, Jakarta Tim http://hariskumpulanaskep.blogspot.com/2012/01/askep-eklampsia.html http://www.docstoc.com/docs/85085397/ASKEP-Eklampsia-Post-Partum

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN EKLAMPSIA

1. KONSEP DASAR PENYAKIT A. DEFINISI Eklampsia adalah kejang akibat pre-eklamsi, tindakan yang mungkin dilakukan adalah menyelamatkan ibu dan bayinya, biasanya bayi yang lahir dengan kasus ini akan lahir dengan berat badan rendah/kurang gizi. Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan /nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita tadi menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia. (kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). Eklamsia kelainan akut pada ibu hamil, saat persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklamsia (Hipertensi, oedema, proteinuria). Eklamsia adalah suatu komplikasi kehamilan yg ditandai dengan peningkatan TD (S > 180 mmHg,D

> 110 mmHg),proteinuria,oedema,kejang dan/atau penurunan kesadaran. Eklampsia adalah akut dengan kejang coma pada wanita hamil dan wanita dalam nifas disertai dengan hipertensi, edema, dan proteinuria.(Obsetri Patologi;UNPAD) Eklampsia adalah suatu keadaan dimana didiagnosis ketika preeklampsia memburuk menjadi kejang(helen varney;2007) Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami kejangkejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan baik sebelum, saat atau setelah melahirkan. (http://www.en.wikipedia.org/wiki/Eclampsia/23/03/2010) Kesimpulan dari kelompok; eklampsia adalah suatu keadaan dimana preeklampsia tidak dapat diatasi sehingga mengalami gangguan yang lebih lanjut yaitu hipertensi, edema, dan proteinuria serta kejang. Eklamsia adalah terjadinya konvulsi atau koma pada pasien disertai disertai tanda dan gejala preeklampsia. B. ETIOLOGI Menurut Manuaba, IBG, 2001 penyebab secara pasti belum diketahui, tetapi banyak teori yang menerangkan tentang sebab akibat dari penyakit ini, antara lain: 1. Teori Genetik Eklamsia merupakan penyakit keturunan dan penyakit yang lebih sering ditemukan pada anak wanita dari ibu penderita pre eklamsia. 2. Teori Imunologik Kehamilan sebenarnya merupakan hal yang fisiologis. Janin yang merupakan benda asing karena ada faktor dari suami secara imunologik dapat diterima dan ditolak oleh ibu.Adaptasi dapat diterima oleh ibu bila janin dianggap bukan benda asing,. dan rahim tidak dipengaruhi oleh sistem imunologi normal sehingga terjadi modifikasi respon imunologi dan terjadilah adaptasi.Pada eklamsia terjadi penurunan atau kegagalan dalam adaptasi imunologik yang tidak terlalu kuat sehingga konsepsi tetap berjalan. 3. Teori Iskhemia Regio Utero Placental Kejadian eklamsia pada kehamilan dimulai dengan iskhemia utero placenta menimbulkan bahan vaso konstriktor yang bila memakai sirkulasi, menimbulkan bahan vaso konstriksi ginjal. Keadaan ini mengakibatkan peningkatan produksi renin angiotensin dan aldosteron.Renin angiotensin menimbulkan vasokonstriksi general, termasuk oedem pada arteriol. Perubahan ini menimbulkan kekakuan anteriolar yang meningkatkan sensitifitas terhadap angiotensin vasokonstriksi selanjutnya akan mengakibatkan hipoksia kapiler dan peningkatan permeabilitas pada membran glumerulus sehingga menyebabkan proteinuria dan oedem lebih jauh. 4. Teori Radikal Bebas Faktor yang dihasilkan oleh ishkemia placenta adalah radikal bebas. Radikal bebas merupakan produk sampingan metabolisme oksigen yang sangat labil, sangat reaktif dan berumur pendek. Ciri radikal bebas ditandai dengan adanya satu atau dua elektron dan berpasangan. Radikal bebas akan timbul bila ikatan pasangan elektron rusak. Sehingga elektron yang tidak berpasangan akan mencari elektron lain dari atom lain dengan menimbulkan kerusakan sel.Pada eklamsia sumber radikal bebas yang utama adalah placenta, karena placenta dalam pre eklamsia mengalami iskhemia. Radikal bebas akan bekerja pada asam lemak tak jenuh yang banyak dijumpai pada membran sel, sehingga radikal bebas merusak sel Pada eklamsia kadar lemak lebih tinggi daripada kehamilan normal, dan produksi radikal bebas menjadi tidak terkendali karena kadar anti oksidan juga menurun. 5. Teori Kerusakan Endotel Fungsi sel endotel adalah melancarkan sirkulasi darah, melindungi pembuluh darah agar tidak banyak terjadi timbunan trombosit dan menghindari pengaruh vasokonstriktor. Kerusakan endotel merupakan kelanjutan dari terbentuknya radikal bebas yaitu peroksidase lemak atau proses oksidase asam lemak tidak jenuh yang menghasilkan peroksidase lemak asam jenuh. Pada eklamsia diduga bahwa sel tubuh yang rusak akibat adanya peroksidase lemak adalah sel endotel pembuluh darah.Kerusakan endotel ini sangat spesifik dijumpai pada glumerulus ginjal yaitu berupa glumerulus endotheliosis . Gambaran kerusakan endotel pada ginjal yang sekarang dijadikan diagnosa pasti adanya pre eklamsia.

6. Teori Trombosit Placenta pada kehamilan normal membentuk derivat prostaglandin dari asam arakidonik secara seimbang yang aliran darah menuju janin. Ishkemi regio utero placenta menimbulkan gangguan metabolisme yang menghasilkan radikal bebas asam lemak tak jenuh dan jenuh. Keadaan ishkemi regio utero placenta yang terjadi menurunkan pembentukan derivat prostaglandin (tromboksan dan prostasiklin), tetapi kerusakan trombosit meningkatkan pengeluaran tromboksan sehingga berbanding 7 : 1 dengan prostasiklin yang menyebabkan tekanan darah meningkat dan terjadi kerusakan pembuluh darah karena gangguan sirkulasi. 7. Teori Diet Ibu Hamil Kebutuhan kalsium ibu hamil 2 - 2 gram per hari. Bila terjadi kekurangan-kekurangan kalsium, kalsium ibu hamil akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan janin, kekurangan kalsium yang terlalu lama menyebabkan dikeluarkannya kalsium otot sehingga menimbulkan sebagai berikut : dengan dikeluarkannya kalsium dari otot dalam waktu yang lama, maka akan menimbulkan kelemahan konstruksi otot jantung yang mengakibatkan menurunnya strike volume sehingga aliran darah menurun. Apabila kalsium dikeluarkan dari otot pembuluh darah akan menyebabkan konstriksi sehingga terjadi vasokonstriksi dan meningkatkan tekanan darah. C. PATOFISIOLOGI Eklampsia dimulai dari iskemia uterus plasenta yang di duga berhubungan dengan berbagai faktor. Satu diantaranya adalah peningkatan resisitensi intra mural pada pembuluh miometrium yang berkaitan dengan peninggian tegangan miometrium yang ditimbulkan oleh janin yang besar pada primipara, anak kembar atau hidraminion. Iskemia utero plasenta mengakibatkan timbulnya vasokonstriksor yang bila memasuki sirkulasi menimbulkan ginjal, keadaan yang belakangan ini mengakibatkan peningkatan produksi rennin, angiostensin dan aldosteron. Rennin angiostensin menimbulkan vasokontriksi generalisata dan semakin memperburuk iskemia uteroplasenta. Aldosteron mengakibatkan retensi air dan elektrolit dan udema generalisator termasuk udema intima pada arterior. Pada eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ , termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Eklamsi yang berat dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation. D. PROGNOSIS Eklampsia selalu menjadi masalah yang serius, bahkan merupakan salah satu keadaan paling berbahaya dalam kehamilan. Statistik menunjukkan di Amerika Serikat kematian akibat eklampsia mempunyai kecenderungan menurun dalam 40 tahun terakhir, dengan persentase 10 % 15 %. Antara tahun 1991 1997 kira kira 6% dari seluruh kematian ibu di Amerika Serikat adalah akibat eklampsia, jumlahnya mencapai 207 kematian. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa eklampsia dan pre eklamsia berat harus selalu dianggap sebagai keadaan yang mengancam jiwa ibu hamil. Eklampsia di Indonesia masih merupakan penyakit pada kehamilan yang meminta korban besar dari ibu dan bayi. Dari berbagai pengumuman, diketahui kematian ibu berkisar antara 9,8% - 25,5% sedangkan kematian bayi lebih tinggi lagi, yakni 42,2%-48,9%. Sebaliknya, kematian ibu dan bayi di negara maju lebih kecil. Tingginya kematian ibu dan anak di negara-negara yang kurang maju disebabkan oleh kurang sempurnanya pengawasan antenatal dan natal; penderita-penderita eklampsia sering terlambat mendapat pengobatan yang tepat. Kematian ibu biasanya disebabkan oleh perdarahan otak, dekompenasio kordis dengan edema paru-paru, payah ginja, dan masuknya isi lambung ke dalam jalan pernapasan waktu kejangan. Sebab kematian bayi terutama oleh hipoksia intrauterin dan prematuritas. Berlawanan dengan yang sering diduga, eklampsia tidak menyebabkan hipertensi menahun. Ditemukan bahwa pada penderita

yang mengalami eklampsia pada kehamilan pertama, frekuensi hipertensi 15 tahun kemudian/lebih, tidak lebih tinggi daripada mereka yang hamil tanpa eklampsia. E. KLASIFIKASI Komplikasi yag terberat adalah kematian ibu dan janin. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia. Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada eklampsia : 1. Solusio plasenta. Komplikas ini biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklampsia. Di rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo 15,5% solusio plasenta disertai preeklampsia. 2. Hipofibrinogenemia Pada eklampsia, ditemuka 23% hipofibrinogenemia. Maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar fibrinogen secara berkala. 3. Hemolisis Penderita dengan eklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karea ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sela hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut. 4. Perdarahan otak Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia. 5. Kelainan mata Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu, dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri. 6. Edema paru-paru Zuspan (1978) menemukan hanya satu penderita dari 69 kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena payah jantung. 7. Nekrosis hati Nekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia, tapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati juga dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnyz. 8. Sindroma HEELP Yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet. 9. Kegagalan Ginjal Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelialtubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal. 10. Komplikasi lain Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang, pneumonia aspirasi, dan DIC (dessiminated intravaskuler coogulation) 11. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian intra-uterin. F. TANDA DAN GEJALA KLINIS EKLAMPSIA Eklampsia terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih, yaitu: kejang-kejang atau koma. Kejang dalam eklampsia ada 4 tingkat, meliputi : 1. Tingkat awal atau aura (invasi) Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong), kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar ke kanan dan ke kiri. 2. Stadium kejang tonik Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalm, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung kira-kira 2030 detik. 3. Stadium kejang klonik Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup,

keluar ludah berbusa, dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung 1-2 menit kejang klonikberhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas seperti mendengkur. 4. Stadium koma Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita teteap dalam keadaan koma ( Muchtar Rustam, 1998: 275). G. KLASIFIKASI EKLAMPSIA Berdasarkan waktu terjadinya, eksklampsia dapt dibagi: a. Eklampsia gravidarum Kejadian 50% sampai 60% Serangan terjadi dalam keadaan hamil b. Eklampsia parturientum Kejadian sekitar 30% sampai 35% Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai inpartu c. Eklampsia puerperium Kejadian jarang yaitu 10% Terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir H. MENEGAKKAN DIAGNOSA Pada umumnya diagnosa pre eklamsia didasarkan atas adanya 2 dari trias gejala utama. Uji diagnostik yang dilakukan pada pre eklamsia menurut Prawirohardjo, S, 1999 adalah : Uji Diagnostik Dasar diukur melalui : Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urine, pemeriksaan oedem, pengukuran tinggi fundus uteri dan pemeriksaan funduskopi. Uji Laboratorium Dasar a. Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan hapus darah tepi). b. Pemeriksaan fungsi hati (billirubin, protein serum, aspartat amino transferase, dan lain-lain). c. Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). Uji Untuk Meramalkan Hipertensi a. Roll over test. Cara memeriksa : Penderita tidur miring kekiri kemudian tensi diukur diastolik, kemudian tidur terlentang, segera ukur tensi, ulangi 5 menit, setelah itu bedakan diastol, tidur miring dan terlentang, hasil pemeriksaan ; ROT (+) jika perbedaan > 15 mmHg, ROT (-) jika perbedaan < 15 mmHg. b. Pemberian infus angiotensin II c. Mean Arterial Pressure yaitu : tekanan siastole + 2 tekanan diastole 3 Hasil (+) : > 85 I. PENCEGAHAN KEJADIAN EKLAMPSIA Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini pre eklamsia. Perlu diwaspadai pada wanita hamil dengan adanya faktor-faktor predisposisi. Walaupun timbulnya pre eklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil (Prawirohardjo S, 1999). Mencegah kejadian pre eklamsia ringan dan mencegah pre eklamsia bertambah berat dengan : Diet Makanan Makan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Dengan makanan empat sehat lima sempurna dengan tambahan 1 telur per hari untuk meningkatkan jumlah protein. Cukup Istirahat Dengan tirah baring 2 x 2 jam per hari miring ke kiri, untuk mengurangi tekanan darah pada vena cava inferior, meningkatkan aliran darah vena dengan tujuan meningkatkan peredaran darah menuju jantung dan placenta sehingga menurunkan iskhemia placenta.

Pengawasan antenatal selama hamil dengan menilai adanya pre eklamsia dan kondisi janin dalam rahim dengan ; pemantauan tinggi fundus uteri, pemeriksaan janin dalam rahim, denyut jantung janin, dan pemantauan air ketuban, usulkan untuk melakukan USG. Penderita berobat jalan dengan nasehat : segera datang bila terdapat tanda-tanda : kaki bertambah berat oedem, gerakan janin terasa kurang, kepala pusing dan mata makin kabur. J. PENATALAKSANAAN Tujuan utama pengobatan eklampsia adalah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengizinkan. Pengawasan dan perawatan yang intensif sangat penting bagi penanganan penderita eklampsia, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Pada pengangkutan ke rumah sakit diperlukan obat penenang yang cukup untuk menghindarkan timbulnya kejangan ; penderita dalam hal ini dapat diberi diazepam 20mg 1M. Selain itu, penderita harus disertai seseorang yang dapat mencegah terjadinya trauma apabila terjadi serangan kejangan. Tujuan pertama pengobatan eklampsia ialah menghentikan kejangan mengurangi vasospasmus, dan meningkatkan dieresis. Dalam pada itu, pertolongan yang perlu diberikan jika timbul kejangan ialah mempertahankan jalan pernapasan bebas, menghindarkan tergigitnya lidah, pemberian oksigen, dan menjaga agar penderita tidak mengalami trauma. Untuk menjaga jangan sampai terjadi kejangan lagi yang selanjutnya mempengaruhi gejala-gejala lain, dapat diberikan beberapa obat, misalnya: Sodium pentotbal sangat berguna untuk menghentikan kejangan dengan segera bila diberikan secara intravena. Akan tetapi, obat ini mengandung bahaya yang tidak kecil. Mengingat hal ini, obat itu hanya dapat diberikan di rumah sakit dengan pengawasan yang sempurna dan tersedianya kemungkinan untuk intubasi dan resustitasi. Dosisi inisial dapat diberikan sebanyak 0,2 0,3 g dan disuntikkan perlahan-lahan. Sulfas magnesicus yang mengurangi kepekatan saraf pusat pada hubungan neuromuscular tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan saraf. Obat ini menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, meningkatkan dieresis, dan menambah aliran darah ke uterus. Dosis inisial yang diberikan ialah 8g dalam larutan 40% secara intramuscular; selanjutnya tiap 6 jam 4g, dengan syarat bahwa refleks patella masih positif, pernapasan 16 atau lebih per menit, dieresis harus melebihi 600ml per hari; selain intramuskulus, sulfas magnesikus dapat diberikan secara intravena; dosis inisial yang diberikan adalah 4g 40% MgSO4 dalam larutan 10ml intravena secara perlahan-lahan, diikuti 8g IM dan selalu disediakan kalsium gluakonas 1g dalam 10 ml sebagai antidotum. Lytic cocktail yang terdiri atas petidin 100 mg, klorpromazin 100 mg, dan prometazin 5o mg dilarutkan dalam glukosa 5% 500 ml dan diberikan secara infus intravena. Jumlah tetesan disesuaikan dengan keadaan dan tensi penderita. Maka dari itu, tensi dan nadi diukur tiap 5 menit dalam waktu setengah jam pertama dan bila keadaan sudah stabil, pengukuran dapat dijarangkan menurut keadaan penderita. Sebelum diberikan obat penenang yang cukup, maka penderita eklampsia harus dihindarkan dari semua rangsang yang dapat menimbulkan kejangan, seperti keributan, injeksi, atau pemeriksaan dalam. II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data yang dikaji pada ibu bersalin dengan eklampsia adalah : a. Data subyektif : - Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun - Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur - Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM - Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat

kehamilan dengan eklamsia sebelumnya - Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan - Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya b. Data Obyektif : - Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam - Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema - Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress - Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + ) - Pemeriksaan penunjang ; Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak USG ; untuk mengetahui keadaan janin NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin 2. Diagnosa Keperawatan a. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas b.d kejang b. Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta c. Risiko cedera pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke placenta d. Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan 3. Rencana Keperawatan a. Diagnosa keperawatan 1 Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas b.d kejang Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas maksimal. Kriteria Hasil : Pasien akan mempertahankan pola pernafasan efektif dengan jalan nafas paten atau aspirasi dicegah Intervensi: 1. Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda atau zat tertentu atau alat yang lain untu menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi. R/ menurunkan risiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing ke faring. 2. Letakkan pasien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang. R/ meningkatkan aliran secret, mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas 3. Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen. R/ untuk memfasilitasi usaha bernafas atau ekspansi dada 4. Lakukan penghisapan sesuai indikasi R/ menurunkan risiko aspirasi atau aspiksia 5. Berikan tambahan oksigen atau ventilasi manual sesuai kebutuhan. R/ dapat menurunkan hipoksia cerebral . b. Diagnosa keperawatan 2 Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi foetal distress pada janin Kriteria Hasil : DJJ ( + ) : 12-12-12 Hasil NST : Normal Hasil USG : Normal Intervensi : 1. Monitor DJJ sesuai indikasi R/. Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoxia, prematur dan solusio plasenta 2. Kaji tentang pertumbuhan janin R/. Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena hipertensi sehingga timbul IUGR 3. Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta ( nyeri perut, perdarahan, rahim tegang, aktifitas janin turun ) R/. Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu akibat hipoxia bagi janin 4. Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM R/. Reaksi terapi dapat menurunkan pernafasan janin dan fungsi jantung serta aktifitas janin 5. Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST R/. USG dan NST untuk mengetahui keadaan/kesejahteraan janin c. Diagnosa keperawatan 3 : Risiko cedera pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke placenta Tujuan : agar cedera tidak terjadi pada janin Kriteria Hasil : Intervensi : 1. Istirahatkan ibu R/ dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolism tubuh menurun dan peredaran darah ke placenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan O2 untuk janin dapat dipenuhi 2. Anjurkan ibu agar tidur miring ke kiri R/ dengan tidur miring ke kiri diharapkan vena cava dibagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar sehingga aliran darah ke placenta menjadi lancar 3. Pantau tekanan darah ibu R/ untuk mengetahui keadaan aliran darah ke placenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke placenta berkurang, sehingga suplai oksigen ke janin berkurang. 4. Memantau bunyi jantung ibu R/ dapat mengetahui keadaan jantung janin lemah atau menurukan menandakan suplai O2 ke placenta berkurang sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya. 5. Beri obat hipertensi setelah kolaborasi dengan dokter R/ dapat menurunkan tonus arteri dan menyebabkan penurunan after load jantung dengn vasodilatasi pembuluh darah, sehingga tekanan darah turun. Dengan menurunnya tekanan darah, maka aliran darah ke placenta menjadi adekuat. d. Diagnosa keperawatan 4 Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang Kriteria Hasil : Ibu tampak tenang Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang Intervensi : 1. Kaji tingkat kecemasan ibu

R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa 2. Jelaskan mekanisme proses persalinan R/. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptif 3. Gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif R/. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu efektif 4. Beri support system pada ibu R/. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati 4. Pelaksanaan Pelaksanaan disesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan. 5. Evaluasi Dx 1: Pasien akan mempertahankan pola pernafasan efektif dengan jalan nafas paten atau aspirasi dicegah Dx 2 : DJJ ( + ) : 12-12-12 Hasil NST : Normal Hasil USG : Normal Dx 3 : agar cedera tidak terjadi pada janin Dx 4 : Ibu tampak tenang Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekaran

LAPORAN PENDAHULUAN EKLAMPSIA


I. PENGERTIAN EKLAMPSIA Eklampsia merupakan serangan konvulsi yang mendadak atau suatu kondisi yang dirumuskan penyakit hipertensi yang terjadi oleh kehamilan, menyebabkan kejang dan koma, (kamus istilah medis : 163,2001) Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan koma pada wanita hamil dan wanita dalam nifas, diserta dengan hipertensi, odema, proteinurio (obstetric patologi : 99. 1984) Eklampsia merupakan serangan kejang yang diikuti oleh koma, yang terjadi pada wanita hamil dan nifas (Ilmu Kebidanan : 295, 2006)

Eklampsia dalam bahasa Yunani berarti Halilintar karena serangan kejang-kejang timbul tiba-tiba seperti petir. (Sinopsis obstetric : 203,1998) Eklampsia adalah preaklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat dari kelainan neurologi (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 : 310 ; 1999) Eklampsia berasal dari bahasa yunani dan berarti Halilintar. Kata tersebut dipakai karena seolah- olah gejala- gejala eklampsia timbul dengan tiba tiba tanpa didahului oleh tanda tanda lain. Sekarang kita ketahui bahwa eklampsia pada umumnya timbul pada wanita hamil atau dalam nifas dengan tanda tanda pre eklampsia. Pada wanita yang menderita eklampsia timbul serangan kejangan yang diikuti oleh koma. Tergantumg dari saat timbulnya eklampsia dibedakan eklampsia gravidarum, eklampsia parturientum dan eklampsia puerperale. Perlu dikemukakan bahwa pada eklampsia gravidarum sering kali persalinan mulai tidak lama kemudian. Dengan pengetahuan bahwa biasanya eklampsia didahului oleh pre eklampsia,tampak pentingnya pengawasan antenatal yang teliti dan teratur, sebagai usaha untuk mencegah timbulnya penyakit itu. 2. ETIOLOGI Sebab eklampsia belum diketahui pasti, namun salah satu teori mengemukakan bahwa eklampsia disebabkan ishaemia rahim dan plasenta (Ischaemia Utera Placentoe). Selama kehamilan, uterus memerlukan darah lebih banyak. Pada mola hidotidosa, hidramnian, kehamilan ganda, nultipara, akhir kehamilan, persalinan, juga penyakit pembuluh darah ibu, diabetes peredaran darah dalam dinding rahim kurang, maka keluarlah zat-zat dari plasenta atau desiduc yang menyebabkan vasospesmus dan hipertensi. Etiologi dan patogenesis preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini masih belum sepenuhnya difahami, masih banyak ditemukan kontroversi, itulah sebabnya penyakit ini sering disebut the disease of theories. Pada saat ini hipotesis utama yang dapat diterima untuk menerangkan terjadinya preeklampsia adalah : faktor imunologi, genetik, penyakit pembuluh darah dan keadaan dimana jumlah trophoblast yang berlebihan dan dapat mengakibatkan ketidakmampuan invasi trofoblast terhadap arteri spiralis pada awal trimester satu dan trimester dua. Hal ini akan menyebabkan arteri spiralis tidak dapat berdilatasi dengan sempurna dan mengakibatkan turunnya aliran darah di plasenta. Berikutnya akan terjadi stress oksidasi, peningkatan radikal bebas, disfungsi endotel, agregasi dan penumpukan trombosit yang dapat terjadi diberbagai organ. Faktor Predisposisi Terjadinya Preeklampsia dan Eklampsia Primigravida, kehamilan ganda, diabetes melitus, hipertensi essensial kronik, mola hidatidosa, hidrops fetalis, bayi besar, obesitas, riwayat pernah menderita preeklampsia atau eklamsia, riwayat keluarga pernah menderita preeklampsia atau eklamsia, lebih sering dijumpai pada penderita preeklampsia dan eklampsia. 3. FREKUENSI Frekuensi eklampsia bervariasi antara satu Negara dan yang lain. Frekuensi rendah pada umumnya merupakan petunjuk tentang adanya pengawasan antenatal yang baik, penyediaan tempat tidur antenatal yang cukup, dan penanganan pre eklampsia yang sempurna. Di negara negara sedang berkembang frekuensi di laporkan berkisar antara 0.3 % 0.7%, sedang di negara- negara maju angka tersebut lebih kecil, yaitu 0.05 % - 0.1 %.

4. MANIFESTASI KLINIS Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala preaklampsia disertai kejang atau koma, sedangkan bila terdapat gejala preeklampsia berat disertai salah satu / beberapa gejala nyeri kepala hebat, gangguan virus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan kenaikan tekanan darah yang progesif, dikatakan pasien tersebut menderita impending preeklampsia. Impending preeklampsia ditangani sebagai kasus eklampsia Seluruh kejang eklampsia didahului dengan preeklampsia. Eklampsia digolongkan menjadi kasus antepartum, intrapartum atau postpartum tergantung saat kejadiannya sebelum persalinan, pada saat persalinan atau sesudah persalinan. Tanpa memandang waktu dari onset kejang, gerakan kejang biasanya dimulai dari daerah mulut sebagai bentuk kejang di daerah wajah. Beberapa saat kemudian seluruh tubuh menjadi kaku karena kontraksi otot yang menyeluruh, fase ini dapat berlangsung 10 sampai 15 detik. Pada saat yang bersamaan rahang akan terbuka dan tertutup dengan keras, demikian juga hal ini akan terjadi pada kelopak mata, otot otot wajah yang lain dan akhirnya seluruh otot mengalami kontraksi dan relaksasi secara bergantian dalam waktu yang cepat. Keadaan ini kadang kadang begitu hebatnya sehingga dapat mengakibatkan penderita terlempar dari tempat tidurnya, bila tidak dijaga. Lidah penderita dapat tergigit oleh karena kejang otot otot rahang. Fase ini dapat berlangsung sampai 1 menit, kemudian secara berangsur kontraksi otot menjadi semakin lemah dan jarang dan pada akhirnya penderita tidak bergerak. Setelah kejang diafragma menjadi kaku dan pernafasan berhenti. Selama beberapa detik penderita sepertinya meninggal karena henti nafas, namun kemudian penderita bernafas panjang, dalam dan selanjutnya pernafasan kembali normal. Apabila tidak ditangani dengan baik, kejang pertama ini akan diikuti dengan kejang kejang berikutnya yang bervariasi dari kejang yang ringan sampai kejang yang berkelanjutan yang disebut status epileptikus. Setelah kejang berhenti penderita mengalami koma selama beberapa saat. Lamanya koma setelah kejang eklampsia bervariasi. Apabila kejang yang terjadi jarang, penderita biasanya segera pulih kesadarannya segera setelah kejang. Namun pada kasus kasus yang berat, keadaan koma berlangsung lama, bahkan penderita dapat mengalami kematian tanpa sempat pulih kesadarannya. Pada kasus yang jarang, kejang yang terjadi hanya sekali namun dapat diikuti dengan koma yang lama bahkan kematian. Frekuensi pernafasan biasanya meningkat setelah kejang eklampsia dan dapat mencapai 50 kali/menit. Hal ini dapat menyebabkan hiperkarbia sampai asidosis laktat, tergantung derajat hipoksianya. Pada kasus yang berat dapat ditemukan sianosis. Demam tinggi merupakan keadaan yang jarang terjadi, apabila hal tersebut terjadi maka penyebabnya adalah perdarahan pada susunan saraf pusat. 5. PATOLOGI Pada wanita yang meninggal akibat eklampsia dikarenakan adanya komplikasi pada hati, otak, retina, paru-paru dan jantung. Pada keadaan umum dapat ditemukan necrose, haemoragia , aedema Hypernaema atau ishcaemia dan trombhosis. 6. TANDA DAN GEJALA Gejala pada eklampsia diawali dengan timbulnya tanda-tanda preeklampsia yang semakin buruk, seperti : gejala nyeri kepada di daerah frontal gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Konvulsi eklampsia dibagi dalam 4 tingkat yakni :

a. Tingkat aura / awal keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik, mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepada diputar ke kanan / kiri. b. Tingkat kejangan tonik, yang berlangsung kurang lebih 30 detik dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku, wajahnya kelihatan kaku, tangan mengggenggam dan kaki membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, muka mulai menjadi sianotik, lidah dapat tergigit. c. Tingkat kejangan klonik, berlangsung antara 1-2 menit, spesimustonik tonik menghilang, semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat, mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit kembali, bola mata menonjol, dan mulut keluar ludah yang berbusa muka menunjukkan kongesti dan sianosis. Penderita menjadi dapat terjadi dari tempat tidurnya akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. d. Tingkat koma, lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan yang berulang, sehingga ia tetap dalam koma.

7. KLASIFIKASI EKLAMPSIA a. Eklampsia gravidarum kejadian 150 % sampai 60 % serangan terjadi dalam keadaan hamil b. Eklampsia parturientum Kejadian sekitar 30 % sampai 35 % Saat sedang inpartu Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai inpartu. c. Eklampsia puerperium Kejadian jarang Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir.

8. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis eklampsia umumnya tidak mengalami kesukaran. Dengan tanda dan gejala preeklampsia yang disusul oleh serangan kejang, maka diagnosis eklampsia tidak diragukan lagi. Eklampsia harus dibedakan dengan : 1) Epilepsi Dalam anamnesia diketahui adanya serangan sebelum hamil atau pada hamil muda dan tanda preeklampsia tidak ada. 2) Kejang akibat obat anesthesis Apabila obat anesthesia locak tersuntikkan ke dalam vena, dapat timbul kejang. 3) Koma karena sebab lain, seperti : Diabetes, perdarahan otak, meningitis dan lain-lain Diagnosis eklampsia lebih dari 24 jam harus diwaspadai. 9. KOMPLIKASI

Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia. Berikut adalah beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada preeklampsia berat dan eklampsia : a. Solutio Plasenta Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre eklampsia. b. Hipofibrinogemia Kadar fibrin dalam darah yang menurun. c. Hemolisis Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah yangtidak berwarna menjadi merah. d. Perdarahan Otak Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia. e. Kelainan Mata Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama seminggu, dapatterjadi. f. Edema Paru Pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung. g. Nekrosis Hati Nekrosis periportan pada preeklampsia, eklampsia merupakan akibat vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia,tetapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain.Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan pada hati,terutama penentuan enzim-enzimnya. h. Sindrome Hellp Haemolisis, elevatea liver anymes dan low platelet i. Kelainan Ginjal Kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan sitoplasma sel endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal. j. Komplikasi lain Lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang preumania aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation) Prematuritas Dismaturitas dan kematian janin intro uteri. 10. TERAPI 1. Tujuan Terapi Eklampsia a. Menghentikan berulangnya serangan kejang b. Menurunkan tensi, dengan vasosporus c. Menawarkan hasmokonsentrasi dan memperbaiki diveres dengan pemberian glucose 5%-10% d. Mengusahakan supaya O2 cukup dengan mempertahankan kebebasan jalan nafas. 2. Penanganan Kejang a. Beri obat anti konvulsan b. Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedeka, sedotan, masker O2 dan tabung O2 )

c. d. e. f.

Lindungi pasien dengan keadaan trauma Aspirasi mulut dan tonggorokkan Baringkan pasien pada posisi kiri, trendelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi Beri oksigen 4-6 liter / menit

3. Penanganan Umum a. Jika tekanan diastolic > 110 mmHg, berikan hipertensi sampai tekanan diastolic diantara 90-100 mmHg. b. Pasang infuse RL dengan jarum besar (16 gauge atau lebih) c. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload d. Kateterisasi urine untuk mengeluarkan volume dan proteinuric e. Jika jumlah urine kurang dari 30 ml / jam f. Infus cairan dipertahankan 1 1/8 ml/jam g. Pantau kemungkinan oedema paru h. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin. i. Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung setiap jam j. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda oedema paru. Jika ada oedema paru hentikan pemberian cairan dan berikan diuretic k. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan beadside l. Dosis awal : beri MgSO4 (4 gram) per IV sebagai larutan 20%, selama 5 menit. Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5 gr 1ml dengan 1 ml lignokain 2% (dalam setopril yang sama) pasien akan merasa agar panas sewaktu pemberian MgSO4 m. Dosis pemeliharaan : MgSO4 (50%) 5 gr + lignokain 2% (1ml) 1 m setiap 4 jam kemudian dilanjutkan sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang terakhir n. Sebelum pemberian MgSO4 periksa : frekuensi pernafasan minimal 16 / menit. Refleks Patella (+), urin minimal 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir o. Stop pemberian MgSO4, jika : frekuensi pernafasan < / > p. Siapkan antidotlim jika terjadi henti nafas, Bantu dengan ventilator. Beri kalsium glukonat 2 gr ( 20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi. 10. PROGNOSIS Eklampsia di indonesia masih merupakan penyakit pada kehamilan yang meminta korban besar dari ibu dan bayi. Dari berbagai pengumuman,diketahui kematian ibu berkisar antara 9,8 % - 25.5% sedangkan kematian lebih tinggi lagi,yakni 42,2 % - 48.9 %.Sebaliknya,kematian ibu dan bayi di negara maju lebih kecil.Tingginya kematian ibu dan anak di negara-negara yang kurang maju disebabkan oleh kurang sempurnanya pengawasan antenatal dan natal,penderitapenderita eklampsia sering terlambat mendapat pengobatan yang tepat.Kematian ibu biasanya disebabkan oleh perdarahan otak,dekompensasio kordis dengan edema paru-paru,payahginjal,dan masuknya isi lambung ke dalam jalan pernafasan waktu kejangan.Sebab kematian bayi terutama hipoksia intrauterin dan prematuritas. Berlawanan dengan yang sering diduga,preeklampsia dan eklampsia tidak menyebabkan hipertensi menahun.Oleh penulis-penulis tersebut ditemukan bahwa pada penderita yang mengalami eklampsia pada kehamilan pertama,frekuensi hipertensi 15 tahun kemudian atau lebih tidak lebih tinggidari pada mereka yang hamil tanpa eklampsia.

11. PENCEGAHAN Pada umumnya timbulnya eklampsia dapat dicegah,atau frekuensinya dikurangi.Usahausaha untuk menurunkan frekuensi eklampsia terdiri atas : 1. Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan diri sejak hamil muda. 2. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre eklampsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan. 3. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda pre eklampsia tidak juga dapat dihilangkan.

ASUHAN KEPERAWATAN PRE EKLAMPSIA- EKLAMPSIA


1. Pengkajian Sumber (http://download-askep.blogspot.com/2010/01/pengkajian-diagnosakeperawatan_07.html) Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah : a. Data subyektif : Identitas pasien dan penanggung jawab:Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau eklampsia sebelumnya Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya. b. Data Obyektif : Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + ) Pemeriksaan penunjang : 1. Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam 2. Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar

hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml 3. Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu 4. Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak 5. USG ; untuk mengetahui keadaan janin 6. NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin. 2. Diagnosa keperawatan Sumber (susan MT,dkk.1998 dan Marlyn doengoes,dkk.1999) a. Perubahan perfusi uteroplasental dan jaringan ginjal b.d hipertensi pada kehamilan b. Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler cerebral akibat hipertensi c. Kelebihan volume cairan b.d peningkatan retensi urine dan edema berkaitan dengan hipertensi pada kehamilan d. Gangguan Penglihatan b.d peningkatan tekanan vaskular cerebral akibat hipertensi e. Kurang pengetahuan,kondisi dan tindakan b.d kurang terpajan pada informasi f. Nyeri epigastrium b.d konrtaksi organ yang tidak terkontrol g. Resti Kejang pada ibu b.d penurunan fungsi organ h. Resti terjadi fetal distress pada janin b.d perubahan pada plasenta 3. Intervensi keperawatan Sumber (susan MT,dkk.1998 dan Marlyn doengoes,dkk.1999) DP 1 : Perubahan perfusi uteroplasental dan jaringan ginjal b.d hipertensi pada kehamilan Tujuan : Perfusi Uteroplasental dan jaringan ginjal baik. Kriteria hasil: a. Tingkat kesadaran baik dan tidak berubah b. Janin tidak menunjukkan tanda-tanda distress c. Perfusi maksimal d. Tekanan darah normal Intervensi Letakkan pasien pada lingkungan yang tenang Pantau TTV Auskultasi irama jantung janin Anjurkan tirah baring Anjurkan periksa urine 24 jam Monitor TD tiap 4 jam Rasional Memberikan kenyamanan dan ketenangan pada pasien Untuk mengetahui keadaan umum pasien Untuk mengetahui perkembangan janin Meminimal stimulasi dan meningkatkan relaksasi Untuk menentukan intervensi lebih lanjut Untuk mengetahui keadaan umum klien

DP 2 : Nyeri akut b.d peningkatan tekanan vaskuler cerebral akibat hipertensi Tujuan:Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil: a. Nyeri hilang atau terkontrol b. Ekspresi wajah tenang Intervensi Rasional Kaji skala nyeri klien Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami Pertahankan tirah baring selama fase akut Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi Anjurkan kompres dingin dan pijat punggung Menurunkan tekanan vaskuler Bantu pasien dalam aktivitas sesuai Mengurangi nyeri kebutuhan DP 3: Kelebihan volume cairan b.d peningkatan retensi urine dan edema berkaitan dengan hipertensi pada kehamilan Tujuan :volume cairan normal Kriteria hasil: a. Volume cairan sesuai kebutuhan b. Edema minimal c. Tanda dan gejala bukan indikasi gagal jantung Intervensi Rasional Timbang berat badan pasien setiap Untuk menentukan intervensi lebih hari lanjut Pantau intake cairan Membantu mengidentivikasi kebutuhan Periksa protein urine Meminimalkan komplikasi Monitor intake dan output klien Agar dapat mengontrol Kolaborasi dengan tim medis dalam keseimbangan antara intake yang pemberian obat. amsuk dan output yang keluar Agar tidak tejadi kesalahan dalam pemberian obat

DP 4 : Gangguan Penglihatan b.d peningkatan tekanan vaskular cerebral akibat hipertensi Tujuan : Penglihatan tidak kabur lagi dan kembali normal Kriteria hasil : a. Pasien dapat menunjukkan fungsi penglihatannya baik b. Dapat menginterpretasikan benda yang dilihat dengan benar c. Tingkat kekaburan menurun bahkan hilang Intervensi Kaji tingkat kekaburan penglihatan Rasional Untuk mengetahui batas kekaburan

Lakukan pengetesan dengan menyuruh pasien untuk menginterpretasikan benda di sekitar Anjurkan tirah baring Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian zenjelasan mengenai penyakit

yang dialami pasien Mengetahui batas kemampuan dan melatih pasien untuk mengenal orang dan benda sekitar Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi Untuk menentukan intervensi selanjutnya

DP 5: Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan tindakan b.d kurang terpajan pada informasi Tujuan :Pengetahuan pasien bertambah Kriteria hasil: a. Pasien mengerti terhadap apa yang disampaikan b. Mampu menerapkan informasi yang didapat c. Mentaati pengobatan Intervensi Kaji kesiapan pasien dan hambatan belajar Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung Berikan pengertian pentingnya kerja sama Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian penjelasan mengenai penyakit Rasional Meningkatkan minat pasien untuk belajar. Agar pasien mengerti mengenai penyakit Agar masalah dapat diatasi dengan baik Agar informasi yang disampaikan dapat lebih lengkap dan jelas

DP 6 : Nyeri epigastrium b.d konrtaksi organ yang tidak terkontrol Tujuan : skala nyeri berkurang bahkan hilang Kriteria Hasil : a. Nyeri hilang atau terkontrol b. Ekspresi wajah tenang Intervensi Rasional Kaji skala nyeri klien Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami Pertahankan tirah baring selama fase akut Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi Anjurkan kompres dingin Menurunkan tekanan vaskuler Bantu pasien dalam aktivitas sesuai kebutuhan Mengurangi nyeri DP 7 : Resti Kejang pada ibu b.d penurunan fungsi organ Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi lagi kejang pada ibu Kriteria hasil :

a. Kesadaran baik, compos mentis b. Kejang tidak mengulang c. TTV; TD : 110-120 mmHg/70-80 mmHg Suhu : 36-37 C Intervensi Rasional Kaji adanya tanda-tanda eklampsia Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak, ginjal, Catat tingkat kesadaran pasien Monitor adanya tanda-tanda dan jantung, paru yang mendahului status gejala persalinan atau adanya kontraksi kejang Penurunan kesadaran sebagai indikasi uterus penurunan aliran darah otak Monitor Tekanan darah tiap 4 jam Kejang akan meningkatkan kepekaan Kolaborasi dengan tim medis dalam uterus yang akan memungkinkan pemberian antihipertensi dan SM terjadinya persalinan Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole > 160 mmHg merupakan indikasi dari PIH Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah terjadinya kejang

DP 8 : Resti terjadi fetal distress pada janin b.d perubahan pada plasenta Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi fetal distress pada janin Kriteria hasil : a. DJJ (+) : 12-12-12 b. Tidak terjadi distress c. Hasil USG normal Intervensi Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM Kaji tentang pertumbuhan janin Monitor DJJ sesuai indikasi Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST Rasional Reaksi terapi dapat menurunkan pernapasan janin dan fungsi jantung serta aktivitas janin Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena hipertensi Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoksia, prematur dan solutio plasenta Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu akibat hipoksia bagi janin USG dan NST dilakukan untuk mengetahui keadaan dan kesehatan janin

4. Implementasi keperawatan

Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari intervensi keperawatan dimana awalan kata pada intervensi ditambah dengan kata kerja.misalnya jika pada intervensi keperawatan kaji TTV maka pada implementasi keperawatan mengkaji TTV.(Judith M.W.2007) 5. Evaluasi Evaluasi adalah hasil asuhan keperawatan yang dilakukan (Judith M.W. 2007)