Anda di halaman 1dari 7

Artikel Penelitian

Prevalensi Obesitas pada Anak Usia 4-6 Tahun dan Hubungannya dengan Asupan Serta Pola Makan

Muhammad Artisto Adi Yussac, Arief Cahyadi, Andika Chandra Putri, Astrid Saraswaty Dewi, Ayatullah Khomaini,* Saptawati Bardosono,** Eva Suarthana***
*Program Pendidikan Integrasi Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia **Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ***Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Abstrak: Obesitas pada anak merupakan masalah yang kompleks. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan obesitas antara lain asupan dan pola makan. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara pola makan dan asupan kalori, karbohidrat, protein dan lemak yang dikonsumsi oleh subyek penelitian, dengan prevalensi obesitas. Penelitian juga bertujuan untuk membandingkan dua metode pengukuran: Z-score berat badan/tinggi badan (BB/TB) dan persentil indeks massa tubuh (IMT) dalam mengidentifikasi obesitas pada anak usia 4-6 tahun. Sebanyak 71 orang subyek dari sebuah taman kanak-kanak di Jakarta Timur diambil dengan metode consecutive sampling. Hasil yang didapat adalah 52,1% subyek penelitian adalah perempuan; terbanyak berusia 4-5 tahun (52,1%). Sebagian besar ayah dan ibu subyek penelitian berpendidikan tinggi. Pekerjaan ayah yang terbanyak adalah pegawai swasta (50,7%) sedangkan ibu tidak bekerja (60,6%). Sebanyak 66,2% subyek berasal dari keluarga berpendapatan perkapita menengah rendah. Tinggi dan berat badan rata-rata adalah 109,6 6,7 cm dan 20,9 4,6 kg. Didapatkan prevalensi obesitas 31% dengan klasifikasi IMT dan 21.1% dengan klasifikasi Z-score BB/TB. Rata-rata persentil IMT adalah 68.0 34.7 dan ratarata Z-score BB/TB adalah 0,7 1,4. Didapatkan hubungan yang bermakna antara asupan kalori, karbohidrat, protein, lemak dan pola makan lemak dengan prevalensi obesitas menurut klasifikasi IMT dan Z-score BB/TB. Metode IMT dan Z-score BB/TB memiliki nilai koefisien (kappa) sebesar 0,747 yang berarti memiliki kesesuaian yang kuat sekali. Dengan demikian, baik IMT maupun Z-score BB/TB dapat digunakan untuk menetapkan prevalensi obesitas pada anak. Kata kunci: asupan makanan, obesitas, persentil indeks massa tubuh, pola makan, Z-score BB/ TB

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007

47

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan

Prevalence of Obesity among 4-6-year Old Children, and Its Relation with Food Consumption and Food Pattern Muhammad Artisto Adi Yussac, Arief Cahyadi, Andika Chandra Putri, Astrid Saraswaty Dewi, Ayatullah Khomaini*, Saptawati Bardosono**, Eva Suarthana***
*Community Medicine Integration Programme, Faculty of Medicine University of Indonesia **Department of Nutrition, Faculty of Medicine University of Indonesia ***Department of Community Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia

Abstract: Obesity in children is a complex problem. Factors related to obesity are food consumption and food pattern. The aim of this research was to assess the relationship between food consumption and food pattern (carbohydrate, protein, and fat consumed by subject) with the prevalence of obesity. Furthermore, this research aimed to compare two measurements, i.e. Zzcore of body weight/ body height (BW/BH) and body mass index (BMI), in identifying obesity among 4-6 years old children. There were 71 pupils which consecutively selected from a kindergarten in East Jakarta. Half of the subjects (52.1%) were female; aged between 4-5-year old (52,1%). Most of their parents were well educated; 50.7% of the fathers were private employee, whereas 60.6% of the mothers were unemployed/ housewives. Income percapita of their family mostly were moderately low (66,2%). The mean body height and body weight were 109.6 6.7 cm and 20.9 4.6 kg respectively. The prevalence of obesity was 31% with BMI method, and 21.1% with Z-score BW/BH method. The mean BMI percentiles was 68.0 34.7, and the mean Z-score BW/BH was 0.7 1.4. There were significant correlations between calories, carbohydrate, protein, and fat intake, as well as dietary fat pattern with the prevalence of obesity according to BMI and Z-score of BW/BH methods. Both methods showed a coefficient value of 0.747, which reflected a strong agreement between them. Therefore, BMI and Z-score BW/BH methods can be used to screen the obesity in children. Key words: food consumption, food pattern, obesity, percentile of Body Mass Index, Z-score of Body Weight/Body Height

Pendahuluan Obesitas atau kegemukan adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai oleh penimbunan jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan. 1 Obesitas pada anak merupakan masalah yang sangat kompleks, yang antara lain berkaitan dengan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh seseorang, perubahan pola makan menjadi makanan cepat saji yang memiliki kandungan kalori dan lemak yang tinggi, waktu yang dihabiskan untuk makan, waktu pertama kali anak mendapat asupan berupa makanan padat, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hormonal dan lingkungan.1-3 Jumlah lemak tubuh dipengaruhi sejak masa gestasi oleh berat badan dan kenaikan berat badan maternal selama periode antenatal. Selanjutnya, perilaku makan mulai terkondisi dan terlatih oleh asupan dan pola makan sejak bulan-bulan pertama kehidupan. Kenaikan berat badan pada

anak kemudian juga dipengaruhi kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung energi tinggi, maupun kebiasaan mengkonsumsi makanan ringan.4 Keluaran energi rendah dapat disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh, aktivitas fisik, dan efek termogenesis makanan yang ditentukan oleh komposisi makanan. Lemak memberi efek termogenesis lebih rendah (3% dari total energi dihasilkan lemak) dibandingkan dengan karbohidrat (6-7% dari total energi dihasilkan karbohidrat) dan protein (25% dari total energi dihasilkan protein).5 Hal tersebut menunjukkan pentingnya peranan pola dan asupan makanan dalam terjadinya obesitas. Obesitas dapat terjadi pada semua usia, namun yang tersering terjadi pada tahun pertama kehidupan, usia 5-6 tahun dan pada masa remaja.6 Berkaitan dengan obesitas pada tahun pertama kehidupan sampai usia 5-6 tahun, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 1989

48

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan di perkotaan terdapat 4,6% anak laki-laki dan 8% anak perempuan yang menderita obesitas. Sedangkan prevalensi obesitas pada tahun 1995 di 27 propinsi adalah 4,6%. Menurut penelitian Soedibyo et al pada tahun 1998 di DKI Jakarta prevalensi obesitas untuk anak usia 6-12 tahun adalah sekitar 4%, dan meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.7 Penelitian lain menunjukkan bahwa obesitas telah menjadi masalah global. Peningkatan prevalensi obesitas tidak saja terjadi di negara maju tetapi juga di negara berkembang.1,8-10 Prevalensi obesitas pada anak usia 617 tahun di AS dalam tiga dekade terakhir meningkat dari 7,610,8% menjadi 1314%. Prevalensi obesitas pada anak usia 618 tahun di Rusia adalah 10%, di Cina adalah 3,4%, dan di Inggris 1017%, bergantung pada usia dan jenis kelamin.9 Prevalensi obesitas pada anak-anak di Singapura meningkat dari 9% menjadi 19%.11 Obesitas mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang anak terutama dalam aspek organik dan psikososial.1 Obesitas pada anak berisiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa dan berpotensi mengalami berbagai penyebab kesakitan dan kematian, antara lain penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus.1,12,13 Obesitas pada anak juga dapat mengakibatkan kelainan metabolik, misalnya atherogenesis, resistensi insulin, gangguan trombogenesis, dan karsinogenesis.10 Obesitas pada anak ditentukan antara lain berdasarkan dua metode pengukuran, yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Z-score berat badan/tinggi badan (Z score BB/TB). Obesitas ditetapkan bila Z score lebih dari 2.14 Sedangkan berdasarkan rekomendasi, antara lain oleh WHO tahun 1997, The National Institutes for Health (NIH) tahun 1998, dan The Expert Committee on Clinical Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Service, batasan obesitas adalah IMT di atas persentil 95.15 Dari hal-hal tersebut deteksi terhadap obesitas perlu dilakukan secara dini. Selama ini di Indonesia belum banyak publikasi tentang obesitas dan hubungannya dengan asupan dan pola makan pada anak usia 5-6 tahun. Juga belum ada penelitian yang membandingkan metode pengukuran IMT dan rasio BB/TB dalam menentukan obesitas. Penelitian ini bertujuan menjawab kedua perta-nyaan penelitian tersebut. Metode Penelitian ini dilakukan di sebuah taman kanak-kanak di Jakarta timur pada rentang waktu antara tanggal 12 April 7 Mei 2004. Desain penelitian cross sectional dengan populasi penelitian adalah anak yang berusia 4-6 tahun. Subyek dipilih dengan cara consecutive sampling. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah: tidak masuk sekolah pada saat hari pemeriksaan, sedang menderita penyakit kronis yang telah terdiagnosis oleh dokter (TBC, diare kronis, diabetes melitus, penyakit hati kronis, penyakit ginjal kronis, hipo/hipertiroidisme), atau sedang dalam program diet khusus sebagai bagian dari terapi penyakit tertentu.
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007

Data penelitian yang dikumpulkan meliputi data hasil pengukuran tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) serta pengisian kuesioner yang telah diuji coba sebelumnya melalui wawancara terpimpin. Kuesioner meliputi data sosiodemografi;16,17 asupan nutrisi secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu dengan metode food recall 1x24 jam; serta informasi deskriptif tentang pola makan sehari-hari yang diperoleh melalui metode food frequency. Informasi asupan nutrisi diperoleh dengan metode wawancara terstruktur dengan responden, yaitu orangtua atau pengasuh subyek penelitian, dengan menggunakan alat peraga (food model). Pengukuran BB dilakukan menggunakan timbangan BB SECA yang telah distandarisasi dengan ketelitian 0,1 Kg. Sedangkan pengukuran TB dilakukan dengan menggunakan alat microtoise . Dari pengukuran tersebut, kemudian dikembangkan antropometri turunan, yaitu status gizi berdasarkan IMT dan BB/TB. Selanjutnya data antropometri turunan tersebut diklasifikasi menjadi status gizi, yaitu dengan metode perhitungan Z-score BB/TB dan IMT diklasifikasi berdasarkan kurva CDC 2000 terhadap usia. Untuk menghitung prevalensi obesitas, subyek dikatakan obes bila Zscore BB/TB > 2 SD, atau bila skor IMT-nya di atas persentil ke-95.14 Kemudian dilakukan penghitungan kesesuaian (measure of agreement) antara prevalensi obesitas berdasarkan metode IMT dan BB/TB. Measure of agreement merupakan parameter tingkat kecocokan/kesesuaian antara dua metode. Tingkat kecocokan ini dinyatakan dalam sebuah koefisien, yaitu koefisien kappa (k). Nilai koefisien k tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan klasifikasi Everitt.18 Penilaian pola makan secara kualitatif dan deskriptif dilakukan dengan menggunakan tabel kuesioner frekuensi konsumsi bahan makanan dalam seminggu yang didapat dari wawancara terpimpin dengan orangtua atau pengasuh. Setiap bahan makanan dikategorikan menjadi karbohidrat, lemak, protein, serat, dan kalori. Kemudian dari setiap kategori ditetapkan standar deviasinya (SD). Klasifikasi pola konsumsi kualitatif jarang, biasa, dan sering dilakukan berdasarkan perbandingan antara jumlah konsumsi untuk tiap kategori dalam seminggu dengan standar deviasi ini (2 SD). Pola makan di bawah 2 SD dikatakan jarang, antara 2SD dan +2SD dikatakan biasa, dan di atas +2SD dikatakan sering. Penilaian pola makan secara kuantitatif dilakukan dengan food recall 1 x 24 jam yang juga didapat dari hasil wawancara terpimpin. Dari metode food recall tersebut didapatkan jumlah dan frekuensi konsumsi makanan yang kemudian diterjemahkan sebagai asupan gizi subyek penelitian. Sebagai patokan digunakan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan di Indonesia.19 Data statistik diolah dan dianalisis dengan program komputer SPSS 11.0, sedangkan untuk data asupan gizi (asupan kalori, protein, karbohidrat, dan lemak) diolah dengan menggunakan program Nutrisurvey. Perhitungan BB/TB dan IMT diolah dengan menggunakan program Epi nut dari Epi info.
49

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan Hasil Sejumlah 71 dari 72 orang siswa TK tempat dilakukan penelitian menjadi subyek penelitian. Dari data yang dikumpulkan tidak didapatkan data yang di- drop out sehingga analisis dilakukan terhadap 71 subjek. Jumlah ini telah memenuhi batas minimum sampel.20 Sebanyak 52,1% subyek berjenis kelamin perempuan dan 52,1% berusia antara 4-5 tahun. Sementara itu, 66,2% subyek berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita menengah rendah (berdasarkan kriteria World Bank tahun 2002, yaitu pendapatan perkapita yang berkisar antara Rp. 500.000,00 s.d. Rp. 2.000.000,00 perbulan).16 Pendapatan perkapita tersebut dapat digunakan sebagai suatu indikator yang membantu memberikan gambaran mengenai kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi dalam suatu keluarga.
Tabel 1. Distribusi Subyek Penelitian Menurut Z-score BB/ TB dan IMT Berdasarkan Kurva CDC 2000 Kurva IMT f % Status gizi buruk Status gizi kurang Status gizi baik Overweight Obesitas 5 31 13 22 7,0 43,7 18,3 31,0 BB/TB Kurva CDC f % 3 6 30 17 15 4,2 8,5 42,3 23,9 21,1 Tabel 2. Distribusi Asupan Makanan per Hari Subyek Penelitian Asupan Kalori (kkal) Karbohidrat (gr) Protein (gr) Lemak (gr) 1399,5 (478,6-2447,7) 185,4 (61,1-352,3) 46,3 (14,4-132,6) 45,1 (9,9-122,5) % AKG 80,00 59,4 133,1 109,0 (27,4-139,9) (19,9-134,3) (41,0-234,9) (26,2-253,4)

Sebagian besar subyek penelitian memiliki pola makan biasa, baik karbohidrat (93%), protein (97,2%), maupun lemak (97,2%). Namun bila dibandingkan, kelompok subyek penelitian yang obes memiliki pola konsumsi lemak dengan frekuensi sering yang proporsinya lebih besar dibandingkan dengan yang tidak obes (Tabel 3). Didapatkan hubungan yang positif lemah (koefisien korelasi berkisar antara 0.3 s.d. 0.5) antara asupan makanan dengan nilai IMT maupun rasio BB/TB.
Tabel 4. Hubungan Antara Asupan Makanan dengan Status Gizi Kategori IMT Non Obesitas (n=49) Asupan 1287,5 (478,6-2447,7) 182,1 (61,1-347,0) 43,5 (14,4-82,9) 40,3 (9,9-102,1) Non Obesitas (n=56) Asupan 1308,6 (478,6-2447,7) 181,8 (61,1-347,0) 43,5 (14,4-82,9) 41,7 (9,9-102,1) Obesitas (n=22) Asupan 1669,0 (961,9-2338,9) 201,9 (96,2-352,3) 51,8 (28,5-132,6) 58,5 (20,6-122,5) Obesitas (n=15) Asupan p value

Kalori (kkal) Karbohidrat (g) Protein (g)

<0.001 0.002 0.007 0.001

Tinggi dan berat badan rata-rata adalah 109,6 6,7 cm dan 20,9 4,6 kg. Tabel 1 menunjukkan bahwa obesitas ditemukan pada 31% subyek penelitian berdasarkan kriteria IMT dan 21% berdasarkan kriteria BB/TB. Status gizi buruk hanya ditemukan pada 4% subyek penelitian berdasarkan kriteria BB/TB. Dari Tabel 2 didapatkan rerata persentase angka kecukupan protein dan lemak melampaui nilai AKG yang seharusnya, sedangkan untuk kalori dan karbohidrat didapatkan rerata persentase angka kecukupan di bawah nilai AKG yang seharusnya.

Lemak (g)

Kategori Z-score BB/TB

p value

Kalori (kkal) Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g)

1756,2 <0.001 (1022,3-2338,9) 216,2 0.002 (162,9-352,3) 52,4 0.008 (33,7-132,6) 63,4 0.001 (20,6-122,5)

Tabel 3. Distribusi Pola Makan Berdasarkan Status Gizi IMT Obes (n=22) f % Karbohidrat Jarang Biasa Sering Lemak Biasa Sering Protein Biasa Sering 1 20 1 21 1 22 4,5 90,9 4,5 95,5 4,5 100 Non Obes (n=49) f % 46 3 48 1 47 2 93,3 6,1 98,0 2,0 95,9 4,1 Z-score BB/TB Obes (n=15) Non Obes (n=56) f % f % 14 1 14 1 15 93,3 6,7 93,3 6,7 100 1 52 3 55 1 54 2 1,8 92,9 5,3 98,2 1,8 96,4 3,6

50

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan Tabel 4 menunjukkan perbandingan asupan makanan pada subyek penelitian yang obes dan tidak obes. Didapatkan bahwa pada subyek yang mengalami obesitas mendapat asupan makanan yang lebih tinggi secara bermakna.
Tabel 5. Hubungan Antara Persentase Kecukupan Gizi dengan Status Gizi Kategori IMT Non Obesitas (n=49) % AKG 73,6 (27,4-139,9) 60,7 (19,9-134,3) 139,4 (41,0-234,9) 106,9 (26,2-253,4) Non Obesitas (n=56) % AKG 74,8 (27,4-139,9) 59,6 (19,9-134,3) 135,9 (41,0-234,9) 103,7 (26,2-253,4) Obesitas (n=22) % AKG 95,4 (55,0-133,7) 50,5 (30,1-101,7) 109,4 (76,2-230,9) 126,9 (50,2-192,0) Obesitas (n=15) % AKG 100,4 (58,4-133,6) 57,4 (34,2-101,7) 132,6 (82,5-230,9) 127,1 (50,2-192,0) p value

Tabel 6 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas berdasarkan metode IMT lebih besar dibandingkan dengan metode pengukuran BB/TB (22 orang subyek dibandingkan dengan 15 orang subyek). Namun, nilai koefisien sebesar 0,747 menunjukkan kedua metode memiliki kesesuaian yang kuat sekali.9,18 Pembahasan Data pada penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas ditemukan pada 31% subyek penelitian berdasarkan kriteria IMT dan 21% berdasarkan kriteria BB/TB (Tabel 1). Penelitian prevalensi obesitas pada balita yang dilakukan oleh Satoto et al pada tahun 1995 di 27 provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi yang jauh lebih rendah, yaitu 4,6%.14 Penelitian serupa yang dilakukan oleh Yap et al pada tahun 1999 menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas pada anakanak di Singapura dari 9% menjadi 19%. Banyak penelitian yang menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas, baik di negara maju maupun berkembang, menim-bulkan dugaan bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi obesitas pada balita di Indonesia secara keseluruhan sejak tahun 1995 sehingga pada penelitian ini didapatkan prevalensi obesitas yang tinggi. Dengan sebaran sosial ekonomi keluarga yang homogen kurang mencerminkan gambaran prevalensi obesitas untuk populasi secara umum. Untuk membuktikan hal ini tentunya diperlukan penelitian lebih lanjut yang bersifat lebih luas dan dengan jumlah sampel yang lebih banyak lagi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata bukan hanya status ekonomi tinggi yang mendukung terjadinya obesitas pada anak. Status ekonomi yang relatif rendah ternyata juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya obesitas.21 Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Committee on Nutrition di Inggris menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang status ekonominya lebih rendah mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan lebih sedikit dan memiliki asupan kalori dan lemak total yang lebih tinggi dibandingkan anak yang satus ekonominya lebih tinggi. Keluarga dengan pendapatan yang lebih rendah juga dilaporkan lebih sering mendapatkan kesulitan dalam mengakses makanan sehat, terutama sayuran dan buahbuahan.22 Tingkat pendidikan orang tua yang cukup tinggi diduga juga mempengaruhi prevalensi terjadinya obesitas. Dengan pendidikan yang lebih tinggi semestinya orang tua mempunyai sikap, pengetahuan, dan perilaku yang lebih baik dalam pola asuh maupun pola didik anaknya. Rata-rata persentase asupan lemak sebesar 28% (1048%) dan protein sebesar 14% (9-25%) pada subyek penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan persentase yang dianjurkan oleh Widya Karya Pangan 1983 (lemak 20% dan protein 8%). Dalam sebuah penelitian mengenai komposisi diet pada anak usia prasekolah di Amerika Serikat, juga didapatkan peningkatan rata-rata persentase zat gizi terhadap
51

Kalori (kkal) Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g)

0.003 0.043 0.619 0.088

Kategori Z-score BB/TB

p value

Kalori (kkal) Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g)

0.001 0.481 0.535 0.693

Tabel 5 menunjukkan rata-rata persentase AKG kalori dan lemak yang lebih tinggi pada kelompok yang mengalami obesitas dibandingkan dengan yang tidak. Rerata persentase AKG lemak pada kelompok obes jauh melebihi AKG yang dibutuhkan (20% dari jumlah kalori; tiap gram lemak memberikan energi sebesar 9 kkal, sedangkan protein dan karbohidrat 4 kkal).19 Rerata persentase AKG karbohidrat pada kedua kelompok lebih rendah dari AKG yang dibutuhkan (60-70% dari jumlah kalori); sebaliknya rerata persentase AKG protein melebihi yang dibutuhkan (sekitar 10-20% dari jumlah kalori). Tabel 5 juga menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan kalori dengan prevalensi obesitas, baik berdasarkan metode IMT maupun BB/TB.
Tabel 6. Agreement Prevalensi Obesitas Antara Metode IMT dan Z-score BB/TB Obesitas berdasarkan Z-score BB/TB Non obes O b e s Obesitas berdasarkan IMT Total Nilai koefisien = 0,747 Non obes Obes 49 7 56 0 15 15 Total

49 22 71

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan kalori total yaitu lemak 30,5% dan protein 12,1%.23 Hal ini berhubungan dengan berubahnya pola konsumsi masyarakat terutama di kota-kota besar, yaitu dari makanan tinggi karbohidrat menjadi tinggi lemak dan protein. Salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya hal ini ialah peningkatan jumlah tayangan komersial yang mempromosikan makanan yang banyak mengandung lemak dan protein pada anak.24 Sumber lemak yang paling sering dikonsumsi oleh subyek ialah minyak goreng, yaitu sebesar 32,21% dari keseluruhan sumber lemak. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar makanan yang biasa dikonsumsi oleh subyek penelitian dimasak dengan cara digoreng. Penggunaan metode food recall dan food frequency dalam penelitian ini juga mempunyai kelemahan karena pengisian kuesionernya membutuhkan ingatan yang baik dari responden atas asupan makan subyek penelitian sejak sehari sebelum wawancara, dan pola makan subyek sejak seminggu sebelum wawancara. Dengan demikian kemungkinan terjadinya bias informasi tidak dapat dihindari. Perlu diingat bahwa penyebab obesitas ialah multifaktorial, faktor asupan makanan hanya merupakan salah satu dari sekian banyak faktor. Asupan makanan yang berpengaruh tersebut terutama yang mengandung kalori dan lemak tinggi. Obesitas pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh asupan makanan saja, namun merupakan interaksi antara faktor genetik, biologi, psikologi, sosiokultural, dan lingkungan.22 Dengan demikian, pada subyek penelitian yang mengalami obesitas, faktor asupan dan pola makan bukan merupakan faktor yang berperan tunggal, namun berinteraksi dengan faktor lainnya. Uji korelasi kemaknaan antara asupan makan dengan IMT dan BB/TB hanya memberikan hubungan bermakna dengan kekuatan lemah pada pola makan lemak, dan untuk yang lainnya tidak bermakna. Hal ini dapat dijelaskan oleh efek termogenesis lemak yang lebih rendah dibandingkan dengan efek termogenesis protein dan karbohidrat. Kebiasaan mengkonsumsi lemak dalam jangka panjang, yang digambarkan oleh pola makan lemak biasa dan sering, mengakibatkan jumlah lemak yang tertimbun di dalam jaringan lebih banyak dibandingkan dengan lemak yang dipecah. Hal ini mengakibatkan terjadinya obesitas.5 Kesesuaian antara kedua metode pengukuran IMT dan Z-score BB/TB terlihat dari data tabel agreement antara kedua metode pengukuran tersebut (Tabel 6). Penggunaan metode IMT sebagai metode pengukuran obesitas pada anak di atas 2 tahun telah direkomendasikan oleh The World Health Organization (WHO) sejak tahun 1997, The National Institutes for Health (NIH) pada tahun 1998, dan The Expert Committee on Clinical Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Service .15 Kesesuaian antara kedua metode pengukuran IMT dan Z-score BB/TB membuktikan bahwa kedua metode tersebut dapat digunakan untuk menentukan obesitas pada anak. Kesimpulan Didapatkan prevalensi obesitas sebesar 31% pada subyek penelitian berdasarkan kriteria IMT dan sebesar 21% berdasarkan kriteria BB/TB. Hal ini menunjukkan peningkatan yang nyata bila dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini didukung dengan meningkatnya jumlah asupan lemak yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan asupan karbohidrat. Diduga bahwa peningkatan asupan ini dipengaruhi oleh berubahnya pola konsumsi masyarakat terutama di kota-kota besar, yaitu dari makanan tinggi karbohidrat menjadi tinggi lemak dan protein. Penyebab obesitas adalah multifaktorial, dengan demikian faktor asupan makanan hanya merupakan salah satu dari sekian banyak faktor. Asupan makanan yang berpengaruh tersebut terutama yang mengandung kalori dan lemak tinggi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode IMT mempunyai kesesuaian yang cukup baik bila dibandingkan dengan metode BB/TB yang telah banyak digunakan sebagai salah satu metode untuk menentukan obesitas pada anak. Dengan demikian, adanya penelitian ini semakin memperkuat bukti bahwa metode IMT juga dapat digunakan untuk menentukan prevalensi obesitas pada anak. Ucapan Terima Kasih Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dra. Corrie Wawolumaja, SKM, MSc, PhD, atas saran dan bantuannya dalam pelaksanaan penelitian ini. Daftar Pustaka
Sjarif DR. Obesitas pada anak dan permasalahannya. In: Hot Topics in Pediatrics II. Jakarta: 2002.p.219-32. 2. Vanitallie TE. Predicting obesity in children. Nutrition Reviews 1998;56:154-5. 3. Lichtenstein AH, Kennedy E, Barrier P. Dietary fat consumption and health. Nutrition Reviews 1998;56:23-8. 4. Gallaher MM, Hauck FR, YangOshida M, Serdula MK. Obesity among Mescalero preschool children: Association with maternal obesity and birth weight. Am J Dis Child 1991;145:1262-5. 5. Maffeis C, Schutz Y, Grezzani A, Provera S, Plancentini G, Tato I. Meal-induced thermogenesis and obesity: Is a fat meal a risk factor for fat gain in children?. J Clin Endocrinol Metab 2001; 86(1):214-9. 6. Nelson WE, Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Early school years. Textbook of pediatrics. Tokyo: WB Saunders Co; 1996. 7. Soedibyo S, Firmansyah A, Djer MM. Prevalence and influencing factors of obesity in elementary school pupils. Pediatric Indonesia 1998;38:193-204. 8. Fiorentino RF. The burden of obesity in Asia: Challenges in assessment, prevention and management. Asia Pacific J Clin Nutr 2002;11:676-80. 9. Youafa W, Joanna WQ. Standard definition of child overweight and obesity worldwide. Brit Med J 2000; 321:1158. 10. Hanley AJG. Overweight among children and adolescent in a Native Canadian Community: Prevalence and associated factors. Am J Clin Nutr 2000;71:693-700. 11. Yap MA, Tan WL. Factors associated with obesity in primaryschool children in Singapore. Asia Pacific J Clin Nutr 2002;3:658. Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 1, Januari 2007 1.

52

Prevalensi Obesitas pada Anak dan Hubungannya dengan Pola Makan


12. Soetjiningsih. Obesitas pada Anak. In: Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 1998. p.183-90. 13. Figueroa-Colon R, Franklin FA, Lee JY, Aldridge R, Alexander L. Prevalence of obesity with increased blood pressure in elementary school age-children. South Med J 1997;90(8):806-13. 14. National Centers for Health Statistics. Clinical Growth Charts. Central for Disease Control and Prevention, U.S. Department of Health and Human Service. 20 November 2002 diunduh tanggal 21 Mar 2004. Available from: www. CDC.gov. 15. Barlow S, Dietz W. Obesity evaluation and treatment: Expert committee recommendations. Pediatrics 1998;102(3):111. 16. World Bank. Country Classification. World Bank, 2002 [cited 2004 Feb 22]. Available from: http://www.worldbank.org 17. Departemen Pendidikan Nasional. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. 1998 diunduh tanggal 22 Feb 2004. Available from: http:// www.depdiknas. gov.org. 18. Anthony D. Understanding advanced statistics. London: Churchill Livingstone; 1999. 19. Persatuan Ahli Gizi Indonesia dan RSCM. Penuntun Diet Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2003.p.2-5. 20. Maldiyono B, Moeslichan Mz, Budiman I, Purwanti SH. Perkiraan besar sampel. In: Sastroasmoro S, Ismael S, editors. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.p.198. 21. Wang Y. Cross-national comparison of childhood obesity: The epidemic and the relationship between obesity and socioeconomic status. Int J Epidemiol 2001;30:1129-36. 22. Committee on Nutrition. Prevention of pediatric overweight and obesity. Pediatrics 2003;112:424-30. 23. Atkin L, Davies P. Diet composition and body composition in preschool children. Am J Clin Nutr; 2000;72:15-21 24. Gortmaker SL, Dietz WH, Sobol AM, Wehler CA. Increasing pediatric obesity in the United States. Am J Dis Child 1987;141: 535-40.

EV

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 1, Januari 2007

53