Anda di halaman 1dari 22

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab II ini akan dibahas penjelasan mengenai komponen-komponen yang akan digunakan yaitu

sensor photoelektrik, sakelar limit, kontaktor, Thermal overload relay, Time Delay Relay (TDR), motor 3 fasa, lampu, sirine peringatan serta MCB.

A. Tombol Tekan Sakelar tombol tekan masih banyak sekali dipakai untuk mengontrol motor. Tombol tekan mempunyai kontak normal tertutup (Normally Closed = NC) atau normal terbuka (Normally Open = NO). Kontak NO akan akan menutup jika tombol ditekan dan kontak NC akan membuka jika tombol ditekan. Tombol tekan ini banyak digunakan untuk start, stop dan membalik arah putaran motor. Tombol NO digunakan untuk start sedangkan tombol NC untuk stop. Ada juga tombol tekan yang memiliki fungsi ganda, yakni sudah dilengkapi oleh dua jenis kontak, baik NO maupun NC. Jadi tombol tekan tersebut dapat difungsikan sebagai NO, NC atau keduanya. Ketika tombol ditekan, terdapat kontak yang terputus (NC) dan ada juga kontak yang terhubung (NO). Penggunaan tombol tekan pada rangkaian kontrol perlintasan jalur kereta api adalah sebagai tombol darurat jika sensor tidak bekerja atau

bermasalah. Dengan adanya tombol darurat ini, palang pintu dapat digerakkan secara manual. Beberapa bentuk tombol tekan dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

GAMBAR 1 BENTUK TOMBOL TEKAN Adapun simbol dari tombol tekan dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

(Sumbe:r Peralatan Kontrol pada Sistem Tenaga Listrik dan Pnuematik. 2005)

GAMBAR 2 SIMBOL TOMBOL TEKAN B. Sensor Photoelektrik sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejalagejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan

sebagainya. Sensor sering digunakan untuk pendeteksian pada saat melakukan pengukuran atau pengendalian. Sensor cahaya adalah jenis sensor yang mendeteksi perubahan energi cahaya/sinar menjadi energi listrik. Sensor photoelektrik adalah salah satu jenis sensor cahaya yang menggunakan bahan fotokonduktif. Energi cahaya yang jatuh pada sel fotokonduktif akan mengakibatkan perubahan resistansi pada sel. Terdapat dua tipe utama dari sensor photoelektrik ini, yaitu: 1. Reflective-type photoelectric sensor, dipergunakan untuk mendeteksi cahaya yang dipantulkan dari objek 2. Through-beam photoelectric sensor, dipergunakan untuk mengukur perubahan kuantitas cahaya yang diakibatkan dari adanya objek yang melewati jalur optiknya.

a). Reflective type

b). Through-beam type

(Sumber: OtomasiProduksi. 2008)

GAMBAR 3 JENIS-JENIS PHOTOELEKTIK SENSOR Fasilitas yang disediakan sensor photoelektrik antara lain : 1. Deteksi non-kontak. Proses deteksi ini tidak akan mengakibatkan kerusakan baik pada target ataupun sensor. 2. Deteksi target virtual dari segala material. Proses deteksi ini didasarkan atas jumlah cahaya yang diterima, atau perubahan dalam jumlah cahaya yang dipantulkan. Metoda ini memungkinkan untuk mendeteksi target yang terbuat dari berbagai material, misalnya kaca, logam, plastik, kayu ataupun cairan. 3. Jarak deteksi yang jauh. Reflective-Type PhotoElectric Sensor mampu mendeteksi sampai jarak 1 (satu) meter, sedangkan Through-Beam PhotoElectric Sensor mampu memdeteksi sampai jarak 10 meter. 4. Diskriminasi warna. Sensor ini memiliki kemampuan untuk

mendeteksi cahaya dari objek berdasarkan reflektansi dan penyerapan cahaya dari warna tersebut. 5. Deteksi dengan keakuratan tinggi. Dengan sistem optikal yang unik dan sirkuit elektronik presisi memungkinkan deteksi objek dengan keakuratan tinggi. Sensor photoelektrik dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan objek benda yang melintas di jalur cahaya sensornya. Jalur sensor harus diatur secara teliti agar sinar dari transmiter (pengirim) dapat diterima secara baik

oleh bagian penerima (receiver). Gambar 4 dibawah ini menunjukan bentuk sensor photoelektrik.

(Sumber:Long-Distace Photoelektric Sensor. http://omron.co.id . 2005)

GAMBAR 4 BENTUK PHOTOLELEKTIK SENSOR Rangkaian kelistrikan sensor photoelektrik dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini.

(Sumber:Long-Distace Photoelektric Sensor. http://omron.co.id . 2005)

GAMBAR 5 RANGKAIAN KELISTRIKAN SENSOR PHOTOELEKTRIK

Sensor photoelektrik yang digunakan pada rangkaian kontrol jalur perlintasan kereta api adalah sebagai pendeteksi kedatangan kereta api. Sensor ini dipasang pada jarak tertentu sebelum jalur perlintasan kendaraan. D. Sakelar Limit (limit switch) Limit switch adalah saklar yang bekerja secara mekanik. Saklar ini digunakaan untuk membatasi suatu gerakan lengan/mesin yang digerakan oleh motor listrik atau pnuematik/hidrolik. Jadi bila motor atau pnuematik bekerja menggerakan suatu benda kemudian benda tersebut menyentuh limit switch, motor atau pnuematik akan berhenti (stop). Limit switch biasanya memiliki kontak normally open (NO) dan normally closed (NC) yang dihubungkan pada rangkaian kontrol. Gambar 6 di bawah ini menunjukan bentuk dan simbol limit switch.

(a) Bentuk
(Sumber: Safety Limit Switch D4M. http://omron.co.id . 2005)

(b) Simbol

GAMBAR 6 LIMIT SWITCH

10

E. Time Delay Relay (TDR) Relay penunda waktu (Time Delay Relay) yang disingkat dengan TDR berfungsi sebagai sakelar waktu yang akan menghubungkan atau memutuskan suatu rangkaian listrik setelah selang waktu tertentu. TDR(Time Delay Relay) merupakan sebuah relay waktu yang mempunyai 2 buah kontak, yaitu kontak NO dan NC, yang waktu kerjanya dapat diseting/diatur sesuai dengan kebutuhan kerja. Gambar di bawah ini menunjukan simbol TDR dan bentuk konstruksinya.

GAMBAR 7 SIMBOL TIME DELAY RELAY (TDR)

(Sumber : Solid State Relay H3CR.. http://www.omron.co.id 2005)

GAMBAR 8 KONSTRUKSI TDR

11

F. Kontaktor Magnet Kontaktor magnet atau saklar magnet adalah saklar yang bekerja berdasarkan kemagnetan. Artinya sakelar ini bekerja berdasarkan kemagnetan. Magnet berfungsi sebagai penarik dan pelepas kontak-kontak. Kemagnetan ini terjadi akibat arus listrik yang mengalir melalui kumparan (gulungan) yang inti kumparanya terbuat dari besi. Kontaktor biasanya digunakan sebagai sakelar elektromagentik yang menghubungkan beban-beban yang memiliki arus yang besar, seperti motor. Gambar 9 dibawah ini menunjukan bentuk dan simbol kontaktor magnet.

GAMBAR 9 BENTUK KONTAKTOR MAGNET

(Sumber : Dasar Rangkaian Pengendali Listrik 2000)

GAMBAR 10 SIMBOL KONTAKTOR MAGNET

12

Kontak pada kontaktor dibedakan menjadi dua bagian, yaitu kontak utama dan kontak bantu. Kontak utama digunakan untuk mengalirkan arus utama, yaitu arus yang diperlukan untuk pesawat pemakai listrik misalnya motor listrik, pesawat pemanas dan sebagainya. Sedangkan kontak bantu digunakan untuk mengalirkan arus bantu yaitu arus yang diperlukan untuk kumparan magnet, alat bantu rangkaian, lampu-lampu indikator dan lain-lain. Kontak utama biasanya ditandai dengan nomor kode terminal 1, 3, 5 atau L1, L2, L3 untuk masukanya dan untuk keluarannya melalui nomor kode terminal tersendiri yaitu 2, 4, 6 atau T1, T2, T3. Kontak bantu kontaktor ditunjukkan dengan nomor yang terdiri dari 2 (dua) digit angka. Untuk kontak bantu NC kode angka satuanya berangka x1 - x2, misalnya 21 22, 31 32, 41 - 42, dst. Sedangkan untuk kontak bantu NO ditunjukkan dengan angka satuan x3 x 4, misalnya 13 14, 23 24, 43 44, dst.

G. Thermal Overload Relay (TOR) Kontaktor yang diperdagangkan ada yang khusus kontaktor saja dan ada juga yang dilengkapi dengan alat pengaman motor. Alat pengaman yang biasa digandeng dengan kontaktor disebut Termal Over Load (TOR) atau termal beban lebih. Relay ini dihubungkan dengan kontaktor pada kontak utama 2, 4, 6 sebelum ke beban (motor). Gunanya untuk mengamankan motor atau memberi perlindungan kepada motor dari kerusakan akibat beban lebih. Beberapa penyebab terjadinya beban lebih antara lain :

13

1. Terlalu besarnya beban mekanik dari motor 2. Arus star yang terlalu besar atau motor berhenti secara mendadak 3. Terjadinya hubung singkat 4. Terbukanya salah satu fasa dari motor tiga fasa. Arus yang terlalu besar yang timbul pada beban motor akan mengalir pada belitan motor yang menyebabkan kerusakan

b. Diagram kontak-kontak a. Konstruksi


(Sumber : Dasar Rangkaian Pengendali Listrik 2000)

GAMBAR 11 THERMAL OVERLOAD RELAY (TOR) Perlengkapan lain dari termal beban lebih ialah reset mekanis yang fungsinya untuk mengembalikan kedudukan kontak 95 96 pada posisi semula (menghubungkan dalam keadaan normal). Setelah reset ditekan maka kontak 95 96 yang semula membuka akibat beban lebih akan kembali menutup. Bagian lain dari termal beban lebih ialah pengatur batas arus yang berfungsi menentukan arus nominal TOR.

14

H. Motor Induksi Tiga Fasa Motor merupakan equipment atau alat yang dapat mengubah daya listrik menjadi daya mekanik. Motor induksi yang umum dikenal ada dua macam berdasarkan jumlah fasanya, yaitu motor induksi satu fasa dan motor induksi tiga fasa. Motor induksi cukup banyak digunakan, hal ini karena motor induksi mempunyai keuntungan sebagai berikut : Bentuknya sederhana, konstruksinya cukup kuat. Harga murah dan dapat diandalkan. Efesiensi tinggi pada keadaan normal. Perawatan yang minimum. Pada waktu mulai beroperasi tidak memerlukan peralatan khusus.

Motor induksi 3 fasa terdiri dari beberapa jenis, namun dalam tulisan ini yang akan dibahas adalah jenis motor induksi 3 fasa motor rotor sangkar. Motor rotor sangkar yang dimaksud adalah motor asinkron 3 fasa. Motor rotor sangkar mempunyai gulungan stator dan rotor yang selalu dihubung singkat maka motor ini dinamakan motor hubung singkat. 1. Konstruksi motor induksi 3 fasa motor rotor sangkar Motor induksi 3 fasa motor rotor sangkar mempunyai rotor dan stator, dimana rotor merupakan bagian yang berputar, sedangkan stator merupakan bagian yang diam (statis). Konstruksi motor induksi tiga fasa rotor sangkar seperti gambar 12 berikut ini :

15

(Sumber : Instalasi Motor-motor Listrik Jilid 2. 1999)

GAMBAR 12 KONSTRUKSI MOTOR INDUKSI MOTOR ROTOR SANGKAR

Gambar 11 memperlihatkan konstruksi motor induksi rotor sangkar sekaligus dengan bagian-bagiannya. Secara umum konstruksi motor induksi rotor sangkar terdiri dari dua bagian, yaitu : o Bagian Tetap 1. Inti stator 2. Lilitan stator 3. Lubang-pas kotak terminal 4. Tutup ujung pemegang rotor sebelah kiri 5. Tutup ujung rotor sebelah kanan o Bagian yang bergerak 6. Poros 7. Inti rotor 8. Cincin penghubung singkat batang lilitan rotor

16

2. Pemilihan motor 3 fasa Dalam menggunakan atau merancang sistem pengontrolan yang menggunakan motor, hal utama yang harus diperhatikan adalah memilih motor yang tepat. Tujuan pemilihan adalah untuk mendapatkan hasil yang bagus serta daya tahan motor. Jika kita salah dalam memilih maka hasil kerja motor tersebut tidak akan memuaskan karena motor tidak sesuai dengan kebutuhan beban yang digunakan. motor rotor sangkar dalam pemilihanya, yang dapat dijadikan

acuan adalah label yang terpasang pada body motor tersebut. Label ini penting untuk membantu para perancang agar motor yang dipilih sesuai dengan bebannya. Gambar 13 di bawah ini merupakan contoh label yang terpasang pada body motor.

(Sumber : Mendiagnosa dan Memperbaiki Kesalahan pada Mesin AC. 2002)

GAMBAR 13 LABEL KETERANGAN MOTOR

17

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan motor adalah sebagai berikut. a. Tegangan masukan Motor tentunya mempunyai tegangan sumber agar dapat bekerja. Tegangan sumber ini disesuaikan dengan besarnya gulungan stator maupun rotor. Jika salah memberikan tegangan sumber pada motor maka akan terjadi kerusakan pada motor diantaranya : Kumparan rotor atau stator akan terbakar atau putus. Motor akan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Daya pada motor akan menurun. Motor tidak dapat digunakan untuk menggerakan beban. Motor 3 fasa teganganya adalah 380V sedangkan motor 1 fasa adalah 220 V. Untuk motor induksi 3 fasa rotor rotor sangkar tegangan masukan yang diberikan adalah sebesar 380 V. b. Arus Motor Yang dimaksud arus motor disini adalah besarnya arus yang dikonsumsi/diserap kumparan-kumparan stator. Jadi apabila dari sumber tegangan, arus yang diberikan kurang maka motor tidak sanggup bekerja sesuai dengan beban yang diberikan bahkan motor tidak akan bekerja sama sekali. Solusinya adalah dengan melihat label

18

keterangan motor. Jadi apabila pada label tertera 1,5 A maka sediakan arus sumber yang lebih besar dari 1,5 ampere. c. Daya keluaran Untuk menggerakkan beban-beban tertentu, daya keluaran pada motor sangat menentukan. Contoh pada suatu lampu 10 watt dengan lampu 100 watt maka nyala lampu akan lebih terang 100 watt, begitu juga dengan motor jika beban yang digunakan lebih besar maka gunakanlah daya motor yang lebih besar. Jika tidak motor akan rusak. d. Putaran motor Sebelum kita memilih kecepatan motor yang diinginkan, apakah lambat atau cepat. Hal yang harus diperhatikan adalah beban putaran yang dihubungkan dengan poros rotor. Jika kita ingin menggerakkan sebuah belt maka dapat kita gunakan kecepatan yang lambat sehingga dipilih putaran yang kecil. e. Faktor daya Faktor daya atau Cos digunakan untuk mengetahui keadaan tegangan dan arus pada kumparan rotor dan stator. - Apabila Cos = 1 keadaan tegangan dan arus pada gulungan rotor bersama-sama mencapai harga nol dan maksimum. - Apabila Cos = 0 keadaan arus terbelakang 90.

19

3. Sistem hubungan kumparan Hubungan kumparan stator motor induksi tiga fasa dapat dibuat dalam dua hubungan yaitu : hubungan bintang dan hubungan delta. Untuk memudahkan dan menghindari kesalahan maka setiap ujung-ujung kumparan yang dihubungkan dengan terminal diberi tanda/kode. Selanjutnya ujung-ujung kumparan dihubungkan bintang atau delta. jadi dengan dua jenis hubungan kumparan ini maka motor listrik dapat bekerja pada dua sistem jaringan tegangan listrik. Ada dua macam pemberian tanda/kode pada hubungan kumparan stator motor induksi 3 fasa. Gambar 14 menunjukan pengkodean hubungan kumparan stator motor induksi tiga fasa.

(Sumber : Instalasi Motor-motor Listrik Jilid 2. 1999)

GAMBAR 14 KODE KUMPARAN STATOR MOTOR INDUKSI TIGA FASA a. Hubungan bintang (star) Untuk menghubungkan bintang ketiga lilitan fasa stator dapat dilakukan dengan jalan menghubungkan ujung-ujung awal lilitan fasa stator (U, V, W) dengan sumber dari jala-jalan (R, S, T). Sedangkan

20

ujung-ujung

akhir

lilitan

stator

lainya

(X,Y,Z)

dihubung

singkatkan/disatukan. Ataupun dapat dilakukan secara kebalikanya. Sistem penyambungan dengan hubungan bintang diperlihatkan pada gambar 15.

(Sumber : Instalasi Motor-motor Listrik Jilid 2. 1999)

GAMBAR 15 HUBUNGAN BINTANG b. Hubungan segitiga (delta) Untuk menghubungkan segitiga/delta lilitan fasa stator dapat dilakukan dengan menghubungkan ujung lilitan fasa pertama dengan awal lilitan fasa kedua (X,V) dan ujung lilitan fasa kedua dengan awal lilitan fasa ketiga (Y,W), serta ujung lilitan fasa ketiga dengan awal lilitan fasa pertama (Z,U), atau awal lilitan fasa pertama dengan ujung lilitan fasa kedua (U,Y), awal lilitan fasa kedua dengan ujung lilitan fasa ketiga (V,Z) dan awal lilitan fasa ketiga dengan ujung lilitan fasa pertama (W,X). Selanjutnay semua ujung-ujung yang telah disatukan tadi dihubungkan ke sumber jala-jala (R, S, T).

21

Sistem

penyambungan

dengan

hubungan

segitiga/delta

diperlihatkan pada gambar 16 di bawah ini.

(Sumber : Instalasi Motor-motor Listrik Jilid 2. 1999)

GAMBAR 16 HUBUNGAN SEGITIGA Suatu unit motor induksi tiga fasa harus dihubungkan bintang atau segitiga, tergantung pada tegangan jaringan dan label keterangan motor. Jaringan distribusi dari PLN umumnya memiliki tegangan 220 V/ 380 V. Bila pada label motor dituliskan 380V / 220V / Y / , artinya motor tersebut mempunyai tegangan kerja 380 Volt untuk hubungan bintang dan 220 Volt untuk hubungan delta. jadi bila motor tersebut akan dihubungkan kejala-jala yang bertegangan 380 Volt fasa ke fasa maka motor harus dihubungkan bintang sehingga motor tersebut bekerja dengan tegangan kerja yang sesuai. 4. Membalik arah putaran motor Untuk membalik arah putaran motor induksi tiga fasa dilakukan dengan mengubah hubungan dua fasa yang masuk ke motor. Gambar 17 di

22

bawah ini menunjukan dasar membalik arah putaran motor induksi tiga fasa. R S T R S T

M
Searah jarum jam

M
Berlawanan jarum jam

(Sumber : Dasar Pengaturan dan Pengontrolan Otomatis Pada Sistem Tenaga Listrik. 2001)

GAMBAR 17 DASAR MEMBALIK PUTARAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA I. Lampu Lampu berfungsi sebagai rambu-rambu yang mengatur jalanya kendaraan. Lampu yang digunakan adalah jenis LED (Light Emitting Diode). Keuntungan menggunakan jenis lampu ini adalah hemat energi dan tidak terpengaruh oleh sinar matahari yang menyebabkan kesalahan interpretasi. Lampu LED banyak digunakan dalam teknologi rambu-rambu lalu lintas (Traffic Light). Gambar 18 dibawah ini menunjukan bentuk lampu LED yang digunakan pada Traffic Light.

23

GAMBAR 18 LAMPU LED Lampu yang digunakan berwarna merah dan hijau dan dipasang pada kedua sisi jalan perlintasan kereta api. Lampu merah adalah peringatan kendaraan untuk berhenti dan lampu hijau untuk jalan.

J. Sirine Sirine adalah sebuah peralatan elektronik yang dapat mengeluarkan suara khusus sebagai tanda atau peringatan. Sirine pada perlintasan kereta api berfungsi sebagai indikator suara akan kedatangan kereta api. Sirine berbunyi saat palang pintu kereta api menutup. Adanya sirine ini akan membantu memperingatkan bahaya melintasi jalur kereta api saat kereta akan lewat. Gambar 19 di bawah ini menunjukan bentuk sirine yang digunakan sebagai tenda peringatan pada perlintasan kereta api.

24

GAMBAR 19 SIRINE PERINGATAN K. Miniatur Circuit Breaker (MCB) Miniatur Circuit Breaker (MCB) adalah peralatan sakelar yang dapat mengalirkan arus dalam keadaan normal dan merupakan alat pengaman otomatis yang dapat mengamankan rangkaian dari arus lebih akibat beban mekanik, dan juga arus hubung singkat. MCB mempunyai bimetal elemen yang bekerja berdasarkan panas. Bimetal ini akan panas atau memuai jika terjadi arus lebih akibat beban yang lebih besar dari beban normal. Untuk itu alat bimetal ini dibuat dan direncanakan sesuai dengan ukuran arus nominal MCB tersebut, dimana dalam waktu yang sangat singkat dapat bekerja sehingga rangkaian beban terlindungi MCB juga dilengkapi dengan Elemen magneting tripping yang bekerja berdasarkan magnet, yang mana jika arus listrik yang besar mengalir melalui kumparan seperti arus hubung singkat maka elemen ini akan bekerja secara cepat memutuskan rangkaian. Gambar 20 di bawah ini menunjukan beberapa jenis MCB menurut banyak kutub yang digunakan.

25

(a) MCB 1 Kutub

(b) MCB 2 Kutub

(c) MCB 3 Kutub


(Sumber : Dasar Rangkaian Pengendali Listrik. 2000)

(d) MCB 4 Kutub

GAMBAR 20 JENIS-JENIS MCB MENURUT BANYAK KUTUB